Anda di halaman 1dari 76

Vesikolithiasis

VESIKOLITHIASIS
Pengertian
Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter,
kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).
Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher
kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes
disertai dengan rasa nyeri (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1998:1027).
Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis adalah batu kandung kemih yang merupakan
keadaan tidak normal di kandung kemih, batu ini mengandung komponen kristal dan matriks
organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).
Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi
tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat atau ketika terdapat
defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah terjadinya kristalisasi
dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal akibat
adanya obstruksi (Smeltzer, 2002:1442). Long, (1996:318) menyatakan sumbatan saluran kemih
yang bisa terjadi dimana saja pada bagian saluran dari mulai kaliks renal sampai meatus uretra.
Hidronefrosis adalah pelebaran/dilatasi pelvis ginjal dan kaliks, disertai dengan atrofi parenkim
ginjal, disebabkan oleh hambatan aliran kemih. Hambatan ini dapat berlangsung mendadak atau
perlahan-lahan, dan dapat terjadi di semua aras (level) saluran kemih dari uretra sampai pelvis
renalis (Wijaya dan Miranti, 2001:61).
Vesikolithotomi adalah alternatif untuk membuka dan mengambil batu yang ada di kandung
kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami ganguan pada aliran perkemihannya Franzoni
D.F dan Decter R.M (http://www.medscape.com, 8 Juli 2006)Email ThisClose .
Etiologi
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan
periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih
(Vesikolitiasis) adalah :
1. Hiperkalsiuria

Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik
(meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein),
hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.

2. Hipositraturia

Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya
sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap),
minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.

3. Hiperurikosuria

Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu
kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.

4. Penurunan jumlah air kemih

Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.

5. Jenis cairan yang diminum

Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan jus anggur.

6. Hiperoksalouria

Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet
rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau
akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.

7. Ginjal Spongiosa Medula

Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai
predisposisi metabolik).

8.Batu Asan Urat

Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan hiperurikosuria
(primer dan sekunder).

9. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan organisme yang
memproduksi urease.
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :

75 % kalsium.

15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).


6 % batu asam urat.
1-2 % sistin (cystine).

Patofisiologi
Kelainan bawaan atau cidera, keadan patologis yang disebabkan karena infeksi, pembentukan
batu disaluran kemih dan tumor, keadan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan
yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma dan
tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga
terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan
kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat dan Wim de
Jong, 2001:997).
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan
dalam beberapa teori (Soeparman, 2001:388):
1. Teori Supersaturasi

Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya


kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal dan
kemudian menjadi batu.

2. Teori Matriks

Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5


hexosamin dan 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal
sehingga menjadi batu.

3. Teori Kurangnya Inhibitor

Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang melampaui daya
kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat
mukopolisakarida dan fosfat merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi
kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.

4. Teori Epistaxy

Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu
merupakan inti dari batu yang lain yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya.
Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu
kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.

5. Teori Kombinasi

Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas.

Manifestasi Klinis
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan
infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih
menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat
mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan
perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada
penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan.
Jika penyumbatan timbul dengan cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks
ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang
terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak
menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.
Selain
tanda
diatas,
tanda
hidronefrosis
yang
lain
menurut
Samsuridjal
(http://www.medicastore.com, 26 Juni 2006) adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Hematuri.
Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
Demam.
Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal.
Mual.
Muntah.
Nyeri abdomen.
Disuria.
Menggigil.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan:
1. Urine

apH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk
batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu
asam urat.
Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila
terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses
pembentukan batu saluran kemih.
Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi
hiperekskresi.

2. Darah

Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.

Lekosit terjadi karena infeksi.


Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
Kalsium, fosfat dan asam urat.

3. Radiologis

Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau
tidak.
Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat
dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak
memberikan informasi yang memadai.

4. USG (Ultra Sono Grafi)

Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.

5. Riwayat Keluarga

Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang menderita batu saluran kemih, jika
ada untuk mengetahui pencegahan, pengobatan yang telah dilakukan, cara mengambilan
batu, dan analisa jenis batu.

Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan dari Vesikolithotomi (Perry dan Potter, 2002:1842) adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Pernafasan

Atelektasis bida terjadi jika ekspansi paru yang tidak adekuat karena pengaruh analgetik,
anestesi, dan posisi yang dimobilisasi yang menyebabkan ekspansi tidak maksimal.
Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh
agens analgetik dan anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.

2. Sistem Sirkulasi

Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan
atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi yang bisa menyebabkan syok
hipovolemik. Statis vena yang terjadi karena duduk atau imobilisasi yang terlalu lama
bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena
trauma pembuluh darah.

3. Sistem Gastrointestinal

Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi
distensi abdomen dengan tanda dan gejala meningkatnya lingkar perut dan terdengar

bunyi timpani saat diperkusi. Mual dan muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum
normalnya peristaltik usus.
4. Sistem Genitourinaria

Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya
tonus otot.

5. Sistem Integumen

Perawatan yang tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya


fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dengan tanda dan gejala
meningkatnya drainase dan penampakan jaringan yang ada dibawahnya. Eviserasi
luka/kelurnya organ dan jaringan internal melalui insisi bisa terjadi jika ada dehisens luka
serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).

6. Sistem Saraf

Bisa menimbulkan nyeri yang tidak dapat diatasi.

h.

Klasifikasi,Sediaan dan Posologi


Cara pemberian yang paling aman dam mudah ialah per oral,absorpsinya cepat dan kadar yang cukup dalam

darah segera tercapai.Bila pemberian per oral tidak mungkin dilakukan maka dapat diberikan parenteral (IM atau
IV).Penggunaan topikal sulfonamid umumya telah ditinggalkan kecuali sulfasetamid untuk mata,mafenid asetat dan Agsulfadlazin ntuk luka bakar,serta sulfasalazin untuk kolitis ulseratif.
Dosis obat tergantung dari umur pasien,macam dan hebatnya penyakit,cara pemberian,jenis sulfa daan keadaan
fungsi ginjal; dan ini akan diterangkan lebih lanjut pada pembicaraan masing-masing golongan sulfa.
Berdasarkan kecepatan absorpsi dan ekskresinya, sulfonamid dibagi dalam 4 golongan besar :

1.

Sulfonamid dengan absorpsi dan ekskresi cepat, antara lain sulfadiazine dan sulfisoksazol

2.

Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per oral dan karena itu kerjanya dalam lumen
usus,antara lain ftalilsulfatiazol dan sulfasalazin

3.

Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pemberian topikal, antara lain sulfasetamid , mefanid, dan Agsulfadiazin

4.

Sulfonamid dengan masa kerja panjang,seperti sulfadoksin, absorpsinya cepat dan ekskresinya lambat.

i.

Sulfonamid dengan absorpsi dan ekskresi cepat

Sulfisoksazol
Merupakan prototip golongan ini dengan efek antibakteri kuat. Sulfisoksazol hanya didistribusinya ke dalam
cairan ekstrasel dan sebagian besar terikat pada protein plasma.Kadar puncak dalam darah tercapai dalam 2-4 jam setelah
pemberian dosis oral 2-4 g.Hampir 95% obat dieksresi melalui urin dalam 24 jam sesudah pemberian dosis tunggal.Kadar
obat ini dalam urin jauh melebihi kadarnya dalam darah sehingga mungkin bersifat bakterisid.Kadarnya dalam CSS hanya
1/3 dari kadar dalam darah.
Kelarutan sulfisoksazol dalam urin jauh lebih tinggi daripada sulfadiazin sehingga jarang menyebabkan
hematuria atau kristaluria (0,2-0,3 %).Sulfa ini dapat menggantikan golongan sulfa yang sukar larut dan toksik terhadap
ginjal.Dosis permulaan untuk dewasa 2-4 g dilanjutkan dengan 1g setiap 4-6 jam,sedangkan untuk anak 150 mg/kg berat
badan sehari. Mula-mula diberikan setengah dosis tersebut,kemudian dilanjutkan dengan 1/6 dosis per hari setiap 4 jam
(Maksimal 6 g sehari).Sulfisoksazol dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang kadang-kadang bersifat letal.Sediaan
sulfisoksazol tersedia dalam bentuk tablet 500 mg untuk pemberian oral.

Sulfametoksazol
Obat ini merupakan derivat sulfisoksazol dengan absorpsi dan ekskresi yang lebih lambat.Dapat diberikan pada
pasien dengan infeksi saluran kemih dan infeksi sistematik.Kristal uria lebih sering timbul karena persentase asetilasinya
tinggi.
Sulfametoksazol umumnta digunakan dalam bentuk kombinasi tetap dengan trimetoprim (di luar negeri ada
sediaan tablet sulfametoksazol saja yang mengandung 500 mg zat aktif).
Sulfadiazin
Absorbsi di usus terjadi cepat dan kadar maksimal dalam darah di capai dalam waktu 3-6 jam sesudah pemberian
dosis tunggal.
Kira-kira 15-40% dari obat yang diberikan diekskresikan dalam bentuk senyawa asetil.Hampir 70% obat ini
mengalami reabsorpsi ditubuli.Karena beberapa macam sulfa sukar larut dalam urin yang asam,maka sering timbul
kristarulia dan komplikasi ginjal lainnya.Untuk mencegah ini pasien dianjurkan minum banyak air agar produksi urin tidak
kurang dari 1200 mL/hari atau diberikan sediaan alkalis seperti Na-bikarbonat untuk menaikkan pH urin.
Dosis permulaan oral pada orang dewasa 2-4 g,dilanjutkan dengan 2-4 g dalam 3-6 kali pemberian ; lamanya
pemberian tergantung dari keadaan penyakit.Anak-anak lebiah dari umur 2 bulan di beriakan dosis awal setengah

dosis/hari kemudian dilsnjutkan dengan 60-150 mg/kg BB (maksimum 6 g/hsri) dalam 4-6 kali pemberian. Sedian
biasanya terdapat dalam bentuk tablet 500 mg.
Sulfasitin
Sulfasitin (Sulfacytin) adalah sulfonamid yang ekskresinya cepat untuk penggunaan per oral pada infeksi saluran
kemih. Masa paruhnya dalam darah lebih pendek daripada sulfisoksazol (4 jam vs 7 jam). Kadarnya dalam darah lebih
rendah dari pada kadar sulfiksolsazol, oleh karena itu hsnya digunakan untuk infeksi saluran kemih. Pemberian dimulai
dengan dosis awal 500 mg dilanjutkan dengan dosis 250 mg 4 kali sehari sulfasitin tesedia dala bentuk tablet 250 mg
(tidak dipasarkan di Indonesia).

Sulfametizol
Sulfametizol termasuk golongan Sulfonamid yang ekresinya cepat, sehingga kadarnya dalam darah rendah
setelah pemberian dosis biasa. Digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dengan dosis 500-1000 mg dalam 3-4
kali pemberian sehari. Sulfametizol tersedia dalam bentuk tablet 250-500 mg .
Kombinasi Sulfa
Untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kristalrulia dibuat sediaan kombinasi tepat beberapa kombinasi
sulfa, misalnya sulfadiazin, sulfanerazin dan sulfa meatazin yang dikenal sebagai trisulfapirimidin. Kombinasi ini tersedia
dalam bentuk tablet atau suspense oral. Kombinasi sulfa ini tidak menghasilkan potensi atau perluasan spectrum anti
bateri.

j.

Sulfonamid yang hanya diabsorsi sedikit oleh saluran cerna

Sulfasalazin
Obat ini digunakan untuk pengobatan kolitis ulseratif dan enteritis regional dan remotoid artritis.Sulfasalazin
dalam usus diuraikan menjadi sulfapiridin yang diabsorpsi dan ekskresi melalui urin,dan 5-aminosalisilat yang mempunyai
efek antiinflamasi.Reaksi toksik yang terjadi antara lain Heinz body anemia, hemolisis akut pada pasien defisiensi G6PD ,
dan agranulositosis. Mual,demam dan artralgia serta ruam kulit terjadi pada 20 % pasien dan desensitisasi dapat
mengurangi angka kejadian.Dosis awal ialah 0,5 g sehari yang ditingkatkan sampai 2-6 g sehari.Sulfasalazin tersedia
dalam bentuk tablet 500 mg dan bentuk suspense 50 mg/ml.
Suksinilsulfatiazol Dan Ftalilsulfatiazol

Dalam kolon,kedua sulfa ini dihidrolisis oleh bakteri usus menjadi sulfatiazol yang berkhasiat antibakteri dan
hampir tidak diabsorpsi oleh usus.Kedua obat ini tidak lagi dianjurkan penggunaannya karena tebukti tidak efektif untuk
enteritis.

k.

Sulfonamid untuk Penggunaan Topikal

Sulfasetamid
Natrium sulfasetamid digunakan secara topical untuk infeksi mata.Kadar tinggi dalam larutan 30% tidak
mengiritasi jaringan mata,karena pHnya netral (7,4),dan bersifat bakterisid.Obat ini dapat menembus kedalam cairan dan
jaringan mata mencapai kadar yang tinggi sehingga sangat baik untuk kongjungtivitis akut maupun kronik.
Meskipun jarang menimbulkan reaksi sentisitisasi,obat ini tidak boleh di berikan pada pasien yang hipersensitif
terhadap sulfonamid.
Obat ini tersedia dalam bentuk salep mata 10% atau tetes mata 30%.Pada infeksi kronik diberikan 1-2 tetes setiap
2 jam untuk infeksi yang berat atau 3-4 kali sehari untuk penyakit kronik.
Ag-Sulfadiazin (Sulfadiazin-Perak)
In vitro obat ini menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang telah resisten terhadap
sulfonamid.Ag-sulfadiazin digunakan untuk mengurangi jumlah koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar.Obat ini
tidak dianjurkan untuk pengobatan luka yang besar dan dalam.Ag dilepaskan secara perlahan sampai mencapai kadar
toksik yang selektif untuk mikroba.Namun mikroba dapat menjadi resistin terhadap obat ini.Ag hanya sedikit diserap
tetapi sulfadiazin dapa mancapai kadar terapi bila permukaan yang diolesi cukup luas.Walaupun jarang terjadi,efek
samping dapat timbul dalam bentuk rasa terbakar,gatal dan erupsi kulit.Ag-sulfadiazin merupakan obat pilihan untuk
pencegahan infeksi pada luka bakar.Obat ini tersedia dalam bentuk krim (10 mg/g) yang diberikan 1-2 kali sehari.
Mafenid
Mafenid (Mafenid Asetat) mengandung alfa-amino-p-toluen sulfonamide,digunakan secara topikal dalam bentuk
krim (85 mg/g) untuk mengurangi jumlah koloni bakteri dan mencegah infeksi luka bakar oleh mikroba gram positif dan
gram negatif.Obat ini tidak dianjurkan untuk pengobatan luka infeksi yang dalam.Kadang-kadang dapat terjadi
superinfeksi oleh kandida.Pemberian kim 1-2 kali sehari dengan ketebalan 1-2 mm pada permukaan luka bakar.Sebelum
pemberian obat,luka harus di bersihkan.Pengobatan di anjurkan sampai dilakukan pencangkokan kulit.
Mafenid cepat diabsorbsi melalui permukaan luka bakar,kadar puncak tercapai daalm 2-4 jam setelah
pemberian.Efek samping berupa nyeri pada tempat pemberian,reaksi alergi dan kekeringan jaringan karena luka tidak
dibalut dan metabolit obat menghambat enzim karbonat anhidrase.Urin dapat menjadi alkalis dan dapat terjadi asidosis
metabolik yang berakibat sesak nafas dan hiperventilasi.

l.

Sulfonamid Dengan Masa Kerja Panjang

Sulfadoksin
Sulfadoksin adalah sulfonamid dengan masa kerja 7-9 hari.Obat ini digunakan dalam bentuk kombinasi tetap
dengan pirimetamin (500 mg sulfadoksin dan 25 mg pirimetamin)untuk pencegahan dan pengobatan malaria akibat
P.falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Namun karena efek samping hebat seperti gejala Steven-Johnson yang
kadang-kadang sampai menimbulkan kematian, obat hanya digunakan untuk pencegahan bila risiko resistensi malaria
cukup tinggi. Kombinasi ini juga digunakan untuk pencegahan pneumonia ( Pneumocystis carinii syndrome) pada pasien
AIDS ( acquired immuno deficiency syndrome ), meskipun penggunaannya belum luas dan efek sampingnya mungkin
hebat.

m.

Efek Samping
Efek samping sering timbul (sekitar 5%) pada pasien yang mendapat sulfonamide. Reaksi ini dapat hebat dan

kadang-kadang bersifat fatal. Karena itu pemakaiannya harus hati-hati. Bila mulai terlihat adanya gejala reaksi toksik atau
sensitisasi, pemakaiannya secepat mungkin dihentikan. Mereka yang pernah menunjukan reaksi tersebut,untuk seterusnya
tidak boleh diberi sulfonamid.
Gangguan Sistem Hematopoetik
Anemia hemolitik akut dapat disebabkan oleh reaksi alergi atau karena defisiensi aktivitas G 6PD.Sulfadiazin
jarang menimbulkan reaksi ini (0,05 %).Agranulositosis terjdi pada sekitar 0,1 % pasien yang mendapatkan
sulfadiazine.Kebanyakan pasien sembuh kembali dalam beberapa minggu atau bulan setelah pemberiann sulfonamid
dihentikan. Anemia aplastik, sangat jarang terjadi dan dapat bersifat fatal.Hal ini diduga berdasarkan efek mielotoksik
langsung.
Trombositopenia berat,jarang terjadi pada pemakain sulfonamid.Trombositopenia ringan selintas lebih sering
terjadi.Mekanisme terjadinya tidak diketahui.
Eosinifilia,dapat terjadi dan bersifat reversibel.Kadang-kadang disertai dengan gejala hipersensivitas terhadap sulfonamid.
Pada pasien dengan gangguan sumsum tulang pasien AIDS atau yang mendapat kemoterapi dengan mielosupreasan sering
menimbulkan hambatan sumsum tulang yang bersifat reversibel.
Gangguan Saluran Kemih
Pemakaian sistemik dapat meimbulkan komplikasi pada saluran kemih,meskipun sekarang jarang terjadi karena
telah banyak ditemukan sulfa yang lebih mudah larut seperti sulfisoksazol.Penyebab utama ialah pembentukan dan
penumpukan kristal dalam ginjal, kaliks, pelvis, ureter atau kandug kemih, yang menyebabkan iritasi dan obstruksi.

Anuria dan kematian dapat terjadi tanpa kristaluria atau hematuria; pada otopsi ditemukan nekrosis tubular dan angiitis
nerkotikans.
Bahaya kristaluria dapat dikurangi dengan membasakan (alkalinisasi)urin atau minum air yang banyak sehingga
produksi urin mencapai 1000-1500 ml sehari. Kombinasi beberapa jenis sulfa dapat pula mengurangi terjadinya kristaluria
seperti telah diterangkan diatas. presipitasi sulfadiazin atau sulfamerazin tidak akan terjadi pada pH urin 7,15 atau lebih.
Reaksi Alergi
Gambaran hipersensitivitas pada kulit dan mukosa bervariasi, berupa kelainan morbiliform, skarlantitform ,
urtikariform, erispeloid, pemifigoid, purpura, petekia, juga timbul eritema nodosum,eritema multiformis tipe StevensJohnson,sindrom Behcet,dermatitis eksfoliativ dan fotosensitivitas.Kontak dermatitis sekarang jarang terjadi. Gejala
umumnya timbul setelah minggu pertama pengobatan tetapi mungkin lebih dini pada pasien yang telah tersensitisasi.
Kekerapan terjadinya reaksi kulit 1,5% dengan sulfadiazin dan 2% dengan sulfisoksazol.Suatu sindrom yang menyerupai
penyakit serum (serum sickness)dapat terjadi beberapa hari setelah pengobatan dengan sulfonamide. Hipersensitivitas
sistemik divus kadang-kadang pula terjadi. Sensitivitas hilang dapat terjadi antara bermacam-macam sulfa.
Demam obat terjadi pada pemakaian sulfonamid dan mungkin juga disebabkan oleh sentsitisasi ; terjada pada 3%
kasus yang mendapat sulfitoksazol. Timbulnya demam tiba-tiba padahari ke tujuh sampai pada ke sepuluh pengobatan,
dan dapat disertai sakit kepala, menggigil, rasa lemah, pruritus, dan erupsi kulit, yang semuanya bersifat refersibel.
Demam obat ini perlu dibedakan dari demam yang menandai reaksi toksik berat misalnya agranulositosis dan anemia
hemolitik akut.
Hepatitis yang terjadi pada 0,1 % pasien dapat merupakan efak tiksik atau akibat sensitisasi. Tanda-tanda seperti
sakit kepala, mual, muntah, demam, hepatomegali, ikterus, dan gangguan sel hati tampak 3-5 hari setalah pangobatan,
dapat berlanjut menjadi atrofi kuning akut dan kematian. Kerusakan pada hepar dapat memburuk walaupun obat
dihentikan.
Lain Lain
1 -2 % pasien mengeluh mual dan muntah yang mungkin bersifat sentral karena meski diberikan parenteral efak
ini kadang kadang juga timbul. Pemberian obat pada bayi dapat menyebabkan pergeseran ikatan bilirubin dengan
albumin. Sulfonamid tidak boleh diberikan dapa wanita hamil aterm.

n.

Interaksi Obat
Sulfonamid dapat berinteraksi dengan anti koagulan oral, anti dia betik, sulfonylurea, dan fenitoin. Dalam hal

tersebut sulfa dapat memperkuat efek obat lain dengan cara hambatan metabolisme atau pergeseran ikatan dengan
albumin. Pada pemberian bersama sulfonamid dosis obat tersebut perlu disesuaikan.

o.

Penggunaan Klinik

Penggunaan sulfonamid sebagai obat pilihan pertama untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu makin tedesak
oleh perkembangan obat anti mikroba lain yang lebih efektif serta meningkatnya jumlah mikroba yang resisten terhadap
sulfa. Namun peranannya meningkat kembali dengan ditemukannya kotrimuksazol.
Pengguaan topikal tidak dianjurkan karena kurang/tidak efektif, sedangkan resiko terjadi reaksi sensitisasi tinggi,
kecuali pemakaian local dari Na-sulfasetamid pada infeksi mata.
Infeksi Saluran Kemih
Sulfonamid pada saat ini bukan lagi obat pilihan utama untuk infeksi saluran kemih, karena jumlah mikroba yang
resisten makin meningkat. Namun demikian sulfisoksazol masih efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih dimana
prevalensi resistensi mikroba masih rendah atau mikroba masih peka. Obat pilihan lain untuk infeksi saluran kemih antara
lain trimetoprim-sulfametoksazol, antiseptic saluran kemih, derivate kuinolon dan ampisilin.
Kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol sangat berguna untuk infeksi saluran kemih. Masalah ini akan dibahas
pada judul kotrimoksazol.
Disentri Basiler
Sulfonamid tidak lagi merupakan obat terpilih, karena banyak strain yang telah resisten. Obat terpilih sekarang
adalah ampisilin atau kloramfenikol. Trimetoprim-sulfametoksazol agaknya masih efektif pada pemberian per oral,
meskipun dibeberapa tempat telah terjadi resistensi. Dosis dewasa ialah 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol
setiap 12 jam selama 5 hari.
Meningitis Oleh Meningokokus
Banyak strain telah resisten terhadap sulfonamide, sehingga obat terpilih adalah penisilin G, ampisilin,
sefolosporin generasi ketiga, atau kloramfenikol. Kemoprofilaksis perlu dipertimbangkan diberikan pada subyek yang
berkontak langsung dengan pasien yang terinfeksi meningokokus. Rifampisin merupakan obat terpilih profilaksis. Bila
strain penyebabnya sensitive diberikan sulfisoksazol dengan dosis 1 gram setiap 12 jam sebanyak 4 dosis.
Nokardiosis
Sulfonamid sangat berguna untuk pengobatan infeksi oleh Nocardia asteroids. Sulfisoksazol atau sulfadiazine
dapat diberikan 6-8 gram per hari sampai beberapa bulan setelah semua gejala hilang. Untuk infeksi yang berat
sulfonamide diberikan bersama ampisilin, eritromisin dan streptomisin.
Trakoma Dan Inclusion Conjunctivitis
Walaupun bukan merupakan obat terpilih, pemberian sulfonamide secara oral selama 3 minggu efektif untuk
trakoma. Walaupun pemberian topical mensupresi gejala infeksi, eradikasi mikroorganisme tidak tercapai. Infeksi

sekunder dengan bakteri piogeinik dapat diobati dengan tetrasiklin topical. Dalam beberapa hari gejala-gejala local akan
menghilang. Untuk inclusion conjunctivitis (inclusion blenorrhea) diberikan salep sulfasetamid 10% topical selama 10 hari
dapat juga dipergunakan tetrasiklin.

Toksoplasmosis
Infeksi toksoplasmosis gondii paling baik diobati dengan pirimetamin. Tetapi menurut pengalaman, lebih baik
bila obat tersebut dikombinasi dengan sulfadiazine, sulfisoksazol atau trisulfapirimidin dosis penuh. Bila terjadi
korioretinitis sebaiknya juga diberikan kortikosteroid.
Kemoprofilaksis Dengan Sulfonamid
Sulfonamid juga digunakan sebagai kemoprofilaksis untuk infeksi spesifik dengan bakteri-bakteri yang sensitive
terhadap sulfa. Untuk mencegah infeksi maupun kambuhnya demam rematik oleh streptococcus-hemolycus group A, sulfa
sama efektifnya dengan penisilin oral. Sulfa tidak dapat membasmi carrier streptokokus, tetapi dapat mencegah timbulnya
faringitis dan demam rematik. Tetapi karena toksisitas sulfa dan kemungkinan infeksi oleh streptokokus yang resisten
terhadap sulfa, maka penisilin lebih disukai untuk maksud ini. Sulfisoksazol dengan dosis 1 gram, 2 kali sehari digunakan
pada pasien yang hipersensitif terhadap penisilin. Dosis untuk anak setengah dari orang dewasa. Bila timbul efek samping
yang umumnya terjadi pada 8 minggu pertama pengobatan, maka perlu dilakukan pemeriksaan hitung leukosit setiap
minggu selaama 8 minggu. Untuk kemoprofilaksis disentri basiler dengan penyebab shigella, kecuali stain yang telah
resisten, dapat digunakan sulfadiazin atau sulfisoksazol 1 sampai 2 gram selama 7 hari. Beberapa penulis menyatakan
bahwa infeksi oleh meningokokus yang sensitive dapat dicegah dengan sulfadiazine atau sulfisoksazol. Namun resistensi
terhadap obat ini sekarang sangat meningkat. Profilaksis infeksi dengan sulfonamide sewaktu manipulasi misalnya
katererisasi, diragukan kegunaannya
2. KOTRIMOKSAZOL
Trimetoprim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatik obligat pada dua tahap yang berurutan pada mikroba,
sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergi. Penemuan sediaan kombinasi ini merupakan kemajuan penting
dalam uasaha meningkatkan efektivitas klinik antimikroba. Kombinasi ini lebih dikenal dengan kotrimoksazol.

a.

Efek Terhadap Mikroba

Spectrum Antibakteri

Spectrum antibakteri trimetoprim sama dengan sulfametoksazol, meskipun daya antibakterinya 20-100 kali lebih
kuat daripada sulfametoksazol.
Mikroba yang peka terhadap kombinasi trime toprim-sulfametoksazol ialah ; S. pneumoniae, C. diphtheria, dan
N meningitis, 50-59 % strain S. aureus, S. epidermidis, S. pyogenes, S. viridians, S. faecalis, E. coli, P. mirabilis, P.
morganii, P. rettgeri, Enterobacter, Aerobacter spesies, Salmonela, Shigela, Serratia dan Alcaligenes spesies dan
Klebsiela spesies. Juga beberapa strain stafilokokus yang resisten terhadap metisilin, trimetoprim atau sulfometoksazol
sendiri, peka terhadap kombinasi tersebut. Kedua komponen memperlihatkan interaksi sinergistik. Kombinasi ini mungkin
efektif walaupun mikroba telah resisten terhadap tirmetropim. Sinergisme maksimum akan terjadi bila mikroba peka
terhadap kedua komponen.

b.

Mekanisme Kerja

Aktifitas antibakteri kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk
membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfonamide menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan
trimetoprim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari dihidrofolat menjadi tetrshidrofolat. Tetrahidrofolat penting untuk
reaksi-reaksi pemindahan satu atom C, seperti pembentukan basa purin (adenin, guanin, dan timidin) dan beberapa asam
amino (metionin, glisin). Sel-sel mamalia menggunakan folat jadi yang terdapat dalam makanan dan tidak mensintensis
senyawa tersebut. Trimetoprim menghambat enzim dihidrofolat reduktase mikroba secara sangat selektif. Hal ini penting,
karena enzim tersebut juga terdapat pada sel mamalia.
Untuk mendapatkan efek sinergi diperlukan perbandingan kadar yang optimal dari kedua obat. Untuk kebanyakan kuman,
rasio kadar sulfametoksazol : trimetoprim, yang optimal ialah 20 : 1. Sifat farmakokinetik sulfonamide yang dipilih untuk
kombinasi dengan trimetoprim sangat penting mengingat diperlukannya rasio kadar yang relative tetap dari kedua obat
tersebut dalam tubuh. Trimetropim pada umumnya 20-100 kali lebih poten daripada sulfametoksazol, sehingga sediaan
kombinasi diformulasikan untuk mendapatkan kadar sulfametoksezol in vivo 20 kali lebih besar daripada trimetoprim.

c.

Resistensi Bakteri

Frekuensi terjadinya resistensi terhadap kotrimaksazol lebih rendah daripada terhadap masaing masing obat, karena
mikroba yang resisten terhadap salah satu komponen masih peka terhadap komponen lainnya. Resistensi mikroba terhadap
trimetropim dapat terjadi karena mutasi. Resistensi yang terjadi pada bakteri gram-negatif disebabkan oleh adanya plasmid
yang membawa sifat menghambat kerja obat terhadap enzim dihidrofolat reduktase. Resistensi S. aureus terhadap
trimetropim ditentukan oleh gen kromosom, bukan oleh pasmid. Resistensi terhadap bentuk kombinasi juga terjadi in vivo.
Pravalensi resistensi E.coli dan S. aureus terhadap kotrimoksazol meningkat pada pasien yang diberi pengobatan dengan
sediaan kombinasi tersebut. Selama lima tahun penggunaan resistensi S. aureus meningkat dari 0,4% menjadi 12,6%.
Dilaporkan pula terjadinya resistensi pada beberapa jenis mikroba Gram-negatif.

d.

Farmakokinetik

Rasio kadar sulfametoksazol dan trimetoprim yang ingin dicapai dalam darah ialah sekitar 20 : 1. Karena sifatnya yang
lipofilik, trimetoprim mempunayi volume distribusi yang besar daripada sulfametoksazol. Dengan memberikan
sulfametoksazol 800 mg dan trimetoprim 160 mg per oral (rasio sulfametoksazol : trimetoprim = 5 : 1) dapat diperoleh
rasio kadar kedua obat tersebut dalam darah kurang lebih 20 : 1.
Trimetoprim cepat didistribusi ke dalam jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein plasma dengan adanya
sulfametoksazol. Volume distribusi trimetoprim hampir 9 kali lebih besar daripada sulfametoksazol. Obat masuk ke CSS
dan saliva dengan mudah. Masing-masing komponen juga ditemukan dalam kadar tinggi di dalam empedu. Kira-kira 65%
sulfametoksazol terikat pada protein plasma. Sampai 60% trimetropim dan 25-50% sulfametoksazol diekskresi melalui
urin dalam 24 jam setelah pemberian. Dua-pertiga dari sulfonamid tidak mengalami konjugasi. Metabolit trimetropim
ditemukan juga di urin. Pada pasien uremia, kecepatan ekskresi dan kadar urin kedua obat jelas menurun.

e.

Sediaan Dan Posologi

Kotrimoksazol tersedia dalam bentuk tablet oral, mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim. Untuk
anak tersedia juga bentuk suspense oral yang mengandung 200 mg sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim/5 mL, serta
tablet pediatric yang mengandung 100 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim. Untuk pemberian IV tersedia sediaan
infuse yang mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim/5 mL. dosis dewasa pada umumnya ialah 800
mg sulfametoksazol dan 160 mg trimetoprim setiap 12 jam. Pada infeksi yang berat diberikan dosis yang lebih besar. Pada
pasien dengan gagal ginjal, diberikan dosis biasa bila klirens kreatinin lebih dari 30 mL/menit; bila klirens kreatinin 15-30
mL/menit, dosis 2 tablet diberikan setiap 24 jam dan bila klirens kreatinin kurang dari 15 mL/menit, obat ini tidak boleh
diberikan.
Dosis yang dianjurkan pada anak ialah trimetoprim 8 mg/kg/BB/hari dan sulfametoksazol 40 mg/kg/BB/hari yang
diberikan dalam 2 dosis. Pemberian pada anak di bawah usia 2 tahun dan pada ibu hamil atau menyusui tidak dianjurkan.
Trimetoprim juga terdapat sebagai sediaan tunggal dalam bentuk tablet 100 dan 200 mg.

f.

Efek Samping

Pada dosis yang dianjurkan tidak terbukti bahwa kotrimoksazol menimbulkan defisiensi folat pada orang normal. Namun
batas antara toksisitas untuk bakteri dan untuk manusia relative sempit bila sel tubuh mengalami defisiensi folat. Dalam
keadaan demikian obat ini mungkin menimbulkan megaloblastosis, leucopenia, atau trombositopenia. Kira-kira 75% efek
samping terjadi pada kulit, berupa reaksi yang khas ditimbulkan oleh sulfonamid. Namun demikian kombinasi
trimetoprim-sulfametoksazol dilaporkan dapat menimbulkan reaksi kulit sampai tiga kali lebih sering dibandingkan
sulfisoksazol pada penberian tunggal (5,9% vs 1,7%). Dermatitis eksfoliatif, sindrom Stevens-Johnson dan toxic epidermal
necrolysis jarang terjadi. Gejala-gejala saluran cerna terutama berupa mual dan muntah; diare jarang terjadi. Glositis dan
Stomatitis relatif sering. Ikterus terutama terjadi pada pasien yang sebelumnya telah mengalami hepatitis kolestatik
alergik. Reaksi susunan saraf pusat berupa sakit kepala, depresi dan halusinasi, disebabkan oleh sulfonamid. Reaksi
hematologik lainnya ialah berbagai macam anemia (aplastik, hemolitik dan makrositik), gangguan koagulasi,

granulositopenia, agranulositosis, purpura, purpura Henoch-Schonlein dan sulfhemoglobinemia. Pemberian diuretik


sebelumnya atau bersamaan dengan kotrimoksazol dapat mempermudah timbulnya trombositopenia, terutama pada pasien
usia lanjut dengan payah jantung; kematian dapat terjadi. Pada pasien AIDS (Aqcuired immune-deficiency syndrome) yang
diberi pengobatan kotrimoksazol umtuk infeksi oleh Pneumocystis carinii, sering terjadi efek samping demam, lemah,
erupsi kulit, dan/atau pansitopenia.

g.

Penggunaan Klinik

Infeksi Saluran Kemih


Sulfonamid masih berguna untuk infeksi ringan saluran kemih bagian bawah. Tetapi timbulnya resistensi makin
meningkat terutama pada bakteri Gram-negatif, sehingga sulfonamide tidak dapat diandalkan untuk pengobatan infeksi
yang lebih berat pada saluran kemih bagian atas. Penting untuk membedakan infeksi pada ginjal dan infeksi pada saluran
kemih bagian bawah. Pada keadaan pielonefritis akut yang disertai demam hebat dan bila ada kemungkinan timbulnya
bakteremia dan syok, sebaiknya jangan diberi pengobatan dengan sulfonamid; tetapi dianjurkan pemberian suatu
antimikroba yang bakterisid secara parenteral yangb dipilih berdasarkan uji sensitivitas mikroba dari hasil kultur urin.
Sulfonamid digunakan untuk pengobatan sistitis akut maupun kronik, infeksi kronik saluran kemih bagian atas dan
bakteriuria yang ansimtomatik. Sulfonamid efektif untuk sistitis akut tanpa penyulit pada wanita. Pengobatan infeksi
ringan saluran kemih bagian bawah, dengan kotrimoksazol ternyata sangat efektif, bahkan untuk infeksi oleh mikroba
yang telah resisten terhadap sulfonamid sendiri. Dosis 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol setiap 12 jam
selama 10 hari menyembuhkan sebagian besar pasien. Efek terapi sediaan kombinasi lebih baik daripada masing-masing
komponennya terutama bila mikroba penyebabnya golongan enterobacteriaceae. Pemberian dosis tunggal ( 320 mg
trimetoprim dengan 1600 sulfametoksazol) selama 3 hari, juga efektif untuk pengobatan infeksi akut saluran kemih yang
ringan. Sediaan kombinasi ini terutama efektif untuk infeksi kronik dan berulang saluran kemih. Pada wanita,
efektivitasnya mungkin disebabkan oleh tercapainya kadar terapi dalam secret vaginal. Jumlah mikroba disekitar orificium
urethrea menurun sehingga kemungkinan terjadinya infeksi ulang pada saluran kemih bagian bawah berkurang.
Tirmetoprim juga ditemukan dalam kadar terapi pada sekret prostat dan efektif untuk pengobatan infeksi prostat. Dosis
kecil (200 mg sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim per hari atau 2-4 kali dosis tersebut yang diberikan satu atau dua
kali per minggu) efektif untuk mengurangi frekuensi kambuhnya infeksi saluran kemih pada wanita. Harus diingat bahwa
trimetoprim saja juga cukup efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Dosis dewasa yang umum digunakan ialah
100 mg setiap 12 jam. Untuk memberikan pengobatan dengan sediaan kombinasi tersebut perlu dipertimbangkan hasil
pemeriksaan sensitivitas mikroba.
Infeksi saluran kemih berulang lebih sukar ditanggulangi daripada infeksi akut. Pengobatan infeksi kronik dengan sediaan
kombinasi ini perlu mempertimbangkan hasil pemeriksaan sensitivitas mikroba.
Infeksi saluran kemih berulang lebih sukar ditanggulangi daripada infeksi akut; infeksi kronik ini mungkin disebabkan
infeksi ulang oleh mikroba lain ataun karena persistensi mikroba yang sama. Infeksi ulang biasanya dapat diatasi dengan
antimikroba seperti sulfisoksazol, sedangkan kambuh oleh mikroba yang sama biasanya lebih sukar diatasi dan
menunjukkan adanya sumber infeksi yang persisten di saluran kemih bagian atas yang sukar dibasmi. Sebab persistensi ini

antara lain : (1) obstruksi yang bersifat funsional atau mekanik yang menghambat pengosongan kandung kemih; (2)
resistensi mikroba terhadap antibiotik yang biasa digunakan; (3) gangguan daya tahan tubuh seperti pada pasien diabetes
mellitus; (4) kombinasi dari ketiga hal di atas. Mikroba penyebabnya antara lain Escherichia, Enterobacter (Aerobacter),
Alcaligenes, Klebsiella, Proteus, kokus Gram-positif (termasuk enterokokus) dan mikroba campuran. Lajub penyembuhan
infeksi kronik saluran kemih relatif rendah, apapun antimikroba yang digunakan, dan terapi supresif kronik atau
pengobatan intermiten terhadap kambuhnya gejala merupakan tujuan pengobatan yang paling baik. Pengobatan dengan
antibiotik pada kasus demikian ternyata tidak memberikan hasil yang lebih baik dan pemberian antibiotic jangka lama
sering menimbulkan efek samping.
Infeksi Saluran Napas
Kotrimoksazol tidak dianjurkan untuk mengobati faringitis akut oleh S. pyogenes, karena tidak dapat membasmi
miroba. Preparat kombinasi ini efektif untuk pengobatan bronchitis kronis dengan eksaserbasi akut. Perparat kombinasi ini
juga efektif untuk pengobatan otitis media akut pada anak dan sinusitis maksilaris akut pada orang dewasa yang
disebabkan oleh strain H. influenza dan S. pneumoniae yang masih sensitif. Beberapa galur pneumokokus penyebab
bakteremia dilaporkan telah resisten terhadap obat ini.
Infeksi Saluran Cerna
Sediaan kombinasi ini berguna untuk pengobatan shigellosis karena beberapa strain mikroba penyebabnya telah
resisten terhadap ampisillin. Namun demikian akhir-akhir ini dilaporkan terjadinya resistensi mikroba terhadap
kotrimoksazol. Obat ini juga efektif untuk demam tifoid. Kloramfenikol tetap merupakan obat terpilih untuk demam tifoid,
karena prevalensi resistensi mikroba penyebabnya terhadap obat ini masih rendah.
Kotrimoksazol efektif untuk carier S. typhi dan salmonella spesies lain. Dosis yang dianjurkan : 160 mg trimetoprim-800
mg sulfametoksazol dua kali sehari selama 3 bulan, tetapi dengan dosis ini penyakit masih dapat kambuh. Terjadinya
penyakit kronik pada kandung empedu diduga karena kegagalan menghilangkan carier state ini. Diare akut karena E. coli
dapat dicegah atau diobati dengan pemberian trimetoprim tunggal atau kotrimoksazol.
Infeksi Oleh Pneumocystis Carinii
Pengobatan dengan dosis tinggi (trimetoprim 20 mg/kgBB perhari dengan sulfametoksazol 100 mg/kgBB per
hari, dalam 3-4 kali pemberian) efektif untuk pasien infeksi yang berat pada pasien AIDS. Beberapa hasil penelitian telah
memperlihatkan bahwa pengobatan dengan dosis kecil efektif untuk pencegahan infeksi pneumocystis carinii pada pasien
neutropenia.
Infeksi Genitalia
Karena resistensi mikroba, kotrimoksazol tidak dianjurkan lagi untuk pengobatan gonore. Pemberian eritromisin
500 mg 4 kali sehari selama 10 hari atau 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol per oral dua kali sehari selama
10 hari efektif untuk pengobatan chancroid.

Infeksi Lainnya
Infeksi oleh jamur nokardia dapat diobati dengan kombinasi ini. Banyak laporan mengemukakan bahwa sulfametoksazol
mungkin efektif untuk pengobatan bruselosis bahkan bila ada lesi local seperti arthritis, endokarditis atau epididimorkitis.
Dosis yang diberikan berkisar antara 2 tablet (800 mg sulfametoksazol dan 160 mg trimetoprim) tiga kali sehari selama 1
minggu diikuti dengan 2 tablet per hari selama 2 minggu sampai 4-8 tablet per hari selama 2 bulan. Sebagian besar pasien
sembuh terutama setelah pemberian rangkaian dosis yang disebut terakhir, namun 4% pasien kambuh dengan rangkaian
dosis tersebut. Pemberian kotrimoksazol secara IV dengan karbenisilin ternyata efektif untuk pengobatan infeksi pada
pasien neutropenia. Trimetoprim-sulfametoksazol juga berguna untuk pengobatan berbagai penyakit infeksi berat pada
anak. Strain S. aureus yang telah resisten terhadap metisilin mungkin masih peka terhadap kotrimoksazol, tetapi
vankomisin masih tetap merupakan obat pilihan untuk infeksi berat yang disebabkan oleh S. aureus yang telah resisten
terhadap metisilin.

B.

ANTISEPTIK SALURAN KEMIH

Berbagai obat antimikroba tidak dapat di gunakan untuk mengobati infeksi sistemik yang berasal dari saluran kemih
karena bioavailabilitasnya dalam plasma tidak mencukupi. Tetapi pada tubuli renalis, obat-obat ini akan mengalami
pemekatan dan berdifusi kembali ke parenkim ginjal sehingga bermanfaat untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Oleh
Karena kadarnya hanya cukup tinggi pada saluran kemih saja., maka antimikroba seperti ini sering dianggap sebagai
antiseptic local untuk infeksi saluran kemih yang bekerja di mukosa saluran kemih.

1.

METENAMIN

Kimia
Metenamin atau heksamin adalah heksametilentetramin. Dalam suasana asam, metenamin terurai dan
membebaskan formaldehid yang bekerja sebagai antiseptik saluran kemih. Formaldehid mematikan kuman dengan jalan
menimbulkan denatursi protein.
Reaksi ini berlangsung baik pada pH yang rendah. Pada pH lebih dari 7.4 obat ini tidak efektif.
Efek Antimikroba
Metenamin aktif terhadap berbagai jenis mikroba. Kuman gram negative umumnya dapat dihambat dengan
metenamin, kecuali Proteus karena kuman dapat mengubah urea menjadi amonium hidroksida yang menaikkan pH
sehingga menghambat perubahan metenamin menjadi formaldehid.
Karena tidak terjadi resistensi kuman terhadap formaldehid, efektivitas metenamin tetap baik.

Efek Samping Dan Kontraindikasi


Metenamin dikontraindikasikan pada gangguan fungsi hati karena dalam lambung obat ini membebaskan
ammonia. Iritasi lambung sering terjadi bila di berikan dosis lebih dari 500 mg per kali.
Dosis 4-8 gr sehari selama lebih dari 3 minggu mungkin menimbulkan iritasi kandung kemih, proteinuria, hematuria dan
erupsi kulit. Oleh karena itu dosis harus segera di turunkan bila urin telah steril.
Metenamin jangan diberikan bersama sulfonamide karena dapat menimbulkan kristaluria. Selama pengobatan
dengan metenamin, pasien harus menghindarkan diri dari makanan atau obat yang dapat meningkatkan pH urin misalnya
susu, antacid.

Sediaan Dan Posologi


Metenamin dan metenamin mendelat tersedia dalam bentuk tablet 0.5 gr. Dosis untuk orang dewasa ialah 4 kali 1
gram/hari, diberikan setelah makan dosis untuk anak kurang dari 6 tahun ialah 50 mg /kgBB/hari yang dibagi dalam
beberapa dosis.
Indikasi
Obat ini digunakan untuk profilaksis terhadap infeksi saluran kemih brulang, khususnya bila ada residu kemih.
Metenamin tidak di indikasikan untuk infeksi akut saluran kemih.

2.

ASAM NALIDIKSAT

Kimia
Kristal asam nalidiksat berupa bubuk putih atau kuning muda. Kelarutan dalam air rendah sekali, tetapi mudah
larut dalam hidroksida alkali dan karbonat.
Spektrum Antimikroba
Asam nalidiksat bekerja dengan menghambat enzim DNA girase bakteri dan biasanya bersifat bakterisid
terhadap kebanyakan kuman pathogen penyebab infeksi saluran kemih. Obat ini menghambat E. coli, proteus spp.,
Klebsiella spp. Dan kuman-kuman koliform lainnya. Pseudomonas spp. Biasanya resisten.
Resistensi terhadap asam nalidiksat tidak dipindahkan melalui plasmid (factor R), tetapi dengan mekanisme lain.
Resistensi terhadap asam nalidiksat telah menimbulkan masalah klinik.

Farmakokinetik
Pada pemberian per oral, 96% obat akan diserap. Konsentrasinya dalam plasma kira-kira 20-50 mikrogram/mL,
tetapi 95% terikat dengan protin plasma. Dalam tubuh, sebagian dari obat ini akan di ubah menjadi asam
hidroksinalidiksat yang juga mempunyai daya antimikroba.

Efek Samping Dan Kontraindikasi


Pemberian asam nalidiksat per oral kadang-kadang menimbulkan mual, muntah, ruam kulit dan urtikaria. Diare,
demam, eosinofilia, dan fotosensivitas kadang-kadang timbul, walaupun hal ini jarang terjadi dan diduga karena defisiensi
enzim G6PD.
Gejala SSP dapat berupa sakit kepalam, vertigo dan kantuk. Pada anak dan bayi mendapat asam nalidiksat dosis tinggi,
dapat timbul kejang yang mungkin disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakaranial. Efek samping ini dapat pula timbul
bila obat diberikan kepada pasien parkinsonisme, epilepsy dan gangguan sirkulasi darah pada otak.asam naliksidat tidak
boleh diberikan pada bayi berumur kurang dari 3 bulan juga pada trimester 1 kehamilan.
Sediaan Dan Posologi
Asam naliksidat tersedia dalam bentuk tablet 500 mg. dosis untuk orang dewasa iala 4 kali 500 mg/hari. Obat ini
di kontraindikasikan pada wanita hamil trimester pertama dan juga anak prapubertas.
Indikasi
Asam nalidiksat di gunakan untuk menobati infeksi saluran kemih bawah tanpa penyulit (misalnya sistisis akut).
Obat ini tidak efektif untuk infeksi saluran kemih bagian atas, misalny pielonefritis.
Dengan ditemukannya fluorokuinolon (spirofloksasin, ofloksasin, dll.) yang mempunyai daya antibakteri dan sifat
farmakokinetik yang lebih baik,tampaknya asam nalidiksat tidak akan banyak digunakan lagi di masa yang akan dating.

3.

NITROFURANTOIN

Kimia Dan Efek Antibakteri

Nitrofurantoin ada antiseptic saluran kemih derivate furan. Obat ini efektif untuk kebanyakan kuman penyebab
infeksi saluran kemih seperti E. coli, proteus, sp., klebsiella, enterobacter, enterococcus, dll. Untuk Proteus mirabilis dan
pseudomonas obat ini kurang efektif. Resistensi dapat bekembang melalui pemindahan plasmid.

Farmakokinetik
Nitrofurantoin diserap dengan cepat dan lengkap melalui saluran cerna. Pemberian bersama makanan bukan
hanya mengurangi kemungkinan terjadinya iritasi lambung tapi juga mempertinggi biovailabilitasnya.
Setelah diserap, obat ini terikat kuat dengan protein plasma dan cepat di ekskresi melalui ginjal sehingga kada obat bebas
dalam darahtidak dapat mencapai kadar terapi. Masa [aruhny dalam serum hany 20 menit dan kira-kira 40% obat ini di
ekskresi dalam bentuk asalnya, sehingga didapatkan kadar yang cukup tinggi dalam urin bila faal ginjal cukup baik.
Bila klirens kreatinin kurang dari 40 ml/menit maka kadar obat dalam urin tidak cukup tinggi, sebaliknya terjadi
akumulasi dalam darah sehingga kemungkinan terjadinya intoksikasi juga lebih besar. Dengan demikian nitrofurantion
tidak boleh di berikan pada pasien gagal gijal.
Nitrofurantion menyebabkan urin berwarna agak coklat.
Efek Samping Dan Kontraindikasi
Efek samping yang paling sering di jumpai ialah mual, muntah dan diare. Keluhan-keluhan ini dapat dikuranngi
dengan pemberian bersama makanan atau susu. Reaksi hipersensivitas mungkin timbul berupa demam, leucopenia,
granulositopenia, anemia hemolitik, ikterus kolekstatik dan kerusakan hepatoselulerr. Selain itu dapat timbul pneumonitis
akibat reaksi alergi dan fibrosis pulmonus interstinal (jarang sekali terjadi).
Efek samping lain yang mungkin timbul iallah kelainan neurologic seperti sakit kepala, vertigo, kantu, nistagmus, dan
nyeri otot. Kelainan-kelainan lain bersifat sementara. Polineuropati lebih mudah terjadi pada pasien dengan gangguan faal
ginjal, anemia, diabetes, defisiensi vitamin b kompleks atau gangguan keseimbangan elektrolit.
Netrofurantion di kontraindikasikan pda gangguan faal ginjal dengan klirens kreatinin kurang dari 40 mL/menit. Obat ini
jga dikontraindikasikan pada gangguan faal ginjal bagi wanita hamil aterm dan bayi berumur kurang dari 3 bulan, karena
dapat menimbulkan anemia hemolitik.

Sediaan Dan Posologi


Nitrofurantion tersedia dalam bentuk kapsul atau tablet 50-100mg. dosis untuk orang dewasa ialah 3-4 kali 50100 mg/hari. Untuk anak diberikan dosis 5-7 mg/kgBB/hari yang dibagi dalam beberapa dosis. Obat ini tidak tersedia di
Indonesia.
Penggunaan Klinik
Nitrofurantion efektif untuk mengobati bakteriuria yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih bagian bawah.
Penggunaanya terbatas untuk tujuan profilaksdis atau pengobatan syupresif infeksi saluran kemih menahun, yaitu setelah
kuman penyebanya dibasmi atau dikurangi dengan antimikroba lain yang l;ebih efektif.
Hidroksimetilnitrofurantion digunakan dengan indikasi yang sama dengan nitrofurantion. Dosisnya 4 kali 40 mg sehari per
oral.

4.

FOSFOMISIN TROMETAMIN

Obat ini bekerja dengan menghambat tahap awal sintesis dinding sel kuman. Fosfomisin aktif terhadap kuman grampositif maupun gram-negatif. Biovailabilitasnya pada pemberian oral hanya 37%. Pemberian bersama makanan akan
mengurani penyerapan obat ini sebanyak 30%. Obat ini tidak terikat dengan protin plasma. Masa paruh eliminasinya
sekitar 5.7 jam. Ekskresi renal obat ini ialah 38%. Fofomisin tidak mengalami metabolism dalam tubuh dan di keluarkan
dalam urin dan tinja sebagai induknya.
Obat ini di indikasikan untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (sistisis akut0 pada wanita yang di sebabkan oleh
E.coli dan e.faecalis. efek samping yng di hubungkan dengan penggunaan obat ini ialah diare, mual, sakit kepala, dan
vaginitis. Obat ini dapat di berikan pada wanita hamil. Fosfomisin trometamin tersedia sebagai bubuk dalam sachet berisi
3 g yang harus di campur dengan air kurang lebih 100 ml dan diminum sebagai dosis tunggal. Air panas tidak boleh
digunakan untuk pelarut obat ini. Obat yang telah dilarutkan harus segera di minum.
ANTIMIKROBAKTERIA ATIPIK
Mikrobakteria atipik tidak ditularkan dari manusia ke manusia, penyakit yang ditimbulkan oleh kuman ini umumnya
kurang berat dibadingkan tuberkulosis. Pada umumnya obat antituberkulosis kurang aktif terhadap mikrobakteria atipik,
sedangkan antibiotik eritromisin, sulfonamid dan tetrasiklin yang aktif terhadap mikrobakteria atipik ternyata tidak aktif
pada tuberkulosis.

Antibiotik Makrolid

Mycrobacterium avium compleks ( MAC ), yang mencakup M avium dan M intracelullare, peyebab tersering
dan peting dar penyakit pada penyakit desiminasi stadium lanjut pada AIDS. Kombinasi beberapa obat
diperlukan untuk mengatasi penyakit ini. Infeksi MACdiseminasi sangat sulit untuk disembuhkan.
Penggunaan kombinasi berbagai obat akan menimbulkan berbagai efek samping yang sulit dikelola.

Rifabutin
Rifabutin dosis sekali sehari 300 mg telah terbukti meurunkan insidens bakteremia M avium compleks pada
pasien AIDS.

Mikobakteria atipik tidak di tularkan dari manusia ke manusia. Penyakit yang di timbulkan oleh kuman ini umumnya
kurang berat di bandingkan tuberculosis. Pada umunya obat antituberkulosis kurang aktiv terhadap mikobakteria atipik,
sedangkan antibiotic eritromisin, sulfonamide dan tetrasiklin yang aktif terhadap tuberculosis. Seperti mikrobakteria lain,
mikobakteria atipik juga cepat timbul resistensi terhadap penggunaan obat tunggal, sehingga harus di beri obat dalam
kombinasi. M.kansaii peka terhadap rifampisin dan etambutal, tetapi kurang peka terhadap INH dan resisten penuh
terhadap pirazinamid. Pada tabel 40-1 tercantum obat-obat yang diindikasi untuk infeksi oleh barbagai mikobakteria
apitik.
Antibiotik Makrolid
Mycobacteium avium complex (MAC), yang mencakup M. avium dan M. intracellular, penyebab tersering da n penting
dari penyakit diseminasi pada stadium lanjut pada AIDS (CD4 <>M.avium complex kurang peka di banding M.
tuberculosis terhadap kebanyakan antituberkulosis. Kombinasi beberapa obat diperlukan untuk mengatasi penyakit ini.
Infeksi MAC diseminasi sangat sulit untuk dapat di sembuhkan dan bila CD4 <>
Klaritromisin dan azitromisin merupakan obat yang penting untuk pengobatan infeksi MAC dan mikobakteria
nontuberkulosis lain. Klaritromisin dapat berinteraksi dengan obat-obat yang di metabolisme oleh system enzim P450.
Farmakologi antibiotic makrolid di bahas di bab 45 di buku ini. Klaritomisin in vitro lebih aktif di bandingkan azitromisin
terhadap bakteri MAC, tetapi secara klinis tidak berpengaruh karena kadar azitromisin di jaringan jauh melebihi kadar
dalam darah, sehinggga melebihi KHM MAC. Untuk pengobatan MAC klaritomisin maupun azitromisin tidak boleh di
berikan sebagai monoterapi karena akan timbul resistensi pada penggunaan jangka panjang.
Rifabutin
Rifabutin dosis sekali sehari 300 mg telah terbukti menurunkan insidens bakteremia M. avium complex pada
pasien AIDS dengan CD4 <>

C.

TUBERKULOSTATIK DAN LEPROSTATIK

1.

TUBERKULOSTATIK

Obat yang digunakan untuk tuberkulosis di golongkan atas dua kelompok, yaitu kelompok obat lini pertama dan lini
kedua. Kelompok obat lini pertama yaitu, isoniazid, rifampisin, etambutol, streptomisin, dan pirazinamid memperlihatkan
efektifitas yang tinggi dengan toksitas yang dapat diterima. Antituberkolosis lini kedua adalah antibiotik golongan
fluorokulnolon ( siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin), sikloserin, etionamid, amikasin, kanamisin, kepromisin, dan
paraaminosalisilat.
1.1 Isoniazid
Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang sering disingkat INH, hanya satu derivatnya menghambat pembelahan kuman
tuberkolosis yakni iproniazid, tetapi obat ini terlalu toksik baut manusia.

Efek Antibakteri
Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkolostatik dan tuberkolosid dengan KHM ( Kadar Hambat Minimum )
sekitar 0.025-0.05g/ml. Pembelahan kuman masih berlangsung 2 sampai 3 kali sebelum dihambat sama
sekali. Efek bakterisidnya haya terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Pada hewan ternyata aktifitas
isoniazid lebih kuat dibandingkan streptomisin, isoniazid dapat menembus kedalam sel dengan mudah.

Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesisi yang diajukan, diantaranya efek
pada lemak, biosintesis asam nukleat dan glikolisis.

Resistensi
Petunjuk yang ada memberikan kesan bahwa mekanisme terjadinya resistensi berhubungan denga adaya
kegagalan obat mencapai kuman atau kuman tidak menyerap obat. Peggunaan INH juga dapat menyebabkan
timbulnya strain baru yang resisten. Perubahan sifat dari sensitif menjadi resisten biasanya terjadi
dalambeberapa minggu setelah pengobatan dimulai. Waktu yang diperlukan untuk timbulnya resistensi
berbeda pada kasus yang berlainan.

Farmakokinetik
Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak dicapai dalam waktu 1-2
jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid terutama mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan
metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat dalam
plasma dan masa paruhnya. Isoniazid muda berdifusi kedalam sel dan semua cairan tubuh. Obat terdapat
degan kadar yang cukup dalam cairan pleura dan cairan asites. Antara 75-95 % isiniazid di ekskresi melalui

urin dalam waktu 24 jam dn hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit. Ekskresi teutama dalam bentuk
asetil isoniazid.

Efek samping
Reaksi hipersensitivitas mengakibatkan demam, berbagai kelainan kulit berbetuk morbiliform,
makulopapular, dan urtikaria. Isoniazid dapat mencetuskan terjadinya kejang pada pasien dengan riwayat
kejang. Neuritis optik dengan atropi dapat juga terjadi. Isoniazid juga dapat menimbulkan ikterus dan
kerusakan hati yang fatal akibat terjadinya nekrosis multilobular.

Status dalam Pengobatan


Isoniazid masih tetap merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe tuberkolosis. Efek
samping dapat dicegah dengan pemberian peridoksin dan pengawasan yang cermat pada pasien. Untuk
tujuan terapi, obat ini harus digunakan berasama obat lain, untuk tujuan pencegahan dapat diberikan tunggal.

1.2 Rifampisin
Rifampisin adalah derivat semisetetik rifamisin B yaitu salah satu kelompok antibiotik makrosiklik yang
disebut rifamisin.

Aktivitas Antibakteri
Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram positif dan gram negatif. Terhadap kuman
gram positif kerjanya tidak sekuat penisilin G, tetapi sedikit lebih kuat dari eritomisin, linkomisin dan
sefalotin. Terhadap kuma gram negatif kerjanya lebih lemah dari tetrasiklin, kanamisin.

Farmakokinetik
Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat diekskresi melalui empedu dan kemudian mengalami
sirkulasi enterohepatik. Penyerapanya dihambat oleh adanya makanan sehinnga dalam waktu 6 jam hampir
semua obat yang berada dalam saluran empedu berbentuk diasetil rifampisin, yang mempunyai aktivitas
atibakteri penuh. Obat ini berdifusi baik ke berbagai jaringa termasuk ke cairan otak.

Efek Samping
Rifampisin jarang menimbulkan efek yag tidak diingini. Dengan dosis biasa, kurang dari 4 % pasien
tuberkolosis mengalami efek toksik. Yang paling sering ialah ruam kulit, demam, mual da muntah.

Interaksi Obat

Pemberian PAS bersama rifampisin akan menghambat absorpsi rifampisin sehingga kadarnya dalam darah
tidak cukup. Rifampisin merupakan pemacu metabolisme obat yang cukup kuat, sehinnga berbagai obat
hipoglikemik oral, kortikosteroid dan kontrasepsi oral akan berkurang evektivitasnya bila di berikan
bersama rifampisin.

Status dalam Pengobatan


Rifampisin merupakan obat yang sangat efektif untuk pegobatan tuberkolosis dan sering digunaka bersama
isoniazid untuk terapi tuberkolosis jangka pendek. Efek sampingnya beraneka ragam, tetapi insidensnya
rendah dan jarang sampai menghentikan terapi.

Sediaan dan Posologi


Rifampisin di Indonesia terdapat dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg. Selain itu terdapat pula tablet
450 mg dan 600 mg serta suspensi yang mengandung 100 mg/ 5 ml rifampisin. Beberapa sediaan
dikombinasikan dengan isoniazid.

3.

Etambutol

Aktivitas Antibakteri
Hampir semua galur M. tuberkolosis da M. kansasli sensitif terhadap etambutol. Etambutol tidak efektif
untuk kuman lain. Obat ini tetap menekan pertumbuhan kuman tuberkolosis yang telah resisten terhadap
isiniazid dan streptomisin. Kerjanya menghambat sintetis metabolit sel sehinnga metabolisme sel terhambat
dan sel mati.

Farmakokinetik
Pada pemberian oral sekitar 75-80 % etambutol diserap dari saluran cerna. Kadar puncak dalam plasma
dicapai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian. Dalam waktu 24 jam, 50 % etambutol yang diberikan
diekskresikan dalam bentuk asal melalui urin, 10 % sebagai metabolit, berupa derivat aldehid dan asam
karboksilat.

Efek Samping
Etambutol jarang menimbulkan efek samping. Efek samping yang paling peting adalah gagguan
penglihatan, biasanya bilateral, yang merupakan neoritis retrobulbar yang berupa turunnya tajam
penglihatan, hilangnya kemampuan membedakan warna dan lainnya.

Status dalam Pengobatan

Etambutol telah berhasil digunakan dalam pengobatan tuberkolosis dan menggantikan tempat asam para
amino Sali silat karena tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya dan dapat diterima dalam terapi.

Sediaan dan Posologi


Di Indonesia etambutol terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Ada pula sediaan yang dicampur
dengan isoiazid dalam betuk kombinasi tetap.

3.

Pirazinamid

Pirazinamid adalah analog niklatinamid yang telah dibuat sintetiknya. Obat ini tidak larut dalam air.

Aktivitas Antibakteri
Piranizamid di dalam tubuh dihidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam pirazinoat yang aktif
sebagai tuberkulostatik hanya pada media yang bersifat asam.

Farmakokinetik
Piranizamid mudah diserap di usus da tersebar luas keseluruh tubuh. Dosis 1 gr menghasilkan kadar plasma
sekitar 45 g/ml pada dua jam setelah pemberian obat. Ekskresinya terutama melalui filtrasi glomelurus.
Asam pirazinoat yag aktif kemudian mengalami hidroksilasi menjadi asam hidropirazinoat yang merupaka
metabolit utama.

Efek Samping
Efek samping yang paling umum dan serius adalah kelainan hati. Efek samping lain adalah artralgia,
anoreksia, mual dan muntah, juga disuria, malaise dan demam.

Sediaan dan Posologi


Pirazinamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 50 mg. Dosis oral ialah 20-35 mg./kgBB sehari.

Status dalam Pengobatan


Sejak pengobatan tuberkolosis jangka pendek, kedudukan pirazinamid berubah menjadi obat primer, obat ini
lebih aktif pada suasana asam dan merupakan bakterisid yang kuat untuk bakteri tahan asam yang berada
dalam sel makrofag.

3.

Streptomisin

Streptomisin ialah antituberkolosis pertama yang secara kliik dinilai efektif.

Aktivitas Antibakteri
Streptomisin in Vitro bersifat bakteriostatik da bakterisid terhadap kuman tuberkolosis. Obat ini dapat
mencapai kavitas, tetapi relatif sukar berdifusi kecairan intrasel.

Resitensi
Dalam populasi yang besar selalu terdapat kuman yang resisten terhadap streptomisin. Secara umum dapat
dikatakan bahwa makin lama terapi denga streptomisin belangsung, makin meningkat resitensinya.

Farmakokinetik
Setelah diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin berada dalam plasma. Hanya sedikit sekali
yang masuk dalam eritrosit. Stretomisin kemudian meyebar keseluruh cairan ekstrasel. Kira-kira sepertiga
streptomisin yang berada dalam plasma, terikat protein plasma. Streptomisi di ekskresi melalui filtrasi
glomelurus.

Iteraksi Obat
Interaksi dapat terjadi dengan obat penghambat neuromoskular berupa potensial penghambatan. Selain itu
interaksi juga terjadi denga obat lainyang juga bersifat ototoksik.

Sediaan dan Posologi


Streptomisin terdapat dalam bentuk bubuk injeksi dalam vial 1 dan 5 gr.

3.

Fluorokuinolon
Selain aktivitasnya terhadap berbagai gram positif dan gram negatif siprofloksasin, ofloksasin, dan

levoflaksasin mempuyai aktivitas yang baik terhadap M. tubercolosis sehingga digunakan dalam pengobatan
tuberkulosissebagai obat lini kedua.

3.

Asam Paraaminosalisilat

Paraaminosalisilat ( PAS ) merupakan obat yang sering dikombinasikan dengan anti tuberkolosis yang lain.

Aktivitas Antibakteri

Obat ini bersifat bakteriostatik. Sebagian besar mikrobakterium atipitik tidak dihambat oleh obat tersebut.
Efektivitas obat ini kurang jika dibandingkan dengan isoniazid, streptomisin dan rifampisin.

Mekanisme Kerja
Mekanisme kerjanya sangat mirip dengan sulfonamide. Karena sulfonamide tidak efektif terhadap M
tuberkulosis dan PAS tidak efektif terhadap kuman yag sensitif terhadap sulfonamide.

Resistensi
Secara umu resistensi in vitro terhadap PAS lebih sukar terjadi dibadingkan terhadap streptomisin.

Farmakokinetik
PAS mudah diserap melalui saluran cerna. Obat ini mencapai kadar tinggi dalam berbagai cairan tubuh
kecuali dalam cairan otak.

Efek Samping
Insidens efek samping pada pemberian PAS hampir mencapai 10 , gejala yang agak menonjol ialah mual
dan gangguan saluran cerna lainnya. Pada keadaan tertentu dapat timbul hemolisis.

Sediaan dan Posologi


PAS terdapat dalam bentuk tablet 500 mg yang diberikan dengan dosis oral 8-12 g sehari, dibagi dalam
beberapa dosis.

3.

Sikloserin

Sikloserin merupkan antibiotik yang dihasilkan oleh Stretomyces orchidaceus, dan sekarang dapat dibuat
secara sintetik.

Aktivitas Antibakteri
In vitro sikloserin menghambat pertumbuhan M tuberculosis pada kadar 5-20 g/ml melalui penghambatan
sintesis dinding sel.

Farmakokinetik

Setelah pemberian oral absorpsinya baik, kadar puncak dalam darah dicapai 4-8 jam setelah pemberian obat.
Distribusi dan difusi keseluruh cairan dan jaringan tubuh baik sekali. Ekskersi maksimal tercapai dalam 2-6
jam setelah pemberian obat dan 50 % di ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh selama 12 jam pertama.

Sediaan dan Posologi


Sikloserin dalam bentuk kapsul 250 mg, diberikan 2 kali sehari.

Efek Samping
Efek samping yang palig sering timbul dalam pegguanaan sikloserin ialah pada SSP dan biasanya terjadi
dalam 2 minggu pertama pengobatan.

3.

Etionamid

Etionamid merupakan turunan tiosonikotinamid. Zat ini berwarna kuning dan tidak larut dalam air.

Aktivitas Antibakteri
In vitro, etionamid menghambat pertumbuhan M tuberculosis jenis human. Resistensi mudah terjadi bila
dosis kurang tinggi atau obat ini diguakan sendiri.

Farmakokinetik
Pada pemberian peroral etionamid mudah diabsorpsi. Kadar puncak tercapai dalam 3 jam dan kadar terapi
bertahan selama 12 jam. Distribusi cepat, luas dan merata keseluruh jaringan dan cairan tubuh. Ekskresi
berlangsung cepat dan terutama dala bentuk metabolitnya haya 1 % dalam betuk aktif.

Efek Samping
Efek samping yang paling sering dijumpai adalah aoreksia, mual dan muntah.sering juga terjadi hipotensi
postural yang hebat, depresi mental, mengantuk dan asthenia.

Sediaan dan Posologi


Etionamid tedapat dalam betuk tablet 250 mg. Dosis awal ialah 2 kali 250 mg perhari.

Status dalam pengobatan


Etionamid merupakan antituberkulosis sekunder yang harus dikombinasi dengan antituberkulosis lain bila
obat primer tidak efektif lagi.

3.

Kanamisin dan Amikasin

Kedua obat ini termasuk antibiotik golongan aminoglikosida.

Kanamisin
Kanamisin telah lama digunakan sebagai antituberkulosis lini kedua untuk pengobatan tuberkulosis yang
disebabkan oleh bakteri yang sudah resiste terhadap streptomisin, tetapi semenjak ditemukan amikasin da
kapreomisin yag relaitif kurang toksik, maka kini telah ditinggalkan.

Amikasin
Amikasin adalah semisintetik kaimasin dan lebih resisten terhadap berbagai enzim yang dapat merusak
aminoglikosida lain.
Farmakokinetik : melalui salura cerna amikasin tidak diabsorpsi. Melalui suntikan intramuskular dosis 500
mg/12 jam.

3.

Kapreomisin

Kapreomisin adalah suatu antituberkulosis polipeptida yang dihasilkan juga oleh Streptomyces Sp.

Efek Samping
Kapreomisin merusak saraf otak VIII, oleh karena itu perlu dilakukan audometrik dan pemeriksaan fungsi
vestibuler sebelum mulai pemberiannya. Efek samping lain adalah hipoglikemia, memburuknya angkaangka uji fungsi hati dan lainnya.

Status Dalam Pengobatan


Kapreomasin hanya digunakan dalam kombinasi dengan antituberkulosis lain.

3.

Rifabutin ( Ansamisin )

Rifabutin suatu antubiotik derivat rifamisi seperti juga rifampisin dan rifapentin. Obat ini aktif terhadap M
tuberculosis, M. avrium intraselular, M. fortuitum. Ributin efektif untuk terapi pencegahan dan
pengobataninfeksi disseminated atypical mycobakteria.

3.

Rifapentin

Rifapentin suatu indikator poten enzim sitokrom P450. ripafentin diindikasikan untuk pengobatan tuberkulosis
oleh mikrobakteria yang sensitif terhadap rifampisin.
1.14 Pengobatan Tuberkulosis
Tuberkulosis ( TB ) dapat meyerang beberapa organ tubuh, diantaranya paru-paru, ginjal, tulang dan usus.
Tujuan pengobatan Tuberkulosis adalah memusnakan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh.
Selain itu juga bertujuan mengurangi transmisi TB kepada orang lain dan mencegah/memperlambat timbulnya
retensi TB terhadap obat. Yang menjadi poin penting Pada pengobatan TB adalah :

Pemilihan Obat

Resistensi

Panduan Terapi

Panduan terapi tuberkulosis pada pasien defisiensi imun

Efek samping

Pengobatan, Pencegahan

Terapi kortikosteroid pada tuberkulosis

Penilaian hasil pengobatan

2.

LEPROSTATIK

Penyakit lepra di Indonesia cukup banyak dan memerlukan perhatian yang serius. Dalam bab ini akan di bahas antilepra
golongan sulfon, rifampisin, klofazimin, amitiozon dan obat-obat lain.
Sifat farmakologi yang sama. Banyak senyawa yang telah di kembangkan, tetapi secara klinis hanya masalah
pengobatan lepra. WHO menganjurkan penggunaan kombinasi 3 obat sekaligus yaitu dapson, ifampisin dank lofazimin
untuk pemberantasan global penyakit lepra.

1.

Sulfon

Golongan sulfon merupakan derivate 4.4 diamino difenil sulfon (DDS, dapson) yang memiliki dapson dan sulfokson yang
bermanfaat.
Aktivitas In Vitro Dan In Vivo
Aktivitas sulfon terhadap basil lepra secara in vitro tidak dapat di ukur mengingat hasil ini belum dapat di
biakkan dalam media buatan. Tehadap basil tuberculosis obat ini bersifat bakteripstatik; dapson dapat menghambat

pertumbuhan basil pada kadar 10 /mL. penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa sulfon bersifat bakteriostatik
dengan KHM sebesar 0,02 /mL. resistensi dapat terjadi selama pengobatan berlangsung.
Mekanisme kerja sulfon sama dengan sulfonamide. Kedua golongan obat ini mempunyai spectrum antibakteri
yang sama, dan dapat ldi hambat aktivitasnya oleh PABA secara bersaing.

Farmakokinetik
Dapson di serap lambat di saluran cerna, tetapi hampir sempurna. Sulfokson di serap kurang sempurna sehingga
banyak tebuang bersama feses. Kadar puncak tercapai setelah 1-3 jam , yaitu 10-15 /mL. setelah pemberian dosis yang
di anjurkan. Kadar puncak cepat turun, tetapi masih di jumpai dalam jumlah cukup setelah 8 jam. Waktu paruh eliminasi
berkisar antara 10-50 jam dengan rata-rata 28 jam. Pada dosis berulang, sejumlah kecil obat masih di temukan sampai 35
hari setelah pemberian obat di hentikan.
Golongan sulfon tersebar luas di seluruh jaringan dan cairan tubuh. Obat ini cenderung tertahan dalam kulit dan otot,
tetapi lebih banyak dalam hati dan ginjal. Obat tetrikat pada protein plasma sebanyak 50-70%, dan mengalami daur
enterohepatik. Daur ini yang menyebabkan obat masih di temukan dala darah lama setelah pemberiannya di hentikan.
Sulfon mengalami metabolisme dalam hati dan kecepatan asetilasinya di etntukan oleh factor genetic.
Ekskresi melalui urin berbeda jumlahnya bagi setiap sediaan sulfon. Dapson dosis tunggal di ekskresi sebanyak 70-80%
terutama dalam bentuk metabolitnya. Probenesid dapat menghambat ekskresi dapson dan metabolitnya.
Efek Samping
Efek samping sediaan sulfon yang paling sering terlihat ialah hemolisis yang berhubungan erat dengan besarnya
dosis. Hemolisis dapat tejadi pada hampir setiap pasien yang menerima 200-300 mg dapson sehari. Dosis 100 mg pada
orang normal atau dosis kurang dari 50 mg pada orang yang menderita kekurangan enzim G 6PD tidak menimbulkan
hemolisis. Methemoglobinemia sering pula terlihat, kadang-kadang di sertai pembentukan Heinz body.
Walaupun sulfon menyebabkan hemolisis, anemia hemolisis jarang tetrjadi kecuali bila pasien juga menderita kelainan
eritrosit atau sumsum tulang. Tanda hipoksia akan tampak bila hemolisis sudah sedemikian berat.
Anoreksia, mual dan muntah dapat terjadi pada pemberian sulfon. Gejala lain yang pernah di laporkan ialah sakit kepala,
gugup, sukar tidur, penglihatan kabur, parestesia, neuropati perifer yang mampu pulih, demam, hematuria, pruritus,
psikosis, dan berbagai bentuk kelainan kulit. Gejala mirip mononucleosis infeksiosa yang berakibat fatal pernah pula di
laporkan.

Sulfon dapat pula menimbulkan reaksi lepromatosis yang analog dengan reaksi jarisch Herxhelmer. Sindrom yang di
sebut sindrom sulfon ini dapat timbul 5-6 minggu setelah awal terapi pada pasien yang bergizi buruk. Gejalanya dapat
berupa demam, malaise, dermatitis eksfoliatif, ikterfus yang di sertai nekrosis hati, limfadenopati, methemoglobnemia, dan
anemia.
Sediaan Dan Pasologi
Sulfon dapat di gunakan dengan aman selama beberapa tahun bila pemberian di lakukan dengan seksama.
Pengobatan harus di mulai dengan dosis kesil, kemudian di naikkan perlahan-lahan dengan pengawasan klinik dan
laboratorium secara teratur. Reaksi lepromatosis berupa sindrom sulfondapat demikian parah dan memerlukan
penghentian terapi.
Dapson diberikan dalam bentuk tablet 25 dan 100 mg secara oral. Pengobatan di mulai dengan dosis 25 mg. dalam 2
minggu pertama dosis ini di berika sekali dalam seminggu; kemudian setiap 2 minggu frekuensi pemberian di tambahkan
satu kali sampai tercapai pemberian 5 kali seminggu. Setelah itu dosis di naikkan menjadi 50 mg, yang di berikan 3 kali
seminggu selama 1 bulan dan akhirnya di naikkan 4 kali seminggu untuk waktu yang tidak terbatas. Pemberian dapson
100 mg dua kali seminggu mungkin cukup efektif untuk pengobatan jangka lama.
Natrium sulfokson di berikan pada pasien yang mengalami gangguan saluran cerna akibat dapson. Natrium sulfokson
terdapat dalam bentuk tablet bersalut gula 165 mg. dosis awal ialah 330 mg di berikan 2 kali seminggu selama 2 minggu
pertama, kemudian pemberian di naikkan lagi menjadi 6 kali seminggu. Dosis maksimum perhari ialah 600 mg.

2.

Rifampisin

Farmakologi obat ini telah di tinjau sebagai antituberkulosis. Pada hewan coba, antibiotic ini cepat mengadakan
sentralisasi kaki mencit yang diinfeksi dengan M.leprae dan tampaknya mempunyai efek bakterisid. Walaupun obat ini
mampu menembus sel dan saraf, dalam pengobatan yang berlangsung lama masih saja di temukan kuman hidup. Beberapa
pasien yang makan obat ini selama 10 tahun tidak timbul masalah, tetapi resistensi timbul dalam waktu 3-4 tahun. Atas
dasar inilah penggunaaan rifampisin pada penyakit lepra hanya di anjurkan dalam kombinasi dengan obat lain. Kini di
beberapa Negara sedang di coba pengunaan dirafmpisin bersama dapson untuk M.leprae yang sensitive terhadap dapson,
serta kombinasi rifampisin dengan klofazimin atau etinamid untuk M.leprae yang resisten terhadap dapson. Dosisnya
untuk semua jenis lepra adalah 600 mg/hari. Kini juga sedang di teliti paduan yang menggunakan rifampisin dosis 300
mg/hari atau untuk pengunaan intermiten dengan dosis 600 mg sampai 1500 mg.

3.

Amitiozon

Obat turunan tuosemikarbazon ini lebih efektif terhadap lepra jenis tuberkuloid di bandingkan terhadap lepra jenis
lepramatosis. Resistensi dapat terjadi selama pengobatan sehingga pada tahun kedua pengobatan perbaikan melambat dan
pada tahun katiga penyakit mungkin kambuh. Karena itu amitiozon di anjurkan penggunaannya bila dapson tidak dapat di
terima pasien.

Efek samping yang paling sering terjadi ialah anoreksia, mula, dan muntah. Anemia karena depresi sumsumvtulang
terlihat pada sebagian besar pasien. Leukopenia dan agarnulositosis dapat terjadi, tetapi yang berat keadaan nya terdapat
pada 0,5% pasien. Anemia hemolitik akut dapat terjadi dengan dosis tinggi. Ruam kulit dan albuminuria tidak jarang pula
tetrlihat. Kejadian ikterus cukup tinggi dan gejala ini menandakan obat bersifat hepatotoksik tetapi sifatnya reversibel.
Amitiozon mudah di serap melalui saluran cerna dan ekskresinya melalui urin. Dosis permulaan ialah 50 mg setiap hari
selama 1-2 minggu, kemudian dosis dapat di naikkan perlahan-lahan sampai mencapai 200 mg. obat ini sama efektif baik
pada pemberian dosis tunggal maupun dosis terbagi.

4.

Pengobatan Lepra

Pengobatan lepra juga mengalami perubahan setelah suksesnya pengobatan tuberculosis dengan paduan terapi jangka
pendek. Di masa lalu pengobatan lepra biasanya dengan obat tunggal, kini banyak di usahakan pengobatan minimal
dengan dua obat, dan rifampisin jega merupakan komponen yang penting. Untuk mengerti pengobatan lepra, perlu di
pahami bentuk klinik penyakit tersebut. Di kenal dua macam pembagian penyakit lepra menurut bentuk kliniknya.
Klasifikasi
Madrid membagi penyakit ini menjadi 4 tipe yaitu tipe indeterminate, tuberculoid, borderline, dan lepromatosa,
sedangkan Ridley dan Jopling membaginya menjadi 6 tipe yaitu tipe indeterminate (tipe 1), tuberculoid (tipe TT),
borderline tuberculoid (tipe BT), borderline atau midborderline (tipe BB), borderline lepromatosa (tipe LL). Lepra tipe
indeterminate merupakan bentuk permulaan penyakit lepra yang memperlihatkan bermacam bentuk macula
hipopigmentasi. Sekitar 75% leai ini sembuh spontan, yang lain mungkin menetap sebagai tipe indeterminate atau
berkembang menjadi bentuk-bentuk tuberculoid, borderline untuk seterusnya menjadi bentuk lepromatosa. Tanda klinik
bentuk tuberculoid sampai bentuk lepromatosa dapat di lihat pada tabel 40-8.

Tabel 40-8. KALSIFIKASI PENYAKIT LEPRA MENURUT RIDLEY DAN JOPLING


Tanda-tanda TT BT BB-BL LL
Jumlah lesi kulit biasanya tunggal tunggal/sedikit beberapa banyak sangat banyak
Besar lesi beragam beragam beragam kecil
Permukaan lesi sangat kering/bersisik kering mengkilap mengkilap
Pertumbuhan rambut pada lesi tak ada berkurang agak berkurang tak berpengaruh
Daya rasa pada lesi hilang sama sekali menurun jelas menurun ringan tidak hilang

BTA dari apus jaringan kulit nol nol/jarang beberapa banyak sangat banyak
BTA dari korekan hidung nol nol nol/jarang sangat banyak
tesblepromin +++ +/++ negative negative
keterangan : TT = lepra tipe tberkuloid ; BT = borderline tuberculoid ; BB-BL mid borderline-borderline
lepromatous
LL = lepra lepromatous

Untuk kepentingan pengobatan penyakit lepra dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ada tidaknya BTA dalam
pemeriksaan bakteriologis yaitu bentuk pausibasiler (tipe PB) dan bentuk multibasiler (HB).
Yang tergolong bentuk BB ialah semua tipe pada pemeriksaan laboratorium tidak di temukan BTA yang termasuk dalam
kelompok ini ialah tipe indeterminate dan tipe tuberculoid. Tetapi bila pada tipe ini di temukan BTA positif, maka tipe ini
tergolong dalam bentuk multibasiler (MB).
Bentuk multibasiler (MB) secara garis besar ialah semua tipe yang pada pemeriksaan laboratorium BTA-nya positif. Tipe
borderline dan lepromatosa termasuk bentuk multibasiler walaupun BTA negative.
Pemilihan Obat
Dapson atau DDS merupakan obat terpilih untuk semua tipe penyakit lepra. Obat ini di gunakan baik pada terapi
obat tunggal maupun kombinasi. Bila terjadi resistensi terhadap DDS, atau reaksi alergi, baru di gunakan obat lain.
Klofazimin yang beberapa tahun lalu hanya di gunakan untuk menggantikan DDS, kini di gunakan bersama DDS untuk
lepra tipe multibasiler dan rifampisin merupakan komponen penting dalam terapi kombinasi baik pada lepra tpe
pausibasiler maupun multibasiler. Selain itu pada reaksi lepra juga di gunakan kortikostiroid untuk efek antiinflamasinya.
Juga di gunakan klorokuin untuk efek antiinflamasinya. Talidomid di gunakan untuk reaksi eritema nodosum leprosum,
untuk reaksi reversal obat ini tidak bermanfaat.
Regimen Pengobatan
Pengobatan lepra di Indonesia ada dua cara yaitu terapi kombinasi dan terapi obat tunggal. Tetapi obat kombinasi
yang di anjurkan di Indonesia sesuai dengan yang di anjurkan oleh WHO.
Paduan obat untuk kelompok pausibasiler adalah DDS 100 mg/hari selama 6-9 bulan dan rifampisin 600 mg sebulan sekali
untuk 6 bulan. Penggunaan DDS di serahkan kepada pasien, tetapi untuk menjamin kepatuhan, pemberian rifampisin harus
dibawah pengawasan dokter. Paduan obat untuk kelompok smultibasiler adalah DDS 100 mg/hari, rifampisin 600 mg

sebulan sekali, klofazimin 50 mg/hari, dan klofazimin 300 mg setiap bulan. Rifampisin dan klofazimin yang diberikan
sebulan sekali juga harus diawasi pemberiannya. Lama pengobatan paling sedikit 2 tahun dan paling baik sampai hasil
pemeriksaan BTA negative.
Terapi Obat Tunggal
Di daerah-daerah yang belum terjangkau terapi obat kombinasi masih di lakukan terapi obat tunggal. Untuk tipe
PB di berikan DDS 100 mg/hari yang lamanya paling sedikit 2-3 tahun, sedang untuk MB lama pengobatan tidak di
tentukan. Kini pengobatan dengan obat tunggal tidak di anjurkan lagi. Oleh karena itu bila pasien yang sedang dalam
terapi obat tunggal kemudian memperoleh kesempatan untuk mendapatkan obat kombinasi, maka pengobatan di mulai lagi
seolah belum pernah mendapat pengobatan.
Reaksi Lepra
Reaksi lepra adalah kejadian atau episode dalam perjalanan penyakit lepra yang merupakan manifestasi reaksi
imun (kekebalan) seluler maupun humoral. Reaksi ini dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah pengobatan. Yang
sering terjadi ialah dalam pengobatan, biasanya antara 6 bulan 1 tahun pertama. Ada jug reaksi lepra :
(1) reaksi tipe atau tipe reaksi reversal yang terjadi pada tipe tuberkuloid biasanya dalam 6 bulan pertama masa
pengobatan. Gejala yang menonjol ialah neuritis sampai hilangnya sensorimotor, kulit menjadi kemerahan dan berluka,
serta edema di muka, tangan, dan kaki. Reaksi tipe ini merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang berhubungan
dengan meningkatnya respon imun seluler.
Pada reaksi yang ringan di berikan klorokuin 3 kali 1 tablet selama 3-5 hari sementara antilepra tetap di teruskan kalau
perlu dapat di beri analgesic dan sedative. Pada reaksi yang berat perlu di berikan kortikostiroid.
(2) reaksi tipe ii atau eritema nodosum leprosum (ENL) biasanya timbul lebih lambat dari pada reaksi tipe I. gejala dan
tandanya ialah timbulnya benjol-benjol kecil kemerahan di kulit (di mana saja), sering di sertai neuritis, orchitis,
iridosiklitis, arthritis, proteinuria, dan limfadenopati.
Pengobatan reaksi tipe II sama dengan tipe I hanya klorokuin di berikan 1 minggu. Pada reaksi yang berat di berikan
kortikosteroid dan dosis klofazimin di naikkan menjadi 3 x 100 mg/hari selama 1 minggu. Bila reaksi berkurang dosis
klofazimin di turunkan menjadi 2 kali 100 mg/hari sampai reaksi hilang. Kemudian dosis di kembalikan menjadi 50
mg/hari.
Beberapa pusat pemberantasan penyakit lepra di luar negeri seperti amerika serikat menggunakan talidomid untuk
mengobati reaksi lepra tipe II yang berat dengan dosis awal 400 mg, kemudian di lanjutkan dengan dosis rumat 100
mg/hari.
Penilaian Hasil Pengobatan

Kemajuan pengobatan dinilai dengan melihat perbaikan gejala dan tanda klinik maupun laboratorium, serta
ketekunan berobat. Setelah memenuhi criteria sembuh, pasien di beri surat pernyataan sembuh oleh petugas kusta
setempat.
Pasien kelompok pausibasiler yang telah menjalani pengobatan selama 6-9 bulan dan memenuhi criteria sembuh klinik
dan laboratories di nyatakan selesai menjalani pengobatan (released from treatment/RTF). Tetapi mereka masih harus di
awasi dan di periksa terus secara klinik dan laboratories sedikitnya setahun sekali selama 2-3 tahun. Bila selama itu tidak
terjadi perubahan klinik yang menuju kambuh, maka mereka di nyatakan bebas dari control atau released from
control/RFC. Bila selama masa control itu terjadi kambuh, maka pengobatan di mulai lagi dari permulaan.
Pasien kelompok multibasiler yang telah menjalani pengobatan selama 24-36 bulan dengan tekun dan memenuhi krietria
sembuh klinik dan laboratories di nyatakan telah selesai manjalani pengobatan (released from treatment/RTF).
Selanjutnya mereka dalam masuk dalam masa pengawasan sedikitnya selama 5 tahun. Minimal setahun sekali mereka
harus di periksa secara klinik dan laboratoris untuk melihat perkembangan penyakitnnya. Bila selama lima tahun itu tidak
terjadi perkembangan menuju kambuh, maka mereka di nyatakan bebas dari control (released from control). Tetapi bila
dalam masa pengawasan itu terjadi perkembangan menuju kambuh, maka pengobatan di mulai lagi mulai dari permulaan.

D.

TETRASIKLIN

1.

Asal dan Kimia

Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan ialah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces
aureofaciens. Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara
semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari species Stretomyces lain.
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam HCl-nya
mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relative stabil. Dalam larutan
kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya.
Struktur kimia golongan tetrasiklin dapat dilihat pada gambar 43-1. Tigesiklin adalah suatu antibiotika dari
golongan baru yaitu glisilsiklin.

R1 R2 R3 N(CH3 )2

OH
OH O OH

Gambar Struktur kimia golongan tetrasiklin

Tabel . Struktur kimia golongan tetrasiklin


Gugus
No

Jenis Tetrasiklin
R1

R2

R3

Klortetrasiklin

-CH

-CH3 , -OH

-H , -H

Oksitetrasiklin

-H

-CH3 , -OH

-OH , -H

Tetrasiklin

-H

-CH3 , -OH

-H , -H

Demeklosiklin

-Cl

-H , -OH

-H , -H

Doksisiklin

-H

-CH3 , -H

-OH , -H

Minosiklin

-N(CH3)2

-H , -H

-H , -H

N(CH3 )2 N(CH3 )2

Gambar Struktur kimia tigesiklin

2.

Farmakodinamik

Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses
dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri Gram-negatif : pertama secara difusi pasif melalui kanal
hidrofilik, kedua melalui system transport aktif. Setelah masuk antibiotic berikatan secara reversible dengan ribosom
30S dan mencegah ikatan Trna-aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan
rantai peptide yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein.

Efek Antimikroba

Golongan tetrasiklin termasuk antibiotic yang terutama bersifat bakteriostasik. Hanya mikroba yang cepat
membelah yang dipengaruhi obat ini.

Spektrum Antimikroba

Tetrasiklin memperlihatkan spectrum antibakteri luas yang meliputi kuman Gram-positif dan negatif, aerobic
dan an-aerobik. Selain itu juga ia aktif terhadap spiroket, mikoplasma, riketsia, klamidia, legionela dan protozoa
tertentu.
Spektrum golongan tetrasiklin umumnya sama sebab mekanisme kerjanya sama, namun terdapat perbedaan
kuantitatif dari aktifitas masing-masing derivate terhadap kuman tertentu.
Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam pengobatan infeksi batang Gram-positif seperti
B. anthracis, Erysipelothrix rhusiophatiae, Clostridium tetani dan Listeria monocytogenes.
Kebanyakan strain N. gonorrhoeae sensitive terhadap tetrasiklin, tetapi N. gonorrhoeae penghasil penisilinase
(PPNG) biasanya resisten terhadap tetrasiklin.
Efektifitasnya tinggi terhadap infeksi batang Gram-negativ seperti Brucella, Francisella tularensis,
Pseudomonas mallei, Pseudomonas pseudomallei, Vibrio cholera, Campylobacter fetus, Haemophilus ducreyi dan
Calymmatobacterium granulomatis, Yersinia pestis, Pasteurella multocida, Spilillum minor, Leptotrichia bucalis,
Bordetella pertussis, Acinetobacter dan Fusobacterium. Strain terte3ntu H. influenza mungkin sensitive, tetapi E.
Coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus indol positif dan Pseudomonas umumnya resisten.
Tetrasiklin juga merupakan obat yang sangat efektif untuk infeksi Mycoplasma pneumonia, Ureaplasma
urealyticum, Chlamydia trachomatis, Clamydia psittaci dan berbagai riketsia. Selain itu obat ini juga aktif terhadap
Borrelia recurrentis, Treponema pallidum, Treponema pertenue, Actinomyces israelii. Dalam kadar tinggi antibiotic
ini menghambat pertumbuhan Entamoeba hystolitica.
Tigestin berspektrum luas dan efektiv untuk menghambat kuman E. Coli, E. Faecallis, S. agalactiae, S.
anginosus, S. pyogenes, B. fragilis, E. Cloacae, C. freundii, S. aureus (termasuk galur yang resisten terhadap metisilin
MRSA).
Obat ini diindikasikan untuk infeksi kulit dan infeksi intra-abdominal dengan penyulit yang disebabkan oleh
kuman-kuman tersebut di atas.

Resistensi

Beberapa spesies kuman, terutama Streptococcus beta hemolitikus, E. Coli, Pseudomonas aeruginosa, S.
Pneumoniae, N. Gonorrhoeae, Bacteroides, Shigella dan S. Aureusmakin meningkat resistensinya terhadap
tetrasiklin. Mekanisme resistensi yang terpenting adalah diproduksinya protein pompa yang akan mengeluarkan obat

dari dalam sel bakteri. Protein ini di kode dalam plasmid dan dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri yang lain
melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi
terhadap semua tetrasiklin lainnya, kecuali minosiklin pada resistensi S. Aureus dan doksisiklin pada resistensi B.
Fragilis.

1.
a.

Farmakokinetik

Absorpsi
Kira-kira 30 80 % tetrasiklin diserap lewat saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90
%. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas. Berbagai factor dapat
menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam lambung (kecuali minosiklin dan
doksisiklin), pH tinggi, pembentukan kelat ( kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti
kation Ca , Mg , Fe , Al , yang terdapat dalam susu dan antacid ). Oleh sebab itu sebaiknya tetrasiklin
diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan.
Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorpsinya dari sediaan tetrasiklin biasa.

b.

Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi.
Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar
2.0 2.5 g/Ml.
Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh diberikan pada gagal
ginjal.
Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10 20% kadar dalam serum. Penetrasi
ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup
baik. Obat golongan ini di timbun dalam system retikuloendotelial di hati, limpa dan sum-sum tulang, serta di
dentin dan email gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri, dan terdapat dalam air
susu ibu dalam kadar yang relative tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, daya penetrasi doksisiklin
dan minosiklin ke jaringan lebih baik.

c.

Metabolisme
Obat golongan ini tidak di metabolism secara berarti di hati. Doksisiklin dan minosiklin mengalami
metabolism di hati yang cukup berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal.

d.

Ekskresi
Golongan tetrasiklin di ekskresi melalui urine berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral
kira-kira 20 55% golongan tetrasiklin di ekskresi melalui urine. Golongan tetrasiklin yang di ekskresi oleh hati
ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum. Sebagian besar obat yang di ekskresi ke dalam lumen
usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik : maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah
terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami
kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.
Antibiotik golongan tetrasiklin yang diberi peroral dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan sifat
farmakokinetiknya yaitu :

Tetrasiklin, Klortetrasiklin dan Oksitetrasiklin.


Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa paruh 6 12 jam.

Demetilklortetrasiklin
Absorpsnya lebih baik dan masa paruhnya kira-kira 16 jam sehingga cukup diberikan 150 mg per oral tiap 6
jam.

Doksisiklin dan Minosiklin


Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17 20 jam. Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1 atau 2
kali 100 mg sehari.

4.

Penggunaan Klinik

Karena penggunaan yang berlebih, dewasa ini terjadi resistensi yang mengurangi efektivitas tetrasiklin.
Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin adalah :

a.

Riketsiosis
Perbaikan yang dramatis tampak setelah pemberian golongan tetrasiklin. Demam mereda dalam 1 3 hari
dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi di mulai.

b.

Infeksi Klamidia

Limfogranuloma Venereum.
Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada infeksi akut diberikan terapi
selama 3 4 minggu dan untuk keadaan kronis diberikan terapi 1 2 bulan. Empat hari setelah terapi
diberikan bubo mulai mengecil.

Psitakosis
Pemberian golongan tetrasiklin ini selama beberapa hari dapat mengatasi gejala klinis. Dosis yang
digunakan adalah 2 gram per hari selama 7 10 hari atau 1 gram per hari selama 21 hari.

Konjungtivitis inklusi.
Penyakit ini dapat di obati dengan hasil baik selama 2 3 minggu dengan memberikan salep mata atau obat
tetes mata yang mengandung golongan tetrasiklin.

Trakoma
Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari
selama 14 hari memberikan hasil pengobatan yang baik.

Uretritis Non spesifik


Infeksi yang disebabkan oleh Ureaplasma urealyticum atau Chlamydia trachomatis ini terobati baik dengan
pemberian tetrasiklin oral 4 kali 500 mg sehari selama 7 hari. Infeksi C. Trachomatis sering kali menyertai
uretritis akibat gonokokkus.

c.

Infeksi Mycoplasma Pneumoniae


Pneumoniae primer atipik yang disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi dengan pemberian golongan
tetrasiklin. Walaupun penyembuhan klinis cepat dicapai Mycoplasma pneumonia mungkin tetap terdapat dalam
sputum setelah obat dihentikan.

d.

Infeksi Basil

Bruselosis
Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk penyakit ini. Hasil pengobatan
yang memuaskan biasanya di dapat dengan pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat seringkali perlu
diberikan bersama Streptomisin1 g sehari IM.

Tularemia
Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya adalah Streptomisin, tetapi terapi dengan golongan
tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.

Kolera
Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk penyakit ini. Pemberian dapat
mengurangi volume diare dalam 48 jam.

Sampar
Antibiotik terbaik untuk mengobati infeksi ini adalah Streptomisin. Bila Streptomisin tidak dapat diberikan,
maka dapat dipakai golongan tetrasiklin. Pengobatan di mulai dengan pemberian secara IV selama 2 hari dan
dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 1 minggu.

e.

Infeksi Kokus
Golongan tetrasiklin sekarang tidak lagi diindikasikan untuk infeksi stafilokokus maupun streptokokus
karena sering dijumpai resistensi. Tigesiklin efektif untuk infeksi kulit dan jaringan lunak oleh stretokokus dan
stafilokokus (termasuk MRSA).

f.

Infeksi Venerik
Sifilis
Tetrasiklin merupakan antibiotic pilihan kedua setelah penisilin untuk mengobati sifilis. Dosisnya 4 kali 500
mg sehari per oral selama 15 hari. Tetrasiklin juga efektif untuk mengobati chancroid dan granuloma inguinal.
Karena itu dianjurkan memberikan dosis yang sama dengan dosis untuk terapi sifilis.

g.

Akne Vulgaris
Tetrasiklin di duga menghambat produksi asam lemak dari ebum. Dosis yang diberikan untuk ini adalah 2
kali 250 mg sehari selama 2 -3 minggu, bila perlu terapi dapat diteruskan sampai beberapa bulan dengan dosis
minimal yang masih efektif.

h.

Penyakit Paru Obstruktif Menahun


Eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif menahun dapat diatasi dengan doksisiklin oral 2 kali 100 mg/hari.
Antibiotika lain yang juga bermanfaat adalah kotrimosazol dan koamoksiklav.

i.

Infeksi Intra Abdominal


Tigesiklin efektif untuk pengobatan ibfeksi intra abdominal yang disebabkan oleh Entamoeba Coli, C.
Freundil, E. Faecalis, B. Fragilis dan kuman-kuman lain yang peka.

j.

Infeksi Lain

a.

Aktinokmikosis
Golongan tetrasiklin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini bila penisilin G tidak dapat
diberikan kepada pasien.

b.

Frambusia
Respons penderita terhadap pemberian golongan tetrasiklin berbeda-beda. Pada beberapa kasus
hasilnya baik, yang lain tidak memuaskan. Antibiotik pilihan utama untuk penyakit ini adalah penisilin.

c.

Leptospirosis
Walaupun tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk pengobatan leptospirosis, efektifitasnya
tidak terbukti secara mantap.

d.

Infeksi Saluran Cerna

Tetrasiklin mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amuniasis intestinal akut, dan infeksi
Plasmodium Falciparum. Selain itu mungkin efektif untuk disentri yang disebabkan oleh Strain Shigella
yang peka.

k.

Penggunaan Topikal
Pemakaian topical hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk
mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman. Gram positif dan Gram Negatif yang sensitive.
Selain itu juga salep mata ini dapat pula digunakan untuk profilaksis oftalmia neonatorum pada neonatus.

5.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin dapat dibedakan dalam 3 kelompok
yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan iritatif serta reaksi yang timbul akibat perubahan biologik.

a.

Reaksi Kepekaan
Rekasi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin adalah erupsi mobiliformis,
ultikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat adalah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis.
Demam dan eosinofilia dapat pula terjadi pada waktu terapi berlangsung. Sensitisasi silang antara berbagai
derivate tetrasiklin sering terjadi.

b.

Reaksi Toksik dan Iritatif


Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per oral, terutama dengan oksitetrasiklin dan
doksisikli. Makin besar dosis yang diberikan makin sering terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan
mengurangi dosis untuk sementara waktu atau memberikan golongan tetrasiklin bersama dengan makanan, tetapi
jangan dengan susu atau antacid yang mengandung aluminium, magnesium atau kalsium. Diare seringkali timbul
akibat iritasi dan harus dibedakan dengan diare akibat superinfeksi stafilokokus atau Clostridium Difficile yang
sangat berbahaya.
Manifestasi reaksi iritatif yang lain adalah terjadinya tromboflebitis pada pemberian IV dan rasa nyeri
setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM tanpa anestetik local.

Terapi dalam waktu lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis, limfosit atipik,
granulasi toksik pada granulosit dan trombosittopenia.
Reaksi fototoksik paling jarang timbul dengan tetrasiklin, tetapi paling sering timbul pada pemberian
dimetilklortetraskilin. Manifestasinya berupa fotosensitivitas, kadang-kadang disertai demam dan eosinofilia.
Pigmentasi kuku dan onikolisis yaitu lepasnya kuku dari dasarnya juga dapat terjadi.
Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian golongan tetrasiklin dosis tinggi (lebih dari 2 gram sehari)
dan paling sering terjadi setelah pemberian parenteral. Sifat hepatotoksisitas oksitetrasiklin dan tetrasiklin lemah
dibandingkan dengan golongan tetrasiklin lain. Wanita hamil atau masa nifas dengan pielonefritis atau gangguan
fungsi ginjal lain cenderung menderitakerusakan hati akibat pemberian golongan tetrasiklin. Karena itu
tetrasiklin jangan diberikan pada wanita hamil kecuali bila tidak ada terapi pilihan lain. Kecuali doksisiklin,
golongan tetrasiklin bersifat kumulatif dalam tubuh, karena itu dikontraindikasikan pada gagal ginjal. Efek
samping yang paling sering timbul biasanya berupa azotemia, hiperfosfatemia dan penurunan berat badan.
Golongan tetrasiklin memperlambat koagulasi darah dan memperkuat efek antikoagulan kumarin. Di duga
hal ini disebabkan oleh terbentuknya kelat kalsium, tetapi mungkin juga karena obat-obatan ini mempengaruhi
sifat fisikokimia lipoprotein plasma.
Tetrasiklin terikat sebagai kompleks pada jaringan tulang yang sedang tumbuh. Pertumbuhan tulang yang
sedang tumbuh. Pertumbuhan tulang akan terhambat sementara pada fetus dan anak. Bahaya ini terutama terjadi
mulai pertengahan masa hamil sampai dan sering berlanjut sampai umur 7 tahun atau lebih. Timbulnya kelainan
ini lebih ditentukan oleh jumlah dari pada lamanya penggunaan tetrasiklin.
Pada gigi susu maupun gigi tetap, tetrasiklin dapat menimbulkan disgenesis, perubahan warna permanen
dan kecenderungan terjadinya karies. Perubahan warna bervariasi dari kuning cokelat sampai kelabu tua. Karena
itu tetrasiklin termasuk tigesiklin jangan digunakan mulai pertengahan kedua kehamilan, masa menyusui dan
anak sampai berumur 8 tahun. Efek ini terjadi lebih sedikit pada oksitetrasiklin dan doksisiklin.
Tetrasiklin yang sudah kadaluwarsa akan mengalami degradasi menjadi bentuk anhidro 4 epitetrasiklin.
Pada manusia hal ini mengakibatkan timbulnya sindrom Fanconi dengan gejala poliuria, polidipsia, proteinuria,
asidosis, glukosuria, amino-asiduria di sertai mual; dan muntah. Kelianan ini biasanya bersifat reversible dan
menghilang kira-kira satu bulan setelah pemberian tetrasiklin kadaluwarsa ini dihentikan.
Semua tetrasiklin dapat menimbulkan imbang nitrogen negative dan meningkatkan kadar ureum darah. Hal
ini tidak berarti secara klinis pada pasien dengan faal ginjal normal yang mendapat dosis biasa, tetapi pada
keadaan gagal ginjal dapat timbul azotemia.
Pemberian golongan tetrasiklin pada neonates dapat mengakibatkan peninggian tekanan intra cranial dan
mengakibatkan fontanel menonjol, sekalipun obat-obat ini diberikan dalam dosis terapi. Pada keadaan ini tidak
deitemukan kelainan CSS dan bila terapi dihentikan maka tekannya akan menurun kembali dengan cepat.

Minosiklin sering bersifat vestibulotoksik dan dapat menimbulkan vertigo, ataksia dan muntah yang bersifat
reversibel.

c.

Reaksi Akibat Peubahan Biologik


Seperti antibiotic lain yang berspektrum luas, pemberian golongan tetrasiklin kadang-kadang diikuti oleh
terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan jamur. Super infeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga
mulut, faring, bahkan kadang-kadang menyebabkan infeksi sistemik. Faktor predisposisi yang memudahkan
terjadinya super infeksi ini adalah diabetes mellitus, leukemia, lupus eritematosus diseminata, daya tahan tubuh
yang lemah dan pasien yang mendapat terapi kortikosteroid dalam waktu lama.
Salah satu manifestali super infeksi adalah diare akibat terganggunya keseimbangan flora normal dalam
usus. Di kenai 3 jenis diare akibat super infeksi dalam saluran cerna sehubungan dengan pemberian golongan
tetrasiklin adalah sebagai berikut :

a.

Enterokolitis Stafilokokus
Dapat timbul setiap saat selama terapi berlangsung. Tinja cair sering mengandung darah serta leukosit
polimorfonuklear. Pemeriksaan mikroskopik dan kultur sering menunjukkan adanya stafilokokus koagulase
positif dalam jumlah besar pada tinja, yang pada keadaan normal hanya sedikit. Diagnosis harus ditegakkan
dengan cepat karena keadaan ini seringkali mengakibatkan kematian. Bila terjadi septicemia maka harus
diberikan antibiotic yang efektif secara parenteral.

b.

Kandidiasis Intestinal
Sekali pun menjadi anggapan umum bahwa diare yang timbul karena pemberian golongan tetrasiklin
disebabkan oleh super infeksi kdalam saluran cerna, ternyata hasil kultur tinja dari pasien ini tidak
menunjukkan adanya kandida dalam jumlah besar. Bila jelas terjadi kandidiasis intestinal maka perlu
diberikan nistatin atau amfoterisin B per oral.

c.

Kolitis Pseudomembranosa
Efek samping ini dapat terjadi tetapi tidak sesering pada penggunaan linkomisin. Pada keadaan ini
terjadi nekrosis pada saluran cerna. Jumlah stafilokokus dalam tinja tidak bertambah. Diare yang terjadi
sangat hebat, di sertai demam dan terdapat jaringan mukosa yang nekrotik dalam tinja.
Untuk memperkecil kemungkinan timbulnya efek samping golongan tetrasiklin maka perlu
diperhatikan beberapa hal dalam memberikan terapi dengan antibiotic ini yaitu :

Hendaknya tidak diberikan pada wanita hamil

Bila tidak ada indikasi yang kuat, jangan diberikan pada anak-anak

Hanya doksisiklin yang boleh diberikan kepada pasien gagal ginjal

Hindarkan sedapat mungkin pemakaian untuk tujuan profilaksis

Sisa obat yang tidak terpakai hendaknya segera dibuang

Jangan diberikan pada pasien yang hiper sensitive terhadap obat ini.

6.

Sediaan dan Posologi

Untuk pemberian oral, tetrasiklin tersedia dalam bentuk kapsul dan tablet. Untuk pemberian parenteral tersedia
bentuk larutan obat suntik (oksitetrasiklin) atau bubuk yang harus dilarutkan lebih dahulu ( tetrasiklin HCl, tigesiklin,
doksisiklin, minosiklin ). Posologi golongan tetrasiklin dapat dilihat pada tabel 43 1 berikut ini :

Tabel 43-1. Sediaan dan Posologi Golongan Tetrasiklin

Derivat

Tetrasiklin

Sediaan

Dosis untuk orang dewasa

Kapsul / tablet 250 dan 500 mg

Oral, 4 x 250 500 mg/hari

Bubuk obat suntik IM 100 dan 200 mg/vial

Parenteral, 300 IM mg sehari yang


dibagi dalam 2-3 dosis, dosis atau
250 5000 mg IV diulang 2 4 kali
sehari.

Bubuk obat suntik IV 250 dan 500 mg/vial


Saleb kulit 3 %
Saleb / obat tetes mata 1 %
(tetrasiklin HCl dan tetrasiklin kompleks fosfat
untuk oral tersedia dengan ukuran yang sama)

Parenteral untuk pemberian IB 1525 mg/kgBB/hari sebagai dosis


tunggal atau dibagi dalam 2-3 dosis
dan IV 20-30 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 2-3 dosis

Klortetrasiklin

Kapsul 250 mg

Lihat tetrasiklin

Salep kulit 3 %
Salep mata 1 %
Oksitetrasiklin

Kapsul 250 mg dan 500 mg

Oral, 4 kali 250-500 mg/hari

Larutan obat suntik IB 250 dan 100 mg/ampul 2


mL dan 500 mg/vial 10 mL

Parenteral, 100 mg IM, diulangi 2-3


sehari 500-1000 mg/hari IV ( 250
mg bubuk dilarutkan dalam 100 mL
larutan garam faal atau dekstrosa 5
%)

Bubuk obat suntik IV 250 mg


Salep Kulit 3 %

Parenteral, 15-25 mg/kgBB/hari, IM


dibagi dalam 2 dosis dan 10-20
mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 2
dosis.

Salep Mata 1 %

Kapsul atau tablet 150 dan 300 mg


Demeklosiklin

Oral, 4 kali 150 mg atau 2 kali 300


mg / hari

Sirup 75 mg/5 mL.


Kapsul atau tablet 100 mg, tablet 50 mg

Doksisiklin

Minosiklin

Tigesiklin

Oral, dosis awal 200 mg,


selanjutnya 100-200 mg/hari

Sirup 10 mg / mL.
Oral, dosis awal 200 mg,
dilanjutkan 2 kali sehari 100
mg/hari

Kapsul 100 mg

Vial 50 mg atau vial 100 mg

Infus 100 mg IV dalam waktu 30-60


menit. Dosis pemeliharaan 50
mg/12 jam selama 5 14 hari.

Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat menurut klasifikasi Child Pugh C Tigesiklin diberikan
dosis muat yang sama namun dosis pemeliharaannya dikurangi menjadi 25 mg tiap 12 jam. Pengurangan dosis tidak
diperlukan bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan pasien berusia lanjut.
Tigesiklin tersedia dalam vial yang mengandung 50 dan 100 mg yang harus di rekonstitusi dengan larutan garam
faal atau dekstrosa 5 % untuk mendapat larutan tigesiklin yang berkadar 10 mg/mL. Larutan dalam vial ini segera
diencerkan lagi dalam 100 mL pelarut yang sama dalam kantong untuk infus. Larutan infuse ini stabil pada suhu
kamar selama 6 jam atau pada suhu 2 - 8C sel;ama 24 jam.

E.

PENISILIN

a. Sejarah dan Sumber


Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium chrysogenum; dari berbagai macam jenis yang dihasilkan,perbedaannya hanya
terletak pada gugusan samping R saja.Benzilpenisilin yang paling aktif.sefalosprin diperternyata paling aktif.Kedua
kelompok antibiotika memiliki rumus bangun serupa,keduanya memiliki cincin beta-laktam dengan rumus dasar yang
tertera di halaman berikut.cicin ini merupakan syarat mutlak untuk khasiatnya.jika cicin ini di buka misalnya oleh enzim
beta-laktamase (penisilinase atau sefalosporinase 0maka zat menjadi inaktif
b. Mekanisme Kerja
Dinding kuman terddiri dari suatu jaringan peptidoglikan yaitu polimer dasri senyawa amino dan gula yang
saling terikat dengan yang lain dan dengan demikian memberikan kekuatan yang mekanis pada dinding.Peniosilin dan
sefalosprin menghindarkan sintesa lengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman dan disebut murein.bila sel tumbuh
dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan jalan osmosis.maka dinding sel yang tak sempurna itu akan pecah dan
bakteri musnah.Dinding sel manusia dan hewan tidak terdiri dafri murein,maka antibiotika ini tidak toksis untuk manusia.
c. Indikasi Penggunaan
Indikasi masing-masing penisilin dapat berbeda satu dengan yang lain karena adanya perbedaan dalam berbagai
sifat.dalam menentuukan berbagai macam jenis penisilin perlu diperhatikan factor-faktor berikut potensi,spectrum
antimikroba ketahanannya terhadap asam,adanya penilinase dan sifat farmakokinetik.pedoman umum dalam memilih jenis
penisilin adalah sebagai berikut;
1. Untuk mikroba yang sensitive terhadap penisilin khususnya yang gram positif,penisilin G memiliki potensi yang
baik.Indikasi penisilin V dan fenitsilin pad umumnay sama dengan penisillin G.
2. Ampisilin dan amoksilin umumnya digunakan untuk infeksi E.coli Da P.Mirabilis,Terhadap kuman gram positif bukan
pengahsil penisilinase golonagan obat ini kurang efektif daripada penisiline G Kabernisilin dan penisilin
antipseudomonas lainnya umunya hanya digunakan untuk infeksi. P.aeruginosa dan proteus indol positif
3. penisilin tahan asam umumnya efektif bila di berikan oral
4. Penisiine yang tahan terhadap penisilinase hanya di gunakan untuk infeksi oleh stafilokokus dan penisilinase
5. Sifat farmakokinetik perlu diperhatikan untuk dapat mengendalikan kadar masing-masing penisiline dalam darah
sehingga efektifitasnya terjamin.untuk menjelaskan hal itu perlu di gunakan contoh-contoh berikut : penisiline g yang
larut dalam air (Kristal na-panisiline G )bila diberikan Im akan cepat mengahasilkan kadar obat yang lebih tinggi dalam

darah di banding seiaan penisilne repositer.Kadar ampisilin dalam CSS pasien meningitis,H,Influenza turun cukup besar
setelah hari ketiga pengobatan karena penurunan pearmebilitas meningen akibat perbaikan yang diperoleh dengan
pengobatan.
d. Penggolongan
Penisiline dapat dibagi dalam beberapa jenis menutur aktivitas dan resisitensinya terhadap laktamase sebagai
berikut:
a. Zat-zat spectrum sempit benzilpenisilne,penisilin-V,dan fenitisiline.Zat-zat ini terutama aktif terhadap kuman gram
positif dan diuraikan oleh penisilinase
b. Zat-zat tahan laktamase metisiline,kloksasiline.Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan streptokok.Asam
klavulanat,sulbaktam dan tazaboktam memblokir lakmase dan dengan demikian menjamin aktifitas penisiline yang
diberikan bersamaan;
c. Gram positif dan sejumlah kuman gram negative,keculai antara lain pseudomonas Klebsieela dan B fragilis tidak tahan
laktamase maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase bloker
d. Zat-zat antipesudomonas tikarsiline fdan piperasiline.Antibiotika spectrum luas ini meliputi lebih banyak kuman gram
negative,termasuk pseudomonas ,Proteus,klbesiella,dan bacteroides fragilis.mtiodak tahan laktamase-blocker.
e. Efek samping
Yang terpenting adalah reaksi alergi karena hipersensitisasi yang jarang sekali dapat menimbulkan shock
anfilaktis (dan kematian) .Pada prokail-benzilpenisiline diduga prokain yang memegang peranan pada hipersensitisasi
tersebut.pada penisiline broad spectrum agak sering terjadi gangguan lambung usus (diare,mual muntah,dan lain-lain).pada
dosis amat tinggi dapat terjadi reaksi nefrotoksis dan neurotoksis.
f. Farmakokinetik
Absorbsi penisilin G mudah rusak dalam suasana asam (pH 2 ).Cairan lambung dengan pH 4 tidak terlalu
merusak penisiline.
Bila dibandingkan dengan dosis oral terhadap IM,maka untuk mendapatkan kadar efektif dalam darah,dosis
penisilin G oral haruslah 4 sampai 5 kali lebih besar daripada dosis IM.Oleh karena itu penisilin G tidak dianjurkan di
berikan oral.jumlah ampisilin dan senyawa sejenisnya yang diabsorbsi pada pemebrian oral dipengarhi besarnya dosiss
dan ada tidaknya makanan dalam saluran cerna.dengan dosis lebih kecil presentase yang diabsorbsi relative besar.

Absorbsi ampisilin oral tidak lebih baik cdaripada penisilin v atau fenetsiline.danya makanan dalam aluran cerna
akan menghambat absorbs obat.Perbedaan absorbs oabat ampisilin dan bentuk trihidrat dan bentuk anhidrat tidak
memberikan perbedaan bermakna pada penggunaan klinik.
Absorbsi amoksilin disaluran cerna jauh lebih baik daripada ampisilin.dengan dosis orak yang sama,amoksilin
mencapai kadar dalam darah yang tingginya kira-kira 2 kali lebih besar daripada yang dicapai ampisilin,sedang masa
paruh eliminasi kedua obat ini hamper sama.penyerapan ampisilin terhambat oleh adanya makan dilambung,sedang
amoksilin tidak.
Distribusi penisilin G didistribusi luas didalam tubuh.kadar obat yang memadai dapat tercapai dalam hati,empedu
ginjal usus,limfe dan semen,tetapi dalam css sukar di capai.Bila meningen dalam keadaan normal,sukar sekali dicapai
kadar 0,5 IU/mL dalam css walaupun kadar plasmanya 50 IU/mL.adanya radang meningen lebih memudahkan penetrasi
penisilin G ke CSS tetapi tercapai tidaknya kad
Efektif tetapi tidaknya kadar efektif sukar diramalakan.Pemberian intertekal jarang dikerjakan karena resiko yang lebih
tingi dan efektifitasnya tidak lebih memuaskan.
Distribusi amoksilin secara garis besar sama dengan ampisilin.Kebernisilan pad aumumnya memperlihatkan sifat
distribusi yang sama dengan penisilin lainnya termasuk distribusi ke dalam empedu dan dapat mencapai CSS pada
meningitis.
Bio transformasi dan eksresi.Biotransformasi penisilin umunya dilakukanoleh mikroba berdasarkan pengaruh
enzim penisilinase dan amidase.Proses biotransformasi oleh hospes toidak bermakna.akibat pengaruh penisilinase terjadi
pemecahan cincin berlaktan dengan kehilangan seluruk aktivitas antimikroba.amidase memecah rantai samping,dengan
ekibat penurunan potensi antimikroba.
Penisilin umumnya disekresi melalui peoses sekresi di tubli ginjal yang dapat dihambat oeh proben esid.masa
paruh eliminasi penisilin dalam darah diperpanjang oleh probenesid,bebrapa obat juga lain juga meningkatkan masa paruh
eliminasi penisilin dalam darah antara lain fenibutazon,sulfinpirazon,asetosal,dan indometasin.Kegagalan fungsi ginjal
sangat memperlambat eksresi penisilin.
g. Sediaan dan Pasologi

Penisilin biasanya digunakn secara parental.sediaan terdapat daalam bentuk penisilin G larut iar dan lepas lambat
untuk suntikan IM.

Penislin V (fenoksimitel penislin ) ;tersedia sebagai garam kalium,dalam bentuk tablet 250 mg dan 625 mg sirup
125 mg/5 mL.

Penisilin isoksazoil terdapat berbagai sediaan oral ( garam natrium dalam bentuk tablet),kapsul 125 mg/250
mg,500 mg suspense 62,5 mg.Untuk pemberian parentedral adalah garam natrium dalam vial 250 mg
,500mg,dan 1 gram.

Ampisilin untuk pemberian oral tersedia dalam bentuk tabelet atau kapsul sebagai ampisilin trihidrat atau
ampisilin anhidrat 125mg,500 mg/5 mL.Selain itu ampisilin tersedia untuk jenis suntikan.dosis ampisilin
tergantung dari beratnya penyakit ,fungsi ginjal,dan umur pasien.garis besar penentuan dosis ialah sbb dewasa
penyakit ringan sampai sedang di berikan 2-4 g sehari,dibagi un tuk 4 kali pemberian untuk penyakit berat
sebaiknay diberikan preparat parental sebanyak,4-8 g sehari.Pada meningitis bahkan dibutuhkan dosis lebih
tinggi lagi.Untuk anak berat badan dengan berta kurang dari 20 kg diberikan peroral.

Amoksisilin diberikan sebagai kapsul atau tablet 125,250,500,mg sirup 125 mg/5 mL.Dosis sehari dapat
diberikan lebih kecil dariipada ampiusilin karena absorbsinya lebih baik daripada ampisilin.

Karbenisilin tersedia untuk suntikan sebagai garam natrium sebagai vial 1,2,5 dan 10 gram.Pada infeksi berat
dosis fdewasa berkisar 25-30 g sehari.

Sulbenisilin untuk suntikan tersedia dala vial 1 g.dosis yang dianjurkan ialah dewasa 2-4 g sehari.

Tikarsilin suatu karbonpeniksilin yang tidak di absorbs melalui saluran cerna,sehingga harus diberikan secara
parenteral (IV dan IM ).Spektrum aktivitas antibakterinya terhadap bakteri gram negative lebih luas darik
aminopenisilin.

Aziosilin,meziosilin,piperasilin.Obat-obat ini tergolong uroidopenisilin ;yang diindikasikan untuk infeksi berat


/oleh kuman gram negative,termasuk diantaranya P.aeruginosa ,proteus indol positif dan enterobacter.ketganya
lebih paten daripada karbonisilin terhadap kuman.

h. Jenis- Jenis Penisilin

Amoxicillin

Ampicillin 125 mg/5ml


Ampisilina digunakan untuk pengobatan :
Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis.
Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi kulit dan jaringan kulit.
Septikemia, meningitis.
Ampicillin 500 mg
Binotal
Infeksi saluran kemih, saluran pencernaan, bakterial otitis media.
PT Bayer Indonesia

Cefadroxil 500 mg

Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti:
- Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media.
- Infeksi kulit dan jaringan lunak.
- Infeksi saluran kemih dan kelamin.
- Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.

Cefixime Kapsul
Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan

antara lain:

Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan Proteus mirabilis.

Otitis media disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif) dan Streptococcus pyogenes.

Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.

Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae
dan Haemophilus influenzae (strain beta-laktamase positif dan negatif).

PT Dexa Medica

Cefixime Sirup

Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan
antara lain:

1.

Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan Proteus mirabilis.

2.

Otitis media yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif dan negatif), Moraxella
(Branhamella) catarrhalis (sebagian besar adalah ?-laktamase positif) dan Streptococcus pyogenes.

3.

Faringitis dan tonsillitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.

4.

Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae
dan Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif

Ceftazidime

Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh kuman yang susceptible antara lain:


Infeksi umum:
septicaemia; bacteriaemia; peritonitis; meningitis; penderita ICU dengan problem spesifik, misalnya luka bakar
yang terinfeksi.
Infeksi saluran pernapasan bagian bawah :
pneumonia, bronkopneumonia; pleuritis pada paru-paru; emfisema; bronciectasis yang terinfeksi; abcess pada
paru-paru; infeksi paru-paru pada penderita cystic fibrosis.
Infeksi saluran kemih :
pyelonephritis akut dan kronis; pyelitis; prostatitis; berbagai abscess renal
Infeksi jaringan lunak dan kulit :
celullitis; erysipelas; abscess; mastitis; luka bakar atau luka lain yang terinfeksi; ulkus pada kulit
Infeksi tulang dan sendi :
osteotitis, osteomyelitis; artritis septik; bursitis yang terinfeksi
infeksi abdominal dan bilier
cholangitis, cholecystitis; peritonitis; diverkulitis; penyakit radang pelvic
Dialysis
Infeksi-infeksi yang dikaitkan dengan dialisis haemo dan peritoneal dan CAPD (continous ambulatory
peritoneal dialysis).

Gentamicin

Untuk pengobatan infeksi kulit primer maupun sekunder seperti impetigo kontagiosa, ektima, furunkulosis.
pioderma, psoriasis dan macam-macam dermatitis lainnya.
PT Indofarma

Griseofulvin

Untuk pengobatan infeksi jamur (ring-worm) pada kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh Microsporum,
Epidermophyton dan Trichophyton.
PT Indofarma

Berikut informasi-informasi kesehatan terkait dengan Penisilin:


Mengenal Simbol Kemasan Obat
Huruf K di dalamnya br Obat yang termasuk dalam golongan ini misalnya antibiotik seperti tetrasiklin Penisilin
obat-obatan yang mengandung hormon obat penenang dan lain-lain Obat jenis ini tidak bisa sembarang ...
Alergi dan Penyebabnya

Alergi Serbuk tanaman jenis rumput tertentu jenis pohon yang berkulit halus dan tipis serbuk spora Penisilin seafood telur kacang pa

F.

SEFALOSPORIN

a.

Kimia dan Klasifikasi

Sefalosporin berasal dari fungsi Cephalosporium acremonium yang diidolasi pada tahun 1948 oleh Brotzu. Inti dasar sefalosporin C i

Hindrolisis asam sefalosporin C menghasailkan 7-ACA yang kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai macam antibiotic sefalosporin.

b.

Aktivitas Antimikroba

Sefalosporin aktif terhadap kuman Gram positif maupun Gram negative, tetapi spectrum sntimikroba masing-masing derivate bervari

a.

Sefalosporin Generasi Pertama (SG 1)

Sefalosporin generasi pertama memperlihatkan spectrum antimikroba yang terutama katif terhadap kuman gram positif. Keunggulann
Corynebactrium diphteriae.

Aktivitas antimikroba berbagai jenis safolosporin generasi pertama sama satu dengan yang lain, hanya sefalosporin sedikit lebih aktif
Mikroba yang resisten atnra lain ialah strain S. aureus resisten metilisin, S. epidermidis dan S. faecalis.

b.

Sefalosporin Generasi Kedua (SG 11)

Golongan ini kurang aktif terhadap bakteri gram positif dibandingkan dengan generasi pertama, tetepi lebih aktif terhadap kuman gra
infeksi. Sefaksitin aktif terhadap kuman anaerob.

c.

Sefalosporin Generasi Ketiga (SG III)

Golongan ini umumnya kurang aktif dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kokus gram positif, tetapi jauh lebih aktif terha

d.

Sefalosporin Generasi Keempat (SG IV)


Antibiotika golongan ini ( misalnya sefepim,sefpirom) mempunyai spectrum aktivitas lebih luas dari generasi ketiga dan lebih stabil

c.

Sifat Umum

Dari sifat farmakokinetik sefalosporin dibedakan dalam 2 golongan. Sefaleksin, sefradin, sefaklor, sefadroksil, lorakarbef, sefprozil, s

Alergi dan Penyebabnya

d.

Efek Samping

Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi, gejalanya mirip dengan reaksi alergi yang ditimbulkan oleh penisil

e.

Indikasi Klinik

Sefalosporin generasio I sangat baik untuk mengatasi infeksi kulit dan jaringan lunak oleh S. aureus dan S. pyogenes. Obat ini juga sa

Sefalospori generasi III tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida merupakan obat pilihan utama untuk infeksi berat oleh Klebsie

f.

Monografi

SEFALOSPORIN GENERASI PERTAMA

1.
2.
3.
4.

SEFALOTIN
SEFAZOLIN
SERADIN
SEFADROKSIL

SEFALOSPORIN GENERASI KEDUA

1.
2.
3.
4.

SEFAMANDOL
SEFOKSITIN
SEFAKLOR
SEFUROKSIN

SEFALOSPORIN GENERASI KETIGA

1.
2.
3.
4.
5.
6.

SEFOTAKSIM
MOKSALAKTAM
SETRIAKSON
SEFOPERAZON
SEFTAZIDIM
SEFIKSIM.

ANTIBIOTIKA BELATAKAM LAINNYA


Dewasa ini telah dikembangkan antibiotika belatakam lain yang tidak tergolong penisilin maupun sefalosporin.
KARBAPENEM

Alergi dan Penyebabnya

Karbapenem merupakan belatakam yang struktur kimianya berbeda dengan penisilin dan sefalosporin. Golongan obat ini mempuny
IMIPENEM
Obat ini di pasarkan dalam kombinasi dengan silastatin agar imipenem tidak didegradasi oleh enzim dipeptidase di tubulu ginjal.
Imipenem, suatu turunan tienamisin, merupakan karbapenem pertama yang digunakan dalam pengobatan. Tienamisin diproduksi oleh Strepto
bentuk asal di urin.

Silastatin, penghambat dehidropeptidase-1, tidak beraktivitas anti bakteri. Bila diberikan bersama imipenem dalam perbandingan sama, silasta
MEKANISME KERJA DAN SPEKTRUM ANTIBAKTERI

Imipenem mengikat PBP2 dan menghambat sintesis dinding sel kuman. In vitro obat ini berspektrum sangat luas, termasuk kuman ga
pneumokokdan E. faecalis serta kuman penghasil betalakamase umumnya. Tetapi obat ini tidak aktif terhadap stafilokok resisten metisilin atau
sefalosporin generasi ketiga. Imipenem juga sangat aktif terhadap meningokok, gonokokus dan H. influenza termasuk yang memproduksi beta
yang sensitif terhadapnya , imipenem memperlihatkan efek pasca antibiotik.
Indikasi
Imipenem/ silastatin digunakan untuk pengobatan infeksi berat oleh kuman yang sensitif, termasuk infeksi nosokomial yang resisten
Efek samping

Efek samping yang paling sering dari imipenem adalah mual, muntah, kemerahan kulit dan reaksi lokal pada tempat infus. Kejang dil
mengganggu susunan s saraf pusat.
Farmakokinetik

Imipenem maupun silastatin tidak diabsorbsi melalui saluran cerna, sehingga haris diberikan secara suntikan. Setelah pemberian masi
dan 33 g/ml yang dicapai 1 jam sesudah pemberian. Kira-kira 20 % imipenem dan 40% silastatin terkait protein plasma. Distribusi obat ini m
tubuli ginjal.

Bila diberikan bersama silastatin, kurang lebih 70% dari dosis imipenem diekskresi diurin dalam bentuk asal 10 jam sesudah pemberian, sisan

Waktu paruh imipenem dan silastatin kurang lebih 1 jam pada orang deawasa. Pada kelaianan fungsi ginjal waktu paruh imipenem dapat menc
MEROPENEM

Meropenem suatu derivat dimetilkarbamoil pirolidinil dari tienamisin.berbeda dengan imipinem,obat ini tidak di rusak oleh enzim dipeptidase
MONOBAKTAM
Monobaktan merupakan suatu senyawa betalaktam monosiklik,dengan inti dasar berupa cincin tunggal,asam-3 aminobaktamat

Struktur ini berbeda dengan struktur kimia golongan antibiotika betalaktam terdahulu misalnya penisilin,sefalosporin,karbapenem,berinti dasa

Alergi dan Penyebabnya

Monobaktan pada awalnya diisolasi dari kuman a.I Gluconocabacter,Acetobacter,chromobacterium, tetapi aktivitas antibakterinya sa
meningkatkan stabilitas aztreonam terhadap berbagai batalaktamase dan aktivitas antibakterinya terhadap kuman Gram-negatif aerobik,termas
AZTREONAM
Aztreonam merupakan derivat monobaktam pertama yang terbukti bermanfaat secara klinis.
Mekanisme kerja

Aztreonam bekeraja dengan menghambat sintesis dinding sel kuman,seperti antibiotika betelaktam lain.antibiotik ini dengan mudah m
aztreonam terhadap kuman yang peka tidak banyak berbeda dengan KHMnya.Aztreonam tidak aktif terhadap kuman Gram-positif dan kuman

Aztreonam hanya aktif terhadap kuman Gram-negatif aerob termasuk Haemophilis influinzae dan meningokok yang menghasilkan betalaktam
seftazidim sedikit labih poten.obat ini tidak aktif terhadap spesis Acinetobacter,Xantomonas malthophilia,Achromobacter xyloxidans,spesis Al

Kadar puncak dalam serum darah pada pemberian 1g IM dalam waktu 60 nmenit mencapai 46g/mL dan pada pemberian bolus IV 125g/mL
sinovial,pleural,perikardial,peritoneal,cairan lepuh,sekresi bronkus,tulang,empedu hati,paru-paru,ginjal,otot,endometrium dan usus.kadar dalam

G.

KLORAMFENIKOL

a.

Asal Dan Kimia


Kloramfenikol meruopakan Kristal putih yang sukar larut dalam air (1; 4000) dan rasanya sangat pahit.

b.

Farmakodinamik

Efek Antimikroba

Kloramfenikolbekerja dengn menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom subunit 50 s dan menghjambat enzim
pyogenes, Bacillus spp, Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob dll.
Resistensi

Meknisme resistensi terhadap klorofenikol terjadi mellui inaktivasi obat oleh asetil transferase yang di perantarai oleh factor-R. resist

Beberapa strain D. pneumonia, h.influenza, dan N. meningitides bersifat resisten; S. aureus umumnya sensitive dan enterobacteria banyak yang

c.

Farmakokinetik

Setelah pemberian oral, kloramifenikol di serap dengan cepat. Kadar puncak dalam darah tercaoai dalam 2 jam. Untuk anak biasanya di berika
Untuk pemberian secara parental di gunakan klorofenikol suksinat yang akan di hidrolisis dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol.

Masa paruh eliminsinya pada oran dewasa kuran lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfe

Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi dengan saam glukuronat oleh enzim glukuronil transferase. Oleh karena itu waktu paruh klo

Alergi dan Penyebabnya

kloramfenikol yang di ekskresi melalui urin hanya 5-10a5 dalam bentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk aktif.sisanya terdapat dalam bent

Pada gagal ginjal masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah sehingg tidak di perlkan penguranga dosis. Dosis dapat dikrang
Interaksi

Dalam dosis terapi, kloramfenikol menghambat biotransformasi tolbutamid, fenition, dikumarol, dan obat lain yang di metabolisme opleh enzi
subterapeutik.

d.

Penggunaan Klinik

Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya obat ini hanya di gunakan untuk mengobati demam
Demam Tifoid

Kloramfenikoltidak lagi menjadi pilihan utama untuk mengobati penyakit tersebut karena telah tersedia obat-obat yang lebih aman se

Untuk pengobatan demam tifoid diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari sampai 2 minggu bebas demam. Bila terjadi relaps, biasanya dapat diatas

Suatu uji klinik di Indonesia menunjukkan bahwa terapi kloramfenikol ( 4x500 mg/hari) dan siprofloksasin (2 x 500 mg/hari) per oral untuk de

Meningitis Purulenta

Kloramfenikol efektif untuk mengobati meningitis purulenta yang disebabkan oleh H. influenza. Untuk terapi awal, obat ini masih dig
dengan hasil kultur.
Riketsiosis

Terasiklin merupakan obat terpilih untuk penyakit ini. Bila oleh karena sesuatu hal tetrasiklin tidak dapat diberikan, maka dapat digunakan klo

e.

Efek Samping

Reaksi Hematologik

Terdapat dalam 2 bentuk yaitu yang pertama reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan ini berhubunngan de
serum melampaui 25 mikrogram/mL. Bentuk yang kedua ialah anemia aplastik dengan pansitopenia yang ireversibel dan memiliki prognosis y

Hitung sel darah yang dilakukan secara periodic dapat memberi petunjuk untuk mengurangi dosis atau menghentikan terapi. Dianjurkan untuk
Reaksi Saluran Cerna
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

Alergi dan Penyebabnya

Sindrom Gray

Pada neonates, terutama bayi premature yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kgBB) 2 sampai hari ke 9masa terapi, rata-rata hari ke 4
hepotermia. Efek toksik diduga di sebabkan oleh, sistem konjugasi oleh enzim glukuronil transfertase belum sempurna; dan kloramfenikol yan
mg/kgBB biasanya tidak menimbulkan efek samping tersebut di atas.

f.

Interaksi Obat

Kloramfenikol adalah penghambat yang poten dari sitokrom P450 isoform CYP2C19 dan CYP3A4 pada manusia, sehingga dapat memperpan

g.

Tiamfenikol

Tiamfenikol digunakan untuk indikasi yang sama dengan klooramfenikol. Selain itu juga telah diberikan untuk infeksi saluran emped

Obat ini diserap dengan baik pada pemberian per oral dan penetrasinya baik ke cairan serebrospinal, tlang dan sputum sehingga menc

Efek samping yang timbul ialah depresi sumsum tulang yang reversible dan berhubungan dengan besarnya dosis yang dibrkan. Dari p

H.

AMINOGLUKOSIDA

Aminolukosimida adalahgolongan antibiotika bakterisidal yang dikenal toksid terhadap saraf otak VIII komponen maupun akustik da
kanamisin,paramomisin,gentamisin,tobramisin,amitasin,sisomisin dan netil misin.senyawa aminoglikosida dibadakan dari gugus gula amino y
Kimia

Aminoglikosida merupakan senyawa yang terdiri dari dua atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik.pada inti h
sebabpaliing kurang nyeri untuk suntikan IM .

Stabilitasnya cukup baik pada suhu kamaar teruttama dalam bentuk kering misalnya strotomisin stabil untuk paling sedikit 1 tahun.pengaruh p
Efek Anti Mikroba
1). aktivitas dan mekanisme kerja

Aktivitas atibakeri, gentamisin,amikasin,trobmisin,kanamisn,netilmisin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobik.aktivita

Basil gram berbeda susepbilitasnya terhadap berbagai aminoglikosdik.miktoorganisme dinyatakan bil asensiv pertumbuhannya diham

Aktivitas aminoglikosidik terutama dipengaruhi oleh faktor terutama perubahan pH keadaan aerobik,nonaerobik atau keadaan hiperk

Mekanisme kerja Aminoglikosidik berdifusi lewat kanal air yang dibentuk porin protein pada membran luar dalam bakteri gram nega
aminoglikosidik mempercepat transpor aminoglikosidik ke dalam sel,diikuti dengan kerusakan membran sitoplasma, dan disusul kerusakan se

Aminoglikosidik Bersifat bakterisidal .pengaruh aminoglikosidik mengahambat sintesis protein yang menyebabkan salah baca dalam

Alergi dan Penyebabnya

2). Spektrum antimikroba

Kadar pula rata-rata dala serum yang dicapai dengan pemberian dosis lazim merupakan pegangan dalam menetapkan mikroba tertent
berkembangnya resistensi .

Spekrum aminoglikosid pada umumnya lebih luas daripada streptomasin.beberapa perbedaan kecil dapat menimbulkan implikasi klin
3). Resistensi

Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan streptomisin secara kronik misalnya pada terapi tuberkolosis atau e
tehadap aminoglikosidk lainnya terjadi lebih berangsur-angsur.

Mekanisme resistensi bakteri terhadap aminoglikosid perlu diketahui untuk dimengerti spektrum antimikroba lainnya .bakteri dapat res

4).Farmakokinetik

Aminoglikosidik dalam bentuk garam sulfat yang diberikan IM baik sekali absorbsinya.kadar puncakanya dapat tercapai dalam waktu
tetapi mencapai keseimbbangan dengan kadar plasma setelah setelah pemberian berulang.distribusi aminoglikosidik ke dalam cairan otak pada
pria usia lanjut tidak mempengaruhi bersihan ginjjal total untuk tobramisin.keadaan ini sama dengan streptomisin dan menunjukan bahwa eksr
streptomisin juga demikian
Streptomisin dan gentamisin dapat disekresi dalam jumlah lebih besar melalui empedu sehingga kadarnya cukup tinngi.Streptomisin
5). Efek Samping
Efek samping oleh aminoglikosid dalam garis besarnya dapat dibagi dalam tiga keloompok
1 alergi
2.reaksi iritasi dengan toksik
3.Perubahan biologik.

Secara umum potensi aminogllikosid untuk menyebabkan alrgi rendah Rash,demam,diskrasia darah,angioedema,dermatitis eksfoliati
mempengaruhi komponen vestibular sebaliknya neomisin,kinamisin,amikasin dan hidrokstreptomisin lebih mempengaruhi komponen akustik.
dengan eksresi emzim dari brush border tubulus renal.setelah bebrapa hari terjadi defek emampuan konsentrasi ginjal,proteinuria,filtarsi glome

6). Perubahan biologik efek samping dapat bermaniifestasi dalam dua bentuk yaitu ganggaun pada pola mikriba tubuh memunggkinkan terjadi
7). Interaksi Obat

Penisilin anti peudomonas yang umum diberikan dalam dosis besar ternyata menginaktivasi aminoglikosid terutama gentamisin dan tobramisi
gejala nefrotoksitas dan otoksitas.peningkatan netrotoksitas juga dilaporkan terjadi bila aminogliokosid diberikan bersama metoksifluran dan i
8). Sediaan dan Pasologi
Sediaan aminoglikosid dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu

Alergi dan Penyebabnya

1 Sediaan aminoglikosid sitemik untuk pemberian IM atau Iv yaituamikasin gen ksid topikal,kinamisin dan streptomisin

2. Aminoglikosid topikal terdiri dari aminosidin,kinamisin,neomisisn,gentamisin dan streptomisin.dalam kelompok topikal ini termasuk juga s
1. Streptomisin

Tersedia untuk bubuk kering dalam viaal yang mengandung 1 ATAU 5 GRAM.Kadar larutan ergantung dari cara pemberian yang dir
2. Genntamisin
Tersedia sebaggai larutan steril dalam vial atau ampuh 60 mg/1,5 mL;80 mg:129 mg/3 mLdan 280 mg/Ml.
3. Kanamisin
Untuk suntikan tersedia larutan dalam bubuk kering.Lrutan dalam vial ekuivalen dengan basa kanamisin.500 mg/2 mL.dan 1 g/3 mL
4. Amikasin

Obat ini tersedian untuk suntiikan IM IV dalam vial berisi 250-500 dan 1000 mg.Dosisnya adalah 500 mg tiap 12 jam 9IM atau IV ).u
5. Tobramisin
Obat ini tersedia sebagai larutan 80-mg /2 mL untuk suntikan IM.dosis dosis dan cara pemberian sama dengan gentammisin.
Untuk dosis tobramisin dilarytkan dalam dextrosee 5 % atau larutan NaCl isotonis dan diberikan dalam 30-60- menit.
8.Indikasi dan kontaraindikasi penggunaan klinik

Aminoglukosid sekalipun berspektrum antimikroba lebarv jangan digunakan pada setiap jenis infeksi oleh kuman yang sensitif karen
1 resistensi terhadap aminpglukosid terhadap aminoglukosid relatif cepat beerkembang
2.Tositasnya relatif tinggi
3.tersediany berbagai antibiotik yang lain yang cukup efektif dan toksitasnya rendah.

I.

GOLONGAN KUINOLON DAN FLUOROKUINOLON

Asam nalidiksat adalah prototip golongan kuinolon lama yang dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaupun obatini mempunyai daya ant
cepat timbul terhadap obat itu. Kuinolon lainnya yaitu asam piromidat, asam pipemidat, sinoksasin, dan lain-lain, juga tidak mempunyai k

Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan kuinolon baru dengan atom fluor pada cincin kuinolon (karena itu dinamakan juga flu
sistemik.

Alergi dan Penyebabnya

Dalam garis besarnya golongan kuinolon dapat dibagi menjadi 2 kelompok : (1) kuinolon : kelompok ini tidak mempunyai manfaat k
nalidiksat dan asam pipemidat; (2) Fluorokuinolon : kelompok ini disebut demikian karena adanya atom fluor pada posisi 6 dalam struktu
penanggulangan infeksi berat, khususnya yang disebabkan oleh kuman Gram-negatif. Daya antibakterinya terhadap kuman Gram-negatifr
Mekanisme Kerja Dan Spektrum Antibakteri

Bentuk double helix DNA harus dipisahkan menjadi 2 rantai DNA pada saat akan berlangsungnya replikasi dan transkripsi. Pemisah
Golongan kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase dan bersifat bakterisidal.

Fluorokuinolon bekerja dengan mekanisme yang sama dengan kelompok kuinolon terdahulu. Fluorokuinolon baru menghambat topo
berfungsi dalam pemisahan DNA baru yang terbentuk setelah proses replikasi DNA kuman selesai.

Spektrum Anti Bakteri

Kuinolon yang lama aktif terhadap beberapa kuman Gram-negatif, antara lain E. Coli, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter. Kuinolo

Flurokuinolon lama (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin dll) mempunyai daya antibakteri yang sangat kuat terhadap E. Coli, Kle

Flurokuinolon tertentu aktif terhadap beberapa Mikobakterium. Kuman-kuman anaerob pada umumnya resisten terhadap fluorokuino

Flurokuinolon baru (moksifloksasian, gatifloksasian) mempunyai daya antibakteri yang baik terhadap kuman Gram-negatif, Gram-ne
respiratory quinolones.

Resistensi

Mekanisme resistensi malalui plasmid seperti yang banyak terjadi pada antibiotika lain tidak dijumpai pada golongan kuinolon, namun re
obat ke dalam sel; dan (3) Peningkatan mekanisme pemompaan obat keluar sel (efflux). Ini merupakan mekanisme penting yang menyeba
Farmakokinetik

Asam nalidiksat diserap baik oleh saluran cerna tetapi diekskresi dengan cepat melalui ginjal. Obat ini tidak bermanfaat untuk infeks

Peflokasasin adalah flurokuinolon yang absorpsinya paling baik dan masa paru eliminasinya paling panjang. Bioavailabilitasnya pad
beberapaa organ tubuh. Dalam urin semua fluorokuinolon mencapai kadar yang melampaui kadar hambat minimal untuk kebanykan kuma
cairan serebrospinal bila ada meningitis. Sifat lain fluorokuinolon yang menguntungkan ialah masa paru eliminasinya panjang sehingga o
Heoadialisis hanya sedikit mengeluarkan fluorokuinolon dari tubuh sehingga penambahan dosis umunya tidak diperlukan.
Indikasi

Asam nalidiksat dan asam pipemidat hanya digunakan sebagai antiseptik saluran kemih, khususnya untuk sistitis akut tanpa komplikasi p

Alergi dan Penyebabnya

Fluorokuinolon digunakan untuk indikasi yang jauh lebih luas antar lain:

a.

Infeksi saluran kemih (ISK)

Fluorokuinolon efektif untuk ISK dengan atau tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh kuman-kuman yang multi resisten dan

b.

Infeksi saluran cerna

Fluorokuinolon juga efektif untuk diare yang disebabkan oleh shigella, salmonella, E. coli dan campylobacter. Siprokloksasin dan of

c.

Infeksi saluran nafas (ISN)

Secara umum efektifitas fluoronkuinolon generasi pertama (siprofloksasin, ofloksasin, enoksasin) untuk infeksi bacterial saluran nap

Kuinolon baru (Gatifloksasin, moksifloksasin, gemifloksasin) dan levo floksasin mempunyai daya antibakteri yang cukup baik terhad

Siprofloksasin efektif untuk mengatasi eksaserbasi cysticfi brosis yang didebabkan oleh P. aeruginosa, namun penggunaan obat ini u

d.

Penyakit yang ditularkan malalui hubungan seksual

Siprofloksasin oral dan levofloksasin oral merupakan obat pilihan utama disamping seftriagson dan sefiksin untuk pengobatan uretrit

e.

Infeksi tulang dan sendi

Siprofloksasin oral dengan dosis 2 kali 500-350 mg/hari yang diberikan selama 4/6 minggu efektif untuk mengatasi infeksi pada tula

f.

Infeksi kulit dan jaringn lunak

Fluorokuinolon oral mempunyai efektifitas sebanding dengan sefalosporin parenteral generasi ke tiga (sevotaksin sevtakzidin) untuk

g.

Dosis dan posologi


Dosis yang lazim digunakan untuk beberapa fluorokuinolon yang sering digunakan diklinik

Efek Samping

Secara umum dapat dikatakan bahwa efek samping golongan kuinolon sepadan dengan antibiotika golongan lain. Beberapa efek s

Saluran cerna

Efek samping ini paling sering timbul akibat penggunaan golongan kuinolon (prevalensi sekitar 3-17%) dan bermanifestasi dalam be
susunan syaraf pusat

Alergi dan Penyebabnya

yang paling sering dijimpai ialah sakit kepala dan pusing. Bentuk yang jarang timbul ialah halusinasi, kejang, dan delirium.

Hepatotoksisitas

Efek samping ini jarang dijumpai, namun kematian akibat hepatotoksisitas yang berat pernah terjadi akibat penggunaan trovaflok

Kardiotoksisitas

Beberapa fluorokuinolon antara lain sparfloksasin dan grepafloksasin (kedua obat ini dipasarkan lagi). Dapat memperpanjang in
memperpanjang Qtc interval dan tidak berbahaya secara klnis. Namun bila obat ini diberikan bersama obat lain yang juga dapat mem

Disglikemia

Gatif floksasin baru-baru ini dilaporkan dapat menimbulkan hiper atau hipoglikemia, da pasien berusia lanjut. Obta ini tidak bol

Fototoksisitas

Klinaf floksasin (tidak dipasarkan lagi) dan sparfloksasin adalah fluorokuinolon yang relative sering menimbulkan fototoksisitas
Interaksi obat
Golongan kuinolon dan fluorokuinolon berinteraksi dengan beberapa obat, misalnya :

Anatasid dan preparat besi (Fe)

Absorpsi kuinolon dan fluorokuinolon dapat berkurang hingga 50 % atau lebih. Karena itu pembarian antacid dan praparat basi harus

Teofilin

Beberapa kuinolon misalnya siprofloksasin, pefloksasin, dan enoksasin menghambat merabolisme teofilin dan maningkatkan kadar t

Obat-obat yang dapat memperpanjang interval Qtc.

Golongan kuinolon sebaiknya tidak dikombinasikan dengan obat-obat yang dapat memperpanjang Qtc interval, antara lain obat anti a

J.

ANTIMIKROBA LAIN

1.

ERITROMISIN DAN MAKROLID LAIN

Antibiotika golongan makrolid, mempunyai persamaan yaitu terdapat cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya. Eritro

Alergi dan Penyebabnya

1.

Eritromisis

Asal dan kimia

Eritromisin dihasilkanolah suatu strain streptomyces erythreus. Zat ini dapat berupa krisatal berwarna kekuningan, larut dal

Antibiotic ini tidak stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisis

Aktivitas antimikroba

Golongan mikrolid menghambat mikrolid sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversibal dengan ribosom s

Spektrum antimikroba

In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus Gram-positif, seperti S.pyogenes dan S.pneumoniae. S. viridians mempun
perfringens, C. diphtheria, dan L. monocytogenes.

Resistensi

Resitensi terhadap erotromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai oleh plasmid yaitu: (1) menurunyya permeab

Farmakokinetik

Basa eritromisin diserap baik oleh usus kecil bagian atas; aktivitasnya menurun karena obat dirusak olah asam lambung, ba

Hanya 2-5% eritromisin yang diekskresi dalam bentuk aktif melalui urin. Eritromisin mengalami pemekatan dalam jaringan

Masa paru eliminasi eritromisin adalah sekitar 1,5 jam. Dalam keadaan insufisiensi ginjal tidak diperlukan modifikasi dosis

Eritromisin berdifusi dengan baik ke berbagai jaringan tubuh kecuali ke otak dan cairan serebrospinal. Pada ibu hamil, kada

Obat itu diekskresi terutama melalui hati. Dialysis perionial dan hemodialis tidak dapat mengeluarkan eritromisin dari tubu
Pada wanita hamil pemberian eritromisin streat dapat meningkatkan sementara kadar SGOT/SGPT.

Efek samping

Alergi dan Penyebabnya

Efek samping yang berat akibat pemakaian eritromisin dan turunannnya jarang terjadi.

Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinifilis dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan. Hepa
eritromisin etilsuksinat tetapi jarang sekali terjadi. Eritromisin oral (terutama dalam dosis besar) sering menimbulkan iritasi

2.

Spiramisin

Obat ini efektif terhadap kuman stafilokokuds, steptokokus, pnemokokus, enterokokus, Neisseria, Bordetella petusis, Rickettsia,

Spiramisin umunya diberikan peroral. Absorpsi sluran cerna tidak lengkap, namun tidak dipengaruhi olah adanya makanan dalam

Preparat spiramisin yang tersedia ialah bentuk tablet 500 mg, yang setara dengan 1,5 MIU dan tablet 1000 mg yang setara denga

Dosis orang untuk pasien dewasa ialah 3-4 kali 500 mg sehari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan 2 kali lipat. Dosis ora
Seperti eritromisin, spiramisin, digunakan untuk terapi infeksi rongga mulut dan saluran napas.

Spiramisin digunakan juga sebagai obat alternative untuk pasien toksoplasmosis yang karena sesuatu sebab tidak dapat diobati d
Spiramisin efektif untuk mencegah transmisi transplasental toksoplasma dari ibu ke anak.
Pemberian spiramisin oral kadang-kadang menimbulkan iritasi saluran cerna.

3.

Roksitromisin Dan Klaritromisin

Roksitromisin adalah derivat eritromisin yang diserap dengan baik pada pemberian oral. Obat ini lebih jarang menimbulkan irit
diberikan 2 kali sehari. Penggunaannya sama dengan eritromisin. Dosis oral untuk orang dewasa ialah 2 kali 150 mg sehari. Un

Klaritromisin juga digunakan untuk indikasi yang sama seperti eritromisin. Secara in vitro, obat ini adalah makroid yang paling
eritromisin) dan peningkatan sementara enzim hati. Pada hewan coba, dosis tinggi menimbulkan embriotoksisitas. Klaritromisi

4.

Azitromisin

Obat ini, mempunyai indikasi klinik serupa dengan klaritromisin. Aktivitasnya sangat baik terhadap Chilamydia. Kadar azitrom

Alergi dan Penyebabnya

sekitas 3 hari. Dengan demikian, obat cukup diberikan sekali sehari dan lama pengobatan dapat dikurangi. Absorpsinya berlang
Dosis azitromisin dapat dilihat pada tabel 46-3.
Indikasi
Dosis
Dewasa :
1. Community1x500 mg/hari
acquidred pneumonia
selama 3 hari
Anak :

Keterangan

Bentuk kemasan:

Tablet 250 dan 500 mg


Suspensi yang mengandung
200 mg/5 mL

10 mg/kgBB/hari,
sekali sehari
selama 3 hari

2.

Uretritis non spesifik

Dewasa :
Dosis tunggal 1 g

1.5 Telitromisin

Telitromisin adalah antibiotika baru dari golongan keloid yang bekerja pada 2 site of action di ribisom 23S bakteri. Kuman yang pek

Pada pemberian oral, biovailabilitas obat ini hanya 57% namun pemberian bersama makanan tidak mempengaruhi kelengkapan abso

Pengurangan dosis tidak diperlukan bagi pasien insufisiensi ginjal ringan/ sedang atau gagal fungsi hati. Dosis obat perlu dikurangi 5

Telitrominisin tersedia dalam bentuk tablet 400 mg. Dosisnya ialah 800 mg sekali sehari selama 5 hari, tetapi untuk community-acqu

Efek samping yang dihubungkan dengan penggunaan obat in ialah keluhan saluran cerna yaitu mual, muntah, diare, dan sakit kepala.

2.

LINKOMISIN DAN KLINDAMISIN

1.

Linkomisin

Pengguna linkomisin dewasa ini telah ditinggalkan karena daya antibakterinya yang lemah dan absorpsinya yang kurang baik dibandingk

Alergi dan Penyebabnya

2.

Klindamisin

aktivitas antibakteri

Obat ini pada umumnya aktif terhadap S. aureus, S. pneumoniae, S. pyogenes, S. anaerobic, S. viridans dan Actinomtces isrealli. Klin

farmakokinetik

Klindamisin diserap hampir lengkap pada pemberian oral. Adanya makanan dalam lambung tidak banyak mempengaruhi absorpsi ob

Klindamisin didistribusikn dengan baik ke berbagai cairan tubuh, jaringan dan tulang, kecuali ke CSS walaupun sedang terjadi men

Hanya sekitar 10% klndamisin diekskresikan delam bentuk asal melalui urin. Sejumlah kecil klindamisin ditemukan dalam feses. S
pengukuran kadar obat dalam plasma. Hal ini dapat pula terjadi pada pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat.
efek samping

Diare dilapotkan terjadi pada 2-10% pasien yang mendapat klindamisin. Diperkirakan 0,01-10% pasien dilaporkan menderita kolitis p

oleh C. difficile, suatu kuman yang tidak termasuk flora normal usus besar. Penyakit ini sering disebut antibiotic-associated pseudomembrano

beberapa minggu setelah terapi dihentikan. Bila selama terapi timbul diare atau kolitis, maka pengobatan harus dihentikan. Obat terpilih untuk
sediaan dan posologi
Klindamisin tersedia dalam kapsul 150 dan 300 mg. Selain itu terdapat suspensi oral dengan konsentrasi 75 mg/5 mL.

Dosis oral untuk orang dewasa ialah 150-300 mg tiap 6 jam. Untuk infeksi berat dapat diberikan 450 mg tiap 6 jam. Dosis oral untuk anak iala

Untuk pemberian secara IM atau IV digunakan larutan klindamisin fosfat 150 mg/mL dalam kapsul berisi 2 dan 4 mL. Dosis untuk infeksi ber

sebaiknya tidak disuntikan pada satu tempat. Klindamisin tidak boleh diberikan secara bolus IV, tapi harus diencerkan sampai kadar kurang da

Untuk anak atau bayi berumur lebih darei 1 bulan diberikan 15-25 mg/kgBB sehari, untuk infeksi barat dosisnya 25-40 mg/kgBB sehari yang d
pengguanaan klinik

Alergi dan Penyebabnya

Walaupun beberapa infeksi kokus Gram-positif dapat diobati dengan klindamisin, penggunaan obat ini harus dipertimbangkan baik-baik karen

2.

GLIKOPEPTIDA
Yang termasuk glikopeptida ialah vankomisisn dan teikoplanin.

1.

Vankomisin

Obat ini diserap melalui saluran cerna, dan untuk mendapatkan efek sistemik selalu harus diberikan IV karena pemberian IM menimb

Obat ini hanya aktif terhadap kuman Gram-positif, khususunya golongan kokus. Indikasi utama vankomisin ialah septicemia dan end

untuk enterokolitis oleh stafilokokus yang biasanya merupakan efek samping antibiotic lain. Vankomisin merupakan obat terpilih un

Vankomisin HCL tersedia dalam bentuk bubu 500 mg untuk pemberian IV. Dosis untuk dewasa ialah 2-4 gram/hari yang dibagi dala

2.

Teikoplanin

Obat ini bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel. Seperti halnya dengan vankomisisn, teikoplamin diindikasikan untuk infek

Pasien yang alergi terhadap vankomisisn mungkin juga bereaksi sama terhadap teikoplamin, namun efek samping the Red Man Synd
Efek samping yang dihubungkan dengan penggunaan teikoplanin ialah:

Rekasi local pada tempat suntikan.

Rekasi hipersensitivitas yang bermanifestasi dalam berbagai bentuk

Kenaikan kadar transaminase serum

Rekasi hematologic yang bermanifestasi antar lain dalam bentuk trombositopenia, leucopenia, neutropenia, eosinofilia, dan terkadang

Nefrotoksisitas

Ototoksisitas berupa ketulian dan/atau gangguan keseimbangan

Kelughan saluran cerna berupa mual, muntah dan diare

Keluhan pada susunan syaraf pusat berupa sakit kepala, pusing, dan kejang bila diberikan ventricular.

Pengobatan dengan teikoplanin dimulai dengan memberikan dosis muat 400-800 mg (atau 6-12 mg/kgBB) secara IV setiap 12 jam se
Untuk pasien dengan gangguan faal ginjal diperlukan pengurangan dosis sebagai berikut mulai keempat pengobatan.
Klirens keratin (mL/menit)

Dosis

Alergi dan Penyebabnya

40-60 <40>

50% dari dosis nirmal


30 dari dosis normal

Obat-obat ini tersedia dalam bentuk bubuk obat suntik (400 mg/vial) yang harus direkonstitusi dulu pada saat akan digunakan. Teiko

2.

LAIN-LAIN

1.

Polimiksin B

Polimiksin B sekarang hanya diberikan peroral atau topical, jarang secara parental karena sangat nefrotoksik.

Obat ini efektif terhadap berbagai kuman Gram-negatif, khususnya P. aeruginosa. Kuman lain yang peka ialah Escherichia, Haemop

Untuk penggunaan topical tesedia krimatau salep kulit dan salep mata yang mengandung 5.000-10.000 unit polimiksin B/garm. Obat

2.

Basitrasin

Antibiotic ini bersifat bekterisid terhadap kuman-kuman Gram-positf.

Basitrin tersedia dalam bentuk salep kulit dan mata yang mengandung 500 unit/gram. Gram seng basitrasin juga sering dicampur den
Basitrasin stabil dalam bentuk salep, tetapi tidak stabil dalam bentuk krim.

3.

Natrium Fusidat

Suatu antibacterial steroidal dengan efek bakteriostatik/bakteriosidik terutam terhadap kuman Gram-positf. Natrium fusidat tidak lag

4.

Mupirosin

Mupirosin efektif menghambat kuman aerobic Gram-positif, termasuk methicillin-resistant S. aureus. Obat ini tidak mempunyai efek

5.

Spektinomisin

Spektinomisin digunakan untuk uretritis oleh gonokokus yang resiten terhadap obat lain.

Alergi dan Penyebabnya

Tidak ada resisten silang antar obat ini dengan antibiotika lain dalam pengobatan gonore. Obat ini biasanya diberikan dalam dosis tun

Efek sampingnya ialah nyeri ditempat suntikan, terkadang demam dan mual. Obat terpilih untuk gonore sekarang ialah seftriakson 12

6.

Streptogramin

Streptogram merupakan kombinasi tetap dari 2 antibiotika yang strukturnya berlainan yaitu kuinupristin dan dalfopristin dengan rasio

Kombinasi tetap yang relative baru ini aktif terhadap kuman S. aureus (yang resisten maupun sensitif terhadap metisilin), S. epederm

Frekuensi efek samping mual, muntah , dan kemerahan kulit akibat obat ini kurang lebih sama dengan yang ditimbulkan obat lain. Ef
Kombinasi ni selalu diberikan secara IV dan dosisnya ialah 7,5 mg/kgBB setiap 8 atau 12 jam.
Obat ini tersedia dalam bentuk sediaan dalam bentuk infus IV yang mengandung 150 mg kuinupristin dan 359 mg dalfopristin.

7.

Oksazolidindinon

Linezolid adalah derivate sintetik pertama dari golongan oksazolidindinon. Obat ini aktif terhadap kuman Gram-positif aerobic. Mek

Efek samping obat ini umumnya bersifat ringan atau sedang dan bermanifestasi dalam bentuk keluhan saluran cerna (mual, muntah d

disebabkan oleh Enterococcus faecium yang resisten terhadap vakomisin, staphylococcuc aureus (baik yang resisten maupun yang se

8.

Daptomisin

Obat ini termasuk antibiotika golongan lipopeptit suatu kelas antibiotika yang baru. Daptomisin mempunyai mekanisme kerja bermac

Enterococcus dan S. pneumonia. Daptomisin tidak mempunyai aktifivats terhadap Gram-negatif. Obat ini diindikasikan untuk infeksi

Alergi dan Penyebabnya

3.1 Kesimpulan
Mekanisme antimikroba

Menghambat metabolisme sel mikroba

Menghambat sintesis dinding

Mengganggu keutuhan membran sel mikroba

Menghambat sintesis sel mikroba,

Menghambat sintesis asam nukleat mikroba

Reaksi alergi

Reaksi idiosinkrasi

Reaksi toksik Perubahan biologik dan metabolik