Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH GEOPOLITIK

INDONESIA
Pendidikkan Kewarganegaraan
Oleh

Kelompok 15

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG

KATA PENGANTAR

Penyusun mengucapkan banyak puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga Makalah Mata Kuliah Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan yang berjudul Geopolitik Indonesia ini dapat
terselesaikan dengan baik. Dengan segala daya upaya yang kami miliki, kami maksimalkan
kemampuan kami untuk menyusun makalah ini.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat
dalam penulisan Makalah ini.Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk melengkapi tugas
Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kami berharap semoga makalah
yang telah kami buat ini dapat bermanfaat.
Penyusun menyadari Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, jadi penyusun
mengucapkan mohon maaf atas kesalahan yang penyusun lakukan, penyusun juga
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan
Makalah ini.

Bandar Lampung, November 2014

Kelompok 15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Geopolitik berasal dari kata geo dan politik.Geo berarti bumi dan politik berasal dari bahasa
Yunani polite.Poli artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dan teia artinya
urusan.Geopolitik biasa juga di sebut dengan wawasan nusantara. Geopolitik diartikan
sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi
nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang menitik beratkan
pada pertimbangan geografik, wilayah atau teritorial dalam arti luas) suatu negara, yang
apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung atau tidak langsung kapada
sistem politik suatu negara. Sebaliknya politik negara itu secara langsung akan berdampak
kepada geografi negara bersangkutan.Geopolitik mengkaji makna strategis dan politis suatu
wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah tersebut.
Geopolitik mempunyai 4 unsur pembangun, yaitu keadaan geografis, politik dan strategi,
hubungan timbal balik antara geografi dan politik, serta unsur kebijaksanaan.Oleh karena itu
penyusun mengambil topik Geopolitik Indonesia untuk mengetahui fungsi Geopolitik itu
untuk persatuan dan kesatuan Negara serta peran Geopolitik Indonesia dalam pembinaan
kerjasama dan penyelesaian konflik antarnegara yang mungkin muncul dalam proses
pencapaian tujuan.

1.2

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah Pengertian Geopolitik ?


Bagaimana Latar Belakang Wawasan Nusantara?
Bagaimanakah Perkembangan Geopolitik di Indonesia ?
Apa saja Unsur-unsur Geopolitik Indonesia
Apakah Tujuan Geopolitik Indonesia ?
Bagaimana Implementasi Geopolitik dalam Hukum Kewilayahan ?
Apakah Otonomi Daerah itu?
Bagaimana Kajian Kasus Geopolitik?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Geopolitik


Geopolitik berasal dari kata geo dan politik.Geo berarti bumi dan politik berasal dari bahasa
Yunani polite.Poli artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dan teia artinya
urusan.Geopolitik biasa juga di sebut dengan wawasan nusantara. Geopolitik diartikan
sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi
nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang menitik beratkan
pada pertimbangan geografik, wilayah atau toritorial dalam arti luas) suatu negara, yang
apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung atau tidak langsung kapada
sistem politik suatu negara.
Istilah geopolitik pertama kali diartikan oleh Frederich Ratzel sebagai ilmu
bumi politik (political geography) yang kemudian diperluas oleh Rudolf Kjellen menjadi
geographical politic, disingkat geopolitik.

Pengertian Geopolitik menurut beberapa para ahli :

Rudolf Kjelln seorang ilmuwan politik Swedia, pada awal abad ke-20
mendefinisikan Geopolitik adalah seni dan praktek penggunaan kekuasaan politik atas
suatu wilayah tertentu.
Karl Haushofer (1869-1946), yang terinspirasi ide-rezim Nazi, ditambah proses
politik dengan definisi Geopolitics (Cohen, 2003): "Geopolitics adalah sains nasional
baru negara, sebuah doktrin pada determinesme spasial semua proses politik,
berdasarkan dasar-dasar geografi yang luas, terutama dari geografi politik." Geografi
Politik Haushofer dianggap sebagai bagian penting dari Geopolitics.
Saul Bernard Cohen menggunakan definisi ini dalam buku 2003: "Geopolitics adalah
analisis interaksi antara, di satu sisi, pengaturan dan perspektif geografis dan, di sisi
lain, proses-proses politik. Baik pengaturan geografis dan proses politik yang dinamis,
dan masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Geopolitics
alamat konsekuensi dari interaksi ini. " Definisi berfokus pada interaksi dinamis
antara daya dan ruang. Ini bebas (Cordellier, 2005) juga berfokus pada kekuasaan
(politik) dan ruang: Ini menekankan bahwa analisis geopolitik seharusnya merupakan
refleksi objektif dunia.
o Menurut Hagget, Geografi Politik merupakan cabang geografi manusia yang
bidang kajiannya adalah aspek keruangan pemerintahan atau kenegaraan yang
meliputi hubungan regional dan internasional, pemerintahan atau kenegaraan
dipermukaan bumi. Dalam geografi politik, lingkungan geografi dijadikan
sebagai dasar perkembangan dan hubungan kenegaraan. Bidang kajian
geografi politik relative luas, seperti aspek keruangan, aspek politik, aspek
hubungan regional, dan internasional.

Menurut Hafeznia, MR 2006.Prinsip-prinsip dan Konsep Geopolitics. Popoli


Publikasi: Iran, hal 37-39. Geopolitik sebagai cabang dari geografi politik
adalah studi tentang hubungan timbale balik antara geografi, politik dan
kekuasaan dan juga interaksi yang timbul dari kombinasi dari mereka dengan
satu sama lain. Dimana menurut definisi ini, geopolitik merupakan suatu
disiplin ilmu dan memiliki ilmu dasar alam.

2.2 Latar Belakang Konsepsi Wawasan Nusantara


Latar belakang yang mempengaruhi tumbuhnya konsespi wawasan nusanatara adalah sebagai
berikut :
Aspek Historis
Dari segi sejarah, bahwa bangsa Indonesia menginginkan menjadi bangsa yang bersatu
dengan wilayah yang utuh adalah karena dua hal yaitu :
1. Kita pernah mengalami kehidupan sebagai bangsa yang terjajah dan terpecah,
kehidupan sebagai bangsa yang terjajah adalah penederitaaan, kesengsaraan,
kemiskinan dan kebodohan. Penjajah juga menciptakan perpecahan dalam diri bangsa
Indonesia. Politik Devide et impera. Dengan adanya politik ini orang-orang Indonesia
justru melawan bangsanya sendiri. Dalam setiap perjuangan melawan penjajah selalu
ada pahlawan, tetapi juga ada pengkhianat bangsa.
2. Kita pernah memiliki wilayah yang terpisah-pisah, secara historis wilayah Indonesia
adalah wialayah bekas jajahan Belanda . Wilayah Hindia Belanda ini masih
terpisah0pisah berdasarkan ketentuan Ordonansi 1939 dimana laut territorial Hindia
Belanda adalah sejauh 3 (tiga) mil. Dengan adanya ordonansi tersebut , laut atau
perairan yang ada diluar 3 mil tersebut merupakan lautan bebas dan berlaku sebagai
perairan internasional. Sebagai bangsa yang terpecah-pecah dan terjajah, hal ini jelas
merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia.Keadaan tersebut tidak mendudkung
kita dalam mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat.Untuk bisa
keluar dari keadaan tersebut kita membutuhkan semangat kebangsaan yang
melahirkan visi bangsa yang bersatu. Upaya untuk mewujudkan wilayah Indonesia
sebagai wilayah yang utuh tidak lagi terpisah baru terjadi 12 tahun kemudian setelah
Indonesia merdeka yaitu ketika Perdana Menteri Djuanda mengeluarkan pernyataan
yang selanjutnya disebut sebagai Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Isi
pokok dari deklarasi tersebut menyatakan bahwa laut territorial Indonesia tidak lagi
sejauh 3 mili melainkan selebar 12 mil dan secara resmi menggantikam Ordonansi
1939. Dekrasi Djuanda juga dikukuhkan dalam UU No.4/Prp Tahun 1960 tenatang
perairan Indonesia yang berisi :
1. Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman
Indonesia
2. Laut wilayah Indonesia adalah jalur laut 12 mil laut
3. Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam
dari garis dasar.
Keluarnya Deklarasi Djuanda melahirkan konsepsi wawasan Nusantara dimana laut tidak lagi
sebagai pemisah, tetapi sebagai penghubung.UU mengenai perairan Indonesia diperbaharui
dengan UU No.6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia

Deklarasi Djuanda juga diperjuangkan dalam forum internasional. Melalui perjuangan


panjanag akhirnya Konferensi PBB tanggal 30 April menerima The United Nation
Convention On The Law Of the Sea(UNCLOS) . Berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982
tersebut Indonesia diakui sebagai negara dengan asas Negara Kepulauan (Archipelago State).

Aspek Geografis dan Sosial Budaya


Dari segi geografis dan Sosial Budaya, Indonesia meruapakan negara bangsa dengan
wialayah dan posisi yang unik serta bangsa yang heterogen. Keunikan wilayah dan dan
heterogenitas menjadikan bangsa Indonesia perlu memilikui visi menjadi bangsa yang satu
dan utuh .
Keunikan wilayah dan heterogenitas itu anatara lain sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Indonesia bercirikam negara kepulauan atau maritim


Indonesia terletak anata dua benua dan dua sameudera(posisi silang)
Indonesia terletak pada garis khatulistiwa
Indonesia berada pada iklim tropis dengan dua musim
Indonesia menjadi pertemuan dua jalur pegunungan yaitu sirkumpasifik dan
Mediterania
Wilayah subur dan dapat dihuni
Kaya akan flora dan fauna dan sumberdaya alam
Memiliki etnik yang banyak sehingga memiliki kebudayaan yang beragam
Memiliki jumlah penduduk dalam jumlah yang besar, sebanyak 218.868 juta jiwa

Aspek Geopolitis dan Kepentingan Nasional


Prinsip geopolitik bahwa bangsa Indonesia memanndang wikayahnya sebagai ruang
hidupnya namun bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk memperluas wilayah sebagai
ruang hidup (lebensraum). Salah satu kepentingan nasional Indonesia adalah bangaimanan
menjadikan bangsa dan wilayah negara Indonesia senantiasa satu dan utuh. Kepentingan
nasional itu merupakan turunan lanjut dari cita-cita nasional, tujuan nasional maupun visi
nasional
Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan
bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Laut
yang menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau yang tersebar di seantero
khatulistiwa. Sedangkan Wawasan Nusantara adalah konsep politik bangsa Indonesia yang
memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut)
termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan,
yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang
kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam.
Wawasan Nusantara sebagai konsepsi politik dan kenegaraan yang merupakan manifestasi
pemikiran politik bangsa Indonesia telah ditegaskan dalam GBHN dengan Tap. MPR No.IV
tahun 1973. Penetapan ini merupakan tahapan akhir perkembangan konsepsi negara
kepulauan yang telah diperjuangkan sejak Dekrarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957.

Hakekat dan tujuan wawasan nusantara adalah kesatuan dan persatuan dalam kebinekaan
yang mengandung arti :
1. Penjabaran tujuan nasional yang telah diselaraskan dengan kondisi posisi, dan potensi
georafi, serta kebinekaan budaya
2. Pedoman pola tindak dan pola pikir kebijakasanaan nasional
3. Hakikat wawasan nusantara : persatuan dan nkesatuan dalam kebinekaan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dirumuskan fungsi-fungsi wawasan nusantara sebagai


berikut :
1. Menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran, paham dan semangat kebangsaan
Indonesia.
2. Menanamkan dan memupukan kecintaan pada tanah air indonesia sehingga rela
berkorban untuk membelanya.
3. Menumbuhkan kesadaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung
jawab warga negara yang bangga pada negara Indonesia.
4. Mengembangkan kehidupan bersama yang multikultural dan plural berdasarkan nilainilai persatuan dan kesatuan.
5. Mengembangkan keberadaan masyarakat madani sebagai pengembangan kekuasaan
pemerintah.

Indonesia Sebagai Negara Kepulauan


Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa Indonesia merupakan suatu negeri yang amat
unik. Hanya sedikit negara di dunia, yang bila dilihat dari segi geografis, memiliki kesamaan
dengan Indonesia. Negara-negara kepulauan di dunia, seperti Jepang dan Filipina, masih
kalah bila dibandingkan dengan negara kepulauan Indonesia. Indonesia adalah suatu negara,
yang terletak di sebelah tenggara benua Asia, membentang sepanjang 3,5 juta mil, atau
sebanding dengan seperdelapan panjang keliling Bumi, serta memiliki tak kurang dari 13.662
pulau.
Jika dilihat sekilas, hal tersebut merupakan suatu kebanggaan dan kekayaan, yang tidak ada
tandingannya lagi di dunia ini. Tapi bila dipikirkan lebih jauh, hal ini merupakan suatu
kerugian tersendiri bagi bangsa dan negara Indonesia. Indonesia terlihat seperti pecahanpecahan yang berserakan. Dan sebagai 13.000 pecahan yang tersebar sepanjang 3,5 juta mil,
Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah negara yang amat sulit untuk dapat dipersatukan.
Maka, untuk mempersatukan Bangsa Indonesia, diperlukan sebuah konsep Geopolitik yang
benar-benar cocok digunakan oleh negara. Sebelum menuju pembahasan tentang konsep
geopolitik Indonesia, kita akan membahas terlebih dahulu tentang kondisi serta keadaan
Indonesia ditinjau dari segi geografisnya.
Ada beberapa jenis kondisi geografis bangsa Indonesia. Yaitu kondisi fisis, serta kondisi
Indonesia ditinjau dari lokasinya.

1. Kondisi Fisis Indonesia:


1. Letak geografis;
2. Posisi Silang;
3. Iklim;
4. Sumber-Sumber Daya Alam;
5. Faktor-Faktor Sosial Politik
2. Lokasi Fisikal Indonesia; Keberadaan pada lokasi ini adalah faktor geopolitik utama
yang mempengaruhi perpolitikan di Indonesia. Berdasarkan kondisi fisikal, negara
Indonesia berada pada dua benua yang dihuni oleh berbagai bangsa yang memiliki
karakteristik masing-masing, yaitu benua Asia dan Australia. Selain itu, Indonesia
pun berada di antara dua samudera yang menjadi jalur perhubungan berbagai bangsa,
yaitu Samudera Pasifik dan Hindia.
Lokasi fisikal Indonesia, menyebabkan negara ini menjadi suatu daerah Bufferzone, atau
daerah penyangga. Hal ini bisa dilihat pada aspek-aspek di bawah ini:
1. Politik; Indonesia berada di antara dua sistem politik yang berbeda, yaitu demokrasi
Australia dan demokrasi Asia Selatan;
2. Ekonomi; Indonesia berada di antara sistem ekonomi liberal Australia dan sistem
ekonomi sentral Asia;
3. Ideologi; Indonesia berada di antara ideologi kapitalisme di Selatan dan komunis di
sebelah utara;
4. Sistem Pertahanan; Indonesia berada di ntara sistem pertahanan maritim di selatan,
dan sistem pertahanan kontinental di utara.
Selain menjadi daerah Bufferzone, Indonesia pun memperoleh beberapa keuntungan
disebabkan kondisinya yang silang tersebut. Antara lain:
1. Berpotensi menjadi jalur perdagangan Internasional;
2. Dapat lebih memainkan peranan politisnya dalam percaturan politik Internasional;
3. Lebih aman dan terlindung dari serangan-serangan negara kontinental.

2.3 Perkembangan Geopolitik di Indonesia


Pembangunan geopolitik Indonesia sudah dimulai oleh para pendiri bangsa melalui ikrar
sumpah pemuda, satu nusa yang berarti keutuhan wilayah nusantara, satu bangsa yang
merupakan landasan kebangsaan Indonesia, satu bahasa yang merupakan faktor pemersatu
seluruh wilayah nusantara beserta isinya. Rasa kebangsaan merupakan perekat persatuan dan
kesatuan, baik dalam makna spirit maupun moral, sehingga membantu meniadakan adanya
perbedaan fisik yang disebabkan adanya perbedaan letak geografi.
Kondisi geografis suatu negara atau wilayah menjadi sangat penting dan menjadi
pertimbangan pokok berbagai kebijakan, termasuk juga dalam merumuskan kebijakan
keamanan nasional atau keamanan manusia . Berbagai bencana alam yang terjadi seperti :
angin puting beliung, gempa bumi, tsunami adalah beberapa ancaman terhadap manusia yang
sebagian besar diantaranya ditentukan oleh kondisi geografis. Penyebaran konflik komunal

tampaknya sedikit terbendung oleh faktor geografis, sebagaimana terjadi di Afrika, Balkan
dan Asia Tengah, dengan demikian posisi strategis Indonesia juga membawa implikasi
geopolitik dan geostrategi tertentu.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
pembangunan geopolitik hanya efektif apabila dilandasi oleh wawasan kebangsaan yang
mantap. Unsur-unsur dasar Wawasan Nusantara dalam mencapai kesatuan dan keserasian
dapat ditinjau melalui, Satu kesatuan wilayah, Satu kesatuan bangsa, Satu kesatuan sosial
budaya, Satu kesatuan ekonomi, Satu kesatuan pertahanan dan keamanan.Konsepsi geopolitik
khas Indonesia itu kemudian dirumuskan menjadi acuan dasar yang diberi nama Wawasan
Nusantara, berbunyi sebagai berikut:
Wujud suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu Negara kepulauan yang
dalam kesemestaannya merupakan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan untuk mencapai tujuan nasional dan cita-cita perjuangan bangsa
melalui pembangunan nasional segenap potensi darat, laut dan angkasa secara terpadu .
Perkembangan Geopolitik di Indonesia juga dipengaruhi adanya Globalisasi dan kemajuan
teknologi yang menyebabkan wilayah kedaulatan suatu Negara terutama Negara Indonesia
menjadi semakin abstrak dan kurang pasti sehingga dapat dengan mudah ditembus oleh para
pelaku atau actor internasional. Kemudian adanya proses politik dan demokratisasi. Akhir
tahun 2004 juga ditandai dengan keberhasilan bangsa Indonesia menyelenggarakan Pemilu
dengan sistem pemilihan langsung. Proses Pemilu yang sangat transparan merupakan kunci
keberhasilan KPU menyelenggarakan pesta demokrasi ini.Selanjutnya munculah tiga kasus
besar,pertama adalah gerakan separatis politik dan bersenjata yang kini mengarah pada
upaya pemisahan diri dari NKRI yakni, gerakan separatis bersenjata di Aceh, Gerakan Aceh
Merdeka/GAM (yang telah sepakat untuk mengakui dan bergabung kembali dalam NKRI),
kelompok separatis politik (KSP) dan kelompok separatis bersenjata (KSB/TPN) yang
berinduk di bawah OPM di Papua, serta upaya pembentukan kembali Republik Maluku
Selatan (RMS) melalui pembentukan organisasi RMS gaya baru yakni Forum Kedaulatan
Maluku (FKM).Hal tersebut tentu saja akan mengancam keutuhan wilayah geografis dan
persatuan NKRI sendiri.
Sedangkan kasus yang kedua yaitu aksi kekerasan dan konflik komunal. Meski langkahlangkah penegakkan hukum telah diambil, namun diperkirakan kasus-kasus kekerasan dan
konflik-konflik komunal masih akan terjadi secara insidentil. Penanganannya diawali dengan
pendekatan pembangunan kebangsaan, tanpa mengabaikan keberagaman budaya, dan pada
saat yang sama dilaksanakan pembangunan kesejahteraan. Meskipun upaya peningkatan
kualitas proses politik dalam rangka normalisasi dan stabilisasi kehidupan masyarakat
disejumlah daerah konflik dan rawan konflik relatif berjalan Iambat, tetapi perbaikan struktur
dan proses politik menuju penyelesaian konflik secara bertahap dapat berjalan dengan
baik.Dan yang ketiga adalah isu keamanan teritorial, perbatasan dan pulau terluar. Dalam isu
keamanan perbatasan baik perbatasan darat maupun laut, terdapat sejumlah permasalahan
tapal batas wilayah yang harus segera diatasi. Isu keamanan perbatasan tersebut, juga
meliputi adanya kondisi pulau-pulau terluar yang berada dan berbatasan langsung dengan
beberapa negara tetangga yang sesungguhnya berpotensi dapat lepas dari NKRI bila tidak
dapat dipelihara dan dijaga dengan baik.

2.4 Unsur-unsur Geopolitik


Geopolitik memiliki unsur-unsur dasar konsepsi Geopolitik atau biasa disebut sebagai
Wawasan Nusantara ada tiga,yaitu :
1. 1.

Wadah (Contour)

Wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara meliputi seluruh wilayah


Indonesia yang memiliki sifat nusantara dengan kekayaan alam dan penduduk serta
keanekaragaman budaya. Bangsa Indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan
wadah berbagai kegiatan kenegaraan dalam wujud suprastruktur politik dan wadah dalam
kehidupan bermasyarakat adalah berbagai kelembagaan dalam wujud infrastruktur politik.
1. 2.

Isi (Content)

Isi adalah aspirasi bangsa yang berkembang di masyarakat dan cita-cita serta tujuan nasional
yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk mencapai aspirasi yang berkembang di
masyarakat maupun cita-cita dan tujuan nasional seperti tersebut di atas bangsa Indonesia
harus mampu menciptakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan nasional yang berupa
politik, ekonomi, social, dan budaya serta pertahanan dan keamanan. Isi menyangkut dua hal,
pertama realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama (konsensus nasional) dan
perwujudannya, pencapaian cita-cita dan tujuan nasional , kedua persatuan dan kesatuan
dalam ke-bhineka-an yang meliputi semua aspek kehidupan nasional.
1. 3.

Tata laku (conduct)

Hasil dari interaksi antara sebuah wadah dengan isi maka akan menghasilkan sebuah tata laku
yang terdiri dari tata laku batiniah yaitu mencerminkan jiwa, semangat dan mentalitas yang
baik dari bangsa Indonesia.Sedangkan tata laku lahiriah yaitu tercermin dalam tidakan,
perbuatan dan perilaku dari bangsa Indonesia.Kedua tata laku tersebut akan mencerminkan
identitas jati diri/kepribadian bangsa berdasarkan asas kekeluargaan dan kebersamaan yang
memiliki rasa bangga dan cinta terhadap bangsa dan tanah air sehingga menimbulkan rasa
nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional.

2.5 Tujuan Geopolitik

Istilah wawasan berasal dari kata wawas yang berarti pandangan, tinjauan, atau penglihatan
indrawi. Akar kata ini membentuk kata mawas yang berarti memandang, meninjau, atau
melihat, atau cara melihat. Kata wawasan berarti pandangan, tinjauan, penglihatan atau
tanggap inderawi, sedangkan istilah nusantara dipergunakan untuk menggambarkan kesatuan
wilayah perairan dan gugusan pulau-pulau indonesia yang terletak di antara samudera pasifik
dan samudera Indonesia serta di antara benua Asia dan benua Australia. Wawasan nusantara
sebagai geopolitik dan landasan visional bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan
perwujudan ideologi pancasila. Wawasan nusantara mengarahkan visi bangsa Indonesia
untuk mewujudkan kesatuan dan keserasian dalam berbagai bidang kehidupan nasional :
bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

Tujuan dan Asas Wawasan Nusantara


Mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan bangsa Indonesia yang
mengutamakan kepentingan nasional. Nasionalisme yang tinggi demi tercapainya tujuan
nasional merupakan pancaran dari makin meningkatnya rasa, paham dan semangat
kebangsaan dalam jiwa kita sebagai hasil pemahaman dan penghayatan wawasan nusantara.
Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu:
1. Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945, dijelaskan bahwa tujuan
kemerdekaan Indonesia adalah "untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan
perdamaian abadi dan keadilan sosial".
2. Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah
maupun sosial, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah menjunjung
tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk menyelenggarakan dan
membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia
Asas Wawasan Nusantara merupakan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah dasar yang harus
dipatuhi, ditaati, dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat dan setianya komponen pembentuk bangsa
Indonesia (suku bangsa atau golongan) terhadap kesepakatan bersama. Harus disadari bahwa jika asas
wawasan nusantara diabaikan, kom-ponen pembentuk kesepakatan bersama akan melanggar
kesepakatan bersama tersebut, yang berarti bahwa tercerai berainya bangsa dan negara Indonesia.
Asas Wawasan Nusantara terdiri dari: kepentingan yang sama, tujuan yang sama, keadilan, kejujuran,
solidaritas, kerjasama, dan kesetiaan terhadap ikrar atau kesepakatan bersama demi terpeliharanya
persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan

2.6 Implementasi Geopolitik dalam Hukum Kewilayahan


Penerapan Geopolitik atau Wawasan Nusantara dalam hukum kewilayahan Indonesia yaitu :
1. Pembangunan wilayah perbatasan Indonesia agar tidak menjadi wilayah yang
terisolasi sehingga lebih mempertegas garis perbatasan wilayah NKRI
2. Mengembangkan sector ekonomi daerah yang bisa menghasilkan keuntungan yang
lebih bagi APBD
3. Mewujudkan keadilan dan pemerataan pembangunan di setiap wilayah Indonesia
yang masih terisolasi
4. Menyusun dan membuat tata ruang/kota wilayah yang sesuai dengan kultur setempat
5. Mengembangkan Sumber Daya Alam ynag dimiliki daerah untuk menyejahterakan
masyarakat
2.7 Otonomi Daerah
Jika kita telisik pengertian Otonomi Daerah secara harfiah. Otonomi daerah berasal dari kata
otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos.
Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan
sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna
mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah.

Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundangundangan.Agar lebih aplikatif sesuai dengan kondisi obyektif daerah masingmasing.Pengertian otonomi daerah tersebut bisa saja mengalami perubahan dan
perkembangan sejalan dengan perubahan konsepsi otonomi daerah yang dilaksanakan di
Indonesia.
Sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat.
Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai
implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah
kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur,
memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.

Pelaksanaan Otonomi Daerah


Pelaksanaan otonomi daerah merupakan titik fokus yang penting dalam rangka memperbaiki
kesejahteraan rakyat.Pengembangan suatu daerah dapat disesuaikan oleh pemerintah daerah
dengan potensi dan kekhasan daerah masing-masing. Ini merupakan kesempatan yang sangat
baik bagi pemerintah daerah untuk membuktikan kemampuannya dalam melaksanakan
kewenangan yang menjadi hak daerah. Maju atau tidaknya suatu daerah sangat ditentukan
oleh kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan yaitu pemerintah daerah. Pemerintah
daerah bebas berkreasi dan berekspresi dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja
dengan tidak melanggar ketentuan hukum yaitu perundang-undangan

Ciri-ciri otonomi daerah

Negara Kesatuan
Setiap daerah memiliki
perda (dibawah UU)

Negara Federal
Setiap daerah mempunyai UUD yang
tidak bertentangan dengan UUD negara
(hukum tersendiri)
Perda terikat dengan UU UUD tidak terikat dengan UU negara
Bisa desentralisasi atau Desentralisasi
sentralisasi
Tidak bisa interversi dari kebijakan
Bisa interversi dari
pusat
kebijakan pusat
Perjanjian dengan pihak Perjanjian dengan pihak asing/luar

Otonomi daerah
Setiap daerah memiliki perda
(dibawah UU)
Perda terikat dengan UU
Desentralisasi
Bisa interversi dari kebijakan
pusat
Perjanjian dengan pihak

negeri harus melalui pusat


asing/luar negeri harus
melalui pusat
APBD untuk setiap daerah dan APBN
APBN dan APBD
hanya untuk Negara
tergabung
Setiap daerah tidak diakui Setiap daerah diakui sebagai negara
sebagai negara berdaulat berdaulat
Bendera nasional hanya Bendera nasional serta daerah diakui
diakui
Daerah diatur pemerintah Daerah harus mandiri
pusat
Keputusan pemda diatur Keputusan pemda tidak ada hubungan
dengan pemerintah pusat
pemerintah pusat
3 kekuasaan daerah tidak 3 kekuasaan daerah diakui
diakui
Perda dicabut pemerintah Perda dicabut DPR setiap daerah
pusat

asing/luar negeri harus


melalui pusat
APBN dan APBD tergabung
Setiap daerah tidak diakui
sebagai negara berdaulat
Bendera nasional hanya
diakui
Daerah harus mandiri
Keputusan pemda diatur
pemerintah pusat
3 kekuasaan daerah tidak
diakui
Perda dicabut pemerintah
pusat

2.8 Kajian Kasus Geopolitik


A. Ambalat, Diplomasi Vs Konfrontasi
AMBALAT kembali mencuri perhatian. Kapal perang Malaysia berkali- kali melanggar
teritori Indonesia dan diusir armada angkatan laut kita. Mencuat pada 2005, mengapa krisis
Ambalat kembali terjadi? Apa solusi terbaiknya? Ambalat adalah sebuah gugus pulau di
sekitar 118.2558 Bujur Timur (BT)-118.254167 BT dan 2.56861 Lintang Utara (LU)3.79722 LU yang terletak di perairan Laut Sulawesi, sebelah timur Pulau Kalimantan Timur.
Sengketa Ambalat Indonesia-Malaysia menyeruak karena klaim kepemilikan. Pada 2005,
krisis Ambalat ditandai dengan show of force kedua angkatan bersenjata, penembakan kapal
nelayan kita oleh Malaysia, dan aneka aksi demonstrasi mengecam Malaysia. Ambalat
disebut sebagai wilayah Republik Indonesia (RI) sesuai Undang-undang No 4 Tahun 1960
tentang Perairan RI yang telah sesuai dengan konsep hukum Negara Kepulauan (Archipelagic
State). Undang-undang ini telah diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (United
Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) ditetapkan dalam Konferensi III PBB
di Montego Boy, Jamaika, 10 Desember 1982. Konvensi ini kemudian diratifikasi oleh
Indonesia dengan Undang-undang No 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS.
Malaysia mengklaim Ambalat sebagai wilayah kedaulatannya sesuai dengan peta wilayah
yang dibuat Malaysia pada 1979. Peta itu didasarkan pada The Convention on The Territorial
Sea and the Contiguous zone 1958 dan The Continental Self Convention 1958.
Peta Laut 1979 tersebut juga telah memasukkan Pulau Sipadan dan Ligitan ke dalam wilayah
Malaysia. Malaysia memberi Ambalat (wilayah XYZ) kepada Shell atas dasar perjanjian bagi
hasil (Production Sharing Contract ) pada 16 Februari 2005.
Masalah Penting
Masalah Ambalat menjadi penting bagi Indonesia karena setidak-tidaknya ia mencakup tiga

dari empat variabel kepentingan nasional. Pertama, dari sisi keamanan nasional, ada masalah
penjagaan integritas wilayah nasional yang cukup sensitif. Bagi kaum realisme politik
internasional, masalah- masalah keamanan nasional semacam ini justru menjadi fokus utama
kebijakan negara. Pengamat militer, Andi Wijayanto dalam wawancara TVOne (27/5/09)
menyatakan, langkah Malaysia sejatinya bisa dimaknai sebagai upaya ingin menguji
kedaulatan efektif kita atas Ambalat.
Kedua, ada persoalan citra dan harga diri bangsa karena perasaan terlecehkan sebagai negara
berdaulat dengan manuver angkatan laut Malaysia. Ini berakumulasi dengan memori
kehilangan kita atas Sipadan dan Ligitan, aneka kasus kekerasan pada TKI, klaim Malaysia
atas Lagu Rasa Sayange, reog dan batik misalnya. Artinya para patriot dan nasionalis
menginginkan bahwa harga diri kita harus tegak sebagai bangsa berdaulat.
Ketiga ada ancaman bagi kesejahteraan ekonomi karena potensi ekonomi dari minyak
Ambalat ditakutkan jatuh ke pihak luar. Pakar ekonomi minyak Dr Kurtubi pada 2005
menyatakan secara kasar Ambalat memiliki cadangan migas seharga 40 miliar dolar AS.
Tentu, nilai ini cukup signifikan jika bisa masuk ke kas negara kita
Dengan ketiga kepentingan nasional tersebut, maka pilihan instrumen politik luar negeri yang
tersedia adalah diplomasi atau konfrontasi. Namun diplomasi memiliki beberapa kelebihan.
Pertama, pada tataran praktik, secara nyata telah ada upaya diplomasi sejak 2005 yang
dijalankan kedua negara untuk menyelesaikan Ambalat. Menteri Pertahanan Juwono
Sudarsono (20/5/09) juga menyatakan perundingan Ambalat masih berlangsung. Artinya
pilihan penyelesaian diplomatik adalah yang paling rasional meski harus dikawal.
Komunikasi Diplomatik
Penyelesaian diplomatik dimulai dengan pembukaan komunikasi diplomatik Indonesia
dengan Malaysia (keterangan pers Departemen Luar Negeri, Jumat 4 Maret 2005). Malaysia
menjawab pada 25 Februari 2005 dengan menyampaikan pandangan mereka bahwa wilayah
itu adalah wilayahnya. Presiden SBY kemudian berkomunikasi dengan Perdana Menteri
Malaysia Abdullah Ahmad Badawi melalui telepon Senin 8 Maret 2005 sebelum meninjau
Ambalat. Pembicaraan berlangsung konstruktif untuk menyelesaikan masalah dengan baik
dan Badawi pun akan mengirimkan Menteri Luar Negeri Malaysia untuk mengunjungi
Indonesia.
Diplomasi memasuki babak baru setelah Menlu Malaysia Syed Hamid Albar bertemu dengan
Menlu RI Hasan Wirajuda di Jakarta (9/3/2005) bahkan diterima oleh Presiden SBY. Dalam
pertemuan antarmenlu telah disepakati bahwa kedua belah pihak akan membentuk tim teknis
yang akan melakukan perundingan ke arah penyelesaian Blok Ambalat. Pertemuan
penyelesaian diplomasi pertama dilakukan pada 22 dan 23 Maret 2005. Pertemuan tim
teknis Indonesia-Malaysia dilanjutkan di Langkawi pada 25-26 Mei, di Yogyakarta 25-26
Juli, di Johor Baru pada 27-28 September 2005 dan Desember 2005.
Namun hingga 2006 masalah sengketa Blok Ambalat antara Malaysia dan Indonesia masih
dalam proses perundingan oleh kedua negara dan belum ada penyelesaian yang dapat
diterima oleh kedua negara. Dalam pertemuan bilateral antara PM Abdullah Ahmad Badawi
dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Negara Tri Arga, Bukittinggi,
Sumatera Barat, pada 12-13 Januari 2006 telah disepakati bahwa, sengketa Blok Ambalat
akan terus diselesaikan secara perundingan.

Kedua, secara moral penyelesaian diplomasi lebih dipilih karena diplomasi merupakan
instrumen politik luar negeri yang beradab, murah, dan terukur. Konfrontasi dan perang
semakin banyak dicibir karena tidak hanya mahal tetapi juga karena efek rusaknya yang sulit
terkontrol. Yang menyedihkan adalah analisa bahwa dari sisi Alutsista kita akan kalah.
Perintah untuk tidak mengeluarkan tembakan dari kapal perang kita da cukup mengusir kapal
Malaysia cukup bijaksana. Alasan lain, Indonesia dan Malaysia adalah tetangga serumpun
yang ada dalam kerangka the ASEAN Way dalam penyelesaian aneka sengketa yang ada.
Fase Diplomasi
Alur penyelesaian diplomatik yang telah disepakati sendiri mencakup dua fase. Fase pertama
adalah pembicaraan untuk mengeksplorasi dan mengetahui posisi masing-masing negara atas
klaimnya di Blok Ambalat. Fase kedua adalah bagaimana kedua negara bisa menyepakati
jalan keluar dari klaim tumpang tindih atas Blok Ambalat. Jalan keluar ini ada tiga alternatif.
Satu, negara yang bersengketa tidak menyepakati solusi dan membiarkan permasalahan ini
tidak terselesaikan (baca: mengambang) dengan catatan negara yang bersengketa
menyepakati suatu status quo. Dua, negara yang bersengketa tidak menyepakati batas, tetapi
bersepakat untuk melakukan pengelolaan bersama. Tiga, negara yang bersengketa sepakat
untuk membawa sengketa mereka ke forum penyelesaian sengketa. Alur penyelesaian
diplomatik yang telah disepakati sendiri mencakup dua fase. Fase pertama adalah
pembicaraan untuk mengeksplorasi dan mengetahui posisi masing-masing negara atas
klaimnya di Blok Ambalat. Fase kedua adalah bagaimana kedua negara bisa menyepakati
jalan keluar dari klaim tumpang tindih atas Blok Ambalat.
Jika diplomasi gagal maka krisis bisa kembali terjadi kapan saja. Konfrontasi akan sangat
kontra produktif bagi hubungan bilateral, maupun stabilitas regional ASEAN ke depan. Krisis
dan konfrontasi juga akan berakibat perluasan spektrum politik luar negeri tidak lagi semata
menjadi pembahasan para elite decision makers tetapi meluas merambah ke wilayah
keterlibatan publik. Ini tentu saja positif dalam konteks demokratisasi politik luar negeri agar
kebijakan yang diambil accountable terhadap rakyat.
Tetapi sayang, mencermati krisis terdahulu, keterlibatan publik lebih cenderung mengarah
kepada ekspresi emosi, kemarahan, sweeping, ajakan berperang, penggalangan relawan dan
sebagainya. Padahal eloknya keterlibatan itu lebih terarah kepada pernyataan sikap, artikulasi
kepentingan, maupaun aksi yang rasional dan terukur.
Penyelesaian Ambalat membutuhkan tidak hanya tekad dan upaya diplomasi bilateral
berkelanjutan tetapi juga sikap saling respek untuk tidak melakukan provokasi. Selagi
diplomasi masih bergulir, provokasi dan pelanggaran teritori tentu berbahaya. Bagi
Indonesia, diplomasi juga harus dikawal dengan menunjukkan kewibawaan, kekuatan dan
ketegasan. Kaum realis mengatakan, Jika ingin damai bersiaplah untuk berperang (if you
want peace, prepare for war).
B. Tanggapan dan Beberapa Solusi Mengenai Kasus Ambalat
Pendahuluan
Malaysia dan Indonesia adalah dua negara tetangga yang sangat dekat, bukan hanya dari segi
letak geografis tetapi dari segi budaya dan asal-usul bangsanya. Akan tetapi, walau serumpun
dengan bahasa yang mirip, hubungan kedua negara tidak bisa dikatakan selalu rukun dan
manis. Sejarah kedua bangsa pernah dihiasi tinta hitam peperangan, yang dikenal dengan

Konfrontasi Malaysia Indonesia pada tahun 1962-1965. Beberapa kasus sengketa perbatasan
wilayah pun pernah terjadi antara keduanya.
Kasus yang paling baru, dan yang menjadi pembicaraan hangat beberapa bulan belakangan
ini adalah sengketa kedua negara mengenai blok migas di perairan Ambalat di wilayah
Sulawesi. Sengketa ini menjadi berita hangat yang menghiasi media massa, di Indonesia
khususnya. Melalui makalah ini kami ingin mencoba melihat bagaimana sengketa ini
diselesaikan jika memakai pemikiran Donald W. Shriver dalam bukunya An Ethics for
Enemis: Forgiveness in Politics, dan tujuh langkah menciptakan perdamaian menurut Glenn
Stassen dalam bukunya Just Peacemaking: transforming initiatives for
Justice and Peace
Pokok Masalah : Perairan Ambalat di Laut Sulawesi
Masalah antara Indonesia dan Malaysia seputar blok Ambalat mengemuka ketika terbetik
kabar bahwa pemerintah Malaysia melalui perusahaan minyak nasionalnya, Petronas,
memberikan konsesi minyak (production sharing contract) kepada perusahaan minyak Shell,
atas cadangan minyak yang terletak di Laut Sulawesi (perairan sebelah timur Kalimantan).
Pemerintah Indonesia mengajukan protes atas hal ini karena merasa bahwa wilayah itu berada
dalam kedaulatan negara Indonesia.
Sebenarnya klaim Malaysia terhadap cadangan minyak di wilayah itu sudah diprotes
Indonesia sejak tahun 1980, menyusul diterbitkannya peta wilayah Malaysia pada tahun
1979. Peta tersebut mengklaim wilayah di Laut Sulawesi sebagai milik Malaysia dengan
didasarkan pada kepemilikan negara itu atas pulau Sipadan dan Ligitan. Malaysia
beranggapan bahwa dengan dimasukkannya Sipadan dan Ligitan sebagai wilayah kedaulatan
Malaysia, secara otomatis perairan di Laut Sulawesi tersebut masuk dalam garis wilayahnya.
Indonesia menolak klaim demikian dengan alasan bahwa klaim tersebut bertentangan dengan
hukum internasional.
Untuk memperjelas pokok permasalahan mengenai sengketa wilayah ini, kutipan dari tulisan
Melda Kamil Ariadno, Pengajar Hukum Laut Fakultas Hukum UI, Ketua Lembaga
Pengkajian Hukum Internasional (LPHI) FHUI, yang dimuat di Kompas, 8 Maret 2005, dapat
membantu.
Aksi dan Reaksi Yang Ditimbulkan
Walaupun pemerintah Indonesia dan Malaysia berulang kali menegaskan bahwa penyelesaian
dengan cara kekerasan bukanlah pilihan yang mau diambil, dan kedua pihak akan
mengedepankan dialog melalui jalur-jalur diplomasi, masalah ini berkembang menjadi
perdebatan seru karena kedua pihak sama-sama kukuh pada pendiriannya. Malaysia melalui
Perdana Menteri Abdullah Badawi dan Menlu Syeh Hamid Albar menegaskan bahwa
pihaknya tidak salah dalam melakukan uniteralisasi peta 1979, dan bahwa konsesi yang
diberikan Petronas kepada Shell di perairan Laut Sulawesi berada di
wilayah teritorial Malaysia. Sementara pemerintah Indonesia melalui pernyataan-pernyataan
yang dikeluarkan Deplu, TNI, maupun presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan
bahwa Indonesia tidak akan melepaskan wilayah itu karena wilayah itu merupakan
kedaulatan penuh Indonesia. Tentang hal itu jurubicara TNI AL, Laksamana Pertama Abdul

Malik Yusuf mengatakan kepada Asia Times, We will not let an inch of our land or a drop
of our ocean fall into the hands of foreigners.
Di Indonesia masalah ini kemudian menjadi santapan media massa dan memancing reaksi
keras dari berbagai kalangan masyarakat. Sentimen anti-Malaysia dengan slogan Ganyang
Malaysia pun lalu berkumandang. Kedutaan Besar dan Konsulat-konsulat Malaysia tiba-tiba
disibukkan dengan aksi unjuk rasa berbagai elemen masyarakat yang mengecam sikap
Malaysia itu. Di beberapa daerah aksi tersebut diwarnai dengan pembakaran bendera
Malaysia dan penggalangan sukarelawan Front Ganyang Malaysia. Pihak DPR-RI pun
bersuara keras meminta pemerintah bertindak tegas atas
pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan RI di Laut Sulawesi. Di wilayah yang
dipersengketakan pun ketegangan-ketegangan terjadi antara tentara Malaysia dengan TNI.
TNI menggelar pasukan dan kapal-kapal perangnya di wilayah tersebut, yang dikatakan
untuk mengimbangi kapal-kapal perang Malaysia yang sudah lebih dulu ada di sana. Bahkan
di Pulau Sebatik, yang berbatasan darat dengan Malaysia, TNI dan Tentara Diraja Malaysia
saling mengarahkan moncong senjatanya, dan konon saling ejek pun kerap terjadi. Kapalkapal perang Malaysia diberitakan mengganggu pembangunan mercusuar di atol Karang
Unarang, bahkan sempat menangkap dan menyiksa seorang pekerjanya. Saling intimidasi
antara kapal-kapal perang Malaysia dan kapal-kapal TNI AL terjadi tiap hari. Yang paling
parah terjadi pada tanggal 8 April 2005, ketika KRI Tedong Naga saling serempet dengan
KD Rencong di dekat Karang Unarang.
Insiden serempetan dua kapal perang itu kembali menghangatkan suasana, padahal
sebelumnya pada tanggal 22-23 Maret 2005, telah diadakan pertemuan teknis antara
perwakilan kedua negara untuk mencari solusi yang damai. Menlu Malaysia pun telah
diterima presiden, dan beberapa anggota DPR RI pun telah menemui PM Malaysia, untuk
membicarakan langkah-langkah diplomasi. Kedua pemerintahan juga sudah sepakat
melanjutkan dialog berkala setiap dua bulan.
Analisis Masalah : Forgiveness dan Just Peacemaking
Untuk mencari alternatif jalan keluar bagi masalah ini, kami akan memulai dengan melihat
bagaimana reaksi sangat keras muncul dari masyarakat Indonesia terhadap isu ini. Padahal di
Malaysia, menurut Menlu Malaysia dalam wawancaranya dengan Gatra, masyarakatnya
tenang-tenang saja dan menyerahkan persoalan sepenuhnya di tangan pemerintah. Memakai
pemikiran Shriver dalam bukunya An Ethics for Enemis: Forgivenessin Politics , reaksi keras
semacam ini bisa dikatakan sebagai akibat memori kolektif sejarah kekalahan Indonesia
terhadap Malaysia. Memori masa konfrontasi dengan Malaysia di zaman Sukarno, dan
kemudian kekalahan Indonesia dari Malaysia dalam kasus Sipadan-Ligitan di Mahkamah
Internasional, serta merta membangkitkan kemarahan kolektif juga ketika Malaysia
diberitakan berulah lagi. Hal ini bisa dilihat dari porsi demikian besar yang diberikan media
terhadap masalah ini. Selain itu terlihat juga melalui komentar-komentar yang dilontarkan,
bukan hanya oleh masyarakat biasa, tetapi juga oleh para politisi. Banyak yang mendorong
pemerintah untuk bersikap keras, bahkan Zaenal Maarif, seorang politisi dari Partai Bintang
Reformasi (PBR) meminta pemerintah untuk segera menyatakan perang melawan Malaysia.
Bila ditarik lebih jauh lagi, memori kolektif kekalahan terhadap Malaysia ini bisa dikaitkan
juga dengan kenyataan bahwa jutaan orang Indonesia mengadu nasib sebagai pekerja kelas
rendahan di Malaysia. Rasa rendah diri sebagai bangsa bisa jadi tanda disadari telah tertanam

dalam memori kolektif bangsa, sehingga ketika ada gejolak sedikit saja, rasa terinjak-injak
itu begitu kuat. Namun demikian, kami menyadari juga bahwa untuk menelusuri memori
kolektif ini, diperlukan penelitian lanjut yang lebih mendalam. Akan tetapi, dengan
memperhatikan gejala-gejala yang ada, yaitu dalam reaksi keras masyarakat Indonesia, setiap
kali terjadi persinggungan dengan Malaysia , kami berpendapat bahwa langkah awal untuk
menyelesaikan masalah dengan Malaysia untuk jangka panjang adalah dengan menelusuri
dan mengungkapkan memori kolektif itu. Tanpa itu dilakukan, hubungan kedua bangsa yang
bertetangga dan bersaudara serumpun ini, akan terus mengalami gejolak seperti yang terjadi
belakangan ini.
Selain mencermati reaksi keras masyarakat Indonesia, langkah berikutnya adalah mencermati
tindakan Malaysia melakukan klaim atas blok Ambalat ini. Memang informasi yang dapat
dikumpulkan tentang hal ini tidak begitu banyak, karena pemerintah Malaysia maupun media
Malaysia kelihatannya tidak terlalu membicarakan hal ini dengan terbuka. Akan tetapi, kami
tertarik melihat sikap Malaysia yang terlihat begitu enteng dalam melakukan klaim, dan juga
begitu yakin akan posisinya.
PM Malaysia ketika ditanya tentang protes Indonesia terhadap klaim Malaysia dengan enteng
menyampaikan bahwa konsesi yang diberikan Petronas kepada Shell di perairan Laut
Sulawesi berada di wilayah teritorial Malaysia. Petronas pasti mengerti bahwa wilayah itu
adalah wilayah Malaysia karena jika itu wilayah orang lain, untuk apa Petronas sampai ke
sana.
Malaysia juga begitu yakin dengan pendiriannya menarik batas wilayah dengan memakai
asas titik pulau terluar, yang berlaku bagi negara kepulauan, padahal Malaysia bukan
termasuk Negara kepulauan. Bila memakai prinsip ini, maka terlihat bahwa klaim Malaysia
tidak hanya akan mencakup perairan Ambalat saja, tetapi bisa jauh masuk ke dalam wilayah
perairan antara Kalimatan bagian Timur dan Sulawesi Utara bagian Barat.
Sikap enteng Malaysia ini oleh beberapa pihak diduga karena Malaysia menganggap masalah
ini hanya masalah sumber daya alam. Sementara bagi Indonesia sengketa Ambalat bukanlah
sekadar sengketa untuk mendapatkan sumber daya alam. Blok Ambalat merupakan wujud
dari wilayah kedaulatan Indonesia. Kehilangan blok Ambalat berarti kehilangan sebagian
wilayah kedaulatan. Bahkan blok Ambalat bisa menjadi taruhan bagaimana Indonesia
mempertahankan kedaulatannya di wilayah yang dipersengketakan oleh negara lain. Rakyat
di Indonesia melihat sengketa blok Ambalat lebih sebagai masalah kedaulatan dan harga diri
bangsa ketimbang sekadar perebutan potensi sumber daya alam.
Dengan mengadopsi tujuh langkah penciptaan perdamaiannya Glenn Stassen, apa yang
dilakukan Malaysia ini jelas-jelas bukan langkah untuk menciptakan perdamaian. Karena itu
adalah tidak ada artinya sama sekali ketika Menlu Malaysia mengatakan bahwa pihaknya siap
berunding dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh klaimnya.
Langkah pertama dalam penciptaan perdamaian menurut Stassen adalah menetapkan
keamanan bersama (affirm common security), dengan membangun tatanan yang damai dan
adil bagi semua pihak. Penetapan batas wilayah dengan membuat peta secara sepihak, dengan
memakai pertimbangan menurut pengertian sepihak, seperti yang dilakukan oleh Malaysia,
adalah tindakan yang bisa dianggap kebalikan dari langkah ini. Penetapan batas wilayah
seperti itu justru menggoyahkan keamanan bersama, bahkan menciptakan ancaman bagi
pihak yang lain. Ketika ancaman sudah terjadi, dialog yang mau diadakan pun akan menjadi

lebih sulit untuk dijalankan dengan baik. Ini terlihat dalam pertemuan teknis MalaysiaIndonesia membahas masalah Ambalat yang diadakan di Bali tanggal 22-23 Maret lalu.
Pertemuan itu berakhir tanpa hasil apa-apa, karena kedua pihak tetap pada pendirian masingmasing.
Karena dalam kasus ini ancaman sudah terjadi, dan tatanan yang damai dan adil digoyahkan,
langkah kedua yang dianjurkan Stassen perlu diperhatikan baik-baik. Itu adalah mengambil
inisiatif lebih dulu untuk perdamaian (take independent initiatives). Dalam kasus ini, pihak
yang manakah yang mengambil inisiatif lebih dulu untuk menyelesaikan masalah?
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa telah mengupayakan dialog atas klaim Malaysia ini
sejak lama, yaitu sejak tahun 1980, tetapi tidak mendapat tanggapan berarti, sampai kasusnya
menjadi besar karena diberikannya konsesi kepada Shell oleh Petronas Malaysia.
Pemerintah Malaysia melalui Menlunya mengatakan bahwa justru Indonesialah yang
melakukan inisiatif provokatif, dengan membangun mercusuar di atol Karang Unarang yang
diklaim Malaysia sebagai wilayahnya, sedangkan Malaysia selalu siap untuk berunding.
Hanya pertanyaan yang diajukan pihak Indonesia adalah berunding dengan kondisi seperti
apa? Apakah dengan kondisi melakukan pengakuan implisit akan klaim Malaysia lebih dulu
(dengan tidak memasuki lagi wilayah yang sudah diklaim Malaysia)? Pemerintah Indonesia
bersikukuh dialog dilakukan dengan tetap membangun mercusuar itu, karena itu termasuk
wilayahnya. Jalan tengah yang bisa ditawarkan adalah dengan membiarkan wilayah itu
menjadi wilayah tak bertuan untuk sementara, sampai ditemukan titik temu melalui dialog.
Namun, melihat perkembangan yang ada sekarang. Kelihatannya pilihan status quo itu juga
enggan untuk diterima.
Akan tetapi, ada langkah ketiga menurut Stassen, yaitu Talk to your enemy. Bicaralah,
lakukan negosiasi/perundingan, cari jalan keluar dengan memakai metode-metode
penyelesaian konflik Tentang hal ini, sudah dilakukan satu kali dan belum berhasil. Namun
dijanjikan untuk bertemu kembali bulan Mei, dan kita harus menunggu.
Sambil menunggu, langkah keempat mungkin bisa dilakukan. Itu adalah mengutamakan hak
asasi manusia dan keadilan. Penyelesaian konflik yang sudah terjadi harus mengingat hal ini.
Kampanye-kampanye anti Malaysia dengan semangat berperang seperti membentuk Front
Ganyang Malaysia, merekrut sukarelawan yang siap membela tanah air melawan Malaysia,
harus ditinggalkan. Perang hanya akan meninggalkan kesengsaraan. Pengalaman konfrontasi
berdarah di masa Soekarno seharusnya menjadi pelajaran. Banyak jiwa yang melayang dan
perekonomian negara pun morat marit karenanya. Yang harus dikampanyekan adalah
bagaimana menyembuhkan luka-luka bersama akibat
memori kolektif tadi itu.
Selain itu, satu hal lain yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia adalah meningkatkan
perhatiannya terhadap wilayah-wilayah terluar Indonesia. Sudah lama wilayah-wilayah
perbatasan seperti di ujung Barat Sumatera, ujung Utara Sulawesi, ujung Selatan Timor, dan
ujung Timur Papua, menjadi anak terlantar. Perhatian melalui pembangunan fasilitas sosial
bagi masyarakat di wilayah-wilayah ini sangat penting. Sipadan dan Ligitan ditetapkan
sebagai wilayah Malaysia oleh Mahkamah Internasional di tahun 1998 juga karena kedua
wilayah itu tidak pernah disentuh oleh Indonesia, namun dibangun dan dikelola oleh
Malaysia.

Langkah kelima dan keenam, yang menurut kami masih berkaitan erat adalah Memutus
lingkaran setan kekerasan, turut serta dalam penciptaan perdamaian dan Mengakhiri
propaganda saling menyalahkan, termasuk memberikan kompensasi/ganti rugi kepada yang
dirugikan. Langkah-langkah ini sangat penting, dan dalam kasus Malaysia dan Indonesia,
menurut saya kedua bangsa harus menoleh bersama ke belakang, sejarah konflik yang pernah
terjadi antara kedua bangsa harus diungkapkan, dan kemudian mencari jalan untuk
mengakhiri semua kecurigaan satu dengan yang lain .Kedua langkah ini terkait erat dengan
teori Shriver, mengungkapkan untuk mengingat kejahatan yang sudah dilakukan, dan
kemudian mengampuni.
Kemudian langkah yang terakhir adalah bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan konflik
ini dengan transparan dan terbuka. Semua upaya untuk pengungkapan masalah dilakukan
dengan jujur dan terbuka untuk kedua bangsa. Kami tidak setuju dengan pendapat Menlu
Malaysia yang mengatakan bahwa masalah ini hanya masalah teknis sehingga masyarakat
Malaysia tidak perlu tahu. Ini hanya urusan dua pemerintahan.
Proses negosiasi, kemajuan-kemajuan dan hambatan-hambatannya harus dibuat terbuka
kepada publik, sehingga publik bisa turut berpartisipasi dengan menyumbangkan opininya.
Penutup
Dengan menerapkan tujuh langkah ini dalam proses perundingan, serta dengan menjalankan
juga pengungkapan luka dalam memori kolektif kedua bangsa, masalah sengketa Ambalat ini
menurut kami akan bisa diselesaikan dengan lebih menyeluruh. Bukan hanya sekedar
menyelesaikan satu kasus yang sekarang saja, tetapi juga meletakkan dasar bersama untuk
menghadapi masalah-masalah serupa di masa mendatang.
Namun demikian, kami menyadari bahwa berteori selalu lebih mudah daripada menerapkan
dalam kenyataan. Memakai cara Shriver dan Stassen untuk menyelesaikan sengketa Ambalat
juga masih perlu dibuktikan. Akan tetapi, Glenn Stassen menunjukkan keberhasilan teorinya
dalam menyingkirkan rudal-rudal balistik di Eropa, karena itu kami bisa optimis juga, kalau
cara ini juga bisa saja berhasil di sini.

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Jadi,Geopolitik merupakan sebagai sistem politik atau peraturan peraturan dalam wujud
kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik. Wawasan
Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dijadikan sebagai pola pikir dan pandangan hidup
masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.Kekuatan negara Indonesia terletak
pada : posisi dan keadaan geografi yang strategis dan kaya sumber daya alam. Sementara
kelemahannya terletak pada wujud kepulauan dan keanekaragaman masyarakat yang harus
disatukan dalam satu bangsa dan satu tanah air, sebagaimana telah diperjuangkan oleh par
pendiri negara ini dan diikrarkan dalam sebuah Sempah Pemuda.Sehingga pandangan
geopolitik bangsa Indonesia harus didasarkan pada nilai nilai Pancasila yang luhur dengan
jelas dan tegas tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945 agar tercipta suatu Persatuan dan
Kesatuan Negara Indonesia.

3.2.Saran
Sebagai warga negara yang baik, siapapun kita, baik pejabat, konglomerat, masyarakat biasa
maupun pengemis sekalipun sepatutnya menjalankan kehidupan bermasyarakat dan
bernegara sesuai dengan perturan dan hukum yang berlaku.
Sehingga tercipta kehidupan yang teratur dan tertib di segala aspek. Wawasan nusantara atau
yang bisa juga disebut dengan geoplitik di Indonesia ini bisa berguna dan berjalan dengan
baik. Tiap individu pun seharusnya paham bagaimana aplikasi geopolitik yang benar itu
seperti apa dan praktiknya dalam kehidupan nyata bisa dengan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

http://savitrirachmawati.blog.com/2013/02/20/implementasi-geopolitik-indonesia-di-eraglobal/
http://id.wikipedia.org/wiki/Geopolitik_di_Indonesia
http://selawan33.blogspot.com/2013/06/geopolitik-indonesia.html
http://rijalulfata.blogspot.com/2013/04/wawasan-nusantara-sebagai-geopolitik.html
http://pendidikankewarganegaraans.blogspot.com/2012/12/pengertian-geopolitik-danwawasan.html
http://temonsoejadi.com/2012/03/21/teori-geopolitik-dan-wawasan-nusantara/
http://iddamahfiroh.blogspot.com/2013/04/implementasi-geopolitik-indonesia-di.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah_di_Indonesia
https://www.facebook.com/ProgressMelatiNusantara/posts/551739161531622
Anonim. 2003. Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari di Era Otonomi Daerah.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Ermanaya, Suradinata. 2001. Geopolitik dan Geostrategi Dalam Mewujudkan Integritas
Negara Kesatuan Indonesia. Jakarta: Lemhanas.
Kaelan. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.
Mangindaan, Robert. 2012. Fondasi Geopolitik Negara Kepulauan. Jakarta Pusat . Vol. 5,
No. 16.