Anda di halaman 1dari 5

Agama dan Kepercayaan Orang Melayu

Definisi Melayu adalah sebagai penduduk pribumi yang bertutur dalam bahasa Melayu,
beragama Islam, dan yang menjalani tradisi dan adat-istiadat Melayu.

Di Malaysia, penduduk pribumi dari keturunan suku-suku di Indonesia, seperti Minangkabau,


Aceh, Bugis, atau Mandailing, yang bertutur dalam bahasa Melayu, beragama Islam dan
mengikuti adat-istiadat Melayu, semuanya dianggap sebagai orang Melayu selain daripada
Melayu Anak Jati yang berasal daripada Tanah Melayu itu sendiri. Bahkan orang bukan
pribumi yang berkawin dengan orang Melayu dan memeluk agama Islam juga diterima
sebagai orang Melayu.
1.1 Pengertian Agama dan Kepercayaan menurut masyarakat Melayu

Jika merujuk pada tatanan ilmu social, maka agama dikatakan sebagai sistem kepercayaan
yang teratur atau terorganisasi. Sedangkan kepercayaan adalah keyakinan yang ditujukan
kepada satu-satu fenomena kepercayaan atau tidak memimiliki ciri-ciri yang terorganisasi
ataupun tersistem.

Pada masyarakat melayu, mereka membedakan antara agama dan kepercayaan. Menurut
masyarakat melayu, Agama yang dianggap oleh mereka adalah agama-agama besar yang
diakui oleh pemerintah. Seperti Islam, Kristen, Khatolik, Hindu dan Budha. Sementara
keyakinan-keyakinan seperti penyembahan pada dewa-dewa dan kepercayaan akan
kekuatan yang dimiliki makhluk halus (jin, hantu, jembalang, sikodi dan lainnya) hanya
dianggap sebagai suatu kepercayaan saja. Seperti yang terdapat pada suku terasing Suku
Talang Mamak, Suku Akit, Suku laut, dan lainnya. Maupun kepercayaan yang juga
mencangkup masalah upacara-upacara yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan lama orang
melayu, seperti tepung tawar, mati tanah dan lainnya.

Namun sebenarnya yang dikatakan kepercayaan dalam masyarakat melayu itu bukan hanya
dalam kepercayan lama saja yang menjadi peninggalan masa lampau seperti animisme, tapi
juga kepercayaan yang datang setelahnya, seperti kepercayaan agama agama hindu, budha
dan Islam sendiri. Dimana Islam yang datang terakhir mengakomodir semua unsur
kebudayaan tersebut secara perlahan, serta melakukan penelusuran terhadap hal-hal yang
bertentangan dengan Islam.

1.2 Kepercayaan awal dalam kehidupan orang Melayu

Kepercayaan awal masyarakat melayu sebelum kedatangan agama adalah animisme,


dimana mereka percaya semua benda di dalam dunia ini mempunyai roh atau semangat yang
mempengaruhi kehidupan manusia sama ada baik atau buruk.
Roh atau semangat ini perlu dipuja agar membawa kebaikan dan menambahkan rezeki.
Keadaan ini telah mempengaruhi kehidupan mereka kerana terdapatnya aktivitas memuja
pantai atau semangat padi bagi menjamin keselamatan dan menambahkan hasil padi.
Dengan ini timbullah konsep pantang larang, adat istiadat, undang-undang, kebudayaan dan
sebagainya. Bagi memuja semangat ini lahirlah tarian, nyanyian, drama, muzik, unsur
mainan, mentera, adat menanam, adat kematian dan sebagainya yang ada hubungan dengan
kepercayaan itu. Beberapa dari unsur ini menjadi hiburan dan mainan yang pada asalnya
merupakan upacara yang berkaitan dengan kuasa ghaib. Contohnya Main Puteri, Main Dewa,
memutus ubat dan sebagainya.
Berkaitan dengan unsur mainan dan tarian tadi maka lahirlah upacara jampi serapah yang
bertujuan untuk melindungi permainan daripada segala bencana dan menghalau jin dan hantu
daripada menggangu persembahan. Setiap persembahan ada peraturan dan pantang larang
kerana asal usul sesuatu jenis persembahan selalunya dihubungkait dengan kuasa ghaib.
Dengan wujudnya kepercayaan tersebut maka wujud satu golongan masyarakat yang
dihubungkaitkan dengan upacara-upacara pemujaan seperti dukun, tabib, pawang, nenek
kebayan dan sebagainya yang bertanggung jawab memulih diri seseorang yang dipercayai
disampuk atau hilang semangat.
Terdapat juga bentuk kepercayaan terhadap roh orang yang sudah mati. Mereka percaya
individu yang semasa hidupnya mempunyai kuasa hebat apabila mati akan tetap memberi
perlindungan. Berdasarkan kepercayaan inilah masyarakat tempatan memuja roh si mati agar
dapat memberi perlindungan. Dalam kepercayaan melayu itu sendiri terdapat enam benda
atau tempat yang dikeramatkan.

1. Objek alam seperti batu, puncak gunung, pulau dan tanjung.


2. Binatang seperti harimau, dan buaya putih.
3. Kubur ahli sihir atau pawing.
4. Kubur orang yang membuka pemukiman baru.
5. Pemakaman ulama Islam
6. Ulama yang masih hidup

1.3 Agama dalam kehidupan orang Melayu


1.Agama Hindu
Pengaruh agama Hindu tersebar sejak abad ke 6 lagi yang dibawa oleh pedagang India.
Penyebaran agama ini berkembang pesat ketika kedatangan golongan Brahmana dan
penerimaan agama ini oleh golongan pemerintah.

Ajaran ini diterima oleh pemerintah kerana agama ini berpegang teguh kepada konsep
Dewaraja yaitu raja adalah tuhan dibumi yang sekaligus memperkukuhkan kedudukan raja
sebagai pemerintah. Sebagai contoh, terdapat dua buah kerajaan Hindu di Tanah Melayu
yaitu kerajaan Langkasuka dan kerjaaan Kedah Tua. Disamping itu terdapatnya
penyembahan Dewa Siva dan Vishnu, yang dapat dilihat daripada pembinaan Candi Bukit
Batu Pahat dan Candi Bukit Pendiat di Lembah Bujang, Kedah.

Dikarenakan prinsip kedatangan agama hindu yang diarahkan pada kaum bangsawan, banyak
pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya hanya golongan bangsawanlah yang menganut
agama ini dengan sungguh-sungguh. Meskipun mereka sendiri tidak benar-benar paham
dengan ajaran filsafat hindu yang asli.
Mereka hanya mementingkan perkara yang berkaitan dengan tata upacara serta ajaran-ajaran
yang membesarkan keagungan dewa bagi kepentingan mereka sendiri, sehingga secara tidak
langsung dengan menjadi penganut agama hindu mereka memperkukuh kedudukan mereka
didalam struktur lapisan didalam puncak masyarakat.

Adapun dalam masyarakat melayu mereka lebih cenderung bersifat seni dibanding harus
memahami kehalusan metafisik hindu yang bersifat filsafat. Beberapa kesusasteraan agama
asli hindu-india yang diadopsi kedalam bahasa hindu-melayu telah ada pada mahabrata dan
baghavad gita yang menggambarkan kehidupan arjuna dan bharatayuddha yang kesemuanya
tidak menampakkan filsafat hindu asli.

2.Agama Budha
Agama Buddha pula turut tersebar di kalangan masyarakat melayu dan ia mempunyai
pertalian dengan agama Hindu. Ini disebabkan agama ini mengalami pengakomodiran dengan
unsur-unsur agama Hindu
Agama ini diasaskan oleh Sidharta Gautama di India. Agama ini melarang manusia
melakukan kekejaman karena ia tidak mendatangkan sebarang kebaikan.
Ajaran agama Buddha ini mudah diterima karena anggapan mereka bahawa pengasas agama
Buddha merupakan penjelmaan kembali salah satu daripada Dewa Hindu.

3.Agama Islam
Kedatangan agama Islam pada abad ke 7 telah menghakis sebahagian amalan kepercayaan
Hindu Buddha yang telah lama bertapak di Tanah Melayu.
Masuknya agama islam itu sendiri sebenarnya dari berbagai cara, yaitu:
1.Melalui jalur perdagangan, dimana ada suatu keyakinan bahwa sebenarnya para saudagar
yang melakukan perjalanan ke Indonesia sebagiannya adalah para sufi yang kemudian
menyebarkan islam di nusantara termasuk ditanah melayu.
2.Melalui pernikahan, dimana para muslim melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi.
Hal itu menjadi cara lain untuk menyebarkan islam kepada masyarakat pribumi, termasuk
ditanah melayu.
3.Mendekati kaum bangsawan, hal ini biasanya dilakukan atas dasar asumsi bahwa jika kaum
bangsawan apalagi raja masuk agama islam maka rakyat juga akan ikut masuk kedalam
agama islam.
Agama Islam disebarkan oleh golongan pedagang dan pendakwah Islam dari Asia Barat.
Ajaran Islam menekankan dua aspek penting iaitu Akidah dan Syariah. Akidah ialah
kepercayaan seluruh jiwa raga terhadap keEsaan Allah manakala syariah merupakan
perundangan dan hukum Islam berdasarkan Al Quran dan Hadis.
Kedatangan agama Islam telah membawa perubahan yang besar dalam politik, perundangan,
ekonomi, dan budaya masyarakat Melayu.
Dari segi politik jelas dapat dilihat dengan penggunaan gelaran pemerintah yaitu raja telah
digantikan dengan gelaran sultan. Bahkan sultan dianggap sebagai ketua agama Islam. Segala
upacara resmi didahului dengan doa. Pemimpin agama merupakan penasihat sultan dalam
hal-hal mengenai hukum syarak atau hal berkenaan dengan agama Islam.

Dalam aspek perniagaan, Islam mengharamkan riba dan menggalakkan umatnya mencari
rezeki yang halal. Disamping itu amalan zakat dan fitrah sedikit sebanyak telah membantu
golongan yang kurang berkemampuan untuk menjalani kehidupan
Dari segi sosial pula wujudnya semangat jihad bagi memilihara kesucian agama Islam
daripada penjajahan Barat. Dari segi adat pula didapati terdapat pengkomodiran dengan unsur
Hindu-Buddha kepada unsur keislaman seperti perkahwinan, adat turun tanah, melenggang
perut, berkhatan dan sebagainya.
Pada akhirnya orang melayu membuktikan kemelayuannya dengan menganut agama islam.
Terlepas dari mereka menjalakannya secara sempurna atau tidak, hal ini dibuktikan dengan
praktik-praktik keagamaan. Dimana praktik-praktik tersebut dilakukan sesuai dengan mazhab
yang mereka anut. Pada umumnya masyarakat melayu menganut mazhab syafii. Mereka
kebanyakan melakssanakan shalat subuh, isya, zuhur, dan ashar lebih sering dirumah,
sementara maghrib dilakukan secara berjamaah di mesjid.
Menurut Yusmar Yusuf, orang melayu sangat menghormati hari jumat-ini jelas merupakan
pengaruh dari islam-dimana hari jumat dipandang sebagai hari yang pendek untuk bekerja
tapi panjang untuk beribadah. Pada hari itu, masyarakat melayu juga mengenakan baju
kurung ini berfungsi untuk memperindah diri dan menutup aurat yang jelas sekali
merupakan pengaruh dari islam.
Dari sisi teologis orang melayu berpegang pada teologi asyariyah yang lebih dekat dengan
paham jabariyah. Sekalipun Asyariyah mengajarkan tentang kasb(usaha), namun hal itu
tidak banyak membantu untuk merubah pemahaman masyarakat tentang takdir dan nasib.
Masyarakat melayu percaya bahwa konsep takdir dan nasib telah digariskan oleh allah.
Dari sisi tasawuf sendiri, orang melayu berpegang erat pada ajaran imam al-ghazali. Dimana
mereka sulit untuk menerima tasawuf wahdat al-wujud dari ibnu arabi atau hulul dari alhallaj dan aliran tasawuf lainnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh terlarangny ajaran
wahdat al-wujud di tanah aceh, yang kemudian membuat paham ini kurang digemari oleh
masyarakat melayu.
Adapun kitak-kitab yang sering dibaca masyarakat melayu sebagai cerminan dari ajaran
asyariyah, syafiI dan imam alghazali adalah kitab-kitab yang ditulis oleh abdus samad alpalimbani dan daud al-fathani.