Anda di halaman 1dari 95

1

KARYA TULIS ILMIAH


GAMBARAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA DALAM
MENGHADAPI PERSALINAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TANJUNG KARANG TAHUN 2013

Karya Tulis Ilmiah


Disajikan Untuk Ujian Akhir
Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Stikes Yarsi

Oleh
Nama : Ni Nengah Krisna Maitrayani
Nim : 028 SYE BID 10

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
MATARAM
2013

KARYA TULIS ILMIAH


GAMBARAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA DALAM
MENGHADAPI PERSALINAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TANJUNG KARANG TAHUN 2013

Oleh
Nama : Ni Nengah Krisna Maitrayani
Nim : 028 SYE BID 10

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
MATARAM
2013

MOTTO
Jadi diri sendiri, mencari jati diri untuk hidup mandiri
Optimis, karena hidup terus mengalir dan kehidupan terus berputar
Sesekali melihat kebelakang untuk melanjutkan yang tertunda
PERSEMBAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini saya persembahkan untuk
Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan wara nugrahanya
Ibuku (Ni Ketut Niarsi, S.Pd) dan Bapakku (I Wayan Subrata, S.Pd), yang selalu
membimbingku dengan penuh kesabaran
Kakakku satu-satunya (I Wayan Adi Saptana, S.Kom), yang selalu memberikan
dukungan
Dosen Pembimbing dan Penguji Karya Tulis Ilmiah (Zainal Arifin, Ns.S.Kep.
Sp.MB, Ns. Badarudin.MM dan Nurul Fatmawati, S,ST) yang dengan sabar
membimbing tahap demi tahap pembuatan karya tulis ilmiah ini.
Sahabat-sahabatku dan teman-teman kebidanan angkatan 2010
Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Terimaksaih atas doa, semangat dan dukungannya sehingga Karya Tulis Ilmiah
ini dapat terselesaikan.

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Mataram


Program Studi DIII Kebidanan
Karya Tulis Ilmiah, Agustus 2013
Ni Nengah Krisna Maitrayani (028 SYE BID 10)
Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Primigravida Dalam Menghadapi
Persalinan di Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013.
xv + 74 Halaman + 11 Tabel + 4 Gambar
ABSTRAK
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan ibu primigravida dalam
menghadapi persalinan di Puskesmas Tanjung Karang tahun 2013, obyek yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 32 ibu hamil trimester III sebagai
responden.
Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan metode
pendekatan survey, yaitu variabel pada obyek penelitian di ukur secara simultan
dalam waktu yang bersamaan. Pada penelitian ini menggunakan data primer yang
berupa data kecemasan dengan tehnik wawancara dengan alat ukur kecemasan
HAR-S sedangkan data skunder berupa gambaran umum tempat penelitian.
Hasil penelitian tentang tingkat kecemasan ibu primigravida dalam
menghadapi persalinan di puskesmas Tanjung Karang terdapat ibu yang
mengalami tingkat kecemasan berat sebanyak 2 orang (6,25%), sedang sebanyak
14 orang (43,75%), kecemasan ringan sebanyak 6 orang (18,75%), dan tidak
mengalami kecemasan sebanyak 10 orang (31,25%).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan
ibu hamil primigravida dalam menghadapi persalinan di dapatkan kecemasan
tingkat sedang yaitu sebanyak 14 orang (43,75%).Saran yaitu bagi para ibu hamil
diharapkan secara rutin memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan untuk
mendapatkan pengetahuan umum ibu hamil serta bagi tenaga kesehatan untuk
mampu memberikan KIE yang baik serta melibatkan anggota keluarga terutama
suami.
Kata Kunci : Tingkat Kecemasan, Persalinan
Daftar Pustaka : 21 (2005-2012).

Yarsi School of Health


Diploma III Midwifery Study Program
Scientific Paper, Agust 2013
Ni Nengah Krisna Maitrayani (028 SYE BID 10)
Description Of Anxiety Level Of Primigravida Woman Dealing Iin Health
Delivery of Tanjung Karang 2013.
vii + 69 Page + 11Table
ABSTRACT
Anxiety is a concern that is not clear and the spread, which is associated
with feelings of uncertainty and helplessness. This study aims to identify the level
of anxiety in the face of labor primigravida at Puskesmas Tanjung Karang in
2013, an object used in this study were 32 third trimester pregnant women as
respondents.
The study design used descriptive survey method approach, which is
variable in research object simultaneously measured at the same time. In this
study, using primary data is data with interview techniques with anxiety measure
anxiety HAR-S while the secondary data in the form of an overview of the
research site.
The results of the level of anxiety in the face of labor primigravida at
Tanjung Karang clinic are women who experience severe anxiety level by 2
people (6.25%), while as many as 14 people (43.75%), mild anxiety as many as 6
people (18, 75%), and did not experience anxiety as many as 10 people (31.25%).
Based on the results of this study concluded that the level of maternal
anxiety in the face of labor in primigravida get moderate level of anxiety that is
equal to many as 14 people (43.75%). Advice is for pregnant women are routinely
expected checkups with a healthcare provider to get a general knowledge of
pregnant women as well as for health workers KIE to be able to provide a good
and involving family members, especially her husband.
Keywords: The level worries, Labor
References: 21 (2005-2012).

RIWAYAT HIDUP

Ni Nengah Krisna Maitrayani, lahir di Mataram Nusa Tenggara Barat tahun 1992.
Pendidikan yang telah ditempuh dari Sekolah Dasar (SD) yaitu di SDN 1 Anyar
Bayan Kabupaten Lombok Utara tahun 1998-2004 , SMP di SMP 1 Kuta Selatan
Jimbaran Bali hingga tahun 2005 kemudian pindah ke SMP 1 Bayan dan
menamatkan Sekolah Menengah Pertama Pada Tahun 2007, melanjutkan di
SMAN 1 Bayan dari tahun 2007-2010, dan kini sedang menenmpuh Diploma
(D3) jurusan kebidanan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yayasan Rumah Sakit
Islam (STIKES YARSI) Mataram. Pernah mengikuti olimpiade biologi tingkat
kecamatan pada saat kelas 5 SD dan mendapatkan peringkat pertama dan pernah
mengikuti olympiade Teknologi, informasi dan telekomuniasi pada saat kelas 2
SMA dan mendapatkan peringkat 2 Cita-cita ingin menjadi bidan yang mengabdi
pada masyarakat

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
hidayah-Nyalah sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah dengan judul
Gambaran kecemasan ibu primigravida dalam menghadapi persalinan di
puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013 dapat terselesaikan. Proposal ini
merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan gelar Ahli Madya
Kebidanan (Amd.Keb) pada Program Studi DIII Kebidanan STIKES Yarsi
Mataram
Bersama dengan ini perkenankan penulis mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya dengan hati yang tulus kepada :
1.

Ns. Agus Supinganto, S.Kep. M.Kes selaku Ketua STIKES YARSI


Mataram yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis
untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada Program Studi DIII
Kebidanan.

2.

Irni Setyawati, M.Keb selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan STIKES
YARSI Mataram .

3.

Ns. Badarudin, S.Kep. MM, selaku Pembimbing I yang telah memberikan


bimbingan kepada penulis dalam penyusunan proposal ini ini.

4.

Nurul Fatmawati, S.ST, selaku pembimbing II yang telah memberikan


dorongan, bimbingan dan arahan yang sangat berguna bagi penulis sehingga
proposal ini dapat terselesaikan.

5.

Semua Staf Pengajar dan Tata Usaha STIKES YARSI Mataram yang telah
banyak membantu dan memudahkan segala fasilitas sehingga proposal ini
dapat terselesaikan.

6.

Orang tua dan saudara saya, yang telah banyak memberikan dukungan moril
dan spiritual kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan di STIKes
YARSI Mataram.
Semoga Tuhan membalas kemurahan hati dan budi baik semua
pihak yang telah memberi kesempatan, dukungan, fasilitas, kritik dan saran
dalam menyelesaikan Proposal ini.

Mataram, Agustus 2013

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ......................................................................................i


PERNYATAAN ............................................................................................ ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ..............................................................iii
PENGESAHAN PENGUJI .........................................................................iv
UCAPAN TERIMAKASIH ......................................................................... v
ABSTRAK ....................................................................................................vi
RIWAYAT HIDUP .....................................................................................viii
KATA PENGANTAR ...................................................................................ix
DAFTAR ISI ..................................................................................................xi
DAFTAR TABEL ........................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xiv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................ 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecemasan ........................................................................................ 6
2.1.1 Pengertian Kecemasan ............................................................. 6
2.1.2 Faktor Penyebab....................................................................... 7
2.1.3 Gejala Klinis Cemas ................................................................ 8
2.1.4 Tingkat Kecemasan .................................................................. 9
2.1.5 Alat Ukur Kecemasan ............................................................ 10

10

2.2 Primigravida ..................................................................................... 16


2.2.1 Definisi .................................................................................... 16
2.2.2 Kehamilan ............................................................................... 16
2.3 Persalinan ......................................................................................... 21
2.3.1 Fisiologi Persalinan Normal ................................................... 21
2.3.2 Bentuk Persalinan Berdasarkan Definisi ................................ 22
2.3.3 Tanda-Tanda Permulaan Persalinan ....................................... 22
2.3.4 Tanda-Tanda Inpartu ............................................................... 23
2.3.5 Tahap Persalinan ..................................................................... 23
2.5 Kecemasan dalam Persalinan ........................................................... 31
2.4.1 Faktor-Faktor Kecemasan ....................................................... 31
2.5 Hasil Penelitian yang Berkaitan ....................................................... 38
BAB 3 KRANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka Konseptual ....................................................................... 41
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ............................................................................. 42
4.2 Kerangka Kerja ................................................................................ 42
4.3 Populasi, Sampel, Besar Sampel dan Tehnik Sampling .................. 43
4.4 Tempat danWaktu Penelitian ........................................................... 45
4.5 Definisi Operasional ........................................................................ 46
4.6 Instrumen Penelitian ........................................................................ 49
4.7 Pengambilan dan Pengumpulan Data .............................................. 51
4.8 Analisa Data ..................................................................................... 53
4.9 Etika Penelitian ................................................................................ 53
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................... 55
5.2 Hasil Penelitian ................................................................................ 58
5.3 Pembahasan ...................................................................................... 61

11

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 68
6.2 Saran ............................................................................................... 68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

12

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Lamanya persalinan ............................................................................ 29
Tabel 4.1 Identifikasi variabel ............................................................................ 49
Tabel 4.2 Lembar kode ....................................................................................... 56
Tabel 5.1 Data Ketenagakerjaan ......................................................................... 62
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013............................................. 63
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan di wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013............................................. 64
Tabel 5.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan di wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013............................................. 64
Tabel 5.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan kunjungan antenatal di
wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013....................... 65
Tabel 5.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan dukungan sosial di wilayah
kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013.................................... 65
Tabel 5.7 Distribusi frekuensi tingkat kecemasan pada ibu dalam menghadapi
persalinan di Puskesmas Tanjung Karang bulan Juli tahun 2013........ 66

13

LAMPIRAN
1. Lembar konsultasi
2. Surat permohonan pengambilan data
3. Surat permohonan sebagai responden
4. Chek list
5. Jadwal penelitian

14

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kecemasan atau
ansietas

dialami

secara

subyektif

dan

dikomunikasikan

secara

interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan


penilaian intelektual terhadap bahaya. Ansietas adalah respon emosional
terhadap penilaian tersebut (Stuart ,2006). Persalinan adalah suatu proses
pengeluaran hasil konsepsi dari rahim ibu melalui jalan lahir atau dengan
jalan lain, yang kemudian janin dapat hidup di dunia luar (Asuhan
persalinan normal, 2007). Takut melahirkan pada wanita nulipara paling
sering terjadi antara perempuan dengan sumber daya sosial dan psikologis
sedikit. Frekuensi takut melahirkan adalah sama pada akhir kehamilan
seperti di awal kehamilan (2008 The Authors Journal compilation RCOG
2008 BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology).
Berbagai faktor penyebab kecemasan pada ibu hamil antara lain: 1) Umur,
wanita yang muda cenderung beresiko mengalami peningkatan disstres
emosional sedangkan wanita yang lebih dewasa lebih memiliki persepsi
yang positif; 2) Pendidikan,wanita yang memiliki pendidikan tinggi
mampu menghadapi kehamilannya secara objektif dan rasional; 3)

15

Pekerjaan, Ibu yang bekerja lebih aktif mempunyai emosi yang lebih stabil
dibandingkan ibu yang tidak bekerja dan ibu yang bekerja lebih tahan
terhadap penderitaan atau rasa sakit ketika melahirkan bayinya; 4)Asuhan
kebidanan antenatal memberikan kesempatan kepada ibu untuk lebih
mengenal bayinya sebelum lahir dapat membantu meminimalkan disstres.
Kurangnya Pengetahuan ibu mengenai manfaat kunjungan antenatal dapat
mengakibatkan kecemasan saat persalinan. Ada berbagai penyebab ibu
tidak melakukan pemeriksaan kehamilannya antara lain karena pendidikan
yang masih rendah serta kepercayaan penduduk yang salah namun tetap
diyakini sebagai suatu kebenaran (Kartono,2005)
Kecemasan dalam menghadapi persalinan sering kali disebabkan
oleh perasaan takut mati dikarenakan peristiwa persalinan seringkali
disertai perdarahan dan kesakitan yang hebat, selain itu pula terdapat
kekhawatiran ibu terhadap yang akan terjadi pada bayi yang dilahirkan
seperti kemungkinan cacat serta kenyakinan akan dirinya sendiri atas
kemampuannya untuk menjaga dan merawat bayinya dikemudian hari
(Kartono, 2005).
Dampak ibu yang mengalami kecemasan dalam kehamilannya akan
berpengaruh dalam proses pengeluaran bayi (kelahiran) atau pun sangat
berpengaruh pada perawatan bayi, dikarenakan ibu yang mengalami
kecemasan selama kehamilan cenderung beresiko mengalami post partum
blues pada masa pasca persalinan. Banyak orang yang menyebutkan ada
beberapa faktor penyebab dari mudah sulitnya aktivitas melahirkan bayi

16

yang

diantaranya

bersangkutan

adalah

kondisi

(Kartono

psikis/kejiwaan

2005).

Depresi

wanita
masa

yang

nifas

merupakan gangguan afeksi yang sering terjadi pada masa nifas, dan
tampak dalam minggu pertama pasca persalinan. Insiden depresi post
partum

sekitar

10-15

persen.

Post

partum

blues

disebut

juga maternity blues atau sindrom ibu baru. Keadaan ini merupakan
hal

yang

serius,

sehingga

ibu

memerlukan dukungan dan

banyak istirahat. Gejala post partum tersebut seringkali terjasi akibat


perubahan perasaan saat hail (kecemasan), perubahan fisi dan
emosional (Ambarwati, 2008).
Dalam sebuah studi dari 280 wanita primigravida di USA pada
trimester ke tiga ditemukan 193 (68,9%) wanita memiliki ketakutan yang
sangat kuat terhadap proses persalinan sedangkan Swedia dari 162 wanita
terdapat 97 (59,8%) wanita yang ditemukan mengalami kecemasan dalam
menghadapi proses persalinan. (2008 The Authors Journal compilation
RCOG 2008 BJOG An International Journal of Obstetrics and
Gynaecology). Di Indonesia terdapat 373.000.000 orang hamil, yang
mengalami kecemasan dalam mengahadapi persalinan ada sebanyak 58,7
% (Depkes RI 2008). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Larasati
dan Wibowo dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR pada tahun
2008 didapatkan hasil responden yang mengalami kecemasan dalam
menghadapi persalinan sebanyak 32 responden (57,14%), yang mengalami

17

kecemasan ringan sebanyak 18 responden (32,14%) dan yang mengalami


kecemasan sedang sebanyak 6 responden (10,72%).
Wanita hamil memiliki banyak masalah kesehatan mental. Masalah
yang paling umum di kalangan wanita adalah takut melahirkan, baik
sebelum dan sesudah kehamilan dan melahirkan. Hal ini harus dijadikan
pedoman dalam memberikan asuhan kebidanan.Beberapa yang harus
diperhatikan antara lain 1) Memberikan perhatian khusus dengan cara
anamnesis kejiwaan pada setiap wanita hamil 2) dukungan mental dari
keluarga dan orang terdekat dengan mendampingi ibu saat pemeriksaan
kehamilan ataupun saat persalinan 3) pemeriksaan kehamilan yang teratur.
4) serta upaya untuk menciptakan hubungan atau komunikasi yang dapat
membuat ibu merasa nyaman serta dapat memecahkan permasalahan yang
dirasakan ibu, hal ini dapat mengurangi rasa cemas (2011 The Authors
BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology 2011
RCOG)
1.2.Perumusan masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah
Bagaimana gambaran kecemasan pada ibu primigravida dalam menghadapi
persalinan di Puskesmas Tanjung Karang ?
1.3 Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran kecemasan pada ibu primigravida dalam
menghadapi persalinan.

18

1.3.2 Tujuan khusus


Mengidentifikasi

tingkat

kecemasan

ibu

primigravida

dalam

menghadapi persalinan di Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013.


1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi Puskesmas
Dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menyusun strategi
yang tepat dalam mengurangi kecemasan pada ibu primigravida dalam
menghadapi persalinan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang.
1.4.2 Bagi institusi
Sebagai pengembangan bahan bacaan dan hasil yang berguna dan
sebagai tambahan bahan pustaka dan memberikan tambahan teori tentang
gambaran kecemasan pada ibu hamil bagi aktivitas akademik Kebidanan
Stikes Yarsi Mataram.
1.4.3 Bagi ibu hamil
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi masukan serta informasi bagi
seluruh masyarakat pada umumnya serta dapat mengurangi kecemasan ibu
dalam menghadapi persalinan.
1.4.4 Bagi peneliti
Dapat bermanfaat bagi peneliti dalam menelaah suatu masalah secara
sistematis dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang telah
diperoleh selama menempuh pendidikan D III Kebidanan.

19

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kecemasan
2.1.1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kecemasan atau
ansietas

dialami

secara

subyektif

dan

dikomunikasikan

secara

interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan


penilaian intelektual terhadap bahaya. Ansietas adalah respon emosional
terhadap penilaian tersebut (Stuart ,2006).
Seseorang akan menderita gangguan cemas manakala yang
bersangkutan

tidak

mampu

mengatasi

stresor

psikososial

yang

dihadapinya.Tetapi pada orang-orang tertentu meskipun tidak ada stesor


psikososial, yang bersangkutan menunjukkan kecemasan juga, yang
ditandai dengan corak atau tipe kepribadian pencemas (Hawari 2011).
Definisi Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu
yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan
dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati, 2005).
2.1.2. Faktor penyebab
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal
kecemasan (ansietas).

20

1.

Dalam pandangan pikoanalitis, ansietas adalah konfilik emosional yang


terjadi antara dua elemen kepribadian: id dan superego. Id mewakili
dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan
hati nurani dan di kendalikan oleh norma budaya. Ego atau Aku , berfungsi
menegahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi
ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

2.

Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut


terhadap ketidak setujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga
berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan
kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga
diri rendah terutama rentan mengalami ansietas yang berat.

3.

Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustrasi yaitu


segala sesuatu mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan
yang diinginkan. Ahli teori perilaku lain menganggap ansietas sebagai suatu
doronganyang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk
menghindari kepedihan. Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu
yang terbiasa sejak kecil dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih
sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya. Ahli teori konfik
memandang ansietas sebagai pertentangan antara dua kepentingan yang
berlawanan. Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik antara konflik
dan ansietas : konflik menimbulkan ansietas, dan ansietas menimbulkan
perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang
dirasakan.

21

4.

Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya terjadi


dalam keluarga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih antara gangguan
ansietas dengan depresi.

5.

Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus


untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator
inhibisi asam gama-aminobutirat ( GABA), yang berperan penting dalam
mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas. Selain itu,
kesehatan umum individu dan riwayat ansietas pada keluarga memiliki efek
nyata sebagai predisposisi ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan
gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk
mengatasi stresor.

2.1.3. Gejala Klinis Cemas


Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang
mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut:
1.

Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah


tersinggung;

2.

Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut;

3.

Takut sendirian, takut keramaian dan banyak orang;

4.

Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan;

5.

Gangguan kosentrasi dan daya ingat;

6.

Keluhan-keluhan

somatik,

misalnya

rasa

sakit

pada

otot

tulang,

pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan

22

pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain sebagainya


(Hawari, 2011).
2.1.4. Tingkat Kecemasan
1.

Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari;
ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan
lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan serta kreativitas.

2.

Sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi
individu. Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian ang selektif
namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk
melakukannya.

3.

Berat
Sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cendrung
berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal
lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu
tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.

4.

Panik
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Hal yang
rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu dengan

23

arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan


peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan
dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran
yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan; jika
berlangsung terus dalam waktu lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian
(Stuart, 2006).
2.1.5. Alat Ukur Kecemasan
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang
apakah ringan, sedang, berat atau berat sekali orang menggunakan alat
ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for
Anxienty (HRS-A). Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang
masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih
spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score)
antara 0 4 , yang artinya adalah:
Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan).
1 = gejala ringan
2 = gejala sedang
3 = gejala berat
4 = gejala berat sekali (panik)
Penilaian atau pemakaian alat ukur ini dilakukan oleh dokter
(psikiater) atau orang yang telah dilatih untuk menggunakannya melalui
teknik wawancara langsung. Masing-masing nilai angka (score) dari

24

keempat belas kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil


penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu :
Total Nilai (score):
> 14

= tidak ada kecemasan

14 20 = kecemasan ringan
21 27 = kecemasan sedang
28 41 = kecemasan berat
42 56 = kecemasan berat sekali
Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat ukur HRS-A ini adalah sebagai
berikut:
Gejala Kecemasan
01.

02.

Nilai angka (score)

Perasaan cemas (ansietas)


-

cemas

firasat buruk

takut akan pikiran sendiri

mudah tersinggung

Ketegangan
-

merasa tegang

lesu

tidak bisa istirahat tenang

mudah terkejut

mudah menangis

gemetar

25

03.

04.

05.

06.

gelisah

Ketakutan

pada gelap

pada orang asing

ditinggal sendiri

pada binatang besar

pada keramaian lalu lintas

pada kerumunan orang banyak

Gangguan tidur
-

sukar masuk tidur

terbangun malam hari

tidur tidak nyenyak

bangun dengan lesu

banyak mimpi-mimpi

mimpi buruk

mimpi menakutkan

Gangguan kecerdasan
-

sukar konsentrasi

daya ingat menurun

daya ingat buruk

Perasaan depresi (murung)


-

hilangnya minat

berkurangnya kesenangan pada hobi

26

07.

08.

09.

sedih

bangun dini hari

prasaan berubah-ubah sepanjang hari

Gejala somatik/fisik (otot)

sakit dan nyeri di otot-otot

kaku

kedutan otot

gigi gemerutuk

suara tidak stabil

Gejala somatik/fisik (sensorik)0


-

tinitus (telinga berdenging)

penglihatan kabur

muka merah atau pucat

merasa lemas

perasaan ditusuk-tusuk

Gejala kardiovaskuler

(jantung dan pembuluh darah)


-

takikardia (denyut jantung cepat)

berdebar-debar

nyeri di dada

denyut nadi mengeras

rasa lesu/lemas seperti mau pingsan

detak jantung menghilang (berhenti sekejap)

27

10.

Gejala respiratori

(pernafasan)

11.

rasa tertekan atau sempit didada

rasa tercekik

sering menarik nafas

nafas pendek/sesak

Gejala gastrointestinal

(pencernaan)

12.

sulit menelan

perut melilit

gangguan pencernaan

nyeri sebelum dan sesudah makan

perasaan terbakar diperut

rasa penuh atau kembung

mual

muntah

buang air besar lembek

sukar air besar ( konstipasi)

kehilangan berat badan

Gejala urogenital

( perkemihan dan kelamin )


-

sering buang air kecil

tidak dapat menahan air seni

28

13.

14.

tidak datang bulan (tidak ada haid )

darah haid berlebihan

darah haid amat sedikit

masa haid berkepanjangan

masa haid amat pendek

haid beberapa kali dalam sebulan

menjadi dingin (frigid )

ejakulasi dini

ereksi melemah

ereksi hilang

impotensi

Gejala autonom
-

mulut kering

muka merah

mudah berkeringat

kepala pusing

kepala terasa berat

kepala terasa sakit

bulu-bulu berdiri

Tingkah laku (sikap)


pada wawancara
-

gelisah

tidak senang

29

jari gemetar

kerut kening

muka tegang

otot tegang/mengeras

nafas pendek dan cepat

muka merah

Jumlah Nilai Angka ( Total score) =


Perlu diketahui bahwa alat ukur HRS-A ini bukan dimaksudkan
untuk menegakkan diagnosa gangguan cemas. Diagnosa gangguan cemas
ditegakkan dari pemeriksaan klinis oleh dokter ( psikiater ); sedangkan
untuk mengukur derajat berat ringannya gangguan cemas itu digunakan
alat ukur HRS-A.
2.2.Primigravida
2.2.1. Pengertian
Primigravida ialah seorang wanita hamil untuk pertama kalinya.
(Sofian, 2011) Tanda-tanda kehamilan primigravida meliputi perut tegang,
pusat menonjol, rahim tegang, payudara tegang, labia mayora tampak
bersatu, vagina sempit dengan rugae yang utuh, serviks licin bulat dan
tidak dapat dilalui oleh satu ujung jari, perineum utuh dan baik. Pada
serviks terdapat pembukaan

yang didahului dengan pendataran dan

setelah itu baru pembukaan (pembukaan rata-rata 1 cm dalam 2 jam) pada


bagian terbawah janin turun pada 4-6 minggu akhir kehamilan dan

30

persalinan hampir sealu dengan episiotomi (Sofian, 2011). Takut


melahirkan pada wanita nulipara paling sering terjadi antara perempuan
dengan sumber daya sosial dan psikologis sedikit. Frekuensi takut
melahirkan adalah sama pada akhir kehamilan seperti di awal kehamilan.
(2008 The Authors Journal compilation RCOG 2008 BJOG An
International Journal of Obstetrics and Gynaecology)
2.2.2. Kehamilan
1.

Pengertian
Kehamilan adalah masa mulai ovulasi sampai partus kira-kira 280 hari
(40 minggu). Kehamilan 40 minggu disebut matur (cukup bulan), lebih dari
43 minggu disebut post matur dan antara 28-36 minggu disebut prematur
(Rohani, dkk 2011).
Kehamilan dibagi kedalam 3 bagian :

a.

Trimester I (antara 0 sampai 12 minggu)

b.

Trimester II (antara > 12 minggu - < 28 minggu)

c.

Trimester III ( antara 28 minggu sampai 40 minggu)

2.

Kebutuhan Fisik Ibu Hamil

a.

Oksigen
Kebutuhan oksigen selama kehamilan meningkat sebagai respon
tubuh terhadap akselerasi metabolisme rate perlu untuk menambah masa
jaringan pada payudara, hasil konsepsi dan masa uterus.

b.

Nutrisi

1)

Proses physic 66 % = 1,440 Kcal

31

2)

Aktivitas 17% total tidak hamil

3)

Bekerja rata-rata 7 10 % membutuhkan 150-200 Kcal

4)

Metabolisme 7 % membutuhkan 144 Kcal

c.

Personal Hygiene

1)

Selama kehamilan PH vagina menjadi asam berubah dari 4-3 menjadi 5-6,
akibat vagina mudah terkena infeksi.

2)

Stimulus esterogen menyebabkan adanya keputihan

3)

Peningkatan vaskularisasi di perifer menyebabkan wanita hamil sering


berkeringat

4)

Uterus yang membesar menekan kandung kemih, mengakibatkan wanita


sering berkemih

5)

Mandi teratur mencegah iritasi vagina, teknik pencucian perianal dari depan
kebelakang.

d.

Eliminasi

1)

Berkaitan dengan adaptasi gastrointestinal sehingga menurunkan tonus dan


motolitas lambung dan usus terjadi reabsorpsi zat makanan peristaltik usus
lebih lambat sehingga menyebabkan obstipasi.

2)

Penekanan kandung kemih karena pengaruh hormon esterogen dan


progesteron sehingga menyebabkan sering buang air kecil.

3)

Terjadi pengeluaran keringat.

e.

Kebutuhan Seksual
Meningkatnya vaskularisasi pada vagina dan visera pelvis dapat
mengakibatkan meningkatnya sensitifitas seksual sehingga meningkatkan

32

hubungan intercourse sebaliknya ketakutan akan injuri pada ibu ataupun


janin akan mengakibatkan menurunnya pola seksualitas, anjuran yang
diberikan yaitu jangan berhubungan intercourse sesudah buang air kecil.
f.

Istirahat/ Tidur
Pada ibu hamil sebaiknya banyak menggunakan waktu luangnya
untuk banyak istirahat/tidur untuk memperbaiki sirkulasi darah, sebaiknya
jangan bekerja terlalu berlebihan.

3.

Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil

1.

Dukungan Suami
Wanita yang mengalami depresi selama kehamilan dapat mengalami
depresi

pasca

persalinan

jika

tidak

mengalami

kepuasan

dalam

perkawinannya, sebaiknya wanita yang mengalami depresi selama hamil


dapat membaik pasca persalinan apabila dalam perkawinan ia mengalami
kepuasan.
2.

Dukungan Keluarga dan Lingkungan


Berbagi pengalaman tentang kehamilan dan persalinan serta dukungan
doa dari anggota keluarga sangat berpengaruh pada aspek psikologis ibu.

3.

Peran Bidan dalam Persiapan Psikologis Ibu

a.

Memberikan informasi dan pendidikan kesehatan.

b.

Memberikan dukungan mental

c.

Menganjurkan latihan fisik seperti senam hamil untuk relaksasi dan


persiapan persalinan.

4.

Rasa Aman dan Nyaman Selama Kehamilan

33

Sebagai bidan kita sebaiknya mendengarkan dan membantu ibu untuk


mendapatkan solusi serta keluarga dapat memberikan perhatian dan
dukungan sehingga ibu merasa aman dan tidak sendiri dalam mengahdapi
kehamilannya.
4.

Perubahan Psikologis Ibu di Tiap Trimester

1.

Trimester I
Orang yang paling penting bagi seorang wanita hamil adalah ayah dari
sang anak. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa wanita yang
diperhatikan dan dikasihi oeh pasangan prianya selama hamil memiliki
gejala emosi dan fisik lebih sedikit komplikasi dalam persalinannya dan
lebih mudah melakukan penyesuaian pada masa nifas.
Sebagai tenaga kesehatan dapat membantu ibu memahami setiap
perubahan yang terjadi pada dirinya baik fisik maupun psikologis. Yakinkan
bahwa kebanyakan ibu akan mulai merasa lebih baik dan berbahagia pada
trimester kedua.

2.

Trimester II
Dukungan yang dapat diberikan keluarga atau suami pada trimester ini
adalah bersama-sama dengan ibu untuk merencanakan persalinan, ikut
mewaspadai adanya tanda-tanda bahaya.
Sebagai tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan dengan
memberikan berbagai penyuluhan tentang nutrisi, pertumbuhan bayi, tandatanda bahaya, dan rencana persalinan ibu.

3.

Trimester III

34

Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali ibu merasa


dirinya jelek dan aneh. Disamping itu ibu merasa sedih karena akan
berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima
selama hamil.
Keluarga dan suami dapat memberikan dukungan dengan memberikan
keterangan tentang persalinan yang akan ibu lalui dan itu hanya masalah
waktu saja. Tetap memberikan perhatian dan semangat pada ibu selama
menunggu

persalinannya.

Bersama-sama

mematangkan

persiapan

persalinan dengan tetap mewaspadai komplikasi yang mungkin terjadi.


Seorang petugas kesehatan dapat memberikan dukungan dengan
memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan ibu adalah normal.
Kebanyakan ibu hamil memiliki perasaan kekhawatiran yang serupa pada
trimester ini. Menenangkan ibu dengan mengatakan bahwa bayinya saat ini
merasa senang berada dalam perut ibu dan tubuh ibu secara alamiahakan
menyiapkan kelahiran bayi. Menjelaskan kembali pada ibu tanda-tanda
persalinan dan menenangkan ibu dengan menyatakan bahwa pengalaman
kehamilan adalah unik, dan meyakinkan bahwa akan selalu bersama ibu dan
membantu melahirkan bayinya ( Ai Yeyeh 2009).
2.3.Persalinan
2.3.1. Fisiologi Persalinan Normal
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi dari rahim
ibu melalui jalan lahir atau dengan jalan lain, yang kemudian janin dapat
hidup di dunia luar.

35

Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi, sehingga


menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap (Asuhan persalinan
normal 2007).
Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, plasenta dan
membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini berawal dari
pembukaan dan dilatasi serviks sebagai akibat kontraksi uterus dengan
frekuensi, durasi dan kekuatan yang teratur. Mula-mula kekuatan yang
muncul kecil, kemudian terus meningkat sampai pada puncaknya
pembukaan lengkap sehingga siap untuk pengeluaran janin dari rahim ibu.
Dalam rangka proses persalinan tersebut, maka secara alamiah ibu
bersalin akan mengeluarkan banyak energi dan mengalami perubahanperubahan baik secara fisiologis maupun psikologis (Prawirohadjo 2008).
Dalam persalinan normal hampir 96% janin berada dalam uterus
dengan presentasi kepala dan pada presentasi kepala ini ditemukan 58%
ubun-ubun kecil terletak di bagian kiri depan, 23 % di kanan depan, 11
% di kanan belakang dan 8 % dikiri belakang (Prawirohardjo 2008).
2.3.2. Bentuk persalinan berdasarkan definisi
1.

Persalinan spontan
Bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui
jalan lahir.

2.

Persalinan buatan

36

Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan
forcep atau dilakukan operasi sectio caesarea.
3.

Persalinan anjuran
Pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup
diluar, tetapi tidak sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesuliatan
dalam persalinan.
Kadang-kadang persalinan tidak mulai dengan sendirinya tetapi baru
berlangsung

setelah

pemecahan

ketuban,

pemberian

pitocin

atau

prostaglandin (Rohani, dkk. 2011).


2.3.3. Tanda-tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi persalinan yang sebenarnya beberapa minggu
sebelumnya, wanita memasuki bulan-nya atau minggu-nya atau
hari-nya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor).
Kala pendahuluan memberikan tanda-tanda sebagai berikut.
1.

Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki pintu
atas panggul, terutama pada primiravida. Pada multipara, hal tersebut tidak
begitu jelas.

2.

Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.

3.

Sering buang air kecil atau sulit berkemih (Polakisuria) karena kandung
kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.

4.

Perasaan nyeri diperut dan dipinggang oleh adanya kontraksi kontraksi


lemah uterus, kadang-kadang disebut false labor pains.

37

5.

Serviks menjadi lembek; mulai mendatar; dan sekresinya bertambah,


mungkin bercampur darah (bloody show) (Sofian.2011).

2.3.4. Tanda- Tanda Inpartu


1.

Rasa nyeri oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.

2.

Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekanrobekan kecil pada serviks.

3.

Kadang-kadang, ketuban pecah dengan sendirinya.

4.

Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan telah ada pembukaan.

2.3.5. Tahap Persalinan


Kala I (Kala Pembukaan)
Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena
serviks mulai membukan dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya
pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseranpereseran, ketika serviks mendatar dan membuka
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan
pembukaan serviks, hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm).
Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif
1.

Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak


awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara
bertahap sampai pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam.

2.

Fase aktif (pembukaan serviks 4-1 cm), berlangsung selama 6 jam dan
dibagi dalam 3 subfase.

38

a.

Periode akselerasi : berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.

b.

Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan


berlangsung cepat menjadi 9 cm.

c.

Periode deselarisasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10


cm atau lengkap.
Pada fase aktif persalinan, frekuensi dan lama kontraksi uterus
umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau
lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih)
dan terjadi penurunan bagian terbawah janin. Pembukaan pada
primigravida 1 cm/jam dan pada multigravida 2cm/jam.
Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan
multigravida. Pada primigravida, ostium uteri internum akan membuka
lebih dulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium
uteri internum akan sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum
serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam waktu yang sama.
Perubahan fisiologi pada kala I

1.

Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama terjadinya kontraksi (sistol ratarata naik 10-20 mmHg, diastol naik 5-10 mmHg, Antara kontraksi,
tekanan darah kembali seperti saat sebelum persalianan. Rasa sakit, takut,
dan cemas juga akan meningkatkan tekanan darah.

2.

Metabolisme

39

Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara


berangsur-angsur disebabkan karena kecemasan dan aktivitas otot skeletal,
peningkatan ini ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh, denyut
nadi, curah jantung (cardiac output), pernapasan, dan kehilangan cairan.
3.

Suhu Tubuh
Oleh karena adanya peningkatan metabolisme, maka suhu tubuh
sedikit meningkat selama persalinan. Selama dan setelah persalinan akan
terjadi peningkatan, jaga agar peningkatan suhu agar tidak lebih dari 0,5-1
C.

4.

Detak Jantung
Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak jantung akan
meningkat secara dramatis selama kontraksi.

5.

Pernafasan
Oleh karena terjadinya peningaktan metabolisme, maka terjadi
sedikit peningkatan laju pernapasan yang dianggap normal, hiperventilasi
yang lama dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkalosis.

6.

Ginjal
Poliuri

sering

terjadi

selama

proses

persalinan,

mungkin

dikarenakan adanya peningkatan cardiac output, peningkatan filtrasi


glomerulus, dan peningakatan aliran plasma ginjal. Proteinuria yang
sedikit dianggap normal dalam persalinan.
7.

Gastrointestinal

40

Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat secara substansi


berkurang sangat banyak selama persalinan. Selain itu, berkurangnya
pengeluaran getah lambung menyebabkan aktivitas pencegahan hampir
berhenti dan pengosongan lambung menjadi sangat lambat, cairan tidak
berpengaruh dan meninggalkan perut dalam waktu biasa. Mual dan
muntah bisa terjadi sampai ibu mencapai kehamilan kala I.
8.

Hematologi
Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gr / 100 ml selama persalinan
dan akan kembali sebelum persalinan sehari pasca persalinan, kecuali
terdapat perdarahan post partum.
Perubahan psikologis pada kala I
Asuhan yang bersifat mendukung selama persalinan merupakan
suatu standar pelayanan kebidanan. Ibu yang bersalin biasanya mengalami
perubahan emosional yang tidak stabil (Rohani, dkk 2011).
Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah
lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara
berlangsung selama 2 jam dan pada multipara 1 jam.
Tanda dan Gejala Kala II

1.

His semakin kuat, dengan interval 2-3 menit.

2.

Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

3.

Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina.

4.

Perinium terlihat menonjol.

41

5.

Vulva-vagina dan spingter ani terlihat membuka.

6.

Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.


Diagnosis Kala II ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang
menunjukkan:

1.

Pembukaan serviks telah lengkap.

2.

Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina.


Tabel 2.1 Lamanya persalinan (Rohani, dkk. 2011)
Lamanya Persalinan
Primipara
Kala I
13 jam
Kala II
1 jam
Kala III
jam
Total
14 jam

Multipara
7 jam
jam
jam
7 jam

Penatalaksanaan Fisiologis Kala II


Penatalaksanaan pada prinsip bahwa kala II merupakan pristiwa
normal yang diakhiri dengan kelahiran normal tanpa adanya intervensi.
Saat pembukaan sudah lengkap, anjurkan ibu untuk meneran sesuai
dengan dorongan alamiahnya dan beristirahat diantara 2 kontraksi. Jika
menginginkan, ibu dapat mengubah posisinya, biarkan ibu mengeluakan
suara selama persalinan dan proses kelahiran berlangsung ( Rohani, dkk
2011).
Pada permulaan kala II, umumnya kepala janin telah masuk ruang
panggul. Ketuban yang menonjol biasanya akan pecah sendiri. Apabila
belum pecah, ketuban harus dipecahkan. His datang lebih sering dan lebih

42

kuat, lalu timbullah his mengedan. Penolong harus telah siap memimpin
persalinan.
Ada 2 cara ibu mengedan,
1.

Posisi berbaring sambil merangkul kedua pahanya dengan kedua lengan


sampai batas siku. Kepala diangkat sedikit hingga dagu mengenai dada,
mulut dikatup.

2.

Dengan sikap seperti diatas, tetapi badan miring kearah terdapatnya


punggung janin dn hanya satu kaki yang dirangkul, yaitu yang sebelah
atas. (Sofian.2011)
Perubahan Psikologi Kala II
Pada kala II, his terkoordinasi kuat, cepat, dan lebih lama kira-kira
2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun dan masuk ruang panggul
sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara
reflektoris menimbulkan rasa ingin meneran. Karena tekanan rektum, ibu
merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada
waktu terjadinya his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, dan
perineum meregang dengan his meneran yang terpimpin, maka akan lahir
kepala diikuti oleh seluruh badan janin.
Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)
Kala III Persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir
dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
Perubahan Fisiologis Kala III

43

Pada kala III persalinan, otot uterus menyebabkan berkurangnya


ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah lahirnya bayi. Penyusutan
ukuran rongga uterus ini menyebabkan implantasi plasenta karena tempat
implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak
berubah. Oleh karena itu plasenta akan menekuk, menebal, kemudian
terlepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun kebagian
bawah uterus atau bagian atas vagina (APN 2007).
Perubahan Psikologis Kala III
1.

Ibu ingin melihat, menyentuh, dan memeluk bayinya.

2.

Merasa gembira, lega, dan bangga akan dirinya ; juga merasa sangat lelah.

3.

Memusatkan diri dan kerap bertanya apakah vaginanya perlu dijahit.

4.

Menaruh perhatian terhadap plsenta.


Kala IV (Kala Pengawasan)
Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam
setelah proses tersebut. Observasi yang harus dilakukan pada kala IV.

1.

Tingkat kesadaran.

2.

Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, dan pernafasan.

3.

Kontraksi uterus.

4.

Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya


tidak melebihi 400-500 cc.
Asuhan dan pemantauan pada kala IV

44

1.

Lakukan rangsangan taktil (seperti pemijatan) pada uterus, untuk


merangsang uterus berkontraksi.

2.

Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang


antara pusat dan fundus uteri.

3.

Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan.

4.

Periksa perineum dari perdarahan aktif (misalnya apakah ada laserasi atau
episiotomi).

5.

Evaluasi kondisi ibu secara umum.

6.

Dokumnetasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan


dihalaman belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah
penilaian dilakukan.
Pemantauan keadaan umum ibu pada kala IV
Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu disebabkan
oleh perdarahan pasca persalinan dan terjadi dalam 4 jam pertama setelah
kelahiran bayi. Karena alasan ini, penting sekali untuk memantau ibu
secara ketat segera setelah setiap tahapan atau kala persalinan diselesaikan.
Hal-hal yang perlu dipantau selama 2 jam pertama pasca persalinan.

1.

Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan perdarahan
setiap 15 menit dalam 1 jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam
kedua pada kala IV.

2.

Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras, setiap 15 menit


dalam 1 jam pertama dan setiap 30 menit dalam jam kedua kala IV.

45

3.

Pantau suhu ibu satu kali pada jam pertama dan satu kali pada jam kedua
pasca persalinan.

4.

Nilai perdarahan, periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam 1


jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.

5.

Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai tonus dan perdarahan


uterus, juga bagaimana melakukan pemijatan jika uterus menjadi lemberk.
(Rohani, dkk 2011)

2.4. Kecemasan dalam Persalinan


2.4.1. Faktor

Ibu

yang

Mengalami

Kecemasan

Dalam

Menghadapi

Persalinan.
1.

Umur
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu
keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati.

a.

Usia 19 Tahun
Wanita yang lebih muda dan tidak menikah lebih cenderung beresiko
mengalami peningkatan disstres emosional.
Kehamilan remaja umumnya terkait dengan pendidikan dan karier di
masa depan,implikasi finansial tentang perawatan anak, kurang pengetahuan
tentang mengasuh anak dan pergumulan psikologis karena saat ini ia sedang
berada dalam tahap pembentukan identitas diri.

b.

Usia 20-35 Tahun


Pada spektrum usia subur terdapat persepsi umum yang setara bahwa
wanita yang lebih dewasa dapat mempengaruhi kemampuan wanita untuk

46

beradaptasi terhadap kehamilannya.Pada wanita di usia ini mempunyai


presepsi lebih positif terhadap tubuh mereka dibandingkan dengan wanita
yang berusia lebih muda.
c.

Usia 35 Tahun
Wanita yang pertama kali hamil pada usia lebih dari 35 tahun
mempunyai resiko abnormalitas kongenital janin, seperti sindrom down.
Wanita di usia ini memiliki kebutuhan lebih besar untuk ditawarkan
penapisan antenatal maka wanita di usia lebih dari 35 tahun ini cenderung
ditawari melahirkan dengan seksio sesaria. (Henderson dan Jones, 2005).
Adapun pertanyaan yang diajukan untuk umur menurut (Notoatmodjo 2012)
adalah Berapa umur ibu sekarang?

2.

Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan merupakan peran penting dalam proses tumbuh kembang
seluruh kemampuan dan perilaku manusia. Dengan pengetahuan manusia
dianggap akan memperoleh pengetahuan. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, maka akan semakin berkualitas pengetahuan seseorang. Tingkat
pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi

47

seseorang untuk lebih mudah menerima ide teknologi baru (Notoatmojo,


2003).
Wanita-wanita intlektual biasanya menghadapi kehamilan dan
kecemasan itu secara objektif-rasional walaupun seringkali diliputi
pengharapan dan antisipasi, pengalaman-pengalaman tersebut dapat
memperkaya dan lebih mematangkan dirinya.Pada wanita non intlektual
seringkali mengganggap kehamilannya sebagai proses biologis yang sangat
berat dan membebani dirinya, mereka tidak menunjukkan pengertian dan
simpati terhadap arti dari peristiwa kehamilan (Kartono,2005). Adapun
pertanyaan yang diajukan untuk pendidikan menurut (Notoatmodjo 2012)
adalah apa pendidikan terakhir ibu ?
3.

Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan
oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu
tugas

atau

kerja

yang

menghasilkan uang bagi

seseorang.

Dalam

pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.


Pengalaman dan pendidikan seseorang dari sejak kecil akan
mempengaruhi sikap dan penampilan seseorang. Hurlock mengemukakan
bahwa kesesuaian antara pekerjaan dalam diri seseorang memberikan kesan
dan pengetahuan (Hurlock. 2003). Diketahui ibu yang bekerja lebih aktif
dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja atau ibu yang bekerja lebih
stabil dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.Wanita yang bekerja
memiliki toleransi yang lebih besar terhadap penderitaan dan rasa sakit

48

ketika melahirkan bayinya (Kartono, 2005). Adapun pertanyaan yang


diajukan untuk pekerjaan menurut (Notoatmodjo 2012) adalah apa kegiatan
ibu sehari-hari ?
4.

Kunjungan Antenatal
Kunjungan antenatal yaitu pemeriksaan berkala yang dilakukan ibu
hamil yang bertujuan untuk mengetahui keadaan dirinya dan bayinya serta
mendapatkan pendidikan kesehatan seputar ibu hamil, persalinan, nifas dan
perawatan bayi serta tanda-tanda bahaya disetiap tingkatannya.
Banyak wanita hamil menyadari kenyataan adanya bayi , terutama
saat pertama kali gerakan janin dirasakan, beberapa wanita mengadopsi
sikap yang lebih positif terhadap kehamilan mereka pada saat ini.Oleh
karena itu, asuhan antenatal memberi kesempatan pada wanita untuk
mengenal bayinya sebelum lahir dapat membantu meminimalkan disstres.
Teknik pemindaian simpatis (USG) dapat digunakan untuk membantu
wanita menyesuaikan diri secara positif terhadap kehamilannya dan, selain
itu, dapat membantu ayah untuk lebih mudah beradaptasi (Henderson dan
Jones, 2005). Adapun pertanyaan yang diajukan untuk kunjungan antenatal
menurut (Notoatmodjo 2012).

5.

Dukungan Suami dan Keluarga


Dukungan sosial merupakan bantuan yang diterima individu dari
orang-orang tertentu dalam kehidupannya dan berada dalam lingkungan
sosial tertentu seperti suami, orangtua, mertua, teman atau tetangga yang
membuat penerima merasa diperhatikan, dihargai dan dicintai.

49

Wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangannya selama


hamil dan merasa bahagia dengan pernikahannya menunjukkan gejala emosi
yang lebih ringan dan sedikit komplikasi persalinan dan lebih mudah dalam
penyesuaian selama masa nifas.
Suami dapat memberikan dukungan dengan mengerti dan memahami
setiap perubahan yang terjadi pada istrinya, memberikan perhatian dengan
penuh kasih sayang dan berusaha meringankan beban kerja istri.
Dukungan keluarga dapat berupa mengunjungi ibu serta dalam
pelaksanaan ritual adat yang pada beberapa orang mempunyai arti tersendiri
yang tidak boleh diabaikan. (Ai Yeyeh 2009). Adapun pertanyaan yang
diajukan untuk dukungan keluarga menurut (Notoatmodjo 2012) adalah 1)
Saya jarang ditemani suami dan keluarga saat memeriksakan kehamilan
saya 2) Saya khawatir apabila suami dan keluarga saya tidak mendampingi
saat persalinan.
Kecemasan menghadapi proses persalinan adalah respon emosi
terhadap stres dan emosi negatif yang ditandai dengan perasaan ketakutan
dan kekhawatiran yang mendalam yang berkelanjutan terhadap suatu proses
pengeluaran hasil konsepsi ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau
jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan yang dilakukan oleh tubuh
wanita.
Kecemasan merupakan implementasi rasa aman terhadap situasi yang
mengancam, kecemasan dapat timbul ketika individu menghadapi

50

pengalaman-pengalaman baru seperti saat sedang manjalani kehamilan dan


persalinan. Sebab terjadinya kecemasan tersebut antara lain:
1.

Takut Mati
Sekalipun peristiwa kelahiran itu merupakan suatu fenomena
fisiologis yang normal, namun hal-hal tersebut tidak kalis dari risiko-risiko
dan bahaya kematian. Bahkan pada proses kelahiran yang normal sekalipun
senantiasa disertai pendarahan dan kesakitan-kesakitan hebat. Peristiwa
inilah yang menimbulkan ketakutan-ketakutan, khususnya takut mati, baik
kematian dirinya sendiri, maupun anak bayi yang akan dilahirkan.

2.

Trauma Kelahiran
Trauma kelahiran ini berupa ketakutan akan berpisahnya bayi dari
rahim ibunya, ketakutan berpisah ada kalanya menghinggapi seorang ibu
yang merasa amat takut kalau bayinya akan berpisah dari dirinya, seolaholah ibu tersebut menjadi tidak mampu menjamin keselamatan bayinya.

3.

Perasaan Berdosa atau Bersalah Terhadap Ibunya


Sering kita jumpai adat kebiasaan sejak zaman dahulu sampai
sekarang berupa

a.

Orang lebih suka dan merasa lebih mantap kalau ibunya (nenek sang bayi)
menunggui ketika melahirkan bayinya.

b.

Maka menjadi sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut pada saat anaknya
melahirkan oroknya.

4.

Ketakutan Melahirkan

51

Ketakutan melahirkan berhubungan dengan proses melahirkan yang


berkaitan dengan ibu, kejadian melahirkan merupakan peristiwa besar yang
membawa ibu berada antara hidup dan mati, menyebabkan ibu merasa
cemas akan keadaannya, dukungan yang penuh dari anggota keluarga
penting artinya bagi seorang ibu bersalin terutama dukungan suami sehingga
memberikan support moril terhadap ibu. (Kartono.2005)
2.5. Dampak kecemasan yang dialami oleh ibu hamil primigravida.
1.

Pada proses kelahiran bayi.


Banyak orang berspekulasi tentang mudah atau sulitnya aktivitas
melahirkan bayi itu, dengan membandingkan prosesnya diantara berbagai
suku bangsa yang mempunyai bermacam-macam kebudayaan. Orang
menyebut beberapa faktor penyebab mudah sulitnya aktivitas melahirkan
bayi, antara lain ialah :

a.

Perbedaan iklim dan lingkungan sosial, yang mempengaruhi fungsi-fungsi


kelenjar endokrin dan kelenjar endokrin ini sangat penting fungsinya pada
saat melahirkan bayi.

b.

Cara hidup yang baik atau cara hidup yang sangat ceroboh dari wanita yang
bersangkutan. Sebab cara hidup tersebut. Terutama cara hidup seksualnya,
mempengaruhi kondisi rahim dan organ genetalianya.

c.

Kondisi otot-otot panggul wanita.

d.

Kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan (Kartono 2005).

2.

Pada proses perawatan bayi selanjutnya.

52

Keadaan dimana ibu merasa sedih berkaitan dengan bayinya disebut


baby blues. Penyebabnya antara lain : perubahan perasaan saat hamil
(kecemasan), perubahan fisik dan emosional. Perubahan yang ibu alami
akan kembali secara perlahan setelah beradaptasi dengan peran barunya..
Gejala baby blues antara lain:
a.

Menangis

b.

Sulit tidur

c.

Gelisah

d.

Perubahan perasaan

e.

Cemas

f.

Kesepian

g.

Tidak menyukai dan takut menyentuh bayinya

h.

Penurunan libido

i.

Kurang perhatian terhadap penampilannya sendiri

j.

Penurunan/peningkatan berat badan

k.

Perasaan bersalah dan putus harapan

l.

Kurang percaya diri dalam perawatan bayinya


Beberapa faktor predisposisinya antara lain:

a.

Perubahan hormonal yang cepat.

b.

Masalah medis dalam kehamilan

c.

Karakter pribadi

d.

Ketidakmampuan membina hubungan dengan orang lain

e.

Riwayat depresi

53

f.

Kehamilan yang tidak diinginkan

g.

Terisolasi

h.

Kelemahan, kecemasan serta ketakutan-ketakutan terhadap berbagai


masalah yang akan muncul setelah kelahiran bayi (Ambarwati, 2008).

2.6.

Hasil penelitian yang berkaitan

1.

Inka puty larasati, 2010,Puskesmas Jagir Kecamatan Wonokromo Surabaya,


Pengaruh keikutsertaan senam hamil terhadap kecemasan primigravida trimester
ketiga dalam menghadapi persalinan, Untuk mengetahui hubungan antara
kecemasan dengan keikutsertaan dalam senam hamil, Metode dalam penelitian ini
menggunakan metode penelitian observarsional (survei), Hasil didapatkan

responden yang sering mengikuti senam hamil (> 5 kali) seluruhnya tidak
mengalami kecemasan (14,28%), jarang mengikuti senam hamil (1 5 kali)
selama kehamilan trimester ketiga, 22 (39,29%) responden tidak mengalami
kecemasan, 7 (12,5%) responden mengalami cemas ringan dalam menghadapi
persalinan dan 19 responden (33,93%) yang tidak pernah mengikuti senam
hamil
2.

Ayu siska, 2010, Di RSUP DR. Djamil Padang, Gambaran tingkat kecemasan
(Anxiety) terhadap operasi sectio caesarea yang tidak direncanakan, Untuk
mengetahui gambaran tingkat kecemasan terhadap tindakan operasi sectio
caesarea yang tidak direncanakan, Metode yang digunakan yaitu survei
deskriptif, Hasil yang didapatkan yaitu 53,85% mengalami kecemasan pada ibu
multigravida dan 58,82% pada ibu primigravida.

3.

Laili rahmi, 2009, Di RSUP DR. Djamil Padang, Hubungan usia, tingkat
pendidikan, dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan menjelang

54

persalinan pada ibu primigravida trimester III, Untuk mengetahui hubungan


usia, tingkat pendidikan, dukungan suami dan dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan menjelang persalinan pada ibu primigravida trimester III,
Metode yang digunakan yaitu survei analitik, Hasil yang di dapatkan. Terdapat
hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan tingkat kecemasan
menjelang persalinan pada ibu primigravida trimester III .Terdapat hubungan
yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan Menjelang
persalinan pada ibu primigravida trimester III. Tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara usia dengan tingkat kecemasan. Menjelang persalinan pada
ibu primigravida trimester III. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
tingkat pendidikan dengan tingkat Kecemasan menjelang persalinan pada ibu
primigravida trimester III.
4.

Maria rosa lamude, 2009, Rumah sakit umum kota Semarang, Hubungan
support sistem suami dengan tingkat kecemasan ibu dalam proses persalinan
kala I dan kala II, Untuk mengetahui adanya hubungan antara support sistem
suami dengan tingkat kecemasan ibu dalam proses persalinan kala I dan kala II,
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik yang menggunakan
pendekatan crossectional, Hasilnya adalah adanya hubungan antara support
sistem suami dengan tingkat kecemasan ibu dalam proses persalinan kala I dan
kala II.

5.

Ditha arindra, 2009. Di BPS. Ny. Muarofah Asem Rowo Surabaya .Kecemasan
menghadapi persalinan anak pertama pada ibu dewasa awal, Tujuannya untuk
mengetahui kecemasan pada ibu ketika menghadapi persalinan anak pertama
dan mengetahui penyebab kecemasan pada ibu dalam menghadapi persalinan

55

anak pertama, Penelitian ini menggunakan pendahuluan kualitatif, Kecemasan


tertinggi terdapat pada subjek ketiga dan terendah subjek pertama.
6.

Tri indri maharani, 2010, di rumah bersalin Melania, depok, Hubungan antara
dukungan sosial dan kecemasan dalam menghadapi persalinan pada ibu hamil
trimester ketiga, Tujuan penelitian ini ongin memperoleh gambaran atau
deskripsi mengenai hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan pada
wanita hamil trimester ketiga dalam menghadapi persalinan, Menggunakan
metode survei analitik, Hasil subjek penelitian yang memiliki dukungan sosial
yang rata-rata tinggi dan kecemasan dalam menghadapi persalinan rendah.

BAB 3
KERANGKA KONSEP

Menurut Notoatmojo (2012). Konsep merupakan suatu abstraksi yang


dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Kerangka konsep

56

penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang


diinginkan, diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan.
Berdasarkan pada latar belakang dan landasan teori, maka dalam penelitian ini
dibuat kerangka konsep seperti berikut:

Ibu Primigravida

Hal-hal yang mempengaruhi


kecemasan:

Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Kunjungan Antenatal
Dukungan Sosial

Tingkat
Kecemasan

Ringan
Sedang
Berat
Panik

Keterangan
: Diteliti

: Tidak di Teliti
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Gambaran Kecemasan Primigravida dalam
Menghadapi Persalinan ( Modifikasi teori 1) Kartini kartono, 2005,
2) Henderson dan Jones, 2005,3) Stuart, 2006, 4) Notoatmodjo,
2012)

57

BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Desain Penelitian


Desain dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif.
Menurut Notoatmodjo (2012), penelitian deskriptif dilakukan terhadap
sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran
fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu.
Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Gambaran Kecemasan Ibu
Primigravida dalam Menghadapi Persalinan di Puskesmas Tanjung Karang.
4.2. Kerangka Kerja
Populasi
Penetapan Sampel ( Kriteria
Inklusi)
Probability Sampling
Infomed Consent
Pengumpulan Data dengan Check List

Tabulasi Data Sesuai


Variabel yang Diukur
Pengolahan Data

Analisis Data

Gambar 4.1. Kerangka Kerja

Hasil

Kesimpulan

58

4.3. Populasi, Sample dan Teknik Sampling


4.3.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek
yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti ukntuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Alimul
aziz 2012). Populasi yang akan digunakan yaitu ibu hamil primigravida
yang kehamilannya memasuki usia kehamilan 38 - 40 minggu pada bulan
Mei 2013 sejumlah 46 orang.
4.3.2 Sampel dan Besar Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti untuk mewakili
seluruh anggota populasi (Notoatmodjo, 2012)
Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka
sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi dan
eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi
oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan
kriteria ekslusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil
sebagai sampel (Notoatmodjo 2012).
a.

Kriteria Inklusi

1.

Ibu yang baru pertama kali hamil (primigravida)

2.

Ibu yang tinggal di wilayah Puskesmas Tanjung Karang dan memeriksakan


kehamilannya di Puskesmas Tanjung Karang.

59

3.

Ibu yang pada bulan Mei usia kehamilannya telah memasuki trimester ke III
minggu ke 38 40.

4.

Bersedia dijadikan responden

5.

Memahami bahasa Indonesia dan bisa baca tulis

b.

Kriteria Ekslusi

1.

Ibu yang sudah hamil beberapa kali (Multigravida)

2.

Ibu yang tidak bersedia dijadikan responden

3.

Ibu yang pada bulan Mei usia kehamilannya belum memasuki trimester ke
III minggu ke 38-40.

4.

Tidak memahami bahasa Indonesia dan tidak bisa baca tulis

5.

Ibu hamil sedang dalam keadaan tidak sehat (sakit)

(Notoatmodjo 2012).
Dalam penelitian ini besar sampel ditentukan dengan menggunakan
metode slovin adalah sebagai berikut:

dimana
n:jumlah sampel
N: jumlah populasi
e:batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Jumlah ibu hamil yang memasuki usia kehamilan 38-40 minggu pada bulan Juli
terdapat : 46 Orang.

n=

60

= 31,5 = 32 Orang
Jadi besar sampel pada penelitian ini adalah 32 orang.
4.3.3. Teknik Sampling
Teknik sampling suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam
penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel akan mewakili
keseluruhan populasi yang ada. Dalam penelitian ini akan digunakan
probability

sampling

yaitu

teknik

pengambilan

sampling

dengan

memberikan peluang yang sama dari setiap anggota populasi, teknik


probability sampling yang digunakan yaitu simple random sampling yaitu
cara pengambilan sample yang dilakukan dengan cara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi.
4.4. Waktu dan Lokasi Penelitian
4.4.1. Waktu penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2013.
4.4.2. Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan di wilayah Puskesmas Tanjung Karang.
Sebelumnya belum pernah dilakukan penelitian tentang Gambaran
kecemasan ibu primigravida dalam menghadapi persalinan.

61

4.5. Identifikasi Variabel


No

Variabel

Definisi Operasional

Parameter

Tingkat
kecemasan
ibu
primigravida

Suatu
ketengangan Perasaan cemas (ansietas)
yang dialami ibu yang a. Cemas
pertama kali hamil b. firasat buruk
dalam
menghadapi c. takut akan pikiran
persalinannya
yang
sendiri
usia
kehamilannya d. mudah tersinggung
memasuki 38 40 Ketegangan
minggu pada bulan - merasa tegang
Mei.
- lesu
- tidak bisa istirahat
tenang
- mudah terkejut
- mudah menangis
- gemetar
- gelisah
Ketakutan
a. pada gelap
b. pada orang asing
c. ditinggal sendiri
d. pada binatang besar
e. pada keramaian lalu
lintas
f. pada
kerumunan
orang banyak
Gangguan tidur
a. Sukar masuk tidur
b. terbangun
malam
hari
c. tidur tidak nyenyak
d. bangun dengan lesu
e. banyak
mimpimimpi
f. mimpi buruk
g. mimpi menakutkan
Gangguan kecerdasan
a. sukar konsentrasi
b. daya ingat menurun
c. daya ingat buruk
Perasaan depresi (murung)
a. hilangnya minat
b. berkurangnya

Alat
Ukur
Check
list

Skala
Ukur
Ordinal

Skor
Penilaian
14 20
ringan
21 27
sedang
28 41
berat
42 56
panik

=
=
=
=

62

kesenangan
pada
hobi
c. sedih
d. bangun dini hari
e. prasaan
berubahubah sepanjang hari
Gejala somatik/fisik (otot)
a. sakit dan nyeri di
otot-otot
b. kaku
c. kedutan otot
d. gigi gemerutuk
e. suara tidak stabil
Gejala
somatik/fisik
(sensorik)
a. tinitus
(telinga
berdenging)
b. penglihatan kabur
c. muka merah atau
pucat
d. merasa lemas
e. perasaan
ditusuktusuk
Gejala kardiovaskuler
(jantung dan pembuluh
darah)
a. takikardia (denyut
jantung cepat)
b. berdebar-debar
c. nyeri di dada
d. denyut
nadi
mengeras
e. rasa
lesu/lemas
seperti mau pingsan
f. detak
jantung
menghilang
(berhenti sekejap)
Gejala
respiratori
(pernafasan)
a. rasa tertekan atau
sempit didada
b. rasa tercekik
c. sering menarik nafas
d. nafas pendek/sesak
Gejala

gastrointestinal

63

(pencernaan)
a. sulit menelan
b. perut melilit
c. gangguan
pencernaan
d. nyeri sebelum dan
sesudah makan
e. perasaan
terbakar
diperut
f. rasa penuh atau
kembung
g. mual
h. muntah
i. buang air besar
lembek
j. sukar air besar (
konstipasi)
k. kehilangan
berat
badan
Gejala
urogenital
(
perkemihan dan kelamin )
a. sering buang air
kecil
b. tidak dapat menahan
air seni
c. tidak datang bulan
(tidak ada haid )
d. darah
haid
berlebihan
e. darah haid amat
sedikit
f. masa
haid
berkepanjangan
g. masa haid amat
pendek
h. haid beberapa kali
dalam sebulan
i. menjadi
dingin
(frigid )
j. ejakulasi dini
k. ereksi melema
l. ereksi hilang
m. impotensi
Gejala autonom
- mulut kering
- muka merah

64

- mudah berkeringat
- kepala pusing
- kepala terasa berat
- kepala terasa sakit
- bulu-bulu berdiri
Tingkah laku (sikap) pada
wawancara
a. gelisah
b. tidak senang
c. jari gemetar
d. kerut kening
e. muka tegang
f. otot
tegang/mengeras
g. nafas pendek dan
cepat
h. muka merah
Tabel 4.1 Notoatmodjo 2012, Metode Penelitian Kesehatan.
4.6. Instrumen Penelitian
Instrumen

penelitan

adalah

alat-alat

yang

digunakan

untuk

pengumpulan data ( Notoatmodjo 2012).


Alat ukur yang digunakan dalam penelitan ini berupa check list adalah
suatu daftar untuk men cek dengan meberikan tanda pada daftar
yang telah di siapkan, hanya mencatat ada atau tidaknya suatu gejala (
Notoatmodjo 2012). Adapun item tersebut terdiri dari 14 item dengan
kriteria gejala sebagai berikut 1) Perasaan cemas (ansietas) dengan kriteria
cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung; 2)
Ketegangan dengan kriteria merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat tenang,
mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah; 3) Ketakutan dengan
kriteria pada gelap, pada orang asing, ditinggal sendiri, pada binatang besar,
pada keramaian lalu lintas, pada kerumunan orang banyak; 4) Gangguan

65

tidur dengan kriteria sukar masuk tidur, terbangun malam hari, tidur tidak
nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpi-mimpi, mimpi buruk, mimpi
menakutkan; 5) Gangguan kecerdasan dengan kriteria sukar konsentrasi,
daya ingat menurun, daya ingat buruk ; 6) Perasaan depresi (murung)
(hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini
hari, prasaan berubah-ubah sepanjang hari; 7) Gejala somatik/fisik (otot)
dengan kriteria sakit dan nyeri di otot-otot, kaku, kedutan otot, gigi
gemerutuk, suara tidak stabil; 8) Gejala somatik/fisik (sensorik) dengan
kriteria tinitus (telinga berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau
pucat, merasa lemas, perasaan ditusuk-tusuk; 9) Gejala kardiovaskuler
(jantung dan pembuluh darah) dengan kriteria takikardia (denyut jantung
cepat), berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/lemas
seperti mau pingsan, detak jantung menghilang (berhenti sekejap); 10)
Gejala respiratori (pernafasan) dengan kriteria rasa tertekan atau sempit
didada, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek/sesak; 11) Gejala
gastrointestinal (pencernaan) dengan kriteria sulit menelan, perut melilit,
gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar
diperut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah, buang air besar lembek,
sukar air besar ( konstipasi), kehilangan berat badan; 12) Gejala urogenital (
perkemihan dan kelamin ) dengan kriteria sering buang air kecil, tidak dapat
menahan air seni, tidak datang bulan (tidak ada haid ), darah haid
berlebihan, darah haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid
amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin (frigid ),

66

ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang, impotensi; 13) Gejala


autonom dengan kriteria mulut kering, muka merah, mudah berkeringat,
kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit, bulu-bulu berdiri; 14)
Tingkah laku (sikap) pada wawancara dengan kriteria gelisah, tidak senang,
jari gemetar, kerut kening, muka tegang, otot tegang/mengeras, nafas
pendek dan cepat, muka merah).
Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan
kategori:
0: Tidak ada gejala dari pilihan yang ada
1: Satu gejala dari pilihan yang ada
2: Kurang dari separuh dari pilihan yang ada
3: Separuh atau lebih dari pilihan yang ada
4: Semua gejala ada ( Suliswati, 2005).
4.7. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data
4.7.1. Lembar Persetujuan (Informed Consent)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responden penelitian. Tujuannya adalah agar responden mengerti
maksud dan tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya.
4.7.2. Pengumpulan Data
Setelah itu peneliti melakukan pengumpulan data dengan tabel
observasi berupa check list.

67

4.7.3. Verifikasi Data


Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden untuk
menghindari kesalahan ataupun kekurangan identitas responden serta
mengecek kelengkapan data yaitu memeriksa kelengkapan pengisian
instrumen pengumpulan data.
4.7.4. Pengolahan dan Penyajian Data
1. Membuat lembar kode (coding sheet)
Tabel . 4.2. Lembar kode (coding sheet), Notoatmodjo 2012
Item Cek list
Jumlah

No
1

10

11

12

13

14

1
2
3
32

2. Memasukkan Data (Data Entry)


Yakni mengisi kolom- kolom atau kotak-kotak lembar kode atau
kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.
3. Tabulasi
Yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian
atau yang diinginkan oleh peneliti.

68

4.8. Analisa Data


Dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif yaitu analisa
yang paling mendasar untuk menggambarkan keadaan data secara umum
yaitu dalam penelitian ini untuk menggambarkan tingkat kecemasan
ringan, sedang, berat dan panik yang hasilnya berupa jumlah dan
persentase dari setiap kategori.
4.9. Etika Penelitian
4.9.1. Prinsip-Prinsip Petunjuk Etika Penelitian
1.

Prinsip manfaat
Dengan berprinsip pada aspek manfaat, maka segala bentuk
penelitian yang dilakukan memiliki harapan dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan manusia.

2.

Prinsip menghormati manusia


Manusia memiliki hak dan makhluk yang mulia yang harus
dihormati, karena manusia memiliki hak dalam menentukan pilihan antara
mau dan tidak untuk diikut sertakan menjadi subjek penelitian.

3.

Prinsip keadilan
Prinsip ini dilakukan untuk menjunjung tinggi keadilan manusia
dengan menghargai hak atau memberikan pengobatan secara adil, hak
menjaga privasi manusia, dan tidak berpihak dalam perlakuan terhadap
manusia.

69

4.9.2. Masalah Etika Penelitian


1.

Informed consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

2.

Anonimity (tanpa nama)


Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan
atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya
menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang
akan disajikan.

3.

Kerahasiaan
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasian penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya.

70

BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang


5.1.1 Letak Geografis
Puskesmas Tanjung Karang seperti halnya puskesmas lain di Indonesia
berdasarkan pada KEPMENKES No.128 Tahun 2008, sebuah unit pelaksanaan
teknik (UPT) Dinas Kesehatan Kota Mataram yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah
kecamatan yang dalam hal ini yaitu wilayah kecamatan Ampenan dan Sekarbela
kota Mataram. Keadaan geografis Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
sebagian besar berupa dataran pinggir pantai dan sebagian lainnya daerah dataran
rendah.
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang yang daerahnya berupa dataran
rendah adalah kelurahan Kekalik Jaya dan Taman Sari.Luas Wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang adalah 7.533 km yang terdiri dari 6 kelurahan
dengan batas wilayah sebagai berikut:
1.

Sebelah Utara

: Berbatasan dengan kelurahan Ampenan Tengah, Wilayah

kerja Puskesmas Ampenan.


2.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan kecamatan Mataram, Wilayah kerja


Puskesmas Pagesangan.

3.

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan kelurahan Karang Pule, Wilayah kerja


Puskesmas Karang Pule.

71

4.

Sebelah Barat

: Berbatasan dengan selat Lombok.

5.1.2 Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang


1. Kepadatan Penduduk
Jumlah kepadatan penduduk yang dilayani di wilayah kerja puskesmas
Tanjung Karang adalah 40.231 jiwa yang tersebar di 6 kelurahan. Penduduk
terpadat berada dikelurahan Tanjung Karang Permai yaitu berjumlah 8.630
jiwa, kemudian disusul dengan kelurahan Ampenan Selatan yang berjumlah
6.735 jiwa, dan kelurahan Kekalik Jaya 8.171 jiwa, Kelurahan Banjar 6.735
jiwa, kelurahan Taman Sari 5.502 jiwa, kelurahan Tanjung Karang 2.300 jiwa.
Sedangkan kelurahan terluas adalah Tanjung Karang dan luas wilayah terkecil
adalah Tanjung Karang Permai.
Perbandingan antara penduduk berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan adalah 20.469 jiwa (47,78%) dengan 22.402 jiwa (52,22%).
Kebanyakan penduduk tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
bekerja dibidang perdagangan, nelayan, jasa angkutan dan industri pengolahan.
2. Sarana/ tempat pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan lingkup kerja Puskesmas Tanjung Karang
selain Puskesmas induk juga memiliki 2 Puskesmas Pembantu (pustu) yaitu
Pustu Ampenan Selatan dan Pustu di Tanjung Karang tepatnya di wilayah
Perumnas. Dengan 2 buah polindes di Ampenan Selatan dan 1 buah polindes di
wilayah Kekalik Jaya dimana bidan desanya menetap di polindes.

72

3. Sumber Daya Tenaga Kesehatan


Jumlah tenaga pada lingkup Puskesmas Tanjung Karang tahun 2012
adalah 46 orang yang terdiri dari 38 (80,85%) tenaga PNS dan 8 (19,15%)
tenaga mengabdi/sukarela. Dari jumlah 46 orang tenaga yang ada, sebagian
besar adalah tenaga paramedik perawatan (perawat, perawat gigi, dokter dan
bidan) dan para non medik perawatan (Sarjana kesehatan, sanitarian, ahli gizi,
analis kesehatan dan asisten apoteker).
Tabel 5.1 Data Ketenagakerjaan
No
1

Jenis Tenaga *
Medik
- Dokter umum
- Dokter gigi
Serjana kesehatan
- S. Kep
- SKM
Paramedik perawatan
- S. Kep. Ners
- D3 Keperawatan
- SPK
- D3 Kebidanan
- Bidan
- SPRG
Paramedik non perawatan
- AKL/APK
- AAK
- AKZI
- DIII FARMASI
- SPAG
- SPPH
- SMF/SAA
- Pekarya kesehatan
- SMAK
Non medik
- Sarjana (S1)
- Sarjana muda (DIII)
- SMU
- SMP
- SD
Jumlah

*Data Profil PKM Tanjung Karang.

Jumlah
3
1
7
9
7
2
2
3
2
1
2
2
1
1
1
2
46 Orang

73

5.2 Hasil Penelitian


5.2.1 Karakteristik Umum Responden
Gambaran karakteristik umum responden yang akan dijelaskan meliputi
umur, pendidikan, pekerjaan, kunjungan antenatal dan dukungan keluarga
yang dideskripsikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berikut ini:
1.

Berdasarkan Umur
Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan umur dapat terlihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Wilayah
kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Umur
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
< 20 tahun
5
15,62 %
2
20 35 tahun
25
78,12 %
3
> 35 tahun
2
6,25 %
Jumlah
32
100 %
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden mempunyai umur antara 20-35 tahun yaitu sebanyak 25 orang
(78,12%), dan usia responden yang paling sedikit adalah > 35 tahun
sebanyak 2 orang (6,25%).

2.

Berdasarkan Pendidikan
Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat
terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Pendidikan
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
SD
3
9,37 %
2
SMP
7
21,87 %

74

3
SMA
4
PT
Jumlah
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.

19
3
32

59,37 %
9,37 %
100

Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar


responden yaitu lebih dari setengah responden berpendidikan SMA yaitu
sebanyak 19 orang (59,37%) dan yang paling sedikit adalah responden yang
memiliki tingkat pendidikan PT yaitu 3 orang (9,37%).
3.

Berdasarkan Pekerjaan
Hasil identifikasi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dapat
terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Pekerjaan
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
IRT
21
65,62 %
2
Swasta
9
28,12 %
3
PNS
2
6,25 %
4
Lain-lain
0
0
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat diketahui bahwa lebih dari setengan
responden yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga (IRT) yaitu
sebanyak 21 orang (65,62%) dan paing sedikit adalah responden yang
bekerja sebagai PNS yaitu 2 orang (6,%).

75

4.

Berdasarkan Kunjungan Antenatal


Hasil identifikasi karakteristik responden berdasarkan kunjungan antenatal
dapat terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kunjungan
Antenatal di Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun
2013
No
Kunjungan Antenatal
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
< 4 kali
6
18,25 %
2
> 4 kali
26
81,25 %
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat diketahui bahwa lebih dari setengan
responden yang melakukan kunjungan antenatal > 4 kali yaitu sebanyak 26
orang (81,25%) serta yang < 4 kali yaitu sebanyak 6 orang (18,25%).

5.

Berdasarkan Dukungan Sosial


Hasil Identifikasi karakteristik responden berdasarkan dukungan sosial
dapat terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Sosial di
Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013
No
Dukungan Sosial
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)
1
Ia
29
90,62 %
2
Tidak
3
9,37 %
Jumlah
32
100
Sumber : Data Primer Penelitian, 2013.
Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar
responden yang mendapat dukungan sosial yaitu sebanyak 29 orang (90,
62%) dan yang kurang mendapat dukungan sosial yaitu sebanyak 3 orang
(9, 37%).

76

5.2.2 Tingkat Kecemasan


Tingkat kecemasan pada ibu
Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada ibu dapat dilihat pada
table 5.7 berikut:
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pada Ibu Dalam
Menghadapi Persalinan di Puskesmas Tanjung Karang bulan
Juli tahun 2013
No

Tingkat Kecemasan

Tidak mengalami
kecemasan
2
Ringan
3
Sedang
4
Berat
5
Panik
Jumlah

Frekuensi
(N)
10

Persentase
(%)
31, 25 %

6
14
2
0
32

18,75 %
43, 75 %
6,25 %
0
100

Berdasarkan table 5.7 diatas terlihat dari 32 responden sebagian besar


responden 14 orang (43,75%) memiliki tingkat kecemasan sedang dan
sebagian kecil responden 2 orang (6,25%) memiliki tingkat kecemasan
berat.
5.3 Pembahasan
5.3.1 Karakteristik Demografi Responden
1. Umur
Hasil penelitian pada tabel 5.2 dan lampiran 3 diketahui bahwa sebagian
besar responden mempunyai umur antara 20-35 tahun yaitu sebanyak 25 orang
(78,12%), dimana terdapat 10 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pada
umur < 20 tahun sebanyak 5 orang terdapat 3 orang yang mengalami tingkat

77

kecemasan sedang dan yang berumur > 35 tahun sebanyak 2 orang dan terdapat
2 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang.
Berdasarkan hasil tersebut berarti bahwa sebagian besar responden
mempunyai usia pada masa remaja dewasa dan masih dalam masa produktif
dalam usia 20-35 ini selain memiliki tingkat kematangan diri yang cukup pada
wanita usia 20-35 resiko komplikasi serta abnormalitas rendah. Pada wanita
yang melahirkan lebih muda mempunyai kecendrungan mengalami distrees
emosional menjelang menghadapi persalinan, selain itu pula wanita yang telah
berusia > 35 tahun mempunyai resiko komplikasi persalinan dan abnormalitas
kongenital hal ini menyebabkan kecemasan pada ibu dengan usia > 35 tahun.
Pada spektrum usia subur terdapat persepsi umum yang setara bahwa
wanita yang lebih dewasa dapat mempengaruhi kemampuan wanita untuk
beradaptasi terhadap kehamilannya (Henderson dan Jones, 2005).
2. Pendidikan
Hasil penelitian pada tabel 5.3 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
berpendidikan hampir dari setengah responden berpendidikan SMA yaitu
sebanyak 19 orang (59,37%) terdapat 7 orang yang tidak mengalami
kecemasan dan paling sedikit mempunyai pendidikan PT (perguruan tinggi)
sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 3 orang yang tidak mengalami kecemasan
dan SD sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 2 orang yang mengalami tingkat
kecemasan sedang dan yang berpendidikan SMP terdapat 7 orang (21,87 %)
terdapat 6 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang.

78

Berdasarkan hasil tersebut berarti menunjukkan bahwa sebagian besar


responden sudah memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik. Pada wanita
yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik akan mempengaruhi
seseorang dalam

menerima

ide

baru

hal

ini

mempengaruhi

dapat

mempengaruhi kecemasan pada saat menghadapi persalinan dikarenakan ibu


yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dapat menerima proses demi
proses dalam kehamilannya sebagai suatu hal yang biologis sedangkan pada
ibu yang berpendidikan rendah sering kali mengalami kecemasan dikarenakan
proses kehamilan tersebut dianggap sebagai hal yang membebani dirinya serta
kurang dapat menerima ide baru.
Wanita-wanita intelektual biasanya menghadapi kehamilan dan kecemasan
itu secara objektif-rasional walaupun seringkali diliputi penghargaan dan
antisipasi, pengalaman-pengalaman tersebut dapat memperkaya dan lebih
mematangkan dirinya (Kartono 2005).
3. Pekerjaan
Hasil penelitian pada tabel 5.4 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
mempunyai pekerjaan hampir dari setengah responden tidak bekerja atau
sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 21 orang (65,62%) terdapat 8
orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang sedangkan paling sedikit
responden mempunyai pekerjaan sebagai PNS yaitu sebanyak 2 orang (6,25%)
terdapat 2 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pekerjaan swasta sebanyak
9 orang (28,12 %) terdapat 4 orang yang tidak mengalami kecemasan.

79

Diketahui ibu yang bekerja memiliki toleransi terhadap penderitaan dan


rasa sakit ketika melahirkan bayinya (Kartono, 2005). Sehingga ibu yang
bekerja dapat memahami rasa sakit sebagai suatu hal yang biologis sehingga
dapat meningkatkan adaptasi ibu terhadap kehamilannya dan meminimalkan
tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan.
4. Kunjungan Antenatal
Hasil penelitian pada tabel 5.5 dan lampiran 3 diketahui bahwa responden
sebagian besar telah melakukan kunjungan antenatal > 4 kali yaitu sebanyak 26
orang (81,25%) terdapat 10 orang yang mengalami tingkat kecemasan sedang
dan 10 orang yang tidak mengalami kecemasan. Pada ibu yang melakukan
kunjungan antenatal < 4 kali terdapat 6 orang (18,25 %) terdapat 4 orang yang
mengalami tingkat kecemasan sedang . Hal ini menggambarkan telah tingginya
angka kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan hal
tersebut juga dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan sudah cukup tinggi.
Asuhan antenatal memberikan kesempatan pada wanita untuk mengenal
bayinya sebelum lahir dapat meminimalkan disstres (Henderson dan Jones,
2005). Dengan ibu mengetahui kondisi perkembangan bayinya serta dapat
menerima konseling pada saat kunjungan antenatal hal ini dapat meningkatkan
kenyamanan serta ketenangan yang akan sangat berpengaruh pada tingkat
kecemasan ibu yang akan mengahadapi persalinannya.
5. Dukungan Sosial
Hasil penelitian pada tabel 5.6 dan lampiran 3diketahui bahwa hanya
sebagian kecil saja dari para ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan

80

sosial yaitu sebanyak 3 orang (9,37%) terdapat 2 orang yang mengalami


tingkat kecemasan berat . Pada ibu yang mendapatkan dukungan sosial yaitu 29
orang (90,62 %) terdapat 13 orang yang mengalami kecemasan sedang hal ini
terlihat pada saat pemeriksaan ibu hamil ibu diantar oleh suami, orang tua,
saudara dan bahkan para tetangga.
Wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangannya selama hamil dan
merasa bahagia dengan pernikahannya menunjukkan gejala emosi yang lebih
ringan dan sedikit komplikasi persalinan dan lebih mudah dalam penyesuaian
masa nifas (Ai Yeyeh, 2009).
5.3.2 Tingkat Kecemasan
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7 dan lampiran 3 diperoleh data
pada primigravida tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan 14
(43,75%) memiliki tingkat kecemasan ringan.
Yang menghadapi tingkat kecemasan berat hanya terdapat 2 orang (6,25%)
dan tidak terdapat ibu yang mengalami tingkat kecemasan panik.Hal ini
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu yang sudah memadai serta umur ibu
hanya sebagian kecil yang berusia < 20 tahun serta kesadaran ibu hamil
primigravida di wilayah kerja puskesmas Tanjung Karang telah memiliki
kesadaran tinggi dalam pemeriksaan ibu hamil hal ini dapat terlihat dari
kunjungan ibu hamil > 4 kali terdapat 26 orang (81,25%) serta dukungan dari
keluarga cukup besar yaitu 29 (90,62%).

81

Menghadapi proses persalinan menimbulkan respon emosi yang umum


ditandai dengan kekhawatiran dan ketegangan menghadapi proses kelahiran
dan persalinan, sehingga cenderung memicu kecemasan baik untuk kelahiran
yang pertama maupun yang kesekian kalinya. Sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa kegelisahan atau kecemasan kadang-kadang berhubungan
dengan pengalaman pun yang pernah dialami kegelisahan atau kecemasan
kadang-kadang berhubungan dengan pengalaman pun yang pernah dialami.
Emosional dan kekhawatiran yang tinggi biasanya tercatat pada wanita-wanita
yang sebelumnya pernah kehilangan bayinya (Kartono, 2005).
Pada proses persalinan kondisi psikis/kejiwaan wanita yang bersangkutan
akan berpengaruh pada aktivitas melahirkan bayi, emosi yang terkontrol akan
memudahkan ibu untuk menyimpan energinya dan menerima arahan oleh
tenaga kesehatan. Selain itu pada perawatan bayi selanjutnya, perasaan saat
hamil (kecemasan), perubahan fisik dan emosional akan dapat berlanjut setelah
kelahiran bayi yaitu pada masa nifas yang disebut dengan baby blues yaitu
dimana ibu akan merasa sedih berkaitan dengan bayinya hal ini akan
berpengaruh pada proses perawatan bayinya (Ambarwati, 2008).
Sementara menurut hasil penelitian orang lain, terdapat penelitian yang
mendukung hasil penelitian antara lain penelitian oleh Maria Rosa Lamunde
tahun 2009 di RSU kota Semarang yang menyatakan bahwa adanya hubungan
antara support sistem suami dengan tingkat kecemasan ibu dalam proses
persalinan kala I dan kala II; demikian pula pada penelitian yang dilakukan Tri
Indri Maharani pada tahun 2010 di Rumah sakit Melania Depok yang

82

menyatakan hasil subyek yang memiliki dukungan sosial yang rata-rata tinggi
dan kecemasan dalam menghadapi persalinan rendah.hal ini sesuai dengan
penelitian yang telah dilakukan yaitu hanya terdapat 2 orang yang memiliki
tingkat kecemasan berat yang terdapat pada ibu yang tidak menerima dukungan
sosial dari keluarga ataupun lingkungannya.
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Laili Rahmi, 2009 di
RSUP DR. Djamil Padang terdapat hasil yang mendukung dan yang tidak
mendukung. Hasil yang mendukung antara lain yaitu a) terdapat hubungan
antara dukungan suami dan tingkat kecemasan, b) terdapat hubungan bermakna
antara dukungan keluarga dan tingkat kecemasan, dan yang tidak mendukung
antara lain yaitu c) tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dan
tingkat kecemasan, d) tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
pendidikan dan tingkat kecemasan. Pada pengaruh usia dan pendidikan hal ini
bertentangan dengan hasil penelitian dikarenakan pada penelitian tingkat
kecemasan berat berada pada usia < 20 tahun serta pada pendidikan yang
memiliki pendidikan PT yang hanya terdapat 3 orang tidak mengalami
kecemasan.

83

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya maka
dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar ibu primigravida mengalami
tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 14 orang (43,75%)
6.1.1 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 10 orang (31,25 %).
6.1.2 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 6 orang (12,5 %).
6.1.3 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 14 orang (43,75 %).
6.1.4 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan berat 2 orang (18,75 %)
6.1.5 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa jumlah responden yang
menggalami tingkat kecemasan berat sekali (panik) tidak ada.
6.2 Saran
6.2.1 Saran Bagi Puskesmas
Disarankan KIE yang baik dan benar dengan jalan menyusun rencana
KIE yang bertahap diharapkan mengurangi kecemasan dalam persalinan
primi dan dalam pertotlongan persalinan melibatkan orang terdekat pasien.

84

6.2.2 Saran Bagi Institusi


Diharapkan untuk dipergunakan sebagai pengembangan bahan bacaan
dan hasil yang berguna dan berguna dan sebagai tambahan bahan pustaka
dan memberikan tambahan teori tentang tingkat kecemasan pada ibu hamil
bagi aktivis Akademik Kebidanan Stikes Yarsi Mataram.
6.2.3 Saran Bagi Ibu Hamil
Bagi para ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang
diharapkan secara rutin memeriksakan kehamilannya petugas kesehatan
untuk mendapatkan pengetahuan umum ibu hamil khususnya yang
mengalami kecemasan dalam menghadapi persalinan.
6.2.4 Bagi Peneliti
Diharapkan peneliti dapat mengaplikasikan teori yang didapat dari
perkuliahan dan menjadikan pengalaman di bidang asuhan kebidanan pada
ibu.

85

DAFTAR PUSTAKA
Ai Yeyeh. 2009. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan).Jakarta: Trans Info Media
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia
Arindra, D. 2009. Kecemasan Menghadapi Persalinan Pada Ibu Dewasa Awal.
Aziz, A. (2009). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Salemba Medika Jakarta.
Hawari, Dadang.2011. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : FKUI
Henderson, Christine dan Jones, Kathleen. 2005. Konsep Kebidanan. Jakarta :
EGC.
Hurlock, Elizabeth B. 2003.Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan.Jakarta : Erlangga
JNPK KR. 2007. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: JNPK KR
Kartono, Kartini. 2005. Psikologi Wanita 2 . Bandung : Mandar Maju
Lamunde, M.R. 2009. Hubungan Support Sistem Suami dengan Tingkat
Kecemasan Ibu dalam Proses Persalinan Kala I dan II.
Larasati, I.P. 2010. Pengaruh Keikutsertaan Senam Hamil Terhadap Kecemasan
Primigravida Trimester Ketiga dalam Menghadapi Persalinan.
Maharani, T.I. 2010. Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Kecemasan dalam
Menghadapi Persalinan pada Ibu HamilTrimester Ketiga.
Notoadmodjo. S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono
Rahmi, L. 2009. Hubungan Usia, Tingkat Pendidikan, Dukungan Keluarga
dengan Tingkat Kecemasan Menjelang Persalinan pada Ibu
Primigravida Trimester III.
Rohani, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan.Jakarta: Salemba
Medika.
Siska, A. 2010. Gambaran Tingkat Kecemasan (Anxiety) Terhadap Operasi
Sectio Caesarea yang Tidak Direncanakan.
Sofian, Amru. 2011. Sinopsis Obstetri Fisiologis dan Patologis. Jakarta: EGC
Stuart, GK. 2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

86

Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta :


EGC.
The Authors Journal compilation RCOG 2008 BJOG An International Journal of
Obstetrics and Gynaecology.

87

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth.
Calon Responden Penelitian
DiWilayah Puskesmas Tanjung Karang

Saya yang bertandatangan di bawah ini adalah mahasiswi D III Kebidanan


Stikes Yarsi Mataram.
Nama : Ni Nengah Krisna Maitrayani
Nim

: 028 SYE BID 10


Akan mengadakan penelitian dengan judul Gambaran Kecemasan Ibu

Hamil Primigravida dalam Mengahdapi Persalinannya di Wilayah Kerja


Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013, Penelitian ini tidak menimbulkan
kerugian bagi responden. Kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan hanya
dipergunakan untuk kepentingan penelitian dalam usaha menggembangkan ilmu
pengetahuan.
Demikian surat permohonan ini kami ajukan atas perkenaan dan kesediaan
ibu sekalian penulis khaturkan banyak terimakasih.
Peneliti

(Ni Nengah Krisna Maitrayani)

88

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Setelah membaca dan memahami isi penjelasan pada lampiran pertama, saya yang
bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia berpartisipasi sebagai
responden dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswi D III Kebidanan
Stikes Yarsi Mataram yang bernama Ni Nengah Krisna Maitrayani dengan judul
Gambaran Kecemasan Ibu Primigravida dalam Mengahdapi Persalinan di
Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2013 saya memahami bahwa
dalam penelitian ini tidak berakibat negatif dan tidak akan merugikan bagi saya,
karena penelitian ini digunakan untuk perkembangan ilmu kesehatan. Oleh karena
itu saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

Mataram,
Responden

89

LEMBAR OBSERVASI PASIEN


GAMBARAN KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA DALAM MENGHADAPI
PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG KARANG
TAHUN 2013
Bagian 1
Pada bagian ini adalah untuk mengetahui Tingkat kecemasan responden
pertanyaan harus dijawab dengan lengkap dan benar.
1. Identitas Responden :
Nama

Umur

Alamat

Pendidikan

Pekerjaan

2. Riwayat kehamilan
Hamil ke

Berapa kali periksa hamil

Yang menemani ibu saat memeriksakan kehamilannya

90

Gejala Kecemasan
15.

16.

17.

Perasaan cemas (ansietas)


-

cemas

firasat buruk

takut akan pikiran sendiri

mudah tersinggung

Ketegangan
-

merasa tegang

lesu

tidak bisa istirahat tenang

mudah terkejut

mudah menangis

gemetar

gelisah

Ketakutan

Nilai angka (score)


0

pada gelap

pada orang asing

ditinggal sendiri

pada binatang besar

pada keramaian lalu lintas

pada kerumunan orang banyak

91

18.

19.

20.

Gangguan tidur
-

sukar masuk tidur

terbangun malam hari

tidur tidak nyenyak

bangun dengan lesu

banyak mimpi-mimpi

mimpi buruk

mimpi menakutkan

Gangguan kecerdasan
-

sukar konsentrasi

daya ingat menurun

daya ingat buruk

Perasaan depresi (murung)

hilangnya minat

berkurangnya kesenangan pada hobi

sedih

bangun dini hari

prasaan berubah-ubah sepanjang hari

92

21.

22.

23.

Gejala somatik/fisik (otot)

sakit dan nyeri di otot-otot

kaku

kedutan otot

gigi gemerutuk

suara tidak stabil

Gejala somatik/fisik (sensorik)0


-

tinitus (telinga berdenging)

penglihatan kabur

muka merah atau pucat

merasa lemas

perasaan ditusuk-tusuk

Gejala kardiovaskuler

(jantung dan pembuluh darah)


-

takikardia (denyut jantung cepat)

berdebar-debar

nyeri di dada

denyut nadi mengeras

rasa lesu/lemas seperti mau pingsan

detak jantung menghilang (berhenti sekejap)

93

24.

Gejala respiratori

(pernafasan)

25.

rasa tertekan atau sempit didada

rasa tercekik

sering menarik nafas

nafas pendek/sesak

Gejala gastrointestinal

(pencernaan)
-

sulit menelan

perut melilit

gangguan pencernaan

nyeri sebelum dan sesudah makan

perasaan terbakar diperut

rasa penuh atau kembung

mual

muntah

buang air besar lembek

sukar air besar ( konstipasi)

kehilangan berat badan

94

26.

Gejala urogenital

( perkemihan dan kelamin )

27.

sering buang air kecil

tidak dapat menahan air seni

tidak datang bulan (tidak ada haid )

darah haid berlebihan

darah haid amat sedikit

masa haid berkepanjangan

masa haid amat pendek

haid beberapa kali dalam sebulan

menjadi dingin (frigid )

ejakulasi dini

ereksi melemah

ereksi hilang

impotensi

Gejala autonom
-

mulut kering

muka merah

mudah berkeringat

kepala pusing

kepala terasa berat

kepala terasa sakit

bulu-bulu berdiri

95

28.

Tingkah laku (sikap)


pada wawancara
-

gelisah

tidak senang

jari gemetar

kerut kening

muka tegang

otot tegang/mengeras

nafas pendek dan cepat

muka merah

Jumlah Nilai Angka ( Total score) =