Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian manusia yang


terbesar di dunia hingga saat ini. Salah satu cara pengobatan kanker adalah
dengan cara penyinaran dengan radiasi atau disebut radioterapi.
Penggunaan sumber radiasi di bidang kesehatan harus memperhatikan
keselamatan pasien, para petugas yang terlibat dalam penyinaran dan
anggota masyarakat.

Dalam radioterapi, dosis yang diberikan kepada organ target haruslah


tepat dengan mengusahakan dosis ke bagian tubuh lainnya serendah
mungkin. Dosis yang berlebih akan dapat membahayakan jiwa pasien
sedangkan dosis yang rendah akan mempengaruhi penyembuhan pasien.

Salah satu faktor yang mempengaruhi ketepatan dalam pemberian


dosis adalah kalibrasi keluaran radiasi dari setiap peralatan radioterapi yang
digunakan. Faktor-faktor lain yang ikut menentukan keselamatan radiasi
antara lain keterampilan para petugas yang menangani pasien radioterapi,
peralatan yang digunakan, prosedur dosimetri, perawatan peralatan,
pencatatan dan pemeliharaan dokumen semua aspek yang menyangkut
radioterapi.

Dari kenyataan yang ada, telah terjadi sejumlah kecelakaan radiasi


dalam radioterapi di mancanegara maupun di Indonesia yang disebabkan
antara lain oleh kesalahan dalam pemberian dosis dan karena pengelolaan
sumber bekas yang tidak sesuai ketentuan.

Untuk menjamin keselamatan dalam pelayanan radioterapi perlu


dilaksanakan program jaminan kualitas yang meliputi prosedur klinis, fisika,
teknis dan keselamatan radiasi.

Oleh karena itu, dalam pembahasan makalah ini penulis akan berusaha
membahas mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dalam pelayanan
radioterapi.

B.

Rumusan Masalah
1. Konsep Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
a. Apa yang dimaksud dengan K3?
b. Apa tujuan dari K3?
c. Apa saja ruang lingkup K3?
2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Radioterapi
a. Apa yang dimaksud dengan Radioterapi?
b. Apa tujuan dari penggunaan Radioterapi?
c. Apa saja jenis-jenis Radioterapi?
d. Bagaimana efek samping dari pemberian Radioterapi?
e. Bagaimana identifikasi K3 di Unit Radioterapi?
f. Apa saja kecelakaan yang pernah terjadi di Unit Radioterapi?
g. Bagaimana upaya K3 dalam pelayanan Radioterapi?

C.

Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk menambah wawasan serta pengetahuan para pembaca,
khususnya mahasiswa Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta II.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui bagaimana aspek keselamatan dan kesehatan kerja
dalam pelayanan radioterapi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Konsep Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


1. Pengertian K3
Secara filosofi : suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga
kerja pada khususnya manusia pada umumnya, hasil karya dan
budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.
Secara keilmuan : Ilmu pengetauan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.

2. Tujuan K3
Sebagaimana dijelaskan dalam pengertian K3 secara filosofi bahwa
K3 bertujuan untuk menjamin kesempurnaan jasmaniah dan rokhaniah
tenaga kerja serta hasil karya dan budayanya. Oleh karena itu
keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk mencegah dan
mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan
menjamian :
a. Bahwa setiap tenaga kerja dan orang lainnya di tempat kerja dalam
keadaan selamat dan sehat.
b. Bahwa setiap sumber produksi dipergunakan secara aman dan
efisien.
c. Bahwa proses produksi dapat berjalan lancar.
Kondisi tersebut di atas dapat dicapai antara lain bila kecelakaan
termasuk kebakaran, peledakan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah
dan ditanggulangi. Oleh karena itu setiap usaha K3 tidak lain adalah
usaha pencegahan dan penanggulangan kecelakaan dan penyakit di
tempat kerja.

3. Ruang Lingkup K3
Ruang lingkup keselamatan dan kesehatan kerja dapat digariskan
sebagai berikut :
a. Keselamatan dan kesehatan kerja diterapkan di semua tempat kerja
yang di dalamnya melibatkan aspek manusia sebagai tenaga kerja,
bahaya akibat kerja dan usaha yang dikerjakan.
b. Aspek perlindungan dalam K3 meliputi :
o Tenaga kerja dari semua jenis dan jenjang keahlian
o Peralatan dan bahan yang digunkan
o Faktor-faktor lingkungan kerja
o Proses produksi
o Karakteristik dan sifat pekerjaan
o Teknologi dan metodologi kerja
c. Penerapan K3 dilaksanakan secara kholistik sejak perencanaan
hingga pengelolaan hasil dari kegiatan industri barang ataupun jasa.
d. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/perusahaan ikut
bertanggungjawab atas keberhasilan usaha K3 .

B.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Radioterapi


1. Pengertian Radioterapi

Gambar 1: Perangkat radioterapi Clinac dengan Meja Pasien


Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi adalah tindakan
medis menggunakan radiasi pengion tingkat tinggi untuk mematikan sel
kanker sebanyak mungkin, dengan kerusakan pada sel normal sekecil

mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi tertutup


pemancar radiasi gamma atau pesawat sinar-x dan berkas elektron.
Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh
radiasi ini. Radiasi akan merusak sel-sel kanker sehingga proses
multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel kanker akan terhambat.
Sekitar 50-60% penderita kanker memerlukan radioterapi. Cukup
banyak dari penderita kanker yang berobat ke rumah sakit menerima
terapi radiasi. Kadang radiasi yang diterima merupakan terapi tunggal,
kadang

dikombinasikan

dengan

kemoterapi

dan

atau

operasi

pembedahan. Tidak jarang pula seorang penderita kanker menerima


lebih dari satu jenis radiasi.

2. Tujuan Radioterapi
Terapi radiasi yang juga disebut radioterapi, irradiasi, terapi sinarx, atau istilah populernya "dibestral" ini bertujuan untuk menghancurkan
jaringan kanker. Paling tidak untuk mengurangi ukurannya atau
menghilangkan gejala dan gangguan yang menyertainya. Terkadang
malah

digunakan

untuk

pencegahan

(profilaktik).

Radiasi

menghancurkan material genetik sel sehingga sel tidak dapat membelah


dan tumbuh lagi.
Tidak hanya sel kanker yang hancur oleh radiasi. Sel normal juga.
Karena itu dalam terapi radiasi dokter selalu berusaha menghancurkan
sel kanker sebanyak mungkin, sambil sebisa mungkin menghindari sel
sehat di sekitarnya. Tetapi sekalipun terkena, kebanyakan sel normal dan
sehat mampu memulihkan diri dari efek radiasi. Radiasi bisa digunakan
untuk mengobati hampir semua jenis tumor padat termasuk kanker otak,
payudara, leher rahim, tenggorokan, paru-paru, pankreas, prostat, kulit,
dan sebagainya, bahkan juga leukemia dan limfoma. Cara dan dosisnya
tergantung banyak hal, antara lain jenis kanker, lokasinya, apakah
jaringan di sekitarnya rawan rusak, kesehatan umum dan riwayat medis
penderita, apakah penderita menjalani pengobatan lain, dan sebagainya.

3. Jenis Radioterapi
Terapi radiasi banyak jenisnya. Secara garis besar terbagi atas
radiasi eksternal/teleterapi (menggunakan mesin di luar tubuh), radiasi
internal/brakiterapi (menggunakan radioaktif yang dimasukkan ke dalam
tubuh yang sakit), serta radiasi sistemik yang mengikuti aliran darah ke
seluruh tubuh. Yang paling banyak digunakan adalah radiasi eksternal.
Sebagian merupakan perpaduan antara radiasi eksternal dan internal atau
sistemik. Kedua jenis radiasi kadang diberikan bergantian, kadang
bersamaan.
a. Radiasi Eksternal (Teleterapi)
Teleterapi maksudnya adalah terapi jarak jauh. Sumber radiasi
yang digunakan adalah sumber radiasi Co-60, Cs-137 atau Linear
Accelerator (LINAC). Sumber Co-60 dan Cs-137 merupakan
pemancar gamma sedangkan LINAC dapat menghasilkan berkas
elektron dan foton (Sinar-X). Pemancar gamma digunakan untuk
pengobatan berbagai macam kanker misalnya di otak, hati, ginjal,
paru-paru. Sedangkan pemancar elektron untuk tumor yang berada
di dekat permukaan tubuh seperti di kulit, kepala, dan payudara.
Terapi radiasi jenis ini bisa dijalani oleh pasien rawat jalan
(tidak perlu opname). Juga bisa digunakan untuk menghilangkan
nyeri dan gangguan lain yang lazim dialami oleh penderita kanker
yang sudah metastase (menyebar).
Kadang diberikan bersamaan dengan operasi/pembedahan,
yaitu kalau kankernya belum menyebar tetapi tidak bisa diangkat
seluruhnya, atau dikhawatirkan akan tumbuh lagi di sekitarnya.
Tindakan dilakukan setelah jaringan utama kanker diangkat,
sebelum luka bedah ditutup kembali lokasi bekas kanker diradiasi.
Cara yang disebut intraoperative radiation therapy (IORT) ini
terutama digunakan pada kanker thyroid, usus, pankreas, dan rahim
(termasuk indung telur, leher rahim, mulut rahim, dan sekitarnya).

Radiasi

eksternal

juga

diberikan

sebagai

pencegahan

(prophylactic cranial irradiation, PCI), misalnya pada penderita


kanker paru radiasinya diarahkan ke otak supaya sel kanker tidak
menjalar ke otak.
Terapi radiasi eksternal tidak membuat penderita menjadi
radioaktif (memancarkan radiasi ke sekitarnya). Jadi tidak
berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.
b. Radiasi Internal (Brachytherapy)
Brakhiterapi

adalah

terapi

jarak

dekat

dengan

cara

memasukkan atau menanamkan (implant) sumber radiasi ke dalam


tubuh. Sumber radiasi berupa susuk/implant berbentuk seperti
kabel, pita, kapsul, kateter, atau butiran kecil berisi isotop
radioaktif iodine, strontium 89, fosfor, palladium, cesium-137,
iridium-192, fosfat, atau cobalt-60, yang ditanamkan tepat di
jaringan kanker atau di dekatnya. Cara ini lebih efektif membunuh
sel kanker sekaligus memperkecil kerusakan jaringan sehat di
sekitar sasaran radiasi.
Radiasi internal sering digunakan untuk mengobati kanker di
daerah kepala dan leher, thyroid, prostat, leher rahim, kandungan,
payudara, sekitar selangkangan, dan di saluran kencing.
Susuk radioaktif ini ada yang ditanam selama beberapa menit
saja (dosis tinggi), ada yang selama beberapa hari (dosis rendah),
ada juga yang dibiarkan di dalam tubuh tanpa diangkat lagi.
Selama menjalani terapi ini penderita sedikit radioaktif,
khususnya di sekitar lokasi susuk, tetapi secara keseluruhan tubuh
penderita tidaklah radioaktif. Untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan, penderita perlu menjalani rawat inap dengan beberapa
batasan. Misalnya, dirawat di ruang tersendiri. Pendamping boleh
melayani penderita, tetapi tidak terus-menerus berada di sisinya.
Begitu juga tamu yang besuk dibatasi waktunya. Wanita hamil dan
anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak boleh berkunjung. Tetapi
7

setelah implant radioaktif ini diambil lagi, penderita sama sekali


tidak radioaktif.
c. Radiasi Sistemik
Pada radiasi sistemik, bahan radioaktif sebagai sumber radiasi
ditelan seperti obat atau disuntikkan, yang kemudian mengikuti
aliran darah ke seluruh tubuh. Radiasi ini digunakan untuk
mengobati kanker thyroid dan non-Hodgkins lymphoma.
Sisa-sisa bahan radioaktif yang tak terpakai keluar dari tubuh
melalui air liur, keringat, dan air kencing. Dalam kurun waktu
tertentu cairan ini bersifat radioaktif, tetapi sesudahnya tidak lagi.
Itu sebabnya penderita yang menjalani radiasi sistemik perlu
menjalani rawat inap.

4. Efek Samping Radioterapi


Efek samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum
efek samping tersebut tergantung dari dosis terapi, target organ dan
keadaan umum pasien. Beberapa efek samping berupa kelelahan, reaksi
kulit (kering, memerah, nyeri, perubahan warna dan ulserasi), penurunan
sel-sel darah, kehilangan nafsu makan, diare, mual dan muntah bisa
terjadi pada setiap pengobatan radioterapi. Kebotakan bisa terjadi tetapi
hanya pada area yang terkena radioterapi. Radiasi tidak menyebabkan
kehilangan rambut yang total. Pasien yang menjalani radiasi eksternal
tidak bersifat radioaktif setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya
bagi orang di sekitarnya. Efek samping umumnya terjadi pada minggu
ketiga atau keempat dari pengobatan dan hilang dua minggu setelah
pengobatan selesai.
Untuk mengurangi efek samping radioterapi beberapa hal perlu
dilakukan. Bila terdapat kelelahan, pasien dianjurkan untuk tetap
beraktivitas seperti biasa, bila memang diperlukan maka aktivitas bisa
dikurangi, usahakan untuk bisa tidur nyenyak di malam hari serta
beristirahat yang cukup. Bila terjadi kehilangan nafsu makan maka

sebaiknya pasien dianjurkan untuk makan segala makanan yang


diinginkan, makan dalam jumlah kecil tetapi sering, hindari memakan
makanan yang kering, minum banyak air, bisa diberikan makanan
suplemen untuk meningkatkan nafsu makan. Perubahan kulit yang
terjadi bisa dikurangi dengan tidak menggunakan produk-produk pada
kulit sebelum radioterapi, menggunakan baju yang tidak terlalu sempit,
menggunakan sabun yang lembut dan air hangat pada saat membasuh
tubuh, dilarang menggosok terlalu keras pada area yang terkena
radioterapi, hindari temperatur yang terlalu panas atau terlalu dingin
serta hindari sinar matahari langsung.
Pada umumnya efek samping dari radioterapi akan hilang dengan
sendirinya setelah pengobatan dihentikan. Tetapi pada beberapa kasus
yang jarang akan terjadi efek samping yang berkepanjangan karena
radiasi menyebabkan kerusakan pada organ dalam yang berhubungan
atau berdekatan dengan tempat tumor.

5. Faktor Identifikasi K3 di Radioterapi


a. Kondisi Peralatan Radioterapi
1) Jumlah Sumber Radiasi dan Kondisinya
Jumlah rumah sakit yang menggunakan sumber radiasi
untuk tujuan radioterapi ada sebanyak 24 runah sakit dengan
rincian sumber radiasi terlihat pada Tabel 1.

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan


oleh BAPETEN sejak tahun 2000 banyak ditemukan kondisi
peralatan radioterapi yang tidak memadai. Antara lain karena :

Aktivitasnya sudah melemah sekitar 2500 Ci

Posisi laser kurang tepat

Gantry tidak dapat diputar dengan mudah

Alat ukur dosis rusak

Treatment Planning System (TPS) banyak yang


tidak ada

Selain

itu

sumber

daya

manusia/kualifikasi

tenaga

(misalnya dokter spesialis radioterapi onkologi, fisika medik)


juga tidak memadai.
2) Kalibrasi Keluaran Radiasi
Untuk menjamin ketepatan dosis radiasi, keluaran radiasi
setiap peralatan radioterapi harus dikalibrasi. Kalibrasi tersebut
perlu dilakukan pada waktu komisioning, setelah perbaikan dan
secara berkala yang ditentukan oleh Badan Pengawas.
Berdasarkan peraturan yang berlaku sebagaimana ditetapkan
dalam Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 setiap peralatan
radioterapi harus dikalibrasi 2 (dua) tahun sekali. Pada akhir
tahun 1999 lebih dari separuh peralatan radioterapi sertifikasi
kalibrasinya sudah kadaluarsa. Pada saat itu banyak Rumah
Sakit yang mengalami kesulitan dalam pendanaan untuk
kalibrasi. Pada tahun 2000 BAPETEN membantu beberapa
rumah sakit menanggung sebagian biaya tersebut dan pada
tahun 2001 sebanyak 4 (empat) rumah sakit mendapat bantuan
biaya penuh untuk kalibrasi.

3) Penanganan Sumber Radiasi Rusak/ Tak Terpakai


Zat radioaktif untuk brakiterapi manual Cs-137 dan Co-60
seluruhnya sudah tidak dipakai lagi dan disimpan dalam gudang

10

penyimpanan di rumah sakit, Radium-226 sebagian besar sudah


disimpan di Pusbang Pengelolaan Limbah Radioaktif (P2PLR)BATAN dan Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan (BPFK)DEPKES, namun masih ada 4 rumah sakit yang masih
menggunakannnya dan masih ada 12 lagi yang sudah tidak
dipakai lagi, tapi masih disimpan di sebuah rumah sakit. Selain
itu terdapat pula sejumlah zat radioaktif untuk bekas alat
teleterapi (Co-60 dan Cs-137) dan alat after loading Cs-137
yang disimpan dirumah sakit. Zat radioaktif yang tidak dipakai
lagi, disarankan untuk di ekspor ke negara asal dan diserahkan
ke P2PLR-BATAN, namun pada umumnya pihak rumah sakit
mengalami kesulitan dalam pembiayaan baik untuk re-ekspor
maupun penyimpanan di BATAN.

b. Penerimaan Dosis Radiasi


1) Untuk Petugas
Untuk memantau besarnya dosis radiasi yang diterima oleh
pekerja

radiasi

setiap

bulan,

setiap

pekerja

radiasi

harus

menggunakan alat pemantau perorangan. Umumnya alat pemantau


yang digunakan di rumah sakit adalah film badge. Saat ini pelayanan
film badge dilakukan oleh BPFK-DEPKES dan Puslitbang
Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir (P3KRBIN)-BATAN.
Berdasarkan hasil evaluasi film badge yang dipakai, pada umumnya
dosis radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi masih dibawah nilai
batas yang diizinkan, antara 0,1 sampai 0,3 mSv per bulan.
Dibeberapa rumah sakit untuk keperluan penyinaran pasien kanker
leher rahim masih menggunakan radium. Pada umumnya tenaga
perawat yang menangani pasien ini tidak menggunakan film badge
padahal laju dosis disekitar ruangan perawatan cukup tinggi.

11

2) Untuk Pasien
Selama pemeriksaan radioterapi berlangsung, pasien harus
mengikuti semua instruksi petugas secara baik dan benar agar
tidak terjadi kesalahan penyinaran yang berakibat bertambahnya
penerimaan dosis radiasi pada pasien.
Seperti halnya pada fiksasi tubuh pasien, diperlukan alat
bantu fiksasi pada bagian kepala dan leher pasien agar tidak
bergerak tubuhnya, karena apabila pasien bergerak maka bisa
terjadi ketidaktepatan penyinaran sel kanker ke bagian sel tubuh
yang sehat, maka diperlukan alat seperti gambar di bawah ini.

Gambar 2: Topeng untuk di bagian leher dan kepala


sebagai fiksasi pasien saat radioterapi

6. Kecelakaan Radiasi yang Pernah Terjadi


Sejumlah

kecelakaan

radiasi

yang

menyangkut

peralatan

radioterapi telah terjadi di berbagai negara di dunia, dua diantaranya


terjadi di Indonesia. Kecelakaan tersebut antara lain:
a. Di Meksiko pada tahun 1983, dengan sumber radiasi Co-60.
Tidak ada korban manusia, tetapi potongan Co-60 tersebar
menyebabkan kontaminasi pada logam campuran.

12

b. Di Brasil pada tahun 1987, dengan sumber radiasi Cs-137.


4 orang meninggal karena dosis yang tinggi, 249 orang
terkontaminasi.
c. Di Spanyol pada tahun 1990, dengan sumber radiasi LINAC.
11 orang meninggal karena mendapat dosis berlebih.
d. Di Costa Rica pada tahun 1996, dengan sumber radiasi Co-60.
13 orang meninggal karena radiasi.
e. Di Thailand pada tahun 2000, dengan sumber radiasi Co-60.
3 orang meninggal karena mendapat dosis tinggi.
f. Di Mesir pada tahun 2000, dengan sumber bekas Ra-226.
3 orang meninggal.
g. Di Indonesia pada tahun 1998, dengan sumber radiasi LINAC.
1 orang meninggal karena dosis tinggi.
h. Di Indonesia pada tahun 2000, dengan sumber radiasi Cs-137.
Tidak ada korban manusia, sumber dapat dikembalikan ke
wadahnya.
i. Di Panama pada tahun 2001, dengan sumber radiasi Co-60.
8 orang meninggal, 20 orang lainnya dalam keadaan kritis.

Kecelakaan radiasi tersebut terjadi karena beberapa hal seperti :


1) Sumber radiasi bekas tidak dikelola dengan semestinya sehingga
luput dari pengawasan.
2) Keluaran radiasi tidak dikalibrasi dengan semestinya.
3) Perawatan alat tidak dilakukan dengan baik.
4) Petugas tidak mengikuti prosedur kerja.
5) Petugas tidak menggunakan alat monitor radiasi.
6) Alat monitor radiasi tidak berfungsi.

13

7. Upaya Keselamatan Radiasi dalam Pelayanan Radioterapi

Gambar 3: Ruangan Radioterapi


Untuk menjamin keselamatan dalam pelayanan radioterapi perlu
dilaksanakan program jaminan kualitas di ruangan radioterapi yang
meliputi prosedur klinis, fisika dan teknis, serta masalah keselamatan
radiasi.
a. Prosedur klinis mencakup ketepatan pemberian dosis yang sesuai
dengan resep dokter, prosedur penyinaran dan penangan pasien,
serta pencatatan semua dokumentasi yang berkaitan dengan
penyinaran pasien dalam radioterapi.
b. Prosedur fisika dan teknis mencakup kalibrasi peralatan
radioterapi, pengujian alat, dan perawatan peralatan secara berkala.
c. Masalah keselamatan radiasi mencakup pengamatan sumber
radiasi, inventarisasi secara berkala, pemakaian alat pelindung diri
(APD), bekerja sesuai prosedur penyinaran (SOP), memperhatikan
prinsip proteksi radiasi, menggunakan alat monitor radiasi (TLD,
Film Badge), dan suvey kebocoran radiasi.

Pimpinan instalasi radioterapi harus menunjuk seseorang sebagai


Petugas Proteksi Radiasi (PPR) yang bertanggung jawab tentang
masalah keselamatan radiasi. Tugas-tugas harus diorganisasikan dengan
jelas dan secara berkala diadakan pertemuan untuk mengevaluasi
masalah keselamatan radiasi dan melakukan perbaikan berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang telah lalu.

14

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Penggunaan

radiasi

untuk

radioterapi

memberi

manfaat

dalam

pengobatan kanker, namun harus memperhatikan keselamatan pasien,


petugas yang terlibat dan anggota masyarakat
Untuk menjamin keselamatan dalam pelayanan radioterapi perlu
dilaksanakan program jaminan kualitas yang meliputi prosedur klinis,
fisika, teknis dan keselamatan radiasi
Kalibrasi keluaran radiasi harus dilakukan sebelum alat dipakai
pertamakali (komisioning), secara berkala minimal setiap dua tahun dan
setelah alat mengalami perbaikan
Sumber radiasi bekas harus dikelola dengan baik sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, sedapat mungkin di re-ekspor ke negara asal atau
diserahkan ke P2PLR-BATAN.
Perlu adanya perhatian terhadap kondisi fasilitas radioterapi yaitu
perbaikan peralatan yang rusak, penyediaan peralatan penunjang yang
memadai dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Berdasarkan hasil evaluasi film badge, pada umumnya petugas yang
terlibat dalam pelayanan radioterapi menerima dosis dibawah nilai batas
yang diizinkan namun para petugas yang menggunakan sumber radium
perlu meningkatkan disiplin untuk selalu memakai film badge.

B.

Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis berharap untuk
makalah selanjutnya akan lebih baik lagi. Dan semoga makalah ini dapat
menjadi pembelajaran bagi pembaca.

15

DAFTAR PUSTAKA

Denny, Hanifa Maher. 2001. Pengantar Kesehatan dan Keselamatan Kerja.


Modul Mata Kuliah Pengantar Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Harrington, JM, Gill, FS, 2005. Buku Saku Kesehatan Kerja. Alih Bahasa Sudjoko
Kuswadji. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
MARPAUNG, T. 2000. Kecelakaan Radiasi Yang Terkait Dengan Peralatan
Radioterapi, Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Jakarta.
BAPETEN. 2000. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion.
Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Radioterapi
http://nuisyeutea.blogspot.com/2010/04/konsep-dasar-kesehatankeselamatan.html
http://www.dharmais.co.id/index.php/radiotherapy-department.html
http://asmiatunchemistry.blogspot.com/
http://www.cancerlinksusa.com/radiation/info.html

16