Anda di halaman 1dari 25

Tugas II

MAKALAH
SARINGAN PASIR CEPAT/ SPC
(RAPID SAND FILTER)

OLEH
ANDI RAFIKA DWI RACHMA NATALUDDIN

D12112103

MONICA CINDY CAROLINA

D12112104

FADEL IBRAHIM

D12112105

CHRISTANTO LAPIK

D12112106

FADEL KHALIFAH IBRAHIM

D12112107

ANDI MUHAMMAD ZUBAIR

D12112251

YUSTINA MIRALDIN

D12112252

NURUL MASYIAH RANI

D12112253

HARDIYANTI ALIMUDDIN

D12112254

IMAM APRIANTO

D12112255

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Pencemaran Udara dengan judul Konsep
Pengontrolan Pencemaran Udara dengan Minimasi Pencemar Udara dan Mitigasi
Pencemaran Udara di Jalan Raya.
Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dan persyaratan kurikulum pada
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Gowa,
Sulawesi Selatan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada
Bapak Dr. Bambang Bakri, S.T, M.T. selaku Dosen mata kuliah Penyediaan Air Minum yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan mengenai konsep dan perencanaan saringan pasir cepat, mekanisme
saringan pasir cepat, dan lain-lain serta kelebihan dan kekurangan dari saringan pasir cepat
ini.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penyusunan laporan ini masih
terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa adanya saran yang membangun.
Akhir kata, semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak

Gowa, 8 Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I. 1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
I. 2 Rumusan Masalah .................................................................................. 2
I. 3 Tujuan .................................................................................................... 2
I. 4 Manfaat ................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
II. 1 Pengertian Filtrasi ................................................................................ 3
II. 2 Saringan pasir Cepat ............................................................................ 4
II. 3 Konsep Saringan Pasir Cepat ............................................................... 5
II. 4 Kriteria Saringan Pasir Cepat .............................................................. 6
II. 5 Jenis Filter Berdasarkan Sistem Operasi Dan Media SPC ................... 7
II. 6 Media Filter dan Distribusi Pasir ......................................................... 8
II. 7 Prinsip Desain ...................................................................................... 13
II. 8 Mekanisme Saringan Pasir Cepat ........................................................ 14
II. 9 Konstruksi, Operasi dan Perawatan ..................................................... 16
II.10 Penerapan Saringan Pasir Cepat .......................................................... 17
II.11 Keuntungan dan Kerugian ................................................................... 18
BAB III PENUTUP
III. 1 Kesimpulan ........................................................................................... 19
III. 2 Saran .................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

ii

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu sumberdaya yang sangat penting bagi makhluk hidup.
Manusia dan makhluk hidup lainnya tidak dapat hidup tanpa air. Air dimanfaatkan oleh manusia
sebagai bahan baku air minum, mencuci, mandi, dan kebutuhan lainnya. Ketersediaan air
didunia ini begitu melimpah, namun yang dapat dikonsumsi manusia untuk keperluan air
minum sangat sedikit jika dibandingkan dengan total jumlah air yang ada. Semakin
meningkatnya populasi manusia, semakin besar pula kebutuhan air minum, sehingga
ketersediaan air bersih pun semakin berkurang.
Berkaitan dengan krisis air ini, diramalkan 2025 nanti hampir dua pertiga penduduk
dunia akan tinggal di daerah daerah yang mengalami kekurangan air. Ramalan itu dilansir
World Water Assesment Progamme (WWAP), bentukan United Nation Educational, Scientific
and Cultural Organization (Unesco). Lembaga itu menegaskan bahwa krisis air didunia akan
memberi dampak yang mengenaskan. Tidak hanya membangkitkan epidemi penyakit yang
merenggut nyawa, tapi juga akan mengakibatkan bencana kelaparan. (Bourne, 1984).
Kekurangan air telah berdampak negatif terhadap semua sektor seperti kesehatan, ekonomi dan
sosial masyarakat.
Kekurangan air bersih membuat kita harus berpikir keras agar ketersediaan air selalu
ada sehingga proses kehidupan dapat terus berlangsung. Beberapa metode yang dilakukan
manusia untuk mendapatkan air bersih diantaranya adalah membangun instalasi pengolahan air
bersih. Adapun metode yang digunakan oleh manusia untuk mendapatkan air bersih adalah
pengolahan air secara fisika dan kimia namun penggunaan bahan kimia seringkali
meninggalkan sisa yang terlarut dalam air sehingga jika air tersebut konsumsi maka akan
menyebabkan efek samping. Beberapa bahan kimia yang sering digunakan adalah Al2(SO4)3,
FeSOCl, Fe2(SO4)3 dan klorin serta penjernih lainnya yang berbahaya bagi tubuh manusia.
(Mochtar 1999).
Selain itu, penggunaan bahan kimia sebagai penjernih air membutuhkan biaya yang
cukup besar akibatnya sult dijangkau oleh masyarakat yang tidak mampu sehingga ini bukan
menjadi solusi yang baik untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Solusi dari masalah tersebut adalah melakukan pengolahan air bersih yang ramah
lingkungan yaitu tanpa bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan dan dapat dijangkau
oleh berbagai lapisan masyarakat dengan menghasilkan output air berkualitas baik. Salah satu

sistem pengolahan yang sudah ada adalah dengan pengolahan dengan menggunakan saringan
pasir. Penyaringan air dengan pasir cukup efesien.
I. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai
berikut:
a. Apakah yang dimaksud dengan saringan pasir cepat?
b. Bagaimanakah prinsip dan mekanisme kerja saringan pasir cepat?
c. Apa saja kelebihan dan kekurangan saringan pasir cepat dalam kehidupan sehari-hari?
I. 3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui definisi tentang saringan pasir cepat
b. Mengetahui prinsip dan mekanisme kerja saringan pasir cepat
c. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saringan pasir cepat dalam kehidupna seharihari
I. 4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah untuk mengetahui salah satu
sistem pengolahan air dengan menggunakan saringan pasir, khususnya saringan pasir cepat.

BAB II
PEMBAHASAN
II. 1 Pengertian Filtrasi
Dalam sistem pengolahan air limbah, proses filtrasi biasanya merupakan bagian dari
pengolahan ketiga atau pengolahan lanjutan yang disebut tertiary treatment. Proses ini
digunakan apabila air limbah hasil olahan akan dimanfaatkan kembali (reuse), misalnya untuk
air penggelontor atau apabila dimaksudkan untuk pengendalian eutrofikasi (penyuburan
perairan) pada badan air yang digunakan sebagai tempat pembuangan air limbah.
Proses filtrasi merupakan proses pengolahan dengan cara mengalirkan air limbah
melewati suatu media filter yang disusun dari bahan-bahan butiran dengan diameter dan tebal
tertentu. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tak terlarut
(biological floc yang masih tersisa setelah pengolahan secara biologis).
Filtrasi adalah proses penyaringan partikel secara fisika, kimia dan biologi untuk
memisahkan atau penyaring partikel yang tidak terendapkan di sidementasi melalui media
berpori. Selama proses filtrasi, zat-zat pengotor dalam media penyaring akan menyebabkan
terjadinya penyumbatan pada pori-pori media sehingga kehilangan tekanan akan meningkat.
Media yang sering digunakan adalah pasir, karena mudah diperoleh dan ekonomis. Selain pasir,
media penyaring lain yang dapat digunakan adalah karbon aktif, athracite, coconut shell, dan
lain-lain. Diharapkan dengan penyaringan, akan dapat menghilangkan kekeruhan tersebut secara
total atau dengan perkataan lain, sisa kekeruhan yang terkandung pada aliran keluar (filtrat) dari
proses penyaringan adalah 0,00 mg/l.
Filtrasi juga merupakan teknik pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan
melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan
terendapkan. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau gas; aliran yang lolos dari saringan
mungkin saja cairan, padatan, atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus
dipisahkan dari limbah cair sebelum dibuang. Terkadang, kandungan padatan suatu umpan
mempunyai range dari hanya sekedar jejak sampai persentase yang besar. Seringkali umpan
dimodifikasi melalui beberapa pengolahan awal untuk meningkatkan laju filtrasi, misal dengan
pemanasan, kristalisasi, atau memasang peralatan tambahan pada penyaring seperti selulosa atau
tanah diatomae. Oleh karena varietas dari material yang harus disaring beragam dan kondisi
proses yang berbeda, banyak jenis penyaring telah dikembangkan, beberapa jenis akan
dijelaskan di bawah ini.

Fluida mengalir melalui media penyaring karena perbedaan tekanan yang melalui media
tersebut. Penyaring dapat beroperasi pada:
Tekanan di atas atmosfer pada bagian atas media penyaring.
Tekanan operasi pada bagian atas media penyaring.
Vakum pada bagian bawah.
Tekanan di atas atmosfer dapat dilaksanakan dengan gaya gravitasi pada cairan dalam
suatu kolom, dengan menggunakan pompa atau blower, atau dengan gaya sentrifugal. Dalam
suatu penyaring gravitasi media penyaring bisa jadi tidak lebih baik daripada saringan (screen)
kasar atau dengan unggun partikel kasar seperti pasir.
Penyaring dibagi ke dalam tiga golongan utama, yaitu penyaring kue (cake), penyaring
penjernihan (clarifying), dan penyaring aliran silang (crossflow). Penyaring kue memisahkan
padatan dengan jumlah relatif besar sebagai suatu kue kristal atau lumpur. Penyaring
penjernihan berbeda dengan saringan biasa karena memliki diameter pori medium penyaring
lebih besar dari partikel yang akan disingkirkan sehingga dapat membersihkan sejumlah kecil
padatan dari suatu gas atau percikan cairan jernih semisal minuman. Adapun di dalam penyaring
aliran silang, umpan suspensi mengalir dengan tekanan tertentu di atas medium penyaring
(membran keramik, logam, dan lain-lain). Sebagian cairan mengalir melalui medium sebagai
filtrat yang jernih, meninggalkan suspensi pekatnya.
II. 2 Saringan Pasir Cepat (Rapid Sand Filter)
Saringan Pasir Cepat (SPC) atau bahasa kerennya Rapid Sand Filter (RSF) merupakan
saringan air yang dapat menghasilkan debit air hasil penyaringan yang lebih banyak daripada
Saringan Pasir Lambat (SPL). Walaupun demikian saringan ini kurang efektif untuk mengatasi
bau dan rasa yang ada pada air yang disaring. Selain itu karena debit air yang cepat, lapisan
bakteri yang berguna untuk menghilangkan patogen tidak akan terbentuk sebaik apa yang terjadi
di saringan pasir lambat. Sehingga akan membutuhkan proses disinfeksi kuman yang lebih
intensif (Darmasetiawan, 2001).
Secara umum bahan lapisan saringan yang digunakan pada saringan pasir cepat sama
dengan saringan pasir lambat, yakni pasir, kerikil dan batu. Perbedaan yang terlihat jelas adalah
pada arah aliran air ketika penyaringan. Pada saringan pasir lambat arah aliran airnya dari atas
ke bawah, sedangkan pada saringan pasir cepat dari bawah ke atas (up flow). Selain itu pada
saringan pasir cepat umumnya dapat melakukan backwash atau pencucian saringan tanpa
membongkar keseluruhan saringan (Huisman, 1974)

Gambar 2.1 Saringan Pasir Cepat


Kecepatan penyaringan pasir cepat relatif lebih besar pencuciannya menggunakan back
wash, atau air dialirkan dari bawah media ke arah atas, dan memakan waktu 1 sampai 2 hari.
Saringan pasir cepat yang digunakan dalam pengolahan air biasanya pada tipe gravitasi dan
umumnya ditempatkan pada kolam dari beton yang terbuka.
Panjang proses penyaringan tergantung kulitas feed water dan jarak proses penyaringan
antara satu hari sampai beberapa hari, pencucian untuk pemisahan flok yang dikumpulkan diatas
dan didalam filter bed. Untuk mencuci filter kran influen ditutup, jika air yang disaring ke
bawah, kran effluent di tutup. Dimulai dengan 0.5 galon/menit-ft2, setelah kira-kira 1 menit pada
surface washing, aliran backwash diawali dengan pembukaan kran influent washwater dan pada
batas yang diinginkan. Debit backwash 15 20 galon/menit-ft2 dan bed expantion 20 50 %
butiran pasir dibagian bawah, dan ini tergantung pada suhu air yang digunakan.
II.3 Konsep Saringan Pasir Cepat
Pemurnian air melalui saringan pasir cepat
Prinsip Kerja
Setelah melalui masa pra-penanganan (koagulasi-flokulasi), air tawar mengalir melalui
celah-celah pasir dan kerikil. Dengan ini, kemudian partikel dikeluarkan melalui proses saringan
fisik, dan selanjutnya memasuki tahap pasca penanganan desinfeksi akhir (klorinasi).

Gambar 2.2 Skema konsep saringan pasir cepat

Saringan pasir cepat merupakan salah satu prosedur pengolahan air yang memiliki
kriteria pencemaran fisik kimia. Adapun output dari saringan cepat ini tidak dapat dijadikan air
minum tanpa langkah-langkah awal penanganan dan langkah-langkah treatment selanjutnya.
II.4 Kriteria Saringan Pasir Cepat
Berikut kriteria dalam saringan pasir cepat sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kriteria Saringan Pasir Cepat
KRITERIA

FILTER PASIR CEPAT

Kecepatan Filtrasi

4 -21 m/jam

Ukuran Bed

Kecil, 40 400 m2
30 - 45 cm kerikil

Kedalaman Bed
60 - 70 cm pasir
Tidak berkurang saat pencucian
Ukuran Pasir

Effective size > 0,55 mm


Uniformity coefficent < 1,5

Distribusi Ukuran Media

Terstrafikasi

Sistem Underdrain

Pipa lateral berlubang yang mengalirkan air ke


pipa utama

Kehilangan Energi

30 cm saat awal, hingga 275 cm saat akhir

Filter Run

12 72 Jam

(Jarak Waktu Pencucian)


Metoda Pembersihan

Mengangkat kotoran dan pasir ke atas dengan


backwash

Jumlah Air untuk Pembersihan

1 6 % dari air tersaring

Pengolahan Pendahuluan

Koagulasi Flokulasi Sidementasi

Biaya Konstruksi

Relatif Tinggi

Biaya Operasi

Relatif Tinggi

Biaya Depresiasi

Relatif Tinggi

Sumber : Schulz dan Okun (1984)

Filter pasir cepat atau Rapid Sand Filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
cepat berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi
flokulasidan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen
filter pasir cepaat berkisar 5 10 NTU maka efesiensi penurunan kekeruhannya dapat mencapai
90 98 %.

Gambar 2.3 Bagian bagian dari filter pasir cepat


Bagian- bagian dari filter pasir cepat adalah sebagai berikut :
a.

Bak Filter
Merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak tergantung
debit pengolahan (minimum dua bak).

b.

Media Filter
Merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori pori di antara butiran
media. Pada pori pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan

c. Sistem Underdrain
Underdrain merupakan sisitem pengaliran air yang telah melewati proses filtrasi
yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas :

Oriffice yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air dari
media filter ke dalam pipa.

Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak disepanjanag pipa manifold.

Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan mengalirkannya
ke bangunan penampung air.

II. 5 Jenis Filter Berdasarkan Sistem Operasi Dan Media SPC


1)

Jenis Media Filter


a. Single Media

: Satu jenis media seperti pasir silica atau dolomite

saja.
b. Dual Media

: Misalnya digunakan pasir silica dan anthrasit.

c. Multimedia

: Misalnya digunakan pasir silica, anthrasit, dan karbon

aktif.
2)

Sistem Kontrol Kecepatan


a) Constant Rate

: Debit hasil proses filtrasi konstan sampai pada level


tertentu.

b) Declining Rate

: Debit hasil proses filtrasi menurun seiring dengan waktu


filtrasi, atau level muka air di atas media filter dirancang pada
nilai yang tetap.

3)

Sistem Aliran
a. Aliran Down Flow ( Kebawah )
b. Aliran Up Flow (Ke atas)
c. Aliran Horizontal

4)

Kaidah Pengaliran
a. Aliran Secara Gravitasi
b. Aliran Dibawah Tekanan (Pressure Filter)

5)

Pretreatment
a. Kogulasi Flokulasi Sedimentasi
b. Direct Filtration

II. 6 Media Filter dan Distribusi Pasir


Media filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media ini
umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia.
Dibawah ini berbagai macam jenis media penyaring/filter beserta kegunaannya di dalam
sistem pengolahan air.
1. Pasir Silika
Pasir Silika. Media ini berfungsi sebagai penyaring yang efektif untuk menyaring
partikel-partikel kasar seperti endapan pasir, korosi pipa, serta lumpur dalam air
2. Manganese Green Sand
Manganese Green Sand Ex Thailand Terbuat dari glauconite greensand sangat efektif
untuk menghilangkan kandungan besi, mangaan dan hydrogen Sulfida di dalam air yang
melalui proses oksidasi dan proses penyaringan.
3. Karbon Aktif
Karbon Aktif KSH ( lokal ) Dibuat dari tempurung kelapa yang telah diaktifkan untuk
menetralisir rasa, bau dan warna pada air , kandungan klor (kaporit) dan senyawa kimia
lainnya.

4. Karbon Aktif (CALGON) USA


Karbon Aktif CALGON Filtrasorb 100 Ex. USA. Dibuat dari Batubara yang diaktifkan
yang sangat efektif untuk menetralisir rasa, bau dan warna pada air, kandungan klor
(kaporit) dan senyawa kimia lainnya.
5. Resin Kation
Resin Kation (DOWEX) Dirancang khusus sebagai softener / pelunak air hingga mampu
mengurangi Total Hardeness Water dan dengan system pertukaran ion resin
6. KDF 55
KDF 55 Medium Ex USA Dikenal juga sebagai redox alloy yang sangat efektif
untuk menghilangkan kandungan besi (Fe), Mangaan (Mn) Hydrogen Sulfida, logam
berat dan bakteri di dalam air yang melalui proses oksidasi dan proses penyaringan
7. Anthracite
Anthracite Ex. Thailand .Terbuat dari batubara pilihan yang berfungsi menyaring
endapan lumpur dan sisa sisa korosi pada air.
8. Ferrolite
Ferrolite TOHKEMY MC 2 Ex. Japan Media ini sangat efektif untuk menghilangkan
kandungan besi, mangaan dan hydrogen Sulfida, logam berat dan bakteri di dalam air
yang melalui proses oksidasi dan proses penyaringan.
Berikut merupakan gambar contoh material media filter

Gambar 2.4 Gambar contoh material media filter

Dan ini merupakan tabel karakteristik media filter

Tabel 2.2 Karakteristik Media Filter


Pemilihan media filter yang akan digunakan dilakukan dengan menganalisa ayakan
(sieve analysis). Hasil ayakan suatu media filter digambarkan dalam kurva akumulasi distribusi
untuk mencari ukuran efektif (effective size) dan keseragaman media yang diinginkan
(dinyatakan sebagai uniformity coefficient).

Gambar 2.5 Ayakan dan Ukuran Lubang


Ukuran butiran tanah ditentukan dengan menyaring sejumlah tanah melalui seperangkat
saringan yang disusun dengan lubang yang paling besar berada paling atas dan makin kebawah
makin kecil. Jumlah tanah yang tertahan pada saringan tersebut disebut salah satu dari ukuran
butir contoh tanah itu. Pada kenyataannya pekerjaannya hanya mengelompokan sebahagian dari
tanah terlekat di antara dua ukuran.

10

Ukuran butir tanah tergantung dari diameter partikel tanah yang membentuk dari masa
tanah itu. Analisis ayakan dari sebuah contoh tanah melibatkan penentuan persentase berat
partikel dalam rentan ukuran yang berbeda. Distribusi ukuran partikel tanah berbutir kasar dapat
ditentukan dengan metode pengayakan (sieving) contoh tersebut dilewatkan melalui satu set
saringan standart yang memiliki lubang makin kecil ukurannya dari atas kebawah. Berat tanah
yang tertahan ditiap saringan ditentukan dan persentase kumulatif dari berat tanah yang
melewati tiap saringan dihitung beratnya. Dan akan memasuki tahap-tahap berikutnya.
Distribusi ukuran partikel tanah berbutir halus atau fraksi butir halus dari tanah berbutir
kasar dapat ditentukan dengan metode pengendapan (sedimentasi).
Ukuran-ukuran saringan berkisar dari lubang berdiameter 4,750 mm (No.4) sampai
0,075 mm (No.200). semua lubang terbentuk bujur sangkar jadi apa yang disebut sebagai
diameter partikel tanah sebenarnya hanyalah merupakan patokan akademis saja, sebab
kemungkinana lolos nya suatu partikel pada suatu saringan yang berukuran tertentu akan
tergantung pada ukuran dan orentasinya terhadap lubang saringan.
Ukuran saringan berhubungan dengan ukuran lubang dari 4,750 mm 0,075 mm maka
saringan tersebut dengan nomor-nomor. Berikut merupakan tabel ukuran ayakan standard.

Tabel 2.3 Ukuran Ayakan Standard


Effective Size (ES) atau ukuran efektif media filter adalah ukuran media filter bagian atas
yang dianggap paling efektif dalam memisahan kotoran yang besarnya 10% dari total kedalaman
lapisan media filter atau 10% dari fraksi berat. Ini sering dinyatakan sebagai d10 (diameter pada
persentil 10).
Uniformity Coefficient (UC) atau koefisien keseragaman adalah angka keseragaman
media filter yang dinyatakan dengan perbandingan antara ukuran diameter pada 60% fraksi berat
terhadap ukuran efektif atau dapat ditulis :
UC = d60 /d10

11

d60 adalah diameter butiran pada persentil 60.


Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter
dikategorikan menjadi :
1. Single media
Satu jenis media seperti pasir silika atau dolomite saja. Filter cepat tradisional biasanya
menggunakan pasir kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS terjadi pada lapisan paling
atas sehingga dianggap kurang efektif karena sering dilakukan pencucian.
2. Dual media
Misalnya digunakan pasir silika dan anthrasit. Filter dual media sering digunakan filter
dengan media pasir kwarsa di lapisan bawah dan anthrasit pada lapisan atas.
3. Multi media filter
Terdiri dari anthrasit, pasir dan garnet atau dolomite, fungsi multi media adalah untuk
memfungsikan seluruh lapisan filter agar berperan sebagai penyaring.
Saluran media berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi :
a. Seragam (uniform), ukuran butiran media filter relatif sama dalam satu bak.
b. Gradasi (stratified), ukuran butiran media tidak sama dan tersusun bertingkat.
c. Tercampur (mixed), ukuran butiran media tidak sama dan bercampur.
Kriteria nilai ukuran efektif dan keseragaman media untuk beberapa jenis dan jumlah
media filter dapat dilihat pada tabel 2.2 . bila suatu stok pasir tidak memenuhi kriteria, maka
harus dilakukan pemilihan ukuran hingga memenuhi kriteria tersebut. Perhitungan persentase
pasir yang dapat digunakan, pasir yang terlalu kecil, pasir yang terlalu besar dapat dihitung
sebagai berikut :
Persentase stok pasir yang dapat digunakan :
P use = 2 (P st60 P st10)
Persentase pasir yang terlalu kecil :
Pf = P st10 0,1 P use = P st10 0,2 (P st60 P st10)
Persentase ukuran pasir yang terlalu besar:
Pc = 100 Pf - P use
KETERANGAN :

P st10 adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES sesuai kriteria yang diminta.

st60

adalah persentase pasir stok yang memenuhi ES X UC sesuai kriteria yang

diminta.
Setelah dilakukan pemilihan ukuran butiran pasir stok, maka pasir stok dapat digunakan
sebagai media filter yang memenuhi kriteria.

12

13

Tabel 2.4 Kriteria Perencanaan Media Filter untuk Pengolaha Air Minum
II.7 Prinsip Desain
Pada dasarnya, prinsip desain dari rapid sand filter atau saringan pasir cepat ada dua yakni:
a. Saringan pasir cepat terbuka (Gravity filter)

Gambar 2.6 Model saringan pasir cepat terbuka

14

b. Saringan pasir cepat tertutup (Pressure Filter)

Gambar 2.7 Gambar saringan pasir tertutup


II.8 Mekanisme Saringan Pasir Cepat
Media filter yang umum digunakan sebagai filter adalah pasir. Pada filtrasi dengan
media berbutir seperti pasir, terdapat mekanisme filtrasi sebagai berikut :
a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)
Cara pemisahan dengan cara penyaringan ini dapat dilakukan untuk memisahkan
padatan yang mempunyai ukuran berbeda dan untuk memisahkan padatan dengan
cairan.
Pemilihan ukuran penyaring disesuaikan dengan ukuran zat-zat yang akan
dipisahkan.
b. Sedimentasi
Sistem kerja dari pengolahan air dengan saringan pasir cepat ini adalah dari bak
sedimentasi air dialirkan ke dalam bak aerasi dan filtrasi yang berisi media pasir,
kerikil, arang aktif, zeolit dan ijuk. Kemudian dari bak filtrasi air dialirkan ke dalam bak
penampungan akhir. Penambahan arang aktif pada media filtrasi bertujuan untuk
menurunkan bau kaporit yang ditambahkan pada bak sedimentasi.
Sedangkan pada bak sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan bahan-bahan
padat tersuspensi atau suspended solid dengan menggunakan gaya gravitasi. Endapan
pada sedimentasi secara periodik harus dibuang karena nantinya akan membusuk dan
menimbulkan gas. Flok-flok yang belum mengendap perlu dilakukan penyaringan. Pada
bak sedimentasi ditambahkan kaporit untuk membunuh kuman penyakit, tawas untuk
mempercepat proses pengendapan yaitu lumpur yang kecil-kecil menjadi kepingan yang
lebih besar, serta bubuk batu kapur untuk menetralkan keasaman, karena air yang telah
diberi tawas tadi menimbulkan keasaman sehingga pH tidak normal.

15

c. Adsorpsi atau gaya elektrokinetik


Adsorpsi atau penjerapan adalah

suatu

proses

yang

terjadi

ketika

suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penjerap,
adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terjerap, adsorbat)
pada permukaannya..
d. Koagulasi di dalam filter bed
Koagulasi adalah proses perubahan cairan atau larutan menjadi gumpalangumpalan lunak baik secara seluruhan ataupun hanya sebagian. Atau dengan kata lain,
koagulasi adalah proses penggumpalan suatu cairan atau larutan sehingga terbentuk
padatan lunak ataupun keras seperti gel.
e. Aktivitas biologis
Dari mekanisme diatas, digolongkan dalam 3 fenomena proses yakni :
1) Transportasi : meliputi proses gerak brown, sedimentasi, dan gaya tarik partikel
2) Kemampuan menempel : meliputi proses mechanical straining, adsorpsi (fisik
kimia) dan biologis.
3) Kemampuan menolak : meliputi tumbukan antar partikel dan gaya tolak
menolak.
Air yang keluar dari penyaringan biasanya sudah jernih dan proses tersebut
merupakan proses akhir dari seluruh proses akhir dari seluruh proses pengolahan dan
penjernihan air.
Agar air yang jernih ini dapat sehat untuk dipakai sebagai air minum, harus
diproses lebih lanjut dengan proses netralisasi dan disenfeksi, agar seluruh kumankuman penyakit yang terkandung di dalamnya dapat dimusnahkan dan tidak dapat
tumbuh kembali.

16

Gambar 2.8 Unit Filtrasi


Air hasil dari penyaringan harus memenuhi persyaratan fisik dan kimia, kekeruhan
air filtrasi lebih dari 5 NTU.
Proses filter pasir cepat adalah sebagai berikut :
a. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media
filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyannga, masuk
lubang/oriface, ke pipa lateral terkumpul didi pipa manifold dan akhirnya air keluar
menuju bak penampung.

Gambar 2.9 Aliran Air Pada Saat Operasi Filter


b. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan) yang akan meningkatkan headloss aliran air di
media
c. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik kepada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat poripori media filter. Aliran air dari mainfold, ke lateral keluar oriface, naik ke media hingga
media terangkat, dan air di buang melewati gutter yang terletak di atas media.

Gambar 2.10 Aliran Air Pada Saat Pencucian Filter


II. 9 Konstruksi, operasi dan perawatan
a. Kegiatan Konstruksi

17

Pengawasan dilakukan oleh para engineer kompeten dan ahli serta terampil di
bidangnya masing-masing.

Banyak kegiatan-kegiatan teknis yang diperlukan didalamnya

Sebagai bahan perhatian bahwa kegiatan pra dan pasca perawatan dari fasilitas
yang sama membutuhkan langkah-langkah yang kompleks, bahan yang mahal
dan skill pekerja yang terampil.

b. Kegiatan Operasional dan Maintenance


Bersihkan filter bed (backwashing) setiap 24 -72 jam sekali. Hal tersebut
dikarenakan air dan lumpur hasil sisa penyaringan masih mengandung zat-zat yang
merugikan maupun toksik, sehingga membutuhkan penanganan (treatment) khusus.

Gambar 2.11 Skema proses terjadinya backwashing

Gambar 2.12 Kasus lumpur hasil disposal backwashing yang tidak di treatment terlebih
dahulu ketika dibuang ke lingkungan
II.10 Penerapan Saringan Pasir Cepat
Adapun penerapan saringan pasir cepat, sebelumnya diperlukan beberapa prasyarat agar
teknologi tersebut berlangsung dengan baik, diantaranya:
18

Ketersediaan fasilitas dan material saat pra dan pasca perawatan (misalnya bahan kimia
untuk koagulasi-flokulasi, klorin, kualitas air uji-kit)

Pengawasan yang terampil (baik untuk konstruksi dan operasi

Listrik apabila diperlukan

Fasilitas pengolahan air backwash dan lumpur yang tersedia

Penerapan saringan pasir cepat pada umumnya sangat ekslusif, yakni diterapkan di industriindustri karena membutuhkan perlakuan khusus, penggunaan material tertentu didalam
operasionalnya dan lain lain sehingga cukup mahal. Hal tersebut dikarenakan karena tanah
merupakan komponen yang terbatas dan listrik apabila dibutuhkan. Selain itu dibutuhkan
suku cadang serta tenaga kerja terampil yang tersedia.
II.11 Keuntungan Dan Kerugian

Keuntungan
a. Sangat efektif didalam menghilangkan kekeruhan / partikel besar (<0,1-1 NTU)
b. Tingkat filter high (4'000 - 12'000 liter per jam per m2)
c. Kebutuhan lahan yang cukup kecil
d. Tidak ada batasan mengenai tingkat kekeruhan awa
e. Waktu membersihkan (backwash) hanya membutuhkan waktu beberapa menit

Kerugian
a. Tidak efektif dalam menghilangkan bakteri, virus, protozoa, fluoride, arsenik,
garam, bau dan bahan-bahan organik (kecuali sebelum dan sesudah pengolahan.
b. Investasi yang tinggi dan biaya operasional
c. Pembersihan sering diperlukan (setiap 24-72h)
d. Pengawasan terampil yang cukup penting
e. Membutuhkan energi yang besar
f.

Pengolahan air backwash dan lumpur yang diperlukan

19

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa:

Saringan Pasir Cepat (SPC) atau bahasa kerennya Rapid Sand Filter (RSF) merupakan
saringan air yang dapat menghasilkan debit air hasil penyaringan yang lebih banyak
daripada Saringan Pasir Lambat (SPL), namun saringan ini kurang efektif untuk
mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang disaring.

Mekanisme Saringan Pasir Cepat dapat dilakukan melalui:


a. Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)
b. Sedimentasi
c. Adsorbsi atau Gaya elektrokinetik
d. Koagulasi di dalam filter bed
e. Aktivitas biologis

Keuntungan dan kerugian dari saringan pasir cepat ini diantaranya:


1) Keuntungan
a. Sangat efektif didalam menghilangkan kekeruhan / partikel besar (<0,1-1 NTU)
b. Tingkat filter high (4'000 - 12'000 liter per jam per m2)
c. Kebutuhan lahan yang cukup kecil
d. Tidak ada batasan mengenai tingkat kekeruhan awa
e. Waktu membersihkan (backwash) hanya membutuhkan waktu beberapa menit
2) Kerugian
a. Tidak efektif dalam menghilangkan bakteri, virus, protozoa, fluoride, arsenik,
garam, bau dan bahan-bahan organik (kecuali sebelum dan sesudah pengolahan.
b. Investasi yang tinggi dan biaya operasional
c. Pembersihan sering diperlukan (setiap 24-72h)
d. Pengawasan terampil yang cukup penting
e. Membutuhkan energi yang besar
f.

Pengolahan air backwash dan lumpur yang diperlukan

III.2 Saran

Perlu adanya suatu inovasi teknologi pembaruan dari saringan pasir cepat,
mengingat masih adanya beberapa kekurangan didalamnya, sehingga dalam
pengoperasiannya akan lebih efisien. Selain itu, makalah ini tentunya masih memiliki

20

banyak kekurangan baik dari sisi bahasa penulisan maupun dari sisi referensinya. Maka
dari itu, kami harap saran dari pembaca.

21

DAFTAR PUSTAKA
Abuzar, Suarni S._. Filtrasi. diakses tanggal 6 Desember 2014
Anonim. 2014. _. Diakses pada tanggal 6 Desember 2014
Braja M. Das, Noor Endah, Indrasurya B. Muchtar, Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip
Rekayasa Geoteknis), jilid 1 Erlangga
Bruni, Marco. Sustainable Sanitation And Water Management, Rapid Sand Filtration.
Diakses pada tanggal 6 Desember 2014.
Craig. R.F, Budi Susilo, Mekanika Tanah, Erlangga. 1989
Kelly, G., W., 1982. Introduction to Mineral Processing, John Willey & Son, New York

22