Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Atresia ani adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus
tidak sempurna, termasuk didalamnya agenesis ani, agenesis rektum dan
atresia rektum. Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai sindroma
VACTRERL (Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb).
B. Embriologi
Usus belakang membentuk sepertiga distal kolon transversum, kolon
desendens, sigmoid, rektum, bagian atas kanalis ani. endodern usus belakang
ini juga membentuk lapisan dalam kandung kemih dan uretra. Bagian akhir
usus belakang bermuara ke dalam kloaka, suatu rongga yang dilapisi
endoderm yang berhubungan langsung dengan ektoderm permukaan. Daerah
pertemuan antara endoderm dan ektoderm membentuk membran kloaka.
Pada perkembangan selanjutnya, timbul suatu rigi melintang, yaitu
septum urorektal, pada sudut antara allantois dan usus belakang. Sekat ini
tumbuh kearah kaudal, karena itu membagi kloaka menjadi bagian depan,
yaitu sinus uroginetalis primitif, dan bagian posterior, yaitu kanalis
anorektalis. Ketika mudigah berumur 7 minggu, septum urorektal mencapai
membran kloaka, dan di daeraah ini terbentuklah korpus parienalis. Membran
kloakalis kemudian terbagi menjadi membran analis di belakang, dan
membran urogenitalis di depan.

Atresia ani | 1

Sementara itu, membran analis dikelilingi oleh tonjol-tonjol


mesenkim, yang dikenal sebagai celah anus atau proktodeum. Pada minggu
ke-9, membran analis koyak, dan terbukalah jalan antara rektum dan dunia
luar. Bagian atas kanalis analis berasal dari endoderm dan diperdarahi oleh
pembuluh nasi usus belakang, yaitu arteri mesentrika inferior. Akan tetapi,
sepertiga bagian bawah kanalis analis berasal dari ektoderm dan ektoderm
dibentuk oleh linea pektinata, yang terdapat tepat di bawah kolumna analis.
Pada garis ini, epitel berubah dari epitel torak menjadi epitel berlapis gepeng.
Secara embriologi, saluran pencernaan berasal dari foregut, midgut
dan hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian
bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta
pankreas. Midgut membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum,
appendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon transversum. Hindgut
meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka, membrana ini tersusun dari
endoderm kloaka, dan ektoderm dari protoderm atau analpit. Usus terbentuk
mulai

minggu

keempat

disebut

sebagai

primitif

gut.

Kegagalan

perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis menghasilkan anomali


letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra
levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada
anomali letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal.
Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau
rudimenter.

Atresia ani | 2

C. Etiologi
Atresia ani dapat disebabkan karena:
1. Putusnya saluran pencernaan di atas dengan daerah anus, sehingga bayi
lahir tanpa lubang dubur
2. Gangguan organogenesis dalam kandungan
3. Berkaitan dengan sindrom down
Atresia ani memiliki etiologi yang multifaktorial. Salah satunya
adalah komponen genetik. Pada tahun 1950an, didapatkan bahwa risiko
malformasi meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan kelainan
atresia ani yakni 1 dalam 100 kelahiran, dibandingkan dengan populasi umum
sekitar 1 dalam 5000 kelahiran. Penelitian juga menunjukkan adanya
hubungan antara atresia ani dengan pasien dengan trisomi 21 (Down's
syndrome). Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mutasi dari bermacammacam gen yang berbeda dapat menyebabkan atresia ani atau dengan kata
lain etiologi atresia ani bersifat multigenik.
D. Patofisilogi
Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada
kehidupan embrional. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan
adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi
cairan, muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel
menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis
hiperkloremia,

sebaliknya

feses

mengalir

kearah

traktus

urinarius

menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk


fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Pada perempuan, 90% dengan

Atresia ani | 3

fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada laki-laki


umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat (rektovesika) bila
kelainan merupakan letak tinggi, pada letak rendah fistula menuju ke uretra
(rektouretralis).
E. Klasifikasi
Menurut klasifikasi Wingspread, atresia ani dibagi 2 golongan yang
dikelompokkan menurut jenis kelamin.
a.

Jenis Kelamin Laki-laki


Golongan I
- Kelainan fistel urin
Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari
orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke
uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan
letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Bila
kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak
uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin
mengandung mekonuim maka fistel ke vesika urinaria. Bila
evakuasi
-

feses

tidak

lancar,

penderita

memerlukan

kolostomi segera.
Atresia rektum
Pada atresia rektum tindakannya sama pada
perempuan. Pada atresia rektum, anus tampak normal tetapi
pada pemerikasaan colok dubur jari tidak dapat masuk lebih
dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu

segera dilakukan kolostomi.


Perineum datar
Fistel tidak ada
Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada
invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.

Golongan II
- Kelainan fistel perineum
Atresia ani | 4

Fistel perineum sama dengan pada perempuan,


lubangnya terletak lebih anterior dari letak anus normal,
-

tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi.


Membran anal
Pada membran anal biasanya tampak bayangan
mekonium di bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada

sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin.


Stenosis anus
Pada stenosis anus, sama dengan perempuan. Pada
stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang
seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidak
lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi

definitif.
Fistel tidak ada
Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada
invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.

Gambar 2.1 Gambaran Atresia Ani pada lali-laki

b.

Jenis Kelamin Perempuan


Golongan I
- Kelainan kloaka
Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara
traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi
Atresia ani | 5

feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat


dilakukan kolostomi.
Fistel vagina
Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari

vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga


-

sebaiknya dilakukan kolostomi.


Fistel rektovestibular
Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat di vulva.
Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya
minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat penderita
mulai

makan

makanan

padat.

Kolostomi

dapat

direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal.


Atresia rektum
Pada atresia rektum, anus tampak normal tetapi pada
pemerikasaan colok dubur jari tidak dapat masuk lebih dari
1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu

segera dilakukan kolostomi.


Fistel tidak ada
Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada

invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.


Golongan II
- Kelainan fistel perineum
Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara
vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus
yang buntu menimbulkan obstipasi
-

Stenosis anus
Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat
yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidak
lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi

definitif.
Fistel tidak ada
Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada
invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.

Atresia ani | 6

Gambar 2.2 Gambaran Atresia Ani pada perempuan


F. Manifestasi Klinis
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu
24-48 jam. Gejala itu dapat berupa :
1. Perut kembung.
2. Muntah.
3. Tidak bisa buang air besar.
4. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat
dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan.
Atresia ani sangat bervariasi, mulai dari atresia ani letak rendah
dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit sehingga
feses bayi tidak dapat melaluinya, malformasi anorektal intermedia dimana
ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal letak tinggi
dimana anus sama sekali tidak ada.
Sebagian besar bayi dengan atresia ani memiliki satu atau lebih
abnormalitas yang mengenai sistem lain. Insidennya berkisar antara 50% 60%. Makin tinggi letak abnormalitas berhubungan dengan malformasi yang
lebih sering. Kebanyakan dari kelainan itu ditemukan secara kebetulan, akan

Atresia ani | 7

tetapi beberapa diantaranya dapat mengancam nyawa seperti kelainan


kardiovaskuler.
Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan
malformasi anorektal adalah
1.

Kelainan kardiovaskuler.
Ditemukan pada sepertiga pasien dengan atresia ani. Jenis kelainan
yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten ductus
arteriosus, diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular septal defect.

2.

Kelainan gastrointestinal.
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%),
obstruksi duodenum (1%-2%).

3.

Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis.


Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan
lumbosakral seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae, dan
hemisacrum. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan adalah
myelomeningocele, meningocele, dan teratoma intraspinal.

4.

Kelainan traktus genitourinarius.


Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan
pada atresia ani. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan
urogeital dengan atresia ani letak tinggi antara 50 % sampai 60%, dengan
atresia ani letak rendah 15% sampai 20%. Kelainan tersebut dapat berdiri
sendiri ataupun muncul bersamaan sebagai VATER (Vertebrae, Anorectal,

Atresia ani | 8

Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan VACTERL (Vertebrae,


Anorectal,

Cardiovascular,

Tracheoesophageal,

Renal

and

Limb

abnormality).
G. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti.
Pada anamnesis dapat ditemukan :
1.

Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir.

2.

Tidak ditemukan anus, kemungkinan juga ditemukan adanya fistula.

3. Bila ada fistula pada perianal kemungkinan kelainan adalah letak rendah.
untuk mendiagnosa atresia ani dapat menggunakan cara:
1.

Bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urin bila :


a.

Fistel perianal (+), bucket handle, anal stenosis atau anal membran
berarti atresia letak rendah maka dilakukan minimal Postero Sagital
Anorektoplasti (PSARP) tanpa kolostomi

b.

Bila mekoneum (+) maka atresia letak tinggi dan dilakukan kolostomi
terlebih
definitif.

dahulu, setelah 8 minggu kemudian dilakukan tindakan


Apabila

pemeriksaan

diatas

meragukan

dilakukan

invertrogram. Bila akhiran rektum < 1 cm dari kulit maka disebut


letak rendah. Akhiran rektum > 1 cm disebut letak tinggi. Pada lakilaki

fistel

dapat

berupa

rektovesikalis,

rektouretralis

dan

rektoperinealis.
2. Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel.
Bila ditemukan fistel perineal (+) maka dilakukan minimal PSARP
tanpa kolostomi. Bila fistel rektovaginal atau rektovestibuler dilakukan

Atresia ani | 9

kolostomi terlebih dahulu. Bila fistel (-) maka dilakukan invertrogram:


apabila akhiran < 1 cm dari kulit dilakukan postero sagital anorektoplasti,
apabila akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostom terlebih dahulu.
Bila mekonium didadapatkan pada perineum, vestibulum atau fistel
perianal maka kelainan adalah letak rendah . Bila pada pemeriksaan fistel
(-) maka kelainan adalah letak tinggi atau rendah. Pemeriksaan foto
abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar usus terisi udara, dengan
cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi badan vertikal dengan
kepala dibawah) atau knee chest position (sujud) dengan bertujuan agar
udara berkumpul didaerah paling distal. Bila terdapat fistula lakukan
fistulografi.
Pada pemeriksan klinis, pasien atresia ani tidak selalu menunjukkan
gejala obstruksi saluran cerna. Untuk itu, diagnosis harus ditegakkan pada
pemeriksaan klinis segera setelah lahir dengan inspeksi daerah perianal
dan dengan memasukkan termometer melalui anus.
Mekonium biasanya tidak terlihat pada perineum pada bayi dengan
fistula rektoperineal hingga 16-24 jam. Distensi abdomen tidak ditemukan
selama beberapa jam pertama setelah lahir dan mekonium harus dipaksa
keluar melalui fistula rektoperineal atau fistula urinarius. Hal ini
dikarenakan bagian distal rektum pada bayi tersebut dikelilingi struktur
otot-otot volunter yang menjaga rektum tetap kolaps dan kosong.
Tekanan intrabdominal harus cukup tinggi untuk menandingi tonus
otot yang mengelilingi rektum. Oleh karena itu, harus ditunggu selama 16-

Atresia ani | 10

24 jam untuk menentukan jenis atresia ani pada bayi untuk menentukan
apakah akan dilakukan colostomy atau anoplasty.
Inspeksi perianal sangat penting. Flat "bottom" atau flat perineum,
ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple mengindikasikan
bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat sedikit. Tanda ini
berhubungan dengan atresia ani letak tinggi dan harus dilakukan
colostomy.
Tanda pada perineum yang ditemukan pada pasien dengan atresia ani
letak rendah meliputi adanya mekonium pada perineum, "bucket-handle"
(skin tag yang terdapat pada anal dimple), dan adanya membran pada anus
(tempat keluarnya mekonium).
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan kepada pasien atresia
ani adalah :
a. Radiologi dengan Barium Enema
Akan terlihat gambaran klasik seperti daerah transisi dari lumen

sempit ke daerah yang melebar.


Pada foto 24 jam kemudian, terlihat retensi barium dan gambaran

mikrokolon.
b. Biopsi hisap rektum
Digunakan untuk mencari tanda histologik yang khas, yaitu tidak
adanya sel ganglion parasimpatik di lapisan muskularis mukosa,
dan adanya serabut saraf yang menebal.

Atresia ani | 11

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia ani
letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa waktu
lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur abdominoperineal
pullthrough, tapi metode ini banyak menimbulkan inkontinen feses dan
prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. metode operasi dengan pendekatan
postero sagital anorektoplasti, yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter

Atresia ani | 12

eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong


rektum dan pemotongan fistel.
Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya secara
jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya, bentuk kosmetik
serta antisipasi trauma psikis. Untuk menangani secara tepat, harus
ditentukankan ketinggian akhiran rektum yang dapat ditentukan dengan
berbagai cara antara lain dengan pemeriksaan fisik, radiologis dan USG.
Komplikasi yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena
kegagalan menentukan letak kolostomi, persiapan operasi yang tidak adekuat,
keterbatasan pengetahuan anatomi, serta ketrampilan operator yang kurang
serta perawatan post operasi yang buruk. Dari berbagai klasifikasi
penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran rektum
dan ada tidaknya fistula.
Sehingga tindakan operasi menganjurkan pada :
a.

Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi atau
TCD dahulu, setelah 6 12 bulan baru dikerjakan tindakan definitif
(PSARP).

b.

Atresia ani letak rendah dilakukan perineal anoplasti, dimana sebelumnya


dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas
otot sfingter ani ekternus.

c.

Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion.

d.

Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin.


Bahwa pada atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan

kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan diversi. Operasi definitif

Atresia ani | 13

setelah 4 8 minggu. Saat ini teknik yang paling banyak dipakai adalah
posterosagital anorektoplasti, baik minimal, limited atau full postero sagital
anorektoplasti.
Neonatus perempuan perlu pemeriksaan khusus, karena seringnya
ditemukan vital ke vetibulum atau vagina (80-90%). Golongan I Pada fistel
vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak
lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum,
muara fistel terdapat divulva. Umumnya evakuasi feses lancar selama
penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai etrhambat saat penderita mulai
makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam
keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara
traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna.
Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat
dilakukan kolostomi. Pada atresia rektum, anus tampak normal tetapi pada
pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak
ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila
tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera
dilakukan kolostomi. Golongan II. Lubang fistel perineum biasanya terdapat
diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang
buntu ada di posteriornya. Kelainan ini umumnya menimbulkan obstipasi.
Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi
sangat sempit.
Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan
terapi definitif. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara < 1 cm dari

Atresia ani | 14

kulit. Dapat segera dilakukan pembedahan definitif. Dalam hal ini evakuasi
tidak ada, sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.
Yang harus diperhatikan ialah adanya fitel atau kenormalan bentuk
perineum dan tidak adanya butir mekonium di urine. Dari kedua hal tadi pada
anak laki dapat dibuat kelompok dengan atau tanpa fistel urin dan fistel
perineum. Golongan I. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari
orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke
vesika urinaria.
Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter
urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena
fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka
fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita
memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rektum tindakannya sama pada
perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm
dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.
Golongan II. Fistel perineum sama dengan pada wanita ; lubangnya terdapat
anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya tampak
bayangan mekonium di bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada
sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama
dengan wanita, tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan
udara < 1cm dari kulit pada invertogram, perlu juga segera dilakukan
pertolongan bedah.

Komplikasi post operasi PSARP

Atresia ani | 15

Kematian pascaoperasi PSARP pada atresia ani jarang, biasanya


disebabkan oleh kelainan kongenital mayor yang menyertai. Komplikasi
mayor membutuhkan reoprasi dan kasus yang paling sering adalah repair
kloaka. Komplikasi minor yang sering terjadi adalah infeksi perineal,
dehisensi luka operasi, trauma uretra atau vagina, dan trauma pada saraf
daerah pelvis. Komplikasi lanjut yang sering terjadi adalah stenosis ani,
prolaps mukosa rektum, dan fistula yang rekuren.

Penatalaksanaan post operasi PSARP

Pemberian antibiotik intravena selama 3 hari, salep antibiotik diberikan


selama 8 10 hari. 10 hari post operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger
dilatation, 2x sehari dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal
dilator yang dinaikan sampai mencapai ukuran ynag sesuai dengan umurnya.
Businasi dihentikan bila busi nomor 13-14 mudah masuk. Dilatasi anus bisa
dilakukan oleh orang tua di rumah, mula-mula dengan jari kelingking
kemudian dengan jari telunjuk selama 23 bulan berikutnya. Penutupan
kolostomi dapat dilakukan 23 bulan setelah pembedahan definitif (Saxena,
2004).

Umur
1-4 bulan
4-12 bulan
8 12 bulan
1-3 tahun
3-12 tahun

Ukuran
12
13
14
15
16

Frekuensi
Tiap 1 hari
Tiap 3 hari
Tiap 1 minggu
Tiap 1 minggu
Tiap 1 bulan

Dilatasi
1 x dalam 1 bulan
1 x dalam 1 bulan
2 x dalam 1 bulan
1 x dalam 1 bulan
1x dalam 3 bulan

Untuk menilai fungsi anus , digunakan sistem skroring Klotz yaitu :


Variabel
1. Defekasi

Kondisi
1-2 x sehari

Skor
1

Atresia ani | 16

2. Kembung
3. Konsistensi
4. Perasaan ingin BAB
5. Soiling
6. Kemampuan
menahan feses
yang akan keluar
7. Komplikasi

2 hari sekali
3-5 x sehari
3 hari sekali
> 4 hari sekali
Tidak pernah
Kadang kadang
Terus menerus
Normal
Lembek
Encer
Terasa
Tidak terasa
Tidak pernah
Terjadi bersama flatus
Terus menerus
>1 menit
<1 menit
Tidak bisa menahan
Tidak ada
Komplikasi minor
Komplikasi mayor

1
2
2
3
1
2
3
1
2
3
1
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

Nilai skoring 7 21
7

= Sangat baik

8-10

= Baik

11-13

= Cukup

>14

= Kurang

Pencegahan komplikasi post operasi PSARP

Tindakan pencegahan timbulnya komplikasi paska tidakan defenitif


PSARP adalah perawatan luka secara baik dan benar sehingga mengurangi
resiko infeksi, melalukan dilatasi rutin pada anus dengan cara colok dubur,

Atresia ani | 17

konsumsi makanan bergizi dan menghindari makanan yang mudah


menyebabkan konstipasi.
I.

Prognosis
Prognosis baik apabila gejala obstruksi segera diatasi. Penyulit pasca
bedah seperti kebocoran anastomosis, atau striktur anastomosis umumnya
dapat diatasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Anorectal Malformation A parents Guide. Departement of Paediatric


Surgery Starship Hospital Auckland, 2006. http://www.starship.org.nz/General
%20Surgery%20PDFs/anorect.pdf [diakses 16 November 2014]
2. Faradilla N, Damanik R.R, Mardhiya W.R.2009. Anestesi pada Tindakan
Posterosagital Anorektoplasti pada Kasus Malformasi Anorektal. Universitas
Atresia ani | 18

Riau. Available from: (http://www.Files-of-DrsMed.tk. [diakses 16 November


2014]
3. Levitt M, Pena A. Anorectal Malformation. Orphanet Journal of Rare Diseases
2007, 2:33. http://www.ojrd.com/content/2/1/33 [diakses 16 November 2014]
4. De Jong, Sjamsuhidajat. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Atresia ani | 19