Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Berbahasa merupakan suatu kegiatan yang dilakukan manusia dengan manusia yang lain.
Kegiatan berbahasa ini bisa berupa tulisan dan ucapan. Dengan berbahasa yang baik, kita dapat
menyampaikan sesuatu kepada orang lain dan orang lain akan mengerti pada apa yang kita
sampaikan.
Bahasa merupakan objek linguistik, yang terdiri atas tataran fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantik. Pada keempat tataran berbahasa itu, kita seringkali mengalami kesalahan
ucap atau salah dengar. Kesalahan itu terkadang berasal dari kesalahan yang tidak kita sadari,
yaitu diperoleh dari bahasa pertama. Ada juga kesalahan yang kita pelajari dari pemerolehan
bahasa kedua, yaitu ketika terjadi proses pembelajaran, termasuk dalam berbahasa Indonesia.
Pemerolehan bahasa dapat diartikan sebagai periode seorang individu memperoleh
bahasa atau kosakata baru. Pemerolehan bahasa sangat banyak ditentukan oleh interaksi rumit
antar aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial.
Istilah pemerolehan bahasa dipakai untuk padanan istilah inggris acquisition, yakni,
proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa
ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari
istilah inggris learning. Dalam pegertian ini proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal,
yakni belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Dengan demikian, proses dari anak yang
belajar menguasai bahasa ibunya pemerolehan, sedangkan proses dari orang (umumnya dewasa)
yang belajar di kelas adalah pemerolehan.
Memahami ujaran orang lain merupakan unsur pertama yang harus dikuasai manusia
dalam berbahasa. Begitu pula manusia hanya memproduksi ujaran apabila dia mengetahui
aturan-aturan yang harus diikuti yang diperoleh sejak kecil. Pertanyaannya, mengapa
pemerolehan bahasa yang berbeda pada umur dewasa daripada pemerolehan sejak anak masih
kecil berkaitan erta dengan struktur serta organisasi otak manusia.
Pada pembahasan kali ini, penulis akan menguraikan tentang aspek-aspek kebahasaan
dalam pemerolehan bahasa dari segi fonologi dan leksikal.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pembahasan penulis di dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian dari pemerolehan bahasa ?
2. Bagaimana aspek pemerolehan bahasa dari segi fonologi ?
3. Bagaimana aspek pemerolehan bahasa dari segi leksikal ?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui pengertian pemerolehan bahasa.
2. Untuk mengetahui dan memahami aspek pemerolehan bahasa dari segi fonologi.
3. Untuk mengetahui dan memahami aspek pemerolehan bahasa dari segi leksikal.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemerolehan Bahasa


Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara
natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (Dardjowidjojo, 2003: 225). Pemerolehan bahasa
terjadi secara alami pada masa kanak-kanak. Karena itu, Kiparsky (1977) menjelaskan bahwa
pemerolehan bahasa merupakan proses yang dipakai oleh anak-anak untuk menyesuaikan
hipotesi yang makin bertambah rumit atau teori-teori yang masih terpendam yang mungkin
terjadi dengan ucapan orang tuanya sampai dia memilih menurut ukuran penilaian tata bahasa
yang terbaik dan sederhana dari bahasanya.
Krashen dalam Schutz (2006:12) mendefinisikan pemerolehan bahasa sebagai the
product of a subconscious process very similar to the process children undergo when they
acquire their first language. Dengan kata lain pemerolehan bahasa adalah proses bagaimana
seseorang dapat berbahasa atau proses anak-anak pada umumnya memperoleh bahasa pertama.
Pemerolehan bahasa merupakan ambang sadar pemeroleh bahasa biasanya tidak sadar bahwa ia
tengah memperoleh bahasa, tetapi hanya sadar akan kenyataan bahwa ia tengah menggunakan
bahasa untuk komunikasi. Schutz menambahkan hasil dari pemerolehan bahasa yakni
kompetensi yang diperoleh juga bersifat di ambang sadar. Si pemeroleh pada umurnya tidak
sadar tentang kaidah bahasa yang diperolehnya. Menurut Sigel dan Cocking (2000:5)
pemerolehan bahasa merupakan proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan
serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang
paling baik dan sederhana dari bahasa yang bersangkutan.
Pemerolehan bahasa umumnya berlangsung dilingkungan masyarakat bahasa target
dengan sifat alami dan informal serta lebih merujuk pada tuntutan komunikasi. Berbeda dengan
belajar bahasa yang berlangsung secara formal dan artifisial serta merujuk pada tuntutan
pembelajaran (Ricardo Schutz, 2006:12). Pemerolehan bahasa dibedakan menjadi pemerolehan
bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa pertama terjadi jika anak
belum pernah belajar bahasa apapun, lalu memperoleh bahasa. Pemerolehan ini bisa satu bahasa
atau monolingual FLA (first language acquisition), bisa dua bahasa secara bersamaan atau

berurutan (bilingual FLA). Bahkan bisa lebih dari, dua bahasa (multilingual FLA). Sedangkan
pemerolehan bahasa kedua terjadi jika seseorang memperoleh bahasa setelah menguasai bahasa
pertama atau merupakan proses seseorang mengembangkan keterampilan dalam bahasa kedua
atau bahasa asing.

B. Aspek Pemerolehan Bahasa dari Segi Fonologi


Pada waktu dilahirkan, anak hanya memiliki sekitar 20% dari otak dewasanya. Ini
berbeda dengan binatang yang sudah memiliki sekitar 70% karena perbedaan inilah maka
binatang sudah dapat melakukan banyak hal segera setelah lahir, sedangkan manusia hanya bisa
menangis dan menggerakkan badannya. Proporsi yang ditakdirkan kecil pada manusia ini
mungkin memang dirancang agar pertumbuhan otaknya proporsional pula dengan
pertumbuhan badannya.
Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan
bunyi konsonan atau vokal. Bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang
belum terdengar dengan jelas. Proses mengeluarkan bunyi-bunyi seperti ini dinamakan cooing,
yang telah diterjemahkan menjadi olekutan (Darjo Widjojo, 2000: 63). Anak mendekutkan
bermacam-macam bunyi yang belum jelas identitasnya.
Pada sekitar umur 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga
membentuk apa yang dalam bahasa Inggris disebut babbling, yang telah diterjemahkan menjadi
celotehan (Darjo Widjojo, 2000: 63). Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti oleh
sebuah vokal. Pada periode babbling (mengoceh) ia membuat bunyi-bunyi yang makin
bertambah variasinya dan makin kompleks kombinasinya. Mereka mengkombinasikan vocal
dengan konsonan menjadi suatu sequence seperti silaba, umpamanya ba-ba-ba, ma-ma-ma, papa-pa dan seterusnya. Ocehan ini tidak dapat diinterpretasikan dan banyak daripadanya yang
nantinya setelah ia dapat berbicara, tidak dipakai dalam mengucapkan kata-kata yang berarti.
Ocehan ini semakin bertambah sampai si anak mampu memproduksi perkataan yang pertama,
yaitu pada periode kalimat satu kata, yang kira-kira muncul sekitar usia satu tahun.
Suatu hal yang menarik ialah adanya uniformitas pada anak-anak dengan pelbagai
bahasa, dalam hal bunyi-bunyi pertama yang mereka produksikan, yaitu konsonan dengan p atau
m, vocal belakang a mendahului konsonan belakang k dan g serta vocal depan I dan u (Laughin,
1978). Jadi, dalam perkembangan fonologi, seorang anak harus mempelajari aturan-aturan

fonologi, misalnya aturan untuk mengombinasikan bunyi-bunyi menjadi suatu bunyi ujaran yang
ada dalam suatu bahasa. Disamping itu, mereka juga harus belajar menghubungkan bunyi dengan
acuannya. Artinya seorang anak akan menangkap atau memperhatikan hal-hal yang penting
dalam suatu ucapan atau kalimat, apabila hal itu mengacu (make reference to) kepada obyekobyek yang konkrit atau hubungan-hubungan dan kejadian-kejadian yang dialami si anak.
Menghubungkan bunyi dengan acuannya ini merupakan suatu proses yang kompleks, bukan
sekedar mempelajari nama dari benda-benda seperti yang dikatakan oleh kaum behavioris
(Erwin Tripp, 1973).
Banyak dilontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai hubungan antara ocehan ini dengan
perolehan sistem bunyi orang dewasa. Dalam usahanya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,
ada dua pendekatan yang telah diadakan para ilmuwan sebagai berikut:
1) Pendekatan berkesinambungan (the continuity approach), yaitu pendekatan yang
mengatakan bahwa bunyi-bunyi ocehan merupakan pelopor langsung dari tuturan
(speech sound). Sering juga disebut sebagai selective reinforcement hypothesis
karena anak memproduksi bunyi seperti yang pernah didengarnya selama
konversasi dan situasi-situasi menyenangkan lainnya, yang mendapatkan
reinforcement secara selektif. (P.S. Dale, 1976).
2) Pendekatan tak bersinambungan (the discontinuity approach). Pendekatan ini
menganggap

bahwa

ocehan

tidak

ada

hubungannya

langsung

dengan

perkembangan bicara selanjutnya.


Kedua pendekatan tersebut diatas mendapat kritik karena tidak dapat menerangkan faktafakta secara tuntas. Hubungan antara ocehan dan munculnya ujaran yang berarti/mengerti, masih
belum diketahui secara jelas (Clark & Clark, 1977). Tetapi P.S. Dale, beranggapan bahwa proses
fonologi merupakan keluaran dari innatephonological acquisition device yang merefleksikan
preferensi produksi si anak.
Begitu anak-anak melewati periode mengoceh, mereka mulai menguasai segmen-segmen
fonetik, yang merupakan balok bangunan yang dipergunakan untuk mengucapkan perkataan.
Mereka belajar bagaimana mengucapkan sequence of segments, yaitu silabe-silabe (suku kata)
dan kata-kata.
Cara anak-anak mencoba menguasai segmen fonetik ini adalah dengan menggunakan
teori hypothesis-testing (Clark & Clark, 1977) atau discovery procedures (Braine). Menurut teori

ini, anak-anak menguji coba pelbagai hipotesis tentang bagaimana memproduksi bunyi yang
betul. Contohnya: Anak mencoba mengucapkan kata doggie.
Kadang-kadang apabila si anak hanya mempunyai beberapa segmen saja yang dikuasai,
ia berhasil menemukan cara yang tepat atau benar untuk memproduksi segmen tertentu.
Misalnya contoh diatas, ia berhasil mengucapkan dodie (segmen d). kemudian apabila ia
menambahkan beberapa konsonan letup lainnya ke dalam daftar inventarisasinya, mungkin ia
mula-mula mengalami kesukaran untuk mengucapkan dua konsonan letup yang berbeda dalam
satu perkataan (segme d dan g). Oleh karenanya, ia memusatkan diri pada segmen yang baru,
yaitu segmen g sehingga terbentuklah goggie karena si anak memproduksinya pada dua tempat.
Ia mulai memilih tanda-tanda (gestures) artikulasi yang benar untuk memproduksi doggie seperti
yang umumnya diucapkan oleh orang dewasa (clark & Clark, 1977).
Pada tahap-tahap permulaan pemerolehan bahasa, biasanya anak-anak memproduksi
perkataan orang dewasa yang disederhanakan dengan cara sebagai berikut:
1. Menghilangkan konsonan akhir
2. Mengurangi kelompok konsonan menjadi segmen tunggal
3. Menghilangkan silabe yang tidak diberi tekanan (weak syllable delection)
4. Duplikasi silaba yang sederhana (reduplikasi)
Menurut beberapa hipotesis, penyederhanaan ini disebabkan oleh:
1. Memory span yang terbatas
2. Kemampuan representasi yang terbatas
3. Kepandaian artikulasi yang terbatas
Penyederhanaan tersebut diatas hilang bilamana si anak telah menguasai lebih banyak
segmen-segmen dan urutan segmen-segmen. Anak-anak juga mempraktekkan segmen-segmen
yang baru diperoleh dan anak mengoreksi dirinya sendiri apabila dalam pengucapan kata kurang
tepat.
Praktek dan koreksi diri ini memberikan bukti tambahan bahwa anak-anak mengandalkan pada
model, yaitu the adult based representations of word (Clark & Clark).

C. Aspek Pemerolehan Bahasa dari Segi Leksikal


Sebelum anak dapat mengucapkan kata, dia memakai cara lain untuk berkomunikasi, dia
memakai tangis dan gesture (gesture, gerakan tangan, kaki, mata, mulut, dan sebagainya). Pada

mulanya kita kesukaran memberi makna untuk tangis yang kita dengar tetapi lama-kelamaan kita
tahu pula akan adanya tangis-sakit, tangis-lapar, dan tangis-basah (pipis/eek). Pada awal
hidupnya anak memakai pula gestur seperti senyum dan julur tangan untuk meminta sesuatu.
Dengan cara-cara seperti ini anak sebenarnya memakai kalimat yang protodeklaratif dan
protaimperatif (Gleason dan Ratner 1998, 358).
Berikut adalah proses pembentukan bahasa yang melalui dua pembagian, yaitu:
a.

Macam kata yang dikuasai

Macam kata yang dikuasai anak mengikuti prinsip sini dan kini. Dengan demikian kata
apa yang akan diperoleh anak pada awal ujarannya ditentukan lingkungannya. Pada anak orang
terdidik yang tinggal di kota dan cukup mampu untuk membeli bermacam-macam mainan, buku
gambar, dan di rumahnya juga terdapat alat-alat elektronik, orang tuanya juga mempunyai waktu
untuk bergaul dengan banyak dengan anaknya, maka anak akan memperoleh kata-kata nomina
seperti bola, anjing, kucing, beruang, radio, ikan, payung, sepatu, dan sebagainya. Untuk verba di
samping yang umum seperti bubuk, maem, pipis, dan sebagainya juga akan diperoleh verba
seperti nyopir, ngetik, jalan-jalan, belanja, dan sebagainya. Pada anak petani di desa, apalagi
yang agak terpencil, kata-kata seperti ini kecil kemungkinannya untuk dikuasai awal. Prinsip sini
pada anak desa ini akan membuat dia menguasai kosakata seperti daun, rumput, cangkul, bebek,
sapi, dan sebagainya.
Dari macam-macam kata yang ada, yakni, kata utama dan kata fungsi, anak menguasai
kata utama lebih dahulu. Karena kata umum ada paling tidak tiga, yakni, nomina, verba dan
adjektiva.
b.

Cara anak menentukan makna

Cara untuk menentukan makna suatu kata bukanlah hal yang mudah. Dari masukan yang
ada, anak harus menganalisis segala macam fiturnya sehingga makna yang diperolehnya itu
akhirnya sama dengan makna yang dipakai oleh orang dewasa.
Dalam hal penentuan makna suatu kata, anak mengikuti prinsip-prinsip universal. Salah
satu diantaranya adalah yang dinamakan overextension yang telah diterjemahkan menjadi
penggelembungan makna (Dardjo Widjojo, 2000). Diperkenalkan dengan suatu konsep baru,
anak cenderung untuk mengambil salah satu fitur dari konsep itu, lalu menerapkannya pada
konsep lain yang memiliki fitur tersebut. Contoh yang sering dipakai adalah konsep tentang
bulan moon. Pada waktu anak diperkenalkan dengan kata bulan, dia mengambil fitur bentuk

fisiknya, yakni bulan itu bundar. Fitur ini kemudian diterapkan pada segala macam benda yang
bundar seperti kue ulang tahun, jam dinding, piring dan huruf O. Tiap kali terapannya itu ditolak,
dia merevisi definisi dia tentang bulan sampai akhirnya dia memperoleh makna yang
sebenarnya. Di samping bentuk, ukuran juga bisa menjadi fitur yang diambil anak.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Pemerolehan bahasa: (1) terjadi pada masa kanak-kanak, (2) bermotivasi internal, adanya
tingkah laku dan komunikasi verbal, (3) data bahasa tak terprogram, (4) tak ada guru (instruktur)
formal.
Dari penjelasan di atas juga dapat disimpulkan bahwa proses pemerolehan bahasa pada
manusia terdapat pada beberapa aspek, yang mana aspek tersebut berhubungan dengan
komponen pada bahasa itu sendiri, yaitu:
1. Segi fonologi, yang menjelaskan bahwa seorang anak mulai mengeluarkan bunyibunyian pada umur sekitar 6 Minggu.
2. Segi Leksikal, yang menjelaskan anak pada mulanya hanya berbahasa dengan
tangisan atau rengekan.
Dan kemampuan anak dalam menguasai makna kata atau menentukan makna suatu kata
dipengaruhi/ditentukan oleh lingkungannya. Jadi apabila anak tersebut tinggal di lingkungan
yang terdidik, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang terdidik juga, begitu pula sebaliknya,
apabila dia tinggal di lingkungan yang kurang terdidik, maka ia akan tumbuh dengan kurang
terdidik pula.