Anda di halaman 1dari 20

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hampir semua reaksi kimia yang diterapkan dalam industri kimia melibatkan

bahan baku yang berbeda wujudnya, baik berupa padatan, gas maupun cairan. Oleh

karena itu, reaksi kimia dalam suatu industri dapat terjadi dalam fase ganda atau

heterogen, misalnya biner atau bahkan tersier (Coulson, 1996). Walaupun terdapat

perbedaan wujud pada bahan-bahan baku yang direaksikan, namun terdapat satu

fenomena yang selaluterjadi. Sebelum reaksi kimia berlangsung. Maka salahsatu atau

lebih bahan baku (reaktan) akan berpindah dari aliran utamanya menuju ke lapisan

antarfase/batas atau menuju aliran utama bahan baku yang lain yang berada di fase

yang berbeda.

Absorpsi gas-cair merupakan proses heterogen yang melibatkan perpindahan komponen gas yang dapat larut menuju penyerap yang biasanya berupa cairan yang tidak mudah menguap (Franks, 1967). Reaksi kimia dalam proses absorpsi dapat terjadi di lapisan gas, lapisan antarfase, lapisan cairan atau bahkan badan utama cairan, tergantung pada konsentrasi dan reaktifitas bahan-bahan yang direaksikan.

Untuk memfasilitasi berlangsungnya tahapan-tahapan proses tersebut, biasanya proses absorpsi dijalankan dalam reactor tangki berpengaduk bersparger, kolomg elembung (bubble column) atau kolom yang berisi tumpukan partikel inert (packed bed column). Proses absorpsi gas-cair dapat diterapkan pada pemurnian gas sintesis, recovery beberapa gas yang masih bermanfaat dalam gas buang atau bahkan pada industri yang melibatkan pelarutan gas dalam cairan, seperti H 2 SO 4 , HCl, HNO 3 ,

formadehid dll(Coulson, 1996).Absorpsi gas CO 2 dengan larutan hidroksid yang kuat

merupakan proses absorpsi yang disertai dengan reaksi kimia order 2 antara CO 2 dan ion OH - membentuk ionCO 3 2- dan H 2 O.Sedangkan reaksi antara CO 2 dengan CO 3 2- membentuk ion HCO3 - biasanya diabaikan (Danckwerts, 1970; Juvekardan Sharma, 1972). Namun, menurut Rehmet al. (1963) proses ini juga biasa dianggap mengikuti

reaksi order 1 jika konsentrasi larutan NaOH cukup rendah (encer).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

2

Perancangan reaktor kimia dilakukan berdasarkan pada permodelan

hidrodinamika reaktor dan reaksi kimia yang terjadi di dalamnya. Suatu model

matematika merupakan bentuk penyederhanaan dari proses sesungguhnya di dalam

sebuah reaktor yang biasanya sangat rumit (Levenspiel, 1972). Reaksi kimia biasanya

dikaji dalam suatu proses batch berskala laboratorium dengan mempertimbangkan

kebutuhan reaktan, kemudahan pengendalian reaksi, peralatan, kemudahan

menjalankan reaksi dan analisis, dan ketelitian.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO 2 yang

terserap pada berbagai waktu reaksi?

2. Bagaimana pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO 2 fase gas (k G a)?

3. Bagaimana pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan

perpindahan massa CO 2 fase cair (k La )?

4. Bagaimana pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan reaksi antara CO 2 dan NaOH (k 2 )?

1.3 Tujuan Percobaan

ini,

mengenai beberapa hal berikut:

1. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO 2 yang terserap pada berbagai waktu reaksi.

2. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO 2

Setelah

melakukan

percobaan

mahasiswa

mampu

menjelaskan

fase gas (k G a).

3. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO 2

fase cair (k La ).

4. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan reaksi antara CO 2 dan

NaOH (k 2 ).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

3

1.4 Manfaat Percobaan

1. Mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO 2

yang terserap pada berbagai waktu reaksi.

2. Mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan perpindahan massa CO 2 fase gas (k G a).

3. Mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan

perpindahan massa CO 2 fase cair (k La ).

4. Mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai tetapan reaksi antara CO 2 dan NaOH (k 2 ).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

4

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Absorbsi Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap tertentu sehingga satu atau lebih komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Absorbsi dapat terjadi melalui dua mekanisme, yaitu absorbsi fisik dan absorbsi kimia.

Absorbsi fisik merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas dalam larutan penyerap, namun tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh proses ini adalah absorbsi gas H 2 S dengan air, methanol, propilen karbonase. Penyerapan

terjadi karena adanya interaksi fisik. Mekanisme proses absorbsi fisik dapat dijelaskan dengan beberapa model, yaitu: teori dua lapisan (two films theory) oleh Whiteman (1923), teori penetrasi oleh Dankcwerts dan teori permukaan terbaharui.

Absorbsi kimia merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa pelarutan gas dalam larutan penyerap yang disertai dengan reaksi kimia. Contoh peristiwa ini adalah absorbsi gas CO 2 dengan larutan MEA, NaOH, K 2 CO 3 dan sebagainya.

Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO 2 pada pabrik Amonia seperti yang terlihat pada gambar 2.1

absorber stripper
absorber
stripper

Gambar 2.1.Proses absorpsi dan desorpsi CO 2 dengan pelarut MEA di pabrik Amonia

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

5

Proses absorpsi dapat dilakukan dalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan sparger, kolom gelembung (bubble column), atau dengan kolom yang berisi packing yang inert (packed column) atau piringan (tray column). Pemilihan peralatan proses absorpsi biasanya didasarkan pada reaktifitas reaktan (gas dan cairan), suhu, tekanan, kapasitas, dan ekonomi.

2.2 Analisis Perpindahan Massa dan Reaksi dalam Proses Absorpsi Gas oleh

Cairan Secara umum, proses absorpsi gas CO 2 kedalam larutan NaOH yang disertai reaksi kimia berlangsung melalui empat tahap, yaitu perpindahan massa CO 2 melalui lapisan gas menuju lapisan antarfase gas-cairan, kesetimbangan antara CO 2 dalam fase gas dan dalam faselarutan, perpindahan massa CO 2 dari lapisan gas kebadan

utama larutan NaOH dan reaksi antara CO 2 terlarut dengan gugus hidroksil (OH - ). Skema proses tersebutdapatdilihat pada Gambar 2.2.

Gas bulk flow Gas film Liq. film Liq. bulk flow p g p ai A*
Gas bulk flow
Gas film
Liq. film
Liq. bulk flow
p
g
p
ai
A*

Gambar2.2.Mekanismeabsorpsi gas CO 2 dalamlarutanNaOH

Laju perpindahan massa CO 2 melalui lapisan gas:

Ra kga ( pg  pai)

(1)

Kesetimbangan antara CO 2 dalam fase gas dan dalam fase larutan :

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

6

A* H .pai(2)

dengan H pada suhu 30 o C = 2,88 10 -5 g mole/cm 3 . atm.

Laju perpindahan massa CO 2 dari lapisan gas ke badan utama larutan NaOH dan reaksi antara CO 2 terlarut dengan gugus hidroksil:

Ra [A*]a

D A .k 2 .[OH



]

Keadaan batas :

A *] a D A . k 2 .[ OH  ] Keadaan batas : (3)
A *] a D A . k 2 .[ OH  ] Keadaan batas : (3)

(3)

Dengan z adalah koefisien reaksi kimia antara

CO 2 dan [OH - ], yaitu = 2

Di fase cair,reaksi antara CO 2 dengan larutan NaOHterjadi melalui beberapa tahapan

proses:

dengan larutan NaOHterjadi melalui beberapa tahapan proses: (a) (b) (c) (d) (e) Langkah d dan e
dengan larutan NaOHterjadi melalui beberapa tahapan proses: (a) (b) (c) (d) (e) Langkah d dan e

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

Langkah d dan e biasanya berlangsung dengan sangat cepat, sehingga proses absorpsi biasanya dikendalikan oleh peristiwa pelarutan CO 2 ke dalam larutan NaOH

terutama jika CO 2 diumpankan dalam bentuk campuran dengan gas lain atau

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

7

dikendalikan bersama-sama dengan reaksi kimia pada langkah c (Juvekar dan

Sharma, 1973).

Eliminasi A* dari persamaan 1, 2 dan 3 menghasilkan :

Eliminasi A* dari persamaan 1, 2 dan 3 menghasilkan : Jika nilai k L sangat besar,

Jika nilai k L sangat besar, maka:

D A .k 2 .[OH ] k L 
D A .k 2 .[OH
]
k L


(4)

1 , sehingga persamaan di atas

menjadi:

k L  (4)  1 , sehingga persamaan di atas menjadi:  (5) Jika keadaan

(5)

Jika keadaan batas (b) tidak dipenuhi, berarti terjadi pelucutan [OH - ] dalam

larutan.Hal ini berakibat:

pelucutan [OH - ] dalam larutan.Hal ini berakibat:   (6) Dengan demikian, maka laju absorpsi

(6)

Dengan demikian, maka laju absorpsi gas CO 2 ke dalam larutan NaOH akan

mengikuti persamaan:

Ra a.H.pg..k L 1 a.H..k L

k Ga

(7)

Dengan adalah enhancement faktor yang merupakan rasio antara koefisien transfer

massa CO 2 pada fase cair jika absorpsi disertai reaksi kimia dan tidak disertai reaksi

kimia seperti dirumuskan oleh Juvekar dan Sharma (1973)

kimia dan tidak disertai reaksi kimia seperti dirumuskan oleh Juvekar dan Sharma (1973) Laboratorium Proses Kimia

Laboratorium Proses Kimia 2014

(8)

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

8

OH Nilai diffusivitas efektif (D A ) CO 2 dalam larutan NaOH pada suhu 30 o C adalah 2,1 

10 -5 cm 2 /det (Juvekardan Sharma, 1973). Nilai k G a dapat dihitung berdasarkan pada absorbsi fisik dengan meninjau

perpindahan massa total CO 2 ke dalam larutan NaOH yang terjadi pada selang waktu

tertentu di dalam alat absorpsi. Secara teoritik, nilai k Ga harus memenuhi persamaan :

teoritik, nilai k G a harus memenuhi persamaan : (9) Dalam bentuk bilangan tak berdimensi k

(9)

Dalam bentuk bilangan tak berdimensi k Ga dapat dihitung menurut persamaan (Kumoro dan Hadiyanto, 2000) :

dihitung menurut persamaan (Kumoro dan Hadiyanto, 2000) : (10) Jika tekanan operasi cukup rendah, maka p

(10)

Jika tekanan operasi cukup rendah, maka p lm dapat didekati dengan p = p in -p out . Sedangkan nilai k la dapat dihitung secara empirik dengan persamaan (Zheng dan and Xu, 1992)

secara empirik dengan persamaan (Zheng dan and Xu, 1992) k dp Jika laju reaksi pembentukan Na

k

dp

Jika laju reaksi pembentukan Na 2 CO 3 jauh lebih besar dibandingkan dengan laju difusi CO 2 ke dalam larutan NaOH, maka konsentrasi CO 2 pada batas film cairan dengan badan cairan adalah nol. Hal ini disebabkan oleh konsumsi CO 2 yang sangat

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

9

cepat selama reaksi sepanjang film. Dengan demikian, tebal film (x) dapat ditentukan persamaan:

x

D

A .( p in p out )

mol(CO 2 ).R.T

3

2.3 Teori Lapisan Film

(12)

Teori lapisan film dapat dijelaskan seperti gambar di bawah ini :

lapisan film dapat dijelaskan seperti gambar di bawah ini : Gambar 2.3 : Lapisan Film Lapisan

Gambar 2.3 : Lapisan Film Lapisan gas film ini dalam keadaan diam mempunyai ketebalan tertentu, di mana ketebalan ini tergantung dari derajat turbulensi dari gas, demikian pula halnya dengan lapisan film cair. Mekanisme perpindahan gas- gas molekul kedua lapisan film ini hanya dipengaruhi oleh diffusi Eddy dan konveksi. Koefisien perpindahan massa pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain : temperatur, konsentrasi dan derajat turbulensi. Suhu atau temperatur berpengaruh kepada koefisien difusi dan viskositas, dimana dengan meningkatnya temperatur, koefisien difusi akan meningkat dan sebaliknya viskositas akan menurun dengan meningkatnya temperatur. Konsentrasi yang meningkat menyebabkan viskositas naik dan koefisien difusi menurun. Derajat turbulensi berpengaruh pada koefisien perpindahan massa dan ketebalan lapisan film, dengan naiknya derajat turbulensi akan menurunkan atau menipiskan lapisan film dan meningkatkan koefisien perpindahan massa.

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

10

BAB III

PELAKSANAAN PERCOBAAN

3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan

1. Bahan yang digunakan

a. Kristal Natrium Hidroksida (NaOH)

b. Cairan gas karbondioksida (CO 2 ) yang disimpan di tabung bertekanan

c. Udara

d. Aquadest (H 2 O)

e. Reagent untuk analisis yaitu larutan HCl 0,1 N dan indikator PP dan MO

2. Alat yang digunakan Rangkaian alat praktikum absorbsi terlihat pada gambar 3.1

Rangkaian alat praktikum absorbsi terlihat pada gambar 3.1 Gambar 3.1 Rangkaian Alat Utama Laboratorium Proses Kimia

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Utama

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

11

3.2 Variabel Operasi

a. Variabel tetap

1. Tekanan CO 2

: 6 atm

2. Suhu

: 30 o C

3. Laju alir NaOH

: 0,015 L/menit

b. Variabel berubah Konsentrasi NaOH

: 0,5 N ; 0,75 N ; 1 N

3.3 Respon Uji Hasil Konsentrasi ion CO 3 2- dalam larutan sampel dan CO 2 yang terserap

3.4 Prosedur Percobaan 400 gram NaOH ditimbang dan dilarutkan dalam 10 L aquadest. Selanjutnya

larutan NaOH ditampung dalam tangki 1 untuk digunakan sebagai larutan penyerap.

Langkah berikutnya adalah penentuan fraksi ruang kosong di dalam kolom absorpsi.

Pertama, larutan NaOH dialirkan dari bak penampung 2 ke dalam kolom absorpsi

pastikan kran di bawah kolom absorpsi dalam keadaan tertutup agar larutan NaOH

tidak keluar dari kolom absorpsi. Kemudian, kran dimatikan jika tinggi cairan di

dalam kolom tepat setinggi tumpukan packing. Setelah cairan tepat menempati ruang

packing, cairan dikeluarkan dari dalam dalam kolom dengan membuka kran di

bawah kolom. Cairan tersebut ditampung dank ran ditutup kembali apabila cairan

dalam kolom tepat berada pada packing bagian paling bawah. Ukur volume cairan

yang telah ditampung, catat volume cairan tersebut sebagai volume ruang kosong

dalam kolom absorbsi (V void ). Selanjutnya fraksi ruang kosong dapat ditentukan

i d ). Selanjutnya fraksi ruang kosong dapat ditentukan dengan ,dimana . Langkah tersebut diulang untuk
i d ). Selanjutnya fraksi ruang kosong dapat ditentukan dengan ,dimana . Langkah tersebut diulang untuk

dengan ,dimana . Langkah tersebut diulang untuk variabel

yang lain.

Setelah didapat fraksi ruang kosong di dalam kolom absorbs, maka langkah

berikutnya adalah melakukan proses absorbsi. NaOH 1 N dipompa dan diumpankan

ke dalam kolom melalui bagian atas kolom pada laju alir 0,015 L/menit hingga

keadaan mantap tercapai. Kemudian, gas CO 2 dialirkan melalui bagian bawah kolom.

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

12

Ukur beda ketinggian cairan dalam manometer 1 dan manometer 2 jika aliran gas

sudah steady. Selanjutnya, setiap 1 menit, sampel cairan dari dasar kolom yang keluar dari kolom absorbsi diambil 10 mL untuk dianalisa kadar ion karbonatnya atau kandungan NaOH bebasnya. Pengambilan sampel dilakukan selama 10 menit. Percobaan diulang untuk harga variabel yang berbeda. Prosedur untuk analisa kadar ion karbonat atau kandungan NaOH bebasnya

Pertama, sebanyak 10 mL sampel cairan

ditempatkan dalam gelas Erlenmeyer 100 mL. Kemudian, indikator fenolpthalein (PP) ditambahkan sampai warna merah jambu. Titrasi sampel dengan larutan HCl 0,1 N sampai warna merah hamper hilang. Catat kebutuhan titran (a). Maka mol HCl = a x 0,1 mmol. Setelah itu, indikator metil jingga (MO) ditambahkan sebanyak 2-3 tetes dan titrasi dilanjutkan kembali sampai warna jingga berubah menjadi merah. Catat kebutuhan titran (b). kebutuhan HCl dapat dihitung dengan b x 0,1 mmol. Jumlah NaOH bebas dihitung dengan (2a-b) x 0,1 mmol di dalam 10 mL sampel. Maka konsentrasi NaOH bebasnya = (2a-b) x 0,01 mol/L.

mengikuti langkah seperti berikut

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

13

IV.2

BAB IV PEMBAHASAN

Pembahasan IV.2.1 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Jumlah CO2 yang Terserap pada Berbagai Waktu Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO 2 yang terserap pada berbagai waktu dapat dilihat pada gambar 4.1

0.5 0.45 0.4 NaOH 1 N 0.35 NaOH 0,75 N 0.3 NaOH 0,5 N 0.25
0.5
0.45
0.4
NaOH 1 N
0.35
NaOH 0,75 N
0.3
NaOH 0,5 N
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Waktu (menit)
CO2 yang Terserap (mol)

Gambar 4.1: Hubungan konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO 2 yang terserap pada berbagai waktu Gambar 4.1 diatas menunjukkan hubungan antara konsentrasi NaOH dengan CO 2 yang terserap. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa pada konsentrasi NaOH 1 N, CO 2 yang terserap paling banyak. Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi NaOH maka CO 2 yang terserap semakin tinggi. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi NaOH yang tinggi, jumlah molekul NaOH yang terlarut sebagai sorben menjadi lebih banyak sehingga akan semakin banyak molekul NaOH yang dapat bereaksi dan mengikat CO 2 . Jumlah CO 2 yang terserap pada ketiga konsentrasi pada suatu waktu tertentu akan menuju nilai konstan (Maarif, Fuad dan Januar Arif, 2008).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

14

IV.2.2 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Nilai Kga Larutan NaOH adalah fase cairnya sedangkan gas CO 2 adalah fase gasnya. Oleh karena itu ada hubungan antara larutan NaOH dengan gas CO2 yang berupa koefisien perpindahan massa interfase gas (Kga), hubungannya dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut :

6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 1.1
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1.1
Kga x 10 -3 (1/m 3 .menit)

Konsentrasi NaOH (N)

Gambar 4.2: Hubungan konsentrasi NaOH terhadap nilai Kga Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kenaikan konsentrasi larutan penyerap (NaOH) dapat meningkatkan koefisien perpindahan massa antar fase gas-cair (Kga). Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi NaOH, maka semakin dekat jarak antar molekul NaOH yang terlarut sehingga peluang terjadinya tumbukan molekul NaOH dengan CO 2 juga semakin besar dan kontak fase antara gas dengan cairan semakin baik. Dengan demikian, maka jumlah gas yang dapat berpindah dari fase gas menuju fase cair juga semakin besar. Kemampuan gas untuk berpindah dari fase gas menuju cairan dibatasi oleh daya larut maksimum gas tersebut dalam cairan yang berkontak dengannya (Kumoro dan Hadiyanto, 2000).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

15

IV.2.3 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Nilai K2 Percobaan ini merupakan jenis absorpsi yang disertai reaksi kimia didalamnya. Reaksi kimia berjalan dengan konstanta kecepatan reaksi (K). Untuk menunjukkan bagaimana hubungan antara konsentrasi dengan konstanta kecepatan reaksi, maka perlu dilakukan perhitungan terlebih dahulu untuk

, dengan harga Ea untuk reaksi

mencari harga A. Menurut Arhenius, =

antara NaOH dengan CO 2 adalah 8,06 kJ/mol (Levenspiel, 1972) dan suhu operasi adalah 303 K (30 o C) maka harga A dapat dihitung untuk berbagai nilai k. Harga A ini merupakan fungsi dari konsentrasi dimana semakin besar A maka konsentrasi NaOH akan semakin besar pula. Dengan begitu pengaruh konsentrasi NaOH dengan nilai konstanta kecepatan reaksi dapat ditentukan. Hubungan antara nilai k dengan A dapat dilihat pada gambar 4.3.

9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 0.05 0.1 0.15 0.2
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0.4
Konstanta Kecepatan Reaksi (L/mol.menit)
Faktor Tumbukan

Gambar 4.3: Hubungan konsentrasi NaOH terhadap nilai K 2 Pada grafik di atas dapat dilihat hubungan antara nilai k dengan nilai A. Semakin besar nilai k maka harga A (faktor tumbukan) semakin besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi molekul NaOH yang terlarut semakin banyak dan jaraknya semakin rapat seiring dengan meningkatnya nilai konstanta kecepatan reaksi antara NaOH dan CO 2. (Levenspiel, 1972)

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

16

IV.2.4 Pengaruh Konsentrasi NaOH terhadap Nilai Kla Selain hubungan dengan nilai Kga, ada pula hubungan antara konsentrasi NaOH dengan nilai Kla yang merupakan koefisien perpindahan massa interfase cair. Hubungannya terlihat dalam gambar 4.4 berikut :

1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 0.20 0.00 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
1.40
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1.1
Kla x 10 -7 (mol/m 3 .Pa)

Konsentrasi (N)

Gambar 4.4: Hubungan konsentrasi NaOH terhadap nilai Kla Pada Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa nilai Kla naik seiring dengan meningkatnya konsentrasi NaOH. Pada konsentrasi NaOH yang tinggi jumlah molekul NaOH sebagai sorben menjadi lebih banyak sehingga akan semakin banyak molekul NaOH yang bereaksi dengan CO2. Semakin banyak reaksi antara NaOH dengan CO 2 akan semakin banyak pula perpindahan massa interfase cair (Kla) yang terjadi (Anonim, 2014).

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

17

BAB V

PENUTUP

V.1

Kesimpulan

1. Semakin besar konsentrasi NaOH maka jumlah CO2 yang terserap semakin banyak.

2. Semakin besar konsentrasi NaOH, nilai Kga akan semakin besar.

3. Semakin besar konsentrasi NaOH, nilai K2 akan semakin besar.

4. Jumlah CO2 yang terserap akan semakin banyak kemudian konstan seiring berjalannya proses absorbsi.

5. Semakin besar konsentrasi NaOH, nilai Kla akan semakin besar.

V.2

Saran

1. Penggunaan valve yang baik agar mudah dalam pengaturan laju alir NaOH.

2. Jaga valve untuk laju alir NaOH diatur sesuai dengan variable yang ditentukan agar tetap konstan.

3. Jaga tekanan pada tangki CO2 agar CO2 yang keluar tidak berlebihan.

4. Jaga tekanan pada kompresor agar raksa yang ada pada inverted manometer tidak keluar ke pipa pembuangan

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

18

DAFTAR PUSTAKA

Arai, 2007, Absorbsi Gas CO 2 Dengan NaOH,

Coulson, J.M. dan Richardson, J.F., 1996, Chemical Engineering: Volume 1: Fluid

flow, heat transfer and mass transfer, 5 UK.

th

ed. Butterworth Heinemann, London,

Danckwerts, P.V. dan Kennedy, B.E., 1954, Kinetics of liquid-film process in gas

absorption. Part I: Models of the absorption process, Transaction of the

Institution of Chemical Engineers, 32:S49-S52.

Danckwerts, P.V., 1970, Gas Liquid Reactions, McGraw-Hill Book Company, Inc.,

New York, pp. 42-44,

Fatih, Selvy, dan Tri Wulandari, 2009, Absorbsi Gas CO 2 Dengan NaOH, Laporan

Resmi Praktikum Unit Proses, IV, 12-13.

Franks, R.G.E., 1967, Mathematical modeling in chemical engineering. John Wiley

and Sons, Inc., New York, NY, USA, pp. 4-6.

Higbie, R., 1935, The rate of absorption of a pure gas into a still liquid during short

period of exposure, Transaction of the Institution of Chemical Engineers,

31,365-388.

Juvekar, V. A. dan Sharma, M.M., 1972, Absorption of CO, in a suspension of lime, Chemical Engineering Science, 28, 825-837.

Kumoro dan Hadiyanto, 2000, Absorpsi Gas Karbondioksid dengan Larutan Soda Api dalam Unggun Tetap, Forum Teknik, 24 (2), 186-195.

ed. John Wiley and Sons,

Levenspiel, O., 1972, Chemical reaction engineering, 2 Inc., New York, NY, USA, pp. 210-213, 320-326.

nd

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

19

Olutoye, M. A. dan Mohammed, A., 2006, Modelling of a Gas-Absorption Packed Column for Carbon Dioxide-Sodium Hydroxide System, African Union Journal of Technology, 10(2),132-140

Rehm, T. R., Moll, A. J. and Babb, A. L., 1963, Unsteady State Absorption ofCarbon Dioxide by Dilute Sodium Hydroxide Solutions, American Institute of Chemical Engineers Journal, 9(5), 760-765.

Zheng, Y. and Xu, X. (1992), Study on catalytic distillation processes. Part I. Mass transfer characteristics in catalyst bed within the column, Transaction of the Institution of Chemical Engineers, (Part A) 70, 459464.

Laboratorium Proses Kimia 2014

Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan NaOH

20

INTISARI

Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia dimana suatu campuran gas saling kontak dengan suhu cairan penyerap tertentu sehingga satu atau lebih komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Percobaan absorbsi CO 2 dengan NaOH bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi NaOH terhadap jumlah CO2 terserap, menentukan besar koefisien perpindahan massa pada proses absorbsi, dan tetapan laju reaksi CO 2 dan NaOH. Pada percobaan ini, variable berubah adalah konsentrasi NaOH yaitu 1 N; 0,75 N; dan 0,5 N. Beda waktu pengambilan sampel yaitu 1 menit dan tekanan operasi 1 atm. Sedangkan variabel tetapnya adalah laju alir NaOH (15 ml/menit). Percobaan ini diawali dengan membuat larutan induk NaOH 1 N; 0,75 N; dan 0,5 N sebanyak 10 liter. Kemudian NaOH dipompa ke bagian atas menara. Lalu gas CO2 dialirkan ke bagian bawah absorber dan NaOH dialirkan ke kolom packed sesuai dengan variabel berubah. Larutan NaOH dan CO 2 dibiarkan saling kontak. Sebanyak 10 ml sampel yaitu campuran antara NaOH dengan CO2 diambil dari bagian dasar menara dengan interval 1 menit dan dianalisis kadar CO3 2- dengan cara titrasi acidi alkalimetri. Dari hasil percobaan didapatkan hasil semakin besar konsentrasi NaOH maka semakin besar CO 2 yang terserap, dikarenakan semakin banyak jumlah molekul NaOH yang dapat mengikat CO 2 sehingga CO 2 pun akan semakin banyak terserap. Semakin besar konsentrasi NaOH maka nilai Kla dan nilai Kga akan semakin besar, hal tersebut dikarenakan semakin banyaknya CO2 yang terserap. Selain itu, semakin besar konsentrasi NaOH, Semakin besar nilai k maka harga A (faktor tumbukan) semakin besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi molekul NaOH yang terlarut semakin banyak dan jaraknya semakin rapat seiring dengan meningkatnya nilai konstanta kecepatan reaksi antara NaOH dan CO 2. Kesimpulan dari percobaan ini adalah semakin besar konsentrasi NaOH maka nilai Kla, Kga dan K akan semakin besar serta CO 2 yang terserap akan semakin banyak. Saran yang dapat diberikan antara lain penggunaan valve yang baik sehingga mudah dalam pengaturan laju alir, menjaga valve sehingga dapat memperoleh laju alir yang konstan dan melakukan titrasi dengan teliti sesuai dengan warna yang diperoleh.

Laboratorium Proses Kimia 2014