Anda di halaman 1dari 22

Dimas Adriyono Wibowo

1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

LI.1 MM Anatomi sistem saraf pusat nyeri


Jaras Spesifik Nyeri

Traktus spinotalamikus Lateralis


o Axon dari neiron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterius
substantia grissea medulla spinalis dan segera bercabang menjadi serabut yang naik dan
yang turun
o Sesudah memasuiki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk tractus
posterolateral (lissaueri) , serabut ini segera bersinapsis dengan neuron orde kedua yang
terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa cornu posterius
o Axon dari neuron orde kedua berjalan menyilang garis tengah pada comissura anterior
substantia grissea dam substantia alba kemudian naik keatas pada sisi kontra lateral
sebagai anterius. Sewaktu berjalan keatas, serabut saraf baru terus bertambah sesuai
dengan banyaknya segmen medulla spinalis, demikian rupa sehingga pada bagian atas
cervical terdapat
Serabut sraf yang datang dari sacral terletak posterolateral
Serabut saraf yang datang dari cervical terletak anteromedial (serebut saraf yang
menghantarkan rasa sakit terletak didepan yang menghantarkan sensasi suhu)
o Pada Medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran lateral antara nucleus
olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N.Trigeminus. disini ia bergabung
dengan
Tractus spinothalamicus anterius
Tractus spinotectalis
Yang kemudian gabungan dari ketiganya disebut lemniscus spinalis
o Pada pons kemudian naik keatas dibagian belakang pons
o Pada mesencephalon kemudian lemniscus medialis berjalan pada tegmentum , lateralis
dari lemniscus medialis
o Pada diencephalon serabut saraf dari tractus spinothalamicus lateralis akan bersinapsis
dengan neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari keolompok ventral thalamus
(bagian dari nucleus lateralis thalamus), dimana disini akan terjadi penilaian kasar sensasi
sakit dan suhu dan reaksi emosi mulai timbul.
o Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna dan corona
radiata untuk berakhi pada gyrus postcentralis (brodmann 3 2 1) . dari sini informasi rasa
sakit dan suhu akan diteruskan ke area motorik dan area asosiasi di cortex lobus parietalis.
o Cortex cerevri gyrus psotcentralis berfungsi untuk menafsirkan suhu dan sakit sehingga
akan muncul kesadaran terkait sensasi tersbut.
o Pembagian secara fisiologis
Sewaktu memasuki medulla spinalis , sinyal rasa nyeri9 melewati dua jalur ke otak yaitu:
Traktus neospinotalamikus
Traktus neospinotalamisu bergfungsi utnuk menyalurkan nyeri secara
cepat. Terutama terdiri atas serabut A-Delta yang tyerutama dilalui oleh
rasa nyeri mekanik dan nyeri suhu akut. Serabut perifer jalur ini
berakhir pada lamina I kornu dorsalis. Dan dari sini akan merangsang
neuron orde dua dari tractus neospinotalamicus. Neuron ini akan
mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang terletak di dekat sisi lain
medulla spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya berbelok naik
ke otak dalam kolumna anterolateralis.
Hanya sebagian kecil saja serabut neopinotalamikus berakhir di daerah
retikularis batang otak, sisaya melewati batang otak dan langsung
berakir di kompleks ventrobasal thalami.
Nyeri cepat dapat dilokalisasi dengan mudah di dalam tubuh
Neurotransmiter A delta umumnya adalah glutamat

Traktus paleospinotalamikus
Jalur ini befungsi untuk menjalarkan nyeri lambat-kronik , sebagian
serabutnya adalah tipe C, sebagian kecil A-delta. Dalam jaras ini,
serabut-serabut perifer berakhri pada lamina II dan II kornu dorsalis
yang secara bersama-sama disebut substansi gelatinosa, serabut C

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

terletak lebih lateral dari A-delta. Setelah itu akan berlanjut ke lamina V
dan neuron-neuronnya merangsang akson-akson panjang (yang juga
menjadi penghantar nyeri cepat) yang mula-mula melewati komisura
anterior ke sisi berlawanan dari medulla spinalis ,kemudian naik ke otak
melalui jaras anterolateral
Neotransmiter nya adalah glutamat dan Substansi P, substansi P bersifat
lebih lambat dari Glutamat yang memungkinkan glutamat untuk sampai
terlebih dahulu. Yang menjelaskan suatu fenomena rasa sakit ganda
Jaras paleospinotalamikus berakhir kebanyakan di
o Mucleus retikularis medula, pons dan mesensefalon
o Area tektal mesensefalon sampai kolukulus usperior dan
inferior
o Daerah periakuaduktus substansia grisea yang mengelilingi
aquaductus sylvii
Kemampuan lokalisasi rasa nyeri pada jalur lambat sangatlah buruk dan
kebanyakan hanya dapat dilokalisasi di bagian tubuh yang luas
Formasio retikularis berfungsi untuk menimbulkan persepsio nyeri yang
disadari

Fisiologi Nyeri
Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual
atau potensial (Corwin J.E. ). Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan
dilepasnya bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion kalium,
bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk). Nyeri juga
dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor
C. dkk).
Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan dalam saraf
sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf bermielin A delta dan saraf
tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut
dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang
saraf perifer dan disusun saraf pusat. Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri dapat berupa rangsangan
mekanik, suhu (panas atau dingin) dan agen kimiawi yang dilepaskan karena trauma/inflamasi.
Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan system saraf untuk mengubah berbagai stimuli mekanik,
kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke system saraf pusat.
Berdasarkan patofisiologinya nyeri terbagi dalam:
1.
2.
3.
4.

Nyeri nosiseptif atau nyeri inflamasi, yaitu nyeri yang timbul akibat adanya stimulus mekanis terhadap
nosiseptor.
Nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang timbul akibat disfungsi primer pada system saraf ( neliola, et at,
2000 ).
Nyeri idiopatik, nyeri di mana kelainan patologik tidak dapat ditemukan.
Nyeri spikologik

Berdasarkan factor penyebab rasa nyeri ada yang sering dipakai dalam istilah nyeri osteoneuromuskuler, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Nociceptor mechanism.
Nerve or root compression.
Trauma ( deafferentation pain ).
Inappropiate function in the control of muscle contraction.
Psychosomatic mechanism.

Apabila elektroterapi ditujukan untuk menghambat mekanisme aktivasi nosiseptor baik pada tingkat perifer
maupun tingkat supra spinal. TENS sebagai salah satu cara/upaya dalam aplikasi elektroterapi terhadap nyeri.
Nociceptor:

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Sensor elemen yang dapat mengirim signal ke CNS akan halhal yang berpotensial membahayakan. Sangat
banyak dalam tubuh kita, serabut-serabut afferentnya terdiri dari:
1.
2.

A delta fibres, yaitu serabut saraf dengan selaput myelin yang tipis.
C fibres, serabut saraf tanpa myelin.

Tidak semua serabut-serabut tadi berfungsi sebagai nosiseptor, ada juga yang bereaksi terhadap rangsang panas
atau stimulasi mekanik. Sebaliknya nosiseptor tidak dijumpai pada serabut-serabut sensory besar seperti A
Alpha, A Beta atau group I, II. Serabut-serabut sensor besar ini berfungsi pada propioception dan motor
control.
Nociceptor sangat peka tehadap rangsang kimia (chemical stimuli). Pada tubuh kita terdapat algesic chemical
substance seperti: Bradykinine, potassium ion, sorotonin, prostaglandin dan lain-lain.
Subtansi P, suatu neuropeptide yang dilepas dan ujung-ujung saraf tepi nosiseptif tipe C, mengakibatkan
peningkatan mikrosirkulasi local, ekstravasasi plasma. Phenomena ini disebut sebagai neurogenic
inflammation yang pada keadaan lajut menghasilkan noxious/chemical stimuli, sehingga menimbulkan rasa
sakit. Deregulasi Sistem Motorik yang Menyebabkan Rasa Sakit.
Kita ketahui hypertonus otot dapat menyebabkan rasa sakit. Pada umumnya otot-otot yang terlibat adalah
postural system. Nosiseptif stimulus diterima oleh serabut-serabut afferent ke spinal cord, menghasilkan
kontraksi beberapa otot akibat spinal motor reflexes. Nosiseptif stimuli ini dapat dijumpai di beberapa tempat
seperti kulit visceral organ, bahkan otot sendiri. Reflek ini sendiri sebenarnya bermanfaat bagi tubuh kita,
misalnya withdrawal reflex merupakan mekanisme survival dari organisme.
Disamping berfungsi tersebut, kita juga sadari bahwa kontraksi-kontraksi tadi dapat meningkatkan rasa sakit,
melalui nosiseptor di dalam otot dan tendon. Makin sering dan kuat nosiseptor tersebut terstimulasi, makin kuat
reflek aktifitas terhadap otot-otot tersebut. Hal ini akan meningkatkan rasa sakit, sehingga menimbulkan
keadaan vicious circle, kondisi ini akan diperburuk lagi dengan adanya ischemia local, sebagai akibat dari
kontrksi otot yang kuat dan terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat sebagai akibat dari disregulasi
system simpatik.
Pada gambar 1, terlihat input serabut afferent dan organ visceral, kulit, sendi, tendons, otot-otot atau impuls dan
otak yang turun ke spinal dapat mempengaruhi rangsangan (exitability) dan alpha dan gamma motorneurons
yang berakibat kontraksi otot (muscle stiffness), misalnya meningkatkan input nosiseptif dari viscus
abdominalis akan meningkatkan tonus otot-otot abdomen. Atau input nosiseptif dari sendi kapsul dapat
meningkatkan reflex excitability dan beberapa otot-otot antagonis yang bersangkutan dengan pergerakan
sendi tersebut sehingga hal ini dapat memblok sendi tersebut, disebut juga sebagai neurogenic block.
Pengaruh yang paling besar berasal dari otak, stress dan emosi dapat mengakibatkan descending excitatory
pathways, sehingga merangsang peningkatan reflek dari otot-otot postural.
Perasaan nyeri tergantung pada pengaktifan serangkaian sel-sel saraf, yang meliputi reseptor nyeri afferent
primer, sel-sel saraf penghubung (inter neuron) di medulla spinalis dan batang otak, sel-sel di traktus ascenden,
sel-sel saraf di thalamus dan sel-sel saraf di kortek serebri. Bermacam-macam reseptor nyeri primer ditemukan
dan memberikan persarafan di kulit, sendi-sendi, otot-otot dan alat-alat dalam pengaktifan reseptor nyeri yang
berbeda menghasilkan kuatitas nyeri tertentu. Sel-sel saraf nyeri pada kornu dorsalis medulla spinalis berperan
pada reflek nyeri atau ikut mengatur pengaktifan sel-sel traktus ascenden. Sel-sel saraf dari traktus
spinothalamicus membantu memberi tanda perasaan nyeri, sedangkan traktus lainnya lebih berperan pada
pengaktifan system kontrol desenden atau pada timbulnya mekanisme motivasi-afektif.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa thalamus lebih berperan dalam sensasi nyeri dibandingkan daerah
kortek serebri (willis WD, 1995). Meskipun demikian penelitian-penelitian lain membuktikan peranan yang
cukup berarti dan kortek serebri dalam sensasi nyeri. Struktur diensepalik dan telesepalik seperti thalamus
bagian medial, hipotalamus, amygdala dan system limbic diduga berperan pada berbagai reaksi motivasi dan
afektif dari nyeri.
Nyeri merupakan pengalaman individu yang melibatkan sensasi sensori dan emosional yang tidan
menyenangkan. Nyeri dapat dibagi 2. Pertama, nyeri nosiseptf yang terjadi akibat aktifasi nosi reseptor A-d dan
C sebagai respon terhadap rangsangan noxius (termal , mekanik , kimia). Kedua, neyri neuropatik merupakan
nyeri yang timbul akibat kerusakan/perubahan patologis pada system saraf perifer atau sentral. Pada kasus
reumatik nyeri yang ditimbulkan adalah mixed pain, yaitu kombinasi antara nyeri nosiseptif dan neuropatik.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Penyebab Nyeri
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus nyeri. Stimulus nyeri dapat
dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme otot merupakan penyebab nyeri yang umum
karena dapat mengakibatkan terhentinya aliran darah ke jaringan ( iskemia jaringan), meningkatkan
metabolisme di jaringan dan juga perangsangan langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik.
Proses Utama
Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius aktivitas elektrik reseptor terkait.
Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang meneruskan
impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke atas
(ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik
antara thalamus dan cortex.
Modulasi yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri. Suatu jaras tertentu telah diteruskan di
sistem saran pusat yang secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan
oleh stress atau obat analgetika seperti morfin (Dewanto).
Persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama
sekali belum jelas. bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat
disayangkan karena nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga tidak terhindarkan
keterbatasan untuk memahaminya (Dewanto).
Nyeri diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf-saraf perifer, Zat kimia (substansi P, bradikinin,
prostaglandin) dilepaskan, kemudian menstimulasi
saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari daerah yang terluka ke otak.
Sinyal nyeri dari daerah yang terluka berjalan sebagai impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal
spinal cord (daerah pada spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh).
Pesan kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak di mana sensasi seperti panas, dingin, nyeri,
dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan lalu dihantarkan ke cortex, di mana intensitas dan lokasi nyeri
dipersepsikan.
Di dalam spinal cord, ada gerbang yang dapat terbuka atau tertutup. Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat
dan dikirim ke otak. Gerbang juga bisa ditutup. Stimulasi saraf sensoris dengan menggaruk secara perlahan di
dekat daerah nyeri dapat menutup gerbang sehingga mencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga
dapat menutup gerbang, misalnya perasaan sembuh dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang
dirasakan (Patricia & Walker).
Termal, rasa nyeri yang ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi dengan jumlah kerusakan yang
telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan kerusakan jaringan yang timbul. Hal ini juga berlaku untuk
penyebab nyeri lainnya yang bukan termal seperti infeksi, iskemia jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45
C, jaringan jaringan dalam tubuh akan mengalami kerusakan yang didapati pada sebagian besar populasi.
Kimia, ada beberapa zat kimia yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin, serotonin, histamin, ion kalium,
asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya yang diidentifikasi adalah prostaglandin dan substansi
P yang bekerja dengan meningkatkan sensitivitas dari free nerve endings. Prostaglandin dan substansi P tidak
langsung merangsang nyeri tersebut. Dari berbagai zat yang telah dikemukakan, bradikinin telah dikenal sebagai
penyebab utama yang menimbulkan nyeri yang hebat dibandingkan dengan zat lain. Kadar ion kalium yang
meningkat dan enzim proteolitik lokal yang meningkat sebanding dengan intensitas nyeri yang sirasakan karena
kedua zat ini dapat mengakibatkan membran plasma lebih permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga
termasuk stimulus kimia karena pada keadaan iskemia terdapat penumpukan asam laktat, bradikinin, dan enzim
proteolitik.
Reseptor nyeri banyak tersebar pada lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu, seperti
periosteum, dinding arteri, permukaan sendi, falx, dan tentorium. Kebanyakan jaringan internal lainnya hanya
diinervasi oleh free nerve endings yang letaknya berjauhan sehingga nyeri pada organ internal umumnya timbul
akibat penjumlahan perangsangan berbagai nerve endings dan dirasakan sebagai slow chronic- aching type
pain.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Nyeri dapat dibagi atas dua yaitu fast pain dan slow pain. Fast pain, nyeri akut, merupakan nyeri yang dirasakan
dalam waktu 0,1 s setelah stimulus diberikan. Nyeri ini disebabkan oleh adanya stimulus mekanik dan termal.
Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat A dengan kecepatan
mencapai 6 30 m/s. Neurotransmitter yang mungkin digunakan adalah glutamat yang juga merupakan
neurotransmitter eksitatorik yang banyak digunakan pada CNS.
Slow pain, nyeri kronik, merupakan nyeri yang dirasakan dalam waktu lebih dari 1 detik setelah stimulus
diberikan. Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus mekanik, kimia dan termal tetapi stimulus yang
paling sering adalah stimulus kimia. Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda spinalis
melalui serat C dengan kecepatan mencapai 0,5 2 m/s. Neurotransmitter yang digunakan adalah substansi P.
Jalur yang ditempuh dapat dibagi menjadi dua pathway yaitu fast-sharp pain pathway dan slow- chronic pain
pathway. Setelah mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri ini akan berakhir pada relay neuron
pada kornu dorsalis dan selanjutnya akan dibagi menjadi dua traktus yang selanjutnya akan menuju ke otak.
Traktus itu adalah neospinotalamikus untuk fast pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.
Traktus neospinotalamikus untuk fast pain, pada traktus ini, serat A yang mentransmisikan nyeri akibat
stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina I (lamina marginalis) dari kornu dorsalis dan
mengeksitasi second-order neurons dari traktus spinotalamikus. Neuron ini memiliki serabut saraf panjang yang
menyilang menuju otak melalui kolumn anterolateral. Serat dari neospinotalamikus akan berakhir pada: (1) area
retikular dari batang otak (sebagian kecil), (2) nukleus talamus bagian posterior (sebagian kecil), (3) kompleks
ventrobasal (sebagian besar). Traktus lemniskus medial bagian kolumn dorsalis untuk sensasi taktil juga
berakhir pada daerah ventrobasal. Adanya sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak untuk
menyadari lokasi tepat dimana rangsangan tersebut diberikan.
Traktus paleospinotalamikus untuk slow pain, traktus ini selain mentransmisikan sinyal dai serat C, traktus ini
juga mentransmisikan sedikit sinyal dari serat A. Pada traktus ini , saraf perifer akan hampir seluruhnya
nerakhir pada lamina II dan III yang apabila keduanya digabungkan, sering disebut dengan substansia
gelatinosa. Kebanyakan sinyal kemudian akan melalui sebuah atau beberapa neuron pendek yang
menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian kebanyakan serabut saraf ini akan bergabung dengan
serabut saraf dari fast-sharp pain pathway. Setelah itu, neuron terakhir yang panjang akan menghubungkan
sinyal ini ke otak pada jaras anterolateral.
Ujung dari traktus paleospinotalamikus kebanyakan berakhir pada batang otak dan hanya sepersepuluh ataupun
seperempat sinyal yang akan langsung diteruskan ke talamus. Kebanyakan sinyal akan berakhir pada salah satu
tiga area yaitu : (1) nukleus retikularis dari medulla, pons, dan mesensefalon, (2) area tektum dari mesensefalon,
(3) regio abu abu dari peraquaductus yang mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian ini penting untuk rasa
tidak nyaman dari tipe nyeri. Dari area batang otak ini, multipel serat pendek neuron akan meneruskan sinyal ke
arah atas melalui intralaminar dan nukleus ventrolateral dari talamus dan ke area tertentu dari hipotalamus dan
bagian basal otak.
Respon Manusia Terhadap Nyeri
Kozier, dkk. (1995) mengatakan bahwa nyeri akan menyebabkan respon tubuh meliputi aspek pisiologis dan
psikologis, merangsang respon otonom. Respon Simpatis :

Peningkatan tekanan darah,


Peningkatan denyut nadi,
Peningkatan pernapasan,
Meningkatkan tegangan otot,
Dilatasi pupil,
Wajah pucat,
Diaphoresis,

Respon parasimpatis seperti nyeri dalam, berat ,berakibat tekanan darah turun nadi turun, mual dan muntah,
kelemahan, kelelahan, dan pucat (Black M.J,dkk).

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Klasifikasi Nyeri
Menurut Long C.B (1996) mengklasifikasi nyeri berdasarkan jenisnya, meliputi :
1.

2.

Nyeri akut, nyeri yang berlangsung tidak melebihi enam bulan, serangan mendadak dari sebab yang
sudah diketahui dan daerah nyeri biasanya sudah diketahui, nyeri akut ditandai dengan ketegangan otot,
cemas yang keduanya akan meningkatkan persepsi nyeri.
Nyeri kronis, nyeri yang berlangsung enam bulan atau lebih, sumber nyeri tidak diketahui dan tidak
bisa ditentukan lokasinya. Sifat nyeri hilang dan timbul pada periode tertentu nyeri menetap.

Corwin J.E (1997) mengklasifikasikan nyeri berdasarkan sumbernya meliputi :


1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri kulit, adalah nyeri yang dirasakan dikulit atau jaringan subkutis, misalnya nyeri ketika tertusuk
jarum atau lutut lecet, lokalisasi nyeri jelas disuatu dermatum.
Nyeri somatik adalah nyeri dalam yang berasal dari tulang dan sendi, tendon, otot rangka, pembuluh
darah dan tekanan syaraf dalam, sifat nyeri lambat.
Nyeri Viseral, adalah nyeri dirongga abdomen atau torak terlokalisasi jelas disuatu titik tapi bisa
dirujuk kebagian-bagian tubuh lain dan biasanya parah.
Nyeri Psikogenik, adalah nyeri yang timbul dari pikiran pasien tanpa diketahui adanya temuan pada
fisik (Long, 1989 ; 229).
Nyeri Phantom limb pain, adalah nyeri yang dirasakan oleh individu pada salah satu ekstremitas yang
telah diamputasi (Long, 1996 ; 229).

LI.2 MM Nyeri Kepala


Definisi & Klasifikasi
Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal
dari struktur sensitif terhadap rasa sakit ( sumber : Neurology and neurosurgery illustrated Kenneth).
Klasifikasi nyeri kepala:
The Internatinal Headache Society (1988)
1. nyeri kepala tegang episodik
a. berhubungan dengan gangguan otot
perikranial
b. tak berhubungan dengan gangguan
otot perikranial
2. nyeri kepala tegang otot kronis
a. berhubungan dengan gangguan otot
perikranial
b. tak berhubungan dengan gangguan
otot perikranial
3. nyeri kepala tegang otot yang tidak terklassifikasikan

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067
Patofisiologi

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Diagnosis & Diagnosis Banding

i. Anamnesis

ii. Pemeriksaan Fisik


Perhatikan dengan seksama adanya gejala fokal suatu tumor atau lesi struktural lainnya
(pastikan untuk dapat memeriksa fundus okuli)
Periksa adanya gejala disfungsi autonom selama nyeri kepala bila dicurigai adanya nyeri
kepala kluster, seperti pupil miosis, ptosis, mata merah, air mata berlebihan, sumbatan hidung
unilatereal
Perhatikan adanya telapak tangan dan kaki yang berkeringat, atau nyeri pada kulit
kepala/migren.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067
-

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Bila setelah nyeri kepala hebat didapatkan adanya kaku kuduk perlu dicurigai adanya
peradahan subarachnoidea
Penderita AVM dapat mengalam migrein, perlu dicurigai bila serangan migren selalu pada
sisi yang sama. Periksa adanya bruit pada mata dan bagian kepala lain. Migren yang terjadi
pada kedua sisi biasanya bersifat benigna.
Nyeri kepala dapat dirasakan sampai ke mata penderita usia lanjut (50-70thn) kemungkinan
disebabkan arteritis temporalis. Periksa adanya nyeri raba pada arteri temporalis, dan LED
meningkat.
Perhatikan adanya hipertensi yang dapat mecetuskan migren atau nyeri kepala tegang,
terutama apabila hipertensi tersebut bersifat labil.
Lakukan palpasi bola mata dan pemeriksaan tonometri jika dicurigai adanya glakukoma .
pada usia lanjut glaukoma dapat menyebabkan nyeri kepala.
Nyeri kepala menetap pada wanita dengan obesitas kemungkinan disebabkan oleh
pseudotumor serebri. Pada kasus ini terdapat papiledema akibat peningkatan tekanan
intrakranial.
iii. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan lab pada penderita nyeri kepala tergantung gambaran klinis setelah
mendapatkan riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan. Pada smeua penderita
Nyeri kepala dapat dilakukan peneriksaan darah rutin, pemeriksaan kimiawi penyaring, dan
LED. Pemeriksaan lainnya bersifat individual.

Bila curiga nyeri kepala tegang dan pemeriksaan normal, terapi tanpa pemeriksaan
laboratorium lanjut dapat dipertanggungjawabkan.
Pada sebagian besar penderita migren klasik atau migren umum layak untuk dilakukan
pemeriksaan CT-scan atau MRI yang dapat menidentifikasi adanya proses lain seperti AVM
atau infark akibat migren.
CT-scan atau MRI dianjurkan untuk diperiksa pada penderia dengan gejala fokal atau adanya
peningkatan tekanan intrakranial.
EEG kadang dapat membantu sebagai pemeriksaan tambahan (non-invasif) pada lesi fokal,
hematoma subdural, atau ensefalopati metabolik. EEG dapat normal pada penderita migren.
Pemeriksaan spesifik tambahan pada penderita nyeri kepala tergantung pada kecurigaan
faktor penyebab nyeri kepala misalnya kadar Pb dalam serum pada pekerja bengkel mobil
yang menderita nyeri kepala, atau analisa gas darah pada penderita penyakit paru kronis untuk
melihat kemungkinan peningkatan tekanan CO2.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

iv. Diagnosis Banding

Penatalaksanaan
Nyeri kepala dapat diobati dengan preparat asetilsalisilat dan jika nyeri kepala sangat berat dapat
diberikan preparat ergot (ergotamin atau dihidroergotamin). Bila perlu dapat diberikan intravena
dengan dosis 1 mg dihidroergotaminmetan sulfat atau ergotamin 0,5 mg. Preparat Cafergot (
mengandung kafein 100 mg dan 1 mg ergotamin) diberikan 2 tablet pada saat timbul serangan dan
diulangi jam berikutnya
Pada pasien yang terlalu sering mengalami serangan dapat diberikan preparat Bellergal (ergot 0,5 mg;
atropin 0,3 mg; dan fenobarbital 15mg) diberikan 2 3 kali sehari selama beberapa minggu. Bagi
mereka yang refrakter dapat ditambahkan pemberian ACTH (40 u/hari) atau prednison (1mg/Kg
BB/hari) selama 3 4 minggu.
Preparat penyekat beta,seperti propanolol dan timolol dilaporkan dapat mencegah timbulnya serangan
migren karena mempunyai efek mencegah vasodilatasi kranial. Tetapi penyekat beta lainnya seperti
pindolol, praktolol, dan aprenolol tidak mempunyai efek teraupetik untuk migren, sehingga mekanisme
kerjanya disangka bukan semata mata penyekat beta saja. Preparat yang efektif adalah penyekat beta
yang tidak memiliki efek ISA ( Intrinsic Sympathomimetic Activity).
Cluster headache umunya membaik dengan pemberian preparat ergot. Untuk varian Cluster headache
umumnya membaik dengan indometasin. Tension type headache dapat diterapi dengan analgesik
dan/atau terapi biofeedback yang dapat digunakan sebagai pencegahan timbulnya serangan.
Terapi preventif yang bertujuan untuk menurunkan frekuensi, keparahan, dan durasi sakit kepala.
Terapi ini diresepkan kepada pasien yang menderita 4 hari atau lebih serangan dalam sebulan atau jika
pengobatan di atas tidak efektif. Terapi ini harus digunakan setiap hari. Terapi preventif tersebut adalah
pemberian beta bloker, botox, kalsium channel blokers, dopamine reuptake inhibitors, SSRIs, serotonin
atau dopamin spesifik, dan TCA.
Tata Laksana untuk nyeri kepala tipe tegang
A. Terapi
Non farmakologis
o Terapi perilaku
Konseling
Terapi perilaku
Terapi manajemen stress

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Latihan relaksasi
Biofeedback.
o Intervensi medis
Blokade saraf occipital
Ice packs
Panas
Farmakologis
o Terapi farmakologis yang ada adalah NSAID berupa
Acetaminophen
Aspirin
Ibuprofen
Naproxen
Ketoprofen
Ketorolac
Obat-obat ini tidak boleh dikonsumsi melebihi 9 hari karena akan menyebabkan
timbulnya komplikasi berupa progresi ke tipe kronik.
o Kegagalan terapi dengan Over the counter medicine menandakan perlunya obat preskripsi
o Dapat juga ditambahakan butalbital dan codeine pada regimen NSAID
o Terapi profilaksis dapat diberikan pada pasien yang bertipe kronik dengan serangan lebih
dari dua kali dalam satu minggu dengan durasi selama 3-4 jam.
o Tricyclic Anti Depressant dapat diberikan pada pasien untuk mencegah terjadinya suatu
depresi.
Perlu diingat bahwa dengan adanya resiko substance abuse, maka terapi hanya digunakan untuk
membantu pasien-pasien yang mengalami kesulitan dengan hanya menggunakan behavioural therapy,
bukan sebagai suatu lini pertama.

LI.3 MM Aspek Klinis Somatosisasi


Definisi
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri,
mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik
adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada
kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan
somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk
onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang
disadari atau gangguan buatan.
Etiologi
Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang. mempunyai tujuan tertentu. Pada
beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan
adanya penurunan metabolism (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non dominan
.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut.
a. Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada gangguan somatisasi).
b. Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran sakit yang dapat diekspresikan
dalam bentuk gangguan somatoform.
c. Faktor Perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
1. Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak nyaman atau
menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
2. Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit
3. Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh dapat secara
sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan
kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d. Faktor Emosi dan Kognitif

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda yang terlibat adalah
sebagai berikut:
1. Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tanda dari adanya penyakit serius
(hipokondriasis).
2. Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls- impuls yang tidak dapat
diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan konversi).
3. Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu strategis elfhandicaping (hipokondriasis).
Klasifikasi

Klasifikasi Gangguan Somatoform


Ada 5 gangguan somatoform yang spesifik yaitu :
1. Gangguan konversi
Merupakan bentuk perubahan yang mengakibatkan adanya perubahan fungsi fisik yang tidak dapat
dilacak secara medis. Gangguan ini muncul dalam konflik atau pengalaman traumatik yang
memberikan keyakinan akan adanya penyebab psikologis.
2. Hipokondriasis
Terpaku pada keyakinan bahwa dirinya menderita penyakit yang serius. Ketakukan akan adanya
penyakit terus ada meskipun secara medis telah diyakinkan. Sensasi atau rasa nyeri fisik biasanya
sering diasosiasikan dengan gejala penyakit kronis tertentu.
3. Gangguan somatisasi
Keluhan fisik yang muncul berulang mengenai simptom fisik yang tidak ada dasar organis yang jelas.
Gangguan ini menyebabkan seseorang untuk melakukan kunjungan medis berkali-kali atau
menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi.
4. Gangguan dismorfik tubuh
Terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau berlebih-lebihan. Menganggap orang tidak
memperhatikannya karena kerusakan tubuh yang dimilikinya (dipersepsikannya). Gangguan ini akan
membawa seseorang pada perilaku komplusif seperti berulang-ulang berdandan, dll.
5. Gangguan nyeri
Gejala utamanya adalah adanya nyeri pada satu atau lebih tempat yang tidak sepenuhnya disebabkan
oleh kondisi medis atau neurologis nonpsikiatris, disertai oleh penderitaan emosional dan gangguan
fungsional dan gangguan memiliki hubungan sebab yang masuk akal dengan factor psikologis.
Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi,
1.
gangguan somatisasi
2.
gangguan somatoform tak terperinci
3.
gangguan hipokondriasis
4.
disfungsi otonomik somatoform
5.
gangguan nyeri somatoform menetap
6.
gangguan somatoform lainnya
7.
gangguan somayoform YTT

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang disertai permintaan
pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokternya
bahwa tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya (Kapita Selekta, 2001). Beberapa orang biasanya
mengeluhkan masalah dalam bernafas atau menelan, atau ada yang menekan di dalam tenggorokan.
Masalah-masalah seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis sistem
saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah simtom muncul dalam
bentuk yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan kerja
sistem saraf. Dalam kasus-kasus lain, juga dapat ditemukan manifestasi di mana seseorang berfokus pada
keyakinan bahwa mereka menderita penyakit yang serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat
ditemukan (Nevid, dkk, 2005).
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama pada pasien yang
kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III, 1993). Dalam kasus-kasus lain, orang
berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik
yang dapat ditemukan.
Gambaran keluhan gejala somatoform :
Neuropsikiatri:
kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik ;
saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya
Kardiopulmonal:
jantung saya terasa berdebar debar. Saya kira saya akan mati
Gastrointestinal:
saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada dokter yang dapat
menyembuhkannya
Genitourinaria:
saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan pemeriksaan namun tidak di temukan
apa-apa
Musculoskeletal
saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang waktu
Sensoris:
pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan
kacamata tidak akan membantu
Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan
dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi.
Gangguan somatisasi
1. Adanya beberapa keluhan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika diperiksa secara
fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ia tetap kontinyu memeriksakan diri. Gangguan
tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang umumnya, misalnya sakit kepala, sakit perut,
sakit dada, mestruasi tidak teratur, dll
2. Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan tersiksa/merana.
3. Berulang memeriksa diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat di RS bahkan
dilakukan operasi.
4. Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperti kesulitan dalam pernikahan.
Gangguan konversi
1. Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi walaupun secara fisiologis, pada sistem
saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat gangguan/kelainan.
2. Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total pada tangan, lengan,
atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti ditusuk-tusuk, ketidak pekaan terhadap nyeri
atau hilangnya kemampuan untuk merasakan sensasi (anastesi), kelumpuhan, kebutaan, tidak dapat
mendengar, tidak dapat membau, suara hanya berbisik, dll.
3. Biasanya muncul tiba-tiba dalam keadaan stres, adanya usaha individu untuk menghindari beberapa
aktivitas atau tanggungjawab.
4. Konsep Freud : energi dari insting yang di repres berbalik menyerang dan menghambat fungsi saluran
sensorimotor.
5. Kecemasan dan konflik psikologik diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik.
Hipokondriasis
1. Meyakini/ketakutan atau pikiran yang berlebihan dan menetap bahwa dirinya memiliki suatu penyakit
fisik yang serius
2. Adanya reaksi fisik yang berlebihan terhadap sensasi fisik/tubuh (salah interpretasi terhadap gejala
fisik yang dialaminya), misalnya otot kaku, pusing/sakit kepala, berdebar-debar, kelelahan.
3. Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak dokter atau RS
4. Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dokter, walaupun hasil
pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah diyakinkan.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067
5.

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau aspek
penting lainnya.

Gangguan dimorfik tubuh


1. Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebih-lebihkan kekurangan dalam hal
penampilan (misalnya : keriput di wajah, bentuk atau ukuran tubuh)
2. Keyakinan/perhatian berlebihan ini meyebabkan stress, menghabiskan banyak waktu, menjadi maladaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau aspek penting lainnya
(menghindar/tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah atau pekerjaan), juga menyebabkan dirinya
sering harus konsultasi untuk operasi plastik
3. Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya.
Gangguan nyeri
1. Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat dan berkepanjangan, namun
tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah pemeriksaan yang intensif)
2. Rasa nyeri ini bersifat subyektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di satu atau beberapa
bagian tubuh.
3. Rasa nyeri ini menyebabkan stress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan aspek penting
lainnya.
4. Faktor-faktor psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan, memperburuk rasa
nyeri.
Faktor Resiko Gangguan Somatoform
Riwayat orangtua
Pola asuh dalam keluarga yang salah
Wanita lebih banyak menderita
Memiliki kepribadian yang mudah cemas
Orang yang tertutup
Alkoholism
Penyalahgunaan obat
Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang disertai permintaan
pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokternya
bahwa tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya. Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam
bernafas atau menelan, atau ada yang menekan di dalam tenggorokan. Masalah-masalah seperti ini dapat
merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan
dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah simtom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti
kelumpuhan pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf. Dalam kasus- kasus lain,
juga dapat ditemukan manifestasi di mana seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita
penyakit yang serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan.Pada gangguan ini sering
kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama pada pasien yang kesal karena tidak
berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa perlu
adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III, 1993). Dalam kasus-kasus lain, orang berfokus pada
keyakinan bahwa mereka menderita penyakit serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat
ditemukan.
Klasifikasi
PENGGOLONGAN GANGGUAN JIWA DALAM PPDGJ III
Penggolongan Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
F0 : GMO, termasuk Gangguan Mental Simptomatik
F1 : Ggn Mental & Perilaku Akibat Zat Psikoaktif
F2 : Skizofrenia, Ggn Skizotipal dan Ggn Waham
F3 : Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif)
F4 : Ggn Neurotik, Ggn Somatoform dan Ggn ~ Stres
F5 : Sind Tingkah Laku yg Berhub dg Ggn Fisiologis & Fisik
F6 : Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa
F7 : Retardasi Mental
F8 : Gangguan Perkembangan Psikologis
F9 : Ggn Perilaku & Emosional dg Onset Biasanya pd Masa kanak dan Remaja

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi,


F.45.0 gangguan somatisasi
F.45.1 gangguan somatoform tak terperinci
F.45.2 gangguan hipokondriasis
F.45.3 disfungsi otonomik somatoform
F.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap
F.45.5 gangguan somatoform lainnya
F.45.6 gangguan somatoform YTT
DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ ditambah dengan gangguan
konversi, gangguan dismorfik tubuh.
Pada bagian psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguian somatisasi dan
hipokondriasis.
Diagnosis dan Diagnosis Banding
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode
beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lain.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu
selama perjalanan gangguan:
1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau
fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum,
selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri
(misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi
terhadap beberapa jenis makanan)
3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri
(misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur,
perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan
pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan
koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan
di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan
ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran
selain pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang
mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan
atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima
secara kultural.
E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067
F.

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama
perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental
lain.Sebutkan tipe gejala atau defisit:
1. Dengan gejata atau defisit motorik
2. Dengan gejala atau defisit sensorik
3. Dengan kejang atau konvulsi
4. Dengan gambaran campuran

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis


A. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius
didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejalagejala tubuh.
B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe
somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik
tubuh).
D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesifkompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform
lain.
Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang tidak
menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh,
kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan
dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk
memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau
bertahannnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan
atau berpura-pura).
E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan
tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut: Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap
memiliki
peranan
besar
dalam onset,
keparahan,
eksaserbasi,
dan
bertahannya
nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untuk mempermudah
diagnosis banding.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
B. Salah satu (1)atau (2)
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis
umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi,
obat, atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat
penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan
psikotik).
F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpurapura)
DIAGNOSIS MENURUT PPDGJ :
Gangguan Somatoform
Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai
permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan sudah
dijelaskan dokternya bahwa tidak ditemukan keluhan yang menjadi dasar keluhannya. Penderita juga
menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan
problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala
anxietas dan depresi.
Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab keluhankeluhannya yang menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak
Gangguan Somatisasi
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :
Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas dasar
kelainan fisik yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun
Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang
dapat menjelaskan keluhannya
Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga yang berkaitan dengan sifat keluhankeluhannya dan dampak dari perilakunya
a. Gangguan Somatoform Tak Terinci
Pedoman diagnostik
Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran klinis yang khas
dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi
Kemungkinan ada ataupun tidaknya faktor penyebab psikologis belum jelas, akan tetapi tidak boleh
ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya
b. Gangguan Hipokondrik
Pedoman diagnostik
Untuk diagnostik pasti, kedua hal ini harus ada :
Keyakinan yang menetap adanya sekurang0kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang dilandasi
keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik
yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan
bentuk penampakan fisik

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan
penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya.

c. Gangguan Otonomik Somatoform


Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :
Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka panas/flushing,
yang menetap dan mengganggu
Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak khas)
Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya gangguan yang serius
(sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang tidak terpengaruh oleh hasil
pemeriksaan berulang, maupun penjelasan dari dokter
Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem atau organ yang
dimaksud.
Karakter kelima : F45.30 = jantung dan sistem kardiovaskuler
F45.31 = saluran pencernaan bagian atas
F45.32 = saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = sistem pernafasan
F45.34 = sistem genito-urinaria
F45.35 = sistem atau organ lainnya
d. Gangguan Nyeri Somatoform Menetap
Pedoman diagnostik
Keluhan utama adalah nyeri hebat, menyiksa, menetap, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya atas
dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik
Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem psikososial yang cukup
jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi terjadinya gangguan tersebut
Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun medis, untuk yang
bersangkutan.
e. Gangguan Somatoform Lainnya
Pedoman diagnostik
Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak sistem saraf otonom dan terbatas secara spesifik pada
bagian tubuh atau sistem tertentu
Tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan

Tatalaksana
Gangguan
somatoform

Tujuan pengobatan

1. mencegah adopsi dari rasa sakit,


invalidasi (tidak membenrakan
pemikiran/meyakinkan nahwa gejala
hanya ada dlam pikiran tidak untuk
kehidupan nyata
2. meminimalisir biaya dan komplikasi
dengan menghindari tes-tes diagnosis,
treatment, dan obat-obatan yang tidak

Strategi dan teknik


psikoterapi dan
psikososial

Strategi dan teknik


farmakologikal dan fisik

1. pengobatan yang
konsisiten, ditangani oleh
dokter yang sama
2. buat jadwal regular
ddengan interval waktu
kedatangan yang
memadai
3. memfokuskan terapi

1. diberikan hanya bila


indikasinya jelas
2. hindari obat-obatan yang
bersifat addiksi

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067
perlu
3. melakukan kontrol farmakologis
terhadap sindrom comorbid
(memperparah kondisi)
Gangguan
somatisasi

1,2,3

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku
secara gradual dari gejala
ke personal dan ke
masalah sosial

1,2,3

1,2
- anti anxietas dan antidepressan

Gangguan
somatisasi tak
terperinci

1,2,3

hipokondriasi

1,2,3

1,2,3

1 dan 2
- obat anti anxietas dan anti
depresan (jika perlu)

1,2,3

Therapi kognitivbehaviour

Usahakan untuk mengurangi


gejala hipokondriacal dengan
SSRI (Fluoxetine 60-80 mg/
hari)
dibandingkan dengan obat lain

Gangguan nyeri
menetap

1,2,3

1,2,3

1 dan 2

Jika nyeri nya akut (< 6 bulan),


tambahkan obt simptomatik untuk
gejala yang timbul

Nyeri kronik :
pertimbangkan terapi
fisik dan pekerjaan, serta
terapi kognitifbehavioural

Akut : acetaminophen dan


NSAIDS (tidak dicampur) atau
sebagai yambahan pda opioid

Jika nyeri bersifat kronik (>6 bulan ),


fokus pada pertahankan fungsi dan
motilitas tubuh daripada fokus pada
penyembuhan nyeri
Gangguan
konversi

1,2,3

Kronik : Trisiklik anti depresan,


acetaminophen dan NSAID
Pertimbangkan akupunnktur

Akut : yakinkan, sugesti


pasien untuk mengurangi
gejala

1 dan 2
Pertimbangkan narcoanalisis
(sedative hipnotic)

Pertimbangkan
narcoanalisis (sedativ
hipnotis), hipnoterapi,
behavioural terapi
Kronik : 1,2, dan 3
Eksplorasi lebih lanjut
mengenai konflik yang
bersifat unterpersonal
pada pasien
Gangguan
dismorfik tubuh

1,2,3

1,2,3

Khususnya menghindari pembedahan

Terapi kognitifbehavioural

Usahakan untuk mengurangi


gejala hipokondriacal dengan
SSRI (Fluoxetine 60-80 mg/

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku
hari)
dibandingkan dengan obat lain

Terapi untuk Gangguan Somatoform


Kebijakan klinis menyarankan pendekatan halus dan suportif seraya memberikan penghargaan kepada
pasien atas setiap perbaikan kondisi sekecil apa pun yang berhasil dicapai (Simon, 1998).
Orang-orang yang menderita gangguan somatoform jauh lebih sering datang ke dokter dibanding ke
psikiater atau psikolog karena mereka menganggap masalah berkait dengan kondisi fisik. Para pasien
tersebut menganggap rujukan dokter ke psikolog atau psikiater sebagai tanda bahwa dokter
menganggap penyakit mereka terletak di kepala; sehingga mereka tidak merasa senang dirujuk ke
ahli jiwa. Mereka menguji kesabaran dokter mereka, yang sering kali meresepkan berbagai macam
obat atau penanganan medis dengan harapan akan menyembuhkan keluhan somatik tersebut.
Penyembuhan dengan berbicara yang menjadi dasar psikoanalisis dilandasi oleh asumsi bahwa suatu
represif masif telah memaksa energi psikis diubah menjadi anestesia atau kelumpuhan yang
membingungkan. Namun demikian, psikoanalisis tradisional dengan terapi jangka panjang dan
psikoterapi yang berorientasi psikoanalisis tidak menunjukkan hasil yang bermanfaat bagi gangguan
konversi, kecuali mungkin mengurangi kekhawatiran pasien atas penyakitnya. Penanganan
psikodinamika jangka pendek dapat menjadi efektif untuk menghilangkan simtom-simtom gangguan
somatoform (Junkert-Tress, 2001).
Pasien somatoform sering menderita kecemasan dan depresi. Dengan menangani kecemasan dan
depresi sering kali mengurangi kekhawatiran somatoform.
Pada kasus komorbiditas antara ganguan obsesif kompulsif dan gangguan somatoform tertentu, seperti
hipokondriasis dan gangguan dismorfik tubuh memiliki penanganan pilihan untuk ganguan kompulsifpemaparan dan pencegahan respons-dapat menjadi efektif untuk gangguan somatoform tersebut.
Terapis perlu memperhitungkan untuk memastikan pasien tidak kehilangan muka ketika gangguan
tersebut tidak lagi dialaminya. Terapis harus mempertimbangkan kemungkinan pasien merasa
dipermalukan ketika kondisinya menjadi lebih baik melalui penanganan yang tidak berkaitan dengan
masalah medis (fisik).

Terapi untuk gangguan somatisasi


Pemaparan atau terapi kognitif dapat digunakan untuk mengatasi ketakutan, berkurangnya
rasa takut dapat membantu mengurangi berbagai keluhan somatik.
Terapi keluarga, membantu pasien dan keluarga mengubah jaringan hubungan yang bertujuan
untuk membantu usahanya menjadi lebih mandiri.
Training asersi dan keterampilan sosial, bermanfaat untuk membantunya manguasai atau
menguasai kembali, berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain dan mengatasi
berbagai tantangan tanpa harus mengatakan Saya seorang yang malang, lemah, dan sakit.
Dokter tidak menghindari validitas keluhan-keluhan fisik, namun meminimalkan penggunaan
berbagai tes diagnostik dan pemberian obat, mempertahankan kontak dengan pasien. Teknikteknik seperti training relaksasi dan berbagai bentuk terapi kognitif juga terbukti bermanfaat.
Biofeedback, yang mencangkup pengendalian atas proses-proses fisiologis telah terbukti
efektif dalam mengurangi berbagai pikiran yang merusak pada para pasien yang menderita
gangguan somatoform-bahkan lebih efektif dibanding teknik relaksasi.

Terapi utuk hipokondriasis


Pendekatan kognitif behavioral. Penelitian menunjukkan bahwa para pasien hipokondrial
menunjukkan penyimpanan kognitif dengan menganggap masalah kesehatan yang muncul
sebagai suatu ancaman. Terapi kognitif-behavioral dapat ditujukan untuk merestrukturisasi
pemikiran pesimistik semacam itu.
Penanganan dapat mencangkup beberapa strategi seperti mengarahkan perhatian selektif
pasien ke simtom-simtom fisik dan tidak mendorong pasien mencari kepastian medis bahwa ia
tidak sakit.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Terapi untuk rasa nyeri


Nyeri mengandung dua komponen, yaitu nyeri psikogenik dan nyeri yang benar-benar
disebabkan factor medis, seperti cedera jaringan otot. Penanganan yang efektif cenderung
terdiri dari hal-hal berikut:
o Melakukan validasi bahwa rasa nyeri memang nyata, dan tidak hanya dalam pikiran
pasien.
o Pelatihan relaksasi
o Menghadiahi pasien karena berperilaku yang tidak sejalan dengan rasa nyeri
(menahan rasa nyeri).
Varian terapi psikodinamika jangka pendek, yang disebut terapi tubuh psikodinamika, efektif
untuk mengurangi rasa nyeri dan mempertahankannya dalam jangka waktu lama.
Dosis rendah obat antidepresan, terutama imipramine, lebih tinggi manfaatnya dibandingkan
placebo untuk mengurangi rasa nyeri dan distress kronis. Obat-obatan tersebut tidak
menghilangkan depresi terkait.
Secara umum tampaknya perlu disarankan untuk mengalihkan focus dari hal-hal yang tidak dapat
dilakukan pasien karena penyakitnya dan bahkan mengajarkan pada pasien bagaimana cara mengatasi
stres, mendorong aktivitas yang lebih banyak, dan meningkatkan kontrol diri, terlepas dari keterbatasan
fisik atau rasa tidak nyaman yang dialami pasien.

Komplikasi
1. Kehidupan yang bergantung pada orang lain
2. Suicide.

Pencegahan
Pertama, mulai berolah raga dengan baik dan teratur serta menjaga pola makan dengan asupan gizi yang
seimbang. Hal ini berguna untuk menjaga metabolism tubuh. Sehingga menjadi prima.
Kedua, Apabila gangguan serangan cemas akan rasa sakit menyerang, katakan pada diri anda stop, lalu lakukan
relaksi dengan cara mengatur aliran nafas anda.
Ketiga, Lakukan lah medical check up 1 tahun 1 kali, secara rutin. Dengan harapan dapat mengetahui kondisi
fisikyang sebenarnya (membuat anda tenang), dan melakukan langkah pencegahan jika ditemukan penyakit
dalam diri.
Self talk Tubuh saya sehat, dan saya baik-baik saja. (katakan pada diri anda, setiap hari saat anda bercermin
setiap saat, dan katakan juga indahnya hari ini, saya bersyukur karena tuhan masih mengijinkan saya
menikmati setiap karuniaNya

Prognosis Nyeri Somatoform


Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat gangguannya (kronik
atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik, dapatditangani secara sempurna. Sangat
sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi, dapat bervariasidari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebih
awal dan menjadikan prognosis menjadilebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian.
Kematian lebih disebabkankarena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)

LI.4 keluarga sakkinah,mawaddah,warrahmah


Sakinah mawaddah warahmah.
Kata Sakinah. Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting. Tanpanya, tiada
mawaddah dan warahmah. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan taqwa kepada Allah SWT.
Dalam Al Quran pun dikatakan bahwa suatu saat, akan banyak orang yang saling berkasih sayang di dunia,
tetapi di akhirat kelak mereka akan bermusuhan, menyalahkan dan saling melempar tanggung jawab. Kecuali
orang-orang yang berkasih sayang dilandasi dengan cinta kepada Allah SWT. Kata adalah mawaddah.
Mawaddah itu berupa kasih sayang. Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai
manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh mawaddah itu berupa kejutan suami untuk istrinya, begitu pun
sebaliknya. Misalnya suatu waktu si suami bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan
untuk anak-anaknya. Dan ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa.

Dimas Adriyono Wibowo


1102012067

Skenario 3
blok Syaraf & perilaku

Kata terakhir adalah warahmah. Warahmah ini hubungannya dengan kewajiban. Kewajiban seorang suami
menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik. Kewajiban seorang istri untuk
menaati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya dengan segala kewajiban.
Sakinah mengandung makna ketenangan.
Setiap jenis laki-laki atau perempuan, jantan atau betina, dilengkapi Allah dengan alat serta aneka sifat dan
kecenderungan yang tidak dapat berfungsi secara sempurna jika ia berdiri sendiri. Kesempurnaan eksistensi
makhluk hanya tercapai dengan bergabungnya masing-masing pasangan dengan pasangannya sesuai dengan
sunnatullah.
Memang benar bahwa sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk
selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan
membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasanalasan inilah maka manusia butuh pasangan hidup dengan jalan menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat
dan berbangsa. Ketenangan hidup ini didambakan oleh suami istri setiap saat, termasuk saat sang suami
meninggalkan rumah dan anak istrinya.
Sakinah terlihat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang
dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya
kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut
yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandangKeluarga Sakinah.
Mawaddah mengandung arti rasa cinta.
Mawaddah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan
tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan
manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan mereka. Disamping itu dia merasakan adanya
ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan
mawaddah diantara manusia yang satu dengan manusia yang lain sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada
di antara suami istri.
Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugrah dari Allah Swt kepada keduanya, dan ini
merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada
pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun
tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah Swt, karena Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian
dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang
merugi. (Al-Munafiquun [63]: ayat 9)
Allah Swt tumbuhkan mawaddah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan
itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya rasa kasih sayang,
apalagi rasa cinta.
Rahmah mengandung arti Rasa Sayang.
Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetian dan kebahagiaan yang dihasilkannya. Perlu
digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi
kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang lebihutama, adalah menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah
dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam
keluarga maupun dalam masyarakat.