Anda di halaman 1dari 7

KLASIFIKASI MASSA BATUAN

Pendahuluan
Geologi adalah faktor terpenting dalam menentukan jenis, bentuk dan biaya
terowongan, pelaksanaan terowongan akan menemui tingkat ketidak pastian yang
tinggi jika data kondisi batuan atau tanah disekitar terowongan tidak lengkap.
Sebelum

pelaksanaan

terowongan,

pada

umumnya

akan

dilakukan

penyelidikan geologi teknik menggunakan metode pemboran, insitu testing, adits


maupun pilot tunnel. Adits untuk ekplorasi umumnya tidak dilakukan kecuali
suatu bagian terowonga n dianggap berbahaya. Pada pemboran inti, core sampel
harus selalu disimpan untuk membantu jika ditemui masalah geoteknik saat
pelaksanaan.
Pilot tunnel adalah cara terbaik untuk menyelidiki lokasi terowongan dan
harus digunakan bila terowongan berukuran besar akan dilaksanakan pada jalur
yang mempunyai kondisi geologi yang kritis. Degan membuat pilot tunnel maka
berbagai masalah yang akan ditemui pada pelaksanaan penggalian pada skala
yang lebih besar dapat diantisipasi sedini mungkin.
Syarat utama untuk konstruksi suatu terowongan adalah :
1. Dapat dilaksanakan dengan aman.
2.

Pelaksanaan tidak mengakibatkan kerusakan yang tidak dikehendaki


pada bangunan penting lainnya.

3. Konstruksi terowongan harus minim pemeliharaan.


4. Dalam jangka panjang harus dapat menahan segala gaya yang bekerja ,
terutama tekanan tanah dan air tanah.

Sudah dikembangkan lebih dari 100 tahun lalu, sejak Ritter (1879) mencoba
melakukan pendekatan empiris untuk perancangan terowongan, khususnya
penentuan kebutuhan penyangga.
Metode klasifikasi akan cocok jika digunakan dalam kondisi yang sama
dengan kondisi pada saat metode tersebut dikembangkan. Meskipun demikian,

tetap diperlukan kehatihatian untuk menerapkannya pada persoalan mekanika


batuan yang lain.
Klasifikasi massa batuan menguntungkan pada tahap studi kelayakan dan
desain awal dimana sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai massa
batuan, tegangan, dan hidrogeologi.
Secara sederhana, klasifikasi massa batuan digunakan sebagai sebuah checklist untuk meyakinkan bahwa semua informasi penting telah dipertimbangkan.

Tujuan Pengklasifikasian Massa Batuan


Secara umum tujuan dan manfaat pengklasifikasian massa batuan yaitu dapat
mengelompokkan batuan dan mengetahui jenis, karakter atau data-data lain
mengenai batuan tersebut.Tujuan dari klasifikasi massa batuan adalah untuk:

Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan/sifat


massa batuan.

Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai


kesamaan sifat dan kualitas.

Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas


massa batuan.

Menghubungkan berdasarkan pengalaman kondisi massa batuan di suatu


tempat dengan kondisi massa batuan di tempat lain.

Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik.

Menyediakan dasar acuan untuk komunikasi antara geologist dan engineer.

Keuntungan dari digunakannya klasifikasi massa batuan:

Meningkatkan kualitas penyelidikan lapangan berdasarkan data masukan


sebagai parameter klasifikasi.

Menyediakan informasi kuantitatif untuk tujuan desain.

Memungkinkan kebijakan teknik yang lebih baik dan komunikasi yang


lebih efektif pada suatu proyek.

Macam macam Klasifikasi Massa Batuan pada Penerowongan


2

1. Klasifikasi Massa Batuan Terzaghi


Metode ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1946.
Merupakan metode pertama yang cukup rasional yang mengevaluasi
beban batuan untuk desain terowongan dengan penyangga baja. Metode
ini telah dipakai secara berhasil di Amerika selama kurun waktu 50 tahun.
Akan tetapi pada saat ini metode ini sudah tidak cocok lagi dimana banyak
sekali terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan
penyangga beton dan rockbolts.

2. Klasifikasi Stand-Up Time


Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958.Metode ini adalah
metode dengan bertambahnya span terowongan akan menyebabkan
berkurangnya waktu berdirinya terowongan tersebut tanpa penyanggaan.
Metode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi massa
batuan selanjutnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stand-up
time adalah: arah sumbu terowongan, bentuk potongan melintang, metode
penggalian, dan metode penyanggaan.
Semakin besar terowongan, semakin singkat waktu yang harus
digunakan untuk pemasangan penyangga. Sebagai contoh, pilot tunnel
3

kecil mungkin saja dikonstruksi dengan penyangga minimal, sedangkan


terowongan dengan span yang lebih besar pada massa batuan yang sama
mungkin tidak mantap jika penyangga tidak seketika dipasang.

3. Rock Quality Designation (RQD)


RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini
didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil yang mempunyai
panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau
tidak keras tidak perlu dihitung walaupun mempunyai panjang lebih dari
10cm. Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula
dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan.
Berdasarkan nilai RQD massa batuan diklasifikasikan sebagai RQD
Kualitas massa batuan
< 25%

Sangat jelek

25 50%

Jelek

50 75%

Sedang

75 90%

Baik

90 100%

Sangat baik

Metode ini tidak memperhitungkan faktor orientasi bidang diskontinu,


material pengisi, dll, sehingga metode ini kurang dapat menggambarkan
keadaan massa batuan yang sebenarnya.

4. Rock Structure Rating (RSR)


RSR diperkenalkan pertama kali oleh Wickam, Tiedemann dan
Skinner pada tahun 1972 di AS. Konsep ini merupakan metode kuantitatif
untuk menggambarkan kualitas suatu massa batuan dan menentukan jenis
penyanggaan di terowongan. Motode ini merupakan metode pertama
untuk menentukan klasifikasi massa batuan yang komplit setelah
diperkenalkannya klasifikasi massa batuan oleh Terzaghi 1946.

RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan


penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak direkomendasikan untuk
menentukan penyanggaan dengan penyangga rock bolt dan beton.

5. Rock Mass Rating (RMR)


Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa batuan
yang disebut Klasifikasi Geomekanika atau lebih dikenal dengan Rock
Mass Rating (RMR). Setelah bertahun-tahun, klasifikasi massa batuan ini
telah mengalami penyesuaian dikarenakan adanya penambahan data
masukan sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating pada
parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa batuan
tersebut. Pada penelitian ini, klasifikasi massa batuan yang digunakan
adalah klasifikasi massa batuan versi tahun 1989 (Bieniawski, 1989).
Parameter

yang

digunakan

dalam

klasifikasi

massa

batuan

menggunakan Sistim RMR yaitu:

Kuat tekan uniaxial batuan utuh

Kondisi bidang diskontinyu

Rock Quality Designatian

Kondisi air tanah.

(RQD)

Orientasi/arah bidang

Spasi bidang dikontinyu.

diskontinyu.

Batas dari daerah struktur tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan


perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan kerapatan kekar, dan
perubahan jenis batuan. RMR ini dapat digunakan untuk terowongan. lereng, dan
pondasi.

6. Rock Tunnelling Quality Index


Q-system diperkenalkan oleh Barton pada tahun 1974. Nilai Q didefinisikan sebagai:

Dimana:

RQD adalah Rock Quality

Designatio

RQD/Jn Menunjukkan struktur massa


batuan.

Jn adalah jumlah set kekar

Jr adalah nilai kekasaran kekar

karakteritik gesekan diantara bidang

Ja adalah nilai alterasi kekar

kekar stsu material pengisi.

Jw adalah faktor air tanah

SRF adalah faktor


berkurangnya tegangan

Jr/Ja merepresentasikan kekasaran dan

Jw/SRF merepresentasikan tegangan


aktif yang bekerja.

Berdasarkan nilai Q kemudian dapat


ditentukan jenis penyanggaan yang
dibutuhkan untuk terowongan.

DAFTAR PUSTAKA

http://junaidawally.blogspot.com/2013/09/terowongan-pada-batuan.html

http://lagaevhanchekel.blogspot.com/2010/02/masa-batuan.html

http://jogja-net01.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-massa-batuan.html