Anda di halaman 1dari 18

LAKSATIF DAN ANTIDIARE

1. Tujuan

a. Memahami dan terampil melakukan teknik evaluasi obat-obat laksatif dan anti
diare.
b. Memahami mekanisme kerja obat pencahar.
c. Memahami dan mampu menganalisa efek samping/toksisitas obat-obat
laksatif/anti diare tersebut.

2. Tinjauan Pustaka

A. Anti diare
Diare adalah suatu keadaan meningkatnya berat dari fases (>200 mg/hari)
yang dapat dihubungkan dengan meningkatnya cairan, frekuensi BAB, tidak enak
pada perinal, dan rasa terdesak untuk BAB dengan atau tanpa inkontinensia fekal
(Daldiyono, 1990).
Diare atau diarrhea merupakan kondisi rangsangan buang air besar yang terus
menerus disertai keluarnya feses atau tinja yang kelebihan cairan, atau memiliki
kandungan air yang berlebih dari keadaan normal. Umumnya diare menyerang balita
dan anak-anak. Namun tidak jarang orang dewasa juga bisa terjangkit diare. Jenis
penyakit diare bergantung pada jenis klinik penyakitnya (Anne, 2011).
Klinis tersebut dapat diketahui saat pertama kali mengalami sakit perut. Ada
lima jenis klinis penyakit diare, antara lain:
1. Diare akut, bercampur dengan air. Diare memiliki gejala yang datang tiba-tiba
dan berlangsung kurang dari 14 hari. Bila mengalami diare akut, penderita
akan mengalami dehidrasi dan penurunan berat badan jika tidak diberika
makan dam minum.
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

2. Diare kronik. Diare yang gejalanya berlangsung lebih dari 14 hari yang
disebabkan oleh virus, Bakteri dan parasit, maupun non infeksi.
3. Diare akut bercampur darah. Selain intensitas buang air besar meningkat,
diare ini dapat menyebabkan kerusakan usus halus,spesis yaitu infeksi bakteri
dalam darah, malnutrisi atau kurang gizi dan dehidrasi.
4. Diare persisten. Gejalanya berlangsung selama lebih dari 14 hari. Dengan
bahaya utama adalah kekurangan gizi. Infeksi serius tidak hanya dalam usus
tetapi menyebar hingga keluar usus.
5. Diare dengan kurang gizi berat. Diare ini lebih parah dari diare yang lainnya,
karena mengakibatkan infeksi yang sifatnya sistemik atau menyeluruh yang
berat, dehidrasi, kekurangan vitamin dan mineral. Bahkan bisa mengakibatkan
gagal jantung.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan diare antara lain (National Digestive
Diseases Information Clearinghouse, 2007) :
infeksi bakteri
beberapa jenis bakteri dikonsumsi bersama dengan makanan atau minuman,
contohnya Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli (E. coli).
infeksi virus
beberapa virus menyebabkan diare, termasuk rotavirus, Norwalk virus,
cytomegalovirus, herpes simplex virus, and virus hepatitis.
intoleransi makanan
beberapa orang tidak mampu mencerna semua bahan makanan, misalnya pemanis
buatan dan laktosa.
parasit
parasit dapat memasuki tubuh melalui makanan atau minuman dan menetap di
dalam system pencernaan. Parasit yang menyebabkan diare misalnya Giardia
lamblia, Entamoeba histolytica, and Cryptosporidium.
reaksi atau efek samping pengobatan

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

antibiotik, penurun tekanan darah, obat kanker dan antasida mengandung


magnesium yang mampu memicu diare.
gangguan intestinal
kelainan fungsi usus besar

Pada anak anak dan orang tua diatas 65 tahun diare sangat berbahaya. Bila
penanganan terlambat dan mereka jatuh ke dalam dehidrasi berat maka bisa berakibat
fatal. Dehidrasi adalah suatu keadaan kekurangan cairan, kekurangan kalium
(hipokalemia) dan adakalanya acidosis (darah menjadi asam), yang tidak jarang
berakhir dengan shock dan kematian. Keadaan ini sangat berbahaya terutama bagi
bayi dan anak-anak kecil, karena mereka memiliki cadangan cairan intrasel yang
lebih sedikit sedangkan cairan ekstra-selnya lebih mudah lepas daripada orang
dewasa (Adnyana, 2008).

Mekanisme timbulnya diare.


Berbagai mikroba seperi bakteri, parasit, virus dan kapang bisa menyebabkan
diare dan muntah. Keracunan pangan yang menyebabkan diare dan muntah,
disebabkan oleh pangan dan air yang terkontaminasi oleh mikroba. Pada tulisan ini
akan dijelaskan mekanisme diare dan muntah yang disebabkan oleh mikroba melalui
pangan terkontaminasi. Secara klinis, istilah diare digunakan untuk menjelaskan
terjadinya peningkatan likuiditas tinja yang dihubungkan dengan peningkatan berat
atau volume tinja dan frekuensinya. Seseorang dikatakan diare jika secara kuantitatif
berat tinja per-24 jam lebih dari 200 gram atau lebih dari 200 ml dengan frekuensi
lebih dari tiga kali sehari (Putri, 2010).
Diare yang disebabkan oleh patogen enterik terjadi dengan beberapa
mekanisme. Beberapa patogen menstimulasi sekresi dari fluida dan elektrolit,
seringkali dengan melibatkan enterotoksin yang akan menurunkan absorpsi garam
dan air dan/atau meningkatkan sekresi anion aktif. Pada kondisi diare ini tidak terjadi
gap osmotic dan diarenya tidak berhubungan dengan isi usus sehingga tidak bisa
dihentikan dengan puasa. Diare jenis ini dikenal sebagai diare sekretory. Contoh dari
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

diare sekretori adalah kolera dan diare yang disebabkan oleh enterotoxigenic E coli
(Putri, 2010).
Beberapa patogen menyebabkan diare dengan meningkatkan daya dorong
pada kontraksi otot, sehingga menurunkan waktu kontak antara permukaan absorpsi
usus dan cairan luminal. Peningkatan daya dorong ini mungkin secara langsung
distimu-lasi oleh proses patofisiologis yang diaktivasi oleh patogen, atau oleh
peningkatan tekanan luminal karena adanya akumulasi fluida. Pada umumnya,
peningkatan daya dorong tidak dianggap sebagai penyebab utama diare tetapi lebih
kepada faktor tambahan yang kadang-kadang menyertai akibat-akibat patofisiologis
dari diare yang diinduksi oleh patogen (Putri, 2010).
Pada beberapa diare karena infeksi, patogen menginduksi kerusakan mukosa
dan menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa. Sebaran, karakteristik dan
daerah yang terinfeksi akan bervariasi antar organisme. Kerusakan mukosa yang
terjadi bisa berupa difusi nanah oleh pseudomembran sampai dengan luka halus yang
hanya bisa dideteksi secara mikroskopik. Kerusakan mukosa atau peningkatan
permeabilitas tidak hanya menyebabkan pengeluaran cairan seperti plasma, tetapi
juga mengganggu kemampuan mukosa usus untuk melakukan proses absorbsi yang
efisien karena terjadinya difusi balik dari fluida dan elektrolit yang diserap. Diare
jenis ini dikenal sebagai diare eksudatif. Penyebabnya adalah bakteri patogen
penyebab infeksi yang bersifat invasive (Shigella, Salmonella) (Putri, 2010).
Malabsorpsi komponen nutrisi di usus halus seringkali menyertai kerusakan
mucosal yang diinduksi oleh patogen. Kegagalan pencernaan dan penyerapan
karbohidrat (CHO) akan meningkat dengan hilangnya hidrolase pada permukaan
membrane mikrovillus (misalnya lactase, sukrase-isomaltase) atau kerusakan
membran microvillus dari enterosit. Peningkatan solut didalam luminal karena
malabsorbsi CHO menyebabkan osmolalitas luminal meningkat dan terjadi difusi air
ke luminal. Diare jenis ini dikenal sebagai diare osmotik dan bisa dihambat dengan
berpuasa (Putri, 2010).
Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman enteropatogen
meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa,
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

invasi mukosa, dan produksi enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri dapat
menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan
mukosa usus (Putri, 2010).

Adhesi
Mekanisme adhesi yang pertama terjadi dengan ikatan antara struktur polimer
fimbria atau pili dengan reseptor atau ligan spesifik pada permukaan sel epitel.
Fimbria terdiri atas lebih dari 7 jenis, disebut juga sebagai colonization factor antigen
(CFA) yang lebih sering ditemukan pada enteropatogen seperti Enterotoxic E. Coli
(ETEC).
Mekanisme adhesi yang kedua terlihat pada infeksi Enteropatogenic E.coli
(EPEC), yang melibatkan gen EPEC adherence factor (EAF), menyebabkan
perubahan konsentrasi kalsium intraselluler dan arsitektur sitoskleton di bawah
membran mikrovilus. Invasi intraselluler yang ekstensif tidak terlihat pada infeksi
EPEC ini dan diare terjadi akibat shiga like toksin.
Mekanisme adhesi yang ketiga adalah dengan pola agregasi yang terlihat pada jenis
kuman enteropatogenik yang berbeda dari ETEC atau EHEC (Putri, 2010).

Invasi.
Kuman Shigella melakukan invasi melalui membran basolateral sel epitel
usus. Di dalam sel terjadi multiplikasi di dalam fagosom dan menyebar ke sel epitel
sekitarnya. Invasi dan multiplikasi intraselluler menimbulkan reaksi inflamasi serta
kematian sel epitel. Reaksi inflamasi terjadi akibat dilepaskannya mediator seperti
leukotrien, interleukin, kinin, dan zat vasoaktif lain. Kuman Shigella juga
memproduksi toksin shiga yang menimbulkan kerusakan sel. Proses patologis ini
akan menimbulkan gejala sistemik seperti demam, nyeri perut, rasa lemah, dan gejala
disentri. Bakteri lain bersifat invasif misalnya Salmonella.
Prototipe kelompok toksin ini adalah toksin shiga yang dihasilkan oleh
Shigella dysentrie yang bersifat sitotoksik. Kuman lain yang menghasilkan sitotoksin
adalah Enterohemorrhagic E. Coli (EHEC) serogroup 0157 yang dapat menyebabkan
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

kolitis hemoragik dan sindroma uremik hemolitik, kuman EPEC serta V.


Parahemolyticus (Putri, 2010).

Enterotoksin.
Prototipe klasik enterotoksin adalah toksin kolera atau Cholera toxin (CT)
yang secara biologis sangat aktif meningkatkan sekresi epitel usus halus. Toksin
kolera terdiri dari satu subunit A dan 5 subunit B. Subunit A1 akan merangsang
aktivitas adenil siklase, meningkatkan konsentrasi cAMP intraseluler sehingga terjadi
inhibisi absorbsi Na dan klorida pada sel vilus serta peningkatan sekresi klorida dan
HCO3 pada sel kripta mukosa usus.
ETEC menghasilkan heat labile toxin (LT) yang mekanisme kerjanya sama
dengan CT serta heatStabile toxin (ST).ST akan meningkatkan kadar cGMP selular,
mengaktifkan protein kinase, fosforilasi protein membran mikrovili, membuka kanal
dan mengaktifkan sekresi klorida (Putri, 2010).

Penggolongan obat antidiare :


Kemoterapeutika
Walaupun pada umumnya obat tidak digunakan pada diare, ada beberapa
pengecualian dimana obat antimikroba diperlukan pada diare yag disebabkan oleh
infeksi beberapa bakteri dan protozoa. Pemberian antimikroba dapat mengurangi
parah dan lamanya diare dan mungkin mempercepat pengeluaran toksin. Kemoterapi
digunakan untuk terapi kausal, yaitu memberantas bakteri penyebab diare dengan
antibiotika (tetrasiklin, kloramfenikol, dan amoksisilin, sulfonamida, furazolidin, dan
kuinolon) (Schanack, 1980).
Zat penekan peristaltik usus
Obat golongan ini bekerja memperlambat motilitas saluran cerna dengan
mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Contoh: Candu dan alkaloidnya,
derivat petidin (definoksilat dan loperamin), dan antikolinergik (atropin dan ekstrak
beladona) (Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007).
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

Adsorbensia
Adsorben memiliki daya serap yang cukup baik. Khasiat obat ini adalah
mengikat atau menyerap toksin bakteri dan hasil-hasil metabolisme serta melapisi
permukaan mukosa usus sehingga toksin dan mikroorganisme tidak dapat merusak
serta menembus mukosa usus. Obat-obat yang termasuk kedalam golongan ini adalah
karbon, musilage, kaolin, pektin, garam-garam bismut, dan garam-garam alumunium
) (Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007).

Obat diare yang dapat dibeli bebas mengandung adsorben atau gabungan
antara adsorben dengan penghilang nyeri (paregorik). Adsorben mengikat bakteri dan
toksin sehingga dapat dibawa melalui usus dan dikeluarkan bersama tinja. Adsorben
yang digunakan dalam sediaan diare antara lain attapulgit aktif, karbon aktif, garam
bismuth, kaolin dan pektin (Harkness, 1984).

Loperamida
Pemerian: serbuk putih sampai agak kuning, melebur pada suhu lebih kurang 225oC
disertai peruraian.
Kelarutan: sukar larut dalam air dan asam encer, mudah larut dalam metanol dan
kloroform.
(Farmakope Indonesia IV, 1995).

Obat ini memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot


sirkuler dan longitudinal usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga
diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor
tersebut. Obat ini sama efektifnya dengan difenoksilat untuk pengobatan diare kronik.
Efek samping yang sering dijumpai adalah kolik abdomen, sedangkan toleransi
terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi. Pada sukarelawan yang mendapatkan
dosis besar loperamid, kadar puncak pada plasma dicapai dalam waktu empat

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

jamsesudah makan obat. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh penghambatan
motilitas saluran cerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik. Waktu
paruhnya adalah 7-14jam. Loperamid tidak diserap dengan baik melalui pemberian
oral dan penetrasinya ke dalam otak tidak baik; sifat-sifat ini menunjang selektifitas
kerja loperamid. Sebagian besar obat diekskresikan bersama tinja. Kemungkinan
disalahgunakannya obat ini lebih kecil dari difenoksilat karena tidak menimbulkan
euphoria seperti morfin dan kelarutannya rendah (Departemen Farmakologi dan
Terapi UI, 2007).

B. Laksatif
Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang susah atau jarang
mengeluarkan feses. Tetapi menurut kriteria Rome III seseorang dikatakan
mengalami konstipasi bila mengalami minimal 2 keluhan berikut ini yaitu
defekasi kurang dari 3 kali per minggu, mengejan saat defekasi, feses yang keras,
perasaan tidak lampias setelah defekasi, perasaan adanya hambatan atau obstruksi
saat defekasi, dan adanya evakuasi manual untuk mengeluarkan feses misalnya
dengan jari.2
Meskipun bukan merupakan penyakit, konstipasi bukan merupakan
sesuatu yang sepele karena jika tidak ditangani dengan baik konstipasi dapat
berkomplikasi menjadi hemoroid, fisura ani, prolaps rektal, ulkus sterkoral,
melanosis koli dan beberapa gangguan lainnya yang jelas dapat mengganggu
aktivitas.3 Sekitar 80 % manusia pernah mengalami konstipasi dalam hidupnya.
Menurut National Interview Survey pada tahun 1991, sekitar 4,5 juta penduduk
amerika mengeluh menderita konstipasi terutama pada anak-anak, perempuan,dan
orang yang berusia diatas 65 tahun. Hal ini mengakibatkan kunjunag ke dokter
sebanyak 2,5 juta kali/tahun dan menghabiskan dana sekitar 725 juta dolar untuk
obat-obat laksatif.3

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

Secara umum penanganan konstipasi itu harus disesuaikan dengan kondisi


masing-masing pasien dengan memperhitungkan lama dan intensitas konstipasi,
faktor-faktor kontribusi yang potensial, usia pasien, dan harapan hidup. Terapi
inisial yang digunakan biasanya berupa diet dengan penekanan pada peningkatan
asupan serat makanan (dietary fiber), fluid intake yang cukup dan regular
exercise. Jika terapi ini tidak berhasil baru diberikan terapi farmakologis berupa
laksatif, behavioral, dan operasi.
Laksatif atau yang dikenal sebagai pencahar merupakan terapi
farmakologis yang sangat umum digunakan masyarakat. Berdasarkan laporan
Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia
masih kurang konsumsi serat dari sayur dan buah, kurang olah raga dan
bertambah makan makanan yang mengandung pengawet, jadi laksatif masih
menjadi pilihan utama untuk mengatasi konstipasi. Karena tidak semua laksatif
dapat digunakan dalam waktu jangka panjang, maka pemilihan laksatif yang tepat
harus sangat diperhatikan.
Laksatif atau urus-urus atau pencahar ringan adalah obat yang berkhasiat
untuk memperlancar pengeluaran isi usus. Disebut juga sebagai aperients dan
aperitive. Mekanisme kerja Laksatif:
1. Sifat hidrofilik atau osmotiknya sehingga terjadi penarikan air dengan akibat
massa, konsistensi, dan transit feses bertambah.
2. Laksatif bekerja secara langsung ataupun tidak langsung pada mukosa kolon
dalam menurunkan absorbs NaCl dan air
3. Laksatif juga dapat meningkatkan motilitas usus dengan akibat menurunnya
absorbs garam dan air yang selanjutnya mengubah waktu transit feses.
PRODUK LAKSATIF YANG BEREDAR DI INDONESIA
1. Pencahar Pembentuk Massa
a. Vegeta (kandungan: 5,52 gram Psyllium Husk dan 2,88 gram Inulin
Chicory). Sediaan: 1 sachet 8,4 gram.

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

b. Yoghurt (kandungan metilselulosa, bakteri asam laktat Lactobacillus


bulgarius dan Streptococcus thermophillus).
c. Agar-agar swallow (kandungan: agar-agar). Sediaan: kemasan tepung agaragar 7 gram.
d. Nutrijell (kandungan: agar-agar). Sediaan: kemasan tepung agar-agar 10
gram, 15 gram.
2. Pencahar Emolien
a. Kompolax emulsi (kandungan: liquidum parafin 1,5 gram, phenolphthalein
75 mg, giserin 1 gram). Sediaan: emulsi 60 mL, 115 mL.
3. Pencahar Stimulan
a. Melaxan tablet (kandungan: bisakodil). Sediaan: tablet 5 mg x 4 x 10 butir.
b. Stolax suppositoria (kandungan: bisakodil). Sediaan: suppositoria 10 mg x
6.
c. Kompolax emulsi (kandungan: liquidum parafin 1,5 gram, phenolphthalein
75 mg, giserin 1 gram). Sediaan: emulsi 60 mL, 115 mL.
d. Laxana (kandungan: bisakodil). Sediaan: tablet salut enterik 5 mg x 10.
e. Dulcolax (kandungan: bisakodil). Sediaan: tablet salut enterik 5 mg.
f. Laxamex (kandungan: bisakodil). Sediaan: tablet 5 mg x 4.
g. Laxing tea (kandungan: daun sena 1600 mg, lidah buaya 100 mg, daun the
300 mg). Sediaan: 1 dus berisi 15 teh celup @ 2 gram.
4. Pencahar Laksatif Osmotik
a. Duphalac (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 3, 35 gram / 5 mL x 120
mL.
b. Microlax (kandungan: Natrium lauril sulfoasetat 45 mg, Natrium sitrat 450
mg, Asam sorbat 5 mg, PEG 400 625 mg, Sorbitol 4465 mg). Sediaan:
enema 5 mL 3 buah.
c. Lactulax (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 60 mL rasa vanila, sirup
120 mL, dan sirup 200 mL.
d. Fosen (kandungan: Natrium fosfat monobase 19 gram, Natrium fosfat
dibase 7 gram). Sediaan: enema 118 mL.
Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

10

e. Pralax syrup (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 3, 35 gram / 5 mL x


100 mL.
f. Constipen (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 66,7% / 5 mL x 120 mL).
g. Fleet enema (kandungan: Monobasic Na fosfat 19 gram, dibasic Na fosfat
7 gram). Sediaan: botol 133 mL.
h. Lantulos (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 3, 43 gram / 5 mL x 60
mL.
i. Opilax (kandungan: laktulosa). Sediaan: sirup 3, 335 gram / 5 mL x 60 mL,
120 mL.
j. Solac (laktulosa). Sediaan: sirup 3, 335 gram / 5 mL x 120 mL.

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

11

3. Alat dan Bahan

Alat
Timbangan Mencit
Jarum oral
Alat bedah
Papan operasi
Jarum pentul
Stopwatch
Penggaris

Bahan
Obat
(Loperamid 10 mg/KgBb, 20 mg/KgBb, 30 mg/KgBb) dan (Bisacodyl 10
mg/KgBb, 20 mg/KgBb, 30 mg/KgBb)
Suspense norit
Control (Na cmc)

4. Cara kerja
1) Timbang hewan (Mencit)
2) Hitung VAO
3) Berikan obat pada mencit (Bisacodyl 30 mg/KgBb)
4) 5 menit kemudian berikan suspense Norit secara oral sebanyak 1 cc/100 g Bb
5) Dibunuh, dan dibuka rongga perutnya. Kemudian dikeluarkan usus dari
pylorus sampai katup ilosekal (bila perlu sampai akhir cekum)
6) Rentangkan usus, gunting jaringan ikat usus. Lalu, sematkan usus dengan
pentul
7) Ukur panjang usus yang ditempuh oleh norit dan bandingkan panjang usus
seluruhnya (% Laju Transit)
8) Bandingkan Laju Transit dengan hewan yang tidak diberi obat

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

12

5. Hasil dan Pembahasan

Hasil
Kelompok 6
Obat yang diberikan adalah

: Bisacodyl 30 mg/KgBb

Berat badan Mencit

: 23 gram

Perhitungan Vao

VAO

= 30 mg/KgBb 0,023 Kg
1 mg/ml
= 0,69 ml

% Laju Transit = panjang jarak yang ditempuh norit X 100%


Panjang seluruh usus mencit

% Laju Transit = 18 X 100%


55
= 32,72 %

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

13

Tabel data seluruh kelompok


Panjang usus
Kel

yang

Obat

ditempuh
norit (cm)

Loperamid (10
mg/KgBb)
Loperamid (20
mg/KgBb)
Loperamid (30
mg/KgBb)
Bisacodyl (10

mg/KgBb)
Krontol (Na cmc 1%)

Bisacodyl (20
mg/KgBb)
Bisacodyl (30
mg/KgBb)

Panjang usus
seluruhnya

Laju Transit

(cm)

8 cm

47 cm

17,02 cm

7,5 cm

40 cm

18,75 cm

8 cm

32,5 cm

24,61 cm

12 cm

42 cm

28,57 cm

12,5 cm

47,5 cm

26,31 cm

15 cm

34,5 cm

43,47 cm

18 cm

55 cm

32,72 cm

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

14

Pembahasan
Diare merupakan keadaan buang-buang air dengan banyak cairan (mencret)
dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu. Diare disebabkan oleh adanya
rangsangan pada saraf otonom di dinding usus sehingga dapat menimbulkan reflek
yang mempercepat peristaltik sehingga timbul diare.
Diare ditandai dengan frekuensi defekasi yang jauh melebihi frekuensi
normal, serta konsistensi feses yang encer. Penyebab diare pun bermacam-macam.
Pada dasarnya diare merupakan mekanisme alamiah tubuh untuk mengeluarkan zatzat racun yang tidak dikehendaki dari dalam usus. Bila usus sudah bersih maka diare
akan berhenti dengan sendirinya.
Diare pada dasarnya tidak perlu pemberian obat, hanya apabila terjadi diare
hebat dapat digunakan obat untuk menguranginya. Obat antidiare yang banyak
digunakan diantaranya adalah Loperamid yang daya kerjanya dapat menormalisasi
keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang
berada dalam keadaan hipersekresi pada keadaan resorpsi normal kembali.
Loperamid merupakan derivat difenoksilat (dan haloperidol, suatu neuroleptikum)
dengan khasiat obstipasi yang 2-3 kali lebih kuat tanpa khasiat pada SSP, jadi tidak
mengakibatkan ketergantungan. Obat abti diare yang digunakan pada praktikum kali
ini adalah loperamid.
Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang susah atau jarang
mengeluarkan feses. Laksatif atau yang dikenal sebagai pencahar merupakan terapi
farmakologis yang sangat umum digunakan masyarakat. Laksatif atau urus-urus atau
pencahar ringan adalah obat yang berkhasiat untuk memperlancar pengeluaran isi
usus. Disebut juga sebagai aperients dan aperitive. Obat Laksatif yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah Bisacodyl..
Penanganan awal konstipasi mencakup diet tinggi serat, cukup asupan cairan,
dan olahraga teratur. Jika langkah di atas tidak berhasil mengatasi konstipasi, dapat
mulai digunakan laksatif. Jika tidak ada indikasi tertentu, pilihan laksatif pertama

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

15

adalah laksatif pembentuk massa dan laksatif osmotic, jika tidak berhasil, ganti
dengan jenis laksatif yang lain.
Hewan percobaan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah mencit.
Selain karena anatomi fisiologinya sama dengan anatomi fisiologi manusia,juga
karena mencit mudah ditangani, ukuran tubuhnya kecil sehingga waktu penelitian
dapat berlangsung lebih cepat. Sebelum digunakan untuk percobaan, mencit
dipuasakan selama 18 jam sebelum percobaan tetapi minum tetap diberikan. Hal
tersebut dikarenakan makanan dalam usus akan berpengaruh terhadap kecepatan
peristaltik.
Pertama-tama masing-masing keolompok diberikan obat yang berbeda-beda.
Dari

kelompok 1 sampai kelompok 6 diberikan obat, yakni masing-masingnya

(Loperamid 10 mg/KgBb, 20 mg/KgBb, 30 mg/KgBb) dan (Bisacodyl 10 mg/KgBb,


20 mg/KgBb, 30 mg/KgBb). Dan kelompok 4 yang merupakan kelompok yang juga
mengerjakan control, diberikan Na-cmc 1%.
Mencit

masing-masing

kelompok

kemudian

ditimbang untuk

dapat

menghitung nilai VAO-nya. Lalu, berikan secara oral masing-masing obat yang
didapat. 5 menit kemudian, mencit diberikan suspense norit secara oral sebanyak 1
cc/100 g Bb.
15 menit kemudian, mencit dibunuh dan dibuka rongga perutnya, lalu
dikeluarkan usus dari pylorus sampai katup ilosekal. Setelah itu, rentangkan usus dan
gunting jaringan ikat usus. Sematkan usus menggunakan pentul pada papan operasi.
Ukur panjang usus yang ditempuh oleh norit dan bandingkan panjang usus
seluruhnya, hiutung % Laju Transit-nya.
Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh data hasil dari masing-masing
kelompok. Berdasarkan data tersebut, didapatkan kesimpulan bahwa, lebih panjang
ukuran usus, maka lebih kecil laju transit-nya.

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

16

6. Kesimpulan

1) Diare ditandai dengan frekuensi defekasi yang jauh melebihi frekuensi


normal, serta konsistensi feses yang encer.
2) Untuk mengatasi masalah diare, diberikan obat antidiare yang bertujuan untuk
menurunkan gerakan peristaltik.
3) Contoh obat antidiare yakni : Racecordil, Loperamide, nifuroxazide, dll.
4) Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang susah atau jarang
mengeluarkan feses.
5) Untuk mengatasi masalah konstipasi ini diberikan obat laksatif.
6) Laksatif atau yang dikenal sebagai obat pencahar merupakan terapi
farmakologis yang sangat umum digunakan masyarakat.
7) Contoh obat Laksatif yakni : Bisacodyl, dulcolax, delmax, broklax, dsb.
8) Penanganan awal konstipasi mencakup diet tinggi serat, cukup asupan cairan,
dan olahraga teratur.
9) Jika langkah di atas tidak berhasil mengatasi konstipasi, dapat mulai
digunakan laksatif.
10) Jika tidak ada indikasi tertentu, pilihan laksatif pertama adalah laksatif
pembentuk massa dan laksatif osmotic, jika tidak berhasil, ganti dengan jenis
laksatif yang lain.
11) Dari data hasil praktikum yang diperoleh, didapatkanlah kesimpulan bahwa,
lebih panjang ukuran usus, maka lebih kecil laju transit-nya.

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

17

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana,

Ketut.

2004.

Sekilas

Tentang

Diare.

http://www.blogdokter.net/2008/10/30/sekilas-tentang-diare/.

Andrianto, P. 1995. Penataaksanaan dan PencegahanDiare Akut. Penerbit Buku


EGC : Jakarta.
http://andiscientist.blogspot.com/pengujian-aktivitas-antidiare.html.

Anne, Ahira. 2011. Penyakit Diare Akut. http://www.anneahira.com/diare-akut.htm.


[Diakses tanggal 10 April 2011]

Daldiyono. 1990. Diare, Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta : Infomedika. Hal :


14-4.

Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007. Farmakologi dan Terapi ed 5. Jakarta
: Penerbit UI Press.

Suraatmaja, S. 2005.GastroenterologiAnak. Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RS


Sanglah : Denpasar.

Laporan Praktikum Farmakologi I (Laksatif/Antidiare)

18