Anda di halaman 1dari 20

TUGAS ETIKA PROFESI

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS


DARI MATA KULIAH ETIKA PROFESI

Dosen pengampu Sarwoko ,AT, MKes


Disusun Oleh :
Novian Hanu .P

21090113060030

Rahadia Farobi

21090113060031

Stevan Hani .K

21090113060032

Rizqy Agung .N

21090113060033

Fahri Muhammad

21090113060034

Mardisuin Siahaan

21090113060036

PROGRAM STUDI DIPLOMA TEKNIK PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat.
Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayahNya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah dari mata kuliah Etika
Profesi. Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
a. Dosen Pembimbing dari mata kuliah Etika Profesi Bapak Sarwoko, AT, Mkes yang telah
memberikan banyak bantuan dalam penyusunan materi.
b. Berbagai sumber dari internet yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
c. Teman teman yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan
dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh
Semarang, 26 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
BAB I PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI..................................................................... 1
1.1 Pentingnya Etika Profesi

1.2 Pengertian Etika ......................................................................................................... 1


1.3 Pengertian Profesi ...................................................................................................... 3
1.4 Kode etik Profesi ........................................................................................................ 5
BAB II PROFESIONALISME KERJA................................................................................. 8
2.1 Profesionalisme ........................................................................................................ 8
2.1.1 Ciri-ciri profesionalisme ................................................................................ 8
2.1.2 7 Strategi atau cara menjadi seorang yang professional .......................................... 10
2.2 Perlunya Profesionalisme .......................................................................................... 13
2.3 Syarat Untuk menjadi seseorang yang professional.................................................. 15
BAB III PERANAN ETIKA PROFESI DAN PROFESIONALISME DALAM DUNIA KERJA
3.1 Penerapan Etika Profesi di Dunia Pekerjaan ....................................................................... 18
BAB IV PENUTUP ........................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 22

BAB I
PEKEMBANGAN ETIKA PROFESI
1.1 Pentingnya Etika Profesi
Apakah etika, dan apakah etika profesi itu? Kata etik berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang
berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang
dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu
salah atau benar, buruk atau baik
Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai the discpline which can act as the
performance index or reference for our control system. Dengan demikian, etika akan
memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia didalam kelompok
sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini
kemudian dirupakan dalam bentuk aturan atau kode tertulis secara sistematis dan sengaja dibuat berdasarkan
prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bias difungsikan sebagai alat untuk menghakimi
segala macam tindakan yang secara logika rasional dinilai menyimpang dari kode etik yang ada.
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari
masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika
profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

1.2 Pengertian Etika


Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di
perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan
tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lainlain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar
mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya
yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi
umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan
antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga
disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuranukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
- Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran
dan nilai yang baik.
- Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia
dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

- Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral
yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia
orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu
manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya
membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita
pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian
etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya perilaku
manusia
:

1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan
prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika
deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang
mau diambil.

2.

ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang
seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi
penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Etika secara umum dapat dibagi lagi menjadi 2 yaitu :

1. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis,
bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang
menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu
tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian
umum dan teori teori.
2. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus. Penerapan ini bisa berwujud :
Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang
saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar.
Namun, penerapan itu dapat juga berwujud :
Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang
dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis :
Cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang
ada dibaliknya.
ETIIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat
manusia.
1.3 Pengertian Profesi
Profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan (occupation) yang
sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian,
Profesi adalah pekerjaan atau bidang pekerjaan yang menuntut pendidikan keahlian intelektual tingkat
tinggi dan tanggung jawab etis yang mandiri dalam praktiknya.
Tiga (3) Ciri Utama Profesi
1.
Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi;
2.
Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan;
3.
Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat.
Tiga (3) Ciri Tambahan Profesi
1.
Adanya proses lisensi atau sertifikat;
2.
Adanya organisasi;
3.
Otonomi dalam pekerjaannya.
Seseorang disebut profesional bila ia memenuhi 10 kriteria. Adapun kreteria itu antara lain:
1. Profesi harus memiliki keahlian khusus. Keahlian itu tidak dimiliki oleh profesi lain. Artinya, profesi itu
mesti ditandai oleh adanya suatu keahlian yang khusus untuk profesi itu. Keahlian itu diperoleh dengan
mempelajarinya secara khusus; dan profesi itu bukan diwarisi.
2. Profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu. Profesi dipilih karena dirasakan
sebagai kewajiban; sepenuh waktu maksudnya bukan part-time. Sebagai panggilan hidup, maksudnya
profesi itu dipilih karena dirasakan itulah panggilan hidupnya, artinya itulah lapangan pengabdiannya.
3. Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal. Artinya, profesi ini dijalani menurut aturan
yang jelas, dikenal umum, teorinya terbuka. Secara universal pegangannya diakui.
4. Profesi adalah untuk masyarakat, bukan untuk dirinya sendiri. Profesi merupakan alat dalam
mengabdikan diri kepada masyarakat bukan untuk kepentingan diri sendiri, seperti untuk
mengumpulkan uang atau mengejar kedudukan. Jadi profesi merupakan panggilan hidup.
5. Profesi harus dilengkapi kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif. Kecakapan dan kompetensi ini
diperlukan untuk meyakinkan peran profesi itu terhadap kliennya.
6. Pemegang profesi memiliki otonomi dalam menjalankan tugas profesinya. Otonomi ini hanya dapat dan
boleh diuji oleh rekan-rekan seprofesinya. Tidak boleh semua orang bicara dalam semua bidang.
7. Profesi hendaknya mempunyai kode etik, ini disebut kode etik profesi. Gunanya ialah untuk dijadikan
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas profesi. Kode etik ini tidak akan bermanfaat bila tidak
diakui oleh pemegang profesi dan juga masyarakat.
8. Profesi harus mempunyai klien yang jelas yaitu orang yang dilayani.
9. Profesi memerlukan organisasi untuk keperluan meningkatkan kualitas profesi itu.
10. Mengenali hubungan profesinya dengan bidang-bidang lain. Sebenarnya tidak ada aspek kehidupan
yang hanya ditangani oleh satu profesi. Hal ini mendorong seseorang memiliki spesialisasi.

Jadi Etika Profesi


Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang
mengandalkan suatu keahlian. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa etika profesi dalah
keterampilan seseorang dalam suatu pekerjaan utama yang diperoleh dari jalur pendidikan atau pengalaman dan
dilaksanakan secara kontinu yang merupakan sumber utama untuk mencari nafkah.
1.4 Kode Etik Profesi
kode etik profesi merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok masyarakat
tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi
yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.
Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan
suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku.
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya
kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Sifat dan orientasi kode etik hendaknya:
1. Singkat;
2. Sederhana;
3. Jelas dan Konsisten;
4. Masuk Akal;
5. Dapat Diterima;
6. Praktis dan Dapat Dilaksanakan;
7. Komprehensif dan Lengkap, dan
8. Positif dalam Formulasinya.
Orientasi Kode Etik hendaknya ditujukan kepada:
1. Rekan,
2. Profesi,
3. Badan,
4. Nasabah/Pemakai,
5. Negara, dan
6. Masyarakat.
TUJUAN KODE ETIK PROFESI :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :

1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang

digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam

keanggotaan profesi.
Kode Etik Ilmuwan Informasi
Pada tahun 1895 muncullah istilah dokumentasi sedangkan orang yang bergerak dalam bidang dokumentasi
menyebut diri mereka sebagai dokumentalis, digunakan di Eropa Barat.
Di AS, istilah dokumentasi diganti menjadi ilmu informasi; American Documentation Institute (ADI) kemudian
diganti menjadi American Society for Information (ASIS). ASIS Professionalism Committee yang membuat
rancangan ASIS Code of Ethics for Information Professionals.
Kode etik yang dihasilkan terdiri dari preambul dan 4 kategori pertanggungan jawab etika, masing-masing pada
pribadi, masyarakat, sponsor, nasabah atau atasan dan pada profesi.
Kesulitan menyusun kode etik menyangkut (a) apakah yang dimaksudkan dengan kode etik dan bagaimana
seharunya; (b) bagaimana kode tersebut akan digunakan; (c) tingkat rincian kode etik dan (d) siapa yang
menjadi sasaran kode etik dan kode etik diperuntukkan bagi kepentingan siapa.
Profesionalisme
Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam
masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan serta ikrar untuk menerima
panggilan tersebut dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan
kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan di tengah gelapnya kehidupan
(Wignjosoebroto, 1999).
Tiga Watak Kerja Profesionalisme
1. kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi
yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;
2. kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai
melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;
3.
kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukkan diri
pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah
organisasi profesi.
Menurut Harris [1995] ruang gerak seorang profesional ini akan diatur melalui etika profesi yang distandarkan
dalam bentuk kode etik profesi. Pelanggaran terhadap kode etik profesi bisa dalam berbagai bentuk, meskipun
dalam praktek yang umum dijumpai akan mencakup dua kasus utama, yaitu:
a. Pelanggaran terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang seharusnya
dijunjung tinggi oleh profesi itu. Memperdagangkan jasa atau membeda-bedakan pelayanan jasa atas dasar
keinginan untuk mendapatkan keuntungan uang yang berkelebihan ataupun kekuasaan merupakan perbuatan
yang sering dianggap melanggar kode etik profesi;
b. Pelanggaran terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang
sulit atau kurang dapat dipertanggung-jawabkan menurut standar maupun kriteria profesional.

BAB II
PROFESIONALISME KERJA
2.1 Profesionalisme
Profesionalisme (profsionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain)
sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional. Profesionalisme berasal daripada
profesion yang bermakna berhubungan dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya,
(KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualiti dari seseorang yang profesional
(Longman, 1987)
menurut kami Profesional itu sendiri berarti adalah seorang Pekerja yang menjalankan profesi. Namun kita sering
mengartikan bahwa SIKAP PROFESIONAL itu adalah suatu sikap yang harus didirikan dalam diri kita dalam arti sikap
DISIPLIN,KONSISTEN,dan BEKERJA KERAS.Dalam melakukan tugas profesi, para profesional harus bertindak
objektif, artinya bebas dari rasa malu, sentimen, benci, sikap malas dan enggan bertindak.

2.1.1 Ciri-ciri profesionalisme


Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang
profesional. Kualiti profesionalisme didokong oleh ciri-ciri sebagai berikut
1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal.
Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang
telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian tersebut. Yang
dimaksud dengan piawai ideal ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai
rujukan.
2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara imej
profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya
penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu
lainnya.
3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan
meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya.
4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion
Profesionalisme ditandai dengan kualiti darjat rasa bangga akan profesion yang dipegangnya. Dalam hal ini diharapkan
agar seseorang itu memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesionnya.

Tanpa profesionalisme sebuah institusi, sebuah organisasi, sebuah perusahaan tidak akan bertahan lama dan langgeng,
karena jiwa profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas-aktivitas yang ada didalamnya.
Julukan profesional sebenarnya bukan label yang kita berikan untuk diri sendiri melainkan penilaian orang lain atas
kinerja dan peforma yang kita tampilkan.
Seseorang akan terasa percuma jiwa PROFESIONAL nya bila orang tersebut tidak mempunyai sebuah PROFESI.
sedang kan profesi itu bisa didapat dengan cara pendidikan atau pelatihan khusus dan disamping itu pendidikan dan

pelatihan khusus yang didapat nya akan terasa percuma bila orang tersebut belum mendapat unsur semangat kerja atau
panggilan profesi.
Dalam hal ini seorang profesional akan lebih baik jika mempunyai watak seperti di bawah ini.
1. Seorang profesional harus beritikad atau bertekad untuk merealisasikan profesi yang sedang di gelutinya.dan
alangkah lebih baik seorang profesional tidak selalu mementingakn atau mengharapakan imbalan,uah atau materil.
2. Kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas dan terpercaya agar client
tidak kecewa dengan hasil kinerja kita.
3. Seorang profesional selalu diukur kualitas teknis dan kualitas moral. Bila dua kualitas tersebut terpenuhi maka bisa
dikatakan sudah profesional.

Profesional adalah Suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat.
Ada empat perspektif dalam mengukur profesionalisme menurut gilley dan enggland :
1. pendekatan berorientasi filosofis
pendekatan lambang profesional, pendekatan sikap Individu dan electic.
2. pendekatan perkembangan bertahap
individu(dengan minat bersama)berkumpul, kemudian mengidentifikasian dan mengadopsi ilmu, untuk membentuk
organisasi profesi, dan membuat kesepakatan persyaratan profesi, serta menentukan kode etik untuk merevisi persyaratan.
3. pendekatan berorientasi karakteristik
etika sebagai aturan langkah- langkah, pengetahuan yang terorganisasi, keahlian dan kopentensi khusus, tinggkat
pendidikan minimal, setifikasi keahlian.
4. pendekatan berorientasi non- tradisional
mampu melihat dan merumuskan karakteristik unik dan kebutuhan sebuah profesi.
Adapun syarat profesionalisme yaitu :
a. dasar ilmu yang dimiliki kuat dalam bidangnya
b. penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praktis
c. pengembangn kemampuan profesional yang berkesinambungan

2.1.2 7 Strategi atau cara menjadi seorang yang profesional:


1. Kembangkan keahlian (Expert)
Untuk menjadi seorang yang profesional tidak cukup hanya lewat pendidikan formal, diperlukan lebih dari sekedar gelar
akademis. Kita perlu melalui proses pembelajaran dan pengembangan diri yang terus menerus. Kita harus menggali
potensi dan kemampuan kita dan terus dikembangkan sampai kita menjadi ahli. Fokus pada kekuatan kita dan bukan pada
kelemahan kita, lakukan eksplorasi (organisasi sebagai sarana), sadari setiap kita punya keunikan dan kekhususan jadi kita
perlu inves waktu untuk mengembangkannya. Hal ini butuh ketekunan, usaha, kerja keras, kemauan yang kuat dan
inisiatif. Terus tingkatkan pemahaman kita lewat seminar, buku, audio, latihan.
2. Mahir membangun hubungan (Relationship)
Kemampuan kita membangun hubungan (bersosialisasi) dengan orang lain sangat menentukan keberhasilan kita dalam
kehidupan. Ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan seperti: pergaulan, organisasi, dunia usaha, pekerjaan, keluarga.
Makanya tidak heran sejumlah studi ilmiah menyimpulkan 85% kunci sukses ditentukan bukan dari keahlian/keterampilan
teknis melainkan kemahiran dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Bila anda ingin menjadi seorang yang

profesional dalam hidup ini, apapun tujuan dan bidang yang anda pilih, anda harus belajar membina hubungan yang baik
dengan orang banyak dari berbagai kalangan.
Karena masyarakat mungkin masih bisa menerima orang yang tidak punya keahlian khusus tapi mereka sulit menerima
orang yang tidak bisa berhubungan baik dengan orang lain.
3. Tingkatkan kemampuan berkomunikasi (Communicator)
Seberapa jauh dan dalamnya suatu hubungan dapat terjalin ditentukan oleh komunikasi. 90% penyebab hancurnya suatu
hubungan pernikahan, pertemanan, organisasi, bisnis, diakibatkan komunikasi yang salah. Komunikasi yang baik harus
bersifat dua arah. Seorang komunikator yang handal adalah seorang pendengar yang baik. Seorang yang profesional harus
mampu mengkomunikasikan suatu hal dengan jelas dan tepat pada sasaran.
4. Hasilkan yang terbaik (Excellent)
Seorang profesional sejati akan selalu berusaha menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan kinerja yang maksimal.
"Profesional don't do different thing, they do thing differently".
Untuk menjadi profesional kita harus terus mencoba memberikan dan mengerjakan lebih dari apa yang diharapkan. Waktu
kita lakukan suatu kegiatan, project, kerjaan, tugas hasilkan yang terbaik. Jangan puas dengan rata-rata kejar hasil yang
excellent. Lakukan yang terbaik hari ini untuk bayaran hari esok. Pikirkan selalu apa yang dapat saya lakukan untuk add
value bukan apa yang saya bisa peroleh.

5. Berpenampilan menarik (Good Looking)


First impression is very important! Karena orang akan menilai kita 10 detik pertama apakah mereka bisa menerima kita
atau tidak. Sama halnya kalau kita mau beli barang lihat packaging dulu, mau nonton film lihat preview dulu, mau masuk
toko lihat dekor yang paling menarik.
6. Kehidupan yang seimbang (Balance of life)
Seorang profesional harus mampu atur prioritas dan menjalankan berbagai peran. Setiap kita mungkin memiliki banyak
peran dalam hidup ini seperti: sebagai anak, ayah, anggota organisasi, ketua, sales, karyawan. Kita harus dapat berfungsi
dengan benar sesuai dengan peran yang kita jalankan jangan sampai tercampur aduk. Hidup ini harus dijaga agar
seimbang dalam berbagai aspek.
7. Memiliki nilai moral yang tinggi (Strong Value)
Untuk menjadi seorang yang profesional sejati kita harus memiliki nilai moral yang tinggi. Hal ini yang akan
membedakan setiap kinerja, usaha, karya dan kegiatan yang kita lakukan dengan orang lain. Sementara orang lain
kompromi, menggunakan cara-cara yang tidak etis untuk mencapai tujuannya kita tetap berpegang pada prinsip yang
benar.
Diluar sana ada begitu banyak cara-cara pintas dan penyimpangan yang terjadi, oleh karena itu kita harus mampu
mempertahankan sikap profesionalisme.

menjadi seorang profesional juga memiliki KODE ETIK yaitu.


Kod etika professional adalah salah satu 'alat kawalan' sosial yang digunakan sebagai salah satu panduan dalam
mendisiplinkan diri kearah yang lebih beretika. Secara datarnya kode etika ini berfungsi sebagai :

a. Inspirasi dan panduan

Kode etika professional telah mengelaskan pelbagai tingkahlaku yang patut diamalkan dalam sesebuah organisasi atau
jabatan tersebut. Kode ini juga boleh dianggap sebagai landasan dalam menjalankan pelbagai kerja dengan lebih teratur
dan lebih baik.
Dengan panduan dan peraturan amalan-amalan kerja, kode etika boleh memandu dan mengingatkan ahli-ahli professional
mengenai keputusan yang perlu diambil dan tingkahlaku yang sepatutnya apabila berada di dalam sesuatu keadaan.
b. Pencegahan Dan Disiplin

Kode-kode etika digunakan khususnya oleh badan-badan professional sebagai asas untuk menyiasat sebarang
penyelewengan ahli-ahlinya apabila terdapat sebarang aduan diterima. Aduan-aduan ini akan dapat mengurangkan
penyalahgunaan kuasa oleh mereka yang berkuasa dan berpangkat serta mempunyai kedudukan tertentu dalam sesbuah
organisasi atau jabatan. Selain itu ia juga dapat mengelakkan penggunaan maklumat-maklumat rahsia syarikat atau
jabatan untuk kepentingan diri sendiri.
c. Memelihara Maruah Profesyen

Kode-kode etika memberi satu gambaran kepada semua pihak tentang imej positif setiap profesyen kerana setiap ahli
terikat dengan satu standard etika yang tinggi. Etika merupakan satu panduan kepada professional untuk membina,
meningkat dan mempertahankan integriti, kejujuran dan maruah profesyen masing-masing.
Ini secara umumnya, setiap kod etika professional menjelaskan bahawa setiap ahlinya perlu menggunakan segala ilmu
pengetahuan yang dimilikinya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia seluruhnya, jujur kepada diri sendiri, majikan,
masyarakat dan pelanggannya serta sentiasa berusaha untuk meningkatkan pengetahuan untuk terus memberi
perkhidmatan yang lebih cemerlang dari semasa kesemasa.
d. Memelihara Keharmonian
Kode etika menggariskan standard tingkahlaku yang harus dipatuhi dan diamalkan sepenuhnya supaya kepentingan
semua pihak terpelihara. Ini dapat mengelakkan daripada berlakunya pertembungan di antara kepentingan diri dan
kepentingan umum. Ini akhirnya menyebabkan pelbagai konflik dan rasa tidak puashati dikalangan pihak yang berkaitan.
Setiap ahli professional dalam bidang masing-masing perlu mengiktiraf kehidupan, keselamatan, kesihatan dan kebajikan
setiap anggota masyarakatnya

e. Sokongan
Jika seseorang teknokrat didakwa atau diragui oleh pihak lain tentang apa yang dilakukan, maka dia boleh menggunakan
kode etika untuk menyokong tindakannya dalam memberi sokongan akan apa yang telah dilakukan. Hendaklah ahli
teknokrat tersebut yakin akan pekerjaan yang telah beliau lakukan tidak salah disisi undang-undang dan agama serta etika
organisasi atau jabatan.
Para professional hendaklah menolak sebarang arahan majikan yang bertentangan dengan etika professional syarikat
berkenaan.

Ringkasnya, etika professional adalah untuk memberi inspirasi, galakan dan sokongan kepada pengguna-pengguna
teknologi dalam bidang kepakaran masing-masing. Etika professional lebih menumpukan kepada dimensi perlakuan yang
positif sebagai panduan tingkahlaku yang paling sesuai untuk diamalkan oleh seseorang professional.

Empat prespektif dalam mengukur profesionalisme menurut Gilley dan Enggland :


a. Pendekatan berorientasi Filosofis Pendekatan lambang profesional,pendekatan sikap individu dan pendekatan electic
b. Pendekatan perkembangan bertahap individu (dengan minat sama) berkumpul -> mengidentifikasi dan mengadopsi
ilmu -> membentuk organisasi profesi -> membuat kesepakatan persyaratan profesi -> menentukan kode etik -> merevisi
persyaratan
c. Pendekatan berorientasi karakteristik etika sebagai aturan langkah,pengetahuan yang terorganisir, keahlian dan
kompetensi khusus,tingkat pendidikan minimal,sertifikasi keahlian.
d. Pendekatan berorientasi non-tradisional mampu melihat dan merumuskan karakteristik unik dan kebutuhan sebuah
profesi
Contoh sikap profesionalisme dalam bekerja
1.Profesional dalam bidang IT.
2.Profesional di bidang perguruan
3.Profesional di bidang perniagaan
dll

2.2 Perlunya Profesionalisme


Profesionalisme sangat penting sekali untuk di miliki oleh setiap orang, selain besar sekali manfaatnya bagi
pihak yang lain, profesionalisme juga dapat membantu diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Profesionalisme bisa disejajarkan dengan isme-isme (baca: paham atau alliran) yang lain. Sedangkan istilah
profesional bisa dikonotasikandengan penganut (orangnya) atau berkaitan dengan sifat, sedangkan bidangnya
disebut profesi. Dalam bidang apapun kita berkarya, tentu kita harus melakukannya secara profesional. Menjadi
seorang profesional bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mencapainya, diperlukan usaha yang keras karena
ukuran profesionalitas seseorang akan dilihat dari dua sisi. Yakni teknis keterampilan atau keahlian yang
dimiliki, serta hal-hal yang berhubungan dengan sifat, watak, dan kepribadiannya. Menurut E. Widijo Hari
Murdoko, S.Psi dalam tabloid NOVA Nomor 694/XIV-17 Juni 2001, setidaknya ada delapan syarat yang harus
dimilki oleh seseorang jika ingin menjadi seorang profesional, yaitu:
1. Menguasai pekerjaan
Seseorang layak disebut profesional apabila ia tahu betul apa yang harus dikerjakan. Pengetahuan terhadap
pekerjaannya ini harus dapat dibuktikan dengan hasil yang dicapai. Seorang profesional tidak hanya pandai
memainkan kata-kata secara teoritis, tapi juga harus mampu mempraktekannya dalam kehidupan nyata. Ia
memakai ukuran-ukuran yang jelas, apakah yang dikerjakannya itu berhasil atau tidak. Untuk menilai
apakah seseorang menguasai pekerjaannya, dapat dilihat dari tiga hal yang pokok, yaitu : bagaimana ia
bekerja, bagaimana ia mengatasi persoalan, dan bagaimana ia akan mencapai hasil kerjannya. Dengan

begitu, maka seorang profesional akan menjadikan dirinya sebagai problem solver (pemecah persoalan),
bukan jadi trouble maker (pencipta masalah) bagi pekerjaannya.
2. Mampu bekerja keras
Seorang profesional akan secara sadar sanggup untuk bekerjaa keras dalam menyyelesaikan tugas dan
tanggung jawabnya. Ia tetaplah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan dan kelemahan. Oleh karena
ituia harus mampu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak tanpa pandang bulu. Ia akan membuka
dirinya lebar-lebar untuk mau menerima siapa saja yang ingin bekerja sama. Ia tidak akan merasa canggung
atau turun harga diri bila harus bekerja sama dengan orang-orang yang mungkin secara status lebih rendah
darinya. Hal ini bisa dicapai apabila ia mampu mengembangkan dan meluaskan hubungan kerja sama
dengan siapa pun, dimana pun, dan kapan pun.
3. Loyalitas
Loyalitas bagi seorang profesional memberikan petunjuk bahwa dalam melakukan pekerjaannya, ia bersikap
total. Artinya apapun yang ia kerjakan didasari oleh rasa cinta. Seorang profesional memiliki suatu prinsip
hidup, bahwa apa yang dikerjakannya bukan suatu beban, tetapi merupakan panggilan hidup untuk berkarya
dan memberikan manfaat bagi orang lain. Maka, tak berlebihan bila mereka bekerja sungguh-sungguh.
Loyalitas ini akan memberikan daya dan kekuatan untuk berkembang dan selalu mencari hal-hal yang
terbaik bagi pekerjaannya, tanpa menunggu perintah. Dengan adanya loyalitas, ia akan selalu berpikir
proaktif, yaitu selalu melakukan usaha-usaha antisipasi agar hal-hal yang fatal tidak terjadi.
4. Integritas
Nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan harus benar-benar jadi prinsip dasar bagi seorang yang
profesional. Dengan integritas ini seorang profesional akan mempunyai kesadaran diri bahwa dalam
melakukan suatu pekerjaan, hati nurani dan suara hati harus tetap menjadi dasar dan arah untuk
mewujudkan tujuannya. Maka, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa seorang profesional tak cukup
hanya cerdas dan pintar secara intelektual, tapi juga sisi mental dan emosional. Alangkah lucunya bila
seorang mengaku sebagai profesional, tapi dalam kenyataannya ia seorang koruptor atau manipulator atau
terombang-ambingkan oleh perubahan situasi dan kondisi yang setiap saat bisa terjadi??
5. Visi
Seorang profesional harus mempunyai visi atau pandangan yang jelas akan masa depan. Visi ini bisa
dianggap sebagai peta jalan menuju masa depan yang dengannya ia akan memilki dasar dan landasan yang
kuat untuk mengarahkan pikiran, sikap, prilaku dan tindakannya terfokus pada tujuan yang akan dicapai.
Dengan mempunyai visi yang jelas, maka ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar, karena apa yang
dilakukannya sudah dipikirkan masak-masak, sehingga ia sudah mempertimbangkan resiko apa yang akan
diterimanya. Visi yang jelas juga memacunya untuk menghasilkan prestasi yang maksimal, sekaligus ukuran
yang jelas mengenai keberhasilan dan kegagalan yang ia capai. Jika gagal. ia tidak akan mencari kambing
hitam, tapi secara dewasa mengambilalih sebagai tanggung jawab pribadi dan profesinya.
6. Kebanggaan
Seorang prosional harus mempunyai kebanggaan terhadap profesinya. Apapun profesi atau jabatannya,
seorang profesional harus mempunyai penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap profesi tersebut.
Karena dengan rasa bangga tersebut, ia akan mempunyai rasa cinta terhadap profesinya. ia akan mempunyai
komitmen yang tinggi terhadap apa yang dilakukakannya, sehingga mengerakan dirinya untuk mencari halhal yang lebih baik dan senantiasa memberikan kontribusi yang besar terhadap apa yang ia lakukan.
7. Komitmen

Seorang profesional harus memiliki komitmen tinggi untuk tetap menjaga profesionalitasnya. Artinya, ia
tidak akan begitu mudah tergoda oleh bujuk rayu yang akan menghancurkan nilai-nilai profesi. Ia tidak akan
mengorbankan idealismenya sebagai seorang yang profesional hanya disebabkan oleh hasutan harta,
pangkat dan jabatan. Bahkan bisa bagi dirinya, lebih baik mengorbankan harta, pangkat dan jabatan asalkan
nilai-nilai yang ada dalam profesinya tidak hilang. Untuk membentuk komitmen yang tinggi dibutuhkan
konsistensi dalam mempertahankan nilai-nilai profesionalisme. Tanpaadanya konsistensi atau keajekan,
seseorang sulit menjadikan dirinya sebagai profesional, karena hanya akan dimainkan oleh perubahanperubahan yang terjadi.

8. Motivasi
Dalam situasi dan kondisi apapun, sorang profesional tetap harus bersemangat dalam melakukan apa yang
menjadi tanggung jawabnya. Artinya, seburuk apapun kondisi dan situasinya, ia harus mampu memotivasi
dirinya sendiri untuk tetap dapat mewujudkan hasil yang maksimal tanpa kenal menyerah. Ia akan menjadi
motivator bagi dirinya sendiri, sehingga dapat membangkitka kelesuan-kelesuan yang disebabkan oleh
situasi dan kondisi yang dihadapi. Disamping itu ia juga harus mampu menyemangati lingkungannya. Ia
mengerti, kapan dan di saat-saat seperti apa ia harus memberikan motivasi untuk dirinya sendiri dan
lingkungannya.
2.3 Syarat Untuk menjadi seseorang yang professional
Profesional berarti Anda menempatkan Diri sebagai seorang yang Mengerti dan Paham akan Tugas dan
Tanggung Jawab Pekerjaan, Hubungan dan Relasi Kerja dengan Tim Lain, Serta Fokus dan Konsisten dengan
Target serta Tujuan Organisasi. Perilaku yang cenderung Individu semakin dieliminir karena tidak hanya
merugikan Pribadi Sendiri namun dapat pula menjatuhkan Performa Tim. Inilah inti dari perilaku Profesional.
Persaingan Kerja makin ketat, tidak hanya antar perusahaan namun pula diinternal perusahaan bahkan antar
individu dalam sebuah Departemen. Masing-masing Anda tentu sangat ingin Menonjol dan Menjadi Terbaik
dalam Bidangnya, serta menjadi Andalan bagi Perusahaan. Profesional menjadi kata pertama yang selalu
dikedepankan dalam sebuah Konteks Pekerjaan. Profesional mutlak menjadi Senjata Utama Anda dalam
Menjual Diri selain Kemampuan dan Ketrampilan atau Kualitas Kerja yang Mumpuni.
Perilaku Profesional dalam Pekerjaan tidak hanya memiliki Pengalaman dan Sertifikasi dalam sebuah
Bidang Kerja. Profesional merupakan Passion dan Energi dalam Pekerjaan untuk Memberikan dan Melayani
dengan sebaik mungkin. Memenuhi Peran dan Fungsi sehari-hari terhadap Pekerjaan adalah Implementasi arti
Profesional. Beberapa hal yang dapat Anda kembangkan lebih lanjut untuk memiliki Perilaku Profesional
yakni:
1. Miliki Pengetahuan dan Ketrampilan Khusus yang menjadikan Anda seorang Ahli.
Tingkatkan Kualitas Diri Anda dalam sebuah Bidang Pekerjaan, dan selalu ber-Komitmen untuk
melakukan Pengembangan Diri. Pada akhirnya Anda memiliki sebuah Pengetahun Khusus yang mana hanya
Anda sendiri yang Cakap dan Hebat dalam urusan tersebut.
2. Miliki Kompetensi yang membuat Anda Terampil secara Mental dan Pengetahuan.
Kompoten artinya Anda mempunyai Ketrampilan dan Pengetahuan yang mampu menjawab Tantangan dan
Tanggung Jawab Perusahaan. Anda tidak harus memiliki banyak Pengetahuan, namun sebuah Bidang Terbaik
dalam Pekerjaan cukup menjadikan Anda seorang dengan Kompetensi Tinggi.

3. Jujur, Integritas dan Santun kepada semua Stakeholder.


Kehancuran Karir Anda tidak terjadi hanya karena tidak adanya Pengembangan Diri dan Pengetahuan
mengikuti Tren Pasar, namun cenderung karena Perilaku dan Sifat Anda yang tidak sesuai Aturan dan Norma
yang Berlaku. Jujur dan Integritas dalam Pekerjaan mencerminkan Perilaku Profesional Sejati. Anda menjaga
Diri Sendiri dan Tim untuk selalu menjunjung Nilai-Nilai Perusahaan kepada Rekan, Kolega, Atasan,
Pelanggan dan semua Stake holder lainnya.
4. Bertanggung Jawab terhadap semua aspek Kehidupan.
Anda bertanggung jawab dengan semua aspek yang akan terkait Pekerjaan Anda, baik Pikiran, Perasaan
dan Perilaku yang berhubungan terhadap orang lain maupun diri sendiri. Sikap Rendah Hati dan Santun kepada
Lingkungan Sekitar membuat Anda mencerminkan Profesionalisme Kerja yang Tinggi. Alasan tidaklah
menjadi Pokok Utama Anda dalam Bekerja, melainkan Pencapaian dan Kinerja sebagai Tujuan Akhir.
5. Miliki Tujuan Pribadi.
Selain menggiring Tujuan Perusahaan tercapai, tentu dalam sebuah Pekerjaan pun Anda perlu Memiliki
Hasrat dan Cita-cita yang Personal atau Pribadi. Tujuan Pribadi membuat Anda lebih Terpacu dan Termotivasi
mencapai Hasil Maksimal. Anda akan melakukan Persiapan dan Pengaturan untuk menraih Tujuan.
6. Miliki Gambaran Visi dan Misi tentang Pekerjaan.
Perencanaan yang baik membuat Anda siap dengan Risiko yang mungkin dihadapi. Gambaran Jelas dari
sebuah Visi Misi Kerja memberikan Anda Prioritas Waktu, Perhatian dan Fokus terhadap Tugas dan Tanggung
Jawab.
Menjadi Profesional dalam Pekerjaan adalah sebuah Perilaku dan Sikap Pribadi yang secara Langsung juga
akan mencerminkan Diri Anda. Profesional dalam Bekerja tidak berarti Anda mengesampingkan Faktor Pribadi
atau Tujuan Pribadi dalam Bekerja. Profesional membuat Anda Proporsional dalam Sikap dan Tanggung Jawab.
ikhtisar.com
- See more at: http://ikhtisar.com/menjadi-profesional-dalam-pekerjaan/#sthash.j3SvodCx.dpuf

BAB III
PERANAN ETIKA PROFESI DAN PROFESIONALISME
DALAM DUNIA KERJA
3.1 Penerapan Etika Profesi di Dunia Pekerjaan

Dunia kerja memang menyimpan banyak sisi, secara positif orang memang menaruh harapan dari dunia
kerja yaitu untuk memenuhi keperluan hidupnya. Namun tuntutan pekerjaan punbila tidak dihadapi dengan baik
dapat membawa tekanan bagi pekerja sendiri. Menyikapi hal tersebut mungkin ada hubungannya dengan
fenomena maraknya kegiatan eksekutif bisnis mendalami nilai-nilai agama. Mereka mengikuti aktivitas
keagamaan seperti tasawuf, kebaktian bersama dan lainnya untuk mengkaji dan mengaplikasikan nilai-nilai
luhur yang selama ini kerap hilang dari dunia kerja.
Kemerosotan nilai dalam dunia kerja juga diakui oleh ahli filsafat Franz Magnis Suseno, bahwa etika
dalam tempat kerja mulai tergeser oleh kepentingan pencapaian keuntungan secepat-cepatnya. Eika sudah tidak
ada lagi dan kegiatan ekonomi hanya dimaknakan sebagai usaha mencari uang dengan cepat ,Akibatnya,
perusahaan memberlakukan karyawan dengan buruk dan tidak menghormati setiap pribadi.
Etika dalam profesionalisme bisnis. Ada dua hal yang terkandung dalam etika bisnis yaitu kepercayaan
dan tanggung jawab. Kepercayaan diterjemahkan kepada bagaimana mengembalikan kejujuran dalam dunia
kerja dan menolak stigma lama bahwa kepintaran berbisnis diukur dari kelihaian memperdaya saingan.
Sedangkan tanggung jawab diarahkan atas mutu output sehingga insane bisnis jangan puas hanya terhadap
kualitas kerja yang asal-asalan.
Dalam pandangan rasional tentang perusahaan, kewajiban moral utama pegawai adalah untuk bekerja
mencapai tujuan perusahaan dan menghindari kegiatan-kegiatan yang mungkin mengancam tujuan tersebut.
Jadi, bersikap tidak etis berarti menyimpang dari tujuan-tujuan tersebut dan berusaha meraih kepentingan
sendiri dalam cara-cara yang jika melanggar hokum dapat dinyatakan sebagai salah satu bentuk kejahatan
kerah putih.
Adapunbeberapap0raktik di dalamsuatupekerjaan yang dilandasi dengan etika dengan berinteraksi di dalam
suatu perusahaan, misalnya:
1. Etika Terhadap Saingan. Kadang- kadang ada produsen berbuat kurang etis terhadap saingan dengan
menyebarkan rumor, bahwa produk saingan kurang bermutu atau juga terjadi produk saingan dirusak dan
dijual kembali ke pasar, sehingga menimbulkan citra negative dari pihak konsumen.
2. Etika Hubungan dengan Karyawan. Di dalam perusahaan ada aturan-aturan dan batas-batas etika yang
mengatur hubungan atasan dan bawahan, Atasan harus ramah dan menghormati hak-hak bawahan, Karyawan
diberi kesempatan naik pangkat, dan memperoleh penghargaan.

3. Etika dalam hubungan dengan public, harus dijaga sebaik mungkin, agar selalu terpelihara hubungan
harmonis. Hubungan dengan public ini menyangkut pemeliharaan ekologi, lingkungan hidup. Hal ini meliputi
konservasi alam, daur ulang dan polusi. Menjaga kelestarian alam, recycling (daurulang) produk adalah uashausaha yang dapat dilakukan perusahaan dalam rangka mencegah polusi, dan menghemat sumber daya alam.
Berbicara tentang moral sangat erat kaitannya dengan pembicaraan agama dan budaya, artinya kaidahkaidah dari moral pelaku bisnis sangat dipengaruhi oleh ajaran serta budaya yang dimiliki oleh pelaku-pelaku
bisnis sendiri. Setiap agama mengajarkan pada umatnya untuk memiliki moral yang terpuji, apakah itu dalam
kegiatan mendapatkan keuntungan dalam ber-bisnis. Jadi, moral sudah jelas merupakan suatu yang terpuji
dan pasti memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak.Umpamanya, dalam melakukan transaksi, jika
dilakukan dengan jujur dan konsekwen, jelas kedua belah pihak akan merasa puas dan memperoleh
kepercayaan satu sama lain, yang pada akhirnya akan terjalin kerjasama yang erat saling menguntungkan.
Moral lahir dari orang yang memiliki dan mengetahui ajaran agama dan budaya. Agama telah mengatur
seseorang dalam melakukan hubungan dengan orang sehingga dapat dinyatakan bahwa orang yang
mendasarkan bisnisnya pada agama akan memiliki moral yang terpuji dalam melakukan bisnis. Berdasarkan ini
sebenarnya moral dalam berbisnis tidak akan bias ditentukan dalam bentuk suatu peraturan (rule) yang
ditetapkan oleh pihak-pihak tertentu. Moral harus tumbuh dari diri seseorang dengan pengetahuan ajaran agama
yang dianut budaya dan dimiliki harus mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dunia bisnis, yang tidak ada menyangkut hubungan antara pengusaha dengan pengusaha, tetapi
mempunyai kaitan secara nasional bahkan internasional.Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika dalam
berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat
maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak
kepada apa yang mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui
adanya etika moral danetika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bias
diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika di dalam berbisnis yang menjamin adanya
kepedulian antara satu pihak dan pihak lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada
suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian.
Di dunia pekerjaan, apalagi di bagian akuntansi diperlukan sekali penerapan etika profesi karena memerlukan
pengetahuan dan juga keterampilan dalam pelaksanaannya juga. Bagian akuntansi sangat diperlukan
pengendalian diri dalam menjalani tugasnya karena pastinya akan banyak sekali godaan-godaan yang terjadi di
dalam perusahaan. Ketelitian juga diperlukan di bagian akuntansi sebab salah sedikit bias mempengaruhi
laporan keuangan yang telah dibuat dan harus pintar-pintar dalam mempercayai seseorang di dalam perusahaan,
takut-takut malah nanti di manipulasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Maka dari itulah sangat
diperlukan sekali etika profesi di dalam suatu pekerjaan agar lebih bertanggung jawab dengan apa yang
dikerjakan.
Sumber : http://evanalurita.wordpress.com/2010/03/02/penerapan-etika-profesi-di-dunia-pekerjaan/

BAB IV
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa setiap pekerjaan pasti memiliki etika-etika yang mendukung suatu
pekerjaan tersebut.dimana, setiap bidang pekerjaan memiliki kode etik yang berbeda-beda.adapun beberapa kode
etik yang harus di taati oleh setiap pekerja adalah :
1. Disiplin,
2. Bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,
3. Jujur dalam melakukan pekerjaannya,
4. Patuh terhadap atasan
5. Mengghargai rekan kerja
Profesi juga diartikan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang sangat dipengaruhi oleh
pendidikan dan keahlian yang dilakukan secara bertanggung jawab dengan tujuan memperoleh penghasilan.
Tujuan kode etik profesi pekerjaan adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara
kesejahteraan para pekerja, meningkatkan pengabdian para pekerja profesi, meningkatkan mutu pekerja,
meningkatkan mutu perusahaan, mempunyai perusahaan profesional yang kuat dan terjalin erat. Dan dengan
adanya etika profesi dank ode etik maka akan terbentuk pekerja yang professional di dalam bidangnya masing
masing, dan dengan profesionalisme itu maka akan memajukan tempat kerjanya dan akan menambah pemasukan
bagi perusahaan itu dan Negara.

1.2 Kritik dan Saran


Dengan diselesaikanya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dannpengetahuan
pembaca .Selanjutnya penulis juga mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan
makalah ini.

Daftar Pustaka
http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/pengertian-etika.html
http://10menit.wordpress.com/tugas-kuliah/pengertian-etika/
http://kuliah-harian.blogspot.com/p/macam-macam-etika.html
https://www.academia.edu/4226624/Pengertian_profesi
http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Sertifikasi_Manajemen_Risiko
http://etikaprofesinarotama.blogspot.com/
http://tugas01-etika-profesi.blogspot.com/
http://felix3utama.wordpress.com/2008/12/01/pengertian-dalam-etika-profesi/
http://cyberlawncrime.blogspot.com/2013/03/klasifikasi-cybercrime.html
http://cipluk2bsi.wordpress.com/profesionalisme-kerja-2/
gelankelana.blogspot.com/2011/09/profesionalisme.html
http://makhulmathic.blogspot.com/2011/06/makalah-kompetensi-profesional.html
http://denmiracle.blogspot.com/2011/11/profesionalisme-kerja.html
http://ikhtisar.com/menjadi-profesional-dalam-pekerjaan/
Buku Ajar etika profesi oleh, R, Rizal Isnanto, ST, MM, MT Program Studi Sistem computer, Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro 2009