Anda di halaman 1dari 51

BAB VI. B.

3
B.3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL
1.1. Umum.
1.1.1. Uraian pekerjaan.
Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pembongkaran dan
pemasangan, pekerjaan instalasi pengkabelan, kabel daya, stop kontak serta
instalasi pengkabelan untuk penerangan. Pekerjaan yang diuraikan adalah
pekerjaan yang berkaitan diantaranya :
a. Pekerjaan instalasi.
b. Pekerjaan armature lampu.
c. AC dan exhaust fan.
d. Telepon.
e. Plumbing / sanitasi
Kontraktor bertanggung jawab pada aspek design detail yang dilaksanakan sesuai
regulasi yang berlaku (design & build).
1.1.2.

Ketentuan.
a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan
mengerti teknik-teknik instalasi listrik dan pengujian.
b. Kontraktor harus menyediakan peralatan kerja untuk pelaksanaan dan
pengujian yang diperlukan guna kelancaran dan terlaksananya pekerjaan
menurut persyaratan yang berlaku.
c. Standar referensi yang dipakai adalah :
Peralatan umum instalasi listrik (PUIL) tahun 2000, SNI 04-0225-2000
(SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP-174/MEN/2002).
Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor
023/PRT/1973 tentang Peraturan Instalasi Listrik (PIL).
Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor
024/PRT/1973 tentang Syarat-syarat Penyambungan listrik (SPL).
Standar atau peraturan teknis dari negara lain/ internasional yang
dijadikan pegangan antara lain :
AVE Belanda.
UDE/ DIN Jerman.
British Standard Associates.
JIS Japan Standard.
NFC Perancis.
NEMA USA.
d. Pelaksanaan teknis.
Sebelum melaksanakan pekerjaan-pekerjaan instalasi, kontraktor/ pemborong
harus terlebih dahulu membongkar sebagian atau seluruh instalasi lama sesuai
rencana yang berkaitan dengan penambahan instalasi pengkabelan yang baru.
e. Pengujian.
Sebelum mengoperasikan stop kontak dan instalasi lampu, kontaktor/
pemborong harus melakukan pengujian instalasi untuk membuktikan bahwa
pekerjaan tersebut baik. Pengujian tersebut berupa pengukuran tahanan isolasi
kabel terhadap instalasi yang bersangkutan.
f.
Pelaksanaan pemasangan.
Pada prinsipnya pemasangan seluruh instalasi pengkabelan harus dilakukan
oleh ahli dalam hal ini perusahaan yang memiliki SIKA dan SPI yang
dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Selain itu pemasang instalasi
dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman di bidangnya.
g. Termasuk dalam lingkup kerja kontraktor adalah sebagai berikut (sesuai BQ,
gambar dan kondisi eksisting):
Pembongkaran, pembersihan dan pemasangan kembali ceiling speaker
Pembongkaran dan pemasangan kembali head sprinkler, termasuk relokasi
Pembaongkaran dan pemasangan kembali CCTV
Pembongkaran dan pemasangan kembali antenna indoor jaringan seluler

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 1

Pasal 1
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN LAMPU
1.2. Pekerjaan instalasi listrik dan armature lampu.
1.2.1. Umum.
a. Uraian pekerjaan.
Pekerjaan system listrik ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan
pembongkaran dan pemasangan serta pengujian, perlatan dan tenaga kerja
sehingga seluruh system listrik dapat beroperasi dengan sempurna.
b. Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan listrik ini mencakup pengadaan dan pemasangan instalasi
listrik dan armature sesuai dengan gambar.
c. Ketentuan.
Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan
mengerti teknik instalasi dalam bank, serta pancingan kawat penggantung
untuk kabel data sesuai gambar.
Kontraktor/ pemborong harus menyediakan peralatan bantu untuk
pelaksanaan dan pengujian yang diperlukan guna kelancaran dan terlaksanya
pekerjaan menurut persyaratan yang berlaku.
Standar dan referensi yang dipakai adalah :
Peralatan umum instalasi listrik (PUIL) tahun 2000, SNI 04-0225-2000 (SK
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP-174/MEN/2002)
Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor
023/PRT/1973 tentang Peraturan Instalasi Listrik (PIL).
Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor
024/PRT/1973 tentang Syarat-syarat Penyambungan listrik (SPL).
Pelaksanaan teknis.
Sebelum melaksanakan pekerjaan-pekerjaan instalasi, kontraktor/ pemborong
harus terlebih dahulu membongkar sebagian atau seluruh instalasi lama
sesuai rencana yang berkaitan dengan penambahan instalasi pengkabelan
baru yang tertera pada gambar serta merapikan kembali sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Kontraktor/ pemborong listrik harus bekerja sama
dengan kontrakto/ pemborong power untuk komputer yang ada di banking
hall dan back office dengan diawasi oleh pengawas. Pemindahan kabel
grounding harus memperhatikan estetika interior.
Pengujian.
Sebelum mengoperasikan stop kontak dan instalasi lainnya, kontaktor/
pemborong harus melakukan pengujian instalasi untuk membuktikan bahwa
pekerjaan tersebut sudah memenuhi syarat dan siap dioperasikan. Pekerjaan
tersebut berupa pengukuran tahanan isolasi.
Pelaksanaan pemasangan.
Pada prinsipnya pemasangan seluruh instalasi pengkabelan harus dilakukan
oleh tenaga ahli listrik dalam hal ini perusahaan yang memiliki SIKA dan SPI
yang dikeluarkan olh instansi yang berwenang. Selain itu pemasang instalasi
dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman di bidangnya.
1.2.2.
Material.
a. Instalasi pengkabelan dari panel menuju stop kontak, saklar, stop kontak
computer dan untuk instalasi penerangan memakai jenis kabel NYM 32,5 mm
dengan arde.
b. Setiap sambungan kabel tidak diperkenankan menggunakan selotip, tetapi
harus menggunakan konektor khusus/ lasdop.
c. Jaringan listrik dalam dinding harus ditanam dalam pipa PVC pada belokan
menggunakan pipa fleksibel.
d. Pada setiap cabang pengkabelan harus menggunakan boks lengkap dengan
tutupnya.

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 2

e. Setiap armature lampu/ saklar/ stop kontak harus menggunakan boks dus
dengan mutu yang bagus sebagaimana standar kelistrikan.
f. Merek kabel yang disyaratkan adalah bahan : Kabelindo, Kabel Metal, Tranka
Kabel dan Supreme.
g. Armature lampu sesuai dengan jenis penggunaan, sesuai gambar buatan pabrik
Artolite atau Lomm atau setara.
h. Komponen lampu yang digunakan adalah merek Philips atau Osram, atau
setara.
i. Saklar lampu sesuai dengan jenis penggunaan sesuai gambar, ada yang
tunggal, seri, triple, dan saklar kelompok. Semua komponen tersebut merek
Clipsal atau setara.
j. Stop kontak yang digunakan adalah buatan Clipsal atau setara.
k. Stop kontak normal 2 (dua) gang maupun stop kontak UPS 4 (empat) gang
menggunakan merek German.
l. Stop kontak lantai yang digunakan adalah merek Legrand.
m. Out-let telepon buatan Cipsal atau setara.
n. Pipa PVC 20 mm produksi Ega atau Clipsal.
o. Protektor kabel merek Ega atau Clipsal.
p. AC Split yang digunakan adalh merek Panasonic atau Daikin.

Pasal 2
PEKERJAAN INSTALASI AC dan EXHAUST
2.3. Pekerjaan Relokasi Air Condition (AC) diffuser dan Exhaust fan.
2.3.1. Lingkup pekerjaan
a. Pembongkaran, relokasi dan perapihan kembali supply diffuser AC
b. Penambahan flexible duct yang disesuaikan dengan ukuran existing
2.3.2. Syarat pelaksanaan dan material
a. Sebelum melakukan pekerjaan kontaktor harus membuat gambar shopdrawing
yang disesuaikan dengan gambar desain dan kondisi lapangan
b. Ducting utama tidak dirubah sehingga perubahan posisi supply diffuser harus
diikuti dengan penambahan flexible duct
c. Flexible duct harus dilapisi insulasi dan aluminium foil
d. Ukuran flexible duct yang dugunakan disesuaikan dengan kondisi existing
e. Kontraktor/pemborong harus membersihkan kembali bekas pekerjaan dan
material sisa di lapangan
Pasal 3
PEKERJAAN INSTALASI TELEPON, DATA DAN OUTLET TV
3.4. Pekerjaan instalasi telepon.
3.4.1.
Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan telepon adalah dari outlet telepon, instalasi kabel hingga ke
terminal box tiap lantai, selanjutnya dari terminal per lantai ke MDF di ruang PABX.
3.4.2.
Masa Jaminan.
Semua perkerjaan instalasi maupun peralatannya harus dijamin akan bekerja
dengan sempurna. Semua peralatan yang masuk dalam lingkup pekerjaan diatas
harus diberi masa pemeliharaan cuma-cuma
Setelah penyerahan pekerjaan tersebut, terutama untuk material utama seperti
TRO/ key telephone (letter of guaranty dari pabrik). Setelah masa pemeliharaan
cuma-cuma selesai, kontraktor/ pemborongdapat saja mengajukan usulan untuk
mengadakan kontrak pemeliharaan kepada pemilik, kecuali apabila ditentukan oleh
pemilik.
3.4.3.
Syarat-syarat pelaksanaan.
a. Kontraktor/ pemborong harus meyakinkan pemberi tugas, bahwa pekerjaan
dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang berpengalaman dan mengikuti syaratsyarat yang telah dikeluarkan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.
Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 3

3.4.4.

3.4.5.

3.4.6.

3.4.7.
3.4.8.
3.4.9.

3.4.10.

b. Kontraktor/ pemborong harus menjamin bahwa pemasangan akan disahkan


oleh PT. Telekomunikasi Indonesia sehingga penyambungan saluran dari
instansi terkait sampai di bangunan tidak menemui kesulitan baik prosedur
teknis maupun non-teknis.
c. Selama pemasangan/ instalasi kontraktor/ pemborong harus menempatkan
seorang ahli yang mengawasi pelaksanaan.
d. Kontraktor/ pemborong harus mengganti kembali material-material yang rusak,
sehingga syarat-syarat fisik maupun teknis tetap dapat dipenuhi.
e. Kontraktor/ pemborong harus membersihkan kembali sisa-sisa/ bekas-bekas
pekerjaan yang berupa potongan-potongan kayu, kabel, metal, bekas bobokan
baik pada tembok/ beton maupun pada dinding dan lantai serta memperbaiki
finishing seperti keadaan semula.
f. Kontraktor/ pemborong harus mengadakan testing, start up dimana segala
ketentuan untuk ini adalah menjadi tanggung jawab dan biaya kontraktor/
pemborong.
Manual, Spare part dan instruksi.
Kontraktor/ pemborong wajib menyerahkan manual, keterangan spare part serta
instruksi-instruksi yang dianggap perlu terhadap semua peralatan yang dipasang.
Built-in Insert.
Kontraktor/ pemborong harus menyediakan semua Insert serta peralatanperalatan tambahan lain yang dibutuhkan yang harus dipendam dalam beton
maupun cara pemasangan yang lain
Finishing.
Semua material yang dipasang harus sudah dalam keadaan difinish dengan baik
sesuai yang disyaratkan , finishing setelah terpasang adalah disyaratkan dan ini
mencakup segala perbaikan pada material tersebut maupun pekerjaan lain sebagai
akibat pemasangan instalasi tersebut termasuk didalamnya perbaikan, pengecatan
kembali, pembersihan dan lainnya.
Key Telephone/ TRO
Hubungan antara kabel pesawat teleppon dengan kabel instalasi harus dengan
outlet tidak boleh dengan terminal strip. Outlet telepon dipasang secara flushmounted pada dinding.
Pemasangan .
a. Kabel yang keluar dari MDF (Main Distribution Frame) ke CTB (cable Terminal
Box) sampai ke pesawat dengan jumlah pair seperti tertera pada gambar,
dari kabel berisolasi PVC dengan pita pelindung statis (sesuai dengan
ketentuan VDE 0815 atau Perumtel K.9-1-011). Sedangkan untuk kabel di
luar bangunan menggunakan kabel tanah. Seluruh instalasi kabel telepon
dalam conduit unit (High Impact Conduit) dan setiap pencabangan harus
dilakukan dalam junction box dari bahan besi tuang (bahan metal).
b. Untuk instalasi di dalam bangunan di beberapa tempat, kabel telepon dalam
conduit PVC high impact diletakkan bersama-sama kabel listrik dalam jalur
kabel/ race-way. Selain itu terdapat juga instalasi telepon di dalam conduit
yang menempel di dinding. Maupun yang tertanam di dalam beton lengkap
dengan terminal maupun junction box.
c. Kabel-kabel ari CTB ke setiap outlet dapat juga menggunakan kabel 1 (satu)
par atau multi pair untuk beberapa outlet asalkan disambung melalui outlet/
terminal.
Konduit, junction box, MDF dan CTB selain konduit yang ditanam pada dinding atau
pilar/ beton maka terdapat konduit untuk telepon di atas langit-langit. Pipa-pipa
konduit telepon dari MDF sampai CTB, dan dari CTB sampai outlet telepon adalah
dari bahan PVC high impact. Konduit telepon di atas ceiling/ plafon/ langit-langit
dari MDF ke CTB, atau dari CTB ke setiap outlet telepon yang penyambungannya
dilakukan secara rapi dan kuat dengan penyambung yang sesuai untuk conduit
telepon. Bagian ujung dari konduit ini harus ditanahkan (yaitu pada CTB).
Kontraktor/ pemborong harus membuat gambar detail/ gambar kerja untuk
sistem pentanahan (gounding) pada CTB, MDF dan untuk key telepon.
Penghubung konduit yang berada diatas plafon dengan konduit vertical (pada
pilar/ kolom/ dinding) atau dengan conduit ara 90 dengan lainnya harus

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 4

dilakukan melalui junction box dari bahan cast iron dan penyambungan harus
dengan brass compression gland. Konduit untuk telepon dari CTB ke pesawat
dan lain-lain harus terpasang di dinding atau tertanam di tiang beton. Kontraktor/
pemborong harus meneliti dengan sempurna pada gambar. Pda pemasangan
kontraktor/ pemborong harus menyesuaikan letak dari konduit tersebut dengan
gambar instalasi dilengkapi dengan junction box dan aksesoris lain sekalipun pada
gambar tidak dinyatakan dengan jelas. Semua belokan dan cadangan harus
melalui junction box.

Segala syarat dan cara pemasangan outlet telepon serta dan


penginstalasiannya menjadi tanggungan kontraktor/ pemborong telepon.

Outlet-outlet yang dipasang harus sudah lengkap dengan kabel sampai ke


CTB.

Semua konduit yang terpasang di plafon atau di tempat lain secara out-bow
harus dilapisi dengan cat dasar dan cat akhir yang warnanya akan ditentukan
kemudian oleh konsultan perencana.

Kotak-kotak CTB atau MDF harus terbuat dari plat besi dengan ketebalan
minimal 1,5 mm dengan difinished dengan cat dasar dan cat akhir dengan
warna yang ditentukan kemudian.

Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci Master key type.
3.4.12. Persyaratan bahan/ material.
a. Semua material yang di suplai dan di pasang oleh kontraktor/ pemborong harus
baru dan material tersebut khusus untuk pemasangan di daerah tropis serta
sebelum pemasangan harus mendapatkan ijin tertulis dari konsultan pengawas.
b. Kontraktor/ pemborong harus bersedia mengganti material yang tidak disetujui
karena menyimpang dari spesifikasi atau hal lainnya, dimana penggantian
tersebut tanpa biaya ekstra.
c. Komponen-komponen dari material mungkin sering diganti harus dipilih yang
mudah diperoleh di pasaran bebas.
d. Daftar material
Kabel telepon dari outlet ke terminal box tiap lantai menggunakan kabel telepon
Supreme 2 pair. Kabel dari terminal box tiap lantai ke MDF menggunakan kabel
telepon Supreme multipair sesuai dengan kebutuhan tiap lantai
No
1.
2.
3.
4.

PERALATAN/ MATERIAL
TB
KABEL
KABEL DARI IB-HANDSET
OUTLET TELEPON

5.

KONDUIT PVC

6.

RACK KABEL

BUATAN PABRIK/ MERK


LOKAL
SUPREME
LAPP CABLE
BROCO
MERTEN
SETARA
EGA
CLIPSAL
GILFLEX
LOKAL

3.5. Pekerjaan instalasi data.


3.5.1. Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan instalasi data adalah mulai dari outlet (modular); instalasi kabel
sampai ke patch panel pada wall mounted rack tiap lantai.
3.5.2. Persyaratan bahan/ material.
Kabel yang dipakai Belden cat. 5E, modular & faceplate AVAYA; patch panel AVAYA
3.6. Pekerjaan outlet TV.
3.6.1. Lingkup pekerjaan.
Lingkup pekerjaan outlet TV adalah instalasi kabel dari terminal antenna TV hingga ke
posisi outlet tiap lantai.
3.6.2. Persyaratan bahan/ material.
Kabel yang digunakan adalah kabel Coaxial 75 ohm merk Belden dan outlet dari
Clipsal.

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 5

Pasal 4
PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING / SANITASI
4.7.
Instalasi Plumbing/ Sanitasi.
4.7.1. Umum.
a. Semua material yang disuplai dan dipasang oleh kontraktor/ pemborong harus
baru (New product) dan material tersebut khusus untuk pemasangan di daerah
tropis serta sebelum pemasangan harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas.
b. Kontraktor/ pemborong harus bersedia mengganti material yang tidak disetujui
karena menyimpang dari spesifikasi atau hal lainnya, dimana penggantian
tersebut tanpa biaya tambahan/ extra cost dari pemilik.
c. Komponen-komponendari material yang mungkin seringa diganti harus dipilih
yang mudah diperoleh di pasaran bebas.
4.7.2. Lingkup pekerjaan.
a. Pengadaan dan pemasangan instalasi air bersih, air buangan, air bekas dan
instalasi air kotor.
b. Bahan/ material yang dipakai / digunakan adalah produk/ merek Wavin,
Rucika kelas AW.
c. Pengadaan bahan dan pemasangan seluruh sanitair dan aksesoris serta tenaga
kerja komplit beserta alat-alat pendukungya.
d. Kontraktor/ pemborong wajib membuat shop drawing untuk instalasi plumbing
dan harus sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum pelaksanaan
pekerjaan dimulai.
4.7.3. Ajuan.
Pengajuan contoh warna sanitair yang akan dipakai sesuai dengan tipe yang telah
ditentukan oleh Konsultan pengawas pada detail gambar perencanaan.
4.7.4. Pengiriman, penyimpanan dan penanganan barang
a. Semua barang yang dikirim harus dalam keadaan baik, bebas dari cacat pabrik
yang diakibatkan yang diakibatkan waktu pembuatan maupun cacat lain seperti
robek, kotor atau menunjukkan noda lainnya.
b. Semua barang yang dikirim harus dibungkus dengan rapi, komplit dengan label
atau keterangan lainnya termasuk dengan segel asli dari pabrik.
c. Penyimpanan barang/ bahan harus ditempatkan oada tempat khusus tidak
tercampur dengan barang-barang lain yang dapat mengakibatkan kerusakan
seperti cat, minyak kayu, besi, atau barang cair/ padat lainnya.
d. Kondisi tempat penyimpanan harus dalam keadaan bersih dan kering.
4.7.5. Bahan/ material.
a. Tipe lihat gambar detail perencanaan.
b. Bahan yang dipakai ex. TOTO warna standard White (lihat gambar detail
perencanaan).
c. Bahan perekat sesuai dengan yang direkomenasikan dari pabrik.
4.7.6. Pelaksanaan.
a. Kontrol/ pemeriksaan.
b. Pemerikasaan lokasi/ bidang yang akan dipasang harus dilakukan oleh
kontraktor sebelum pekerjaan pemasangan dilakukan.
c. Bila dalm pemeriksaan diketemukan bidang yang tidak memenuhi syarat untuk
dipasang, Kntraktor dapat memperbaiki sendir atau melaporkan kepada
Konsultan Pengawas.
4.7.7. Pemasangan.
a. Kondisi ruangan sebelum dan sesudah pemasangan harus lebih bersih dan
terhindar dari debu yang berlebihan.
b. Pemasangan sanitair dan aksesoris harus sesuai dengan ketentuan pabrik dan
harus dihindari kebocoran pada lantai dan dinding yang dapat mengakibatkan
rembesan air kelantai di bawahnya.
c. Setelah selesai terpasang maka kontraktor/ pemborong wajib mencoba
beberapa waktu/ periode dan memastikan peralatan yang terpasang tersebut
berfungsi dengan baik.
4.7.8.

Kebersihan.

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 6

a. Kontraktor/ pemborong harus selalu menjaga kebersihan lokasi pemasangan


dari sisa hasil pemasangan.
b. Sisa sampah bekas pemasangan harus dibuang sendiri setiap hari oleh
kontraktor/ pemborong atas biaya sendiri.
4.7.9. Perlindungan.
Perlindungan harus diberikan pada sanitair dan aksesoris yang sudah terpasang
dengan baik. Kerusakan yang diakibatkan karena kontraktor/ pemborong menjadi
tanggungan kontraktor/ pemborong atas biaya sendiri.
4.7.10. Perbaikan/ garansi/ Masa pemeliharaan.
a. Kontraktor/ pemborong diharuskan mengadakan perbaikan jika ada kerusakan/
kebocoran yang diakibatkan dari kelalaian dalam pemasangan/ kerusakan lain
atas biaya sendiri.
b. Selama pemeliharaan dimulai sesuai dengan perjanjian dengan pemberi tugas.
c. Selama itu pula kontraktor/ pemborong berkewajiban untuk merawat dan
memperbaiki kerusakan dengan biaya sendiri.

Bab VI. Spek Tek B3. Mekanikal & Elektrikal

VI - B. 3 - 7

BAB VI. E.1

E.1. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E - 1
Pekerjaan Sistem Elektrikal
1.

Pekerjaan Sistem Distribusi Listrik

1.0

Lingkup Pekerjaan

1.0.1

Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan dan pemasangan semua material, peralatan, tenaga
kerja dan lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning dan pemeliharaan yang
sempurna untuk seluruh instalasi listrik seperti dipersyaratkan dalam buku ini dan seperti
ditunjukkan dalam gambar-gambar rancangan listrik. Dalam Pekerjaan ini harus termasuk
sertifikat keaslian produk pabrik dari peralatan yang akan dipakai, jaminan garansi, petunjuk
operasi dan pekerjaan-pekerjaan kecil lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini yang tidak
mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu untuk keselamatan
dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem distribusi listrik.

1.0.2

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelas-kan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana bahan dan
peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata
terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan
spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk
mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini
tanpa adanya ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai
berikut :
a.

Transformator Daya,
Pemerisaan dan pengetesan transformator daya eksisting yang terpasang sehingga dapat
berfungsi sesuai dengan gambar perencanaan.

b.

Panel-Panel Daya Tegangan Rendah,


Pekerjaan ini meliputi perbaikan panel MDP existing agar sesuai dengan gambar
perencanaan dan pengadaan panel SDP Panel Daya, Panel Penerangan Umum, Panel Daya
Pompa pompa, AHU dan lain sebagainya sesuai dengan gambar perencanaan, termasuk
seluruh peralatan proteksi dan peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem distribusi daya listrik.

c.

Kabel-Kabel Feeder Daya Tegangan Rendah.


Pekerjaan ini meliputi kabel utama dari busduck (existing) dari MDP (existing) ke SDP
bangunan MDP(baru) yang melayani Panel Hydrant, Panel Genset, Panel Pompa. Juga sudah
termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem
jaringan instalasi listrik.

d.

Instalasi Daya,
Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang digunakan untuk menghubungkan panelpanel daya dengan outlet-outlet daya dan peralatan-peralatan listrik, seperti Exhaust Fan,
Motor-motor Listrik pada peralatan Sistem Mekanikal serta peralatan lain sesuai dengan
Gambar rancangan dan Buku Persyaratan Teknis.

e.

Instalasi Penerangan,
Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang menghubung-kan panel-panel
penerangan dengan fixture lampu, baik di dalam maupun di luar bangunan, sesuai dengan
Gambar rancangan dan Buku Persyaratan Teknis.

Bab VI. Spek Tek E.1. Sistem Elektrikal

VI - E.1 - 1

f.

Fixture Lampu,
Yang termasuk di dalam pekerjaan ini adalah armature lampu, fitting, ballast, starter,
capasitor, lampu-lampu dan peralatan-bantu lainnya yang berhubungan dengan item
pekerjaan sesuai dengan standard pabrik yang dipilihdan sesuai gambar rancangan.

g.

Sistem Pembumian Pengaman,


Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda
pengebumian yang menghubungkan setiap panel daya listrik yang harus dikebumikan
dengan elektroda pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan
untuk kesempurnaan sistem ini seperti yang ditunjukan dalam gambar perencanaan.

h.

Peralatan Penunjang Instalasi,


Pekerjaan ini meliputi junction box, conduit, sparing, doos outlet daya, doos saklar, doos
penyambungan, doos pencabangan, elbow, flexible conduit, klem dan peralatan-peralatan
lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan jaringan instalasi yang terpa-sang meskipun
peralatan-peralatan ini tidak disebutkan dan digambarkan dengan jelas di dalam Gambar
rancangan.

i.

Peralatan bantu/pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja sistem,


meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar
Rancangan dan Persyaratan Teknis.

1.1

Kemampuan Operasi Sistem Distribusi Listrik

1.1.1

Sistem Distribusi Listrik

1.1.1.1 Pada keadaan normal, seluruh beban dilayani oleh sumber catu daya listrik utama yang berasal
dari Jaringan Tegangan Menengah PLN (20 kV, 3 phasa, 50 Hertz). Sumber Daya yang
bersumber dari jaringan PLN dengan dua buah trafo penurun tegangan seperti ditunjukan
dalam gambar perencanaan.
1.1.1.2 Pada saat sumber catu daya utama dari PLN mengalami gangguan, secara otomatis beban daya
dilayani oleh sumber catu daya cadangan yang berasal dari Diesel Generating Set (existing).
1.1.1.3

Pada keadaan darurat (terjadi kebakaran), secara otomatis seluruh beban dimatikan oleh signal
listrik yang dikirimkan dari sentral Sistem Pengindera Kebakaran (FACP) kecuali daya listrik
untuk mencatu beban-beban khusus seperti Electric Fire Pump, Fuel Pump lift kebakaran,
control sprinkler dan peralatan bantu evakuasi seperti gambar rancangan.

1.2

Sistem Penerangan

1.2.1

Klasifikasi Lampu Penerangan.


Lampu-lampu penerangan di dalam gedung dikategorikan sebagai berikut :
a. Lampu penerangan normal (normal lighting) yaitu lampu penerangan buatan dengan
intensitas penerangan yang disesuai-kan berdasarkan jenis kegiatan pada masing
masing area bangunan rumah sakit seperti gambar rancangan.
b.

Lampu penerangan darurat (emergency lighting) yaitu lampu penerangan buatan sebagai
pengganti bila lampu penerangan normal terganggu (mati) lampu ini akan menyala baik
pada kon-disi normal maupun darurat.
Lampu penerangan dalam gedung terdiri dari :

Escape lighting yaitu lampu penerangan darurat untuk menjamin kelancaran dan
keamanan evakuasi pada saat terjadi darurat kebakaran emergency.
Emergency Exit lighting yaitu lampu penerangan darurat untuk penunjuk jalan keluar
yang aman pada saat terjadi darurat kebakaran.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 2

1.2.2

Pada setiap ruangan kecuali Tangga, koridor dan tempat tempat umum disediakan saklarsaklar setempat untuk menyalakan atau mematikan lampu. Sedangkan untuk penerangan kios
menjadi beban pengguna kios dengan dibatasi oleh MCB sebelum meter seperti ditunjukan
dalam gambar perencanaan.

1.3

Persyaratan Pekerjaan Panel Tegangan Rendah

1.3.1

Konstruksi Box Panel


a.

Yang melaksanakan pembuatan panel harus sub Kontraktor panel (panelmaker) yang telah
berpengalaman dalam pembuatan/ pabrikasi panel dengan menunjukkan bukti sertifikat
yang telah diakui oleh Badan terkait dalam hal ini PLN dan mempunyai workshop yang
terkait dengan pabrikasi panel.

b.

Panel terbuat dari plat baja dengan rangka terbuat dari besi siku dengan ukuran minimal
600 x 400 x 400 mM (free standing) atau plat besi yang terbentuk (wall mounted).

c.

Rangka utama harus diberi tutup dari bahan plat baja dengan dengan ketebalan sebagai
berikut :
Panel

Dinding

Pintu

SDP, SDP-FH

20 mM

3,0 mM

LP, PP

1,6 mM

2,0 mM

c.

Plat tutup harus dikerjakan dengan baik dan setiap siku dari plat tutup ini harus benarbenar 90o. Plat penutup kerangka panel harus disekrup dengan rapi yang dilengkapi cincin
plastic sebelum cincin besi terhadap kerangka panel. Plat penutup ini harus dapat dilepaslepas.

d.

Panel dilengkapi dengan tutup atas atau tutup bawah yang dapat dilepas-lepas dan harus
disiapkan lubang serta Compression Cable Glad untuk setiap incoming dan outgoing
feeder.

e.

Pada dinding belakang atau/dan samping diperlukan membuat lubang-lubang ventilasi


yang cukup. Lubang ventilasi ini harus dibuat dengan cara punch dan rapi. Pada bagian
dalam dari dinding yang diberi ventilasi harus dilengkapi tambahan dinding yang diberi
lubang punch, hal ini untuk menjaga masuknya benda-benda/binatang bagian yang
bertegangan dari peralatan panel.

f.

Antara badan panel tempat dudukan peralatan listrik yang bertegangan dengan pintu
panel harus dilengkapi dengan dinding pengaman pelindung peralatan listrik dengan
material yang sama, sehingga pada saat pintu panel dibuka yang tampak hanya tuas
tuas peralatan listrik, sedangkan jaringan/montase kabel terlindung oleh dinding
pengaman tersebut.

g.

Engsel yang digunakan harus kuat dan tidak menonjol dan harus tersembunyi serta rapi.
Kunci dan handle pintu harus dari type Spagnolet dengan tungkai penguat bawah dan atas
dan dari bahan yang dilapisi vernikel. Kontraktor/subkon./ Panel harus dilengkapi master
key yang bisa membuka seluruh panel yang terpasang.

h.

Rangka, penutup, cover plate dan pintu seluruhnya harus diberi cat dasar dan dilapisi
dengan powder coating warna abu-abu atau warna yang dipilih oleh Pemberi Tugas
melalui DIREKSI PENGAWAS/MK. Kontraktor sebelum pekerjaan pengecatan dilaksanakan
harus terlebih dahulu menyerahkan contoh warna dan metoda pelaksanaan pada DIREKSI
PENGAWAS/MK untuk dimintakan persetujuan.

i.

Panel yang berada di luar bangunan harus mempunyai index protection (IP) 557,
sedangkan untuk dalam bangunan IP 540 sesuai standad yang dipersyaratkan.

j.

Ukuran panel diusahakan standart ukuran panel dan disediakan ruang yang cukup apabila
terdapat penambahan peralatan.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 3

k.

Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang diketanahkan
(grounding) dan busbar pentanahan, yang berfungsi untuk dudukan ujung kabel
pentanahan sehingga pada saat pintu panel dibuka dalam keadaan aktif kemungkinan
adanya muatan kapasitif dapat dihindari.

l.

Pada circuit breaker, sepatu kabel, kabel incoming dan outgoing serta terminal
penyambungan kabel harus diberi indikasi/label/ sign plates mengenai nama beban atau
kelompok beban yang dicatu daya listriknya. Petunjuk tersebut berupa diagram system
satu garis dan label ini harus terbuat dari plat aluminium atau sesuai standard DIN 4070.

m. Pada bagian atas panel (dari ambang atas sampai dengan 12 cM dibawah ambang atas
panel atau disesuaikan dengan kebutuhan harus disediakan tempat untuk pemasangan
lampu indikator, fuse dan alat-alat ukur. Bagian tersebut merupakan bagian yang terpisah
dari pintu panel dan kedudukannya menetap (fixed).
1.3.2

1.3.3

Busbar dan Terminal Penyambungan.


a.

Panel harus sesuai untuk sistem 3 phasa, 4 kawat dan mem-punyai 5 busbar dimana
busbar pentanahan terpisah. Kecuali panel untuk ruang operasi yang dilengkapi dengan
trafo Isolasi Kontraktor harus melaksanakan seperti gambar ranca-ngan atau jika ada hal
yang bertentangan dengan system agar dikonsul-tasikan dengan DIREKSI PENGAWAS/MK
untuk men-dapatkan persetujuan.

b.

Busbar dari bahan tembaga yang digalvanisasi dengan bahan perak. Galvanisasi ini,
termasuk pula bagian-bagian yang menempel pada busbar, seperti sepatu kabel dan
peraltan Bantu lainnya.

c.

Pemasangan kabel (untuk semua ukuran luas penampang kabel) pada busbar dan terminal
penyambungan harus menggunakan sepatu kabel.

d.

Busbar dan terminal penyambungan harus disusun dan dipegang oleh isolator dengan
baik, sehingga mampu menahan electro mechanical force akibat arus hubung singkat
terbesar yang mungkin terjadi.

Circuit Breaker.
a.

Circuit breaker yang digunakan dari jenis MCB, MCCB, ACB, yang dilengkapi dengan
thermal overcurrent release dan electromagnetic overcurrent release yang rating ampere
trip-nya dari type adjustable dari salah satu bagian jaringan untuk jarak jaringan kabel
yang pendek, sedangkan untuk jaringan kabel yan panjang kedua belah sisi pengamannya
harus dari type adjustable atau seperti yang ditunjukan gambar rancangan.

b.

Outgoing circuit breaker dari Panel khusus untuk motor-motor harus dilengkapi dengan
proteksi kehilangan arus satu phasa. Dan system jaringan yang dilengkapi DOL atau Y -
atau seperti gambar rancangan tergantung besar kecilnya beban daya listrik. Jika dalam
gambar rancangan tidak terindikasi sudah merupakan kewajiban Kontraktor untuk
melengkapinya seperti yang dipersyaratkan oleh standard yang berlaku tanpa
mengakibatkan adanya biaya tambah.
Circuit Breaker untuk proteksi motor-motor listrik harus meng-gunakan Circuit Breaker
yang dirancang khusus untuk penga-man motor (Circuit Breaker tipe M).

c.
d.
e.

f.

Breaking capacity dan rating CB yang digunakan harus sebesar yang tercantum dalam
Gambar rancangan.
Tipe Circuit Breaker yang digunakan adalah,
Icu = Ics ( arus komulatif = arus short circuit)
32 Ampere tipe MCB,
40 sampai dengan 63 Ampere tipe MCCB Fixed,
80 Ampere tipe MCCB Adjustable.
Pemasangan MCB harus menggunakan Omega Rail sedangkan pemasangan MCCB dan
komponen komponen lain, seperti magnetic contactor, time switch dan lainnya harus

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 4

menggunakan dudukan plat. Pemasangan komponen-komponen tersebut harus rapi dan


kokoh sehingga tidak akan epas oleh gangguan mekanis.

1.3.4

g.

Jika di dalam Gambar rancangan dinyatakan ada spare, maka spare tersebut harus
terpasang secara lengkap atau sesuai dengan keterangan gambar rancangan

h.

Semua Circuit Breaker harus diberi label/signplate yang terbuat dari Alumunium mengenai
nama beban atau kelompok beban yang dicatu daya listriknya. Label itu harus terbuat dari
plat alumunium atau sesuai standard DIN-4070.

Alat Ukur/indikator.
a.

Panel panel dilengkapi dengan alat-alat ukur, seperti :

b.

Volt meter &, Ampere meter, Cosphi meter, Frequensi meter,


Trafo arus, Selector switch
kWh yang terpasang pada setiap kios
KVAR meter, yang terpasang pada sisi developer.
Indicator lamp & mini fuse,
Tidak semua panel dilengkapi dengan peralatan seperti di atas, melainkan harus
disesuaikan dengan gambar rancangan

Volt meter dilengkapi dengan selector switch yang mempunyai mode 7 (tujuh) posisi :

kali phasa terhadap netral,


kali phasa terhadap phasa,
posisi Off.

c.

Amperemeter yang dipasang pada panel utama selain mempunyai pointer (jarum
penunjuk) untuk menunjukkan besarnya arus listrik yang ada dilengkapi juga dengan
pointer lain yang berfungsi sebagai "Maximum Demand Indicator"

d.

Lampu indikator yang digunakan adalah :


Warna hijau untuk phasa
R,
Warna kuning untuk phasa
S,
Warna merah untuk phasa
T,
Lampu-lampu indikator harus diproteksi dengan menggunakan mini fuse.

1.3.5

1.3.6

Tipe Panel.
a.

Berdasarkan cara penggunaannya dan pemasangannya, panel-panel tegangan rendah di


klasifikasikan dari type free standing dan wall mounting.

b.

Panel jenis Free Standing dipasang pada lantai kerja dengan lokasi seperti pada Gambar
rancangan. Pemasangan panel harus menggunakan dudukan konstruksi baja dan harus
diperkuat dengan mur baut atau dynabolt sehingga tidak akan berubah posisi oleh
gangguan mekanis.

c.

Panel jenis wall mounting dipasang flush mounting pada dinding tembok dengan lokasi
sesuai Gambar rancangan. Pemasangan panel pada dinding harus diperkuat dengan baut
tanam (anchor bolt) sehingga tidak akan rusak oleh gangguan mekanis.

d.

Box panel dan semua material yang bersifat konduktif yang berada di sekitar panel listrik
harus dihubungkan ke Sistem Pembumian Pengaman.

Gambar Skema Rangkaian Listrik.


a.

Panel harus dilengkapi dengan gambar skema rangkaian listrik, lengkap dengan
keterangan mengenai bagian instalasi yang diatur oleh panel tersebut.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 5

b.

Gambar skema rangkaian listrik dibuat dengan baik, dilaminasi plastik dan ditempelkan
pada pintu luar panel bagian dalam.

1.4

Persyaratan Pekerjaan Kabel Tegangan Rendah

1.4.1

Ketentuan Umum.
a.

Persyaratan teknis ini berlaku untuk :

b.

Yang dimaksud dengan kabel daya adalah kabel yang meng-hubungkan antara panel satu
dengan panel ( MDP ke SDP) dan yang lainnya termasuk peralatan bantu yang
dibutuhkan.

c.

Yang dimaksud dengan instalasi daya adalah kabel yang menghubungkan panel-panel
daya dengan beban-beban stop kontak, peralatan Sistem Tata Udara dan Penghawaan
(Smoke Vestibule Ventilator, Exhaust Fan), peralatan Sistem Pemadam Kebakaran (Fire
Hydrant Pump, Jockey Pump, Fuel Transfer Pump), Pompa Air Bersih, Elevator, sesuai
dengan Gambar rancangan. Didalam instalasi daya ini harus sudah termasuk outlet daya,
conduit, sparing, doos untuk outlet daya/ penyam-bungan/pencabangan, flexible conduit
dan peralatan - peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem
instalasi daya.
Yang dimaksud dengan instalasi penerangan adalah kabel-kabel yang menghubungkan
antara panel-panel penerangan dengan fixture-fixture lampu penerangan buatan. Di dalam
instalasi penerangan ini harus sudah termasuk semua jenis/tipe saklar, conduit, sparing,
doos untuk saklar/penyambungan/ pencabang-an, metal flexible conduit dan peralatanperalatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi penerangan buatan.

d.

1.4.2

Kabel daya,
Instalasi daya, dan
Instalasi penerangan.

Jenis Kabel.
a.

Kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard SII dan SPLN atau standardstandard lain yang diakui di negara Republik Indonesia serta mendapat rekomendasi dari
LMK.

b.

Ukuran luas penampang kabel untuk jaringan instalasi listrik Tegangan Rendah yang
digunakan minimal harus sesuai dengan Gambar rancangan.

c.

Kabel listrik yang digunakan harus mempunyai rated voltage sebesar 600 Volt/1000 Volt.

d.

Tahanan isolasi kabel yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga arus bocor yang
terjadi tidak melebihi 1 mA untuk setiap 100 M panjang kabel.

e.

Kecuali untuk instalasi yang harus beroperasi pada keadaan darurat (seperti lift dan lainlain seperti ditunjukkan di dalam Gambar Perencanaan) kabel-kabel yang digunakan
adalah kabel PVC dengan jenis kabel yang sesuai dengan fungsi dan lokasi
pemasangannya seperti tabel di bawah ini :
No.
1.
2.
3.
4.
5.

f.

Pemakaian

Jenis Kabel

Ins.
Ins.
Ins.
Ins.
Ins.

NYA/NYM
NYY/NYFGbY
NYY
NYFGbY
Tahan api

Penerangan dalam bangunan


Penerangan luar bangunan
Dan kabel daya dalam bangunan
Daya luar bangunan
daya khusus (emergency)

Kabel yang digunakan untuk instalasi daya listrik yang dioperasikan pada saat terjadi
kebakaran antara lain :

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 6

Smoke Vestibule Ventilator


Elevator emergency,
Contactor dan Electric Strike,
Fire Pump,
dari jenis kabel tahan api (Flexible Mineral Insulated Fire Resis-tant) yang dapat menahan
temperatur 950 oC selama 3 jam dan lulus Impact Test on Fire.

1.4.3

g.

Pada kabel instalasi harus dapat dibaca mengenai merk, jenis, ukuran luas penampang,
rating tegangan kerja dan standard yang digunakan.

h.

Pada ujung kabel-kabel daya utama harus diberi label/sign-plate yang terbuat dari
alumunium mengenai nama beban yang dicatu daya listriknya atau nama sumber yang
mencatu daya kabel/beban tersebut.

Persyaratan Pemasangan.
a.

Pemasangan kabel instalasi tegangan rendah harus memenuhi peraturan PLN dan PUIL
2000 atau peraturan lain yang diakui di negara Republik Indonesia.

b.

Kabel harus diatur dengan rapi dan terpasang dengan kokoh sehingga tidak akan lepas
atau rusak oleh gangguan gangguan mekanis.

c.

Pembelokan kabel harus diatur sedemikain rupa sehingga jari-jari pembelokan tidak boleh
kurang dari 15 kali diameter luar kabel tersebut atau harus sesuai dengan rekomendasi
dari pabrik pembuat kabel.

d.

Setiap ujung kabel harus dilengkapi dengan sepatu kabel tipe press, ukuran sesuai dengan
ukuran luas penampang kabel serta dililit dengan excelcior tape dan difinish dengan
bahan isolasi ciut panas yang sesuai.

e.

Penyambungan kabel pada kabel daya, kabel instalasi daya dan instalasi penerangan tidak
diperkenankan kecuali untuk pencabangan pada kabel instalasi daya dan instalasi
penerangan. Penyambungan kabel untuk pencabangan harus dilakukan di dalam junction
box atau doos sesuai dengan persyaratan.

f.

Penarikan kabel harus menggunakan peralatan-peralatan bantu yang sesuai dan tidak
boleh melebihi strength dan stress maximum yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat
kabel.

g.

Sebelum dilakukan pemasangan/penyambungan, bagian ujung awal dan ujung akhir dari
kabel daya harus dilindungi dengan 'sealing end cable', sehingga bagian konduktor
maupun bagian isolasi kabel tidak rusak.

h.

Pemasangan kabel di dalam bangunan dapat dilakukan,

i.

Pemasangan kabel pada rak kabel harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

j.

Pada rak kabel,


Di dalam dinding yang dilengkapi conduit
Di plat lantai atap yang dilengkapi conduit.

Kabel harus diatur rapi


Kabel harus diperkuat dengan klem pada setiap jarak 40 cM dengan perkuatan mur
baut pada dudukan/struktur rak.
Untuk kabel instalasi daya dan penerangan harus dilindungi dengan conduit PVC type
High Impact.
Tidak diperkenankan adanya sambungan kabel di dalam conduit kecuali di dalam
kotak sambung atau kotak cabang.

Pemasangan kabel dalam dinding harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 7

Kabel harus dilindungi dengan sparing.


Sparing (pipa pelindung kabel yang ditanam dalam High Impact Conduit) sebelum
ditutup tembok harus disusun rapi dan diklem pada setiap jarak 60 cM. Jika sparing
tersebut berjumlah cukup banyak, maka perkuatan tersebut harus dilakukan dengan
menggunakan kombinasi antara klem dan kawat ayam sehingga tersusun rapi dan
kokoh.
Kabel instalasi yang datang dari conduit menuju sparing harus dilindungi dengan
'metal flexible conduit' serta pertemuan antara conduit/sparing dengan metal flexible
conduit harus dilakukan dengan cara klem.
Untuk instalasi kabel expose harus di dalam RSC (Rigid Steel Conduit).

1.5

Persyaratan Teknis Peralatan Instalasi

1.5.1

Outlet Daya.
a.

Outlet daya dan plug yang digunakan harus memenuhi standard SII, SPLN, VDE/DIN atau
standard-standard lain yang berlaku dan diakui di Indonesia.

b.

Outlet daya/plug yang terpasang harus mempunyai spesifikasi sebagai berikut:


Rating tegangan
:
Rating arus
:
Tipe pemasangan
:
Khusus untuk ruang operasi

1.5.2

250 Volt
16 A atau seperti Gambar rancangan
recessed
harus tahan zat kimia yang bersifat korosif.

c.

Outlet daya dan plug harus mempunyai label yang menunjukkan merk pabrik pembuat,
standard produk, tipe dan rating arus serta tegangannya.

d.

Outlet daya yang digunakan jenis putas dan tusuk kontak yang dilengkapi dengan
protector.

e.

Kontraktor harus mengkoordinasikan warna, bentuk dan ukuran outlet daya dengan pihak
Perencana Arsitektur/Interior.

f.

Outlet daya dipasang pada dinding atau partisi harus mengguna-kan doos dengan
ketinggian pemasangan 30 cM dari permukaan lantai atau ditentukan oleh Perencana
Interior atau atas per-setujuan Pemberi Tugas melalui DIREKSI PENGAWAS/MK.

g.

Tata letak outlet daya sesuai dengan Gambar rancangan dan harus dikoordinasikan
dengan tata letak furnitures/peralatan.

Saklar Lampu Penerangan.


a.

Saklar yang digunakan harus sesuai dengan standard PLN, SII dan VDE/DIN atau
standard-standard lain yang berlaku dan diakui di Indonesia.

b.

Saklar harus mempunyai spesifikasi sebagai berikut :

Rating tegangan
Rating arus
Tipe

:
:
:

250 Volt
minimal 10 A
recessed

c.

Saklar lampu harus mempunyai label yang menunjukkan merk pabrik pembuat, standard
produk, tipe dan rating arus serta tegangannya.

d.

Saklar harus dipasang pada dinding atau partisi dengan ketinggian 150 cM dari permukaan
lantai atau ditentukan oleh Perencana Interior atau keinginan Pemberi Tugas. Pemasangan
saklar harus menggunakan doos.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 8

e.

Tata letak saklar harus sesuai dengan Gambar rancangan dan dikoordinasikan dengan
Perencana Interior atau atas keinginan Pemberi Tugas melalui/sepengetahuan DIREKSI
PENGAWAS/MK.

1.6

Persyaratan Teknis Penunjang Instalasi

1.6.1

Rigid Conduit.
a.

Rigid conduit yang dipasang secara exposed menggunakan conduit jenis PVC high impac
dengan ketebalan minimum 2 mm juga termasuk conduit yang ditanam di dalam
tembok/beton.

b.

Conduit dan sparing harus mempunyai ukuran diameter dalam sebesar 1,5 kali dari total
diameter luar kabel yang dilindunginya dan ukuran minimum sebesar 3/4". Oleh karena
itu, kontraktor sebelum memasang conduit harus re-konfirmasi dahulu terhadap kabel
yang akan dilindunginya.

c.

Ujung ujung conduit bahan steel/GSP yang dikondisikan untuk pelindung kabel luar
bangunan harus dihaluskan dan diberi tules agar tidak merusak isolasi kabel.

d.

Conduit untuk keperluan instalasi satu dengan instalasi lainnya harus dibedakan dengan
cara dicat finish dengan warna yang berbeda sebagai berikut :

1.6.2

Instalasi
Instalasi
Instalasi
Instalasi

listrik
fire alarm
tata suara
telepon

:
:
:
:

warna
warna
warna
warna

hitam,
merah,
putih,
kuning,

e.

Pemakaian conduit di sini dimaksudkan untuk finishing seluruh instalasi daya, instalasi
penerangan dan instalasi lainnya. Oleh karena itu pemasangannya harus dilakukan serapi
mungkin dan dikoordinasikan dengan pekerjaan Finishing Arsitektur atas koordinasi
DIREKSI PENGAWAS/MK.

f.

Pemasangan pipa conduit di atas plafond harus dikoordinasikan dengan penggunaan jalur
untuk utilitas lain seperti instalasi komunikasi, fire alarm, sound system, matv, ducting AC
dan lain-lain sehingga tersusun rapi, kokoh dan tidak saling mem-pengaruhi/mengganggu.

g.

Dalam hal jalur pipa conduit pada gambar rancangan diper-kirakan tidak mungkin lagi
untuk dilaksanakan,maka Kontraktor wajib mencari jalur lain sehingga pelaksanaan mudah
dan tidak mengganggu utilitas lain, tetapi tetap harus sesuai dengan persyaratan.

h.

Pertemuan antara pipa sparing yang muncul dari dalam dinding dengan pipa conduit di
atas plafond harus menggunakan doos dan diantara doos tersebut dipasang flexible
conduit. Pemasangan flexible conduit tersebut harus dilakukan dengan cara klem.

i.

Setiap sparing maupun conduit maximum hanya dapat diisi dengan 1 (satu) kabel berinti
banyak atau satu pasang kabel untuk phasa, netral dan grounding, baik untuk kabel daya
maupun untuk kabel lain.

j.

Conduit untuk instalasi listrik harus berjarak minimum 50 cM dari pipa air panas.

k.

Jumlah sparing (conduit yang ditanam di dalam beton) harus disediakan minimum
sebanyak 120 % dari jumlah kabel yang akan melewatinya atau minimum mempunyai satu
buah sparing lebih banyak dari jumlah kabel yang akan melewatinya.

Flexible Conduit.
a.

Flexible conduit digunakan untuk melindungi kabel :

Yang ke luar dari conduit dan masuk ke dalam sparing.


Yang ke luar dari conduit ke titik titik lampu.
Yang ke luar dari conduit ke mesin mesin atau beban-beban yang lainnya.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 9

1.6.3

Pembelokan instalasi.
Dan keperluan lain seperti tercantum di dalam Gambar Perencanaan

b.

Penyambungan flexible conduit dengan conduit lain harus dilakukan di dalam doos
penyambungan.

c.

Ukuran conduit harus mempunyai diameter dalam minimum 1,5 kali total diameter luar
kabel yang dilindunginya.

d.

Pemasangan flexible conduit harus menggunakan klem.

e.

Khusus flexible conduit yang dipergunakan untuk pelindung instalasi pompa pompa atau
peralatan yang disimpan di luar bangunan yang kemungkinan akan mendapatkan
gangguan mekanis harus menggunakan flexible dengan bahan metal tahan karat.

Rak Kabel.
a.

Rak kabel yang digunakan untuk menyanggqa kabel-kabel daya kabel instalasi daya,
penerangan serta kabel instalasi arus lemah.

b.

Rak kabel terbuat dari plat baja dengan ketebalan 2 mM yang dilapisi Hot Dipped
Galvanised dengan ketebalan lapisan minimum 50 M dan disesuiakan dengan standart BS
729 (dalam shaft).

c.

Rak kabel harus dilengkapi dengan tutup (cover) rakrung penyangga kabel, jarak antar
ruang penyangga kabel maximum 50 cM.

d.

Penggantung rak kabel dipasang pada plat beton dengan anchor bolt dan harus kuat
untuk menyangga rak kabel beserta isiannya serta harus tahan pula menahan gangguangangguan mekanis

e.

Rak kabel harus mempunyai penggantung yang dapat diatur (adjustable) yang terbuat dari
bahan besi.

f.

Rak kabel yang dipergunakan arus kuat dan arus lemah harus dipisahkan untuk
menghindari kemungkinan adanya induksi yang akan mengganggu fungsi system operasi.
Jarak rak kabel arus kuat dan arus lemah adalah 1 meter yang dipasang sejajar,
sedangkan yang bersilangan 30 cM.

1.7

Persyaratan Teknis Fixture Penerangan

1.7.1

Armature Lampu.
a.

Armatur-armatur lampu harus memenuhi persyaratan teknis, bentuk dan penampilan


sesuai dengan Gambar rancangan. Dan kontraktor sebelum melaksanakan pekerjaan harus
menyerahkan contoh armature setiap type yang akan dipasang lengkap dengan
komponennya untuk dimintakan persetujuan dari Pemberi Tugas melalui DIREKSI
PENGAWAS/MK.

b.

Armatur-armatur lampu menggunakan produk lokal dengan standard kualitas yang baik
dan mempunyai workshop untuk pabrikasi pekerjaan terkait.

c.

Armatur-armatur lampu yang terbuat dari plat baja harus mem-punyai ketebalan plat
minimal 0,7 mm, dicat dasar dengan meni tahan karat dan finish cat bakar.

d.

Pemilihan warna cat ditentukan oleh Perencana Arsitektur/ Interior/ atas permintaan
Pemberi Tugas melalui sepengetahuan DIREKSI PENGAWAS/MK.

e.

Armatur lampu untuk lampu TL, PL/PLC, SL harus dilengkapi dengan komponen-komponen
lampu berupa ballast jenis low loss, starter dan kapasitor dengan kualitas terbaik.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 10

f.

1.7.2

Pemasangan armatur harus dipasang dengan baik dan kokoh sehingga tidak mudah
terlepas oleh gangguan mekanis. Cara pemasangan lampu harus sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuat.

Lampu Penerangan Buatan.


a.

Jenis-jenis lampu harus sesuai dengan Gambar rancangan.

b.

Lampu-lampu yang digunakan harus mempunyai kualitas terbaik.

c.

Semua lampu yang digunakan harus mempunyai spesifikasi sebagai berikut :


Tegangan kerja
: 210 Volt - 240 Volt
Konsumsi daya
: sesuai dengan gambar perencanaan
Frekuensi
: 50 Hertz

1.8

Emergency Lamp

1.8.1

Lampu Exit dan Emergency


a.

Lampu Exit/emergency ini harus menyala biasa dalam keadaan normal pada saat terjadi
indikasi kebakaran.

b.

Sistem penyalaan Lampu Exit/emergency harus dilengkapi dengan Magnetic Contactor.

c.

Gelombang Electromagnetic yang ditimbulkan tidak boleh lebih besar dari 50 Oersted.

d.

Lampu Exit dan Emergency dilengkapi dengan :

High Temperature Rechargeable Nickle Cadmium Battery yang mampu bekerja selama
3 jam operasi.
Change Over Switch
Converter - Inverter

1.9

Sistem Pembumian Untuk Pengaman

1.9.1

Ketentuan umum.

1.9.2

a.

Yang dimaksud dengan sistem pembumian untuk pengaman adalah pembumian dari
badan-badan peralatan listrik atau benda-benda di sekitar instalasi listrik yang bersifat
konduktif dimana pada keadaan normal benda-benda tersebut tidak bertegangan, tetapi
dalam keadaan gangguan seperti hubung singkat phasa ke badan peralatan kemungkinan
benda-benda tersebut menjadi bertegangan.

b.

Sistem pembumian ini bertujuan untuk keamanan/keselamatan manusia dari bahaya


tegangan sentuh pada saat terjadinya gangguan.

c.

Semua badan peralatan atau benda-benda di sekitar peralatan yang bersifat konduktif
harus dihubungkan dengan sistem pembumian ini.

d.

Ketentuan-ketentuan lain harus sesuai dengan PUIL 2000, SPLN dan standard-standard
lain yang diakui di Negara Republik Indonesia.

Konstruksi.
a.

Sistem pembumian terdiri dari grounding rod, kabel penghubung antara benda-benda
yang diketanahkan dan peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem
ini.

b.

Grounding rod dari sistem pembumian terbuat dari pipa GIP dan tembaga dengan
konstruksi seperti Gambar Perencanaan.

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 11

1.9.3

c.

Konduktor penghubung antara peralatan (yang digrounding) dengan grounding rod


terbuat dari 'bare copper conductor' atau kabel berisolasi sesuai dengan Gambar
Perencanaan.

d.

Tahanan sistem pembumian sedemikian rupa sehingga tahanan sentuh yang terjadi harus
lebih kecil dari 50 Volt.

Pemasangan
a.

Grounding rod harus ditanam langsung dalam tanah dengan bagian grounding rod yang
tertanam di dalam tanah minimum sepanjang 6 M dan masing-masing titik grounding rod
mem-punyai tahanan tidak lebih dari 1 Ohm.

b.

Grounding rod harus ditempatkan di dalam bak kontrol yang tertutup. Tutup bak kontrol
harus mudah dibuka dan dilengkapi dengan handle. Bak kontrol ini mempunyai fungsi
sebagai tempat terminal penyambungan dan tempat pengukuran tahanan pembumian
grounding rod. Ukuran bak kontrol harus sesuai dengan Gambar rancangan.
Hantaran pembumian harus dipasang sempurna dan cukup kuat menahan gangguan
mekanis.

c.
d.

Penyambungan bagian hantaran pembumian yang tertanam di dalam tanah harus


menggunakan sambungan las sedangkan penyambungan dengan peralatan yang
diketanahkan harus menggunakan mur-baut seperti dalam gambar rancangan.

e.

Sistem pembumian harus terpisah dari sistem pembumian :

Pembumian instalasi sistem penangkal petir,


Pembumian sistem arus lemah, dan
Peralatan Kedokteran/operasi

Bab VI. Spek Tek E.1. System Elektrikal

VI - E. 1 - 12

BAB VI. E.2

E.2. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E 2
Pekerjaan Sistem Komunikasi Telepon
2.

Pekerjaan Sistem Telepon

2.1

Lingkup Pekerjaan

2.1.1

Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan semua material peralatan tenaga kerja dan lainnya
untuk pemasangan, test commissioning untuk seluruh sistem komunikasi telepon seperti
dipersyaratkan di dalam buku ini dan seperti ditunjukkan di dalam Gambar rancangan. Di dalam
pekerjaan ini harus termasuk juga pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan dengan
pekerjaan ini yang tidak mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap
perlu untuk kesempurnaan fungsi dan operasi sistem komunikasi telepon.

2.1.2

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar rancangan, dimana bahan-bahan dan peralatan
yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata terdapat
perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi teknis
yang dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan
atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya
ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Instalasi Telepon

Pengadaan kabel instalasi yang menghubungkan antara Terminal Box Telepon (TBT)
satu dengan TBT yang terpasang di setiap lantai, kabel instalasi yang
menghubungkan TBT dengan outlet telepon termasuk outlet telepon, metal doos serta
conduit/sparing pelindung kabel instalasi yang menuju setiap kios.

Pemasangan kabel instalasi disesuaikan dengan pemakaian antara instalasi luar


bangunan (type OTC) dengan dalam bangunan (Type ITC). Dan untuk OTC harus
dilengkapi dengan conduit GSP Medium agar tahap terhadap gangguan mekanis.

kabel instalasi harus mampu menyalurkan komunikasi telepon, dan fungsi intercom
dengan baik.
b. Boxes Panel
Pengadaan TBT sesuai gambar rancangan, kualitas dan material TBT harus sama dengan
panel listrik, untuk itu diharapkan agar pengadaan TBT diambil dari merk yang sama atau
atas persetujuan DIREKSI PENGAWAS/MK.
c.

Peralatan Bantu,
Pengadaan dan pemasangan peralatan bantu yaitu peralatan-peralatan yang diperlukan
untuk kesempurnaan kerja sistem, meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara
jelas atau terinci di dalam gambar rancangan dan Persyaratan Teknis.

d. Sistem Pembumian Pengaman,

Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda


pengebumian dan bare copper conductor atau kabel yang menghubungkan peralatan
yang harus dikebumikan dengan elektroda pembumian termasuk seluruh peralatanperalatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.

Instalasi pembumian harus terpisah dengan pembumian arus kuat.

Pekerjaan titik pembumian arus kuat dan arus lemah tidak boleh digabung, kedua titik
pembumian tersebut dibuat terpisah dengan jarak minimal 6 meter.
e. PABX (existing)

Bab VI. Spek Tek E.2. Sistem Komunikasi Telepon

VI - E.2 - 1

Kontraktor harus menghubungkan jaringan instalasi dari TBT utama yang terpasang dalam
bangunan ke unit PABX existing sehingga dapat berfungsi sesuai gambar rancangan dan
Kontraktor membantu Pemberi Tugas dalam memprogram ulang sistem PABX sesuai fungsi
yang tergambar dalam rancangan dan spesifikasi teknis
f.

Test Commissioning
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan test commissioning dengan tahapan sebagai
berikut,

Pengecekan instalasi secara parsial yang terpasang di setiap lantai dari sub TBT
sampai titik outlet yang berada pada tiap kios untuk tahanan isolasi (merger) dan
fungsi jaringan sesuai gambar rancangan.
Pengecekan instalasi dari sub TBT ke sub TBT dan dari M-TBT ke PABX existing
dengan metoda yang sama seperti tersebut diatas.

Setiap langkah pengecekan harus sepengetahuan/diketahui DIREKSI PENGAWAS/MK.


2.2

Kemampuan Operasi

2.2.1

Sistem Komunikasi
Pemasangan jaringan instalasi, yang menuju kios terhubung secara langsung dari MDPT ke
outlet telepon yang berada di setiap kios, sedangkan untuk manajemen bangunan/Developer
jaringan telepon tersmabung melalui PABX exsisting seperti ditunjukan dalam gambar
perencanaan.

2.2.2

Komunikasi dari luar ke dalam


Komunikasi dari luar ke dalam harus terhubung langsung, sedangkan yang melalui PABX harus
dapat diprogram untuk dapat dihubungi langsung atau tidak dapat dihubungi langsung dari luar
kecuali melalui operator.

2.2.3

Penomoran pesawat cabang


Penomoran outlet pesawat telepon menjadi beban tanggungjawab telkom, sedangkan
kontraktor pelaksana harus menyediakan/ membantu Telkom yang berhubungan dengan fungsi
system yang dipersyaratkan oleh Telkom, sehingga system dapat berfungsi sesuai dengan
perencanaan.

2.3

Terminal Box Telepon (TBT)

2.3.1

Terminal Box Telepon terbuat dari plat baja dengan ketebalan minimum 2 mM, konstruksi las,
dicat dengan meni tahan karat dan cat finish. Dalam pabrikasi harus mempunyai kesamaan
dengan pabrikasi panel listrik.

2.3.2

Kontraktor harus menkonsultasikan dengan perencana arsitektur/ interior atau atas persetujuan
Pemberi Tugas melalui DIREKSI PENGAWAS/MK dalam penentuan warna cat.

2.3.3

Kapasitas terminal box disesuaikan dengan Gambar Perencanaan.

2.3.4

dilengkapi dengan pintu, handle, kunci (harus dilengkapi dengan master key) dan dipasang
flush mounting pada dinding.TBT

2.3.5

Penyambungan kabel instalasi telepon dalam TBT dilakukan dengan menggunakan terminal
penyambungan dari jenis sambungan jepit'.

2.4

Kabel Instalasi

2.4.1

Kabel instalasi telepon menggunakan kabel PVC berukuran 4 x 0,6 mM2 sesuai gambar
rancangan dengan merk sesuai standard yang telah diakui/lolos uji dari lembaga yang terkait.

Bab VI. Spek Tek E.2. Sistem Komunikasi Telepon

VI - E.2 - 2

2.4.2

Kabel instalasi dipasang didalam pipa sparing/conduit yang diklem pada rak kabel atau ditanam
didalam dinding serta di bawah lantai (didalam saluran penghubung under floor duct system).

2.4.3

Konduktor kabel instalasi telepon mempunyai inti solid yang terbuat dari bahan tembaga yang
dilapisi perak dan pelindung induksi medan magnit.

2.4.4

Pipa-pipa pelindung kabel instalasi telepon harus dibedakan dari pipa-pipa pelindung kabel
untuk keperluan instalasi yang lain dengan cara menandai dengan cat finish berwarna hijau
atas persetujuan DIREKSI PENGAWAS/MK.

2.4.5

Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti conduit, sparing, rak kabel dan lainnya
sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi sistem catu daya listrik dan penerangan.

2.5

Outlet Telepon

2.5.1

Outlet telepon dipasang pada dinding dengan ketinggian pemasangan 30 cM dari permukaan
lantai atau mengikuti ketentuan dalam gambar rancangan. Jika dalam gambar dan spesifikasi
teknis terdapat informasi yang bertentangan Kontraktor agar menghubungi DIREKSI
PENGAWAS/MK untuk mendapatkan persetujuan dan solusi pemasangan.

2.5.3

Outlet telepon dipasang pada dinding dengan menggunakan square metal box dan outlet
telepon harus dibedakan dari outlet daya dan outlet data computer.

2.5.4

Pemasangan outlet telepon harus diperkuat sehingga tidak mudah lepas oleh gangguan
mekanis walaupun dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis tidak menjelaskan secara
rinci. Sedangkan cara pemasangannya disesuaikan dengan rekomendasi dari produk yang
dipilih.

2.6

Sistem Pembumian Untuk Pengaman


Sistem pembumian untuk system telepon harus mengikuti ketentuan yang dijelaskan dalam
uraian pembumian pekerjaan system tata suara, dan system instalasi pembumiannya saling
terhubung dengan system tata suara.

Bab VI. Spek Tek E.2. Sistem Komunikasi Telepon

VI - E.2 - 3

BAB VI. E.3


E.3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E 3
Pekerjaan Instalasi Data
3.0

LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan semua material peralatan, tenaga kerja dan lain-lain
untuk pemasangan, pengetesan, untuk seluruh sistem jaringan Komunikasi Data (Komputer)
seperti dipersyaratkan di dalam buku ini dan seperti ditunjukkan di dalam gambar rancangan.
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang di jelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar rancangan, dimana bahan-bahan dan peralatan
yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata terdapat
perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi teknis
yang dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan
atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya
ketentuan tambahan biaya.
Lingkup pekerjaan yang dimaksud,

3.0.1

Sistem Jaringan Instalasi


Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan jaringan instalasi Komunikasi data secara terpisah
yang masing masing jaringan instalasi penggunaan kabel data 8 x 0,6 mm dilengkapi dengan
conduit PVC high impact seperti yang ditunjukan pada gambar rancangan beserta peralatan
pendukungnya.

3.0.2

Perlengkapan Bantu (Accessories)


Peralatan bantu yaitu peralatan-peralatan yang diperlukan untuk kesempurnaan instalasi yang
harus disediakan oleh Kontraktor tanpa mengakibatkan adanya tambahan biaya meskipun
peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam gambar rancangan dan
Persyaratan Teknis.

3.0.3

Test Commisioning
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan test commissioning dengan tahapan sebagai berikut,

3.0.4

Pengecekan instalasi secara parsial yang terpasang di setiap lantai area shaft sampai titik
instalasi data yang berada pada tiap ruangan untuk tahanan isolasi (merger 600 k) dan
fungsi jaringan sesuai gambar rancangan.

Pengecekan instalasi dari yang direncanakan akan ditempatkan terminal hubung elektronik
(HUB) ke mani HUB (lokasi peralatan utama server akan dipasang) dengan metoda yang
sama seperti tersebut diatas.

Akhirnya, pengecekan menyeluruh secara lengkap untuk kepentingan operasional seperti


yang ditunjukan dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis ini.Setiap tahapan
pengecekan harus sepengetahuan/diketahui DIREKSI PENGAWAS/MK.

Sistem Pembumian Pengaman


Kontraktor melaksanakan penarikan jaringan/instalasi pembumian dari TB masingmasing system
arus lemah (elektronik) sampai ke titiktitik pembumian khusus untuk system elektronik seperti
yang ditunjukan dalam gambar rancangan untuk kesem-purnaan sistem ini.

Bab VI. Spek Tek E.3. Instalasi Data

VI - E.3 - 1

3.1

KEMAMPUAN OPERASI JARINGAN INSTALASI

3.1.1

Sistem Komunikasi Data (Komputer)


a. Sistem jaringan/instalasi data mampu mendistribusikan sinyal audio/video melalui perangkat
Personal Computer, Laptop, hand phone dan CDMA dengan kecepatan (kByte) sesuai
kemampuan maksimal yang disediakan oleh Telkom/provider setempat melalui external
modem yang tersedia di ruang server komputer.
b. Sistem jaringan sudah disesuaikan/dimungkinkan adanya peralatan tambahan tanpa
membongkar jaringan yang sudah terpasang seperti yang ditunjukan dalam gambar
rancangan.

3.1.2

Teknis Jaringan Komunikasi Data


Sistem instalasi Komunikasi yang terpasang harus mampu menyalurkan data komunikasi
Audio/video dengan kecepatan maksimal (kbps) sesuai system jaringan yang dipunyai oleh
TELKOM/Provider setempat, dengan peralatan bantu external Modem, HUB dan External Ethernet
switching seperti gambar rancangan.

3.2

SISTEM PEMBUMIAN UNTUK PENGAMAN

3.2.1

Ketentuan umum
a. Yang dimaksud dengan sistem pembumian untuk pengaman adalah pembumian dari badanbadan peralatan listrik atau benda-benda di sekitar instalasi listrik yang bersifat konduktif
dimana pada keadaan normal benda-benda tersebut tidak bertegangan, tetapi dalam keadaan
gangguan seperti hubung singkat phasa ke badan peralatan kemungkinan benda-benda
tersebut menjadi bertegangan.
b. Sistem pembumian ini bertujuan untuk keamanan/keselamatan manusia dari bahaya tegangan
sentuh pada saat terjadinya gangguan.
c.

Semua badan peralatan atau benda-benda di sekitar peralatan yang bersifat konduktif harus
dihubungkan dengan sistem pembumian ini.

d. Ketentuan ketentuan lain harus sesuai dengan PUIL 2000, SPLN dan standard-standard lain
yang diakui di Negara Republik Indonesia.
3.2.2

Konstruksi
a. Sistem pembumian terdiri dari grounding rod, kabel penghubung antara benda-benda yang
diketanahkan dan peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.
b. Grounding rod dari sistem pembumian terbuat dari pipa GIP dan tembaga dengan konstruksi
seperti Gambar Perencanaan.
c.

Konduktor penghubung antara peralatan (yang digrounding) dengan grounding rod terbuat
dari 'bare copper conductor' atau kabel berisolasi sesuai dengan Gambar Perencanaan.

d. Tahanan sistem pembumian sedemikian rupa sehingga tahanan sentuh yang terjadi harus
lebih kecil dari 45 Volt.
3.2.3

Pemasangan
a. Grounding rod harus ditanam langsung dalam tanah dengan bagian grounding rod yang
tertanam di dalam tanah minimum sepanjang 6 M dan masing masing titik grounding rod
mempunyai tahanan tidak lebih dari 1 Ohm.

Bab VI. Spek Tek E.3. Instalasi Data

VI - E.3 - 2

b. Grounding rod harus ditempatkan di dalam bak kontrol yang ter- tutup. Tutup bak kontrol
harus mudah dibuka dan dilengkapi dengan handle. Bak kontrol ini mempunyai fungsi sebagai
tempat terminal penyambungan dan tempat pengukuran tahanan pembumian grounding rod.
Ukuran bak kontrol harus sesuai dengan Gambar Perencanaan.
c.

Hantaran pembumian harus dipasang sempurna dan cukup kuat menahangangguan mekanis.

d. Penyambungan bagian bagian hantaran pembumian yang tertanam di dalam tanah harus
menggunakan sambungan las sedangkan penyambungan dengan peralatan yang diketanahkan
harus menggu-nakan mur-baut atau sesuai dengan Gambar rancangan.
e. Penyambungan hantaran pembumian dengan grounding rod harus menggunakan mur baut
berukuran M-10 sebanyak tiga titik. Penyambungan ini dilakukan di dalam bak kontrol.
f.

Ukuran hantaran pembumian harus sesuai dengan yang tercantum di dalam Gambar
rancangan.

Bab VI. Spek Tek E.3. Instalasi Data

VI - E.3 - 3

BAB VI. E.4

E.4. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E - 4
Pekerjaan Sistem Tata Suara (Sound System)
4.

Persyaratan sitem Tata Suara

4.0

Lingkup Pekerjaan

4.0.1

Termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja dan lain-lain untuk pemasangan, test
commissioning seluruh sistem tata suara seperti dipersyaratkan di dalam buku ini dan seperti
ditunjuk-kan di dalam gambar rancangan. Dalam pekerjaan ini harus termasuk juga pekerjaanpekerjaan lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini yang tidak mungkin disebutkan secara terinci
di dalam buku ini tetapi dianggap perlu untuk kesempurnaan fungsi dan operasi sistem tata suara.

4.0.2

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang di jelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar rancangan, dimana bahan-bahan dan peralatan yang
digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata terdapat perbedaan
antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi teknis yang
dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau
peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan
tambahan biaya.
Lingkup pekerjaan yang dimaksud,

4.0.2.1

Sistem Tata untuk Public Address' yaitu Tata Suara yang terdiri dari :
a.

Sentral Tata Suara Public Address'


Pekerjaan ini menggunakan Sentral Existing

b.

Instalasi
Yang termasuk kedalam pekerjaan instalasi meliputi pekerjaan terminal box tata suara, wiring
tata suara lengkap dengan conduitnya, attenuator serta kelengkapan lainnya yang dibutuhkan
untuk kesempurnaan kerja sistem tata suara.

c.

Kepengkapan (Accessories) Ceiling Speaker


Yang termasuk kedalam pekerjaan ini meliputi ceiling speaker, box speaker (dalam & luar
plafond), dudukan speaker, grille, matching transformer dan peralatan bantu lainnya untuk
kesempurnaan sisten Tata suara seperti yang dipersyaratkan dalam gambar rancangan dan
persyaratan teknis ini.

d.

Test Commissioning
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan test commissioning dengan tahapan sebagai berikut,

Pengecekan instalasi secara parsial yang terpasang di setiap lantai dari sub TBT sampai
titik instalasi speaker yang berada pada tiap ruangan untuk tahanan isolasi (merger 400
k) dan fungsi jaringan sesuai gambar rancangan.
Pengecekan instalasi dari sub TBT ke sub TBT dan dari M-TBT ke peralatan utama Tata
Suara dengan metoda yang sama seperti tersebut diatas.
Akhirnya, pengecekan menyeluruh secara lengkap untuk kepentingan operasional seperti
yang ditunjukan dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis ini.

Setiap tahapan pengecekan harus sepengetahuan/diketahui DIREKSI PENGAWAS/MK.


4.0.2.2

Sistem Pembumian Pengaman,


Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda pengebumian
dan bare copper conductor atau kabel yang menghubungkan peralatan yang harus dikebumikan
dengan elektroda pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem ini.

Bab VI. Spek Tek E.4. Sistem Tata Suara

VI - E.4 - 1

4.1

Tujuan Penggunaan

4.1.1

Sistem Tata Suara Public Address,

4.1.1.1

Sistem Tata Suara ini digunakan untuk area Public Address mempunyai 3 (tiga) tujuan, yaitu :
a. Back Ground Music
b. Paging and Messaging
c. Emergency Call

4.1.1.2

Pemasangan Sistem Tata Suara untuk Public Address ini diatur sedemikian rupa, sehingga
mempunyai urutan prioritas seperti tersebut di bawah ini :
a. Emergency Call
b. Paging and Messaging
c. Back Ground Music

4.1.1.3

Tidak semua speaker digunakan untuk sarana penunjang ke tiga tujuan seperti tersebut di atas. Ada
speaker hanya untuk tujuan b dan ada speaker untuk tujuan a, b dan c.

4.1.1.4

Dalam kondisi biasa, Sistem Tata Suara digunakan sebagai back ground music yang dilayani dari
Ruang Kontrol.

4.1.1.5

Sistem Tata Suara disusun di dalam rak yang ditempatkan di Ruang Kontrol seperti ditunjukan
dalam gambar rancangan atau atas permintaan Pemberi Tugas. Kontraktor sudah memperhitungkan
kemungkinan kondisi ini tanpa kemungkinan adanya biaya tambah.

4.2

Instalasi

4.2.1

Spesifikasi seluruh instalasi Sistem Tata Suara untuk bangunan ini menggunakan kabel yang
mempunyai tegangan kerja 100 Volt.

4.2.2

Kabel instalasi untuk ke speaker dipergunakan kabel jenis NYMHY yang dilengkapi PVC Insulated
dengan jumlah inti dan luas penampang kabel seperti tercantum di dalam gambar rancangan

4.2.3

Kabel yang digunakan untuk attenuator dihubungkan sedemikian rupa sehingga sistem dapat
bekerja dengan baik dan benar.

4.2.4

Kabel instalasi yang digunakan dimasukkan dalam conduit atau sparing dan setiap pipa hanya boleh
diisi dengan satu pasang kabel.

4.2.5

Jika pemasangan kabel ini paralel dengan kabel daya listrik, maka harus mempunyai jarak minimum
30 cm.

4.2.6

Pada dasarnya pipa untuk kabel sistem tata suara dipasang pada rak kabel atau ditanam di dalam
dinding.

4.2.7

Sistem Tata Suara di dalam gambar rancangan tidak mengikat dan penambahan alat diperbolehkan.
Penambahan alat harus disesuai-kan dengan kemampuan peralatan yang ada pada setiap produk
yang dipilih, sehingga pengoperasian dari Sistem Tata Suara tersebut tetap berada kemampuan
puncak.

4.2.8

Kontraktor Sistem Tata Suara berkewajiban men-chek dan menyesuai- kan kabel instalasi agar
dapat berfungsi dan bekerja dengan baik dan sesuai dengan persyaratan teknis dan rekomendasi
dari produk sistem tata suara yang terpilih.

4.2.9

Pipa instalasi tata suara harus dibedakan dengan pipa-pipa untuk keperluan utilitas lainnya.

4.2.10

Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti conduit, sparing, rak kabel dan lain lain
sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi sistem daya listrik dan penerangan.

4.3

Terminal Box Sistem Tata Suara

4.3.1

Terminal Box terbuat dari plat baja/PVC dengan ketebalan minimum 2 mM Konstruksi las, dicat
dengan meni tahan karat dan cat finish dengan warna yang akan ditentukan kemudian atas
persetujuan DIREKSI PENGAWAS/MK.

Bab VI. Spek Tek E.4. Sistem Tata Suara

VI - E.4 - 2

4.3.2

Kapasitas terminal box disesuaikan dengan Gambar rancangan.

3.3.3

Terminal Box dipasang flush mounting pada dinding.

4.3.4

Terminal Box dilengkapi dengan pintu, kunci , handle. Dalam pabrikasi harus mempunyai kesamaan
dengan box system lain (kesamaan merk) dan dilengkapi master key,

4.3.5

Penyambungan kabel instalasi sistem tata suara didalam terminal box dilakukan dengan
menggunakan terminal penyambungan dari jenis 'screw type'.

4.4

Sistem Pembumian Untuk Pengaman

4.4.1

Ketentuan umum
a) Yang dimaksud dengan sistem pembumian untuk pengaman adalah pembumian dari badanbadan peralatan listrik atau benda-benda di sekitar instalasi listrik yang bersifat konduktif
dimana pada keadaan normal benda-benda tersebut tidak bertegangan, tetapi dalam keadaan
gangguan seperti hubung singkat phasa ke badan peralatan kemungkinan benda-benda
tersebut menjadi bertegangan.

4.4..2

4.4.3

b)

Sistem pembumian ini bertujuan untuk keamanan/keselamatan manusia dari bahaya tegangan
sentuh pada saat terjadinya gangguan.

c)

Semua badan peralatan atau benda-benda di sekitar peralatan yang bersifat konduktif harus
dihubungkan dengan sistem pembumian ini.

d)

Ketentuan ketentuan lain harus sesuai dengan PUIL, SPLN dan standard-standard lain yang
diakui di Negara Republik Indonesia.

Konstruksi
a) Sistem pembumian terdiri dari grounding rod, kabel penghubung antara benda-benda yang
diketanahkan dan peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.
b)

Grounding rod dari sistem pembumian terbuat dari pipa GIP dan tembaga dengan konstruksi
seperti Gambar Perencanaan.

c)

Konduktor penghubung antara peralatan (yang digrounding) dengan grounding rod terbuat dari
'bare copper conductor' atau kabel berisolasi sesuai dengan Gambar Perencanaan.

d)

Tahanan sistem pembumian sedemikian rupa sehingga tahanan sentuh yang terjadi harus lebih
kecil dari 45 Volt.

Pemasangan
a) Grounding rod harus ditanam langsung dalam tanah dengan bagian grounding rod yang
tertanam di dalam tanah minimum sepanjang 6 M dan masing masing titik grounding rod
mempunyai tahanan tidak lebih dari 1 Ohm.
b)

c)

Grounding rod harus ditempatkan di dalam bak kontrol yang ter- tutup. Tutup bak kontrol harus
mudah dibuka dan dilengkapi dengan handle. Bak kontrol ini mempunyai fungsi sebagai tempat
terminal penyambungan dan tempat pengukuran tahanan pembumian grounding rod. Ukuran
bak kontrol harus sesuai dengan Gambar Perencanaan.
Hantaran pembumian harus dipasang sempurna dan cukup kuat menahangangguan mekanis.

d)

Penyambungan bagian bagian hantaran pembumian yang tertanam di dalam tanah harus
menggunakan sambungan las sedangkan penyambungan dengan peralatan yang diketanahkan
harus menggunakan mur-baut atau sesuai dengan Gambar rancangan.

e)

Penyambungan hantaran pembumian dengan grounding rod harus menggunakan mur baut
berukuran M-10 sebanyak tiga titik. Penyambungan ini dilakukan di dalam bak kontrol.

f)

Ukuran hantaran pembumian harus sesuai dengan yang tercantum di dalam Gambar
rancangan.

Bab VI. Spek Tek E.4. Sistem Tata Suara

VI - E.4 - 3

BAB VI. E.5


E.5. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E - 5
Pekerjaan Sistem Fire Alarm Kebakaran
5.0

Lingkup Pekerjaan

5.0.1

Lingkup pekerjaan ini harus termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja dan
lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, seluruh pekerjaan sistem pengindera kebakaran
seperti dipersyarat-kan di dalam buku ini dan ditunjukkan di dalam gambar rancangan. Dalam
pekerjaan ini harus termasuk sertifikat pabrik dari pembuat peralatan dan pekerjaan-pekerjaan
lain yang tidak mungkin disebut-kan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu
untuk keamanan dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem pengindera kebakaran secara
keseluruhan.

5.0.2

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar rancangan, dimana bahan-bahan
dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila
ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi teknis yang dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban
Kontraktor untuk meng-ganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.
Lingkup pekerjaan yang dimaksud,
a.

Pusat Control
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan central processing unit fire alarm (FACP) semi
adresable, dan peralatan-peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan
system atau ditentukan lain sesuai keinginan Pemberi Tugas.

b.

Initiating Device
Item pekerjaan ini meliputi pekerjaan jaringan instalasi dengan kelengkapan/type titik
tittik deteksi, yang berupa Ionization Smoke Detector, Rate of Rise and Fixed
Temperature Detector, Fixed Temperature Detector, Gas Detector dan kelengkapan
pendukung lainnya untuk kelengkapan system.

c.

Alarm Device
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan Visual Alarm Devices (lampu indikator beserta lampu
exit) dan Audible Alarm Device (bell).

d.

Kelengkapan Tambahan (Accessories)


Kontraktor harus melengkapi peralatan yang harus dipasang bila secara system
diperlukan walaupun dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis tidak terindikasi.
Termasuk kelengkapan yang harus disediakan adalah batere cadangan dengan chargernya (NiCad) yang kapasitasnya disesuaikan dengan kebutuhan peralatan dan harus
mampu bekerja dalam waktu 12 jam.

e.

Test Commisioning
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan test commissioning dengan tahapan sebagai
berikut,

Pengecekan instalasi secara parsial yang terpasang di setiap lantai dari sub TBF
(Terminal Box Fire) sampai titik instalasi detector yang berada pada tiap ruangan
untuk tahanan isolasi (merger 400 k) dan fungsi jaringan sesuai gambar
rancangan.
Pengecekan instalasi dari sub TBT ke sub TBT dan dari M-TBT ke peralatan utama
FACP dengan metoda yang sama seperti tersebut diatas.
Akhirnya, pengecekan menyeluruh secara lengkap untuk kepentingan operasional
seperti yang ditunjukan dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis ini.

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 1

Setiap tahapan pengecekan harus sepengetahuan/diketahui DIREKSI PENGAWAS/MK.

5.1

Instalasi Sistem

5.1.1

Pekerjaan ini meliputi jaringan instalasi lengkap dengan conduit, sparing, doos terminal untuk
fixture unit, pencabangan dan penyambungan serta peralatan bantu lainnya.

5.1.2

Peralatan bantu yaitu peralatan-peralatan yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja sistem,
meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam gambar
rancangan dan Persyaratan Teknis.

5.1.3

Sistem Pembumian Pengaman


Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda
pengebumian dan bare copper conductor atau kabel yang menghubungkan peralatan yang
harus dikebumikan dengan elektroda pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu
yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.

5.2

Penjelasan Sistem

5.2.1

Pusat Kontrol
Pusat kontrol merupakan pusat untuk melakukan fungsi monitoring, alerting/signalling dan
controlling baik secara otomatis dan atau manual. Operasi otomatis dilakukan berdasarkan
suatu program tertentu yang telah ditentukan sebelumnya sedangkan operasi manual
berdasarkan suatu prosedur operasi tertentu melalui input unit.
Pusat kontrol tersebut harus dapat memonitor dan mengontrol,
a. Pendeteksi kebakaran dan tanda (alarm) kebakaran.
b. Peralatan bantu evakuasi yang terdiri dari lampu exit, lampu emergency, voice
communication, prezzurized fan dan pintu darurat.
c. Sinyal trigger untuk memfungsikan sistem perlawanan kebakaran yang terdiri dari sistem
sprinkler dan hidrand.
d. Lampu lampu penerangan, dan
e. Pemutusan aliran listrik.

5.2.2

Peralatan sentral fire alarm (FACP) dan Anunciator Panel harus diletakkan pada area yang
mudah
dapat
dilihat
oleh
Petugas
atau
Manajemen
Bangunan
sesuai
aturan/persyaratan/ketentuan yang harus dipenuhi dalam hal penempatan peralatan system
perlawanan kebakaran.

5.2.3

Kontraktor harus berkonsultasi dengan DIREKSI PENGAWAS/MK dan Perencana


Arsitektur/Interior dalam hal penempatan unit FACP atau sesuai keinginan Pemberi Tugas.

5.2.4

Peralatan Pendeteksi
Pendeteksi operasi peralatan yang disupervisi disesuaikan dengan jenis dan kerja dari
peralatannya. Peralatan pendeteksian disesuaikan berdasarkan kondisi area/ruang/tempat,
yaitu terdiri,

5.3

a.

Rate of rise and fixed temperature detector, fixed temperature detector, ionization smoke
detector, gas detector dan manual station untuk mendeteksi kebakaran dalam ruangan.

b.

Water level kontrol untuk mendeteksi kondisi air dalam ground reservoir dan bahan bakar
dalam tanki bahan bakar.

c.

Flow switch untuk mendeteksi adanya aliran air dalam pipa, system sprinkler.

Kemampuan Operasi

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 2

5.3.1

Ketentuan Umum

5.3.1.1

Sistem harus mampu melakukan fungsi monitoring,


a.

kejadian atau kondisi ruang/tempat yang dilengkapi dengan peralatan deteksi yang
sesuai dengan tujuan penggunaannya,

b.

Kondisi operasi peralatan yang disupervisi.

5.3.1.2

Sistem harus mampu melakukan fungsi Alerting dan Signaling yaitu bila terjadi kondisi yang
tidak normal, maka sistem secara otomatis akan memberikan tanda tanda tertentu.

5.3.1.3

Sistem harus mampu melakukan fungsi Controlling yaitu meng -operasikan semua sistem
yang dikontrolnya. Pengoperasian tersebut harus dapat dilaksanakan dengan cara,
a. Secara otomatis berdasarkan kejadian artinya apabila sistem mendeteksi adanya ketidak
wajaran maka secara otomatis sistem menjalankan fungsi pengontrolan sebagai contoh
apabila sistem mendeteksi adanya asap pada suatu ruangan, maka sistem akan otomatis
memberikan tanda alarm.
b.

Secara manual melalui pusat kontrol.

5.3.1.4

Pengoperasian seperti dijelaskan diatas harus dapat diprogram sesuai kebutuhan.

5.3.1.5

Fire Detection dan Signaling


a.

Dari Pusat Kontrol, harus dapat diprogram (maupun dikerjakan secara manual) perintah
pengoperasian sistem. Adanya indikasi bahaya kebakaran dan bekerjanya Control Point
pada masing masing zone, dapat dimonitor/direkam oleh Fire Alarm Control Panel dan
ditandai dengan adanya indicator cahaya maupun alarm bunyi.

b.

Dari pusat kontrol harus dapat dimonitor adanya 'ketidak wajaran operasi sistem' baik
pada bagian-bagian instalasi, power supply, monitor point, batere maupun pusat kontrol
sendiri.

c.

Setelah pusat kontrol menerima Signal dari Initiating Devices, maka harus mampu
(secara otomatis) memberikan perintah Tripping kepada Circuit Breaker di Panel setiap
lantai yang memberikan indikasi signal kebakaran, perintah pengoperasian fire hydrant
pump, perintah pengoperasian smoke vestibule ventilator dan firedamper extract fan dan
lain-lain.

d.

Di pusat kontrol harus disediakan fasilitas pesawat telepon khusus yang secara otomatis
langsung akan terhubung dengan Fire Brigade Tata Kota (jika keadaan memungkinkan)
apabila terjadi indikasi bahaya kebakaran.

e.

Pada lantai yang dianggap perlu sesuai permintaan Pemberi Tugas/sesuai gambar
rancangan disediakan Annunciator Panel yang menunjukkan lokasi/zone terjadinya
bahaya kebakaran.

f.

Dari pusat kontrol harus dapat diprogram secara otomatis atau secara manual untuk
malakukan general alarm ke seluruh ruangan/ lantai/ gedung/zone pengindera
kebakaran.

5.3.2

Pemutusan Aliran Listrik

5.3.2.1

Pada saat terjadi indikasi bahaya kebakaran, maka dari pusat kontrol harus dapat dikirim
sinyal kontrol untuk pemutusan aliran listrik terhadap zone yang memberikan indikasi
kebakaran.

5.3.2.2

Pemutusan aliran listrik ini dilaksanakan melalui fasilitas 'Motorized Unit' yang dipasang pada
sisi incoming panel pada jaringan Sistem Distribusi Listrik.

5.3.2.3

Pengontrolan Peralatan Bantu Evakuasi


a. Pengontrolan Pintu Darurat

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 3

Pintu darurat harus dilengkapi dengan electric strike dan sensor unit sehingga dari pusat
kontrol dapat dimonitor kondisi pintu tersebut, sedangkan pada saat terjadi kebakaran,
pintu tersebut dapat dibuka secara remote dari pusat kontrol.
b.

Pengontrolan Voice Communication


Sistem dilengkapi dengan peralatan Telepon Emergency. Pada keadaan normal, alat
komuunikasi tersebut tidak bekerja; sedangkan pada saat terjadi kebakaran, pusat
kontrol akan mengaktifkan alat komunikasi tersebut. (Peralatan ini digunakan untuk
memberi petunjuk kepada Sentral Fire Alarm tentang kondisi kebakaran melalui sarana
telephone emergency.

c.

Pengontrolan Lift Kebakaran


Pada keadaan kebakaran, sistem akan mengontrol semua lift untuk turun ke lantai yang
paling bawah dan pintunya membuka. Setelah beberapa menit, sistem dapat mengontrol
lift kebakaran untuk dapat dioperasikan kembali.

d.

Monitor Kondisi Air pada Ground Reservoir


Dari pusat kontrol harus dapat dimonitor kondisi air dalam ground reservoir. Pelaksanaan
monitoring ini dilakukan dengan pemasangan water level control di ground reservoir.

5.4

Pusat Kontrol

5.4.1

Ketentuan Dasar

5.4.1.1

Pusat kontrol dan annunciator panel yang digunakan adalah Multi Zone Solid State Micro
Processor dengan Presignal type yang bekerja pada sistem tegangan rendah (24 Volt DC)
dan tetap berope-rasi dengan normal pada operating temperature 0 - 40 oC.

5.4.1.2

Digunakan peralatan-peralatan dengan sistem module (standard) yang ditempatkan di dalam


Enclosure/Box. Kabel untuk merangkai module harus Factory Made dan hubungannya secara
'solderless'.

5.4.1.3

Pusat Kontrol dan annuniator panel dapat bekerja secara 'silenceable' maupun 'non
silenceable' untuk Alarm Signal Output dan Trouble Signal Output.

5.4.1.4

Wiring ke semua Initiating Devices (Monitor Point), Alarm Devices dan Releasing Devices
(Control Point) harus dilengkapi dengan alat-alat supervisi secara elektris, untuk melihat
adanya troubles yang terjadi melalui Pusat Kontrol dan interface unit. Trouble yang perlu
dideteksi yaitu Short Circuit, Open Circuit dan Ground Fault.

5.4.1.5

Pusat Kontrol harus dilengkapi dengan switchswitch kontrol untuk reset silence switch, alarm
lamp test switch, AC power failure switch, batere equalizer normal switch dan beberapa switch
kontrol yang tidak disebutkan di sini (sesuai dengan produk terpilih).

5.4.2

Power Supply

5.4.2.1

Catu Daya Primer menggunakan sistem tegangan 220V - AC, 50 Hz, 1 phasa, sistem 3 kawat
dan dilengkapi dengan 'Electronics Voltage Stabilizer' sehingga fluktuasi tegangan sumber
berada pada batas kerja Pusat Kontrol dan interface unit.

5.4.2.2

Pusat Kontrol dan interface unit dilengkapi dengan standby battery unit (24V-DC) jenis Sealed
Acid Battery, rechargeable yang dilengkapi dengan Chargernya.

5.4.2.3

Jika Primary Supply mengalami kegagalan, maka secara otomatis beban akan dilayani oleh
Stand by Battery.

5.4.2.4

Stand by Battery harus mampu melayani sistem selama 24 jam dalam Normal Operation dan
ditambah 30 menit dalam keadaan alarm (terjadi bahaya kebakaran).

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 4

5.4.3

Peralatan Indikasi Alarm

5.4.3.1

FACP harus mempunyai lampu-lampu indikator untuk memberitahu-kan kepada Operator


tentang apa yang terjadi.

5.4.3.2

Indikator True Alarm


a. Lampu indikator berwarna merah

Menandakan adanya initiating device yang aktif. Dari lampu indikator yang menyala,
juga dapat diketahui initiating device dari zone mana yang sedang aktif.
Menandakan bahwa alarm devices pada zone yang sedang aktif tersebut juga telah
berbunyi/menyala.
Menandakan bahwa pemutusan daya listrik telah beroperasi.
Menandakan bahwa Smoke Vestibule Ventilator telah bekerja.
Menandakan bahwa fire hydrant pump telah bekerja.
Indikasi False Alarm,

b. Lampu indikator berwarna kuning

5.4.3.3

Menandakan adanya trouble seperti: short circuit, open circuit dan lain-lain. Dalam
kondisi seperti ini juga harus dapat diketahui mengenai wiring pada bagian mana
yang mengalami trouble.
Menandakan tegangan stand by battery lebih rendah dari harga yang diijinkan.
Menandakan catu daya primer mengalami kegagalan.

Indikasi Power Supply On


Lampu indikator berwarna hijau, menandakan bahwa catu daya primer dalam keadaan
normal.

5.4.4

Konstruksi Enclosure

5.4.4.1

Enclosure harus merupakan Factory made dimana pintu enclosure dilengkapi dengan kunci.

5.4.4.2

Khusus untuk switch-switch kontrol diberi pintu khusus yang di lengkapi dengan kunci,
sehingga jika akan dilakukan pengontrolan dari switch control tersebut tidak perlu membuka
seluruh pintu enclosure.

5.4.4.3

Enclosure harus dilapisi dengan cat dasar dan diberi cat akhir dengan warna merah enamel.

5.4.4.4

Pemasangan enclosure secara wall mounting dengan tata letak/ penyusunan disesuaikan
atau dikoordinasikan dengan modul ruang kontrol dan peralatan lain yang ada di ruangan
tersebut.

5.4.5

Kelengkapan Tambahan Sistem


a.
b.
c.
d.

Peralatan Recording yang terdiri dari Dot Matrik Printer.


Peralatan Monitoring yang terdiri dari LCD Display.
Peralatan hand set telephone emergency sebanyak 5 buah.
Peralatan lain sesuai dengan fungsi sistem seperti dalam gambar rancangan, dan bila
dipersyaratkan adanya peralatan tambahan yang harus dilengkapi sesuai merk yang
telah ditentukan, merupakan kewajiban Kontraktor untuk melengkapi tanpa adanya biaya
tambahan.

5.5

Peralatan Pendeteksi (Iniating Devices)

5.5.1

Ketentuan Dasar

5.5.1.1

Initiating Devices yang digunakan terdiri dari Automatic Initiating Devices dan Manual Initiating
Devices dimana Automatic Initiating Devices yang digunakan terdiri dari Ionization Smoke

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 5

Detector, Combination Rate of Rise and Fixed Temperature Detector dan Fixed Temperature
Detector dan Gas detector.
5.5.1.2

Manual Initiating Devices yang digunakan jenis Break glass dan Pre-Signal Alarm.

5.5.1.3

Rangkaian Initiating Devices yang digunakan jenis surface mounting.

5.5.1.4

Rangkaian Initiating Devices harus menggunakan End of Line Resis-tance (EOLR) yang
ditempatkan dalam Electrical Box (metal doos) atau sesuai dengan Rekomendasi dari pabrik
pembuat.

5.5.1.5

Detektor Asap
a.

b.

5.5.1.6

5.5.1.7

Ionization Smoke Detector digunakan harus jenis Completely Solid State,


pengionisasiannya menggunakan bahan radioaktif berkadar rendah dengan sistem 2
ruang ionisasi (two ionization chamber) sehingga sensitivity deteksinya stabil walaupun
terjadi perubahan kondisi lingkungan.
Ionization Smoke Detector harus mempunyai switch untuk mengatur tingkat sensitivitas
(2 posisi) dan mempunyai indikator alarm (LED) yang menyala jika kondisi alarm.

c.

Ionization Smoke Detector harus mampu mendeteksi daerah kebakaran (detector


coverage area) minimal seluas 80 M2 pada ketinggian ceiling 4,5 M.

d.

Ionization Smoke Detector bekerja pada tegangan nominal sebesar 24 Volt dan tetap
bekerja normal pada tegangan kerja + 25% di atas nominal.

e.

Ionization Smoke Detector harus mampu bekerja dengan normal pada kondisi temperatur
kerja 0 - 60 0 C, Air Velocity 90 M/menit dan Relative Humidity 95 %.

f.

Kontraktor harus mengatur posisi pemasangan Ionization Smoke Detector sehingga


sistem pendeteksi kebakaran bekerja dengan tepat dan LED Alarm terlihat dengan jelas
dari arah pintu masuk.

Detektor Manual
a.

Manual Initiating Devices atau Manual Alarm Station yang digunakan jenis Pre Signal
Alarm dimana Manual Initiating ini juga dilengkapi dengan kunci untuk General Alarm.

b.

Manual Initiating Devices yang digunakan jenis Pulling Handle dengan Break glass Cover
atau jenis lain sesuai dengan merk yang dipilih.

c.

Kontraktor harus menyediakan Glass Cover sebanyak 20% dari jumlah Manual Initiating
Devices yang terpasang untuk spare.

d.

Manual Initiating Devices harus tetap dapat dioperasikan dengan baik pada temperatur
operasi 0 60 oC dan pada Relative Humidity 95%.

e.

Manual Initiating Devices dari bahan metal difinish dengan cat merah enamel, dipasang
pada dinding secara inbow dengan menggunakan doos (sesuai dengan Rekomendasi
dari pabrik). Sedangkan yang dipasang pada kolom-kolom beton menggunakan Surface
Mounting Box menggunakan box khusus untuk Manual Initiating Devices sesuai dengan
merk yang dipilih.

Detektor Panas
a.

Rate of Rise and Fixed Temperature Detector yang digunakan mempunyai Rate of Rise
Setting sebesar 8 oC/menit dan fixed temperature setting 56 oC.

b.

Rate of Rise and Fixed Temperature Detector harus mampu men deteksi di dalam suatu
ruangan minimal seluas 40M2 pada ketinggian ceiling 4,5 M.

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 6

5.5.1.8

Persyaratan Pemasangan
a. Pemasangan Initiating Devices harus menggunakan doos sesuai petunjuk pabrik
pembuat dan lokasinya disesuaikan dengan lokasi boks hidrand seperti gambar
rancangan.
b. Heat Detector
Pemasangan Heat Detector setiap 40 M, minimum 1 (satu) buat detector dan jarak
maximum dari dinding 4,4 M. Pemasangan Heat Detector langsung menempel pada
plafond/beton.
c.

Smoke Detector
Pemasangan Smoke Detector setiap 80 M, minimum 1 (satu) detector dan jarak
maximum ke dinding 6,7 M. Jarak pemasangan Smoke Detector ke plafond minimal 30
mM dan maksimal 200 mM.

5.6

Peralatan Tanda Alarm

5.6.1

Ketentuan Dasar

5.6.1.1

Alarm Devices yang digunakan terdiri dari Audible Alarm Devices dan Visual Alarm Devices.

5.6.1.2

Audible Alarm Devices yang digunakan terdiri dari Bell (buzzer) sedang Visual Alarm Devices
digunakan Flashlight Lamp.

5.6.1.3

Semua rangkaian Alarm Devices harus menggunakan/dipasang EOLR walaupun di dalam


Gambar rancangan tidak ditunjukkan dengan nyata dan EOLR harus ditempatkan di dalam
doos terminal.

5.6.2

Alarm Suara (Audible Alarm)

5.6.2.1

Alarm suara yang digunakan berupa Bell 24V DC atau 220V AC.

5.6.2.2

Bell mempunyai Sound Level kira-kira 115 dB pada jarak 1 M pada tegangan kerja masingmasing/minimum dapat didengar oleh manusia pada titik terjauh.
Bell harus dapat bekerja pada tegangan nominal dan harus tetap dapat bekerja pada
tegangan + 25% di atas nominal.

5.6.2.3
5.6.2.4

Boks Alarm Bell harus dibuat Corrosion Proof dicat warna enamel dan didisain untuk
pemasangan di dalam ruangan menyatu dengan boks hydrand seperti ditunjukan dalam
gambar rancangan.

5.6.2.5

Dilengkapi kabel tahan api (Flexible Fire Resistance) untuk sumber daya listriknya.

5.6.3

Alarm Cahaya ( Visual Alarm )

5.6.3.1

Visual Alarm Devices yang digunakan dari jenis High Intensity Flash Lighting dengan nyala
lampu berwarna merah.

5.6.3.2

Visual Alarm jenis Electronic Flashing dengan menggunakan kapasi-tor sebagai penyimpan
muatan listrik.

5.6.3.3

Visual Alarm harus dapat bekerja pada kondisi tegangan sebesar + 25% di atas tegangan
nominalnya.

5.6.3.4

Daya Flash Light 15 W dengan kecepatan 60 flash/menit.

5.6.4

Paralel Lampu Indikasi

5.6.4.1

Dalam keadaan normal lampu indikator tidak menyala dan harus secara otomatis dapat
menyala pada saat terjadi indikasi kebakaran.

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 7

5.6.4.2

Lampu indikator dilengkapi 'push button' untuk pengetesan lampu.

5.6.4.3

Kontraktor sebelum melaksanakan pemasangan harus menyerahkan contoh material tersebut


untuk mendapatkan persetujuan dari DIREKSI PENGAWAS/MK, karena dalam
penempatannya terkait dengan pekerjaan lain yaitu pekerjaan Arsitektur/Interior.

5.6.5

Persyaratan Pemasangan

5.6.5.1

Dalam pemasangan, Visual Alarm, Audible Alarm Devices (Horn) dimasukan dalam boks
hydrand atau ditentukan lain berdasarkan persetujuan dari Pemberi Tugas melalui DIREKSI
PENGAWAS/MK.

5.6.5.2

Pemasangan Alarm Devices harus sesuai dengan persyaratan pemasangan yang telah
ditetapkan atau berdasarkan petunjuk pemasangan yang dikeluarkan oleh merk yang telah
disetujui,

5.6.5.3

Ukuran 119 x 119 x 54 (mM) atau ukuran lain sesuai dengan produk yang dipilih.

5.7

Kabel Instalasi

5.7.1

Persyaratan Pengerjaan

5.7.1.1

Kabel untuk keperluan Emergency Call (Voice Communication) semua wiring (kabel) instalasi
baik yang ada di dalam FACP maupun di luar panel kontrol harus menggunakan kabel jenis
NYAFHY sesuai gambar rancangan.

5.7.1.2

Kecuali instalasi untuk control point, Terminal Tripping, Telephone emergency, electric strike,
fire damper, extrac fan dan semua instalasi ke circuit yang ada menggunakan kabel jenis
isolasi PVC dengan ukuran luas penampang kabel minimal 1,5 mM2 atau sesuai rekomendasi
dari produk terpilih.

5.7.1.3

Instalasi untuk control point, Terminal Tripping, Telephone emergency, electric strike, fire
damper, extract fan menggunakan jenis kabel tahan api (Flexible Mineral Insulated) dengan
ukuran luas penampang sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat alat.

5.7.1.4

Semua kabel instalasi, kecuali untuk kabel jenis tahan api harus dimasukkan dalam conduit
High Impact atau RSC thickwall untuk instalasi expose yang sesuai (minimal 3/4").

5.7.1.5

Semua instalasi harus dilengkapi dengan kabel supervisi atau harus memenuhi instalasi
sistem pengindera kebakaran kelas A., sehingga Kontraktor harus diperhatikan dalam
pemilihan jumlah kabel untuk setiap titik instalasi sesuai standard yang telah ditetapkan.

5.7.1.6

Instalasi Penunjang
Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti konduit, sparing, rak kabel dan
lainnya sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi daya listrik.

5.8

Sistem Pembumian Untuk Pengaman

5.8.1

Ketentuan umum

5.8.1.1

Yang dimaksud dengan sistem pembumian untuk pengaman adalah pembumian dari badanbadan peralatan listrik atau benda-benda di sekitar instalasi listrik yang bersifat konduktif
dimana pada keadaan normal benda-benda tersebut tidak bertegangan, tetapi dalam keadaan
gangguan seperti hubung singkat phasa ke badan peralatan kemungkinan benda-benda
tersebut menjadi bertegangan.

5.8.1.2

Sistem pembumian ini bertujuan untuk keamanan/keselamatan manusia dari bahaya


tegangan sentuh pada saat terjadinya gangguan.

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 8

5.8.1.3

Semua badan peralatan atau benda-benda di sekitar peralatan yang bersifat konduktif harus
dihubungkan dengan sistem pembumian ini.

5.8.1.4

Ketentuan ketentuan lain harus sesuai dengan PUIL, SPLN dan standard-standard lain yang
diakui di Negara Republik Indonesia.

5.8.2

Konstruksi

5.8.2.1

Sistem pembumian terdiri dari grounding rod, kabel penghubung antara benda-benda yang
diketanahkan dan peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.

5.8.2.2

Grounding rod dari sistem pembumian terbuat dari pipa GIP dan tembaga dengan konstruksi
seperti Gambar Perencanaan.

5.8.2.3

Konduktor penghubung antara peralatan (yang digrounding) dengan grounding rod terbuat
dari 'bare copper conductor' atau kabel berisolasi sesuai dengan Gambar Perencanaan.

5.8.2.4

Tahanan sistem pembumian sedemikian rupa sehingga tahanan sentuh yang terjadi harus
lebih kecil dari 45 Volt.

5.8.3

Pemasangan

5.8.3.1

Grounding rod harus ditanam langsung dalam tanah dengan bagian grounding rod yang
tertanam di dalam tanah minimum sepanjang 6 M dan masing masing titik grounding rod
mempunyai tahanan tidak lebih dari 1 Ohm.

5.8.3.2

Grounding rod harus ditempatkan di dalam bak kontrol yang ter- tutup. Tutup bak kontrol
harus mudah dibuka dan dilengkapi dengan handle. Bak kontrol ini mempunyai fungsi sebagai
tempat terminal penyambungan dan tempat pengukuran tahanan pembumian grounding rod.
Ukuran bak kontrol harus sesuai dengan Gambar Perencanaan.

5.8.3.3

Hantaran pembumian harus dipasang sempurna dan cukup kuat menahangangguan mekanis.

5.8.3.4

Penyambungan bagian bagian hantaran pembumian yang tertanam di dalam tanah harus
menggunakan sambungan las sedangkan penyambungan dengan peralatan yang
diketanahkan harus menggu-nakan mur-baut atau sesuai dengan Gambar rancangan.

5.8.3.5

Penyambungan hantaran pembumian dengan grounding rod harus menggunakan mur baut
berukuran M-10 sebanyak tiga titik. Penyambungan ini dilakukan di dalam bak kontrol.

5.8.3.6

Ukuran hantaran pembumian harus sesuai dengan yang tercantum di dalam Gambar
rancangan.

Bab VI. Spek Tek E.5. Sistem Fire Alarm

VI - E. 5 - 9

BAB VI. M.1

M.1. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal M - 1
Pekerjaan Sistem Penghawaan
1

Persyaratan Teknis

1.1

Lingkup Pekerjaan
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang di- jelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang terteram dalam gambar perencanaan, dimana bahan-bahan dan peralatan
yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi .
Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan
spesifikasi teknis yang diper-syaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk
mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa
adanya ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1.1.1

Sistem distribusi dan ekstraksi udara beserta seluruh peralatan bantunya secara lengkap dengan
peralatan utama menggunakan exhaust fan type inline Centrifugal yang dilengkapi pembungkus
peredam suara (soundproof).

1.1.2

Pengadaan dan pemasangan Saluran Udara Fresh Air dan Exhaust dari toilet masing masing
kamar mandi dan koridor dengan zone area seperti gambar perencanaan.

1.1.3

Peralatan bantu/pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesem-purnaan kerja sistem, meskipun
peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar Perencanaan dan
Persyaratan Teknis.

1.1.4

Pekerjaan balancing, testing dan commisioning terhadap seluruh sistem sehingga dapat bekerja
dengan baik sesuai fungsinya.

1.2

Kondisi Dan Operasi Sistem

1.2.1

Exhaust Fan Inline Centrifugal.

1.2.1.1

Ketentuan Umum,

1.2.1.2

a.

Unit harus dipilih dengan laju aliran udara yang mampu menga-tasi beban kerja seperti yang
dicantumkan pada gambar skedul peralatan.

b.

Pada saat pengajuan usulan tipe dan kapasitas Fan, Kontraktor harus sudah memperhitungkan
segala kemungkinan adanya penurunan kapasitas terhadap pertambahan static pressure
sebagai akibat dari static pressure loss pada diffuser atau grille atau atau filter atau damper
dan/atau peralatan lain di dalam saluran udara sesuai dengan yang akan dipasang.

Konstruksi,
a.
b.

Harus dari jenis Adjustable Pitch Axial-flow Fan factory adjusted dan fixed pada sudut tertentu
sesuai dengan kebutuhan.
Form of running dengan motor berada pada sisi hulu dari arah aliran udara.

1.2.1.3 Impeller,
a.
b.
c.
d.

Harus dari bahan die-cast aluminium alloy dengan kekuatan sesuai standard ARI atau standard
lain yang setaraf yang disetujui.
Harus seimbang secara dinamis maupun statis.
Kipas harus dari jenis Airfoil atau Aerofoil.
Harus direct coupled dengan motor penggeraknya.

1.2.1.4 Casing,
Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 1

a.
b.
c.

Harus dari bahan hot dip galvanized cold-rolled steel dicat anti korosi dengan bahan chlorinated
rubber paint.
Casing dari jenis long-type casing yang menutupi impeller dan motor.
Dilengkapi bell-mouth inlet and fan outlets untuk sambungan dengan saluran udara.

1.2.1.5 Motor,
a.
b.

1.2.2

Dari jenis non-ventilated squirrel-cage induction type, dust- grease-corrosion-proof motor


dengan insulation class F.
Dapat digunakan untuk menghisap udara pada temperatur yang berkisar antara 50 - 75 0C.

Peralatan Kontrol Otomatis

1.2.2.1 Ketentuan Umum,


a.
b.

c.
d.

Seluruh peralatan kontrol yang digunakan harus dari buatan pabrik yang sama.
Peralatan dalam satu rangkaian kerja sistem kontrol harus sesuai (match) antara satu dengan
lainnya atau sesuai secara elektris terutama terhadap impedansi pada jenis peralatan yang
menggunakan prinsip jembatan Wheatstone.
Komponen-komponen yang disatukan (assy) harus sesuai satu dengan lainnya secara mekanis
maupun elektris.
Seluruh peralatan harus dapat beroperasi pada arus bolak balik dengan tegangan 240 VAC
kecuali dinyatakan lain.

1.3

Persyaratan Pemasangan

1.3.1

Ketentuan Umum,

1.3.1.1

Pada saat peralatan/unit mesin yang dipesan oleh Kontraktor tiba di tapak, segera harus dilakukan
pembongkaran peti pembungkus atau container dengan disaksikan bersama.

1.3.1.2

Kontraktor bertugas membuat dan mengisi check-list untuk pemeriksaan dan diserahkan kepada
DIREKSI, untuk ketentuan lebih detail tentang hal ini diatur oleh DIREKSI.

1.3.1.3

Apabila dalam pemeriksaan visual di atas ditemukan kerusakan fisik terhadap peralatan, maka
segala penggantian/perbaikan dan lain- lainnya diatur oleh DIREKSI.

1.3.1.4

Khusus untuk kerusakan pada lapisan cat, Kontraktor harus melakukan perbaikan dengan
melakukan cat ulang dengan kualitas pengecatan yang paling tidak harus sama, dimana
sebelumnya harus dilakukan pembersihan yang sempurna (dengan sikat kawat, degreasing liquid
dan sebagainya).

1.3.1.5

Segala sesuatu yang timbul sebagai akibat dari uraian di atas menjadi tanggungan dan atas beban
biaya Kontraktor yang bersangkutan.

1.3.2

Pemasangan Unit Fan Inline Centrifugal,

1.3.2.1

Penyambungan instalasi kabel daya, kabel kontrol dan instalasi ducting disesuaikan dengan
persyaratan pabrik, bila terjadi ketidak sesuaian dengan Dokumen Kontrak, sehingga dapat
mengakibatkan terganggunya operasi, pemborong harus mengajukan gambar kerja (shop drawing)
untuk disetujui oleh DIREKSI.

1.3.2.2

Unit mesin fan harus dilengkapi rumah seperti gambar perencanaan agar tidak terjadi noise disekitar
area koridor.

1.3.2

Pengujian Kriteria Kebisingan (Noise Criteria),

1.3.2.1

Pengukuran dilakukan terhadap Tingkat Tekanan Suara dalam satuan ukuran atau skala 'weighing'
decible (dBCA) pada berbagai pita frekuensi sehingga dapat dibuat kurva Noise Criteria.

1.3.2.2

Hasil pengukuran harus dilaporkan dalam bentuk hasil pengukuran dan diplot pada NC chart.

Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 2

1.3.2.3

Apabila NC melebihi angka-angka perancangan seperti pada pasal terdahulu, maka Kontraktor
harus menambahkan beberapa pere-dam suara pada saluran udara, misalnya duct acoustic lining
disekitar dacting pembungkus fan.

1.3.3

Pengujian Operasi Sistem,

1.3.3.1

Pengujian ini dilakukan setelah seluruh peralatan atau sistem diuji dan dibersihkan, dan telah
menjalani 'trial-run' selama 3 x 24 jam.

1.3.3.2

Pengujian ini dimaksudkan untuk sekaligus menguji kemampuan sistem dengan dioperasikan secara
terus menerus selama 6 x 24 jam.

1.3.3.3

Pada saat pengujian ini Kontraktor harus melakukan bersama dan atas petunjuk, hal yang diuji
adalah berikut :
a. Mengamati seluruh sistem saluran udara.
b. Mengamati kerja sistem kontrol.
c. Mengamati kerja Fan dalam sistem ventilasi.
d. Memperbaiki segala hal yang masih belum beroperasi dengan semestinya dan bila terdapat
getaran atau noise yang berlebihan dan segala hal yang menurut DIREKSI perlu diadakan
perbaik-kan/penyempurnaan.

1.3.4

Laporan Pengujian,

1.3.4.1

Menggunakan formulir-formulir yang dicantumkan dalam buku 'SMACNA, Testing and Balancing of
Air Conditioning System' dan/atau buku 'NEBB', National Engineering Balancing Bureau.

1.3.4.2

Segala kebutuhan untuk hal tersebut diatas menjadi tanggung jawab Kontraktor yang bersangkutan
baik dalam segi pengadaan buku asli, hasil fotokopi formulir dan pengisiannya sehingga merupakan
hasil pengujian yang baik.

1.3.5

Pemberian Tanda-Tanda Penyetelan (Marking),


Setelah seluruh sistem bekerja dengan baik, lancar dan sesuai dengan fungsinya, Kontraktor harus
memberi tanda-tanda pada splitter damper, volume damper dan peralatan pengatur serta pengukur
lainnya dengan cara-cara yang disetujui DIREKSI.

1.4

Pekerjaan Ducting Saluran Udara

1.4.1

Persyaratan Bahan

1.4.1.1

Saluran persegi empat Pelat Baja Lapis Seng (BjLS)


a.

Digunakan untuk saluran udara exhaust dari ruangan toilet tiap kamar hotel/penginapan yang
dapat menimbulak bau.

b.

Daftar penggunaan bahan untuk saluran dengan kecepatan udara tidak lebih besar dari 2000
fpm dan tekanan statik tidak lebih besar dari 2 inWG, menggunakan bahan yang sesuai dengan
tabel di bawah ini,
Sisi terpanjang
Saluran ( Inch)
S/d 12
13 18
19 30
31 40
40 ke atas

Tebal Plat
(mM2)
0,60
0,70
0,80
0,90
1,00

Ukuran BjLS
(SII standart )
BjLS.60-K
BjLS.70-K
BjLS.80-K
BjLS.90-K
BjLS.1000K

Lapisan Seng
Galvanis (g/M2)
305
305
305
305
305

Standard mutu bahan adalah SII.0137-80.

1.4.1.2

Lubang Pengujian
a.

Harus disediakan lubang-lubang pengujian sesuai dengan tem-pat-tempat yang diberi notasi
pada gambar dan tempat-tempat lainnya yang dipandang perlu sesuai dengan kondisi di
lapangan.

Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 3

b.

Lubang pengujian harus ditempatkan pada daerah dengan aliran turbulen yang sekecil
mungkin.

c.

Lubang pengujian dibuat dengan melubangi saluran udara pada sisi-sisinya dengan diameter
50 mM, mengelilingi saluran udara pada setiap jarak seperti yang ditentukan oleh SMACNA.
Lubang tersebut diberi tutup dari bahan karet penutup sehingga kedap udara dan dapat dibuka
dengan mudah bila diperlukan.
Apabila mesin yang dipasang oleh Kontraktor dapat menyebab-kan atau menyebabkan NoiseCriteria di luar batas yang ditentu-kan di atas maka Kontraktor harus menyesuaikan panjang
lining akustik yang dipasang dengan kebutuhan berdasarkan hasil perhitungan/pemeriksaan
tersebut.
Ukuran saluran udara pada bagian yang dipasang lining akustik harus diperbesar dengan
ditambahkan tebal lapisan lining akustik, terhadap ukuran pelat baja saluran yang tercantum
pada gambar perancangan.

d.
e.

f.

1.4.2

Persyaratan Pemasangan

1.4.2.1

Pemasangan saluran udara


a.

Segala yang tercantum pada gambar adalah gambar peranca-ngan dan bukan merupakan
gambar untuk pelaksanaan seperti definisi gambar yang dijelaskan di depan.

b.

Kontraktor harus memperhitungkan adanya jalur-jalur instalasi lain pada daerah jalur saluran
udara terutama jalur pemipaan dan fixture penerangan.

c.

Seluruh saluran udara harus dibuat dari pelat BjLS yang baru dan bersih/bebas dari karat atau
cacat-cacat lainnya dan berasal dari tempat penyimpanan yang dilindungi atap dan dinding.

d.

Dimensi yang ditulis/disebut dalam gambar maupun buku spesifikasi adalah ukuran bersih sisi
dalam saluran, dengan demikian untuk saluran dengan infill lining harus diberikan koreksi
terhadap dimensi saluran baja tersebut.

e.

Dinding saluran udara harus bebas dari gelombang maupun gelembung-gelembung setempat,
untuk itu pemotongan dan penekukan/lipatan pelat harus dibuat dengan mesin (mesin potong
pelat atau mesin tekuk).

f.

Perubahan ukuran dan belokan,

g.

h.

Selama tidak dinyatakan lain, setiap perubahan ukuran saluran udara harus dibuat
taper/konis dg kemiringan 15 0 atau maksimum 1: 5.

Belokan harus dibuat dengan r/d= 1.5, kecuali bila tidak memungkinkan, boleh dibuat
dengan konstruksi belokan pa-tah dan dilengkapi dengan turning vanes, dengan seijin
DIREKSI.

Pembersihan saluran udara,


-

Pembersihan saluran udara harus dilakukan sebelum outlet terminal dipasang dan sebelum
ceiling dan carpet pada Pekerjaan Finishing dipasang.

Sebelum fan dijalankan, saluran udara harus dibersihkan dari segala kotoran yang melekat,
debu, lemak, bekas-bekas pengerjaan dan segala jenis kotoran lainnya.

Selama pekerjaan berlangsung, saluran yang telah selesai dikerja- kan harus ditutup
dengan rapat menggunakan pelat baja untuk menghindarkan kotoran masuk ke dalam
saluran.

Bila ditemukan kotoran yang cukup mengganggu maka saluran udara harus dibongkar
untuk dibersihkan dan ke-mudian bila masih memungkinkan dapat dipasang kembali.

Perapat untuk saluran udara,


Seluruh sambungan pada saluran udara harus diberi perapat dari jenis fire resistant duct sealer
untuk mendapatkan saluran udara yang kedap terhadap kebocoran. Sealant tersebut harus
dioleskan pada saat fabrikasi.

i.

Sambungan dan detail sambungan,


-

Saluran udara harus dibuat dengan konstruksi mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh
SMACNA 'Sheet Metal and Air-Conditioning National Association' dengan detail kons-truksi
seperti yang dicantumkan pada buku SMACNA 'Low Velocity Duct Construction Standard'.

Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 4

j.

Pemasangan semua peralatan di dalam saluran udara harus mengikuti ketentuan yang
diberikan oleh SMACNA, seperti pada buku SMACNA, Duct liners Application Standards &
Duct heaters Application Standards.

Sambungan saluran udara dengan outlet-terminals harus benar-benar kedap udara,


dengan bantuan sealant atau neoprene sponge rubber gasket pada sambungan tersebut.

Semua slip-joint harus dibuat dengan arah yang sama ter-hadap arah aliran udara
sehingga tidak menyebabkan turbulensi pada aliran udara.

Konstruksi saluran udara segi empat,


-

Sambungan pelipit (seams),


Groove, Pittsburgh lock seams dan Slip joints harus diguna-kan pada seluruh sambungan
saluran udara, kecuali di-nyatakan lain dalam buku ini maupun dalam gambar. Khusus
untuk kitchen exhaust duct dan bath room exhaust duct, sambungan dibuat dengan solder
atau dapat juga dengan sealing packing seams.

Sambungan (connection) antara saluran.


Sambungan antara saluran harus dengan sambungan flange, dari bahan besi siku yang
diikat dengan paku keling terhadap saluran udara, dan diberi sealing packing untuk
menjamin kedap udara. Baja siku yang digunakan harus mengikuti ketentuan seperti tabel
berikut :
Ukuran sisi
Terpanjang
Saluran
(inch)
S/d 12
13 18
19 30
31 42
42 keatas

Flange
Saluran
(inch)
15x25x3
30x30x3
40x40x3
40x40x3
40x40x5

Paku Keling
Baja
Siku(mM)
1800
1800
1800
1800
1800

Dia
(mM)
4.5
4.5
4.5
4.5
4.5

Sambungan
Pitch
Dia
(mM)
(mM)
65
65
65
65
65

8.0
8.0
8.0
8.0
8.0

Pitch
(mM)
100
100
100
100
100

Penguatan saluran udara


Baja siku atau pelipit yang digunakan untuk perkuatan saluran udara harus mengikuti
ketentuan seperti pada tabel berikut ini : Perkuatan melebar (Width reinforcement).
Ukuran Sisi Terpanjang
Saluran (Inch)
s/d 12
13 18

Ukuran Sisi Terpanjang


Saluran (Inch)
19 30
31 42
42 ke atas

Standard Seam Reinforced


Air Duct (mM)
Tinggi Seam
Jarak Maks.
25
1200
25
900
Angle Steel Seam Reinforced
Air Duct (mM)
Tinggi Seam
Jarak Maks.
30 x 30 x 3
900
40 x 40 x 5
900
40 x 40 x 5
900

Perkuatan arah memanjang (Longitudinal reinforcement)


Ukuran Sisi Terpanjang
Saluran (inch)
70 88
88 ke atas

1.4.3

Pekerjaan Penggantung dan Penumpu

1.4.3.1

Persyaratan Bahan
a.

Dimensi
Siku (mM)
40 x 40 5
40 x 40 x 5

Standing Seam (mM)


1 perkuatan di tengah
2 perkuatan di tengah

Prinsip,

Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 5

Untuk setiap jalur pemipaan, setiap jalur pekerjaan pelat atau sheet metal works dan
peralatan/unit mesin fan harus diberi dudukan dalam bentuk penumpu atau penggantung atau
inserts atau pengikat/brackets atau rangka dudukan atau peluncur atau lainnya sesuai dengan
dudukan yang dibutuhkan sehingga kokoh berada pada posisinya.
b.

Pemuaian dan penyusutan,


Penggantung harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung gerakan-gerakan
akibat pemuaian dan penyusu-tan dan harus pula mampu memberikan kelonggaran terhadap
gerakan-gerakan tersebut.

c.

Saluran udara BjLS,


Diberi dudukan dengan penggantung atau penumpu seperti yang dijelaskan pada pasal
selanjutnya.

d.

Koordinasi,
Koordinasi kerja antar disiplin harus diperhatikan dengan seksama dalam pengertian bahwa
penggantung/penumpu harus digunakan sesuai dengan fungsinya. Tidak diperkenankan
misalnya menumpu pipa dengan penggantung ducting kecuali dinyatakan lain dalam gambargambar perancangan

1.4.3.2

Penggantung saluran udara,


a.

Harus dari jenis channel/angle framing type trapezze hangers.

b.

Dimensi baja kanal dan/atau baja siku harus mengikuti ketentuan seperti yang dicantumkan
pada buku 'SMACNA'.

c.

Rangka baja pembantu,


Penggantung atau penumpu bila perlu harus diberi rangka baja pembantu sebagai tempat
pengikatan atau dudukan dari penumpu/penggantung tersebut.

d.

Penahan Penggantung (Hanger support)


Penggantung pipa, ducting dan peralatan lainnya harus ditahan dengan cara-cara sesuai
ketentuan berikut :

1.4.3.3

Sebelum beton di cor, Penahan dibuat dari malleable iron insert yang dipasang sebelum
beton dicor.

Sesudah beton di cor, Penahan dibuat dari threaded insert yang dimasukkan ke dalam
lubang pelat beton yang di bor.

Penahan dibuat dari pelat berukuran 100x100x6 mM yang dipasang pada sisi atas pelat
beton pracetak tersebut dan di bor sehingga menembus ke bawah, untuk kemudian diberi
adukan beton, atau pelat 100x100x6 mM yang dilas ketulang-an/angker yang telah
disediakan.

Persyaratan Pemasangan
a.

Untuk hal-hal yang belum tercakup pada pasal-pasal terdahulu, harus dicari acuannya pada
pasal persyaratan pelaksanaan.

b.

Penumpu/penggantung harus dipasang pada jarak maks. sejauh 30 cM dari setiap elbow pada
pemipaan horisontal.

c.

Penumpu atau penggantung,


Harus dapat diatur ketinggiannya dalam batas-batas 40 mM setelah pipa dipasang.

d.

Pipa vertikal harus diikat pada setiap lantai, khusus pada pipa air kotor (soil stack) harus diikat
pada setiap lantai pada sisi pipe-hub.

Bab VI. Spek Tek M.1. Penghawaan

VI - M.1 - 6

BAB VI. M.2

M.2. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal M - 2
Pekerjaan Sistem Perlawanan Kebakaran
(Hydrant dan Sprinkler)
2.0

Lingkup Pekerjaan

2.0.1

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang di jelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana bahan-bahan dan
peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini.
Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi teknis yang dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor
untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini
tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.
Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

2.0.1.1

Pekerjaan meliputi pengadaan segala peralatan yang diperlukan berikut pemasangan secara
lengkap sehingga sistem dapat bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2.0.1.2

Penggantian dan pemasangan Kotak Hydrant, tabung fire extinguisher berikut isinya, dan lainnya
secara lengkap yang ditempatkan di lokasi existing.

2.0.1.3

Unit Pompa Kebakaran termasuk panel kontrolnya menggunakan unit existing.

2.0.1.4

Pengadaan dan pemasangan sistem instalasi pemipaan sprinkler dan hidran, sedangkan pipa riser
menggunakan instalasi existing.

2.0.1.5

Pekerjaan lain yang masih termasuk dalam pekerjaan ini sesuai dengan Persayaratan Teknis dan
gambar perancangan.

2.0.1.6

Peralatan bantu dan pendukung yang diperlukan untuk kesempur-naan kerja sistem, meskipun
peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar rancangan dan
Persyaratan Teknis.

2.0.1.7

Pekerjaan testing dan comissioning terhadap


baik sesuai dengan fungsinya.

2.1

Sistem Dan Persyaratan Operasi

2.1.1

Sistem perlawanan kebakaran dengan air yang diterapkan adalah automatic sprinkler wetpipe/riser dan standpipe hose system wet-pipe/riser.
Sistem perlawanan kebakaran dengan bahan kimia yang diterapkan dengan menggunakan tabung
APAR (Portable Fire-extinguisher) jenis Dry Chemical Multi Purpuse.

2.1.2

2.1.3.1.1

2.1.4

Air di dalam pipa selamanya dipertahankan untuk tetap bertekanan dengan bantuan automatic
jockey pump yang merupakan bagian dari sistem kerja otomatis dari automatic fire hydrant pumps
set.

Standard yang diikuti


a.
b.
c.

2.1.5

seluruh sistem sehingga dapat bekerja dengan

Surat keputusan Menteri Pekerjaan Umum No: 02/KPTS/1985, tentang ketentuan pencegahan
dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung.
Standard Konstruksi Bangunan Indonesia, SKBI
National Fire Codes yang dikeluarkan oleh NFPA, artikel nomer :
NFPA 12A/1990 ; NFPA 13/1990 ; NFPA 14/1990 ; NFPA 19/1990 ; NFPA 20/1990 ;
NFPA 24/1990

Semua peralatan utama sistem perlawanan kebakaran, seperti :

Bab VI. Spek Tek M.2. Hydrant

VI - M.2 - 1

a.
b.
c.
d.

Main electric fire pump dan panel kontrolnya,


Diesel fire pump dan panel kontrolnya,
Accesories utama pemipaan, dan
Peralatan penting lainnya, harus sesuai dengan standar yang dinyatakan pada NFPA dan
harus dinyatakan terdaftar pada badan yang berwenang (Underwriter Laboratory) dengan
indikasi 'UL Listed'.

2.1.6

Semua pompa, motor, diesel engine dan pemipaan sistem kebakaaran dicat warna merah.

2.2

Persyaratan Peralatan Dan Bahan

2.2.1

Fire-Pumps Set Dan Fire-Pumps Controller ( Existing)

2.2.1.1

Kelengkapan Fire-Pumps set


Terdiri dari kelengkapan sistem pompa kebakaran sebagai berikut :
a. Electric-driven Jockey pump,
b. Electric-driven Main pump,
c. Diesel-driven Main pump,
d. Jockey pump controller,
e. Automatic Electric driven Fire-pumps controller,
f.
Automatic Diesel driven Fire-pumps controller,
g. Diafragma tank, Water flow meter, test-line, gate valve, check valve, pressure gage, float
valve dan kelengkapan lainnya.

2.2.1.2

Pompa Hidran Utama Dan Sprinkler ( Existing )

2.2.2

Pemipaan

2.2.2.1

Bahan yang digunakan dalam sistem pemipaan secara umum harus mengikuti segala ketentuan
yang tercantum pada pasal 1.1.2 dan segala sesuatu yang tercantum pada National Fire Codes
artikel, NFPA No. 24-1990 seperti disebut terdahulu.

2.2.2.2

Pipa, fitting dan segala peralatan bantu sistem pemipaan harus dipasang sesuai dengan segala
yang tercantum pada gambar perancangan.

2.2.2.3

Katup-katup penutup harus dari jenis 'SUPERVISED' dan dihubungkan dengan Central Fire Alarm
(FACP) dan/atau Local Master Fire Alarm Control Panel (LMFAC) sesuai dengan rancangan dan
peralatan yang terpasang/ditawarkan dari Sistem Pengindera Kebakaran.

2.2.2.4

Pipa dan perlengkapannya (fitting, katup dan lainnya)harus mengikuti standard ANSI, dalam hal ini
adalah :
a.
b.
c.

ANSI; kelas 300 PSI


ASTM A.53; Sch.40
ANSI B.16; 5,9,10,11

:
:
:

2.2.3

Peralatan Hidran Dan Sprinkler

2.2.3.1

Sprinkler Head,
a.
b.
c.
d.

2.2.3.2

Jenis
K factor
Orifice
Suhu leleh

:
:
:
:

untuk katup dan peralatan sejenisnya.


untuk pipa galvanis.
untuk screwed, flanged, welded fittings.

Pendent type dan wall type


5.65
15 mM
57 0 C

Fire Hose Cabinet,


a.
b.
c.
d.

Jenis
: semi-recessed wall mounted indoor hydrant box.
Kabinet/Box
: pelat baja tebal 1.6 mM, dengan konstruksi rangka, sambungan dengan las,
dicat warna merah terang.
Pintu
: pintu berengsel, institutional (heavy duty).
Hose rack
: one piece 16 US gauge steel,

Bab VI. Spek Tek M.2. Hydrant

VI - M.2 - 2

2.2.3.4

e.

Asesories

f.
g.

Nozzle
Standard

:
:

Hydrant Check Valve,


a.
b.
c.

2.2.3.5

Jenis
Ukuran
Standard,kelas

:
:
:

hydrant underground check valve cast iron


6 inch
ANSI, 300 psi WOG

:
:
:

Hydrant underground gate valve cast-iron,


6 inch
ANSI, 300 psi WOG

Hydrant Main Valve,


a.
b.
c.

2.2.3.6

1.5 inch hose rack dilengkapi, 1.5 inch nipple,


1.5 inch cast brass valve,1.5 inch rubber lined hose, panjang 25 meter.
1.5x10 inch smooth bore, straight type, 300 psi test pres.
ANSI

Jenis
Ukuran
Standard

Landing Valve
a.
b.
c.

2.2.4

Jenis
: Oblique cast iron landing valve dicat merah terang,
Ukuran
: 2.5 inch
Kelengkapan
: cap and chain, hose coupling, rising OS&Y stem, handwheel operated,
cadmium plated escutcheon.
d. Standard,kelas : ANSI, 300 psi WOG.
Alat Pemadam Api Ringan

2.2.4.1

Portable Fire Extinguisher yang digunakan berisi bahan pemadam jenis dry chemical powder kelas
A, B, C dengan kapasitas tabung sesuai dengan kelas emadaman 2A-10B/NFPA.10 atau 2A/SKBI
atau minimum 6 kG.

2.2.4.2

Extinguisher Head (Operating Head) dari jenis High Strength Non Corrosive dan dilengkapi
dengan Discharge Hose yang mempunyai Discharge Nozzle.

2.2.4.3

Tabung APAR dipasang di dalam kotak FHC.

2.3

Persyaratan Pemasangan

2.3.1

Dasar Pelaksanaan

2.3.1.1

Pemipaan secara umum harus mengikuti segala ketentuan yang ter- cantum pada manual seperti
yang disebut pada pasal selanjutnya.

2.3.1.2

Manual untuk pemasangan pipa,


Steel Pipe Design and Installation, seperti dari AWWA.M11 Steel Pipe Manual atau dapat juga dari
ANSI B.35.1 Codes for pressure piping.

2.3.1.3

Manual untuk pelapisan pelindung pipa (coating and lining standards),


Enamel Protective coating for steel water pipelines, AWWA.C203-78.

2.3.1.4

Manual untuk sambungan pipa, Standards for Field Welding of Steel Water
AWWA.C206-82. Standards for Steel Pipe Flanges, AWWA.C207-78.

2.3.1.5

anual untuk fitting pipa,


AWWA.C208-83.

2.3.2

Pemipaan Dalam Bangunan

2.3.2.1

Pada dasarnya, pelaksanaan pekerjaan pemipaan


tercantum dalam buku NFPA No. 19-1990.

2.3.2.2

Mechanical joint (sambungan mekanis) harus menggunakan Rubber Gasket model A, dimana
sebelum dipasang ujung socket dan gasket harus dicuci bersih dengan sabun/deterjen lunak
(TEPOL atau setaraf).

Bab VI. Spek Tek M.2. Hydrant

AWWA

Standards

for

Standards for coal for

Pipe

Joints,

dimensions for Steel Water Pipe Fittings,

harus mengikuti segala ketentuan yang

VI - M.2 - 3

2.3.2.3

Screw-thread joint (sambungan ulir) harus menggunakan kompon (joint-compound) atau dapat
juga menggunakan seal-tape dan di- pasang pada ulir laki (male thread) saja.
Uliran pada pipa yang tersisa setelah pemasangan harus dilapis dengan kompon untuk mencegah
terjadinya karat.

2.3.2.4

Welded joint (sambungan las) harus dari jenis 'Butt welding' atau 'Welded flange', dan hanya
digunakan untuk pipa-pipa dengan ukuran 65mM atau lebih besar, kecuali untuk tempat-tempat
khusus dengan pertimbangan untuk kemudahan perawatan seperti yang dinyatakan pada gambar.

2.3.2.5

Harus disiapkan Water Supply test dan drain pada setiap pipa tegak dan disediakan jalur buangan
ke saluran air hujan terdekat dimana di ujung saluran tersebut diberi kawat pelindung.

2.3.2.6

Untuk diatas plafond asbes dipasang two-way head sprinkler.

2.3.3

Pemipaan Luar Bangunan

2.3.3.1

Pada dasarnya, pelaksanaan pekerjaan pemipaan harus mengikuti segala


tercantum pada buku National Fire Codes, NFPA No. 24-1990.

2.2.3.2

Segala yang tercantum pada buku NFPA No.24 adalah mengikat dan merupakan bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari kelengkapan Dokumen Pelelangan /Pelaksanaan /Kontrak (Gambar dan Buku
Spesifikasi).

2.4

Persyaratan Pengujian

2.4.1

Pengujian yang harus dilakukan untuk sistem Sprinkler, Hidran halaman dan Pipa-Tegak hidran
ini mengikuti segala ketentuan yang dicantumkan pada NFPA pada buku dengan nomer berikut ini,
- No. 19-1990 - No. 20-1990 - No. 24-1990.

2.4.2

Dengan demikian segala metoda dan cara pengujian baik untuk pengujian sistem maupun
pengujian pemipaan yang terdapat pada referensi di atas adalah mengikat dan merupakan
bangian yang tidak terpisahkan dari Dokumen Pelelangan /Pelaksanaan /Kontrak (Gambar dan
Buku Spesifikasi).

Bab VI. Spek Tek M.2. Hydrant

ketentuan yang

VI - M.2 - 4

BAB VI. M.3


M.3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal M - 3
Pekerjaan Sistem Air Bersih dan Air Kotor
1.0

Lingkup Pekerjaan
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam spesifikasi
teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perancangan, dimana bahan dan peralatan
yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata terdapat
perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi teknis
yang dipersyarat-kan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau
peralatan tersebut atas persetujuan DIREKSI, sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini
tanpa adanya ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut
:

1.0.1

Pekerjaan Instalasi Air-Bersih.

1.0.2

Pekerjaan Instalasi Air Panas.

1.0.3

Pekerjaan Instalasi Air-kotor dalam bangunan sampai dengan Septik Tank seperti gambar
perencanaan.

1.0.4

Pekerjaan saluran drainase air hujan.

1.0.5

Pekerjaan Instalasi Daya

1.0.6

Peralatan bantu dan pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja sistem,
meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar rancangan
dan Persyaratan Teknis.

1.0.7

Testing dan Commissioning seluruh sistem hingga berjalan dengan baik dan sempurna sesuai
dengan spesifikasi teknis.

1.1

Pekerjaan Air Bersih

1.1.0

Lingkup Pekerjaan

1.1.0.1

Pengadaan dan pemasangan Instalasi Air Bersih secara lengkap sehingga sistem dapat interkoneksi
dengan instalasi eksisting dan berfungsi dengan baik.

1.1.0.2

Pengadaan dan pemasangan Pemipaan air bersih dari Pemipaan utama mesin pompa eksisting
dengan tambahan bantuan pompa booster yang menuju ke titik-titik distribusi air bersih dalam
bangu-nan sesuai dengan gambar perancangan.

1.1.1

Persyaratan Pelaksanaan

1.1.1.1

Pemipaan,

a. Pemipaan secara umum harus mengikuti segala ketentuan yang tercantum pada pasal
terdahulu dan segala sesuatu yang tercantum dalam buku Pedoman Plambing Indonesia.
Bab VI. Spek Tek M.3. Plumbing

VI - M.3 - 1

b. Contoh-contoh bahan dan konstruksi harus diajukan kepada DIREKSI untuk diperiksa dan
disetujui, selambat-lambatnya 3 (tiga) minggu sebelum pembuatan dan pemasangan
c.

Pemasangan pipa datar harus dibuat dengan kemiringan 1/1000 ke arah katup/flange
pembuangan (drain valve/flange) dan pipa naik/ turun harus benar-benar tegak.

d. Pemasangan pipa mendatar dalam bangunan harus dibuat dengan kemiringan 1/1000 menuju
ke arah pipa tegak/riser.
e. Pelaksanaan Pemasangan/penyambungan pipa dengan fitting fitting/alat bantu harus
menggunakan bahan dengan standard ukuran/merk yang sama dan Kontraktor agar
memperhatikan petunjuk /ketentuan /persyaratan penyambungan dengan baik.
f.

Belokan harus menggunakan long-radius elbow, penggunaan short elbow, standard elbow, bend
dan knee sama sekali tidak diperkenankan.

g. Fitting, peralatan bantu, peralatan ukur dan lainnya yang memiliki tahanan aliran yang berlebih
tidak diperkenankan dipasang kecuali yang disyaratkan pada buku ini.
h. Pada belokan dari pipa datar ke pipa tegak harus dipasang alat pengumpul kotoran yang
tertutup (capped dirt pocket).

1.1.1.2

i.

Semua alat ukur harus dalam batas ukur yang baik dan mempu-nyai ketelitian yang sewajarnya
untuk pengukuran.

j.

Selama pemasangan berjalan, Kontraktor harus menutup setiap ujung pipa yang terbuka untuk
mencegah tanah, debu dan kotoran lainnya, dengan dop/blind flange untuk pipa baja dan
copper, pemanasan press untuk pipa PVC.

k.

Setiap jaringan yang telah selesai dipasang, harus ditiup dengan udara kempa (compressed air)
untuk jangka waktu yang cukup lama, agar kotoran kotoran yang mungkin sudah masuk ke
dalam pipa dapat terbuang sama sekali.

l.

Ketentuan/Persyaratan teknis tentang instalasi pemipaan, peralatan bantu, dan yang lainnya
telah diuraiakan pada pasal terdahulu

Desinfeksi,

a. Desinfeksi dilakukan setelah seluruh sistem pemipaan air bersih dapat berfungsi dengan baik,
dan sebelum penyerahan pertama.
b. Desinfeksi dilakukan dengan memasukkan Chlorine ke dalam sistem jaringan instalasi dengan
cara injeksi.
c.

Dosis Chlorine adalah 50 ppm.

d. Setelah 16 jam, seluruh sistem pipa harus dibilas dengan air bersih sehingga kadar Chlorine
tidak melebihi 0,2 ppm.

1.1.1.3

Pengujian Instalasi Pemipaan,

a. Pengujian instalasi pipa dikerjakan sesuai tahapan pekerjaan/ parsial seperti telah diuraikan
pada bab sebelumnya.
b. Pengujian dilakukan untuk menguji hasil pekerjaan penyam-bungan pipa serta kondisi dari pipa
yang telah dipasang.
c.

Pengujian dilakukan setelah seluruh sistem pemipaan selesai dikerjakan dan siap untuk
dilakukan pengujian.

d. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan hidrostatik pada sistem pemipaan, tekanan
yang diberikan adalah 1,5 kali tekanan kerja, minimum 10 kg/cM2.
e. Pengujian dilakukan selama 2x24jam, tanpa terjadinya penuru-nan tekanan.

Bab VI. Spek Tek M.3. Plumbing

VI - M.3 - 2

f.

Apabila terjadi penurunan tekanan, maka Kontraktor harus mencari sebab-sebabnya dan
melakukan penggantian bila keadaan mengharuskan.

g. Perbaikan yang sifatnya sementara tidak diizinkan.

1.2

Pekerjaan Air-Kotor Dalam Bangunan

1.2.1

Lingkup Pekerjaan,

a. Pemipaan air kotor dari sanitary fixtures di setiap kamar mandi memalui shaft kamar mandi dan
koridor bangunan sampai dengan septic tank di luar gedung.
b. Kontraktor sudah memperhitungkan, akan adanya tambahan pipa utama yang menuju kelantai
selanjutnya (Lantai 1 & 2) sehingga dalam tahapan pelaksanaan selanjutnya tidak mengalami
kesulitan dalam penyambungan.

1.2.2

Persyaratan Bahan dan Peralatan

1.2.2.1

Pipa dan Fitting,

a. Untuk sistem pemipaan tegak, Pipa dan fitting yang digunakan dalam sistem pemipaan ini harus
dari jenis PVC dan berasal dari satu merk serta mengikuti SII 1246-85 , SII 1448-85 dan JIS.
b. Fitting dapat juga dari merk lain selama ada jaminan dari pabrik pembuat pipa bahwa pipa yang
diproduksi oleh pabrik itu menggunakan fitting standard ukuran yang diproduksi oleh pabrik lain
yang ditentukan olah pabrik pembuat pipa tersebut.
c.

1.2.2.2

Untuk hal tersebut di atas Kontraktor harus menyediakan potongan pipa dari berbagai ukuran
yang akan digunakan dan membuat contoh sambungan (mock up) antara pipa dengan pipa dan
pipa dengan fitting untuk ditunjukkan kepada DIREKSI dan mendapat persetujuan untuk
penggunaan pipa dan fitting tersebut serta memberikan jaminan purna jual untuk pipa dan fitting
tersebut.

Sambungan,

a. Untuk pipa kelas S-12.5 dengan diameter 50 mM atau lebih kecil menggunakan perekat solvent
cement.
b. Untuk pipa kelas S-16 dengan diameter lebih besar dari 50 mM menggunakan sambungan
dengan rubber-ring bell and spigot.

1.2.3

Persyaratan Pelaksanaan

1.2.3.1

Pemipaan,

a.

Semua pipa dan fitting yang dipakai dalam pekerjaan ini harus dari satu merk dan standad yang
sama.

b.

Fitting harus terbuat dari bahan yang sama dengan bahan pipa.

c.

Fitting harus dari jenis "injection moulded", sedangkan "Welded fitting" sama sekali tidak
diperkenankan untuk dipergunakan dalam sistem pemipaan.

Bab VI. Spek Tek M.3. Plumbing

VI - M.3 - 3

1.2.3.2

d.

Setiap sambungan berubah arah dibuat dengan WYE-45, TEE Sanitair atau COMBINATION
WYE-45 atau LONG RADIUS BEND dengan clean out dan untuk luar bangunan harus
dilengkapi dengan bak control.

e.

Pipa vent service harus dipasang tidak kurang 15 cM di atas muka banjir alat sanitair tertinggi
dan dibuat dengan kemiringan minimum sebesar 1%.

f.

Kemiringan pipa dibuat sesuai dengan yang dinyatakan dalam gambar dan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

g.

Pipa vent yang menembus atap harus dipasang sekurang-kurangnya 15 cM di atas atap dan
tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.

h.

Untuk pipa vent mendatar, jarak tumpuan sama dengan jarak tumpuan pada pipa air kotor.

i.

Dalam pemasangan jaringan pemipaan ini, harus diadakan koordinasi dengan pekerjaanpekerjaan struktur mengingat adanya penembusan-penembusan betonan lantai maupun
dinding.

j.

Pemasangan dan penempatan pipa-pipa ini disesuaikan dengan gambar pelaksanaan dan
dimensi dari masing-masing pipa tercakup pula dalam gambar tersebut.

k.

Di setiap floor drain dilengkapi dengan U Trap, untuk mencegah masuknya gas yang berbau
kedalam ruangan.

l.

Pada saluran buangan dari prepation area dapur, sebelum masuk ke inlet, sistem permipaan air
kotor bangunan, harus dipasang penyaring kotoran dari bahan stainless steel untuk mencegah
penyumbatan di dalam pipa.

m.

Pada jalur perpipaan air kotor yang mengandung lemak dipasang clean out di setiap belokan
dan pada pipa vertikal utama (di setiap pintu shaft).

n.

Persyaratan material (kelas, standard dan lainnya), ketentuan cara pemasangan seperti
diuraikan pada bab sebelumnya.

Pengujian Sistem,

a.

Semua lubang pada pipa pembuangan ditutup.

b.

Seluruh sistem pemipaan diisi air sampai ke lubang vent tertinggi.

c.

Pengujian dinyatakan berhasil dan selesai bila tidak terjadi penurunan muka-air setelah lewat 6
(enam) jam dan atas sepe-ngetahuan/persetujuan DIREKSI.

Bab VI. Spek Tek M.3. Plumbing

VI - M.3 - 4