Anda di halaman 1dari 27

Santa

Senin, 15 Desember 2014

Semuanya diawali dengan imajinasi dan keinginan bergembira.


Santo Nikolas pun jadi Sinterklas dan jadi Santa Klaus. Nun di benua yang dingin, legenda
tentang seorang suci di abad ke-4 berkembang jadi tradisi yang tak jelas lagi asal-usul dan
unsur-unsurnya. Ada bekas kepercayaan orang Jerman sebelum Kristen tentang Dewa Odin,
tapi ada juga gambaran yang dibentuk lewat sebuah sajak yang tersiar di abad ke-19 dan
kemudian diperkuat sebuah iklan Coca-Cola.
Ia makhluk asing yang tak disebutkan Injil. Ia produk Eropa yang dirakit di Amerika.
"Ia tampak seperti seorang penjaja yang membuka kantong dagangannya," demikian ia
dideskripsikan dalam sajak yang ditulis Clement Moore menjelang Natal 1822. "Pipinya
merona seperti mawar, hidungnya seperti sebutir buah ceri, mulut kecilnya yang lucu
melengkung seperti busur, dan perutnya kecil bulat, terguncang-guncang bila ia tertawa."
Moore sebenarnya bukan seorang penyair; ia guru besar theologi di sebuah sekolah tinggi
Kristen di New York. Sajak itu ditulisnya untuk dibaca di lingkungan keluarganya sendiri di
malam Natal. Tak disangkanya profil manusia ajaib yang dikhayalkannya itu (yang ketika itu
masih disebut "St. Nicholas") kemudian menyebar dan merasuk ke dalam hidup orang
Amerika.
Mungkin di negeri Protestan itu tersirat niat untuk menampilkan seorang santo yang lain dari
yang diproyeksikan Gereja Katolik: orang "suci" ala Amerika ini gembil dan gendut.
Mungkin ada sebab lain: St. Nicholas jadi Santa Klaus yang kocak, ramah, dan pemurah
karena orang-orang--dimulai di Belanda--menghendaki sejenak kegembiraan. Mereka tak
ingin terus-menerus takluk dipelototi para rohaniwan Calvinis yang mengharamkan sukacita
lahiriah.
Atau mungkin sebab lain: di New York pada dua dasawarsa pertama abad ke-19 itu, ketika
kapitalisme tumbuh dan bank-bank besar mulai didirikan, ada kebutuhan membuat keajaiban
akrab kembali. Maka berkembanglah imajinasi tentang seseorang yang datang malam-malam
dari negeri misteri dan masuk ke rumah diam-diam melalui cerobong asap. Ia tak
menakutkan. Sekilas tampak sebagai seorang penjaja, ia sebenarnya tak berjualan apa-apa; ia
malah membagi-bagikan mainan gratis.
Tapi jika "adat" itu dianggap sebagai subversi terhadap masyarakat yang dikuasai jual-beli,
"perlawanan" itu tak bisa bertahan. Dengan segera kapitalisme menangkap dan menyulap
tokoh dongeng ini.
Konon kostumnya yang merah-putih itu berasal dari penampilannya dalam serangkaian iklan
Coca-Cola tahun 1940-an--meskipun sebenarnya Santa sudah tampil seperti itu dalam

ilustrasi yang dibikin Norman Rockwell di sampul majalah The Country Gentlemen pada
1921. Bagaimanapun, modal dan media massa mencetaknya dengan sebuah identitas yang
diulang-ulang. Ia dibuat agar mudah dikenali dan diingat sebagaimana lazimnya komoditas.
Tanpa kejutan, tanpa ketakjuban.
Dan dengan energi baru Santa Klaus pun menembus pusat-pusat belanja. Ia bagian dari
sekularisasi Natal, ketika saat yang disebut dengan syahdu dalam lagu "Malam Sunyi" itu
ditarik keluar dari ruang yang takzim dan jadi bagian pasar yang meriah. Natal dan keKristen-an berpisah. Di Jepang yang tak percaya Yesus, misalnya, ketika orang bersuka ria
dengan pesta bounenkai (mari-lupakan-ini-tahun) di ujung Desember, satu acara Natal yang
menarik dibuat di Roppongi: "Sexy Santa Party".
Orang-orang Kristen yang alim akan merengut, tentu, melihat hura-hura Santa macam itu-yang makin menegaskan pemisahan Natal dari iman. Tapi umumnya kita lupa, orang
Protestan sendiri pernah mengharamkan Natal. Ketika mereka menguasai Inggris, pada 1647,
Parlemen menyatakan Natal sebagai "festival kepausan", papal festival, yang tak berdasarkan
Alkitab. Di Boston, Amerika, perayaan Natal dilarang selama 20 tahun sejak 1659. Baru di
pertengahan abad ke-19 orang Boston terbiasa bilang Merry Christmas. Kini di kota itu
bahkan bisa dibaca iklan "Santa Claus for Hire", menawarkan tenaga-tenaga yang bisa
memerankan Santa Klaus buat pesta.
Santa yang disewakan, yang bisa dipertukarkan, dengan segera jadi Santa yang muncul di
segala sudut dunia seperti McDonald's dan Starbucks. Di abad ke-19 Thomas Nast
menggambar sosoknya di majalah Harper's Weekly dengan wajah orang pedalaman yang
kasar: ia dikesankan sebagai penghuni Kutub Utara yang belum dijinakkan peradaban. Kini ia
lebih necis dan borjuis, bergerak tanpa paspor tanpa visa.
Mungkin sebab itu pemerintah Kanada membuat satu kampanye jenaka: Desember 2008,
Santa Klaus diberi status warga negara. Kata menteri urusan kewarganegaraan, Santa "berhak
kembali ke Kanada setelah perjalanannya melanglang dunia selesai".
Apa salahnya jenaka? Santa toh bagian kegembiraan (dan barang dagangan) yang tak perlu
pikiran mendalam.

Goenawan Mohamad

Mati
Sabtu, 13 Desember 2014
Putu Setia

Mati adalah hak prerogatif Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu kapan waktu itu tiba. Kalau
begitu, kenapa ada manusia yang bisa merencanakan kematian seseorang yang dibenarkan
secara hukum?
"Kamu mulai memancing perdebatan yang tak habis-habisnya," kata bayanganku. "Kamu
mau mengatakan yang merencanakan kematian seseorang itu para jaksa kan? Lalu hakim
bersepakat dan presiden tidak memberikan ampunan. Lantas ada perintah penembakan dan 12
anggota Brimob mengokang senjata laras panjangnya: dorr... Berita pun menyebar, terpidana
mati sudah dieksekusi."
Sudah kuduga, bayanganku selalu mengajak berdebat, bukan aku yang memulai. Betul, aku
mempertanyakan apakah hukuman mati masih layak di bumi ini. Apakah mati itu sebuah
hukuman kalau kita berbicara konsep adanya lembaga pemasyarakatan? Bukankah lembaga
ini tempat orang bertobat, menyesali perbuatan dosanya, dan pada saatnya kembali ke
masyarakat? Bukankah Tuhan Maha Pengampun?
"Kamu sudah membawa-bawa nama Tuhan pula," sahut bayanganku. "Lihat pengedar
narkoba itu, berapa besar korban akibat ulahnya. Divonis mati pun masih tetap
mengendalikan bisnis narkobanya dari penjara. Aku mendukung Presiden Jokowi yang
menolak grasi 64 terpidana mati narkoba. Juga para pembunuh kejam di negeri ini, termasuk
teroris yang dengan enteng membunuh orang lewat aksi bomnya."
"Bagaimana kalau ternyata ada kesalahan dalam proses hukum atau ada unsur suap dan
rekayasa lain. Orang mati tak bisa dihidupkan lagi," kataku.
"Karena itu, ada proses, tidak ujuk-ujuk. Ada pengadilan tingkat pertama, ada banding, ada
kasasi, ada peninjauan kembali yang bisa diulang kalau ada novum baru, ada permohonan
grasi. Dalam proses yang panjang itu, kesalahan bisa nihil."
Ah, bayanganku ini ngeyel. Mending setelah proses panjang itu final, terpidana langsung
dieksekusi. Penundaan kelewat panjang tanpa ada lagi proses hukum justru mengabaikan hak
asasi terpidana dan seolah dapat dua hukuman dalam satu kasus. Contoh Ibu Sumiarsih dan
anak kandungnya, Sugeng. Masih ingat cerita ini? Lima anggota keluarga Sumiarsih, suami
dan dua anaknya, plus satu menantu, membantai keluarga Letkol Marinir Purwanto di
Surabaya. Yang dibantai pun lima pula, Purwanto dan istri, dua anaknya, dan satu keponakan.
Itu terjadi pada 23 Agustus 1988. Pengadilan Surabaya menjatuhkan hukuman mati kepada
lima anggota keluarga Sumiarsih. Djais Adi Prayitno, suami Sumiarsih, meninggal di penjara
karena sakit. Lainnya dieksekusi dengan segera. Tetapi Sumiarsih dan Sugeng baru ditembak
mati pada 18 Juli 2008.

Apakah kau merasakan penantian yang tak kunjung jelas itu hampir 20 tahun? Selama itu
Sumiarsih bertobat dan mohon pengampunan dan dia telah menjadi "anggota masyarakat" di
dalam dua lembaga pemasyarakatan: Malang dan Surabaya. Tiba-tiba ada keputusan untuk
didor. Rumor menyebutkan, Sumiarsih dan Sugeng didor karena ada protes dari pihak
Amrozy, terpidana mati Bom Bali. Kenapa Amrozy harus dieksekusi, padahal ada terpidana
mati jauh sebelumnya yang masih tenang di penjara.
"Aku tak mau dengar rumor itu," kata bayanganku. "Aku berdiri di pihak korban. Masih
lumayan Sumiarsih diberi hidup 20 tahun agar bisa memohon pengampunan, tapi apakah itu
bisa menghidupkan lima anggota keluarga Marinir yang dibunuh dengan keji?"
"Ini balas dendam, ini bukan konsep lembaga pemasyarakatan," aku menjawab cepat.
Bayanganku juga menimpali cepat, "Kalau tak mau dibalas dengan dendam, jangan memulai
sesuatu yang menimbulkan dendam. Dendam ada kalanya memberi efek jera."
Aku diam. Ini contoh debat kusir yang tak berujung.

Menekan Segmen Pasar Oplosan


Senin, 15 Desember 2014
Flo. K. Sapto W, Praktisi Pemasaran

Selama 36 tahun setelah perang saudara di padang Kurusetra, Kresna kembali memegang
takhta kerajaan Dwarawati. Saat itu, zaman sudah memasuki kaliyuga (kegelapan). Rakyat
terpuruk dalam hedonisme. Sebagian gemar menimbun harta dan berpesta. Aparatur kerajaan
memiliki hobi melakukan korupsi. Anak mudanya terbiasa menenggak minuman keras
sampai mabuk. Syahdan Samba, putra Kresna, bahkan sempat dikutuk oleh seorang
brahmana.
Satyaki, sepupu Kresna, yang sedang berpesta minuman keras di pantai, terlibat cekcok
dengan Kertawarma. Cekcok berlanjut dengan perkelahian antara dua kelompok besar di
Kerajaan Dwarawati. Masing-masing menggunakan ilalang yang tumbuh di pinggir pantai
sebagai senjata. Konon ilalang ini merupakan tumbuhan yang berasal dari serbuk abu gada
besi yang keluar dari perut Samba. Anehnya, ilalang itu berubah menjadi setajam pedang.
Bentrokan tersebut menewaskan hampir seluruh rakyat Dwarawati.
Bima dalam lakon Bale Sigala-gala menolak minuman keras yang disodorkan para
Korawa. Penolakannya ini mungkin karena pernah terperdaya sebelumnya oleh Duryudana.
Kala itu, Bima dalam keadaan mabuk dimasukkan ke dalam sumur Jalatunda yang penuh
dengan ular berbisa. Kini, Bima tidak mau tertipu lagi. Sikapnya yang menolak mabuk
akhirnya menyelamatkan keluarga Pandawa dari kebakaran.
Ilustrasi di atas adalah gambaran dampak lebih jauh yang di minuman keras. Relevan saat
dikaitkan dengan tewasnya 27 orang dari 100 orang korban miras oplosan di Garut, 2 orang
di Sukabumi, dan 1 orang di Yogyakarta (Koran Tempo, 11/12/14).
Bagaimana sebaiknya minuman keras oplosan ini ditanggulangi? Faktanya, sebagian
masyarakat kita memiliki sebuah kebutuhan akan produk oplosan.
Abraham Maslow memaparkan lima hierarki kebutuhan yang ada dalam setiap individu
(Robbins, 2005), yaitu physiological (sandang, pangan, papan, seks); safety (fisik dan psikis);
social (dihargai, diterima, persahabatan); esteem (status sosial, dikenal, pencapaian); dan selfactualization (kepenuhan pribadi, pencapaian potensi diri).
Kelima kebutuhan dasar manusiawi itu secara umum terwujud dalam kebutuhan akan
pekerjaan yang layak dan ketersediaan ruang untuk aktualisasi. Kedua hal itu akan mandek
jika pemerintah dan masyarakat tidak saling berbagi dan menyediakan diri satu sama lain.

Salah satu hal yang terlihat ironis adalah ketika lapangan pekerjaan yang layak tidak cukup
tersedia dan sejumlah ekspresi budaya serta ruang publik (pentas musik, kesenian daerah,
ritual kepercayaan, taman kota, dan lapangan) dibubarkan secara paksa atau digusur,
sementara yang tersaji secara murah-meriah adalah produk oplosan. Maka segala bentuk
pelampiasan atau pelepasan yang berbiaya murah akan diambil oleh golongan masyarakat ini.
Meski regulasi distribusi yang super protektif sarat akan ancaman sweeping.
Sudah tentu solusi strategis bagi situasi ini adalah peningkatan daya beli masyarakat yang
masuk segmen konsumen oplosan. Bukan sekadar ancaman pemecatan pejabat struktural di
daerah ataupun penyitaan dan larangan ketat yang hampir pasti temporer. Jika taraf
kehidupan yang lebih baik sudah terkondisi, segmen pasar oplosan akan tereduksi dengan
sendirinya. Selebihnya adalah pilihan. Toh, Samba, Satyaki, dan Kertawarma, yang notabene
keluarga ningrat atau kelas masyarakat atas, tetap binasa juga karena miras.

Laporan dari Omah Munir


Senin, 15 Desember 2014
Seno Gumira Ajidarma, Wartawan panajournal.com

Seminggu lalu, Senin, 8 Desember 2014, saya berada di Omah Munir, di Kota Batu, Malang,
Jawa Timur. Itulah tanggal kelahiran Munir Said Thalib, yang jika tidak meninggal akibat
konsentrasi Arsenik 3 sebanyak 0,460 miligram per liter yang menyebabkan blokade reaksi
detoksifikasi, Selasa 7 September 2004 di udara, dalam pesawat Garuda, 40 ribu kaki di atas
tanah Rumania, tentu kini berusia 49 tahun.
Tertera pada poster pameran instalasi fotografi Fanny Octavianus dan Yaya Sung yang
dibuka siang itu tulisan, "49-39 = 10 th Menolak Lupa". Sementara "jalan 39" merupakan
usianya pada akhir hayat, sudah 10 tahun orang tidak lupa bahwa Munir dibunuh. Jadi bukan
hanya meninggalnya Munir yang tak hilang dari ingatan, tapi juga kecenderungan untuk
melupakannya sebagai trauma yang tidak ingin diingat ataupun sebagai sikap menghindari
tanggung jawab.
Sebagai kurator pameran, mengapa saya memilih kata "menolak", bukan "melawan" yang
nyaris menjadi baku dalam seruan "melawan lupa"? Sebab, meski "melawan" mungkin lebih
heroik, dalam cara berpikir dialektik kata itu merupakan antitesis yang belum ketahuan
sintesisnya, sedangkan "menolak" adalah sintesis definitif sebagai kelanjutan tindak melawan
itu.
Sementara dengan kata "melawan" penyandangnya terposisikan sebagai kelompok marginal,
yang melawan proyek pembiaran (baca: kesengajaan untuk melupakan) dari kelompok
dominan, kata "menolak" merupakan sintesis definitif yang penyandangnya boleh dianggap
terposisikan sebagai kelompok dominan, sehingga siapa pun yang berpura-pura
melupakannya bolehlah diandaikan sebagai "yang lain"--yang tentu saja tidak perlu
berkonotasi tertindas, kasihan, eksotik, atau heroik, melainkan apa pun yang berkonotasi
negatif, sebagai makhluk yang tidak layak mendapat simpati karena kesengajaannya yang
tidak termaafkan.
"Menolak lupa" menjadi ukuran, standar, patokan, dan akal sehat, wacana dominan dan absah
dalam klaim atas normalitas--yang normal adalah yang menolak lupa, yang abnormal adalah
yang lupa--ketika menganggap terbunuhnya Munir, jika bukan "baik dan benar" (menurut
para pelakunya), setidaknya "bukan urusan saya" (menurut publik apatis produk Orde Baru).
Namun catatan ini belum menjadi laporan jika tidak saya sampaikan bahwa pada hari itu
secara formal dan resmi, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberi

penghargaan kepada almarhum Munir. Mengingat pada 29 November sebelumnya


Pollycarpus Budihari Prijanto, yang telah dinyatakan bersalah, dibebaskan bersyarat dan
menimbulkan gelombang reaksi pernyataan "melukai rasa keadilan", penghargaan Komnas
HAM dapat terbaca sebagai manuver pada saat yang tepat.
Sebetulnya, istri almarhum Munir, Suciwati diminta datang ke Yogya untuk menerima
penghargaan tersebut pada Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada 10 Desember, yang juga
diberikan kepada almarhumah Maria Ulfah Soebadio, sebagai orang pertama yang
memasukkan "ayat-ayat HAM" dalam perundang-undangan, tapi Suciwati tidak bersedia.
"Udah sebel ya?" Tanya saya ketika cari jajanan sore-sore sebelum kembali ke Jakarta.
"Wah, udah enggak sebel lagi Mas, saya udah sampai pada tahap, tahap. apa ya."
Saya tidak ingat apakah kemudian Suciwati menemukan suatu kata yang bisa menerjemahkan
pendapat ataupun suasana hatinya. Tapi menurut saya sangat penting untuk
menggarisbawahi: tidak terlalu mudah dalam posisi Suciwati untuk menerima, bukan sekadar
terdakwa kasus pembunuhan Munir yang bisa dibebaskan bersyarat "sesuai dengan
prosedur", tapi juga bahwa otak pembunuhan Munir belum terungkap. Tepatnya, belum
terungkap secara hukum.
"Apakah Mbak Uci itu tidak terlalu keras ya, Mas?" seorang aktivis bertanya tentang sikap
Suciwati, bukan kepada Komnas HAM, melainkan sikapnya secara umum atas keterbunuhan
Munir yang telah menjadi komoditas politik.
"Mbak Uci itu istrinya Munir," kata saya, "apalagi yang bisa diharapkan dari seorang istri
yang suaminya dibunuh?"
Hari itu adalah kali pertama saya berada di Omah Munir karena proses kurasi kami lakukan
di Jakarta. Setelah cukup berjarak, dapatlah saya tangkap, di balik kekerasan sikapnya
(bertemu dengan presiden pun tidak mau jika tidak ada langkah yang berarti) sebetulnya
Suciwati melakukan aktivisme dengan apa yang disebut soft power.
Sebagai museum yang sangat kecil, Omah Munir ternyata amat sangat penting karena
merupakan satu-satunya museum di Indonesia yang mengabdi kepada penyadaran hak asasi
manusia. Bukan otak pembunuhan Munir lagi, entah siapa dia, yang menjadi "musuh"
Suciwati, melainkan anasir-anasir kejahatan sebagai potensi manusia yang membutuhkan
tidak sembarang konsistensi untuk melawannya.

Jokowi, dan Bangsa yang Pemurah


Selasa, 16 Desember 2014
Agus Sudibyo, Direktur Eksekutif Matriks Indonesia, Redpel Jurnal Prisma

Tahun 2014 adalah tahun politik. Bangsa Indonesia menyelenggarakan hajat besar pemilihan
umum legislatif dan pemilihan presiden. Dari segi penyelenggaraan, ini adalah pemilu yang
paling heboh dan penuh konflik. Begitu keras pertentangan politik diametral yang terjadi,
begitu kasar kampanye negatif yang dilakukan, begitu masif politik uang yang dipraktekkan,
serta begitu kasar pelanggaran dan kecurangan yang dilakukan para tim sukses. Kontroversi,
silang pendapat, dan perang opini terus terjadi sejak awal tahun, bahkan hingga saat ini ketika
pemilu telah selesai jauh-jauh hari.
Hiruk-pikuk politik itu tampaknya membuat masyarakat lelah. Masyarakat jenuh dengan
situasi politik yang terus memanas. Masyarakat juga jengah dengan semua bentuk omong
kosong para politikus. Masyarakat ingin segera beranjak ke normalitas keadaan, kembali ke
pekerjaan dan kehidupan masing-masing. Masyarakat berpikir, hiruk-pikuk politik
seharusnya hanya terjadi lima tahun sekali, selebihnya biarkanlah roda kehidupan sosialekonomi berputar secara alamiah, normal, tanpa direcoki gejolak pada aras kehidupan
politik.
Inilah salah satu penjelasan mengapa respons masyarakat terhadap keputusan pemerintah
menaikkan harga BBM terkesan biasa-biasa saja. Tidak ada kehebohan seperti yang
dibayangkan, tidak terjadi drama protes sosial sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Yang
ada hanyalah demonstrasi-demonstrasi yang bersifat sporadis.
Sebagian pengamat menyatakan respons masyarakat yang biasa-biasa itu ada karena
popularitas Presiden Jokowi yang masih tinggi. Tapi benarkah masyarakat sedemikian fanatik
terhadap presidennya sehingga keputusan yang jelas-jelas memberatkan kehidupan
masyarakat pun diterima tanpa keberatan berarti? Bisa jadi benar kenaikan harga BBM sulit
dihindari oleh pemerintah. Namun kenaikan harga sekitar Rp 2.000 itu jelas menyusahkan
rakyat banyak. Menurut saya, mayoritas bangsa Indonesia kecewa atas kenaikan harga BBM,
dan menyesal mengapa Presiden Jokowi tidak mengambil langkah lain.
Namun sebagaimana telah dijelaskan, bangsa Indonesia sudah capek dengan hiruk-pikuk
politik. Masyarakat tidak menginginkan gonjang-ganjing politik yang ujung-ujungnya hanya
dimanfaatkan oleh para politikus untuk maksud-maksud partikular, tanpa menghasilkan
solusi yang sungguh-sungguh menguntungkan masyarakat. Mungkin kedengarannya seperti
fatalis. Namun masyarakat Indonesia sudah menganggap kenaikan gradual harga-harga
kebutuhan bahan pokok sebagai suatu keniscayaan yang akan terjadi terus-menerus. Mereka

umumnya menganggap kenaikan biaya hidup sebagai suatu rutinitas tahunan, sebagai suatu
normalitas, yang tidak pernah sungguh dipersoalkan apa penyebabnya.
Di perdesaan pulau Jawa, masyarakat sudah terbiasa menyebut uang sejuta rupiah dengan
sebutan "sewu" yang artinya adalah seribu rupiah. Realitas ini secara simbolis menunjukkan
kenaikan gradual harga-harga kebutuhan pokok dan biaya hidup sampai kepada keadaan yang
sangat ekstrem: uang sejuta rupiah sama nilainya dengan uang seribu perak. Masyarakat
umumnya menerima keadaan ini sebagai konsekuensi "perubahan zaman" dan jarang sekali
sungguh-sungguh mempersoalkannya secara politis. Sepertinya masyarakat sadar bahwa
negara memang selalu hadir ketika membutuhkan rakyatnya, ketika menuntut ketaatan
warganya, namun sebaliknya, negara sering absen ketika benar-benar dibutuhkan rakyatnya.
Presiden Jokowi patut merasa beruntung hidup di dalam masyarakat yang pemurah dan
mudah menerima keadaan. Masyarakat yang tidak banyak menuntut para pemimpinnya.
Masyarakat yang terbiasa menyelesaikan sendiri kesulitan hidupnya, tanpa banyak menunggu
uluran tangan pemerintah, masyarakat yang bahkan mungkin masih memendam trauma
berhadap-hadapan dengan birokrasi. Presiden Jokowi juga patut berterima kasih kepada
masyarakat Indonesia. Andai saja muncul reaksi penolakan keras dari akar rumput atas
keputusan menaikkan harga itu, kesulitan Presiden Jokowi niscaya berlipat-lipat. Tuntutan
interpelasi menemukan sumbu ledaknya.
Sejarawan menyatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf. Bangsa yang mudah
memaafkan kesalahan atau kelemahan para pemimpinnya. Celakanya, makna "pemaaf" di
sini begitu dekat dengan makna pelupa. Masyarakat lupa Presiden Jokowi pada masa lalu
juga pernah menolak ide kenaikan harga BBM. Masyarakat juga lupa PDIP dan Megawati
paling galak dalam menolak rencana pemerintah SBY mencabut subsidi BBM suatu ketika.
Jika saja ingat akan hal itu, masyarakat mungkin tetap memaklumi kenaikan harga BBM,
namun menyayangkan sikap inkonsisten para pemimpinnya.
Selanjutnya, bagaimana Presiden Jokowi akan membalas kemurahan hati bangsa Indonesia
itu? Presiden Jokowi harus membuktikan tekad memberantas mafia migas bukan sekadar
retorika yang akan layu-sebelum-berkembang. Presiden Jokowi juga harus membuktikan,
pemerintahannya lebih baik dalam mewujudkan kedaulatan rakyat atas pengelolaan energi
dan sumber daya alam di Indonesia. *

Indonesia dalam Teh


SELASA, 16 DESEMBER 2014

Priyadi, Santri di Bilik Literasi, Solo

Masyarakat Indonesia biasa menyediakan teh untuk tamunya. Di perdesaan, hal itu masih
tetap berlaku meski sang tuan rumah kadang mengatakan, "maaf, hanya ada teh" (Koran
Tempo, 22 November 2009). Teh tak hanya menjadi suguhan untuk tamu, tapi kadang juga
untuk oleh-oleh saat menjenguk orang sakit. Teh menjadi "perekat solidaritas dan
perwujudan" empati masyarakat kelas bawah. Di perkotaan, hidangan teh telah mulai surut.
Kebiasaan menyajikan teh untuk tamu diganti dengan air mineral dalam gelas plastik!
Jutaan warung-warung sederhana dan PKL penjual makanan, seperti mi ayam, pecel, gadogado, bakso, dan lainnya, memasang teh sebagai menu wajib. Penjual biasa menyediakan
pelbagai varian menu untuk tehnya.
Teh tak hanya dikonsumsi oleh pejabat sekelas presiden, tapi juga rakyat jelata. Di meja
jamuan, obrolan Presiden Jokowi dan SBY adalah untuk memikirkan rakyat Indonesia. Di
meja makan dalam sebuah warung sederhana, teh menjadi teman ngobrol buruh saat
makanan sudah dilahap habis. Obrolan di warung tak jarang membincangkan para pejabat
dan nasib Indonesia. Mereka sering menjadi komentator politik. Komentar mereka sering
lebih panas daripada pengamat politik di televisi. Kita memang bisa memperkirakan bobot
obrolan, komentar, dan dampaknya dari dua kelompok tersebut (elite-jelata). Namun kita tak
bisa mengelak bahwa rakyat dan pejabat bisa saling mencoba mengerti dengan ditemani teh.
Populernya teh di Indonesia menjadi bisnis menggiurkan. Faktor uang membuat berhektarehektare tanah di Indonesia telah dijadikan perkebunan teh. Hingga 2013, Badan Pusat
Statistik merilis bahwa luas perkebunan teh besar dan milik rakyat terus meningkat. Teh dan
produknya pernah membawa seorang pengusaha minuman ini masuk jajaran sepuluh orang
terkaya di Indonesia. Teh juga menjadi produk ekspor Indonesia. Namun meningkatnya
penyerapan teh dalam negeri telah membuat nilai ekspor turun pada 2014. Ekspor teh selama
Januari-September turun 14,4 persen dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya
(Koran Tempo, 10 Desember 2014).
Teh yang diimpor oleh Belanda ke Indonesia pada abad XVII itu telah mempengaruhi
masyarakat Indonesia. Pengaruh dari teh juga terlihat dalam karya sastra dan koran pada abad
XX. Hella S. Haasse, penulis Belanda yang lahir di Batavia, menulis Heren van de Thee yang
mengisahkan juragan teh dan pribumi tak banyak memiliki arti dalam perannya sebagai buruh
dalam novel itu. Dalam novel tipis Oeroeg (2009), anak pribumi yang bapaknya bekerja pada
juragan teh ditampilkan sebagai bayang-bayang anak sang juragan teh yang jadi sahabatnya
ketika kecil (Wibisono, 2014).

Dalam koran Api, 30 November 1925, terdapat tulisan tentang dibeslahnya Api oleh polisi
kolonial. Bahkan, "Pembeslaghan boekan dilakoekan pada barang-barang jang
bersangkoetan dengan perkaranja sadja, tetapi satoe vorm zetsels sama sekali dibeslag.
Keperloean advertensi terbawa djoega." Koran Api menjadi tempat gagasan komunisme
disebar, dan dalam koran tersebut banyak pula terdapat iklan yang "menghidupi" koran. Lima
edisi pada November 1925 berisi iklan teh. Bunyi iklannya, "Awas! Thee tjap (gambar paluarit)." Teh cap gambar palu-arit tersebut haroem bahoenja dan enak rasanja." Palu-arit jadi
merek teh. Nah! *

Hakim (Bukan) Politikus?


RABU, 17 DESEMBER 2014

Feri Amsari, Dosen Hukum Tata Negara dan Peneliti Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO)
Fakultas Hukum Universitas Andalas

Ketua Mahkamah Konstitusi meradang ketika Refly Harun (RH) dan Todung Mulya Lubis
(TML) ditunjuk sebagai anggota Panitia Seleksi (Pansel) Hakim Konstitusi. Kedua figur
kondang itu dianggap memiliki kepentingan tersembunyi karena acap kali bersengketa di
MK.
Melalui surat protes MK Nomor 2777/HP.00.00/12/2014, Ketua MK meminta Presiden
mengganti kedua anggota Pansel tersebut. Meskipun bukan termasuk lingkup kewenangan
MK, surat tersebut telah melewati persetujuan sembilan hakim konstitusi berdasarkan Rapat
Permusyawaratan Hakim MK. Langkah itu adalah campur tangan pertama MK dalam proses
seleksi hakim konstitusi oleh DPR, Presiden, dan Mahkamah Agung.
Jika dicermati lebih dalam, surat protes itu memiliki tiga kelemahan penting. Pertama, surat
itu mempertanyakan kredibilitas anggota Pansel dalam menghasilkan figur hakim konstitusi.
Kritik MK tersebut ibarat "menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri". Jika RH dan TML
diragukan kredibilitasnya, bukankah sembilan hakim konstitusi yang ada saat ini merupakan
pilihan Pansel yang tidak terbuka? Terutama, hakim konstitusi pilihan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan MA yang dilakukan "tanpa proses seleksi". SBY dan MA
menunjuk sejumlah nama sebagai hakim konstitusi tanpa melalui proses fit and proper test,
sebagaimana yang dipilih Presiden Joko Widodo melalui Pansel kali ini. Sayangnya, MK
tidak pernah mempertanyakan langkah Presiden SBY dan MA tersebut, padahal kepentingan
Presiden dan MA dapat "menyusup" melalui seleksi tertutup itu.
Kedua, surat tersebut mempertanyakan figur RH yang pernah menuding borok pada peradilan
bertiang sembilan itu. Di kemudian hari, tudingan RH malah terbukti dengan tertangkap
tangannya Ketua MK Akil Mochtar sebagai penerima suap. Konon kabarnya, RH masih
menyimpan beberapa nama yang dianggap bermasalah. Pengalaman itulah yang membuat
sosok RH begitu dibutuhkan Pansel. Mempertanyakan keberadaan RH di Pansel memberi
kesan bahwa MK masih menyimpan "dendam masa lalu" ketika boroknya terbongkar.
Ketiga, surat tersebut mempertanyakan kepentingan anggota Pansel karena acap kali
beperkara di MK merupakan logika tidak tepat. Jika alat ukurnya adalah beperkara, bukankah
Presiden dan DPR adalah pihak yang langganan beracara di MK? UUD 1945 dan UU MK
memberikan kewenangan mengajukan hakim konstitusi kepada lembaga tersebut. Jika alat
ukurnya kepentingan beracara, kenapa MK tidak pernah gelisah dan mempertanyakan
kewenangan Presiden dan DPR mengajukan hakim konstitusi tersebut? Bukan tidak

mungkin, alasan MK mempertanyakan anggota Pansel terkesan dicari-cari untuk sebuah


kepentingan tersembunyi pula.
Ketua MK Hamdan Zulva berniat melanjutkan jabatannya yang akan habis (Kompas, 13
Desember) dengan terlebih dulu mempertimbangkan mekanisme seleksi (Kompas, 11
Desember). Pilihan Hamdan untuk melanjutkan jabatan itu tentu bertentangan dengan
mekanisme seleksi yang dipilih Presiden Jokowi.
Pola melanjutkan jabatan tersebut menyerupai yang pernah dipraktekkan DPR ketika
melanjutkan jabatan Akil Mochtar sebagai hakim konstitusi. DPR, tanpa melakukan seleksi
ulang dan mengabaikan protes publik, dengan "berani" melanjutkan begitu saja jabatan hakim
konstitusi Akil. Bukan tidak mungkin, Jokowi belajar dari kasus Akil tersebut. Dengan
dibentuknya Pansel, setidaknya "transaksi politik" yang mungkin terjadi antara Presiden dan
calon hakim konstitusi dapat dibatasi. Jika ingin figur negarawan berintegritas yang
memahami konstitusi dan hukum tata negara dapat terpilih, proses seleksi terbuka melalui
Pansel merupakan langkah yang paling tepat.
Itu sebabnya, pilihan MK mempertanyakan keanggotaan Pansel patut diduga menyimpan
agenda politik tersendiri. Dengan "menyerang" keanggotaan Pansel dan meminta pergantian
anggota, Pansel akan kehilangan waktu untuk melakukan seleksi. Padahal hakim konstitusi
harus dilantik sebelum 7 Januari 2015. Jika batas waktu itu tidak terpenuhi, bukan tidak
mungkin Presiden terpaksa memperpanjang masa jabatan hakim konstitusi Hamdan agar
tidak terjadi kekosongan jabatan.
Apabila langkah MK mengirimkan surat protes kepada Presiden itu terbukti sebagai pilihan
politik, bukan tidak mungkin telah terjadi pelanggaran Pasal 2 angka 2 Kode Etik dan
Pedoman Tingkah Laku Hakim Konstitusi (PMK Nomor 02/PMK/2003) yang meminta
hakim MK menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan menjaga wibawa selaku negarawan,
arif dan bijaksana dalam menegakkan hukum dan keadilan. Sulit bagi hakim MK
menghindari tuduhan bahwa surat protes tersebut adalah langkah kekhawatiran karena
potensi tidak terpilih kembali sebagai hakim konstitusi. Jika tuduhan itu benar, hakim MK
bukan lagi seorang negarawan yang arif dan bijaksana. Padahal hakim konstitusi bukanlah
politikus.

Kurikulum bagi Raksasa


Kamis, 18 Desember 2014
Iwan Pranoto, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di New
Delhi

Dari empat negara berpenduduk terbesar, yaitu Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan
Indonesia, negara India dan AS sama-sama tak memiliki kurikulum nasional. Bahkan, standar
CCSS (Common Core State Standards) yang baru sedang dicoba untuk diterapkan belum
disepakati untuk diterapkan di semua negara bagian. Standar CCSS ini pun sementara baru
mencakup mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris saja. Para pendidik AS berpendapat
bahwa standar CCSS ini dan, khususnya, ujiannya membuka peluang terjadinya
penyeragaman pendidikan dan anak didik. Dan, hal ini bertentangan dengan kebebasan
individu dan keberagaman yang dijuarakan sistem pendidikan AS.
Sementara itu, India benar-benar tak menetapkan standar nasional, apalagi kurikulum
nasional. Di negeri ini keanekaragaman kurikulum dan bahan ajar justru didorong dan
disokong secara eksplisit dan resmi oleh pemerintah pusat melalui dokumen Curriculum
Framework, yang dirancang oleh National Council of Educational Research and Training.
Seperti Sekolah Riverside di Ahmedabad, di negara bagian Gujarat di India, yang didirikan
oleh edukator Kiran Bir Sethi, para guru bersama kepala sekolah merancang kurikulum setiap
mata pelajaran sendiri untuk jenjang SD dan SMP. Adapun untuk jenjang SMA, sekolah ini
menggunakan kurikulum yang disesuaikan untuk sistem Cambridge. Tiap sekolah negeri pun
berhak merancang kurikulumnya sendiri. Sementara itu, setiap negara bagian memiliki
sejumlah dewan pendidikan yang masing-masing menawarkan standar. Sekolah negeri
maupun swasta di India bebas memilih mengikuti dewan pendidikan yang mana atau memilih
standar yang lain. Ujian di tingkat SMA nanti akan mengikuti standar yang sudah dipilih.
Adapun Tiongkok sampai sekarang masih terpusat menggunakan satu kurikulum nasional
untuk seluruh sekolah dasar dan menengahnya. Meski demikian, yang disebut satu kurikulum
nasional sesungguhnya telah berubah makna sekaligus "kadar"-nya sejak 1993 untuk jenjang
SD dan SMP. Yang diatur dan ditetapkan oleh pemerintah pusat untuk jenjang SD hanya
sembilan mata pelajaran wajib, yakni matematika, IPA, ilmu sosial, pendidikan politik,
bahasa Mandarin, pendidikan jasmani, musik, seni rupa, dan keterampilan perburuhan.
Sekolah juga harus memberi pelajaran bahasa asing, tapi siswa boleh memilih bahasanya.
Kemudian, untuk jenjang SMP, ada 13 mata pelajaran wajib yang ditetapkan pemerintah
pusat. Kemudian, SMA-nya menggunakan sistem kredit. Dengan sistem kredit ini, tidak saja
tiap daerah dapat memiliki kurikulum sendiri, bahkan setiap siswa dapat merencanakan
pendidikan SMA-nya sendiri.

Dengan mencermati situasi sistem pendidikan tiga negara berpenduduk besar itu,
sesungguhnya pesan yang disampaikan jelas sekali, pemaksaan kurikulum tunggal untuk
negara berpenduduk besar sungguh meragukan. Pada Abad ke-21 ini, saat nilai-nilai lokal
mengglobal, Indonesia membutuhkan banyak kurikulum yang unik di tingkat daerah.
Kebudayaan lokal yang beraneka ragam tidak boleh diseragamkan. Apalagi, faktanya
Indonesia memiliki karakter geografis kepulauan yang secara alamiah hakikatnya adalah
keanekaragam. Karena itu, proses belajar-mengajar dan, khususnya, kurikulum bagi anakanak kita di berbagai pelosok Tanah Air perlu luwes agar pendidik/sekolah dapat
mengadaptasi program belajar-mengajarnya untuk kebutuhan kecakapan anak khusus di
daerah itu. Keunikan lokal ini harus eksplisit dirumuskan dan diilustrasikan dalam desain
pembelajaran.
Ke depan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan tidak
lagi memaksakan satu kurikulum tunggal dan sebangun pada semua sekolah dari Pulau Biak
sampai Pulau Nias, dari Sungai Memberamo sampai Sungai Siak. Seperti tiga negara raksasa
sebelumnya, penduduk Indonesia luar biasa banyak dan tersebar. Sungguh pemikiran yang
kurang matang jika memaksakan satu seri buku ajar tunggal untuk semua sekolah di negara
besar ini.
Walau terganggu saat kebijakan Kurikulum 2013 dipaksakan, konsep keanekaragaman
kurikulum itu sudah digagas dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) lebih dari
satu dekade lalu. Semoga Kementerian Pendidikan baru meneruskan jiwa keanekaragaman
pendidikan di UU Sisdiknas tersebut.
Kementerian Pendidikan, khususnya Puskurbuk-Balitbang, perlu mulai mereka-cipta
kerangka kurikulum yang dapat digunakan untuk menjadi panduan yang memudahkan
sekolah dalam merumuskan kurikulum yang sesuai dengan keunikan daerah, geografis, dan
kebudayaannya. Dengan kurikulum sekolah yang relevan dengan kedaerahan dan kehidupan,
para pelajar akan meningkatkan dorongan belajar dari dalam diri. Pelajaran di sekolah
semakin terkait dengan kehidupan di lingkungannya. Hal ini akan menjauhkan citra buruk
belajar sebagai beban, bukan berkat.
Tantangan dan strategi mendidik raksasa tentu berbeda dibanding mendidik negara kecil
berpenduduk sedikit dengan lokasi geografis homogen.

Pemberantasan Korupsi dari Keluarga


Kamis, 18 Desember 2014
Asep Purnama Bahtiar, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Dalam peringatan Hari Antikorupsi Internasional 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi


(KPK) mengajak memerangi korupsi dari keluarga. Di antara agenda dalam acara peringatan
tersebut adalah pembacaan naskah proklamasi antikorupsi yang memuat tiga seruan, salah
satunya berjanji memerangi korupsi dari diri sendiri dan keluarga.
Menurut Bambang Widjojanto, korupsi kian meluas, merata, dan mendalam di seluruh aspek
dan tingkat kehidupan masyarakat di Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, keluarga dapat
menjadi salah satu alternatif untuk membangun nilai-nilai budaya dan sikap mental yang
tahan godaan dan konsisten dengan kepribadian bangsa. Dalam hal ini budaya malu bisa
mulai disemaikan dan dirawat, sehingga menjadi sistem nilai-budaya dan identitas dalam
kehidupannya, agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang korup.
Penguatan sistem nilai-budaya bagi keluarga ini sudah mendesak sekarang karena pengaruh
perubahan sosial-budaya secara global yang semakin merasuk ke dalam kehidupan keluarga,
baik di perkotaan maupun perdesaan. Sejak dekade 1990-an, ketika teknologi informasi dan
komunikasi semakin berkembang dan canggih, perubahan sosial budaya pun ikut
dipengaruhinya. Gaya hidup yang serba konsumtif dan hedonis mendorong masyarakat untuk
berbuat dan berperilaku apa saja. Dalam pusaran globalisasi seperti ini, keluarga, sebagai unit
sosial terkecil, juga terkena dampaknya.
Di samping itu, kerenggangan hubungan dalam keluarga merupakan salah satu ekses dari
perubahan gaya hidup dan sistem nilai-budaya yang lebih banyak diwarnai oleh gadget dan
peranti canggih teknologi informasi dan komunikasi lainnya. Perubahan sosial-budaya yang
kian cepat dan ekstensif telah memecah kehidupan keluarga menjadi individu-individu yang
terpisah dan terasing satu dengan yang lainnya, sehingga komunikasi dan jalinan
kekeluargaan pun tidak terbangun. Akibatnya, hubungan antar-anggota dalam keluarga
menjadi tidak akrab dan renggang, yang kemudian menyebabkan kontrol dan sikap saling
mengingatkan untuk tetap dengan nilai-nilai dan prinsip hidup yang benar tidak mudah
dilakukan.
Akibat lebih jauh dari kerenggangan hubungan dalam keluarga itu, budaya malu perlahanperlahan mulai meluntur. Walhasil, kalau ada anggota keluarga yang melakukan perbuatan
tercela, seperti korupsi, tidak dipandang sebagai kejahatan atau perbuatan yang memalukan.
Lunturnya budaya malu di masyarakat dan keluarga itu menjadi lahan subur bagi praktek
korupsi.

Keluarga merupakan ruang hidup pertama bagi anak-anak dalam berinteraksi dengan orang
lain. Karena itu, pendidikan dini secara informal juga berlangsung dalam kehidupan
keluarga--sebagai unsur dari civil society. Kebiasaan dan budaya yang berlangsung di sebuah
keluarga akan mudah diserap dan ditiru oleh anak-anak hingga membentuk kepribadian dan
wataknya. Dalam hal ini pula budaya malu dan nilai-nilai positif untuk membentuk integritas
dan kepribadian bagi anak-anak dan orang tua serta anggota keluarga lainnya dapat
diinternalisasi di dalam keluarga, sehingga mereka bisa ikut ambil peran dalam membangun
nilai-nilai budaya malu guna pemberantasan korupsi di Indonesia.

Asketisme Politikus Islam


Kamis, 18 Desember 2014
Arfanda Siregar, Pengamat Politik dan Gerakan Islam

Sungguh lucu rasanya bahwa yang menjadi pelopor hidup sederhana (asketisme) justru
berasal dari politikus partai nasionalis. Sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat presiden,
semua pejabat negara, baik menteri, pejabat setingkat menteri, maupun kepala daerah
mendadak turut menganut asketisme.
Jokowi memang bersahaja. Jauh sebelum menjadi presiden pun beliau telah memelopori
hidup sederhana. Bekas Ketua Umum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif pernah memuji
sepatu yang dipakai alumnus UGM tersebut karena berharga 50 ribu perak. Beberapa kali
beliau tertangkap kamera wartawan sedang melakukan perjalanan dengan menggunakan
pesawat ekonomi. Tak salahlah daftar "The Leading Global Thinkers of 2013"
memasukkannya sebagai tokoh Challenger atau tokoh reformis baru, berkat
kesederhanaannya.
Terlepas dari validitas penilaian tersebut, tokoh partai Islam malah menjauh dari pengamalan
salah satu ajaran Islam tersebut. Padahal, asketisme merupakan bagian dari nilai Islam yang
seharusnya melekat pada diri politikus Islam, apalagi setelah menjabat berbagai posisi
penting di pucuk kekuasaan.
Coba saja lihat, ada ketua partai memiliki mobil mewah sampai tiga, menggunakan jam
tangan Rolex berharga puluhan juta rupiah, berpakaian bak selebritas, berhobi ala para
miliuner, dan lain sebagainya. Sungguh kontras dengan nilai asketisme yang seharusnya
menjadi fatsun politik Islam. Mereka bukan tak memahami fatsun politik tersebut. Toh,
mayoritas politikus Islam berlatar belakang ilmu agama.
Mereka sangat paham bahwa zuhud berarti hidup sederhana, bersahaja, tidak berlebihan, dan
jauh dari sikap hidup berfoya-foya. Meskipun mampu untuk hidup mewah, glamor, dan
berfoya-foya, itu tidak dilakukan karena hadirnya kesadaran bahwa sebagai pejabat negara
memang mereka harus hidup sederhana dan prihatin di tengah mayoritas umat yang masih
banyak berpredikat duafa. Tidak justru sebaliknya, ketika menjadi ustad bersahaja, setelah
menjadi pejabat berfoya-foya. Persis pepatah, "lupa kacang dengan kulitnya".
Begitu banyak tokoh Islam yang zuhud dan seharusnya diteladani politikus Islam. Di kancah
internasional, ada Nabi Muhammad SAW, Umar Bin Khatab, Umar Bin Abdul Aziz, dan
Ahmadinejad yang termasyhur di mata dunia, justru karena berperilaku zuhud. Dalam sejarah
bangsa, para politikus Islam bisa mencari teladan dari sosok KH Agus Salim, M. Hatta, dan

Natsir dalam menjalani dunia politik. Menurut Agus Salim, leiden is lijden (memimpin
adalah menderita).
Fakta mengatakan bahwa hasil kontestasi politik Indonesia, partai Islam selalu kalah dari
partai nasionalis. Bahkan, sepanjang pilpres digelar, belum pernah satu pun politikus partai
Islam yang mampu menyaingi tokoh nasionalis. Politikus Islam selalu kalah pamor dibanding
politikus nasionalis.
Mengapa hal itu terjadi? Karena politikus Islam tak mau mengamalkan hidup sederhana,
asketisme, atau zuhud. Nabi Muhammad pernah berpesan, "Zuhud-lah terhadap dunia, maka
kamu dicintai Allah. Zuhud-lah terhadap apa yang dimiliki manusia, mereka akan
mencintaimu."
Ternyata wejangan tersebut malah dipraktekkan oleh tokoh nasionalis, seperti Jokowi.
Sedangkan politikus Islam malah asyik dengan gemerlap kemewahan yang justru
menjauhkannya dari hati rakyat Indonesia.

Memangkas Lembaga, Menuai Paradigma


Baru
Jum'at, 19 Desember 2014
Firoz Gaffar, Dosen Analisis Ekonomi atas Hukum

Tidak ramai diberitakan di media, Peraturan Presiden (Perpres) 176/2014 telah membabat 10
lembaga non-struktural (LNS). Konsiderans cuma menyebut singkat alasan normatifnya:
efektivitas dan efisiensi pemerintahan. Adapun perbincangan publik menyinggung topik
eliminasi tumpang-tindih fungsi organ, reduksi anggaran negara, dan optimalisasi peran
kementerian.
Berbicara tentang LNS, kita teringat reformasi dua windu yang telah lewat. Tiupan euforia
melanda birokrasi, bongkar-pasang LNS sah saja karena bukan soal ribet prosedur atau tabu
sasaran, bukan pula soal tepat fungsi atau ringan bujet. Lihat rezim Gus Dur sebagai presiden
pada awal era reformasi, betapa banyak dibentuk LNS baru, dengan ketidakpercayaan atas
kredibilitas instansi struktural sebagai pemicunya.
Ambil contoh Komisi Hukum Nasional (KHN) yang dibentuk pada 2000. Sebagai advisory
organ, tugasnya beririsan dengan Badan Pembinaan Hukum Negara (BPHN) di Kementerian
Hukum dan HAM. Selaku planning agency, nomenklaturnya bertabrakan dengan Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Tapi KHN tetap lahir, karena urgensi
penanggulangan krisis kepercayaan atas hukum tidak bisa ditaruh di pundak kementerian
terkait.
Yang ingin digagas penulis, tidakkah pemangkasan LNS ini menjadi momentum perubahan
model birokrasi? Bukankah rezim pemerintah Jokowi-JK sudah menjadikan revolusi mental
sebagai salah satu tagline-nya? Revolusi birokrasi di depan mata.
Menurut Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, ada 87 LNS yang terbentuk sejak era
Gus Dur hingga era SBY, yaitu dari 1999 sampai 2014 (Kompas, 16/12/14). Satu alasan yang
menonjol dalam pembentukannya adalah hilangnya public trust atas organ resmi. Konklusi
ini tidak keliru dan bukan hal unik di Indonesia.
Dilaporkan Alice Rivlin (1996), sejak 1970 negara anggota Organization of Economic
Cooperation Development (OECD) menghadapi tekanan fundamental berupa ekonomi
global, ketidakpuasan warga negara, dan krisis fiskal. Mereka melakukan kebijakan reaktif
serupa, yakni perubahan administrasi publik dan birokrasi, termasuk pembentukan LNS.

Kalau LNS bukan anak haram reformasi, maka apa dosanya? Tumbuh suburnya LNS, kata
Jimly Asshidiqie (2008), "bagaikan cendawan di musim hujan". Hal ini hadir didasari
idealisme efisiensi dan efektivitas, kendati sayangnya tanpa desain matang dan komprehensif.
Sifatnya reaktif, sektoral, dan dadakan. Realisasi misi birokrasi tidak bisa lagi dengan tambalsulam atau gonta-ganti LNS. Padahal, yang disyaratkan adalah revisi cara pandang atas
model birokrasi, bukan dengan kacamata konservatif secara induktif atau deduktif.
Selama ini tertanam asumsi pemerintah kegemukan, terpusat, dan rumit, yang lalu kita coba
atasi via layanan publik hemat dan cepat. Ini adalah pergulatan dalam perjalanan dari
bureaucratic model ke entrepreneural model. Ahli sejarah, Thomas Kuhn, dengan teori
paradigmanya mengklarifikasi hal ini. Paradigma ialah himpunan asumsi yang membentuk
persepsi dan menjelaskan kenyataan (Thomas Kuhn, 1970). Prosesnya dari asumsi berubah
menjadi kondisi biasa, lalu nilai baru menimbulkan anomali, terjadi krisis, melalui revolusi
bergeser menjadi kondisi baru.
Asumsi patrimonial adalah persepsi kita atas model birokrasi lama, yang berciri: pejabat
disaring berlandaskan relasi pribadi, jabatan menjadi sumber kekayaan, dan tindakan pejabat
disasar ke interest politik. Adapun fenomena baru menuntut penegakan aturan, orientasi
kualitas, dan netralitas layanan. Ini anomali, sehingga timbul krisis birokrasi, yang
membutuhkan revolusi. Di titik ini ditunggu model birokrasi baru.
David Osborne dan Ted Gaebler (1992) menawarkan birokrasi wirausaha yang didasari
fenomena nyata menghadapi anomali. Tidak asing buat kita, tapi perlu keberanian. Apa
mungkin pemerintah bisa run like business? Hal ini membutuhkan pemerintah yang
mendorong, bukan mematikan kompetisi. Pemerintah harus memberdayakan warga, di mana
kontrol dilakukan oleh komunitas sendiri; yang menilai kinerja berdasar hasil; yang
menggerakkan dengan misi, bukan regulasi; yang mengubah layanan dengan opsi, tidak
tunggal; yang menggunakan sumber daya untuk pendapatan, bukan belanja; yang
mendesentralisasi wewenang, tidak menentang partisipasi manajemen; yang mengedepankan
interest pasar, bukan birokrasi sendiri; yang melakukan katalisasi, bukan sekadar layanan
biasa.
Kalau LNS dihidupkan dalam suasana tersebut, tentu sikap kita tidak perlu reaktif, sektoral,
dan dadakan. LNS yang tidak mencerminkan model wirausaha harus tegas dicopot papan
namanya. Tapi LNS yang siap berkarakter model wirausaha mesti didukung, demi kokohnya
paradigma baru.
Jangan lupa, menjatuhkan vonis bubar atau lanjut harus diawali dengan audit kelembagaan.
Hal ini memotret kondisi fundamental LNS. Pencapaian program, pembukuan keuangan,
kerja sama pihak ketiga, dan status kepegawaian adalah sebagian aspek yang diverifikasi.
Ingat wejangan: "Mulailah, begitu mulai, separuh pekerjaan selesai" (incipe, dimidum facti
est coptum).*

Gus Dur dan Papua


Jum'at, 19 Desember 2014
Munawir Aziz, peneliti, alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM)

Desember dapat dianggap sebagai bulan Gus Dur. Dalam sebulan ini, berbagai komunitas
menyelenggarakan penghormatan untuk almarhum Abdurrahman Wahid. Gus Dur seolah
selalu hadir ketika bangsa ini sedang menghadapi masalah politik, etnis, dan agama. Kutipan
pernyataan Gus Dur menjadi ingatan publik ketika anggota DPR bertengkar di Senayan, juga
ketika kelompok minoritas etnis dan agama menjadi korban kekerasan.
Gus Dur memang telah wafat sebagai manusia, tapi ia terus hadir dalam ide, gagasan, dan
kerja kemanusiaan. Kerusuhan yang terjadi di Papua, beberapa waktu lalu, mengingatkan
publik akan Gus Dur. Ingatan tentang strategi Gus Dur dalam merawat keberagaman,
keharmonisan, dan perdamaian untuk membela kelompok minoritas akan terus hidup.
Mengingat Gus Dur, lewat insiden Papua, menandakan bangsa ini masih membutuhkan sosok
pejuang kemanusiaan yang konsisten membela hak warga minoritas.
Insiden Paniai, Papua, disebabkan oleh penembakan lima warga sipil oleh aparat TNI-Polri di
lapangan Karel Gobai, Kampung Madi, Distrik Paniai Timur, Enarotali. Menurut John Gobay
(pihak Dewan Adat Papua), lima warga tersebut awalnya ingin melakukan klarifikasi atas
penganiayaan warga oleh dua orang yang diduga aparat, pada Ahad, 7 Desember. Insiden ini
kemudian merambat menjadi kerusuhan, hingga mengakibatkan tewasnya Habakuk Degei,
Neles Gobay, Bertus Gobai, Saday Yeimo, dan Apinus Gobai. Insiden ini termaktub dalam
rilis PPB dalam rangka Hari HAM internasional, 10 Desember lalu (tempo.co, 10/12). Tentu
saja, insiden Papua selalu terkait dengan politik, mengingat silang sengkarut kepentingan
ekonomi, pertahanan, dan politik internasional di kawasan ini.
Mengingat Papua dengan mengingat Gus Dur adalah merayakan kembali perjuangan
kemanusiaan. Gus Dur telah berjasa dalam mengembalikan harga diri, harkat, dan martabat
orang Papua, yang telah lama dicengkeram oleh rezim militer. Menurut Ketua Dewan Adat
Papua, Forkorus Yoboisembut, Gus Dur telah memberi ruang bagi warga Papua dalam
konteks keindonesiaan, yang melindungi dengan hati, bukan memaksakan kehendak rezim
militer. Gus Dur menggunakan pendekatan dialogis dan menghargai HAM dalam
penyelesaian masalah-masalah di Papua, yang pada pemerintahan Orde Baru dilakukan
dengan strategi militer dan kekerasan. Gus Dur juga berjasa mengganti nama Irian Jaya
menjadi Papua, yang tidak sekadar nama, tapi juga mengandung unsur sejarah, makna, dan
landasan kebudayaan yang menghargai tradisi orang Papua. Pendekatan kebudayaan inilah
yang menjadi referensi dalam melihat Papua sebagai bagian dari kesatuan NKRI.

Pada titik ini, Presiden Jokowi perlu melihat kembali akar masalah yang terjadi di Papua.
Saya yakin presiden telah memahami peta masalah yang terjadi di bumi Cenderawasih. Tapi
pendekatan komprehensif berbasis kemanusiaan diperlukan untuk menyelesaikan konflik di
Papua. Jokowi dapat mengaji pada Gus Dur, bagaimana memperlakukan warga Papua
sebagai keluarga, menjadi bagian NKRI, bukan orang asing di negerinya sendiri.*

Jonru
JUM AT, 19 DESEMBER 2014

Agus M. Irkham, pegiat literasi

Ada berderet kejadian di ranah literasi yang berlangsung sepanjang 2014. Hal ini dimulai dari
terpilihnya Indonesia sebagai guest of honour (tamu kehormatan) Frankfurt Book Fair tahun
depan, penyelenggaraan Indonesia Book Fair yang diikuti pula oleh peserta dari luar negeri,
perayaan Hari Aksara Internasional, hingga dibubarkannya lembaga non-struktural Dewan
Buku Nasional.
Namun, dari banyak kejadian tersebut, terselip satu peristiwa yang membuat saya terusik
untuk menuliskannya di kolom ini. Hal itu adalah perang kicau (twitwar) makna Jonru
sebagai lema atau kata entri sampai berujung pada dilaporkannya Ahmad Sahal dan Rifan
Herriyadi ke kepolisian oleh Jonru, karena dinilai telah mencemarkan nama baiknya.
Bumbu menjadi menu. Naga-naganya, kalimat itu yang paling bisa saya jadikan tali untuk
mengikat gaduhnya suasana di media sosial, yang kemudian melebar ke dunia nyata tersebut.
Jonru, yang sebelumnya menjadi pegiat budaya membaca dan menulis, yang identik dengan
kedalaman dan kesunyian, bergeser menjadi aktivis media sosial yang lebih banyak
menawarkan suasana hingar tak berkesudahan.
Jumlah like di fanspage Facebook-nya sampai 400 ribu akun, dan follower di Twitter-nya
hampir 50 ribu sampai dengan Rabu kemarin. Jumlah "umat" sebanyak itu sebenarnya bisa
menjadi sebuah potensi besar untuk semakin memassifkan gerakan membaca dan menulis
yang ia lakukan. Tapi rupanya bumbu telah mengalahkan menu. Fanspage dan akun Twitternya sebagian besar, untuk tidak mengatakan seluruhnya, kini membicangkan persoalan
politik. Perkembangan literasi di Indonesia tidak lagi dibicarakan.
Esensi bergiat di ranah literasi adalah membuat orang menjadi lincah dalam memilih dan
menganalisis berbagai informasi serta mengidentifikasi, mengurai, memahami masalah, dan
menganalisisnya, yang kemudian dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan tindakan.
Kemampuan literasi memampukan luasan pengetahuan seseorang menjadi berkembang.
Fanspage dan Twitter Jonru kini justru menegasi esensi literasi. Kesanggupan menggiring
jemaahnya untuk menjadi illiteracy sangat besar. Hal itu menjadikan informasi dari dia
sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Kini, saya tidak pernah mendengar lagi kabar pelatihan menulis online-nya. Padahal, di
Indonesia, dalam hal sekolah menulis online ini, Jonru menjadi salah satu pionirnya. Hanya,
tersiar kabar, pelatihan menulis yang baru saja ia adakan hanya diikuti oleh 10 orang. Buku

yang ditulis pun tidak lantas menjadi trend setter. Atau, paling tidak bukunya masuk dalam
kategori batas minimal bisa disebut bestseller, yaitu terjual sebanyak 15.000 eksemplar.
Entah, fakta itu apakah bisa dibaca sebagai bentuk tulah atau kutukan atas berbeloknya arah
perjuangan Jonru dari soft politics (literasi, budaya) ke hard politics (partai-kekuasaan). Tapi
yang jelas godaan hingar media sosial telah membawa Jonru "tersesat" di jalan yang ia
sendiri tidak sadari adalah keliru. Semoga saja ia masih ingat jalan pulang?