Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, taufiq dan
petunjuk-Nya kami dapat menyusun makalah swamedikasi tentang Tatalaksana Hipertensi
yang berguna untuk melengkapi tugas dan dapat digunakan untuk referensi yang
mempermudah dalam proses pembelajaran tentang swamedikasi penyakit hipertensi yang
sering di temui di masyarakat.
Makalah ini adalah hasil kerja mahasiswa yang sesuai dengan bidangnya. Akhir kata,
kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih ada kekurangan oleh
karena itu kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa-masa mendatang.

HIPERTENSI
A. DEFINISI DAN KLASIFIKASI HIPERTENSI
Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah terhadap pembuluh
darah. Tekanan darah dipengaruhi volume darah dan elastisitas pembuluh darah.
Peningkatan tekanan darah disebabkan peningkatan volume darah atau elastisitas
pembuluh darah. Sebaliknya, penurunan volume darah akan menurunkan tekanan darah
(Ronny et al, 2010)
Tabel 2.1. Definisi dan Klasifikasi Tekanan Darah dari JNC-VII 2003
Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Normal

< 120

dan

< 80

Prehipertensi

120-139

atau

80-89

Derajat 1

140-159

atau

90-99

Derajat 2

160

atau

100

Hipertensi

Tabel 2.2. Defenisi dan Klasifikasi Tekanan Darah dari WHO-ISH 1999
Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Normal-Tinggi

130-139

85-89

Hipertensi Derajat 1

140-159

90-99

(ringan)

140-149

90-94

160-169

100-109

Isolated Systolic

180

110

Hypertension

140

< 90

140-149

< 90

Subgrup: borderline
Hipertensi

Derajat

(sedang)
Hipertensi Derajat 3
(berat)

Subgrup : borderline

B. PENYEBAB HIPERTENSI

Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh gangguan organ lainya.

Gangguan ginjal yaitu, glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis, penyakit


polikistik, stenosis arteria renalis, vaskulitis ginjal, dan tumor penghasil renin.

Gangguan pada sistem endokrin dintaranya seperti hiperfungsi adrenokorteks


(sindrom Cushing, aldosteronisme primer, hiperplasia adrenal kongenital, ingesti
licorice), hormon eksogen (glukokortikoid, estrogen, makanan yang mengandung
tiramin dan simpatomimetik, inhibitor monoamin oksidase), feokromositoma,
akromegali, hipotiroidisme, dan akibat kehamilan.

Gangguan pada sistem kardiovaskular seperti koarktasio aorta, poliarteritis nodosa,


peningkatan volume intravaskular, peningkatan curah jantung, dan rigiditas aorta.

Gangguan neurologik seperti psikogenik, peningkatan intrakranium, apnea tidur, dan


stres akut (Cohen, 2008).

C. FAKTOR RESIKO HIPERTENSI


Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena
interaksi faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong timbulnya
kenaikan tekanan darah tersebut adalah faktor risiko seperti diet dan asupan garam, stres,
ras, obesitas, merokok, genetis, sistem saraf simpatis, keseimbangan modulator
vasodilatasi dan vasokontriksi, serta pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan
pada sistem renin, angiotensin dan aldosteron.
-

Pasien prehipertensi beresiko mengalami peningkatan tekanan darah menjadi


hipertensi; mereka yang tekanan darahnya berkisar antara 130-139/80-89 mmHg
dalam sepanjang hidupnya akan memiliki dua kali risiko menjadi hipertensi dan
mengalami penyakit kardiovaskular daripada yang tekanan darahnya lebih rendah.

Pada orang yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik >140 mmHg
yang merupakan faktor risiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit
kardiovaskular dari pada tekanan darah diastolik. Risiko penyakit kardiovaskular
dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg, meningkat dua kali dengan tiap kenaikan
20/10 mmHg. Risiko penyakit kardiovaskular ini bersifat kontinyu, konsisten, dan
independen dari faktor risiko lainnya, serta individu berumur 55 tahun memiliki 90%
risiko untuk mengalami hipertensi (Yogiantoro, 2006).

D. KOMPLIKASI HIPERTENSI
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung
maupun tidak langsung yang bisa mengenai jantung, otak, ginjal, arteri perifer, dan mata.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat
melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak
langsung, antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor AT1 angiotensin II, stres
oksidatif, down regulation dari ekspresi nitric oxide synthase, dan lain-lain. Penelitian
lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan
besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah
akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor- (TGF-) (Yogiantoro, 2006).

Tabel 2.3. Faktor Risiko Kardiovaskular


Dapat Dimodifikasi
- Hipertensi

Tidak dapat Dimodifikasi


- Umur (pria > 55 tahun, wanita > 65

- Merokok
- Obesitas (BMI 30)

tahun)
- Riwayat keluarga dengan penyakit

- Physical Inactivity

kardiovaskular prematur (pria < 55

- Dislipidemia

tahun, wanita < 65 tahun)

- Diabetes mellitus
- Mikroalbuminemia atau GFR < 60
ml/min

E. DIAGNOSIS PEMERIKSAAN
Pemeriksaan pasien hipertensi memiliki tujuan, yaitu untuk menilai gaya hidup
dan faktor risiko kardiovaskular lainnya atau bersamaan gangguan yang mungkin
mempengaruhi prognosis dan pedoman pengobatan, untuk mengetahui penyebab tekanan
darah tinggi, untuk menilai ada atau tidaknya kerusakan target organ dan penyakit
kardiovaskular (National Institutes of Health, 2003).
Pemeriksaan pada hipertensi menurut PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskular Indonesia) (2003), terdiri atas:
1. Riwayat penyakit
a. Lama dan klasifikasi hipertensi
b. Pola hidup

c. Faktor-faktor risiko kelainan kardiovaskular (Tabel 2.3)


d. Riwayat penyakit kardiovaskular
e. Gejala-gejala yang menyertai hipertensi
f. Target organ yang rusak
g. Obat-obatan yang sedang atau pernah digunakan
2. Pemeriksaan fisik
a. Tekanan darah minimal 2 kali selang dua menit
b. Periksa tekanan darah lengan kontra lateral
c. Tinggi badan dan berat badan
d. Pemeriksaan funduskopi
e. Pemeriksaan leher, jantung, abdomen dan ekstemitas
f. Refleks saraf
3. Pemeriksaan laboratorium
a. Urinalisa
b. Darah : platelet, fibrinogen
c. Biokimia : potassium, sodium, creatinin, GDS, lipid profil, asam urat
4. Pemeriksaan tambahan
a. Foto rontgen dada
b. EKG 12 lead
c. Mikroalbuminuria
d. Ekokardiografi
Tekanan darah setiap orang sangat bervariasi. Pengukuran tunggal yang akurat adalah
awal yang baik tetapi tidak cukup: ukur tekanan darah dua kali dan ambil rata-ratanya.
Hipertensi didiagnosis jika rata-rata sekurang-kurangnya 2 pembacaan per kunjungan
diperoleh dari masing-masing 3 kali pertemuan selama 2 sampai 4 minggu diperoleh tekanan
darah sistolik 140 mmHg atau 90 mmHg untuk diastolik. Menurut JNC 7, tekanan darah
normal adalah 120/80 mmHg atau kurang. Prehipertensi bila tekanan darah 120/80 samapi
139/89 mmHg. Hipertensi stadium 1 bila tekanan darah sistolik 140 sampai 159 mmHg atau
tekanan darah diastolik 90 sampai 99 mmHg. Serta hipertensi stadium 2 bila tekanan darah
sistolik 160 mmHg atau tekanan darah diastolik 100 mmHg (Cohen, 2008).

F. PENATALAKSANAAN HIPERTENSI
1. Target Tekanan Darah
Menurut Joint National Commission (JNC) 7, rekomendasi target tekanan darah yang
harus dicapai adalah < 140/90 mmHg dan target tekanan darah untuk pasien penyakit
ginjal kronik dan diabetes adalah 130/80 mmHg. American Heart Association
(AHA) merekomendasikan target tekanan darah yang harus dicapai, yaitu 140/90
mmHg, 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit ginjal kronik, penyakit arteri
kronik atau ekuivalen penyakit arteri kronik, dan 120/80 mmHg untuk pasien
dengan gagal jantung. Sedangkan menurut National Kidney Foundation (NKF), target
tekanan darah yang harus dicapai adalah 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit
ginjal kronik dan diabetes, dan < 125/75 mmHg untuk pasien dengan > 1 g
proteinuria (Cohen, 2008).
2. Algoritme Penanganan Hipertensi
Dibawah ini algoritme penanganan hipertensi menurut JNC 7 (2003) :
Modifikasi Gaya Hidup
Tak mencapai sasaran TD (<140/90 mmHg atau <130/80
mmHg pada penderita DM atau penyakit ginjal kronik
Pilihan obat untuk terapi permulaan

TANPA FAKTOR RESIKO

Hipertensi derajat 1
(TD sistolik 140-159
mmHg atau TD diastolik
90-99 mmHg)
Umumnya diberikan
diuretik gol. Thiazide.
Bisa dipertimbangkan
pemberian penghambat
EKA, ARB, penyekat ,
antagonis Ca atau
kombinasi

Hipertensi derajat 2
(TD sistolik 160
mmHg atau TD
diastolik 100 mmHg)
Umumnya diberikan
kombinasi 2 macam
obat (biasanya diuretik
gol. Thiazide dan
penghambat EKA, atau
ARB atau penyekat ,
atau antogonis Ca

DENGAN FAKTOR RESIKO

Obat-obatan untuk
indikasi khusus.
Obat anti hiipertensi
lainnya (diuretik,
penghambat EKA,
ARB, penyekat ,
antagonis Ca) sesuai
yang diperlukan

Sasaran Tekanan Darah tak Tercapai


Optimalkan dosis atau penambahan jenis obat sampai target tekanan
darah tercapai. Pertimbangkan konsultasi dengan spesialis hipertensi

3. Modifikasi Gaya Hidup


Pelaksanaan gaya hidup yang positif mempengaruhi tekanan darah memiliki
implikasi baik untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi. Promosi kesehatan
modifikasi gaya hidup direkomendasikan untuk individu dengan pra-hipertensi dan
sebagai tambahan terhadap terapi obat pada individu hipertensi. Intervensi ini untuk
risiko penyakit jantung secara keseluruhan. Meskipun dampak intervensi gaya hidup
pada tekanan darah akan lebih terlihat pada orang dengan hipertensi, dalam percobaan
jangka pendek, penurunan berat badan dan pengurangan NaCl diet juga telah
ditunjukkan untuk mencegah perkembangan hipertensi. Pada penderita hipertensi,
bahkan jika intervensi tersebut tidak menghasilkan penurunan tekanan darah yang
cukup untuk menghindari terapi obat, jumlah obat atau dosis yang dibutuhkan untuk
mengontrol tekanan darah dapat dikurangi. Modifikasi diet yang efektif menurunkan
tekanan darah adalah mengurangi berat badan, mengurangi asupan NaCl,
meningkatkan asupan kalium, mengurangi konsumsi alkohol, dan pola diet yang sehat
secara keseluruhan (Kotchen, 2008).
Mencegah dan mengatasi obesitas sangat penting untuk menurunkan tekanan
darah dan risiko penyakit kardiovaskular. Rata-rata penurunan tekanan darah 6,3/3,1
mmHg diobseravsi setelah penurunan berat badan sebanyak 9,2 kg. Berolah raga
teratur selama 30 menit seperti berjalan, 6-7 perhari dalam seminggu, dapat
menurunkan tekanan darah. Ada variabilitas individu dalam hal sensitivitas tekanan
darah terhadap NaCl, dan variabilitas ini mungkin memiliki dasar genetik.
Berdasarkan hasil meta-analisis, menurunkan tekanan darah dengan membatasi
asupan setiap hari untuk 4,4-7,4 g NaCl (75-125 meq) menyebabkan penurunan
tekanan darah 3.7-4.9/0.9-2.9 mmHg pada hipertensi dan penurunan lebih rendah
pada orang darah normal. Konsumsi alkohol pada orang yang mengkonsumsi tiga
atau lebih minuman per hari (minuman standar berisi ~ 14 g etanol) berhubungan
dengan tekanan darah tinggi, dan penurunan konsumsi alkohol dikaitkan dengan
penurunan tekanan darah. Begitu pula dengan DASH (Dietary Approaches to Stop
Hypertension) meliputi diet kaya akan buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah
lemak efektif dalam menurunkan tekanan darah (Kotchen, 2008).

Tabel 2.4. Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan mengatasi hipertensi
Modifikasi
Diet natrium

Penurunan Berat Badan


Olahraga aerobik

Diet DASH

Membatasi konsumsi
alkohol

Rekomendasi
Membatasi diet natrium tidak
lebih dari 2400 mg/hari atau
100 meq/hari
Menjaga berat badan normal;
BMI = 18,5-24,9 kg/
Olahraga aerobik secara
teratur, bertujuan untuk
melakukan aerobik 30 menit
Latihan sehari-hari dalam
seminggu. Disarankan pasien
berjalan-jalan 1 mil per hari
di atas tingkat aktivitas saat
ini
Diet yang kaya akan buahbuahan, sayuran, dan
mengurangi jumlah lemak
jenuh dan total
Pria 2 minum per hari,
wanita 1 minum per hari

Penurunan potensial TD
sistolik
2-8 mmHg

5-20 mmHg per 10 kg


penururnan berat badan
4-9 mmHg

4-14 mmHg

2-4

Jadi, modifikasi gaya hidup merupakan upaya untuk mengurangi tekanan


darah, mencegah atau memperlambat insiden dari hipertensi, meningkatkan efikasi
obat antihipertensi, dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular (National
Institutes of Health, 2003).
4. Terapi Farmakologi
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan
oleh JNC 7 adalah:
a. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosteron Antagonist
b. Beta Blocker (BB)
c. Calcium Chanel Blocker atau Calcium antagonist (CCB)
d. Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACEI)
e. Angiotensin II Receptor Blocker atau Areceptor antagonist/blocker (ARB)

Kelas

Obat (Nama Dagang)

Diuretik Tiazide

Loop Diuretik

Diuretik
Hemat
Kalium
Aldosteron Reseptor
Bloker
Beta bloker

Beta bloker aktivitas


simpatomimetik
intrinsik
Kombinasi Alpha dan
Beta Bloker
ACEI

Angiotensin
Antagonis

CCB

Dihidropiridin

II

Non

Klorotiazide (Diuril)
Klortalidone (generik)
Hidroklorotiazide (Mikrozide, HidroDIURIL)
Polythiazide (Renese)
Indapamide (Lozol)
Metalazone (Mykrox)
Metalazone (Zaroxolyn)
Bumetanide (Bumex)
Furosemide (Lasix)
Torsemid (Demadex)
Amiloride (Midamor)
Triamterene (Dyrenium)
Eplerenone (Inspra)
Spironolakton (Aldactone)
Atenolol (Tenormin)
Betaxolol (Kerione)
Bisoprolol (Zebeta)
Metaprolol (Lopressor)
Metoprolol Extended Release (Toprol XL)
Nadolod (Corgard)
Propanolol (Inderal)
Propanolol Long acting (Inderal LA)
Timolol (Blocadren)
Acebutolol (Sectral)
Penbutolol (Levatol)
Pindolol (Generik)
Carvedilol (Coreg)
Labetolol (Normodyne, Trandate)
Benazepril (Lotensin)
Captopril (Capoten)
Enalapril (Vasotec)
Fosinopril (Monopril)
lisinopril (Prinivil, Zestril)
moexipril (Univasc)
perindopril (Aceon)
quinapril (Accupril)
ramipril (Altace)
trandolapril (Mavik)
candesartan (Atacand)
eprosartan (Teveten)
irbesartan (Avapro)
losartan (Cozaar)
olmesartan (Benicar)
telmisartan (Micardis)
valsartan (Diovan)
Diltiazem extended release
(Cardizem CD, Dilacor XR, Tiazac)

Dosis
Penggunaan
(Mg/hari)
125-500
12,5-25
12,5-50
2-4
1,25-2,5
0,5-1,0
2,5-5
0,5-2
20-80
2,5-10
5-10
50-100
50-100
25-50
25-100
5-20
2,5-10
50-100
50-100
40-120
40-160
60-180
20-40
200-800
10-40
10-40
12,5-50
200-800
10-40
25-100
5-40
10-40
10-40
7.5-30
4-8
10-80
2.5-20
1-4
8-32
400-800
150-300
25-100
20-40
20-80
80-320
180-420
120-540

Frekuensi
Penggunaan/hari
1-2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1-2
1-2
1
1
1
1
1
1-2
1
1
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
1-2
1
1
1
1
1
1
1
1
1-2
1
1-2
1
1
1-2
1
1

diltiazem extended release (Cardizem LA)


80-320
2
verapamil immediate release (Calan, Isoptin)
120-480
1-2
verapamil long acting (Calan SR, Isoptin SR)
120-360
1
verapamilCoer, Covera HS, Verelan PM)
CCB- Dihidropiridin
amlodipine (Norvasc)
2,5-10
1
felodipine (Plendil)
2,5-20
1
isradipine (Dynacirc CR)
2,5-10
2
nicardipine sustained release (Cardene SR)
60-120
2
nifedipine long-acting
30-60
1
(Adalat CC, Procardia XL)
10-40
1
nisoldipine (Sular)
Alpha 1 Bloker
doxazosin (Cardura)
1-16
1
prazosin (Minipress)
2-20
2-3
terazosin (Hytrin)
1-20
1-2
Alpha
2
agonis clonidine (Catapres)
0,1-0,8
2
sentral
dan
obat clonidine patch (Catapres-TTS)
0,1-0,3
1 Minggu
lainnya yang bekerja methyldopa (Aldomet)
250-1000
2
sentral
reserpine (generic)
0,1-0,25
1
guanfacine (Tenex)
0,5-2
1
Vasodilator
hydralazine (Apresoline)
25-100
2
Langsung
minoxidil (Loniten)
2,5-80
1-2
* Pada Beberapa pasien yang diterapi sekali sehari, efek obat antihipertensi kemungkinan berkurang ke arah
dosis interval akhir (efek sebelumnya). Tekanan darah harus diukur terlebih dahulu untuk menentukan
dosis jika pengontrolan tekanan darah target tercapai.
Sekarang telah tersedia dalam bentuk generik atau dalam proses pembuatan ke bentuk generik

Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan
target tekanan darah tercapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan
untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang
memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari. Pilihan apakah memulai
terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi tergantung pada
tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi dimulai dengan satu jenis
obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian tekanan darah belum mencapai target,
maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan dosis obat tersebut, atau berpindah ke
antihipertensif lain dengan dosis rendah. Efek samping umumnya bisa dihindari
dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun kombinasi. Sebagian besar
pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan
darah, tetapi terapi kombinasi dapat meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan
kepatuhan pasien karena jumlah obat yang harus diminum bertambah (Yogiantoro,
2006).

Tabel 2.5. Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas Utama Obat Antihipertensi Menurut ESH
(European Society of Hypertension) (2003).
Kelas Obat
Diuretika (Thiazide)

Kontraindikasi
Mutlak
Tidak Mutlak

Indikasi
Gagal jantung kongestif,
usia lanjut, isolated
systolic hypertension, ras
Afrika
Insufisiensi ginjal, gagal
jantung kongestif
Gagal jantung kongestif,
pasca infark miokardium

gout

Penyekat

Angina pektoris, pasca


infark miokardium, gagal
jantung kongestif,
kehamilan, takiaritmia

Asma, penyakit
paru obstruktif
menahun, A-V
block (derajat 2
atau 3)

Calcium Antagonist

Usia lanjut, isolated


systolic hypertension,
angina
pektoris, penyakit
pembuluh darah perifer,
aterosklerosis karotis,
kehamilan
Angina pektoris,
aterosklerotis karotis,
takikardia
supraventrikuler
Gagal jantung kongestif,
disfungsi ventrikel kiri,
pasca infark miokardium,
non-diabetik nefropati
Nefropati DM tipe 2,
mikroalbuminuria
diabetik, proteinuria,
hipertropi ventrikel kiri,
batuk karena ACEI
Hiperplasia prostat (BPH),
hiperlipidemia

Takiaritmia, gagal
jantung

Diuretika (Loop)
Diuretika (anti aldosteron)

(dihydropiridine)

Calcium Antigonist
(verapamil, diltiazem)

Pengahambat ACE

Angiotensin II receptor
antagonist (AT1-blocker)

-Blocker

Kehamilan

Gagal ginjal,
hiperkalemia
Penyakit pembuluh
darah perifer,
intoleransi glukosa,
atlit atau pasien yang
aktif secara fisik

kongestif

A-V block (derajat


2 atau 3), gagal
jantung kongestif
Kehamilan,
hiperkalemia,
stenosis arteri
renalis bilateral
Kehamilan,
hiperkalemia,
stenosis arteri
renalis bilateral
Hipotensi
ortostatis

Gagal jantung
kongestif

Tabel 2.6. Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 7


Klasifikasi
Tekanan
Darah
Normal

Prehipertensi

Hipertensi
derajat 1

Hipertensi
derajat 2

TDS
(mmHg)

TDD
(mmHg)

Perbaikan
Pola
Hidup

< 120

Dan < 80

Dianjurkan

80-89

Ya

120-139

140-159

160

90-99

100

Ya

Ya

Terapi Obat Awal


Tanpa Indikasi yang
Memaksa

Dengan Indikasi
yang Memaksa

Tidak Perlu
menggunakan obat
antihipertensi

Gunakan obat yang


spesifik dengan
indikasi (resiko).

Diuretika jenis Thiazide


untuk sebagian besar
kasus dapat
dipertimbangkan ACEI,
ARB, BB, CCB, atau
kombinasi

Gunakan obat yang


spesifik dengan
indikasi
(resiko).Kemudian
tambahkan obat
antihipertensi
(diretik, ACEi, ARB,
BB, CCB) seperti
yang dibutuhkan

Kombinasi 2 obat untuk


sebagian besar kasus
umumnya diuretika jenis
Thiazide dan ACEI atau
ARB atau BB atau CCB

Keterangan:
TDS, Tekanan Darah Sistolik; TDD, Tekanan Darah Diastolik
Kepanjangan Obat: ACEi, Angiotensin Converting Enzim Inhibitor; ARB, Angiotensin Reseptor Bloker; BB, Beta
Bloker; CCB, Calcium Chanel Bloker
* Pengobatan berdasarkan pada kategori hipertensi
Penggunaan obat kombinasi sebagai terapi awal harus digunakan secara hati-hati oleh karena hipotensi ortostatik.
Penanganan pasien hipertensi dengan gagal ginjal atau diabetes harus mencapai nilai target tekanan darah sebesar
<130/80 mmHg.

G. UPAYA PENINGKATAN KONTROL HIPERTENSI


Model perilaku menyarankan bahwa terapi yang diterapikan oleh dokter dapat
mengontrol tekanan darah pasien hanya bila pasien tersebut memiliki motivasi untuk
menjalani pengobatan dan menjalankan modifikasi gaya hidup yang baik. Motivasi
timbul ketika pasien mendapatkan pengalaman yang positif, percaya kepada dokternya.
Komunikasi yang baik akan meningkatkan hasil pengobatan; empati dapat membangun
kepercayaan dan merupakan motivator yang potensial (National Institutes of Health,
2003).

DAFTAR PUSTAKA

1. National High Blood Pressure Education Program. The sixth report of the Joint
National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure. Arch Intern Med. 1997;157:2413-46. PR
2. Pickering T. Recommendations for the use of home (self) and ambulatory blood
pressure monitoring. American Society of Hypertension Ad Hoc Panel. Am J
Hypertens. 1996;9:1-11. PR