Anda di halaman 1dari 34

Makalah Konsep Dasar Ilmu Gizi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian ilmu gizi adalah segala ilmu yang mempelajari segala sesuatu
tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata gizi berasal
dari bahasa Arab ghizda, yang berarti makanan. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan
makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia (Almatsier, 2001).
Ilmu gizi merupakan salah satu disiplin ilmu yang sudah diakui, meskipun masih
dianggap sebagai bagian dari rumpun ilmu kesehatan masyarakat. Ilmu gizi mula-mula
hanya mencakup ruang lingkup yang sangat sempit, tetapi dalam perkembangannya
melebar meliputi suatu kawasan studi yang luas (Achmad, 2010).
Karena ruang lingkupnya yang luas, bila dikaji pengertian ilmu gizi secara lebih
mendalam, ilmu gizi erat kaitannya dengan ilmu-ilmu agronomi, peternakan, ilmu
pangan, mikrobiologi, biokimia, faal, biologi molekular dan kedokteran.
Ilmu gizi mempunyai konsep dasar yang berbeda dengan disiplin ilmu yang lain.
Pengertian dari konsep dasar itu sendiri adalah merupakan suatu dasar, ide atau
bentuk dasar dari sesuatu. Konsep dasar dari ilmu gizi meliputi tentang gizi dan ilmu
gizi, zat-zat gizi apa yang biasa terkandung dalam makanan, berbagai cara pengolahan
pangan mulai dari penyediaannya, distribusi, konsumsi makanan dan penggunaannya,

bahan-bahan makanan yang biasa kita konsumsi, dan keterkaitan konsumsi makanan
dengan status gizi yang dimiliki oleh setiap orang yang berbeda-beda.
Di dalam ilmu gizi terdapat dua komponen penting yang menjadi pusat perhatian,
ialah makanan dan kesehatan tubuh. Makanan mengandung zat-zat gizi yang sangat
diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi optimalnya, zat gizi itu bisa berupa zat
gizi makro maupun mikro. Sedangkan kesehatan tubuh bisa dilihat dari status gizi yang
dibedakan menjadi gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui penjelasan dari konsep dasar ilmu gizi yang meliputi ilmu gizi,
zat gizi, makanan, pangan, bahan makanan, dan status gizi.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian ilmu gizi secara sempit dan luas dan ruang lingkupnya.
2. Mengetahui pengertian zat gizi, pembagian zat gizi dan penjelasan masing-masing zat
gizi.
3. Mengetahui pengertian makanan dan pangan.
4. Mengetahui bahan makanan dan pembaginnya secara lebih terperinci.
5. Mengetahui pembagian status gizi yaitu status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ilmu gizi (nutrition science)


Ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam
hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghizda,
yang berarti makanan. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain
dengan tubuh manusia (Almatsier, 2001).
Ilmu gizi merupakan ilmu yang relatif baru. Pengakuan pertama ilmu gizi sebagai
cabang ilmu yang berdiri sendiri terjadi pada tahun 1926, ketika mary Swartz Rose
dikukuhkan sebagai profesor Ilmu Gizi pertama di Universitas Columbia, new York,
Amerika Serikat. namun, perhatian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan makanan
sesungguhnya sudah terjadi sejak lama (Almatsier, 2001).
Ilmu gizi merupakan ilmu terapan yang mempengaruhi berbagai disiplin ilmu
dasar, seperti Biokimia, Biologi, Ilmu Hayati (Fisiologi), Ilmu Penyakit (Pathologi) dan
beberapa lagi. Jadi untuk menguasai ilmu gizi secara ahli, harus menguasai bagianbagian ilmu dasar tersebut yang relevan dengan kebutuhan ilmu gizi (Achmad, 2010).
Pada mulanya ilmu gizi merupakan bagian dari ilmu kesehatan masyarakat,
tetapi kemudian mengalami pengembangan yang sangat pesat, sehingga memisahkan
diri dan menjadi disiplin ilmu sendiri. Namun demikian, ilmu gizi masih dianggap tetap
sebagai bagian dari rumpunan ilmu kesehatan masyarakat (Achmad, 2010).
Ilmu gizi mula-mula hanya mencakup ruang lingkup yang sangat sempit, tetapi
dalam perkembangannya melebar meliputi suatu kawasan studi yang luas.
Definisi ilmu gizi mula-mula sebagai berikut: ilmu yang mempelajari nasib
makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi atau
diekskresikan sebagai zat sisa (Achmad, 2010).

Dari definisi ini dapat diperkirakan bahwa ilmu gizi berstandar kuat sekali pada
biokimia dan ilmu hayati (fisiologi). Tujuan akhir ilmu ini ialah mencapai, memperbaiki
dan

mempertahankan

kesehatan

tubuh

melalui

konsumsi

makanan.

Dalam

pelaksanaan untuk mencapai tujuan ini, dirasakan bahwa ruang lingkup studi terlalu
sempit, dan dengan perhatian yang sempit itu, sukar untuk mencapai tujuan akhir
tersebut (Achmad, 2010).
Maka ruang lingkup studi ilmu gizi diperlebar dan diberi definisi yang lebih luas,
tetapi definisi ini menjadi makin kabur. Definisi sekarang menjadi: ilmu yang
mempelajari hal ikhwal makanan, dikaitkan dengan kesehatan tubuh.
Definisi

inilah

yang

sekarang

dipergunakan

di

Indonesia.

Definisi

ini

memungkinkan bergerak lebih luas di dalam mencapai tujuan ilmu gizi yang tersebut
diatas.
Didalam ruang lingkup studi ilmu gizi terdapat dua komponen penting yang
menjadi pusat perhatian, ialah makanan dan kesehatan tubuh. Ahli gizi harus
mendalami persoalan pangan dan soal kesehatan yang berkaitan dengan keadaan
makanan tersebut, tanpa harus menjadi ahli pertanian maupun ahli kesehatan (dokter).
Namun
demikian, banyak ahli gizi yang berasal dari profesi dokter, dan sekarang
semakin bertambah jumlah ahli gizi yang berasal dari sarjana pertanian (Achmad,
2010).

1.2 Zat gizi (nutrients)

Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya,
yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan (Almatsier, 2011).
Bila dikelompokkan, ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh.
1. Memberi Energi
Zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan
protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh untuk
melakukan

kegiatan/aktivitas.

Ketiga

zat

gizi

termasuk

ikatan

organik

yang

mengandung karbon yang dapat dibakar. Ketiga zat gizi terdapat dalam jumlah paling
banyak dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat gizi
tersebut dinamakan zat pembakar.
2. Pertumbuhan dan pemeliharaan Jaringan Tubuh
Protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu,
diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan mengganti sel-sel yang
rusak. Dalam fungsi ini ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembangun.
3. Mengatur Proses Tubuh
Protein, mineral, air, dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh.
Protein mengatur keseimbangan air di dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya
memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkal organisme
yang bersifat infektif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke dalam tubuh.
Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi
normal saraf dan otot serta banyak proses lain yang terjadi di dalam tubuh termasuk
proses menua. Air diperlukan untuk melarutkan bahan-bahan di dalam tubuh, seperti di

dalam darah, cairan pencernaan, jaringan, dan mengatur suhu tubuh, peredaran darah,
pembuangan sisa-sisa/ekskresi dan lain-lain proses tubuh. Dalam fungsi mengatur
proses tubuh ini, protein, mineral, air, dan vitamin dinamakan zat pengatur (Almatsier,
2001).
Dalam melaksanakan fungsinya di dalam tubuh, zat-zat gizi saling berhubungan
erat sekali, sehingga terdapat saling ketergantungan. Gangguan atau hambatan pada
metabolisme sesuatu zat gizi akan memberikan pula gangguan atau hambatan pada
metabolisme zat gizi lainnya (Achmad, 2010).
Zat gizi berdasarkan banyaknya yang diperlukan oleh tubuh dikeolmokkan
menjadi 2, yaitu zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) dan zat gizi mikro
(vitamin, mineral, dan air).
1.2.1 Zat Gizi makro
1. Karbohidrat
Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber
energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Semua karbohidrat
berasal dari tumbuh-tumbuhan. Melalui proses fotosintesis klorofil tanaman dengan
bantuan sinar matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbon dioksida (CO 2)
berasal dari udara dan air (H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah
karbohidrat sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di
udara.
Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah
larut dalam air dan mudah diangkut keseluruh sel-sel guna penyediaan energi.

Sebagian dari gula sederhana ini kemudian mengalami polimerasi dan membentuk
polisakarida. Ada dua jenis polisakarida tumbuh-tumbuhan, yaitu pati dan non pati.
Di negara-negara sedang berkembang kurang lebih 80% energi makanan
berasal dari karbohidrat. Menurut Neraca Bahan Makanan 1990 yang dikeluarkan oleh
Badan Pusat Statistik, di Indonesia energi berasal dari karbohidrat merupakan 72%
jumlah energi rata-rata sehari yang dikonsumsi oleh penduduk. Di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, angka ini lebih rendah, yaitu rata-rata 50%.
Nilai energi karbohidrat adalah 4 kkal per gram.
Karbohidrat yang penting dalam ilmu gizi dibagi dalam 2 golongan, yaitu
karbohidrat sederhana yang terdiri dari monosakarida, disakarida, gula alkohol, dan
oligosakaradi dan karbohidrat kompleks yang terdiri dari polisakarida dan serat.
Karbohidrat mempunyai banyak fungsi, yaitu :
-

Sumber energi, fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh.

Pemberi rasa manis pada makanan, karbohidrat memberi rasa manis pada makanan,
khususnya monosakarida dan disakarida. Frukotosa adalah gula paling manis.

Penghemat protein, bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan
digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan fungsi umumnya
sebagai zat pembangun.

Pengatur metabolisme lemak, karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang


tidak sempurna.

Membantu pengeluran feses, karbohidrat membantu pengeluaran feses dengan cara


peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses.

2. Lipida

Istilah lipida meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan minyak


yang umum di kenal di dalam makanan, malam, fosfolipida, sterol, dan ikatan lain
sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh manusia. Lipida mempunyai sifat
yang sama, yaitu larut dalam pelarut nonpolar, seperti etanol, eter, kloroform, dan
benzema.
Lemak mempunyai fungsi sebagai berikut:
-

Sumber energi, lemak dan minyak merupakan sumber utama energi paling padat, yang
menghasilkan 9 kkal untuk tiap gram.

Sumber asam lemak esensial, lemak merupakan sumber asam lemak esensial asam
linoleat dan linolenat.

Alat angkut vitamin larut lemak, lemak membantu transportasi dan absorpsi vitamin
lemak yaitu A, D, E, dan K.

Menghemat protein, lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein,


sehingga protein tidak digunakan sebagai sumber energi.

Memberi rasa kenyang dan kelezatan, lemak memperlambat sekresi asam lambung dan
memperlambat pengosongan lambung, sehingga lemak memberi rasa kenyang yang
lebih lama.

Sebagai pelumas, lemak merupakan pelumas dan membantu pengeluaran sisa


pencernaan.

Memelihara suhu tubuh, lapisan lemak di bawah kulit mengisolasi tubuh dan mencegah
kehilangan panas tubuh secara cepat.

Pelindung organ tubuh, lapisan lemak menyelubungi organ-organ tubuh.

Klasifikasi yang penting dalam ilmu gizi menurut komposisi kimia dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Lipida sederhana
-

Lemak netral
Monogliserida, digliserida, dan trigliserida (ester asam lemak dengan gliserol).

Ester asam lemak dengan alkohol berbentuk molekul tinggi


Malam, ester sterol, ester nonsterol, dan ester vitamin A serta ester vitamin D.

b. Lipida majemuk (compound lipids)


-

Fosfolipid

Lipoprotein

c. Lipida turunan
-

Asam lemak

Sterol

Kolesterol dan ergosterol

Hormon steroida

Vitamin D

Garam empedu

d. Lain-lain:
-

Karotenoid dan vitamin A

Vitamin E

Vitamin K

3. Protein

Istilah protein berasal dari kata Yunani proteos, yang berarti yang utama atau
yang didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh seorang ahli kimia Belanda, Gerardus
ulder (1802-1880), karena ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling penting
dalam setiap organisme.
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separonya ada di dalam
otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan
selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon,
pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intraseluler dan sebagainya adalah protein.
Di samping itu asam amino yang berbentuk protein bertindak sebagai prekursor
sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekuk-molekul yang esensial
untuk kehidupan.
Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain,
yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. Fungsi lain dari protein
adalah sebagai berikut:
-

Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh

Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh

Mengatur keseimbangan air

Memelihara netralisasi tubuh

Pembentukan antibodi

Mengangkut zat-zat gizi

Sumber energi

Protein adalah makro molekul yang mempunyai berat molekul antara lain lima
ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino, yang
terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino terdiri atas unsur-unsur
karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen; beberapa asam amino di samping itu
mengandung unsur-unsur fosfor, besi, sulfur, iodium, dan kobalt. Unsur nitrogen adalah
unsur utama protein, karena terdapat di dalam semua protein akan tetapi tidak terdapat
di dalam karbohidrat dan lemak. Unsur nitrogen merupakan 16% dari berat protein.
Molekul protein lebih kompleks daripada karbohidrat dan lemak dalam hal berat
molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya. Berat
molekul protein bisa mencapai empat puluh juta; bandingkan dengan berat molekul
glukosa yang besarnya 180. Jenis protein sangat banyak, mungkin sampai 10 10-1012.
Ini dapat dibayangkan bila diketahui bahwa protein terdiri atas sekian kombinasi
berbagai jenis dan jumlah asam amino. Ada dua puluh jenis asam amino yang diketahui
sampai sekarang yang terdiri atas sembilan asam amino esensial (asam amino yang
tidak dapat dibuat tubuh dan harus didatangkan dari makanan) dan sebelas asam
amino nonesensial.
Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah.
Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor pada anakanak dibawah lima tahun (balita). Kekurangan protein sering ditemukan secara
bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan
marasmus. Sindroma gabungan antara dua jenis kekurangan ini dinamakan EnergiProtein

Malnutrition/EPM

atau

kurang

energi-protein/KEP

atau

kurang

protein/KKP. Sindroma ini merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia.

kalori

1.2.2 Zat Gizi Mikro


1. Vitamin
Funk dalam bukunya The Etiology of Deficiency Disease yang diterbitkan pada
tahun 1912 mengusulkan nama vitamine untuk faktor-faktor zat aktif tersebut. Vita
berarti esensial untuk untuk kehidupan, sedangkan faktor anti beri-beri yang diduga
berperan tersebut adalah suatu ikatan amine. Pada tahun 1920 istilah vitamine diganti
menjadi vitamin karena zat-zat antifaktor tersebut ternyata tidak selalu dalam bentuk
ikatan amine. Usul perubahan nama ini datang dari Drummond, yang juga mengusulkan
pemberian nomenklatur menurut abjad. Penemuan vitamin A oleh McCollum dan Davis
pada tahun 1913 menandakan era vitamin dalam penelitian gizi. Vitamin kemudian
diakui sebagai zat gizi yang esensial untuk kehidupan dan kesehatan, yang mudah
diperoleh dari susunan makanan yang bervariasi (Almatsier, 2001).
Vitamin diberi nama menurut abjad (A, B, C, D, E, dan K). Vitamin B ternyata
terdiri dari beberapa unsur vitamin. Penelitian-penelitian kemudian membedakan
vitamin dalam dua kelompok; (1) vitamin larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K) dan
(2) vitamin larut dalam air (vitamin B dan C).
a. Vitamin Larut Lemak
-

Vitamin A
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara luas,
vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan
prekursor/provitamin A karotenoid yang mempunyai aktivitas biologi sebagai retinol.
Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, dan mentega. Sumber lainnya yaitu
sayuran berwarna hijau tua dan buah-buahan yang berwana kuning-jingga, seperti

daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat,
jagung kuning, pepaya, mangga, nangka masak, dan jeruk. Gejala-gejala mata pada
defisit vitamin A disebut xeroftalmia.
-

Vitamin D
Vitamin D mencegah dan menyembuhkan riketsia, yaitu penyakit di mana tulang
tidak mampu melakukan klasifikasi. Vitamin D dapat dibentuk tubuh dengan bantuan
sinar matahari. Bila tubuh mendapat cukup sinar matahari konsumsi vitamin D melalui
makanan tidak dibutuhkan. Karena dapat disintesis di dalam tubuh, vitamin D dapat
dikatakan bukan vitamin, tapi suatu prohormon. Bila tubuh tidak mendapat cukup sinar
matahari, vitamin D perlu dipenuhi melalui makanan.
Bahan makanan yang kaya akan vitamin D ialah susu. Defisit vitamin D
memberikan penyakit rakhitis (rickets) atau disebut pula penyakit Inggris karena mulamula banyak terdapat dan dipelajari di negara Inggris.

Vitamin E
Berbagai biji-bijian merupakan sumber kaya vitamin E. Khususnya biji yang
sudah berkecambah dikenal mengandung vitamin E dalam konsentrasi tinggi.
Kekurangan vitamin E pada manusia menyebabkan hemolisis eritrosit, yang dapat
diperbaiki dengan pemberian tambahan vitamin E.

Vitamin K
Sumber utama vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau, kacang
buncis, kacang polong, kol dan brokoli. Semakin hijau daun-daunan semakin tinggi
kandungan vitamin K-nya. Bahan makanan lain yang mengandung vitamin K dalam
jumlah lebih kecil adalah susu, daging, telur, serealia, buah-buahan, dan sayuran lain.

Kekurangan vitamin K menyebabkan darah tidak dapat menggumpal, sehingga bila ada
luka atau pada operasi terjadi pendarahan.
b. Vitamin Larut Air
-

Vitamin C
Pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah
terutama yang asam, seperti jeruk, nenas, rambutan, pepaya, gandaria, dan tomat,
vitamin C juga banyak terdapat di dalam sayuran daun-daunan dan jenis kol. Defisit
vitamin C memberi gejala-gejala penyakit skorbut. Kerusakan terutama terjadi pada
jaringan rongga mulut, pembuluh darah kapiler dan jaringan tulang.

Vitamin B
Sumber utama vitamin B adalah beras dan serealia. Defisit vitamin B
menyebabkan penyakit beri-beri.

2. Air dan Cairan Tubuh


Tubuh dapat bertahan selama berminggu-minggu tanpa makanan, tapi hanya
beberapa hari tanpa air. Air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh, yaitu 5560% dari berat badan orang dewasa atau 70% dari bagian tubuh tanpa-lemak (lean
body mass). Angka ini lebih besar untuk anak-anak. Pada proses menua manusia
kehilangan air. Kandungan air bayi pada waktu lahir adalah 75% berat badan,
sedangkan pada usia tua menjadi 50%. Kehilangan ini sebagian besar berupa
kehilangan cairan ekstraselular.
Kandungan air tubuh relatif berbeda antarmanusia, bergantung pada proporsi
jaringan otot dan jaringan lemak. Tubuh yang mengandung relatif lebih banyak otot
mengandung lebih banyak air, sehingga kandungan air atlet lebih banyak daripada

nonatlet, kandungan air pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan, dan
kandungan air pada anak muda lebih banyak daripada orang tua. Sel-sel yang aktif
secara metabolik, seperti sel-sel otot dan visera (alat-alat yang terdapat dalam rongga
badan, seperti paru-paru, jantung, dan jeroan) mempunyai konsentrasi air paling tinggi,
sedangkan sel-sel jaringan tulang dan gigi paling rendah.
Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu:
-

Pelarut zat-zat gizi yang diperlukan tubuh dan mengangkut sisa metabolisme

Katalisator dalam berbagai reaksi biologi dalam sel

Pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh

Fasilitator pertumbuhan atau sebagai zat pembangun

Pengatur suhu karena kemampuan air menyalurkan panas

Peredam benturan dalam mata, jaringan saraf tulang belakang, dan dalam kantung
ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan.

3. Mineral
Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peran penting dalam
pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun fungsi tubuh
secara keseluruhan. Kalsium, fosfor, dan magnesium adalah bagian dari tulang, besi
dari hemoglobin dalam seldarah merah, dan iodium dari hormon tiroksin. Di samping itu
mineral berperang dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor
dalam aktivitas enzim-enzim. Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh
diperlukan untuk pengatur pekerjaan enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asambasa, membantu transfer ikatan-ikatan penting melalui membran sel dan pemeliharaan
kepekaan otot dan saraf terhadap rangsangan.

Mineral digolongkan ke dalam mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro
adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari antara
lain natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium dan sulfur. Fungsi dari mineral
makro berperan dalam keseimbangan cairan tubuh, untuk transmisi saraf dan kontraksi
otot, memberi bentuk (struktur) kepada tulang, dan memegang peranan khusus di
dalam tubuh.
Sedangkan mineral mikro dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari antara lain besi,
seng, iodium, selenium, flour, molibdenum, dan kobal. Jumlah mineral mikro dalam
tubuh kurang dari 15 mg. Hingga saat ini di kenal sebanyak 24 mineral yang dianggap
esensial. Jumlah ini setiap waktu bisa berubah.

2.3 Makanan
Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau
unsur-unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna
bila dimasukkan ke dalam tubuh (Almatsier, 2001).
Sejak zaman purba manusia telah menyadari pentingnya makanan untuk
kelangsungan hidup. Manusia kemudian mempunyai ide-ide yang masih kabur tentang
makanan, yang berwujud tabu, kekuatan magis, dan nilai-nilai menyembuhkan. Pada
masyarakat tertentu saat ini ide tersebut masih ada.
Pada tahun 400 sebelum Masehi, Hippocrates, Bapak Ilmu Kedokteran
mengibaratkan makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia. Anak-anak yang
sedang

bertumbuh

membutuhkan

banyak

panas.

Oleh

karena

itu,

mereka

membutuhkan banyak makan. Orang tua membutuhkan sedikit panas. Oleh sebab itu,

mereka membutuhkan lebih sedikit makanan. Ia juga mengatakan bahwa orang gemuk
kecenderungan umurnya lebih pendek daripada orang kurus. Baru pada awal abad ke16 konsep-konsep pertama ilmu faal dibicarakan.

2.4 Pangan
Pangan adalah istilah umum untuk semua bahan yang dapat dijadikan makanan
(Almatsier, 2001).
Oleh karena keterkaitan gizi dengan berbagai faktor seperti pertanian, sosial,
ekonomi dan budaya maka perbaikan gizi masyarakat dilakukan dengan pendekatan
sistem yang lazim dinamakan Sistem Pangan dan Gizi.
Suatu sistem adalah serangkaian komponen atau unsur yang saling terkait
menuju suatu tujuan yang sama. Contoh: Tubuh manusia merupakan suatu sistem
dengan komponen-komponen jaringan, organ-organ, saraf, pembuluh darah, dan
sebagainya dengan tujuan menjaga keseimbangan fungsi tubuh.
Sistem pangan dan gizi mempunyai tujuan meningkatkan dan mempertahankan
status gizi masyarakat dalam keadaan optimal. Sistem pangan dan gizi mempunyai
empat komponen, yaitu: (1) penyediaan pangan, (2) distribusi pangan, (3) konsumsi
makanan, dan (4) utilisasi makanan (Achmad, 2010).
1. Penyediaan Pangan
Upaya mencapai status gizi masyarakat yang baik atau optimal dimulai dengan
penyediaan pangan yang cukup. Penyediaan pangan yang cukup diperoleh melalui
produksi pangan dalam negeri melalui upaya pertanian dalam menghasilkan bahan
makanan pokok, lauk pauk, sayur-mayur, dan buah-buahan. Agar produksi pangan

dapat dimanfaatkan dengan setinggi-tingginya perlu diberikan perlakuan pascapanen


sebaik-baiknya. Tujuan utama perlakuan pascapanen adalah menyiapkan hasil panen
agar tahan disimpan untuk waktu jangka panjang tanpa mengalami kerusakan terlalu
banyak dan dapat dipasarkan dalam kondisi baik. Dalam kenyataan perlakuan
pascapanen pangan di Indonesia belum dapat dikatakan memuaskan. Banyak bahan
pangan terbuang mubazir karena perlakuan yang kurang baik dalam berbagai tahap
penanganan pascapanen.
Kekurangan produksi pangan, bila ada, dipenuhi melalui impor, sedangkan
terhadap kelebihan produksi dilakukan ekspor pangan. Impor dan ekspor pangan
dilakukan melalui upaya perdagangan.
2. Distribusi Pangan
Agar sampai kepada masyarakat luas dalam keadaan baik, distribusi pangan
perlu memperhatikan aspek transportasi, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, dan
pemasaran. Tujuannya adalah agar pangan yang disediakan sampai di masyarakat
secara merata, dalam keadaan baik, tidak banyak terbuang dan dengan harga yang
dapat terjangkau (Almatsier, 2001).
Kelancaran distribusi sangat tergantung pada kondisi sarana transportasi dan
perdagangan. Kita bedakan distribusi makro dari distribusi mikro bahan makanan
tersebut. Distribusi makro menyangkut perdagangan pangan di pasaran dan antar
daerah maupun antar negara, sedangkan distribusi mikro berhubungan dengan
distribusi bahan makanan tersebut di antara para anggota dalam suatu keluarga.
Distribusi makro bahan makanan sangat erat kaitannya dengan penyediaan
serta serta perdagangan pangan bagi suatu masyarakat. Mungkin suatu jenis bahan

pangan diproduksi secara melimpah di suatu daerah, tetapi karena sarana transportasi
dan dengan demikian distribusinya ke daerah konsumen lain tidak lancar, maka bahan
makanan tersebut sukar didapat di daerah konsumen. Ketidakmerataan distribusi juga
dapat terjadi pada tingkat antar keluarga di daerah produksi maupun di daerah
konsumen, karena tidak terjangkau oleh daya beli sebagian masyarakatnya. Pada
kondisi suplai pangan terbatas di pasaran, masyarakat yang mampu sering membeli
dan menimbun bahan pangan tersebut secara berlebihan, dan ini berarti mereka akan
mengambil sebagian dari jahat yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat
lainnya yang kurang mampu. Akibatnya ialah tidak meratanya distribusi bahan makanan
tersebut. Keadaan ini terjadi di Indonesia pada tahun delapan puluhan (Achmad, 2010).
3. Konsumsi Makanan
Konsumsi makanan oleh masyarakat atau oleh keluarga bergantung pada jumlah
dan jenis pangan yang dibeli, pemasakan. Distribusi dalam keluarga, dan kebiasaan
makan secara perorangan. Hal ini bergantung pula pada pendapatan, agama, adat
kebiasaan, dan pendidikan masyarakat bersangkutan.
4. Utilisasi atau Penggunaan Makanan
Penggunaan makanan oleh tubuh bergantung pada pencernaan dan penyerapan
serta metabolisme zat gizi. Hal ini bergantung pada kebersihan lingkungan dan ada
tidaknya penyakit yang berpengaruh terhadap penggunaan zat-zat gizi oleh tubuh.
Tujuan akhir dari konsumsi dan penggunaan baik makanan oleh tubuh adalah
tercapainya status gizi tubuh yang optimal.

2.5 Bahan makanan

Bahan makanan adalah makanan dalam keadaan mentah. Dalam bahasa Inggris
hanya digunakan satu kata untuk menyatakan makanan, pangan, dan bahan makanan,
yaitu food (Almatsier, 2001).
Bahan makanan sering juga disebut bahan pangan, dan dalam perdagangan
disebut komoditi pangan, ialah apa yang kita produksi atau perdagangkan, misalnya
daging, sayur, buah dan sebagainya. Seseorang tidak membeli karbohidrat atau
protein, tetapi membeli beras sebagai sumber karbohidrat dan daging sebagai sumber
protein.
Yang dibeli, diolah dan disusun menjadi hidangan adalah bahan makanan dan
bukan zat makanan. Kalau kita mengkonsumsi suatu makanan, misalnya sesuap nasi,
maka kita menelan campuran dari berbagai zat gizi. Orang mengkonsumsi semua zat
makanan itu secara tidak sadar, sebab dalam pendapatnya, yang dikonsumsi itu
makanan atau bahan makanan (Achmad, 2010).
Dalam susunan hidangan Indonesia, berbagai jenis bahan makanan dalam
dikelmpokkan ke dalam:
1. Bahan makanan pokok
Bahan makanan pokok dianggap yang terpenting di dalam suatu susunan
hidangan di Indonesia, dan biasanya dapat segera terlihat di atas piring, karena
merupakan kwantum terbesar di antara bahan makanan yang sedang dikonsumsi.
Bahan makanan pokok juga di anggap yang terpenting, karena bila suatu susunan
hidangan tidak mengandung bahan makanan pokok, tidak dianggap lengkap, dan
sering orang yang mengkonsumsinya mengakatakan belum makan, meskipun perutnya
telah kenyang olehnya.

Bahan makanan pokok merupakan sumber utama kalori atau energi. Sering pula
bahan makanan pokok itu memberikan iuran penting terhadap konsumsi protein, bila
termasuk golongan serealia (Achmad, 2010).
2. Bahan makanan lauk-pauk
Golongan bahan makanan ini disebut lauk-pauk, karena memang mencakup
bahan pangan lauk (ikan, daging). Pada umumnya kelompok bahan makanan ini
merupakan sumber utama protein di dalam hidangan. Kita mengenal protein hewani
dan protein nabati. Pembagian ini berdasarkan sumbernya yaitu berasal dari hewani
atau dari tumbuhan. Jadi lauk pauk juga dapat tergolong hewani dan juga tergolong
tumbuhan. Semua bahan pangan yang berasal dari hewan, termasuk lauk pauk,
misalnya daging, ikan, telur dan sebagainya. Bahan pangan nabati yang termasuk lauk
pauk ialah jenis kacang-kacangan seperti kacang kedele dan hasil olahannya, yaitu
tempe dan tahu (Achmad, 2010).
3. Bahan makanan sayur dan Bahan Makanan Buah
Kedua kelompok bahan makanan ini termasuk bahan makanan nabati. Sayur
merupakan berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, akar, batang, dan bunga, bahkan
buahnya yang biasanya masih muda. Yang digolongkan Bahan makanan Buah,
biasanya yang sudah matang, atau setidak-tidaknya sudah tua. Buah-buahan sebagian
besar dimakan mentah, dan disebut buah cuci mulut.
Bahan makanan buah dan sayur, umumnya merupakan penghasil vitamin dan
mineral. Ada beberapa jenis sayuran dan buah yang menghasilkan energi dalam jumlah
cukup berarti, seperti nangka muda untuk sayur dan sukun. Pisang merupakan salah
satu buah yang banyak menghasilkan energi, demikian pula sawo dan advokat

(alpukat). Kalau energi di dalam alpukat berasal dari lemak, maka dalam buah lainnya
yang disebut terdahulu, berasal dari karbohidrat.
Susunan hidangan yang mengandung keempat jenis kelompok bahan makanan
tersebut, masing-masing dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan badan, dikenal oleh
para ahli gizi di Indonesia sebagai susunan empat sehat. Kalau susunan empat sehat
ini ditambah dengan susunan dalam jumlah yang mencukupi, menjadi lima sempurna.
Slogan empat sehat, lima sempurna ini menggambarkan susunan hidangan Indonesia
yang sanggup memberikan kesehatan gizi yang baik, dan dianjurkan kepada seluruh
anggota masyarakat untuk mencapainya. Susunan lima sempurna terutama ditujukan
bagi anggota masyarakat yang disebut kelompok rentan gizi. Yang termasuk kedalam
golongan rentan ini ialah bayi dan anak-anak, ibu yang sedang hamil dan yang sedang
menyusukan. Mereka inilah yang akan paling dahulu menderita, bila suatu masyarakat
kekurangan penyediaan bahan makanan. Golongan rentan berhubungan dengan
pertumbuhan pesat.
Pembagian kelompok bahan-bahan makanan di atas, berdasarkan bentuk
lahiriyahnya, dan bukan berdasarkan fungsinya di dalam tubuh.

2.6 Status gizi


Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih
(Almatsier, 2001).
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik
atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan

secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak,


kemampuan kerja dan kesehatan secara umum umum pada tingkat setinggi mungkin.
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zatzat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam
jumlah kelebihan, sehingga menimbulkan efek toksik atau membahayakan. Baik pada
status gizi kurang, maupun status gizi lebih, terjadi gangguan gizi. Gangguan gizi
disebabkan oleh faktor primer atau sekunder. Faktor primer adalah bila susunan
makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas yang disebabkan oleh
kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan,
ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah, dan sebagainya. Faktor sekunder meliputi
semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah
makanan dikonsumsi. Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan tergangg[unya
pencernaan, seperti gigi-geligi yang tidak baik, kelainan struktur saluran cerna, dan
kekurangan enzim. Faktor-faktor yang mengganggu absorpi zat-zat gizi adalah adanya
parasit, penggunaan laksan/obat pencuci perut, dan sebagainya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi metabolisme dan utilisasi zat-zat gizi adalah penyakit hati, diabetes
mellitus, kanker, penggunaan obat-obat tertentu, minuman beralkohol, dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ekskresi sehingga menyebabkan banyak
kehilangan zat-zat gizi adalah banyak kencing (polyuria), banyak keringat dan
penggunaan obat-obatan.
Di beberapa bagian di dunia terjadi masalah gizi lebih secara epidemis. Negaranegara berkembang seperti sebagian besar Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Amerika
Selatan pada umumnya mempunyai masalah gizi kurang. Sebaliknya, negara-negara

maju, seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat pada umumnya mengalami masalah gizi
lebih.

BAB 3
PEMBAHASAN

Dalam konsep dasar ilmu gizi, kita akan mempelajari tentang ilmu gizi, zat gizi,
makanan, pangan, bahan makanan, dan status gizi secara lebih jelas.

3.1 Ilmu Gizi


Pengertian dari ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang
makanan dan hubungannya dengan kesehatan. Kata gizi awalnya berasal dari bahasa
arab yaitu ghizda yang artinya adalah makanan. Pengertian ini sudah lebih luas ruang
lingkupnya dibandingkan pengertian terdahulu yaitu bahwa ilmu gizi adalah ilmu yang
mempelajari nasib makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi menjadi bagian tubuh
dan energi atau diekskresikan sebagai zat sisa.
Pengakuan ilmu gizi sebagai disiplin ilmu tersendiri pertama kali pada tahun
1926, karena pada saat itu Mary Swartz Rose menjadi profesor Ilmu Gizi pertama di
Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat. Sebelum menjadi disiplin ilmu
tersendiri, ilmu gizi merupakan bagian dari ilmu kesehatan masyarakat.
Dalam ilmu gizi, fokus utama kita adalah pada makanan dan kesehatan tubuh.
Sejak zaman purba dulu manusia sudah tahu betapa pentingnya makanan untuk

kelangsungan hidup. Manusia tidak akan mampu hidup sampai sekarang jika tidak
makan.

3.2 Zat Gizi


Selama ini kita menganggap bahwa makananlah yang berperan penting dalam
tubuh kita, padahal ada sesuatu dalam makanan yang tidak terlihat tetapi sebenarnya
merupakan sesuatu yang penting yang membuat tubuh kita sehat. Sesuatu ini hanya
bisa kita ketahui jika kita melakukan penelitian pada makanan, namanya adalah zat gizi.
Zat gizi merupakan ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta
mengatur proses-proses kehidupan. Terdapat banyak sekali zat gizi yang kita perlukan
dan kita konsumsi. Meskipun sebenarnya yang kita konsumsi itu makanannya, tetapi
tanpa kita sadari banyak zat-zat penting yang masuk ke tubuh kita. Sehingga fungsifungsi tubuh bisa bekerja dengan baik.
Pembagian zat gizi menurut banyaknya konsumsi yang kita lakukan yaitu zat gizi
makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro adalah zat gizi yang paling besar di perlukan
oleh tubuh kita, terdiri dari karbohidrat, lemak, dan protein.
Karbohidrat merupakan zat gizi makro yang menjadi sumber energi utama tubuh.
Sumber energi pada karbohidrat berbentuk gula sederhana atau glukosa yang diolah
sedemikian rupa sehingga menghasilkan energi tinggi. Nasi, umbi-umbian, gandum,
dan sagu merupakan makanan yang mengandung karbohidrat yang sangat besar dan
biasa kita konsumsi sehari-hari. Karbohidrat diperlukan oleh tubuh sekita 50-60%.

Karbohidrat dibagi atas 2, yaitu karbohidrat sederhana yang terdiri dari monosakarida,
disakarida, dan oligosakarida, serta karbohidrat kompleks yaitu polisakarida dan serat.
Kekurangan konsumsi karbohidrat bisa menyebabkan kekurangan energi atau
dalam ilmu gizi disebut marasmus. Tetapi, terlalu berlebihan mengkonsumsi karbohidrat
juga tidak baik, karena bisa menyebabkan penyakit Diabetes melitus atau umumnya
kita sebut kencing manis. Penyakit ini terjadi karena banyak sekali glukosa yang malah
masuk ke dalam darah, sedangkan glukosa dalam darah tidak bisa digunakan dalam
siklus pembentukan energi. Karena semakin menumpuk menyebabkan Diabetes
melitus.
Lemak merupakan salah satu zat gizi makro yang penting. Makanan yang
banyak mengandung lemak misalnya daging. Tubuh kita membutuhkan sekitar 20-30%
lemak sebagai cadangan energi bagi tubuh. Selain itu, lemak juga merupakan
komposisi utama pembentuk membran sel. Jika kita kekurangan lemak, sel-sel tubuh
kita akan terganggu permeabilitasnya dan bisa rusak. Klasifikasi lipid dibagi dalam 3,
yaitu lipid sederhana (monoasilgliserol, diasilgliserol, triasilgliserol dan ester), lipid
kompleks (fosfolipid dan lipoprotein), dan lipid turunan (asam lemak dan sterol).
Kelebihan lemak dalam tubuh akan disimpan di hati dan di otot yaitu dalam
bentuk glikogen yang menjadi cadangan energi tubuh. Saat tubuh kita kekurangan
glukosa sebagai sumber energi, glikogen akan dirubah oleh hormon glukagon menjadi
glukosa. Tetapi, jika tubuh kita kelebihan lemak, maka akan menumpuk dan
menyebabkan obesitas. Bahkan, lemak dapat menyumbat pembuluh darah karena tidak
ada tempat untuk penyimpanan cadangannya lagi sehingga akan mengganggu aliran
darah keseluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penyakit stroke.

Protein mempunyai bagian terbesar tubuh sesudah air. Hampir semua jaringan
dalam mengandung protein. Tidak hanya itu, proses-proses tubuh juga dipengaruhi
oleh protein misalnya proses pencernaan, dibantu oleh enzim-enzim yang dasarnya
terbuat dari protein asam amino. Tubuh memerlukan protein sekitar 10-15%. Protein
mempunyai fungsi yang sangat banyak, yaitu memelihara dan mengganti jaringan,
mengatur keseimbangan air, pembentukan antibodi dan sebagainya. Meskipun protein
ini sangat diperlukan oleh tubuh, namun jika terlalu berlebihan akan mengakibatkan
kerusakan ginjal karena kandungan protein dalam darah terlalu banyak sehingga ginjal
tidak mampu menyaring dan akhirnya rusak.
Selain zat gizi makro, masih ada zat gizi mikro yang juga penting. Zat gizi mikro
memang sangat sedikit di perlukan oleh tubuh, tetapi wajib dipenuhi , seperti vitamin,
air, dan mineral.
Pengakuan terhadap vitamin pertama kali terjadi pada awal abad ke-20. Lind
menuliskan tentang penyakit scurvy yang diakibatkan oleh defisit vitamin C. Lalu tahun
1887, Takaki menjelaskan sindroma beri-beri yang kemudian di Indonesia pada tahun
1890 Eykman menemukan zat yang dapat menyembuhkan beri-beri. Nama vitamine
diusulkan oleh Funk tahun 1912, dan pada tahun 1920 nama vitamine di ubah menjadi
vitamin.
Ada berbagai vitamin yang sudah kita kenal, yaitu vitamin A, B, C, D, E, dan K.
Vitamin A bagus untuk pengelihatan kita. Jika kita mengalami defisit vitamin A, kita
akan mengalami yang namanya rabun senja atau istilah medisnya xeroftalmia. Sumber
vitamin A banyak pada buah dan sayur yang berwarna terang seperti wortel dan apel.

Vitamin B bisa kita dapatkan dari beras atau sereal. Pada beras, vitamin B ada
pada selaputnya. Itulah alasannya kenapa kalau kita mencuci beras jangan terlalu
bersih, karena kandungan vitamin B yang ada pada beras akan hilang. Defisit vitamin B
mengakibatkan terjadinya beri-beri.
Vitamin C bisa di dapatkan dari buah-buahan seperti jeruk, nanas, dan buah
dengan rasa asam lainnya. Defisit vitamin C menyebabkan penyakit skorbut atau sering
kita bilang sariawan.
Vitamin D biasa kita dapatkan dari sinar matahari pagi sekitar pukul 7 sampai
pukul 9. Vitamin D juga bisa kita dapatkan pada susu. Defisit [[[[[vitamin D [bisa
menyebabkan penyakit rakhitis atau tulang rapuh.
Vitamin E merupakan vitamin yang bagus untuk kulit dan untuk kesuburan.
Sumber utama vitamin E bisa kita dapatkan pada kacang-kacangan atau kecambah.
Defisit vitamin E bisa mengakibatkan kemandulan.
Terakhir adalah vitamin K, sumber utama bisa kita dapatkan dari hati atau
sayuran hijau. Defisit vitamin K bisa mengakibatkan darah sukar membeku atau di
sebut hemofilia.
Selain Vitamin, ada air yang sangat penting juga untuk tubuh. Bagian terbesar
dari tubuh kita adalah air. Organ-organ tubuh, jaringan, sel-sel, semuanya memerlukan
air. Air mempunyai fungsi dalam tubuh yaitu sebagai pelarut zat-zat gizi dan alat
pengangkut sisa-sisa metabolsime, katalisator berbagai reaksi biologik dalam sel,
pengatur suhu karena air mampu menyalurkan panas, dan peredam benturan dalam
mata, dan jaringan saraf tulang belakang.

Zat gizi mikro yang terakhir adalah mineral. Sekitar 4% dari tubuh kita terdiri atas
mineral. Mineral dibagi menjadi 2, yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral
makro dibutuhkan oleh tubuh lebih dari 100 mg per hari. Kalsium, natrium dan
magnesium termasuk pada mineral makro. Sedangkan mineral mikro dibutuhkan
kurang dari 100 mg per hari. Zat besi, seng dan flour termasuk pada mineral mikro.

3.3 Makanan
Makanan merupakan bahan selain obat-obatan yang mengandung zat-zat gizi
yang sangat berguna bagi tubuh (Almatsier, 2001).
Manusia telah menyadari pentingnya makanan sejak zaman purba dulu sampai
sekarang untuk kelangsungan hidup mereka. anak-anak memerlukan makanan yang
cukup banyak karena pada masa ini mereka lebih sering beraktivitas. Berbeda dengan
orang tua, karena fungsi tubuhnya juga sudah menurun, orang tua cenderung
membutuhkan makanan lebih sedikit. Laki-laki membutuhkan makanan yang lebih
banyak juga karena mereka bekerja lebih berat dari pada perempuan.

3.4 Pangan
Semua bahan yang dapat kita jadikan makanan disebut sebagai pangan, baik itu
dari jenis tumbuhan maupun hewan. Bahan dari tumbuhan biasa kita sebut bahan
nabati, misalnya sayuran atau buah, dan bahan dari hewan disebut juga bahan hewani,
misalnya daging.
Untuk sampai ke masyarakat dan dapat di konsumsi, pangan mempunyai sistem
pangan yang bertujuan untuk menyalurkan secara menyeluruh bahan pangan agar

penyalurannya merata. Pangan juga mempunyai peranan untuk memperbaiki gizi


masyarakat, sehingga hubungan antara sistem pangan dan gizi sangat erat.
Sistem pangan dan gizi mempunyai tujuan meningkatkan dan mempertahankan
status gizi masyarakat agar selalu dalam keadaan optimal. Untuk itu, sistem pangan
dan gizi melalui beberapa tahap. Pertama adalah penyediaan pangan. Untuk mencapai
keadaan yang optimal, harus disediakan pangan yang mencukupi. Penyediaan pangan
yang cukup adalah dengan produksi pangan dalam negeri oleh pihak pertanian.
Masyarakat kita yang sebagian petani harus didukung supaya hasil panen mereka
mencukupi kebutuhan pangan yang dibutuhkan. Caranya adalah dengan perlakuan
pasca panen yang baik. Tujuannya adalah supaya hasil panen bisa disimpan dengan
baik dan tidak mengalami kerusakan, sehingga mencukupi kebutuhan masyarakat.
Kedua adalah distribusi pangan. Setelah produksi pangan yang baik dan
mencukupi, hal ini belum tentu bisa membuat masyarakat terpenuhi kebutuhan
pangannya jika distribusinya tidak baik. Distribusi pangan perlu memperhatikan aspek
transportasi, apakah transportasi sudah cukup untuk menyalurkan bahan pangan,
penyimpanan yang aman, pengolahan yang baik, pengemasan dan pemasaran yang
menyeluruh. Tujuaannya adalah agar pangan sampai kepada masyarakat secara
merata.
Ketiga konsumsi makanan oleh masyarakat dan keluarga. Hal yang harus
diperhatikan adalah jumlah dan jenis pangan yang mereka beli, bagaimana cara
pemasakannya, pembagian dalam keluarga, dan kebiasaan makan secara perorangan.
Keempat adalah penggunaan makanan oleh tubuh. Hal ini bergantung pada
pencernaan dan penyerapan serta metabolisme zat gizi.

3.5 Bahan makanan


Banyak sekali bahan makanan yang bisa kita dapatkan, baik itu dipasar,
supermarket atau di kebun kita sendiri. Makanan dalam keadaan mentah disebut bahan
makanan. Sayuran mentah, buah-buahan mentah, serta daging yang belum dimasak
termasuk bahan makanan.
Bahan makanan dibagi menjadi empat, yaitu bahan makanan pokok, bahan
makanan lauk-pauk, bahan makanan sayuran dan bahan makanan buah-buahan.
Bahan makanan pokok adalah bahan makanan yang paling penting yang harus
selalu tersaji karena merupakan bahan yang paling banyak dikonsumsi. Bahan
makanan pokok pokok di Inonesia adalah nasi. Orang Indonesia terbiasa makan nasi,
baik itu saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Ada istilah bahwa kalau belum
makan nasi, maka namanya belum makan. Padahal sebelumnya dia telah memakan
bubur atau soto. Berbeda dengan orang di negara lain, terutama di negara maju,
mereka bahan makanan pokoknya adalah roti atau sereal.
Bahan makanan lauk dan pauk berasal dari lauk atau ikan atau daging.
Kelompok ini umumnya mengandung banyak protein. Bahan makanan lauk pauk bisa
berasal dari tumbuhan atau nabati, yaitu dari kacang kedelai yang diolah menjadi tempe
dan tahu, atau dari hewan atau hewani yaitu daging dan ikan.
Bahan makanan lainnya yaitu sauran dan buah-buahan. Sudah jelas bahwa
bahan makanan ini terdiri dari berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan.

3.6 Status gizi

Status gizi dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih. Status
gizi buruk bisa disebabkan oleh malnutrisi atau kekurangan nutrisi. Kekurang ini bisa
berupa kekurangan kalori disebut marasmus, kekurangan protein disebut kwasiorkor,
dan kekurangan kalori dan protein disebut marasmus kwasiorkor. Sedangkan status gizi
kurang bisa terjadi karena kekurangan nutrisi yang tidak terlalu parah. Status gizi yang
baik adalah nutrisi terpenuhi secara maksimal dan menghasilkan fungsi yang optimal.
Sedangkan status gizi lebih disebabkan karena konsumsi nutrisi yang melebihi batas
yang diperlukan tubuh, bisa mengakibatkan obesitas.

BAB 4
KESIMPULAN

1. Konsep dasar ilmu gizi mempelajari tentang zat gizi, makanan, pangan, bahan
makanan, dan status gizi.
2. Zat gizi merupakan ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya,
yaitu menghasilkan energi, pertumbuhan dan memelihara jaringan, dan mengatur
proses metabolisme tubuh.
3. Zat gizi di bagi dua macam, yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro.
4. Zat gizi makro meliputi karbohidrat, lemak, dan protein.
5. Zat gizi mikro terdiri dari vitamin , air, dan mineral.
6. Vitamin terdiri dari vitamin yang larut lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K dan vitamin
yang larut air yaitu Vitamin B dan vitamin C.

7. Air mempunya fungsi dalam tubuh yaitu sebagai pelarut dan alat angkut, katalisator,
fasilitator pertumbuhan, pengatur suhu, dan peredam benturan.
8. Mineral terbagi atas dua macam, yaitu mineral makro dan mineral mikro.
9.

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi atau unsurunsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila
dimasukkan ke dalam tubuh.

10. Pangan adalah istilah umum untuk semua bahan makanan yang dapat dijadikan
makanan.
11. Sistem pangan dan gizi mempunyai empat komponen, yaitu penyediaan pangan,
distribusi pangan, konsumsi makanan, dan utilisasi makanan.
12. Bahan makanan adalah makanan dalam keadaan mentah.
13. Bahan makanan dibagi menjadi empat, yaitu bahan makanan pokok, bahan makanan
lauk-pauk, bahan makanan sayuran, dan bahan makanan buah.
14. Keempat bahan makanan itu disebut empat sehat, jika terpenuhi secara lengkap
dinamakan lima sempurna. Jadi selogan empat sehat, lima sempurna.
15. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi
16. Status gizi manusia dibagi menjadi 4, yaitu status gizi baik, status gizi kurang, status
gizi buruk, dan status gizi lebih.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita (2001), Prinsip dasar ilmu gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama
Sediaoetama, Prof. Dr. Achmad Djaeni, M. Sc., (2010), Ilmu gizi untuk
mahasiswa dan profesi, Jilid 1, Jakarta : Dian Rakyat
http://ai-sopwatunnajah.blogspot.com/2011/11/makalah-konsep-dasar-ilmu-gizi.html