Anda di halaman 1dari 14

PESTISIDA MIKROBA JAMUR DAN BAKTERI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pestisida Bahan Alam

Oleh:

Nurfitriani Rista
150510110059

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

A.

Pestisida Mikroba Jamur Aspergillus sp. dan Penicillium sp.


Aspergillus sp. isolat SNTH003 dan Penicillium sp. merupakan jamur

PGPF asal tanah gambut Kuburaya, Kalimantan Barat, yang diketahui mampu
membantu pertumbuhan tanaman. Supriyanto dan Sulistyowati (2011) melakukan
penelitian yang bertujuan untuk menguji bahan-bahan berupa limbah yang dapat
digunakan sebagai bahan pembawa bagi jamur PGPF tersebut. Bahan pembawa
yang digunakan yaitu dedak, ampas sagu, gambut, dan serbuk gergajian kayu.
Menurut Supriyanto dan Sulistyowati (2011), berikut bahan dan metode yang
digunakan untuk menguji bahan pembawa bagi jamur PGPF:
Bahan. Jamur PGPF Aspergillus sp. isolat SNTH003 dan Penicillium sp. isolat
SNTH001 koleksi Lab. HPT Fakultas Pertanian UNTAN, Pontianak. Kandidat
bahan pembawa, dedak, serbuk gergajian kayu, ampas sagu dan tanah gambut
diambil dari Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat.
Metode. Langkah-langkah konstruksi formulasi bahan pembawa sederhana untuk
PGPF dilakukan mengikuti metode yang dikembangkan oleh Kartika et al. (2007)
dalam Supriyanto dan Sulistyowati (2011). Langkah-langkahnya adalah sebagai
berikut:

Penyiapan inokulum
Isolat jamur PGPF ditumbuhkan di atas medium PDA. Setelah 7 hari,

kultur masing-masing PGPF yang telah bersporulasi dibuat menjadi suspensi


dengan menambahkan 10 ml akuades steril ke dalam tiap biakan. Spora
dilepaskan dari media dengan cara menggores biakan dengan jarum inokulasi, lalu
suspense jamur tersebut dipindahkan ke dalam tabung reaksi steril.

Medium kultur beras (MKB)


MKB disiapkan dengan cara menambahkan 6 ml akuades ke dalam

Erlenmeyer volume 100 ml yang berisi 10 g beras, kemudian Erlenmeyer ditutup


dengan sumbat kapas dan didiamkan selama 2 jam. Selanjutnya, MKB disterilisasi
menggunakan autoklaf selama 15 menit.

Produksi massal spora pada MKB


Sebanyak 1 ml inokulum jamur ditambahkan ke dalam MKB yang telah

disiapkan. Satu jenis inokulum dibuat tiga ulangan MKB. Selanjutnya MKB
diinkubasi selama 10 hari pada suhu ruang sampai memproduksi konidia.

Penghitungan konidia PGPF pada MKB


Di akhir masa inkubasi, konidia yang diproduksi pada semua unit MKB

dihitung menggunakan Haemacytometer. Sebelumnya ke dalam MKB yang telah


dikolonisasi PGPF ditambahkan 50 ml akuades steril, kemudian dihomogenkan
menggunakan pengaduk magnetik. Selanjutnya dilakukan pengenceran serial (101

, 10-2 sampai 10-6). Hasil dari pengenceran ini dihitung dengan bantuan

Haemocytometer dan diamati di bawah mikroskop cahaya.

Penyiapan bahan pembawa


Masing-masing kandidat bahan pembawa, yaitu gambut, dedak, ampas

sagu dan serbuk gergaji dihaluskan/dihomogenkan sampai bisa melewati saringan


2 mm kemudian sebanyak masing-masing 1 kg disterilkan dalam kantong plastik
tahan panas menggunakan autoklaf selama 30 menit. Setelah dingin,
masingmasing bahan pembawa dihampar di atas bak plastik sampai kering angin.

Inokulasi PGPF pada bahan pembawa


Bahan pembawa yang sudah kering angina disiram secara merata dengan

inokulum PGPF sebanyak 50 ml pada kerapatan 108 spora /ml lalu diaduk sampai
rata dan dibiarkan/diinkubasikan selama 14 hari pada tempat gelap. Pada akhir
masa inkubasi, bahan pembawa kembali diaduk dan dipastikan pertumbuhan
jamur merata dan medium kemudian kembali dikeringanginkan. Formulasi siap
digunakan. Sebagian formulasi disimpan untuk evaluasi ketahanan PGPF dalam
bahan pembawa. Setiap perlakuan diulang 3 (tiga) kali.

Evaluasi ketahanan PGPF dalam bahan pembawa


Evaluasi ketahanan PGPF dalam bahan pembawa dilakukan dengan

metode pencawanan (Johnson dan Curl, 1972 dalam Supriyanto dan Sulistyowati,
2011). Masing-masing bahan pembawa pada minggu 1, 2, 4, 6, 8 dan 12 diambil
sebanyak 10 gram dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer steril lalu ditambahkan
aquades steril sampai volume mencapai 100 ml dan kemudian dilakukan
pengenceran sampai 10-8. Pada pengenceran ke 10-5 sampai 10-8 dilakukan
plating untuk dihitung koloni yang tumbuh. Semua dilakukan dalam 3 (tiga)
ulangan.
Hasil. Dedak merupakan bahan yang paling mendukung pertumbuhan dan
pembentukan spora jamur PGPF Aspergillus sp. isolate SNTH003 dan Penicillium
sp. isolate SNTH001, tetapi juga merupakan bahan yang paling kurang mampu
mendukung daya tumbuh spora kedua jamur tersebut, sedangkan bahan serbuk
gergajian kayu merupakan bahan yang kurang mampu mendukung pertumbuhan
dan produksi spora, tetapi merupakan bahan yang cukup stabil dalam mendukung

daya tumbuh spora kedua jamur PGPF selama 12 minggu pengamatan. Khusus
untuk jamur PGPF Penicillium sp. isolat SNTH001, bahan gambut merupakan
bahan pembawa yang paling mampu mendukung pertumbuhan dan produksi spora
sekaligus paling mampu mempertahankan daya tumbuh spora jamur tersebut
dibanding dedak, ampas sagu dan serbuk gergajian kayu.

B.

Pestisida Mikroba Jamur Beauveria bassiana


Penggunaan agens hayati jamur entomopatogen merupakan suatu upaya

untuk mengurangi penggunaan insektisida sintetik yang selama ini diketahui dapat
menyebabkan masalah lingkungan (Desyanti et al. 2007). Pengendalian hayati
dengan menggunakan jamur entomopatogen saat ini menjadi pilihan utama.
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. (Deuteromycetes: Moniliaceae) adalah salah
satu jamur entomopatogen yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk
komersial. B. bassiana telah diuji efektivitasnya untuk mengendalikan populasi
wereng hijau (Widiarta & Kusdiaman 2007). Selain itu, B. bassiana dapat
membunuh serangga lain seperti dari ordo Coleoptera (Posada et al., 2007),
Lepidoptera (Herlinda et al., 2006), Hemiptera (Herlinda, 2010), Hymenoptera
(Mark et al., 2001), Homoptera (Herlinda et al., 2008), Orthoptera (Thompson
2006), dan Diptera (Ihsan & Octriana 2009).
Jamur entomopatogen B. bassiana sebagai alternatif dalam pengendalian
hama masih memerlukan beberapa penyempurnaan dalam produksi dan formulasi.
Formulasi B. bassiana dengan media pembawa (carrier) yang mengandung unsur
hara diharapkan dapat menjadi sumber pemenuhan hara yang dibutuhkan
tanaman, sehingga meningkatkan efesiensi dan penyempurnaan formulasi agar

mudah diaplikasikan. Thalib dkk. (2013) melakukam penelitian yang bertujuan


untuk mengetahui pengaruh aplikasi bioinsektisida formulasi padat berbahan aktif
konidia B. bassiana terhadap mortalitas dan LT50 nimfa A. gossypii.
Aplikasi Bioinsektisida. Biakan B. bassiana pada 300 g beras dicampur dengan
700 g masing-masing bahan pembawa lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Kantong berisi formulasi ini kemudian disealer agar tidak terdapat udara yang
masuk. Formulasi dibuat tujuh macam, yaitu B. bassiana (media beras) + kompos
kering (Beras + kompos kering), B. bassiana (media beras) + kompos (Beras +
kompos), B. bassiana (media beras) + abu sekam (Beras + abu sekam), B.
bassiana (media beras) + dedak (Beras + dedak), B. bassiana (media beras) +
serbuk kayu (Beras + serbuk kayu), B. bassiana (media beras) + dedak + serbuk
kayu (Beras + dedak + serbuk kayu) dan B. bassiana (media beras) + Kompos
Trichoderma (Beras + tricho) formulasi ini lalu disimpan selama 30 hari sebelum
diaplikasikan.
Formulasi padat bioinsektisida (Beras + kompos kering, Beras + kompos,
Beras + abu sekam, Beras + dedak, Beras + serbuk kayu, Beras + dedak + serbuk
kayu, dan Beras + kompos tricho yang telah disimpan masing-masing selama 30
hari diuji keefektifannya menggunakan dua metode, yaitu dengan cara
menyemprotkan 100 mL pada tanaman cabai dan ditaburkan pada permukaan
media tanam cabai yang telah teinfestasi 100 ekor A. gossypii.
Aplikasi pada permukaan media tanam cabai dilakukan dengan
menaburkan 150 g bioinsektisida padat pada permukaan tanah tanaman cabai
yang ada dalam pot (diameter 12 cm dan tinggi 12 cm) yang telah terinfestasi oleh

100 ekor A. gossypii instar ketiga. Lalu tanaman cabai tadi dimasukkan ke dalam
kurungan kasa berbentuk silinder (diameter 10 cm dan tinggi 45 cm). Pengamatan
dilakukan setiap dua jam sekali hingga semua kutu daun mati.
Hasil.
Tabel 2. Hasil aplikasi pada permukaan tanah bioinsektisida formulasi padat
berbahan aktif konidia Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. terhadap
mortalitas nimfa Aphis gossypii (Glover)

Sumber: Thalib dkk. (2011)


Tabel 3. Nilai Lethal Time (LT50) aplikasi pada permukaan tanah bioinsektisida
formulasi padat berbahan aktif konidia Beauveria bassiana (Bals.) Vuill.
terhadap mortalitas nimfa Aphis gossypii (Glover)

Sumber: Thalib dkk. (2011)

Aplikasi bioinsektisida formulasi padat berbahan aktif konidia B. bassiana


berpengaruh terhadap mortalitas dan LT50 nimfa A. gossypii. Mortalitas nimfa A.
gossypii tertinggi pada media pembawa Beras+Kompos Kering. Nilai LT50 nimfa
A. gossypii yang diaplikasi bioinsektisida dengan bahan pembawa beras + abu
sekam dengan penaburan pada permukaan tanah relatif lebih singkat (2,20 hari).
Analisis regresi pada bahan pembawa beras + abu sekam Y = -2,08+0,94 X
menunjukan bahwa semakin banyak formulasi yang ditaburkan akan semakin
tinggi konsentrasi konidia jamur B. bassiana maka semakin pendek waktu yang
dibutuhkan untuk mematikan sebanyak 50% dari nimfa A. gossypii yang diuji.
C.

Pestisida Mikroba Jamur Beauveria bassiana dan Metarhizium


anisopliae
Nunihlawati dkk. (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk

menguji bioinsektisida cair berbahan aktif spora jamur B. bassiana dan M.


anisopliae dalam mengendalikan Plutella xylostella. Terdapat beberapa tahap
yang

dilakukan

berformulasi

cair.

dalam

pembuatan

Tahap-tahap

bioinsektisida

tersebut,

jamur

entomopatogen

yaitu persiapan isolate

jamur

entomopatogen, persiapan isolat cair, pembuatan bioinsektisida cair, dan


pembuatan bioinsektisida cair dengan sentrifugasi.
Persiapan Isolat Jamur Entomopatogen. Isolat jamur entomopatogen yang
digunakan adalah isolat jamur entomopatogen B. bassiana dan M. anisopliae.
Perbanyakan isolat dengan menggunakan media GYA (Glucose Yeast Agar).
Media GYA digunakan untuk perbanyakan biakan murni jamur entomopatogen.
Komposisi media tersebut terdiri dari agar sebanyak 5 g, yeast 1 g, sukrosa 2,5 g,
tepung jangkrik sebanyak 1,25 g, dan aquadest 250 ml. Selanjutnya bahan-bahan

tersebut dicampur dan diaduk merata lalu dimasukan dalam erlenmeyer 250 ml
kemudian ditutup dengan allumunium foil dan distrerilisasi dalam otoklaf selama
20 menit dengan tekanan 1 atm.
Setelah proses sterilisasi selesai media didinginkan kemudian ditambahkan
antibiotik amoxcillin sebanyak 2g dan dikocok merata. Media lalu dituangkan ke
dalam cawan petri diameter 9 cm dengan ketebalan secukupnya, lalu inokulasi
jamur entomopatogen (B. bassiana dan M. anisopliae) yang dilakukan dalam
keadaan aseptik.
Persiapan Isolat Cair. Isolat yang digunakan untuk pembuatan isolat cair adalah
isolat hasil perbanyakan dengan media GYA. Isolat cair yaitu dengan
menggunakan media GYB (Glucose Yeast Broth). Komposisi media GYB adalah
setiap 1000 ml air steril dicampur dengan sukrosa 20 g, yeast 20 g, dan tepung
jangkrik 5 g. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam gelas takar ukuran 1000
ml, lalu diaduk. Kemudian dimasukkan kedalam botol selai masing-masing 200
ml, sehingga dari 1000 ml didapat 5 botol. Lalu tutup dengan aluminium foil dan
plastik kemudian ikat dengan karet.
Botol selai yang telah berisi media GYB kemudian di otoklaf selama 20
menit dengan tekanan 1 atm. Setelah itu didiamkan selama 24 jam. Media GYB
yang telah didiamkan selama 24 jam kemudian di reisolasi dengan jamur B.
bassiana dan M. anisopliae yang berasal dari isolat padat GYA sebanyak 3 bor
gabus ukuran 0,5 cm. Lalu ditutup kembali dengan aluminium foil dan diikat
dengan karet. Kegiatan ini dilakukan secara steril di ruang laminar air flow.
Setelah itu botol selai yang berisi media GYB tersebut di-shaker selama 7 hari,
kemudian diinkubasikan selama 7 hari.

Pembuatan Bioinsektisida Cair. Pembuatan bioinsektisida cair dilakukan


dengan 2 cara: 1) EKKU (Ekstrak Kompos Kulit Udang) steril yaitu EKKU yang
telah di otoklaf selama 20 menit dengan tekanan 1 atm, lalu di inkubasi selama 24
jam; 2) EKKU non steril yaitu EKKU yang tidak di otoklaf selama 20 menit
dengan tekanan 1 atm. Pembuatan bioinsektisida cair ini dibagi menjadi 4 bagian
yaitu 1) EKKU steril B. bassiana, 2) EKKU steril M. anisopliae, 3) EKKU non
steril B. bassiana, 4) EKKU non steril M. anisopliae.
Cara pembuatan bioinsektisida cair adalah EKKU (steril atau non steril)
100 mL ditambah GYB 600 ml dan sukrosa 300 g dicampur lalu diaduk sampai
larut, kemudian masukkan 10 ml minyak sayur. Kemudian dimasukkan dalam
botol plastik volume 1000 ml. Simpan selama 30 hari. Setelah 30 hari disimpan
bioinsektisida diaplikasikan.
Pembuatan Bioinsektisida Cair dengan Sentrifugasi. Bioinsektisida cair yang
dibuat menggunakan jamur entomopatogen B. bassiana dan M. anisopliae. Media
GYB sebanyak 600 ml dicampur dengan 100 ml EKKU yang telah disterilkan
ditambahkan 300 gr sukrosa dan 10 ml minyak sayur. Campuran bahan tersebut
dimasukkan ke dalam botol berukuran 1000 ml, kemudian disimpan selama 30
hari. Setelah disimpan, larutan bioinsektisida tersebut diendapkan dengan alat
centrifuge (kecepatan 10.000 rpm) selama 10 menit dengan suhu 40C.
Bioinsektisida cair atau supernatant yang didapat digunakan untuk diaplikasikan
ke serangga uji. Pengujian yang dilakukan untuk melihat tingkat patogenisitasnya.
Mortalitas Larva P. xylostella. Bioinsektisida formulasi cair yang telah disimpan
selama 30 hari, kemudian diaplikasikan langsung dengan cara menyemprot
tanaman caisin yang sudah mengandung larva instar tiga P. xylostella. Kerapatan

yang diberikan ialah 1x106 konidia/ml. Masing-masing perlakuan terdapat 50


ekor larva instar tiga P. xylostella dan masing-masing perlakuan di ulang
sebanyak 5 kali. Untuk menentukan kematian larva dilakukan pengamatan setiap
2 jam selama fase larva, sedangkan jumlah larva yang membentuk pupa dan
imago dicatat setiap hari hingga semua pupa menjadi imago.
Viabilitas Konidia. Sebelum perlakuan, diamati viabilitas konidia setiap
formulasi bioinsektisida. Viabilitas konidia ditentukan setelah suspensi konidia
diinkubasikan selama 24 jam. Satu tetes suspense diteteskan pada kaca preparat
dan ditutup dengan gelas penutup. Kemudian jumlah konidia yang berkecambah
dan yang tidak berkecambah dihitung. Perhitungannya dilakukan pada bidang
pandang di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Variabel daya kecambah
dinyatakan dengan persentase jumlah konidia yang berkecambah dengan
menggunakan rumus Gabriel dan Riyatno (1989) dalam Nunihlawati dkk. (2013)
sebagai berikut:
V=

x 100%

Keterangan:
V = perkecambahan spora (viabilitas)
g = jumlah spora yang berkecambah
u = jumlah spora yang tidak berkecambah
LT50 dan LT95 Larva P. xylostella. Pengamatan dilakukan bersamaan dengan
pengamatan mortalitas larva. Pengamatan dilakukan setiap 2 jam sekali sejak
perlakuan bioinsektisida formulasi cair dilakukan, dengan menghitung waktu yang
dibutuhkan dari perlakuan untuk mematikan 50% dan 95% larva P. xylostella.
Larva P. xylostella yang mati karena B. bassiana dicirikan adanya perubahan

warna tubuh larva dari hijau menjadi hijau kekuningan dan akhirnya menjadi
cokat kehitaman. Tubuh larva mengkerut, keras, kaku, dan diselimuti miselia
berwarna putih (Herlinda, 2005), sedangkan gejala awal infeksi M. anisopliae
tidak terlihat pertumbuhan konidia. Beberapa hari kemudian akan tumbuh miselia
di permukaan tubuh serangga (Kabaluk et al., 2001 dalam Nunihlawati dkk.,
2011)
Hasil. Persentase mortalitas tertinggi pada penelitian ini terdapat pada Mt ES (M.
anisopliae + EKKU steril) dan Mt ES(cf) (M. anisopliae + EKKU steril
disentrifugasi (10 menit)) yaitu 99,60%, mortalitas terendah pada Mt NES (M.
anisopliae + EKKU non steril) yaitu 96,8%. Nilai LT50 dan LT95 terendah pada
Bb ES (B. bassiana + EKKU steril) yaitu 2,04 hari dan 2,95 hari. Nilai LT50 dan
LT95 tertinggi pada Mt NES (M. anisopliae + EKKU steril) yaitu 2,24 hari dan
3,32 hari. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bioinsektisida cair
berbahan aktif jamur entomopatogen B. bassiana dan M. anisopliae efektif dan
berpengaruh terhadap mortalitas larva P. xylostella.

Sumber
Desyanti, Hadi YS, Yusuf S dan Santoso T. 2007. Keefektifan beberapa Spesies
cendawan Entomopatogen untuk Mengendalikan Rayap Tanah
Coptotermes gestroi WASSMANN (Isoptera:Rhinotermitidae) dengan
Metode Kontak dan Umpan. J. Ilmu & Teknologi Kayu Tropis 5(2):68-77.
Herlinda S. 2005. Jenis dan kelimpahan parasitoid Plutella xylostella (L.)
(Lepidoptera: Plutellidae) di Sumatera Selatan. J. Agria. 1(2):78-83.
Herlinda S, Mulyati SI, Suwandi. 2008. Selection of Isolates of
Entomopathogenic Fungi and the Bioefficacy of Their Liquid Production
against Leptocorisa oratorius Nymphs. Microbiol Indones 2(3):141-146.
Herlinda S, Muhamad DU, Pujiastuti Y, Suwandi. 2006. Kerapatan danViabilitas
Spora Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. Akibat Subkultur dan Pengayaan
Media, serta Virulensinya Terhadap Larva Plutella xylostella (Linn.). J.
HPT 6(2):70-78.
Herlinda S, Mulyati SI, Suwandi. 2008. Jamur Entomopatogen Berformulasi Cair
sebagai Bioinsektisida untuk Pengendali Wereng Coklat. Agritrop
27(3):119-126.
Ihsan F, Octriana L. 2009. Teknik pengujian Efektifitas jamur Entomopatogen
Beauveria bassiana Pada Media Pembawa Substrat Beras dan Jagung
untuk Mengendalikan Lalat Buah Semi Lapang. Bul. Teknik Pertanian
14(2):62-64.
Mark A, Brinkman and GardnerWA. 2001. Use of Diatomaceus Earth and
Entomopathogen Combinations Againts The Red Imported Fire Ant
(Hymenoptera: Formicidae). Florida Entomologist 84(4):740-741.
Nunihlawati, H., S. Herlinda, C. Irsan, Y. Pujiastuti, Khodijah, dan D. Meidelima.
2013. Uji efikasi bioinsektisida jamur entomopatogen berformulasi cair
terhadap Plutella xylostella (L.) di laboratorium. J. HPT Tropika 13 (1):
52-60.
Posada F, Catherine AIME, Stephen W, Peterson, Stephen A, Rehner, Fernando
E, Vega. 2007. Inoculation of coffee plants with the fungal
entomopathogen Beauveria bassiana (Ascomycota: Hypocreales).
Mycological Research 111: 748-757.
Supriyanto dan H. Sulistyowati. 2011. Pengembangan PGPF menjadi pupuk dan
pestisida hayati berformulasi sederhana: 1. Pengujian bahan pembawa. J.
Tek. Perkebunan & PSDL 1: 19-27.

Thalib, R., Firmansyah, T. Adam, A.Mazid, dan S. Herlinda. 2013. Bioaktivitas


formulasi padat Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. dari tanah rawa
terhadap nimfa Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae).
Prosiding Seminar Nasiomal Lahan Suboptimal Intensifikasi Pengelolaan
Lahan Suboptimal dalam Rangka mendukung kemandirian pangan
nasional. ISBN 979-587-501-9.
Widiarta IN, Kusdiaman D. 2007. Penggunaan Jamur Entomopatogen
Metarizhium anisopliae dan Beauveria bassiana untuk Mengendalikan
Populasi Wereng Hijau. J. PPTP 26(1):46-54.