Anda di halaman 1dari 26

ABSTRAK

Peran patologi forensik dalam bencana massal adalah untuk mengidentifikasi


korban-korban meninggal. Prosedur identifikasi merujuk pada panduan DVI
(Disaster Victim Identification) INTERPOL tahun 2013. Proses DVI meliputi 4 fase,
The Scene, The Mortuary, Ante Mortem Information Retrieval dan Reconciliation,
serta ditunjang Debriefing. Data Post-mortem (PM) dan Ante-mortem (AM)
dikumpulkan meliputi sidik jari, rekam gigi (dental records) dan DNA sebagai
Pengidentifikasi Primer dan juga rekam medik dan barang milik korban sebagai
Pengidentifikasi Sekunder. Data AM dikumpulkan dalam tempat berwarna kuning
dan data PM dimasukan dalam tempat berwarna merah jambu. Minimal ada
kecocokan antara satu Identifikasi Primer atau dua Identifikasi Sekunder.
Secara teori, kelima fase DVI harus dilaksanakan menurut standar DVI pada
setiap kasus bencana. Pada kenyataannya, banyak halangan dan rintangan yang
ditemui di lapangan untuk mengimplementasikan panduan DVI. Mayat yang sangat
banyak, terbatasnya jumlah tempat penyimpanan, terbatasnya jumlah patologis dan
waktu, otoritas keluarga, juga minimnya koordinasi, menaikkan jumlah masalah
dalam implementasi prosedur DVI secara konsisten.

Kata kunci: identifikasi bencana massal DVI

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang, angka kejadian bencana
yang merenggut banyak nyawa semakin meningkat. Kondisi ini tercermin dari
pemberitaan media massa yang seringkali memuat berita mengenai kejadian
bencana, seperti aksi teror bom, kecelakaan transportasi, gempa bumi, tsunami,
banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, puting beliung, dan lain-lain.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah memiliki data sebaran kejadian
bencana di Indonesia mulai dari tahun 1815 2012, dan angka kejadian
bencana cenderung meningkat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Definisi bencana sangat bervariasi. Menurut WHO, bencana adalah
setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya
nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan
pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah
yang terkena. Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI, bencana adalah
peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi,
kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan
kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak
luar.
Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis. Secara singkat, bencana adalah suatu kejadian yang
tidak diharapkan, yang dapat menimbulkan korban luka atau meninggal dengan
jumlah cukup banyak.
Bencana itu sendiri ada yang merupakan bencana alam, seperti banjir,
gempa, longsor, gunung meletus, tsunami, serta angin topan. Ada pula bencana
yang diakibatkan oleh ulah manusia, misalnya ledakan bom dan kecelakaan
transportasi seperti pesawat jatuh, atau kapal tenggelam. Undang-undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan telah memberikan amanat kepada

pemerintah dan masyarakat untuk melakukan upaya identifikasi terhadap mayat


yang tidak dikenal.
Identifikasi korban mati dilakukan untuk memenuhi hak korban agar
dapat dikembalikan kepada keluarga dan dikubur secara layak sesuai dengan
keyakinannya semasa hidup. Ada dampak hukum dengan meninggalnya
seseorang seperti waris, asuransi, serta pada kasus kriminal maka akan dapat
dihentikan apabila pelaku telah meninggal dunia.
Pedoman Disaster Victim Identification (DVI) INTERPOL pertama
dipublikasikan pada tahun 1984 dan secara berkelanjutan direvisi dalam
beberapa tahun sesudahnya. Pengalaman yang dikumpulkan dari masa lalu dan
sekarang pada komunitas DVI multidisiplin internasional, dalam berbagai
operasi, menjadi dasar pembuatan pedoman DVI. Dengan adanya pedoman
DVI INTERPOL ini, negara-negara anggota bisa menggunakan dalam
menegakkan aturan dan manajemen tim DVI yang ada dinegaranya. Sehingga
dalam pelaksanaan identifikasi korban bencana massal semua tindakan dan
dokumentasi akan teratur dan mudah terlacak pembuktiannya.(Guideline DVI
INTERPOL, 2013)
1.2. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana proses identifikasi korban bencana massal
sesuai standar DVI INTERPOL.
2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang bisa menghambat proses identifikasi
korban bencana massal.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bencana Massal


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau
dengan atas luasnya sebesar 2.027.087 km2 mempunyai kurang lebih 129
gunung merapi. Secara geologis Indonesia terletak di pertemuan di antara 3 plat
tektonik utama (Eurasia, Indo-Australia dan Mediterania) dan secara demografi
terdiri dari bermacam-macam etnik, agama, latar belakang sosial dan budaya,
dimana keadaan tersebut memberikan petunjuk bahwa Indonesia berisiko tinggi
sebagai negara yang rawan dari bencana alam terjadinya gempa bumi, Tsunami,
longsor, banjir maupun kecelakaan baik darat, laut maupun udara.
Bencana massal didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan
oleh alam atau karena ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau
perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta
benda dan lingkungan, serta melampaui kemampuan dan sumber daya
masyarakat untuk menanggulanginya. Umumnya korban yang hidup telah
banyak dapat diatasi oleh tim medis, para medis dan tim pendukung lainnya.
Namun berbeda bagi korban yang sudah mati yang perlu ditangani secara
khusus dengan membentuk tim khusus pula. Dalam penggolongannya bencana
massal dibedakan menjadi 2 tipe. Pertama, Natural Disaster, seperti Tsunami,
gempa bumi, banjir, tanah longsor dan sejenisnya. Sedangkan yang kedua,
dikenal sebagai Man Made Disaster yang dapat berupa kelalaian manusia itu
sendiri seperti: kecelakaan udara, laut, darat, kebakaran hutan dan sejenisnya
serta akibat ulah manusia yang telah direncanakannya seperti pada kasus
terorisme.
2.2. Identifikasi Korban
Pengetahuan mengenai identifikasi (pengenalan jati diri seseorang) pada
awalnya berkembang karena kebutuhan dalam proses penyidikan suatu tindak
pidana khususnya untuk menandai ciri pelaku tindak kriminal, dengan adanya
perkembangan masalah-masalah sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan
maka identifikasi dimanfaatkan juga untuk keperluan-keperluan yang
berhubungan dengan kesejahteraan umat manusia.

Pengetahuan identifikasi secara ilmiah diperkenalkan pertama kali oleh


dokter Perancis pada awal abad ke 19 bernama Alfonsus Bertillon tahun 18531914 dengan memanfaatkan ciri umum seseorang seperti ukuran anthropometri,
warna rambut, mata dan lain-lain. Kenyataan cara ini banyak kendalakendalanya oleh karena perubahan-perubahan yang terjadi secara biologis pada
seseorang dengan bertambahnya usia selain kesulitan dalam menyimpan data
secara sistematis.2,5,6
Sistem yang berkembang kemudian adalah pendeteksian melalui sidik
jari (Daktiloskopi) yang awalnya diperkenalkan oleh Nehemiah Grew tahun
1614-1712, kemudian oleh Mercello Malphigi tahun 1628-1694 dan
dikembangkan secara ilmiah oleh dokter Henry Fauld tahun 1880 dan Francis
Dalton tahun 1892 keduanya berasal dari Inggris. Berdasarkan perhitungan
matematis penggunaan sidik jari sebagai sarana identifikasi mempunyai
ketepatan yang cukup tinggi karena kemungkinan adanya 2 orang yang
memiliki sidik jari yang sama adalah 64 x 109: 1, kendala dari sistem ini adalah
diperlukan data dasar sidik jari dari seluruh penduduk untuk pembanding.
Adanya perkembangan ilmu pengetahun, saat ini berbagai disiplin ilmu
pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk meng-identifikasi seseorang, namun
yang paling berperan adalah berbagai disiplin ilmu kedokteran mengingat yang
dikenali adalah manusia. Identifikasi melalui sarana ilmu kedokteran dikenal
sebagai Identifikasi Medik. Manfaat identifikasi semula hanya untuk
kepentingan dalam bidang kriminal (mengenal korban atau pelaku kejahatan),
saat ini telah berkembang untuk kepentingan non criminal seperti asuransi,
penentuan keturunan, ahli waris dan menelusuri sebab dan akibat kecelakaan,
bahkan identifikasi dapat dimanfaatkan untuk pencegahan cedera atau kematian
akibat kecelakaan.2,7
2.3. Sekilas Panduan DVI INTERPOL
DVI (Disaster Victim Identification) adalah suatu definisi yang
diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat
bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan dan
mengacu kepada standar baku INTERPOL.

Adapun proses DVI menurut

Pedoman tahun 2013 meliputi 4 fase dan ditunjang Debriefing pada akhir
kegiatan, dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan yang
lainnya, yang terdiri dari The Scene, The Mortuary, Ante Mortem
Information Retrieval, dan Reconciliation.

Gambar 1. Proses Identifikasi Korban dengan pedoman DVI. (DVI Guideline, 2013)

Dalam melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode


dan teknik identifikasi yang dapat digunakan. Namun demikian INTERPOL
menentukan Primary Indentifiers yang terdiri dari Fingerprints, Dental
Records dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical
Records, Property dan Fotografi. Prinsip dari proses identifikasi ini adalah
dengan membandingkan data Ante Mortem dan Post Mortem, semakin banyak
yang cocok maka akan semakin baik. Primary Identifiers mempunyai nilai yang
sangat tinggi bila dibandingkan dengan Secondary Identifiers.
Prinsip

dari

proses

identifikasi

adalah

mudah

yaitu

dengan

membandingkan data-data tersangka korban dengan data dari korban yang tak
dikenal, semakin banyak kecocokan semakin tinggi nilainya. Data gigi, sidik
jari, atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor
determinan primer.
2.3.1. Dental Status
Sebagai akibat dari bencana dengan sejumlah besar korban,
kantor polisi setempat atau otoritas lain yang disetujui akan
menghubungi dokter gigi yang pernah didatangi oleh korban. Harap
dicatat bahwa biasanya dokter gigi tidak mau memberikan catatan asli
pasien untuk tujuan tersebut. Tapi itu adalah wajib untuk dilakukan
karena catatan asli diperlukan selama proses DVI. Hal ini wajib bagi
polisi untuk menganjurkan dokter gigi untuk menyimpan duplikat dari
catatan dan kemudian memberikan catatan asli untuk digunakan dalam
upaya DVI:

Semua catatan gigi / dental record korban yang ada di berkas poli
gigi

Hasil radiografi konvensional dan / atau digital gigi, rahang dan /


atau tengkorak

Model atau hasil cetakan gigi

Dental prostesa atau perangkat gigi lainnya


Informasi

yang

tercantum

di

atas

diperlukan

untuk

merekonstruksi dental status ante mortem korban. Harus memastikan

bahwa semua catatan perawatan asli dan hasil foto radiografi diberi
label nama dan tanggal lahir pasien, serta tanggal perawatan, tanggal
paparan radiografi, dan tanda tangan dokter gigi termasuk informasi
kontak (nama, alamat, nomor telepon dan alamat e-mail).
Permintaan informasi mengenai rekaman atau catatan gigi harus
dijawab segera oleh dokter gigi yang bersangkutan bersama dengan
saran, seperti setelah dirujuk ke dokter lain untuk perawatan khusus.
2.3.2. Sidik jari, Sidik Telapak, dan Jejak Kaki
Dalam keadaan ini, teknologi AFIS (The Automated Fingerprint
Identification System) diakui secara internasional dapat digunakan
secara efektif selama tahap permintaan, tahap registrasi, dan tahap
perbandingan.
Proses ini memerlukan semua cetakan daktiloskopis (sidik jari,
sidik telapak dan jejak kaki) dari orang hilang yang diperoleh dengan
bantuan metode pengumpulan bukti yang tepat. Dalam kasus anak
hilang, analisis sidik jari, sidik telapak dan jejak kaki ini sangat penting
karena sering kurangnya catatan gigi ante mortem. Dokumentasi yang
berkaitan dengan sidik jari harus mencakup jenis sidik, nama anggota
Tim AM yang memperoleh sidik dan lokasi di mana sidik diperoleh. Hal
ini juga sangat penting untuk mencatat nama-nama orang lain yang
tinggal di rumah tangga individu yang bersangkutan dan / atau memiliki
akses ke tempat kerja individu. Referensi sidik harus diperoleh dari
orang-orang tersebut dan dibandingkan untuk tujuan penghapusan
sebelum masuk dalam database DVI AM.
Ada dua jenis utama dari sidik jari AM; sengaja diambil untuk
keperluan identifikasi (terkait dengan orang yang dikenal) dan yang
tertinggal pada barang-barang pribadi.
a) Tipe 1 (sidik jari yang terdaftar) dapat ditemukan di:

KTP, SIM

Paspor

Catatan polisi berkaitan dengan kasus-kasus di mana orang


yang hilang telah menjadi saksi atau korban kejahatan

Catatan di Lembaga Pemasyarakatan

Sidik kaki diambil dari bayi setelah lahir di rumah sakit


untuk mencegah kesalahan identifikasi

Catatan sidik jari yang dibuat oleh otoritas maritim

Jari, tangan, dan jejak kaki secara teratur diambil dari awak
pesawat

Sidik jari digunakan untuk biometrik dan / atau personal


identifikasi / verifikasi; seperti dalam sistem access, pada
smartcard, di paspor, pada komputer pribadi, dll

b) Tipe 2 (sidik jari yang tidak terdaftar):


Sebuah upaya harus dilakukan untuk menemukan sidik
tambahan dari individu tertentu dengan berfokus pada barangbarang pribadi mereka. Beberapa sidik dapat meningkatkan tingkat
kepastian. Pencarian sidik harus diperluas sejauh mungkin. Barangbarang pribadi tidak boleh rusak, kotor atau bernoda.
Semua sidik harus diperiksa silang terhadap orang-orang
individu yang hidup yang memiliki akses yang sah ke lokasi
penemuan.

Untuk

menghindari

kebingungan,

penting

untuk

menyingkirkan kemungkinan bahwa orang hilang lainnya (dari rumah


tangga yang berbeda) mungkin telah meninggalkan sidik jari di lokasi
atau pada objek yang diteliti. Ini mungkin termasuk anggota keluarga
yang berbeda bepergian bersama-sama atau rekan dari kerja sama yang
mungkin telah menangani objek, kertas, dll yang bersangkutan.Sebuah
pencarian untuk jejak kaki harus dipertimbangkan, karena dapat
diandalkan seperti sidik jari dan sering kurang rentan terhadap
kerusakan.
Pengumpulan bahan sidik jari AM harus didokumentasikan
sesuai dengan prosedur standar untuk TKP investigasi (contoh: daftar
cetakan sidik jari / telapak, untuk menyertakan deskripsi, nomor
gambar, tanggal dan waktu, nama-nama petugas pengolahan, metode
pengumpulan bukti, dll).
2.3.3. DNA
Analisis DNA merupakan salah satu metode utama identifikasi.
Dalam banyak kasus, penyelidikan gigi atau sidik jari akan cukup
memadai. Dalam kasus lain dengan orang-orang yang telah meninggal
muda, sisa-sisa sangat membusuk atau banyak bagian tubuh, analisis
DNA dan perbandingan mungkin metode terbaik untuk digunakan.
Dalam keadaan seperti itu, bagaimanapun, DNA mungkin sarana utama
untuk mendapatkan identifikasi yang dapat diandalkan. Keputusan

apakah analisis DNA akan dilakukan diambil oleh kepala Tim DVI
berkonsultasi dengan laboratorium forensik yang tepat.
Dengan demikian pedoman berikut harus diperhatikan:

Sampel Ante mortem (AM) harus dikumpulkan sesegera mungkin


untuk setiap orang yang hilang. Para ilmuwan genetika harus
tersedia untuk pelatihan dan konsultasi.

Sampel harus diperoleh dalam sampel koleksi kit / kotak dan diberi
label dan barcode yang dapat dilacak.

Bentuk pengambilan sampel dan informasi keluarga harus diisi


benar dan segera diperiksa.

Identifikasi dapat dilakukan atas dasar sampel DNA pribadi


dengan program perangkat lunak standar yang sederhana didukung
oleh tabel statistik. Identifikasi berdasarkan sampel yang diambil
dari darah kerabat memerlukan penggunaan program khusus dan
konsultasi dengan para ahli dalam analisis DNA.

Penting untuk menyadari bahwa bahasa dan hambatan budaya


mungkin memiliki pengaruh pada kesediaan untuk memberikan
sampel DNA.

Semua laboratorium yang terlibat harus memperhatikan standar


nomenklatur internasional (ISFG - International Society for
Forensic Genetics) dan format pertukaran data standar (misalnya
format XML Interpol)
Diperhitungkan risiko informasi palsu, pilihan referensi sampel

DNA AM harus:
1) Kerabat tingkat pertama, jika memungkinkan lebih dari satu
2) Profil DNA dari keluarga tingkat pertama akan selalu
memberikan informasi yang memadai untuk pencocokan.
Dalam kebanyakan kasus itu juga akan memungkinkan untuk
menemukan dan mengambil sampel dari lebih dari satu kerabat.
3) Darah atau sampel biopsi dari korban
4) Benda pribadi yang telah digunakan oleh almarhum
2.4. Manajemen DVI
Penatalaksanaan korban mati mengacu pada Surat Keputusan Bersama Menteri
Kesehatan dan Kapolri No. 1087/Menkes/SKB/IX/2004 dan No. Pol
Kep/40/IX/2004 Pedoman Pelaksanaan Identifikasi Korban Mati pada Bencana
Massal.

Penanggung jawab DVI adalah Kepolisian yang dalam pelaksanaan operasinya


dapat bekerjasama dengan berbagai pihak lintas institusi, sektoral dan fungsi.
Ketua tim dan koordinator fase berasal pihak kepolisian. Pada kasus yang lebih
mementingkan aspek penyidikan, kecepatan dan hot issues seperti pada man
made disaster, ketua tim DVI lebih mengedepankan timnya sesuai dengan
keahlian dan pengalaman, sedangkan pada kasus yang lebih mengedepankan
aspek kemanusiaan pada natural disaster maka ketua DVI dapat melibatkan
beberapa tim dari berbagai institusi.
Prinsip dalam bekerja bagi tim DVI adalah team work sesuai dengan
keahlian/kompetensi dan pengalaman. Masingmasing tim yang bekerja dalam
masingmasing fase mempunyai tanggung jawab, keahlian dan pengalaman
yang berbeda yang menjadi pertimbangan bagi seorang ketua tim DVI.
Misalnya tim DVI fase I diperuntukkan bagi tim yang telah terlatih dan
mempunyai pengalaman di TKP dibandingkan dengan seorang dokter
forensik/dokter gigi forensik yang lebih berkompeten di DVI fase 2 untuk
memeriksa jenasah.
2.5. Tahapan Fase DVI
2.5.1. Fase Pertama (The Scene)
Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian
peristiwa (TKP) bencana. Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang
paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas jangkauan bencana.
Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara
keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan sumber daya
material yang efektif dalam penanganan bencana.
Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs
bencana, ada tiga langkah utama. Langkah pertama adalah to secure atau
untuk mengamankan, langkah kedua adalah to collect atau untuk
mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau pelabelan.
Penjelasannya sebagai berikut:
a) Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus
mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi
rusak. Langkah langkah tersebut antara lain adalah :
-

Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak


berkepentingan (penonton yang penasaran, wakil wakil pers,
dll), misalnya dengan memasang garis polisi.

Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.

Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang


berkepentingan.

Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol


siapa saja yang memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana.

Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan


tujuan kehaditan dan otorisasi.

Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus
meninggalkan area bencana.

b) Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus


mengumpulkan korban korban bencana dan mengumpulkan properti
yang terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan untuk
kepentingan identifikasi korban. Ahli balistik dapat mengambil sampel
untuk menentukan bahan peledak, lokasi titik peledakan, dll. pada
kasus pemboman terorisme. Pada kasus keracunan massal, ahli
toksikologi forensik mengambil sampel bahan kimia, sisa makanan,
atau bahan lainnya yang dicurigai menjadi penyebab.
c) Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI
mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara memfoto area
bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label pada
korban. Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang
sudah diberi nomor dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat
untuk kemudian dievakuasi.
Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando
untuk operasi secara keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI,
ahli patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke
TKP untuk mengevaluasi situasi berikut :
1) membuat sektorsektor atau zona pada TKP;
2) memberikan tanda pada setiap sektor;
3) memberikan label orange (human remains label) pada jenazah dan
potongan jenazah, label diikatkan pada bagian tubuh / ibu jari kiri
jenazah;
4) memberikan label hijau (property label) pada barangbarang pemilik
yang tercecer.
5) membuat sketsa dan foto setiap sektor;
6) foto mayat dari jarak jauh, sedang dan dekat beserta label jenasahnya;

7) isi dan lengkapi pada formulir Interpol DVI PM halaman B dengan


keterangan sebagai berikut :
a) pada setiap jenazah yang ditemukan, maka tentukan perkiraan
umur, tanggal dan tempat tubuh ditemukan, akan lebih baik
apabila di foto pada lokasi dengan referensi koordinat dan sektor
TKP;
b) selanjutnya tentukan apakah jenazah lengkap/tidak lengkap, dapat
dikenali atau tidak, atau hanya bagian tubuh saja yang ditemukan;
c) diskripsikan

keadaannya

apakah

rusak,

terbelah,

dekomposisi/membusuk, menulang, hilang atau terlepas;


d) d. keterangan informasi lainnya sesuai dengan isi dari formulir
Interpol DVI PM halaman B. masukkan jenazah dalam kantung
jenazah dan atau potongan jenazah di dalam karung plastik dan
diberi label sesuai jenazah;
8) formulir Interpol DVI PM turut dimasukkan ke dalam kantong
jenasah dengan sebelumnya masukkan plastik agar terlindung dari
basah dan robek;
9) masukkan barangbarang yang terlepas dari tubuh korban ke dalam
kantung plastik dan diberi label sesuai nomor properti;
10) evakuasi jenasah dan barang kepemilikan ke tempat pemeriksaan dan
penyimpanan jenazah kemudian dibuatkan berita acara penyerahan
kolektif.

2.5.2. Fase Kedua (Post-Mortem)


Semua sisa-sisa tubuh manusia yang ditemukan dari suatu
kejadian, harus diproses, diperiksa dan disimpan di kamar mayat yang telah
dipilih untuk operasi, menunggu identifikasi formal dan mengembalikan ke
keluarga oleh Pemeriksa atau otoritas hukum. Kamar Mayat ini mungkin
merupakan kamar mayat telah didirikan atau salah satu yang dibangun
sementara untuk operasi.
Proses pemeriksaan dan metode yang diterapkan selama fase ini
meliputi

fotografi,

ridgeology

(sidik

jari),

radiologi,

odontologi,

pengambilan sampel DNA dan prosedur otopsi. Selain pemeriksaan sisasisa tubuh manusia, properti harus cermat diperiksa, dibersihkan dan
disimpan. Item properti ini mungkin termasuk perhiasan, barang pribadi
dan sandang. Sekali lagi, semua informasi yang relevan post mortem yang

diperoleh selama fase ini dicatat pada map merah muda bentuk INTERPOL
DVI Post-mortem.
Setelah menyelesaikan proses pemeriksaan, sisa-sisa tubuh
manusia dikembali ke penyimpanan, sambil menunggu identifikasi resmi
akhir untuk kepuasan Pemeriksa atau otoritas hukum dan adanya pelepasan
sisa-sisa untuk penguburan atau kremasi.
Koordinator DVI fase Post-Mortem harus merupakan spesialis
DVI berpengalaman yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan hasil
kegiatan selama fase post-mortem dari operasi DVI. Koordinator DVI
bagian postmortem bertanggungjawab dan bila diperlukan berkoordinasi
dengan spesialis unutk manajemen dan hasil akhir selama aktifitas fase
postmortem dari operasi DVI.

Gambar 2. Bagan pada pemeriksaan fase kedua.

Fase ini dapat berlangsung bersamaan dengan fase pertama dan


fase ketiga. Pada fase ini, para ahli identifikasi, dokter forensik dan dokter
gigi forensik melakukan pemeriksaan untuk mencari data postmortem
sebanyak-banyaknya. Sidik jari, pemeriksaan terhadap gigi, seluruh tubuh,
dan barang bawaan yang melekat pada mayat. Dilakukan pula pengambilan
sampel jaringan untuk pemeriksaan DNA. Data ini dimasukkan ke dalam
pink form berdasarkan standar Interpol.
Sebisa mungkin, stasiun kamar mayat harus ditetapkan melalui
konsultasi dengan Kepala Unit Identifikasi Korban. Mungkin perlu untuk
mendirikan sebuah layanan keamanan untuk melindungi personil
operasional, fasilitas dan manusia terhadap akses dan atau gangguan oleh

orang yang tidak berwenang. Stasiun kamar mayat melakukan fungsifungsi berikut:

Penerimaan

jenazah

dari

Pusat

Komando

Pemulihan;

mengeluarkan tanda terima untuk Pusat Komando Pemuliahan


sebagai umpan balik (feedback),

Melakukan penyimpanan dan pendinginan yang tepat ,

Organisasi dan transportasi mayat untuk pemeriksaan forensik,


konsultasi dan bekerja sama dalam pemeriksa mayat dan / atau tim
transportasi tubuh,

Pendaftaran untuk tujuan mendokumentasikan lokasi penemuan


dan lokasi masing-masing tetap pada waktu tertentu untuk tujuan
pelacakan,

Organisasi transportasi kembali untuk sisa-sisa tubuh korban

Melakukan validasi jaminan kualitas identifikasi korban sebelum


dilaporkan,

Dokumentasi alur kerja.


Sebuah bagian penerima yang berada di stasiun kamar mayat

bertanggung jawab untuk keluar masuknya jenazah korban dan meninjau


dokumen penyerta (misalnya catatan pemulihan) untuk kebenaran dan
kelengkapan.
Jika memungkinkan, fasilitas kamar mayat yang ada harus dapat
digunakan untuk pemeriksaan jenazah manusia. Jika fasilitas tersebut tidak
tersedia maka tempat yang dipilih harus memenuhi persyaratan minimum
tertentu, yaitu ketersediaan air, drainase atau pengumpulan dan
pembuangan limbah air dan listrik serta mematuhi semua peraturan
kesehatan dan keselamatan. Tempat terpisah harus diatur untuk operasi
berikut:

Penerimaan sisa-sisa manusia.

Pemeriksaan Forensik manusia (otopsi)

Pemeriksaan Gigi

Radiografi (termasuk seluruh tubuh jika mungkin)

Fingerprinting, pemeriksaan gesekan ridge

Koleksi DNA

Pengolahan Bukti

Kontrol Kualitas

Penyerahan mayat yang telah diperiksa


Nomor unik tunggal digunakan untuk setiap tubuh atau bagian

tubuh. Jika tim terdiri dari beberapa DVI internasional bekerja bersama
dalam operasionalnya, dan jika skema pra-penomoran untuk tubuh tidak
dipakai, kode negara telepon internasional dari tim yang menemukan dan
menyimpan tubuh harus dimasukkan sebagai bagian dari nomor (misalnya
untuk tim dari Jerman, jumlah itu akan dimulai dengan 'PM49', atau
Australia PM61 ', diikuti dengan nomor unik yang tersedia berikutnya).
Mayat harus didinginkan pada suhu 4-6 C. Hanya ketika
penyimpanan jangka panjang, sisa-sisa manusia harus disimpan pada suhu
di bawah nol (-14 C) dan dibiarkan hangat sampai 4-6 C sebelum
pemeriksaan. Pengaruh eksternal selama fase post-mortem, waktu dan
faktor iklim (kelembaban tinggi, suhu tinggi) pada sisa-sisa manusia dapat
mempercepat proses dekomposisi. Apabila dekomposisi berlangsung,
proses identifikasi dapat terpengaruh, hancur atau hilang.
Dalam banyak kasus, kapasitas penyimpanan yang tersedia di
sebuah lembaga kedokteran forensik besar atau kamar mayat cukup
mencukupi. Hal ini juga mungkin diperlukan untuk mengembangkan solusi
yang tepat dengan berkonsultasi dengan pemerintah daerah (misalnya
pemasok mayat

sementara,

rinks es skating, fasilitas

pendingin

dinonaktifkan, garasi parkir bawah tanah, bangunan pabrik kosong,


kontainer transportasi berpendingin dan / atau kendaraan berpendingin,
sistem pendingin udara portabel).
2.5.3. Fase Ketiga (Collecting Data Ante-Mortem)
2.5.3.1. Persiapan daftar korban
Tim AM (Ante-Mortem) awalnya bertugas mengumpulkan dan
merekam semua informasi yang berkaitan dengan individu yang dapat
dianggap sebagai korban bencana. Pengalaman yang diperoleh dalam
operasi tanggap bencana sebelumnya telah menunjukkan bahwa
jumlah yang diduga menjadi korban yang dilaporkan bervariasi dan
secara substansial melebihi jumlah korban yang sebenarnya (rasionya
adalah 10: 1 dalam kasus bencana Tsunami di Asia Tenggara). Oleh
karena itu, penting bahwa tindakan polisi lebih tidak terpusat dapat
dilakukan atas dasar kelompok data yang dianggap korban untuk
tujuan verifikasi atau tidak membuktikan jumlah sebenarnya orang
hilang. Perbandingan yang terus menerus dengan daftar yang disimpan

oleh Tim Search and Rescue (daftar korban cedera dan terluka) dapat
mengakibatkan pengurangan sistematis jumlah yang diduga korban.
Tujuan dari pendekatan ini ada dua, 1) untuk memastikan
bahwa kasus sebenarnya orang hilang tidak diabaikan dan 2) untuk
daftar

semua

orang

hilang

yang

sebenarnya

dalam

rangka

memfasilitasi pengumpulan data AM dari kerabat atas dasar daftar


korban yang sesuai. Tim AM tidak harus mulai mengumpulkan data
AM dari kerabat, teman, dan lain-lain sampai daftar korban yang
sebenarnya yang dapat dipercaya tersedia.
2.5.3.2. Dokumentasi / pengarsipan data AM
Semua data AM yang diperoleh harus didokumentasikan.
Sebuah file pribadi untuk digunakan dalam mendokumentasikan
semua yang masuk dan informasi keluar yang berkaitan dengan
individu yang bersangkutan. File personal ini harus berisi sampul
dengan checklist ("to-do list") dari semua langkah yang diperlukan
untuk memperoleh data AM. Pada daftar ini, Tim AM ditugaskan
menyimpan catatan progresif kebijakan yang diambil, langkah-langkah
yang masih harus dilakukan dan informasi yang tidak dapat diperoleh
meskipun upaya investigasi sudah dilakukan secara intensif.
2.5.3.3. Pengumpulan data AM korban
Tim AM harus memastikan bahwa semua data identifikasi
korban dikumpulkan dalam form AM (kuning) sesuai standar Interpol
DVI. Data AM tertentu yang tidak tersedia pada dasarnya juga harus
didokumentasikan. Untuk tujuan mengumpulkan fitur identifikasi
primer, baik domisili dan tempat kerja pribadi masing-masing orang
yang hilang dan daerah lain di mana orang yang diduga hilang.
2.5.3.4. Pengumpulan data pribadi korban melalui wawancara dengan
kerabat, teman, dll.
Personil yang mengumpulkan data ante mortem harus
berpengalaman dalam memperoleh laporan rinci dan harus memiliki
pengetahuan mendalam tentang tata letak dan tujuan dari formulir
yang sesuai. Petugas polisi tidak terbiasa dengan formulir ante
mortem warna kuning sesuai Interpol DVI perlu dilakukan briefing
menyeluruh.
Jika memungkinkan, wawancara yang akan dilakukan secara
personal langsung (face-to-face). Namun, pada keadaan tertentu
mungkin memerlukan wawancara telepon.

Hal - hal berikut harus dipertimbangkan oleh Tim DVI


Wawancara Ante Mortem ketika melakukan wawancara:

Wawancara harus dimulai sesegera mungkin setelah kerabat


dari korban telah secara resmi diberitahu tentang insiden itu.

Polisi yang memimpin wawancara Tim DVI Ante Mortem


harus berusaha untuk menghubungi sanak keluarga atau teman
dari orang / calon korban yang hilang untuk memberitahu
mereka tentang perlunya sebuah wawancara, dan untuk
mengatur waktu dan lokasi.

Wawancara dapat dan harus jauh dari kamar mayat.

Jika wawancara tidak dapat dilakukan di rumah sanak keluarga


atau teman, lokasi yang dipilih adalah daerah yang dapat
ditutup untuk umum dan / atau media, dan yang menjamin
bahwa orang yang diwawancarai disediakan dengan lingkungan
yang nyaman.

Ketika tiba di tempat wawancara, polisi dan Tim DVI


Wawancara Ante Mortem harus memperkenalkan setiap
anggota tim kepada kerabat dan teman-teman yang hadir. Jika
wawancara melalui telepon, masing-masing anggota tim
wawancara harus diperkenalkan kepada orang-orang yang
diwawancarai.

Tim DVI Wawancara Ante Mortem harus memastikan bahwa


keluarga dan / atau teman-teman bersedia untuk mengambil
bagian dalam wawancara dan bahwa mereka sadar mereka
dapat meminta istirahat setiap saat selama wawancara.

Harus memastikan bahwa mereka selalu merujuk kepada


orang / calon korban hilang dalam waktu sekarang dan tidak
dalam bentuk lampau.

Ketika meminta informasi tertentu yang berkaitan dengan


orang-orang yang hilang / calon korban, pewawancara harus
menahan diri dari mengajukan pertanyaan spesifik pribadi dan
intim (misalnya "Apa warna rambut kemaluan pasangan
Anda?"), melainkan mendorong diwawancara untuk menjawab
pertanyaan umum (misalnya "Apakah pirang warna alami istri
Anda? ") atau mengacu pada diagram pada Interpol DVI Ante
Mortem Form D4.

Anggota tim wawancara harus membuat upaya yang konsisten


untuk menjawab pertanyaan spesifik yang diajukan oleh orang
yang diwawancarai. Ketika pertanyaan tidak dapat dijawab,
orang yang diwawancarai harus diberitahu bahwa informasi
tersebut akan diperoleh, jika mungkin, dan diberikan kepada
mereka di kemudian hari. Tidak ada pertanyaan yang harus
diabaikan.

Harus memastikan untuk mengumpulkan informasi dan bahan


yang dibutuhkan dalam satu kali kunjungan jika mungkin untuk
menghindari gangguan lebih lanjut. Jika lebih dari satu
kunjungan yang diperlukan, harus dilakukan oleh tim yang
sama.

Informasi dan / atau bahan berikut harus dikumpulkan sebelum


kesimpulan dari wawancara. Jika wawancara dilakukan melalui
telepon, polisi memimpin Tim DVI Wawancara Ante Mortem
harus mengatur materi yang akan dikumpulkan oleh petugas
polisi terdekat dan diteruskan ke Pusat Koordinasi DVI Ante
Mortem:
1) Setiap catatan medis dan / atau Odontological yang
original, grafik, catatan perawatan, x-ray.
2) Nama dan alamat dari setiap praktisi medis yang pernah
dikunjungi oleh orang / calon korban hilang.
3) Nama dan alamat dokter gigi yang pernah dikunjungi oleh
orang / calon korban hilang.
4) Deskripsi perhiasan dan properti yang dikenakan oleh orang
/ calon korban hilang; foto terbaru dari

orang / calon

korban hilang (menunjukkan wajah penuh dan / atau gigi,


tato dll).
5) Bukal smear atau sampel darah yang diambil dari orang tua
kandung atau anak-anak dari orang / calon korban yang
hilang.
6) Deskripsi dan / atau foto-foto tato atau karakteristik fisik
penting lainnya.
7) Setiap objek yang mungkin berisi satu-satunya sidik jari
dan / atau DNA dari / potensi korban per-anak yang hilang

Tim DVI Wawancara Ante Mortem harus memastikan


penerimaan properti yang dikeluarkan untuk setiap properti
atau bahan yang diambil dari keluarga atau teman-teman dari
orang / calon korban hilang.

Persetujuan / izin untuk tes DNA harus diperoleh sebelum


mengambil bukal swab atau darah sampel, sesuai dengan
hukum yang berlaku.

Prosedur yang digunakan dalam pengumpulan, penyimpanan


dan pengelolaan sampel DNA harus sesuai dengan hukum yang
berlaku.

Form kuning yang dibutuhkan oleh Koordinator DVI Ante


Mortem harus dilengkapi dan diserahkan ke Pusat Koordinasi
DVI Ante Mortem sesegera mungkin setelah wawancara.
Tim Wawancara DVI Ante Mortem harus memasukkan nama

masing-masing anggota pada form kuning Ante Mortem. Tim harus


memberikan atau mengatur penyampaian materi DNA, catatan media
asli atau Odontological dan eksposur x-ray serta foto-foto yang
diperoleh selama atau setelah wawancara ke File DVI Bagian Ante
Mortem.
Dalam penangananan Berkas Orang Hilang / Potensi Korban,
Prinsip-prinsip berikut harus diperhatikan ketika menyusun berkas
orang hilang / potensi korban :
1) Berkas harus disimpan dalam amplop atau folder untuk
mencegah hilangnya bahan.
2) Berkas harus memiliki sampul dengan nama dan jenis kelamin
dari / potensi korban per-anak yang hilang.
3) Berkas harus berisi informasi sebanyak mungkin untuk
membantu dalam mengidentifikasi korban meninggal.
4) Berkas harus dipantau secara teratur untuk duplikasi.
5) Catatan ante mortem harus diteruskan ke Pusat DVI Ante
Mortem hanya untuk penerjemahan, transkripsi dan entri data,
disertai dengan dokumentasi yang sesuai (formulir kuning
Interpol DVI Ante Mortem dan identifier primer).
6) Catatan ante mortem harus diberikan kepada petugas Pusat
DVI Ante Mortem dan ditandatangani oleh petugas itu.

7) Beberapa catatan ante mortem yang tidak diteruskan ke Pusat


DVI Ante Mortem harus dikembalikan ke sumber dari mana
mereka peroleh dalam jangka waktu yang wajar.

Gambar 3. Bagan kegiatan pada fase ketiga.

2.5.4. Fase Keempat (Reconciliation)


Tim rekonsiliasi membandingkan temuan Antemortem dan
Postmortem yang dikumpulkan oleh tim pada fase satu, dua dan tiga.
Alasan praktis, tim rekonsiliasi harus mengatur sedekat mungkin ke
pusat komando operasi dan/ atau pusat manajemen informasi.
Waktu yang cukup dapat disimpan dalam membandingkan data
Antemortem dan Postmortem, jika pengolahan data dan software
evaluasi digunakan. Meskipun, tidak ada program komputer, tidak
peduli seberapa efektif, bisa lebih dari alat yang bermanfaat. Keputusan
akhir sehubungan dengan identifikasi korban harus dilakukan atas dasar
kriteria yang relevan. Jika ada tidak ada kemungkinan evaluasi
menggunakan perangkat lunak, metode lain yang mungkin cocok terbaik
dan perbandingan harus dimanfaatkan.
2.5.4.1. Kegiatan Rekonsiliasi
Tim Rekonsiliasi menerima file AM dan PM segera setelah
mereka tiba setelah tindakan pengendalian mutu yang tepat telah
dilakukan di bagian masing-masing (AM dan PM). Kontrol kualitas
terus dalam Tim Rekonsiliasi, untuk memastikan kepatuhan

terhadap standar data yang seragam. Selain tindakan pengendalian


mutu tersebut, daerah ini bertanggung jawab untuk:
a. Mengumpulkan atau mereview data AM atau PM
b. Klasifikasi kolektif kesimpulan identifikasi
c. Persiapan daftar poin petunjuk data AM dan petunjuk titik data
PM
d. Rekomendasi untuk identifikasi oleh anggota atau tim
e. Verifikasi independen oleh kedua anggota atau tim
f. Penyusunan

laporan

dengan

tingkat

kesimpulan

untuk

diserahkan kepada Dewan Identifikasi.


2.5.4.2. Pengklasifikasian
Sejak pencarian menggunakan temuan PM dengan semua
data AM tersedia memakan waktu berlebihan, data kolektif harus
diklasifikasikan sesuai dengan kriteria yang berguna sehingga,
misalnya, catatan PM untuk anak-anak perempuan dibandingkan
hanya dengan AM catatan untuk anak-anak perempuan (lihat
gambar 2). Oleh karena itu, klasifikasi berdasarkan jenis kelamin
dan usia di awal sangat membantu untuk kedua AM dan PM
catatan, dan catatan harus diajukan sesuai.
Klasifikasi berdasarkan afiliasi etnis atau tinggi tidak praktis
dalam banyak kasus, seperti tubuh banyak korban bencana besar
dapat sangat dimutilasi atau hancur (misalnya

kecelakaan

penerbangan dan kereta api) dan / atau karena stadium lanjut


dekomposisi harus diantisipasi dalam banyak kasus.

Gambar 2. Bagan pengklasifikasian data AM-PM berdasarkan jenis


kelamin.

2.5.4.3. Tanda Petunjuk

Dalam rangka untuk mencari kemungkinan pertandingan terbaik


antara AM dan PM Data set, akan sangat membantu untuk
menyiapkan daftar khusus tanda AM dan PM. Dengan cara ini, fitur
hanya sangat penting dari orang atau badan yang hilang dicatat
dalam daftar.
Daftar penanda utama disiapkan untuk kedua subkelompok AM dan
PM, contoh seperti pada gambar 4 dan 5.
Sampel Daftar Tanda Petunjuk AM

Sampel Daftar Tanda Petunjuk PM

AM Perempuan Dewasa

PM Perempuan Dewasa

Gambar 4. Contoh perbandingan sampel daftar petunjuk AM dan PM.

Contoh Pencocokan Pertama


Tabel AM Perempuan Dewasa

Tabel PM Perempuan Dewasa

Gambar 5. Contoh pencocokan data AM dan PM.

Selama

proses

perbandingan

individu

selanjutnya,

kecocokan yang diperoleh selama proses pencocokan pertama


digambarkan

di

atas

dikumpulkan

dan

diperiksa

melalui

perbandingan individu AM orang hilang file dengan temuan yang

ada di berkas PM. Proses ini dapat menghasilkan identifikasi,


penolakan (non-identifikasi), atau pembentukan identitas mungkin
atau mungkin.
Sebagai aturan, identifikasi dapat diverifikasi jika ada
pertandingan di fitur mengidentifikasi primer. Jika pertandingan
didasarkan pada fitur identifikasi sekunder saja, faktor pendukung
tambahan harus dinilai sebelum identifikasi didirikan.
2.5.4.4. Pembandingan oleh Ahli
Sebelum dokumentasi diteruskan kepada Dewan Identifikasi
untuk dipertimbangkan, para ahli yang bersangkutan bertanggung
jawab

untuk

mengkonfirmasi

identitas

diminta

untuk

membandingkan erat, menganalisis dan sampai pada kesimpulan


berdasarkan data yang disusun dan dipersiapkan selama fase awal
dari proses DVI.

Analisis Sidik Jari


Analisis daerah friksi pada sidik jari harus diserahkan
kepada bagian ahlinya. Ahli membandingkan friksi daerah
AM dengan bukti yang diperoleh dari tubuh korban. AFIS
atau teknologi database yang sama harus digunakan dalam
konteks ini.

Perbandingan forensik odontologi


Sejumlah besar detail tertentu dapat dibandingkan untuk
tujuan pencocokan berdasarkan status gigi. Ahli odontologi
forensik harus diserahkan kepada bagian ini untuk
perbandingan individu.

DNA (biologi forensik)


Profil AM DNA dibandingkan dengan PM profil oleh ahli
biologi forensik yang terlatih khusus. Program komputer
terutama membuat perbandingan pertandingan potensial
untuk

biologi

untuk

mengkonfirmasi

dan

kemudian

menghitung statistik probabilitas. Analisis Kekerabatan juga


dapat digunakan dalam proses ini.
2.5.4.5. Dewan Identifikasi
Dewan Identifikasi adalah sekelompok ahli yang memenuhi
secara berkala untuk membahas dan memverifikasi proposal yang

diajukan oleh Tim Rekonsiliasi. Dewan membuat keputusan akhir


mengenai identifikasi korban yang diberikan dan menyatakan
keputusan ini pada dokumentasi DVI. Ini kemudian diberikan
kepada Pemeriksa relevan atau badan Peradilan lainnya untuk
dipertimbangkan. Susunan Dewan ini akan ditentukan oleh
kerangka hukum yang ada.
Identifikasi akhir dari korban bencana dibuat dengan
persetujuan Dewan Identification (IB). IB memiliki tanggung jawab
khusus sebagai berikut:
a. Meninjau dan mengevaluasi bukti yang diberikan dalam
kasus tertentu.
b. Putuskan apakah bukti cukup untuk mengidentifikasi korban
(jika tidak, kasus tersebut dikirim kembali untuk informasi
lebih lanjut)
c. Lokalisasi dan penilaian ulang yang tidak cocok.
d. Menggabungkan hasil dari Laporan Perbadingan ke dalam
Laporan Identifikasi Korban (Victim Identification Report)
dan disetujui dengan dibubuhi tanda tangan, menjadi
yurisdiksi. Laporan ini sudah dianggap sebagai penentuan
formal dari identifikasi korban yang ditemukan.
Dewan Identifikasi bertanggung jawab untuk identifikasi
akhir dari setiap korban dan karena itu harus terdiri dari para ahli
identifikasi yang paling berpengalaman yang terlibat dalam operasi
itu, yaitu kepala dari berbagai bagian / unit (patologi forensik,
odontologi, sidik jari, biologi) dan Direktur, komandan atau
delegasi dari Tim DVI. Di beberapa negara, proses identifikasi ini
mungkin memerlukan tingkat lebih lanjut dari otoritas dengan cara
Pemeriksa atau pengawasan Yudisial lain sebelum penerimaan
akhir.
Dimungkinkan untuk memiliki satu atau dua wakil (sebagai
pengamat) dari negara-negara yang terlibat dalam bencana di
Dewan Identifikasi. Badan identifikasi bekerja di bawah naungan
otoritas investigasi dengan yurisdiksi akhir di dalam negeri untuk
identifikasi korban. Tergantung pada lokal, ini bisa menjadi otoritas
koroner, hakim, pemeriksa medis, militer atau polisi.
2.5.5. Debriefing

Debriefing adalah salah satu tahapan terakhir dari fase prosedur


identifikasi yang dilakukan oleh DVI. Tahap ini dilakukan 3-6 bulan
setelah diselesaikannya proses identifikasi (Henky & Oktavinda, 2012).
Tujuan utama dari dilakukannya de-briefing ini, adalah: (1) Untuk
menganalisa dan mengevaluasi kinerja anggota DVI dari awal hingga
akhir proses identifikasi; (2) Mencari hambatan atau permasalahan yang
terjadi pada saat proses identifikasi berlangsung, serta memperbaiki
hambatan tersebut untuk tujuan lebih baik di masa yang akan datang;
dan (3) Mencara hal yang positif atau baik ketika proses identifikasi
berlangsung, untuk dipertahankan serta ditingkatkan pada kinerja
anggota DVI berikutnya (Mudjiharto, Rosita, & Sedyaningsih, 2011).
Pada fase kelima ini semua anggota DVI atau orang terlibat
dalam proses identifikasi berkumpul, dan mengevaluasi hal-hal yang
berkaitan dengan proses pelaksanaan identifikasi. Hal-hal yang
dimaksudkan, adalah seperti: (1) Proses identifikasi; (2) Sarana atau
fasilitas; (3) Prasarana; (4) Kinerja anggota; (5) Prosedur kerja meliputi
hambatan kerja dapat melalui foto, video, maupun film; dan (6) Hasil
atau pelaporan identifikasi. Setelah keenam hasil evaluasi tersebut
diterima, maka dilakukan perbaikan untuk meningkatkan kinerja di
masa yang akan datang. Serta meminimalisir hal-hal apa saja yang tidak
boleh terjadi di masa yang akan datang.
Pengarahan dan persiapan anggota DVI pada tahapan awal
adalah langkah yang amat penting, dengan harapan seluruh proses
identifikasi dapat dilakukan dengan baik. Begitu pula dengan fase debriefing pada akhir pelaksanaan, atau ketika seluruh anggota DVI telah
selesai menjalankan tugasnya. Selain berguna sebagai proses evaluasi,
de-briefing juga dapat menjadi wadah untuk berdiskusi pada aspek
profesional serta berdikusi mengenai perasaan pribadi setiap anggota
DVI yang bertugas. Mendiskusikan perasaan pribadi tentu penting
dilakukan pada setiap anggota DVI, karena kebanyakan bencana dapat
menimbulkan perasaan traumatis tersendiri. Tidak hanya pada keluarga
korban, melainkan juga pada tim identifikasi DVI. Oleh sebab itu proses
konseling juga perlu dilakukan untuk setiap anggota DVI, supaya efektif
konseling harus dilakukan oleh staf yang terlatih dan bersifat rahasia
(Interpol, INTERNATIONAL CRIMINAL POLICE ORGANIZATION,
1997).

Selain bantuan psikologis dengan diadakannya konseling, setelah


pelaksanaan identifikasi berlangsung diperlukan juga adanya MCU
(Medical Check-Up) untuk seluruh anggota DVI. Beban kerja yang
harus dihadapi oleh anggota DVI di lapangan tentu saja membutuhkan
konsentrasi dan kondisi yang prima. Jadi sangat pentung untuk menjaga
kesehatan baik mental dan fisik dari setiap anggota DVI, dengan
demikian kualitas pekerjaan akan terus terjaga di masa yang akan
datang.
Pada kenyataan di lapangan berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh Wilianto dan Yudianto, pelaksanaan de-briefing telah
dilakukan dengan sangat baik. Berdasarkan rentang skor antara 1-10,
proses pelaksanaan de-briefing bernilai 10 (Yudianto & Wilianto, 2010).
Berdasarkan penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa DVI Indonesia
telah cukup baik menjalankan tahapan terakhir dalam proses
identifikasi, atau dalam fase de-briefing.
Pada akhir fase de-briefing biasanya akan dikeluarkan laporan
pertanggungjawaban kegiatan. Laporan tersebut dikerjakan berdasarkan
seluruh kinerja anggota DVI, serta seluruh anggota pembantu lain yang
bertugas seperti membuat sketsa TKP, peta daerah dan lain-lain
(Interpol, Disaster Victim Identification Guidelines, 2009). Laporan
tersebut biasanya berisi: (1) Pendahuluan; (2) Maksud dan tujuan
penulisan laporan; (3) Ruang lingkup; (4) Dasar atau surat keputusan
yang diberikan kepada para anggota DVI; (5) Uraian pelaksanaan proses
kerja identifikasi; (6) Hasil identifikasi, biasanya disertai dengan namanama korban yang berhasil diidentifikasi; (7) Kesimpulan; dan (8)
Lampiran, biasanya berisi foto-foto kegiatan anggota DVI di lapangan
(DVI, 2012).