Anda di halaman 1dari 12

UJI POSTULAT KOCH

Oleh :
Tantri Analisawati S.B1J007022
Mila Haerulummah
B1J008013
Siti Rusdiati
B1J008040
Eka Widiyarti
B1J008053
Nita Wahyu Suwardani
B1J008060
Khafid Mukti Wijaksana B1J008099
Kelompok : 5
Asisten : Dyah W.

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat didiagnosa dengan menggunakan


Postulat Koch. Pengamatan dilakukan secara mikroskopik berdasarkan tanda-tanda
visual secara in situ atau in vitro dari patogen dalam biakan murni. Proses biakan
murni akan merangsang patogen untuk menghasilkan struktur reproduktif aseksual
atau seksual yang dapat digunakan untuk identifikasi. Proses isolasi yang dilakukan
ternyata tidak selalu mudah dilakukan khususnya pada tumbuhan yang gejala-gejala
penyakitnya yang tidak dapat diamati secara visual. Apabila terjadi demikian maka
sebagian kecil dari seluruh bagian tumbuhan yang terinfeksi tersebut harus diisolasi
pada biakan murni termasuk tanah sebagai media tumbuhnya (Agrios, 1996).
Untuk keperluan pembuktian penyebabnya, Robert Koch pada tahun 1883
menganjurkan 3 ketentuan dan oleh E.F. Smith pada tahun 1905 ditambah dengan
satu ketentuan lagi. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi untuk menentukan
hubungan sebab dan akibat antara parasit dan penyakit. Koch menerapkannya untuk
untuk menentukan etiologi antraks dan tuberkulosis, namun semuanya telah
diterapkan pada penyakit lain (Belqis, 2008). Ketentuan-ketentuan untuk pembuktian
penyebab penyakit, dikenal dengan Uji Postulat Koch yaitu :

Penyebab penyakit harus selalu berasosiasi dengan tanaman sakit

Penyebab penyakit harus dapat diisolasi dan tumbuh pada biakan murni

Jika inang yang sakit diinokulasi dengan patogen dari biakan murni maka
gejala penyakit yang sama akan timbul

Patogen yang sama harus dapat diisolasi dari tanaman yang sakit tersebut
(reisolasi).

Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk
mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Walaupun
dalam masa Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung
jawab pada suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha untuk
menjalankan postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang
disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Virus pada masa itu belum dapat dilihat atau
diisolasi dalam kultur.
Beberapa penyebab infektif kini diterima sebagai penyebab penyakit
walaupun tidak memenuhi semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan
diagnosis mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat (Iqbal,
2010). Pembuktian penyebab penyakit tumbuhan dengan postulat Koch tidak saja
terbatas untuk patogen yang bersifat fakultatif atau saprofit fakultatif, tapi dapat pula
berlaku untuk parasit obligat. Untuk keperluan tersebut tidak dipergunakan media
biakan sintetik, tapi memakai tanaman hidup media biakannya.
Diagnosa suatu penyakit dikatakan benar apabila patogen yang diisolasi dan
diinfeksikan pada tanaman sehat menunjukkan gejala yang sama dengan gejala
penyakit semula dan apabila dilakukan isolasi kembali akan memperlihatkan patogen
yang sama pula (Triharso, 1994). Lucas et. al. (1992) menambahkan bahwa untuk
menentukan apakah tumbuhan tersebut sakit maka kita harus mengetahui terlebih
dahulu mengenai pertumbuhan, perkembangan, kultur, kenampakan normal dari
tumbuhan tersebut.
Penyebab utama penyakit pada tumbuhan dapat berupa organisme hidup
patogenik (parasit) maupun faktor lingkungan. Penyakit yang disebabkan oleh
patogen jamur dicirikan dengan adanya bagian-bagian vegetatif dari jamur tersebut
atau pada bagian dalam tumbuhan terinfeksi (Agrios, 1996).

B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan bahwa organisme patogen
merupakan penyebab penyakit pada tumbuhan sakit dengan menggunakan Postulat
Koch.

II.

MATERI DAN METODE


A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum antara lain tabung reaksi, cawan
Petri, spatula, jarum ose, Erlenmeyer, sprayer, pipet, obyek glass, cover glass
polybag dan mikroskop. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah sampel tanaman/bagian tanaman sakit, aquades, alkohol 70%, kertas
saring, tanah steril, kapas, media PDA, chloramphenicol, dan tanaman uji.

B. Cara Kerja

Isolasi patogen dari sampel tanaman sakit


1. tanaman sakit disiapkan, yaitu sawi dan kangkung.
2. daun pada tanaman sakit dipotong, dan dicelupkan pada larutan alkohol serta
akuades steril.
3. potongan daun ditiriskan pada kertas saring dan kemudian ditanam pada
media PDA untuk kemudian diinkubasi.
4. untuk peremajaan, diberi 3 tetes larutan chloramfenicol, kemudian
dituangkan media PDA.
5. media PDA menjadi padatan, dan diinkubasi.

Peremajaan isolat patogen


1. diambil satu ose isolat patogen.
2. isolat ditanam pada media PDA baru.
3. diinkubasi selama 3x24 jam.

Identifikasi patogen
1. miselium dari isolat patogen diambil, diletakkan pada obyek glass yang telah
disiapkan.

2. ditetesi dengan akuades, kemudian ditutup dengan cover glass.


3. diamati di bawah mikroskop dan diidentifikasi dengan buku identifikasi.

Pembuatan inokulum
1. jagung disiapkan dan direbus.
2. jagung yang telah direbus ditiriskan, kemudian ditambah dengan kapur 1%.
3. botol tempat jagung ditutup dengan alumunium foil dan disterilisasi.
4. setelah disterilisasi, isolat patogen ditanamkan pada media jagung.
5. diinkubasi hingga tumbuh miselium.

Inokulasi buatan pada tanaman uji


1. inokulum patogen dimasukkan ke dalam polybag yang berisi tanaman sehat.
2. diamati beberapa hari.

Reisolasi patogen (dari tanaman sakit)


1. daun tanaman sakit diambil, dipotong pada bagian yang menunjukkan gejala
penyakit.
2. potongan daun dicelupkan ke dalam alkohol 70% serta akuades steril.
3. potongan daun ditiriskan dan kemudian ditanam pada media PDA untuk
kemudian diinkubasi

Identifikasi akhir pathogen


1. isolat patogen yang telah diinkubasi, diambil sebanyak satu ose.
2. isolat patogen diletakkan pada obyek glass yang telah disiapkan.
3. ditetesi dengan akuades, kemudian ditutup dengan cover glass.
4. diamati di bawah mikroskop dan diidentifikasi dengan buku identifikasi.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk
mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Pada masa
Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang bertanggung jawab pada
suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha untuk menjalankan
postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang disebabkan virus pada
akhir abad ke-19. Pada masa itu virus belum dapat dilihan atau diisolasi dalam kultur.
Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi. Sekarang ini beberapa
penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi
semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak
diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat (Isnawati, 2009).
Postulat Koch menjelaskan bahwa mikroorganisme dikatakan sebagai
penyebab penyakit bila memenuhi kriteria berikut (Iqbal, 2010):
(1) mikroorganisme penyebab penyakit selalu berasosiasi dengan gejala
penyakit yang bersangkutan,
(2) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat diisolasi pada media
buatan secara murni,
(3) mikroorganisme

penyebab

penyakit

hasil

isolasi

harus

dapat

menimbulkan gejala yang sama dengan gejala penyakitnya, apabila


diinokulasikan, dan
(4) mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat direisolasi dari gejala
yang timbul hasil lnokulasi.

Postulat Koch ini oleh Smith (1906) dimodifikasi, untuk parasit obligat, tidak perlu
pada media buatan, tetapi harus dapat dibiakkan secara murni sekalipun pada inang
(Belqis, 2008).
Percobaan yang dilakukan pada praktikum fitopatologi ini adalah
menggunakan tanaman sawi dan kangkung yang sakit. Kebenaran penyakit dari
tanaman tersebut dilakukan dengan melakukan isolasi pada bagian-bagian tubuh
tanaman yang terinfeksi sesuai dengan Postulat Koch. Isolasi dilakukan pada bagian
daun tanaman yang sakit. Isolasi dilakukan dengan menggunakan metode tanam
langsung pada media PDA. Dilakukannya isolasi ini, penyebab penyakit dapat
diketahui setelah beberapa hari kemudian, dengan mengamati ciri-ciri struktur
reproduktif seksual/aseksual yang diproduksi oleh patogen tersebut. Proses biakan
murni pun akan merangsang patogen untuk menghasilkan struktur reproduktif
aseksual atau seksual yang dapat digunakan untuk identifikasi (Belqis, 2008).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada medium PDA, terlihat adanya
pertumbuhan jasad patogen Fusarium sp. dan Cercospora sp. Setelah proses
identifikasi, patogen Fusarium sp. diinfeksikan kembali pada tanaman sawi dan
Cescospora sp. diinfeksikan kembali pada tanaman kangkung dan tanah media
tumbuh tanaman dengan menggunakan inokulum buatan pada jagung. Setelah
tanaman tersebut diamati, ternyata menunjukkan gejala penyakit sebagai berikut;
terjadi pemucatan dan kekuning-kuningan pada daun dan diikuti daun menjadi layu
baik pada tanaman sawi maupun kangkung. Menurut Semangun (1996) dan Freeman
et al (2000), dari gejala-gejala penyakit yang tampak secara visual tersebut
menandakan bahwa tanaman tersebut terinfeksi oleh patogen F. oxysporum.
Namun setelah dilakukan reisolasi dan pada akhir identifikasi, diketahui
bahwa patogen yang menginfeksi tanaman adalah Aspergillus sp. bukan Fusarium

sp. ataupun Cercospora sp. Hal ini mungkin disebabkan terjadi kesalahan dalam
mengambil bagian tanaman yang sakit, atau layunya daun pada tanaman sakit bukan
penyebab dari terinfeksinya patogen Fusarium sp. ataupun Cercospora sp. melainkan
karena kekurangan air atau sinar dari matahari.
Faktor lingkungan yang baikpun dapat menimbulkan patogen tersebut tidak
dapat menginfeksi tanaman, karena apabila patogen akan menyerang suatu tanaman
dan tidak didukung suatu inang dan lingkungan yang rentan, maka tanaman tersebut
akan tahan terhadap penyakit yang menyerangnya (Belqis, 2008). Dengan demikian
timbulnya peledakan (outbreak) penyakit secara luas tergantung dari:

Banyak tanaman yang rentan

Banyak patogen yang virulen

Keadaan lingkungan yang sesuai untuk patogen dalam jangka waktu lama

Penyakit tersebut tidak akan meluas, jika tidak ditunjang oleh variabel tersebut
diatas. Jadi Postulat Koch yang diuji tidak dapat dibuktikan kebenarannya (Iqbal,
2010).
Semangun (1996), menyatakan bahwa Fusarium sp. merupakan salah satu
jenis jamur tanah (soil inhibitant) dan bersifat parasit non obligat. Jamur ini
mengadakan infeksi pada akar yang terjadi akibat munculnya akar lateral untuk jalan
infeksinya. Walaupun demikian jamur dapat juga mengadakan infeksi pada akar yang
tidak luka khususnya pada ujung akar. Jamur berkembang dalam jaringan parenkhim
lalu berkembang dan menetap dalam jaringan pembuluh.
Apabila tanaman uji tersebut terserang oleh patogen Fusarium sp. maka
jamur tersebut akan bertahan dalam bentuk miselium atau dalam bentuk
konidiumnya (Barik et al., 2010). Miselium akan berkecambah dan berpenetrasi
langsung ke akar yang sehat kemudian bergerak ke atas menuju pembuluh xylem.

Dalam pembuluh xylem miselium menghasilkan mikrokonidium yang banyak dan


menyebar ke dalam ruang-ruang intraseluler dan menghasilkan toksin dan
mengakibatkan tanaman yang terinfeksi akan cepat menjadi layu karena mengubah
permeabilitas membran dalam tanaman inang (Sastrahidayat, 1986). Menurut Agrios
(1996), morfologi Fusarium sp. pada media akan menampakkan miselium yang tidak
berwarna, semakin lama warna miselium tersebut akan berubah menjadi krem atau
kuning pucat dan akhirnya miselium tersebut akan berwarna ungu.

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa


hasil isolasi dari bagian tanaman yang terinfeksi oleh patogen Fusarium sp. dan pada
hasil reisolasi tidak terjadi pertumbuhan patogen yang sama, sehingga percobaan
Postulat Koch yang dilakukan tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

DAFTAR REFERENSI

Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. UGM Press, Yogyakarta.


Barik, Bibhuti Prasad, Kumananda Tayung, Prema Narayan Jagadev and Sushil
Kumar Dutta. 2010. Phylogenetic Placement of an Endophytic Fungus
Fusarium oxysporum Isolatd from Acorus calamus Rhizome with
Antimicrobial Activity. EJBS 2(1): 8-16.
Belqis, Ratu. 2008. Postulat Koch. http://queenofsheeba.wordpress.com. Diakses
tanggal 5 Juni 2010.
Freeman, Stanley., Marcel Maymon. 2000. Reliable Detection of the Fungal
Pathogen Fusarium axysporum f.sp. albendinis, Causal Agent of Bayoud
Disease of Date Palm, Using Molecular Tecniques. Phytoparasitica 28(4): 18.
Isnawati, Leny. 2009. Deteksi dan Identifikasi Odontoglossum Ringspot Virus
(ORSV) pada Tanaman Anggrek. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Iqbal, Muhammad. 2010. Postulat Koch. Program Studi Agroteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Hasanuddin, Makasar.
Fox, R.T.V. 1993. Principles of Diagnostic Techniques in Plant Phytopatology. Cab.
Internasional, London.
Lucas, G.B., L.T. Lucas, C.L. Campbell. 1992. Introduction Plat Disease
Identification and Management. Van Nostrand Reinhold, New York.
Sastrahidayat, I.R. 1986. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Usaha Nasional, Surabaya.
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. UGM Press, Yogyakarta.
Triharso. 1994. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. UGM Press, Yogyakarta.