Anda di halaman 1dari 13

PENENTUAN TAHANAN TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK PADA

KONFIGURASI WENNER DAN ALFA


( Studi kasus di sekitar Lapangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung )

LAPORAN EKSPERIMEN FISIKA 2

Oleh :
Shipa Septriyani
1211703032

JURUSAN MIPA PRODI FISIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013

Abstrak
Investigasi permukaan kedalaman tanah menggunakan metode tahanan geolistrik telah dilakukan di
Lapangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Akuisisi data dengan cara konfigurasi Wenner. Pengolahan
data dan interpretasi menggunakan perangkat lunak Progress

versi RES2DINV 3,54. Output dari

perangkat lunak Progress adalah kedalaman, jumlah lapisan, dan nilai-nilai resistivitas batuan.
Sedangkan output dari RES2DINV adalah resistivitas, RMS, dan kedalaman lapisan batuan. Hasil
interpretasi menunjukkan bahwa pada litologi Lapangan Uin Sunan Gunung Djati Bandung terdiri dari
lapisan tanah atas yaitu, tanah liat berpasir, dengan kedalaman 21,1 m.
Kata-Kata Kunci: Tahanan geolistrik, Akuisisi , interpretasi ,Progress versi RES2DINV 3,54

Abstract
Investigation of surface soil depth using geoelectric method prisoners had done at the UIN Sunan Gunung
Djati Bandung. Acquisition of data by the Wenner configuration. Data processing and interpretation using
Progress Software version 3.54 RES2DINV. Output of Progress Software is the depth, number of layers,
and rock resistivity values. While the output of RES2DINV is resistivity, RMS, and the depth of the rock
layer. The results showed that the lithological interpretation Uin Field Sunan Gunung Djati Bandung
consists of topsoil that is, sandy clay, with a depth of 21.1 m.
Key Words: Prisoners geoelectric, acquisition, interpretation, Progress version RES2DINV

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam usaha untuk mendapatkan susunan mengenai lapisan bumi, kegiatan penyelidikan

melaluipermukaan tanah atau bawah tanah haruslah dilakukan, agar bisa diketahui kedalaman ,
ketebalan pada suatu tempat sehingga dapat diketahui kualitas tanah masih bisa di gunakan atau
tidak. Penyelidikan permukaan tanah merupakan awal penyelidikan yang cukup penting, paling
tidak dapat memberikan suatu gambaran mengenai tahanan tanah dan kedalaman tanahnya.
Beberapa metode penyelidikan permukaan tanah yang dapat dilakukan, diantaranya :
metode geologi, metode gravitasi, metode magnit, metode seismik, dan metode geolistrik. Dari
metode-metode tersebut, metode geolistrik merupakan metode yang banyak sekali digunakan dan
hasilnya cukup baik (Bisri,1991).
Prinsip kerja pendugaan geolistrik adalah mengukur tahanan jenis (resistivity) dengan
mengalirkan aruslistrik kedalam batuan atau tanah melalui elektroda arus (current electrode),
kemudian arus diterima oleh elektroda potensial. Beda potensial antara dua elektroda tersebut
diukur dengan volt meter.

1.2

Tujuan
Dari sanalah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui susunan lapisan bawah permukaan

tanah dan tahanan tanah , sehingga dapat diketahui adanya lapisan tanah yang bisa digunakan
untuk pembangunan di Lapangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan menggunakan
pendekatan Geolistrik.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

Pendugaan geolistrik ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai lapisan


tanah di bawah permukaan dan kemungkinan terdapatnya air tanah dan mineral pada kedalaman
tertentu. Pendugaan geolistrik ini didasarkan pada kenyataan bahwa material yang berbeda akan
mempunyai tahanan jenis yang berbeda apabila dialiri arus listrik. Air tanah mempunyai tahanan
jenis yang lebih rendah daripada batuan mineral. Beberapa penelitian yang terkait dengan
pendugaan geolistrik ini diantaranya : penyelidikan untuk mengetahui sebaran mineral batu bara
dan penyelidikan eksplorasi air bawah tanah (Ali M.N, dkk., 2003).

Metode geolistrik tahanan jenis adalah suatu metode geofisika yang memanfaatkan sifat
tahanan jenis untuk mempelajari keadaan bawah permukaan bumi. Metode ini dilakukan dengan
menggunakan arus listrik searah yang diinjeksikan melalui dua buah elektroda arus ke dalam bumi,
lalu mengamati potensial yang terbentuk melalui dua buah elektroda potensial yang berada di
tempat lain. Karena efek usikan tersebut, maka arus akan menjalar melalui medium bumi dan
menjalar ke arah radial. Besarnya arus radial tersebut dapat diukur dalam bentuk beda potensial
pada suatu tempat tertentu di permukaan tanah, sehingga akan diperoleh informasi tahanan jenis
batuan bawah permukaan ( Hartantya, 2000 ).

Besaran inilah yang menjadi target utama dalam survai geolistrik. Tahanan jenis
merupakan parameter penting untuk mengkarakterisasikan keadaan fisis bawah permukaan, yang
diasoasiasikan dengan material dan kondisi bawah permukaan. Berdasarkan analisis distribusi
tahanan jenis ini nantinya dapat diinterpretasikan keadaan bawah permukaan bumi tersebut.

Apabila ditinjau sebuah rangkaian sederhana yang terdiri dari sumber arus (batere) yang terhubung
seri dengan sebuah tahanan, maka arus yang mengalir dalam kawat loop akan terhambat oleh
keberadaan hambatan tersebut. Pada ujung-ujung hambatan dapat diukur beda potensialnya. Beda
potensial besarnya dirumuskan.
=

dengan V = beda potensial terukur (V), I = arus yang dilewatkan (A) dan R = hambatan ().
Apabila hambatan tersebut berbentuk balok dengan luas penampang A, panjang l, dan hambatan
r, maka dikenal parameter baru yang disebut sebagai tahanan jenis sebagai

yang bersatuan ohm-jarak (dapat berupa m, ft maupun cm). Apabila ditinjau bahwa media
yang dipakai adalah medium homogen setengah koordinat (half-space), garisgaris arus akan
menjalar radial dan membentuk setengah bola. Apabila jarak titik pengukuran adalah d, maka
persamaan (2) menjadi :
=

1
=
( )
2 2 2

Sehingga beda potensialnya akan memberikan :

= =

1
( ) = 0
2

Pendekatan sederhana untuk mendapatkan hambatan jenis setiap batuan bawah permukaan
dilakukan dengan mengasumsikan bahwa bumi merupakan suatu medium yang homogen isotropis
yang dikenal dengan istilah tahanan jenis semu. Jadi tahanan jenis semu (apparent resistivity)
adalah tahanan jenis yang terukur di atas medium berlapis yang mempunyai perbedaan resistivitas
dan ketebalan lapisan dianggap homogen isotropis. Untuk mendapatkan resistivitas yang
sebenarnya dimana bumi mempunyai resistivitas yang heterogen diperoleh dengan cara membuat
model dan diturunkan hubungan antara resistivitas semu dan resistivitas sebenarnya (metode
inversi). Menurut melalui pendekatan umumnya untuk numerikal inversinya digambarkan dengan
model atau titik dengan struktur bumi berlapis. Struktur yang lebih umum dapat dimodelkan dalam
struktur 2-D, yang konduktifitas regional bervariasi dalam satu arah (strike direction) dan data
diperkirakan memotong strike.

Prinsip kerja metode geolistrik adalah mengalirkan arus listrik searah atau bolak-balik
berfrekuensi rendah ke dalam bumi melalui dua elektroda arus, kemudian mengukur beda
potensial yang timbul melalui dua elektroda potensial, sehingga nilai resistivitasnya dapat
dihitung. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat di tulis persamaan :

1 = 2 ( )dan 2 = 2 ( )
1

Berdasarkan persamaan diatas maka beda potensial yang terukur pada kedua titik P1 dan P2 adalah:

12 = 1 2 =

1
1
1
1
( + )
2 1 2 3 4

Persamaan tersebut menunjukkan nilai beda potensial dari sebuah media dengan nilai
resistivitas yang seragam di seluruh medium. Pada medium tanah atau batuan, nilai resistivitas
di setiap titik berbeda dan bidang ekuipotensial yang terbentuk dapat tidak beraturan, sehingga
nilai resistivitas semu yang terukur di lapangan dapat dihitung dengan

= 2

12 1
1
1
1 1
( + )

1 2 3 4

= (2

12
)

dengan p dikenal sebagai faktor geometri yang nilainya bergantung dari susunan (konfigurasi)
elektroda yang digunakan. Karena pada penelitian ini menggunakan konfigurasi Wenner, maka
faktor geometri untuk konfigurasi Wenner tersebut adalah :
= 2

Penelitian ini bertujuan melihat struktur bawah permukaan daerah prospek air tanah
berdasarkan nilai tahanan jenis batuan bawah permukaan. Metode ini dilakukan dengan cara
memindahkan elektroda dengan jarak tertentu maka akan diperoleh harga-harga tahanan jenis pada
kedalaman yang sesuai dengan jarak elektroda. Harga tahanan jenis dari hasil perhitungan
kemudian diplot terhadap kedalaman (jarak elektroda) pada kertas loglog yang merupakan
kurva lapangan. Selanjutnya kurva lapangan tersebut diterjemahkan menjadi jenis batuan dan
kedalamannya. Prinsip konfigurasi geolistrik ditunjukkan pada Gambar 1.
Dengan memindahkan elektroda dengan jarak tertentu maka akan diperoleh harga-harga
tahanan jenis pada kedalaman yang sesuai dengan jarak elektroda. Selanjutnya kurva lapangan
tersebut diterjemahkan menjadi jenis batuan dan kedalamannya Pengukuran resitivitas suatu titik
sounding dilakukan dengan jalan mengubah jarak electrode secara sembarang tetapi mulai dari
jarak electrode kecil kemudian membesar secara gradual. Jarak antar elektrode ini sebanding
dengan kedalaman lapisan batuan yang terdeteksi. Makin besar jarak elektrode maka makin dalam
lapisan batuan yang dapat diselidiki. Interpretasi data resistivitas didasarkan pada asumsi bahwa
bumi terdiri dari lapisan-lapisan tanah dengan ketebalan tertentu dan mempunyai sifat kelistrikan
homogen isotrop, dimana batas antar lapisan dianggap horisontal.

BAB II
METODE PERCOBAAN
3.1

Alat dan Bahan


Resisvitimeter

Penggaris

Dua pasang elektroda (elektroda

Kabel listrik

potensial dan elektroda arus)

Tabel data

Inverter

Alat tulis menulis

Catu daya

Software Res2dv

Multimeter
3.2

Prosedur percobaan
Penelitian ini terdiri dari 12 lintasan dengan jarak panjang lintasan berjarak masing- masing

10 meter. Untuk pengambilan data dilaksanakan dengan alat resistivitymeter dan memvariasikan
jarak elektrodanya dengan kelipatan 10 m, 20 m, dan 40 m. Prosedur pengambilan data adalah
yang pertama menentukan panjang lintasan dan lebar spasi elektrodanya dan memasangkan
elektroda berdasarkan konfigurasi wenner. Selanjutnya menginjeksikan arus kedalam bumi dan
mencatan besarnya nilai beda potensial dan arus. Lalu data tersebut diolah, sehingga diperoleh
nilai tahanan tanah dan nilai tahanan jenis yang di kelompokan sesuai dengan kedalaman lapisan.
Kemudian data- data yang telah tersusun diolah dengan menggunakan Software Res2dinv for Win.
Setelah tahap- tahap tersebut diatas selesai, selanjutnya dapat diinterprestasikan berdasarkan nilai
resistivitas sebenarnya. Dengan demikian dapat diketahui nilai tahanan jenis lapisan tanah .

3.3 Diagram Alir

Siapkan
alat
Pasang
elektroda

Atur jarak pada


masing- masing
elektroda
Sambungkan ke
operator

Nyalakan operator
untuk pengambilan
data

Olah data pada


RES2DINV 3,54
RES2DINV 3,54

selesai

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel.1 Data hasil eksperimen pada pengolahan excel
n

I (mA)

V
(mv)

R()

(m)

0.81216458

datum

spasi

10

20

30

111.8

90.8

62.8

51.0039356

15

10

10

20

30

40

110

67.9

62.8 0.617272727 38.76472727

25

10

20

30

40

50

113.2

45.9

62.8 0.405477032

25.4639576

35

10

30

40

50

60

112.9

33

62.8 0.292294066 18.35606732

45

10

40

50

60

70

113.5

31

62.8 0.273127753 17.15242291

55

10

50

60

70

80

108.1

27

62.8 0.249768733 15.68547641

65

10

60

70

80

90

96.5

29

62.8 0.300518135 18.87253886

75

10

70

80

90

100

112.8

32

62.8 0.283687943 17.81560284

85

10

80

90 100

110

22

62.8 0.409090909 25.69090909

95

10

90

100 110

120

109.6

55

62.8 0.501824818 31.51459854

105

10

20

40

60

113.8

40 125.6 0.351493849 44.14762742

30

20

10

30

50

90

99

27 125.6 0.272727273 34.25454545

40

20

20

40

60

80

33.2

9 125.6 0.271084337 34.04819277

50

20

30

50

70

90

109.4

27 125.6 0.246800731 30.99817185

60

20

40

60

80

100

114.7

29 125.6 0.252833479 31.75588492

70

20

50

70

90

110

115.3

28 125.6 0.242844753 30.50130095

80

20

60

80 100

120

113.5

30 125.6 0.264317181 33.19823789

90

20

30

60

90

105.9

22 188.4 0.207743154

39.1388102

45

30

10

40

70

100

104.3

22 188.4

0.21093001 39.73921381

55

30

20

50

80

110

112.9

24 188.4 0.212577502 40.04960142

65

30

30

60

90

120

115.2

30 188.4 0.260416667

75

30

49.0625

Pengolahan data resistivitas imaging yang diperoleh dari hasil pengukuran dilakukan dengan
menggunakan software Res2Dinv. Korelasi nilai resistivitas batuan adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Output gambar dari Software Res2dv

Lapisan batuan lempungan juga mendomi-nasi permukaan keseluruhan panjangnya


lintasan sampai pada kedalaman sekitar 21,1 meter. Lapisan
bawahnya lapisan

batuan pasiran melapisi

di

pasir. Lapisan batuan pasiran ini dijumpai pada kedalaman mulai sekitar

21,7 meter dengan ketebalan antara 1 meter.


Pengukuran tahanan jenis di lokasi penelitian merupakan pengukuran tahanan jenis semu.
Data tahanan jenis semu tersebut diolah atau diinversi dengan persamaan matematis untuk
mendapatkan nilai tahanan jenis yang sebenarnya. Dalam penelitian ini input data tahanan jenis
semu diolah dengan menggunakan perangkat lunak Res2dinv for Win. Hasil pengolahan data
tersebut berupa distribusi tahanan jenis sebenarnya terhadap penampang melintang di bawah
permukaan tanah. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan penampang geolistrik tahanan jenis
bawah permukaan. Berdasarkan penampang geolistrik ini dapat diketahui kedalaman dan struktur
lapisan tanah yang potensial mengandung pasir berdasarkan perbedaan nilai tahanan jenis yang
divisualisasikan oleh warna tertentu. Penampang geolistrik tahanan jenis bawah permukaan
tersebut ditampilkan pada Gambar 2.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari hasil eksperiment geolistrik di Lapangan UIN Bandung, maka dapat disimpulkan

bahwa: Secara geologi batuan di lokasi penelitian didominasi oleh tanah pasir. Hal ini dilihat dari
hasil eksperiment yang dilakukan dengan menggunakan konfigurasi wenner dan alfa. Sementara
untuk nilai resistivitasnya kita dapat lihat bernilai kecil, itu menunjukan bahwa arus listrik dapat
mengalir dengan baik dan struktur tanahnya padat. Resisistivitas bergantung terhadap jenis batuan
atau amterial yang berada di bawah permukaan. Semakin dalam permukaan berarti nilai
resisitivitasnya semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

Modul eksperiment fisika II Sintesis Nanomaterial Boron-Carbon-Oxynitride (BCNO)

[2]

id.scribed.com/doc/51546186/semikonductor-direct-band-gap diakses pada tgl 27 November 2013

[3]

Derana, T. I., 1981,Perbandingan Interpretasi Geolistrik, Aturan Wenner dan Schlumberger,


Skripsi, Jurusan Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada,Jogjakarta.

[4]

Jannah, L., 2010, Pendugaan Bidang Gelincir Tanah Longsor Berdasarkan Sifat Kelistrikan Bumi
dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis (Studi Kasus Daerah Lereng Kampus II UIN
Maulana Malik Ibrahim Kecamatan Junrejo, Batu malang), skripsi, FMIPA, UIN, dari
http://www.lib.uin malang.ac.id/thesis/fullchapter/06540004-latifatul-jannah.ps, diakses pada tgl
27 November 2013