Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI INDUSTRI

STERILISASI

Oleh:
Putri Permata Sari
NIM A1H012001

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini memerlukan
suatu solusi yang tepat dari permasalahan yang ada, terutama dalam bentuk industry.
Persoalan yang timbul adalah bagaimana membawanya kedalam bentuk matematika
sehingga nantinya dapat diselesaikan menggunakan metode matematika dengan
memperhatikan syarat-syarat batasnya. Proses sterilisasi makanan dengan pemanasan
dilakukan untuk penentuan jaminan keselamatan bahan makanan, jaminan ini
meliputi tepat atau tidaknya tanggal kadaluarsa yang tercantum pada label, rusak
tidaknya kualitas makanan dan jumlah kandungan nutrisi yang ada. Namun demikian,
proses sterilisasi makanan yang diberikan tidak semata-mata membunuh mikroba,
tetapi juga harus mempertimbangkan mutu akhir dari produk, dimana kerusakan mutu
oleh pemanasan.

B. Tujuan
1. Mengetahui prinsip-prinsip sterilisasi bahan pangan.
2. Mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada produk/bahan akibat
sterilisasi.
3. Mengetahui prinsip sterilisasi menggunakan autoclave

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sterilisasi adalah suatu proses mematikan mikroorganisme yang mungkin ada


pada suatu benda. Secara umum terdapat tiga metode yang dapat digunakan untuk
sterilisasi. Pemilihan metode sterilisasi didasarkan pada sifat alat dan bahan yang
akan disterilisasi. Ketiga metode tersebut adalah
1. Sterilisasi mekanik/Filtrasi
Sterilisasi secara mekanik ( filtrasi) dikerjakan dalam suhu ruangan dan
menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45
mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Sterilisasi ini
ditunjukkan untuk bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi Fisik
Sterilisasi dapat digunakan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Terdapat
empat macam sterilisasi dengan pemanasan:
a. Pemijaran Api
Membakar alat pada api secara langsung, contoh alat: jarum inokulum,
pinset, batang L, dan lain sebagainya.
b. Panas
Sterilisasi panas kering yaitu sterilisasi denganmenggunakan udara panas.
Karakteristik sterilisasi kering adalah menggunakan oven suhu tinggi (170180oC) dengan waktu lama (1-3jam). Sterilisasi panas kering cocok untuk
alat yang terbuat dari kaca misalnya Erlenmeyer, tabung reaksi dll. Sebelum
dimasukkan ke dalam oven alat/bahan tersebut dibungkus, disumbat atau
dimasukkan dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi ketika
dikeluarkan dari oven.
c. Uap panas
Konsep ini hampir sama dengan mengukus. Bahan yang mengandung air
lebih tepat menggunakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap panas bertekanan (Autoclaving)
Alat yang digunakan adalah autoclave. Cara kerja alat ini adalah
menggunakan uap panas dengan suhu 121oC selama 15 menit pada tekanan
1 atm. Sterilisasi uap tergantung pada : (1) alat/bahan harus dapat ditembus

uap panas secara merata tanpa mengalami kerusakan (2) Kondisi steril harus
bebas udara (vacum) (3) Suhu yang terukur harus mencapai 121oC dan
dipertahankan selama 15 menit.
3. Sterilisasi kimiawi
Digunakan pada alat/bahan yang tidak tahan panas atau untuk kondisi aseptis
(Sterilisasi meja kerja dan tangan). Bahan kimia yang dapat digunakan adalah
Alkohol, asam parasetat, formaldehid dan lain-lain.

III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan


1.
2.
3.
4.
5.

Autoclave
Botol U-C 1000
Berbagai macam jus (mangga, strawberry, susu, jambu, tomat, apel)
Plastik
Karet

B. Prosedur Praktikum
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memasukkan sedikit jus kedalm botol U-C 1000
3. Setiap masing-masing praktikan mencicipi jus yang belum disterilisasi tersebut
dengan memberi penilaian dari aspek warna, larutan, aroma, tekstur dan rasa
4. Memasukkan jus kedalam botol sampai penuh
5. Menutup botol dengan plastik dan kemudian diikat dengan karet. Selanjutnya
ditutup dengan tutup botol dan tutup kembali dengan plastik dan diikat dengan
6.
7.
8.
9.

karet kembali
Mengisi autoclave dengan air
Memasukkan botol berisi jus kedalam autoclave kemudian menutup alat tersebut.
Mengatur suhu pada autoclave dan waktunya
Menjalankan/mengoperasikan alat dan menunggu proses sterilisasi sampai 15

menit
10. Mengeluarkan botol dari autoclave kemudian mendinginkannya
11. Mencicipi kembali jus setelah disterilisasi dan memberikan penilaian terhadap jus
tersebut

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Sebelum disterilisasi
Warna
Larutan
1 2 3 4 1 2 3 4
Putri

Dida

Dhamar

Dimas

Khoirunni

sa
Fattya

Sohib

Lailli

1
1
Nama

Aroma
2 3 4

Tekstur
Rasa
1 2 3 4 1 2 3 4

1,25

2. Setelah disterilisasi
Warna
Larutan
Aroma
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Putri

Dida

Dhamar

Dimas

Khoirunni

sa
Fattya

Sohib

Lailli

3
3
3
Nama

Tekstur
Rasa
1 2 3 4 1 2 3 4

Keterangan:
1. Tidak (cerah, jernih, kuat, lunak, enak)
2. Agak (cerah, jernih, kuat, lunak, enak)
3. Cerah, jernih, kuat, lunak, enak
4. Sangat (cerah, jernih, kuat, lunak, enak)
Bagian-bagian,fungsi serta mekanisme autoclave ( Terlampir )

B. Pembahasan
Sterilisasi adalah membebaskan tiap benda atau substansi dari semua
kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha
mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas
(kalor), gas-gas seperti formaldehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh
bermacam-macam larutan kimia, oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma.
Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan
tinggi atau oleh filtrasi.
Macammacam sterilisasi yang dapat digunakan sebagai berikut :
1. Steriliasi Panas Dengan Tekanan (Autoclave).
Autoclave yaitu alat serupa tangki minyak yang terdapat diisi dengan uap.
Medium yang disterilkan ditempatkan didalam autoclave ini selama 15 sampai 20
menit, hal ini tergantung pada banyak sedikitnya yang diperlukan untuk sterilisasi.
Medium yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol agak
kecil dari pada dikumpul dalam satu botol yang besar.
Pada saat melakukan sterilisasi, kita sebenarnya memaparkan uap jenuh pada
tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi
pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan pembunuhan mikroorganisme secara
inversibel akibat denaturasi atau koagulasi protein sel.
Sterilisasi demikian merupakan metode yang paling efektif dan ideal karena:

Uap merupakan pembawa (carrier) energi termal paling efektif dan semua
lapisan

pelindung

luar

mikroorganisme

dapat

dilunakkan,

sehingga

memungkinkan terjadi koagulasi.


Bersifat nontoksik, mudah diperoleh, dan relatif mudah dikontrol.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap adalah :


a) Waktu
Apabila mikroorganisme dalam jumlah besar dipaparkan terhadap uap
jenuh pada suhu yang konstan, maka semua mikroorganisme tidak akan
terbunuh pada saat bersamaan.
b) Suhu
Peningkatan suhu akan menurunkan waktu proses sterilisasi secara
dramatis.
c) Kelembapan
Efek penambahan daya bunuh pada sterilisasi uap disebabkan
kelembapan akan menurunkan suhu yang diperlukan agar terjadi
denaturasi dan koagulasi pritein.
2. Sterilisasi Panas Kering (Oven)
Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanis konduksi panas.
Panas akan diansorpasi oleh permukaan luat alat yang di sterilkan, lalu merambat
kebagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisai tercapai.
3. Sterilisasi Gas atau Etilen Oksida
Sterilisasi gas merupakan pilihan lain yang digunakan untuk sterilisasi
alat yang sensitif terhadap panas.
4. Sterilisasi Radiasi
a. Ultraviolet
b. Ion

c. Gamma
5. Sterilisasi Plasma
Plasma terdiri dari elektron, ion, maupun partikel netral. Plasma buatan
dapat terjadi pada suhu tinggi maupun rendah. Plasma berasal dari beberapa gas
seperti logam, nitrogen, dan oksigen yang menunjukan aktivitas sporisidal.

6. Sterilisasi Filtrasi
Medium di saring dengan saringan porseli atau dengan tanah diatom.
Dengan jalan ini, maka zat-zat anorganik tidak akan mengalami penguraian sama
sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan, medium
masih perlu dipanasi dalam autoclave, meskipun tidak selama 15 menit dengan
temperatur 121C. Penyaringan dapat dilakukan juga dengan saringan yang
dibuat dari abes (Hadiotomoto, 1993).
Dari praktikum yang telah dilakukan penilaian terhadap jus pir sebelum
disterilisasi mendapatkan data untuk warna agak cerah dengan nilai pada warna 1;
larutan kental dengan nilai 1; aroma banyak yang memilih agak kuat dengan nilai 1;
tekstur dominan agak lembut dengan nilai tekstur 1; rasa tidak enak dengan nilai rasa
1,25.
Manfaat Sterilisasi
1. Sterilisasi Komersial :
a) Kondisi dimana sebagian besar mikroba telah mati dan masih terdapat
beberapa mikroba yang tetap hidup setelah pemanasan.
b) Kondisi dalam kemasan (kaleng/ botol/ retort pouch) selama penyimpanan
tidak memungkinkan mikroba tumbuh dan berkembang biak.
c) Mikroba yang membahayakan: INAKTIF.

Sterilisasi komersial tidak mematikan jumlah mikroorganisme tetapi dengan


kondisi:
a)
b)
c)
d)

pH
Vakum
Pengemasan hermetis
Mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan patogen

Pemanasan harus cukup. Jika tidak cukup mikroorganisme yang ada menjadi
aktif, yang menyebabkan :

2.
3.
4.
5.

a) Produk busuk
b) Timbul racun
c) Kaleng gembung
Mencegah terjadinya infeksi
Mencegah makanan menjadi rusak
Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri
Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan
biakan murni.
Karena pada saat penutupan dengan plastik dan karet tidak rapat, sehingga

tedapat rongga-rongga udara di dalamnya dan ketika di masukkan dalam autoclave


mendapat tekanan yang tinggi sehingga rongga udara semakin besar dan plastik pecah
atau sobek yang mengakibatkan percobaan pada strelisasi gagal.
Alat sterilisasi lain:
1. Steriliasai Fraksional

Sebelum ada autoclave, cairan dan bahan lain disterilisasikan dengan


cara memberikan uap panas/steam pada suhu 100 0C selama 30 menit dan

masa inkubasi masing-masing selama 3 hari. Metode ini disebut sterilisasi


fraksional atau sterilisasi kecil.

2. Setrilisasi dengan Waterbath

Uap panas membunuh mikroorganisme dengan cara denaturasi protein


mikroorganisme. Pada awalnya, penggunaan air mendidih digunakan sebagai
metode uap panas. Media yang mengandung Agar atau gelatin harus di
panaskan supaya dapat larut dengan sempurna. Tetapi air panas tidak dapat
dianggap sebagai media sterilisasi.
3. Pasteurisasi

Pasteurisasi

tidak

sama

dengan

sterilisasi.

Digunakan

untuk

mengurangi jumlah populasi bakteri pada cairan seperti susu dan untuk
membunuh organism yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Spora
tidak hilang dengan proses pateurisasi.

4. Sterilisasi dengan Filtrasi atau Penyaringan

Walaupun pemanasan adalah metode yang sangat berguna mengatur


pertumbuhan mikroorganisme, tetapi terkadang pada beberapa kondisi tidak
dapat digunakan. Filter dikenal pada dunia mikrobiologi sejak tahun 1890an.
Filter adalah media untuk memisahkan mikroorganisme dari larutan.
Sterilisasi dengan filtrasi dilakukan dengan bantuan pompa vakum. Cairan
akan lolos melewati filter. Sementara Microorganism akan terperangkap di
pori-porifilter.
Dalam preparasi media kultur membrane filter yang digunakan biasanya
memiliki ukuran pori 0.22 dan 0.45 . Udara juga dapat di filter untuk
menghilangkan mikroorganisme. Filter yang biasa digunakan adalah filter
HEPA (High Efficiency Particulate Air). Filter ini dapat menghilangkan
hingga 99 % partikel termasuk mikroorganisme yang memiliki diameter diatas
0.3 m.

5. Sterilisasi Panas

Waktu sterilisasi panas adalah 120 menit pada 160C. Sterilisasi panas
digunakan untuk alat-alat seperti alat gelas laboratorium, alat yang terbuat dari
logam

yang

dapat

tahan

pada

suhu

tinggi.

Pada beberapa jenis perusahaan, termasuk perusahaan di industri farmasi,


oven yang digunakan untuk proses sterilisasi panas harus dilakukan uji
kualifikasi untuk menjamin proses ini berlangsung dengan baik.
6. Pembakaran Langsung
Metode paling cepat untuk sterilisasi adalah dengan cara pembakaran
langsung. Nyala api dari Bunsen digunakan untuk sterilisasi bakteri sebelum
memindahkan sampel dari tabung kultur dan setelah inokulasi.
7. Iradiasi Sinar Gamma
Iradiasi sinar gamma memerlukan waktu yang lama untuk sterilisasi.
Sinar Gamma dihasilkan oleh isotop radioaktif, Cobalt 60. Iradiasi sinar
gamma tidak mempengaruhi produk dan menghasilkan material yang bebas
kontaminan.
8. Desinfeksi dengan Bahan Kimia
Zat kimia sangat efektif digunakan untuk mengatur pertumbuhan
mikroorganisme namun tidak dapat melakukan sterilisasi. Kebanyakan
desinfektan memiliki efek racun, oleh karena itu sangat diperlukan untuk
menggunakan alat keamanan (safety). Peralatan dan ruang lab dapat dilakukan

dekontaminasi dengan cara fumigasi dengan gas formaldehid atau dengan


sinar UV.
Kendala praktikum yaitu karena terbatasnya tempat dan terbatasnya alat,
sehingga tidak semua praktikan dapat melihat atau mengamati saat memasukkan atau
mengeluarkan bahan yang akan di sterilisasikan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi.
1. Sterilisasi secara mekanik (filtrasi)
Di dalam sterilisai secara mekanik (filtrasi), menggunakan suatu saringan
yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan
pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas,
misal nya larutan enzim dan antibiotik.
Jika terdapat beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan
tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterlisasi yang digunakan
adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Didalam mikrobiologi
penyaringan secara fisik paling banyak digunakan adalah dalam penggunaan filter
khusus misalntya filter berkefeld, filter chamberland, dan filter seitz. Jenis filter yang
dipakai tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring.
Penyaringan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas atau cairan melalui
suatu bahan penyaring yang memilki pori-pori cukup kecil untuk menahan
mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan akan tercemar sedangkan cairan
atau gas yang melaluinya akan steril. Alat saring tertentu juga mempergunakan bahan
yang dapat mengabsorbsi mikroorganisme. Saringan yang umum dipakai tidak dapat
menahan virus. Oleh karena itu, sehabis penyaringan medium masih harus dipanasi
dalam otoklaf. Penyaringan dilakukan untuk mensterilkan substansi yang peka
tehadap panas seperti serum,enzim,toksin kuman,ekstrak sel, dan sebagainya.
2. Sterilisasi secara fisik
Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
3. Sterilisaisi secara kimiawi

Biasanya sterilisasi secara kimiawi menggunakan senyawa desinfektan antara lain


alkohol. Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti
halnya alkohol. Umumnya isopropil alkohol 70-90% adalah yang termurah namun
merupakan antiseptik yang sangat efisien dan efektif. Penambahan yodium pada
alkohol akan meningkatkan daya disinfeksinya. Dengan atau iodium, isopropil tidak
efektif terhadap spora. Solusi terbaik untuk membunuh spora adalah campuran
formaldehid dengan alkohol, tetapi solusi ini terlalu toksik untuk dipakai sebagai
antiseptik.
Perubahan yang terjadi pada bahan setelah disterilisasikan berupa warna,
larutan, tekstur, aroma dan rasa. Uji organoleptik ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan-perubahan yang terjadi dan dapat dirasakan oleh indera, namun untuk
perubahan secara kimia tidak bisa dirasakan oleh indera karena bersifat mikro, dan
harus menggunakan alat bantu dalam mendeteksi perubahan.
Prinsip sterilisasi pada autoclave adalah alat untuk memsterilkan berbagai
macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C.

B. Saran
Lebih diperhatikan lagi pada saat sebelum memasukkan bahan kedalam
autoclave supaya tidak terjadi kegagalan pada saat percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D.2005. Dasar Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta.


Eckles, c.R., W.H. Combs dan M. Macy. 1976. Milk and Milk Product. Mc. Craw Hill
Book Co. Inc. New York. Toronto. London.
Hadioetomo. Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: P.T.
Gramedia Pustaka Utama
Levinson W. 2008. Review of Medical Microbiology & Imunology, Tenth Edition.
New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
Lukas, Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta : Andi.
Umiyasih, U., D.B. Wijono dan Soemarmi. 1986. Pengaruh pasteurisasi sederhana
terhadap kualitas air susu. Proc. Seminar Pemanfaatan Lahan Sempit Untuk
Meningkatkan Pro-duksi Peternakan. Nuffic - Univ. Brawijaya. Malang.