Anda di halaman 1dari 12

TEKNIK PEWARNAAN BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) DARI SPUTUM

PERNDERITA TBC MELALUI METODE ZIEHL-NEELSEN

Oleh :
Nama
: Muhammad Rifqi Elnanza
NIM
: B1J012188
Kelompok
:3
Rombongan
:1
Asisten
: Oktaviani Naulita Turnip

LAPORAN PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bakteri tahan asam atau yang biasa disingkat BTA adalah memiliki
ciri-ciri yaitu mempunyai rantai karbon yang panjangnya sekitar 8 95
m dan juga memiliki dinding sel yang tebal dibanding bakteri yang lain,
terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang terkandung
dapat mencapai 60% dari berat dinding sel. Jenis bakteri ini antara lain
Mycobacterium

tuberculose,

Mycobacterium

bovis,

Mycobacterium

leprae, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae. M. tuberculose


adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit tuberculose,
dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai bakteri tahan
asam (BTA). Penularan Mycobacterium tuberculose terjadi melalui jalur
pernafasan bisa dikatakan udara (Syahrurachman, 1994).
Tuberkulosis sendiri adalah penyakit yang menular langsung melalu
udara yang menyerang paru-paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya dan yang besar kemungkinannya adalah organ paru sekitar
90% kemungkinannya. Family Mycobacterium inilah yang menyebabkan
penyakit tersebut, lebih dari 30 macam hanya tiga species yang dikenal
menyebabkan kerugian bagi manusia, yaitu Myco bacterium bovis, M.
Leprae dan M. Tuberculosis (Suarni, 2009).
Pewarnaan Ziehl Neelson atau yang disebut pewarnaan tahan
asam memilahkan kelompok Mycobacterium dan Nocandia dengan
bakteri-bakteri lainnya. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam
dikarenakan

bakteri-bakteri

ini

dapat

mempertahankan

zat

warna

pertama (carbol fuchsin) sewaktu dicuci dengan larutan pemucat (alkohol


asam). Larutan asam terlihat berwarna merah, sebaliknya pada bakteri
yang tidak tahan asam karena larutan pemucat (alkohol asam) akan
melakukan reaksi dengan carbol fuchsin dengan cepat, sehingga sel
bakteri tidak berwarna.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum Teknik Pewarnaan Bakteri Tahan Asam (BTA)
Dari Sputum Penderita TBC Melalui Metode Ziehl-Neelsen yaitu praktikan
dapat melakukan teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen dan mengetahui
karakteristik Bakteri Tahan Asam (BTA) dari sputum.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat yang di gunakan dalam praktikum ini meliputi api spiritus,


cotton bud steril, pipet tetes, pinset, sarung tangan, object glass, masker,
dan mikroskop.
Bahan yang digunakan dalam praktikum meliputi sputum, carbol
fusin 0,3%, asan alkohol 3%, methylen blue.
B. Metode
Metode yang dilakukan pada praktikum kali ini meliputi:
1. Sputum yang ingin diamati diambil menggunakan cotton bud steril
atau dengan ujungnya yang runcing dengan aseptis dekat api
bunsen.
2. Sputum tersebut diulas di atas object glass kemudian di tetesi
dengan carbol fuchsin 0,3%.
3. Hasil tersebut dipanaskan di atas api bunsen tapi jangan terlalu
dekat selama lima menit dan didinginkan selama sepuluh menit,
kemudian di Cuci Kering Anginkan (CKA).
4. Ditetesi dengan asam alkohol 3% sampai 2-4 menit dan di CKA
kembali.
5. Setelah itu, ditetesi methylen blue dan ditunggu sampai sekitar
satu menit dan kemudia di CKA kembali.
6. Setelah selesai, diamat dibawah mikroskop dan lihat perubahan
yang terjadi, diinterpretasikan apabila sel berwarna merah maka
sputum tersebut maka pasien mempunyai penyakit TBC dan
sebaliknya jika sel berwarna biru maka pasien tidak memiliki
penyakit TBC

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Bakteri Tahan Asam Rombongan 1
Kelompok

Hasil

+++

Gambar 3.1 Kontrol


BTA

Gambar 3.2 Hasil


BTA

B. Pembahasan
Tuberkulosis (TB) Merupakan salah satu problem kesehatan dengan
10 juta kasus baru yang di diagnosis pada tiap tahunnya, yang 2 juta di
antaranya menyebabkan kematian.

Meskipun demikian lebih dari 2

milyar orang yang telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, dan 5


10% diantaranya mengalami gejala TB (Kleinnijenhuis, 2011). M.
Tuberkulosa merupakan bakteri gram positif (+) yang mempunyai ciri-ciri
yaitu bentuk yang batang dengan sedikit bengkok panjang ataupun
pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan yang sangat
lambat (2-8 minggu), dan memiliki suhu optimal 37-38C. Sumber
penularan utama dari penyakit tuberkulosis (TB) ini dilakukan lewat
udara. Penyebaran melalui udara berupa partikel-partikel percikan dahak
(droplet) yang mengandung kuman berasal dari penderita saat batuk,
bersin, tertawa, bernyanyi atau bicara. Partikel mengandung kuman ini
(berukuran diameter 1-5 m) akan terhisap oleh orang sehat dan
menimbulkan infeksi di saluran napas (Gyuton dan Hall, 1997. Dikutip dari
Widayanti, 2013). Untuk mengetahui infeksinya penyakit ini ada beberapa
pewarnaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui terinfeksi atau
tidaknya seorang pasien.
Pewarnaan

pertama,

yaitu

pewarnaan

Ziehl-Neelsen.

Teknik

pewarnaan Ziehl-Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat warna carbol


fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%. Pada
pemberian

warna

mempertahankannya.

pertama,

yaitu

carbol

fuchsin,

BTA

bersifat

Carbol fuchsin merupakan fuksin basa yang

dilarutkan dalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan warna merah


pada sediaan dahak. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu
pemasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan.
Fungsi pemanasan untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol
fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu
asam alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri
kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menutup pori-pori dan
menghentikan pemucatan. BTA akan terlihat berwarna merah, sedangkan
bakteri yang tidak tahan asam akan melarutkan carbol fuchsin dengan

cepat sehingga sel bakteri tidak berwarna. (Lay, 1994). Tujuan pemberian
alkohol asam 3% yaitu untuk meluruhkan warna dari carbol fuchsin, tetapi
pada golongan BTA tidak terpengaruh oleh pemberian alkohol asam 0,3%
karena memiliki lapisan lipid yang sangat tebal sehingga alkohol sukar
menembus dinding sel bakteri tersebut dan warna merah akibat
pemberian carbol fuchsin tidak hilang. Tujuan pemberian methylen blue
adalah memberi warna background (Pelczar dan Chan, 1986).
Pewarnaan kedua yaitu disebut Kinyoun Gabbet. Teknik pewarnaan
ini menggunakan reagen atau pewarna kinyoun dan gabbet. Pada
pewarnaan ini larutan Kinyoun selama 3 menit pada sediaan yang telah
difiksasi direndam, lalu dicuci dengan air mengalir selama 30 detik,
setelah itu di tuangkan dengan pewarna gabbet yang berfungsi untuk
memberi warna merah pada bakteri sehingga dapat terlihat perbedaanya
dengan bagian yang lain. Pewarnaan ketiga yaitu Tan Thiam Hok teknik
pewarnaan ini menggunakan Auramine (Merck) untuk pewarna awal,
dibiarkan selama 15 menit kemudian dicuci dengan air bebas klorin atau
H2O destilata dan dikeringkan. Sediaan lalu direndam didalam asam
alkohol, dibiarkan selama 2 menit, dicuci dengan H 2O destilata dan
dikeringkan.

Setelah

itu

sediaan

direndam

didalam

potassium

permanganat 0,5%, dibiarkan selama 2 menit, dicuci dengan H 2O


destilata dan dikeringkan di udara 4 (Karuniawati., dkk, 2005, vol.9).
Selain menggunakan pewarnaan, untuk memeriksa adanya bakteri
M.

tuberculose

dapat

dilakukan

dengan

berbagai

cara,

sifat

M.

tuberculose yang lambat (20 jam) untuk membelah sampai tumbuh di


media pertumbuhan, Dibutuhkan sekitar 50 100 kuman/ml sputum
(Elisabeth Firda, 2006. Dikutip dari Widyaningsih, 2011) ini yang
menyebabkan dilakukannya cara pertama yaitu media pembenihan yang
dilakukan untuk memperbanyak bakteri ini dalam spesimen sputum agar
deteksi sensifitas, contoh media yang di pakai untuk cara media
pembenihan ini yaitu Mycobacteria Growth Indicator Tube (MGIT) maupun
mikrocoloni culture tetapi metode ini tidak memakan biaya yang sedikit,
maka dari itu masih dilakukan pengemabngan untuk metode ini (Forbes
BA,Sahm DF,Werssfeld AS, 2005. Dikutip dari Widyaningsih, 2011).
Metode kedua yaitu,

dengan menggunakan media lowenstein Jensen

yang memiliki nutrisi dengan komposisi sebagai berikut: larutan garam


mineral adalah potasium dyhidrogen phosphate anhydrous, magnesium
sulphate, magnesium citrate, asparagin, glycerol dan air suling. Media
tersebut

ditambahkan

telur

sebagai

suplemennya

dimana

telur

mengandung protein, Calcium, Phosphor, Ferous, Vitamin A dan vitamin


B1. Selanjutnya yaitu dengan media nutrient agar yang akan dipakai
adalah dari Oxoid yang mengandung nutrisi

Lab lemco powder, yeast

ekstrak, peptone, sodium chloride dan agar. Pada nutrien ini akan
ditambahkan filtrat ikan gabus yang mengandung protein, calcium,
Phosphor, Ferous, Vitamin A dan vitamin B1.
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa bakter M. tuberculose di
sebarkan melalui udara lewat droplet droplet yang ditularkan oleh orang
yang menderita penyakit dengan berbicara, bernyanyi, dll. Proses infeksi
patogenesis bakteri ini dimulai dengan droplet tersebut masuk ke rute
transmisi aerosol pada manusia dan mengandung satu sampai tiga basil
dengan ukurang kurang dari 5pm yang mampu mendapatkan akses
menginfeksi alveoli. Bakteri-bakteri yang telah sampai pada alveoli
kemungkinan akan di mangsa oleh makrofag alveolar yang di lengkapi
dengan beberapa mekanisme mikrobidial yaitu fusi fagolisosom dan
memacu

pernafasan

berfungsi untuk mikroorganisme

atau

bakteri

penginfeksi tersebut. Untuk menghindari proses tersebut bakteri ini akan


menghambat proses fusi yang akan di lakukan oleh makrofag alveoli,
penggunaan jalur lain yaitu jalur serapan, inaktivasi enzim lisosom dan
juga masuk ke dalam sitoplasma untuk terhindar dari proses tersebut ( Mc
Donough, 1992).
Menurut Leinnijenhuis (2011) lebih dari 10 juta kasus baru yang di
diagnosis setiap tahunnya tidak semua orang dapat terkena penyakit ini
menurut WHO hanya kurang dari 10% dari individu yang terinfeksi oleh
M. tuberculose ini akan terkena penyakit TB dikarenakan hal yang telah
disinggung diatas yaitu dengan mengaktifkan makrofag untuk memangsa
bakteri-bakteri yang menyerang alveolus. Pada sebagian besar orang
yang terinfeksi sel dimidiasi dari sel imun akan mulai efektif sampai
waktu 2 sampai 8 minggu settelah infeksi maka sel limfosit T akan aktif
dan makrofag serta sel-sel lainnya akan membentuk granuloma yang

membatasi replikasi dan penyebaran bakteri. Akan tetapi, bakteri tidak


sepenuhnya malah bakteri tersebut akan menyerang imunitas dari pasien
tersebut setelah bagian paru dikuasai (Ahmad, 2010).
Tidak hanya Mycobacterium tuberculose yang memiliki patogenitas
terhadap manusia dan menghasilkan penyakit TB karena Mycobacterium
tuberculose adalah bagian dari tuberculosis kompleks M. (MTBC) yang
meliputi enam spesies terkait erat lainnya: M. bovis, M. africanum, M.
microti, M. pinnipedii, M. caprae, dan M. Canetti. Yang kaitannya semua
bagian dari MTBC ini semua spesiesnya sangat dekat kekerabatannya
yang akan menyebabkan penyakit serta patogenitas yang sama pada
manusia (Ahmad, 2010). Karena pada kelompok bakteri ini mempunyai
lima family utama dari enzim kinase dan fosfotasi yang terkandung di
dalamnya, yaitu yang pertama adalah mempunyai dua komponen sistem
yang lengkap yang terdari dari kinase histdin dan respon regulator, yang
kedua yaitu seperti eukorariot mempunyai serin/tronin protein kinase,
yang ketiga adalah sel tunggal dengan fosfotase protein 2C (PP2C), yang
keempat yaitu mengkodekan sepasang fosfotase tirosin protein (PTP)
pada PTP ini yang telah di buktikan telah dapat menghambat makrofag
untuk memangsa bakteri jenis ini, dan yang terakhir yaitu mengkodekan
PTKA salah satu protein kinase yang baru-baru ini ditemukan (Chao,
2010).

Berbeda dengan

MTBC

bakteri

M.

bovis

yang

biasanya

menginfeksi hewan ternak tetap pada beberapa kasus juga dapat


menginfeksi manusia dengan menimbulkan efek yang sama dengan
MTBC (Ahmad, 2010).
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pewarnaan Ziehl-Neelsen
oleh rombongan 1 di dapatkan pada kelompok empat dan lima dengan
hasil yang positif dengan terdapatnya titik berwarna merah di lapang
pandang hal ini sesuai dengan pernyataan Entjang (2003), pada
pewarnaan bakteri dengan metode Ziehl-Neelsen bakteri yang berwarna
merah dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen disebut bakteri tahan asam (acid
fast). Sedangkan, bakteri yang berwarna biru dengan pewarnaan ZiehlNeelsen disebut bakteri tidak tahan asam (non acid fast).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulam
Pada praktikum kali ini dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.

Pewarnaan Ziehl-Neelsen merupakan salah satu teknik pewarnaan Bakteri

Tahan Asam (BTA) dengan menggunakan 3 pewarna yaitu Carbol Fuchsin, Asam
Alkohol, dan Methylen Blue.
2.

Bakteri tahan asam yang dipakai kali ini adalah Mycobacterium

tuberculoseyang mempunyai ciri-ciri yaitu bakteri gram positif (+)


yang mempunyai ciri-ciri yaitu bentuk yang batang dengan sedikit
bengkok panjang ataupun pendek, tidak berspora, tidak berkapsul,
pertumbuhan yang sangat lambat (2-8 minggu), dan memiliki suhu
optimal 37-38C.

B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah untuk sangat berhati-hati


dalam menjalankan praktikum karena bakteri yang di pakai untuk
praktikum ini sangat pathogen sekali.

DAFTAR REFERENSI
Ahmad,S. Review Article Pathogenesis, Immunology, and Diagnosis of
Latent Mycobacterium tuberculosis Infection. Department of
Microbiology, Faculty of Medicine, Kuwait University. Kuwait.
Chao, J. Wong, D. Zheng, X. Poirer, V. Bach, Hmma, Z. Av-Gay, Y. 2010.
Protein kinase and phosphatase signaling in Mycobacterium
tuberculosis physiology and pathogenesis. Department of
Microbiology, University of British Columbia, Vancouver, British
Columbia, Canada.
Entjang, I. 2003. Mikrobiologi Dan Parasitologi Untuk Akademi Perawat
Dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. PT. CITRA ADITIA
BAKTI. Bandung.
Kleinnijjenhuis, K. Oosting, M. Joosten, L. Netea, M. Crevel, R. 2011.
Review Article Innate Immune Recognition of Mycobacterium
tuberculosis. Department of Medicine, Radboud University
Nijmegen Medical Centre, and Nijmegen Institute for Infection,

Inflammation and Immunity (N4i), Geert Grooteplein Zuid 8, 6525


GA Nijmegen, The Netherlands.
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga
Grafindo Persada.
Mcdonogh, K. Kress, Y. Bloom, B. 1992. Pathogenesis of Tuberculosis:
Interaction of Mycobacterium tuberculosis with Macrophages.
American Society for Microbiology. New York.
Suarni, Helda. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penderita
Penyakit TB Paru BTA Positif di Kecamatan Pancoran Mas Kota
Depok Bulan Oktober Tahun 2008 - April Tahun 2009. Skripsi
Program Sarjana Kesehatan Masyarakat. FKM UI. Depok.
Syahrurachman, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi
Revisi. Jakarta: UI Press.
Widayanti, E. Bintari, S. Darwani. 2013. Uji Resistensi Mycobacterium
Tuberculosis Terhadap Obat Anti Tuberkulosis (Oat) Dengan Metode
Penipisan. Unnes Journal of Life Science. Semarang.
Widyaningsih, I. 2011. STUDI Komparasi Media Nutrin Agar Dengan
Suplemen Filtrat Ikan Gabus Untuk Deteksi Mycobacterium
Tuberculosis Dibanding Media Lowenstein Jensen. Dosen Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya