Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


ATRESIA ANI
Di ruang A2 (Bedah) Rumah Sakit Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun Oleh:
Hadi Winarso
1.1.20360

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2005

Tinjauan Materi
A.

Pengertian
Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara

congenital (Dorland, 1998).


Suatu perineum tanpa apertura anal diuraikan sebagai inperforata. Ladd
dan Gross (1966) membagi anus inperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2. Membran anus menetap
3. Anus inperforata dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacammacam jarak dari peritoneum
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum yang buntu
Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula, pada bayi wanita yang
sering ditemukan fisula rektovaginal (bayi buang air besar lewat vagina) dan
jarang rektoperineal, tidak pernah rektobrinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat
terjadi fistula rektourinarius dan berakhir dikandung kemih atau uretra serta jarang
rektoperineal.
B.

Pathofisiologi

C. Ganbaran Klinik
Pada sebagian besar anomati ini neonatus ditemukan dengan obstruksi
usus. Tanda berikut merupakan indikasi beberapa abnormalitas:
1. Tidak adanya apertura anal
2. Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal
3. Muntah dengan abdomen yang kembung
4. Kesukaran defekasi, misalnya dikeluarkannya feses mirip seperti stenosis
Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir
harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan
sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking

yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari
tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih
tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa
perut kembung, muntah berwarna hijau.
D. Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
2. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius, misalnya
suatu

sistouretrogram

mikturasi

akan

memperlihatkan

hubungan

rektourinarius dan kelainan urinarius


3. Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat
mekonium
E. Penatalaksanaan

Medik:
1. Eksisi membran anal
2. Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sememtara dan setelah umur 3
bulan dilakukan koreksi sekaligus

Keperawatan
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada
anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi
akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan
dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu
diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk
mencegah infeksi. Serta memperhatikan kesehatan bayi.

F. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi BAK b.d Dysuria
2. Gangguan rasa nyaman b.d vistel rektovaginal, Dysuria
3. Resti infeksi b.d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran
kemih

4. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia


5. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma jaringan post operasi
6. Resti infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi
7. Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran
tidak terkontrol

G. Path Ways
Gangg. pertumbuhan
Fusi
Pembentukan anus dari tonjolan
embriogenik

ATRESI ANI

Feses tidak keluar

Vistel rektovaginal

Feses Menumpuk

Feses masuk ke uretra

Peningkatan tekanan
intra abdominal

Dysuria

Mual, muntah
Operasi:
Anoplasti,
Colostomi

Mikroorganisme masuk
saluran kemih

Reabsorbsi sisa
metabolisme oleh tubuh

Keracunan

Resiko nutrisi
kurang dr kebthan

Perubahan defekasi

G3 rasa
nyaman

Resti nyeri

G3
Eliminasi
BAK

Trauma jaringan

Pengeluaran tdk
terkontrol
Nyeri

Perawatan tidak adekuat

Gngguan rasa
nyaman

Resti Infeksi

Iritasi mukosa

Resti kerusakan
integritas kulit

G. Intervensi

DP
Gangguan

Tujuan
Tidak terjadi perubahan pola

eliminasi

BAK eliminasi BAK setelah dilakukan

b.d

vistel tindakan keperawatan dengan

rektovaginal,

KH:

Dysuria

Intervensi
Kaji pola eliminasi BAK pasien
Awasi pemasukan dan pengeluaran
serta karakteristik urine
Selidiki keluhan kandung kemih

Pasien dapat BAK dengan

penuh

normal

Awasi/observasi hasil laborat

idak ada perubahan pada

Kolaborasi pemberian obat sesuai

jumlah urine
Gangguan

indikasi

rasa Pasien merasa nyaman setelah

nyaman, nyeri b.d dilakukan tindakan keperawatan


vistel

selama 2 x 24 jam dengan KH:

rektovaginal,

Nyeri berkurang

Dysuria

Pasien merasa tenang

kaji tingkat nyeri yang dirasakan


pasien
Ajarkan teknik relaksasi distraksi
Berikan posisi yang nyaman pada
pasien
Jelaskan penyebab nyeri dan awasi
perubahan kejadian
Kolaborasi pemberian obat sesuai
indikasi

Resiko

nutrisi Tidak terjadi kekurangan nutrisi

kurang

dari setelah

kebutuhan
mual,

dilakukan

tindakan

b.d keperawatan selama 2 x 24 jam Timbang berat badan pasien


Catat frekuensi mual, muntah pasien

muntah, dengan KH :

anoreksia

Pasien

tidak

mengalami Catat masukan nutrisi pasien

penurunan berat badan

Beri

Turgor pasien baik

Pasien tidak mual, muntah

Nafsu makan bertambah

Nyeri b.d trauma Nyeri


jaringan

Kaji KU pasien

berkurang

motivasi

pasien

untuk

meningkatkan asupan nutrisi

setelah

post dilakukan tindakan keperawatan

operasi

selama 24 jam pertama dengan

(Kolostomi)

KH:

Nyeri berkurang

Pasien merasa tenang

Tidak ada perubahan tanda

Kolaborasi dengan ahli gizi dalam


pengaturan menu
Kaji tingkat nyeri yang dirasakan
pasien
Berikan

penjelasan

pada

pasien

tentang nyeri yang terjadi


Berikan
yakinkan

tindakan
pada

kenyamanan,
pasien

bahwa

vital

perubahan posisi tidak menciderai


stoma
Ajarkan teknik relaksasi, distraksi
Bantu melakukan latihan rentang
gerak
Awasi

adanya

kekakuan

otot

abdominal
Kolaborasi pemberian analgetik
Resti

kerusakan Tidak

terjadi

kerusakan

integritas kulit b.d integritas kulit setalah dilakukan


perubahan

pola tindakan keperawatan 24 jam

defekasi,

pertama dengan KH:

pengeluaran tidak

terkontrol

Mempertahankan

integritas

kulit

Tidak terdapat tanda-tanda


kerusakan integritas kulit

Mengindentifisikasi
resiko individu

Lihat stoma/area kulit peristomal


pada setiap penggantian kantong
Ukur stoma secara periodik misalnya
tia perubahan kantong
Berikan perlindungan kulit yang
efektif

faktor Kosongkan irigasi dan kebersihan


dengan rutin
Awasi adanya rasa gatal disekitar
stoma
Kolaborasi dengan ahli terapi.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC.
Jakarta.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care
plans. Guidelines for planing and documenting patient

care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati.


EGC. Jakarta.
Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorlana. Alih Bahasa: Dyah
Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC
Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter
Anugrah EGC. Jakarta.
Long, Barbara. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan: Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan. USA: CV Mosby