Anda di halaman 1dari 4
Kerangka Acuan Ulang Tahun ke-16 Komnas Perempuan "16 Tahun Komnas Perempuan: Perkokoh Pengetahuan, Kelembagaan dan Dukungan Bersama Hapuskan Kekerasan terhadap Perempuan untuk Bangsa Indonesia" Jakarta, 15-16 Oktober 2014 Latar Belakang Komisi Nasional Anti Kekerasan Tethadap Perempuan (Komnas Perempuan) lshir dari rahim ppergulatan dan dorongan masyarakat Indonesia utamanya gerakan perempuan Indonesia merespon kekerasan seksual pada Tragedi Mei 98. Atas dorongan tersebut Presiden Habibie; mendeklarasikan Jahimya Komnas Perempuan melalui Perpres Nomor 181 Tahun 1998, sebagai pengejawantahan komitmen negara; untuk memastikan agar peristiva serupa tidak berulang lagi. Negara pada masa itu mengokohkan keberadaan Komnas Perempuan sebagai memorialisasi bangsa, anak sulung reformasi tuntuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kelanjutannya hingga saat ini, Komnas Perempuan bertumbuh dan dirawat oleh para pejuang hak asasi perempuan baik di dalam maupun di sekelling Komnas Perempuan, baik di tingkat lokal, nasional maupun intemnasional. Dalam perkembangannya, Komnas Perempuan mencari format sebagai institusi independen, sistem ‘untuk memperbaiki (comctional stem), penggali pengetahuan, peramu sistem pencegahan dan penanganan kkekerasan tethadap perempuan, yang memformat dalam kerangka Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM atau NHRI, National Human Right Institution) bermandat spesifik pada penghapusan segala bentuk kekerasan techadap perempuan. Keberadaan LNHAM didorong oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mekanisme korektif yang harus ada dalam setiap negara, sebagai elemen ke 4 setelah cksekutif, legislatif dan yudikatif. Pergulatan Komnas Perempuan untuk menegaskan kembali tugas dan tanggungjawabnya sebagai sebuah LNHAM yang spesifik telah memasuki usia ke - 16 tahun. Pergulatan dengan penuh dinamike, dimulai dari memilih isu strategisnya yang went dan krusial, mencari format institusi yang belum ada modelnya, mencari terobosan pengawalan ke berbagai lapis baik negara, masyarakat maupun korban, merawat jaringan dan peran strategisnya sebagai mekanisme HAM di level lokal, nasional, regional dan internasional. Usia 16 tahun Komnas Perempuan juga sejalan dengan usia reformasi bangsa Indonesia yang memasuki hhati-hari ke depan dengan optimisme. Tahun 2014 menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengukubkan terus sistem demokrasi yang partsipatif dari rakyat melalui terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019. Hal yang selanjutnya penting untuk dikawal dalam kepempimpinan bara ini adalah memastikan terwujudnya komitmen bagi seluruh penyelenggara negara agar bersih dati tindakan pelanggaran hak asasi manusia, khususnya hak asasi perempuan serta memberi perhatian khusus pada kkelompok masyarakat yang selama ini termarginalkan dan rentan. Komnas Perempuan akan memantau ddan terus menggali pengetahuan dari kelompok-kelompok yang belum tersentuh perlindungan negara den mengawalnya untuk mendapatkan perlindungan dari negara maupun komunitas. Hasil kongkeit kerja-kerja bangsa Indonesia untuk melindungi perempuan dalam alur sejarahnya hingga 2014 yang dicatat dan turut dikawal Komnas Perempuan dengan segenap elemen strategis bangsa adalah Jahimya sejumlah Undang-Undang tentang keharusan hadimya negara untuk melindungi perempuan dan kelompok rentan, antara lain cegah dan tindak kekerasan dalam rumah tanga melalui UU PKDRT 2004, UU PTPPO untuk hentikan perdagangan orang, dan UU Administrasi Kependudukan untuk lindungi penduduk yang rentan diskriminasi, Selain itu Indonesia juga tunjukkan komitmen internasional untuk perbaikan nasional melalui ratifikasi sejumlah konvensi kunci, seperti Konvensi Perlindungan Migran dan Keluarganya No 90, Konvensi Disabilitas, Konvensi perlindungan anak, dll. Hal Iain lagi, lahir berbagai Kkebijakan yang mengjkutinys, melalui pentingnya tindakan khusus sementara atau affirmative action, 1 Jahienya lembaga layanan P2TP2A, dll. Kemajuan penting bangsa hasil reformasi yang signifikan ddan harus dirawat adalah juga amandemen UUD 1945 yang memasukkan pasal-pasal hak asasi sebagai penegasan komitmen negara bangsa untuk memapankan peradaban HAM di Indonesia. Di sisi lain, Komnas Perempuan juga mencatat sejumlsh langkah mundur, tantangan dan hambaten dalam pemenuhan hak-hak petempuan, utamanya penghapusan kekerasan techadap perempuan. ‘Termasuk di antaranya infrastruktur yang minim dukungan di tengah angka pelaporan kekerasan tethadap perempuan yang terus meningkat; adanya 365 kebijakan diskriminatif atas nama moralitas dan agama; tingginya angka kematian ibu melahirkan yang dianggap sebagai isu Kesehatan, masih berlangsungnya perkawinan anak; menguatnya kekerasan seksual bail di ruang privat ataupun publik ‘maupun situasi konflik dan pos konflik dimana hanya 3 dari 15 bentuk kekerasan seksual yang ditemukenali oleh Komnas Perempuan memiliki payung hukum; pemiskinan perempuan dan semakin menjauhkan akses kehidupan bagi perempuan-perempuan rentan dan marginal; tindak intoleransi yang langsung maupun tidak langsung menyebabkan berkurangnya rasa aman perempuan; kekerasan tethadap perempuan dalam konteks budaya yang minim eksplorasi dengan pendekatan HAM perempuan dan sulitnya intervensi dalam konteks pluralisme hukum, hingga penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM. ‘masa lalu yang terus tertunda. Komnas Perempuan yang mengerangkai kerjanya ke dalam Konvensi Anti Penyiksaan juga mencatat persoalan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di tahanan maupun, kkondisi serupa tahanan lainnya, serta munculnya bentuk-bentuk penghukuman yang merendahkan dan tidak manusiawi sebagai bagian dari penghukuman moral, baik dati mula proses penyidikan di kepolisian, penuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (PU), persidangan/penetapan keputusan akhir di pengadilan ddan sampai dengan proses penahanan. Hingga saat ini, agenda membangun mekanisme nasional untuk ‘mencegah penyiksaan masih tertunda, sebagaimana juga belum adanya perkembangan yang signifikan dalam agenda ratifikasi Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan. ‘Untuk merekam jejak kemajuan maupun tantangan Indonesia dalam hal pemenuhan hak-hak perempuan, ‘utamanya penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui jejak juang kerja-kerja Komnas Perempuan, maka Komnas Perempuan berusaha mengumpulkan mozaik kerja-kerja Komnas Perempuan dati tapak-tapak perjalannya, sebagai khazanah bangsa dan khazanah gerakan perempuan dan dedikasi bagi korban. Hasil rekam juang ini akan disampaikan secara langsung pada ulang tahun ke-16 ini. Kesempatan ini juga akan digunakan untuk mendiskusikan tantangan-tantangan dan agenda prioritas bersama ke depan. Pada kesempatan ini, hadir Rashida Manjoo yang saat ini menjabat Pelapor Khusus PBB mengenai Kekerasan tethadap Perempuan. Hadir sebagai abli, ia akan untuk turut menyaksikan geliat bangsa Indonesia, gerakan perempuan, dan kerja-kerja Komnas Perempuan. Ia juga diharapkan dapat memberikan gambaran dan praktik-praktik terbaik yang terjadi di berbagai negara terkait dengan Penghapusan kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual. Kehadirannya sebagai Penghormatan pada 16 tahun Komnas Perempuan, juga bangsa Indonesia yang sedang memikitkan upaya perlindungan untuk kekerasan seksual dan komitmen penghapusan kekerasan tethadap perempuan pada umumanya . Tujuan 1. Merefleksikan kemajuan dan tantangan bersama dalam pemenuhan hak perempuan, utamanya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan selama enambelas tahun terakhir. 2. Memperkaya masukan tentang agenda prioritas upaya perlindungan berbagai bentuk kekerasan techadap perempuan, utamanya kekerasan seksual. 3. Mengokohkan bersama kelembagaan Komnas Perempuan, serta kerja strategisnya ke depan baik ditingkat lokal, nasional, regional dan internasional 4, Melanjutkan implementasi pemenuhan hak korban atas pemulihan, kebenaran dan keadilan, melalui ‘optimalisasi perlindungan di tahanan dan serupanya, memorialisasi, serta penghormatan perempuan pembela HAM, utamanya pengguliran agenda bangsa yang digagas perempuan-perempuan di wilayah konflik dan pasca konflik TIL. Output 1. Dukungan untuk memajukan HAM perempuan melalui upaya mengokohkan kerja-kerja Komnas Perempuan, penghargaan atas perempuan pembela HAM dan pemulihan hak-hak korban. 2. Masukan bagi agenda prioritas untuk pemenuhan hak perempuan, utamanya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, khususnya terkait kekerasan seksual dan mekanisme nasional ‘untuk pencegahan penyiksaan . Peserta Kegiatan Perwakilan Kementerian dan Lembaga Negara, onganisasi masyarakat sipil utamanya organisasi perempuan, komunitas korban, media, akademisi, dan lembaga HAM nasional. Rangkaian Acara, Waktu dan Tempat Rangkaian pelaksanaan acara Ulang Tahun Komnas Perempuan akan dilaksanakan dalam 2 hari yaitu pada hasi Rabu-Kamis, 15-16 Oktober 2014. ‘Adapun gambaran umum rangkaian acara dan waktu, yaitu sebagai berikut: ‘Hasi 1 (15 Oktober 2014) Acara 1. Pagi (09.00-13.00); Diskusi tentang refleksi 16 tahun Komnas Perempuan, peran strategis, sinergi bersama dan upaya mengokohkan untuk penghapusan KtP di Indonesia. Acara ini berupa diskusi panel sejumlah abli dan sekaligus rangkaian peluncuran buku/ produksi pengetahuan dan pemantauan Komnas Perempuan yang akan dipaparkan masing-masing wakil/komisioner dari Komnas Perempuan (5 menit), tentang sari kunci temuan, relevansi dan signifikansi temuan tersebut, serta rekomendasinya kedepan. ‘Buku yang akan diluncurkan antara lain: 1. Rekam Juang Komnas Petempuan: 16 Tahun Menghapus Kekerasan terhadap Perempuan; . Hasil Kajian KtP Berbasis Budaya; KP Tahanan dan Serupa Tahanan; Papua Tanah Damai Menurut Perempuan Asli Papua; ‘Mewujudkan Perlindungan dan Hak-hak Perempuan Korban dalam Kebijakan; .. Modul Pendidikan HAM BG untuk Guru SMA dan Sederajat. (Catatan: buku-buk yang diluncurkan akan dipaparkan secara mengalic dalam proses dskusi). ‘Acara 2. Siang (jam 14.00-17.00); Diskusi terbatas 3 Lembaga HAM, ORI dan sejumlah institusi negara maupun, CSO yang menekuni isu tahanan dan serupa tahanan dengan ditemani Rashida Manjoo untuk berbagi best _Pracces pencegahan dan perlindungan perempuan dalam mengkongkritkan NPM. Acara 3. ‘Malam ( 18.30-22.00) ; Perayaan 16 tahun Komnas Perempuan. Acara ini akan mengundang tokoh-tokoh bangsa maupun aktor multi generasi dan mitra-mitra berjasa bagi Komnas Perempuan dan perjuangan hhak-hak perempuan, dengan acara_memorialisasi untuk bangsa, penghormatan pejuang HAM perempuan, dan melihat kilas sejarah Komnas Perempuan sebagai bagian penting bangsa Indonesia, ‘Hari IL_(16 Oktober 2014) ‘Acara 4, Pagi (09.00-13.00); Pendalaman isu Kekerasan tethadap Perempuan (KtP) - Kekerasan Seksual (KS) dan perlindungannya (oleh Rashida Manjoo, Komnas Perempuan, mitra-mitra yang menggeluti isu kekerasan 3 seksual). Acara 5. Siang (14.30-16.30); Diskusi tentang Perlindungan dan Pencegahan Kekerasan Seksual. ‘Acara ini berupa diskusi panel mengenai berbagai temuan penting, praktik terbaik serta upaya dan berbagai tantangan yang muncul dalam melakukan langkah-langkah perlindungan dan pencegahan terhadap berbagai persoalan kekerasan seksual yang akan menjadi masukan untuk naskah akademik RUU kekerasan seksual. Diskusi panel ini akan menghaditkan Rashida Manjoo sebagai pakar internasional tentang kekerasan tethadap perempuan (saat ini menjabat sebagai pelapor khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan), Komnas Perempuan serta pihak dari aparat penegak hukum. Pesetta yang hadir adalah penggiat isu ini, termasuk anggota legislatif terplih, maupun hakim Mahkamah Konstitusi (MK), dan elemen-elemen negara yang lain