Anda di halaman 1dari 26

Profesi Apoteker 2013

RUMAH SAKIT
UNDANG-UNDANG RI NO. 44 TAHUN 2009 TENTANG
RUMAH SAKIT

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang


menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, & gawat darurat.
- Pelayanan Kesehatan Paripurna meliputi
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif),
& pemulihan kesehatan (rehabilitatif).
Pelayanan kesehatan perorangan adalah setiap
kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
tenaga kesehatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit, dan memulihkan
kesehatan.
Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang
membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan
nyawa & pencegahan kecacatan lebih lanjut.
Pengaturan penyelenggaraan RS bertujuan:
- Mempermudah akses masyarakat untuk
mendapatkan oelayanan kesehatan
- Memberikan perlindungan terhadap keselamatan
pasien, masyarakat, lingkungan RS, & SDM di RS
- Meningkatkan mutu & mempertahankan standar
pelayanan RS
- Memberikan kepastian hukum kepada pasien,
masyarakat, SDM RS, & RS
Fungsi RS:
- Menyelenggarakan pelayanan pengobatan &
pemulihan kesehatan
- Pemeliharaan & peningkatan kesehatan perorangan
melui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat
kedua & ketiga sesuai kebutuhan medik.
- Penyelenggaraan pendidikan & pelatihan SDM dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian
pelayanan kesehatan
- Penyelenggara penelitian & pengembangan serta
penapisan teknologi bidang kesehatan dengan
memperhatikan etika Ilmu Pengetahuan bidang
kesehatan.
JENIS & KLASIFIKASI (BAB VI)
Jenis: (pelayanan & pengelolaan)
a. Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan:
1. Rumah Sakit Umum (RSU), memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit
2. Rumah Sakit Khusus, memberikan pelayanan utama
pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu
berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ,
jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

b. Berdasarkan pengelolaannya
1. Rumah Sakit Publik, dapat dikelola oleh pemerintah,
pemerintah daerah, dan badan hukum yang bersifat
nirlaba.
2. Rumah Sakit Privat, dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk perseroan
terbatas atau persero.
c. Berdasarkan Afiliasi atau orientasi pendidikan
1. Rumah Sakit Pendidikan, menyelenggarakan
pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam
bidang pendidikan profesi kedokteran, pendidikan
kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga
kesehatan lainnya
2. Rumah Sakit Non Pendidikan, yang tidak memiliki
program pelatihan residensi dan tidak ada afiliasi
dengan universitas.
Klasifikasi:
Berdasarkan Fasilitas dan kemampuan pelayanan
1. Rumah Sakit Umum
a) Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis
penunjang medik, 12 (dua belas) spesialis lain dan
13 (tiga belas) subspesialis.
b) Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis
penunjang medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2
(dua) subspesialis dasar.
c) Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat)
spesialis penunjang medik.
d) Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 2 (dua) spesialis dasar.
2. Rumah Sakit Khusus
a) Kelas A adalah Rumah Sakit Khusus yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik
subspesialis sesuai kekhususan yang lengkap.
b) Kelas B adalah Rumah Sakit Khusus yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik
subspesialis sesuai kekhususan yang terbatas.
c) Kelas C adalah Rumah Sakit Khusus yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit
pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik
subspesialis sesuai kekhususan yang minimal.

Page 1

Profesi Apoteker 2013


Berdasarkan status akreditas (dari Komisi Akreditasi
Rumah Sakit (KARS))
Standar akreditasi RS ada 16 bidang pelayanan, yang
dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan:
1. Akreditasi tingkat dasar
Akreditasi untuk 5 bidang pelayanan yang meliputi
administrasi & manajemen, medik, gawat darurat,
keperawatan & rekam medik.
2. Akreditasi tingkat lanjut
Akreditasi untuk 12 bidang pelayanan yang meliputi 5
bidang untuk akreditasi tingkat dasar ditambah dengan
keselamatan & kesehatan kerja.
3. Akreditasi tingkat lengkap
Akreditasi untuk 16 bidang pelayanan yang meliputi 12
bidang untuk akreditasi tingkat lanjut ditambah rehabilitasi
medik, anestesi, darah & intensif.
IZIN RS DAPAT DICABUT JIKA (Pasal 27)
Habis masa berlakunya
Tidak lagi memenuhi persyaratan & standar
Terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan
perUU
Atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan
hukum
PENYELENGGARAAN
Pengorganisasian:
Harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, &
akuntabel.
Terdiri atas:
- Kepala/Direktur RS harus seorang tenaga medis
yang mempunyai kemampuan & keahlian di bidang
pe-RSan.
- Unsur pelayanan medis
- Unsur keperawatan
- Unsur penunjang medis
- Komite medis
- Satuan pemeriksaan internal
- Administrasi umum & keuangan
Pemilik RS tidak boleh merangkap menjadi Kepala RS.
PENCATATAN & PELAPORAN
Setiap RS wajib melakukan pencatatan & pelaporan
tentang semua kegiatan penyelenggaraan di RS dalam
bentuk Sistem Informasi Manajemen RS.
KETENTUAN PIDANA
Pasal 62 : setiap orang yang dengan sengaja
menyelenggarakan RS tidak memiliki izin dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 tahun & denda
paling banyak Rp. 5.000.000.000

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Pemohon
Mengajukan permohonan
Izin
Mendirikan

Belum
memenuhi
persyaratan
maka diberikan
waktu 1 tahun

Izin
Operasional

Diberikan
jangka waktu
2 tahun,
ditambah 1
tahun jika
belum selesai

Sementara

Tetap

Mengajukan
surat
penetapan
kelas

Menteri
Izin RS

Dikeluarkan
oleh
Memenuhi persyaratan

RS Kelas A
Menteri

rekomendasi

Pejabat
bidang
kesehatan
Pemda
Provinsi

RS Kelas B
Pemda
Provinsi
rekomendasi

Pejabat
bidang
Kesehatan
Pemda
Kab/Kota

RS Kelas C
& D Pemda
Kab/Kota
rekomendasi

Pejabat
bidang
Kesehatan
Pemda
Kab/Kota

Izin RS berlaku selama RS melakukan pelayanan kepada masyarakat

PERMENKES 340 TAHUN 2010 TENTANG KLASIFIKASI


RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang &
jenis penyakit
Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu
jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ atau jenis penyakit.
Klasifikasi RS adalah pengelompokkan kelas RS
berdasarkan fasiltas & kemampuan pelayanan.
Sarana adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat
dilihat oleh mata maupun teraba oleh panca indera yang
merupakan bagian dari suatu bangunan gedung atau
bangunan gedung itu sendiri.
Prasarana adalah benda maupun jaringan/instansi yang
membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi
sebagaimana tujuannya.
Klasifikasi RS ditetapkan berdasarkan
Pelayanan
SDM
Peralatan
Sarana & Prasarana
Administrasi & manajeme

Page 2

Profesi Apoteker 2013


RUMAH SAKIT UMUM
RSU KELAS A,
Harus memiliki Fasilitas & pelayanan medik paling
sedikit:
- 4 Pelayanan Medik Spesialis Dasar (PMSD)
- 5 Pelayanan Spesialis Penunjang Medik (PSPM)
- 12 Pelayanan Medik Spesialis Lain (PMSL)
- 13 Pelayanan Medik Sub Spesialis (PMSS)
Kriteria, fasilitas, & kemampuan RSU Kelas A meliputi:
- Pelayanan Medik Umum (PMU) : pelayanan medik
dasar (minimal 18 orang dokter umum & 4 orang
dokter gigi sebagai tenaga tetap), pelayanan medik
gigi&mulut, pelayanan kesehatan ibu anak/KB
- Pelayanan Gawat Darurat (PGD) : harus dapat
memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan 7
hari seminggu
- PMSD (minimal 6 orang Dokter Spesialis (DS) dengan
2 orang DS sebagai tenaga tetap) : pelayanan
penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetri &
ginekologi
- PSPM (minimal 3 orang DS dengan 1 orang DS
sebagai tenaga tetap) : pelayanan anestesilogi,
radiologi, rehabilitasi medik, patologi klinik & patologi
anatomi.
- PMSL (minimal 3 orang DS dengan 1 DS sebagai
tenaga tetap) : pelayanan mata, THT, syaraf, jantung
& PD, kulit & kelamin, kedokteran jiwa, paru,
orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik &
kedokteran forensik
- Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut (PMSGM)
(minimal 1 orang DGS sebagai tenaga tetap) :
pelayanan bedah mulut, endodonsi, periodonti,
orthodonti, prosthodonti, pedodonsi & penyakit mulut.
- Pelayanan Keperawatan & Kebidanan (PKK) :
pelayanan asuhan keperawatan & asuhan kebidanan
- PMSS (minimal 2 orang DSS dengan 1 orang DSS
sebagai tenaga tetap) : subspesialis bedah, penyakit
dalam, kesehatan anak, obstetri & ginekologi, mata,
THT, syaraf, jantung & PD, kulit & kelamin, jiwa, paru,
orthopedi & gigi mulut
- Pelayanan Penunjang Klinik (PPK) : perawatan
intensif, pelayanan darah, gizi, farmasi, sterilisasi
instrumen & rekam medik
- Pelayanan Penunjang Non Klinik (PPNK) :
pelayanan laundry, jasa boga/dapur, teknik &
pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah, gudang,
ambulance, komunikasi, pemulasaraan jenazah,
pemadam kebakaran, pengelolaan gas medik &
penampungan air bersih.
Perbandingan tenaga keperawatan & tempat tidur
adalah 1:1
Jumlah tempat tidur minimal 400 buah.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

RSU KELAS B
Harus memiliki Fasilitas & pelayanan medik paling
sedikit:
- 4 Pelayanan Medik Spesialis Dasar (PMSD)
- 4 Pelayanan Spesialis Penunjang Medik (PSPM)
- 8 Pelayanan Medik Spesialis Lain (PMSL)
- 2 Pelayanan Medik Sub Spesialis (PMSS)
Kriteria, fasilitas, & kemampuan RSU Kelas B meliputi:
- Pelayanan Medik Umum (PMU) : pelayanan medik
dasar (minimal 12 orang dokter umum & 3 orang
dokter gigi sebagai tenaga tetap), pelayanan medik
gigi&mulut, pelayanan kesehatan ibu anak/KB
- Pelayanan Gawat Darurat (PGD) : harus dapat
memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan 7
hari seminggu
- PMSD (minimal 3 orang Dokter Spesialis (DS) dengan
1orang DS sebagai tenaga tetap) : pelayanan
penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetri &
ginekologi
- PSPM (minimal 2 orang DS dengan 1 orang DS
sebagai tenaga tetap) : pelayanan anestesilogi,
radiologi, rehabilitasi medik, patologi klinik.
- PMSL (minimal 8 dari 13 pelayanan minimal 1
orang DS setiap pelayanan dengan 4 orang DS
sebagai tenaga tetap) : pelayanan mata, THT, syaraf,
jantung & PD, kulit & kelamin, kedokteran jiwa, paru,
orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik &
kedokteran forensik
- Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut (PMSGM)
(minimal 1 orang DGS sebagai tenaga tetap) :
pelayanan bedah mulut, endodonsi, & periodonti.
- Pelayanan Keperawatan & Kebidanan (PKK) :
pelayanan asuhan keperawatan & asuhan kebidanan
- PMSS (minimal 1 orang DSS dengan 1 DSS sebagai
tenaga tetap) : subspesialis bedah, penyakit dalam,
kesehatan anak, obstetri & ginekologi
- Pelayanan Penunjang Klinik (PPK) : perawatan
intensif, pelayanan darah, gizi, farmasi, sterilisasi
instrumen & rekam medik
- Pelayanan Penunjang Non Klinik (PPNK) :
pelayanan laundry, jasa boga/dapur, teknik &
pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah, gudang,
ambulance, komunikasi, pemulasaraan jenazah,
pemadam kebakaran, pengelolaan gas medik &
penampungan air bersih.
Perbandingan tenaga keperawatan & tempat tidur
adalah 1:1
Jumlah tempat tidur minimal 200 buah.

RSU KELAS C
Harus memiliki Fasilitas & pelayanan medik paling
sedikit:
- 4 Pelayanan Medik Spesialis Dasar (PMSD)
- 4 Pelayanan Spesialis Penunjang Medik (PSPM)

Page 3

Profesi Apoteker 2013

- Pelayanan Penunjang Klinik (PPK) : perawatan high


Kriteria, fasilitas, & kemampuan RSU Kelas C meliputi:
- Pelayanan Medik Umum (PMU) : pelayanan medik
care unit, pelayanan darah, gizi, farmasi, sterilisasi
dasar (minimal 9 orang dokter umum & 2 orang
instrumen & rekam medik
dokter gigi sebagai tenaga tetap), pelayanan medik
- Pelayanan Penunjang Non Klinik (PPNK) :
gigi&mulut, pelayanan kesehatan ibu anak/KB
pelayanan laundry, jasa boga/dapur, teknik &
- Pelayanan Gawat Darurat (PGD) : harus dapat
pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah, gudang,
memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan 7
ambulance, komunikasi, pemulasaraan jenazah,
hari seminggu
pemadam kebakaran, pengelolaan gas medik &
- PMSD (minimal 2 orang Dokter Spesialis (DS) dengan
penampungan air bersih.
2 orang DS sebagai tenaga tetap) : pelayanan
penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetri &
Perbandingan tenaga keperawatan & tempat tidur
ginekologi
adalah 2:3
- PSPM (minimal 1orang DS setiap pelayanan dengan
2 orang DS sebagai tenaga tetap) : pelayanan
Jumlah tempat tidur minimal 50 buah.
anestesilogi, radiologi, rehabilitasi medik, patologi
RUMAH SAKIT KHUSUS
klinik.
- Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut (PMSGM)
Jenis RSK antara lain: RSK Ibu & Anak, Jantung,
(minimal 1 orang DGS sebagai tenaga tetap) :
Kanker, Orthopedi, Paru, Jiwa, Kusta, Mata,
minimal 1 pelayanan.
Ketergantungan Obat, Stroke, Penyakit Infeksi, Bersalin,
- Pelayanan Keperawatan & Kebidanan (PKK) :
Gigi & Mulut, Rehabilitasi Medik, THT, Bedah, Ginjal, Kulit
pelayanan asuhan keperawatan & asuhan kebidanan
& Kelamin
- Pelayanan Penunjang Klinik (PPK) : perawatan
Klasifikasi dari Unsur Pelayanan:
intensif, pelayanan darah, gizi, farmasi, sterilisasi
- PMU
instrumen & rekam medik
- PGD (sesuai kekhususannya)
- Pelayanan Penunjang Non Klinik (PPNK) :
- PMSD (sesuai kekhususannya)
pelayanan laundry, jasa boga/dapur, teknik &
- PSPM
pemeliharaan fasilitas, pengelolaan limbah, gudang,
- PMSL
ambulance, komunikasi, pemulasaraan jenazah,
- Pelayanan Keperawatan
pemadam kebakaran, pengelolaan gas medik &
- PPK
penampungan air bersih.
- PPNK
Klasifikasi dari Unsur SDM:
Perbandingan tenaga keperawatan & tempat tidur
- PMD
adalah 2:3
- Pelayanan Medik Spesialis (sesuai kekhususannya)
- PMSS
Jumlah tempat tidur minimal 100 buah.
- PSPM
- Pelayanan keperawatan
RSU KELAS D
- Penunjang klinik
Harus memiliki Fasilitas & pelayanan medik paling
sedikit:
ADMINISTRASI & MANAJEMEN
- 2 Pelayanan Medik Spesialis Dasar (PMSD)
Terdiri dari Struktur Organisasi & Tata Laksana
Struktur Organisasi
Kriteria, fasilitas, & kemampuan RSU Kelas D meliputi: Paling sedikit terdiri atas Kepala/Direktur RS, unsur
- Pelayanan Medik Umum (PMU) : pelayanan medik pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang
dasar (minimal 4 orang dokter umum & 1orang dokter medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta
gigi sebagai tenaga tetap), pelayanan medik
administrasi umum & keuangan
gigi&mulut, pelayanan kesehatan ibu anak/KB
- Pelayanan Gawat Darurat (PGD) : harus dapat
Tata laksana
memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan 7
- Standar pelayanan
hari seminggu
- SOP
- PMSD (sekurang-kurangnya 2 dari 4 jenis pelayanan
- Sistem informasi manajemen RS (SIMRS)
spesialis dasar minimal 1 orang Dokter Spesialis
- Hospital by laws
(DS) dari 2 jenis PSD dengan 1 orang DS sebagai
- Medical Staff by laws
tenaga tetap) : pelayanan penyakit dalam, kesehatan
anak, bedah, obstetri & ginekologi
PERMENKES RI NO. 28 TAHUN 2011 TENTANG KLINIK
- PSPM : laboratorium & radiologi.
Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
- Pelayanan Keperawatan & Kebidanan (PKK) :
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
pelayanan asuhan keperawatan & asuhan kebidanan
yang menyediakan pelayanan medis dasar &/ spesialitik

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 4

Profesi Apoteker 2013


yang diselenggarakan oleh lebih dari satu jeni tenaga
kesehatan & dipimpin oleh seorang tenaga medis.
Tenaga media adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi
atau dokter gigi spesialis.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan &/ keterampilan melaluli pendidikan
di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.
JENIS KLINIK (BAB II)
Klinik pratama adalah klinil yang menyelenggarakan
pelayanan medik dasar
Klinik utama adalah klinik yang menyelenggarakan
pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medis dasar
& spesialistik.
Klinik pratama dan klinik utama dapat mengkhususkan
pelayanan pada satu bidang tertentu berdasarkan disiplin
ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit tertentu.
Klinik dapat diselenggarakan oleh pemerintah,
pemerintah daerah, atau masyarakat.
Klinik menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang
bersifat promoti, preventif, kuratif, & rehabilitatif
Pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan dalam bentuk
rawat jalan, one day care, rawat inap &/ home care
Klinik yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan 24
jam harus menyediakan dokter serta tenaga
kesehatan lain sesuai kebutuhan yang setiap saat
berada di tempat.
Kepemilikan klinik pratama menyelenggarakan rawat jalan
dapat secara perorangan atau berbentuk badan hukum
Sedangkan yang menyelenggarkan rawat inap & klinik
utama harus berbentuk badan hukum
PERSYARATAN (BAB III)
Bangunan klinik paling sedikit terdiri atas: ruang
pendaftaran/ruang tunggu, ruang konsultasi dokter, ruang
administrasi, ruang tindakan, ruang farmasi, kamar
mandi/wc, & ruangan lainnya sesuai kebutuhan
pelayanan.
Prasarana klinik meliputi: instalasi air, instalasi listrik,
instalasi sirkulasi udara, sarana pengelolaan limbah,
pencegahan & penanggulanan kebakaran.
Pimpinan klinik pratama adalah seorang dokter/dokter
gigi
Pimpinan klinik utama adalah dokter spesialis atau
dokter gigi spesialis yang memiliki kompetensi sesuai
dengan jenis kliniknya.
Ketenagaan klinik terdiri atas tenaga medis, tenaga
kesehatan lain, & tenaga non kesehatan.
Tenaga medis pada klinik pratama minimal terdiri dari 2
orang dokter &/ dokter gigi
Tenaga medis pada klinik utama minimal terdiri dari 1
orang dokter spesialis dari masing-masing spesialis
sesuai jenis pelayanan yang diberikan.
Klinik utama dapat mempekerjakan dokter &/ dokter gigi
sebagai tenaga pelaksana pelayanan medis, dimana

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

harus memiliki kompetensi setelah mengikuti


pendidikan/pelatihan sesuai dengan jenis pelayanan yang
diberikan oleh klinik
Klinik dilarang memperkerjakan tenaga kesehatan WNA
PERIZINAN KLINIK
Untuk mendirikan & menyelenggarakan klinik harus
mendapatkan izin dari PEMDA kab/kota setelah
mendapat rekomendasi dari Dinkes kab/kota setempat.
Persyaratan permohonan izin klinik
- Surat rekomendasi dari dinkes kab/kota
- Fotokopi pendirian badan usaha kecuali untuk
kepemilikan perorangan
- Surat keterangan persetujuan lokasi dari pemda
setempat
- Bukti hak kepemilikan atau penggunaan tanah atau
izin penggunaan bangunan untuk penyelenggaraan
kegiatan bagi milik pribadi/ surat kontrak minimal 5
tahun bagi yang menyewa bangunan
- Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) &
Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).
- Profil klinik yang akan didirikan meliputi struktur
organisasi kepengurusan, tenaga kesehatan, sarana
& prasarana, dan peralatan serta pelayanan yang
diberikan.
- Persyaratan administrasi lain sesuai ketentuan
peraturan perUU.
Izin klinik diberikan untuk jangka waktu 5 tahun & dapat
diperpanjang dengan mengajukan permohona
perpanjangan 6 bulan sebelum habis masa berlaku
izinnya.
Pemda kab/kota dalam waktu 3 bulan sejak permohonan
diterima harus menetapkan menerima/menolak
permohonan izin atau perpanjangan izin.
Alur perizinan Klinik
Pemohon
Mengajukan permohonan

Pemda Kab/Kota
Tembusan

Dinkes Kab/Kota
Audit administrasi &
mengeluarkan rekomendasi

Pemda Kab/Kota
Jangka waktu 3 bulan
mengeluarkan izin

Izin Klinik

Page 5

Profesi Apoteker 2013


PENYELENGGARAAN
Klinik yang menyelenggarakan pelayanan rawat inap
(PRI) harus menyediakan:
- Ruang rawat inap yang memenuhi persyaratan
- Tempat tidur pasien minimal 5 & maksimal 10.
- Tenaga medis & keperawatan yang sesuai jumlah &
kualifikasinya
- Tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, tenaga
kefarmasian & tenaga kesehatan &/ tenang non
kesehatan lain sesuai kebutuhan.
- Dapur gizi
- Pelayanan laboratorium klinik pratama
PRI hanya dapat dilakukan maksimal selama 5 hari
Klinik dapat menyelenggarakan pelayanan laboratorium
klinik
Klinik menyelenggarakan pengelolaan & pelayanan
kefarmasian melalui ruang farmasi yang dilaksanakan
oleh apoteker yang memiliki kompetensi & kewenangan
untuk itu.
Apabila klinik berada di daerah yang tidak terdapat
apoteker maka pelayanan kefarmasian dapat
dilaksanakan oleh TTK sesuai dengan ketentuan
peraturan perUU.
Ruang farmasi hanya dapat melayani resep dari
tenaga medis yang bekerja di klinik yang
bersangkutan
Dalam memberikan pelayananan klinik berkewajiban:
Memberikan pelayanan yang aman, bermutu &
mengutamakan kepentingan pasien
Memberikan pelayanan gawat darurat tanpa
meminta uang muka terlebih dahulu
Memperoleh persetujuan atas tindakan yang akan
dilakukan
Menyelenggarakan rekam medis\
Melaksanakan sistem rujukan
Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan
standar profesi, etika, & peraturan perUU
Menghormati hak-hak pasien
Melaksanakan kendali mutu & kendali biaya
berdasarkan ketentuan peraturan perUU
Memiliki peraturan internal & SOP
Melaksanakan program pemerintahan di bidang
kesehatan baik secara regional maupun nasional
KEPMENKES RI NO. 1197 TAHUN 2004 TENTANG
STANDAR PELAYANAN FARMASI DI RUMAH SAKIT
Pelayanan famasi RS merupakan salah satu kegiatan di
RS yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu.
Menurut Kepmenkes No. 1333 Tahun 1999 tentang
Standar Pelayanan RS, pelayanan farmasi RS adalah
bagian tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan RS
yang berorientasi pada pasien, penyediaan obat yang
bermutu, & pelayanan farmasi klinik yang terjangkau
bagi semua lapisan masyarakat.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Tujuan standar pelayanan farmasi RS adalah


Sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan
farmasi di RS
Meningkatkan mutu pelayanan farmasi di RS
Menerapkan konsep pelayanan kefarmasian
Mmperluas fungsi & peran apoteker farmasi RS
Melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak
profesional.
Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin
implan yang tidak mengandung obat yang digunakan
untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan, dan
meringankan penyakit, merawat orang sakitm serta
pemulihan kesehatan pada manusia &/ membentuk
struktur & memperbaiki fungsi tubuh.
Mutu pelayanan farmasi RS adalah pelayanan farmasi
yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
dalam menimbulkan kepuasan pasien sesuai dengan
tingkat kepuasan rata-rata masyarakat.
Pengendalian mutu adalah suatu mekanisme kegiatan
pemantauan & penilaian terhadap pelayanan yang
diberikan secara terencana & sistematis sehingga dapat
diidentifikasi peluang untuk peningkatan mutu serta
menyediakan mekanisme tindakan yang diambil untuk
proses peningkatan mutu yang berkesinambungan.

KOMPETENSI APOTEKER DI RS
Administrasi & manajemen
Pemahaman & penyediaan informasi obat
Pelaksanaan pelayanan yang berorientasi pasien
Sebagai Apoteker harus:
Menerapkan pharmaceutical care
Bekerja sesuai standar
Kompeten
Memiliki sertifikat
INDIKATOR MUTU PELAYANAN
Digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaan, mutu, &
efisiensi pelayanan RS.
Indikator bersumber dari sensus harian pelayanan Rawat
inap di RS
Bed Occupancy Ratio (BOR)
BOR adalah persentase pemakaian tempat tidur pada
satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran
tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur di RS.
Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85%
Rumus BOR=
(

Average Length of Stay (AVLOS)


AVLOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien.
Untuk memberikan gambaran tingkat efisiensi & mutu
pelayanan. Apabila diterapkan pada diagnosis tertentu
dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih
lanjut. Nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari.
Rumus AVLOS

Page 6

Profesi Apoteker 2013


PANITIA FARMASI & TERAPI (PFT)
Meningkatkan/mencapau penggunaan obat yang rasional
di RS.
Definisi: suatu kelompok penasehat dari staf medik dan
Turn Over Interval (TIO)
bertindak sebagai garis komunikasi organisasi antara staf
TIO adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
medik dan IFRS.
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator
Anggotanya terdiri dari:
ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan
tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi
Dokter spesialis
pada kisaran 1-3 hari.
Apoteker
RUMUS TIO
Tenaga kesehatan lainnya
PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 dokter,
(
)
apoteker, & perawat. Untuk RS besar tenaga dokter
bisa lebih dari 3 orang yang mewakili semua staf medis
Bed Turn Over (BTO)
fungsional yang ada.
BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu
Kegunaan/Tugas Utama:
periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu
Perumusan Kebijakan Prosedur berkenaan
satuan waktu tertentu. Idealnya dalam 1 (satu) tahun, 1
dengan obat dan terapi obat contoh formularium
(satu) tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali
Edukasi/Pendidikan memberi rekomendasi dan
Rumus BTO
membantu memformulasi program edukasi bagi
profesional kesehatan yang terlibat dalam pelayanan
pasien.
Fungsi dan Ruang Lingkup
Net Death Rate(NDR)
Pengevaluasi, penasehat bagi staf medik dan
NDR adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk
pimpinan RS berkaitan dengan obat.
tiap 1000 penderita keluar. indikator ini memberikan
Pelaksanakan sistem formularium
gambaran mutu pelayanan di RS.
Penyusun dan perevisi formularium
Rumus NDR:
Fungsi lain yang berkaitan dengan penggunaan obat
di RS
Kewenangan PFT
Groos Death Rate (GDR)
Melaksanakan sistem formularium
GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1000
Merumuskan & mengendalikan pelaksanaan semua
penderita keluar.
kebijakan, ketetapan,prosedur, aturan yang berkaitan
Rumus GDR:
dengan obat
Mengadakan, mengembangkan, menetapkan,
merevisi & mengubah formularium
Menyetujui perubahan kebijakan penggunaan obat
TUJUAN PELAYANAN FARMASI
dan pelayanan IFRS
Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik
dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan gawat
Struktur Organisasi PFT
darurat
Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional
berdasarkan prosedur kefarmasian & kode etik
Melaksanakan KIE mengenai obat
Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan yang
berlaku
Melakukan & memberi pelayanan bermutu melalui
analisa, telaah, & evaluasi pelayanan
Mengawasi & memberi pelayanan bermutu
Mengadakan penelitian di bidang farmasi & peningkatan
metoda

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 7

Profesi Apoteker 2013

Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam


kepanitiaan dan jika RS mempunyai ahli farmakologi
klinik, maka sebagai ketua PFT.
Kriteria Ketua PFT:
Dokter yang senior
Disegani oleh SMF yang lain
Memiliki latar belakang farmakologi klinik
Sekertarisnya Apoteker dari IFRS atau apoteker yang
ditunjuk.
Kriteria Sekertaris PFT:
Apoteker senior
Dinamis (kerja cepat)
Mampu berkomunikasi verbal dan non verbal
Memiliki pengetahuan, ilmu farmakologi dan
farmakoterapi yang baik
PFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2
bulan sekali & untuk RS besar diadalah 1 bulan sekali.
Peran APOTEKER dalam PFT
Tugas Apoteker
Menjadi salah satu anggota PFT (wakil
ketua/sekertaris)
Menetapkan jadwal pertemuan
Mengajukan acara yang akan dibahas
dipertemuan
Menyiapakan & memberikan semua informasi
untuk pembahasan dalam pertemuan
Mencatat semua hasil keputusan dalam
pertemuan & melaporkan pada pimpinan RS.
Menyebarluaskan keputusan yang sudah disetujui
oleh pimpinan kepada seluruh pihak yang terkait
Melaksanakan keputusan yang sudah disepakati
Menunjang pembuatan pedoman diagnosis &
terapi, pedoman penggunaan AB & penggunaan
obat dalam kelas terapi lain
Membuat formularium RS berdasarkan hasil
kesepakatan PFT.
Melaksanakan pendidikan & pelatihan
Melaksanakan pengkajian & penggunaan obat
Melaksanakan umpan balik hasil pengkajian
pengelolaan & penggunaan obat pada pihak
terkait.
Staf Medik Fungsional (SMF) adalah kelompok dari staf
medik yang mempunyai keahlian/ilmu yang sama
Contoh Kebijakan yang dikembangkan dan ditetapkan
oleh PFT
- Kerjasama PFT dengan IFRS dan panitia lain di RS
- Prosedur pelaksanaan dan revisi formularium
- Kriteria obat yang masuk dan keluar dari formularium
- Ketetapan dan prosedur penggunaan obat
nonformularium
- Ketetapan dan prosedur penggunaan obat non
formularium
- Ketetapan dan prosedur EPO
- Program edukasi tentang obat bagi dokter, perawat,
dan profesional kesehatan lain
- Prosedur penelitian obat secara klinik
- Prosedur pelayanan obat dalam keadaan bencana

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Ketetapan dan prosedur keikutsertaan apoteker


dalam visite tim medik ke ruang perawatan pasien
- Prosedur pengambulan sejarah pengobatan pasien
- Prosedur dan ketetapan lain yang berkaitan dengan
penggunaan obat dan keamanan obat di RS
Kebijakan lain:
- Pengusulan obat baru
- Kategori obat : obat formularium, obat yang disetujui
dengan syarat periode percobaan, obat formularium
yang dikhususkan, obat investigasi, obat yang tidak
memenuhi kategori/obat non formularium.
- Blanko resep
- Kewenangan dispensing
- Perwakilan perusahaan farmasi promosi di RS
- Obat yang ditari jika digunakan oleh pasien rawat
tinggal misalnya resep/order rutin atau resep obat IV
- Nutrisi parenteral lengkap (NPL)
- Obat yang dibawa pasien
- Perubahan rute pemberian
SISTEM FORMULAIRUM & FORMULARIUM RS
Sistem Formularium adalah suatu metode dari staf
medik/PFT dalam mengevaluasi, menilai, dan memilih
dari berbagai ZA dan sediaan obat yang dianggap paling
berguna dalam penggunaan obat pasien.

Keuntungan Sistem Formularium


- Aspek terapetik dokter dan staf profesional
kesehatan lain dapat mengetahui obat yang tersedia
untuk perawatan pasien
- Aspek pendidikan memberi nilai pendidikan bagi
dokter, apoteker, dan perawat yang berkaitan dengan
penggunaan terapi obat
- Aspek ekonomi RS tidak perlu menyediakan obat
dengan banyak jenis untuk efisiensi/pengendalian
biaya.
Asas Pedoman
- Sistem formularium harus didukung oleh staf medik
berdasarkan rekomendasi dari PFT
- Staf medik harus mempunyai kebijakan & prosedur
tertulis agar menguasai & menerapkan sistem
formularium
- Nama generik obat harus tertera di formularium
- Staf medik & perawatan harus mengetahui
keberadaan & pemberlakuan sistem formularium
- Penerimaan & penerapan sistem formularium oleh
staf medis sangat penting.
Formularium adalah dokumen berisi kumpulan produk
obat yang dipilih oleh PFT disertai informasi tambahan
yang penting tentang penggunaan obat tersebut,
kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan
penggunaan formulairum tersebut.
Obat nonformularium: obat yang nama ZAnya atau
nama generiknya tidak terdapat di formularium dan ditulis
oleh dokter yang memiliki kompetensi yang berkaitan
dengan itu/datanya.

Page 8

Profesi Apoteker 2013

Tujuan Formularium:
- Menyediakan informasi obat yang telah disetujui
digunakan
- Menyediakan informasi dasar tentang setiap jenis
obat
- Menyediakan informasi tentang kebijakan dan
prosedur berkaitan dengan obat
- Menyediakan informasi khisis tentang obat
- Menyediakan informasi lain berkaitan dengan obat
dan penggunaan obat di RS
Penetapan obat formularium
- Data morbiditas di RS beberapa tahun sebelumnya
- Data konsumsi obat
- Pertimbangan klinik staf medik
Tahap pendektan pembuatan formularium RS
- Pengkajian populasi penyakit di RS 4 tahun terakhir
- Peringkat terbanyak jumlah pasien tiap kelompok
penyakit
- Peringkat terbanyak sub kelompok penyakit
- Penetapan penyakit, gejala, penyebab, & golongan
farmakologi terapi
- Penetapan nama obat
Kriteria yang disetujui untuk penerimaan obat masuk
formulairum:
- Faktor institusional yaitu mengantisipasi kebutuhan
RS tergantung kepada jenis dan fungsi RS, pola
penyakit, dan pola konsumtif di RS.
- Faktor obat meliputi keamanan dan kemanfaatan
obat telah terbukti, obat tersebut telah digunakan di
berbagai RS, mutu obat termasuk ketersediaan
hayati dan stabilitasnya terjamin, diutamakan obat
yang mempunyai sifat farmakokinetik yang baik
dan dapat diproduksi oleh pabrik obat setempat serta
dipilih obat dengan ZA tunggal/kombinasi tetap yang
secara resmi dapat diterima.
- Faktor harga (farmakoekonomi) yaitu menggunakan
obat yang memiliki rasio manfaat biaya yang

menguntungkan
- Manufaktur produsen reputasinya baik
- Mutu & stabilitasnya baik
- Tersedia secara komersional & mudah didapat
Respon negatif dari Sistem Formularium :
- Mengurangi hak dokter dalam menuliskan dan

memperoleh merek obat pilihannya


- Memungkinkan apoteker bertindak sebagai penilai
tunggal atas merek dagang obat yang diberi dan
didispensing
- Tidak mengurangi harga obat, jika potongan harga
atas pembelian obat dalam jumlah besar tidak sampai
ke pasien
- Jika apoteker tidak memiliki komitmen terhadap
kualitas pelayanan, memungkinkan pembelian obat
dengan kualitas rendah.
Komposisi formularium: halaman judul, daftar nama
anggota PFT, daftar isi, informasi mengenai kebijakan &
prosedur di bidang obat, produk obat yang diterima untuk
digunakan, & lampiran.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Formularium di RSMB terdiri dari 3 bagian:


Bagian I = informasi tentang kebijakan & prosedur RS
tentang obat
Bagian II = monografi obat yang diterima masuk di
formularium
Bagian III = informasi khusus (apa saja informasi obat
yang dianggap perlu seperti obat yang membuat
perubahan pada urin.
Obat formularium yang dikeluarkan dari formularium:
Obat yang selama 3 bulan berturut-turut tidak ada
penulisan (resep)
Obat yang sering menimbulkan ES
Obat yang kurang bermanfaat menurut pengalaman
medik
Obat yang dalam periode 6 (enam) bulan berturutturut tidak ada penulisan resep
Evaluasi penggunaan formularium oleh PFT dilakukan
setiap 3 (tiga) bulan & revisi formularium dilakukan
setelah 1 tahun.
Obat yang dievaluasi & disetujui oleh PFT
dimasukkan dalam salah satu kategori berikut:
Obat formularium, yaitu obat yang tersedia secara
komersial diterima sebagai obat formularium dan obat
tersebut dapat ditulis oleh semua dokter di RS
Obat yang disetujui berdasarkan periode
percobaan, yaitu obat yang tersedia akan dinilai oleh
PFT selama periode 6 (enam) bulan atau 12 bulan
untuk pengambilan keputusan akhir. Obat tersebut
dapat ditulis oleh semua dokter di RS
Obat formularium khusus yaitu obat yang tersedia
secara komersial yang direkomendasikan digunakan
untuk dilakukan perawatan penderita khusus. Obat
khusus ini dapat ditulis oleh dokter tertentu.
Unsur penting dalam pengelolaan sistem formulairum
- Kolaboratif di antara profesional kesehatan di RS
- Staf medik yang ditetapkan berpraktek di RS
- PFT yang antardisiplin/berdaya yaitu punya
kemampuan untuk menyelesaikan masalah dalam
penggunaan obat.
Prinsip Pengolahan Sistem Formularium
EPO proses jaminan mutu yang memastikan obat
digunakan secara tepat, aman, dan bermanfaat
Pemeliharaan formularium pengkajian golongan
terapi obat, penambahan ke atau penghapusan obat
dari formularium, dan penggunaan obat
nonformularium
Seleksi Produk Obat setara terapi yaitu subsitusi
generik (nama dagang sama tapi beda isinya), atau
substitusi terapi (efek terapinya sama, zat aktifnya
beda)

Page 9

Profesi Apoteker 2013

Teknik Meningkatkan Penampilan & Kemudahan


Menggunakan Formularium
Menggunakan warna kertas berbeda untuk tiap
bagian
Formulairum dijilid dengan jilidan yang dapat dibuka.
Menggunakan indeks pinggir
Membuat formularium seukuran saku baju praktik
Mencetak tebal nama generik judul tiap produk obat
Distribusi Formularium RS kepada:
Setiap ruang rawat tinggal
Setiap poliklinik
Unit rawat darurat
Unit rawat intensif
Setiap kepala bagian
Setiap staf medik
Setiap apoteker
Pimpinan RS
Setiap anggota PFT & komite lainnya
Perusahaan asuransi RS
Pendekatan pembuatan suatu formularium RS
Produk obat yang tertera dalam formularium harus
relevan dengan pola penyakit di RS tersebut
Pembuatan formularium harus didasarkan pada
pengkajian populasi penyakit, gejala & penyebab
Tahapan-tahapan pengkajian
Pengkajian populasi penyakit penderita
Penetapan peringkat penyakit terbanyak tiap
kelompok & subkelompok
Penetapan penyakit, gejala, penyebab dan golongan
obat serta nama obat yang diperlukan dalam tiap
golongan farmakologi.
Metode Peningkatan Kepatuhan Penggunaan
Formularium RS
PFT berwibawa
Sistem formularium dipatuhi oleh seluruh staf
profesional pelayanan kesehatan di RS
Jenis obat yang dipilih sesuai dengan pola penyakit
Direvisi secara terus menerus
Flksibel dalam pembatasan obat non formularium
Setiap staf medik dilibatkan dalam pengambilan
keputusan formularium
Produk obat formularium selalu tersedia di IFRS
Panitia Pengendalian Infeksi RS
Organisasi yang terdiri dari staf medis, apoteker yang
mewakili farmasi RS & tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan:
Menunjang pembuatan pedoman pencegahan
infeksi
Memberikan informasi untuk menetapkan
disinfektan yang akan digunakan di RS
Melaksanakan pendidikan tentang pencegahan
infeksi nosokomial di RS
Melaksanakan penelitian (surveilans) infeksi
nosokomial di RS.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

SUMBER DAYA MANUSIA FARMASI RS


Kompetensi Apoteker
Sebagai pimpinan:
Mempunyai kemampuan untuk memimpin
Mempunyai kemampuan & kemauan mengelola &
mengembangkan pelayanan farmasi
Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan
diri
Mempunyai kemampuan untuk bekerja sama
dengan pihak lain
Mempunyai kemampuan untuk melihat masalah,
menganalisa, & memecahkan masalah
Sebagai tenaga fungsional:
Mampu memberikan pelayanan kefarmasian
Mampu melakukan akuntabilitas praktek
kefarmasian
Mampu mengelola manajeman praktis farmasi
Mampu berkomunikasi tentang kefarmasian
Mampu melaksanakan pendidikan, penelitian, &
pengembangan
Dapat mengoperasionalkan komputer
Mampu melaksanakan penelitian &
pengembangan di bidang farmasi klinik
PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI (PF)
Pengelolaan perbekalan farmasi merupan suatu siklus
kegiatan mulai dari pemilihan, perencanaan,
pengadaan (pembelian &/ produksi), penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, pengendalian,
penghapusan, administrasi, & pelaporan serta
evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.

Tujuan umum yaitu:


Mengelola PF yang efektif & efisien
Menerapkan farmakoekonomi dalam pelayanan
Meningkatkan kompetensi tenaga farmasi
Melaksanakan pengendalian mutu pelayanan
Tujuan Khusus yaitu:
Tersedianya PF yang bermutu dengan jumlah dan
waktu yang tepat
Menurunkan jumlah PF yang kadaluarsa, rusak/hilang
Tersedia data PF yang akurat sebagai bahan evaluasi
PEMIIHAN
Proses kegiatan mulai dari:
Meninjau masalah kesehatan yang terjadi di RS
Identifikasi pemilihan terapi, bentuk, dosis
Menentukan kriteria pemilihan dengan mengutamakan
obat esensial
Menjaga & memperbaharui standar obat
Dasar pemilihan PF:
Jenis
Minim & harga relatif murah
Hindari penggunaan obat kombinasi karena
kombinasi mempunyai efek > obat tunggal
Pilih obat dari penyakit prevalensi tinggi

Page 10

Profesi Apoteker 2013

Obat
DOEN
Formularium RS
Formularium Jamsostek
Formularium Jamkesmas
Alkes
Data pemakaian
Standar ISO
Daftar alkes dari Dirjen
Spesifikasi yang ditetapkan RS

PERENCANAAN
Proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah & harga
perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan,
anggaran, & untuk menghindari kekosongan PF.
Metode perencanaan
Metode Konsumsi : data riil periode lalu dengan
penyesuaian hal yang harus diperhatikan
Metode Epidemiologi: pola penyakit, perkiraan
kenaikan kunjungan, & waktu tunggu. Langkahnya:
Menentukan jumlah pasien
Menentukan jumlah kunjungan kasus
berdasarkan prevalensi penyakit
Menyediakan formularium
Menghitung perkiraan kebutuhan
Penyesuaian dengan alokasi dana.
Kombinasi Konsumsi & Epidemiologi
Perbandingan metode konsumsi dengan metode
epidemiologi
Konsumsi
Epidemiologi
Kurang tepat dalam
Lebih akurat dan mendekati
penentuan jumlah & jenis
kebutuhan sebenarnya
Pengobatan lebih rasional
Lebih mudah & cepat
Perhitungan lebih rumit
dalam perhitungan
Pilihan pertama dalam
Tidak dapat digunakan
perencanaan & pengadaan untuk semua penyakit

Pedoman perencanaan:
DOEN
Formularium RS
Data catatan medik
Siklus penyakit
Sisa persediaan
Anggaran yang tersedia
Formularium jamkesmas
Formularium jamsostek
Data pemakaian periode lalu
Rencana pengembangan
Fungsi perencanaan: untuk mengetahui penggunaan
bulanan masing-masing jenis PF di unit pelayanan
Data yang didapatkan: jumlah penggunaan, prosentasi
penggunaan, penggunaan rata-rata.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

PENGADAAN
Kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah
direncanakan & disetujui.
Cara pengadaan : pembelian, produksi, sumbangan/hibah
Pembelian:
Secara tender (oleh Panitia Pembelian barang
farmasi)
Secara langsung dari pabrik/distributor/PBF/
rekanan
Produksi/pembuatan sediaan farmasi
Produksi Steril
Produksi Non Steril
Sumbangan/droping/hibah
Tujuan pengadaan : mendapatkan PF yang bermutu baik,
pengiriman barang tepat waktu, & tidak perlu tenaga
berlebihan.
3 elemen penting dalam proses pengadaan :
Pengadaan yang dipilih
Penyusunan & persyaratan kontrak kerja
Order agar tepat jenis & waktu
4 metode pengadaan:
Tender terbuka
Tender terbatas (lelang tertutup)
Pembelian dengan tawar menawar
Pembelian langsung
PRODUKSI
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan
pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau
nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan di RS.
Kriteria obat yang diproduksi:
Sediaan farmasi dengan formula khusus
Sediaan farmasi dengan harga murah
Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil
Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran
Sediaan farmasi untuk penelitian
Sediaan nutrisi parenteral
Rekonstruksi sediaan obat kanker.
PENERIMAAN
Kegiatan untuk menerima PF yang telah diadakan sesuai
dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung,
tender, konsinyasi atau sumbangan.
Tujuan penerimaan: menjamin PF yang diterima sesuai
spesifikasi (jumlah, CA, certificat of dringin(alkes))
Kriteria dalam penerimaan perbekalan farmasi:
Pabrik harus mempunyai Sertifikat Analisa
Barang harus bersumber dari distributor utama
Hasues mempunyai Material Safety Data Sheet
(MSDS)
Khusus untuk Alkes/kedokteran harus mempunyai
certificate of origin.
ED minimal 2 tahun.

Page 11

Profesi Apoteker 2013


PENYIMPANAN
Kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut
persyaratan yang ditetapkan.
- Dibedakan menurut bentuk & jenisnya
- Dibedakan menurut suhunya & kestabilannya
- Mudah tidaknya meledak/terbakar
- Tahan/tidaknya terhadap cagata
- Disertai dengan sistem informasi yang selalu
menjamin ketersediaan PF sesuai kebutuhan
Tujuan penyimpanan: memelihara mutu, menghindari
penggunaan yang tidak bertanggungjawab memudahkan
pencariaan & pengawasan
Metode:
- Berdasarkan kelas terapi
- Berdasarkan bentuk sediaan
- Berdasarkan alfabet
- Berdasarkan suhu
- Berdasarkan peraturan perundangan (narkotika)
PENDISTRIBUSIAN
Pendistribusian merupakan kegiatan mendistribusikan
perbekalan farmasi di RS untuk pelayanan individu dalam
proses terapi bagi PRI atau PRJ serta menunjang
pelayanan medis.
Tujuan pendistribusian adalah tersedianya perbekalan
farmasi di unit-unit pelayanan secara tepat eaktu, tepat
jenis, & jumlah
SISTEM DISTRIBUSI OBAT:
Adalah proses penyampaian sediaan obat dari IFRS
sampai kepada pasien untuk digunakan.
Tujuan dari pengendalian dan desain SDO yang baik:
1. Ketersediaan obat yang tetap terpelihara
2. Mutu dan kondisi obat/sediaan obat tetap stabil dalam
seluruh proses distribusi
3. Kesalahan obat minimal dan memberi keamanan
maksimum pada pasien
4. Obat rusak dan kadaluarsa sangat minimal
5. Efisiensi dalam penggunaan sumber terutama
personel
6. Pencurian dan/atau hilang dapat minimal
7. IFRS mempunyai akses dalam semua tahap proses
distribusi untuk pengendalian, pemantauan, dan
penerapan pelayanan farmasi klinik
8. Terjadi interaksi profesional dokter-apoteker-pasienperawat
9. Pemborosan dan penyalahgunaan obat minimal
10. Harga terkendali
11. Peningkatan penggunaan obat rasional.
Klasifikasi SDO di RS
1. Sifat/Metode Penghantaran
- Sentralisasi
- Desentralisasi
2. Jenis
- Resep individual
- Persediaan lengkap di ruang
- Dosis unit

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Kombinasi
Sentralisasi
Keuntungan: pengolahan lebih mudah, SDM
lebih sedikit, stok lebih lengkap dan persediaan
lebih banyak
Keterbatasan: Lambat
Desentralisasi
Keuntungan: lebih cepat, lebih dekat dengan
pasien, IPE lebih bagus
Keterbatasan: pengelolaan/pengendalian lebih
susah, SDM lebih banyak diperlukan, harus
menyediakan fasilitas lebih banyak, dan stok
obat lebih banyak.
Resep individual order/resep yang ditulis dokter
untuk tiap pasien, PF disiapkan & didistribusikan oleh
IFRS sesuai yang tertulis pada resep
Keuntungan resep individual :
Resep semua resep dikaji langsung oleh
apoteker, yang juga dapat memberi keterangan
atau informasi kepada perawat berkaitan dengan
obat penderita.
Memberikan kesempatan untuk berinteraksi
antara apoteker-dokter-perawat-penderita
Dapat mengendalikan perbekalan dan
mempermudah penagihan biaya obat penderita.
Keterbatasan resep individual:
Kemungkinan keterlambatan sediaan obat sampai
pada penderita
Memerlukan jumlah personel dan perawat yang
banyak
Memungkinkan kesalahan obat karena kurangnya
pemeriksaan pada waktu penyiapan konsumsi

dokter

Interpretasi oleh Apt

Resep/Order

Dikendalikan oleh Apt

Disiapkan/Diracik

Pengendalian Perawat

Ruang
Perawat

Perawat

Penderita

IFRS

Konsumsi
oleh Perawat

Penyiapan
Konsumsi
kereta obat

Alur sistem distribusi obat resep individual sentralisasi


-

Sistem distribusi persediaan lengkap di ruang


(floor stock) kegiatan penghantaran sediaan obat
sesuai dengan yang ditulis dokter pada order obat,

Page 12

Profesi Apoteker 2013


yang disiapkan dari persediaan di ruangan oleh
perawat.
Keuntungan sistem floor stock :
persediaan lengkap di ruang adalah obat yang
diperlukan dapat segera tersedia
tidak ada pengembalian obat yang tidak

Keterbatasan sistem dosis unit


Tanggung jawab IFRS semakin meningkat
Penambahan jam kerja IFRS
Tambah ruang penyimpanan di IFS
Peningkatan biaya kemasan untuk unit tunggal
Perawat kurang teliti karena tidak melakukan
pemeriksaan akhir
Sulit diterapkan di RS daerah
Memerlukan biaya yang besar
Memerlukan peningkatan jumlah staf apoteker

terpakai ke IFRS
ada pengurangan penyalinan resep obat
pengurangan personel Instalasi Farmasi
Rumah Sakit yang diperlukan
Keterbatasan sistem floor stock:
kesalahan obat akan sangat besar karena order
tidak dikaji langsung oleh apoteker
meningkatnya pencurian obat dan meningkatnya
bahaya karena kerusakan obat.

dokter

IFRS :
Interpretasi Apoteker

Dokter

Penderita

Resep / Order

Konsumsi Obat

Perawat

Profil Pengobatan
Penderita (P3)

Penderita

Dosis unit siap


Dikonsumsi

Interpretasi oleh Apt

Dikendalikan oleh Apt

Penyiapan oleh Perawat

Resep/Order

Konsumsi
oleh Perawat

Persediaan di
Ruang

Persediaan
IFRS

Kereta obat

Dikendalikan
Apoteker

Apoteker +
Perawat Cek

Alur sistem distribusi unit dosis sentralisasi

Alur sistem distribusi obat persediaan di ruangan


-

Sistem distribusi obat dosis unit Metode


dispensing & pengendalian dikoordinasikan IFRS
dalam RS yang diberikan kepada tiap pasien yang
membutuhkan obat sesuai regimen.
Sistem dosis unit: obat dikandung dalam kemasan
unit tunggal, dalam bentuk siap dikonsumsi, obat
tidak lebih dari 24 jam persediaan dosis, dihantarkan
ke atau tersedia di ruang perawatan pasien setiap
waktu.
Keuntungan sistem dosis unit
Mengurangi kesalahan obat
Mengurangi persediaan obat di ruang
Mengurangi waktu perawat untuk menyiapkan
obat
Ketepatan perhitungan biaya obat bagi pasien
Keterlibatan apoteker dalam terapi obat lebih
besar
Meningkatkan pengendalian atas penggunaan
obat
Penderita menerima pelayanan IFRS 24 jam
sehari & penderita membayar obat yang
dikonsumsinya saja
Pengurangan kerugian biaya obat yang tidak
terbayar oleh penderita

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Kereta Obat

IFRS Sentral

IFRS Cabang
Apoteker

Dokter

Penderita

Resep / Order

Konsumsi Obat

Perawat +
Apoteker

P3

Dosis unit siap


Dikonsumsi

Apoteker
Perawat

Kereta Obat

Satu wadah

Alur sistem distribusi unit dosis desentralisasi


-

Sistem distribusi kombinasi


Keuntungan sistem distribusi kombinasi yaitu:
Semua resep/order perorangan dikaji langsung
oleh apoteker.
Adanya kesempatan berinteraksi professional
antara apoteker, dokter, perawat dan pasien
atau keluarga pasien.
Perbekalan farmasi yang diperlukan dapat
segera tersedia bagi pasien.

Page 13

Profesi Apoteker 2013


Keterbatasan sistem distribusi kombinasi yaitu:
Kemungkinan keterlambatan sediaan obat
sampai kepada penderita (obat resep
individual).
Kesalahan obat dapat terjadi (obat dari
persediaan di ruang).

FARMASI KLINIK
Farmasi Klinik adalah ilmu yang bertanggung jawab untuk
menjamin keamanan dan ketepatan obat untuk pasien yang
menggunakan pertimbangan profesionalnya dan farmasetik.
Tujuan dari farmasi klinik adalah pasien menerima obat
yang tepat, aman, dan rasional.

Proses Penggunaan Obat


1. Diagnosa (dr)
2. Sejarah penggunaan obat (dr & apt)
3. Penulisan resep (dr)
4. Seleksi sediaan obat dan seleksi regimen (apt)
5. Dispensing (apt)
6. Profil pengobatan pasien (P3)
7. Pendidikan & konseling pasien (dr, perawat, & apt)
8. Pemberian/konsumsi obat (perawat)
9. Pemantauan terapi obat (perawat, apoteker, dr)

PELAYANAN FARMASI RUMAH SAKIT


1. PERAN KLINIK (FARMASI KLINIK)
Wawancara sejarah obat pasien
Konsultasi dengan dokter tentang pemilihan regimen
obat pasien tertentu
Interpretasi resep
Pembuatan profil pengobatan pasien (P3)
EPO
PIO
Monitoring terapi obat
Profil Pengobatan Pasien (P3) adalah catatan/rekaman
Pemantauan & pelaporan ROM
pengobatan pasien yang dirawat di RS digunakan untuk
Konsultasi dengan perawat tentang regimen obat
pemantauan terapi penggunaan obat
Edukasi pasien/keluarga pasien
Visite mandiri
PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENGGUNAAN
Penanganan sitotoksik
OBAT & ALKES
2. PERAN NON KLINIK
Pengkajian resep
Perencanaan
DISPENSING kegiatan pelayanan yang dimulai dari:
Penetapa spesifikasi produk & pemasok
Tahap validasi
Pengadaan (Pembelian & Produksi)
Intepretasi
Penyimpanan
Menyiapkan/meracik obat
Pengemasan & pengemasan kembali
Memberikan label/etiket
Pendistribusian (rawat jalan, rawat inap, floor stock,
Penyerahan obat dengan PIO
unit dose)
Sistem dokumentasi
Pengendaluan semua perbekalan kesehatan
Tujuan dispensing:
Administrasi & pelaporan
Mendapatkan dosis yang tepat & aman
Pengawasan mutu
Menyediakan nutrisi bagi penderita yang tidak dapat
menerima makanan secara oral/emperal
PERSYARATAN PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL
Menyediakan obat kanker secara efektif, efisien, &
Sesuai dengan kebutuhan klinis
bermutu
Dosis sesuai kebutuhan individu
Menurunkan total biaya obat
Lama terapi yang cukup
Pemantauan & Pelaporan ESO kegiatan pemantauan
Harga terjangkau
setiap respon terhadap obat yang merugikan/tidak
Rasio antara manfaat dan biaya tinggi
diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang
digunakan untuk tujuan profilaksis, diagnosis, & terapi.
PRAKTEK FARMASI KLINIK, orientasi kepada:
Tujuan:
Pasien
Menemukan ESO sedini mungkin
Penyakit
Menentukan frekuensi & insidensi ESO yang sudah
Obat
dikenal sekali, yang baru saja ditemukan
Antar interdisiplin
Mengenal semua faktor yang mungkin dapat
menimbulkan/mempengaruhi timbulnya ESO
KONSEP DASAR FARMASI KLINIK
PIO
Komunikasi : dokter, perawat, apoteker, atau pasien
Konseling
Konseling : memberikan nasehat yang berkaitan dengan
Pemantauan Kadar Obat dalam darah
obat dan pengobatan pasien
Ronde/visite pasien

Konsultasi : sebagai nara sumber/informan tentang obat


Pengkajian penggunaan obat

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 14

Profesi Apoteker 2013


PENGGOLONGAN FARMASI KLINIK BERDASARKAN
KARAKTERISTIK PELAYANAN
PFK yang didasarkan kepada komunikasi langsung
dengan pasien
- Wawancara sejarah obat pasien
- Konsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat dan
regimennya
- Mengkaji resep dokter
- Membuat P3
- PIO
- Memberi informasi/konsultasi kepada perawat
berkaitan dengan obat
- Memberi konseling/edukasi kepada pasien
- Memantau efek obat yang diberikan kepada pasien
PFK yang merupakan program farmasi menyeluruh
- Fungsi dan peranan apt dalam PFT dan sistem
formularium
- Fungsi dan peranan apt dalam pencegahan
kesalahan obat
- Fungsi dan peranan apt dalam pelaporan ROM
- Peranan dan konstribusi apt dalam EPO
- Kegiatan dan peranan apt dalam penerbitan buletin
obat
- Kegiatan dan peranan apt dalam program pendidikan
in service bagi apt, perawat, dan staf medik
PFK klinik formal dan terstruktur
- Difokuskan pada kelompok pasien atau golongna
obat
- Untuk meningkatkan terapi
- Dilakukan oleh apt spesialis/terlatih
Jenis pelayanan:
- Sentra informasi obat
- Sentra informasi keracunan
- Pelayanan penetapan dosis individu secara
farmakokinetik klinik
- Pelayanan dalam investigasi obat
- Pelayanan dalam tim Nutrisi parenteral lengkap
- Pelayanan dalam penelitian obat secara klinik
- Pelayanan dalam pengendalian infeksi di RS
- Pelayananan obat sitotoksik
PFK Subsspesialistik
- Dilakukan oleh apoteker terlatih dalam bidang
tertentu (subspesialis)
- Memerlukan pengetahuan dan pengertian yang
cukup tentang patofisiologi dan farmakoterapi
Jenis pelayanan:
- Pelayanan pasien kritis
- Pelayanan pasien di UGD
- Pelayanan onkologi hematologi
- Pelayanan dalam transpalntasi ginjal
- Pelayanan dalam bedah/anestesi
- Pelayanan pasien penyakit kronik
- Pelayanan untuk pediatrik
- Pelayanan untuk psikiatrik
- Pelayanan toksikologi klinik

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

MODEL PENGADAAN PELAYANAN FARMASI KLINIK


Model Umum/General
Ditujukan pada semua penderita
Contoh jenis pelayanan: PIO, PTO, Jaminan mutu (EPO),
Konseling, Wawancara Sejarah Obat
Model Spesialis
Ditujukan bagi penderita tertentu
Contoh: Pelayanan pasien pediatrik, pelayanan pasien
kronis
REAKSI OBAT MERUGIKAN (ROM)
Adalah setiap respon suatu obat yang berbahaya dan
tidak dimaksudkan serta terjadi pada dosis biasa yang
digunakan pada manusia untuk profilaksis, diagnosa,
terapi penyakit atau untuk memodifikasi fungsi fisiologik.
# meliputi:
- Akibat penggunaan obat dalam praktek profesional
- Lewat dosis(sengaja/tidak)
- Salah obat
- Penghentian obat secara tiba-tiba
- Kegagalan signifikan dari kerja farmakologi yang
diharapkan
Penggolongan ROM
- ROM tipe A (bisa diperkirakan)
Meliputi:
kerja farmakologis primer dan sekunder yang
berlebihan
perluasan efek farmakologi
bergantung pada dosis
mungkin disertakan dengan suatu penyakit
bersamaan
interaksi obat
dapat dicegah, kejadian 70-80% dari ROM, &
kadang-kadang memerlukan penyesuaian dosis atau
jadwal pemberian
Contoh ROM Tipe A:
diuretik mengimbas hipokalemia perluasan
efek farmakologi ex furosemid karena banyak
mengeluarkan kalium di urin
-blocker mengimbas pemblok jantung
-blocker mengimbas bronkonstriksi pada pasien
asma
-

ROM tipe B (tidak dapat diperkirakan dan


kemungkinan serius, hanya terjadi pada
beberapa orang)
Meliputi:
reaksi idiosinkratik contoh kloramfenikol dapat
menyebabkan anemia aplastik; fenitoin dapat
menyebabkan gejala stevens-jhonson
reaksi imunologik atau reaksi alergi
tipe I = anafilatik menyebabkan pernafasan
susah sehingga jantung bisa berhenti
tipe II = sitotoksik
penyakit serum
alergi tertunda

Page 15

Profesi Apoteker 2013


-

ROM tipe C (akibat penggunaan obat yang


berkelanjutan)
Contoh :
penggunaan NSAID terus menerus jangka
panjang dapat menyebabkan tukak
lambung(karena prostaglandin dihambat
sehingga menjadikan mukosa lambung sedikit
gampang luka);
nefrophati akibat dari obat yang bersifat
nefrotoksik
ROM tipe D (reaksi tertunda = teratogenesis dan
karsinogenesis)
ROM tipe E (akibat penghentian penggunaan
obat)
Contoh: penghentian obat antidepresu secara tibatiba sehingga menimbulkan kekambuhan

Faktor yang mempengaruhi ROM


- Dosis dan durasi farmakokinetika konsentrasi
obat
- Toksisitas obat dengan IT sempit
- Umur
- Faktor keturunan
- Kepatuhan pasien yang buruk
- Kondisi patologik
- Multi terapu obat/polifarmasi
Penyakit yang Diimbas Obat (drug induce diseases)
- Reaksi dermatologi
- Penyakit hati
- Penyakit saluran cerna
- Gangguan hematologik
- Ototoksisitas
- Toksisitas pada mata
- Penyakit paru-paru
- Penyakit ginjal
- Gangguan fungsi seksual
- Penyakit lain
PEMANTAUAN ROM
(MONITORING EFEK SAMPING OBAT/MESO) -Farmakovigillance
MESO adalah program pemantauan keamanan obat
sesudah obat beredar yang dilakukan secara
berkesinambungan untuk mendukung upaya jaminan atas
keamanan obat
- Alasan dilakukan program MESO
Uji yang dilakukan sebelum obat diedarkan belum
sepenuhnya mengungkapkan ROM
Belum diketahui ROM yang timbul akibat
penggunaan jangka waktu panjang
Pada uji klinik sebelum obat beredar seringkali
tidak melibatkan pengguna obat kelompok anaanak, wanita hamil, wanita menyusui, dan usia
lanjut.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Program pemantauan ROM


Penetapan tanggung jawab
Penetapan difisi ROM
Peningkatan kesadaran
Penetapan mekanisme pelaporan
Penetapan prosedur evaluasi ROM
Pengkajian ROM secara rutin
Pengembangan intervensi pencegahan supaya
tidak terjadi ROM seperti
Penapisan DRP
Penapisan alergi
Revisi formularium
EPO
PTO
Edukasi & konseling
Upaya pencegahan ROM lainnya.
Penetapan Mekanisme Pelaporan
Metode Retrospektif
Pelaporannya saat pasien sudah pulang
(terdahulu)
Keuntungan:
efektif dan sederhana
hanya menggunakan sumber terbatas (kartu
pengobatan pasien, rekam medik)
Keterbatasan:
urutan kejadian kurang terurai dengan baik
kurangnya kesempatan intervensi dalam teapi
pasien
Metode Konkuren
Pelaporannya saat pasien masih ada (pelaoran
spontan)
relatif mudah
merupakan sistem yang baik dalam pelaporan
ROM serius
keberhasilanya kecil
Mengandalkan pelaporan sukarela
Order siaga (sinyal)
Penghentian/ penurunan dosis
Permintaan uji lab
Antidotum/zat telusur
Peranan Apoteker dalam MESO dan Pencegahan
ROM
Tanggungjawab memberi pelayanan profesional
contoh mengkaji resep untuk mengidentifikasi
mencegah DRP
Evaluasi obat baru contoh memasrikan bahwa
obat yang masuk formularium RS adalah obat
yang paling efektif
Edukasi masyarakat yaitu mmelalui metode
tertulis maupun verbal
Kepemimpinan yaitu menjadi motor dalam
pengadaan, pemeliharaan, dan evaluasi program
ROM
Kemudahan yaitu apoteker memberi kemudahan
dalam menganalisis dan mengidentifikasi ROM,
interaksi dengan profesional kesehatan, segala
aspek yang berkaitan dengan pelaporan ROM

Page 16

Profesi Apoteker 2013


KEAMANAN OBAT PADA KEHAMILAN (FDA)
Kategori A cukup data, bahwa obat tidak menimbulkan
bahaya pada fetus
Kategori B tidak ada bukti resiko pada manusia, tetapi
pada hewan menunjukkan resiko terhadap fetus ex:
amoxicillin
Kategori C resiko tidak dapat ditentukan. Pada hewan
menunjukkan resiko, tetapi pada manusia belum cukup
data. ex: ciprofloxcacin, kloramfenikol
Kategori D terbukti beresiko terhadap fetus ex:
amikasin, netilmisin
Kategori X terbukti teratogenik/kontraindikasi pada
wanita hamil
SEJARAH PENGOBATAN PASIEN & PROFIL
PENGOBATAN PASIEN (P3)
Sejarah pengobatan pasien : catatan yang memuat segala
informasi tentang penggunaan obat oleh penderita sebelum
mendapatkan perawatan dari RS, baik obat resep maupun
obat bebas

MEDICATION ERROR
Adalah suatu peristiwa yang tidak diduga akan terjadi, yang
tidak dikehendaki dalam pelayanan yang dapat
mengakibatkan cedera ataupun tidak sampai menimbulkan
cedera terhadap pasien.
Kemungkinan penyebab ME:
informasi pasien tidak lengkap (misalnya riwayat alergi,
penggunaan obat sebelumnya, & faktor resiko lainnya)
tidak diberikan informasi obat yang layak (misalnya cara
minum/ penggunaan obat, frekuensi, lama pemberian,
peringatan jika timbul efek samping)
miskomunikasi dalam peresepan (interpretasi farmasis
yang keliru, salah baca nama obat yang LA-SA,
kesalahan membaca desimal, pembacaan unit dosis
hingga singkatan peresepan yang tidak jelas).
Pelabelan kemasan obat yang tidak jelas sehingga
berisiko dibaca keliru oleh penderita
Faktor-faktor lingkungan (ruang kerja tidak nyaman,
suasana kerja, penerangan yang kurang, dll)

Profil pengobatan penderita (P3) : rekaman semua obat


yang digunakan oleh penderita sejak diterima sampai
dibebaskan dari RS.

Kategori ME (menurut NCC MERP)


Tipe
Kategori
Keterangan
Error
Keadaan atau kejadian yang
Tujuan pengadaan P3:
No- error
A
potensial menyebabkan terjadinya
Sebagai dokumentasi sejarah pengobatan dan
eror
penggunaan obat pasien,
Eror terjadi, tetapi obat belum
B
menyediakan sumber data yang dapat menjadi jembatan
mencapai pasien
komunikasi dan konsultasi antara apoteker dan tenaga
Eror terjadi, obat sudah mencapai
profesional kesehatan lainnya.
pasien, tetapi tidak menimbulkan
resiko:
Tujuan wawancara sejarah pengobatan pasien:
- Obat mencapai pasien & sudah
C
memperoleh informasi dan memeriksa kemungkinan
Error
terlanjur diminum/digunakan
adanya penyakit karena obat
No Harm
- Obat mencapai pasien tetapi
mengetahui berbagai obat yang digunakan pasien
belum sempat diminum/
menghindari duplikasi dan interaksi obat yang merugikan
digunakan
mengetahui respon pasien terhadap obat terdahulu
Eror terjadi dan konsekuensinya
meliputi reaksi alergi dan ketidakefektifan obat
diperlukan monitoring terhadap
D
menjamin keamanan obat dan kemanfaatan obat yang
pasien tetapi tidak menimbulkan
berkaitan dengan harga
resiko (harm) pada pasien
Eror terjadi & konsekuensinya
Informasi yang terdaoat dakam P3
pasien memerlukan terapi serta
E
nama penderita, alamat, nomor telepon, tanggal lahir
menimbulkan resioko pada pasien
alergi/reaksi idiosinkrasi/ES terhadap obat yang pernah
yang bersifat sementara
dialami
Eror terjadi, konsekuensi pasien
sejarah penyakit
memerlukan
terapi obat yang diduga tidak berkhasiat yang pernah
F
perawatan/perpanjangan perawatan
Errordialami
di RS, menyebabkan resiko yang
Harm
nomor resep, tanggal resep, nama obat, bentuk sediaan
bersifat sementara
obat, kekuatan obat, jumlah yang diresepkan, nama
Eror terjadi dan menyebabkan
G
penulis resep, identifikasi apoteker
resiko permanen
informasi tambahan lainnya meliputi petunjuk penggunaan
Eror tejadi dan nyaris menimbulkan
obat, dan informasi mengenai pengulangan kembali obat
H
kematian (contohnya anafilaksis,
yang digunakan.
henti jantung)
ErrorEror tejadi dan menyebabkan
I
Death
kematian

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 17

Profesi Apoteker 2013


Menurut Clinical Pharmacy Practice , kategori ME:
Kategori
Keterangan
Tidak terjadi kesalahan
Level 0
Terjadi kesalahan dan tidak menyebabkan
Level 1
bahaya pada pasien
Terjadi kesalahan yang menghasilkan
perlunya peningkatan pemantauan pasien,
tetapi tidak ada perubahan dalam tanda Level 2
tanda vital & tidak terjadi keparahan pada
pasien
Terjadi kesalahan yang memerluka
pemantauan pasien dengan perubahan
tanda vital tatapi tidak ada kerugaian akhir
Level 3
pada pasien atau setiap kesalahan yang
dihasilkan memelukan peningkatan
pemantauan hasil pemeriksaan lab
Terjadi kesalahan yang menhasilkan
perlunya pengobatan dengan obat lain atau
Level 4
juga peningkatan LOS di RS
Terjadi kesalahan yang menghasilkan
bahaya atau kerugian pada pasien yang
Level 5
permanen
Terjadi kesalahan sehingga pasien mati
Level 6
Ketidak berhasilan/kegagalan dalam pemberian obat
(DRP):
1. Indikasi tidak terobati
2. Dosis dibawah terapi
3. Overdosis
4. Obat tanpa indikasi
5. Pemilihan obat yang tidak tepat
6. ADR/ROM
7. Interaksi obat
8. Pasien gagal menerima obat
Kegagalan/ ketidakberhasilan terapi dalam tindakan
operasi, yang antara lain disebabkan oleh
1. Terjadinya komplikasi/penyakit
2. Kecelakaan
3. Kecelakaan anestesi (hipersensitif)
INFEKSI NOSOKOMIAL
adalah infeksi yang didapatkan pasien dari RS pada saat
pasien menjalani proses asuhan keperawatan
adalah infeksi yang didapat dari RS yang terjadi pada pasien
yang dirawat selama 72 jam dan pasien tersebut tidak
menunjukkan tanda dan gejala infeksi pada saat masuk RS
contoh:
- Urinary Tract Infection akibat teknik pemasangan kateter
yang tidak benar
- Infeksi luka operasi
- Pnemonia (di ICU) radang paru karena di ICU dibantu
dengan alat pernafasan (ventilator) dimana kemungkinan
infeksi dikarenaka ventilator yang tidak steril.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

CARA PENULARAN INFEKSI NOSOKOMIAL SERING


TERJADI MELALUI:
- Pembedahan
- Kateter IV
- Kateter kandung kemih
- Cairan IV
- Endotracheal tube
- Respirator/ventilator
RESIKO MENINGKATNYA INFEKSI NOSOKOMIAL:
- Pemakaian obat imunosupresan (untuk pasien autoimun)
- Tindakan bedah yang extensif (pembukaan yang lebar)
- Prosedur diagnostik dan terapeutik yang intensif (pasien
ICU)
- Penggunaan cairan IV
- Penggunaan Antimikroba spektrum luas dan tidak
rasionalkenapa spektrum luas karena dapat membunuh
flora-flora normal dalam tubuh sehingga bisa terjadi
infeksi
PERANAN/FUNGSI APOTEKER DALAM TIM PPI (tim
pencegahan & pengendalian infeksi nosokomial)
- Pengendalian infeksi nosokomial seleksi antiseptik dan
desinfektan yang sesuai & kebijakan penanganan sediaan
steril
- Meningkatkan penggunaan zat antimikroba yang rasional
- Kegiatan edukasi berkaitan dengan terapi antimikroba

PEMANTAUAN TERAPI OBAT (PTO)


Adalah suatu proses yang mencakup semua fungsi,
diperlukan untuk memastikan terapi obat secara tepat,
aman, mujarab, dan ekonomis.
Fungsi-fungsi mencakup:
1. Mengkaji pilihan obat oleh dokter untuk kondisi yang
didiagnosa
2. Mengkasi pemberian obat
3. Memastikan dosis yang benar
4. Mengetahui adanya atau tidak memadainya respon
terapi
5. Mengkaji kemungkinan terjadinya ROM
6. Merekomendasikan perubahan atau alternatif dalam
terapi
Tujuan PTO
1. Menyesuaikan terapi obat pada karakteristik pasien
individu
2. Memaksimalkan manfaat
3. Meminimalkan resiko
Masalah Utama dalam terapi Obat:
1. Adanya polifarmasi, duplikasi terapi dan IO
2. ROM
3. Kesalahan obat
4. Ketidaktepatan penggunaan obat
5. Ketidakpatuhan pasien
6. Kontraindikasi

Page 18

Profesi Apoteker 2013


EVALUASI PENGGUNAAN OBAT (EPO)
Adalah suatu proses jaminan mutu yang terstruktur,
dilakukan terus menerus, secara organisatoris diakui, dan
ditujukan untuk menjamin agar obat yang digunakan tepat,
aman, dan efektif.
Fungsi EPO
1. Studi kualitatif dan tindakan koreksi
2. Umpan balik bagi penulis resep
3. Evaluasi
Kriteria Obat EPO
1. Obat diketahui/diduga menyebabkan ROM
2. Berinteraksi dengan obat lain, makanan atau pereaksi
diagnostik yang menyebabkan adanya resiko terhadap
kesehatan secara bermakna
3. Obat yang digunakan oleh penderita beresiko tinggi ROM
4. Obat sangat beracun atau menyebabkan
ketidaknyamanan pada penggunaan dosis normal terapi
5. Obat yang paling banyak digunakan dengan di RS atau
obat yang sangat mahal
6. Obat yang paling efektif jika digunakan dengan cara
pemberian tertentu
7. Obat yang sedang dalam penilaian untuk formulairum
8. Obat yang dipilih oleh kebebijakan RS untuk dievaluasi

DESAIN STUDI EPO


1. Retrospektif evaluasi dilakukan terhadap obat yang
telah dikonsumsi oleh pasien
Kelebihan: sederhana & dapat menyelidiki masalah lebih
dalam
Keterbatasan: evaluator dapat subjektif dalam melakukan
interpretasi, tidak memberikan dampak langsung terhadap
pasien
2. Konkurenevaluasi dilakukan terhadap obat yang
sedang dikonsumsi oleh pasien
Kelebihan: memberi peluang untuk melakukan tindakan
perbaikan ketika pasien masih tinggal di RS
Keterbatasan: dokter harus menyiapkan waktu untuk
konsultasi dan diskusi dengan apoteker
3. Prospektif -- evaluasi dilakukan terhadap obat yang
belum dikonsumsi oleh pasien (protokol pengobatan)
Kelebihan: merubah terapi obat sebelum diterima pasien,
suatu peluang edukasi yang baik bagi apoteker
Keterbatasan : menciptakan konfrontasi dengan dokter
jika tidak dilaksanakan secara bijaksana
PERHATIAN
LOOK ALIKE
Diuretika
Lasix

TANGGUNGJAWAB APOTEKER DALAM PROGRAM EPO


Antivertigo Merislon
1. Mengadakan koordinasi kegiatan harian bekerja sama
dengan staf medik
NSAID
Analsik
2. Mengkaji resep dokter terhadap kriteria penggunaan obat
Antiasma
Aminofilin
yang telah ditetapkan jika perlu konsultasi dengan dokter
Inj
penulis resep
3. Memperoleh kuantitatif data penggunaan obat
NAME & SOUND ALIKE
4. Menyiapkan kriteria penggunaan obat bersama dengan
staf medik
Ephedrine
5. Menginterpretasi dan melaporkan temuan evaluasi
Hydroxyzine
kepada KFT, staf jaminan mutu, dan star pimpinan RS
Vinblastine
6. Merekomendasikan perubahan dalam kebijakan dan
Metformin
prosedur pengendalian penggunaan obat.
KRITERIA PENGGUNAAN OBAT (KPO)
Adalah berbagai unsur yang ditetapkan terlebih dahulu yang
digunakan untuk membandingkan aspek mutu penggunaan
obat, meliputi: indikasi, dosis, kontraindikasi, interaksi, ES,
ROM, hasil pemeriksaan lab, dll
Syarat Kriteria EPO (KPO)
1. Harus objektif
2. Harus relevan dan merefleksikan standar praktek medik
3. Harus absah secara klinik (disetujui oleh staf medik)
4. Berbasis pustaka muthakir
5. Harus dapat diukur
6. Spesifik, lengkap, dan mampu menghasilkan hasil yang
dapat dipercaya

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Urbason
Frisium
Myonal
Amoxsan
Ca Gluconas
inj

Kortikosteroid
Antidepresan
Muscle
relaxan
Antibiotika
Calcium

Ephinephrine
Hydralazine
Vincristine
Metronidazole

SOUND ALIKE
Jantung

Lanoxin

Loxonin

antiulcer
Antiemetik,
antivertigo,
antipsikotik
Antihistamin

Losec
Chlorpromazin

Lasix
Chlorpropamid

Diphenhydramine

Dimenhydrinat

Antitrombotik

CPG

CPZ

Analgesik,
antirheumatik
Diuretika
Antidiabet

Antiemetik
Antivertigo
Antiemetik,
Antivertigo,
Antipsikotik

Page 19

Profesi Apoteker 2013


BAHAN BELAJAR IPE (INTER PROFESIONAL
EDUCATION)
Interperofesional Education (IPE) = Terjadi ketika dua atau
lebih profesi belajar dengan, dari, dan tentang satu sama lain
untuk meningkatkan kerjasama dan kualitas pelayanan
Kompetensi umum yang harus dimiliki oleh setiap
profesi untuk membangun kerjasama antar profesional
(elemen IPE)
Kompeten Ber Komunikasi antar profesional
Pengalaman dengan pengalaman seseorang bisa
belajar banyak dan menutupi kekurangan-kekurangan
sebelumnya.
Kompeten berKolaborasi kerjasama, berbagi tugas,
kesetaraan dan tanggungjawab
Ilmu & skill setiap orang memiliki ilmu dan skill
tergantung dari keahliannya, sehingga dalam hal ini
semua harus menerapkan ilmu yang dimilikinya sehingga
bisa saling melengkapi.
Lima Kompetensi Diperlukan Profesional Kesehatan
untuk Menjamin Keselamatan Pasien
1. Memberikan perawatan pasien yang terpusat
2. Bekerja sebagai bagian dari tim interdisipliner
3. Praktik kedokteran berbasis bukti (EBM)
4. Fokus pada peningkatan kualitas
5. Menggunakan teknologi informasi
Tujuannya:
Untuk mempromosikan partisipasi aktif dari setiap
profesi dalam perawatan pasien,
Untuk mengoptimalkan partisipasi staf dalam
pengambilan keputusan klinis dalam dan di seluruh
disiplin ilmu
Untuk menumbuhkan penghargaan terhadap kontribusi
disiplin dari semua profesi
Menyediakan mekanisme untuk komunikasi terus
menerus antara pengasuh dan profesional kesehatan
Untuk mengubah cara kita mendidik para penyedia
layanan kesehatan untuk memastikan mereka memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk bekerja
secara efektif dalam tim interprofessional dalam sistem
kesehatan berkembang.
Hambatan dalam Pendidikan Interprofesional
Kultur/Budaya
Identitas Profesional
Akuntabilitas dan harapan
Beban dan jadwal akademik
Clinical responsibilitas
Ketersediaan Ahli dan Konten pendidikan
PENYIAPAN DAN PENYAMPAIAN INFORMASI OBAT
DEFINISI
SASARAN INFORMASI OBAT
- Dokter

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Perawat
Pasien
Keluarga Pasien
Apoteker
Nutrisionis
Mahasiswa
Analist
Kelompok,
Tim,
Kepanitiaan
Peneliti

LINGKUP JENIS PELAYANAN INFORMASI OBAT


- Pelayanan Informasi Obat untuk Menjawab
pertanyaan
- Pelayanan Informasi Obat untuk mendukung Kegiatan
PFT
- Pelayanan Informasi Obat dalam Bentuk Publikasi
- Pelayanan Informasi Obat untuk Edukasi
- Pelayanan Informasi Obat untuk EPO
- Pelayanan Informasi Obat dalam Studi Obat
Investigasi
SASARAN INFORMASI OBAT
Yang dimaksud dengan sasaran informasi obat adalah:
orang,
lembaga,
kelompok orang,
kepanitiaan,
penerimaan informasi obat.
DOKTER
Dalam proses penggunaan obat, pada tahap penetapan
pilihan obat serta regimennya untuk seorang pasien tertentu,
dokter memerlukan informasi dari apoteker agar ia dapat
membuat keputusan yang rasional. Informasi obat diberikan
langsung oleh apoteker menjawab pertanyaan dokter melalui
telepon atau sewaktu apoteker menyertai tim medis dalam
kunjungan ke ruang perawatan pasien atau dalam konferensi
staf medis.
Informasi obat yang diberikan apoteker harus memenuhi
persyaratan klinis yaitu:
informasi disesuaikan dengan kebutuhan;
informasi harus spesifik bagi pasien yang sedang
ditangani dan informasi harus disampaikan segera kalau
hendak mengubah keputusan penulisan rese patau order
obat.
Informasi tentang
efek samping,
data farmakokinetika obat,
indikasi,
kontaindikasi,
interaksi obat dengan obat., atau dengan makanan
atau denganuji laboratorium klinis, stabilitas obat,
ketersediaan hayati, inkompabilitas terapi biaya obat
total perlu diberikan kepada dokter.

Page 20

Profesi Apoteker 2013


PERAWAT
Perawat adalah profesional kesehatan yang paling banyak
berhubungan dengan pasien.
Dalam tahap penyampaian atau distribusi obat kepada
perawat dalam rangkaian proses penggunaan obat,
apoteker memberikan informasi obat tentang berbagai aspek
obat pasien, terutama tentang pemberian obat.
PASIEN
Informasi yang dibutuhkan pasien, pada umumnya adalah
informasi praktis dan kurang ilmiah dibandingkan dengan
informasi yang dibutuhkan professional kesehatan. Informasi
obat untuk PRT diberikan apoteker sewaktu menyertai
kunjungan tim medic keruang pasien; sedangkan untuk
pasien rawat jalan, informasi diberikan sewaktu penyerahan
obatnya. Informasi obat untuk pasien pada umumnya
mencangkup cara penggunaan obat , jangka waktu
penggunaan, pengaruh makanan pada obat, penggunaan
obat bebas dikaitkan dengan obat resep dan sebagainya.
APOTEKER
Setiap apoteker suatu rumah sakit masing-masing
mempunyai tugas atau fungsi tertentu , sesuai dengan
pendalaman pengetahuan pada bidang tertentu. Apoteker
yang langsung berinteraksi dengan professional kesehatan
dan pasien , sering menerima pertanyaan mengenai
informasi obat dan pertanyaan yang tak dapat dijawabnya
dengan segera , diajukan kepada sejawat apoteker yang
lebih mendalami pengetahuan informasi obat. Apoteker
apotek dapat meminta bantuan informasi obat dari sejawat
dirumah sakit.
KELOMPOK, TIM, KEPANITIAN, DAN PENELITI
Selain pada perorangan , apoteker juga memberikan
informasi obat kepada kelompok professional kesehatan,
mahasiswa, masyarakat, peneliti dan kepanitiaan yang
berhubungan dengan obat. Kepanitian dirumah sakit yang
memerlukan informasi obat antara lain, panitia farmasi dan
terapi (PFT);
Panitia evaluasi penggunaan obat (EPO); panitia
pengendalian infeksi; tim edukasi dan konseling; panitia
system pamantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan
(ROM); tim pengkajian penggunaan obat retrosfektif; tim
program pendidikan in-service, dan sebagainya.
INFORMASI MENGENAI OBAT KEPADA PERAWAT
Asuhan keperawatan dalam pemberian obat
PERAN
A. KAJI
1. Kaji umum
2. Kaji obat
3. Kaji pasien
B. PERSIAPAN
1. Pemberian obat
2. Persiapan obat
3. Persiapan pasien
C. MELAKSANAKAN PEMBERIAN OBAT
1. Sesuai dosis & aturan

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

2. Sesuai rute & cara pemberian


3. Sesuai prosedur
D. INFORMASI
1. inf. ETO, manfat, indikasi
2. inf. EMO, ESO, OD,
3. inf. Kepatuhan
E. MONEV
1. Amati
2. Pantau
3. Evaluasi
4. Dokumentasi

Upaya PENGOBATAN meliputi:


Pengobatan preventif
Pengobatan kuratif
Pengobatan rehabilitatif
Pengobatan promotif

Terapi obat dapat dibedakan atas:


Terapi kausal,
dimana penyebab penyakit ditiadakan khususnya
pemusnahan kuman atau parasit. Contoh: antimikroba:
sulfonamida, antibiotika, antiparasit: anti malaria, anti
cacing dan sebagainya.
Terapi simtomatis,
hanya gejala penyakit diobati dan diringankan, sebabnya
yang lebih mendalam tidak dipengaruhi, misalnya
analgetik pada rematik, anti hipertensi dan kardiotonik.
Terapi substitusi,
obat yang menggantikan zat lazimnya dibuat oleh
organ yang sakit, misalnya insulin pada diabetes,
estrogen pada hipofungsi ovarium dan obat-obat hormon
lainnya. Obat oralit merupakan terapi substitusi pengganti
ion elektrolit yang hilang atau dikeluarkan pada saat
terjadi diare atau muntaber. Sediaan farmasi yang
digunakan untuk pencegahan kehamilan termasuk
dalam obat kontrasepsi seperti pil KB, suntikan dan
implan.
Peran Perawat dalam Terapi Obat:
Assesment/Pengkajian
Planning/Persiapan
Implementasi/Pemberian obat
Informasi obat/penyuluhan
Monev obat - dokumentasi
Pengkajian meliputi:
Kelas terapi obat
Komposisi obat
Manfaat/Indikasi obat
Kontraindikasi
Bentuk, dosis obat
Aturan dan cara pakai

Page 21

Profesi Apoteker 2013


Obat masuk dan keluar tubuh melalui 12 langkah
1. Obat: yang baik memenuhi semua persyaratan
farmasetika diseleksi & disesuaikan sifat obat, bentuk
obat, keadaan pasien serta rute pemberian obat yang
diinginkan pengobatan.
2. Dosis obat yang tepat untuk pasien yang tepat. Dosis obat
disesuaikan dengan individu pasien termasuk: umur, berat
badan, berat ringannya penyakit dan disesuaikan
kondisinya.
3. Rute, cara pemberian dan cara pemakaian obat yang
tepat. Obat akan masuk ke dalam tubuh melalui
berbagai rute pemberian tergantung dari bentuk dan cara
pemberian.
4. Obat: yang baik memenuhi semua persyaratan
farmasetika diseleksi & disesuaikan sifat obat, bentuk
obat, keadaan pasien serta rute pemberian obat yang
diinginkan pengobatan.
5. Dosis obat yang tepat untuk pasien yang tepat. Dosis obat
disesuaikan dengan individu pasien termasuk: umur, berat
badan, berat ringannya penyakit dan disesuaikan
kondisinya.
6. Rute, cara pemberian dan cara pemakaian obat yang
tepat. Obat akan masuk ke dalam tubuh melalui
berbagai rute pemberian tergantung dari bentuk dan cara
pemberian.
7. Obat: yang baik memenuhi semua persyaratan
farmasetika diseleksi & disesuaikan sifat obat, bentuk
obat, keadaan pasien serta rute pemberian obat yang
diinginkan pengobatan.
8. Dosis obat yang tepat untuk pasien yang tepat. Dosis obat
disesuaikan dengan individu pasien termasuk: umur, berat
badan, berat ringannya penyakit dan disesuaikan
kondisinya.
9. Rute, cara pemberian dan cara pemakaian obat yang
tepat. Obat akan masuk ke dalam tubuh melalui
berbagai rute pemberian tergantung dari bentuk dan cara
pemberian.
10. Obat: yang baik memenuhi semua persyaratan
farmasetika diseleksi & disesuaikan sifat obat, bentuk
obat, keadaan pasien serta rute pemberian obat yang
diinginkan pengobatan.
11. Dosis obat yang tepat untuk pasien yang tepat. Dosis obat
disesuaikan dengan individu pasien termasuk: umur, berat
badan, berat ringannya penyakit dan disesuaikan
kondisinya.
12. Rute, cara pemberian dan cara pemakaian obat yang
tepat. Obat akan masuk ke dalam tubuh melalui
berbagai rute pemberian tergantung dari bentuk dan cara
pemberian.

Efek Merugikan Obat (EMO) = efek yang tidak


diharapkan dari suatu obat
Efek samping adalah efek farmakologi yang tidak
berkaitan dengan efek obat yang diinginkan. Semua obat
mempunyai efek samping baik yang diinginkan maupun
tidak. Efek samping suatu obat terutama diakibatkan
karena kurangnya spesifitas obat tersebut.
Ketergantungan adalah gejala-gejala dorongan untuk
menggunakan obat secara terus menerus, toleransi dan
gejala putus obat apabila penggunaan dihentikan.
Ketergantungan fisik: Dorongan kebutuhan tubuh secara
terus menerus mengkonsumsi obat sehingga proses
fisik dapat berjalan secara normal;
Ketergantungan psikis : Dorongan kejiwaan yang terus
menerus untuk memperoleh obat dengan segala macam
cara dan mengonsumsinya agar terpenuhinya kebutuhan
psikologis;
Adiksi adalah gejala-gejala dorongan untuk menambah
dosis untuk menghasilkan efek farmakologi yang sama.
Secara klinis terdeteksi ketika penghentian obat membuat
gejala- gejala putus obat. Ada obat atau bahan tertentu
yang dapat menimbulkan gejala adiksi ini
Reaksi yang merugikan adalah batas efek yang tidak
diinginkan pada dosis normal dari obat-obat yang
mengakibatkan efek samping yang ringan sampai berat
termasuk anafilaktik syok.

PENGGUNAAN OBAT RASIONAL = mendapatkan obat


yang tepat dalam durasi yang cocok dan dosis, dengan
harga terendah dan dengan mudah berdasarkan temuan
klinis dan karakteristik pribadi
Prinsip Penggunaan Obat Rasioal
Berbasis di diagnosis yang benar.
Memilih obat yang tepat; resep dalam dosis yang sesuai
dan dengan cara yang sesuai dalam lingkup rencana
pengobatan dan menggunakannya dalam durasi yang
cocok.
Mengukur keberhasilan pengobatan; efek samping
pemantauan dan kepatuhan pasien.
Mengukur interaksi obat jika lebih dari satu obat
digunakan.
Mengingat berlakunya dan biaya pengobatan.
POR dipengaruhi oleh:
Pengaturan obat
Pendidikan (formal & non formal)
Pengaruh industri obat
Informasi / prescribing Information
Sistem pelayanan kesehatan
Sosio-kultural
Semua berperan dlm pemakaian obat

PENGERTIAN-PENGERTIAN
Pharmacology asal kata Pharmacos + logos. Pharmacos
dari bahasa Yunani artinya Obat
Farmakoterapi: upaya manusia untuk menjadi sehat atau
Penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi
sembuh dengan menggunakan obat
Efek Terapi Obat (ETO) = efek terapi yang diharapkan
kriteria:
dari suatu obat
sesuai indikasi penyakit
tersedia setiap saat dengan harga terjangkau

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 22

Profesi Apoteker 2013

diberikan dengan dosis yang tepat


cara pemberian dengan interval waktu pemberian yang
tepat
lama pemberian yang tepat
obat yang diberikan harus efektif, dengan mutu terjamin
dan aman.

1. Apa faktor yang mempengaruhi PENGGUNAAN OBAT


RASIONAL, jelaskan masing-masing faktor yang
mempengaruhinya, apa faktor negatif dan apa faktor
positifnya?
Jawaban : Obat rasional (menurut WHO 1985) adalah
apabila pasien menerima pengobatan dengan kebutuhan
klinisnya, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan,
dalam periode waktu yang adequate, dan dengan biaya
yang terjangkau oleh masyarakat banyak.
Faktor-faktor Negatif yang mempengaruhi pengobatan
rasional
a. Pengaturan Obat
Pengaturan obat merupakan salah faktor yang
mempengaruhi pengobatan rasional baik pengaturan dari
pemerintah maupun dari instansi kesehatan, dimana
ketidaktersedian pedoman pengobatan, pedoman
pengobatan rasional, pedoman DOEN, kebijaksaan harga
obat yang baik, serta kurikulum tenaga kesehatan yang
berkelanjutan maka kesemuanya ini akan membuat
sistem pasar secara sembarangan dan sepihak untuk
mengatur pelayanan kesehatan dan menetapkan harga
obat di pasaran sehingga pada akhirnya akan membuat
sistem pelayanan yang tidak rasional. Selain itu aplikasi
undang-undang tentang obat dan kesehatan yang masih
banyak membingungkan tenaga kesehatan mengenai
kebijaksanaan dan tata laksananya. Hal ini dibuktikan
adanya tenaga ahli profesi yang masih terjerat masalah
hukum mengenai kewenangan dalam pemberian dan
penerimaan obat.
b. Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pengobatan rasional dimana kelemahan
dalam bekal pengetahuan dan keterampilan mengenai
pemakaian obat baik yang didapat selama pendidikan
(pre-service) atau kekurangan penyegaran-penyegaran
sesudah menjalankan praktek pendidikan profesi
berkelanjutan. Tidak adanya upaya pendidikan dan
pengembangan pengetahuan serta pelatihan terhadap
tenaga kesehatan atau mahasiswa kedokteran dan
mahasiswa farmasi dibidang kesehatan. Selain itu
kekurangan informasi mengenai obat dan terapetika bagi
masyarakat, dimana hal tersebut akan menghambat
pengobatan yang rasional yang seharusnya dilakukan
oleh tenaga kesehatan ataupun masyarakat itu sendiri.
c. Industri obat
Industri obat merupakan salah satu faktor dalam
pengobatan rasional dimana jika terjadi suatu aktivitas
promosi yang berlebihan dari industri farmasi seperti
adanya ikatan-ikatan tertentu dengan antara industry obat
dengan para penulis resep (prescribing), adanya sponsor
dari industri farmasi tertentu, dan pemberian obat

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

berdasarkan adanya hubungan baik perorangan dengan


pihak dari industri farmasi maka semakin meningkat
pencarian keuntungan semata dari pihak-pihak terkait
serta semakin meningkat pula pengobatan yang tidak
rasional bahkan merugikan dan semakin memberatkan
beban pasien/masyarakat.
d. Sistem pelayanan kesehatan
Sistem pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi pengobatan rasional dimana sistem
suplai obat yang tidak efisien, ketiadaan buku pedoman
pengobatan di unit-unit pelayanan serta beban pelayanan
pasien yang terlalu banyak akan membuat pasien tidak
sempat ditangani secara optimal yang berakibat tidak
optimalnya pengobatan rasional.
e. Sosio-Kultural
Sosio-kultural kesehatan merupakan salah satu faktor
dalam pengobatan rasional dimana adanya keterbatasan
penyediaan jenis obat di suatu instansi atau lembaga
kesehatan tertentu, sehingga jenis obat yang diperlukan
untuk suatu penyakit justru tidak tersedia. Adanya
anggapan-anggapan atau kepercayaan yang keliru
tentang manfaat obat sehingga mengakibatkan kesalahan
dan penyalahgunaan pengobatan.
Faktor-faktor Positif yang mempengaruhi penggunaan
obat rasional adalah
a. Pengaturan obat
Pengaturan obat merupakan salah faktor yang
mempengaruhi peningkatan pengobatan rasional baik
pengaturan dari pemerintah maupun dari suatu instansi
kesehatan antara lain yaitu tersedianya pedoman
pengobatan, tersedianya obat esensial, kebijaksaan harga
obat yang baik, insentif untuk penggunaan DOEN,
masuknya POR dalam kurikulum tenaga kesehatan dan
tersedianya peraturan yang meningkatkan peresepan
rasional sehingga kesemuanya ini memudahkan
pekerjaan tenaga kesehatan dalam melakukan
pengobatan, ketersediaan dan keterjangkauan obat bagi
pasien serta meningkatnya kepatuhan tenaga kesehatan
oleh aturan baik berupa peraturan atau kurikulum yang
berlaku bagi tenaga kesehatan.
b. Sistem Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor dalam
meningkatkan pengobatan rasional dimana yang
dimaksud pendidikan formal adalah kegiatan yang
sistematis dan teregulasi berupa kegiatan studi yang
berorientasi akademis dan pelatihan secara terus
menerus mengenai pengetahuan tentang obat kepada
mahasiswa Fak.Kedokteran dan farmasi. Sedangkan
pendidikan non formal adalah berupa upaya kontribusi
pemberitahuan tentang kesehatan terhadap masyarakat
di bidang kesehatan, dimana studi ini didapatkan diluar
sekolah. Semakin baik pengetahuan tenaga kesehatan,
pasien dan masyarakat yang memperoleh pendidikan
maka semakin meningkat pula sikap tentang pengobatan
sendirinya juga.
c. Industri obat

Page 23

Profesi Apoteker 2013


Industri obat merupakan salah satu faktor dalam
pelaksanaan kesehatan oleh profesi kesehatan guna
meningkatkan pengobatan rasional dimana jika terdapat
tercapainya mutu kesehatan di masyarakat. Selain itu
suatu kesadaran industri sebagai salah satu bagian dari
adanya tempat-tempat penyelenggara pelayanan
terbentuknya pengobatan yang rasional, pengawasan
kesehatan (rumah sakit, puskesmas dan apotek)
terhadap iklan dan tekanan dari pabrik serta adanya
mendorong prosedur-prosedur dalam pemantauan
aturan-aturan yang mengikat bagi setiap pelaku industri
terhadap obat. Dalam hal ini diperlukan adanya kolaborasi
obat maka semakin meningkat pula sikap dan perilaku
medis untuk menjalankan prosedur-prosedur sesuai
industri obat baik dalam promosi iklan dan perjanjian
batasan-batasan dan wewenang setiap profesi. Maka dari
dengan dokter dimana tetap mengutamakan kesehatan
itu diserahkannya pengobatan rasional ke pasar harus
masyarakat bukan hanya keuntungan semata.
tetap sejalan dengan kebijakan yang ada, dan tidak
d. Sistem pelayanan kesehatan
melupakan tenaga kesehatan sebagai pemberi informasi
Sistem pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor
yang dapat membantu meningkatkan mutu kesehatan
dalam meningkatkan pengobatan rasional dimana suatu
masyarakat.
sarana kesehatan yang memiliki sistem suplai obat yang
3. Apa saja faktor yang mempengaruhi pemakaian obat
memadai terutama obat-obat DOEN dan ketersediaan
yang tidak rasional? Jelaskan masing-masing faktor
sistem pelayanan dari tenaga kesehatan yang memadai
yang saudar/i tuliskan!
dan sistematis serta ketersediaan buku pedoman
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian obat yang
pengobatan bagi unit-unit pelayanan kesehatan akan
tidak rasional
meningkatkan keoptimalan pelayanan kesehatan yang
a. Sistem Pendidikan (Penulis resep)
rasional kepada pasien. Selain itu upaya
penyelenggaraan kesehatan secara terpadu dan saling
- Kurangnya bekal dan keterampilan mengenai
mendukung dapat menjamin derajat kesehatan yg
pemakaian obat (terapetika) yang didapat
setinggi-tingginya, yaitu peningkatan mutu kesehatan
selama pendidikan (pre service)
pasien.
- Kurangnya mengikuti penyegaran
e. Sosio-kultural
ilmu/pendidikan profesi berkelanjutan
Sosio-kultural kesehatan merupakan salah satu faktor
- Kurangnya mengikuti perkembangan informasi
dalam meningkatkan pengobatan rasional dimana
mengenai obat dan terapetika yang baru.
b. Sistem pelayanan
anggapan ataupun kepercayaan terhadap suatu
pengobatan tertentu akan mempengaruhi lingkungan
- Sistem suplay obat yang tidak efisien
tertentu sehingga diperlukan sosialisasi dan kesadaran
- Ketiadaan buku pedoman
kepada kelompok-kelompok tersebut. Hal ini dilakukan
pengobatan/formularium di unit-unit pelayanan
mengingat masyarakat Indonesia dalam mengambil
- Beban pelayanan pasien yang terlalu banyak
keputusan tidak didasari dari pertimbangan pribadi
sehingga setiap pasien tidak bisa ditangani
sebagai seorang individu yang berdiri sendiri melainkan
secara optimal.
c. Penulis resep (prescriber)
dipengaruhi oleh berbagai faktor budaya dan sosial
lingkungan tinggalnya.
- Pada kondisi ini dokter diperhadapkan pada
realita yang ada yaitu konflik batin antara
2. Bagaimana bila Pengobatan Rasional diserahkan
pengetahuan mediknya dan tekanan/permintaan
pasar? Jelaskan alasan yang saudara/i tuliskan!
pasien yang sering menyebabkan terjadinya
Jawaban: Apabila pengobatan rasional diserahkan pasar
penurunan jumlah pasien, penurunan jumlah
(dalam hal ini dokter, industri farmasi dan pasien) maka
pendapatan.
obat akan kehilangan fungsinya sebagai bagian dari hak
- Tidak adanya protap sebagai dasar pemberian
individu untuk dapat kesembuhan dari penyakit dan
terapi pengobatan.
memperpanjang usia karena kemampuan ekonomi
- Kurangnya pengalaman praktek sehari-hari
seseorang akan menjadi kendala untuk mencapai tujuan
- Informasi dari perusahaan farmasi
tersebut. Dimana obat merupakan salah satu komponen
- Tekanan pasien dalam bentuk permintaan untuk
yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat
meresepkan obat berdasarkan pilihan pasien
adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan
sendiri
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
- Kekurang yakinanan pada diri pembuat resep
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
terhadap diagnosis yang ditegakkan.
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
- Ketidakmampuan menelaah setiap informasi
kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi.
secara kritik analitik sehingga setiap informasi
Adanya pengaturan profesi kesehatan menjelaskan
mudah sekali dipengaruhi kebiasaan peresepan.
d. Pasien
bahwa aspek pengobatan rasional seharusnya dipantau
oleh para profesi kesehatan, mulai dari pengadaan
- Tekanan dan permintaan pasien terutama bila
terhadap bahan baku obat, produksi, hingga distribusi
dokter meresepkan semua obat keinginan
obat ke konsumen dengan kualitas obat yang tetap
pasien tanpa memilih mana yang tepat dan tidak
terjaga. Pengawasan sangat diperlukan dalam upaya
tepat.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 24

Profesi Apoteker 2013


-

Anggapan bahwa pasien belum merasa sembuh


apabila belum disuntik
- Sebagian orang tua pasien minta anaknya yang
diare disuntik, atau diberi antibiotika ataupun
antidiare.
e. Sistem perencanaan dan pengelolaan obat
- Keterbatasan dana dan terbatasnya obat yang
tersedia
- Perencanaan dan pengadaan obat tidak sesuai
kebutuhan obat di Puskesmas
f. Kebijakan Obat dan Pelayanan Obat
- Pendelegasian wewenang untuk melakukan
praktek pengobatan yang tidak didasari
pengetahuan tentang obat
- Pemberian obat tanpa resep
g. Lain-lain
- Gencarnya informasi obat dalam bentuk iklan
- Persaingan praktek
- Adanya informasi yang bias yang dilakukan oleh
industry farmasi
4. Apa yang dimaksud dengan rasionalitas pengobatan?
Jelaskan dengan rinci!
Jawaban: Rasionalitas pengobatan adalah pengobatan
yang menggunakan nalar sebagai pertimbangan tertinggi
untuk menentukan hal seperti pendapat, perbuatan,
penilaian, dsb, bukan dengan perasaan subjektif.
Pengobatan Rasional merupakan suatu proses yang
kompleks dan dinamis, dimana terkait beberapa
komponen, mulai dari diagnosis, pemilihan dan penentuan
dosis obat, penyediaan dan pelayanan obat, petunjuk
pemakaian obat, bentuk sediaan yang tepat, cara
pengemasan, pemberian label dan kepatuhan
penggunaan obat oleh penderita.
Penggunaan yang rasional tercapai apabila:
a. Tepat diagnosis
Obat diberikan sesuai dengan diagnosis. Apabila
diagnosis tidak ditegakkan dengan benar maka pemilihan
obat akan salah.
b. Tepat indikasi penyakit
Obat yang diberikan harus yang tepat bagi suatu penyakit.
c. Tepat pemilihan obat
Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan
penyakit.
d. Tepat dosis, jumlah, cara, waktu, dan lama pemberian
Dosis, jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat
harus tepat. Apabila salah satu dari empat hal tersebut
tidak dipenuhi menyebabkan efek terapi tidak tercapai.
e. Tepat penilaian kondisi pasien
Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi pasien,
antara lain harus memperhatikan: kontraindikasi obat,
komplikasi, kehamilan, menyusui, lanjut usia atau bayi.
f. Waspada terhadap efek samping
Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak
diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis
terapi, seperti timbulya mual, muntah, gatal-gatal, dan lain
sebagainya.

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

g. Efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan


harga terjangkau
Untuk mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi.
h. Tepat tindak lanjut (follow up)
Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit
berlanjut konsultasikan ke dokter.
i. Tepat penyerahan obat (dispensing)
Penggunaan obat rasional melibatkan penyerah obat dan
pasien sendiri sebagai konsumen. Resep yang dibawa ke
apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas akan
dipersiapkan obatnya dan diserahkan kepada pasien
dengan informasi yang tepat.
j. Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang
diberikan
Ketidakpatuhan minum obat terjadi pada keadaan berikut
:
- Jenis sediaan obat beragam
- Jumlah obat terlalu banyak
- Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering
- Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi
- Pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup
mengenai cara menggunakan obat
- Timbulnya efek samping
5. Apa makna pernyataan ini: On rational prescribing &
the globalization process, berikan penjelasan!
Jawaban: On rational prescribing & the globalization
process adalah bila seorang dokter diminta untuk
menjelaskan mengapa memakai pengobatan tertentu ia
harus bisa menjelaskannya dengan terbuka. Seperti tujuan
Pengobatan, dan keuangan yang harus accountable and
auditable. Secara umum penerapan Ilmu kedokteran
merupakan ilmu yang transparan. Hal ini merupakan bagian
dari profesionalisme dalam proses globalisasi dan reformasi.
6. Bagaimana pendapat saudara/i tentang peranan
seorang apoteker dalam memberikan atau
menyampaikan obat kepada pasien/klien? Jelaskan!
Jawaban: Pekerjaan kefarmasian tidak hanya berfokus pada
penyampaian dan penyaluran obat kepada pasien, hal ini
didasarkan pada perkembangan praktek kefarmasian saat ini
telah bergeser kepada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical
Care) sebagai misi profesi apoteker. Apoteker diharapkan
ikut terlibat dalam perancangan, persiapan dan pemantauan
terapi untuk pasien. Interaksi antara apoteker dengan pasien
selaku pengguna jasa pelayanan apotek harus lebih
diintensifkan guna meningkatkan peran aktif dan inisiatif
apoteker dalam rangka menjamin efektifitas penggunaan
obat.
Peran apoteker dalam memberikan dan menyampaikan obat
kepada pasien merupakan tugas dan fungsi seorang
apoteker guna tercapainya tujuan asuhan kefarmasian yaitu
penyembuhan penyakit pasien, mengurangi atau
menghilangkan gejala penyakit, mencegah penyakit atau
gejalanya, dan menghambat dan memperlambat
perkembangan penyakit.

Page 25

Profesi Apoteker 2013


7. Apa yang saudara/i lakukan bila informasi yang
diberikan oleh professional lain tidak sesuai dengan
apa yang seharusnya disampaikan sesuai dengan
pemberian obat atau pengobatan? Jelaskan!
Jawaban: Dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan
pasien dikembangkan suatu hubungan kepercayaan atas
dasar kompetensi dan komitmen terhadap keperluan pasien
akan hal terkait dengan obat. Bila terjadi ketidaksesuaian
informasi yang seharusnya disampaikan terkait pemberian
obat atau pengobatan sebaiknya dilakukan komunikasi
terkait pengobatan tersebut terhadap profesional guna
mencapai kesepahaman mengenai tujuan pengobatan
kepada pasien.
Adapun beberapa upaya dalam berkomunikasi yang baik
terhadap ahli profesional lainnya adalah:
a. Memiliki kepercayaan diri
b. Memahami latar belakang dokter dalam memberikan
terapi pengobatan
c. Memahami terminologi medis
d. Memiliki gaya bicara yang tidak memaksakan dalam
penyampaian pengetahuan tentang obat
e. Memiliki sumber yang dpat dipertanggung jawabkan
seperti evidence based medicine
f. Memahami batasan wewenang dan kebijakan profesi tiaptiap professional

Rine Kusuma Hastuty, S.Farm., C.Apt


Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Angkatan VII

Page 26