Anda di halaman 1dari 4

Peningkatan daya saing produk pertanian (Studi kasus kelapa dan jamur tiram)

Daya saing (competitiveness) merupakan kemampuan perusahaan, industri, daerah,


negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan
yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan internasional
(sumber: OECD). Oleh karena daya saing industri merupakan fenomena di tingkat
mikro perusahaan, maka kebijakan pembangunan industri nasional semestinya didahului
dengan mengkaji sektor industri secara utuh sebagai dasar pengukurannya.
Pada dasarnya tingkat daya saing suatu negara di kancah perdagangan internasional
ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor keunggulan komparatif (comparative
advantage) dan faktor keunggulan kompetitif (competitive advantage). Lebih lanjut,
faktor keunggulan komparatif dapat dianggap sebagai faktor yang bersifat alamiah dan
faktor keunggulan kompetitif dianggap sebagai faktor yang bersifat acquired atau dapat
dikembangkan/diciptakan (Tambunan, 2001). Selain dua faktor tersebut, tingkat daya
saing suatu negara sesungguhnya juga dipengaruhi oleh apa yang disebut Sustainable
Competitive Advantage (SCA) atau keunggulan daya saing berkelanjutan. Ini terutama
dalam kerangka menghadapi tingkat persaingan global yang semakin lama menjadi
sedemikian ketat/keras atau Hyper Competitive.
Peningkatan daya saing atau kualitas produk dilakukan melalui berbagai upaya,
antara lain penyusunan dan penerapan SNI, peningkatan kompetensi SDM industri,
penerapan sertifikasi legalitas untuk produk kayu (SVLK), penggantian mesin-mesin
yang telah berumur tua dengan mesin atau teknologi baru supaya produksi lebih efisien,
serta meningkatkan pasar dengan dilaksanakan promosi atau pameran produk-produk
hasil hutan dan perkebunan baik di dalam maupun luar negeri. Kebijakan tersebut hanya
bisa terwujud bila didukung oleh semua komponen baik pemerintah, dunia usaha,
asosiasi, organisasi profesi dan masyarakat lainnya yang diharapkan dapat ikut
memperkuat basis ekonomi bangsa.
Inovasi menjadi kata kunci dalam meningkatkan daya saing dan kualitas kehidupan
masyarakat Indonesia, dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan daya
saing, perlindungan kepada para petani harus tetap diwujudkan sehingga dapat
melahirkan kolaborasi untuk mendorong inovasi. Dalam upaya untuk meningkatkan
daya saing, harus tetap hadir dan memikirkan untuk selalu memberikan perlindungan

bagi para petani kita, termasuk penyediaan benih, akses permodalan, lahan dan
stablisasi pasar, dalam upaya meningkatkan daya saing.
Terkait revitalisasi dan penumbuhan industri hasil hutan dan perkebunan, kebijakan
pemerintah saat ini diarahkan kepada dua hal, yaitu peningkatan nilai tambah produk
(added value) dan peningkatan daya saing atau kualitas produk. Tujuannya adalah
supaya industri hasil hutan dan perkebunan dapat tumbuh dan berkembang secara
berkelanjutan (sustainable growth). Produk hasil hutan dan perkebunan diusahakan
tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan baku, namun diolah dulu menjadi produk jadi
sehingga bisa meningkatkan nilai tambahnya.
Pengolahan dan pemasaran hasil pertanian diarahkan untuk mewujudkan
tumbuhnya usaha yang dapat meningkatkan nilai tambah dan harga yang wajar di
tingkat petani, sehingga petani dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, maka strategi yang perlu ditempuh antara lain:
(a) meningkatkan mutu produk dan mengolah produksi menjadi bahan setengah jadi, (b)
meningkatkan harga komoditi hasil pertanian dan pembagian keuntungan (profit
sharing) yang proporsional bagi petani, (c) menumbuhkan unit-unit pengolahan dan
pemasaran hasil pertanian yang dikelola oleh kelompok tani/gabungan ketompok tani
atau asosiasi tanaman pertanian, (d) meningkatkan efisiensi biaya pengolahan dan
pemasaran serta memperpendek mata rantai pemasaran, (e) mengurangi impor hasil
petanian dan meningkatkan ekspor produk pertanian.
Upaya pengembangan pengolahan dan pemasaran produk pertanian yang akan
dilaksanakan antara lain: (1) pengembangan dan penanganan pascapanen dengan
penerapan manajemen mutu sehingga produk yang dihasilkan sesuai persyaratan mutu
pasar, dalam kaitan tersebut diperlukan pelatihan dan penyuluhan yang intensif tentang
manajemen

mutu,

(2)

pembangunan

unit-unit

pengolahan

di

tingkat

petani/gapoktan/asosiasi, (3) pembangunan pusat pengeringan dan penyimpanan di


sentra produksi produk hasil pertanian, (4) penguatan peralatan mesin yang terkait
dengan kegiatan pengolahan dan penyimpanan komoditi pertanian, antara lain alat
pengering (dryer), corn sheller (pemipil), penepung, pemotong/pencacah bonggol, mixer
(pencampur pakan), dan gudang, (5) penguatan modal, (6) pembentukan dan fasilitasi

sistem informasi dan promosi, serta asosiasi komoditi pertanian, dan (7) pengembangan
industri berbasis hasil pertanian produk dalam negeri.
Kegiatan pascapanen merupakan bagian integral dari pengembangan agribisnis,
yang dimulai dari aspek produksi bahan mentah sampai pemasaran produk akhir. Peran
kegiatan pascapanen menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu sub-sistem
agribisnis yang mempunyai peluang besar dalam upaya meningkatkan nilai tambah
produk agribisnis. Dibanding dengan produk segar, produk olahan mampu memberikan
nilai tambah yang sangat besar. Daya saing komoditas Indonesia masih lemah, karena
selama ini hanya mengandalkan keunggulan komparatif dengan kelimpahan
sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik (factordriven), sehingga produk yang
dihasilkan didominasi oleh produk primer atau bersifat natural recources-based dan
unskilled-labor intensive.
Peluang pasar yang cukup besar, baik pasar domestik maupun internasional
menuntut adanya upaya peningkatan produksi dan mutu melalui pengolahan hasil yang
baik. Begitu juga dengan komoditas hortikultura yang mencakup produk buah, sayuran,
biofarmaka dan tanaman hias/bunga. Dengan pengolahan, komoditi tersebut akan
memiliki nilai tambah tinggi.
Ketiga, untuk dapat meningkatkan daya saing produk pertanian perlu dilakukan
langkah peningkatan efisiensi baik dalam bidang produksi maupun distribusi produk.
Penggunaan teknologi budidaya dan input yang lebih efisien perlu untuk terus
dikembangkan. Faktor kelembagaan petani yang menunjang efisiensi produksi kiranya
perlu mendapat perhatian yang lebih banyak lagi. Terkait dengan sumberdaya lahan,
perlu untuk dipikirkan tentang adanya kebijakan konsolidasi lahan pertanian, dengan
tujuan untuk meningkatkan luas penguasaan lahan pertanian per individu petani,
sehingga efisiensi usaha pertanian akan meningkat. Selain itu di dalam negeri perlu
diikuti penghapusan ekonomi biaya tinggi dengan menghilangkan inefisiensi dalam
bidang pemasaran, menghilangkan pungutan liar, dan perbaikan sarana infrastruktur.
Saat ini 80% produk pertanian Indonesia diperdagangkan dalam bentuk bahan
mentah dan 20% dalam bentuk olahan. Pada akhir tahun 2014 ditargetkan bahwa 50%
produk pertanian diperdagangkan dalam bentuk olahan. Untuk peningkatan daya saing
akan difokuskan pada produk berbasis sumber daya lokal berikut: (1) produk yang dapat

meningkatkan pemenuhan permintaan untuk konsumsi dalam negeri dan (2) produk
yang

dapat

mengurangi

ketergantungan

impor

(substitusi

impor).

Indikator

keberhasilannya adalah besarnya pangsa pasar (market share) di pasar dalam negeri dan
penurunan net impor.