Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Oozisokhi Gea
NIM
: 137026002
Mata Kuliah : Polimer
Dalam kehidupan sehari hari, dakron dimanfaatkan untuk bahan pita rekam
magnetik. Dakron dipilih karena dakron memiliki sifat yang elastis dan kuat. Dakron dapat
dibuat menjadi lapisan yang tipis dan memiliki kekuatan yang cukup baik. Untuk merekam
suara , dakron dilapisi dengan serbuk besi oksida (Fe 2O3) yang disebarkan di permukaan
dakron. Lapisan besi oksida ini yang akan menyimpan data yang direkam. Pada saat proses
perekaman dilakukan, sinyal suara yang akan direkam diubah menjadi sinyal listrik. Sinyal
listrik yang dihasilkan akan menghasilkan medan magnet yang akan mempengaruhi susunan
dari besi oksida. Sebelum dilakukan perekaman, serbuk besi yang disebarkan tidak tersusun
dengan rapi. Akan tetapi setelah dakron dilewati oleh medan magnet maka susunan serbuk
besi oksida akan tetatur. Keteraturan dari serbuk besi ini mengikuti suara yang direkam,
sehingga saat diputar kembali maka akan terdengan suara yang sama dengan suara yang
direkam.
Dakron termasuk dalam poliester. Dakron merupakan kopolimer yang terbentuk dari 2
monomer, monomer yang digunakan untuk pembentukan dakron adalah etilen glukol dan
dimetil tereftalat. Dakron memiliki struktur yang linier dan tidak ada percabangan.

Gambar 1. Eliten glukol

Gambar 2. Dimetil tereftalat

Gambar 3. Repeating Pattern dari Dakron


Dakron merupakan polimer termoplastik, polimer termoplastik adalah polimer yang
mempunyai sifat tidak tahan terhadap panas. Jika polimer jenis ini dipanaskan, maka akan
menjadi lunak dan didinginkan akan mengeras. Beberapa sifat dari polimer termoplastik
adalah :
-

Berat molekul kecil


Tidak tahan terhadap panas
Jika dipanaskan akan melunak
Jika didinginkan akan mengeras
Mudah untuk diregangkan
Fleksibel
Titik leleh rendah

- Dapat dibentuk ulang (daur ulang)


- Mudah larut dalam pelarut yang sesuai
- Memiliki struktur molekul linear/bercabang.
Dakron merupakan polimer yang dibuat dengan cara kondensasi. Dakron dibuat dengan
cara yang sama dengan pembuatan ester, perbedaan adalah pada kedua gugus fungsi yang
digunakan dalam pembentukan polimer. Dakron dibuat dari eliten glikol dan dimetil tereftalat
dengan memisahkan molekul air (-H dari alkohol dan OH dari ester).

Gambar 4. Kondensasi dalam pembuatan Dakron


Proses

pembuatan

dakron

adalah

sebgai berikut :
1. Esterifikasi
Esterifikasi merupakan tahap pembentukan monomer. Proses ini langsung karena
gugus karboksil (-COOH-) dari asam tereftalat dapat dengan mudah bereaksi dengan etilena
glikol, sehingga tidak memerlukan katalis reaksi. Proses esterifikasi diawali dengan
pemompaan larutan homogen yang mengandung asam tereftalat murni, etilena glikol, kobalt
asetat, asam fosfit, diantimontrioksida, dan titaniumoksida ke dalam reaktor. Proses ini
berlangsung selama kurang lebih 45 menit pada reaktor bersuhu proses 10-20 OC. Dalam
proses ini akan dihasilkan produk sampingan berupa air yang dapat menghambat
kesetimbangan reaksi dan menghambat hasil, untuk itu air perlu dihilangkan dari proses
dengan dipompa agar dihasilkan berat molekul monomer yang besar, selain itu juga jumlah
pereaksi (etilena glikol) yang ditambahkan harus berlebih 10-20% karena etilena glikol akan
mengalami

banyak

kehilangan

akibat

destilasi

kontinyu

selama

tahap

reaksi.

Proses ini berkahir ketika seluruh air sebagai produk samping dapat di destilasi seluruhnya
dan produk reaksi berupa BHET (bishidroksi etlena tereftalat) yang kemudian akan
dipindahkan ke dalam reaktor polikondensasi bersuhu 260OC dengan cara didorong
menggunakan tekanan gas nitrogen 2,3 kg/cm3 melalui suatu filter untuk menyaring kotoran.
Selain air, hasil samping yang harus dihindari adalah terbentuknya asetaldehida yang
terbentuk akibat terdegradasi suhu yang tinggi, akibatnya akan berpengaruh pada sifat
akhir polimer poliester yang terbentuk.

2. Polikondensasi
Polikondensasi merupakan proses penggabungan monomer-monomer membentuk
suatu polimer. Panjang rantai polimer yang terbentuk dari reaksi ini dinyatakan dalam derajat
polimerisasi yang sangat dipengaruhi oleh suhu dan lama reaksi melalui putaran pengadukan
yang dilakukan secara bertahap. Dalam proses ini dapat juga terjadi kerusakan rantai polimer
yang sudah terbentuk yang diakibatkan oleh adanya Oksigen, yang berasal dari dalam maupun
dari luar reaktor walaupun jumlahnya sangat sedikit karena terjadinya kerusakan rantai akan
menjadi

besar

sebab

ini

terjadi

pada

waktu

proses

reaksi

penggabungan monomer. Sifat Poliester atau Polietilenatereftalat yang terbentuk dari hasil
reaksi polimerisasi dipengaruhi oleh jumlah gugus penghubung pada rantai. Misalkan, adanya
senyawa dietilenaglikol (DEG) pada rantai polimer akan meningkatkan daya serap serat
terhadap zat warna tetapi jika terlalu banyak maka akan menurunkan kekuatan tarik dan
menurunkan ketahanan suhu dari serat. Disamping DEG yang dapat mempengaruhi sifat serat
adalah adanya gugus ujung asam (karboksil) yang terbentuk pada proses polimerisasi,
keberadaan gugus asam yang terlalu banyak mengindikasikan bahwa proses reaksi
polimerisasi belum sempurna atau terjadi kerusakan rantai polimer akibat fotooksidasi oleh
panas atau oksigen sehingga terjadi pemutusan rantai polietilenatereftalat (PET) sehingga
kekuatan serat yang terbentuk menurun.

DAKRON UNTUK PITA REKAM MAGNETIK


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH POLIMER

OLEH :
OOZISOKHI GEA (137026002)

SEKOLAH PASCASARJANA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2014