Anda di halaman 1dari 66

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri gula merupakan salah satu pilar dan penggerak ekonomi
Indonesia. Gula merupakan komoditi yang dikonsumsi oleh seluruh lapisan
masyarakat yang pengusahaannya bersifat multi dimensi menyangkut teknis,
sosial, ekonomi dan politis. Secara nasional kebutuhan gula dalam negeri
mencapai 4,8 juta ton tiap tahunnya, dimana sekitar 2,7 ton untuk konsumsi
langsung dan 1,8 juta ton untuk industri. Pada tahun 2014 kebutuhan gula nasional
mencapai

5,7

juta

ton,

terdiri

dari

2,96

juta

ton

untuk

konsumsi

langsung masyarakat dan 2,74 juta ton untuk keperluan industri. Dengan adanya
peningkatan konsumsi gula nasional tersebut pemerintah berupaya untuk
melakukan revitalisasi industri gula nasional dengan mencanangkan Program
Swasembada Gula Nasional pada tahun 2014 (Ditjenbun, 2013). Perlunya magang
kerja disini sebagai suatu wadah untuk mengetahui dan mempelajari dunia kerja
yang selama ini belum tercakup di perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga bisa
menambah keterampilan yang suatu saat akan berguna di masa depan.
Produksi sering diartikan sebagai aktivitas yang ditujukan untuk
meningkatkan nilai masukan (input) menjadi keluaran (output). Manajemen
produksi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengolah input bahan baku
menjadi produk yang siap dipasarkan. Pengolahan bahan baku tersebut diharapkan
secara efisien dapat mencapai target produksi yang telah direncanakan.
Manajemen produksi juga tidak lepas dari pengendalian bahan baku, tenaga kerja,
maupun pemeliharaan.
Sejak tahun 2009 hingga tahun 2013 FR (forecasting-red), pemenuhan
konsumsi gula nasional oleh PG hanya bergerak pada interval 48-56%. Artinya,
program swasembada gula tahun 2014 yang diisukan sejak lima tahun silam
terancam gagal jika tidak ada inovasi dan terobosan dari para pemangku
kepentingan industri tebu. (BUMN, 2014)
Produksi gula yang tidak terpenuhi untuk konsumsi nasional disebabkan
oleh beragam masalah dan kelemahan yang terjadi di lapangan. Permasalahan dan
tantangan yang terjadi di lapangan antara lain adanya permasalahan internal dan

eksternal. Permasalahan yang terjadi mencakup pada pelaksanaan produksi, yaitu


pada penyediaan bahan baku, proses produksi, dan juga pengoperasian alat-alat
yang terkadang mengalami kendala. Produksi yang cenderung menurun juga bisa
disebabkan antara lain oleh anomali perubahan iklim global yang berdampak pada
penurunan kualitas panen dan rendemen. Oleh sebab itu, perlu adanya magang
kerja guna mengetahui manajemen produksi di Pabrik Gula Kedawung sebagai
obyek pengamatan, penelitian dan pengembangan bagi lembaga pendidikan.

1.2 Tujuan Pelaksanaan Magang Kerja


1.2.1. Tujuan Umum
Kegiatan Magang Kerja Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umumnya, yaitu:
1. Melatih mahasiswa untuk terjun langsung di lapangan dalam aspek pertanian,
perkebunan, atau manajemen lingkungan yang tidak tercakup dalam proses
perkuliahan.
2. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman
kerja dalam sektor pertanian yang relevan dengan profesi yang diemban.
3. Memberikan pengalaman kerja pada mahasiswa dalam lingkungan profesional
pertanian atau agribisnis.
4. Memberikan keterampilan tambahan sebagai bekal untuk kerja di masa depan.
1.2.2. Tujuan Khusus
Sedangkan tujuan khusus dari Kegiatan Magang Kerja Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya ini adalah:
1. Mengetahui Sejarah dan Profil Perusahaan di PG Kedawung, Pasuruan.
2. Mengetahui Manajemen Produksi Gula yang ada di PG Kedawung, Pasuruan.

1.3 Sasaran Kompetensi yang ditargetkan


Kompetensi mahasiswa agribisnis yang ditargetkan pada Kegiatan Magang
Kerja adalah:
1. Mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat selama kegiatan perkuliahan.
2. Mampu belajar dan bekerjasama dalam tim serta mampu berkontribusi dan
beradaptasi dalam dunia kerja di PG. Kedawung.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Tanaman Tebu
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) dimanfaatkan sebagai bahan
baku utama dalam industri gula. Pada dasarnya pengelolaan kebun bibit hampir
sama dengan kebun tebu giling dari pengolahan tanah hingga panen (tebang).
Pada kebun bibit tidak dilakukan pengkletekan dengan tujuan untuk mengurangi
penguapan setelah ditebang dan melindungi mata tunas baik pada masa
pemeliharaan maupun pada saat pengangkutan.
Dosis pupuk yang dipakai umumnya adalah 800 kg ZA, 200 kg SP-36,
200 kg KCl tiap ha. Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang
menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan
tofografi. Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan
sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan
menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan. Lebih spesifik lagi, keberhasilan
penyesuaian budidaya tebu ditentukan oleh kesesuaian tebu terhadap kondisi
iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu
dengan topografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga,
sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu
menuju pertanian berkelanjutan.

Gambar 1. Lahan Tanaman Tebu

2.2.Industri Gula di Indonesia


Gula merupakan komoditas pangan yang strategis di Indonesia, namun
permintaan domestiknya yang terus meningkat ternyata belum mampu dipenuhi
secara mandiri. Indonesia memang sudah cukup lama menjadi negara net impor
gula. Komoditas ini terdiri dari dua segmen pasar:
1. Gula Kirstal Putih (GKP) untuk konsumsi rumah tangga
2. Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk industri makanan dan minuman
Sedangkan, sektor konsumsinya terdiri dari:
1. Konsumsi rumah tangga
2. Konsumsi industri makanan dan minuman
Ketika orang-orang Belanda mulai membuka koloni di Pulau Jawa kebunkebun tebu monokultur mulai dibuka oleh tuan-tuan tanah pada abad ke-17,
pertama di sekitar Batavia, lalu berkembang ke arah timur.
Puncak kegemilangan perkebunan tebu dicapai pada tahun-tahun awal
1930-an, dengan 179 pabrik pengolahan dan produksi tiga juta ton gula per tahun.
Penurunan harga gula akibat krisis ekonomi merontokkan industri ini dan pada
akhir dekade hanya tersisa 35 pabrik dengan produksi 500 ribu ton gula per tahun.
Situasi agak pulih menjelang Perang Pasifik, dengan 93 pabrik dan prduksi 1,5
juta ton. Seusai Perang Dunia II, tersisa 30 pabrik aktif. Tahun 1950-an
menyaksikan aktivitas baru sehingga Indonesia menjadi eksportir netto. Pada
tahun 1957 semua pabrik gula dinasionalisasi dan pemerintah sangat meregulasi
industri ini. Sejak 1967 hingga sekarang Indonesia kembali menjadi importir gula.
Macetnya riset pergulaan, pabrik-pabrik gula di Jawa yang ketinggalan
teknologi, tingginya tingkat konsumsi (termasuk untuk industri minuman ringan),
serta kurangnya investor untuk pembukaan lahan tebu di luar Jawa menjadi
penyebab sulitnya swasembada gula. Pada tahun 2002 dicanangkan target
Swasembada Gula 2007. Untuk mendukungnya dibentuk Dewan Gula Indonesia
pada tahun 2003 (berdasarkan Kepres RI no. 63/2003 tentang Dewan Gula
Indonesia). Target ini kemudian diundur terus-menerus. (Wikipedia, 2014).
Terdapat tiga faktor di dalam meningkatkan produksi gula, yaitu
produktivitas tebu, luas areal dan rendemen. Dua faktor terpenting adalah
meningkatkan rendemen dan produktivitas tebu per hektar areal dengan cara

menggunakan bibit unggul yang tepat dan teknik budidaya sesuai standar bakunya
(Gufron, 2011). Produktivitas tebu, luas areal dan rendemen akan sangat
mempengaruhi kondisi industri gula nasional agar tetap memiliki produktivitas
yang tinggi. Sektor pertanian mencirikan beberapa kekhasan seperti: melibatkan
banyak orang dengan kepemilikan sumber daya terbatas, relatif rendahnya tingkat
keterampilan dan pengetahuan, kurangnya dukungan social network khususnya
untuk memasuki era ekonomi modern saat ini. Jawa Timur memiliki 31 PG atau
menguasai 53,44 persen PG yang ada di Indonesia. PG tersebut tersebar di
berbagai wilayah diantaranya Ngawi, Lumajang, Madiun, Malang, Jombang,
Pasuruan, Jember, Bondowoso, dan Situbondo. Jawa timur merupakan sentra
utama penghasil gula Indonesia. Hal ini didukung dengan adanya PG di Jawa
Timur sebanyak 31 pabrik.

2.3. Tinjauan Tentang Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula


Sebelum tebu dikirim ke pabrik, didahului dengan tahap panen dan
pengangkutan yang merupakan tahap penyediaan bahan. Setelah tebu tiba di
pabrik, dilakukan proses pengolahan tebu menjadi gula yang melalui beberapa
tahap yaitu, ekstraksi nira, penjernihan nira, penguapan, kristalisasi, pemisahan
kristal gula, dan diakhiri dengan proses pengeringan, pengemasan hingga
penyimpanan.
1. Panen dan Pengangkutan
Saat yang tepat untuk memanen atau menebang tebu adalah pada tingkat
kemasakan yang maksimal yaitu pada saat kadar sakarosa dalam batang tebu
berada pada titik puncaknya. Untuk mengetahui saat tebang yang tepat, kurang
lebih 2 bulan sebelum masa giling dilakukan analisis pendahuluan. Dari hasil
analisis tersebut dapat diketahui apakah tanaman tebu dalam satu areal tertentu
sudah saatnya utuk ditebang. Batang tebu hasil tebangan kemudian diangkut ke
pabrik dengan menggunkana lori, cikar atau truk.
Dalam tahap panen dan pengangkutan yang perlu diusahakan adalah
menghindari terjadinya berbagai kerusakan yang dapat menurunkan rendemen.
Tebu yang sudah ditebang sesegera mungkin untuk digilimg. Jarak waktu antara
penebangna hingga penggilingan hendaknya tidak lebih dari 24 jam. Salah satu

akibat dari waktu penundaan yang terlalu lama antara tebang dan giling adalah
terbentuknya senyawa dextran dari sukrosa oleh adanya aktivitas bakteri
Leunostoc mesenteroides dan Leunostoc dextranicum. Pada tebu yang dipotongpotong, bila tidak segera digiling, mempunyai peluang lebih besar terkontaminasi
oleh jasad renik tersebut.
Batang tebu setelah ditebang harus dibersihkan dari berbagai kotoran seperti
pucuk tebu, daun-daun tebu, tanah dan sebagainya sehingga yang terikut ke
penggilingan sesedikit mungkin.
2. Ekstraksi Nira
Nira diperah dari batang tebu menggunakan gilingan. Pada pabrik gula, alat
penggiling tebu berupa satu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja
pendahuluan dan gilingan dari logam. Alat pengerja pedahuluan berfungsi untuk
memotong dan mencacah tebu, sedangkan gilingan tebu berfungsi untuk memerah
cairan tebu setelah batang tebu mengalami pencacahan. Pada umumnya digunakn
4-5 rakit gilingan tebu dimana setiap satu rakit tersusun atas 3 buah silinder
penggilingan.
Untuk merendahkan kadar sukrosa pada sisa nira dalam ampas tebu dilakukan
pembilasan dan pengenceran yang dikenal sebagai imbibisi. Ampas tebu dari
gilingan pertama pada saat berada di carrier disiram dengan air perasan dari
gilingan ketiga dan ampas yang keluar dari gilingan kedua disiram dengan air
perasan dari gilingan keempat.
3. Penjernihan Nira
Penjernihan nira dilakukan untuk memisahkan sebanyak mungkin kotoran
dalam nira dengan tanpa merusak gula. Proses penjernihan yang umum dilakukan
di Indonesia ada 3 jenis yaitu defekasi, sulfitasi, dan karbonotasi. Cara defekasi
merupakan proses pemurnian yang paling sederhana, sebagai bahan pembersih
utamanya adalah kapur. Pada cara sulfitasi, bahan yang digunakan berupa kapur
tohor dan gas sulfit. Pada cara karbonitasi, bahan pembersih yang digunakan
adalah kapur dan gas CO2. Dari ketiga macam jenis proses penjernihan tersebut,
yang paling banyak digunakan adalah proses sulfitasi. Meskipun kualitas dan
rendemen yang diperoleh lebih rendah dibanding proses karbonitasi, namun

biayanya lebih murah dan gula yang dihasilkan sudah dapat diterima oleh
konsumen sebagai gula putih.
4. Penguapan
Nira tebu yang telah mengalami pembersihan masih banyak mengandung air.
Untuk menghilangkan sebagian besar air dalam nira dilakukan dengan cara
penguapan (evaporasi).
Pada pabrik gula, penguapan dilakukan dengan mengggunakan evaporator.
Untuk mengefisienkan proses, maka evaporasi tidak dilakukan sekaligus dalam
satu evaporator melainkan dalam beberapa evaporator yang biasanya terdiri dari
4-5 bejana yang dirakit berurutan dan bekerja sinambung. Uap yang dihasilkan
dari satu bejana digunakan sebagai uap pemanas bejana berikutnya.
5. Kristalisasi
Pada tahap kristalisasi, nira pekat hasil tahap evaporasi dipanaskan terus
dalam suatu pan vakum hingga mecapai kondisi lewat jenuh. Dalam keadaan
tersebut sebagian sukrosa yang semula larut akan memisahkan diri membentuk
kristal.

Kristalisasi dilakukan secara bertahap agar tidak menyulitkan proses

pengaliran kerak karena pemanasan yang terlalu lama. Hasil masakan dari tiap
pan disebut masekuit yaitu larutanyang sangat pekat dan banyak mengandung
kristal gula.

Masekuit kemudian didinginkan dalam palung pendingin yang

berada di bawah tiap pan.

Selama pendinginan dilakukan pengadukan agar

molekul sakarosa yang larut dapat menempel pada bidang pemrmukaan kristal
yang telah ada.
6. Pemisahan Kristal Gula
Masekuit dari palung pendingin, masih brupa larutan dengan banyak kristal
sukrosa di dalamnya. Untuk memisahkan kristal tersebut, dilakukan dengan suatu
saringan yang bekerja dengan gaya sentrifugal yang sering disebut dengan nama
puteran. Hasil dari proses ini berupa kristal gula dan tetes.
7. Pengeringan, pengemasan dan penyimpanan
Kristal gula hasil sentrifugasi, kadar airnya masih cukup tinggi yaitu sekitar
20%. Gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu agar tidak rusak selama
dalam penyimpanan.

Pada umumnya alat pengering yang digunakan di pabrik gula bekerja atas
dasar prinsip aliran berlawanan, yaitu aliran bahan yang dikeringkan berlawanan
dengan aliran udara pengering.

Setelah mengalami pengeringan, dilakukan

pemisahan fraksi-fraksi gula berdasarkan ukurannya dengan menggunkan


saringan goyang. Gula yang terlalu halus atau menggumpal dilebur kembali.
Bahan pengemas gula yang digunakan ada tiga jenis yaitu karung goni ukuran
100 kg, karung goni dengan lapisan pembungkus plastik ukuran 100 kg, dan
karung plastik dengan lapisan pembungkus plastik ukuran 50 kg.

Bahan

pengemas yang banyak digunkan adalah karung goni tanpa lapisan plastik. Jenis
pengemas ini kurang menjamin kualitas gula selama dalam penyimpanan dan
sering meninggalkan kotoran berupa serat-serat goni pada gula dalam kemasan.
Pengemas karung plastik lebih menjamin kualitas dan kebersihan gula, harganya
lebih murah daripada karung goni. Namun, kelemahan bahan pengemas ini tidak
dapat ditumpuk setinggi mungkin sebagaimana bila digunakan pengemas karung
goni. Hal ini berarti pemanfaatan ruangan gudang menjadi tidak optimal.
Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas gula, kondisi gudang
penyimpan harus memenuhi persyaratn tertentu baik dari segi konstruksi maupun
letaknya untuk menjamin gula tetap kering yaitu berkadar air sekitar 10-15%.
Penumpukan gula dibuat serapat mungkin agar udara di antara karung sesedikit
mungkin (Mubyarto,1991).

2.4.Fungsi Manajemen
Menurut Tisnawati dan Saefullah (2005) mengemukakan fungsi dari
manajemen terdiri dari 4 fungsi, yaitu:
1. Perencanaan atau Planning, proses yang menyangkut upaya yang dilakukan
untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan
strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.
2. Pengorganisasian atau Organizing, proses yang menyangkut bagaimana
strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam
sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan
organisasi yang kondusif dan bisa memastikan bahwa semua pihak dalam

organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan
organisasi.
3. Pengimplementasian atau Directing, proses implementasi program agar bisa
dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar
semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh
kasadaran dan produktivitas yang tinggi.
4. Pengendalian dan Pengawasan atau Controlling, proses yang dilakukan untuk
memastikan

seluruh

rangkaian

kegiatan

yang

telah

direncanakan,

diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan sesuai dengan target


yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia
bisnis yang dihadapi.

2.5.Manajemen Produksi
2.4.1. Pengertian Manajemen Produksi
Produksi adalah upaya atau kegiatan untuk menambah nilai pada suatu
barang. Arah kegiatan ditujukan kepada upaya-upaya pengaturan yang sifatnya
dapat menambah atau menciptakan kegunaan (utility) dari suatu barang atau
mungkin jasa. untuk melaksanakan kegiatan produksi tersebut tentu saja perlu
dibuat suatu perencanaan yang menyangkut apa yang akan diproduksi, berapa
anggarannya dan bagaimana pengendalian / pengawasannya.
Manajemen produksi adalah proses manajemen yang bertanggung jawab
terhadap perencanaan (aktifitas) produksi, distribusi atau manajemen proyek yang
dijalankan oleh sebuah organisasi. Manajemen produksi merupakan kegiatan
untuk

mengadakan

perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan,

pengkoordinasian, untuk mengelola secara optimal, faktor- faktor produksi atau


sumber daya manusia, mesin dan bahan baku yang tersedia.
2.4.2. Fungsi Manajemen Produksi
2.4.2.1.Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi (Production Planning) adalah salah satu dari
berbagai macam bentuk perencanaan yaitu suatu kegiatan pendahuluan atas proses
produksi yang akan dilaksanakan dalam usaha untuk mencapai tujuan yang
diinginkan perusahaan. Perencanaan produksi juga dapat diartikan sebagai

10

perencanaan tentang jenis dan jumlah produk yang akan diproduksi oleh
perusahaan yang bersangkutan dalam satu periode yang akan datang. Perencanaan
produksi juga merupakan kegiatan untuk merencanakan penentuan kualitas dan
kuantitas barang yang akan diproduksi, merancang sistem transformasi,
menjadwalkan berbagai aktivitas, serta menetapkan berbagai ukuran dan kriteria
yang sangat diperlukan untuk kepentingan produksi.
Berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dipengaruhi oleh tepat atau
tidaknya proses perencanaan. Perencanaan produksi merupakan bagian dari
perencanaan operasional di dalam perusahaan. Perencanaan produksi lebih banyak
membicarakan tentang jumlah dan jenis produk yang segera akan diproduksikan
pada suatu periode yang akan datang, dan dalam jangka waktu yang pendek
(Ahyari, 1998). Menurut Nasution (1999), perencanaan produksi adalah proses
untuk merencanakan aliran materil yang masuk, mengalir dan keluar dari sistem
produksi/ operasi sehingga permintaan pasar dapat dipenuhi dengan jumlah tepat,
dan biaya produksi minimum. Menurut Assauri (1998), menjelaskan bahwa
perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya
mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal
yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di
masa depan sesuai dengan yang diperkirakan.
2.4.2.2.Pengorganisasian Produksi
Mencakup kegiatan untuk merancang struktur organisasi produksi,
menyiapkan dan menetapkan kriteria bagi staff yang menjabat dalam struktur
organisasi, mendelegasikan wewenang serta menetapkan pola agar tercipta
keserasian kerja antar subsistem. Fungsi pengorganisasian adalah suatu kegiatan
pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki
perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai
tujuan perusahaan.
2.4.2.3.Pergerakan / Pengarahan Produksi
Mencakup usaha untuk memotivasi, memberi perintah, mengarahkan
kegiatan produksi, mengoordinasikan tiap bagian, dan mengoptimalkan berbagai
sistem transformasi. Pergerakan juga disebut sebagai pelaksanaan. Fungsi dari
pelaksanaan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan

11

efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja
yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
Elemen pergerakan / Pengarahan adalah sebagai berikut:
1) Coordinating
Koordinasi adalah fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang manajer agar
terdapat suatu komunikasi atau kesesuaian dari berbagai kepentingan dan
perbedaan kepentingan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
2) Motivating
Memberi motivasi kepada karyawan merupakan salah satu elemen penting
dalam manajemen perusahaan, dengan memberikan fasilitas yang bagus dan
gaji yang cukup maka kerja para karyawan dalam perusahaan pun akan
optimal.
3) Communication
Komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat diperlukan untuk
mencapai tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka
akan menimbulkan suasana kerja yang kondusif di perusahaan dan akan
menumbuhkan teamwork atau kerjasama yang baik dalam berbagai kegiatan
perusahaan.
4) Commanding
Dalam memberi perintah pun seorang atasan tidak bisa seenaknya, tetapi harus
memperhitungkan langkah-langkah dan resiko dari setiap langkah yang para
atasan itu ambil karena setiap keputusan dan langkah akan memberi pengaruh
bagi perusahaan.
Fungsi pergerakan ada 4 jenis, diantaranya:
1. Koordinasi kegiatan, untuk setiap kegiatan yang akan diterapkan sesuai
rencana, manajemen harus memastikan bahwa semua kegiatan sebelumnya
telah dilaksanakan tepat pada waktunya.
2. Penempatan orang dalam jumlah, waktu dan tempat yang tepat meliputi
mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengawasi.
3. Mobilisasi dan alokasi sumber daya fisik dan dana yang diperlukan.

12

4. Keputusan yang berkenaan dengan informasi yang diperlukan berkaitan


dengan pembuatan keputusan secara umum dan khusus dengan koordinasi
kegiatan, manajemen tenaga kerja dan sumber daya selama penerapan.
2.4.2.4.Pengendalian / Pengawasan Produksi
Pengendalian produksi adalah melakukan tindakan korektif terhadap
pelaksanaan kegiatan produksi. Pengawasan selalu dihubungkan dengan
perencanaan. Pengawasan berusaha untuk memberikan jaminan agar pelaksanaan
rencana sesuai dengan apa yang ditentukan oleh rencana.
Ruang lingkup pengawasan menurut Sofyan Assauri (1978) meliputi:
1. Pengawasan terhadap persediaan produksi
Dalam hal ini yang diperlukan adalah bagaimana cara mengalokasikan
kapasitas persediaan dalam produksi sesuai dengan permintaan dan penentuan
kebijakan pengaturan persediaan yang harus dibuat. Jadwal yang fleksibel harus
dibuat dan beban kerja pada tenaga kerja dan mesin, alat produksi, pembelian
bahan baku, dan kegiatan inspeksi terhadap bahan-bahan juga perlu untuk
dilakukan.
2. Pemeliharaan dan rehibilitasi daripada sistem
Pemeliharaan mesin dan peralatan perlu dilakukan supaya tidak sering
terjadi kerusakan/ kemacetan dalam berproduksi. Perawatan ini perlu dilakukan
terutama pada saat sebelum waktu kegiatan dimulai.
3. Pengawasan mutu
Dalam perencanaan produksi, perlu adanya pengawasan mutu dari bahan
baku maupun mutu produk. Jika bahan baku kurang baik, maka akan berakibat
pada mutu produk yang ikut menurun.
4. Pengawasan buruh
Dalam perencanaan produksi, penaksiran komponen buruh adalah penting,
sehingga dapat diukur tingkat daya kerja dari buruh. Hal ini dapat menentukan
biaya upah yang akan diterima oleh buruh tersebut.
5. Pengawasan
Pengawasan ini berperan dalam pembuatan keputusan-keputusan yang
menyangkut keseimbangan antara buruh, bahan baku, dan biaya produksi.

13

III. METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja


Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama tiga bulan (Juli sampai dengan
30 September 2014). Kegiatan kerja lapangan dilaksanakan di PG. Kedawung
yang berlokasi di Jalan Raya Kedawung, Grati, Kabupaten Pasuruan.

3.2 Prosedur Pelaksanaan Magang Kerja


3.2.1. Magang Kerja Sesuai dengan Aktivitas yang ada di Perusahaan
Mahasiswa melakukan Magang Kerja dengan efektif kerja selama tiga bulan
yaitu bulan Juli sampai September 2014 di bawah bimbingan pembimbing
pendamping dari tempat Magang Kerja. Mahasiswa mendapatkan supervisi dosen
pembimbing utama untuk mendapatkan evaluasi kinerja proses dan hasil Magang
Kerja. Selama berada di tempat Magang Kerja pada waktu yang bersamaan
melakukan analisis informasi (termasuk data) dan selanjutnya melakukan
penyusunan draft laporan Magang Kerja. Satu minggu sebelum berakhirnya
Magang Kerja, Mahasiswa menjalani evaluasi keberhasilan Magang Kerja oleh
pembimbing tempat Magang Kerja dan mendapatkan pengesahan laporan Magang
Kerja. Uraian prosedur pelaksanaan Magang Kerja terdapat pada lampiran 1.
3.2.2. Diskusi dan wawancara dengan staf perusahaan
Diskusi dan wawancara dilakukan dengan staf perusahaan yang mana
mahasiswa menggali informasi yang sangat berguna dan bermanfaat. Informasi
tersebut dapat digunakan untuk melengkapi dan mendapat data primer yang
berhubungan dengan topik magang kerja yang diambil oleh mahasiswa.
3.2.3. Pengumpulan data sekunder
Selain data primer, ada pula data sekunder yang dimiliki oleh perusahaan,
data tersebut diperoleh secara langsung dari pustaka, dan lembaga atau instansi
terkait yang berhubungan dengan penelitian ini. Data ini bertujuan untuk
mengetahui kondisi umum lokasi penelitian.

14

IV. TINJAUAN UMUM TEMPAT MAGANG KERJA

4.1 Profil Lokasi Magang


4.1.1 Profil Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero)
Status Perusahaan : Perseroan Terbatas
Alamat

: Jalan Merak No. 1 Surabaya

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan


Visi Perusahaan PTPN XI (Persero):
Menjadi perusahaan Agribisnis berbasis tebu yang tangguh, tumbuh, dan
terkemuka.
Penjelasan:
1. Agribisnis berbasis tebu mencakup usaha yang menghasilkan produk yang
berasal dari bahan baku tebu. Produk yang berasal dari bahan tebu
misalnya gula kristal, alkohol, biofuel, biokompos, yeast (ragi), sirup/gula
cair

(palatinusa),

L-LYSINE,

ekstrak

ampas, cogeneration

(energi), particle board, kampas rem, kalium vinase, dan kertas.


2. Tangguh menunjukkan kekuatan perusahaan yang tahan dalam menghadapi
segala

gejolak

perubahan

dan

mampu

menyesuaikan

diri

(adaptif) terhadap tuntutan dan tantangan perubahan lingkungan serta


mampu memenangkan persaingan.
3. Tumbuh menunjukkan keadaan perusahaan yang mampu meningkatkan
nilai tambah dan kontribusi bagi stakekeholder dari waktu ke waktu,
bertambah besar sekala ekonomi (skala usaha) dan profitabilitasnya secara
berkelanjutan.
4. Terkemuka menunjukkan keadaan bahwa perusahaan telah unggul dalam
industri

sejenis,

baik

dalam

harga

pokok

produksi,

kualitas

produk, efisiensi penggunaan sumber daya, dan pelayanan; mampu


bersaing dengan perusahaan sejenis; menjadi contoh (role model); serta
mampu mencitrakan sebagai perusahaan agribisnis usaha tebu berkelas
dunia.

15

Misi Perusahaan PTPN XI (Persero):


Mengelola usaha agribisnis berbasis tebu untuk memberikan kontribusi bagi
peningkatan kesejahteraan dan kemajuan stakeholder melalui pemanfaatan
sumber daya secara efisien dan lestari.
Penjelasan:
1. Usaha utama yang dikelola oleh PTPN XI (Persero) adalah agribisnis
berbasis tebu. Saat ini PTPN XI (Persero) telah menghasilkan kristal gula,
tetes, alkohol, spiritus, dan biokompos. Disamping itu PTPN XI (Persero)
juga menghasilkan produk non tebu seperti karung plastik dan jasa rumah
sakit. Produk-produk yang lain yang berasal dari bahan tebu merupakan
peluang untuk dikembangkan di masa depan.
2. Maksud utama dari pendirian PTPN XI (Persero) adalah untuk memberikan
kontribusi

bagi

kesejahteraan

dan

kemajuan

stakeholder.

Aspek

kesejahteraan mencakup baik kesejahteraan lahir maupun batin, sedangkan


aspek

kemajuan

mencakup

pengetahuan,

budaya,

dan

peradaban. Stakeholder PTPN XI (Persero) meliputi pemilik perusahaan


(negara), karyawan, petani, pelanggan, pemerintah daerah, masyarakat
sekitar, dan lain-lain.
3. Sumber daya perusahaan meliputi sumber daya alam, manusia, mesin,
metode, material, modal, waktu, informasi, dan lain-lain. PTPN XI
(Persero) berkomitmen untuk mengelola setiap satuan sumber daya
perusahaan secara efisien

agar menghasilkan produk-produk yang

memberikan nilai tambah optimal bagi stakeholder.


4. Agribisnis merupakan usaha yang berbasis sumber daya alam dan sangat
dipengaruhi oleh iklim. Kelestarian alam dan lingkungan merupakan syarat
bagi keberlangsungan usaha agribisnis, demikian juga bagi kesejahteran
dan kemajuan generasi berikutnya. Oleh karena itu PTPN XI (Persero)
dalam menjalankan usaha berkomitmen untuk senantiasa menjaga,
memelihara, dan mewujudkan kelestarian alam dan lingkungan.
Visi Unit Usaha Kedawung:
Menjadikan PTPN XI sebagai perusahaan Perkebunan yang mampu
meningkatkan kesejahteraan Stake holder secara berkesinambungan.

16

Misi Unit Usaha Kedawung:


Menyelenggarakan usaha agribisnis, utamanya yang berbasis tebu melalui
pemanfaatan sumber daya secara optimal dengan memperhatikan
kelestarian lingkungan.
Budaya Perusahaan :
1. Sukses merupakan hasil kerja sama yang didukung prakarsa perorangan
2. Senantiasa berorientasi pada pertumbuhan dengan menciptakan dan
memanfaatkan peluang
3. Mutu melandasi setiap perilaku
4.1.3 Sejarah Perusahaan
PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) atau PTPN XI adalah badan usaha
milik negara (BUMN) agribisnis perkebunan dengan core business gula.
Perusahaan ini bahkan satu-satunya BUMN yang mengusahakan komoditas
tunggal, yakni gula, dengan kontribusi sekitar16-18% terhadap produksi nasional.
Sebagian besar bahan baku berasal dari tebu rakyat yang diusahakan para petani
sekitar melalui kemitraan dengan pabrik gula (PG).
Pendirian perusahaan sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.
16 Tahun 1996 tanggal 14 Pebruari 1996 dan merupakan gabungan antara PT
Perkebunan XX (Persero) dan PT Perkebunan XXIV-XXV (Persero) yang
masing-masing didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 6 Tahun 1972 dan No. 15 Tahun 1975. Anggaran Dasar Perusahaan Perseroan
yang dibuat berdasarkan Akte Notaris Harun Kamil SH, No. 44 tanggal 11 Maret
1996, telah dilakukan perubahan dan mendapat persetujuan sesuai Keputusan
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-21048
HT.01.04.Th.2002 tanggal 29 Oktober 2002.
Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar tersebut sesuai dengan format isian
Akta Notaris Model II yang tersimpan dalam database Salinan Akta Nomor 02
tanggal 02 Oktober 2002, yang dibuat oleh Notaris Sri Rahayu Hadi Prasetyo SH,
berkedudukan di Tangerang.
Walaupun demikian, secara umum sebagian besar unit usaha di lingkungan
PTPN XI telah beroperasi sejak masa kolonial berkuasa di Hindia Belanda.
Kantor Pusat PTPN XI sendiri merupakan peninggalan HVA yang dibangun pada

17

tahun 1924 dan merupakan lambang konglomerasi industri gula saat itu. Bentuk
perusahaan berulang kali mengalami perubahan dan restrukturisasi terakhir terjadi
pada tahun 1996 bersamaan dengan penggabungan 14 PTP menjadi 14 PTPN.
4.1.4 Sejarah Unit Usaha Kedawung
Unit Usaha Kedawung didirikan pada tanggal 6 November 1842 dengan
nama NV. Kedawung yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gerrit De
Wed Lebret, berlokasi di desa Kedawung Kulon, kecamatan Grati, Kabupaten
Pasuruan, Jawa Timur. Pada tahun 1942-1945 Unit Usaha Kedawung diambil alih
oleh Jepang, pada bulan Juni 1947 kembali dikuasai oleh Belanda. Pada tahun
1948 di Indonesia terjadi gejolak yang terkenal dengan nama Tri Kora dan sesuai
dengan Surat Perintah Militer No. 061/12/57 dan Undang-Undang Nasionalisme
Perusahaan untuk Perusahaan yang pernah dikuasai Belanda No.86/58 yang
disahkan pada tanggal 10 Desember 1957, maka Unit Usaha Kedawung ikut pula
di Nasionalisme.
Tahun 1961-1964 nama Unit Usaha Kedawung diubah menjadi Perusahaan
Perkebunan Negara Kesatuan Jawa Timur III PG Kedawung. Pada bulan juli 1964
sampai dengan Juni 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Gula
Negara Inspeksi Daerah VII. Pada bulan Juli 1968-1975 statusnya menjadi PTP
XXIV-XXV PG Kedawung. Tahun 1975 berubah lagi menjadi PTP XXIV-XXV
(Persero) PG. Kedawung. Tanggal 14 Februari 1996 sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 1972 dan No. 15 Tahun 1975 PTP
XXIV-XXV PG. Kedawung diubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI
(Persero) PG. Kedawung, kemudian pada tahun 2014 diubah lagi menjadi PT
Perkebunan Nusantara XI (Persero) Unit Usaha Kedawung dengan Kantor pusat
di Jalan Merak No. 1 Surabaya.
4.1.5 Lokasi Unit Usaha Kedawung
PG. Kedawung (PT. Perkebunan Nusantara XI Persero) berlokasi di Desa
Kedawung Kulon, Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Fasilitas yang
dimiliki oleh PG Kedawung Pasuruan adalah sebagai berikut :
a. Luas tanah perkebunan milik sendiri 332.242 m
b. Luas bangunan 388.122, 46 m (Bangunan industri, Perumahan dinas dan
Bangunan untuk sarana umum)

18

c. Luas tanah 237.035 m, untuk usaha 32.577 m


d. 1 unit Mobil Pemadam Kebakaran
e. Poliklinik Perusahaan
f. Lapangan Tenis
g. Lapangan Olahraga
4.1.6 Struktur Organisasi PTPN XI
PTPN XI mempunyai 3 Unit Kerja antara lain:
1. Kantor Pusat Terdiri dari :
1. Sekretaris Perusahaan, Teknologi Informasi (TI) dan Good Corporate
Governance (GCG)
2. Satuan Pengawasan Intern
3. Bidang Teknik
4. Bidang Pengolahan
5. Bidang Keuangan
6. Bidang Akuntansi
7. Bidang Sumber Daya Manusia
8. Bidang Umum
9. Bidang Penjualan dan Analisa Pasar
10. Bidang Pengadaan
11. Bidang Penelitian dan Pengembangan Usaha
12. Bidang Aset dan Hukum
13. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
14. Bidang Tanaman
2. Unit Usaha
1. Pabrik Gula
2. Spiritus dan Alkohol
3. Distrik
3. Anak Perusahaan
1. Rumah Sakit
2. Pabrik Karung

19

4.1.7 Struktur Organisasi PG Kedawung


General Manager
Ir. Achmad Barnas

Manajer Tanaman

Manajer Teknik

Manajer Pengolahan

Ir. Dwijono Isdijarto

Ruju Ridhani, ST.

Budi Hartono

Manajer Admin.
Keuangan dan Umum
Dra. Ainy Arga Astoeti

Asisten Manajer
Tanaman TS

Asisten Manajer
Teknik

Asisten Manajer
Pengolahan

Ninit Hartatik Kartika, SP.

Aris Mutohar, ST.

Winarsono

Asisten Manajer
Admin. Keuangan dan Umum
Rochmad Purwanto, SSos

Asisten Manajer
Tanaman TR
Ir. Mochamad Sunarto
Asisten Manajer
Operasional Alsintan
Daniel Fransisco W, SP.

20

4.1.8 Unit dan Program Kerja


Dalam Unit Usaha Kedawung terdapat 4 bagian yang saling memiliki
keterkaitan. Bagian-bagian tersebut terdiri dari Bagian Adminstrasi Keuangan dan
Umum, Bagian Tanaman, Bagian Teknik, dan Bagian Pengolahan.
1. Administrasi Keuangan, dan Umum (AKU)
Tugas bagian AKU:
1. Mengelola keuangan Unit Usaha sesuai kebutuhan
2. Penyusunan RKAP

(Rencana Kebutuhan

Anggaran Perusahaan)

dan

permintaan modal kerja


3. Mengelola Gudang, baik gudang gula, material maupun tetes
4. Pengadaan Barang dan Jasa untuk keperluan pabrik dan lingkunga pabrik
5. Mengatur kebutuhan karyawan dan mengevaluasi semua kenerja karyawan
2. Tanaman
Tugas utama bagian tanaman adalah untuk menyediakan bahan baku
sampai kemeja tebu, adapun kegiatan bagian tanaman antara lain: pembukaan
lahan, pembibitan dan tanam, pemeliharaan, tebang dan angkutan tebu.
Terdapat bagian LITBANG (Penelitian dan Pengembangan) yang mana
memiliki beberapa tugas antara lain:
1. Melakukn analisa pendahuluan pada tebu yang akan digiling
2. Melakukan pengukuran lahan sebelum masa tanam
3. Melakukan analisa rendemen individu
4. Melakukan perhitungan awal giling
5. Melakukan pengawasan pada proses pembibitan
3. Teknik
Dalam masa giling bertanggung jawabpada proses giling/diffuser, serta
bertanggung jawab bila ada kerusakan alat saat masa giling. Sedangkan saat luar
masa giling bertugas melakukan maintenance seluruh peralatan pabrik.
4. Pengolahan
Tugas Bagian Pengolahan adalah mengolah tebu yang diserahkan oleh
bagian tanaman untuk dijadikan gula kristal putih, dengan menekan kehilangan
dalam proses seminimal mungkin.

21

4.1.9 Keterkaitan Antar Bagian


Dalam melaksanakan tugasnya setiap bagian akan berhubungan dengan
bagian lainnya, berikut ini adalah keterkaitan antar setiap bagian dalam UU
Kedawung.
1. Bagian A.K.U dengan bagian lainnya

Bagian A.K.U secara umum memiliki keterkaitan dengan bagian lainnya


dalam hal pendanaan atau keuangan, pengadaan barang, dan pengeolalaan
SDM.

Bagian A.K.U berkoordinasi dengan pengolahan tentang penyimpanan


gula produksi di gudang gula.

2. Bagian Tanaman dengan Teknik (Instalasi)


Bagian tanaman dan teknik memiliki kerjasama dalam hal tenaga traktor dan
lori.
3. Bagian Tanaman dengan Litbang
Berkoordinasi dalam hal pengukuran lahan dan analisa tanah.
4. Bagian Tanaman dengan Pengolahan
Berkoordinasi dalam penyediaan bahan baku terkait kapasitas pabrik.
5. Bagian Tanaman, Litbang, Pengolahan
Berkoordinasi tentang hasil dari analisa pendahuluan dan analisa rendemen
individu.
6. Bagian Teknik dan Pengolahan
Berkoordinasi tentang kesiapan pabrik saat luar masa giling dan saling
bekerjasama dalam masa giling, dimana bagian teknik sebagai penyedia
utilitas dalam proses pabrik.
4.1.10 Kegiatan Operasional
Dalam kegiatan Operasionalnya PG. Kedawung dipimpin oleh seorang
General Manager yang bertanggung jawab kepada Direksi. Dalam pelaksanaan
tugasnya General Manager dibantu oleh empat Manager, yaitu :
1. Manager Administrasi Keuangan dan Umum
Bertanggung jawab kepada General Manager dalam bidang Administrasi,
Keuangan dan Umum serta memberi laporan kepada Kepala Bagian yang
sesuai di Tingkat Direksi.

22

2. Manager Tanaman
Bertanggung jawab kepada Administrasi General Manager tentang Tanaman
Tebu dan Wajib memberikan laporan kepada Kepala Bagian Tanaman di
tingkat Direksi.
3. Manager Teknik
Bertanggung jawab kepada Administrasi General Manager tentang keadaan
Instalasi Pabrik dan Seluruh mesin serta wajib memberikan laporan kepada
Kepala Bagian yang sesuai di tingkat Direksi.
4. Manager Pengolahan
Bertanggung jawab kepada General Manager tentang proses pengolahan dan
wajib memberikan laporan kepada Kepala Bagian Teknologi di tingkat Direksi.

4.2 Hasil Magang Kerja


Produksi di Pabrik Gula Kedawung menghasilkan gula produk SHS dengan
hasil samping ampas dan blotong. Adapun hasil magang kerja meliputi antara lain
bahan baku, proses produksi, hasil gula, dan pengendalian produksi.
4.2.1. Kegiatan Selama Magang Kerja
Pelaksanaan kegiatan magang kerja di PG Kedawung Pasuruan dilakukan
secara berkelompok dengan anggota sebanyak lima orang mahasiswa. Magang
kerja dimulai pada tanggal 1 Juli sampai dengan 30 September 2014. Jam kerja
perusahaan dimulai dari jam 06.30 (Apel pagi) sampai dengan jam 15.00 WIB.
Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Perkenalan
Perkenalan dilakukan pada minggu-minggu awal selama magang kerja.
Pengenalan meliputi bagian-bagian dalam struktur organisasi PG Kedawung
yaitu bagian Administrasi, Keuangan dan Umum, bagian Tanaman, bagian
Pabrikasi, dan bagian Instalasi. Pengenalan awal dilakukan dengan briefing
membicarakan mengenai topik yang diambil oleh masing-masing mahasiswa.
Tujuan dilakukannya perkenalan adalah untuk mempermudah mahasiswa
dalam pelaksanaan kegiatan magang kerja selama di PG Kedawung.

23

2. Praktek Kerja Lapang


Magang kerja sesuai dengan kegiatan yang dilakukan di PG Kedawung.
Kegiatan yang dilakukan antara lain membantu pekerjaan para karyawan PG
Kedawung di dalam kantor.
3. Kunjungan Lapang
Kunjungan lapang dilakukan agar mengetahui secara langsung keadaan
lapang. Tempat yang dikunjungi adalah kebun pembibitan tebu.
4. Melihat Proses Produksi
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui proses pengolahan tebu menjadi
gula. Proses dimulai dari stasiun pemerahan nira, stasiun pemurnian, stasiun
penguapan,

stasiun

kristalisasi,

stasiun

pemutaran,

sampai

stasiun

penyelesaian.
5. Melihat Analisa di Laboratorium
Analisa yang dilihat adalah Analisa Rendemen Individu, Analisa Brix,
Analisa POL, Analisa POL ampas dan blotong, Analisa kadar Phospat,
Analisa kadar kapur, Analisa Turbidity, Analisa Indeks Warna, dan Analisa
Masakan.
6. Wawancara
Wawancara

dimaksudkan

untuk

data

menggali

informasi

yang

berhubungan dengan topik yang diambil. Wawancara dilakukan dengan


karyawan, staff, asisten manajer, dan juga manajer.
4.2.2. Bahan Baku
Dalam proses produksi gula, fungsi pabrik gula hanya mengolah gula yang
terkandung di dalam batang tebu, bukan membuat gula. Bahan baku yang
digunakan oleh Pabrik Gula Kedawung dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
bahan baku utama dan bahan baku penunjang.
4.2.2.1 Bahan Baku Utama
PG Kedawung menggunakan tebu (Saccharum offisinarum) sebanyak 2400
TCD sebagai bahan baku utama yang diperoleh dari petani dengan mengontrak
petani pada awal masa tanam yang kemudian berakhir dengan sistem bagi hasil
produk. Yang dimaksud dengan sistem bagi hasil produk yaitu dari gula yang

24

telah diproduksi, 66% gula tersebut menjadi milik petani dan 34% milik pihak
pabrik yang dipasarkan secara lelang oleh PTPN XI.
Bahan baku tebu Pabrik Gula Kedawung diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
dari TS (Tebu Sendiri) dan TR (Tebu Rakyat).
TS (Tebu Sendiri)
Tebu sendiri merupakan tebu yang dibudidayakan sendiri oleh pihak PG
Kedawung sebagai bahan baku produksi gula. Bagian tanaman menyediakan
bahan baku dengan budidaya tebu.
TR (Tebu Rakyat)
Tebu Rakyat merupakan tebu dari petani yang bermitra dengan PG
Kedawung untuk pemenuhan kapasitas produksi. Bagian tanaman mengawal
petani untuk teknis budidaya (pembinaan).
Tebu yang akan diolah harus mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi
untuk meningkatkan kualitas gula:
1) MBS (Matang, Bersih, Segar)
2) Trass (sogolan, pucukan, daduk, akar dan tanah) maksimal 5 %
3) Tebu terbakar juga dibatasi dan dibuatkan berita acara
4.2.2.2 Bahan Baku Penunjang
Dalam pengolahan produksi gula juga dibutuhan beberapa bahan baku
penunjang.

Bahan baku penunjang merupakan bahan-bahan yang digunakan

untuk meningkatkan mutu gula. Berikut merupakan bahan pembantu proses yaitu
terdiri dari sebagai berikut:
a. Susu Kapur (Ca(OH)2)
Hidroksida kapur dibutuhkan untuk menetralkan sifat asam yang
terkandung dalam nira tebu dari hasil pemerahan. Pembuatan hidroksida kapur
(Ca(OH)2) dibuat dengan mereaksikan kapur tohor (CaO) dengan air hingga
reaksi yang terjadi:
CaO + H2O (Ca(OH)2) + panas
Diharapkan butiran endapan (emulsi) hidroksida kapur ini selembut
butiran dalam emulsi susu. Karena inilah emulsi hidroksida kapur di pabrik
gula sering disebut susu kapur. Susu kapur inilah yang nantinya diberikan pada
nira dan akan membentuk susu kapur yang aktif atau disebut ion Ca2+. Ion ini

25

akan bereaksi untuk mengikat asam-asam serta kotoran yang terkandung dalam
nira, sehingga terjadi penetralan serta terbentuknya endapan yang mudah
dipisahkan dengan cara penapisan atau penyaringan.
b. Phospat
Phospat mempunyai peranan yang sangat penting di dalam pemurnian
nira. Dalam batang tebu sendiri sebenarnya mempunyai kadar phospat yang
beragam tergantung jenis tebu, tempat tumbuh, dan cara-cara perlakuan di
kebun. Apabila di dalam pabrik mempunyai nira tebu yang kadar phospatnya
cukup rendah, maka untuk dapat memperoleh hasil pemurnian yang cukup baik
dapat ditambahkan asam phospat yang dapat larut di dalam air. Oleh karena itu,
kandungan phospat dalam nira sangatlah penting untuk membentuk endapan
pokok. Bila phospat kurang akan mengakibatkan koloid yang mengendap
sedikit sehingga akan sedikit pula zat bukan gula yang dapat dihilangkan.
c. Gas Sulfit (SO2)
Gas

sulfit merupakan bahan pembantu pemurnian pada pabrik gula

sulfitasi yang sangat penting. Gas sulfit membantu terbentuknya endapan


tambahan dan juga sebagai bahan pemucat, sehingga dapat mengurangi
intensitas warna kristal gula yang dihasilkan. Pembuatan gas SO2 dilakukan
dalam tobong belerang dengan proses pembakaran belerang padat sehingga
terjadi perubahan fase menjadi gas. Gas SO2 inilah yang digunakan dalam
sulfitasi dalam bejana sulfitir yang bertujuan untuk menetralkan kelebihan
pemberian susu kapur dan mendaatkan endapan CaSO2, dan SO2 diberikan
dengan cara pembakaran belerang padat (hembusan udara kering dan steam
setelah menyala untuk pelelehan).
d. Flokulan
Dalam proses pengendapan sangat dipengaruhi oleh kualitas endapan
yang dihasilkan dari stasiun pemurnian dan juga flokulan sebagai bahan
pembantunya. Di pabrik gula, flokulan menjadi sangat penting karena perannya
mengikat endapan yang sudah terbentuk dari proses defekasi dan sulfitasi
menjadi gumpalan yang mempunyai berat jenis yang memenuhi untuk
kecepatan pengendapan sehingga nira encer yang diperoleh memenuhi kualitas.

26

4.2.3. Kapasitas Produksi


Dalam Pabrik Gula, kapasitas produksi harus dapat memenuhi target
produksi gula sebanyak-banyaknya dengan tujuan biaya yang dikeluarkan dapat
diminimalkan sekecil mungkin. Adapun kapasitas tebu yang digiling di PG
Kedawung adalah:
- Kapasitas Eksklusif Stop (KES) sebesar 2400 TCD, yaitu jumlah tebu yang
mampu digiling oleh mesin diffuser dalam satuan ton per hari.
- Kapasitas Inklusif Stop (KIS), yaitu jumlah tebu tergiling dihitung bila ada
jam berhenti mesin. Jadi jumlah tebu tergiling tergantung aplikasi yang
dilaksanakan di lapang.
Bagian tanaman menentukan tambahan jumlah tebu tebangan yang akan
diolah setiap hari disesuaikan dengan sisa pagi, dengan begitu kapasitas 2400
TCD dapat terpenuhi.
4.2.4. Proses Produksi Gula
4.2.4.1 Emplasement Pabrik
Emplasement pabrik adalah sarana pabrik yang berfungsi sebagai tempat
penampungan dan pengaturan tebu sebelum digiling, serta menampung lori
kosong yang akan digunakan sebagai tempat sekaligus pengangkat tebu yang telah
ditimbang. Pabrik Gula Kedawung memiliki 2 emplasement, yaitu:
- Emplasement dalam pabrik untuk menampung tebu dari lori dan truk
- Emplasement luar pabrik yang terletak di stadion Unit Usaha Kedawung untuk
tebu dari truk
Sebelum proses produksi, tebu dari tebangan ditampung melalui
emplasement. Tujuan persiapan adalah mempersiapkan bahan baku tebu sebelum
digiling. Tujuannya supaya proses penggilingan dapat kontinue. Giliran tebu yang
akan digiling sesuai dengan metode FIFO (First in First Out) yang bertujuan agar
tebu yang akan digiling kondisinya tetap segar.
Hal yang harus dipenuhi pada emplasement pabrik yang baik :
a. Mempunyai luas yang mampu menampung tebu lebih dari 125 % kapasitas
giling (kapasitas ditambah faktor keamanan) agar kontinuitas giling terpenuhi.
b. Harus rindang, agar tebu yang ditampung terhindar dari sinar matahari agar
hidrolisa disakarida (sukrosa) menjadi monosakarida dapat ditekan.

27

c. Diusahakan dekat dengan penggilingan agar mempermudah pengangkutannya.


Kriteria sasaran emplasement adalah sebagai berikut:
a. Menekan kehilangan sukrosa dalam batang tebu di emplasemen baik karena
waktu tunda giling maupun karena sinar matahari
b. Sisa tebu pagi diatas truck dan lori maksimal 20 % KES (Kapasitas Eksklusif
Stop)
c. Waktu tunda giling sejak TMA sampai dengan digiling 36 jam
Hal-hal yang dapat menurunkan kadar gula yang terkandung dalam batang
tebu selama penampungan di emplasement pabrik
a. Tebu setelah ditebang akan berusaha untuk menumbuhkan tunas-tunasnya
sehingga harus segera di bawa ke pabrik untuk diolah.
b. Tebu yang terlalu lama di lapangan kemungkinan akan terjadi masuknya jasad
renik ke dalam batang melalui luka potongan. Jasad renik ini akan
menimbulkan keburukan lain yang menyebabkan bertambah sulitnya proses di
pabrik. Kesulitan akan terjadi akibat zat baru yang terbentuk yaitu dextran
yang dapat dapat meningkatkan viskositas dan kekeruhan pada nira.
Akibatnya, selanjutnya kehilangan gula dalam blotong dan tetes akan
meningkat.
Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut di atas, maka tebu yang sudah
ditebang atau yang berada dalam halaman pabrik untuk menanti giliran
penggilingannya, harus diusahakan agar waktunya sependek mungkin. Dari
emplasement pabrik, kemudian dilakukan penimbangan sebagai dasar perhitungan
dalam pengawasan proses.
Penimbangan tebu sangatlah penting dalam proses di pabrik gula sehingga
dalam pelaksanaan penimbangan tebu harus benar-benar diperhatikan.
a. Timbangan Lori
Sebelum masuk jembatan timbang, loco pengangkut lori diberhentikan
sebelum masuk jembatan timbang, nomor lori dicatat. Nomor lori yang sudah
tercatat kemudian diinput ke dalam komputer. Secara otomatis komputer akan
menampilkan berat bruto tebu. Dengan diketahuinya berat bruto ini akan
didapatkan berat netto tebu pada layar komputer.

28

b. Timbangan Truk
Penimbangan truk menggunakan dua macam alat timbang. Penimbangan
menggunakan jembatan timbang dan Digital crain scale.
Penyediaan tebu di halaman pabrik berasal dari kebun biasanya diangkut
dengan truk dan lori. Sesampai di halaman pabrik ditimbang dengan jembatan
timbang atau dengan Digital Crane Scale (DCS) diangkut ke emplasement
penampungan. Tebu dari lori yang sudah diketahui beratnya bisa langsung
ditampung di halaman pabrik namun untuk tebu dari tebu dari truk ditransloading
ke lori dahulu kemudian ditampung di halaman pabrik untuk menunggu giliran
penggilingannya. Untuk mencegah berhentinya giling maka penyediaan tebu
harus melebihi dari kapasitas giling.
4.2.4.2 Stasiun Pemerahan (Diffuser)
Stasiun Pemerahan (Diffuser) adalah tempat dimana tebu tersebut dilakukan
pengambilan nira dengan suatu proses pemerahan. Alat pemerahan disebut juga
Cane Diffuser. Cane Diffuser dikembangkan oleh industri mesin BMA Jerman
pada tahun 1960, dan dipasang pertama kali di Indonesia yaitu di Pabrik Gula
Kedawung pada tahun 1984 dengan kapasitas 2400 TCD. Teknologi ini
menggunakan sistem ekstraksi padat cair. Beberapa perbedaan mendasar bila
dibandingkan dengan cara pemerahan gilingan diantaranya adalah derajat
ekstraksinya lebih tinggi, penggunaan sumberdaya manusia relatif sedikit, dan
biaya perawatan lebih murah.
Tujuan dari proses pemerahan adalah untuk mengambil gula sebanyak
mungkin dengan proses pemerahan yang dibantu oleh air imbibisi. Air imbibisi
adalah air yang disemprotkan pada ampas dalam gerbong diffuser untuk
mengektraksi cacahan tebu dengan cara difusi. Imbibisi bertujuan untuk menekan
kehilangan gula sekecil mungkin.

Gambar. Alur Proses di Stasiun Pemerahan

29

a. Alat-alat dalam Stasiun Diffuser


1. Pengangkat tebu (Cane crane)
Cane crane adalah alat ntuk mengangkat tebu dari Lori/ Truck ke dalam
meja tebu. Alat in digerakkan oleh elektromotor.
2. Meja Tebu
Meja tebu merupakan papan persegi dengan ukuran panjang 5 m dan lebar 7
m. Fungsi dari alat ini adalah sebagai tempat penampung tebu yang akan
digiling.
3. Leveller
Leveller alat ini terdapat pada ujung meja tebu yang berfungsi sebagai
pemerata tebu yang akan masuk Cane Carrier.
4. Cane Carrier
Cane carrier adalah alat penghantar Tebu dari meja tebu ke cane cutter 1.
5. Conveyor
Conveyor adalah alat transportasi bahan baku dari proses satu ke proses
yang lain.
6. Cane Cutter (CK)
Cane Cutter (CK) adalah alat untuk memotong tebu dari meja tebu sebelum
ke CK2. Pada alat ini tebu dipotong dengan ukuran 2 cm.
7. Schreeder
Schreeder adalah alat berupa rotor hammer yang dilengkapi dengan unvil.
Alat ini berguna untuk mencacah tebu secara membujur hingga berbentuk
serabut atau serat untuk memudahkan proses pemerahan.
8. Gerbong Diffuser
Gerbong Diffuser adalah alat untuk mengektraksi cacahan tebu dengan cara
difusi.
9. Dewatering Drum
Dewatering Drum berfungsi untuk mengeluarkan Nira dari ampas tebu yang
masih mengandung gula. Dewatering drum meupakan alat pemerah pertama
sebelum Dewatering dan Drying mill.

30

10. Discharger
Discharger merupakan alat pengurai ampas keluar dari gerbong Diffuser.
11. Dewatering Mill dan Drying Mill
Dewatering mill merupakan alat penggilingan pertama yang menekan ampas
tebu yang masih mengandung nira. Sedangkan Drying Mill adalah alat
penggiling kedua berfungsi untuk mengeringkan ampas setelah dipecah pada
dewatering mill. Hasil perahan dari kedua alat tersebut ditampung di dalam
presswater tank selanjutnya ditarik pompa dan dikembalikan ke gerbong
diffuser sebagai air nira Imbibisi.
12. Prewater Tank
Prewater Tank digunakan sebagai tempat penampungan nira sementara dari
dewatering mill dan drying mill untuk diproses kembali pada gerbong
diffuser. Kapasitasnya sebesar 2 m dan mempunyai pompa tarik yang
berfungsi untuk mengirimkan nira imbibisi dari Press Water ke Tray Juice
dalam gerbong Diffuser untuk diproses kembali.
13. Tray Juice Diffuser
Tray Juice Diffuser merupakan ssebuah tandon nira yang berfungsi sebagai
tempat penampung nira dari hasil difusi.
14. Scalding Juice
Scalding Juice alat ini memiliki dua tangki penampung Nira dari Tray Juice
Diffuser yang kedua. Tangki tersebut menjadi satu unit yang terbagi menjadi
Tangki bagian luar dan Tangki bagian dalam.
15. DSM Screen
DSM Screen merupakan alat penyaringan tahap I yang memisahkan kotoran
ampas dalam Nira mentah dengan menggunakan saringan tipe DSM .
b. Proses yang Terjadi dalam Stasiun diffuser
Tebu setelah ditimbang diangkat oleh Cane crane dan diletakkan di meja
tebu. Lalu tebu diatur kerataannya oleh leveller dan masuk Cane carrier
menuju ke cane cutter I dan II untuk dipotong-potong dengan ukuran yang
sudah ditentukan. Untuk memecah sel-sel tebu agar air imbibisi lebih mudah
meresap dan proses pemerahan lebih cepat maka tebu dipukul-pukul dengan
Schreeder. Setelah itu tebu dijalankan ke gerbong Diffuser untuk diperah.

31

Proses pemerahan dilakukan melalui tray 12 menuju ke Tray sebelumnya


hingga Tray. Dalam gerbong Diffuser gas ditambahkan air imbibisi untuk
melarutkan Nira dalam ampas. Selain air imbibisi juga ditambahkan susu kapur
untuk menetralkan Nira yang bersifat asam. Dalam gerbong Diffuser terdapat
tray penyimpanan Nira yang dihasilkan berlawanan arah dengan ampas.
Pada gerbong Diffuser terjadi proses difusi yaitu proses perpindahan
partikel dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah yakni antara cacahan tebu
dengan air imbibisi. Proses tersebut dinamakan proes ekstraksi. Karena kadar
brix dari tray 12 ke tray 1 makin tinggi. Pada tray no. 2 dan 10 terdapat lifting
scew yang berfungsi mengatur atau membolak-balikan cacahan tebu supaya
penyiraman air imbibisi merata. Nira yang dihasilkan dipompa secara sirkulasi
dari tray akhir Tray awal sehingga cacahan Tebu akan tersiram oleh Nira
tersebut. Nira yang dihasilkan ditarik pompa ke dalam bak scalding juice dann
disaring di DSM screen dan menuju ke bak penampungan Nira mentah. Dari
tray awal gerbong Diffuser, Nira dipompa ke Scalding Juice bagian luar lalu
masuk ke Juice Heater dan akhirnya turun masuk kembali ke gerbong Diffuser.
Sedangkan ampasnya, masuk ke Dewatering mill lalu diangkut oleh Conveyor
menuju Drying mill. Hasil Perahan Nira dari kedua alat tersebut ditampung
pada Presswater tank kemudian dikembalikan lagi ke gerbong Diffuser no. 10
dan ampas yang telah dikeringkan dengan hembusan uap udara Drying mill
diangkut ke Stasiun Ketel sebagai bahan bakar.
4.2.4.3 Stasiun Pemurnian
Pemurnian merupakan pemisahan antara gula dengan zat bukan gula dalam
nira. Fungsi proses ini adalah memisahkan zat gula dengan zat bukan gula
sebanyak mungkin, dengan biaya rendah dalam waktu relatif singkat tanpa
merusak sukrosa dalam nira. Tujuan dari stasiun pemurnian adalah memisahkan
antara gula dengan zat bukan gula yang terkandung dalam Nira.
a. Alat-alat di stasiun Pemurnian
1. Timbangan Bolougne
Nira mentah dari Stasiun Diffusser ditimbang terlebih dahulu dalam
Timbangan Bolougne. Timbangan tersebut digunakan untuk mengetahui

32

berat Nira mentah yang akan diproses sebagai perhitungan neraca bahan
dalam rangka pengawasan proses pabrikasi.
2. Pemanas Pendahuluan I (PPI)
Nira mentah dari bak penampungan masuk PPI yang dibagi menjadi 6
bagian. Setiap bagian terdapat pipa-pipa-pipa kecil/ Lamp pape yang
berfungsi untuk keluar masuknya Nira. Pada PPI menggunakan suhu 75 C
tujuannya untuk membunuh bakteri dalam Nira (bakteri leokonostoc)
dengan cara pemanasan.
3. Defekator
Defekator berfungsi untuk mencampur Nira mentah dengan susu
kapur sehingga terjadi campuran yang homogen dan mempunyai pH 7,0
7,2 atau pH netral. Penambahan susu kapur dalam defekator I adalah
sebagai bahan pembantu proses karena nira mentah di PPI masih bersifat
keasaman yang yang akan mempengaruhi kadar Sakarosa maka untuk
menetralkan kondisi tersebut diperlukan suatu Zat yang bersifat basa. PG
Kedawung menggunakan Susu Kapur karena selain praktis, mudah didapat,
harganya juga murah.
4. Peti Sulfitir Nira Mentah (NM)
Pada peti Sulfitir NM dilakukan penambahan Gas Belerang agar
terjadi pembentukan endapan CaSO.
Pembuatan Gas Belerang:
Belerang padat dimasukkan dalam tobong belerang kemudian
dibakar. Suhu dipertahankan pada 360 C sebab jika suhu terlalu panas
naik menjadi 900 C akan dihasilkan Gas SO. Untuk menanggulangi
kemungkinan tersebut. Pada tobong belerang bagian atas dialiri dengan air
secara terus menerus sebagai pengendali suhu pembakaran.
5. Pemanas Pendahuluan II (PPII)
Alat ini berfungsi untuk menyempurnakan pengendapan sebelum ke
Dorr clarifier. Adapun suhu yang dipakai 105 C. Semakin tinggi suhu
maka kelarutan CaSO semakin rendah.

33

6. Bejana Pengembang
Dari PPII Nira Mentah dipompa menuju bejana pengembang
(Expandeur) untuk kemudian dimasukkan ke dorr clarifier. Adapun fungsi
dari bejana pengembang adalah untuk mengeluarkan gas-gas yang
terkandung dalam Nira agar tidak mengganggu proses pengedapan. Prinsip
keerja alat ini adalah tangensial (memperlebat luas permukaan) agar gas
mudah keluar.
7. Door Clarifier
Door Clarifier merupakan bejana pengendap yang berfungsi
memisahkan nira kotor dengan nira jernih. Proses pengendapapan dibantu
dengan penambahan Flokulan yang dapat mengikat kotoran sehingga
pengendapan dapat berlangsung lebih cepat.
8. Pemanas Pendahuluan III (PPIII)
Nira jernih dari Door Clarifier ditarik pompa masuk ke PPIII
tujuannya untuk memanasi Nira sehingga tidak terjadi penurunan suhu atau
menghantar nira ke titik didihnya.
9. Rotari Vacuum Filter (RVF)
Nira kotor dari Door Clarifier ditarik pompa diafragma kemudian
dicampur dengan ampas (bagasillo) untuk selanjutnya disaring di Rotari
Vacuum Filter (RVF) dengan type saringan Vacuum.
b. Proses yang terjadi di stasiun pemurnian
Nira mentah (NM) dari Stasiun Diffuser, sebelum diproses di Stasiun
pemurnian dilakukan penimbangan terlebih dahulu. Alat yang digunakan yaitu
timbangan bolougne. Setelah dtimbang kemudian ditampung dalam bak nira
mentah tertimbang, dimana pH 6,2-6,5. Berat nira tertimbang sesuai dengan
kapasitas Timbangan Nira. Kemudian ditambahkan phospat untuk menaikkan
kandungan Fosfat dalam Nira sehingga beraksi dengan Ca(OH). Nira mentah
selanjutnya dipompa ke Pemanas Pendahuluan I yang mempunyai susu 75C,
tujuannya untuk membunuh bakteri dalam Nira Mentah. Selanjutnya nira
dinaikkan pH-nya sampai 7,2 dengan cara penambahan kapur pada peti reaksi
defekator I. Proses ini disebut dengan proses netralisasi dengan cara
mengaduk agar reaksi susu kapur dengan nira mentah merata sehingga reaksi

34

lebih sempurna. Reaksi yang terjadi disebut reaksi pembentukan Calcium


Phospat (Ca3PO4).
Dari defekator I dilanjutkan ke defekator II yang bertujuan menaikkan
pH menjadi 8,5. Selanjutnya nira masuk ke peti sulfitasi nira mentah,
dilakukan penambahan gas sulfit (SO2) untuk menetralisir kelebihan susu
kapur dan juga sebagai pembantu terbentuknya endapan, selain itu juga
sebagai bahan pemucat sehingga mengurangi intensitas warna dalam nira yang
berpengaruh pada warna kristal yang dihasilkan. Proses ini akan terjadi reaksi
pembentukan calcium sulfit (CaSO3) yang menyelubungi endapan Ca3(PO4)2
sehingga endapan tidak akan terpengaruh misalnya kerena temperatur atau pH.
Tahapan selanjutnya masuk ke pemanas pendahuluan II dipanasi
sehingga suhu 105o C dan setelah itu masuk ke bejana pengembang (flash
tank) untuk dihilangkan atau dilepaskan gas yang dapat menganggu proses
pengendapan yang mungkin masih ada dalam nira mentah. Penambahan
flokulan 2-3 ppm dilakukan agar dapat memperbesar floks, sehingga
kotorannya lebih mudah mengendap. Dari bejana pengembang masuk ke door
clarifier (bejana pengendap). Nira kotor akan turun yang kemudian dipompa
ke rotary vacuum filter. Sedangkan nira jernih keluar melalui pipa luapan dan
disaring DSM dan saringan boro-boro. Nira jernih dipanaskan melalui
pemanas pendahuluan II sampai suhu 110o C, lalu nira encer dibawa ke
stasiun penguapan.
Nira kotor hasil pengendapan dipompa ke mixer dan ditambahkan ampas
(Bagacillo), kemudian dialirkan ke rotary vacuum filter untuk memisahkan
nira dengan endapan kotornya. Nira hasil penapisan (nira tapis) dialirkan ke
bak tertimbang kemudian diolah kembali bersama nira mentah tertimbang
sedangkan blotongnya diangkut ke tempat pembuangan.
4.2.4.4 Stasiun Penguapan
Stasiun penguapan merupakan tempat dimana nira yang keluar dari Stasiun
pemurnian sebelumnya masih encer karena masih banyak mengandung air, maka
kandungan air tersebut harus diuapkan sehingga nira encer akan berubah menjadi
kental. Tujuan dari Stasiun penguapan adalah mengurangi kandungan air dari nira
encer sebanyak-banyaknya dengan menekan kehilangan gula serendah mungkin

35

sehingga diperoleh nira kental dengan brix 60 atau kekentalan 30o Be. Nira
encer memiliki kandungan air 85% dan ini harus dihilangkan sehingga
diperoleh nira kental yang mendekati jenuh. Konsentrasi tersebut dipilih agar
dalam proses kristalisasi nanti betul-betul hanya bertujuan untuk pengkristalan.
Proses penguapaan dilakukan dalam 4 tingkat atau 4 bejana. Sistem kerjanya
adalah Quadruple Effect yaitu saling berhubungan antara badan penguap (BP)
satu dengan yang lain atau secara seri.
Air yang diuapkan berasal dari batang tebu, pemberian imbibisi dari stasiun
gilingan, penambahan susu kapur di stasiun pemurnian, penambahan flokulant di
Dorr clarifier, dan air siramaan afzoet pada Rotary Vacum Filter.
a. Alat-alat di stasiun penguapan
1. Evaporator / Badan Penguapan
2. Pipa Kondensat
3. Pompa Vacuum dan Kondensor
4. Tandon Air
5. Peti Sulfiitir Nira Kental (NK)
b. Proses yang terjadi di Stasiun Penguapan
Nira yang keluar dari Stasiun pemurnian masih encer karena masih
banyak mengandung air maka kandungan air tersebut harus diuapkan sehingga
Nira encer akan berubah menjadi kental. Penguapan kandungan air ini
dilakukan dalam keadaan hampa (vacuum) dan dilaksanakan dengan cara seri.
Pelaksanaan dengan cara seri dapat menghemat bahan pemanas dimana panas
yang diberikan dibuat untuk pemanasan beberapa kali.
Pabrik Gula Kedawung melaksanakan proses penguapan dengan sistem
Quadruple Effect dan dengan penyadapan uap sebesar 10% dari badan I untuk
Juice Heater dengan harapan terjadi penghematan uap serta proses berikutnya
baik. Sedangkan uap yang diembunkan di kondensor diusahakan sekecil
mungkin.
Nira encer yang keluar dari stasiun pemurnian masuk ke BP I, kemudian
ke BP II, lalu BP III, sampai ke BP IV. Badan Penguapan yang ada berjumlah
6, namun yang dipakai hanya 5 Badan Penguapan, sedangkan 1 Badan
Penguapan digunakan untuk

pembersihan kerak timbul akibat proses.

36

Pembersihan kerak dilakukan dengan cara khemis dan mekanis. Pembersihan


khemis dilakukan dengan cara pemasakan obat selama 10 jam untuk kemudian
diendapkan kotorannya di suatu penampung. Sekrap merupakan cara
pembersihan kerak secara mekanis yang menggunakan alat sikat baja.
Pembersihan tersebut dilaksanakan bergiliran pada Badan Penguapan agar
tidak mengganggu jalannya proses. Nira yang sudah melalui badan penguapan
selanjutnya menjadi nira kental yang kemudian dilakukan sulfitasi atau
pemberian gas belerang (SO2).
4.2.4.5 Stasiun Masakan (Kristalisasi)
Stasiun Masakan memiliki tujuan yakni mengubah molekul gula dari bentuk
cair menjadi bentuk padat/ kristal. Proses perubahan tersebut disebut proses
kristalisasi. Sasaran yang harus dicapai dalam proses kristalisasi yaitu hasil kristal
gula yang memenuhi syarat, kehilangan gula yang sekecil-kecilnya. Waktu proses
secepatnya, biaya yang dibutuhkan rendah, serta beban Stasiun masakan optimum.
Tujuan dari proses kristalisasi adalah:
1) Mengambil sukrosa dari nira pekat sebanyak-banyaknya dalam bentuk kristal
dengan kualitas yang sesuai standar mutu.
2) Proses kristalisasi dilakukan dengan waktu yang sependek mungkin, biaya
murah, dan kehilangan gula sekecil mungkin.
Sebelum proses kristalisasi, nira kental direaksikan dengan gas sulfit hingga
pH 5,5-5,6 dengan tujuan untuk mengurangi intensitas warna dan menurunkan
viskositas.
a. Alat-alat pada stasiun masakan
1. Pan Masakan
Pan masakan berfungsi mengubah Nira kental, Stroop dan klare menjadi
kristal gula.
2. Bejana Pembuat Vacuum
Susunan intalasi pembuat vacuum adalah Condensor dan pompa Vacuum
Sentral, Condensor dan Pompa Vacuum individu dan Condesor individu
dan pompa Vacuum sentral.

37

3. Palung pendingin
Tujuan dari paling pendingin adalah proses pembesaran / pembentukan
kristal lanjut sebelum masakan diputar. Prosesnya dengan jalan
pendinginan dan pengadukan (sirkulasi).
4. Alat Penunjang
1) Vacumeter
2) Thermoometer
3) Mikroskop
4) Ampermeter
b. Penyiapan bahan untuk proses masakan
1) Masakan A terdiri dari: Nira kental, klare SHS, gula C, gula D2
2) Masakan C terdiri dari: Stroop A, nira kental, fondan
3) Masakan D terdiri dari: Stroop C, Klare D, dan fondan
c. Proses yang terjadi di stasiun masakan
Langkah-langkah di stasiun masakan:
1) Menarik hampa
Menarik nira kental yang sampai ditandai dengan benangan yang tidak
putus kurang lebih 2,5 cm.
2) Menarik bahan
Penarikan bahan disesuaikan dengan volume pan.
3) Penyiapan bibit
Bibit disiapkan dengan perkiraan jumlah bibit yang akan dimasak dengan
perhitungan volume masakan tergantung HK larutan. Bibit gula
dimasukkan ke dalam pan masak.
4) Pembesaran Kristal
Pembesaran kristal dengan menambah nira pekat atau klare Kondisi
kristal harus dijaga agar saat penambahan bahan secara bertahap tidak
timbul kristal palsu.
5) Memasak tua
Masakan sudah tua yang dalam artian larutan induk sudah tipis dan besar
kristal sudah cukup, besar kristal sudah mencapai 1,1 mm.

38

6) Menurunkan masakan
Penurunan masakan disebut juga mengakhiri kerja pan kristalisasi,
dengan menurunkan masakan yang bersuhu relatif tinggi menuju ke
palung pendingin.
4.2.4.6 Stasiun Puteran
Stasiun Puteran (Pemutaran) adalah stasiun tempat pemisahan hasil proses
kristalisasi gula. Tujuan stasiun puteran adalah memisahkan kristal gula dengan
larutannya berupa stroop dari larutan induk.
Faktor faktor yang mempengaruhi proses pemutaran:
1. Ukuran dan kerataan kristal
2. Viskositas Larutan Induk
3. Kecepatan putaran
Menurut Soejardi (1975) hasil proses pengkristalan dalam pan kristalisai
adalah suatu massa campuran antara kristal gula dengan larutan jenuh. Oleh sebab
itu, proses pemutaran disini sangat penting untuk mendapatkan gula produk yang
diharapkan. Gula produk dari kristal dalam bentuk murni didapatkan dari
pemisahan antara kristal gua dengan stroop tersebut.
Pemisahan dilakukan dengan suatu alat yang bekerja dengan dua macam
cara, yaitu:
1. High Grade Centrifugal
Putaran ini digunakan untuk memutar gula A dan SHS. Hasil putaran untuk
masakan A menghasilkan gula A1 dan stroop A. Gula di mixer magma A1
ditambah sedikit air dan dipompa ke mix feeder putaran A2. Kemudian diputar
pada putaran A2 yang menghasilkan gula produk (SHS) dan klare SHS.
2. Low Grade Centrifugal
Putaran ini digunakan untuk memutar masakan C dan masakan D. Masakan D
turun dan masuk ke palung pendingin, kemudian dipompa ke talang mixer D,
kemudian masuk ke putaran High Grade Centrifugal yang bekerja dengan
gaya sentrifugal sehingga kristal terlempar menjauhi pusat menuju ke dinding
saringan yang berbentuk konus. Gula yang akan naik dan meluap ke
penampung dan larutannya akan melewati saringan dan turun ke bak
penampung. Untuk puteran D1 menghasilkan gula D1 dan tetes, putaran D2

39

menghasilkan gula D2 dan klare D. Untuk masakan C dipompa ke talang


mixer C, keemudian masuk ke putaran High Grade Centrifugal. Putaran C
menghasilkan gula C dan stroop C.
4.2.4.7 Stasiun Penyelesaian
Tujuan Stasiun penyelesaian adalah mengeringkan dan mengemas gula
sebelum disimpan dalam gudang. Stasiun ini merupakan stasiun terakhir dalam
proses produksi gula. Gula yang dihasilkan dari puteran masih dalam keadaan
basah. Oleh karena itu untuk mendapatkan kristal gula yang kering dan memiliki
ukuran yang diinginkan maka dilakukan proses pengeringan dengan uap panas,
pengayaan dengan saringan getar, pengemasan dan penyimpanan.
1. Pengeringan Gula
Kristal gula dibawa ke grasshopper menuju ke pengering gula karena
gula hasil puteran tadi suhunya masih cukup tinggi dan masih basah karena
akibat adanya pemberian air panas (penyiraman) dan uap baru (penyetuman)
selama dalam proses pemutaran. Kadar air dari gula tersebut masih tinggi yaitu
sekitar 1 1,5 % dan kadar air ini harus segera diturunkan menjadi 0,1 % agar
hasil produksi tidak menjadi rusak. Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan
kristal gula yang kadar airnya rendah (maksimal 0,1 %) sehingga gula tersebut
tahan disimpan dalam waktu yang lama. Selain itu pengeringan juga untuk
menghindari pembusukan dan memperbaiki mutu gula produk.
2. Penyaringan Gula
Gula yang keluar dari pengering kemudian masuk ke saringan yang
disebut dengan Vibrating screen. Vibrating screen tersusun dari dua kasa
saringan yang mempunyai dua ukuran masing-masing 8 x 8 mesh dan 23 x 23
mesh. Vibrating screen digunakan untuk memisahkan gula halus, gula kasar
dan produk. Gula melalui saringan kasar (8 x 8 mesh), untuk yang tertahan
termasuk dalam gula kasar yang perlu dilebur kembali. Gula yang kemudian
melalui saringan (23 x 23 mesh), untuk yang tertahan adalah merupakan gula
produk. Kristal gula lolos dari saringan halus disebut gula halus dan harus
dilebur kembali. Gula produk akan masuk ke sugar bin kemudian masuk ke
chute gula produk penimbang otomatis.

40

3. Pengemasan dan penyimpanan


Gula produk dari sugar bin dilakukan penimbangan dengan alat Bagging
scale, alat bantu timbang sekaligus pengeluaran gula sehingga gula lebih
mudah untuk dikemas dengan berat bersih 50 kg. Gula yang telah dikemas
dalam zak diangkut ke stamfloor sebagai tempat penampungan sementara dan
pengecekan jumlah produksi. Stamfloor juga dapat berfungsi sebagai
pendinginan gula hasil produksi sehingga gula dapat terhindar dari
kelembaban. Gula baru dapat diangkut ke gudang kesokan hari setelah hari
produksi.
Syarat gula produk yang disimpan:
1. Gula harus kering dan bersih
2. Ukuran kristal merata tidak lebih dari 1,0 mm (sesuai pasar)
3. Gula ditimbang dengan bobot 50 kg
4. Gula dikemas dengan zak plastik / glangsing yang kuat, tidak bocor dan dalam
kemasan diberi kantong plastik / innerbag kemudian dijahit rapat agar kondisi
stabil
5. Suhu gula masuk karung 40o C
6. Timbangan yang dipergunakan otomatis agar berat gula tepat
4.2.5 Hasil Gula
Berikut ini adalah data hasil gula sampai dengan tanggal 15 September 2014.
Tabel 1. Ton tebu tergiling, gula, dan tetes periode I VI tahun 2014

Periode

Ton tebu tergiling


S/d
Periode
periode
ini
ini

Ton gula
S/d
Periode
periode
ini
ini

Ton tetes
S/d
Periode
periode
ini
ini

36.415

36.415

1.848

1.848

1.375

1.375

2
3
4
5
6

32.570
22.110
12.357
38.043
35.651

68.985
91.095
103.452
141.496
177.147

1.958
1.462
730
2.726
2.602

3.806
5.269
5.999
8.725
11.327

1.579
1.202
695
2.001
1.843

2.954
4.156
4.851
6.852
8.695

41

4.2.6 Penanganan Limbah


Dalam kegiatan produksi gula di Unit Usaha Kedawung, dihasilkan tiga
macam jenis limbah, yaitu:
1. Limbah padat, berupa blotong dan abu ketel
Blotong adalah endapan dari nira kotor yang ditapis di Rotary Vacuum
Filter. Sedangkan abu ketel adalah berasal dari hasil pembakaran bahan bakar
ketel berupa ampas, kayu cacahan yang merupakan padatan berupa serbuk
yang berwarna hitam.
Penanganan limbah padat di PG Kedawung yang berupa blotong
dilakukan dengan menimbun di lokasi (pihak ketiga) dan bisa dimanfaatkan
sebagai kompos. Blotong hasil RVF tidak boleh langsung dibuang karena
mengandung bakteri aerob yang menguraikan bahan organiknya menyebabkan
BOD dan COD meningkat, sehingga kadar oksigen terlarut berkurang dan air
menjadi keruh dan berbau.
Abu ketel yang dihasilkan PG Kedawung ditampung dan dibuang ke
tempat pembuangan yang masih berada di area pabrik dengan menggunakan
truk.
2. Limbah cair, berupa air jatuhan kondensor dan air buangan lain
Limbah cair berasal dari air jatuhan kondensor, air bekas pendingin
mesin, air bekas larutan pelunak kerak pan penguapan, air bekas cucian lantai
dan peralatan pabrik.
Penanganan limbah cair di PG Kedawung menggunakan Unit Pengolahan
Limbah Cair (UPLC) dilakukan dengan Sistem Aerasi Lanjut (SAL) dengan
menggunakan mikroba INOLA 221 Produk dari P3GI Pasuruan dan proses
pemeriksaan berkala oleh Tim BBTKL Kabupaten Pasuruan setiap satu bulan
sekali dalam musim giling.
3. Limbah gas, berupa gas buangan dari cerobong ketel, gas So2.
Limbah gas berasal dari hasil gas SO2 untuk pemurnian pada cerobong
dapur belerang, dan hasil dari pembakaran ketel atau dari asap cerobong ketel.
Penanganan limbah gas yang berasal dari hasil sulfitasi ditangani dengan
memantau dan mengatasi kebocoran-kebocoran gas SO2 pada tobong belerang
dan pipa aliran gas SO2, sedangkan untuk buangan gas CO2 dan CO selama ini

42

belum ada penanganan khusus, karena masih berada pada batas toleransi /
tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan gas hasil
pembakaran ketel yang mengandung partikel-partikel abu dan arang, partikel
tersebut dapat mengotori rumah penduduk dan lingkungan sekitar. Upaya yang
dilakukan yaitu:
- Melengkapi ketel dengan penutup debu
- Memasang alat Dust Collector guna menangkap abu sebelum gas dibuang
ke udara melalui cerobong
- Pada cerobong asap juga dilengkapi samping point untuk analisa atau
memonitoring gas yang keluar dari cerobong.
4.2.7 Analisa Laboratorium
Untuk dapat memproduksi gula yang berkualitas, dilakukan serangkaian
proses yang bertujuan mendapatkan hasil yang maksimal dan mendapat
keuntungan. Tebu yang baik menghasilkan hasil yang baik dan sesuai apa yang
diharapkan.
A. Ruang Analisa Rendemen Individu (ARI)
Analisa penetapan rendemen dilakukan di ruang ARI (Analisa Rendemen
Individu) oleh petugas Litbang. Semua tebu, baik tebu sendiri (TS) maupun tebu
rakyat (TR) harus dianalisa rendemennya per alat angkut, sesuai ketentuan
analisa NHP (Nira Hydrolic Press). Catatan urutan tebu yang digiling dari petugas
emplasment segera diserahkan pada petugas analisa NHP baik di meja tebu
maupun

pengambil contoh ampas cacahan HDHS (Heavy Duty Hammer

Shredder).
B. Laboratorium Pabrik
1. Analisa Brix
Analisa Brix adalah analisa yang bertujuan untuk mengetahui kadar zat
kering pada suatu larutan. Derajat Brix merupakan jumlah zat padat semu
yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan.

43

Gambar. Alat penimbang brix


Gambar. Analisa Brix Nira
Nira
Adapun
larutan yang dianalisa Brix nya adalah:
-

Nira Pemerahan Pertama

Nira Mentah

Nira Encer

Nira Kental (dibutuhkan proses pengenceran)

Masakan (A,C, dan D) dan Stroop (A dan C)

2. Analisa POL
Analisa POL adalah analisa yang bertujuan untuk mengetahui kadar gula
yang terlarut dalam suatu larutan. Analisa POL dilakukan dengan
menggunakan alat polarimeter.

Gambar. Polarimeter

Gambar. Analisa POL Nira

Adapun larutan yang dianalisa POL nya adalah:


-

Nira Pemerahan Pertama

Nira Mentah

Nira Encer

Nira Kental (dibutuhkan proses pengenceran)

Masakan (A,C, dan D) dan Stroop (A dan C)

44

3. Analisa PI (Preparation Index)


Analisa PI digunakan untuk mengetahui seberapa besar pencacahan tebu.
PI (Preparation Index) merupakan angka sebagai hasil kerja dari Crane
Preparation yang menentukan kinerja dari pemerahan padat cair Diffuser
untuk mengukur kinerja alat pendahuluan di PG Kedawung. Harga PI
diperoleh dari hasil perhitungan analisa dari tebu cacah yang keluar dari alat
pendahuluan.
Rumus PI =

x 100 %

Faktor-faktor yang mempengaruhi Preparation Index (PI):


1. Kadar sabut tebu
2. Jenis alat kerja pendahuluan dan penyetelan Clearancenya
3. Kerataan dan ketebalan pengumpanan tebu ke Alat Kerja Pendahuluan
4. Analisa POL Ampas
Analisa nilai POL ampas, yaitu dimaksudkan untuk mencari kandungan
gula yang mungkin masih terkandung dalam ampas. Cara menganalisa POL
pada ampas diperlukan air ekstraksi dengan sebuah alat untuk memudahkan
menganalisa.
5. Analisa Kadar Phospat
Analisa Kadar Phospat bertujuan untuk mencari nilai kadar phospat agar
diperoleh nilai kadar phospat yang terkandung dalam suatu larutan. Bila
phospat suatu nira kurang akan mengakibatkan koloid yang mengendap
sedikit sehingga akan sedikit pula zat bukan gula yang dapat dihilangkan.
Analisa kadar phospat dilakukan dengan sebuah alat yang disebut
spectrometer.
6. Analisa Kapur Nira
Analisa kadar kapur bertujuan untuk mengetahui kadar kapur suatu
larutan. Larutan yang dianalisa adalah nira mentah dan nira encer.
7. Analisa Turbidity
Analisa Turbidity yaitu analisa kejernihan dengan sampel Nira sebelum
sulfitir dan nira sesudah sulfitir. Analisa turbidity dilakukan dengan sebuah
alat yang disebut spectrometer.

45

8. Analisa POL Blotong


Analisa nilai POL blotong, yaitu dimaksudkan untuk mencari kandungan
gula yang mungkin masih terkandung dalam blotong.
9. Analisa Skarbloom
Analisa skarbloom yaitu analisa untuk mengetahui kadar gula dalam air
embun. Caranya dengan memasukkan 2 ml air embun ke tabung reaksi
kemudian ditambah 5 tetes Alpha Naphtol dan 15 tetes H2SO4 pekat, jika
terdapat cincin berwarna ungu maka air embun mengandung gula dan air
embun tidak dikirim ke ketel sebagai air pengisi ketel.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi dapat diartikan sebagai perencanaan tentang jenis dan
jumlah produk yang akan diproduksi oleh perusahaan yang bersangkutan dalam
satu periode yang akan datang. Dalam Pabrik Gula, perencanaan produksi
meliputi RKAP, taksasi, dan juga analisa pendahuluan.
1. RKAP (Rencana Kebutuhan Anggaran Perusahaan)
Rencana Kebutuhan Anggaran Perusahaan merupakan dasar dalam penentuan
perencanaan untuk kegiatan proses produksi. RKAP meliputi perencanaan
investasi, biaya SDM (formasi karyawan),dan data produksi yang akan
ditargetkan.
Dalam RKAP terdapat adanya angka dasar AD1 dan AD2,
a. AD1 merupakan rencana areal dan produksi yang direncakan untuk tahun
giling satu tahun ke depan.
b. AD2 adalah rencana areal dan produksi yang direncanakan untuk tahun
giling dua tahun ke depan.
2. Taksasi
Taksasi merupakan kegiatan memperkirakan/ menaksir berapa produktivitas
tebu yang akan dicapai pada saat bulan-bulan penggilingan tiba. Angka
produkstivitas tebu setiap lahan akan mendekati kanyataan dan tidak meleset.
Kegiatan taksasi ini berfungsi untuk mengitung rencana lama giling dari
pabrik, untuk memperkirakan awal dan akhir masa tebang, mempersiapkan

46

tenaga kerja, angkutan, dana yang akan digunakan dalam proses produksi,
serta bahan-bahan pembantu yang akan digunakan dalam proses produksi.
Taksasi dilakukan dua kali, yaitu taksasi Desember dan taksasi Maret. Dalam
penggunaan patokan yang berperan adalah taksasi Maret.
3. Analisa Pendahuluan
Analisa Pendahuluan merupakan langkah awal penentuan penetapan awal
giling berupa angka-angka, faktor kemasakan, kosien peningkatan, kosien
daya tahan, keadaan iklim. Semua hal itu dilakukan oleh bagian Litbang.
Persiapan pada awal giling dan akhir dibutuhkan agar pelaksanaan giling
dari awal hingga akhir berjalan lancar, sehingga kapasitas giling, rendemen,
produksi dan sasaran-sasaran lain dapat dicapai sesuai dengan rencana bahkan
melebihi rencana dengan pelaksanaan hari giling yang lebih pendek. Apabila
persiapan kurang maka giling akan berjalan dengan kondisi bahan baku tingkat
kemasakannya kurang dan peralatan proses akan sering terjadi kerusakan.
4.3.2 Pengorganisasian Produksi
General Manager
Ir. Achmad Barnas
Manajer Pengolahan
Budi Hartono
Asisten Manajer Pengolahan
Winarsono

Kepala Seksi
Jaminan Mutu

Kepala Seksi Unit


Pengelola Limbah

Kepala Seksi
Pengolahan

Moh. Nuruddin

Muh. Mukhsin

Hari Setyo Nugroho

Pelaksana
Gambar. Struktur Organisasi Bagian Pengolahan

47

Tugas bagian Pengolahan adalah mengolah tebu yang diserahkan oleh


bagian tanaman untuk dijadikan gula Kristal Putih, dengan menekan kehilangan
dalam proses seminimal mungkin.
Karyawan di PG Kedawung dibedakan menjadi 4 jenis:
1. Karyawan Tetap, merupakan karyawan yang terus bekerja baik dalam masa
giling maupun di luar masa giling.
2. Karyawan musiman, merupakan karyawan yang dipekerjakan hanya saat masa
giling saja dan apabila pabrik membutuhkannya.
3. Karyawan PKWT, merupakan karyawan yang dikontrak oleh pabrik untuk
bekerja dalam masa kontrak tertentu dan apabila pabrik membutuhkan.
4. Karyawan Borongan, merupakan karyawan yang bekerja saat tertentu apabila
pabrik membutuhkan dan tidak terikat oleh pabrik.
Untuk karyawan tetap, jam kerja karyawan pada hari Senin-Jumat dimulai
pukul 07.00 15.00 dengan apel pagi terlebih dahulu pada pukul 06.30 WIB.
Pada hari Jumat jam kerja dimulai dari jam 07.00 11.00 WIB. Sedangkan pada
hari Sabtu dari jam 07.00 12.00. Khusus untuk bagian Pengolahan, Teknik dan
Tanaman masuk pada hari Minggu yaitu mulai jam 07.00 12.00 WIB.
Untuk karyawan bukan tetap yang ada di dalam pabrik, terdapat shift kerja
yang terbagi menjadi tiga grup.
1. Shift pagi mulai jam 06.00 14.00
2. Shift siang mulai jam 14.00 22.00
3. Shift malam mulai jam 22.00 06.00
Pada proses produksi, berkaitan dengan memproses bahan baku, baik utama
maupun penunjang untuk memproduksi gula SHS. Proses produksi dilakukan oleh
bagian Pengolahan dengan Instalasi bekerja bersama-sama dalam pelaksanaannya.
Kedua bagian bekerja sama dalam kesatuan untuk memproduksi gula secara
maksimal. Pengolahan (Pabrikasi) mengolah tebu menjadi gula untuk dijadikan
kristal putih, sedangkan bagian Instalasi (Teknik) bertanggung jawab pada proses
giling/ diffuser serta bila ada kerusakan alat saat masa giling.

48

4.3.3 Pergerakan / Pelaksanaan Produksi


4.3.3.1 Emplasement Pabrik
Sebelum masuk ke proses pengolahan tebu menjadi gula, tebu terlebih
dahulu melalui emplasement. Emplasement pabrik adalah sarana pabrik yang
berfungsi sebagai tempat penampungan dan pengaturan tebu sebelum digiling,
serta menampung lori kosong yang akan digunakan sebagai tempat sekaligus
pengangkat tebu yang telah ditimbang. Tujuannya supaya proses penggilingan
dapat kontinue. Giliran tebu yang akan digiling sesuai dengan metode FIFO
(First in First Out) yang bertujuan agar tebu yang akan digiling kondisinya tetap
segar. Dari emplasement pabrik, kemudian dilakukan penimbangan sebagai dasar
perhitungan dalam pengawasan proses.
4.3.3.2 Produksi di Pabrik Gula Kedawung
Pengolahan tebu menjadi gula yang ada di Pabrik Gula Kedawung melalui 6
stasiun dengan kapasitas produksi sebesar 2400 TCD yang terdiri dari sebagai
berikut:
1. Stasiun Diffuser
Stasiun Diffuser merupakan stasiun yang bertujuan untuk mendapatkan nira
(larutan gula) sebanyak-banyaknya dengan cara pemerahan yang dibantu oleh air
imbibisi. Air imbibisi adalah air yang disemprotkan pada ampas dalam gerbong
diffuser untuk mengektraksi cacahan tebu dengan cara difusi. Imbibisi bertujuan
untuk menekan kehilangan gula sekecil mungkin.
Perbedaan mendasar dari teknologi diffuser adalah pada cara pemerahan
gilingan diantaranya adalah derajat ekstraksinya lebih tinggi, penggunaan
sumberdaya manusia relatif sedikit, dan biaya perawatan lebih murah.

Gambar. Stasiun Diffuser

49

2. Stasiun Pemurnian
Stasiun Pemurnian merupakan tempat pemisahan antara gula dengan zat
bukan gula dalam nira. Tujuan dari stasiun pemurnian adalah memisahkan zat
bukan gula yang terkandung dalam nira, dengan biaya rendah dalam waktu relatif
singkat tanpa merusak sukrosa dalam nira sehingga dapat diperoleh nira yang
jernih.
Saat proses pemurnian, dilakukan proses pemberian bahan pembantu proses
yang terdiri dari:
a. Penambahan asam phospat, yaitu untuk menaikkan kandungan Fosfat dalam
Nira sehingga beraksi dengan Ca(OH). Asam phospat sangat penting dalam
pembentukan endapan

pokok yaitu sebesar 300 mg P2O5/liter. Bila

kandungan phospat kurang dari itu maka akan mengakibatkan koloid yang
mengendap sedikit sehingga akan sedikit pula zat bukan gula yang dapat
dihilangkan.
b. Defekasi yaitu pemberian susu kapur yang bertujuan untuk menetralkan nira
mentah yang masih bersifat asam agar tidak mempengaruhi kadar sukrosa.
c. Sulfitasi yaitu pemberian gas SO2 untuk menetralisir kelebihan susu kapur
dan membantu pembentukan endapan tambahan dan sebagai bahan pemucat
sehingga berpengaruh pada warna kristal yang dihasilkan.
d. Penambahan flokulan 2-3 ppm, yaitu dilakukan agar dapat memperbesar floks,
sehingga kotorannya lebih mudah mengendap. Flokulan mengikat endapan
yang sudah terbentuk dari proses defekasi dan sulfitasi menjadi gumpalan
yang mempunyai berat jenis yang memenuhi untuk kecepatan pengendapan
sehingga nira encer yang diperoleh memenuhi kualitas.
Nira jernih yang dihasilkan dari proses pemurnian ini masih dalam bentuk
encer, yang kemudian dibawa ke stasiun berikutnya. Sedangkan nira kotor
diendapkan dan ditambahkan ampas kemudian dipisahkan antara nira dengan
endapan kotornya dalam Rotary Vacuum Filter. Nira hasil pemisahan tersebut
dinamakan nira tapis yang diolah kembali bersama nira mentah tertimbang,
sedangkan blotongnya diangkut ke tempat pembuangan.

50

3. Stasiun Penguapan
Stasiun penguapan merupakan tempat dimana nira yang keluar dari Stasiun
pemurnian sebelumnya masih encer karena masih banyak mengandung air, maka
kandungan air tersebut harus diuapkan sehingga nira encer akan berubah menjadi
kental. Tujuan dari Stasiun penguapan adalah mengurangi kandungan air dari nira
encer sebanyak-banyaknya dengan menekan kehilangan gula serendah mungkin
sehingga diperoleh nira kental dengan brix 60 atau kekentalan 30o Be.
Sistem kerja dari stasiun penguapan adalah Quadruple Effect yaitu saling
berhubungan antara badan penguap (BP) satu dengan yang lain atau secara seri.
Proses penguapan dilakukan dengan 4 badan penguapan dari 5 badan penguapan
yang berfungsi, 1 badan penguapan digunakan untuk Juice heater (pemasakan
obat pelunak kerak) untuk membersihkan kerak yang menempel di dinding badan
penguapan yang timbul dari proses. Juice heater adalah pembersihan kerak secara
khemis,sedangkan secara mekanis dengan cara sekrap. Pembersihan kerak
dilakukan bergantian, dengan begitu kerak dapat dibersihkan dan tidak
mengganggu proses penguapan. Di stasiun penguapan juga dilakukan sulfitasi
setelah keluar dari badan penguapan agar pH menjadi 5,5 5,6.
4. Stasiun Masakan (Kristalisasi)
Stasiun masakan memiliki tujuan yakni mengubah molekul gula dari
bentuk cair menjadi bentuk padat/ kristal. Proses perubahan tersebut disebut
proses kristalisasi. Sasaran yang harus dicapai dalam proses kristalisasi yaitu hasil
kristal gula yang memenuhi syarat, kehilangan gula yang sekecil-kecilnya.
Nira kental dengan pH 5,5 -5,6 diubah menjadi kristal dengan
menggunakan 3 macam pan masak. Hasil dari masakan tiap pan masak disebut
juga masekuit. Masekuit tersebut turun ke palung pendingin untuk pembesaran/
pembentukan kristal lanjut sebelum diputar.
5. Stasiun Puteran (Pemutaran)
Stasiun puteran merupakan tempat pemisahan antara kristal gula dengan
stroop (larutan dengan banyak kristal sukrosa). Menurut Soejardi (1975) hasil
proses pengkristalan dalam pan kristalisasi adalah suatu massa campuran antara
kristal gula dengan larutan jenuh.

51

Pemisahan dilakukan dengan dua macam cara, yaitu High Grade


Centrifugal dan Low Grade Centrifugal.
a. High Grade Centrifugal
Putaran ini digunakan untuk memutar gula A dan SHS. Hasil putaran untuk
masakan A menghasilkan gula A1 dan stroop A. Gula di mixer magma A1
ditambah sedikit air dan dipompa ke mix feeder putaran A2. Kemudian diputar
pada putaran A2 yang menghasilkan gula produk (SHS) dan klare SHS.
b. Low Grade Centrifugal
Putaran ini digunakan untuk memutar masakan C dan masakan D. Masakan D
turun dan masuk ke palung pendingin, kemudian dipompa ke talang mixer D,
kemudian masuk ke putaran High Grade Centrifugal yang bekerja dengan
gaya sentrifugal sehingga kristal terlempar menjauhi pusat menuju ke dinding
saringan yang berbentuk konus. Gula yang akan naik dan meluap ke
penampung dan larutannya akan melewati saringan dan turun ke bak
penampung. Untuk puteran D1 menghasilkan gula D1 dan tetes, putaran D2
menghasilkan gula D2 dan klare D. Untuk masakan C dipompa ke talang
mixer C, kemudian masuk ke putaran High Grade Centrifugal. Putaran C
menghasilkan gula C dan stroop C.
Proses dalam Stasiun Masakan dan Puteran:
Jika bicara proses dari awal giling, maka proses masakan dimulai nira
kental masuk ke pan A yang turun ke palung pendingin dan diputarke putaran A
kemudian menghasilkan stroop A dengan HK 63 dan gula A dengan HK 95. Gula
A turun ke putaran SHS yang akan menghasilkan gula produk. Stroop A yang
dihasilkan pan A masuk ke pan masak C lalu turun ke palung pendingin masuk ke
putaran C menghasilkan Gula C dengan HK 95 dan stroop C dengan HK 57. Gula
C masuk ke einwurf digunakan sebagai bibit masakan A sehingga masuk kembali
ke pan masak A. Stroop C masuk ke pan masak D lalu turun ke palung pendingin
dan diputar di putaran D1 menghasilkan gula D dengan HK 86 dan masuk ke
putaran D2 menghasilkan klare D yang akan masuk kembali ke pan masak D dan
Gula D2 dengan HK 92 sebagai bahan masakan A.

52

Nira Kental
HK 77,7

Air

Fondan

MSK A
HK 82,4

MSK C
HK 72

MSK D
HK 62,6

Palung A

Palung C

Palung D

Put A

Stroop A

Air

Put C

Stroop C

Rapid

Hk 57

Hk 63

Air
Gula A Hk 95

Gula C Hk 95

Put SHS

Einwurf untuk
Bibit MSK A

Put D1

Gula D1 Hk 86
Air

Gula Prod
Hk 99,6

Dilakukan jika kelebihan bahan

Klare D

Leburan D2

Put D2
Gula D2 Hk 92

Gambar. Skema masakan dan puteran


6. Stasiun Penyelesaian
Tujuan Stasiun penyelesaian adalah mengeringkan dan mengemas gula
sebelum disimpan dalam gudang. Stasiun ini merupakan Stasiun terakhir dalam
proses produksi gula. Gula yang dihasilkan dari puteran masih dalam keadaan
basah. Oleh karena itu untuk mendapatkan kristal gula yang kering dan memiliki
ukuran yang diinginkan maka dilakukan proses pengeringan dengan uap panas,
pengayaan dengan saringan getar, pengemasan dan penyimpanan.
a. Pengeringan gula dilakukan di sugar dryer brtujuan untuk mendapatkan kristal
gula yang kering. Kadar air yang awalnya 1-1,5 % diturunkan hingga 0,1 %.
Dengan begitu gula akan lebih bagus dan tahan lama dalam penyimpanan.

53

b. Pengayaan dilakukan untuk memisahkan fraksi-fraksi gula berdasarkan


ukurannya. Saringan terdiri dari dua macam, yaitu saringan kasar dan saringan
halus. Gula yang tertahan di saringan termasuk gula kasar dan harus dilebur
kembali, sedangkan gula yang lolos dan tertahan di saringan halus merupakan
gula produk dengan ukuran antara 0,9-1,1 mm. Sedangkan gula yang lolos
saringan halus merupakan gula halus yang terlalu kecilsehingga harus dilebur
bersama dengan gula kasar. Leburan tersebut diolah kembali masuk ke
masakan A.
c. Pengemasan gula bertujuan untuk menjaga mutu produk yang dilapisi dengan
innerbag. Gula dari sugar bin ditimbang dengan alat Bagging scale, alat bantu
timbang sekaligus pengeluaran gula sehingga gula lebih mudah untuk dikemas
dengan berat bersih 50 kg. Gula yang telah dikemas dalam zak diangkut ke
stamfloor sebagai tempat penampungan sementara dan pengecekan jumlah
produksi. Stamfloor juga dapat berfungsi sebagai pendinginan gula hasil
produksi sehingga gula dapat terhindar dari kelembaban. Gula baru dapat
diangkut ke gudang kesokan hari setelah hari produksi.
d. Penyimpanan gula di gudang dimaksudkan untuk menampung hasil produksi
gula yang dihasilkan. Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas gula,
kondisi gudang penyimpan harus memenuhi persyaratan tertentu baik dari segi
konstruksi maupun letaknya untuk menjamin gula tetap kering yaitu berkadar
air sekitar 10-15%. Penumpukan gula dibuat serapat mungkin agar udara di
antara karung sesedikit mungkin (Mubyarto,1991).
4.3.3.3 Manajemen Produksi di Pabrik Gula Kedawung
Pergerakan dalam produksi gula dapat digambarkan dalam struktur
organisasi perusahaan. Dalam struktur organisasi tersebut terdapat hubungan
antara manajer, asisten manajer, dan bawahannya termasuk pelaksana. Hubungan
tersebut meliputi wewenang dan tanggung jawab masing-masing dengan jabatan
yang dimilikinya.
Pada bagian pengolahan juga demikian, antara manajer dan bawahannya
saling berkoordinasi agar memperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang
direncanakan.

54

Berdasarkan elemen Pergerakan/ Pengarahan, maka dalam manajemen


produksi gula adalah sebagai berikut:
1. Coordinating: Koordinasi adalah fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang
manajer pengolaan dapat berperan penting dalam berbagai kepentingan
sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Koordinasi terjadi di antara semua bagian yang ada di Pabrik Gula Kedawung.
Bagian Tanaman berkoordinasi dengan bagian AKU, Pengolahan, dan Teknik.
AKU dengan bagian lainnya berkoordinasi dalam hal pendanaan atau
keuangan, pengadaan barang, dan pengelolaan SDM. Bagian AKU dan
Pengolahan berkoordinasi tentang penyimpanan gula produksi dan gudang
gula. Untuk kordinasi yang berhubungan dengan produksi seperti kapasitas
pabrik dilakukan oleh bagian Tanaman dan Pengolahan. Bagian Tanaman
dengan Teknik bekerjasama dalam hal tenaga traktor dan lori. Bagian
Tanaman dengan Litbang bekerjasama dalam hal pengukuran lahan dan
analisa tanah. Bagian Tanaman. Litbang dan Pengolahan berkoordinasi
tentang hasil dari analisa pendahuluan dan analisa rendemen individu. Serta
bagian Teknik dengan Pengolahan berkoodinasi tentang kesiapan pabrik saat
luar masa giling, dan bekerjasama dalam masa giling dimana bagian teknik
sebagai penyedia utilitas dalam proses pabrik.
2. Motivating: Memberi motivasi kepada karyawan merupakan salah satu elemen
penting dalam manajemen perusahaan, dengan memberikan fasilitas yang
bagus dan gaji yang cukup maka kerja para karyawan dalam perusahaan pun
akan optimal.
PG Kedawung memberikan fasilitas berupa rumah dinas bagi manajer dan
asisten manajer, kemudian transportasi dan fasilitas kesehatan. Hal ini dapat
membantu karyawan dalam memaksimalkan kinerja di bagian masing-masing.
3. Communication: Komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat
diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi
yang baik maka akan menimbulkan suasana kerja yang kondusif di dalam
pabrik dan akan menumbuhkan teamwork atau kerjasama yang baik dalam
berbagai kegiatan di PG Kedawung.

55

Komunikasi di lingkungan pabrik dilakukan dengan handy talky meliputi


pelaporan keadaan actual yang terjadi dan informasi meliputi laporan
sementara seperti jumlah pemasukan tebu, produksi gula, dan lain sebagainya.
4. Commanding: Dalam memberi perintah pun seorang atasan tidak bisa
seenaknya, tetapi harus memperhitungkan langkah-langkah dan resiko dari
setiap langkah yang para atasan itu ambil karena setiap keputusan dan langkah
akan memberi pengaruh bagi perusahaan. Perintah diberikan dari atasan
melewati arus lapisan dalam struktur organisasi hingga sampai ke lapisan
bawah, yakni pelaksana.
Bila ada permasalahan yang terjadi di lapang, maka pelaksana akan mencoba
mengatasinya namun jika masalah tersebut belum bisa diatasi makan asisten
manajer atau manajer akan turun tangan langsung untuk mengecek keadaan
dan mengatasinya.
4.3.4 Pengendalian / Pengawasan Produksi
Pengawasan dan pengendalian produksi di Pabrik Gula Kedawung antara
lain meliputi pada persediaan bahan baku, pengendalian proses produksi,
pemeliharaan peralatan, pengawasan mutu, dan pengawasan buruh. Pengawasan
ini

berperan

dalam

pembuatan

keputusan-keputusan

yang

menyangkut

keseimbangan antara buruh, bahan baku, dan biaya produksi.


1. Persediaan Bahan Baku
Persediaan bahan baku dalam produksi gula di PG Kedawung dilakukan
mulai dari penyediaan tebu setiap harinya yang dikordinasikan antara bagian
Tanaman

dengan

bagian

Pabrikasi.

Diperlukan

bagaimana

cara

mengalokasikan kapasitas persediaan dalam produksi sesuai dengan


permintaan dan penentuan kebijakan pengaturan persediaan. Bagian tanaman
melakukan pengawasan dengan cara rapat tebangan setiap hari setiap jam
14.00 WIB.
Rapat tebangan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh sub
bagian tebangan (bagian dari tanaman) untuk memantau persediaan tebu.
Persediaan kapasitas tebu tebangan yang dibutuhkan setiap harinya
dikoordinasikan oleh bagian tanaman. Jumlah kapasitas disesuaikan dengan
sisa tebu pagi (maksimal 15 20 %) dari kapasitas giling.

56

Pemasukan tebu ke emplasement dilakukan melalui 2 jalur, yaitu lori


dan truk. Untuk tebu lori dari kebun ditark dengan loco diesel dan
penampungannya diatur di emplasement dalam pabrik sesuai urutan datang
dan digiling menurut yang datang terlebih dulu atau disebut dengan sistem
FIFO (First in First Out). Untuk tebu dari truk mengantri di pos stadion
(emplasement luar) dan menunggu giliran untuk dapat masuk ke emplasement
sesuai nomor urutan. Jumlah tebu yang masuk ke emplasemen sebanyak 125%
dari kapasitas giling per hari yang telah direncanakan.
Penimbangan tebu sangatlah penting dalam proses di pabrik gula
sehingga

dalam

pelaksanaan

penimbangan

tebu

harus

benar-benar

diperhatikan.
a. Timbangan Lori
Sebelum masuk jembatan timbang, loco pengangkut lori diberhentikan
sebelum masuk jembatan timbang, nomor lori dicatat. Nomor lori yang sudah
tercatat kemudian diinput ke dalam komputer. Secara otomatis komputer akan
menampilkan berat bruto tebu. Dengan diketahuinya berat bruto ini akan
didapatkan berat netto tebu pada layar komputer.
b. Timbangan Truk
Penimbangan truk menggunakan dua macam alat timbang. Penimbangan
menggunakan jembatan timbang dan Digital crain scale.

Gambar. Jembatan Timbang truk

Gambar. Jembatan Timbang lori

57

Gambar. Digital Crain Scale


Penyediaan tebu dijaga kontinuitasnya agar proses produksi bisa lancar
dan diperoleh hasil gula sesuai target. Selain itu keefektivitasan dari
penggunaan mesin dapat lebih efisien sehingga tidak meninggikan beban
biaya peralatan.
2. Pengawasan proses produksi
Pengawasan proses produksi bertujuan untuk memberikan jaminan agar
pelaksanaan produksi sesuai dengan apa yang direncanakan. Pengawasan yang
dilakukan meliputi laporan setiap periode (15 hari) dengan pengumpulan data
analisa POL dan brix, dan taksasi harian.
-

Pengumpulan data analisa dengan melakukan analisa Brix dan POL.


Untuk brix dan POL ARI dilaksanakan di dalam ruang ARI. Untuk brix
dan POL Nira Pemerahan Pertama, Nira mentah, Ampas, Blotong, Nira
encer, Nira kental, Masakan dan stroop, dan gula dilaksanakan di dalam
laboratorium pabrikasi (pengolahan).

Taksasi harian bertujuan untuk memperkirakan selisih ton POL (serta ton
bix) dari bahan-bahan yang sedang diproses yang berasal dari tebu yang
digiling baik harian maupun periode 15 harian. Taksasi harian dilakukan
tiap hari setiap jam 06.00 WIB.

3. Pengawasan mutu
Dalam

perencanaan produksi, perlu adanya pengawasan mutu dari

bahan baku maupun mutu produk. Jika bahan baku kurang baik, maka akan
berakibat pada mutu produk yang ikut menurun.

58

1) Mutu Bahan Baku


Pengawasan kualitas tebu dilakukan dengan cara:
a. Analisa trash
Analisa trash pada tebu lori dan truk dilakukan di dalam emplasement oleh
bagian litbang untuk mendapatkan gambaran presentase trash tebu tiap
hari sebagai dasar pengawasan. Jumlah trash (sogolan, pucukan, daduk,
akar, dan tanah) yang dimaklumi sesuai prosedur adalah minimal 5 %.
b. Analisa brix
Analis brix tebu dilakukan di 2 tempat, yaitu:
- Di kebun dengan menggunakan handbrix refraktometer dengan
pemerahan gilingan contoh.
- Dilakukan di stadion dengan menggunakan alat yang sama yaitu
handbrix refraktometer.
Hal yang perlu dipenuhi pada emplasement pabrik yang baik adalah
mmpunyai luas yang mampu menampung tebu lebih dari 125 % kapasitas
giling (kapasitas ditambah faktor keamanan) agar kontinuitas giling
terpenuhi, kemudian harus rindang, agar tebu yang ditampung terhindar
dari sinar matahari agar hidrolisa disakarida (sukrosa) menjadi
monosakarida dapat ditekan. Untuk mencegah berhentinya giling maka
penyediaan tebu harus melebihi dari kapasitas giling.
Kemudian Analisa Rendemen Individu (ARI) untuk menetapkan
rendemen masing-masing petak tebu rakyat (TR) dan tebu sendiri (TS).
Semua tebu, baik tebu sendiri (TS) maupun tebu rakyat (TR) harus
dianalisa rendemennya per alat angkut, sesuai ketentuan analisa BHP (Nira
Hidrolic Press). Analisa Rendemen Individu dilakukan di ruang ARI oleh
petugas Litbang.

59

Gambar. Alat NHP

Gambar. Pengambilan sampel ARI

Selain pengawasan kualitas tebu dilakukan juga pengawasan FIFO.


Pengawasan FIFO (First In First Out) dilakukan melalui 2 jalur yaitu lori
dan truk. Untuk tebu lori ditarik dengan loko diesel dan penampungannya
diatur di emplasement dalam pabrik sesuai urutan datang dan digiling
menurut yang datang terlebih dahulu maka itu yang akan diolah terlebih
dahulu. Untuk tebu dari truk mengantri di pos stadion untuk menunggu
guliran masuk emplasement dalam sesuai dengan urutan.
Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut di atas, maka tebu
yang sudah ditebang atau yang berada dalam halaman pabrik untuk
menanti giliran penggilingannya, harus diusahakan agar waktunya
sependek mungkin. Dari emplasement pabrik, kemudian dilakukan
penimbangan sebagai dasar perhitungan dalam pengawasan proses.
c. Mutu Gula
Standar mutu produk gula SHS telah ditetapkan di PG Kedawung.
Hasil gula harus kering dan bersih, diameter kristal merata, gula dikemas
dengan zak plastik/ glangsing yang kuat, tidak bocor dan dalam kemasan
diberi kantong plastik/ innerbag kemudian dijahit rapat agar kondisi stabil,
suhu gula masuk karung 40o C, dan timbangan yang dipergunakan
otomatis agar berat gula tepat.

60

Kriteria sasaran mutu yang ditentukan dianalisa oleh P3GI


Pasuruan. Adapun kriteria sasaran mutu yang ingin dicapai adalah:
Tabel. Standar mutu Gula Produk di PG Kedawung
No.

Kriteria Uji

Satuan

Persyaratan

1.

Polarisasi

Z, 20 C

Min 99,50

2.

Susut Pengeringan

%b/b

Maks 0,15

3.

Abu Konduktiviti

%b/b

Maks 0,15

4.

Warna Larutan (ICUMSA)

IU

Maks 250

5.

Warna Kristal CU

CT

5,0 10,0

6.

Besar Jenis Butir

Mm

0,8 1,2

7.

Belerang Dioksida (SO2)

Mg/kg

Maks 30

(SOP Pengolahan Gula Unit Usaha Kedawung, 2014)


4. Pemeliharaan peralatan
Pemeliharaan mesin dan peralatan perlu dilakukan supaya tidak sering
terjadi kerusakan/ kemacetan dalam berproduksi. Perawatan ini perlu
dilakukan terutama pada saat sebelum waktu kegiatan dimulai.
Sebelum masa giling dimulai, PG Kedawung melakukan testing
peralatan satu sampai dua minggu sebelum dilakukan persiapan giling.
Percobaan (testing) peralatan bertujuan menguji kesiapan dalam menjalankan
semua peralatan yang ada di dalam pabrik sehingga bila ada peralatan yang
belum bekerja dengan baik bisa diperbaiki dengan segera.
Pengoperasian alat pada setiap stasiun diawasi untuk meminimalkan jam
berhenti dari alat tersebut. Selain itu kebersihan dari peralatan yang digunakan
selama proses dimaksudkan agar tidak menghambat jalannya proses produksi.
5. Pengawasan buruh
Dalam perencanaan produksi, penaksiran komponen buruh adalah
penting, sehingga dapat diukur tingkat daya kerja dari buruh. Hal ini dapat
menentukan biaya upah yang akan diterima oleh buruh tersebut. Kinerja dari
karyawan yang bekerja juga dipantau apakah hasil pekerjaan yang dilakukan
memuaskan atau tidak. Karyawan yang masuk ke dalam area pabrik memakai
pengaman seperti helm untuk melindungi kepala.

61

Hasil Produksi Gula di Pabrik Gula Kedawung


Periode

Ton tebu tergiling


Periode ini
S/d periode ini

Ton gula
Periode ini
S/d periode ini

36.415

36.415

1.848

1.848

2
3
4
5
6

32.570
22.110
12.357
38.043
35.651

68.985
91.095
103.452
141.496
177.147

1.958
1.462
730
2.726
2.602

3.806
5.269
5.999
8.725
11.327

Berdasarkan table tersebut, diketahui hasil produksi gula telah mencapai


11.327 ton selama 6 periode giling. Hasil tersebut belum sampai akhir periode
giling pada masa giling tahun 2013/2014. Untuk periode 4 terlihat bahwa ton tebu
tergiling dan ton gula bernilai kecil, hal itu karena pada saat itu bertepatan pada
libur hari Raya Idul Fitri sehingga pabrik sempat berhenti beroperasi selama satu
minggu lebih.

62

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan Kegiatan Magang Kerja yang telah dilakukan di Pabrik Gula
Kedawung mulai tanggal 1 Juli 30 September 2014, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1.

Produksi Gula di Pabrik Gula Kedawung


a. Produksi Gula tidak lepas dari pengawasan bahan baku serta kualitasnya
yang berpengaruh pada gula produk yang dihasilkan.
b. Proses produksi gula di Pabrik Gula Kedawung melewati stasiun Diffuser
(berbeda dari pemerahan gilingan pada umumnya) yang mana mempunyai
perbedaan pada derajat ekstrasinya yang lebih tinggi. Teknologi ini di Asia
hanya ada di India dan Kedawung, Pasuruan, Indonesia.
c. Hal

yang

sangat

diperhatikan

saat

proses

pengolahan

adalah

meminimalkan potensi kehilangan gula sekecil mungkin. Selain itu juga


perlu meminimalkan ampas dan limbah yang terbuang agar efisien.
2. Manajemen Produksi
a. Perencanaan
Perencanaan produksi di Pabrik Gula Kedawung didasarkan pada Rencana
Kegiatan Anggaran Perusahaan dan taksasi Maret. Selain RKAP dan taksasi,
ada juga cara untuk menentukan waktu tebang guna mendapatkan bahan baku
yaitu dengan melakukan analisa pendahuluan.
b. Organisasi
Pabrik Gula Kedawung sbagai salah satu Unit Usaha dari PTPN XI dibawahi
oleh seorang General Manager, yang mana Unit Usaha Kedawung memiliki 4
bagian yaitu AKU, Tanaman, Pengolahan (Pabrikasi), dan Teknik (Instalasi).
Pabrik Gula Kedawung juga memiliki bagian Penelitian dan Pengembangan
yang bertanggung jawab pada analisa pendahuluan, analisa rendemen
individu, pengawasan proses pembibitan, dan lain-lain.

63

c. Pergerakan / Pelaksanaan
Pelaksanaan produksi gula di PG Kedawung tdak terlepas dari adanya
koordinasi antar bagian yang mana semua bagan tersebut saling bekerjasama
untuk memperoleh hasi kinerja yang baik oleh karyawan.
d. Pengawasan
Pengawasan produksi meliputi pengawasan bahan baku, pengawasan mutu
bahan baku dan gula, pengawasan dalam pemeliharaan mesin dan peralatan,
dan pengawasan buruh/ karyawan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk kegiatan magang kerja di Pabrik
Gula Kedawung adalah:
1. Selama proses tebu yang mengantri di empasement luar untuk menunggu
giliran masuk emplasement dalam, seharusnya emplasement luar (stadion/
lapangan) dilengkapi dengan naungan pepohonan. Jika tebu tidak dinaungi
maka akan secara langsung terkena terik matahari dan hal itu bisa
menyebabkan turunnya mutu tebu tersebut.
2. Dalam area proses pengolahan tebu, seharusnya siapapun yang masuk ke dalam
ruang produksi (pabrik) memakai peralatan pengaman.

64

DAFTAR PUSTAKA

Assauri,Sofjan. 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia.
Ahyari, A. 1998. Manajemen Produksi:Perencanaan Sistem Produksi. Jilid 1.
Edisi keempat. BPFE, Yogyakarta.
Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Husein, S. 1998. Ekonomi Gula di Indonesia. Penerbit: Institut Pertanian Bogor.
http://agro.kemenperin.go.id/e-klaster/file/roadmap/KIGJATIM_1.pdf
Ditjenbun.

2014.

Kebutuhan

Gula

Nasional.

(Online).

(http://ditjenbun.pertanian.go.id/setditjenbun/berita-172-dirjenbun-kebutuhan-gula-nasional-mencapai-5700-juta-ton-tahun-2014.html).
Mubyarto.1991. Gula Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media. Yogyakarta.

65

LAMPIRAN
Lampiran 1
Uraian Prosedur Pelaksanaan Magang Kerja
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
1. Tim Pengelola Magang Kerja Jurusan mengatur, menyiapkan dan
memproses pemberangkatan Magang Kerja Mahasiswa. Transportasi
akomodasi dan biaya tempat Magang Kerja di tanggung mahasiswa.
2. Mahasiswa melakukan Magang Kerja dengan efektif kerja selama 3 bulan di
lapangan di bawah bimbingan pembimbing pendamping dari tempat Magang
Kerja.
3. Mahasiswa mendapatkan supervisi dosen pembimbing utama untuk
mendapatkan evaluasi kinerja proses dan hasil Magang Kerja. Dalam proses
supervisi dosen pembimbing utama dapat diwakili Pengelola Magang Kerja.
Bila tempat magang jauh maka supervisi Magang Kerja dapat dibantu oleh
alumni FP-UB di daerah setempat magang atas permohonan Pengelola
Magang Kerja ke Jejaring Alumni.
4. Mahasiswa selama berada di tempat Magang Kerja pada waktu yang
bersamaan melakukan analisis informasi (termasuk data) dan selanjutnya
melakukan penyusunan draft laporan Magang Kerja. Laporan Magang Kerja
tersebut secara bertahap dikonsultasikan kepada pembimbing.
5. Satu minggu sebelum berakhirnya Magang Kerja, Mahasiswa menjalani
evaluasi keberhasilan Magang Kerja oleh pembimbing tempat Magang Kerja
dan mendapatkan pengesahan laporan Magang Kerja. Hasil evaluasi
keberhasilan Magang Kerja oleh pembimbing pendamping lapangan dapat
diserahkan ke mahasiswa dalam amplop terutup dan untuk diteruskan ke
Pengelola Magang Kerja Jurusan.
6. Tim

Pengelola

Magang

Kerja

Jurusan

menerima,

mengarsipkan hasil evaluasi pembimbing pendamping.

mengolah

dan

66

7. Mahasiswa datang sesuai jam kerja tempat Magang Kerja (IK.GJM-FPUB.


04.01.05), wajib datang ke tempat Magang Kerja maksimal 5 menit sebelum
jam kerja dimulai, dan berpakaian rapi (tidak boleh memakai sandal).
8. Mahasiswa yang tidak masuk karena sesuatu hal (sakit) diwajibkan untuk
menyerahkan Surat Keterangan Dokter ke tempat Magang Kerja maksimal 1
hari sesudahnya.
9. Mahasiswa mengisi lembar kehadiran Magang Kerja yang disahkan oleh
pembimbing lapangan.
10. Pembimbing lapangan memberikan materi Magang Kerja disesuaikan
dengan dinamika kerja tempat Magang Kerja mahasiswa dan mengacu pada
proposal Magang Kerja.
11. Pembimbing lapangan menyampaikan rencana proses Magang Kerja kepada
mahasiswa sebagai kontrak Magang Kerja pada minggu I awal Magang
Kerja; dan menjelaskan posisi materi Magang Kerja pada setiap minggunya.
12. Pembimbing lapangan memfasilitasi proses Magang Kerja selama 3 bulan di
lapangan. Dalam sebulan sesuai dengan satuan kredit semester (sks),
mahasiswa memiliki beban tugas Magang Kerja atau penulisan sebanyak 3
sampai 4 jam sehari selama satu bulan, dimana satu bulan dianggap setara
dengan 25 hari kerja.
13. Mahasiswa mengikuti Magang Kerja dengan tertib dan berperan aktif dalam
dinamika kerja di tempat Magang Kerja.
14. Mahasiswa wajib mengerjakan semua tugas yang diberikan tempat Magang
Kerja dengan mengacu pada proposal.
15. Mahasiswa menyampaikan evaluasi persepsi stakeholder tempat magang
kerja terhadap kinerja dari mahasiswa magang kerja untuk diisi pejabat yang
berwenang di tempat magang kerja dan di kembalikan ke Sub Bagian
Akademik Fakultas Pertanian UB.