Anda di halaman 1dari 9

PEMBUATAN SABUN

I.

TUJUAN

Menujukkan reaksi penyabunan pada proses pembuatan sabun di laboratorium

Menghitung banyaknya sabun yang diperoleh

II.

ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan :

Pipet ukur 25 ml

Gelas kimia 250 ml, 600 ml

Pengaduk kaca

Hot plate

Gelas ukur 100 ml

Corong Buchner

Erlenmeyer vakum

Pompa vakum

Bahan yang digunakan :

III.

Padatan NaOH

Aquadest

Etanol 95%

Minyak goreng

Larutan etanol-Air (50-50)

Padatan NaCl

Larutan CaCl

DASAR TEORI
Sabun adalah surfaktan yangdigunakandengan air untukmencucidanme
mbersihkan.Sabunbiasanyaberbentuk padatan tercetak

yang

disebut batang karenasejarahdanbentukumumnya.Sabun ditemukan oleh orang


Mesir kuno (egyptian) beberapa ribu tahun yang lalu. Pembuatan sabun oleh
suku bangsa Jerman dilaporkan oleh Julius Caesar. Teknik pembuatan sabun
dilupakan orang dalam Zaman Kegelapan (Dark Ages), namun ditemukan

kembali selama Renaissance. Penggunaan sabun meluas pada abad ke


18.Banyaksabunmerupakancampuran Gliserida (lelehan lemak sapi atau
lipida lain) dididihkan bersama sama dengan larutan lindi (dulu
digunakan abu kayu karena mengandung K-karbonat tapi sekarang NaOH)
terjadi hidrolisis menjadi gliserol dan garam Sodium dari asam lemak, setelah
sabun terbentuk kedalamnya ditambahkan NaCl agar sabun mengendap dan
dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Gliserol, lindi dan NaCl berlebih
dipisahkan dengan cara destilasi. Sabun yang masih kotor dimurnikan dengan
cara pengendapan berulang ulang (represipitasi). Akhirnya ditambahkan zat
aditif (batu apung, parfum dan zat pewarna)
Jenis jenis Sabun :
1.

Sabun keras atau sabun cuci.

Dibuat dari lemak dengan NaOH, misalnya Na Palmitat dan Na Stearat.


2.

Sabun lunak atau sabun mandi.

Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak dan
minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak
mempunyai dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan
atom karbon 8-12 yang diberikatan ester dengan gliserin.Secara umum, reaksi
antara kaustik dengan gliserol menghasilkan gliserol dan sabun yang disebut
dengan saponifikasi.
Sabun lunak dibuat dari lemak dengan KOH, misalnya K-Palmitat dan KStearat. Sabun mandi merupakan garam logam alkali (biasanya disebut garam
natrium) dari asam lemak. Sabun yang telah berkembang sejak zaman Mesir
kuno berfungsi sebagai alat pembersih.
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak
alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik
dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu
mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu, pada
larutan, surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati
konsentrasi tertentu yang disebut Konsentrasi Kritik Misel (KKM) (Lehninger,
1982).
Untuk kualitas sabun, salah satunya ditentukan oleh pengotor yang
terdapat pada lemak atau minyak yang dipakai. Pengotor itu antara lain berupa
hasil samping hidrilis minyak atau lemak, protein, partikulat, vitamin, pigmen,

senyawa fosfat dan sterol. Selain itu, hasil degradasi minyak selama
penyimpanan akan mempengaruhi bau dan warna sabun. Salah satu kelemahan
sabun adalah pada air keras sabun akan mengendap sebagai lard.
Bilangan penyabunan adalah jumlah milligram KOH yang diperlukan
untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Apabila sejumlah sampel
minyak atau lemak disabunkan dengan larutan KOH berlebih dalam alkohol,
maka KOH akan bereaksi dengan trigliserida, yaitu tiga molekul KOH
bereaksi dengan satu molekul minyak atau lemak. Larutan alkali yang
tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCL sehingga KOH yang
bereaksi dapat diketahui.
Dalam penetapan bilangan penyabunan, biasanya larutan alkali yang
digunakan adalah larutan KOH, yang diukur dengan hati-hati ke dalam tabung
dengan menggunakan buret atau pipet.
Keberadaan sabun yang hanya berfungsi sebagai alat pembersih dirasa
kurang, mengingat pemasaran dan permintaan masyarakat akan nilai lebih dari
sabun mandi. Oleh karena itu, sekarang dikembangkan lagi sabun mandi yang
mempunyai nilai lebih, seperti pelembut kulit, antioksidan, mencegah gatalgatal dan pemutih dengan penampilan (bentuk, aroma, warna) yang menarik.
Perkembangan tersebut disesuaikan dengan perkembangan zat-zat aditif yang
telah ada. Selain itu, perlu ditambahkan zat pengisi (filter) untuk menekan
biaya supaya lebih murah.
Adanya perbedaan komposisi pada lemak dan minyak menyebabkan
sifat fisik berbeda dan hasil lemak serta sabun berbeda pula. Untuk itu, perlu
upaya mencoba pembuatan sabun dengan penambahan zat aditif berupa TiO2
dan EDTA dengan bahan dasar minyak kemasan, dibandingkan dengan
campuran minyak kelapa dan minyak goreng gurah tanpa kemasan dengan
prosedur yang berbeda.
Saat ini, telah ditemukan berbagai macam jenis dari daun-daun, akar,
kacang-kacangan atau biji-bijian yang bisa digunakan untuk membentuk sabun
yang mudah larut dan membawa kotoran dari pakaian. Umumnya sekarang ini
memakai dasar material yang disebut sebagai saponin yang mengandung
pentasiklis triterpena asam karboksilat, seperti asam oleonat atau asam ursolat,
zat kimia berkombinasi dengan molekul gula. Asam ini juga terlihat dalam
keadaan tanpa kombinasi. Saponin lebih dikenal sebagai sabun.

Setiap minyak dan lemak mengandung asam-asam lemak yang


berbeda-beda. Perbedaan tersebut menyebabkan sabun yang terbentuk
mempunyai sifat yang berbeda. Minyak dengan kandungan asam lemak rantai
pendek dan ikatan tak jenuh akan menghasilkan sabun cair. Sedangkan rantai
panjang dan jenuh mengahasilkan sabun yang tak larut pada suhu kamar.
Air keras adalah air yang mengandung ion dari Mg, Ca dan Fe. Namun
kelemahan ini bisa diatasi dengan menambahkan ion fosfat atau karbonat
sehingga ion-ion ini akan mengikat Ca dan Mg pembentuk garam. Untuk
memperoleh sabun yang berfungsi khusus, perlu ditambahkan zat aditif, antara
lain: asam lemak bebas, gliserol, pewarna, aroma, pengkelat dan antioksidan,
penghalus, serta aditif kulit (skin aditif).
Titanium dioksida (TiO2) ditambahkan ke dalam sabun berfungsi
sebagai pemutih sabun dan kulit. Pada konsentrasi kecil (<0,8>). TiO2 ada
dalam tiga bentuk kristal: anatase, brookite, dan rutile. Biasanya diperoleh
secara sintetik. Rutile adalah bentuk yang stabil terhadap perubahan suhu
apabila diperoleh secara luas sebagai monokristal yang transparan.
Titanium dioksida digunakan dalam elektrolit, plastik dan industri
keramik karena sifat listriknya. Selain itu, ia sangat stabil terhadap perubahan
suhu dan resisten terhadap serangan kimia. Ia tereduksi sebagian oleh
hydrogen dan karbon monoksida. Pada 20000 dan vakum, ia tereduksi oleh
karbon membentuk titanium karbida. Jika ada agen pereduksi, ia akan
terklorinasi.
Titanium oksida murni dipreparasi dari titanium tetraklorida yang
dimurnikan dengan destilasi ulang. Kegunaan titanium dioksida antara lain
dalam vitreus enamel, industri elektronik, katalis dan pigmen zat warna. TiO2
adalah zat warna putih yang dominan di usaha karena mempunyai sifat: indek
refraksi tinggi, tidak menyerap sinar tampak, mudah diproduksi sesuai
keinginan, stabilitas tinggi dan non toksik.
EDTA ditambahkan dalam sabun untuk membentuk kompleks
(pengkelat) ion besi yang mengkatalis proses degradasi oksidatif. Degradasi
oksidatif akan memutuskan ikatan rangkap pada asam lemak membentuk
rantai lebih pendek, aldehid dan keton yang berbau tidak enak.
Ditinjau dari jenis dan fungsinya sabun dapat kategorikan sebagai :

1.

Transparant Soap sabun tembus pandang ini tampilannya jernih dan

cenderung memiliki kadar yang ringan. Sabun ini mudah sekali larut karena
mempunyai sifat sukar mengering.
2.

Castile Soap sabun yang memakai nama suatu daerah di Spanyol ini

memakai olive oil untuk formulanya. Sabun ini aman dikonsumsi karena tidak
memakai lemak hewani sama sekali.
3.

Deodorant Soap sabun ini bersifat sangat aktif digunakan untuk

menghilang aroma tak sedap pada bagian tubuh. Tidak dianjurkan digunakan
untuk kulit wajah karena memiliki kandungan yang cukup keras yang dapat
menyebabkan kulit teriritasi.
4.

Acne Soap Sabun ini dikhususkan untuk membunuh bakteri-bakteri

pada jerawat. Seringkali sabun jerawat ini mengakibatkan kulit kering Bila
pemakaiannya dibarengi dengan penggunaan produk anti-acne lain maka kulit
akan sangat teriritasi, sehingga akan lebih baik jika Anda memberi pelembab
atau clarning lotion setelah menggunakan Acne Soap.
5.

Cosmetic Soap atau Bar Cleanser biasanya dijual di gerai-gerai

kecantikan. Harganya jauh lebih mahal dari sabun-sabun biasa karena di


dalamnya terdapat formula khusus seperti pemutih. Cosmetic soap biasanya
memfokuskan formulanya untuk memberihasil tertentu, sepertipada whitening
facial soap dan firming facial soap.
6.

Superfatted Soap

memilikikandunganminyakdanlemaklebihbanyaksehinggamembuatterasalemb
utdankenyal.
Sabuninisangatcocokdigunakanuntukkulitkeringkarenadalamnyaterdapatkandu
ngangliserin, petroleurndan beeswax yang
dapatmelindungimencegahkulitdaniritasidanjerawat.
7.

Oatmeal Soap danhasilpenelitian, gandummempunyaikandungan anti

iritasi. Dibandingkan sabun lain,


sabunganduminilebihbaikdalammenyerapminyakmenghaluskankulitkeringdan
sensitif.
8.

Natural

Soap

sabunalamiinimemiliki

formula

yang

sangatlengkapseperti vitamin, ekstrakbuah, minyaknabati, ekstrakbunga, aloe


veradan essential oil. Cocok untuk semua jenis kulit dan kemungkinan
membahayakan kulit sangat kecil

Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang


plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan
larut dalam zat zata non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan
larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun
secara keseluruhan tidaklah benar benar larut dalam air. Namun sabun
mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni
kumpulan (50 150) molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya
mengelompok dengan ujung ujung ionnya menghadap ke air.
Sifat umum Sabun dan Detergen:
1.

Bersifat basa
R C-O- + H2O

2.

R C-OH + OH-

Tidak berbuih di air sadah (Garam Ca, Mg dari Khlorida dan Sulfat)

C17H35COONa + CaCl2
3.

Ca (C17H35COO)2 + NaCl

Bersifatmembersihkan

R- (non polar danHidrofob)


akanmembelahmolekulminyakdankotoranmenjadipartikel yang
lebihkecilsehingga air
mudahmembentukemulsidengankotorandanmudahdipisahkan. Sedangkan -CO- (polar dan Hidrofil) akan larut dalam air membentuk buih dan mengikat
partikel partikel kotoran sehingga terbentuk emulsi.
Suatu gambaran dari stearat terdiri dari ion karboksil sebagaikepala dengan
hidrokarbon yang panjang sebagai ekor :
HHHHHHHHHHHHHHHHH O
H C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-C-O
HHHHHHHHHHHHHHHHH
Dengan adanya minyak, lemak, dan bahan organik tidak larut dalam air
lainnya, kecenderungan untuk ekor dan anion melarut dalam bahan organik,
sedangkan bagian kepala tetap tinggal dalam larutan air. Oleh karena itu
sabun mengemulsi atau mensuspensi bahan organik dalam air. Dalam proses
ini, anion-anion membentuk partikel-partikel koloid micelle.
Keuntungan yang utama sebagai bahan pencuci karena terjadi reaksi dengan
kation-kation divalen membentuk garam-garam dari asam lemak yang tidak
larut. Padatan-padatan tidak larut ini, biasanya garam-garam dari magnesium
dan kalsium.

2 C17H35COO- Na+ Ca2+

Ca (C17H35CO2)2 (s) + 2 Na+

Sabun yang masuk kedalam buangan air atau suatu sistem ekuatik
biasanya langsung terendap sebagai garam garam kalsium dan magnesium.
Oleh karena itu beberapa pengaruh dari sabun dalam larutan mungkin dapat
dihilangkan. Akibatnya dengan biodegradasi, sabun secara sempurna dapat
dihilangkan dari lingkungan.
Formula yang perlu dihindari dari sebatang sabun :
Sodium Hydroxide & Alkaline - menyebabkan kulit teriritasi dan kering.
Anti bacterial formula - hanya membersihkan bagian luar tapi tidak
mematikan kuman dan bakteri yang ada pada jerawat.
Lemak hewani - mengakibatkan jerawat.
PH di atas 7 meningkatkan keberadaan Propionobacteria bakteri penyebab
jerawat.

IV.

PROSEDUR KERJA
Pembuatan Sabun
a. Membuat larutan NaOH dengan melarutkan 10 gram NaOH ke dalam
campuran 18 ml air dan 18 ml etanol 95%
b. Menimbang 10 gram minyak dan masukkan kedalam gelas kimia 250 ml dan
larutan bag. A ditambahkan kedalam minyak
c. Menyiapkan 40 ml larutan etanol-air 50-50
d. Menambahkan setengah larutan etanol air kedalam larutan bag. B dan
setengahnya lagi ditambahkan tetes demi tetes pada saat pemanasan.
e. Memanaskan campuran dengan ot plate
f. Membuat larutan NaCl dari 50 gram NaCl dan 150 ml air
g. Menambahkan larutan sponifikasi kedalam larutan NaCl dan campuran
dihomogenkan dan dinginkan sampai suhu kamar
h. Menyaring larutan dengan pompa vakum
i. Endapan yang terbentuk dicuci dengan aquadet
j. Endapan yang telah dicuci dipindahkan ke petridisk yang telah diketahui
bobotnya
k. Keringkan selama 3 hari

l. Hitung bobot sabun yang terbentuk

Uji Ketinggian Sabun


a. Memasukkan 1 spatula sabun yang diperoleh kedalam tabung reaksi
b. Kocok dengan kuat selama 30 detik dan diamkan sampai terbentu busa
c. Ukur ketinggian busa dengan mistar
d. Lakukan hal yang sama dengan menambahkan CaCl2 1 ml
e. Ukur ketinggian busa yang menggunakan CaCl2 dengan menggunakan mistar

V.

DATA PENGAMATAN

Berat NaOH

= 10,0290 gram

Berat minyak

= 10,04 gram

Berat NaaCl

= 50,0655 gram

Berat petridisk

= 29,0060 gram

Berat kertas saring

= 28,7730 gram

Berat petridisk + k.saring+sample

= 42,4247 gram

Tinggi busa dengan aquadest

= 4,5 cm

Tinggi busa dengan CaCl2

= 5 cm

VI.

PERHITUNGAN
Bobot sabun = (berat petridisk + kertas saring + sampel) berat petridisk
berat kertas saring
= 42,4247 gram 29,0060 gram 0,2344 gram
= 13, 1897 gram

VII.

PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, yaitu pembuatan sabun. Reaksi

pembentukkan sabun dari minyak dilakukan dengan mereaksikannya suatu alkali


(NaOH). Reaksi ini disebut dengan reaksi Saponifikasi (penyabunan).

Penambahan larutan NaOH berfungsi sebagai penetralisir asam karena NaOH


bersifat basa. Basa yang digunakan adalah NaOH agar diperoleh sabun yang padat.
Tetapi jika digunakan basa KOH maka yang diperoleh adalah sabun cair (lunak).
Pada percobaan ini, penambahan NaCl merupakan komponen kunci dalam
proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena
kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dapat memperkeras struktr sabun. NaCl yang
digunakan umumnya berbentuk air garam

(brine) atau padatan (Kristal). NaCl

digunakan untuk memisahkan produk sabun gliserin. Gliserin tidak mengalami


pengendapan dalam brine Karena kelarutannya yang tinggi . sedangkan sabun akan
mengendap. naCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun
yang berkualitas. Sabun yang dihasilkan bertekstur kasar atau keras. Hal ini
dikarenakan minyak kelapa yang digunakan dihidrolisis menggunakan NaOH. Sabun
yang diperoleh berwarna putih karena tidak ada penambahan pewarna pada saat
proses pembuatan sehingga diperoleh warna asli hasil dari reaksi sponifikasi. Berbau
khas lemak/minyak ini karena sabun yang kami buat terbuat dari minyak goring dan
tanpa penambahan zat pewangi.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :

IX.

Sabun merupakan suatu garam dari asam karboksilat tinggi (berantai panjang)

Dari hasil percobaan diperoleh berat sabun = 13, 1897 gram

DAFTAR PUSTAKA
Anconim, A.2009.Komponen
PembuatanSabun.http://naturalmilkshop.blogspot.com
Rohman, saepul.2009.Bahan Pembuatan Sabun. http://majarimagazine.com
www.wikipedia.ac.id
Kimia dahsyatdiposkanolehdodycatur p label : kimia SMU Kelas XI