Anda di halaman 1dari 50

Manajemen Konstruksi

Disusun sebagai tugas dalam mata-kuliah


Manajemen Konstruksi
oleh :

Riski Munandar
Multazam
Sarwo Edhi

0804101010092
0804101010087
0804101010082

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2010

MANAJEMEN KONSTRUKSI

1.1 DEFINISI
Manajemen Proyek adalah penerapan pengetahuan, ketrampilan, sarana dan teknik pada
kegiatan proyek agar dapat memenuhi kebutuhan stakeholder dan harapan dari sebuah
proyek.
Yang dimaksud dengan proyek adalah suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu
yang dibatasi oleh waktu dan sumber daya yang terbatas. Sehingga pengertian proyek
konstruksi adalah suatu upaya untuk mencapai suatu hasil dalam bentunk bangunan atau
infrastruktur. Bangunan ini pada umumnya mencakup pekerjaan pokok yang termasuk di
dalamnya bidang teknik sipil dan arsitektur, juga tidak jarang melibatkan disiplin lain
seperti teknik industri, teknik mesin, elektro dan sebagainya.

Manajemen proyek konstruksi adalah proses penerapan fungsi-fungsi manajemen


(perencanaan, pelaksanaan dan penerapan) secara sistimatis pada suatu proyek dengan
menggunkan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien agar tercapai tujuan proyek
secara optimal.

Manajemen Konstruksi meliputi mutu fisik konstruksi, biaya dan waktu. manajemen
material dan manjemen tenaga kerja yang akan lebih ditekankan. Hal itu dikarenakan
manajemen perencanaan berperan hanya 20% dan sisanya manajemen pelaksanaan
termasuk didalamnya pengendalian biaya dan waktu proyek.
Kebutuhan sumber daya atau faktor-faktor produksi pada saat pelaksanaan konstruksi,
urutan pelaksanaan, serta metode/teknologi yang diperlukan dan lain-lain dapat
ditentukan pada tahap perencanaan kerja oleh pelaksana/pemborong/kontraktor, untuk
mendapatkan hasil yang optimal seperti penanaman modal yang minimum dan
Halaman

|2

memperoleh keuntungan yang maksimum, dengan tetap memenuhi syarat-syarat teknis


dan administrasi proyek, tanpa mengurangi mutu konstruksi jalan dan jembatan tersebut.
Untuk mencapai tujuan proyek maka pada saat pelaksanaan konstruksi perlu dilakukan
pengawasan yang baik, sehingga proyek dapat diselesaikan pada batas waktu yang
ditetapkan dan memenuhi mutu yang disyaratkan. Dapat disimpulkan definisi
managemen konstruksi sebagai berikut:

Manajemen konstruksi adalah merupakan pengelolaan perencanaan


rencana kerja), pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek
dari awal pelaksanaan pekerjaan sampai selesainya proyek secara
efektif dan efisien, untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan tepat
waktu, tepat biaya, dan tepat mutu (Ervianto,2003).

Manajemen konstruksi memiliki beberapa fungsi antara lain :


1. Sebagai Quality Control untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan
pelaksanaan
2. Mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi lapangan yang tidak pasti dan
mengatasi kendala terbatasnya waktupelaksanaan
3. Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai, hal itu dilakukan
dengan opname (laporan) harian, mingguan dan bulanan
4. Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan pengambilan keputusan terhadap masalahmasalah yang terjadi di lapangan
5. Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sistem informasi yang baikuntuk
menganalisis performa dilapangan
1.2 TUJUAN MANAJEMEN KONSTRUKSI
Tujuan Manajemen Konstruksi adalah mengelola fungsi manajemen atau mengatur
pelaksanaan pembangunan sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil optimal sesuai
Halaman

|3

dengan persyaratan (spesification) untuk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu


diperhatikan pula mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu
pelaksanaan Dalam rangka pencapaian hasil ini selalu diusahakan
pelaksanaan pengawasan mutu ( Quality Control ) , pengawasan biaya ( Cost Control )
dan pengawasan waktu pelaksanaan ( Time Control ).

Penerapan konsep manajemen konstruksi yang baik adalah mulai tahap rencanaan,
namun dapat juga pada tahap - tahap lain sesuai dengan tujuan dan kondisi proyek
tersebut sehingga konsep MK dapat diterapkan pada tahap - tahap proyek sebagai
berikut

1. Manajemen Konstruksi dilaksanakan pada seluruh tahapan proyek. Pengelolaan


proyek dengan sistem MK, disini mencakup pengelolaan teknis operasional proyek,
dalam bentuk masukan - masukan dan atau keputusan yang berkaitan dengan teknis
operasional proyek konstruksi, yang mencakup seluruh tahapan proyek, mulai dari
persiapan, perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penyerahan proyek.
2. Tim MK sudah berperan sejak awal disain, pelelangan dan pelaksanaan proyek
selesai, setelah suatu proyek dinyatakan layak ('feasible ") mulai dari tahap disain.
3. Tim MK akan memberikan masukan dan atau keputusan dalam penyempurnaan
disain sampai proyek selesai, apabila manajemen konstruksi dilaksanakan setelah
tahap disain
4. MK berfungsi sebagai koordinator pengelolaan pelaksanaan dan melaksanakan
fungsi pengendalian atau pengawasan, apabila manajemen konstruksi dilaksanakan
mulai tahap pelaksanaan dengan menekankan pemisahan kontrak - kontrak
pelaksanaan untuk kontraktor.

Pada hakekatnya manajemen konstruksi ada 2 (dua) pemahaman yang pada


pelaksanaannya menjadi satu kesatuan dalam mencapai tujuan proyek yaitu:

Teknologi Konstruksi (Construction Technology): mempelajari metode atau teknik


tahapan melaksanakan pekerjaan dalam mewujudkan bangunan fisik disuatu lokasi
proyek, sesuai dengan kaidah teknis/spesifikasi teknik yang disyaratkan
Halaman

|4

Manajemen Konstruksi (Construction Management) adalah bagaimana sumber daya


(manusia, material, peralatan, keuangan, metode/teknologi) yang terlibat dalam
pekerjaan dapat dikelola secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan proyek,
sesuai dengan ketentuan/hukum yang berhubungan dengan konstruksi

Manajemen konstruksi telah diakui sebagai suatu cabang manajemen yang khusus, yang
dikembangkan dengan tujuan untuk dapat melakukan koordinasi dan pengendalian atas
beberapa kegiatan pelaksanaan proyek yang sifatnya kompleks.
Dengan demikian, teknik/manajemen yang dapat mengakomodasi kebutuhan sumber daya
konstruksi selalu dilakukan peninjauan dan penyesuaian terus menerus, setiap saat dalam
menyelesaikan pelaksanaan pekerjaan yang sedang berjalan.

1.3 PERANAN MANAJEMEN KONSTRUKSI


Peranan MK pada tahapan proyek konstruksi dapat dibagi menjadi :

Agency Construction Manajement (ACM)

Pada sistim ini konsultan manajemen konstruksi mendapat tugas dari pihak pemilik dan
berfungsi sebagai koordinator "penghubung" (interface) antara perancangan dan
pelaksanaan serta antar para kontraktor. Konsultan MK dapat mulai dilibatkan mulai dari
fase perencanaan tetapi tidak menjamin waktu penyelesaian proyek, biaya total serta
mutu bangunan. Pihak pemilik mengadakan ikatan kontrak langsung dengan beberapa
kontraktor sesuai dengan paket-paket pekerjaan yang telah disiapkan.

Extended Service Construction Manajemen (ESCM)

Jasa konsultan MK dapat diberikan oleh pihak perencana atau pihak kontraktor. Apabila
perencana melakukan jasa Manajemen Konstruksi, akan terjadi "konflik-kepentingan"
karena peninjauan terhadap proses perancangan tersebut dilakukan oleh konsultan
perencana itu sendiri, sehingga hal ini akan menjadi suatu kelemahan pada sistim ini Pada
type yang lain kemungkinan melakukan jasa Manajemen Konstruksi berdasarkan
Halaman

|5

permintaan Pemilik ESCM/ KONTRAKTOR.

Owner Construction Management (OCM)

Dalam hal ini pemilik mengembangkan bagian manajemen konstruksi profesional yang
bertanggungjawab terhadap manajemen proyek yang dilaksanakan

Guaranted Maximum Price Construction Management (GMPCM)

Konsultan ini bertindak lebih kearah kontraktor umum daripada sebagai wakil pemilik.
Disini konsultan GMPCM tidak melakukan pekerjaan konstruksi tetapi bertanggungjawab
kepada pemilik mengenai waktu, biaya dan mutu. Jadi dalam Surat Perjanjian Kerja/
Kontrak konsultan GMPCM tipe ini bertindak sebagai pemberi kerja terhadap para
kontraktor (sub kontraktor).

Dalam pencapaian tujuan telah ditentukan 3 batasan

Besarnya Biaya (Anggaran) yang dialokasikan


Jadwal yang harus dipenuhi
Mutu yang harus dipenuhi
Ketiganya disebut dengan tiga kendala (triple contrain) ketiganya merupakan parameter
penting bagi penyelenggaraan proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek
Ketiga batasan tersebut bersifat tarik menarik, dapat digambarkan seperti gambar di
bawah

) yang dialokasikan

Halaman

|6

BIAYA ANGGARAN

Jadwal Waktu

Mutu Kerja

Gbr.1 Sasaran Proyek yang juga merupakan tiga kendala

Proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi dua jenis


kelompok bangunan :

Bangunan Gedung (rumah, kantor, pabrik dsb)


Ciri-ciri dari bangunan gedung adalah :

Proyek konstruksi yang mengasilkan tempat orang bekerja atautinggal

Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang relatif sempit

Dibutuhkan manajemen terutama untuk progressing pekerjaan

Bangunan Sipil (jalan, jembatan, bendungan, dan


infrastruktur)
Ciri-ciri dari bangunan sipil adalah :

Proyek konstruksi yang digunakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi
kepentingan manusia

Dilaksanakan pada lokasi yang luas dan panjang

Manajemen diperlukan untuk memecahkan masalah

Halaman

|7

Planning Process

Closing Process

Initiating Process

Executing Process
Gbr 2. Proses Manajemen Konstruksi

1.4 UNSUR-UNSUR MANAJEMEN


Komponen-komponen sistem yang berupa unsur atau subsistem terkait satu dengan yang
lain dalam suatu rangkaian yang membentuk sistem Fungsi dan efektifitas sistem dalam
usaha maencapai tujuannya tergantung dari ketepatan susunan rangkaian atau struktur
tehadap tujuan yang telah ditentukan.
Bersifat Dinamis
Sistem menunjukan sifat yang dinamis, dengan prilaku tertentu. Prilaku sistem umumnya
dapat diamati pada caranya mengkonversikan masukkan (input) menjadi hasil (output).
Sistem Terpadu Lebih Besar Daripada Jumlah Komponen-komponennya Bila elemen atau
bagian tersebut tersusun atau terorganisir secara benar, maka akan terjalin satu sistem
terpadu yang lebih besar dari pada jumlah bagiannya.
Mempunyai Arti yang Berbeda
Satu sistem yang sama mungkin dipandang atau diartikan berbeda, tergantung siapa yang
mengamatinya dan untuk kepentingan apa.
Mempunyai Sasaran yang Jelas
Salah satu tanda keberadaan sistem adalah adanya tujuan atau sasaran yang jelas.
Umumnya identifikasi tujuan merupakan langkah awal untuk mengetahui perilaku suatu
sistem dan bagiannya.
Halaman

|8

Mempunyai Keterbatasan
Disebabkan oleh faktor luar dan dalam. Faktor luar berupa hambatan dari lingkungan,
sedangkan faktor dari dalam adalah keterbatasan sumber daya.

1.5 SIKLUS DAN PROSES SISTEM


Aspek penting dari pendekatan sistem terletek pada siklus sistem dan prosesnya, yaitu
perubahan teratur yang mengikuti pola dasar tertentu dan terjadi selama sistem masih
aktif.
Penahapan Dalam Siklus Sistem
Proses mewujudkan sisrtem untuk keperluan operasi atau produksi sampai siklus sistem
berhenti berfungsi dikelompokan menjadi beberapa tahap yang dibedakan atas jenis
kegiatan yang dominant.
Pada suatu penyelenggaraan proyek, untuk mencapai tujuan proyek dilakukan pendekatan
yang disebut manajemen proyek, yaitu penentuan cakupan dan tahapan-tahapan kegiatan
proyek serta peranan/tugas penyelenggara proyek menyangkut hak dan kewajiban antara
pengguna jasa dan penyedia jasa.
Penerima hak kontrak jasa pelaksanaan konstruksi sebagai penyedia jasa akan melakukan
koordinasi menyiapkan kebutuhan sumber daya konstruksi meliputi keuangan/dana,
manusia/tenaga kerja/ahli, material, peralatan dan menyusun metoda kerja.
Umumnya pimpinan pelaksana yang ditugaskan dilapangan telah berpengalaman
melaksanakan pekerjaan konstruksi, tetapi tidak berarti bahwa sudah menguasai manajemen
proyek secara menyeluruh dan mendetail, menganalisa secara teliti setiap kegiatan dan
kesulitan pelaksanaan konstruksi jalan dan jembatan.
Adapun hubungan antara masing-masing kegiatan dan fungsi dapat digambarkan merupakan
suatu hubungan siklus manajemen proyek sebagai berikut:

Halaman

|9

Gbr. 3 Hubungan siklus manajemen proyek/konstruksi


Keterangan gambar:
- P = planning; perencanaan/rencana kerja
- O = organizing; organisasi kerja
- A = actuating; pelaksanaan pekerjaan
- C = controlling; kontrol/pengendalian kerja

Manajemen proyek dimulai dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:


a) perencanaan/rencana kerja (planning) yaitu kegiatan menyiapkan rencana kerja sesuai
dengan metode konstruksi terhadap semua urutan kegiatan yang akan dilakukan dan waktu
yang diperlukan pada setiap kegiatan pelaksanaan proyek. Adapun hal-hal yang menyangkut
kegiatan rencana kerja dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Rencana kerja yang disusun meliputi:
1) penentuan urutan/tahapan kegiatan pekerjaan;
2) prosedur pengawasan pekerjaan;
3) prosedur persetujuan gambar, baik gambar kerja (shop drawing)
maupun gambar terbangun (as built drawing);
4) prosedur pengujian bahan dan hasil pekerjaan;
5) penentuan standar rujukan dan standar operasi pelaksanaan;
6) prosedur perubahan pekerjaan;
7) prosedur pengadaan barang;
8) prosedur pengamanan proyek;
Halaman

| 10

9) prosedur keuangan;
10) prosedur lainnya disesuaikan situasi dan konsisi proyek.

- Manfaat dan kegunaan rencana kerja adalah :


1) alat koordinasi bagi pimpinan, pimpinan pelaksana dapat memanfaatkan rencana kerja
untuk melakukan koordinasi terhadap semua kegiatan pelaksanaan konstruksi di lapangan;
2) pedoman kerja para pelaksana, rencana kerja dapat dijadikan pedoman bagi para
pelaksana konstruksi di lapangan terhadap urutan kegiatan dan batas waktu penyelesaian
pekerjaan untuk setiap item pekerjaan;
3) alat untuk menilai kemajuan pekerjaan, kemajuan pekerjaan dapat dipantau dari realisasi
yang dicapai dibandingan rencana terhadap waktu kegiatan dari setiap item pekerjaan;
4) alat untuk evaluasi pekerjaan, evaluasi pekerjaan terhadap prestasi yang dicapai yaitu
selisih rencana dan realisasi yang akan dipakai sebagai bahan evaluasi untuk menetapkan
rencana selanjutnya.

- Data-data untuk rencana kerja


Adapun data-data yang perlu dikumpulkan sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun
rencana kerja pelaksanaan konstruksi, antara lain:
1) lokasi quarry, termasuk persiapan yang diperlukan, jalan masuk dan jembatanjembatan, harga dan jumlah/jenis material yang akan digunakan;
2) rencana lokasi base camp, dipilih lokasi yang mempunyai pengaruh pengangkutan
yang terkecil ke lokasi pelaksanaan proyek. Jika dimungkinkan lokasi base camp dan
quarry dapat diletakkan pada satu lokasi sehingga angkutan material lebih efisien;
3) keadaan topografi lokasi proyek, hal ini akan menentukan metode pelaksanaan yang
berbeda-beda untuk daerah datar, bukit dan gunung;
4) data curah hujan di lokasi proyek, untuk memperhitungkan waktu kerja masingmasing item kegiatan terhadap pengaruh musim hujan
5) kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di jalur pengangkutan material,
jalan rusak/sempit, daerah padat penduduk/lalu lintas, kondisi jembatan, sarana
utilitas kemungkinan terganggu (telepon, PLN, PAM, Gas, irigasi, dll), adat penduduk
dan sumbangan proyek untuk penduduk, dan gangguan terhadap fasilitas umum
lainnya;

Halaman

| 11

6) pengadaan peralatan konstruksi jalan dan jembatan, jalur mobilisasi dan agen/suplier
alat-alat/ suku cadang konstruksi yang mendukung kelancaran pelaksanaan proyek;
7) sumber daya manusia, kemampuan tenaga kerja yang ada disekitar proyek,
kemungkinan dapat bekerja diproyek berdasarkan kriteria keahliannya;
8) fasilitas komunikasi dan akomodasi;
9) fasilitas keselamatan dan kesehatan (K 3) , puskesmas/rumah sakit, dokter,
apotik/toko obat, dll;
10) fasilitas jaringan listrik dan air, PLN dan PAM;
11) fasilitas stasiun bahan bakar minyak (BBM), aspal, dll;
12) fasilitas perbankan disekitar proyek;
13) fasilitas stasiun pemadam kebakaran, peralatan pemadam, dll;
14) fasilitas bantuan dari instansi-instansi pemerintah pada proyek;
15) pekerjaan pemeliharaan rutin pada jalan masuk dan jembatanjembatan;
16) kemungkinan adanya revisi desain dan konstruksi;
17) kemungkinan adanya pekerjaan tambahan dan item pekerjaan baru;
18) kemungkinan adanya peristiwa kompensasi yang dapat mempengaruhi rencana
kerja;
19) kemungkinan adanya peraturan/kebijaksanaan pemerintah mengenai moneter,
keadaan darurat militer/sipil;
20) lingkungan hidup yang tidak boleh terganggu, cagar alam, bangunan bersejarah atau
makam pahlawan, dll;
21) data-data lain yang berguna.

b. organisasi kerja (organizing) yaitu kegiatan pembentukan organisasi kerja yang akan
ditugasi melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dipimpin oleh seorang ahli
pelaksana jalan dan jembatan yaitu Pimpinan Pelaksana (General Superintendent/
GS). Dalam organisasi ini, samping General Superintendent/ GS ditentukan jabatanjabatan lainnya seperti pimpinan-pimpinan ivisi proyek (peralatan, laboratorium,
jalan, jembatan, pengukuran, logistik, umum, base camp) endahara proyek, pengawas
pelaksanaan proyek, dan sebagainya. Setiap jabatan diuraikan tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya dalam melaksanakan pengendalian pelaksanaan konstruksi

Halaman

| 12

c.

pelaksanaan pekerjaan (actuating) yaitu merupakan aktualisasi pelaksanaan dari


perencanaan dan pengorganisasian yang telah diuraikan diatas dalam pelaksanaan
konstruksi.

d. kontrol/pengendalian kerja (controlling) yaitu kegiatan pengawasan terhadap


pelaksanaan pekerjaan meliputi kegiatan: pemeriksaan, pengujian apakah
pelaksanaan konstruksi sesuai dengan prosedur dan rujukan yang telah ditetapkan
dalam pelaksanaan.

1.6 SIKLUS SISTEM DAN SIKLUS BIAYA


Dalam rangka mewujudkan gagasan menjadi kenyataan fisik, maka perlu penilaian
menyeluruh terhadapsistem yang bersangkutan. Yang dinilai adalah karakteristik sistem
yang dijabarkan sebagai parameter, spesifikasi,dan criteria terhadap biaya yang
diperlukan. Siklus biaya (life cycle cost), mencakup semua biaya yang diperlukan selama
periode siklus sistem, yaitu dari penelitian dan pengembangan, desain engineering,
manufaktur dan kontruksi, sampai pada opersai atau produksi atau utilisasi dan
pemeliharaan.

Gbr.4 - Persentase Biaya Konstruksi

Halaman

| 13

1.7 TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROYEK


KONSTRUKSI
Kegiatan konstruksi adalah kegiatan yang harus melalui suatu proses yang panjang yang
di dalamnya dijumpaibanyak masalah yang harus diselesaikan.

Adanya Kebutuhan (Need)


Semua proyek konsruksi biasanya dimulai dari gagasan dibangun berdasarkan kebutuhan
(Need)

Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)


Pada tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang
diusulkan layak untuk dilaksanakan

Kegiatan yang dilaksanakan :


Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya
Meramalkan manfaat yang akan diperoleh
Menyusun analisis kelayakan proyek
Menganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi

Halaman

| 14

Tahap Penjelasan (Briefing)


Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan
sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat menafsirkan keinginan pemilik.
Kegiatan yang dilaksanakan :
Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga
ahli
Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan
lapangan, merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan
mutu.
Menyiapkan ruang lingkup kerja, jadwal, serta rencana pelaksanaan
Membuat sketsa dengan skala tertentu sehingga dapat

Tahap Perancangan (Design)


Pada tahap ini adalah melakukan perancangan (design) yang lebih mendetail sesuai
dengan keinginan dari pemilik. Seperti membuat Gambar rencana, spesifikasi, rencana
anggaran biaya (RAB), metoda pelaksanaan, dan sebagainya.

Kegiatan yang dilaksanakan :


Mengembangkan ikthisiar proyek menjadi penyelesaian akhir
Memeriksa masalah teknis.
Meminta persetujuan akhir dari pemilik proyekbarkan

denah dan

Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)


Pada tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kontraktor yang akan mengerjakan proyek
konstruksi tersebut, atau bahkan mencari sub kontraktornya
Kegiatan yang dilaksanakan :
Prakulaifikasi
Dokumen Kontrak

Halaman

| 15

Konstruksi (Construction)
Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik
proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya, waktu yang
sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan. Kegiatan yang dilaksanakan
adalah merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan semua oprasional di lapangan
:
Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah

Perencanaan dan pengendalian jadwal waktu pelaksanaan

Perencanaan dan pengendalian organisasi lapangan

Perencanaan dan pengendalian tenaga kerja

Perencanaan dan pengendalian peralatan dan material

Kegiatan Koordinasi

Mengkoordinasikan seruh kegiatan pembangunan

Mengkoordinasi para sub kontraktor

Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (Maintenance & Start Up)


Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah sesuai dengan
dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya.
Kegiatan yang dilakukan adalah :

Mempersiapkan data-data pelaksanaan, baik berupa data-data

selama pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as build drawing)

Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakankerusakan

Mempersiapkan petunjuk oprasional/pelaksanaan serta pedoman

pemeliharaan.

Melatih staff untuk melaksanakan pemeliharaan

Atau:
a. Mengkoordinir, mengarahkan, mengontrol.
b. Mengkoordinir pelaksanaan operasional.
c. Mengarahkan dan memeriksa as build drawing.
d. Mengarahkan dan memeriksa secara manual.
Halaman

| 16

e. Memproses : garansi, jaminan, sertifikat, peralatan, dan training operator.

Gbr 5. Pengaruh tahapan proyek terhadap biaya

1.8 MANFAAT MANAJEMEN KONSTRUKSI


Manfaat manajemen konstruksi jika dibandingkan dengan sistem tradisional dapat dilihat
dari beberapa segi.
1. Segi Biaya Proyek
a. Biaya optimal proyek dapat dicapai karena tim MK sedah berpartisipasi pada tahap
perencanaan.
b. Biaya pembangunan keseluruhan proyek dapat dihemat dibandingkan dengan sistem
tradisionil karena tidak ada pembebeanan ganda dari keuntungan Kontraktor, dan Sub
kontraktornya.

Halaman

| 17

2. Segi Waktu
a. Dengan sistem Fast Track.
b. Waktu yang dipergunakan untuk perencanaan dan rancangan bangunan dapat
lebih panjang sebingga kualitas desain semakin sempurna.
c. Pengadaan material/peralatan import dapat diukur secara dini sebingga
kemungkinan terlambat karena proses import dapat dihindarkan.
3. Segi Kualitas
a. Mutu lebih terjamin karena tim MK ikut membantu kontraktor dalam hal metode
pelaksanaan , implementsi, dan Quality Control.
b. Mutu dan kemampuan kontraktor spesialis lebih terseleksi oleh pemilik proyek
dibantu dengan tim MK.
c. Kesempatan untuk penyempurnaan rancangan relative banyak karena paket yang
dilelang dilakukan secara bertahap dan paket per paket.
4. Segi Program Pemerintah
a. Pemerataan kesempatan pekerjaan dengan paket-paket kepada pengusaha
kontraktor yang baru berkembang dapat direalisir.
b. Pemilik proyek tidak perlu menyediakan banyak staf karena praktis semua
keinginannya dapat ditangani dengan baik melalui pendekatan metode MK.

1.9 ISTILAH DAN DEFINISI DALAM MANAJEMEN KONSTRUKSI


1.9.1 Akreditasi
proses penilaian yang dilakukan oleh lembaga terhadap:

asosiasi perusahaan jasa konstruksi dan asosiasi profesi jasa konstruksi atas
kompetensi dan kinerja asosiasi untuk dapat melakukan sertifikasi anggota asosiasi;

institusi pendidikan dan pelatihan jasa konstruksi atas kompetensi dan kinerja
institusi tersebut untuk dapat menerbitkan sertifikat keterampilan kerja dan atau
sertifikat keahlian kerja

[Keppres No. 80 Tahun 2003]


Halaman

| 18

1.9.2 ARBITER
orang yang ditunjuk atas kesepakatan pengguna jasa dan penyedia jasa, atau ditunjuk
oleh pengadilan negeri, atau ditunjuk oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan
mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase.
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.3 berita acara penyerahan akhir (defect liability certificate)


berita acara yang dikeluarkan oleh Direksi Perkerjaan setelah cacat mutu tersebut
diperbaiki oleh kontraktor

1.9.4 Cacat mutu


bagian pekerjaan yang dikerjakan tidak mengikuti ketentuan dan spesifikasi yang
terdapat di Dokumen Kontrak

1.9.5 Daerah manfaat jalan (damaja)


ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi dan kedalaman ruang bebas
tertentu yang ditetapkan oleh Pembinan Jalan (rumaja)
[Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985]

1.9.6 Direksi pekerjaan


pejabat atau orang yang ditentukan dalam syarat-syarat khusus kontrak untuk mengelola
administrasi kontrak dan mengendalikan pekerjaan. Pada umumnya direksi pekerjaan
dijabat oleh pengguna jasa, namun dapat dijabat oleh orang lain yang ditunjuk oleh
pengguna jasa
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.7 Dokumen kualifikasi


dokumen yang disiapkan oleh panitia pengadaan dan ditetapkan oleh pengguna jasa
sebagai pedoman dalam proses pembuatan dan penyampaian data kualifikasi oleh
penyedia jasa
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004}
Halaman

| 19

1.9.8 Dokumen kontrak


keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa
dan penyedia jasa untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan, yang
terdiri dari:
a) Surat perjanjian;
b) Surat penunjukan penyedia jasa;
c) Surat penawaran;
d) Adendum dokumen lelang (bila ada);
e) Syarat-syarat khusus kontrak;
f) Syarat-syarat umum kontrak;
g) Spesifikasi teknis;
h) Gambar-gambar;
i) Daftar kuantitas dan harga;
j) Dokumen lain yang tercantum dalam lampiran kontrak.
[Kepmen Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004]
1.9.9 Forum jasa konstruksi
sarana komunikasi dan konsultasi antara masyarakat jasa konstruksi dan Pemerintah
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah jasa konstruksi nasional yang bersifat
nasional, independen, dan mandiri
[Undang-Undang No. 18 Tahun 1999]
1.9.10 Gambar kerja
gambar mencakup perhitungannya dan keterangan lain yang disediakan atau disetujui
oleh Direksi Pekerjaan untuk pelaksanaan pekerjaan

1.9.11 Harga kontrak


harga yang tercantum dalam Surat Penunjukan Penyedia Jasa yang selanjutnya
disesuaikan menurut ketentuan kontrak
[Kepmen Kimpraswil No.257KPTS/M/2004]
1.9.11 Harga kontrak awal
harga kontrak yang tercantum dalam Surat Penunjukan Pemenang Lelang
Halaman

| 20

1.9.12 Jasa konstruksi


layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan
pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi
[Undang-Undang No. 18 Tahun 1999]
1.9.13 Jasa konsultansi
layanan jasa keahlian profesional dalam berbagai bidang yang meliputi jasa perencanaan
dan pengawasan konstruksi, dalam rangka mencapai sasaran
tertentu yang keluarannya berbentuk piranti lunak yang disusun secara sistematis
berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan pengguna jasa
[Kepmen Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004]
1.9.14 Jasa pemborongan
layanan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang perencanaan teknis dan spesifikasinya
ditetapkan pengguna jasa dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh pengguna jasa
atau pengawas konstruksi yang ditugasi
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004}

1.9.15 Kegagalan bangunan


keadaan bangunan, yang setelah diserahterimakan oleh penyedia jasa kepada pengguna
jasa menjadi tidak berfungsi, baik secara keseluruhan maupun sebagian dan/atau tidak
sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kontrak, dari segi teknis, manfaat,
keselamatan dan kesehatan kerja, dan/atau keselamatan umum
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]
1.9.16 Kemitraan
kerjasama usaha antara penyedia barang/jasa dalam negeri maupun dengan luar negeri
yang masing- masing pihak mempunyai hak, kewajiban dan tanggung-jawab yang jelas,
berdasarkan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam perjanjian tertulis
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

Halaman

| 21

1.9.17 Kepala kantor / satuan kerja


pejabat struktural yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan jasa
pelaksanaan konstruksi yang dibiayai dari dana anggaran belanja rutin APBN [Kepmen
Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.18 Klasifikasi
bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha di bidang jasa
konstruksi menurut bidang dan subbidang pekerjaan atau penggolongan profesi
keterampilan dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa konstruksi menurut
disiplin keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian
tertentu
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]
1.9.19 Kontrak
perikatan hukum antara pengguna jasa dengan penyedia jasa dalam pelaksanaan
pengadaan jasa
[Kepmen Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004]
1.9.20 Kontrak kerja konstruksi
keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan
penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
[Undang-Undang No. 18 Tahun 1999]

1.9.21 Kontraktor
orang atau badan usaha yang penawarannya untuk melaksanakan pekerjaan telah
diterima oleh pemilik

1.9.22 Kualifikasi
bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha di bidang jasa
konstruksi menurut tingkat/kedalaman kompetensi dan kemampuan usaha, atau
penggolongan profesi keterampilan dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa
konstruksi menurut tingkat/kedalaman kompetensi dan kemampuan profesi dan keahlian
Halaman

| 22

[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]


1.9.23 Konsiliator
orang yang ditunjuk atas kesepakatan pengguna jasa dan penyedia jasa untuk
menyelesaikan perselisihan pada kesempatan kedua
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.24 Lembaga
organisasi sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun
1999 tentang Jasa Konstruksi, yang bertujuan untuk mengembangkan kegiatan
jasa konstruksi nasional
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.25 Mediator
orang yang ditunjuk atas kesepakatan pengguna jasa dan penyedia jasa untuk
menyelesaikan perselisihan pada kesempatan pertama
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.26 Pakta integritas


surat pernyataan yang ditandatangani oleh pengguna barang/jasa/panitia
pengadaan/pejabat pengadaan/ penyedia barang/jasa yang berisi ikrar untuk mencegah
dan tidak melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam pelaksanaan pengadaan
barang/jasa
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.27 Panitia pengadaan


panitia yang diangkat oleh pengguna jasa untuk melaksanakan penilaian kualifikasi
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

Halaman

| 23

1.9.28 Pasca kualifikasi


proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan
tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa setelah memasukkan penawaran

1.9.29 Pejabat pengadaan


personil yang diangkat oleh pengguna barang/jasa untuk melaksanakan pemilihan
penyedia barang/jasa dengan nilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah)
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.30 Pejabat yang disamakan


pejabat yang diangkat oleh pejabat yang berwenang di lingkungan Tentara Nasional
Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (Polri)/pemerintah daerah/Bank Indonesia
(BI)/Badan Hukum Milik Negara (BHMN)/Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD), yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan
barang/jasa yang dibiayai dari APBN/APBD
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.31 Pekerjaan kompleks


pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi dan/atau mempunyai resiko tinggi dan/atau
menggunakan peralatan didesain khusus dan/atau bernilai di atas Rp 50.000.000.000,00
(lima puluh miliar rupiah)
[Keppres No. 80 Tahun 2003]
1.9.33 Pekerjaan konstruksi
keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan
beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal,
dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu
bangunan atau bentuk fisik lain
[Undang-Undang No. 18 Tahun 1999]

Halaman

| 24

1.9.34 Pekerjaan sementara


pekerjaan yang dirancang, dibangun, dipasang, dan dibongkar oleh kontraktor, yang
diperlukan untuk pelaksanaan atau pemasangan dalam pekerjaan

1.9.35 Pelaksana konstruksi


penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli yang
profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan
kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi bentuk bangunan atau
bentuk fisik lain
[Undang-Undang No. 18 Tahun 1999]

1.9.36 Pelelangan terbatas


pelelangan untuk pekerjaan tertentu yang diikuti oleh penyedia jasa yang dinyatakan
telah lulus prakualifikasi dan jumlahnya diyakini terbatas dengan pengumuman secara
luas melalui media massa, sekurang-kurangnya 1 (satu) media cetak dan papan
pengumuman resmi untuk umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat
dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.37 Pelelangan umum


pelelangan yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui
media massa, sekurang-kurangnya 1 (satu) media cetak dan papan pengumuman resmi
untuk umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi
kualifikasi dapat mengikutinya
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.38 Pemilihan langsung


pengadaan jasa konstruksi tanpa melalui pelelangan umum atau pelelangan terbatas,
yang dilakukan dengan membandingkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawar dari
penyedia jasa dan dapat dilakukan negosiasi, baik dari segi teknis maupun harga,
sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggung-jawabkan
[Keppres No. 80 Tahun 2003]
Halaman

| 25

1.9.39 Pemilihan penyedia barang/jasa


kegiatan untuk menetapkan penyedia barang/jasa yang akan ditunjuk untuk
melaksanakan pekerjaan
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.40 Pemimpin proyek/pemimpin bagian proyek


pejabat yang diangkat oleh Menteri/Gubernur/pejabat yang diberi kuasa, yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan jasa pelaksanaan konstruksi yang
dibiayai dari anggaran belanja pembangunan APBN
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]
1.9.40 Pengadaan barang/jasa pemerintah
kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang
dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.41 Pengawas konstruksi


penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli yang
profesional di bidang pengawasan jasa

1.9.42 Pengguna anggaran daerah


pejabat di lingkungan pemerintah propinsi / kabupaten / kota yang bertanggung jawab
atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dari dana anggaran belanja APBD
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.43 Pengguna jasa


kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/pemimpin bagian proyek yang ditunjuk
sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pengadaan jasa
pelaksanaan konstruksi di lingkungan unit kerja/proyek tertentu
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

Halaman

| 26

1.9.44 Penunjukan langsung


pengadaan jasa konstruksi yang dilakukan tanpa melalui pelelangan umum, pelelangan
terbatas, atau pemilihan langsung yang dilakukan hanya terhadap 1 (satu) penyedia jasa
dengan cara melakukan negosiasi baik dari segi teknis maupun harga sehingga diperoleh
harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.45 Penyedia jasa


penyedia jasa badan usaha yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa
pelaksanaan konstruksi
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.46 Peralatan (equipment)


mesin-mesin dan kendaraan kontraktor yang dibawa sementara ke lapangan untuk
melaksanakan pekerjaan

1.9.47 Perencana konstruksi


penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha yang dinyatakan ahli yang
profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan
dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan atau bentuk fisik lain [Undang-Undang
No. 18 Tahun 1999]

1.9.48 Periode pemeliharaan (defect liability period)


periode yang ditentukan dalam Data Kontrak dan dihitung dari tanggal penyelesaian
pekerjaan

1.9.49 Peristiwa kompensasi


yang didefinisikan dalam penjelasan sebagai berikut:
a. Pemilik tidak menyerahkan sebagian lapangan kepada kontraktor pada
tanggalpenyerahan lapangan yang disebutkan dalam Data Kontrak;
b. pemilik mengubah jadwal kontraktor lainnya sedemikian hingga
mempengaruhipekerjaan kontraktor dalam kontrak;
Halaman

| 27

c. Direksi Pekerjaan memerintahkan penundaan atau tidak menerbitkan


Gambar,Spesifikasi, atau perintah yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
padawaktunya;
d. Direksi Pekerjaan memerintahkan kontraktor untuk membuka kembali atau
melaksanakan pengujian tambahan pada suatu pekerjaan, yang kemudian
ternyata tidak ditemukan adanya cacat mutu.;
e. Direksi Pekerjaan menolak suatu pengsubkontrakan tanpa alasan yang wajar
keadaan lapangan yang jelas-jelas lebih buruk dari perkiraan wajar yang dapat
dilakukan sebelum Surat Penunjukan Pemenang Lelang diterbitkan, dari informasi
yang diberikan kepada peserta lelang (termasuk laporan investigasi lapangan),
dari informasi yang diperoleh dari publik dan dari pemeriksaan visual lapangan;
f.) Direksi Pekerjaan memerintahkan untuk menghadapi keadaan yang tidak terduga,
yang disebabkan oleh pemilik atau terdapat pekerjaan tambahan yang diperlukan
untuk alasan-alasan keamanan atau lainnya; kontraktor-kontraktor lainnya,
petugas-petugas Pemerintah, petugas-petugas Utilitas atau pemilik tidak
menepati jadwal kerja dan kendala-kendala lainnya yang disebut dalam kontrak,
dan kesemuanya mengakibatkan keterlambatan atau biaya tambah bagi
kontraktor; keterlambatan pembayaran uang muka; dampak terhadap kontraktor
akibat resiko pemilik;
g.) Direksi Pekerjaan menunda menerbitkan Berita Acara Pekerjaan Selesai tanpa
alasan yang jelas;peristiwa kompensasi lainnya yang diuraikan dalam kontrak atau
yang akanditentukan oleh Direksi Pekerjaan harus berlaku.

1.9.50 Perkerasan jalan


konstruksi jalan yang diperuntukan bagi jalan lalu lintas yang terletak diatas tanah dasar,
dan pada umumnya terdiri dari lapis pondasi bawah, pondasi atas, dan lapis permukaan

1.9.51 Prakualifikasi
proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan
tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa sebelum memasukkan penawaran
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

Halaman

| 28

1.9.52 Registrasi
kegiatan untuk menentukan kompetensi profesi keahlian dan keterampilan tertentu,
orang perseorangan dan badan usaha untuk menentukan ijin usaha sesuai klasifikasi dan
kualifikasi yang diwujudkan dalam sertifikat
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004}

1.9.53 Rencana tanggal penyelesaian


tanggal yang direncanakan kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan. Rencana tanggal
penyelesaian disebutkan dalam Data Kontrak. Rencana tanggal penyelesaian dapat
direvisi oleh Direksi Pekerjaan dengan menerbitkan suatu perpanjangan waktu atau
perintah percepatan

1.9.54 Sertifikasi:
a)

proses penilaian untuk mendapatkan pengakuan terhadap klasifikasi dan


kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha di bidang jasa konstruksi yang
berbentuk usaha orang perseorangan atau badan usaha; atau

b)

proses penilaian kompetensi dan kemampuan profesi keterampilan kerja dan


keahlian kerja seseorang di bidang jasa konstruksi menurut disiplin keilmuan dan
atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian tertentu

[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.55 Sertifikat:
a) tanda bukti pengakuan dalam penetapan klasifikasi dan kualifikasi atas kompetensi
dan kemampuan usaha di bidang jasa konstruksi baik yangberbentuk orang
perseorangan atau badan usaha; atau
b) tanda bukti pengakuan atas kompetensi dan kemampuan profesi keterampilan kerja
dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa konstruksi menurut disiplin
keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian tertentu

Halaman

| 29

1.9.56 Sertifikat keterampilan/keahlian kerja


tanda bukti pengakuan atas kompetensi dan kemampuan profesi keterampilan kerja dan
keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa konstruksi menurut disiplin keilmuan
dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian tertentu
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.57 Spesifikasi
spesifikasi dari pekerjaan yang terdapat dalam kontrak dan setiap perubahan atau
tambahan yang dibuat atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan

1.9.58 Subkontraktor
orang atau badan usaha yang mempunyai kontrak dengan kontraktor untuk
melaksanakan sebagian pekerjaan dari kontrak yang mencakup pekerjaan di lapangan

1.9.59 Surat jaminan


jaminan tertulis yang dikeluarkan bank umum/lembaga keuangan lainnya yang
diberikan oleh penyedia barang/jasa kepada pengguna barang/jasa untuk
menjamin terpenuhinya persyaratan/kewajiban penyedia barang/jasa
[Keppres No. 80 Tahun 2003]

1.9.60 Tanggal mulai kerja


tanggal mulai kerja penyedia jasa yang dinyatakan pada Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK), yang dikeluarkan oleh kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/pemimpin
bagian proyek
[Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004]

1.9.61 Tanggal penyelesaian pekerjaan


tanggal penyerahan pekerjaan selesai (penyerahan laporan akhir)
[Kepmen Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004]

Halaman

| 30

ORGANISASI PROYEK

2.1. KONSEP ORGANISASI


Bentuk lain dari pembagian atau pengelompokan teori-teori organisasi adalah konsepsi
prespektif yang ditemukan oleh Edgar Huse dan James Bowditch. Pada aslinya konsep
perspektif ini digunakan kelompok manajemen didekati dari teori sistem. Akan tetapi inti
pembahasannya dapat dipergunakan pula untuk bahasan-bahasan organisasi.Itulah
sebabnya berikut ini dikemukakan konsep prespektif tersebut.

Prespektif I
Intinya sama dengan paham tradisional yang melihat organisasi atau manajemen dari
prespektifrancangan yang berstruktur. Aliran-aliran prespektif ini hanya memikirkan isuisu tentang bagaimana organisasi seharusnya disusun, fungsi-fungsi yang seharusnya
dijalankan , siapa yang seharusnya menjadi pemimpin dan bawahan, dan gaya
kepemimpinan apa yang harus dijalankan.
Ada tiga komponen yang mempunyai sejarah, yaitu :
1. Aliran prinsip-prinsip universal dari manajemen atau organisasi.
2. Aliran struktural.
3. Aliran manajemen ilmiah.

Halaman

| 31

Aliran Prinsip Universal, berpijak pada pendapat henri Fayol yang menyatakan bahwa
sesuatu organisasi itu diatur berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
Adanya pengembangan kerja
Adanya otoritas dan tanggung jawab
Adanya disiplin
Adanya kesatuan komando
Adanya kesatuan pengarahan
Adanya sistem pengkajian
Adanya sentralisasi
Adanya jenjang pengawasan
Aliran Strukrural, berdasarkan pondapat dari Max Weber, organisasi suatu tatanan
birokrasi
yang berstruktur yang melangsungkan kegiatannya sesuai dengan aturan-aturan.
Aliran Manajemen Ilmiah, yang dipelopori oleh Frederick W Taylor memberikan lebih
banyak
penekanan pada pengukuran kerja yang dilakukan oleh para pekerja dibandingkan dari
prinsip-prinsip organisasinya sendiri.

Prespektif II
Huse dan Browdrich menanamakan prespektif ini dengan aliran pekerjaan (work-flow).
Operasi ini mempergunakan teknik-teknik yang kemudian dikenal sebagai riset
operasional.
Halaman

| 32

Adapun cirri-ciri dari riset operasional ini antara lain :


Melakukan formulasi persoalan
Menyusun konstruksi model matematis untuk menampilkan suatu sistem yang sedang
dipelajari
Menarik suatu kesimpulan dari model yang disusun tersebut
Menguji model dan kesimpulan-kesimpulan yang ditarik model tersebut
Menetapkan control atas kesimpulan-kesimpulan yang diambil
Mengambil kesimpulan itu untuk melaksanakan implementasi

Prespektif III
Prespektif ini dinamakan prespektif kemanusiaan (the human prespective). Pandangan
pemikiran dalam prespektif ini ialah menekankan bahwa unsur manusia dalam setiap
kerja
kelompok dirasakan lebih penting dari pada sekedar struktur dan hirarki yang
membentang
pada setiap jajaran organisasi.
Ada tiga unsur yang menonjol sebagai komponen dari perspektif kemanusiaan ini. Ketiga
komponen itu antara lain :
1. Aliran Hubungan Kemanusiaan ( Human Relations School )
2. Aliran Pengembangan Organisasi ( Organizational Development School )
3. Aliran Pemikiran Multidimensional ( The Multidimensional Theorists )

Halaman

| 33

2.2 PRINSIP PRINSIP ORGANISASI


Ciri-ciri organisai yang baik :
2. Adanya tujuan yang jelas.
3. Tujuan organisasi harus dipahami oleh semua orang.
4. Tujuan organisasi harus diterima oleh semua individu dalam organisasi.
5. Adanya kesatuan arah dalam organisasi
6. Adanya struktur organisasi.
7. Adanya jaminan jabatan tersebut.
8. Adanya koordinasi.

Beberapa prinsip dasar penting yang dapat disimpulkan dari pendapat para tokoh
Manajemen modern adalah sebagai berikut :
1. Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan,
prosedur, prinsip).
2. Manajemen harus sistematuk, dan pendekatan yang digunakan harus dengan
pertimbangan secara hati-hati.
3. Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk
pengawasan harus sesuai dengan situasi.
4. Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja tehadap tujuan
organisasi sangat dibutuhkan.

Halaman

| 34

2.2. BENTUK-BENTUK ORGANISASI


Agar proses diatas berlangsung dengan baik, dibutuhkan suatu wadah dalam bentuk
struktur organisasi. Struktur organisasi formal akan menunjukan hal-hal berikut :
Macam-macam pokok kegiatan organisasi
Pembagian menjadi kelompok atau subsistem
Adanya hirarki, wewenang dan tanggung jawab bagi kelompok dan pimpinan
Pengaturan kerjasama, jalur pelopor, dan komunikasi, meliputi jalur vertikal dan
horizontal
Bentuk struktur formal yang terkenal adalah fungsional, produk, area,, dan matriks.

2.2.1 Organisasi Fungsional


Disebut organisasi fungsional karena organisasi ini dipecah atau dikelompokkan menjadi
unit berdasarkan fungsinya. Ciri utama organisasi fungsional ialah memiliki strutur
piramida
dengan konsep otoritas dan hirarki vertikal dengan sifat-sifat berikut :
Prinsip komando tunggal dimana masing-masing personil hanya memiliki satu atasan
Setiap personil mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang jelas.
Arus informasi dan pelaporan bersifat vetikal.
Hubungan horizontal diatur dengan prosedur kerja, kebijakan, dan petunjuk pelaksana.
Mekanisme koordinasi perunit, bila diperlukan dilakukan, dengan rapat-rapat atau
membentuk panitia perwakilan.

Halaman

| 35

Keuntungan-keuntungan organisasi fungsional :


Memudahkan pengawasan karena personil melapor hanya kepada satu atasan.
Adanya potensi meningkatkan keterampilan dan keahlian individu serta kelompok
untuk
menjadi spesialis pada bidangnya.
Konsentrasi personil terpusat pada sasaran bidang yang bersangkutan.
Penggunaan sumber daya yang efisian sebai akibat pekerjaan yang sejenis dan
berulang-ulang.
Memudahkan pengendalian kinerja personil serta biaya, jadwal dan mutu produk.
Kesulitan yang Dihadapi
Sesuai dengan maksud pembentukannya,struktur fungsional ditujukan untuk
menangani
kegiatan atau masalah yang dapat diantisipasi dan diklasifikasi. Kesulitan yang dihadapi
biasanya keterbatasan struktur fungsional, ialah :
Cenderung memprioritaskan kinerja dan keluaran masing-masing bidang. Hal ini dapat
mengurangi perhatian tujuan perusahaan secara menyeluruh.
Makin besar organisasi, makin panjang prosedur pengambilan keputusan, hal ini
memungkinkan terjadinya distorsi informasi dan urgensi.
Sulit mengkoordinasi dan mengintegrasikan pekerjaan yang multidisiplin dan
melibatkan
banyak pihak diluar organisasi.
Kurangnya jalur komunikasi horizontal.

Halaman

| 36

2.2.2. Organisasi Produk dan Area


Penyusunan struktur organisasi perusahaan-perusahaan besar yang kegiatan usahanya
menagani berbagai macam produk, didasarkan atas orientasi produk. Ini terjadi bilaman
perusahaan merasa bahwa jumlah dan keanekaragaman produk terlalu besar sehingga
sulit
untuk ditangani dengan struktur fungsional.

2.2.3. Organisasi Matriks


Bila struktur organisasi mempunyai jalur pelaporan dan arus kegiatan vertical, maka pada
organisasi matriks disamping jalur formal vertical terdapat pula jalur formal horizontal.
2.2.4. Organisasi Proyek
Telah disebutkan sebelumnya bahwa organisasi adalah sarana untuk mencapai tujuan.
Adapun unsur-unsur konsep manajemen proyek yang berkaitan erat dan perlu
dicerminkan dalan struktur organisasi berkisar pada :
a. Arus vertical disamping horizontal
b. Penaggung jawab tunggal atas terselenggaranya proyek
c. Pendekatan dalam perencanaan dalam implementasi

Pendekatan yang diperlukan untuk membahas struktur organisasi proyek dalam dengan
mengindentifikasi dan menganalisis struktur organisasi yang digolongkan menjadi :
a. Organisasi proyek fungsional ( OPF ) dengan variasinya, yaitu organisasi proyek
koordinator ( OPK ).
b. Organisasi proyek murni ( OPMi )
c. Organisasi proyek matriks (OPM )

Halaman

| 37

Kelemahan atau kekurangan adalah masih banyak hal-hal yang tidak jelas atau tidak
ditunjukan. Sebagai contoh, tidak menunjukan seberapa besar wewenang dan tanggung
jawab setiap manajerial, tidak menunjukan hubungan-hubungan informal dan saluran
komunikasi.

2.2.5 Organisasi Garis


Yaitu organisasi di mana wewenang mengalir lurus dari atas ke bawah, sedangkan
pertanggungjawaban mengalir lurus dari bawah ke atas.
Kelebihan dari organisasi jenis ini adalah bahwa dalam organisasi hanya ada satu
pimpinan sehingga setiap orang jelas kepada siapa bertanggungjawab dan dari siapa
perintah dating.
Selain itu, keputusan bisa diambil dengan cepat karena hanya ada satu pimpinan
sehingga perusahaan dapat berjalan lancar.
Kekurangan dari organisasi jenis ini adalah bahwa kemampuan satu orang terbatas
sehingga keputusan yang diambil belum tentu yang terbaik karena hanya merupakan
buah pikiran satu orang.

2.2.6 Organisasi Garis Dan Staff


Yaitu organisasi garis dengan penambahan staff ahli pada pimpinan-pimpinan yang
memerlukan. Staff ahli terdiri atas orang-orang ahli yang berpengetahuan tetapi bukan
praktisi.
Kelebihan dari organisasi jenis ini adalah menghilangkan kekurangan dari organisasi garis.
Dengan adanya staff ahli diharapkan keputusan yang diambil adalah keputusan yang
terbaik. Kelebihan yang ada pada organisasi garis juga merupakan kelebihan dari
organisasi ini.
Kekurangan dari organisasi jenis ini adalah bahwa pengambilan keputusan menjadi
lambat karena ada diskusi terlebih dahulu dengan staff ahli. Selain itu, dalam organisasi
Halaman

| 38

jenis ini

bisa saja terjadi perselisihan antara staff ahli dengan pimpinan yang

didampinginya. Perselisihan muncul karena saran-saran dari staff ahli tidak semuanya
dipakai oleh

pimpinan yang didampinginya. Staff ahli adalah orang berilmu bukan

praktisi, sedangkan

pimpinan adalah seorang praktisi. Terkadang ilmu dan praktek

berbeda.

2.3 DEFINISI PROYEK

Proyek adalah suatu kegiatan investasi yang menggunakan faktor-faktor produksi


untuk menghasilkan barang dan jasa yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan
dalam suatu periode tertentu (Bappenas TA-SRRP, 2003).
Sedangkan arti kata manjemen yaitu pengelolaan, hal ini menunjukkan bahwa
manajemen proyek adalah merupakan tata cara/dan atau pengelolaan proyek yang
terdiri dari kegiatan investasi yang menggunakan faktor-faktor produksi atau sumber
daya (manusia, material, peralatan, keuangan, metode/teknologi) untuk menghasilkan
barang/jasa yaitu berupa konstruksi jalan dan jembatan, yang diharapkan ada
keuntungan yang didapat dari pemanfaataan jalan dan jembatan sebagaisarana
perhubungan darat atau transportasi yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi
dalam periode tertentu yaitu selama umur rencana /efektif konstruksi jalan dan
jembatan.

Maka dalam pelaksanaan proyek, bagi para penyelenggara proyek terutama


pelaksana/pemborong hendaknya dapat melaksanakan tugas secara profesional
dalam menyediakan seluruh faktor-faktor produksi atau sumber daya yang diperlukan
oleh suatu proyek, untuk memenuhi maksud dan tujuan proyek secara sukses yaitu
dicapainya standar mutu yang disyaratkan, biaya dan waktu yang telah ditetapkan.

Proyek dalam pelaksanaannya sering terjadi masalah baik teknis maupun administrasi
yang pada akhirnya proyek tidak dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
dalam kontrak. Salah satu penyebab umum dari kesulitan dalam melaksanakan proyek
adalah kurang dipahaminya proyek itu sendiri secara benar sehingga tidak dapat
Halaman

| 39

memperhitungkan secara teliti dan tepat semua faktor-faktor produksi/sumber daya


proyek yang diperlukan untuk menentukan secara pasti waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan proyek, dalam hal ini proyek adalah pelaksanaan konstruksi jalan dan
jembatan.

Di Indonesia yang mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan
akan sangat mempengaruhi waktu pelaksanaan konstruksi yang harus diperhitungkan,
terutama pekerjaan jalan dan jembatan yang sangat rawan dilaksanakan pada musim
hujan. Hal ini akan menuntun kearah situasi yang tidak menguntungkan apabila ternyata
musim hujan tidak sesuai yang diperkirakan maka waktu penyelesaian proyek dapat
terganggu. Apapun alasannya perpanjangan waktu pelaksanaan konstruksi harus
dihindarkan, kecuali memenuhi alasan yang dapat diterima sesuai dengan kontrak
(pekerjaan tambah, perubahan desain, keadaan diluar kehendak seperti bencana alam,
dan sebagainya).

Keterbatasan waktu dalam kegiatan proyek pelaksanaan konstruksi jalan dan jembatan
semata-mata mengingat:

- biaya investasi proyek yang dikeluarkan agar cepat kembali;


- batasan waktu berlakunya anggaran untuk dana APBN/APBD dan batas
waktu berakhirnya masa pelaksanaan konstruksi jalan dan jembatan bagi dana pinjaman
Bantuan Luar Negeri/BLN.

Proyek adalah suatu pekerjaan atau tugas bersama para penyelenggara proyek yang
dilaksanakan oleh penyedia jasa melalui kontrak Jasa Pelaksanaan Konstruksi
(pemborongan), yang telah ditetapkan target mutu dan biaya serta tertentu waktu mulai
dan selesainya. Proyek mempunyai tujuan atau ruang lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan secara jelas, berdasarkan persyaratan teknis dan administrasi yang sudah
disiapkan. Biasanya proyek dilaksanakan oleh suatu organisasi penyelenggara proyek
yang sifatnya sementara dan akan dibubarkan setelah proyek selesai. Sedangkan suatu
kegiatan yang dilakukan berulang-ulang atau kegiatan yang merupakan aktifitas seharihari/rutin, biasanya bukan merupakan suatu tugas atau kegiatan yang disebut proyek.
Halaman

| 40

2.5 CIRI-CIRI PROYEK


Secara umum ciri- ciri proyek dapat dikelompokan kedalam 4 (empat) kelompok:

proyek mempunyai tujuan yaitu menghasilkan barang dan jasa;

proyek memerlukan input berupa factor-faktor produksi atau sumber daya,


seperti modal, tanah dan material, peralatan, tenaga pegawai dan kepemimpinan;

proyek mempunyai titik awal dan titik akhir;

dalam waktu tertentu setelah proyek selesai, mulai dapat menghasilkan.

2.6 JENIS PROYEK


Menurut kebutuhan investasi, proyek dibagi dalam 3 (tiga) jenis:
-

proyek yang menggunakan faktor produksi untuk menghasilkan bangunan

fisik yang memproduksi barang dan jasa


Contoh : bendungan, jalan, kelistrikan/energi (PLTA,PLTD,PLTU), dan lain
sebagainya.
-

proyek yang dibangun dengan tujuan menghasilkan keluaran berupa faktorfaktor

produksi non-fisik .
Contoh : proyek pendidikan/pelatihan dan pembuatan buku-buku yang
menghasilkan keterampilan dan ilmu pengetahuan
-

proyek yang dibangun untuk menciptakan penemuan-penemuan baru Contoh :


proyek-proyek penelitian teknologi

Sedangkan tugas/pekerjaan yang bukan merupakan proyek adalah:


-

proses tuntutan asuransi, pemesanan, atau pembayaran;

proses produksi pabrik;

memasak di restoran;

mengendarai truck pengangkut kiriman dengan jalur tetap setiap hari;

atau, semua hal yang merupakan pengulangan kegiatan.

Dana yang dikeluarkan harus termanfaatkan se-efektif dan se-efisien mungkin. Setiap
proyek harus dapat diselesaikan dengan waktu yang tidak boleh terlambat, mutu yang
Halaman

| 41

sesuai dan biaya yang semurah mungkin. Tingkat kebocoran anggaran harus se-minimal
Mungkin

2.7 MENGAPA PROYEK DAPAT GAGAL?


Masalah SDM.

Kurangnya ketrampilan dan pengetahuan anggota team.

Kekurang Pengertian tentang sasaran bersama

Kurangnya pembinaan team Methodology

Belum ada prosedur yang standar atau

Penyusunan project prosedur yang tidak tepat

Tidak dipakainya project prosedur yang telah disusun dengan susah payah
Funding.

Perencanaan pendanaan yang tidak sesuai

Keterbatasan teknologi.

Kekurangan penguasaan basis teknologi sebagai sarana melaksanakan proyek.

Tidak diperhitungkannya keperluan teknologi untuk melaksanakan proyek pada


waktu merencanakan proyek.

Kekurang mampuan dalam mengidentifikasikan sumber-sumber teknologi yang


diperlukan untuk menunjang pelaksanaan proyek

Belum tersedianya teknologi untuk melaksanakan

proyek.

Permainan Politik

Pengutamaan kepentingan pribadi dan pemanfaatan proyek untuk pemenuhan


hasrat pribadi.

Agar Proyek berhasil, maka:

sasaran harus jelas, metodologi yang tepat dan


Halaman

| 42

pelaksana yang profesional

anggaran yang pasti tetapi realistis sesuai dana yang

tersedia

target waktu yang pasti tetapi realistis

team yang terkoordinir dan termotivasikan dengan baik

komunikasi yang simple tetapi efektif

pengambilan keputusan yang jelas dan mengarah

kedepan

perencanaan yang flexible sehingga dapat

mengakomodasi sesuatu yang tidak diharapkan.

Kontraktor/ Supplier profesional dan terpercaya.

2.8 PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PROYEK KONSTRUKSI

Kegiatan proyek konstruksi terdapat sustu proses yang mengolah

sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan berupa

bangunan, dalam proses tersebut melibatkan banyak pihak, secara

sistematis dapat dilihat seperti :

Gbr. 6 Pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi

Halaman

| 43

2. 9 ACUAN HUKUM

Undang Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

Undang Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

Undang Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan;

Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa
Konstruksi;

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;

Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa


Konstruksi;

Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan


Barang / Jasa Pemerintah;

Keputusan Menteri Kimpraswil No. 369/KPTS/M/2001 Pedoman Pemberian Izin


Usaha Jasa Konstruksi Nasional;

Keputusan Menteri Kimpraswil No. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan


Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah;

Keputusan Menteri Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004 tentang Standar Dan Pedoman


Pengadaan Jasa Konstruksi;

Keputusan Menteri Kimpraswil No. 362/KPTS/M/2004 tentang Sistem Manajemen


Mutu Konstruksi Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah;

Surat Edaran Menteri Kimpraswil No. 02/SE/M/2001 tentang Tata Cara Penilaian Hasil
Evaluasi serta Sanggahan dalam Pengadaan Barang dan Jasa diatas Lima Puluh Milyar
rupiah;

Surat Edaran Menteri Kimpraswil No.IK0106-Mn/66 Sertifikasi Badan Usaha Jasa


Konstruksi Dalam Rangka Pengadaan yang dilaksanakan Instansi Pemerintah Tahun
Anggaran 2002.

Halaman

| 44

UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN

3.1 UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN


Pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan mulai dari tahap ide sampai dengan tahap
pelaksanaan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga pihak :
1. Pemiliki Proyek/owner
2. Pihak Konsultan (perencana/pengawas)
3. Pihak Kontraktor (pelaksana)

3.2 UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN PEMILIK PROYEK


Pemilik proyek atau pemberi tugas atau pengguna jasa adalah orang/badan yang memiliki
proyek dan memberikan pekerjaan atau menyuruh memberikan pekerjaan kepada pihak
penyedia jasa dan membayar biaya pekerjaan tersebut.

Hak dan kewajiban pengguna jasa :


1. Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontraktor)
2. Meminta Laporan secara periodik mengenai pelaksnaaan pekerjaan yang telah
dilakukan oleh penyedia jasa
Halaman

| 45

3. Menyediakan fasilitas baik berupa sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh
pihak penyedia jasa untuk kelancaran pekerjaan
4. Menyediakan lahan untuk pelaksanaan pekerjaan
5. Menyediakan dana dan kemudian membayar kepada pihak penyedia jasa
sejumlah biaya yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah bangunan
6. Ikut mengawasi jalannya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan jalan
menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang untuk bertindak atas nama
pemilik
7. Mengesahkan perubahan dalam pekerjaan (bila terjadi)
8. Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesain dilaksanakan oleh
penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan apa yang dikendaki.

Wewenang Pemberi Tugas


1. Memberitahukan hasil lelang secara tertulis kepada masingmasing kontraktor
2. Dapat mengambil alih pekerjaan secara sepihak dengan cara memberitahu secara
tertulis kepada kontraktor jika terjadi halhal diluar kontrak yang ditetapkan.

3.2.1 KONSULTAN
Pihak atau badan yang disebut sebagai konsultan dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
konsultan perencana dan konsultan pengawas.

KONSULTAN PERENCANA
Konsultan perencana adalah orang/badan yang membuat perencanaan bangunan secara
lengkap baik bidang arsitektur, sipil, maupun bidang lain yang melekat erat dan
membentuk sebuah system bangunan.

Hak dan Kewajiban Konsultan Perencana :


1. Membuat perencanaan secara lengkap yang terdiri dari gambar rencana, rencana
kerja dan syarat-syarat, hitungan struktur, rencana anggaran biaya.
2. Memberikan usulan serta pertimbangan kepada pengguna jasa dan pihak
kontraktor tentang pelaksanaan pekerjaan.
Halaman

| 46

3. Memberikan jawaban dan penjelasan kepada kontraktor tentang hal-hal yang


kurang jelas dalam gambar rencana, rencana kerja dan syarat-syarat.
4. Membuat gambar revisi bila terjadi perubahan
5. Menghadiri rapat koordinasi pengelolaan proyek

KONSULTAN PENGAWAS
Konsultan Pengawas adalah orang/badan yang ditunjuk pengguna jasa untuk
membantu dalam pengelolaan pelaksanaan pekerjaan pembangunan mulai dari awal
hingga berakhirnya pekerjaan pembangunan.
Hak dan Kewajiban Konsultan Pengawas

1. Menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang telah ditetapkan


2. Membimbing dan mengadakan pengawasan secara periodic dalam pelaksanaan
pekerjaan
3. Melakukan perhitungan prestasi pekerjaan
4. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan konstruksi serta aliran informasi
antar berbagai bidang agar pelaksanaan pekerjaan berjalan lancar.
5. Menghindari kesalahan yang mungkin terjadi sedini mungkin serta menghindari
pembengkakan biaya.
6. Mengatasi dan memecahkan persoalan yang timbul di lapangan agar dicapai hasil
akhir sesuai dengan yang diharapkan dengan kualitas, kuantitas, serta waktu
pelaksanaan yang telah ditetapkan.
7. Menerima/menolak material/peralatan yang didatangkan oleh kontraktor
8. Menghentikan sementara bila terjadi penyimpangan dari peraturan yang berlaku.
9. Menyusun laporan kemajuan pekerjaan (harian, mingguan, bulanan).
10. Menyiapkan dan menghitung adanya kemungkinan tambah atau berkurangnya
pekerjaan.

3.2.2 KONTRAKTOR
Kontraktor adalah orang/badan yang menerima pekerjaan dan menyelenggarakan
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan biaya yang telah ditetapkan berdasarkan gambar
rencana dan pertaturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Halaman

| 47

Hak dan Kewajiban Kontraktor :

1. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana, peraturan dan syaratsyarat, risalah penjelasan pekerjaan, dan syarat-syarat tambahan yang telah
ditetapkan oleh pengguna jasa.
2. membuat gambar-gambar pelaksanaan yang disahkan oleh konsultan pengawas
sebagai wakil dari pengguna jasa.
3. Menyediakan alat keselamatan pekerjaan seperti yang diwajibkan dalam
peraturan untuk menjaga keselamatan pekerja dan masyarakat
4. Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan haria, mingguan, bulanan.
5. Menyerahkan seluruh atau sebagian pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai
dengan ketetapan yang berlaku.

Hubungan kerja dalam menyelesaikan pembangunan dapat dilihat pada


Gambar di bawah ini

Gbr 8. Skema Hubungan Kerja dalam menyelesaikan pembangunan

Halaman

| 48

Hubungan tiga pihak yang terjadi antara pemilik proyek,


kontraktor adalah :

KONSULTAN DENGAN PEMILIK PROYEK,

ikatan berdasarkan kontrak,

konsultan memberikan layanan konsultasi, dimana produk yang dihasilkan berupa


gambar rencana, peraturan, dan syarat-syarat. pemiliki proyek memberikan biaya
jasa atas konsultasi yang diberikan oleh konsultan.

ikatan berdasarkan kontrak,

kontraktor memberikan layanan jasa profesional, dimana produk yang dihasilkan


berupa bangunan sebagai realisasi dari keinginan pemilik proyek, sesuai dengan
peraturan, dan syarat-syarat.

pemiliki proyek memberikan biaya jasa professional kontraktor.

KONSULTAN DENGAN KONTRAKTOR ,

ikatan berdasarkan peraturan pelaksanaan,


konsultan memberikan gambar rencana, peraturan dan syarat-syarat.
kontraktor merealisasikan menjadi bangunan

Halaman

| 49

HUBUNGAN KONTRAK KONSTRUKSI SECARA TRADISIONAL

DESIGN/CONSTRUCTION MANAGER- TYPE CONTRACT

Halaman

| 50