Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

JARINGAN TELEKOMUNIKASI 1
PENGUKURAN TAHANAN TANAH

Oleh TT 3D
KELOMPOK 6
1. Galoh Permana Y

1231130048

2. Jeremy Gabriel

1231130012

3. Mentari Tata Jelita

1231130011

4. Nur Wahida Annafiu

1231130046

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


POLITEKNIK NEGERI MALANG
Jalan Soekarno Hatta 9 PO. BOX 04 Malang 65141
Telp (0341) 404424-404425 Fax. (0341) 404420
2014

PENGUKURAN TAHANAN TANAH


1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah
1. Dapat mengoperasikan alat pengukur tahanan tanah dengan baik dan benar
2. Dapat mengukur berbagai jenis tahanan tanah
3. Dapat mengukur pengaruh penempatan jarak antar batang pembantu
1.2 Teori Dasar
1.2.1 Sistem Pentanahan
Sistem pentanahan atau biasa disebut sebagai grounding adalah sistem
pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan listrik sebagai
sumber tenaga, dari lonjakan listrik, petir dll. Sistem pentanahan di data center
menjadi salah satu unsur penting dalam data center karena memberikan
kebutuhan tenaga utama bagi data center. Standar pentanahan untuk data center
tercantum dalam beberapa dokumen antara lain : TIA-942, J-STD-607-A-2002
dan IEEE Std 1100 (IEEE Emerald Book), IEEE Recommended Practice for
Powering and Grounding Electronic Equipment.
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Pentanahan)

Gambar 1.Teknik Grounding


(http://engineeringbuilding.blogspot.com/2012/03/sistem-pentanahangrounding.html)

Sistem

pentanahan

digunakan

sebagai

pengaman

langsung

terhadap

peralatan dan manusia bila terjadinya gangguan tanah atau kebocoran arus akibat
kegagalan isolasi dan tegangan lebih pada
Petir

peralatan

jaringan

distribusi.

dapat menghasilkan arus gangguan dan juga tegangan lebih dimana

gangguan tersebut dapat dialirkan ke tanah dengan menggunakan sistem


pentanahan.
Sistem pentanahan yang digunakan baik untuk pentanahan netral dari suatu
sistem tenaga listrik, pentanahan sistem penangkal petir dan pentanahan untuk
suatu peralatan khususnya dibidang

telekomunikasi dan elektronik perlu

mendapatkan perhatian yang serius, karena pada prinsipnya pentanahan tersebut


merupakan dasar

yang

digunakan untuk suatu sistem proteksi. Tidak jarang

orang umum atau awam maupun seorang teknisi masih ada kekurangan dalam
memprediksikan nilai dari suatu hambatan pentanahan. Besaran yang sangat
dominan untuk diperhatikan dari suatu sistem pentanahan

adalah

hambatan

dalam suatu sistem pentanahan tersebut.


Tujuan utama dari adanya grounding sistem pentanahan ini adalah untuk
menciptakan sebuah jalur yang low-impedance (tahanan rendah) terhadap
permukaan bumi untuk gelombang listrik dan transient voltage. Penerangan, arus
listrik, circuit switching dan electrostatic discharge adalah penyebab umum dari
adanya sentakan listrik atau transient voltage. Grounding sistem pentanahan yang
efektif akan meminimalkan efek tersebut.

Gambar 2 . Kutub Tanah.

Keterangan
a) Kutub

tanah merupakan

penghantar listrik, ditanam dalam tanah dengan

tujuan menghubungkan listrik dengan tanah.


b) Hantaran tanah merupakan penghantar yang menghubungkan kutub tanah
dengan

terminal induk tanah. Hantaran tanah ini terbuat dari kawat

tembaga terbuka (open wire) berpilin berukuran minimal 50 mm persegi.


c) Terminal induk tanah, sebagai penghantar listrik berbentuk lempengan,
sebagai penghubung hantaran tanah dan distribusi induk tanah. Terminal
induk ini berbentuk lempeng tembaga, panjang sekitar 40 cm, dipasang dalam
handhole,
d) Distribusi

induk

tanah,

menghubungkan terminalinduk
Penghubung

ini

terbuat

merupakan
tanah

dengan

penghantar

listrik

yang

terminal

cabang

tanah.

dari kawat tembaga terbuka berpilin ukuran

minimal
50 mm persegi.
e) Terminal cabang tanah, merupakan penghantar listrik berbentuk melingkar
mengelilingi dinding gedung sebelah dalam, (ditanam dibawah lantai)
menghubung antara distribusi induk tanah dan distribusi cabang tanah.
Terminal ini terbuat dari kawat tembaga terbuka berpilin dengan ukuran
minimal 35 mm persegi.
f)

Distribusi cabang tanah, merupakan


yang menghubungkan

terminal

cabang

penghantar
tanah

dengan

listrik
perangkat

telekomunikasi. la terbuat dari kawat tembaga terbuka berpilin dengan ukuran


minimal 10 mm persegi.
g) Pengaman tambahan sebagai alat tambahan agar sistem pentanahan dapat
berfungsi lebih baik dan anda.
Sistem pentanahan pada dunia telekomunikasi sangat erat kaitannya. Teknik
sistem pentanahan di teknologi telekomunikasi untuk dapat melindungi perangkat
telekomuniasi terhadap tegangan listrik tinggi yang berasal dari luar (petir)
dan untuk dapat beroperasi secara aman. Adapaun yang akan di-groundingkan
perangkat atau alat pada perangkat telekomunikasi yakni :
1) MDF/RPU, RK dan KP
2) Ujung-ujung kawat penggantung dan pelindung elektris kabel udara.
3) Ujung kawat terbuka pada tiang tambat akhir melalui pengaman tambahan.

4) Ujung perisai dan pelindung elektris kabel tanah.


5) Perangkat GPA (Gass Pressure Alarm).
6) Perangkat pelanggan.
7) Telepon umum.
Pentanahan pada RPU (rangka pembagi utama) biasanya menjadi satu
dengan pentanahan gedung dan perangkat telekomunikasi lainnya. Syarat
besarnya

tahanan

pentanahan

untuk perangkat telekomunikasi biasanya

maksimum 3 ohm. Sedangkan untuk gedung telekomunikasi maksimum 5


ohm.
Khusus pentanahan untuk jaringan kabel berlaku persyaratan berikut,antara lain
1) Setiap RK dihubungkan dengan kutub tanah batang sebanyak 3
buah, masing- masingnya panjang 200 cm dengan jarak minimal 10
m;

Gambar 3. Pentanahan Rumah Kabel


Setiap Kotak Pembagi (KP), berpengaman dihubungkan dengan kutub tanah
batang sebanyak 1 buah panjang 200 cm.

Gambar 4. Pentanahan dirumah


pelanggan.

2) Diujung pelanggan saluran penanggal atas tanah yang jaraknya kurang lebih
1 km pada daerah terbuka yang rawan petir, dihubungkan dengan kutub
tanah batang sebanyak 1buah panjang 200 cm melalui pengaman;
3) Pada titik alih saluran penanggal kawat telanjang dengan saluran rumah
pelanggan dihubungkan dengan kutub

tanah batang sebanyak 1 buah

panjang 200 cm, melalui pengaman.


1.2.2 Faktor-Faktor Yang Menentukan Tahanan Pentanahan
Tahanan pentanahan suatu elektroda tergantung pada tiga faktor :
1. Tahanan elektroda itu sendiri dan penghantar yang menghubungkan ke
peralatan yang ditanahkan.
2. Tahan kontak antara elektroda dengan tanah.
3. Tahanan dari massa tanah sekeliling elektroda.
4. Tahanan jenis tanah ().
Pada prakteknya, tahanan elektroda dapat diabaikan namun tahanan
kawat penghantar yang menghubungkan keperalatan akan mempunyai
impedansi yang tinggi terhadap impuls (arus) frekuensi tinggi misalnya pada
saat terjadi sambaran petir. Untuk menghindari hal itu, maka penyambungan
diusahakan dibuat sependek mungkin. Hal yang memberikan pengaruh
terhadap pentanahan adalah Tahanan jenis tanah (), tahanan jenis tanah
memiliki pengaruh yang sangat dominan terhadap pentahanan, sehingga
memperhatikan tahanan jenis tanah itu sendiri dalam mentanahkan.
Tahanan Jenis Tanah ()
Dari rumus untuk menentukan tahanan tanah dari statu elektroda yang
hemispherical R = /2r terlihat bahwa tahanan pentanahan berbanding lurus
dengan besarnya . Untuk berbagai tempat harga ini tidak sama dan
tergantung pada beberapa faktor :
1. sifat geologi tanah
2. Komposisi zat kimia dalam tanah
3. Kandungan air tanah
4. Temperatur tanah
5. Selain itu faktor perubahan musim juga mempengaruhinya.

1. Sifat Geologi Tanah


Ini merupakan faktor utama yang menentukan tahanan jenis tanah.
Bahan dasar dari pada tanah relatif bersifat bukan penghantar. Tanah liat
umumnya mempunyai tahanan jenis terendah, sedang batu-batuan dan
quartz bersifat sebagai insulator.
Tabel 1. Menunjukkan harga-harga () dari berbagai jenis tanah.
No.

Jenis Tanah

Tahanan jenis tanah


(ohm.meter )

1.

Tanah yang mengandung air garam

56

2.

Rawa

30

3.

Tanah liat

100

4.

Pasir Basah

200

5.

Batu-batu kerikil basah

500

6.

Pasir dan batu krikil kering

1000

7.

Batu

3000

(sumber :http://ak4037.wordpress.co m/2008/10/04/tahanan- pentanahan)


2. Komposisi Zat Zat Kimia Dalam Tanah
Kandungan zat zat kimia dalam tanah terutama sejumlah zat
organik maupun anorganik yang dapat larut perlu untuk diperhatikan
pula.Didaerah yang mempunyai tingkat curah hujan tinggi biasanya
mempunyai tahanan jenis tanah yang tinggi disebabkan garam yang
terkandung pada lapisan atas larut. Pada daerah yang demikian ini untuk
memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan menanam elektroda
pada kedalaman yang lebih dalam dimana larutan garam masih terdapat.
3. Kandungan Air Tanah
Kandungan air tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan
tahanan jenis tanah () terutama kandungan air tanah sampai dengan
20%.
Dalam salah satu test laboratorium untuk tanah merah penurunan
kandungan air tanah dari 20% ke 10% menyebabkan tahanan jenis tanah
naik samapai 30 kali.Kenaikan kandungan air tanah diatas 20%
pengaruhnya sedikit sekali.

4. Temperatur Tanah
Temperatur bumi pada kedalaman 5 feet (= 1,5 m) biasanya stabil
terhadap perubahan temperatur permukaan.Bagi Indonesia daerah tropic
perbedaan temperatur selama setahun tidak banyak, sehingga faktor
temperatur boleh dikata tidak ada pengaruhnya.
Hal hal lain yang mempengaruhi tahanan jenis tanah
1. Kadar air, bila air tanah dangkal/penghujan maka nilai tahanan sebaran
mudah didapatkan.
2. Mineral/Garam, kandungan mineral tanah sangat mempengaruhi tahanan
sebaran/resistansi karena jika tanah semakin banyak mengandung logam
maka arus petir semakin mudah menghantarkan.
3.

Derajat Keasaman, semakin asam PH tanah maka arus petir semakin


mudah menghantarkan.

4. Tekstur tanah, untuk tanah yang bertekstur pasir dan porous akan sulit
untuk mendapatkan tahanan sebaran yang baik karena jenis tanah seperti
ini air dan mineral akan mudah hanyut.
1.2.3 Jenis Elektroda Pentanahan
Pada dasarnya ada 3 (tiga) jenis elektroda yang digunakan pada sistem
pentanahan yaitu :
1. Elektroda Batang
2. Elektroda Pelat
3. Elektroda Pita
Elektroda elektroda ini dapat digunakan secara tunggal maupun
multiple dan juga secara gabungan dari ketiga jenis dalam suatu sistem.
Elektroda Batang
Elektroda batang terbuat dari batang atau pipa logam yang di tanam
vertikal di dalam tanah.Biasanya dibuat dari bahan tembaga, stainless steel
atau galvanised steel. Perlu diperhatikan pula dalam pemilihan bahan agar
terhindar dari galvanic couple yang dapat menyebabkan korosi.
Ukuran Elektroda :
-

diameter 5/8 - 3/4

Panjang 4 feet 8 feet


Elektroda batang ini mampu menyalurkan arus discharge petir maupun

untuk pemakaian pentanahan yang lain.

Gambar 5. Elektroda Batang


Lektroda Pelat
Bentuk elektroda pelat biasanya empat persegu atau empat persegi
panjang yang tebuat dari tembaga, timah atau pelat baja yang ditanam didalam
tanah. Cara penanaman biasanya secara vertical, sebab dengan menanam secara
horizontal hasilnya tidak berbeda jauh dengan vertical. Penanaman secara
vertical adalah lebih praktis dan ekonomis.

Gambar 6. Elektroda Pelat


Elektroda pita
Elektroda pita jenis ini terbuat dari bahan metal berbentuk pita atau juga
kawat BCC yang di tanam di dalam tanah secara horizontal sedalam 2 feet.
Elektroda pita ini bisa dipasang pada struktur tanah yang mempunyai tahanan
jenis rendah pada permukaan dan pada daerah yang tidak mengalami
kekeringan.
Hal ini cocok untuk daerah daerah pegunungan dimana harga tahanan jenis
tanah makin tinggi dengan kedalaman.

Gambar 7. Elektroda Pita


1.2.4 PengukuranTahananTanah
Pengukuran tahanan tanah dilakukan untuk mengetahui kondisi dari
sistem pentanahan, baik untuk pentanahan yang baru selesai dibangun
maupun yang sudah lama dipasang sebagai upaya pemeliharaan preventif,
yang dapat berlanjut kepada perbaikan bila pentanahan sudah melebihi standar
yang berlaku. Pada hasil pengukuran tahanan tanah yang dilakukan, dapat
dianalisa hasil pengukuran

dengan standart tahanan tanah. Standart

kelayakan grounding/pembumian harus

bisa

memiliki nilai Tahanan

sebaran/Resistansi maksimal 5 Ohm (Bila di bawah 5 Ohm lebih baik).


Material grounding dapat berupa batang tembaga, lempeng tembaga atau
kerucut tembaga, semakin luas permukaan material grounding yang di tanam
ke tanah maka resistansi akan semakin rendah atau semakin baik.
Teknik pengukuran tahanan tanah yakni :
Namun dalam laporan praktikum ini kita kemukakan dua macam cara
pengukuran yang biasa dilakukan, yaitu dengan menggunakan amperemeter
dan volt meter, yang disebut juga dengan metode Fall of Potential dan
cara kedua melalui pengukur tahanan tanah analog.
1. Metode Fall of Potential (melalui ampere-meter

dan

voltmeter), dilakukan dengan urutan sebagai berikut.


(1) Tanamlah 2 buah kutub tanah batang penolong, yang terletak pada satu
garis lurus dengan jarak minimal antara keduanya 20
rangkai seperti gambar berikut.

meter. Dan

Gambar 8. Rangkaian Metode Fall of Potential


(2 ) Amati penunjukan ampere meter dan voltmeter. Besar
tahanan pentanahan adalah:

Rx = V/I
Keterangan :
RX= tahanan sistem pentanahan (ohm);
V= pembacaan meter pada voltmeter (volt);
I = Pembacaan meter pada amperemeter (ampere).
2. Pengukuran tahanan pentanahan dengan alat pengukur tahanan tanah analog
(Earth tester)
Pengukuran hal ini pada elektroda dengan menggunakan alat ukur Earth
Tester. Standar dalam hambatan adalah 5 ohm, bila standar tersebut masih
belum bisa didapatkan maka ditambahkan dengan jarak 2 panjangnya.
Untuk mendapatkan nilai resistansi (R) dari elektroda pentanahan, perlu
memperhatikan parameter - parameter yang meliputi :
1. Resistivitas tanah
2. Resistivitas air tanah
3. Dimensi elektroda pentanahan
4. Ukuran elektroda pentanahan
Pelaksanaan pengoperasian Earth Tester sbb: Probe (A) di hubungkan
dengan electrode (di bak kontrol). Probe (B) dan (C) ditancapkan ke tanah

dengan jarak antara 5 s.d. 10 m. Maka alat ukur akan menunjukan besar dari
R-tanah lihat.

Gambar 9. Pengoperasian EarthTester


Standar besar R-tanah untuk elektroda pentanahan 5 Ohm. apabila
belum mencapai nilai 5 Ohm, maka elektroda bisa ditambah dan
dipasang diparalel. Pentanahan paling ideal apabila elektroda bisa
mencapai sumber air atau R-tanah = 0.
Contoh: Pemasangan electrode pertama (R1), setelah diukur = 12
Selanjutnya ditanam lagi electrode ke 2 (R2), diukur tahanan = 12 ,
Maka besar tahanan RI diperoleh dengan R2 = 6 , Karena belum
mencapai <5, maka ditanam lagi electrode ke 3 (R3) hingga seterusnya
sampai pengukuran menunjukkan nilai < 5 ohm.
Ada kendala ketika suatu saat kita membangun sistem Grounding,
setelah diukur dengan Earth Tester Nilai yang muncul 100 ohm (maks),
sehingga kita diwajibkan menurunkan < 5 ohm sesuai standar PUIL .

Ga mbar 9. Ko nse p pe ngu kur a n ya ng me nu n ju kk a n nila i 100 o hm


Ada triks sederhana dengan menambah Rods sesuai dengan rumus
mencari Nilai2 tahanan yang di-paralelkan. (Rod dianalogikan
sebagai

tahanan). Kalau100/100=50ohm (2rod), 50/50=25 ohm (menjadi 4 rod),


25/25=12,5 ohm (menjadi 6 rod),12,5/12,5=6,25 ohm (menjadi 8 rod), bila
nilai tahanan masih>0 dan tahanan >5. Maka perlu berikan tahan kembali
sehingga 6,25/6,25=3,125ohm. Hasil 3,125 ohm sudah memenuhi standar < 5
ohm. Maka jumlah rods yang dibutuhkan untuk menurunkan dari 100 ohm ke
3,125 adalah 10 buah rods.

Gambar 10. Konsep pengukuran yang sesuai standar PUIL yakni <
5 ohm
Setelah Grounding Ring sudah terhubung sempurna, mengecek
kembali dengan Earth Tester sehingga nilai tahanan akan turun drastis
dan sesuai dengan standar PUIL (R < 5 ohm).
Elektrode bumi selalu harus ditanam sedalam mungkin dalam
tanah, sehingga dalam musim kering selalu terletak dalam lapisan tanah
yang basah. Phasa sequence tester (drivel): alat ukur untuk mencari urutan
fasa (R, S dan T)pada suatu sumber listrik.
1.3 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yakni :
(1) Earth Tester Kyoritsu Model 4102 A

: 1 Buah

(2) Paku Grounding

: 2 Buah

(3) Kabel hijau 5 M beserta Test Lead dan Clip

: 1 Buah

(4) Kabel Kuning 10 M beserta Test Lead dan Clip : 1 Buah


(5) Kabel Merah 20 M beserta Test Lead dan Clip : 1 Buah
(6) Kain Lap

: 1 Buah

(7) Multimeter Analog

: 1 Buah

Earth Tester Kyoritsu Model 4102 A

Paku Grounding

Instruksi Menggunakan Earth Tester

Multimeter Analog

Kabel Kuning 10 m dan Test Lead dan Clip

Kabel Hijau 5 m dan Test Lead dan Clip

Kabel Merah 20 m dan Test Lead dan Clip

1.4 Gambar Rangkaian Pengukuran


Gambar 11. Gambar Rangkaian Pengukuran Tahanan Tanah

1.5 Prosedur percobaan


Pada praktikum pengukuran tahanan tanah ini, tempat yang digunakan
untuk pengukuran tahanan resistansi ada pada :
1. Tower Lab. Telkom

Yang
diuji

2. Grounding Penangkal Petir Tandon


Yang
diuji

3. Arah Timur laut Lab. Telkom

Yang diuji

4. Grounding Panel Listrik Lab. Telkom

Yang diuji

5.

Barat Laut Lab Telkom

Yang diuji

Adapun prosedur percobaan pada praktikum ini adalah :


(1) Sebelum melakukan pengukuran, cek terlebih dahulu kabel dalam keadaan baik dan
tidak putus. Memastikan kabel dalam keadaan baik menggunakan multimeter analog,
Hubungkan kabel dengan multimeter analog, kemudian probe positif ditancapkan
pada ujung kabel test lead dan probe negative pada klip (penjepit buaya), atur skala
multimeter pada ohmmeter x1, jika display multimeter menunjukkan 1 Ohm, maka
kabel dalam keadaan baik dan dapat digunakan.

Gambar 11. Cara Pengecekan Kabel dengan Multimeter Analog

Gambar 12. Display Multimeter Analog menunjukkan 1 Ohm

Gambar 13. Range Multimeter Analog menunjukkan x1

(2) Kemudian cek keadaan Earth Tester, atur range skala pada earth tester diatur pada
BATT.CHECK lalu tekan PRESS TO TEST. Apabila display pada earth tester
menunjukkan BATT.GOOD maka praktikum dapat dilaksanakan.

2. Press to
1. Batt Check

Gambar 14. Earth Tester Kyoritsu Model 4102 A dalam keadaan BATT GOOD

Gambar 15. Display Earth Tester Kyoritsu Model 4102 A menunjukkan dalam
keadaan BATT GOOD
(3) Menancapkan pemaku pertama yang daerahnya telah disiram atau dibasahi
dengan air dimana jarak 5 10 meter dari tempat grounding yang akan diukur. Dan
pemaku kedua yang daerahnya telah disiram atau dibasahi dengan air dimana
jarak 5 10 meter dari tempat pemaku pertama.
(4) Menghubungkan kabel hijau (yang memiliki panjang + 5 meter) ke grounding yang
diukur dengan penjepit dan dihubungkan ke alat ukur earth tester pada port yang
berwarna hijau.
(5) Menghubungkan kabel warna kuning (yang memiliki panjang + 10 meter) ke
pemaku pertama dengan penjepit dan dihubungkan langsung ke alat ukur earth
tester pada pada port warna kuning.

(6) Menghubungkan kabel warna merah (yang memiliki panjang + 15 meter) ke


pemaku kedua dengan penjepit dan hubungkan langsung

ke alat ukur earth

tester pada port yang berwarna merah.

Gambar 12. Skema rancangan percobaan


(7) Setelah semua terhubung dengan benar, mengatur range switch pada earth tester
pada range x100 . Kemudian menekan tombol Press to test. Lalu mencatat hasil
pengukuran pada tabel 2.1.

(8) Mengulangi langkah 5, mengatur range switch pada earth tester pada range x10
dan x1 . Lalu mencatat hasil percobaan pada tabel 2.1.

1.6 Hasil percobaan


Pada praktikum pengukuran resistansi tanah ini, didapatkan hasil pengukuran yang
dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Hasil pengukuran resistansi tanah.
No.

Lokasi

Jarak antar elektroda


5m

6m

7m

1.

Tower Lab. Telkom

0.8

0.8

2.

Grounding Penangkal Petir Lab. TT

6.2

6,4

6.4

3.

Depan lab telkom (Panel Listrik)

5.2

5.2

4.

Grounding Penangkal Petir Tandon

0.6

0.6

0.6

5.

Penangkal Petir (Barat Laut Lab. TT)

0.8

0.6

0.4

1.7 Pembahasan Hasil Pengujian


Berdasarkan hasil pengujian dapat dianalisa sebagai berikut bahwa :
Hasil pengukuran nilai tahanan tanah di setiap tempat titik pengukuran berbedabeda. Hal ini dipengaruhi karena kesuburan dari tanah tersebut, letak jarak antara
kabel kuning dan kabel merah, dan faktor kebersihan kabel grounding.
Nilai tahanan tanah yang terlalu besar dapat diakibatkan karena tejadi korosi
pada kabel dan kandungan air yang terlalu sedikit. Dan semakin kecil nilai tahanan
tanah, maka sistem pentanahan pada titik tersebut dinilai semakin baik, sehingga
perangkat telekomunikasi semakin baik (aman dari kerusakan).

1.8 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dan analisa data yang telah dibuat, dapat disimpulkan :
1) Sistem pentanahan digunakan untuk melindungi perangkat telekomunikasi terhadap
tegangan listrik tinggi. Dengan adanya pentanahan maka perangkat tersebut akan
terhindar dari kerusakan dan dapat beroperasi dengan aman.
2) Kondisi tanah yang berbeda beda mempengaruhi hasil nilai tahanan tanah. Semakin
banyak kandungan air pada tanah tersebut semakin kecil nilai tahanan tanahnya.
3) Hasil pengukuran nilai tahanan tanah berbeda- beda dikarenakan penampatan batang
pembantu yang berubah ubah sesuai jarak yang ditentukan.