Anda di halaman 1dari 2

Pembuatan aspirin

Tujuan praktikum
Landasan teori
Aspirin atau asam asetil salisilat biasa digunakan sebagai analgesik antipiretik, merupakan
serbuk hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, tidak berbau atau berbau
lemah. Stabil di udara, di dalam udara lembab secara bertahap terhidrolisis menjadi asam salisilat
dan asam asetat.
Kelarutannya dalam air yaitu sukar larut, tetapi mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform,
dan dalam eter, agak sukar larut dalam eter mutlak.
Identifikasi aspirin dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Panaskan dengan air selama beberapa menit, dinginkan dan tambahkan 1 atau 2 tetes besi
(III) klorida : akan terjadi warna merah ungu
2. Spectrum serapan infra merah zat yang didispersikan dalam kalium bromide P
menunjukan maksimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada asam
asetilsalisilat BPFI
Sedangkan penetapan kadar asam salisilat dapat dilakukan dengan cara

Masukan ke dalam labu 1,5 g asetosal kemudian tambahkan 50 ml NaOH 0,5 N LV,
didihkan campuran secara perlah lahan selama 10 menit. Tambahkan indicator
fenolftalein LP. Titrasi kelebihan NaOH dengan asam sulfat 0,5 N LV. Lakukan
penetapan blangko.

Meski aspirin biasa digunakan sebagai analgesic antipiretik, aspirin memiliki efek samping yaitu
gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan dyspepsia, hal ini dapat di minimalisir dengan
memberikan aspirin sesudah makan. Aspirin dengan dosis rendah dapat berfungsi sebagai anti
platelet, yaitu mengurangi kekentalan darah.
Aspirin dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat menggunakan
katalis H2SO4 pekat sebagai zat penghidrasi.

Pada pembuatan aspirin, reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi denga
mereaksikan alcohol dan anhidrida asam. Dapat dilihat dari gambar berikut ini
: