Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

MATA KULIAH ETIKA PROFESI


MENGENAI
ANALISIS AMBRUKNYA JEMBATAN PENGHUBUNG
GEDUNG ARSIP DAN PERPUSTAKAAN DKI JAKARTA
Oleh :
Opi Sumardi

1215021064

TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
AMBRUKNYA JEMBATAN PENGHUBUNG
GEDUNG ARSIP DAN PERPUSTAKAAN JAKARTA

A. Pendahuluan
Akhir Bulan Oktober 2014 kemarin, tepatnya pada hari Jumat, tanggal 30
Oktober 2014 terjadi sebuah kejadian dimana robohnya suatu Jembatan
penghubung Gedung Arsip dan Perpustakaan DKI Jakarta di Taman Ismail
Marzuki, cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Jembatan merupakan bagian dari
proyek peremajaan Gedung Perpustakaan dan Gedung Arsip Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta senilai Rp 24 miliiar. Jembatan yang sedang dalam poses
pengerjaan ini roboh secara memdadak pada pagi hari sekitar pukul 06.00
WIB, sebelumnya pada kamis malam di laksanakan proses pengecoran pada
jembatan oleh para pekerja.
Dalam kejadian ambruknya jembatan penghubung antara gedung arsip nasional
dan

perpustakaan

DKI

ini

menelan

korban

jiwa

sebanyak

orang.Diperkirakan, empat orang pekerja yang posisinya berada di tengah tidak


dapat menyelamatkan diri sehingga tertimbun coran. Sementara lima lainnya
berhasil melompat sehingga selamat, meskipun mengalami luka-luka cukup
berat.
Kejadian ini sedang diselidiki oleh Tim dari Pusat Laboratorium Forensik Polri
dan Polres Jakarta Pusat. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mengetahui
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya peristiwa itu. Bila terbukti
adanya kesalahan perencanaan, maka kepolisian akan menindak secara hukum
pihak pengembang yaitu PT Sartonia Agung. Selain dikerjakan oleh PT
Sartonia Agung, proyek tersebut juga melibatkan PT Citra Murni Semesta
sebagai perencana, dan PT Citra Rancang Mandiri sebagai pengawas. Proyek
dimulai pada September 2014 lalu dan ditargetkan untuk selesai tahap
konstruksi pada Desember 2014.

B. Analisis ambruknya jembatan


Ada beberapa dugaan penyebab ambruknya jembatan penghubung yang berada
dikawasan taman ismail marzuki ini,antara lain:
1. Dugaan yang pertama, jembatan itu ambruk karena minimnya tiang
penyangga sehingga penyangga yang ada tidak mampu menahan beban
jembatan yang saat itu tengah dicor. Rubuhnya jembatan penghubung
karena tidak ada penyangga pada konstruksi bangunan dikarenakan
jembatan berada diatas jalan akses yang masih dipergunakan untuk kegiatan
seperti biasanya tanpa ada pagar penutup di area konstruksi . Hal ini
berdampak konstruksi yang baru saja dicor itu tidak cukup kuat menahan
beban semen cor dan para pekerja yang sedang mengecor di lokasi kejadian,
yang mengakibatkan penopang sementara selama kegiatan konstruksi
berlangsung roboh dan menimpa para pekerja bangunan.

2. Yang kedua adalah belum keringnya tiang beton apa saat proses pengecoran
terjadi, karena belum keringnya tiang beton yang menjadi pondasi pada
jembatan sehingga tiang beton tidak bisa menahan beban material cor yang
berada pada atas jembatan, oleh karenanya tiang beton mengalami retak dan
membuat tiang beton ambruk beserta jembatanya
3. Dan yang ketiga adalah akibat tidak ditutupnya jalan yang persis berada
dibawah jembatan yang sedang dibangun ini, akibat dari jalan yang tidak
ditutup, kendaraan dapat melintas seperti biasa, bahkan mobil molen pun
dapat menggunakan jalan tersebut. Akibat dari aktivitas kendaraan bermotor
terjadi getaran yang merambat kepada tiang kontruksi jembatan, sehingga
tiang kontruksi mendapatkan gaya luar yang semestinya belum dia dapat
(prematur)

Dugaan yang paling kuat adala yang pertama, dimana jembatan itu ambruk karena
minimnya tiang penyangga sehingga penyangga yang ada tidak dapat menahan
beban jembatan yang saat itu tengah dicor.

C. Para pekerja yang tidak terdaftar dalam asuransi BPJS


Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak terkait, terungkap juga
bahwa para pekerja yang menjadi korban ambruknya jembatan pada kompleks
arsip Negara dan perpustkaan Taman Ismail Marzuki tidak terdaftar dalam
penerima asuransi BPJS, PT Sartoni Agung selaku pemegang proyek proses
pembuatan jembatan ternyata tidak mendaftarkan para pekerja yang meninggal
ke BPJS.
Kepala Kantor Cabang BPJS Salemba, Muhammad Akip mengatakan,
berdasarkan data pihaknya, PT Sartoni Agung hanya mendaftarkan 10 orang
karyawan kantornya yang bertugas di bagian administrasi ke program BPJS.
Sedangkan para pekerja proyek jembatan penghubung TIM tak ada yang
terdaftar.
"Perusahaan kontraktor pelaksana proyek harus menanggung sendiri semua
biaya santunan kepada para tenaga kerja yang menjadi korban," ucapnya. Akip
membeberkan, sesuai ketentuan yang berlaku, apabila ada tenaga kerja
meninggal dunia dalam sebuah kasus kecelakaan, maka pihak ahli waris berhak
mendapatkan santunan 48 kali gaji. Jika dihitung dari Upah Minimum Provinsi
(UMP) DKI yang sebesar Rp 2,45 juta, para ahli waris berhak menerima
santunan Rp 120 juta.
"Bagi tenaga kerja yang cacat berhak terima santunan lebih besar yakni 56 kali
gaji atau sebesar Rp 134,4 juta," tuturnya. Ia menambahkan, apabila
perusahaan kontraktor tidak memenuhi kewajiban kepada para tenaga kerja,
ancaman hukumannya bisa berupa sanksi pidana maksimal penjara delapan
tahun atau denda Rp 1 miliar. "Ketentuan itu diatur dalam sejumlah peraturan
seperti UU No. 14 Tahun 1993 tentang Jamsostek, UU No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan dan UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS," tandasnya.

D. Sanksi Hukum
Robohnya jembatan penghubung gedung arsip Negara dengan perpustkaan
DKI Jakarta di komplek Taman Ismail Marzuki sedang dalam proses
penyelidikaan,

jika

memang

dalam

penyelidikan

terindikasi

adanya

pelanggaran hukum dalam proses pengerjaan, maka PT Sartonia Agung, PT


Citra Murni Semesta sebagai perencana dan PT Citra Rancang Mandiri sebagai
pengawas, maka pihak-pihak terkait akan mendapatkan sanki hukum sesuai
dengan UU yang berlaku.

Berikut Pasal-Pasal yang terkait pada robohnya jembatan Taman Ismail


Marzuki (TIM)

1. BAB V (PENYELENGGARAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI)


Pasal 23 ayat (2) yang berisi penyelenggaraan pekerjaan konstruksi wajib
memenuhi ketentuan tentang keteknikan, keamanan, keselamatan dan
kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, serta tata lingkungan setempat
untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan konstruksi.

2. BAB VI (KEGAGALAN BANGUNAN)


Pasal 25 ayat (1) yang berisi pengguna jasa dan penyedia jasa wajib
bertanggung jawab atas kegagalan bangunan.
Pasal 26 ayat (1) jika terjadi kegagalan bangunan yang disebabkan karena
kesalahan perencana atau pengawas konstruksi, dan hal terebut terbukti
menimbulkan kerugian bagi pihak lain, maka perencana atau pengawas
konstruksi wajib bertanggung jawab sesuai dengan bidang profesi dan
dikenakan ganti rugi.

E. Hipotesis
Ada beberapa hipotesis mengenai kasus ambruknya jembatan tersebut,
diantaranya

1. Pihak terkait hanya mendaftarkan bebrapa pekerjanya ke BPJS

2. Pihak terkait memberikan uang santunan kepada para korban


3. Pikah terkait menutupi kejadian ambruknya jembatan
4. Setelah ambruknya jembatan, pihak terkait lepas tangan begitu saja
5. Menginfokan kepada warga sekitar bahwa akan diadakan pembangun
jembatan
6. Pihak terkait tidak melakukan SOP yang baik dan benar

PN

PP

Diagram garis

Buat perbandingan kasus dengan pesawat chalanger


Tugas kirim kealamat e-mail Pak Zulhendri
zulhendri_hasyim@yahoo.com
zulhendri.hasyim@gmail.com