Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu pada tubuh
dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas (FKUI,2008 : 268). Usus
besar adalah bagian dari sistem pencernaa dimana materi yang dibuang disimpan. Rectum
adalah ujung dari usus besar dekat dengan anus. Bersamaan mereka membentuk suatu pipa
panjang yang berotot yang disebut usus besar. Tumor tumor usus besar dan rektum adalah
pertumbuhan-pertumbuhan yang datangnya dari dinding dalam dari usus besar.
Tumor jinak dari usus besar disebut polip. Tumor ganas dari usus besar disebut
kanker. Polip jinak tidak menyerang jaringan yang berdekatan dengannya atau menyebar ke
bagian-bagian lain tubuh. Polip jinak ini dapat diangkat dengan mudah sewaktu
colonoscopy dan tidak mengancam nyawa. Namun, jika polip-polip jinak ini tidak diangkat
dari usus besar, mereka dapat menjadi ganas dan bersifat kanker melalui waktu.
Kebanyakan kanker usus dipercaya telah berkembang dari polip. Kanker usus besar dan
rektum juga disebut sebagai kanker kolorektal, dapat menyerang dan merusak jaringanjaringan dan organ-organ yang berdekatan. Sel-sel kanker juga dapat pecah dan keluar serta
menyebar pada bagian-bagian lain tubuh seperti hati dan paru-paru dimana tumor-tumor
baru terbentuk. Peyebaran kanker usus besar. Sekali metastasis telah terjadi pada kanker
kolorektal, suatu penyembuhan yang penuh dari kanker adalah tidak mungkin.
Masalah kanker kolorektal menggambarkan masalah kesehatan masyarakat yang
cukup besar, terutama di negara-negara berkembang. Frekuensi kanker kolorektal
menduduki peringkat ke tiga pada pria dan peringkat ke dua pada wanita dari semua
penyakit karsinoma. Angka kematian pada pria dan wanita dengan kanker kolorektal kurang
lebih sama, dengan rasip 1.05 : 1.00. Berdasarkan surveilans epidimiologi, angka bertahan
hidup 5 tahun (5-year survival rate) di USA adalah 61%, sedangkan di Eropa 41%, India
42%, Cina dan Negara-negara berkembang sekitar 32%. Beberapa factor yang dianggap
berperan meningkatkan resiko kanker kolorektal adalah factor diet, usia, intake energy
berlebihan, kurangnya aktifitas fisik, tingginya kolesterol darah, kebiasaan merokok dan
obesita

BAB II
PEMBAHASAN

II.1. ANATOMI USUS BESAR / KOLON

Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki
(sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus besar lebih
besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inchi (sekitar 6,5 cm), tetapi semakin dekat
dengan anus diameter usus besar semakin kecil. Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon
dan rektum. Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung
sekum. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inchi pertama dari usus besar. Katup
ileosekal mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon
ascendens, transversum, descendens dan sigmoid. Tempat dimana kolon membentuk
kelokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura
hepatica dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk
suatu lekukan berbentuk S. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu kolon sigmoid
bersatu dengan rektum. Rektum terbentang dari kolon sigmoid sampai dengan anus. Satu

inci terakhir dari rektum terdapat kanalis ani yang dilindungi oleh sfingter ani eksternus dan
internus. Panjang rektum sampai kanalis ani adalah 5.9 ini (Lindseth, 2005).
Dinding kolon terdiri empat lapisan yaitu turnika serosa, muskularis, tela submukosa
dan turnika mukosa akan tetapi usus besar mempunyai gambaran- gambaran yang khas
berupa : lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna tetapi terkumpul dalam tiga pita
yang disebut taenia koli yang bersatu pada sigmoid distal. Panjang taenia lebih pendek
daripada usus sehingga usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil
peritoneum yang berisi lemak yang disebut appendices epiploika. Lapisan mukosa usus
besar lebih tebal dengan kriptus lieberkuhn dan terletak lebih dalam serta mempunyai sel
goblet lebih banyak daripada usus halus.
Vaskularisasi kolon dipelihara oleh cabang-cabang arteri mesenterika superior dan
arteri mesenterika inferior, membetuk marginal arteri seperti periarcaden yang memberi
cabang-cabang vasa recta pada dinding usus. Yang membentuk marginal arteri adalah arteri
ileocolica, arteri colica dextra, arteri colica media, arteri colica sinistra dan arteri
sigmoidale. Hanya arteri colica sinistra dan arteri sigmoideum yang merupakan cabang dari
arteri mesenterika inferior, sedangkan yang lain dari arteri mesenterika superior. Pada
umumnya pembuluh darah berjalan retroperitoneal kecuali arteri colica media dan arteri
sigmoidale yang terdapat didalam mesocolon transvsum dan mesosigmoid. Seringkali arteri
colica dextra membentuk pangkal yang sama dengan arteri colica media atau arteri
ileocolica. Pembuluh darah vena mengikuti pembuluh darah arteri untuk menuju ke vena
mesenterica superior dan arteri mesenterica inferior yang bermuara ke dalam vena porta.
Aliran limfe mengalir menuju ke Lnn.ileocolica, Lnn.colica dextra, Lnn.colica media,
Lnn.colica sinistra dan Lnn.mesenterica inferior. Kemudian mengikuti pembuluh darah
menuju truncus intestinalis.

Colon ascendens panjangnya sekitar 13 cm, dimulai dari caecum pada


fossa iliaca dextra sampai flexura coli dextra pada dinding dorsal abdomen
sebelah kanan, terletak di sebelah ventral rend extra, hanya bagian ventral
ditutup peritoneum visceral. Jadi letak colon ascendens ini retroperitonel,
kadang-kadang dinding dorsalnya langsung melekat pada dinding dorsal

abdomen yang ditempati muskulus quadratus lumborum dan rend extra.


Arterialisasi colon ascendens dari cabang arteri ileocolic dan arteri colic dextra
yang berasal dari arteri mesenterika superior.
Colon transversum panjangnya sekitar 38 cm, berjalan dari flexura coli
dextra sampai flexura coli sinistra. Bagian kanan mempunyai hubungan
dengan duodenum dan pankreas di sebelah dorsal, sedangkan bagian kiri
lebih bebas. Flexura coli sinistra letaknya lebih tinggi daripada yang kanan
yaitu pada polus cranialis ren sinistra, juga lebih tajam sudutnya dan kurang mobile. Flexura
coli dextra erat hubunganya dengan facies visceralis hepar (lobus dextra bagian caudal)
yang terletak di sebelah ventralnya. Arterialisasi didapat dari cabang cabang arteri colica
media. Arterialisasi

colon transversum didapat dari arteri

colica

media

yang berasal dari arteri mesenterica superior pada 2/3 proksimal, sedangkan 1/3 distal
dari colon transversum mendapat arterialisasi dari arteri colica sinistra yang berasal dari
arteri mesenterica inferior.

Mesokolon transversum adalah duplikatur peritoneum yang


m e m f i k s a s i c o l o n t r a n s v e r s u m sehingga letak alat ini intraperitoneal.
Pangkal mesokolon transversa disebut radix mesokolon transversa, yang
berjalan dari flexura coli sinistra sampai flexu ra coli dextra. Lapisan cranial
mesokolon

transversa

ini

melekat

pada

omentum

majus

dan

disebut

ligamentum gastro (meso) c o l i c a , s e d a n g k a n l a p i s a n c a u d a l m e l e k a t


p a d a p a n k r e a s d a n d u o d e n u m , d i d a l a m n y a b e r i s i pembuluh darah,
limfa dan syaraf. Karena panjang dari mesokolon transversum inilah yang
menyebabkan letak dari colon transversum sangat bervariasi, dan kadangkala mencapai
pelvis.

Colon descendens panjangnya sekitar 25 cm, dimulai dari flexura coli sinistra
sampai fossa iliaca sinistra dimana dimulai colon sigmoideum. Terletak peritoneal karena
hanya dinding ventral saja yang diliputi peritoneum, terletak pada muskulus quadratus

lumborum dan erat hubungannya dengan ren sinistra. Arterialisasi didapat dari cabangcabang arteri colica sinistra dan cabang arteri sigmoid yang merupakan cabang dari arteri
mesenterica inferior.
Colon sigmoideum mempunyai mesosigmoideum sehingga letaknya intraperi toneal,
dan terletak didalam fossa iliaca sinistra. Radix mesosigmoid mempunyai
perlekatan yang variabel pada fossa iliaca sinistra. Colon sigmoid membentuk lipatanlipatan yang tergantung isinya didalam lumen, bila terisi penuh dapat memanjang
dan masuk ke dalam cavum pelvis melalui aditus pelvis, bila kosong lebih
pendek dan lipatannya ke arah ventral dan ke kanan dan akhirnya ke dorsal
lagi.

Colon

mediodorsal

sigmoid
pada

melanjutkan

aditus

pelvis

diri

kedalam

rectum

pada

di

sebelah

depan

os

dinding
sacrum.

A r t e r i a l i s a s i d i d a p a t d a r i c a b a n g - c a b a n g a r t e r i sigmoidae dan arteri


haemorrhoidalis superior cabang arteri mesenterica inferior. Aliran vena
yang terpenting adalah adanya anastomosis antara vena haemo rrhoidalis
superior dengan vena haemorrhoidalis medius dan inferior, dari ketiga vena
ini yang bermuara kedalam vena porta melalui vena mesenterica inferior
hanya vena haemorrhoidalis superior, sedangkan yang lain menuju vena iliaca
interna. Jadi terdapat hubungan antara vena parietal (vena iliaca interna) dan v e n a
visceral (vena porta) yang penting bila terjadi pembendungan
pada aliran vena porta misalnya pada penyakit hepar sehingga
m e n g g a n g g u a l i r a n d a r a h p o r t a l . M e s o s i g m o i d e u m mempunyai radix
yang berbentuk huruf V dan ujungnya letaknya terbalik pada ureter kiri dan
percabangan arteri iliaca communis sinistra menjadi cabang -cabangnya, dan
diantara kaki -kaki huruf V ini terdapat reccessus intersigmoideus.

Lapisan otot longitudinal kolon membentuk tiga buah pita, yang


disebut tenia (pita) yang lebih pendek dari kolon itu sendiri sehingga kolon berlipat-lipat
dan berbentuk seperti sakulus ( kantong kecil ), yang disebut haustra (bejana). K o l o n
transversum dan kolon sigmoideum terletak intraperitoneal dan
dilengkapi dengan mesenterium.
II.2 FISIOLOGI KOLON
Fungsi usus besar ialah menyerap air, vitamin, dan elektrolit, ekskresi mucus serta
menyimpan feses, dan kemudian mendorongnya keluar. Dari 700- 1000 ml cairan usus halus
yang diterima oleh kolon, hanya 150-200 ml yang dikeluarkan sebagai feses setiap harinya.
Udara ditelan sewaktu makan, minum, atau menelan ludah. Oksigen dan karbondioksida di
dalamnya di serap di usus, sedangkan nitrogen bersama dengan gas hasil pencernaan dari
peragian dikeluarkan sebagai flatus. Jumlah gas di dalam usus mencapai 500 ml sehari. Pada
infeksi usus, produksi gas meningkat dan bila mendapat obstruksi usus gas tertimbun di
saluran cerna yang menimbulkan flatulensi (Pieter, 2005).

II.3 TUMOR KOLON


II.3.i DEFINISI
Karsinoma kolon merupakan keganasan yang mengenai sel -sel epitel
di mukosa kolon. Dasar penting dari keganasan kolon ini adalah proses
perubahan secara genetic pada sel -sel epitel di mukosa kolon yang timbul
akibat beberapah hal, antara lain diatetik, kelainan di kolon sebelumnya dan
factor herediter.
II.3.ii ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDI SPOSISI
Secara umum karsinoma selalu dihubungkan dengan :
-

Bahan-bahan kimia

Bahan-bahan radioaktif

Virus
Umumnya karsinoma kolon terjadi dihubungkan dengan factor genetik

dan lingkungan. Serta dihubungkan dengan factor predisposisi diet rendah


serat, kenaikan berat badan dan intake alcohol.
II.3.iii EPIDEMIOLOGI
Karsinoma kolon adalah penyebab kematian kedua akibat karsinoma.
Kemungkinan mengidapnya adalah 1 dalam 17. Insidennya berkurang dua
dari seratus setahun sejak 1985 hingga 1995 tetapi baru-baru ini meningkat
kembali.

Ini

menunjukan

keberhasilan

deteksi

awal

melalui

program

skrining.
Tumor terjadi ditempat yang berada dalam kolon, kira -kira pada
bagian :
-

26 % pada caecum dan ascending colon

10 % pada tranversum colon

15 % pada descendin g colon

20 % pada sigmoid colon

30 % pada rectum
Insiden

karsinoma

kolon

menunjukan

variasi

geografik.

Negara

industry kecuali Jepang mempunyai insiden tertinggi. Manakala negara


Amerika Selatan dan China mempunyai angka kejadian yang relative rendah.
Ini disebabkan oleh perbedaan diet antara negara berkenaan dengan factor
lingkungan.
Di Indonesia dari berbagai laporan terdapat kenaikan jumlah kasus
tetapi belum ada angka yang pasti berapa insiden karsinoma kolon.
Sjamsuhidat (1986) dari evaluasi data -data di Departeman Kesehatan
mendapatkan 1,8 per 100.000 penduduk. Kira -kira 152.000 orang meninggal
di Amerika Serikat terdiagnosa karsinoma kolon pada tahun 1992 dan 57.000
orang meninggal karena karsinoma ini pada tahun yang sama (ACS 1993).
Sebagian besar pasien karsinoma kolon mempunyai frekuensi yang sam a
antara laki -laki dan perempuan. Karsinoma pada colon kanan biasanya terjadi pada
wanita dan Ca pada rektum biasanya terjadi pada laki-laki. Insidennya meningkat sesuai
dengan usia (kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun) dan makin tinggi
pada individu dengan riwayat keluarga yang mengalami karsinoma kolon.

II.3.iv TIPE KARSINOMA KOLON DAN REKTUM


Secara makroskopis terdapat tiga tipe karsinoma kolon dan rektum, yaitu :
- Tipe polipoid atau vegetatif
Pada tipe ini tumor tumbuh menonjol ke dalam lumen usus, berbentuk bunga kol dan
ditemukan terutama di sekum dan kolon ascendens.

- Tipe skirus atau infiltratif


Pada tipe ini biasanya mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis dan
gejala obstruksi, terutama ditemukan pada kolon descendens, sigmoid dan rektum.
- Tahap ulserasi
Pada tipe ini terjadi karena nekrosis di bagian sentral dan terletak di daerah rektum.
Pada tahap lanjut, sebagian besar tumor kolon akan mengalami ulcerasi menjadi tukak
yang maligna.
II.3.v METASTASE
Metastase ke kelenjar limfa regional ditemukan pada 40-70% kasus pada saat
direseksi. Invasi ke pembuluh darah vena ditemukan pada lebih 60% kasus. Metastase
sering ke hepar, cavum peritoneum, paru-paru, diikuti kelenjar adrenal, ovarium dan tulang.
Metastase ke otak sangat jarang, dikarenakan jalur limfatik dan vena dari rektum menuju
vena cava inferior, maka metastase karsinoma rektum lebih sering muncul pertama kali di
paru-paru. Berbeda dengan kolon dimana jalur limfatik dan vena menuju vena porta, maka
metastase karsinoma kolon pertama kali paling sering di hepar.
II.3.vi KLASIFIKASI TUMOR
Derajat keganasan karsinoma kolon dan rektum dibagi berdasarkan gambaran
histologik menurut klasifikasi Dukes. Dukes membagi karsinoma berdasarkan dalamnya
infiltrasi karsinoma di dinding usus.
Klasifikasi karsinoma rektum menurut Dukes:
Tahap A: Infiltrasi karsinoma terbatas pada dinding usus (survive for 5 years 97 %)
Tahap B: Infiltrasi karsinoma sudah menembus lapisan muskularis mukosa (80 %)
Tahap C: Terdapat metastasis ke dalam kelenjar limfe

C1: Beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer (65 %)


C2: Dalam kelenjar limfe jauh (35 %)
Tahap D: Metastasis jauh (< 5 %)

Klasifikasi TNM
T Tumor primer
Tx - Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 - Tidak ada tumor primer
T1 - Invasi tumor di lapisan sub mukosa
T2 - Invasi tumor di lapisan otot propria
T3 - Invasi tumor melewati otot propria ke subserosa atau masuk ke perikolik yang
tidak dilapisi peritoneum atau perirektal
T4 - Invasi tumor terhadap organ atau struktur sekitarnya atau peritoneum viseral
N Kelenjar limfe regional
Nx - Kelenjar limfe regional tidak dapat dinilai
N1 - Metastasis di 1-3 kelenjar limfe perikolik atau perirektal
N2 - Metastasis di 4 kelenjar limfe perikolik atau perirektal
N3 - Metastasis pada kelenjar limfe sesuai nama pembuluh darah atau pada kelenjar
apikal
M Metastasis jauh

Mx - Metastasis jauh tidak dapat dinilai


M0 - tidak ada metastasis jauh
M1 - terdapat metastasis jauh

II.3.vii GEJALA KLINIS


Pasien

dengan

karsinoma

kolorektal

umumnya

memberikan

keluhan berupa gangguan proses defekasi ( C h a n g e o f b o w e l h a b i t ),


b e r u p a k o n s t i p a s i a t a u d i a r e , perdarahan segar lewat anus (rectal bleeding),
perasaan tidak puas setelah buang air besar (tenesmus), buang air besar berlendir (mucoid
diarrhea), anemia tanpa sebab yang jelas,dan penurunan berat badan. Adanya suatu
massa yang dapat teraba dalam perut juga dapat menjadi keluhan yang dikemukakan.
Manifestasi klinik karsinoma kolon tergantung dari bentuk makroskopis dan letak
tumor. Bentukpolipoid (cauli flower) dan koloid (mukoid) menghasilkan banyak mukus,
bentuk

anuler

menimbulkan

obstruksi

(schirrhus) t u m b u h l o n g i t u d i n a l
rektal

dan

bentuk

dan
sesuai

kolik,

sedangkan

sumbu

u l s e r a t i f menyebabkan

bentuk

panjang

ulkus

ke

infiltratif
dinding

dalam

dinding

lumen.Karsinoma yang terletak di kolon asenden menimbulkan gejala perdarahan samar


sedangkan tumor yang terletak di rektum memanifestasikan perdarahan yang masih
segar dan muncul gejala diare palsu. Di kolon desenden, karsinoma ini
menyebabkan kolik yang nyata karena lumennya lebih kecil dan feses sudah berbentuk
solid.
II.3.viii DIAGNOSIS
Diagnosis karsinoma kolon ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunj ang berupa pemeriksaan laboratoris, radiologis,
kolonoskopi, danhistopatologis.

A. Anamnesis
Pada stadium dini, karsinoma kolon tidak memberikan gejala. Gejala
biasanyam u n c u l s a a t p e r j a l anan penya k i t s u d a h l a n j u t . P a s i e n d e n g a n
k a r s i n o m a k o l o n biasanya mengeluh rasa tidak enak, kembung, tidak bisa
flatus, sampai rasa nyeri dip e r u t . D i d a p a t kan juga p e r u b a h a n k e b i a s a a n
b u a n g a i r b e s a r b e r u p a d i a r e a t a u sebaliknya, obstipasi, kadang disertai darah dan
lendir. Buang air besar yang disertaidengan darah dan lendir biasanya dikeluhkan
oleh pasien dengan karsinoma kolon b a g i a n p r o k s i m a l . H a l i n i d i s e b a b k a n
k a r e n a d a r a h ya n g d i k e l u a r k a n o l e h k a r s i n o m a tersebut sudah bercampur
dengan feses. G e j a l a

umum

lain

ya n g

dikeluhkan

o l e h pasien berupa

kelemahan, kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan.


B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan

fisik

mungkin

tidak

banyak

menolong

dalam

menegakkan

diagnosis.T u mor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi abdomen, bila
teraba menunjukkan keadaan yang sudah lanjut. Bila tumor sudah metastasis ke hepar akan
teraba hepar yang noduler dengan bagian yang keras dan yang kenyal. Asites
biasa didapatkan jika tumor sudah metastasis ke peritoneal. Perabaan limfonodi
inguinal,iliaka, dan supraklavikular penting untuk mengetahui ada atau tidaknya metastasis
ke limfonodi tersebut. Pada pasien yang diduga menderita karsinoma kolorektal
harus dilakukan rectal toucher. B i l a l e t a k t u m o r a d a d i r e k t u m a t a u
r e k t o s i g m o i d , a k a n teraba massa maligna (keras dan berbenjol -benjol dengan
striktura) di rektum atau rektosigmoid teraba keras dan kenyal. Biasanya pada
sarung tangan akan terdapat lendir dan darah.

C. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
demikian, setiap

laboratorium

pasien

hemoglobin.Pemeriksaan

yang

tidak

dapat

mengalami

radiologis

yang

menentukan

perdarahan
dapat

diagnosis.

perlu

dikerjakan

diperiksa

berupa

foto

Walau
kadar
polos

abdomen,barium enema dengan single contrastmaupun double contrast dan foto thoraks

a. Pemeriksaan Laboratotium
1. Anemia dapat dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium darah (hemoglobin dan
hematokrit).
2. Test guaiac pada feses
3. Carcinoembryonic antigen (CEA)
b. Pemeriksaan Radiologi
1. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu imaging diagnostik (pencitraan
diagnostik) untuk pemeriksaan alat alat dalam tubuh manusia,dimana kita dapat
mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya.
Pemeriksaan ini bersifat non-invasif, tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita, dapat
dilakukan dengan cepat, aman dan data yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik yang
tinggi. Tidak ada kontra indikasinya, karena pemeriksaan ini sama sekali tidak akan
memperburuk penyakit penderita. Dalam 20 tahun terakhir ini, diagnostik ultrasonik
berkembang dengan pesatnya, sehingga saat ini USG mempunyai peranan penting untuk
meentukan kelainan berbagai organ tubuh.

Prinsip USG
Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekwensi lebih tinggi daripada
kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak bisa mendengarnya sama
sekali. Suara yang dapat didengar manusia mempunyai frekwensi antara 20 20.000 Cpd
(Cicles per detik- Hertz).. Sedangkan dalam pemeriksaan USG ini mengunakan frekwensi 110 MHz ( 1- 10 juta Hz). Gelombang suara frekwensi tingi tersebut dihasilkan dari kristalkristal yang terdapat dalam suatu alat yang disebut transducer. Perubahan bentuk akibat
gaya mekanis pada kristal, akan menimbulkan teganganlistrik. Fenomena ini disebut efek
Piezo-electric, yang merupakan dasar perkembangan USG selanjutnya. Bentuk kristal juga

akan berubah bila dipengaruhi oleh medan listrik. Sesuai dengan polaritas medan listrik
yang melaluinya, kristal akan mengembang dan mengkerut, maka akan dihasilkan
gelombang suara frekwensi tingi
Display Modes
Echo dalam jaringan dapat diperlihatkan dalam bentuk :
1. A- mode L : Dalam sistem ini, gambar yang berupa defleksi vertikal pada osiloskop.
Besar amplitudo setiap defleksi sesuai dengan energy eko yang diterima
transducer.
2. B- mode : Pada layar monitor (screen) eko nampak sebagai suatu titik dan garis
terang dan gelapnya bergantung pada intensitas eko yang dipantulkan dengan
sistem ini maka diperoleh gambaran dalam dua dimensi berupa penampang irisan
tubuh, cara ini disebut B Scan.
3. M- mode : Alat ini biasanya digunakan untuk memeriksa jantung. Tranducer tidak
digerakkan. Disini jarak antara transducer dengan organ yang memantulkan eko
selalu berubah, misalnya jantung dan katubnya.

Kekurangan
Kekurangan yang umum pada pemeriksaan USG disebabkan karena USG tidak
mampu menembus bagian tertentu badan. Tujuh puluh persen gelombang suara yang
mengenai tulang akan dipantulkan, sedang pada perbatasan rongga-rongga yang
mengandung gas 99% dipantulkan. Dengan demikian pemeriksaan USG paru dan tulang
pelvis belum dapat dilakukan. Dan diperkirakan 25% pemeriksaan di abdomen diperoleh
hasil yang kurang memuaskan karena gas dalam usus. Penderita gemuk agak sulit, karena
lemak yang banyak akan memantulkan gelombang suara yang sangat kuat.

Pemakaian Klinis
USG digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dalam berbagai kelainan
organ tubuh. USG digunakan antara lain menemukan dan menentukan letak massa dalam
rongga perut dan pelvis. membedakan kista dengan massa yang solid. mempelajari
pergerakan organ (jantung, aorta, vena kafa), maupun pergerakan janin dan jantungnya.

Pengukuran dan penetuan volum. Pengukuran aneurisma arterial, fetalsefalometri,


menentukan kedalaman dan letak suatu massa untuk bioksi. Menentukan volum massa
ataupun organ tubuh tertentu (misalnya buli-buli, ginjal, kandung empedu, ovarium, uterus,
dan lain-lain). Bioksi jarum terpimpin. Arah dan gerakan jarum menuju sasaran dapat
dimonitor pada layar USG. Menentukan perencanaan dalam suatu radioterapi. Berdasarkan
besar tumor dan posisinya, dosis radioterapi dapat dihitung dengan cepat. Selain itu setelah
radioterapi, besar dan posisi tumor dapat pula diikuti.

2. CT-Scan Colon
Pemanfaatan alat CT scan dalam melakukan pemeriksaan Colon merupakan teknik
yang baru dan dapatkita lakukan dengan sangat cepat dan dapat meniadakan radiasi yang
diterima oleh pekerja radiasi. Dengan pemeriksaan CT Colon ini dapat dilihat gambaran
Colon baik dalam maupun luarnya sebagaimana kita melakukan Colonoskopi.
CT-Scan colon dapat dilakukan dengan 2 cara, antara lain :
1. Dengan memasukkan kontras media positif.
2. Dengan memasukkan kontras media negative.
CT Colon adalah pemeriksaan Colon dengan memanfaatkan alat CT Scan untuk
menperlihatkan gambaran Colon dan menggunakan kontras media negative yaitu udara yang
dipompakan kedalam colon. Tujuan pemeriksaan ini sama halnya dengan pemeriksaan
Colon biasa , hanya disini kita tak perlu melakukan fluoroskopi dan juga tidak memasukkan
Barium kedalam usus sipenderita. Jadi pemeriksaannya jauh lebih nyaman dari pemeriksaan
Colon yang biasa kita lakukan , serta waktu yang dibutuhkan jauh lebih cepat. Pada CT
Colon kita dapat mengevaluasi permukaan luar (3D Colon) dan structure dalam dari Colon
dengan Navigator ,seperti divertikuli , dokter dapat juga mengevaluasi bagian dari structure
abdomen lainnya, seperti liver, ginjal, dll. Setelah dilakukan pemotretan dalam posisi supine
dan prone dengan mempergunakan Helical dan ketebalan irisan 3 - 5 mm , pasien
diperbolehkan keluar dari ruangan pemeriksaan, dan selanjutnya kita lakukan prosesing
gambar pada operator console. Untuk melihat Colon dengan penampilan tiga dimensi,
cukup kita klik Built model, terus 3D Colon , dengan sekejap kita dapatkan gambaran

Colon. Dengan jalan memutar-mutar gambar sedemikian rupa , kita dapatkan gambaran
Colon yang kita kehendaki. Gambar Colon 3D yang sudah kita dapatkan kita ubah lagi
menjadi gambaran colon seperti yang biasa kita buat dengan alat Rontgen konvensionil.
Dengan menggunakan alat (Navigator) yang dapat kita gerakkan sepanjang gambaran Colon
, dimana kita sudah mempunyai gambaran Colon dalam potongan axial , sagital dan coronal
sebagai panduan., maka kita dapatkan gambaran permukaan dalam dari Colon , dimana
gambar yang kita lihat adalah gambaran seperti yang dihasilkan dengan alat Colonoskopi
yang selama ini kita lihat. Bila dokter memerlukan visualisasi dari Colon itu sendiri dapat
dengan mudah dilakukan, walaupun pasien sudah keluar dari bagian Radiologi.
Tujuan pemeriksaan : untuk melihat kelainan-kelainan pada daerah kolon.
Indikasi Pemeriksaan :
1. Colitis
2. Polip
3. Tumor
4. Invaginasi
5. Hemoroid
Kontra indikasi :
1. Perforasi
2. Keadaan umum pasien jelek
3. Diare
Persiapan Pasien :
1. Dua hari sebelum pemeriksaan, pasien dianjurkan makanan lunak / bubur kecap
dan disarankan banyak minum air
2. Jika kita lakukan pagi maka makan bubur kecap yg terakhir jam 19.00 wib. Dan jika
pemeriksaan dilakukan siang, makan terakhir jam 07.00 wib.

3. Jika kita lakukan pemeriksaan pagi, maka pasien minum garam inggris 1 bks dicmpur dgn
air 1 gelas jam20.00 wib. Utk pemeriksaan siang maka minum garam inggris dicampur
air 1 gelas jam 07.00 wib.
4. Jika dilakukan pemeriksaan pagi maka mulai puasa jam24.00 wib dan jika dilakukan
siang, puasa jam07.00, pasien dianjurkan tdk merokok dan tdk boleh bnyak bicara.
5. Besok pagi / siang pasien dtg ke radiologi dlm keadaan puasa.
6. Sebaiknya sebelum pemeriksaan pasien dilakukan klisma.

Persiapan Alat dan Bahan :


1. Cateter
2. Gunting klem
3. Spuit 20cc
4. Jelly
5. Spuit cateter
6. Handscone
7. Bahan Kontras dan gelas
Persiapan pasien :
1. Petugas radiologi menjelaskan tentang yg akan diperiksa ke pasien.
2. Petugas radiologi meminta ke pasien mengganti pakaian dgn pakaian yg telah disiapkan /
baju pasien.
3. Pasien diminta naik ke atas meja pemeriksaan.
Dengan memakai CT Scan dual slice saja kita bisa menghasilkan gambaran CT
Colon dengan baik, apalagi apabila kita pakai CT multi slice , pasti gambarannya akan jauh
lebih baik , sebab resolusinya akan semakin halus. Keuntungan pemeriksaan ini adalah
mengurangi radiasi yang diterima pekerja radiasi. Dapat memperlihatkan struktur Colon
baik lapisan luar maupun lapisan dalamnya. Kita bisa melihat gambaran Colonoskopi tanpa
menunggu dokter ahli Penyakit dalam untuk melakukannya. Kelemahannya kita tak bisa
mengambil cuplikan bahan yang akan diperiksa dilaboratorium, apabila ada hal-hal yang
mencurigakan. Kerugiankerugiannya adalah boleh dikatakan tidak ada.

CT telah menjadi standar untuk gambar modalitas abdomen pada pasien dengan
karsinoma kolorektal.CT scan dapat mengevaluasi abdominal cavity dari pasien
kanker kolon pre operatif. CT scan bisa mendeteksi metastase ke hepar, kelenjar
adrenal, ovarium, kelenjar limfa dan organ lainnyadi pelvis. CT scan sangat berguna
untuk mendeteksi rekurensi pada pasien dengan nilai CEA yang meningkat setelah
pembedahan kanker kolon. Sensitifitas CT scan mencapai 55%. CT scan memegang peranan
penting pada pasien dengan kanker kolon dalam menentukan stage dari lesi sebelum
tindakan operasi. Pelvic CT scan dapat mengidentifikasi invasi tumor kedinding usus
dengan akurasi mencapai 90 %, dan mendeteksi pembesaran kelanjar getah bening> 1 c m
p a d a 7 5 % p a s i e n . Penggunaan CT dengan kontras dari abdomen dan
p e l v i s d a p a t mengidentifikasi metastase pada hepar dan daerah intraperitoneal.

Gambar. CT Scan Ca kolon

Gambar. Metastasis ke hati

Kerugian CT Scan adalah

Karena CT Scan menggunakan sinar x untuk menghasilkan gambar potongan tubuh


,maka tentu saja pasien yang sedang dalam pemeriksaan CT Scan akan terpapar dengan
sinar x. CT Scan dengan teknologi saat ini hanya akan memaparkan 4% saja dari radiasi
sinar x yang dipaparkan oleh alat Rontgen sinar x biasa. Oleh karena itu ibu hamil tak dapat
melakukan pemeriksaan CT Scan , oleh karena itu ibu hamil wajib memeberitahukan
kondisi kehamilannya pada dokter sebelum dokter merekomendasikan pemeriksaan CT
Scan. Munculnya gambaran artefak (gambaran yang seharusnya tidak ada tapi terekam). Hal
ini biasanya timbul karena pasien bergerak selama perekaman CT Scan berlangsung, pasien
yang menggunakan tambalan gigi amalgam atau sendi palsu dari logam, atau kondisi
jaringan tubuh tertentu yang mengakibatkan timbulnya gambaran artefak. Demikian
penggunakan CT Scan sejak awal sampai saat ini setelah banyak sekali kemajuan teknologi
yang dicapai ,kemajuan ini dapat sangat bermanfaat untuk dunia kedokteran dan kesehatan.

3. Foto Polos Abdomen


Foto polos abdomen merupakan pemeriksaan awal untuk melakukan pemeriksaan
barium enema. Apabila pada pemeriksaan foto polos abdomen ditemukan tanda-tanda
perforasi, maka pemeriksaan barium enema merupakan kontra indikasi.
Foto polos abdomen sedapat mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar
horizontal. Posisi supine perlu untuk melihat distribusi gas, sedangkan di sikap tegak untuk
melihat batas udara-air dan letak obstruksi karena massa.

Gambar. polos abdomen

Gambar. foto abdomen left lateral decubitus

GAMBAR. Foto polos abdomen-Left lateral decubitus


Pada foto BOF/LLD tampak adanya peumoperitoneum (udara bebas diatas hepar pada foto
LLD) menunjukan adanya perforasi usus.

Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup
seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43
cm.
Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step ladder dan air fluid level pada
foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Foto polos abdomen
mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas 84%
pada obstruksi kolon.
Pada foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran step ladder dan air fluid level
terutama pada obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa saja tidak tampak gas. Jika terjadi
stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat gambaran berupa hilangnya mukosa yang
reguler dan adanya gas dalam dinding usus. Udara bebas pada foto thoraks tegak
menunjukkan adanya perforasi usus. Penggunaan kontras tidak dianjurkan karena dapat
menyebabkan peritonitis akibat adanya perforasi.
4. Barium Enema
Tujuan Pemeriksaan :
Membantu menegakkan diagnosis dari carcinoma colon dan penyakit inflamasi colon.
Mendeteksi adanya polip, inflamasi dan perubahan struktural pada colon.
Resiko dan Tindakan Pencegahan :
Pemeriksaan ini berbahaya jika dikerjakan pada penderita tachycardia atau colitis berat.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan hati-hati pada penderita ulcerative colitis,
diverticulitis, berak darah akut atau kecurigaan pneumatosis cytoides intestinalis.
Nilai Normal :
Barium akan mengisi colon secara rata dan menunjukkan contour, patency (bebas
terbuka) dan posisi bowel yang normal.

INDIKASI :
1.

Gangguan pola buang air besar

2.

Nyeri daerah colon

3.

Kecurigaan massa daerah colon

4.

Melena

5.

Kecurigaan obstruksi colon

KONTRA INDIKASI :
1.

Absolute
toxic megacolon
pseudo membranous colitis
post biopsy colon (sebaiknya menunggu setelah 7 hari)

2. Relatif
persiapan colon kurang baik
baru saja mengalami pemeriksaan GI tract bagian atas dengan kontras
KOMPLIKASI :
1.

Perforasi usus

2.

Extraluminasi ke venous

3.

Water intoxication

4.

Intramural barium

5.

Cardiac arithmia

6.

Transient bactericemia

7.

ES obat-obatan yang dipergunakan (buscopan, dll)

Persiapan Pemeriksaan
Persiapan Pasien
-

48 jam sebelum pemeriksaan pasien makan makanan lunak rendah serat

18 jam sebelum pemeriksaan ( jam 3 sore ) minum tablet dulcolax

4 jam sebelum pemeriksaan ( jam 5 pagi ) pasien diberi dulkolak kapsul per anus
selanjutnya dilavement

Seterusnya puasa sampai pemeriksaan

30 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi sulfas atrofin 0,25 1 mg / oral untuk
mengurangi pembentukan lendir

15 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi suntikan buscopan untuk mengurangi


peristaltic usus.

Prosedur
1. Catat tanda-tanda vital pasien, tekanan darah, denyut nadi dan hasil laboratorium
bila ada.
2. Dilakukan plain foto Abdomen polos/ BNO Pendahuluan, menggunakan kaset
ukuran 30 x 40 cm, bila pasien berukuran besar menggunakan kaset ukuran 43 x 35
cm. Teknik Foto Plain Abdomen polos/ BNO Pendahuluan
3. Posisi Pasien Supine diatas meja pemeriksaan, kedua lengan disamping tubuh, kaki
lurus dengan lutul sedikit fleksi untuk mobilisasi.
4. Posisi objek Mid Sagital Plane pada pertengahan meja, batas atas processus
xyphoideus dan batas bawah sympisis pubis. 6.2.3. Central Ray: Vertical, Center
point : umbilikus, FFD : 90 cm Kv : 70 , MAS. 6.2.4. Eksposi: sekspirasi dan tahan
nafas supaya abdomen lebih tipis, diafragma keatas sehingga abdomen terlihat jelas.
5. Siapkan media kontras barium sulfat yang dicampur dengan air dengan
perbandingan 1:8.
6. Masukkan ke tabung irigator yang telah tersambung dengan selang irigator.
Letakkan pada ketinggian 1 meter dari tempat tidur pasien.

7. 6.5 Masukkan kanula yang telah diolesi vaselin ke anus pasien, diklem dengan
gunting klem. 6.6. Buka gunting klem sehingga barium masuk ke colon sigmoid (5
menit). Tutup gunting klem pada selang irigator. Lakukan pemotretan dengan kaset
24 x 30 cm.
8. Buka kembali klem alirkan barium kira-kira sampai mengisi rectum ( 10 menit).
Lakukan pemotretan AP dengan menggunakan kaset 30 x 40 cm. Kemudian
dilanjutkan dengan pemotretan posisi obliq kanan dan kiri dengan menggunakan
kaset 30 x 40 cm.
9. Pasien dipersilahkan BAB.
10. Setelah itu dimasukkan media kontras negatif melalui anus pasien dengan spuit.
(double kontras). Kemudian dilakukan pemotretan dengan posisi AP.
11. Pemeriksaan Colon in loop selesai. Pasien diantar keluar ruang pemeriksaan.
12. Kelebihan dalam menegakan diagnosa pemeriksaan usus besar / colon in loop bahwa
radiolog dapat memonitor secara real time. Pergerakan peristaltic pada saat
dilakukan pemeriksaan colon in loop, dengan catatan bahwa dalam pemeriksaan ini
menggunakan flouroscopi.
Setelah Pemeriksaan
Perawatan Langsung Setelah Pemeriksaan :
Jika X-ray lebih lanjut tidak dimintakan , maka penderita dapat kembali makan
secara normal.
Minum banyak cairan karena pemeriksaan dapat menyebabkan dehydrasi.
Aktivitas Setelah Pemeriksaan :
Kotoran penderita akan berwarna keputihan hingga 24 72 jam ( 1 3 hari ).

Teknik Pemasukan Media Kontras


1.

Metode Kontras Tunggal


1.

Pemeriksaan hanya menggunakan BaSO4 sebagai media kontras.

2.

Kontras dimasukkan ke kolon sigmoid, desenden, transversum,

ascenden sampai daerah seikum.

2.

3.

Dilakukan pemotretan full fillng

4.

Evakuasi, dibuat foto post evakuasi

Metode Kontras Ganda


1.

Kontras Ganda Satu Tingkat

Kolon diisi BaSO4 sebagian selanjutnya ditiupkan udara untuk

mendorong barium melapisi kolon

Selanjutnya dibuat foto full filling

2.

Kontras Ganda Dua Tingkat


1. Tahap pengisian
- Kolon diisi BaSO4 sampai kira 2 fleksura lienalis atau
pertengahan kolon transversum
-

Pasien disuruh merubah posisi agar barium masuk ke seluruh


kolon

2. Tahap pelapisan
-

Menunggu 1 2 menit supaya barium melapisi mukosa kolon

3. Tahap pengosongan
-

Pasien disuruh BAB

4. Tahap pengembangan

Dipompakan udara ke dalam kolon = 1800 2000 ml, tidak


boleh berlebihan karena akan timbul komplikasi : reflex fagal
(wajah pucat, bradikardi, keringat dingin dan pusing )

5. Tahap pemotretan
-

Pemotretan

dilakukan

apabila

yakin

seluruh

kolon

mengembang semua
-

Posisi pemotretan tergantung dari bentuk dan kelainan serta


lokasinya.

Proyeksi PA, PA oblig & lateral ( rectum )

Proyeksi AP, AP oblig ( kolon transversum termasuk fleksura)

Proyeksi PA, PA oblig pasien berdiri ( fleksura lienalis dan


hepatica)

Gambar. Karsinoma kolon-apple core

Gambar. Barium enema

Gambar. Karsinoma kolon

Gambar. Colorecral cancer.

Memberikan keuntungan sebagai berikut :


-

sensitivitasnya untuk mendiagnosis karsinoma kolon-rektum: 65 95 %,

aman

tingkat keberhasilan prosedur sangat tinggi

tidak memerlukan sedasi

telah tersedia di hampir seluruh rumah sakit.

Terdapat kelemahan pemeriksaan enema barium yaitu:


-

lesi T1 sering tak terdeteksi

rendahnya akurasi untuk mendiagnosis lesi di rekto-sigmoid dengan divertikulosis


dan di sekum

rendahnya akurasi untuk mendiagnosis lesi tipe datar

rendahnya sensitivitas (7095 %) di dalam mendiagnosis polip < 1 cm

mendapat paparan radiasi.

5. Kolonoskopi

Kolonoskopi
rata-rata

berusia

dianjurkan
risiko

untuk

karsinoma

memeriksa
kolon

atau

pasien
polip

lebih
kolon.

dari

50

Karsinoma

tahun
usus

jarang tidak dapat dideteksi pada kolonoskopi karena ia cenderung lebih besar
daripada adenomatosa

polip. Kolonoskopi adalah tes

yang sangat

spesifik. Pada

kolonoskopi, massa dibiopsi untuk diagnosis patologis.


Kolonoskopi adalah cara paling akurat mengevaluasi mukosa kolon, dan
memungkinkan biopsi lesi. Pemeriksaan lengkap ke sekum kolon dapat dicapai dalam lebih
dari 95% pasien. Potensi ketidaknyamanan dari prosedur agak tergantung pada operator,
tetapi dalam banyak kasus prosedur dapat dilakukan dengan nyaman intravena sederhana
sedasi sadar.. Kolonokopi adalah sekitar 12% lebih akurat daripada udara kontras barium
enema, terutama dalam mendeteksi lesi kecil seperti adenomas. Pemeriksaan ini paling
akurat dan sangat efektif.
Kolonoskopi memberikan keuntungan sebagai berikut:

ingkat sensitivitas di dalam mendiagnosis adenokarsinoma atau poli kolorektal


adalah 95%

kolonoskopi berfungsi sebagai alat diagnostik melalui biopsi dan terapipada


polipektomi

kolonoskopi dapat mengidentifikasi dan melakukan reseksi synchronous polyp

tidak ada paparan radiasi.


Kerugian kolonoskopi adalah :

pada 5 30 % pemeriksaan tidak dapat mencapai sekum

sedasi intravena selalu diperlukan

lokalisasi tumor dapat tidak akurat

tingkat mortalitas adalah 1 : 5000 kolonoskopi.

c. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi merupakan diagnosis pasti dari karsinoma.
Klinisi harus mereview penemuan hasil pemeriksaan ini untuk mengkonfirmasi diagnosis
dan dapat segera memberikan terapi yang tepat. Dalam kedokteran onkologi, ini merupakan
prinsip dasar dalam menegakkan diagnosis keganasan.
II.3.ix DIAGNOSA BANDING
Gejala dari tumor kolon dapat menyerupai beberapa penyakit seperti :
1. Divertikulitis
Terutama divertikulitis yang terjadi di daerah sigmoid atau kolon descendens,
dimana pada kolon dan divertikulitis sama-sama ditemukan feces yang bercampur
dengan darah dan lendir.
2. Colitis Ulcerative

Pada colitis ulcerativa juga ditemukan feces yang berdarah dan berlendir, tenesmus,
mules dan nyeri perut. Tetapi pada colitis ulserativa terdapat diare sedangkan pada
tumor kolon biasanya feces berbentuk kecil-kecil seperti kotoran kambing.
3. Appendicitis Infiltrat
Pada appendicitis infiltrat terasa nyeri dan panas yang mirip dengan tumor sekum
stadium lanjut (tumor sekum pada stadium awal bersifat mobile).
4. Haemoroid
Pada haemoroid, feces juga bercampur darah namun pada haemoroid darah keluar
sesudah feces keluar baru kemudian bercampur. Sedangkan pada tumor kolon darah
keluar bersamaan dengan feces.
5. Tumor Ovarium
Pada tumor ovarium dan tumor kolon kiri sama-sama sering ditemukan gangguan
konstipasi. Pada tumor ovarium, juga didapati pembesaran abdomen namun tumor ini
tidak menyebabkan keluarnya darah bersama feces. Selain itu tumor ovarium
menyebabkan gangguan pada miksi berupa peningkatan frekuensi di mana hal ini tidak
dijumpai pada tumor kolon.
Kolon kanan

Kolon tengah

Kolon kiri

Rektum

Abses apendiks

Tukak peptik

Kolitis ulserosa

Polip

Massa apendikular

Karsinoma lambung

Polip

Proktitis

Amuboma

Abses hati

Divertikulitis

Fisura ani

Enteritis regionalis

Karsinoma hati

Endometriosis

Karsinoma ani

Kolesitiasis

Hemoroid

Kelainan pankreas

Kelainan saluran empedu

II.3.x PENATALAKSANAAN
Satu-satunya kemungkinan terapi kuratif adalah tindakan bedah. Tujuan utama
tindakan bedah adalah memperlancar saluran cerna baik bersifat kuratif maupun non kuratif
dengan mengangkat karsinoma dan kemudian memulihkan kesinambungan usus.
Kemoterapi dan radiasi bersifat paliatif dan tidak memberikan manfaat kuratif. Tindakan
bedah terdiri dari reseksi luas karsinoma primer dan kelenjar limfe regional. Bila sudah
terjadi metastase jauh, tumor primer akan direseksi juga dengan maksud mencegah
obstruksi, perdarahan, anemia, inkontinensia, fistel dan nyeri.
1. Terapi primer
Terapi utama untuk tumor kolon adalah operatif. Tindakan operatif yang dilakukan
tergantung dari letak tumor kolon tersebut. Tehnik pembersihan mesenterium dan keadaan
patologi (benigna atau maligna) menentukan berapa panjang kolon yang harus direseksi.
2. Terapi paliatif
Reseksi tumor secara paliatif dilakukan untuk mencegah atau mengatasi obstruksi atau
menghentikan pendarahan supaya kualitas hidup penderita lebih baik. Jika tumor tidak dapat
diangkat, dapat dilakukan bedah pintas atau anus preternaturalis.
Pada metastasis di hepar yang tidak lebih dari 2 atau 3 nodul dapat dipertimbangkan
eksisi metastasis. Pemberian sitostatik melalui arteri hepatika, yaitu perfusi secara selektif,
kadang lagi disertai terapi embolisasi, dapat berhasil menghambat pertumbuhan sel ganas.
II.3.xi KOMPLIKASI
1. Anemia
Anemia pada tumor kolon terutama disebabkan akibat adanya perdarahan. Anemia
yang terjadi adalah anemia hipokrom mikrositik.
2. Perforasi

Perforasi terjadi karena adanya sumbatan oleh tumor yang akan mengganggu pasase
dari feses.
3. Ileus obstruksi
4. Metastasis
Terutama ke hepar, paru, tulang, dan otak.

II.3.xii PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari ada atau tidaknya metastasis jauh, yaitu klasifikasi
penyebaran tumor dan tingkat keganasan sel tumor. Bila disertai dengan diferensiasi sel
tumor buruk, prognosisnya sangat buruk.