Anda di halaman 1dari 13

Tugas Awal

Percobaan 2
Efek Foto Listrik

OLEH
KELOMPOK VI

Harianto Andi Matu


Yulinar Astari Shintia Manu
Delphina Nggolaon
Nurliza

Program Studi Pendidikan Fisika


Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
Universitas Tadulako
2014

SOAL
1.Tuliskan fungsi alat dan bahan pada percobaan ini!
2.Jelaskan kegunaan apertures dan mengapa pada lubang di gunakan tiga ukuran
yaitu 2 mm,4 mm dan 8 mm!
3.Translate prosedur kerja pada modul percobaan!
JAWABAN

1.Fungsi alat dan bahan pada percobaan ini yaitu:


Filter optik berfungsi untuk menyaring warna dan Apertures berfungsi
sebagai pengatur warna yang jatuh pada mask fotodioda.
Mercury Light Source Enclosure berfungsi meneruskan cahaya dari
fotodioda.
Dasar berfungsi sebagai penyangga dari

Mercury Light Source

Enclosure dan photodiode.


Photodiode berfungsi mendeteksi cahaya
Power Supply berfungsi sebagai sumber tegangan (V)
Fotolistrik Efek Aparatur berfungsi untuk melihat arus dan tegangan
Kabel dan tali
Kabel Power untuk fotolistrik Efek Aparatur berfungsi sebagai
penghubung
BNC Connector Cable untuk Photodiode berfungsi sebagai penghubung
Banana-plug Tali patch, Merah dan Biru berfungsi sebagai penghubung
Item di Filter Optical Box
-Filter: 365 nm, 405 nm, 436nm,546nm,577nm berfungsi sebagai
penyaring
-Apertures: 2mm diameter, 4mm diameter, 8mm diameter berfungsi
mengatur jumlah frekuensi dan intensitas cahaya / foton.

-Caps: Photodiode, Lampu Mercury


2. Fungsi apertures 2 mm diameter, 4 mm diameter, dan 8 mm diameter adalah
digunakan unuk mengatur jumlah fhoton yang akan disinarkan pada permukaan
anoda, sehingga ketika aperture memiliki diameter besar yakni 8 mm > 4 mm > 2
mm maka intensitas penyinaran juga semakin besar dengan demikian arus listrik
(I) semakin besar akan tetapi intensitas cahaya berapa pun tetap memerlukan
energi potensial penghentian yang sama, diameter apeture besar maka frekuensi
foton besar sehingga foto elektron yang dihasilkan juga lebih besar.

3.Prosedur Kerja
Ketika cahaya bersinar insiden pada katoda ( K ) , elektron dapat
dipancarkan dan ditransfer ke anoda ( A ) . Ini merupakan photocurrent.
Dengan mengubah tegangan antara anoda dan katoda ,dan mengukur arus foto ,
Anda dapat menentukan karakteristik kurva arus-tegangan dari tabung
fotolistrik .

Fakta-fakta dasar percobaan efek fotolistrik adalah sebagai berikut :


a. Untuk frekuensi tertentu ( warna ) cahaya , jika tegangan antara katoda
dan anoda , VAK , sama dengan potensi berhenti , V , photocurrent adalah
nol.
b. Ketika tegangan antara katoda dan anoda lebih besar dari menghentikan
tegangan , arus foto akan meningkat dengan cepat dan akhirnya mencapai

saturas. Arus jenuh sebanding dengan intensitas insiden ringan. Lihat


Gambar 2 .
c. Terang frekuensi yang berbeda ( warna ) memiliki potensi yang berbeda
berhenti. Lihat Gambar 3
d. Kemiringan sebidang menghentikan potensi terhadap frekuensi adalah nilai
rasio , h / e . Lihat Gambar 1 .
e. Efek fotolistrik hampir seketik. Setelah cahaya bersinar di katoda , elektron
akan dipancarkan dalam waktu kurang dari nanodetik .

Basic Setup

Pasang Lampu Mercury di Sumber Mercury Cahaya


1. Gunakan obeng phillips kepala untuk membuka empat sekrup kecil yang
menahan piring kekandang Mercury Light Source.
2. Gunakan obeng kecil untuk membongkar panel belakang off dari kandang.
Catatan: Jangan sentu hamplop kaca lampu merkuri. Kulit berminyak dan
kelembaban dapat mengurangi kinerja lampu itu. Gunakansarung
tangan,kain bersih, atau handuk kertas untuk menangani lampu merkuri.
3. Putar lampu merkurike dalam soket di dalam kandang.
4. Pasang kembali panel belakang dan sekrup di kandang.

Sekrupkeselarasan

The Mercury Light Source memiliki dua sekrup keselarasan kecil diseberang
sudut basisnya. The Photodiode kandang memiliki keselarasan sedikit lebih besar
sekrup dipasang di sepanjang garis tengah alasnya. Pasang Lampiran pada Base
Tempatkan kandang Mercury Light Source di pangkalan sehingga sekrup
keselarasan masuk kelubang keselarasan yang sesuai pada dasar, dan posisi
indikator panah di sisi kandang sejajar dengan 0 mm di tepi dasar. Tempatkan
kandang Photodiode pada dudukan agar sekrup keselarasan pergi ke dalam lubang
yang sesuai keselarasan pada slotdi dasar,dan posisi indikator panah di sisi
kandang sejajar dengan 400mm pada tepi dasar.

Hubungkan Tali dan Kabel

Catatan : Sebelum menyambungkan kabel atau kabel , pastikan kedua switch on


h/e Power Supply berada dalam posisi OFF .
1. Sambungkan kabel daya dari Sumber kandang Mercury Cahaya ke dalam
wadah berlabel " OUTPUT DAYA UNTUK MERCURY ~ 220V " di
samping h / e Power Supply .
2. Sambungkan kabel daya khusus DIN - plug- to- DIN -plug antara port
pada bagian belakang Aparatur fotolistrik Efek berlabel " POWER

SUPPLY " dan port pada h / e Power Supply berlabel " OUTPUT DAYA
UNTUK ALAT ". Sekrup cincin knurled pada plug berakhir kabel ke
bagian ulir masing-masing port .
3. Sambungkan kabel khusus BNC - plug- to- BNC -plug antara port
bertanda " K " pada Photodiode tersebut kandang dan port bertanda " K "
di bagian belakang Aparatur Efek fotolistrik. Sekrup cincin knurled pada
plug berakhir kabel ke bagian ulir masing-masing port .
4. Hubungkan kabel pisang -plug patch merah antara port ditandai " A " pada
Photodiode kandang dan port yang ditandai " A " di bagian belakang
fotolistrik yang Efek Aparatur .
5. Hubungkan kabel pisang -plug patch biru antara port ditandai dengan '
turun Arrow ( simbol untuk GROUND ) di kandang Photodiode dan port
ditandai dengan ' panah bawah ' ( GROUND ) di bagian belakang Efek
fotolistrik Aparatur.
6. Sambungkan kabel daya antara port di sisi h / e Power Supply
berlabel " DAYA INPUT ~ 110V " dan stop kontak listrik yang sesuai
(Catatan: Untuk model 220 volt , hubungkan kabel antara port berlabel "
DAYA INPUT ~ 220V " dan stop kontak listrik yang sesuai).

h/e Aparatur Efek fotolistrik


h/e Aparatur Efek fotolistrik memiliki empat tombol, tiga tombol dan dua layar
digital pada panel depan, danempat port (berlabel A, K, 'panah bawah', dan
POWER SUPPLY) pada panel belakang. Aparat mengukur photocurrent melalui
tabung dioda dan tegangan ditabung fotodioda.

1. Rentang sekarang beralih : Menetapkan kisaran saat ini untuk instrumen


penguat arus ( 10-8 sampai 10-13 A ).
2. Ammeter : Menampilkan photocurrent melalui tabung dioda.
3. Voltmeter : Menampilkan potensial di tabung dioda.
4. Rentang tegangan switch: Mengatur rentang tegangan sebagai -2 sampai
+30 V untuk merencanakan karakteristik arus-tegangan dan -2 sampai 0 V
untuk mengukur potensi berhenti.
5. saklar Power : Ternyata kekuatan untuk instrumen ON atau OFF.
6. Tegangan Adjust: Mengatur potensi di tabung dioda untuk kedua tegangan
rentang.
7. Kalibrasi Sekarang: Mengatur arus melalui instrumen untuk nol .
8. saklar unsur foto Sinyal : Mengatur sinyal dari tabung dioda untuk
KALIBRASI atau UKURAN.
Akurasi pengukuran
Dua faktor dapat mempengaruhi akurasi pengukuran.
Pertama, arus foto sangat kecil.
Kedua, karena katoda gelap saat ini dan anoda membalikkan arus, tegangan ketika
photocurrent adalah nol tidak persis potensi berhenti. Frekuensi diplot untuk

beberapa garis spektrum dan kemiringan menghentikan potensi terhadap frekuensi


digunakan untuk menghitung konstan, lereng Planckmetode memberikan hasil
yang akurat bahkan jika potensi berhenti tidak akurat.

RESUME
Cahaya merupakan radiasi elektromagnetik. Ada sifat unik dari gelombang
elektromagnetik, seperti cahaya yaitu sifat kembarnya. Di satu pihak ia bertingkah
laku seperti gelombang pada peristiwa difraksi lenturan, interferensi/ perpaduan
dan polarisasi/ pengutuban, tetapi di pihak lain ia bertingkah laku sebagai partikel
yaitu pada peristiwa fotolistrik, gejala Compton. Partikel-partikel cahaya itu
membentuk partikel-partikel/ kelompok-kelompok energi yang disebut foton.
Jika cahaya yang frekuensinya cukup tinggi jatuh pada permukaan logam
(cahaya ultra ungu), maka logam tersebut akan memancarkan elektron. Gejala ini
dosebut efek fotolistrik. Elektron dapat terlepas dari logam karena menyerap
energi dari gelombang elektromagnetik. Besarnya energi kinetic electron yang
terlepas adalah

Ek hf hf 0
Dimana W hf 0 (energi ambang)

h Konstanta Planck (6,626 x 10-34 J.s)


f 0 Frekuensi ambang

f Frekuensi gelombang yang datang


Energi foton untuk massa diam ( m 0 )

E nhf

E nh c
Dimana Panjang gelombang cahaya (m)

c Kecepatan cahaya (3 x 108 m/s)


f Frekuensi cahaya

E Energi foton

n Jumlah Partikel
Momentum partikel tak bermassa berkaitan dengan energi yang menurut rumus
E pc

Karena energi foton ialah hf maka momentumnya ialah :

E h

Untuk menyatakan E dalam ev, maka :1 ev = 1.60 x 10-19 joule.


Untuk lebih memahami tentang efek fotolistrik, berikut ini adalah gambar ilustrasi
jenis alat yang digunakan pada percobaan efek fotolistrik.

Gambar diatas merupakan peralatan untuk mengamati efek fotolistrik.


Cahaya yang menyinari permukaan logam (katoda) menyebabkan electron

terpental keluar. Ketika elekyron bergerak menuju anoda, pada rangkaian luar
terjadi arus elektrik yang diukur dengan Ammeter A.
Laju pancaran electron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar
dengan menggunakan sebuah Ammeter, sedangkan energi kinetiknya ditentukan
dengan mengenakan suatu potensial perlambat (retarding potential) pada anoda
sehingga electron tidak mempunyai energi yang cukup untuk memanjati bukit
potensial yang terpasang. Secara eksperimen tegangan perlambat terus diperbesar
hingga pembacaan arus pada ammeter menurun ke nol. Tegangan yang
bersangkutan ini disebut potensial henti ( Vo ). karena electron yang berenergi
tertimggi tidak dapat melewati potensial henti ini, maka pengukuran V merupakan
suatu cara untuk menentukan energi kinetik maksimum electron :

Ek mak e.V

Sehingga

E kmak
e

Berdasarkan hasil pengamatan :


1. Intensitas cahaya tidak mempengaruhi pergerakan electron
2. Intensitas cahaya mempengaruhi jumlah elektron yang lepas dari permukaan
logam
3. Energi kinetik hanya bergantung pada panjang gelombang cahaya atau
frekuensinya.
Untuk lebih jelas hubungan antara intesitas cahaya terhadap arus fotolistrik dan
kelajuan perhatikan gambar berikut :

Arus fotoelektron sebanding dengan intensitas cahaya untuk semua tegangan


perintang. Tegangan penghenti vo sama untuk semua intensitas cahaya dari
frekuensi v yang diberikan

Sinar X
Dalam tahun 1895 Wilhelm Roentgen mendapatkan bahwa radiasi yang
kemampuan tembusnya besar yang sifatnya belum diketahui, ditimbulkan jika
electron cepat menumbuk materi. Sinar X ini didapatkan menjalar menurut garis
lurus walaupun melalui medan magnetik dapat menembus bahan, dengan mudah,
menyebabkan bahan fosforesen berkilau dan menyebabkan perubahan plat
fostografik.

Bertambah cepat electron semula, bertambah hebat kemampuan

tembus sinar X dan bertambauh banyak jumlah elektron, bertambah besar pula
intensitas berkas sinar X.

Kemampuan tembus sinar X, menimbulkan

kemampuan untuk memperlihatkan struktur interior dari benda seperti mesin


kapal terbang

Belum lama setelah penemuan itu orang menduga bahwa sinar X


merupakan

gelombang

elektromagneti.

Bahkan

teori

elektromagnetik

meramalkan bahwa muatan listrik yang dipercepat akan meradiasikan gelombang


elektromagnetik, dan electron yang bergerak cepat yang tiba-tiba dihentikan jelas
mengalami percepatan. Radiasi yang ditimbulkan dalam keadaan serupa itudiberi
nama

bahasa

Jerman

bremsstrahlung

(radiasi

pengereman).

Tidak

ditemukannya pembiasan (refraksi0 sinar X pada pekerjaan dini disebabkan


sangat kecilnya panjang gelombang,
Sifat gelombang sinar X, mula-mula ditegakkan oleh Barkla dalam
tahun1906 yang bias menunjukkan polarisasinya. Pengaturan eksperimen Barkla
disketsa dalam gambar 2-5. Marilah kita anggap sinar X sebagai gelombang
elektromagnetik.

Pada bagian kiri seberkas sinar X takterpolarisasi menjalar

dalam arah z menumbuk sekelimit karbon. Sinar X didihambur oleh karbon , ini
berarti bahwa electron pada atom karbon digetarkan oleh vector listrik dari sinar
X, kemudian meradiasikan kembali.

Karena vector listrik dalam gelombang

elektromagnetik tegak lurus pada arah penjalaran, berkas sinar X semula yang
mengandung vector listrik hanya terletak pada bidang xy.

Electron target

terimbas untuk bergetar pada bidang xy. Sinar X yang terhambur yang menjalar
pada arah +x hanya dapat memiliki vector listrik pada arah y saja, sehingga sinar
itu mengalami polarisasi bidang datar.

Untuk memperlihatkan polarisasi ini

sekelumit karbon yang lain diletakkan pada lintasan sinar X yang menjalar pada
bidang xz saja, dan tidak ada pada arah y.

tidak adanya sinar X yang

dihamburkan diluar bidang xz meyakinkan sifat gelombang sinar X


Dalam tahun 1912 suatu metode dicari untuk mengukur panjang
gelombang sinar X. eksperimen difraksi dapat dipandang ideal, tetapi kita ingat
dari optic fisis bahwa jarak antara dua garis yang berdekatan pada kisi difraksi
harus berorde besar sama dengan panjang gelombang cahaya supaya didapatkan
hasil yang memuaskan dan kisi yang berjarak sangat kecil seperti yang diperlukan

untuk sinar X tak dapat dibuat. Namun dalam tahun 1912, Max von Laure
menyadari bahwa untuk panjang gelombang yang diduga berlaku untuk sinar X
berorde besar hampir sama dengan jarak antara atom-atom dalam kristal yaitu
sekitar beberapa angstrom. Dengan alas an itu ia mengusulkan bahwa kristal
dapat digunakan untuk mendefraksi sinar X dengan kisi kristal berlaku sebagai
kisi tiga dimensi. Tahun berikutnya eksperimen yang memadai untuk hal tersebut
telah dilakukan dan sifat gelombang sinar X secara sukses ditunjukkan.
Dalam eksperimen itu panjang gelombang dari 1,3X10-11hingga 4,8X 1011

m (0,13 hingga 0,48) telah ditemukan 10-4 kali panjang gelombang cahaya

tampak

sehingga

mempunyai

kuanta

104

kali

lebih

energitik.Radiasi

elektromagnetik dalam selang panjang gelombang aproksimasi 0,1 hingga 100 ,


pada waktu ini digolongkan sebagai sinar X. Perbatasan selang tersebut tidak
tajam , pada batas panjang gelombang kecil bertindak sebagai sinar X dan batas
panjang gelombang besar bertindihan dengan cahaya ultraungu.