Anda di halaman 1dari 14

macam - macam obat analgetik

Analgetik, Antipiretik,NSAID

A.

Analgetik
Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi
atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
- Penyebab sakit/ nyeri.
Didalam lokasi jaringan yang mengalami luka atau peradangan
beberapa bahan algesiogenic kimia diproduksi dan dilepaskan, didalamnya
terkandung dalam prostaglandin dan brodikinin. Brodikinin sendiri adalah
perangsang reseptor rasa nyeri. Sedangkan prostaglandin ada 2 yang pertama
Hiperalgesia yang dapat menimbulkan nyeri dan PG(E1, E2, F2A) yang dapat
menimbulkan efek algesiogenic.
- Mekanisame:
Menghambat sintase PGS di tempat yang sakit/trauma jaringan.
- Karakteristik:
1.
Hanya efektif untuk menyembuhkan sakit
2.
Tidak narkotika dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3.
Tidak mempengaruhi pernapasan
4.
Gunanya untuk nyeri sedang, ex: sakit gigi

- Mekanisme kerja: sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin. Kerjanya
disebabkan oleh morfin. Juga merupakan antitusif (menekan batuk)
- Indikasi: Penghilang rasa nyeri minor
- Efek tak diinginkan: Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat pada dosis yang
menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis tinggi, toksisitas seberat morfin.
2.

Obat Analgetik Non-narkotik

Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering


dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer
(non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak
bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik
Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa
berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan
tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga
tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan
penggunanaan
Obat
Analgetika
jenis
Analgetik
Narkotik).
Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan
darah, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.

Analgesik Opioid/analgesik narkotika

Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat


seperti opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau
menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.

a.

Ibupropen
3.

Ibupropen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan


banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak
terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin.
Ibu hamil dan menyusui tidak di anjurkan meminim obat ini.

Ibuprofen
C.

Macam-macam obat Analgesik Opioid:


a.

Metadon.

- Mekanisme kerja: kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih lemah.


- Indikasi: Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada pasien yang di
rumah sakit.
- Efek tak diinginkan:
* Depresi pernapasan
* Konstipasi
* Gangguan SSP
* Hipotensi ortostatik
* Mual dam muntah pada dosis awal
b.

Fentanil.

- Mekanisme kerja: Lebih poten dari pada morfin. Depresi pernapasan lebih kecil
kemungkinannya.
- Indikasi: Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi.
- Efek tak diinginkan: Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. Rigiditas
otot, bradikardi ringan.

c.

2.

Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik:

Analgesik di bagi menjadi 2 yaitu:


1.

1.

Obat antipiretik adalah obat untuk menurunkan panas. Hanya


menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif pada orang normal. Dapat
menurunkan panas karena dapat menghambat prostatglandin pada CNS.
Macam-macam obat Antipiretik:
Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini
digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam
pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin
dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini
tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika
digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM
(intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan
kanker.
Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa
sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang
persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap
menggunakan analgesik narkotika.
Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa
sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf
pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak
sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak.
Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis
secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
Piralozon
Di pasaran piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin, dan novalgin. Obat
ini amat manjur sebagai penurun panas dan penghilang rasa nyeri. Namun piralozon
diketahui menimbulkan efek berbahaya yakni agranulositosis (berkurangnya sel
darah putih), karena itu penggunaan analgesik yang mengandung piralozon perlu
disertai resep dokter.

b.

Paracetamol/acetaminophen
- Efek dari NSAID (Anti-Inflamasi)
Inflamasi adalah rekasi tubuh untuk mempertahankan atau menghindari faktor lesi.
COX2 dapat mempengaruhi terbentuknya PGs dan BK. Peran PGs didalam
peradangan yaitu vasodilatasi dan jaringan edema, serta berkoordinasi dengan
bradikinin menyebabkan keradangan.

Merupakan devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan


parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan
salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama
karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar
tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan cofein yang
berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.

- Mekanisme Anti-Inflamasi
Menghambat prostaglandin dengan menghambat COX.

Acetaminophen
c.

Asam Mefenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus
diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia
dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.

1.
-

Asam Mefenamat

a.
b.
2.

Kodein
B.

Antipiretik

NSAID (Anti-Inflamasi)

- Karakteristik Anti-Inflamasi
NSAID hanya mengurangi gejala klinis yang utama (erythema, edema, demam,
kelainan fungsi tubuh dan sakit). Radang tidak memiliki efek pada autoimunological
proses pada reumatik dan reumatoid radang sendi. Memiliki antithrombik untuk
menghambat trombus atau darah yang membeku.
- Contoh obat NSAID (Anti Inflamasi)
Gol. Indomethacine
Proses didalam tubuh
Absorpsi di dalam tubuh cepat dan lengkap, metabolisme sebagian berada di
hati, yang dieksresikan di dalam urine dan feses, waktu paruhnya 2-3 jam, memiliki
anti inflamasi dan efek antipiretic yang merupakan obat penghilang sakit yang
disebabkan oleh keradangan, dapat menyembuhkan rematik akut, gangguan pada
tulang belakang dan asteoatristis.
Efek samping
Reaksi gastrointrestianal: anorexia (kehilangan nafsu makan), vomting (mual), sakit
abdominal, diare.
Alergi: reaksi yang umumnya adalah alergi pada kulit dan dapat menyebabkan asma.
Gol. Sulindac
Potensinya lebih lemah dari Indomethacine tetapi lebih kuat dari aspirin,
dapat mengiritasi lambung, indikasinya sama dengan Indomethacine.

3.

4.

5.

6.

Gol. Arylacetic Acid


Selain pada reaksi aspirin yang kurang baik juga dapat menyebabkan leucopenia
thrombocytopenia, sebagian besar digunakan dalam terapi rematik dan reumatoid
radang sendi, ostheoarthitis.
Gol. Arylpropionic Acid
Digunakan untuk penyembuhan radang sendi reumatik dan ostheoarthitis,
golongan ini adalah penghambat non selektif cox, sedikit menyebabkan
gastrointestial, metabolismenya dihati dan di keluarkan di ginjal.
Gol. Piroxicam
Efek mengobati lebih baik dari aspirin indomethacine dan naproxen, keuntungan
utamanya yaitu waktu paruh lebih lama 36-45 jam.
Gol. Nimesulide
Jenis baru dari NSAID, penghambat COX-2 yang selektif, memiliki efek anti
inflamasi yang kuat dan sedikit efek samping.
Defenisi Analgetik

Analgesik atau analgetik, adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran.
Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering
mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu
komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgesik atau pereda nyeri.
Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh atau obat untuk
menurunkan panas. Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif
pada orang normal. Dapat menurunkan panas karena dapat menghambat
prostatglandin pada CNS.
ANALGETETIKA
DefinisiObat analgetik adalah obat penghilang nyeri yang banyak digunakan untuk
mengatasi sakit kepala,demam, dan nyeri ringan tanpa menghilangkan
kesadaran.Jenis Obat BaruPrototype Obat Dari Golongan1. Analgetika Narkotik
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja
yangterletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat
meredakan danmenidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat
mengakibatkan toleransidan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan
fisik (ketagihan adiksi) dengangejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan.
Karena bahaya adiksi ini, makakebanyakan analgetika sentral seperti narkotika
dimasukkan dalam Undang-UndangNarkotika dan penggunaannya diawasi dengan
ketat oleh Dirjen POM.Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa
kelompok sebagai berikut:1. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein,
heroin, hidromorfon,hidrokodon, dan dionin.2. Pengganti-pengganti morfin yang
terdiri dari :
Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil
Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan
d-ptopoksifen
Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.2.
Analgetika Perifer (non-narkotik)Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer,
karena tidak mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik,
yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, makadisebut juga analgetik
antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusatpengatur kalor di
hipotalamus,
yang
mengakibatkan
vasodilatasi
perifer
(di
kulit)
denganbertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak
keringat.Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:1.
salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat2. Derivat-derivat
p-aminofenol:fenasetin
dan
parasetamol3.
Derivat-derivat
pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-turunannya4.
Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.Efekefek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambungusus,kerusakan darah, merusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit.
Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar,
maka sebaiknyajanganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.3.
Analgetika-Antipiretik Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan

rasa nyeri tanpa menghilangkankesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang


dapat menurunkan suhu tubuh yang tingi.Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang
mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkansuhu tubuh yang tinggi.Sebagai
mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut:a. Histaminb. Serotonin
c. Plasmokinin (antara lain Bradikinin)d. Prostaglandine. Ion KaliumAnalgetik
diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapatditimbulkan oleh
berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatunilai ambang
tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnyamediatormediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang
kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat
lain.Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di
korteksserebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan
thalamus.Peran Hipotalamus Sebagai TermostatPenyebab rasa nyeri adalah
rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapatmenimbulkan
kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang
disebutmediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit,
selaput lendir, ataujaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan
dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum
tulang belakang ke thalamus dan kemudianke pusat nyeri di dalam otak besar,
dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang
terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandinprostagladin, serta ion-ion kalium. Jadi peran hipotalamus adalah sebagai control
pusat nyeri.Indikasi dan KontraindikasiEfek Samping dan Gejala Toksik Efek
samping yang paling umum adalah gangguan lambung-usus, kerusakan darah,
kerusakan hatidan ginjal dan juga reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama
terjadi pada penggunaanlama atau dalam dosis tinggi. Oleh karena itu penggunaan
anal-getika secara kontinu tidak dianjurkan.ANTIPIRETIKADefinisiObat analgetik
adalah obat penghilang demam yang banyak digunakan untuk mengatasi
demamtanpa menghilangkan kesadaran.
Jenis Obat BaruPrototype Obat dari GolonganJenis-Jenis Obat Demam
(Antipiretika):1. SalisilatSalisilat, khususnya asetosal merupakan obat yang paling
banyak digunakan sebagaianalgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Aspirin dosis
terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretika.Farmakokinetika: Pemberian
oral, sebagian salisilat akan diabsorpsi dengan cepat dalambentuk yang utuh di
lambung, tetapi sebagian besar di usus bagian atas. Kadar tertinggidicapai kira-kira
2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi, salisilat akan menyebar diseluruh
jaringan tubuh dan cairan transeluler. Obat ini mudah menembus sawar darah otak
dan sawar urin. Biotransformasi salisilat terjadi di banyak jaringan terutama di
mikosom danmitokondria hati. Salisilat akan diekskresi dalam bentuk metabolitnya
melalui ginjal,keringat dan empedu.Asetosal/aspirin dapat menimbulkan perdarahan
lambung, sindroma Reye (tidak bolehdiberikan pada anak usis kurang dari 12
tahun).Dosis: Untuk dewasa 325 mg- 650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4
jam. Untuk anak 15-20 mg/kgBB diberikan tiap 4-6 jam dengan dosis total tidak
melebihi 3,6 gr per hari.2. SalisilamidSalisilamid adalah amida asam salisilat yang
memperlihatkan efek analgetik-antipiretikamirip asetosal, walaupun badan
salisilamid tidak diubah menjadi salisilat. Efek analgetika-antipiretika salisilamid
lebih lemah dari salisilat karena salisilamid dalam mukosa ususmengalami
metabolisme lintas pertama, sehingga salisilamid yang diberikan masuk
sirkulasisebagai zat aktif.Dosis: Untuk dewasa 3-4 kali 300-600 mg sehari. Untuk
anak 65 mg/kgBB/hari diberikan 6kali/hari.3. Diflunisal
Diflunisal merupakan derivate difluorofenil dari asam salisilat, tetapi in vivo diubah
menjadiasam salisilat.Farmakokinetika: Setelah pemberian oral, kadar puncak
dicapai dalam 2-3 jam. 99% akanterikat di albumin dan waktu paruh berkisar 8-12
jam.Dosis: Dosis awal 500 mg disusul 250-500 mg sehari dengan dosis
pemeliharaan tidak melebihi 1,5 gram sehari4. Para Amino FenolDerivat para amino
fenol yaitu asetaminophen dan fenasetin. Mekanisme: menghambatbiosintesis PGE2
yang lemah.Farmakokinetika: Diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konsentrasitertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 0,5 jam dan masa paruh
dalam plasma adalah1-3 jam. Dalam plasma, asetaminofen 25% dan fenasetin 30%
terikat dalam protein plasma.Ekskresi melalui ginjal dan sebagian asetaminofen
dalam bentuk terkonjugasi.Peran Hipotalamus Sebagai TermostatHipotalamus
merupakan pusat pengaturan suhu tubuh. Hipotalamus akan menjaga kestabilam
suhutubuh dengan mengatur keseimbangan antara pengeluaran panas dengan
produksi panas yang berlebihan bila terjadi demam.
Prototype Obat Dari Tiap Golongan Analgetik / Antipiretik

Prototype Obat Dari Tiap Golonga


Tubuh kita sendiri sebenarnya memiliki analgesik alami Tubuh, analgesik tersebut
adalah Endorfin.
A. ANALGETIK
Analgesik di bagi menjadi 2 yaitu:
1. Analgesik Opioid/analgesik narkotika
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium
atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau menghilangkan
rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.
Macam-macam obat Analgesik Opioid:
a. Metadon.

Mekanisme kerja : Kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih lemah.


Indikasi : Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada pasien yang di
rumah sakit.
Efek tak diinginkan:
* Depresi pernapasan
* Konstipasi
* Gangguan SSP
* Hipotensi ortostatik
* Mual dam muntah pada dosis awal
b. Fentanil.

Mekanisme kerja : Lebih poten dari pada morfin. Depresi pernapasan lebih kecil
kemungkinannya.
Indikasi : Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi.
Efek tak diinginkan : Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. Rigiditas
otot, bradikardi ringan.
c. Kodein

Mekanisme kerja : Sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin.


Kerjanya disebabkan oleh morfin. Juga merupakan antitusif (menekan batuk)
Indikasi : Penghilang rasa nyeri minor
Efek tak diinginkan : Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat pada dosis yang
menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis tinggi, toksisitas seberat morfin.
2. Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan
istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik),
yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini
cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh
pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat
kesadaran.
Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan
efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat
Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah,
kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.
Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik:

a. Ibupropen

Ibupropen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara.


Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek
analgesiknya sama dengan aspirin.
Ibu hamil dan menyusui tidak di anjurkan meminim obat ini.
b. Paracetamol/acetaminophen

aspirin dan salisilat lain, derivate asam propionate, asam indolasetat, derivate
oksikam, fenamat, fenilbutazon.
Merupakan devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai
analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai
analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat
menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan cofein yang berfungsi
meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
c. Asam Mefenamat

B. Antipiretik
Macam-macam obat Antipiretik:
1. Benorylate
Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan
sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat
ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan
yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh
digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.
2. Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika
digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM
(intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan
kanker.
Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit
secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap.
Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik
narkotika.
Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit.
Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat.
Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering
terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga
untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara
bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
3. Piralozon
Di pasaran piralozon terdapat dalam antalgin, neuralgin, dan novalgin. Obat ini amat
manjur sebagai penurun panas dan penghilang rasa nyeri. Namun piralozon
diketahui menimbulkan efek berbahaya yakni agranulositosis (berkurangnya sel
darah putih), karena itu penggunaan analgesik yang mengandung piralozon perlu
disertai resep dokter.

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus
diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia
dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
Biasanya analgesik di golongkan menjadi beberapa kelompok, antara lain:
1. Analgesik Antipiretik Contoh parasetamol, fenasetin
2. Analgesik AntiInflamasi contoh ibuprofen, asam mefenamat
3. Analgesik Antiinflamasi kuat contoh Aspirin, Natrium Salisilat
Selain digolongkan berdasarkan efeknya, analgesik juga di golongkan berdasar
tempat kerjanya. Penggolongan ini membedakan analgesik menjadi:
1. Analgesik Sentral
Yaitu analgesik yang menduduki reseptor miu contohnya tramadol, morphine
2. Analgesik Perifer
Yaitu analgesik yang bekerja pada saraf perifer contohnya parasetamol
Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:
1. Analgetik Perifer (non narkotik)
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
2. Analgetik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
Berikut jenis obat analgetik narkotik :
a. Morfin dan derivatnya :
Jenis Obat Baru
Morfin
Heroin
Obat golongan Antiinflamasi non Steroid
Hidromorfon
Oksimorfon
1.Turunan asam salisilat : aspirin, salisilamid,diflunisal.
Levorfanol
2.Turunan 5-pirazolidindion : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
Levalorfan
3.Turunan asam N-antranilat : Asam mefenamat, Asam flufenamat
Kodein
4.Turunan asam arilasetat : Natrium diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen.
Hidrokodon
5.Turunan heteroarilasetat : Indometasin.
Oksikodon
6.Turunan oksikam : Peroksikam, Tenoksikam.
Nalorfin
Nalokson
Indikasi, Kontra Indikasi serta Efek Samping
Nalbufin
Tebain
ALPHAMOL DROOP
b. Meperidin dan derifat fenilpiperidin :
Meperidin
Kandungan
: Parasetamol 100 mg/mL.
Alfaprodin
Indikasi
: Obat menurunkan panas dan menghilangkan rasa
sakit/nyeri.
DifenoksilatFentanil
Kontra indikasi
: Hipersensitifitas.
Loperami
Metadon Dan Opioid lainx :
Metadon
2.
ALPHAMOL
Propoksifen
Dekstromoramida
Bezitramida
Obat-obat golongan analgetik dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: parasetamol,
salisilat, (asetasol, salisilamida, dan benorilat), penghambat Prostaglandin (NSAID);
ibuprofen, derivate-derivat antranilat ( mefenamilat, asam niflumat glafenin,
floktafenin, derivate-derivat pirazolinon (aminofenazon, isoprofilpenazon,
isoprofilaminofenazon), lainnya benzidamin.Obat golongan analgesic narkotik
berupa, asetaminofen dan fenasetin. Obat golongan anti-inflamasi nonsteroid berupa

Sirup Tetes Mengandung


:
Parasetamol 100 mg/ml ; sirup :
parasetamol 120 mg/ 5 ml,etanol 6%.
Kaplet
:
parasetamol 600 mg.
Indikasi
:
Menurunkan panas , menghilangkan rasa
sakit.
Kontra Indikasi
:
Hipersensitivitas

3.
ANALSPEC 250 MG
Komposisi
:
Tiap kapsul mengandung 250 mg asam mefenamat
Indikasi
:
untuk menghilangkan rasa nyeri dari ringan
sampai sedang dalam kondisi akut dan kronik, termasuk nyeri karena trauma,
nyeri sendi, nyeri otot, sakit sehabis operasi dan melahirkan, nyeri sewaktu
haid, sakit kepala dan sakit gigi dan juga sebagai antipiretik pada keadaan
demam.
Kontra Indikasi :
Pada penderita tukak lambung dan usus, penderita
asma, penderita dengan gangguan fungsi ginjaldan penderita yang
hipersensitif terhadap asam mefenamat.
4.

ANTALGIN FM CAPLET

Komposisi
:
Tiap tablet mengandung Metampiron 500 mg
Indikasi
:
Untuk meringankan rasa sakit terutama nyeri kolik
dan
sakit setelah operasi.

Kontra
Indikasi
:
Penderita
hipersensitif
Bayi
dibawah
3
bulan
atau
dengan
berat
badan
kurang
dari
5 kg,
Wanita hamil & menyusui
Penderita dengan tekanan darah sistolik kurang dari 10 mmHg
5.

ANTIZA TABLET

http://www.farmasiku.com/skins/default_blue/customer/images/spacer.gif
Indikasi
:
Untuk meringankan gejala flu seperti demam, sakit
kepala,
hidung tersumbat dan bersin-bersin yang
disertai batuk.
Kontra Indikasi :
melitu

- Penderita dengan gangguan jantung dan diabetus

- Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini


- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
6. ANTRAIN TABLET
ANTRAIN Tablet
Tiap tablet mengandung:
Na Metamizole ................................................ ...... 500 mg
Indikasi
:
Untuk mengurangi rasa sakit, terutama di kolik
dan
pascaoperasi.
Kontra Indikasi :
* Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap Metamizole Na.
* Hamil atau menyusui perempuan.
* Pasien dengan tekanan darah sistolik <100 mmHg.
* Bayi di bawah 3 bulan atau berat <5 kg.
7. ASPILET THROMBO
Indikasi
:
Pengobatan dan pencegahan trombosis (agregrasi
platelet)
pada infark miokardial akut atau setelah
stroke.
Kontra Indikasi :
- Pasien yang sensitif terhadap Aspirin.
- Pasien yang menderita asma, ulkus peptikum yang sering atau kadangkadang, perdarahan subkutan, hemofilia, trombositopenia.
- Pasien yang sedang diterapi dengan antikoagulan.
Efek Samping :
Iritasi lambung-usus, mual, muntah.
Penggunaan jangka panjang : perdarahan lambung-usus, ulkus peptikum.
8. ASPIRIN TABLET


Komposisi
:
Tiap
tablet
mengandung:
Asam
asetilsalisilat/aspirin
500mg pereda rasa nyeri
atau sakit, menurunkan demam
Indikasi
:
Meringankan rasa sakit, nyeri otot dan sendi,
demam, nyeri
karena haid, migren, sakit kepala dan
sakit gigi tingkat
ringan hingga agak berat.
Kontra Indikasi :
Tukak lambung dan peka terhadap derivet asam
salisilat,
penderita asma dan alergi, penderita yang
pernah atau
sering mengalami pendarahan di
bawah kulit, penderita
hemofilia;, anak-anak
di bawah umur 16 tahun.

9. BETAMOL TABLET 500 MG


Indikasi :
Untuk meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala,
sakit gigi
dan menurunkan demam.
Kontra indikasi :

Penderita gangguan fungsi hati yang berat.

Penderita hipersensitif terhadap obat ini.


10. Nifedipine
Indikasi pemberian nifedipine:

Pengobatan dan pencegahan insufisiensi koroner (terutama angina


pektoris setelah infark jantung) dan sebagai terapi tambahan pada hipertensi.
Kontra Indikasi pemberian nifedipine:

Hipersensitivitas terhadap nifedipine.

Karena pengalaman yang terbatas, pemberian nifedipine pada wanita


hamil hanya dilakukan dengan pertimbangan yang hati-hati.

Peran Hipotalamus sebagai thermostat


Hipotalamus adalah sebuah kawasan yang kompleks di otak manusia, dan bahkan
kecil inti dalam hipotalamus terlibat dalam banyak fungsi yang berbeda. Inti
paraventricular misalnya berisi Oksitosin dan vasopresin (juga disebut antidiuretic
hormon) neuron yang proyek untuk pituitari posterior, tetapi juga mengandung
neuron yang mengatur ACTH dan TSH sekresi (yang proyek untuk pituitari
anterior), lambung refleks, ibu perilaku, tekanan darah, makan, respon imun, dan
suhu.
Mengkoordinir hipotalamus banyak hormon dan perilaku ritme sirkadian, pola yang
kompleks neuroendocrine output, kompleks homeostatic mekanisme dan banyak
perilaku yang penting.
Hipotalamus harus karena itu menanggapi banyak sinyal yang berbeda, beberapa di
antaranya dihasilkan eksternal dan beberapa internal. Jadi kaya terhubung dengan
banyak bagian dari sistem saraf pusat, termasuk pembentukan reticular batang otak
dan otonom zona, limbik otak-depan (terutama amigdala, septum, diagonal band
Broca, dan lampu Bulbus dan korteks otak besar).

Penciuman rangsangan
Rangsangan penciuman penting untuk seks dan fungsi neuroendocrine dalam
banyak spesies. Untuk contoh jika mouse hamil terkena urin seorang laki-laki yang
'aneh' selama masa-masa kritis setelah persetubuhan kemudian kehamilan gagal
(Bruce efek). Dengan demikian selama bersetubuh, mouse perempuan membentuk
tepat 'penciuman memory' dari pasangannya yang tetap selama beberapa hari.

Suprachiasmatic inti (SC)


* vasopresin rilis
* Ritme sirkadian

Pheromonal isyarat membantu sinkronisasi oestrus dalam banyak spesies; pada


wanita, haid sinkronisasi mungkin juga timbul dari pheromonal isyarat, walaupun
peran feromon pada manusia ini kini banyak diragukan oleh banyak.
Darah yang bertalian rangsangan

Lateral
Inti preoptic lateral
Lateral inti (LT)

Peptida hormon memiliki pengaruh penting hipotalamus, dan untuk melakukannya


mereka harus menghindari blood - brain barrier. Hipotalamus dikelilingi sebagian
oleh daerah otak yang khusus yang kurang efektif blood - brain barrier; pengenduran
kapiler di situs ini fenestrated untuk memungkinkan bagian gratis bahkan besar
protein dan molekul lainnya. Sebagian dari situs ini adalah situs neurosecretion neurohypophysis dan eminensia rata-rata. Namun orang lain situs di mana otak
sampel komposisi darah. Dua dari situs ini, subfornical organ dan OVLT (organum
vasculosum lamina terminalis) adalah organ-organ yang disebut circumventricular,
di mana neuron berada dalam kontak intim dengan darah dan CSF. Struktur ini
padat vascularized, dan berisi osmoreceptive dan menerima natrium neuron yang
mengendalikan minum, vasopresin rilis, ekskresi natrium, dan natrium nafsu.
Mereka juga mengandung neuron dengan reseptor angiotensin, faktor natriuretic
atrial, endothelin dan relaxin, masing-masing penting dalam peraturan cairan dan
elektrolit keseimbangan. Neuron di OVLT dan SFO proyek supraoptic inti dan
paraventricular inti, dan juga untuk preoptic membantu daerah. Organ
circumventricular juga dapat tempat tindakan interleukin untuk memperoleh demam
dan sekresi ACTH melalui efek pada paraventricular neuron.

Bagian dari supraoptic inti (SO)

Ini tidak jelas bagaimana semua peptid yang mempengaruhi aktivitas membantu
mendapatkan akses yang diperlukan. In the case of prolaktin dan leptin, ada bukti
pengambilan aktif pada plexus choroid dari darah ke CSF. Beberapa hormon
pituitary memiliki umpan balik negatif yang mempengaruhi pada sekresi membantu;
sebagai contoh, hormon pertumbuhan feed kembali pada hipotalamus, tapi
bagaimana itu masuk ke otak adalah tidak jelas. Ada juga bukti untuk tindakan pusat
prolaktin dan TSH.
Hipotalamus berfungsi sebagai jenis termostat bagi tubuh. Mengatur suhu tubuh
yang diinginkan, dan merangsang produksi panas dan retensi untuk menaikkan suhu
darah tinggi pengaturan, atau berkeringat dan vasodilasi untuk mendinginkan darah
untuk suhu yang lebih rendah. Demam semua hasil dari pengaturan yang dibesarkan
di hipotalamus; suhu tubuh lebih tinggi karena penyebab lainnya dikelompokkan
sebagai hipertermia.
Daerah
Daerah
Inti Fungsi
Anterior
Medial
Medialis inti preoptic
* kontraksi kandung kemih
* Menurunnya denyut jantung
* Penurunan tekanan darah

Hipotalamus responsif terhadap:


Inti Supraoptic (SO)
* Cahaya: daylength dan photoperiod untuk mengatur ritme sirkadian dan
musiman
* Penciuman rangsangan, termasuk feromon
* Steroid, termasuk gonad steroid dan Kortikosteron
* Neurally ditransmisikan informasi yang timbul khususnya dari hati, perut, dan
saluran reproduksi
* Input otonom
* Darah yang bertalian rangsangan, termasuk leptin, ghrelin, angiotensin, insulin,
pituitary hormon, sitokin, plasma konsentrasi glukosa dan osmolarity dll
* Stres
* Menyerang mikroorganisme oleh peningkatan suhu tubuh, reset termostat tubuh
ke atas.

* berkeringat
* inhibisi thyrotropin

* Oksitosin rilis
* vasopresin rilis
Paraventricular inti (PV)
* Oksitosin rilis
* vasopresin rilis
Anterior membantu inti (AH)
* thermoregulation
* -engah

* kehausan dan kelaparan

* vasopresin rilis
Tuberal

Medial

Dorsomedial membantu inti (DM)

* Rangsangan GI
Inti ventromedial (VM)
* kenyang
* kontrol neuroendocrine
Arcuate inti (AR)
* Lutenizing hormon R.H. rilis
* Folikel merangsang hormon dilepaskan faktor
* makan
* Dopamin
* GHRH
Lateral

Lateral inti (LT)

* kehausan dan kelaparan


Inti tuberal lateral
Posterior Medial

Mammillary inti (bagian tubuh mammillary) (MB)

* memori
Posterior inti (PN)
* Meningkatkan tekanan darah
* pupillary pelebaran
* menggigil
Lateral

Lateral inti (LT)

Indikasi dan Kontra Indikasi


Indikasi dan kontra indikasi hormon tiroid dan paratiroid adalah
Efek yang umum dari hormon tiroid adalah mengaktifkan transkripsi inti sejumlah
besar gen.
Efek hormon tiroid pada mekanisme tubuh yang spesifik meliputi peningkatan
metabolisme karbohidrat dan lemak, peningkatan kebutuhan vitamin, meningkatkan
laju metabolisme basal, dan menurunkan berat badan.
efek pada sistem kardiovaskular meliputi peningkatan aliran darah dan curah jantung,
peningkatan frekuensi denyut jantu peningkatan pernafasan, peningkatan motilitas
saluran cerna, efek merangsang pada sistem saraf pusat (SSP), peningkatan fungsi
otot, dan meningkatkan kecepatan sekresi sebagian besar kelenjar endokrin lainng,
dan peningkatan kekuatan jantung
Efek samping dan gejala Toksin masing-masing golongan

Barangkali anda pernah mengalami saat-saati seperti ini, ketika tubuh terasa tidak
segar padahal baru bangun tidur. Saat dibawa melangkah dan beraktivitas pun
rasanya begitu berat. Anda memang tidak sakit, tapi juga tidak merasa benar-benar
sehat. Jika hal itu terjadi sudah tiba saatnya bagi anda untuk melakukan detoks atau
pembersihan racun tubuh. Di samping gejala-gejala tersebut masih ada gejala lain
bisa dijadikan pertanda bahwa detoks harus mulai dilakukan seperti sakit kepala,
berjerawat,
kulit
kusam
dan
sebagainya.
Secara alami, tubuh kita juga selalu melakukan detoks. Tetapi jika paparan toksin
banyak dari yang biasa dikeluarkan tubuh, perlu dibantu dengan program detoks
untuk membuat pembuangan racun lancar. Program detoks yang baik memang harus
dilakukan secara teratur. Patut diingat bahwa toksin dalam tubuh telah terakumulasi
selama bertahun-tahun dan tidak mungkin bisa langsung dibersihakan hanya dalam
waktu
beberapa
hari
saja
melakukan
program
detoks.
Namun begitu anda jangan lantas membayangkan bahwa detoks harus langsung kita
lakukan secara drastic. Karena melakukan detoks yang ekstrim berat bagi tubuh kita.
Program detoks yang praktis dan ringan pun ada manfaatnya, terutama bila anda
baru memulai. Setidaknya dengan program ini tubuh anda bisa beristirahat sejenak
dari berbagai makanan yang sulit dicerna. Detoks juga membantu anda untuk
membiasakan diri memilih makanan yang sehat dan mengurangi atau bahkan
menjauhi
makann
tak
sehat.
Saat paling ideal melakukan detoks singkat ini adalah ketika kita tidak terlalu
disibukkan oleh urusan keluarga, kantor atau acara social. Dalam boks berikut,
sajian program detoks bagi pemula (yang bukan penganut pola makan food
combining). Tapi sebelumnya, anda perlu memperhatikan penjelasan berikut.
Makanan
Yang
Harus
Dijauhi
Sebelum melakukan detoks, anda perlu membuat beberapa persiapan. Pertama
menyingkirkan makanan yang perlu dijauhi dan berbelanja berbagai. Jenis bahan
pangan yang disarankan. Menurut Dr. Elson Haas dalam tulisannya Staying
Healthy with Dr. Elson Haas, ada beberapa pedoman khusus dalam tata cara makan
yang
perlu
diikuti
selama
menjalankan
detoks
yaitu:
1. Kunyah makanan dengan baik dan luangkan cukup waktu untuk makan.
2.
Istirahatlah
beberapa
menit
sebelum
dan
setelah
makan.
3.
Makanlah
dalam
posisi
duduk
yang
nyaman.
4.
Minumlah
hanya
teh
herba
setelah
makan
malam.
Selain itu, selama melakukan detoks, jauhi makanan-makanan berikut:
1.
Susu
dan
hasil
olahannya.
2. Makanan dan minuman olahan industry (kalengan, instan, mengandung bahan
pengawet
dan
pewarna).
3.
Fast
food.
4. Karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti putih, atau mie.
5. Makanan berlemak terutama lemak trans, juga makanan yang dimasak dengan
santan
bergula.
6.
Menggunakan
obat-obatan
karena
obat
pun
termasuk
racun.
7. Batasi pemakaian garam dan hindari saus bumbu yang mengandung MSG.
Sedangkan jenis makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi adalah produk
makanan organic karena membantu mengurangi jumlah toksin yang masuk ke dalam
tubuh. Juga produk probiotik karena bermanaat untuk membantu memperbaiki
pencernaan dan penyerapan makanan. Selain itu juga dianjurkan banyak minum air
putih serta mengkonsumsi banyak buah-buahan dan sayuran segar. Jadi, siapkan
banyak
air
putih,
buah-buahan
dan
sayuran
segar.
Jangan
Lupa
Persiapan
Lainnya
Setelah persiapan yang berupa bahan pangan, persiapkan juga kegiatan yang akan
anda lakukan selama menjalankan program detoks. Sebab sesungguhnya program
detoks merupakan waktu yang paling tepat untuk memanjakan diri. Pesanlah tukang
pijat untuk datang ke rumah bila memungkinkan. Jika tidak, buatlah janji dan
lakukan acara pijat, lulur atau sauna di tempat favorit anda. Jangan lupa, persiapkan
pula
minyak
esensial
untuk
aromaterapi.
Jika senang membaca, siapkan bacaan berupa buku atau majalah yang enak dibaca
misalnya yang berhubungan dengan agama, bimbingan meditasi atau novel. Anda
juga bisa menyewa film yang ringan dan menyenangkan. Bila mau menonton TV,
hindari acara yang membuat anda tegang dan stress seperti berita criminal atau
politik. Jangan lupa menyiapkan music favorit, pilih yang efeknya menenagkan.
Selamat
melakukan
detoks.
Perhatikan
Efek
Samping
Detoks
Satu hal yang perlu anda ingat adalah efek samping detoks. Pada saat mengeluarkan
toksin, tubuh kita akan memberikan reaksi yang disebut krisis detoksifikasi. Efek ini

merupakan reaksi normal dan tidak berbahaya, hanya menandakan bahwa proses
detoksifikasi tengah berlangsung. Beberpa gejala yang mungkin timbul di antaranya
adalah sakit kepala, mual, kembbung, sembelit, sering buang air besar, pilek, flu,
demam ringan, nyeri otot dan persendian, gangguan kulit, gangguan emosi,
kedinginan,
dll.
Dalam kondisi tersebut, sebaiknya anda tidak meminum obat apapun. Segeralah
berbaring atau tidur di tempat yang sejuk dan minum air putih atau jus segar
sebanyak-banyaknya. Tetapi jika sakit yang dirasakan terlalu hebat, sebaiknya
batalkan detoks dan secepatnya memeriksakan diri ke dokter. Putih.
Contoh
Rencana
Detoks
Akhir
Pekan
Sebagai pemanasan, sejak jumat siang, nikamti makan siang yang ringan, terdiri dari
sepiring salad dengan sedikit roti gandum dan sepotong ikan (kira-kira 120 gram).
Jumat
Sore
1. Nikmati makan malam yang terdiri dari sepiring sayuran, berupa sayuran rebus
dan sayuran mentah ditambah sebutir telur rebus dan sedikit nasi merah.
2. Lakukan olahraga ringan, misalnya jalan santai selama 30 menit, lakukan gerakan
yoga
atau
senam
tai
chi.
Jangan
lupa
minum
air
putih.
3.
Mandi
dengan
menggunakan
minyak
esensial.
4. Lakukan relaksasi seperti mendengarkan music yang menenangkan atau
membaca.
Sabtu
Pagi
1.
Bangun
tidur,
minum
satu
gelas
air
putih.
2. Minum lagi segelas air putih yang dicampur dengan perasan jeruk lemon atau
jeruk
nipis
(tambahkan
madu
bila
perlu).
3.
Minum
1
gelas
jus
mangga/papaya/semangka.
4. Sarapan ringan yang terdiri dari sedikit nasi merah dengan banyak sayuran
ditambah
tempe
atau
tahu.
5.
Minum
jus
wortel.
6. Nikmati snack siang yang terdiri dari kacang almond, pistachios dan kacang
tanah.
7. Lakukan latihan di tempat fitness, mandu sauna, atau latihan yoga untuk
mengeluarkan keringat. Jangan lupa minum air putih yang cukup.
8. Sore harinya makan sedikit roti gandum atau nasi merah, sepotong ikan atau ayam
kampong
(kira-kira
120
gram
saja)
bersama
sepiring
salad.
9.
Minum
teh
hijau.
10.
Mandi
dengan
minyak
esensial.
11.
Lakukan
meditasi
Minggu
Pagi
1.
Minum
segelas
air
putih.
2. Minum lagi segelas air putih yang dicampur dengan perasan jeruk nipis atau jeruk
lemon
(tambahkan
madu
bila
perlu).
3.
Lakukan
latihan
stretching
atau
dipijat.
4. Minum segelas jus buah seperti mangga, semangka atau papaya.
5. Makan sarapan ringan yang terdiri dari sepiring sayuran dengan sedikit nasi
merah
dan
tempe
atau
tahu.
6.
Lakukan
latihan
tai
chi.
7.
Minum
segelas
jus
mentimun.
8. Jangan lupa, sisihkan waktu untuk membuat jurnal. Catat baik-baik program yang
cocok dan yang tidak cocok untuk anda dan susun program yang lebih
menyenangkan
untuk
akhir
pecan
berikutnya.
Jika anda penganut pola makan Food Combining (FB), pengaturan makanan yang
dicantumkan tersebut belum tentu sesuai untuk anda sebab pola makan tersebut
memang ditujukan untuk mereka yang tidak menganut pola makan FC. Bagi anda
penganut FC, lakukan program detoks menurut Andang Gunawan, misalnya dengan
menu
jus
buah
dan
air
putih
saja,
yaitu:
Bangun tidur: minum segelas air putih dicampur buah jeruk nipis/lemon peras.
Kemudian mulai jam 7 pagi 1 gelas jus buah setiap 2 jam sekali. Jadi dalam sehari
anda perllu 7-8 gelas jus buah. Di antara waktu minum jus buah, selingi dengan
minum
banyak
air
putih.
Mengenai aktivitas yang dilakukan saat detoks, bisa tetap mengikuti program
sebagaimana telah diuraikan yaitu olahraga, aromaterapi, membaca, mendengarkan
music, meditasi dan sebagainya. Jadi yang perlu anda ubah hanya menu makanan
saja. (Sumber: Nirmala).
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

OBAT ANASTESI
1.

1.

PENGERTIAN

Istilah anesthesia dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak
ada rasa sakit. Anestesia dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1)

Anestesia Lokal, hilangnya rasa sakit tanpa disertai hilangnya kesadaran.

2)

Anesthesia Umum, yaitu hilang rasa sakit di sertai hilang kesadaran.

Sejak dahulu sudah di kenal tindakan anesthesia yang digunakan untuk


mempermudah tindakan operasi. Anestesia yang di lakukan dahulu oleh orang Mesir
menggunakan narkotika, orang cina menggunakan cannabis indica, dan pemukulan
kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran.
Pada tahun 1776 ditemukan anastetik gas pertama, yaitu Na2O merupakan anastesi
berbentuk gas namun kurang efektif sehingga di usahakan mencari zat lain. Mulai
tahun 1795 eter di gunakan untuk anastesi inhalasi, kemudian ditemukan zat anastesi
lain seperti yang kita kenal sekarang:
1.

2.

MACAM-MACAM ANASTESI
1.
Anastesi umum

Anastesi Umum adalah Obat yang menimbulkan keadaan yang bersifat reversibel
dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan. Atau Anastesi Umum,
yaitu hilang rasa sakit di sertai hilang kesadaran.Ada beberapa teori mengenai
mekanisme terjadinya anestesi :
1.

Teori koloid

Teori ini mengatakan bahwa dengan pemberian zat anastesi terjadi penggumpalan
sel koloid yang menimbulkan anastesi yang bersifat refersibel di ikuti dengan proses
pemulihan. Cristiansen membuktikan bahwa pemberian eter dan halotan akan
menimbulkan penghambatan gerakan dan aliran protoplasma dalam ameba.
1.

Teori Lipid

Teori ini mengatakan bahwa ada hubungan antara kelarutan zat anastetik dalam
lemak sehingga timbulnya anastesia. Makin larut zat anastetik dalam lemak, makin
kuat sifat anastesinya. Teori ini hanya cocok untuk beberapa zat anastetik yang larut
dalam lemak.
1.

Teori absorpsi dan teori tegangan permukaan.

Teori ini menghubungkan zat anastetik dengan kemampuan menurunkan tegangan


permukaan. Pengumpulan zat anastetik pada sel menyebabkan proses metabolisme
dan transmisi neural terganggu sehingga timbul anastesi.

1.

Teori Biokimia

Teori ini menyatakan bahwa pemberian zat analgetik in vitro menghambat


pengambilan oksigen di otak dengan cara menghambat system fosforitas oksidatif.
Akan tetapi hal ini mungkin hanya menyertai anastesia, bukan penyebab anesthesia.
1.

Teori Neurofisiologi

Teori ini menyatakan bahwa pemberian zat anastetik akan menurunkan transmisi
sinaps di ganglion Cervicalis Superior dan manghambat formasio retikularis
asenden untuk berfungsi mempertahankan kesadaran.

Tergantung dari kecepatan resorpsinya. Untuk itu bisa diimbangi/diperkecil dengan


pemberian vasokonstreksi (obat yang bisa mengecilkan pembuluh darah).

0,5 5
Kerja obat ini karena merupakan ester mengalami detoksifikasi dalam hati dengan
cara hidroklisa. Kontra indikasiuntuk penderita sakit/ kerusakan hati .
Efek samping:
-

Dermatitis/ alergi.

Menekan fungsi jantung (kardiodepresif).

Beberapa penyalidikan menyatakan adanya hubungan potensi anestetik dengan


aktivitas termodinamika dan ukuran molekul zat anastetik tersebut.

Kadang menimbulkan reaksi anafelaktik.

Macam Macam obat anastesi umum :

Pengaruh Ph:

Obat anastesi umum di bagi menurut bentuk fisiknya menjadi tiga golongan yaitu :

Anestetika local diperoleh dalam bentuk ragam yangsudah larut dalam air, dan
mempunyai khasiat tinggi bilamana lingkungannya basa.

1.

1.
2.
3.

1.

Teori Fisika

Dosis :

Anastesi Gas seperti nitrogen monoksida, siklopropan.


Anastesi menguap seperti eter, enfluran, halotan,metoksifluran,
etilklorida, trikloretilen, fluroksen.
Anastesi Parenteral seperti barbiturat,droperidol dan fentanil, diazepam,
etomidat, propofol.

Di dalam jaringan garam-garam ini tidak aktif dan sifat asam jaringan harus
dinetralisir dahulu barulah basanya dapat menembus jaringan dan menunjukkan
khasiat anestetikanya.

Anestetik local

Maka apabila gigi yang akan dicabut mengalami radang keradangan / infeksi harus
di hilangkan dulu karena adanya keradangan / infeksi meninggikan sifat asam dalam
jaringan.

Dalam perdagangan
Pehacain,
Baycain xylocain,
Extracain.
Secara topical :
Bentuk spray :
Xylocain,
Pantocain,
Chlor ethyl
Bentuk pasta / salp :
Xylocain,

Anestetika local atau zat-zat penghalang rasa setempat (hilangnya rasa sakit
setempat).

Pengaruh vasokonstriktori :

Mula-mula akan melumpuhkan serat-serat halus dari syaraf sensoris disusul


kelumpuhan dari serat-serat syarat motoris.

Guna memperpanjang daya kerja anestetika local sering ditambahkan obat yang
menciutkan pembuluh darah, misal adrenalin supaya resorpsi diperlambat,
memperkecil toksisitas, mulai bekerjanya lebih cepat dan mengurangi perdarahan.

Chlor Ethyl

Serat-serat sensoris yang hilang adalah perasaan sakit, dingin, panas dan sentuhan.
Setelah efek obat ini hilang kembali lagi kekeadaan normal dengan urutan terbalik.

Cara pemberian :

Berupa cairan dibawah tekanan ringan. Mudah menyala dan meledak. Khasiatnya
cukup kuat dan cepat. Cairan tersebut bila disemprotkan terjadi pembekuan dimana
panas dari jaringan diserap.

Syarat-syarat Anestetika Lokal :

Melalui suntikan :

Contragin.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tidak menimbulkan iritasi jaringan.


Tidak boleh menimbulkan perubahan fungsi dari syaraf secara
permanen.
Tidak menimbulkan alergi.
Harus netral dan bening.
Harus tahan terhadap suhu tinggi karena obat ini disterilkan melalui
pemanasan.
Toksisitas harus sekecil mungkin.
Lama bekerjanya anestetika local cukup lama.
Reaksi terjadinya hilang rasa sakiit setempat harus cepat.

Resorpsi :

Prokain :
Pertama di pakai di kedokteran gigi. Jarang dipakai lagi karena efek sampingnya
yang serius yaitu hipersenri yang kadang-kadang pada dosis yang rendah sudah
dapat mengakibatkan kolaps dan kematian.

Indikasi ChlorEthyl:
IV

Untuk mencabut gigi sulung/tetap yang telah goyang derajat III atau Derajat

Lidokain :
-

Incisi abses yang matang

Obat ini sekarang merupakan pilihan pertama. Bekerjanya cepat, kuat dan bertahan
lama dan tidak mengakibatkan hipersensitasi.

Tes Vitalis gigi

Pemakaian yang overdosis dapat menyebabkan :

Indikasi Lidocain:

Pusng, sukar bicara, hipotensi.

Sangat cepat dan baik melalui selaput lender, kulit.


Toksisitas :

Efek pembekuan tersebut menyebabkan daerah tersebut anemi hingga manekan dan
mengurangi perasaan sakit dari syaraf sensorik

Mencbut gigi kokoh

Operasi kecil. Misalnya: amandel, gigi impaksi, kiste

Penjahitan

Bila gigi infeksi akut tidak boleh dicabut harus diredakan dahuli dengan asam tinggi.
Obat untuk meredakan adalah golongan Antibiotik anastesi. Local harus dalam
keadaan Basa.

adalah sebagai rekayasa obat lama yang dianggap masih mempunyai kekurangankekurangan.2
Kokain adalah obat anestetik pertama yang dibuat dari daun koka dan dibuat
pertama kali pada 1884. Penggunaan kokain aman hanya untuk anestetik topical.
Penggunaan secara sistemik akan menyebabkan dampak samping keracunan system
saraf, system kardiovaskuler, ketagihan, sehingga dibatasi pembuatannya hanya
untuk topical mata, hidung dan tenggorokan.2
BAB III

1.

Jenis-Jenis Obat Anesthesi dalam Praktek Kedokteran Gigi

Senyawa-Esther (PABA) : kokain, benzokain, prokain, oksibuprokain, dan tetrakain


Senyawa-Amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan bupivakain, cinchokain,
artikain, dan pramokain
Senyawa lain-lain : fenol, benzoalkohol, cryofluoran, dan etylklorida

STRUKTUR ANESTESI LOKAL


Anestetik local ialah gabungan dari garam larut dalam air dan alkaloid larut dalam
lemak dan terdiri dari bagian kepala cincin aromatic tak jenuh bersifat lipofilik,
bagian badan sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon dan bagian ekor
yang terdiri dari amino tersier bersifat hidrofilik. Bagian lipofilik terdiri dari cincin
aromatic (benzene ring) tak jenuh, misalnya PABA (para-amino-benzoic acid).
Bagian ini sangat esensial untuk aktifitas anestesi. Bagian hidrofilik biasanya
golongan amino tersier (dietil-amin).2

1.

Tempat suntikan

Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya vaskularisasi tempat


suntikan : absorpsi intravena > trakeal > interkostal > kaudal > para-servikal >
epidural > pleksus brakial > skiatik > subkutan.
1.

Penambahan vasokonstriktor

Adrenalin 5g/ ml atau 1:200.000 membuat vasokonstriksi pembuluh darah pada


tempat suntikan sehingga dapat memperlambat absorpsi sampai 50%.
1.

Karakteristik obat anestetik local

Obat anestetika local terikat kuat pada jaringan sehingga dapat diabsorpsi secara
lambat.
IV.2. Absorbsi obat
Absorbsi obat anestetik local

BAB I
PENDAHULUAN
Obat-obat anestetik local mempengaruhi semua sel tubuh, tapi mempunyai
predileksi khusus pada jaringan saraf. Pengaruh utamanya adalah memblok hantaran
saraf bila mengadakan kontak dengan suatu neuron. Obat anastetika local bergabung
dengan protoplasma saraf dan menghasilkan analgesia (blok hantaran impuls nyeri)
dangan mencegah terjadinya depolarisasi dengan cara menghambat masuknya ion
sodium (Na+). Sifat blok ini disebut nondepolarizing block. Reaksi ini bersifat
reversible dan fungsi fisiologis saraf tersebut akan kembali sempurna seperti
sediakala setelah blok berakhir.1
Intensitas dan luasnya blok analgesia tergantung dari tempat, volume total dan
konsentrasi obat anestetika local dan kemampuan penetrasi obat anestetika local
tersebut. Umumnya obat-obat anestetika local adalah hydrophilic amino group
yang bergabung dengan rantai lyphophilic aromatic residue. Obat anestetika local
adalah sintesis (kecuali kokain) mengandung nitrogen, bereaksi basa dan rasanya
pahit. Obat anestetika local merupakan garam hidroklorik atau asam sulfirat. Garam
ini membebaskan asam kuat namun iritasi jaringan minimal karena kemampuan
buffer yang kuat dari tubuh.1
Obat-obat anestetika local mempunyai efek vasodilatasi (kecuali kokain). Infiltrasi
ke daerah radag menghasilkan analgesi yang kurang memuaskan karena
bertambahnya keasaman jaringan yang meradang mengurangi aktivitas obat
anestetika local dimana pH pus adalah 5. 1
BAB II
DEFINISI
Anestetik local ialah obat yang menghasilkan blockade konduksi atau blockade
lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi
sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik local
setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan
lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. Semua obat anestetik local baru

Anestetik local dibagi menjadi dua golongan yaitu: golongan ester dan golongan
amida. Golongan ester (-COO-) yaitu: kokain, benzokain (amerikain), ametocaine,
prokain (novocaine), tetrakain (pontocaine), kloroprokain (nesacaine). Golongan
amida (-NHCO-) yaitu: lidokain (xtlocaine, lignocaine), mepivakain (carbocaine),
prilokain (citanest), bupivakain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain
(nupercaine), ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine).2

1.

Anestetik local tidak bisa mengadakan penetrasi ke kulit yang intak.


1.

Obat baru pada dasarnya adalah obat lama dengan mengganti, mengurangi atau
menambah bagian kepala, badan dan ekor. Di Indonesia yang paling banyak
digunakan ialah lidokain dan bupivakain.2
BAB IV
MEKANISME KERJA
Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium, mencegah peningkatan
permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi
depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. Potensi
dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut makin poten. Ikatan dengan
protein mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi (pKa) menentukan awal
kerja. Konsentrasi minimal anestetika local dipengaruhi oleh: ukuran, jenis dan
mielinisasi saraf; pH (asidosis menghambat blockade saraf), frekuensi stimulasi
saraf.2

1.

Mata

Absorbsi efektif melalui membrane konjungtiva bila diteteskan atau dengan suntikan
subkonjungtiva.
1.

Selaput mukosa

Absorbsi lewat mukosa hidung, faring, trakea, bronkus dan alveoli sama cepatnya
seperti suntikan intravena.
Suntikan intramuskuler

Absorbsi lebih lambat daripada suntikan intravena.


1.

Lama kerja dipengaruhi oleh: ikatan dengan protein plasma, karena reseptor
anestetika local adalah protein; dipengaruhi oleh kecepatan absorpsi; dipengaruhi
oleh ramainya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.2

Jaringan subkutis

Absorbsi obat anestesi local tergantung vaskularisasi setempat kesuali bila


ditambahkan epinefrin.

1.
Mula kerja bergantung beberapa factor, yaitu: pKa mendekati pH fisiologis sehingga
konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat dan dapat menembus membrane sel
saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat, alkalinisasi anestetika local membuat
mula kerja cepat, konsentrasi obat anestetika local. 2

Kulit

Vasokonstriktor

Tidak memperlambat absorbsi lewat selaput mukosa.


1.

Esofagus

IV.1. Absorpsi sistemik


Absorbsi di esophagus tak berarti (sedikit).
Absorpsi sistemik dipengaruhi oleh:

1.

Lambung dan uretra

Absorbsi di lambung dan uretra berlangsung cepat.


1.

Kanalis spinalis

Absorbsi lambat lewat sirkulasi. Vasokonstriktor menghambat absorbsi dan


memperpanjang lama analgesi sebanyak 60%.
1.

Ruang peridual

Absorbsi seperti pada jaringan subkutis, vasokonstriktor manghambat absorbsi.

- Depresi kontraktilitas miokard.


- Dilatasi anteriolar.

BAB V

- Dosis besar dapat menyebabkan disritmia/ kolaps sirkulasi.

KOMPLIKASI KARENA OBAT ANESTETIKA LOKAL

1.

Sistem pernapasan

Relaksi otot polos bronkus. Henti napas akibat paralise saraf frenikus, paralise
interkostal atau depresi langsung pusat pengaturan napas.
1.

Reaksi sistemik dan local adalah sama untuk semua jenis obat anestetik local. Pada
umumnya efek samping/ efek lain yang tak dikehendaki ringan dan mudah diatasi/
diobati dan umumnya akibat overdosis atau kesalahan teknik. Alat-alat untuk
resusitasi kardiopulmoner harus tersedia, dan bila tindakan/ pengobatan yang tepat
segera dikerjakan, reaksi yang paling beratpun dapat diatasi (reversible). Terapi
ditujukan untuk mempertahankan ventilasi dan sirkulasi yang adekuat.

Sistem saraf pusat


Reaksi sistemik karena obat anestetik local:

IV.3. Distribusi obat


Distribusi dipengaruhi oleh ambilan organ dan ditentukan oleh factor-faktor:
1.
2.

Perfusi jaringan.
Koefisien partisi jaringan/ darah.

Ikatan kuat dengan protein plasma obat lebih lama di darah. Kelarutan dalam
lemak tinggi meningkatkan ambilan jaringan.
1.

Massa jaringan.

Otot merupakan tempat reservoir bagi anestetika local.


IV.4. Metabolisme dan ekskresi
Metabolisme dan ekskresi obat anestetik lokal.
1.

Golongan ester.

Metabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase (kolinesterase plasma). Hidrolisa


ester sangat cepat dan kemudian metabolit dieksresi melalui urin.
1.

Golongan amida.

Metabolisme terutama oleh enzim mikrosomal di hati. Kecepatan metabolisme


tergantung kepada spesifikasi obat anestetik local. Metabolismenya lebih lambat
dari hidrolisa ester. Metabolit dieksresi lewat urin dan sebagian kecil dieksresi
dalam bentuk utuh.

System saraf pusat rentan terhadap toksisitas anestetik local, dengan tanda-tanda
awal parestesia lidah, pusing, kepala terasa ringan, tinnitus, pandangan kabur,
agitasi, twitching, depresi pernapasan, tidak sadar, konvulsi, koma. Tambahan
adrenalin berisiko kerusakan saraf.
1.

Imunologi

Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering, karena merupakan derivate
para-amino-benzoic acid (PABA) yang dikenal sebagai allergen.
1.

Sisten musculoskeletal

Bersifat miotoksik (bupivakain > lidokain > prokain). Tambahan adrenalin berisiko
kerusakan saraf. Regenerasi dalam waktu 3-4 minggu.
1.

Toksisitas bergantung pada

- Jumlah larutan yang disuntikkan.

a. Reaksi sistemik karena kadar anestetik local dalam darah tinggi yang biasanya
disebabkan karena overdosis, absorbsi sistemik yang cepat atau penyuntikan
intravena secara tidak sengaja.
- Pemberian intravena paling berbahaya.
- Absorbsi lewat mukosa hidung, faring dan traktus respiratorius berlangsung
secepat penyuntikan intravena.
- Factor lain yang berpengaruh terhadap reaksi toksik:
Kecepatan metabolisme dan detoksikasi obat anestetik local.
Adanya vasokonstriktor memperlambat absorbsi. Hialuronidase memperlambat
absorbsi.
b. Reaksi toksik terutama mempengaruhi jantung, sirkulasi, respirasi dan susunan
saraf pusat.

- Konsentrasi obat.
- Ada tidaknya adrenalin.

- Pengaruh pada jantung dan pembuluh darah asalah depresi langsung pada
miokardium dan vasodilatasi. Manifestasi klinisnya hipotensi, bradikardi, nadi kecil,
pucat, kulit dingin dan berkeringat dan aritmia yang mungkin berakibat cardiac
arrest.

- Vaskularisasi tempat suntikan.


- Absorbsi obat.

- Pusat di medulla, depresi pada medulla dengan akibat depresi pernapasan, apnu
dan vascula collapse.

- Laju destruksi obat.

BAB VI

- Hipersensitivitas.

OBAT ANESTESI LOKAL YANG SERING DIGUNAKAN

- Usia.

Beberapa jenis obat anestesi local yang sering digunakan sehari-hari akan dibahas
dibawah ini.

IV.5. Efek samping


Efek samping obat anestetik local terhadap system tubuh antara lain.
- Keadaan umum.
1.

VI.1. Prokain (novokain)

System kardiovaskuler
- Berat badan.

- Depresi automatisasi miokard.

1.

Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal,


epidural.

2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

Merupakan obat standard untuk perbandingan potensi dan toksisitas


terhadap jenis obat-obat anestetik local yang lain.
Diberikan intravena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum,
bedah jantung atau induced hypothermia.
Absorbsi berlangsung cepat pada tempat suntikan, hidrolisis juga cepat
oleh enzim plasma (prokain esterase).
Pemberian intravena merupakan kontra indikasi untuk penderita
miastenia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok
neuromuskuler. Prokain tidak boleh diberikan bersama-sama
sulfonamide.
Larutan 1-2% kadang-kadang kekuning-kuningan (amines), tidak
berbahaya.
Tidak mempenetrasi kulit dan selaput lender/ mukosa. Jadi tidak efektif
untuk surface analgesi.
Dosis 15 mg/ kgbb.

5% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural).


VI.3. Bupivakain (marcain).
Secara kimia dan farmakologis mirip lidokain. Toksisitas setaraf dengan tetrakain.
Untuk infiltrasi dan blok saraf perifer dipakai larutan 0,25-0,75%. Dosis maksimal
200mg. Duration 3-8 jam. Konsentrasi efektif minimal 0,125%. Mula kerja lebih
lambat dibanding lidokain. Setelah suntikan kaudal, epidural atau infiltrasi, kadar
plasma puncak dicapai dalam 45 menit. Kemudian menurun perlahan-lahan dalam
3-8 jam. Untuk anesthesia spinal 0,5% volum antara 2-4 ml iso atau hiperbarik.
Untuk blok sensorik epidural 0,375% dan pembedahan 0,75%.
VI.4. Kokain.

Untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5 % dosis maksimum 1000 mg. Onset: 2-5 menit,
durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1: 100.000 atau 1:200.000). Dosis
untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%. Untuk kaudal 25 ml larutan
1,5%. Spinal analgesia 50-200 mg, tergantung efek yang dikehendaki, lamanya
(duration) 1 jam.

Hanya dijumpai dalam bentuk topical semprot 4% untuk mukosa jalan napas atas.
Lama kerja 2-30 menit.

VI.2. Lidokain (lignocaine, xylocain, lidonest).

Derivate prokain dengan masa kerja lebih pendek.

1.

2.

Lidokain adalah golongan amida. Sering dipakai untuk surface


analgesi, blok infiltrasi, spinal, epidural dan caudal analgesia dan nerve
blok lainnya. Juga dipakai secara intravena untuk mengobati aritmia
selama anesthesia umum, bedah jantung dan induced hypothermia.
Dibandingkan prokain, onset lebih cepat, lebih kuat (intensea), lebih
mahal dan durasi lebih lama. Potensi dan toksisitas 10 kali prokain.
Tertrakain tidak boleh digunakan bersama-sama sulfonamide. Onset 510 menit, duration sekitar 2 jam.
Dosis.

VI.5. Kloroprokain (nesakain).

VI.6. EMLA (eutentic mixture of local anesthetic).


Campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara lidokain dan prilokain masingmasing 5%. EMLA dioleskan di kulit intak 1-2 jam sebelum tindakan untuk
mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri atau untuk miringotomi pada
anak, mencabut bulu halus atau buang tato. Tidak dianjurkan untuk mukosa atau
kulit terluka.
VI.7. Ropivakain (naropin) dan levobupivakain (chirokain).

Konsentrasi efektif minimal 0,25%.


Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik.

Penggunaannya seperti bupivakain, karena kedua obat tersebut merupakan isomer


bagian kiri dari bupivakain yang dampak sampingnya lebih ringan dibandingkan
bupivakain. Bagian isomer kanan dari bupivakain dampak sampingnya lebih besar.
Konsentrasi efektif minimal 0,25%.

Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan.


DAFTAR PUSTAKA
Larutan standar 1 atau 1,5% untuk blok perifer.
1.
0,25-0,5% + adrenalin 200.000 untuk infiltrasi.
2.
0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik.
1% untuk blok motorik dan sensorik.
2% untuk blok motorik pasien berotot (muscular).
4% atau 10% untuk topical semprot faring-laring (pump spray).
5% bentuk jeli untuk dioleskan di pipa trakea.
5% lidokain dicampur 5% prilokain untuk topical kulit.

3.

Dardjat M T, editor. Obat Anestetik Lokal. Dalam: Kumpulan Kuliah


Anestesiologi. Jakarta: Aksara Medisina;1986. hal 243.
Latief Said, Surjadi Kartini, Dachlan Ruswan, editor. Anestetik Lokal.
Dalam: Petunjuk Praktis Anestesiologi. Ed 2. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2002. hal 97-104.
S Kristanto. Anestetik Regional. Dalam: Basuki Gunawarman, Muhadi
Muhiman, Latief Said, editor. Anestesiologi. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1989. hal 123-5.

Farmakodinamik
Adapun farmakodinamik untuk obat anestesi local adalah:
a.
Mekanisme Kerja
Selama eksitasi, saluran natrium terbuka dan arus natrium masuk ke
dalam sel dengan cepat mendepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial
natrium (+40mV). Sebagai akibat depolarisasi ini, maka saluran natrium menutup
(inaktif) dan saluran kalium terbuka. Aliran kalium keluar sel merepolarisasi
membran ke arah keseimbangan potensial kalium (sekitar -95mV); terjadi lagi

repolarisasi saluran natrium menjadi keadaan istirahat. Perbedaan ionic


transmembran dipertahankan oleh pompa natrium. Sifat ini mirip dengan yang
terjadi pada otot jantung dan anestesi local pun mempunyai efek yang sama pada
kedua jaringa tersebut.
Anestesi local mengikat reseptor dekat ujung intrasel saluran dan
menghambat saluran dalam keadaan bergantung waktu dan voltase.
Bila peningkatan konsentrasi dalam secara progresif anestesi local digunakan pada
satu serabut saraf, nilai ambang eksitasinya meningkat, konduksi impuls melambat,
kecepatan muncul potensial aksinya menurun, amplitude potensial aksi mengecil
dan akhirnya kemampuan melepas satu potensial aksi hilang. Efek yang bertambah
tadi merupakan hasil dari ikatan anestesi local terhadap banyak dan makin banyak
saluran natrium; pada setiap saluran, ikatan menghasilkan hambatan arus natrium.
Jika arus ini dihambat melebihi titik kritis saraf, maka propagasi yang melintas
daerah yang dihambat ini tidak mungkin terjadi lagi. Pada dosis terkecil yang
dibutuhkan untuk menghambat propagasi, potensial istirahat jelas tidak terganggu.
Karakteristik Struktur-Aktivitas Anestesi Lokal. Makin kecil dan makin
banyak molekul lipofilik, makin cepat pula kecepatan interaksi dengan reseptor
saluran natrium. Potensi mempunyai hubungan positif pula dengan kelarutan lipid
selama obat menahan kelarutan air yang cukup untuk berdifusi ke tempat kerja.
Lidokain, prokain, dan mepivakain lebih larut dalam air dibandingkan tetrakain,
etidokain, dan bupivakain. Obat yang terakhir lebih kuat dengan masa kerja yang
panjang. Obat-obat tadi terikat lebih ekstensif pada protein dan akan menggeser atau
digeser dari tempat ikatannya oleh obat-obatan lain.
b.
Aksi Terhadap Saraf
Karena anestesi local mampu menghambat semua saraf, maka kerjanya
tidak saja terbatas pada hilangnya sensasi sakit dan nyeri yang diinginkan.
Perbedaan tipe serabut saraf akan membedakan dengan nyata kepekaannya terhadap
penghambatan anestesi local atas dasar ukuran dan mielinasi. Aplikasi suatu anestesi
local terhadap suatu akar serabut saraf, serabut paling kecil B dan C dihambat lebih
dulu. Serabut delta tipe A akan dihambat kemudian. Oleh karena itu, serabut nyeri
dihambat permulaan; kemudian sensasi lainnya menghilang; dan fungsi motor
dihambat terakhir.
Adapun efek serabut saraf antara lain:
Efek diameter serabut
Anestesi local lebih mudah menghambat serabut ukuran kecil karena
jarak di mana propagasi suatu impuls listrik merambat secara pasif pada serabut tadi
(berhubungan dengan constant ruang) jadi lebih singkat. Selama mula kerja anestesi
local, bila bagian pendek serabut dihambat, maka serabut berdiameter kecil yang
pertama
kali
gagal
menyalurkan
impuls.
Terhadap serabut yang bermielin, setidaknya tiga nodus berturut-turut dihambat oleh
anestesi local untuk menghentikan propagasi impuls. Makin tebal serabut saraf,
makin terpisah jauh nodus tadi yang menerangkan sebagian, tahanan yang lebih
besar untuk menghambat serabut besar tadi. Saraf bermielin cenderung dihambat
serabut saraf yang tidak bermielin pada ukuran yang sama. Dengan demikian,
serabut saraf preganglionik B dapat dihambat sebelum serabut C kecil yang tidak
bermielin.
Efek frekuensi letupan
Alasan penting lain terhadap mudahnya penghambatan serabut sensoris
mengikuti langsung dari mekanisme kerja yang bergantung pada keadaan anestesi
local. Serabut sensoris, terutama serabut nyeri ternyata berkecukupan letupan tinggi
dan lama potensial aksi yang relative lama (mendekati 5 milidetik). Serabut motor
meletup pada kecepatan yang lebih lambat dengan potensial aksi yang singkat (0,5
milidetik). Serabut delta dan C adalah serabut berdiameter kecil yang terlibat pada
transmisi nyeri berfrekuensi tinggi. Oleh karena itu, serabut ini dihambat lebih dulu
dengan anestesi local kadar rendah dari pada serabut A alfa.
Efek posisi saraf dalam bundle saraf
Pada sekumpulan saraf yang besar, saraf motor biasanya terletak
melingkari bundle dan oleh karena itu saraf ini akan terpapar lebih dulu bila anestesi
local diberikan secara suntikan ke dalam jaringan sekitar saraf. Akibatnya bukan
tidak mungkin saraf motor terhambat sebelum penghambatan sensoris dalam bundle
besar. Jadi, selama infiltrasi hambatan saraf besar, anestesi muncul lebih dulu di
bagian proksimal dan kemudian menyebar ke distal sesuai dengan penetrasi obat ke
dalam
tengah
bagian
bundle
saraf.

c.

2.

a)

b)

c)

d)

e)

Efek Terhadap Membran yang Mudah Terangsang Lainnya


Anestesi local mempunyai efek menghambat otot saraf yang lemah dan
tidak begitu penting dalam klinik. Namun, efeknya terhadap membran sel otot
jantung mempunyai makna klinik yang penting

Efek Samping
Seharusnya obat anestesi local diserap dari tempat pemberian obat. Jika
kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada
berbagai sistem organ.
Sistem Saraf Pusat
Efek terhadap SSP antara lain ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan
visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul
pula nistagmus dan menggigil. Akhirnya kejang tonik klonik yang terus menerus
diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi local
termasuk kokain.
Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi local adalah
timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. Keadaan ini dapat
dicegah dengan hanya memberikan anestesi local dalam dosis kecil sesuai dengan
kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. Bila harus diberikan dalam dosis besar,
maka perlu ditambahkan premedikasi dengan benzodiapedin; seperti diazepam, 0,10,2 mg/kg parenteral untuk mencegah bangkitan kejang.
Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas)
Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi local akan
menjadi toksik terhadap jaringan saraf.
Sistem Kardiovaskular
Efek kardiovaskular anestesi local akibat sebagian dari efek langsung
terhadap jantung dan membrane otot polos serta dari efek secara tidak langsung
melalui saraf otonom. Anestesi local menghambat saluran natrium jantung sehingga
menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi
abnormal. Walaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah
pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis
kecil yang diberikan secara infiltrasi.
Darah
Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan
menimbulkan penumpukan metabolit o-toluidin, suatu zat pengoksidasi yang
mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. Bila kadarnya cukup besar
maka warna darah menjadi coklat.
Reaksi alergi
Reaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil
populasi.
Dari berbagai sumber, saya mencoba mengkompilasi, sehingga menjadi catatan
hanya bagi saya pribadi.

Biasanya obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri biasanya terdiri dari
tiga
komponen,
yaitu
:
1.
analgetik
(menghilangkan
rasa
nyeri),
2.
antipiretik
(menurunkan
demam),
dan
3.
anti-inflamasi
(mengurangi
proses
peradangan).
Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit
gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot.menurunkan demam pada influenza dan
setelah vaksinasi.
I. PARACETAMOL
Parasetamol yang dijual dengan berbagai nama dagang. Beberapa diantaranya
adalah Sanmol, Pamol, Fasidol, Panadol, Itramol dan lain lain. Menurut peraruran
Depkes, semua obat yang dijual bebas harus menuliskan nama generik di bawah
nama dagangnya yang dicantumkan di bawah kandungan. Namun, patut diingat
bila gejalanya hanya demam, tidak dibenarkan untuk menggunakan parasetamol
yang dicampur dengan bahan aktif lain, misalnya untuk pilek, batuk, dan
sebagainya. Tambahan bahan lain itu selain tidak ada gunanya, juga menjadikan
obat lebih mahal. Belum lagi bila menimbulkan efek sampingan, akan menjadi
mubazir.
Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai
analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai
analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat
menimbulkan nefropati analgesik.
Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan
efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.
Paracetamol adalah sebuah obat analgetik untuk pasien yang tak tahan asetosal
(dikenal dengan nama populer : aspirin)
Kontra
Indikasi:
Hipersensitif
terhadap
parasetamol
dan
defisiensi
glokose-6-fosfat
dehidroganase.tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :


I. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok
obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama
digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha
untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan
mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
Ada
3
golongan
obat
1.
Obat
yang
berasal
2.
Senyawa
semisintetik
3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

II. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino
fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat,
naproksen/naproxen dan banyak lagi.

ini
dari

yaitu
:
opium-morfin,
morfin,
dan

Deskripsi:
Paracetamol
adalah
derivat
p-aminofenol
yang
mempunyai
sifat
antipiretik/analgesik
Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga
berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa
nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga sehingga
tindak digunakan sebagai antirematik.
Segera ke dokter bila salah satu dari tanda berikut muncul setelah anda minum
paracetamol. Tanda tanda itu antara lain : terjadi perdarahan ringan sampai berat,
keluhan demam dan nyeri tenggorokan tidak berkurang yang kemungkinan
disebabkan oleh karena infeksi sehingga perlu penanganan lebih lanjut.
Jika tidak ada masalah di organ hati, dosis maksimum paracetamol untuk orang
dewasa adalah 4 gram (4000mg) per hari atau 8 tablet paracetamol 500mg. Bila

karena suatu sebab yang tidak jelas pasien bandel minum obat ini melebih dosis
maksimum tadi maka jangan heran bila kelak terjadi kerusakan hati yang fatal.
Gejala kerusakan hati yang perlu mendapatkan perhatian dan harus segera ke dokter
antara lain : mual sampai muntah, kulit dan mata berwarna kekuningan, warna air
seni yang pekat seperti teh, nyeri di perut kanan atas, dan rasa lelah dan lemas.
Beberapa reaksi alergi yang dilaporkan sering muncul antara lain : kemerahan pada
kulit, gatal, bengkak, dan kesulitan bernafas/sesak. Seperti biasa, bila mengalami
tanda tanda diatas setelah minum paracetamol, segera ke dokter untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjalani pengobatan dengan
paracetamol antara lain, sebelum minum paracetamol, sampaikan ke dokter anda
kalau anda sebelumnya pernah mengalami alergi setelah mengkonsumsi
paracetamol atau alergi yang disebabkan oleh sebab lain. Selain itu, informasikan
pula ke dokter bila anda mempunyai riwayat penyakit khronis seperti penyakit hati,
ketergantungan alkohol, dan lain lain. Paracetmol dapat merusak hati, maka bila
ditambah dengan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan maka akan mempercepat
terjadinya kerusakan hati.
Paracetamol sering dikombinasikan dengan aspirin untuk mengatasi rasa nyeri pada
rematik sebab paracetamol tidak mempunyai efek anti inflamasi seperti aspirin
sehingga bila kedua obat ini digabung maka akan didapatkan sinergi pengobatan
yang bagus pada penyakit rematik. Paracetamol aman diberikan pada wanita hamil
dan menyusui namun tetap dianjurkan pada wanita hamil untuk meminum obat ini
bila benar benar membutuhkan dan dalam pengawasan dokter.
II. NEURALGIN
Indikasi:
Meringankan rasa nyeri pada sakit kepala, sakit kepala pada migrain, nyeri otot,
sakit gigi dan nyeri haid.
Kontra
Indikasi:
Hipersensitif terhadap paracetamol atau ibuprofen dan anti-inflamasi non steroid
(AINS) lainnya serta caffeine.penderita dengan ulkus peptikum (tukak lambung dan
usus
12jari)
yang
berat
dan
aktif.
Penderita dimana bila menggunakan acetosal atau obat-obat anti-inflamasi nonsteroid lainnya akan timbul gejala asma, rinitis(selesma) atau urtikana.
Wanita pada kehamilan tiga bulan terakhir.
Komposisi:
Tiap
tablet
Paracetamol
.
Ibuprofen

Cafeine .. 50 mg

350
200

mengandung:
mg
mg

Cara
Kerja
Obat:
Paracetamol merupakan analgesik-antipiretik dan ibuprofen merupakan obat
analgetik, antipiretik dan anti-inflamasi non-steroid (AINS) yang memiliki efek
analgetik (menghilangkan rasa nyeri), antipiretik (menurunkan demam), dan antiinflamasi (mengurangi proses peradangan).
Efek
Samping:
Yang paling sering adalah gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, nyeri ulu
hati, kemerahan pada kulit, trobositopenia, limfopenia, dll. Dapat terjadi reaksi
hipersensitivitas, terutama pada penderita dengan riwayat asma, atau reaksi alergi
lain
terhadap
golongan
anti-inflamasi
nonsteroid
(AINS).
Penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menimbulkan krusakan fungsi hati.
Penggunaan pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko

kerusakan
fungsi
hati.
Penurunan ketajaman penglihatan dan kesulitan membedakan warna dapat terjadi,
tetapi sangat jarang dan akan sembuh bila penggunaan dihentikan.

diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia
dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
V. Tramadol

Peringatan
dan
Perhatian:
Hati-hati penggunaan pada penderita tukak lambung dan pendarahan saluran cerna
(aktif/riwayat), penyakit hati dan ginjal berat, wanita hamil (tidak dianjurkan)
terutama pada kehamilan usia lanjut, wanita menyusui (tidak dianjurkan), dan
penderita dengan ketergantungan alkohol, gagal jantung, hipertensi, dan penyakit
lain yang menyebabkan retensi cairan tubuh, ganguan pembekuan darah, asma,
lupus
eritomatosus
sistemik.
Pada penderita dengan tukak lambung dan pendarahan saluran cerna (aktif/riwayat)
sebaiknya
diminum
setelah
makan.
Jika selama menggunakan obat ini terjadi efek yang tidak diinginkan atau setelah 5
hari nyeri tidak hilang segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan.
Selama menggunakan obat ini jangan mengkonsumsi obat lain yang mengandung
Paracetamol/Asetosal/ibuprofen, juga obat antikuogulan golongan Warfarin.

Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.


Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol
pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang
memerlukan waktu yang lama.

Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.


VI. Benorylate

* Risiko terjadi efek toksik dari paracetamol dapat meningkat apabila diberikan
bersama-sama dengan obat yang bersifat toksik terhadap hati (hepatotoksik).
Penyimpanan:
Simpan pada suhu kamar (di bawah 30 derajat C).
III. Ibuprofen
Asetosal (dikenal sebagai aspirin) tidak dianjurkan bila lambung pasien tidak tahan
karena sifat asamnya. Asetosal dalam dosis 1 tablet dewasa menyebabkan darah
menjadi encer sehingga perdarahan (seperti dalam haid atau terluka) akan sulit
berhenti karena darah tidak dapat membeku. Asetosal juga tidak dianjurkan bila
penyebab demam adalah virus (campak, cacar air, dan sebagainya), terutama pada
anak karena asetosal dihubungkan dengan komplikasi fatal yang disebut Reye
syndrome.
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara.
Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek
analgesiknya sama dengan aspirin.
Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.

VII. Fentanyl
Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika
digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM
(intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan
kanker.
Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit
secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap.
Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik
narkotika.

Adanya rangsangan mekanis/kimiasi yang bisa menimbulkan kerusakan


pada jaringan dan melepas zat yang disebut mediator nyeri, antara lain : histamine,
serotonin, plasmakinin, ion kalium, dll.
Zat ini merangsan reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, selaput
lender, jaringan dan setelahnya dialirkan ke saraf sensori ke SSP via sumsum tulang
belakang menuju thalamus dan berakhir di pusat nyeri di otak.
b. Penggolongan
Pada umumnya dibagi jadi dua, yaitu :
1. Nyeri akut. Nyeri yang tidak berlangsung lama.
2. Nyeri kronis. Nyeri yang snagat lama, bisa menahun. Terkadang sumbernya tidak
dapat diketahui. Sering dihubungkan dengan kanker dan arthritis. Salah satu tipenya
adalah neuropathic pain yang disebabkan oleh kelainan di sepanjang suatu jalur
saraf.
c. Pemberatasan
- Merintangi pembentukan rangsangan di reseptor nyeri perifer, oleh
analgeteika preifer atau anestetika
- Merintangi penyaluran rangsangan nyeri di saraf sensori
- Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral atau anestetika

Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit.
Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat.
Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering
terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.
Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga
untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara
bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.
VIII. Naproxen

(tidak termasuk golongan obat bebas kecuali yang 250 mg untuk orang dewasa)

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus

Nyeri adalah gejala yang fungsinya melindungi dan memberikan tanda bahya
tentang adanya gangguan pada tubuh, seperti radang, infeksi kuman dan lainnya.
Jadi, nyeri berguna sebagai penanda jika ada yang salah pada tubuh.

Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan
sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat
ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan
yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh
digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.

IV. Asam mefenamat

Obat ini dikenal masyarakat sebagai Ponstan, dan dipiron (dikenal sebagai Antalgin
atau Novalgin). Kedua obat mi tidak dibenarkan dibeli di toko obat atau apotek
karena harus memakai resep. Seperti diketahui, kemasan obat bebas ditandai dengan
lingkaran hijau atau biru, sedangkan obat resep lingkaran merah.

PATOLOGI

a. Penyebab
Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih
besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter.

Interaksi Obat:
* Pemberian ibuprofen bersama-sama dengan methotrexate atau litium harus
dilakukan dengan hati-hati; penderita harus diawasi secara ketat terhadap tandatanda toksik dari methotrexate atau litium.

Obat analgetik-antipiretik dan NSAID (anti inflamasi nonsteroid) adalah kelompok


obat yang banyak diresepkan atau tanpa resep. Mereka adalah obat heterogen secara
kimia. Meskipun begitu, obat ini punya banyak kesamaan dalam efek terapi atau
efek sampingnya. Prototip obat ini adalah Aspirin, karena itu, mereka juga disebut
obat mirip aspirin atau aspirin-like drugs.

umum.
. ANALGETIK
Adalah obat atau senyawa yang digunakan untuk rasa sakit atau nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran. Sadar akan rasa sakit sendiri dibagi dua macam, yaitu di
bagian otak besar serta reaksi emosional serta individu pada perangsang ini.
Analgetik sendiri dibagi beberapa macam. Secara golongan, ada dua
macam, yaitu :
a. Analgetik non-narkotik (Integumental analgesic)

Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja


dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri
di tubuh.

b. Analgetiknarkotik (Visceral analgesic)


Sementara secara mekanisme dan target aksi, dibagi jadi dua, yaitu :

IX. Obat lainnya


Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat), Dypirone/Methampiron,
Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil.

c. Analgesik non-opioid (NSAID)


d. Analgesikopioid

Salisilat
Salisilamid
Diflunisal

Beberapa contoh obat analgesik serta kontra, indikasinya


1. Cetalgin-T

Para

Indikasi : Sakit kepala, neuralgia, sakit pinggang, rasa snyeri yang berkaitan dengan
penyakit lainnya
Kontra indikasi : Kelainan perdarahan, porfiria.

Amino

Fenol

Derivat

A. Analgetik Non Narkotik


Obat ini tidak mempengaruhi system saraf pusat, tidak pula menurunkan
kesadaran atau ketagihan. Semua analgetik perifer punya kerja antipiretik, yaitu
menurukan suhu badan dalam keadaan demam. Jadi, sering disebut analgetikantipiretik.

Efek samping : Reaksi alergi, agranulositosis, perdarahan lambung-usus


Penggolongan secara kimiawi :
2. Abdiflam

Mekanisme kerja obat didasar atas penghambatan COX-1


(cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini
berperan mempercepat pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari
arachidonic acid. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses
inflamasi. NSAID termetabolisme dalam hati oleh proses oksidasi dan konjugasi
sehingga menjadi zat metabolit yang tidak aktif, lalu dikeluarkan melalui uirn atau
cairan empedu.
Obat ini punya target aksi pada ezim siklooksigenase (COX). COX
sendiri berperan dalam sintesis mediator
nyeri, contohnya prostladin.
Mekanismenya adalah NSAID mengeblok pembetukan prostaglandin dengan
menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka, jadi mengurangi pembentukan
mediator nyeri.

1. Salisilat-salisilat, Na-Salisilat, Asetosal, Salisilamida, dan Benirilat


Indikasi : Sakit pasca traumatic inflamatori, inflamasi dan bentuk degenerative
rematik, rematik non artikular

2. Derivat p-aminofenol

3. Allogon

3. Derivat pirozolon

Indikasi : nyeri ringan sampia berat seperti sakit kepala, nyeri oto, nyeri sendir,
sakit gigi, nyeri saat haid, pasca operasi, neuralgia, nyeri pada organ dalam perut

4. Derivat antranilat

Macam macam golongan NSAID:


Gol. Salisilat
Gol. Asam Arilalkanoat
Gol. Profen
Efek samping

Kontra indikasi : Gastritis, ulkus lambung dan anemia hemolitik

Gol Asam Fenamat


Gangguan lambung-usus

4. Analsik

Gol. Turunan pirazolidin


Kerusakan darah, hati, ginjal

Indikasi : Untuk meringankan rasa nyeri sedang sampai berat. Terutama nyeri kolik
dan nyeri pasca operasi dimana diperlukan kombinasi dengan tranquilizer.
Kontra indikasi : Penderita hipersensitif terhadap metampiron dan diazepam, bayi
dibawah 1 bulan atau BB dibawa 5 kg, wanita hamil dan menyusui, pasien denga
tekanan darah rendah dari 100 mmHg.

Gol. Penghambat COX-2


Efek tersebut terutama terjadi pada penggunaan secara lama dan dosis
besar.

Gol. Sulfonanilida

B. Analgetik Narkotik

II. ANTIPIRETIK
Adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh yang tinggi serta dapat
mengurangi rasa nyeri.

Gol. Lain

Punya daya menghalangi nyeri yang kuat, tingkat kerjanya di sistem


saraf pusat. Umumnya mengurangi kesadaran dan menimbulkan perasaan nyaman.

Indikasi
- Rheumatoid Arthritis

- Sakit kepala

- Osteoarthritis

- Nyeri pasca operasi

Efek samping

Indikasi
Berikut indikasi Antipiretik sebagai Analgetik-antipiretik :
- Nyeri akut yang hebat setelah pembedahan atau luka
- Nyeri karena tumor atau kolik
- Nyeri akut atau kronik apabila analgetik lain tak menolong
- Demam tinggi yang tidak bisa diatasi antipiretik lain.
Kontra Indikasi :
- Alergi Dipiron

- Granulositopenia

- Porfiria Intermiten

- Defisiensi G6PD

- Payah jantung

Gol. Oksikam
Reaksi alergi kulit

- Bayi yang berumur kurang dari 3 bulan

- Hamil trisemester pertama dan 6 minggu terakhir.


Jenis obat baru prototype obat dari golongan jenis-jenis obat demam :

Dapat mengakibatkan kebaisaan serta ketergantungan psikis dan fisik


(adiksi) bila konsumsi pengobatan dihentikan.

- Encok akut

- Nyeri ringan pada

- Nyeri Haid

- Demam

luka jaringan
Jenis
Secara kimiawi :
- Migrain
Alkaloid candu alamiah dan sinstesis morfin, heroin,
hidromorfon, hidrokodong dan dionin
Pengganti Morfin :
Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil
Metadon dan turunannya, dekstromoramida, bezitramida,
piritramida, dan d-ptopoksifen
Fenatren dan turunannya levorfenol termasuk pentazosin.
C. Analgetik Non-Opioid (NSAID)
Adalah obat mengurangi rasa nyeri dan fading. Ini dgunakan secara luas
di dunia untuk mengatasi nyeri akut atau kronik, contohnya seperti pada artritis.
Sekarang sedang dilakukan penelitian untuk mengetahui kesempatan obat ini bisa
dugnakan menjadi penanganan penyakit lain seperti colorectal kanker dan penyakit
kardiovaskular.

- Illeus

Kontra Indikasi
Disarankan tidak digunakan pada wanita hamil usia trisemester
ketiga. Tapi, parasetamol dianggap aman, namun harus diminum sesuai aturan
karena dosis tinggi dapat mengakibatkan keracunan hati.
Efek samping
- Gangguan lambung
- Gangguan usus
- Kerusakan darah

- Alergi kulit

- Kerusakan hati
- Kerusakan ginjal
Ini disebabkan biasanya Karena pemakaian jangka waktu lama dan

4. Opioid dengan kerja campur.

PEMBAHASAN
A.

Macam-Macam Morfin
1. Morfin Asetat

dosis besar.
D. ANALGETIK OPIOID
Merupakan golongan obat yang punya sifat seperti opium/morfin.
Sifatnya menimbulkan adiksi dan ketergantungna fisik. Karenanya, diperlukana
usaha untuk mendapatkan analgesic ideal
1. Potensi analgesic yang sama kuat dengan morfin
2. Tanpa bahaya adiksi
3. Obat yang berasal dari opium-morfin
4. Senyawa semisintetik morfin

Morfin asetat memiliki rumus kimia C17H19NO3.C2H4O2.3H2O dengan berat molekul


399,4 gram/mol. Pemeriannya berupa Sebuah bubuk amorf atau kristal putih..
Kelarutan Larut 1 bagian dalam 2,25 air, 1 dalam 22 etanol, 1 dalam 4,75 kloroform,
dan 1 dalam 4,5 gliserol; praktis tidak larut dalam eter (Moffat et al., 2005).

Nyeri sebenarnya berfungsi sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan


dalam tubuh dan merupakan bagian dari proses penyembuhan (inflamasi). Nyeri
perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktifitas tubuh. Analgetik merupakan obat
yang digunakan untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

2. Morfin Hidroklorida
Morfin Hidroklorida memiliki rumus kimia C17H19NO3.HCl.3H2O dengan berat
molekul 375,8 gram/mol. Pemeriannya berupa kristal halus atau bubuk kristal pucat,
atau massa kubus putih. Kelarutan larut 1 bagian dalam 17,5 air dan 1 dalam 100
etanol; perlahan larut dalam gliserol; praktis tidak larut dalam kloroform dan eter
(Moffat et al., 2005).

Obat ini digunakan untuk membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita
sering mengunakannya misalnya ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu
komponen obat yang kita minum biasanya mengandung analgetik atau pereda
nyeri. Pada umumnya (sekitar 90%) analgetik mempunyai efek antipiretik.
B.

3. Morfin Sulfat
1.

5. Senyawa sintetik yang efeknya seperti morfin.


Analgetik opioid punya cirri yang sama dengan analgetik narkotika.
Titik kerja di SSP, mengurangi kesadaran serta menimbulkan perasaan nyama.
Namun, analgetik opioid ini merpuakan pereda nyeri yang paling kuat dan sanga
tefektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.
Tubuh sendiri memiliki penghambat nyeri tubuh yang disebut
endogen, terutama di batang otak dan sumsum tulang belakang yang mepersulit
penerusan impuls nyeri. Senyawa yang diekluarkan oleh sistem endogen ini disebut
opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri
endogen antara lain: enkfalin, endorphin dan dinorfin.
Mekanisme
Opioid terikat pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya
ion Ca dalam sel, selain itu mengakibatkan hiperpolarisasi dengan meningkatkan
masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel
adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamine, serotonin, dan peptide
penghantar nyeri.
2+

Efek samping yang dapat terjadi


1. Toleransi dan ketergantungan
2. Depresi pernafas
3. Hipotensi
Karena Analgetik Opioid adalah obat yang punya sifat sama
seperti morfin. Maka, berikut adalah contoh contohmorfin (link).
Atas dasar kerja pada reseptor opioid, analgetik dibagi jadi
1. Agonis opioid menyerupai morfin.
2. Antagonis opioid.
3. Menurukan ambang nyeri pada pasien

Morfin Sulfat memiliki rumus kimia (C17H19NO3)2.H2SO4.5H2O dengan berat


molekul 758,8 gram/mol. Pemeriannya berwarnaa putih, kristal acicular, massa
berbentuk kubus, atau bubuk kristal. Bila terkena udara secara bertahap kehilangan
air dari kristalisasi. Warna menjadi gelap pada kontak yang terlalu lama terhadap
cahaya. M.p. 250, dengan dekomposisi (bentuk anhidrat). Kelarutan larut 1 bagian
di 15,5 air dan 1 bagian dalam 1000 etanol; praktis tidak larut dalam kloroform dan
eter. (Moffat et al., 2005)
o Morfin Tartrat
Morfin Tartrat memiliki rumus kimia (C17H19NO3)2.C4H6O6.3H2O dengan berat
molekul 774,8 gram/mol. Pemeriannya tidak berwarna(putih), acicular, efflorescent
kristal. Kelarutan larut 1 bagian di 15,5 air dan 1 bagian dalam 1000 etanol; praktis
tidak larut dalam kloroform dan eter. (Moffat et al., 2005).
Larut 1 bagian dalam 11 bagian air dan 1 dalam 1000 etanol; praktis tidak larut
dalam kloroform, eter, dan karbon disulfida. Konstanta disosiasi.pKa8.0, 9,9 (20 ).
Koefisien partisi. Log P (oktanol / pH 7,4), -0.1.
Test Warna : Ferric Warna Klorida-biru; Liebermann Test-hitam; Mandelin Testbiru-abu-abu; Marquis Test-violet (Moffat et al., 2005).

PENGERTIAN OBAT ANALGETIK


Analgetik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.

MACAM-MACAM OBAT ANALGETIK


Ada dua jenis analgetik, analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. Selain
berdasarkan struktur kimianya, pembagian diatas juga didasarkan pada nyeri yang
dapat dihilangkan.
Analgetik Opioid atau Analgetik Narkotika
Analgetik narkotik merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan
Papever somniferum atau dari senyawa sintetik. Analgetik ini digunakan untuk
meredakan nyeri sedang sampai hebat dan nyeri yang bersumber dari organ viseral.
Penggunaan berulang dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan toleransi dan
ketergantungan.
Semua anlagetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat tetapi potensi,
onzzet, dan efek sampingnya berbeda-beda secara kualitatif maupun kuantitatif.
Efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan ngantuk.
Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotensi serta depresi pernapasan.
Morfin dan petidinn merupakan analgetik narkotik yang paling banyak
dipakai untuk nyeri hebat walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di
indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan masih merupaan standar yang
digunakan sebagai pembanding bagi analgetik narkotik lainnya. Selain
menghilangkan nyeri, morfin dapat menimbulkan euforia dan gangguan mental.
Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang sampai sekarang masih digunakan di
Indonesia :
Morfin HCl
Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol)
Fentanil HCl
Petidin
Tramadol
2.
Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal
dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (nonnarkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja
sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini
cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh
pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat
kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak
mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunaan
Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).

Spektrum UV morfin dalam larutan asam 285 (A 1=52a); larutan basa 298 nm
(A11=92a) (Moffat et al., 2005).
Efek samping dari morfin adalah gangguan lambung, usus, dan efek pusat lainnya
seperti kegelisahan, kantuk dan perubahan suasan jiwa. Pada dosis yang lebih tinggi
terjadi efek yang lebih bahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun dan
sirkulasi darah yang tergangguan. Bisa mengakibatkan koma dan nafas terhenti.
Efek morfin pada SSP berupa analgesia dan narcosis. Pad adosis kecil (15-20 mg)
membuat euphoria pada pasien yang merasakan nyeri, sedih dan gelisah. Sementara
pada orang normal sering menimbulkan disforia berupa rasa kuatir atau takut dengan
mual dan muntah. Morfin juga membuat rasa kantuk, tidak fokus, sukar berpikir,
apatis, aktivitas motorik kurang, penglihatan menurun, panas, muka gatal dan mulut
kering. Dalam lingkungan tenang, oang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg)
morfin akan tertidur cepat dan nyenyak.

a.

Ibupropen
Ibupropen merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara.
Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek
analgesiknya sama dengan aspirin. Ibu hamil dan menyusui tidak di anjurkan
meminim obat ini.

Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan morfin dengan dosis
besar untuk menghilangkan rasa nyeri, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin.
Tetapi bila nyeri itu tiba tiba hilang, kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas.

b.

Paracetamol/acetaminophen
Merupakan devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai
analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai

Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik :

analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat


menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya
dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan
cofein yang berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan
dosisnya.
c.

Asam Mefenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat
pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus
diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia
dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.

C.
1.

CARA KERJA OBAT ANALGETIK


Mekanisme kerja Analgetik Opioid
Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim
sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja
analgetiknya dan efek sampingnya.
Efek depresi SSP beberapa opioid dapat diperhebat dan diperpanjang oleh
fenotiazin, penghambat monoamine oksidase dan antidepresi trisiklik. Mekanisme
supreaditif ini tidak diketahui dengan tepat mungkin menyangkut perubahan dalam
kecepatan biotransformasi opioid yang berperan dalam kerja opioid. Beberapa
fenotiazin mengurangi jumlah opioid yang diperlukan untuk menimbulkan tingkat
analgesia tertentu. Tetapi efek sedasi dan depresi napas akibat morfin akan
diperberat oleh fenotiazin tertentu dan selain itu ada efek hipotensi fenotiazin.

2.

Mekanisme Kerja Obat Analgesik Non-Nakotik


Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri
dan temperature. AINS secara selektif dapat mempengaruhi hipotalamus
menyebabkan penurunan suhu tubuh ketika demam. Mekanismenya kemungkinan
menghambat sintesis prostaglandin (PG) yang menstimulasi SSP. PG dapat
meningkatkan aliran darah ke perifer (vasodilatasi) dan berkeringat sehingga panas
banyak keluar dari tubuh.
Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik di hipotalamus atau di
tempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem, serta
pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG dan histamin. PG dan brandikinin
menstimulasi ujung saraf perifer dengan membawa impuls nyeri ke SSP. AINS
dapat menghambat sintesis PG dan brandikinin sehingga menghambat terjadinya
perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang banyak digunakan sebagai analgetik
dan antipiretik adalah golongan salisilat dan asetominafin (parasetamol).

D.
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI OBAT ANALGETIK
1.
Analgetik Opioid atau Analgetik Narkotika
a.
Morfin dan Alkaloid Opium
Indikasi
Meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan
dengan analgesic non-opioid
Mengurangi atau menghilangkan sesak napas akibat edema pulmonal yang
menyertai gagal jantung kiri.
Mengehentikan diare
Kontraindikasi
Orang lanjut usia dan pasien penyakit berat, emfisem, kifoskoliosis, korpulmonarale
kronik dan obesitas yang ekstrim.
b.
Meperidin dan Derivat Fenilpiperidin Lain
Indikasi
Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Meperidin digunakan
juga untuk menimbulkan analgesia obstetric dan sebagai obat praanestetik.
Kontraindikasi
Pada pasien penyakit hati dan orang tua dosis obat harus dikurangi karena terjadinya
perubahan pada disposisi obat. Selain itu dosis meperidin perlu dikurangi bila
diberikan bersama antisipkosis, hipnotif sedative dan obat-obat lain penekanSSP.
Pada pasien yang sedang mendapat MAO inhibitor pemberian meperidin dapat
menimbulkan kegelisahan, gejala eksitasi dan demam.
2.

Obat Analgetik Non-narkotik

a.
Salisilat
Indikasi
Mengobati nyeri tidak spesifik misalnya sakit kepala, nyeri sendi, nyeri haid,
neuralgia dan myalgia.
Demam reumatik akut
Kontraindikasi
Pada anak dibawah 12 tahun
b.
Parasetamol
Indikasi
Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesic dan antipiretik, telah
menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesic lainnya, parasetamol
sebaiknya tidka diberikan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati
analgesic.
Kontraindikasi
Penggunaan semua jenis analgesic dosis besar secara menahun terutama dalam
kombinasi berpotensi menyebabkan nefropati analgesic.
c.
asam mefenamat
Indikasi
Sebagai analgesic, sebagai anti-inflamasi,
Kontraindikasi
Tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak dibawah 14 tahun dan wanita hamil
dan pemberian tidak melebihi 7 hari. Penelitian klinis menyimpulkan bahwa
penggunaan selama haid mengurangi kehilangan darah secara bermakna.
d.
Ibuprofen
Indikasi
Bersifat analgesic dengan daya anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat.
Kontraindikasi
Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui karena
ibuprofen relative lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius
pada dosis analgesic.

BAB III
PENUTUP
A.

1.
2.
3.
4.

1.
2.
B.

KESIMPULAN
Analgetik yaitu obat anti nyeri. Mekanisame kerja menghambat sintase PGS
di
tempat
yang
sakit/trauma
jaringan.
Karakteristik :
Hanya efektif untuk menyembuhkan sakit
Tidak narkotika dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
Tidak mempengaruhi pernapasan
Gunanya untuk nyeri sedang, contohnya: sakit gigi
Macam - macam Analgetik :
Analgetik Opioid/analgetik narkotika
Obat Analgetik Non-narkotik
SARAN
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangankekurangan pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor keterbatasan
waktu waktu, pemikiran dan pengetahuan kami yang terbatas, oleh karena itu untuk
kesempernuan makalah ini kami sangat membutuhkan saran-saran dan masukan
yang bersifat membangun kepada semua pembaca.
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan pergunakan lah obat
tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita , jangan menggunakan obat kurang
atau melebihi batasnya.
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan.G.Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbit FKUI. Jakarta


Drs.Priyanto, Apt, M. Biomed. 2008. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi dan
Keperawatan. Liskonfi. Jawa Barat