Anda di halaman 1dari 22

ALIRAN FLUIDA

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUKSIONAL II


OLEH :
Debby Indah Permatasari (1215041009)
Sakha Abdussalam

(1215041043)

Dita Synthauli Evaniya (1215041058)

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BADAR LAMPUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk
secara permanen. Fluida merupakan zat yang berubah bentuk secara
kontinu (terus menerus) bila terkena tegangan geser, berapapun kecilnya
tegangan geser itu.
Perilaku zat cair yang mengalir sangat bergantung pada keadaan
sebenarnya apakah fluida itu berada di bawah pengaruh bidang batas padat
atau tidak. Aliran dalam pipa telah banyak dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam prosesproses industri. Dalam kehidupan
sehari-hari hal tersebut dapat dilihat pada aliran di saluran pembuangan,
aliran semen dan pasir di pipa dan lain-lain. Cara memindahkan zatzat
tersebut dalam industri banyak macamnya.
Pada aliran air dan udara yang mengalir dalam pipa, kecepatan dan
kapasitasnya

dapat

berubahubah.

Dunia

industri

banyak

sekali

menggunakan pipa dalam pendistribusian fluida cair dalam melakukan


proses produksi. Oleh karena itu efesiensi pendistribusian dalam industri
harus diperhatikan. Dengan efesiensi yang baik, maka biaya produksi
dapat ditekan sehingga harga jual produk atau barang tersebut lebih
kompetitif. Dalam berbagai industri sebagian besar fluidanya mengalir
pada pipapipa saluran tertutup (closed conduit flow). Masalah utama
yang muncul antara lain: Terjadinya gesekan pada dinding pipa,
Terjadinya turbulensi karena gerakan relative dalam molekul fluida
yang dipengaruhi oleh viskositas fluida itu sendiri dan bentuk
pipa,Terjadinya kapasitas aliran yang semakin kecil pada daerah yang jauh
dari sumber karena hambatan gesek pada aliran yang semakin
membesar.Pengukuran laju aliran fluida adalah salah satu yang terpenting
dalam proses flow control. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui
berapa kapasitas fluida yang dialirkan untuk mendapatkan harga.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini ialah untuk mempelajari fenomena
transportasi aliran fluida cair melalui sistem perpipaan dengan
menggunakan air sebagai fluida kerja. Pada praktikum ini kami di minta
untuk menentukan :
1. Karakteristik alat ukur laju air (venturi meter dan orifice meter)
2. Karakteristik pada sistem perpipaan (pipa dan gate valve)
3. Hilang tekanan akibat gesekan antara fluida dengan alat
transportasi
4. Jenis aliran dalam pipa berdasarkan bilangan reynold
5. Koefisien gesekan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Aliran Fluida
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk (distorsi)
secara permanen. Bila bentuk suatu massa fluida akan diubah, maka di dalam
fluida akan terbentuk lapisan-lapisan hingga mencapai suatu bentuk baru.
Pemahaman tentang fluida sangat penting untuk dapat menyelesaikan soalsoal pergerakan fluida melalui pipa, pompa dan peralatan proses atau alat ukur
laju alir pada fluida.
Selama fluida mengalir, harus selalu ada gaya geser yang bekerja terhadap
fluida. Hal ini dilakukan dengan penambahan energi dari luar. Tanpa adanya
penambahan energi dari luar, aliran fluida akan terhenti. Jumlah energi yang
diperlukan untuk mempertahankan aliran ini dianggap sebagai energi yang
hilang, karena tidak dapat diambil sebagai energi yang bermanfaat. Dalam
aliran fluida di dalam saluran, energi yang hilang disebut Head loss. Pada
dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi aliran fluida adalah yang
menyangkut dengan sifat fisik dari fluida yang dapat didefinisikan pada
tekanan, temperatur, densitas, dan viskositas (Foust, 1989).
Fluida pada umumnya di alirkan atau ditransportasikan melalui pipa atau
tabung yang penampangnya bundar dan terdapat dipasaran dalam berbagai
ukuran, tebal dinding, dan bahan konstruksi yang berbeda-beda.Pada umunya
pipa berdinding tebal, diameternya biasanya besar, dan tesedia dalam panjang
atau sedang, yaitu antara 20 sampai 40 ft. Sedangkan tabung berdinding tipis
dan tersedia dalam bentuk gulungan yang panjangnya sampai beberapa ratus
kaki. Pipa logam terkadang sudah berulir ujungnya,dan pada tabung umumnya
tidak. Dinding pipa umumnya agak kesat, sedangkan tabung berdinding licin.
Potongan-potongan pipa disambungkan dengan menggunakan ulir, flens atau
las. Dan akhirnya tabung umumnya dibuat dengan teknik ekstrusi atau tarik
dingin, sedangkan pipa logam umumnya dibuat dengan teknik las, cor, atau
menusuk tembus bahan tersebut didalam unit penusuk. Pipa dan tabung dibuat

dengan menggunakan berbagai bahan antara lain, logam paduan, kayu,


keramik, gelas, dan berbagai jenis plastik. Polivinil klorida atau PVC banyak
digunakan sebagai pipa air. Dalam industri pengolahan, bahan yang paling
umum digunakan ialah baja karbon rendah, yang dibuat menjadi pipa yang
dikenal dengan nama black iron pipe (Mc Cabe, 1985).

2.2 Macam-Macam Aliran dalam Pipa


Aliran dalam fluida terdiri dari tiga tipe yaitu :
1. Aliran laminar
Aliran Laminar dalah aliran fluida yang searah ditunjukkan dengan
gerak partikel-partikel fluidanya sejajar dan garis-garis arusnya halus.
Dalam aliran laminar, partikel-partikel fluida seolah-olah bergerak
sepanjang lintasan-lintasan yang halus dan lancar, dengan satu lapisan
meluncur secara mulus pada lapisan yang bersebelahan. Sifat kekentalan
zat cair berperan penting dalam pembentukan aliran laminar. Aliran laminar
bersifat steady maksudnya alirannya tetap. Tetap menunjukkan bahwa di
seluruh aliran air, debit alirannya tetap atau kecepatan aliran tidak berubah
menurut waktu.
Aliran fluida pada pipa, diawali dengan aliran laminar kemudian
pada fase berikutnya aliran berubah menjadi aliran turbulen. Fase antara
laminer menjadi turbulen disebut aliran transisi. Aliran laminar mengikuti
hukum Newton tentang viskositas yang menghubungkan tegangan geser
dengan laju perubahan bentuk sudut. Tetapi pada viskositas yang rendah
dan kecepatan yang tinggi aliran laminar tidak stabil dan berubah menjadi
aliran

turbulen.

Bisa diambil kesimpulan mengenai ciri- ciri aliran laminar yaitu:

fluida bergerak mengikuti garis lurus

kecepatan fluidanya rendah

viskositasnya tinggi dan

lintasan gerak fluida teratur antara satu dengan yang lain.

Gambar 2.1 Aliran Laminar


2. Aliran turbulen
Kecepatan aliran yang relatif besar akan menghasilakan aliran yang
tidak laminar melainkan komplek, lintasan gerak partikel saling tidak
teratur antara satu dengan yang lain. Sehingga didapatkan Ciri dari lairan
turbulen: tidak adanya keteraturan dalam lintasan fluidanya, aliran banyak
bercampur, kecepatan fluida tinggi, panjang skala aliran besar dan
viskositasnya rendah. Karakteristik aliran turbulen ditunjukkan oleh
terbentuknya

pusaran-pusaran

dalam

aliran,

yang

menghasilkan

percampuran terus menerus antara partikel partikel cairan di seluruh


penampang aliran.

Gambar 2.2 Aliran Turbulen

Untuk membedakan aliran apakah turbulen atau laminer, terdapat


suatu angka tidak bersatuan yang disebut Angka Reynold (Reynolds
Number). Angka ini dihitung dengan persamaan reaksi tersebut.
Re = (4 v R)/
Dimana:
Re = Angka Reynold (tanpa satuan)
V = Kecepatan rata-rata (ft/s atau m/s)
R = Jari-jari hydraulik (ft atau m)
= Viskositas kinematis, tersedia dalam tabel sifat-sifat cairan
(ft2/s atau m2/s)

Menurut hasil percobaan oleh Reynold, apabila angka Reynold


kurang daripada 2000, aliran biasanya merupakan aliran laminer. Apabila
angka Reynold lebih besar daripada 4000, aliran biasanya adalah turbulen.
Sedang antara 2000 dan 4000 aliran dapat laminer atau turbulen
tergantung pada faktor-faktor lain yang mempengaruhi.

Jenis aliran :
Laminar

= NRe < 2100

Transisi

= 2100 < NRe < 4000

Turbulen

= NRe > 4000

3. Aliran Transisi
Merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran
turbulen. Aliran berdasarkan bisa tidaknya dicompres :

Compressible flow, dimana aliran ini merupakan aliran


yang mampu mampat.

Incompressible flow, aliran tidak mampu mampat.

Empat faktor penting dalam pengukuran aliran fluida dalam pipa, yaitu:

Kecepatan fluida

Friksi/gesekan fluida dengan pipa


f = h.2g..A2/[4.(L/Df).Q2]
Dengan Df adalah diameter pipa bagian dalam dan L
adalah panjang pipa catatan :
Ukuran

Diameter Luar

Diameter dalam

(inchi)

(inchi)

1in ,sch 40

1,315

1,049

in ,sch 40

1,050

0,824

in ,sch 40

0,840

0,622

in ,sch 40

0,540

0,364

Viskositas/kekentalan fluida

Densitas/kerapatan fluida

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
1.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain:
1. Air sebagai fluida kerja
2. Gelas ukur 500 ml
3. Stopwatch
4. Alat ukur ketinggian perbedaan tekanan (manometer)
5. Sistem perpipaan yang terdiri dari komponen-komponen berupa valve,tee, elbow
dan alat ukur seperti venturimeter dan orificemeter.
1.2 Prosedur Percobaan
Adapun prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
Mengenali alat dengan memeriksa setiap bagian alat percobaan

Membuka kran tangki

Mengisi tangki dengan cara mengalirkan air dari kran sumber air
melewati kran V11 hingga tangki terisi penuh

Mengatur valve yang harus dibuka dan ditutup

Menghitung bukaan sempurna (100%) dari valve serta


menghitung bukaan setiap variasi persennya

Menghidupkan pompa

Membuka valve 3 sesuai dengan persen yang divariasikan setiap


bukaannya

Membuka kran tangki air valve 11 hingga aliran air yang keluar
dari valve tersebut konstant

Setelah itu membuka N09 dan N12 serta menutup selebihnya, hal
ini untuk membaca h pada manometer

Setelah aliran air yang keluar konstant, ukur volume fluida yang
keluar dari valve 11 dengan gelas ukur serta mulai mnghidupkan
stopwatch

Penampungan air di dalam gelas ukur dilakukan sampai waktu +3


detik, setelah itu mematikan stopwatch dan menghentikan
pengukuran volume air

Menghitung banyaknya air yang telah tertampung di dalam gelas


ukur

Mencatat jumlah air serta waktu yang telah didapatkan dalam


bentuk tabel

Kemudian mengukur h yang telah terbaca pada manometer


untuk N09-N12, dan mencatatnya ke dalam tabel

Mengulangi langkah yang sama seperti diatas dengan 3 kali


pengulangan untuk setiap variasi bukaan valve nya (100%, 80%
dan 60 %)

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan

Panjang Pipa= N9 - N12 =142 cm


Tipe pipa

= inchi

Table 1. Bukaan valve 100%


No.

V (cm3)

t (s)

h (cm)

Q (cm3/s)

f (gram/cm3)

430

3.38

127.2189

0.020839011

460

3.28

3.5

140.2439

0.020005961

440

3.12

141.0256

0.011305589

rata-rata

443.333333

3.26

2.83333333

136.1628

0.017180663
0.069331224

Table 2. Bukaan valve 80%

No.

V (cm3)

t (s)

h (cm)

1
2
3

440
395
405
413.333333

3.28
3.18
3.34
3.26666667

3
4.5
3
3.5

rata-rata

Q
(cm3/s)
134.1463
124.2138
121.2575
126.5392

f (gram/cm3)
0.018742303
0.032789283
0.02293842
0.02457407
0.099044075

Table 3. Bukaan valve 60%

No.

V (cm3)

t (s)

h (cm)

Q (cm3/s)

1
2
3
rata-rata

390
395
375
386.667

3.3
3.21
3.08
3.19667

3.5
5.5
5.5
4.83333333

118.1818
123.053
121.7532
120.996

0.02817254
0.0408355
0.04171199
0.03711624
0.14783629

4.2 Pembahasan
Kami telah melaksanakan praktikum aliran fluida pada hari Jumat tanggal 21
November 2014. Dalam percobaan kali ini, kami diminta untuk menentukan
faktor gesekan yang terjadi pada pipa N09-N12 dengan ukuran pipa inch.
Langkah-langkah awal yang kami lakukan pertama kali yaitu mengisi tangki yaitu
mengalirkan air dari kran sumber air melewati kran V11,yaitu tempat yang
basanya di gunakan untuk menampung air yang keluar saat mengukur laju alir.
Air dari kran terus dialirkan hingga tangki tersebut terisi penuh atau minimal
setengahnya,dan kami mengisi hingga tangki. Kita dapat melihat tangki
tersebut terisi penuh atau tidaknya melalui selang penunjuk yang berada diluar
tangki. Setelah tangki tersebut terisi tangki, maka kran air dihentikan.
Setelah tangki terisi, maka kami memulai melakukan percobaan. Pertama
yang kami lakukan adalah menghidupkan pompa dengan cara menekan tombol
ON, kemudian tunggu hingga aliran mengalir dengan stabil yaitu dengan cara
melihat perbedaan ketinggian di manometer yang berada di belakang tangki. Dari
lembar penugasan, kami ditugaskan untuk menentukan faktor gesekan yang
terjadi pada pipa N09-N12 dan karakteristik pipa. Percobaan ini dilakukan dengan
memvariasikan tiga laju alir dengan bukaan valve 100%, 80%, dan 60%.
Percobaan dimulai dengan mengatur valve yang mana saja yang harus dibuka
dan ditutup, dan mengontrol persen kran buka-an pada valve tersebut. Pada
percobaan ini kami mengalirkan fluida melewati pipa inci, kran buka-an yang
kami atur yaitu kran buka-an V2. Untuk menentukan persen buka-an, kami
menghitung jumlah total putaran pada handwel valve tersebut. Untuk
mendapatkan jjumlah putaran yang harus kami lakukan pada saat 80% dan 60%
kami tinggal mengkali kan total jumlah putaran valve di kali dengan persen yang
ingin kita dapatkan .Valve V11 digunakan untuk menampung air yang keluar,
ketika ingin mengambil sampel volume berdasarkan waktu tertentu, pada
percobaan ini kami mengkonstantkan waktunya selama 3 sekon.

Ketika fluida telah mengalir stabil, salah seorang dari kami memegang gelas
ukur untuk menampung air, pada saat yang bersamaan stopwatch mulai
dinyalakan dan penampungan air dimulai, begitupun ketika dihentikan juga
bersamaan. Kemudian dicatat waktu, volume, serta perbedaan tinggi air pada
manometer. Percobaan ini diulangi untuk variasi bukaan valve berikutnya masingmasing 3 kali dan 3 detik pengambilan sampel untuk setiap variasi laju alirnya.
Selanjutnya dari data pengamatan yang didapat dari percobaan tersebut maka
dilanjutkan dengan melakukan perhitungan. Pengukuran laju alir dapat dihitung
dengan persamaan berikut :
Q = v/t
Keterangan :
Q = Laju alir (L/s)
V = volume air yang tertampung (L)
t = waktu (s)
Pengukuran laju alir dilakukan tiga kali pengulangan setiap variasi laju
alirnya. Dari perbandingan antara volume terhadap waktu didapatkan laju alir
volumetrik (Q) dalam satuan L/s. Berdasarkan teori , laju alir volumetrik akan
semakin meningkat nilainya dengan semakin besarnya kran buka-an valve. Pada
percobaan ini berarti kran buka-an valve 100% > 80% > 60. Pada setiap
pengulangan tersebut, laju alir volumetrik air yang diperoleh berbeda sehingga
dapat diketahui bahwa aliran air tersebut adalah aliran turbulen.
Dari perhitungan yang telah didapatkan tadi, dapat diketahui hubungan laju
alir fluida dengan faktor gesekan. Semakin besarnya laju alir fluida maka faktor
gesekan yang terjadi pada pipa semakin kecil. Hal ini sesuai dengan teori bahwa
laju alir fluida berbanding terbalik dengan faktor gesekan. Faktor gesekan juga
dapat dipengaruhi oleh diameter pipa dan panjang pipa. Semakin besar diameter
pipa, maka nilai faktor gesekan nya akan semakin besar. Begitu juga dengan

panjang pipa, semakin panjang pipa tersebut, maka nilai faktor gesekannya akan
semakin besar, karena adanya gaya gesek antara air dan dinding pipa. Hal ini
dapat kita simpulkan bahwa diameter pipa dan panjang pipa berbanding lurus
dengan nilai faktor gesekannya.
Perbedaan ketinggian pada manometer terjadi karena adanya beda tekanan
antara dua titik pada bidang aliran. Sesuai dengan teori, bahwa fluida dapat
mengalir karena beda tekanan dan adanya gravitasi. Pada ketinggian, air dapat
mengalir secara alami karena faktor gravitasi, sedangkan pada aliran air dalam
pipa lebih banyak karena pengaruh beda tekanan jika pipa terpasang horizontal
ataupun arah alirannya ketempat yang lebih tinggi. Fluida mengalir dari tekanan
tinggi ke rendah, sehingga perbedaan tinggi manometer dapat digunakan untuk
perhitungan yang berkaitan dengan fenomena aliran fluida antara lain seperti
pressure drop.
Secara menyeluruh, aliran pada pipa ini yaitu aliran tipe turbulen dilihat dari
perhitungan bilangan Reynold yang jauh diatas batas minimum bilangan Reynold
untuk aliran turbulen. Bilangan Reynold ini dipengaruhi oleh kecepatan fluida,
semakin besar kecepatannya maka bilangan Reynoldnya akan semakin besar.
Selain itu, bilangan reynold juga dipengaruhi oleh diameter pipa, densitas fluida,
serta viskositas fluidanya. Diameter pipa pada percobaan ini sangat kecil jika
dibandingkan dengan perpipaan industri, kemungkinan adanya penyumbatan
dapat diminimalisir dengan adanya aliran turbulen yang kecepatan alirannya
besar, akan tetapi tidak seefisien yang dibayangkan karena penyumbatan pada
pipa dapat terjadi karena kondisi alat yang terlalu lama tidak digunakan sehingga
akan terjadi pengkerakan dan penyumbatan pada pipa.
Pada bidang dimana fluida cair bersentuhan dengan dinding pipa bagian
dalam akan terjadi peristiwa gesekan, adanya peristiwa gesekan ini berlaku pula
peristiwa fenomena transfer momentum. Kecepatan aliran fluida untuk fluida
yang bersentuhan langsung dengan pipa sangat kecil dibandingkan pada titik
pertengahan diameter pipa. Gaya gesekan ini dipengaruhi juga oleh kondisi

kekasaran permukaan pipa. Semakin kasar permukaan pipa, maka gaya gesekan
akan semakin besar. Jika laju alir suatu sistem perpipaan telah menurun
kinerjanya, mungkin salah satu penyebabnya karena besarnya gaya gesekan
didalam fluida sehingga menjadi hambatan aliran fluida sepanjang pipa.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang didapat, analisa data yang sudah diperhitungkan
serta pembahasan yang sudah dikaji diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan,
yaitu :
1. Laju alir volumetrik akan semakin meningkat nilainya dengan semakin
besarnya bukaan valve. Dari perhitungan didapatkan debit rata-rata untuk
bukaan valve 100 % adalah 135,990 mL/s, sedangkan untuk bukaan valve
80 % didapatkan debit rata-rata sebesar 126,55 mL/s, dan untuk bukaan
valve 60% didapatkan debit rata-rata sebesar 120,982 mL/s.
2. Semakin besarnya laju alir fluida maka faktor gesekan yang terjadi pada
pipa semakin kecil. Hal ini sesuai dengan teori bahwa laju alir fluida
berbanding terbalik dengan faktor gesekan.
3. Dari perhitungan didapatkan, faktor gesekan untuk bukaan valve 100 %
adalah 0,0933124 dan untuk bukaan valve 80 % didapatkan faktor gesekan
adalah 0,099044075, serta untuk bukaan valve 60 % didapatkan faktor
gesekan sebesar 0,14783629.
4. Faktor gesekan juga dapat dipengaruhi oleh diameter pipa dan panjang
pipa. Semakin besar diameter pipa, maka nilai faktor gesekan nya akan
semakin besar. Begitu juga dengan panjang pipa, semakin panjang pipa
tersebut, maka nilai faktor gesekannya akan semakin besar, karena adanya
gaya gesek antara air dan dinding pipa.

DAFTAR PUSTAKA

Aya.Aliran Fluida.2012.http://aya-snura.blogspot.com/2012/01/aliran-fluidadalam-pipa.html.di akses pada 22 November 2014

ITB.Tugas Akhir.2010.http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-75002107100514-Bab1.pdf.di akses pada 22 November 2014

Undip.Fluida.2009.http://eprints.undip.ac.id/41655/16/BAB_II.pdf.di akses
pada 22 November 2014

Wikipedia.Fluida.id.wikipedia.org/wiki/Fluida.di akses pada 22 November


2014

LAMPIRAN

DOKUMENTASI
ALAT

KETERANGAN
Tangki tempat
penyimpanan
fluida air yang di
alirkan dari kran

Wadah tempat
penyimpanan
fluida,pada saat
menghitung laju
alir air

Pipa aliran yang


di gunakan yaitu
v9-v12

Kran air v2 yang


di gunakan untuk
mengatur laju alir
fluida

Nomor-nomor
pada orffice
meter

Orifice meter
untuk mengukur
h ,cara
menghitungnya
dapat di hitung
dengan
perubahan yang
ada di tunjukan
oleh kotak atau
blok yang
memiliki angka