Anda di halaman 1dari 10

TEORI DASAR LUMPUR PEMBORAN

Lumpur pemboran adalah fluida yang digunakan didalam operasi


pengeboran, dimana fluida tersebut dialirkan dari permukaan melalui rangkaiandalam pipa bor,
keluar melalui pahat dan naik ke permukaan melalui ruang antara diameter luar rangkain pipa
bor dengan dinding lubang bor.
2.1. Sifat fisik Lumpur Pemboran
Faktor yang sangat penting dalam melakukan suatu operasi pengeboran sumur
adalah mengontrol komposisi dan kondisi dalam Lumpur bor.
Untuk mempermudah pengertian hal diatas maka terdapat 4 (empat) sifat fisik
Lumpur pemboran, yaitu densitas, viskositas, gel strength dan laju t apisan . Selain itu
terdapat pula sifat lumpur pemboran yang lain seperti pH lumpur, sand content serta
resistivitas lumpur bor.

2.1.1. Densitas Lumpur Pemboran


Densitas atau berat jenis sangat penting diketahui untuk menentukan besarnya tekanan
hidrostatik kolom lumpur untuk tiap kedalaman. Lumpur harus di kontrol agar dapat
memberikan tekanan hidrostatik yang cukup untuk mencegah masuknya cairan formasi
kedalam lubang bor, tetapi tekanan tersebut tidak boleh terlalu besar karena akan
mengakibatkan f ormasi pecah dan lumpur hilang kedalam formasi. Oleh karena itu
berat jenis lumpur pemboran perlu direncanakan sebaik-baiknya dan disesuaikan dengan
keadaan tekanan formasi.
Densitas suatu fluida adalah berat fluida dibagi volumenya pada
temperatur dan tekanan tertentu. Satuan dimensi yang dipakai adalah kg/l, gr/cc dan
lb/gal. Densitas lumpur adalah berat lumpur dibagi dengan volume lumpur atau dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut :
BJ =
air
..(2.1) Dimana :
B J

ai

= De ens it a s L um p ur , p pg
= D e n s i t a s L u m p u r , p p g
= Densitas air, ppg

Tekanan hidrostatik lumpur didasar lubang adalah fungsi dari berat jenis l u m p u r i t u
sendiri.
Tekanan
hidrostatik
lumpur
didasar
lubang
akan
mempengaruhi kemampuan dari pada formasi dibawahnya yang akan dibor.
Dilapangan ber at jenis lumpur diukur dengan menggunakan suatu alat
yangdisebut mud balance. Semakin besar tekanan hidrostatik lumpur maka akan
semakin mampat dan hal ini merupakan hambatan pahat untuk mengoreknya.

1|Page

LUMPUR PEMBORAN
Fluida pemboran merupakan suatu campuran (liquid) dari beberapa unsur yang terdiri
dari air (air tawar atau asin), minyak, tanah liat, bahan bahan kimia, gas, busa
maupun detergen. Lumpur merupakan salah satu bagian terpenting dari sistem
pemboran, atau lazim disebut darahnya pemboran yang berfungsi untuk membantu
sistem pemutar dalam operasi pemboran sumur.
2.1. Fungsi lumpur
Lumpur (mud) merupakan penunjang yang paling utama dari operasi pemboran dan
mempunyai fungsi. Lumpur dapat menanggulangi masalah - masalah yang ada
sekaligus juga menimbulkan masalah dalam operasi pemboran. Fungsi lumpur
pemboran, antara lain:
2.1.1. Mendinginkan dan melumasi pahat
Karena adanya gesekan pada putaran pahat (bit) pada formasi dan rangkaian
maka akan timbul panas. Disaat inilah peran dari lumpur pemboran, panas yang
timbul akan diserap secara konduksi sehingga gesekan dan panas akan
berkurang.
2.1.2. Mengangkat cutting ke permukaan
Serbuk bor (Cutting) cenderung tidak terbawa oleh aliran lumpur karena adanya
beda tekanan, sehingga cutting akan bertumpuk pada dasar lubang.
Pencegahannya adalah mengurangi perbedaan tekanan yang terlalu tinggi dan
aliran lumpur yang merata ke seluruh lubang bor sehingga serbuk bor dapat
terangkat ke permukaan bersama dengan lumpur. Sifat dasar lumpur juga tidak
kalah penting dalam proses pengangkatan serbuk bor, berat jenis (densitas) dan
kekentalan (viskositas) harus dikendalikan sehingga dapat mengangkat serbuk
bor dengan sempurna.
2.1.3. Membersihkan dasar lubang
Lumpur mengalir melalui pipa pemboran masuk ke pahat dan keluar melalui
nozzle menimbulkan daya sembur yang sangat kuat sehingga dasar lubang
bersih dari serbuk bor. Dalam fungsi ini sangat dibutuhkan perhitungan gpm
pompa dan kekuatan formasi.
2.1.4. Mengontrol tekanan formasi
Mengontrol tekanan formasi merupakan hal yang sangat penting dalam operasi
pemboran untuk mencegah terjadinya semburan liar (blow out) atau lost
circulation. Blow out adalah berat lumpur lebih kecil dari tekanan formasi yang
ada. Lost Circulation adalah kondisi dimana berat lumpur terlalu besar dari
tekanan formasi sehingga lumpur masuk ke dalam formasi.
2.1.5. Menahan serbuk bor dan material pemberat saat sirkulasi dihentikan
Kemampuan lumpur bor untuk menahan atau mengapungkan serbuk bor saat
tidak ada sirkulasi tergantung pada gel strength-nya. Fungsi ini sangat
2|Page

dibutuhkan untuk mencegah menumpuknya serbuk bor di anulus yang akan


menyebabkan rangkaian terjepit.
2.1.6. Menghantar daya hidrolika ke pahat
Lumpur adalah media untuk menghantarkan daya hidrolika dari permukaan ke
dasar lubang. Daya hidrolika lumpur harus ditentukan dalam membuat progam
pengeboran sehingga laju sirkulasi dan tekanan permukaan menjadi balance
sehingga dapat membersihkan lubang dan mengangkat serbuk bor.
2.1.7. Mencegah terjadinya caving dan kontaminasi pada formasi
Terjadinya kontaminasi pada formasi akan mempersulit operasi pemboran.
Untuk itu sangat dihindari menggunakan lumpur yang tidak bereaksi dengan
formasi. Terutama untuk formasi yang mempunyai pemeabilitas 100 150md.
Caving terjadi pada formasi shale yang mudah menghidrasi.
2.1.8. Mencegah dan menghambat laju korosi
Gas CO2 dan H2S yang terkandung dalam formasi akan menaikan laju korosi
pada peralatan pemboran dibawah permukaan. Untuk mengurangi terlarutnya
gas gas tersebut harus menjaga PH lumpur. Zat pengikat oksigen (oxygen
scavenger) atau zat penghambat kerak (scale inhibitor) dapat menjadi solusi
untuk menghambat laju korosi.
2.1.9. Melindungi dinding lubang bor
Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan padat dan tipis di permukaan
formasi yang permeable. Pembentukan mud cake akan mengakibatkan aliran
fulida menuju formasi tertahan. Cairan yang masuk ke formasi disebut filtrate.
Mud cake diharapkan adalah tipis dan padat dengan demikian lubang bor tidak
menyempit.

2.2. Sifat sifat fisik lumpur pemboran


Agar fungsi fungsi yang diterangkan diatas dapat berjalan dengan baik maka sifat
sifat lumpur bor harus dijaga dan diamati dengan teliti dalam setiap operasi pemboran.
terdapat beberapa sifat fisik lumpur pemboran., yaitu berat jenis (density), viskositas,
gel strength serta laju tapisan dll.
2.2.1. Berat jenis lumpur pemboran
Berat jenis adalah berat fluida di bagi volume pada temperature dan tekanan
tertentu. Satuan atau dimensi yang dipakai adalah kg/l, gr/cc dan lb/gal.
Berat jenis lumpur harus dijaga agar dapat memberikan tekanan hidrostatik yang
cukup untuk mencegah masukanya cairan formasi ke dalam lubang bor, tetapi
tekanan tersebut jangan terlalu besar, karena akan formasi pecah dan lumpur
akan masuk ke dalam formasi. Tekanan hidrostatik lumpur di dasar lubang akan
mempengaruhi kemampatan dari pada formasi di bawahnya yang akan di bor.
Semakin besar tekanan hiodrostatik lumpur maka lapisan akan semakin mampat
3|Page

di lapangan pengeboran pengukuran berat jenis lumpur dapat diukur dengan


menggunakan mud balance.
2.2.2. Viskositas lumpur pemboran
Viskositas adalah tahanan fluida terhadap aliran atau gerakan yang disebabkan
oleh adanya gesekan antara partikel pada fluida yang mengalir. Pada lumpur
bor, viskositas merupakan tahanan terhadap aliran lumpur disaat dilakukan
sirkulasi, hal ini dapat terjadi karena adanya pergeseran antara partikel partikel
dari lumpur bor tersebut.
Viskositas menyatakan kekentalan dari lumpur bor, dimana viskositas lumpur
memegang peranan dalam pengangkatan serbuk bor makin baik. Bila lumpur
tidak cukup kental maka pengangkatan serbuk bor kurang sempurna dan akan
mengakibatkan serbuk bor tertinggal di dalam lubang bor.
2.2.3. Plastic viscosity
Plastic Viscosity suatu tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh adanya
gesekan gesekan antara padatan di dalam lumpur, padatan cairan dan
gesekan antara lapisan cairan dimana plastic viscosity merupakan hasil torsi dari
pembacaan pada alat viscometer.
2.2.4. Yield point
Yield point adalah mengukur gaya elektrokimia antara padatan padatan, cairan
cairan, cairan padatan pada zat kimia dalam kondisi dinamis yang
berhubungan dengan pola aliran, pengangkatan serpihan, kehilangan tekanan
dan kontaminasi. Apparent Viscosity adalah keadaan dimana fluida non
newtonian pada shear rate tertentu seolah olah mempunyai kekentalan
(viscositas) seperti pada fluida newtonian.
2.2.5. Gel strength
Gel Strength pada saat sirkulasi dihentikan maka lumpur akan menjadi gel. Hal
ini disebakan adanya gaya tarik menarik antara partikel partikel padatan
lumpur, daya inilah yang disebut gel strength. Pada saat sirkulasi berhenti
lumpur harus mempunyai gel strength yang dapat menahan serbuk bor tidak
jatuh ke dasar lubang. Apabila gel strength terlalu besar maka akan
mengakibatkan kerja pompa terlalu berat untuk memulai kembali sirkulasi.
2.2.6. Laju tapisan
Laju tapisan lumpur pemboran terdiri dari komponen padat dan cair. Karena
pada umumnya dinding lubang sumur mempunyai pori-pori, maka komponen
cair dari lumpur akan masuk ke dalam dinding lubang bor. Dimana indikasi
jumlah cairan yang masuk ke formasi yang tergantung pada suhu, tekanan, dan
padatan yang disebut laju tapisan. Area yang terinfiltrasi lumpur disebut invaded
zone sedangkan zat cair yang masuk disebut filtrate. Kegunaan laju tapisan
adalah membentuk mud cake pada dinding lubang bor. Mud cake yang baik
adalah yang tipis untuk mengurangi kemungkinan terjepitnya pipa bor dan kuat
untuk membantu kestabilan lubang bor serta padat agar filtrate yang masuk
4|Page

kedalam formasi tidak terlalu berlebih. Mud cake yang tebal akan menjepit pipa
pemboran sehingga sulit diangkat dan diputar sedangkan filtrate yang masuk
keformasi akan merusak formasi dan dapat menimbulkan kerusakan pada
formasi.
Di dalam proses filtrasi-nya, maka laju tapisan dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu:
Statik filtrasi, merupakan filtrasi yang terjadi pada saat lumpur pada keadaan
diam (tidak ada sirkulasi)
Dinamik filtrasi, filtrasi yang terjadi dalam keadaan ada sirkulasi dan pipa bor
berputar dan harus diamati ketika proses pemboran berlangsung. Cairan
yang masuk kedalam formasi pada dinding lubang bor akan menyebabkan
akibat negatif, yaitu lubang bor akan runtuh, water blocking, differential
sticking.
Dinding lubang bor akan runtuh
Bila formasi yang dimasuki oleh zat cair yang masuk tersebut adalah air,
maka ikatan antara partikel formasi akan lemah, sehingga dinding lubang bor
runtuh.
Water Blocking
Filtrat yang berupa air akan menghambat aliran minyak dari formasi ke dalam
lubang sumur jika filtrate dari lumpur banyak.
Differential Sticking
Seiring dengan banyaknya laju tapisan maka mud cake dari lumpur akan
tebal. Di waktu sirkulasi berhenti ditambah dengan berat jenis lumpur yang
besar, maka drill collar akan cenderung terjepit, karena mud cake akan
menahan drill collar yang terbenam di dalam mud cake. Laju tapisan yang
besar dapat menyebabkan terjadinya formation damage dan lumpur akan
kehilangan banyak cairan. Invasi filtrate yang masuk kedalam formasi
produktif dapat menyebabkan produktivitas menurun. Perlu adanya
pengaturan laju filtrasi, yaitu dengan membatasi cairan yang masuk ke dalam
formasi.
2.2.7. Tebal ampas
Tebal ampas berhubungan dengan presentasi padatan, sifat kimia, dan
kestabilan lumpur. Hal ini dapat menyebabkan gesekan, torsi atau terjepitnya
rangkaian serta berfungsi untuk melindungi formasi dan melapisi formasi.
2.2.8. Alkanity Pf dan Mf
Sifat ini menunjukan ukuran konsentrasi dari ion OH-, ion karbonat dan ion
biocarbonate yang ada dalam fasa air. Sifat ini juga menunjukan kestabilan dari
sifat sifat kimia lumpur.
2.2.9. Kesadahan total Ca2+ dan Mg2+
Sifat ini berhubungan dengan besarnya konsentrasi Ca 2+ dan Mg2+
berhubangan dengan kontaminasi padatan semen. Sifat ini juga penting untuk
mengetahui kesadahan air bahan dasar lumpur. Air yang mengandung banyak
calcium dan magnesium digolongkan ke dalam hard water. Air ini akan berbusa
dan untuk mencapai yield dan gel tertentu akan banyak memerlukan bentonite.
5|Page

2.3. Sifat-sifat lumpur pemboran lainnya


Selain mempunyai sifat-sifat fisik lumpur pemboran juga mempunyai sifat-sifat lain,
dimana sifat-sifat lumpur pemboran harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan problem selama pemboran sedang berlangsung.
2.3.1. PH lumpur bor
PH dipakai untuk menentukan tingkat kebasaan dan keasaman dari lumpur yang
dipakai, berkisar antara 9 12. Jadi lumpur pemboran yang digunakan adalah
suasana basa. Jika lumpur yang digunakan dalam suasana asam maka serbuk
bor yang keluar dari lubang bor akan halus dan hancur, sehingga tidak dapat
ditentukan batuan apa yang ditembus oleh mata bor selain itu peralatan yang
dilalui oleh lumpur saat sedang sirkulasi atau tidak akan mudah berkarat. Kalau
lumpur bor terlalu basa terlalu basa juga tidak baik karena dapat menaikkan
kekentalan dan gel strength dari lumpur.
2.3.2. Kadar pasir (Sand Content)
Yang dimaksud dengan Sand content adalah besarnya kadar pasir di dalam
lumpur bor. Kadar pasir harus seminimal mungkin untuk mengurangi sifat
abrasive. Pasir tidak boleh terlalu banyak dalam lumpur bor, karena dapat
merusakan peralatan yang dilalui pada saat sirkulasi dan akan menaikkan berat
jenis dari lumpur bor itu sendiri. Maksimal kadar pasir di dalam lumpur bor yang
diperbolehkan adalah 2% volume.
2.3.3. Kadar garam (CI content)
Kadar garam berhubungan langsung dengan besarnya ion chloride yang
terkandung di dalam lumpur bor. Kontaminasi ion chloride ini mungkin berasal
dari air formasi. Kandungan Cl- ditentukan untuk mengetahui kadar garam dari
lumpur akan mempengaruhi interpretasi logging listrik atau tidak. Kadar garam
yang besar akan menyebabkan daya hantarnya besar pula. Pembacaan
resestivity dari cairan formasi akan terpengaruh.
2.3.4. Fasa padatan-cairan (Solid content)
Solid content adalah kandungan padatan di dalam lumpur pemboran. Padatan
tidak boleh terlalu banyak yang terkandung di dalam lumpur pemboran karena
dapat menimbulkan masalah masalah di dalam pemboran. Kandungan
padatan yang baik di dalam lumpur sekitar 8% - 12% volume lumpur. Untuk
menentukan kandungan padatan di dalam lumpur digunakan alat Mud Retort.

2.4. Karakteristik yang mempengaruhi sifat fisik lumpur pemboran


Sebelum membuat lumpur pemboran yang baik, terlebih dahulu harus memperkirakan
keadaan dan kondisi dari formasi yang akan ditembus. Ada beberapa yang dapat
mempengaruhi sifat lumpur pemboran, yaitu :
1. Suhu formasi
2. Tekanan formasi
3. Kandungan clay dan garam
6|Page

2.4.1. Suhu formasi


Semakin dalam formasi yang akan ditembus maka suhu formasi juga semakin
meningkat. Dengan meningkatnya suhu formasi tersebut akan mempengaruhi
keseimbangan dari fluida pemboran.
Pada saat lumpur dalam keadaan diam, maka semakin bertambah tinggi
suhunya akan semakin tinggi juga daya untuk menjadi gel dan penggumpalan
gel dalam batas tertentu dapat diatasi dengan mengaduk lumpur hingga encer
kembali.
2.4.2. Tekanan formasi
Sebelum menentukan jenis fluida pemboran apa yang digunakan, maka kita
harus mengetahui sekurang kurangnya memperkirakan tekanan formasi
terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menentukan densitas fluida pemboran
yang diperbolehkan.
Densitas fluida pemboran didapat dari tekanan formasi ditambah dengan faktor
keamanan (safety factor) yang telah ditentukan sehingga fluida pemboran
tersebut cukup mampu menahan tekanan formasi.
Untuk formasi yang bertekanan rendah digunakan berat jenis rendah, sehingga
tekanan hidrostatis lumpurnya rendah, jika digunakan dengan berat jenis besar
maka akan menyebabkan formasi pecah dan kehilangan sirkulasi.
2.4.3. Kandungan clay dan garam
Pada formasi yang mengandung clay dimana secara terus - menerus akan
menghisap air sehingga mengembang dan gugur ke lubang akan menimbulkan
problem pipa terjepit. Untuk formasi yang mengandung garam kuat atau lapisan
lapisan garam serta adanya abondant salt water yang berada di daerah payau
atau lokasi pengeboran on-shore atau off-shore, dianjurkan menggunakan salt
water mud atau oil in water emulsion dalam operasi pemboran. Pemakaian
lumpur ini akan memperlihatkan mud cake yang tebal dan filtration loss yang
besar jika tidak ditambah organik koloid dan pembuihan yang terjadi dapat
dikurangi dengan penambahan surfactant ke dalam sistem lumpur.

2.5. Macam macam kontaminasi


2.5.1. Padatan pemboran
Padatan pemboran terdiri dari padatan aktif dan padatan in-aktif. Padatan aktif
misalnya clay dan padatan in-aktif misalnya silt, sand, limestone, chaert.
2.5.2. Evaporit salt
Jenis kontaminasi ini ada beberapa macam yaitu sodium chloride (NaCl),
potassium chloride (KCI), calcium chloride(CaCl2), magnesium chloride (MgCl2),
dan anhydrite (CaSO4). Namun yang paling umum terjadi adalah kontaminan
7|Page

garam (NaCl), anhydrite, dan gypsum. Sodium chloride yang mengkontaminasi


lumpur pemboran biasanya terjadi pemboran menembus salt dome, lapisan
batuan garam, evaporate, dan lapisan lapisan lainnyayang mengandung
garam, sedangkan anhydrite dan gypsum terdapat pada suatu batuan keras
atau batuan antara formasi shale dan limestone.
2.5.3. Formasi water influk
Air formasi yang masuk dalam sistem lumpur juga berpengaruh pada sifat fisik
lumpur pemboran yang berarti juga berpengaruh pada keberhasilan fungsi
lumpur pemboran.

2.6. Pengaruh kontaminasi terhadap lumpur pemboran


Kontaminan dapat berubah secara langsung maupun tidak langsung pada sistem
lumpur pemboran yang digunakan. Kontaminasi yang masuk dalam sistem lumpur
dapat merubah sifat fisik lumpur pemboran, menurunkan kinerja lumpur pemboran
yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pemboran.

2.7. Bahan bahan adiktif lumpur pemboran


Di dalam suatu sistem lumpur terdapat material material tambahan yang berfungsi
mengontrol dan memperbaiki sifat sifat lumpur agar sesuai dengan keadaan dan
kondisi formasi yang dihadapi selama operasi pemboran. Berikut ini adalah beberapa
bahan kimia yang berguna untuk menaikkan berat jenis lumpur, menaikkan viskositas,
menurukan viskositas, dan menurunkan filtration loss dan sebagainya.
2.7.1. Bahan pemberat (Weighting agent)
Bahan pemberat digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Bahan yang
paling umum digunakan adalah barite dan kalsium karbonat, serta hematite
untuk berat jenis (densitas) tinggi.
2.7.1.1. Viscosifier
Viscosifier adalah bahan yang digunakan untuk menaikkan kekentalan
(viskositas) yang biasanya mempunyai fungsi sekunder sebagai fluid
loss reducer. Ada dua macam viscofier, antara lain :
1. Tipe mineral clay, misalnya bentonite
2. Tipe polimer, misalnya XCD polimer dan Guar Gum polimer
2.7.1.2. Fluid loss reducer
Bahan ini berguna untuk menurunkan fluid loss dan hampir semua
bahannya berfungsi juga seperti viscosifier misalnya CMC dan PAC.
Sedangkan yang berfungsi sebagai thinner adalah lignit. Penggunaan
formulasi yang menggunakan polimer hendaknya memperhatikan suhu,
karena pada umumnya jenis jenis polimer tidak tahan terhadap suhu
tinggi.
8|Page

2.7.1.3. Shale stabilizer


Bahan ini berfungsi untuk menstabilkan formasi shale agar tidak gugur
ke dalam lubang bor.
2.7.1.4. Pola coating
Prinsip kerja pada pola ini yaitu bahan kimia tambahan (aditif) akan
menyelimuti partikel partikel dari shale, sehingga kontak dengan fluida
dapat dikurangi dengan demikian kemungkinan terjadinya reaksi antara
shale dengan lumpur dapat dikurangi.
2.7.1.5. Pola chosa
Pada pola ini yaitu menggunakan garam garam terlarut untuk
mengadsorbsi air dari dalam shale.
2.7.1.6. Suhu stabilizer
Bahan ini berfungsi untuk mengontrol rheologi lumpur pada suhu tinggi,
karena pada suhu tinggi lumpur biasanya akan mengalami gelation,
yaitu naiknya viskositas lumpur jauh diatas normal.
2.7.1.7. Garam garam elektrolit
Garam adalah komponen utama dalam pembuatan fluida komplesi dan
work-over. Disamping itu dalam jumlah tertentu juga sering dicampurkan
ke dalam sistem pemboran. Garam - garam yang sering digunakan
antara lain KCl, NaCl, dan CaCl2.

2.8. Mineral clay


Terdapat beberapa mineral yang berperan sebagai pembentuk clay antara lain :
1. Montmorillonite
Monmorillonite yang mempunyai rumus kimia [(OH)4Si8O20xH2O] terdiri dari tiga
lapisan struktur, satu buah struktur alumina octahedral dan dua buah struktur silica
tetrahedral yang merupakan Si4O10 ikatan ini tidak dapat dipisahkan dari kandungan
O2-nya secara langsung.
2. Kaolonite
Kaolonite terdiri dari dua lapisan struktur, satu lapisan SIOP4 dan alumunium
hidrosil dengan ruangan yang sangat rapat tidak seperti pada montmorillonite.
Pertukarannya ion silica alumina oleh elemen tidak diperlukan.
3. Illite
Illite hidrous mika memiliki pola dasar seperti montmorillonite, kecuali kation K+
yang mempunyai posisi air antara pola lapisan. Illite lebih komplek karena adanya
pertukaran ion K+ yang berlebihan pada air, sehingga tidak menunjukkan adanya
sifat pengembangan.
9|Page

4. Chlorite
Struktur octahedral layer tunggal memberikan keseimbangan muatan terhadap
ketiga layer lainnya. Sehingga struktur clay yang terjadi bersifat netral. Tidak ada
kesempatan untuk terjadinya pertukaran ion, sehingga clay jenis ini tidak memiliki
sifat swelling.

2.9. Lumpur polimer


Lumpur polimer adalah sistem lumpur dimana proses pengeringan (hidrasi) dari formasi
shale yang ditembus diusahakan stabil. Ada beberapa cara untuk mencapai hal
tersebut, yang paling umum adalah membatasi jumlah air yang bereaksi dengan clay,
dengan cara menyelimuti serbuk bor (cutting) clay ini dengan polimer sesegera
mungkin untuk rekasi lebih lanjut. Non Dispersed Polymer terdiri dari anionic dan
nonionic polymer. Sistem ini harus punya polymer yang cukup dalam lumpur untuk
pembungkusan clay dan mineral lain untuk mengatasi hilangnya polymer ini oleh solid
control system.
Biasanya kegagalan dalam pemakaian lumpur polimer adalah karena tidak mampu
untuk menjaga low gravity solid, yang disebabkan kurang baiknya peralatan solid
control yang digunakan. Kegagalan lain juga biasanya disebabkan karena tidak cukup
tersedianya polimer dalam sistem atau karena filtrat chemistry tidak terjaga dengan
baik.

2.10. Lumpur KCL polimer


Lumpur KCL polimer merupakan sistem lumpur yang paling umum digunakan dalam
pemboran. Dasar dari sistem ini adalah anionic pengkapsulan (encapsulating) polymer
fluid yaitu polymer membungkus serbuk bor (cutting) pada saat pembersihan lubang.
KCL dalam air akan terurai menjadi ion k+ dan Cl-. Dalam menstabilkan mineral shale,
ion ion k+ akan menggantikan kedudukan ion Na+. Sehingga di dalam plate shale ion
k+ akan terikat jauh lebih kuat dibandingkan antara ion Na+ dengan plate clay antara
clay dengan air, sehingga daya tolak menolak antara partikel plate clay di dalam air
akan berkurang. Semakin kuat daya tarik menarik antar clay maka akan semakin
banyak air yang terbebas antara clay ke luar sistem. Hal ini disebabkan karena adanya
ion k+ memiliki jari jari atom yang besar, yang dapat menutup microfracture shale dan
mencegah masuknya air ke dalam microfracture sehingga mengurangi pengeringan
(hidrasi) shale.
Polimer mudah larut dalam lumpur yang mengandung elektrolit dan adanya muatan
negatif pada bagian yang terhidrolisa sehingga meningkatkan daya rekat dan absorpsi
polimer. Dalam upaya mengurangi swelling shale, maka tergantung dari konsentrasi
KCL dan polimer yang digunakan di dalam suatu sistem lumpur. Jumlah ion k+ yang
dibutuhkan di dalam luimpur tergantung dari tipe clay atau shale yang akan di bor yaitu
termasuk reaktif atau tidak reaktif terhadap air. Semakin reaktif maka konsentrasi dari
kcl dan polimer harus dinaikkan. Konsentrasi KCL optimum yang digunakan adalah 3%
yaitu sebesar 10.5 gr dan fungsi dari KCL ini dibantu dengan bahan kimia tambahan
(aditive) pengontrol shale.
10 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai