Anda di halaman 1dari 26

0

MAKALAH
PENGANTAR GEOMETRI AFFINE
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tuga mata kuliah
Sistem Geometri
Dosen pengampu Ibu Desy Lusiyana, M.Pd

Di susun oleh :
SEMESTER VII

NUR ROHMAH

(110631030)

SAERAH

(110631018)

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
CIREBON
2014
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Illahi
Rabbi, atas berkah, rahmat, karunia dan hidayah-Nya akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah sebagai salah satu agenda
kegiatan akademis yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa/mahasiswi dalam
menyelesaikan studi di tingkat perkuliahan semester VII (Tujuh), adapun judul
yang penulis buat didalam makalah

ini adalah mengenai PENGANTAR

GEOMETRI AFFINE
Dalam proses penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan
bantuan, dukungan, serta doa dari berbagai pihak, oleh karena itu izinkanlah
didalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa
hormat serta dengan segala ketulusan hati kepada:
1. Kedua orang tua, atas curahan kasih sayang yang tiada henti, yang
senantiasa mendukung secara moril & materiil serta yang selalu
mendoakan penulis didalam menempuh pendidikan ini.
2. Ibu Desy Lusiyana M.Pd selaku dosen Matakuliah Sistem Geometri yang
dengan segala keikhlasannya telah memberikan bimbingan, arahan, serta
nasehat kepada penulis hingga terselesaikannya makalah ini.
3. Teman-teman seperjuangan khususnya fakultas SI-MATEMATIKA yang
senantiasa memberi masukan untuk penulis menyelesaikan makalah ini
Sangatlah disadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan didalam
penyusunannya dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan
masukan baik saran maupun kritik yang kiranya dapat membangun dari para
pembaca. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya
bagi kita semua.
Cirebon, Oktober 2014
Penyusun

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi................................................................................................................ii
BAB 1 Pendahuluan..............................................................................................1
1.1 Pengenalan Geometri Affine................................................................1
1.2 Tujuan Pembuatan Makalah................................................................2
BAB II Pembahasan..............................................................................................3
2.1 Sejarah Perkembangan Geometri Affine.............................................3
2.2 Aksioma-aksioma Dasar Geometri Affine...........................................4
2.3 Kesejajaran Dalam Geometri Affine...................................................6
BAB III Penutup....................................................................................................22
3.1 Kesimpulan..........................................................................................22
Daftar Pustaka.......................................................................................................23

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Euclides telah mengumpulkan materinya dari beberapa sumber, maka tidak
mengherankan bahwa geometri Euclides dapat diambil sarinya berupa dua
geometri yang berlainan dalam dasar logikanya, pengertian pangkalnya dan
aksiomanya. Kedua geometri itu adalah Geometri Affine dan Geometri Absolut
atau Geometri Netral.
Pada geometri euclides didasarkan pada 5 kelompok aksioma yaitu:
1. Kelompok aksioma insindesi
2. Kelompok aksioma urutan
3. Kelompok aksioma kongruensi
4. Kelompok aksioma kesejajaran euclides
5. Kelompok aksioma kekontinuan
Yang pertama memperkenalkan Geometri Affine adalah Leonhard Euler dari
Jerman (1707 1793). Dalam geometri ini, garis paralel tunggal, sesuai Postulat
Playfair, Melalui satu titik yang diketahui, tidak pada suatu garis yang diketahui,
hanya dapat dibuat satu garis yang paralel dengan garis itu, memegang peranan
yang penting sekali. Karena dalam geometri ini lingkaran tidak disebut-sebut dan
sudut-sudut tidak pernah diukur, maka dapat dikatakan, bahwa geometri ini
mempunyai dasar aksioma I dan II, dari aksioma Euclides. Aksioma III dan IV
tidak berarti sama sekali.
Geometri Absolut pertama kali dikenalkan oleh J. Bolyai dari Hongaria (1802
1860). Geometri ini didasarkan pada 4 aksioma pertama dari Euclides dan
melepaskan aksioma V. Dengan demikian, geometri Affine dan geometri Absolut
mempunyai dasar persekutuan yaitu pada Aksioma I dan Aksioma II. Ada pula
suatu inti dari dalil-dalil yang berlaku untuk keduanya, yaitu pengertian
Keantaraan ( Intermediacy ). Pengertian itu terkandung dalam definisi keempat
dari Eulides.
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

2
Geometri yang menjadi dasar dari geometri Affine dan geometri Absolut
ini disebut Geometi Ordered ( Geometri Terurut ), karena dalam hal ini urutan
memegang peranan penting. Geometri Terurut ini berdasarkan dua aksioma
pertama dari Euclides, tetapi penyajiannya lebih teliti. Jadi Geometi Affine
dan geometri absolut termuat dalam Geometri terurut, sedangkan Geometri
Euclides termuat dalam Geometri Affine dan Geometri absolut.

Geometri Terurut/ Ordered

Geometri Affine

Geometri Absolut

Geometri Euclides

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah


Adapun tujuan disusunnya makalah ini ialah sebagai salah satu agenda
kegiatan akademis yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa/mahasiswi dalam
menyelesaikan studi di tingkat perkuliahan semester VII (Tujuh).

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan Geometri Affine
Janos Bolyai dilahirkan pada tanggal 15 Desember 1802 di Koloszvar,
sekarang Cluj, bagian dari Romania Transylvania. Orang tua dari Janos Bolyai
adalah Farkas Wolfgang Bolyai dan Zsuzsanna Benko. Ayahnya Farkas Bolyai
mempunyai

pekerjaan di Perguruan Tinggi Calvinist sebagai pengajar

Matematika, Ilmu Fisika dan Ilmu Kimia.


Masuk di Perguruan Tinggi Calvinist di Marosvasarhely pada umur 12 tahun
dan selama 3 tahun lebih ia dijuluki sebagai a real child genius. Dan saat umur
13 tahun dia telah menguasai kalkulus dan analitis, mekanika dan yang lain. Pada
umur 15 tahun, ia telah menemukan solusi dalam menggunakan salah satu cabang
dari hiperbola xy=c. Ia juga ahli bahasa yang terkemuka yang menguasai sembilan
bahasa asing termasuk Cina dan Tibet.
Ia belajar di Akademi Rancang-Bangun di kerajaan Vienna dari tahun 1818
sampai 1822. Setelah itu ia bergabung di Angkatan Perang Kesatuan RancangBangun selama 11 tahun. Kemudian pada tahun 1833 ia dipensiunkan di rangking
Kapten karena sering terkena penyakit. Kemudian ia tinggal di pengasingan
dengan keluarganya di Marosvasarhely tanpa memperoleh informasi tentang
peristiwa ilmiah. Meskipun demikian ia mencapai hasil penting didalam
matematika.
Antara tahun 1820 dan 1824, ia mengembangkan ilmu ukur non-Euclide-nya
yang baru yang berasal dari solusi permasalahan dalam parallel. Pada saat berusia
21 tahun, ia melaporkan temuannya pada ayahnya: Aku sudah menemukan hal
yang bagus dan aku sangat dikejutkan Aku sudah menciptakan sesuatu yang
baru, dunia yang lain, yang keluar dari tidak ada apapun. Suatu catatan
tersebut adalah gambaran ilmu ukur kemutlakan yang disebut ilmu ukur
hyperbolic, dan diterbitkan sebagai catatan tambahan pada buku teks ayahnya
yang berjudul Tentamen pada tahun 1832. Judulnya adalah catatan tambahan,
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

4
Scientiam Spatii Veram Absolut Exhibens , yaitu Ilmu Pengetahuan Riil yang
Absolut .
Melalui ayahnya, ia menerima suatu catatan oleh Lobachevski berjudul
Geometriche Untersuchungen Zur Theorie der Parallellinien (Penyelidikan
Geometris mengenai Teori Garis Sejajar), yang mana catatan tersebut hampir
sama dengan catatan tambahan dan dimana orang Rusia Ahli Matematik
menguraikan Ilmu Ukur non-Euclide hyperbolic. Pada tahun 1850, Bolyai mulai
menyiapkan suatu naskah yang diberi hak Jerman yang berjudul Raumlehre
(Ilmu Pengetahuan Ruang). Ia mencoba untuk mengembangkan suatu system
Geometris lengkap berdasar pada aksioma, tetapi pekerjaan ini tidak diselesaikan.
Bolyai juga mengembangkan suatu konsep Geometris kaku tentang angkaangka kompleks sebagai penghembus dari angka-angka riil. Walaupun ia tidak
pernah menerbitkan lebih dari 26 halaman catatan tambahan, namun
pemikirannya telah dibukukan lebih dari 14.000 halaman naskah mathematical.
Dan pada saat itulah ia meninggal. Ahli Matematika tulen telah ditemukan. Dialah
Janos Bolyai yang sebagian besar menghasilkan teori baru.
2.2 Aksioma-aksioma Dasar Geometri Affine
Dasar dari geometri affine adalah geometri Terurut. Bidang affine dipandang
sebagai keadaan khusus dari bidang terurut. Pengertian pangkalnya juga sama
yaitu titik dan keantaraan ( Intermediacy ).
Aksioma-aksioma dari geometri terurut yang berlaku adalah :
Aksioma 4.1: Ada paling sedikit dua titik
Aksioma 4.2: Jika A B C suatu segitiga, [B C D] dan [C E A], maka pada garis
DE, ada suatu titik F yang memenuhi [AFB].

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

5
D
C
E

Aksioma 4.3:

(Dalam ruang dimensi dua) Semua titik ada dalam satu


bidang.

Aksioma 4.4:

Untuk setiap partisi dari semua titik pada suatu garis dalam
dua himpunan yang tidak kosong, sedemikian hingga tidak
ada titik dari masing-masing himpunan yang terletak antara
dua titik dari himpunan lainnya, maka ada satu titik dari satu
himpunan yang terletak antara setiap titik dari himpunan itu
dan setiap titik himpunan lainnya.

Aksioma 4.5:

Untuk sebarang titik A dan sebarang garis r yang tidak


melalui A ada paling banyak satu garis melalui A dalam
bidang Ar, yang tidak memotong r.

t
r

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

6
Aksioma 4.6:

Jika A, A, B, B C, C, O adalah 7 buah titik berlainan


sedemikian hingga AA, BB, CC adalah 3 buah garis
berlainan melalui O dan jika AB//AB, BC//BC, maka
CA // CA

A
A
O
B
B
C

C
2.3 Kesejajaran Dalam Geometri Affine
Kesejajaran dalam Geometri Affine ini adalah suatu relasi ekuivalensi. Jadi
memenuhi sifat-sifat:
a. Refleksi, yaitu setiap garis a sejajar dengan a sendiri.
b. Simetrik, yaitu jika garis a sejajar dengan garis b, maka garis b sejajar
dengan garis a.
c. Transitif, yaitu jika garis a sejajar dengan garis b dan garis b sejajar dengan
garis c, maka garis a sejajar dengan garis c.
Teorema 4.1

:Jika ABC dan ABC adalah 2 segitiga dengan titik-titik sudut


yang

berlainan,

diletakkan

sedemikian,hingga

BC//BC,

CA/CA dan AB//AB, maka ketiga garis AA, BB dan CC


adalah berpotongan pada satu titik (konkuren) atau sejajar.
Diketahui

:BC//BC,CA/CA, AB//AB

Dibuktikan

: AA, BB dan CC berpotongan pada satu titik atau sejajar.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

7
Bukti

Ada 2 kondisi yang harus kita buktikan, yaitu:


1. AA,BB berpotongan pada satu titik
2. AA, BB dan CC

No
1

Pernyataan
ABC & ABC

Keterangan
Premis

2
3
4
5

BC//BC, CA//CA, AB//AB


A,B,C sudut sudut ABC
A, B, C sudut-sudut ABC
AA dan BB berpotongan di O
Konstruksi garis OC, perpanjang

Premis
Premis
Permisalan

6
7

hingga

memotong BC di C
(aksioma 4.6)
Karena C pada BC maka AC//AC
Akibat 5
Karena AC//AC dan AC//AC, maka
Cpada AC,
Cjuga pada BC.
ABCsuatu segi tiga maka haruslah C berimpit Premis

dengan C.
Akibat 8
9
Jadi AA, BB dan CC berpotongan di satu titik
Kondisi 1 : AA, BB
dan CC tidak semuanya sejajar, dua
diantaranya tentu
berpotongan

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

8
Kondisi 2 : AA, BB dan CC sejajar
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pernyataan
ABC &ABC
BC//BC, CA//CA, AB//AB
A,B,C sudut sudut ABC
A, B, C sudut-sudut ABC
Buat segmen AA,BB dan CC
Buat sinar A/A sehingga memenuhi [PAA]
Buat sinar B/B sehingga memenuhi [QBB]
Buat sinar C/C sehingga memenuhi [RCC]
Buat A/A sehingga memenuhi [SAA]
Buat B/B sehingga memenuhi [TBB]
Buat C/C sehingga memenuhi [UCC]
Jadi Garis AA//BB//CC

Teorema 4.2

Keterangan
Premis
Premis
konstruksi
konstruksi
Konstruksi
Konstruksi
konstruksi
konstruksi
konstruksi
Akibat 4-9

:Jika A, A, B, B, C, C, adalah 6 titik berlainan pada 3 garis


sejajar berlainan AA, BB, dan CC, diletakkan sedemikian,
hingga garis AB sejajar dengan AB. BC sejajar dengan BC,
maka CA juga sejajar dengan CA.

Diketahui

: AA// BB//CC AB//AB dan BC//BC

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

9
Dibuktikan

: CA// CA.

Bukti

:Melalui A dilukis AC, sejajar AC, sehingga C terletak


pada BC. Maka AB//AB, dan BC//BC dan AC//AC,
jadi menurut Teorema 4.1, AA// BB//CC. Karena diketahui,
bahwa AA// BB//CC, maka C terletak pada CC, C juga
terletak pada BC. Karena garis-garis BB dan CC berlainan,
maka tidak mungkin B terletak pada CC. jadi dari C pada
CC dan C pada BC dapat disimpulkan bahwa C berimpit
dengan C dengan demikian CA sejajar dengan CA.
A
C
B
A
C
B

Definisi 4.1:

Empat titik A, B, C, dan D yang tidak segaris dikatakan


membentuk suatu jajargenjang ABCD jika AB sejajar dengan
DC dan BC sejajar dengan AD. A, B, C, dan D adalah titik-titik
sudutnya. Segmen-segmen AB, BC, CD dan DA adalah sisisisinya dan segmen-segmen AC dan BD diagonal diagonalnya.
Karena B dan D pada pihak yang berlainan dari AC, maka
diagonal-diagonal berpotongan di suatu titik yang disebut pusat
jajargenjang.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

10
D

C
P

A
Definisi

4.2:

Suatu

dilatasi ialah suatu transformasi yang mentransformasikan setiap


garis ke garis yang sejajar.

Teorema 4.3 :Dua segmen yang diketahui AB dan AB pada garis-garis yang
sejajar menentukan dengan tunggal suatu dilatasi ABAB.
Bukti

:
P

AB

Misalkan P sebarang titik pada bidang. Untuk melukis bayangan P1 di buat


garis melaui A yang sejajar AP dan garis melalui B yang sejajar BP. Titik potong
kedua garis ini ialah P1, bayangan dari P. Garis-garis melalui A dan B tidak mungkin
sejajar, sebab AP dan BP tidak sejajar. Dengan jalan serupa, jika C diketahui, maka

dapat dilukis C.
Menurut Teorema 4.1, maka AA// BB// PP1. jadi jika garis-garis sejajar
AB dan AB tidak berimpit, maka garis-garis AA dan BB, CC dan PP1 adalah

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

11
konkuren atau sejajar, sehingga CP1 sejajar dengan CP. Jadi transformasi itu betul
suatu dilatasi dan tunggal.
Jika garis-garis AB dan A1B1 berimpit, maka transformasi dapat dipandang
sebagai AC A1C1. Sehingga dua segmen sejajar menentukan dengan tunggal
suatu latasi.
Definisi 4.3: Invers dari dilatasi AB AB ialah dilatasi AB AB.
Definisi 4.4: Yang dimaksud dengan hasil kali dua dilatasi ialah suatu dilatasi yang
dilanjutkan dengan dilatasi yang lain. Maka hasil kali dua dilatasi
AB AB dan AB AB ialah dilatasi AB AB

B
A
A

B
B

Hasil kali suatu dilatasi dengan inversnya adalah identitas


ABAB.

Garis-garis yang menghubungkan suatu titik dan bayangnya


adalah garis-garis invarian. Garis-garis ini berpotongan pada
satu titik atau sejajar.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

12

Jika garis-garis yang menghubungkan titik dan bayangannya,


yaitu yang menghubungkan dua titik berkorespondensi,
berpotongan pada satu titik, dilatasi disebut dilatasi sentral.
Titik potong garis-garis itu disebut titik pusat dilatasi 0, titik
pusat dilatasi ini tunggal.

Jika

garis-garis

yang

menghubungkan

dua

titik

berkorespondensi sejajar, maka dilatasi itu suatu translasi.

A
A
A

B
Dilatasi Sentral
-

Jika

pada

Translasi

translasi

ABAB,AB,AABB

tidak

berupa

jajargenjang dapat ditunjukan jajar genjang lainnya seperti


pada gambar berikut:

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

13
C

B
A

AB AB sama dengan AC AC dengan AA CC suatu


jajargenjang atau ADAD suatu jajargenjang.
Jika A, A dan B diketahui, maka letak B tidak tergantung dari
pemilihan C atau D,sehingga terdapat teorema berikut:
Teorema 4.4

: Sebarang dua titik A dan A menentukan

dengan tunggal
translasi A A.
Bukti

: Jadi suatu dilatasi adalah suatu translasi bila dan


hanya bila
tidak mempunyai titik invarian. Translasi AA sama dengan
translasi B B. Jika AA BB suatu jajargenjang.
A
B

A
B
Teorema 4.5

Dilatasi AB AB mentransformasikan

setiap titik.
Diketahui

Dilatasi AB ke AB

Karena setiap titik diluar garis ditransformasikan ke petanya


menurut Teorema 4.3, maka setiap titik pada AB ditransformasikan
ke setiap titik pada AB.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

14

Bukti

:Kita akan membuktikan bahwa , jika ACB maka ACB


A

B
Berdasarkan Definisi Dilatasi, maka AB//AB. Hal ini menjadikan ada
dua kondisi dimana AB kongruen dengan AB dan AB tidak kongruen dengan
AB.
1. AB kongruen AB

Hubungkan A dengan A dan beri nama garis invariant a


Hubungkan B dengan B dan beri nama garis invariant b
Konstruksi garis invarian c sedemikian, sehingga c//a//b
Untuk titik C yang merupakan titik perpotongan AB dengan
c, jadi
mempunyai peta di C yang [ACB]. Dapat disimpulkan
bahwa untuk kondisi pertama terbukti.
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

15

2. AB tidak kongruen dengan AB

Hubungkan A dengan A dan beri nama garis invariant a


Hubungkan B dengan B dan beri nama garis invariant b
a dan b berpotongan di titik invariant O. ambil titik C pada AB dan
hubungkan ke O.
sinar OC terletak di dalam sudut AOB sehingga [ABC]. Untuk titik C,
titik potong OC dengan suatu segmen AB dengan A pada sinar OA
dan B pada sinar OB dipenuhi [ACB]. Dapat disimpulkan bahwa
jika [ACB] maka [ACB]. Untuk kondisi kedua terbukti.
Untuk titik-titik A, B dan C yang terletak pada garis invarian
digunakan

garis-garis

sejajar

sebagai

pertolongan

untuk

menunjukkan kebenaran Teorema 4.5 ini.


1. [ACB] [A1CB1] [A2CB2] [ACB]
2. [ACB] [A1CB1] [A2CB2] [ACB]
Jadi terbukti, jika [ACB], maka [ACB]

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

16

Teorema 4.6

:Hasil kali 2 translasi A B dan B C adalah

translasi
AC
Bukti

: Hasil kali 2 dilatasi adalah suatu dilatasi.


Andaikan hasil kali 2 translasi ini bukan suatu translasi, maka
tentu ada titik invariannya O, oleh translasi pertama A B,
titik O dibawa ke O.

Karena titik O titik invarian oleh B C maka titik O


dibawa ke-O

O O adalah invers dari O O.


Jadi hasil kali dua translasi mempunyai titik invarian
jika yang satu invers dari yang lain, dan hasil kali ini
berupa identitas.

Jadi hasil kali dua translasi adalah suatu translasi, yaitu


dilatasi yang tidak ada titik invariannya.

Hasil kali dua translasi ini memenuhi sifat komutatif. Hal ini mudah
dibuktikan,

A
Pengantar
Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

17

B
Misalkan kedua translasi itu tidak menurut dua garis sejajar.
Dengan melukis jajargenjang ABCD, tampak bahwa A B sama
dengan D C dan B C sama dengan A D, A C = (A B) (B
C) = (A D) (D C) = (B C) (A B) (terbukti) Jika kedua
translasi menurut garis yang sama, misalkan kedua translasi T
dan X, misalkan translasi Y suatu translasi yang tidak menurut
garis yang sejajar dengan translasi-translasi di atas, maka X dan
Y komutatif, demikian pula X dan TY. Jadi T(X Y) = T(Y X) = (T Y)X
= X(TY) (TX)Y = (XT)Y, sehingga TX = XT (terbukti)
Definisi 4.5

:Jika 2 titik berlainan, misalnya A dan B ditukar


oleh suatu dilatasi tunggal AB BA atau A

B,

maka transformasi itu disebut setengah putaran.


Jika C sebarang titik diluar garis AB, maka untuk mencari
bayangannya, kita hubungkan C dengan A dan B, maka titik potong
garis yang melalui B sejajar AC dan yang melalui A sejajar BC ialah D,
bayangan dari C.

Jika ACBD adalah suatu jajargenjang. Setengah putaran itu dapat dinyatakan
dengan CD. garis-garis invarian AB dan CD, karena diagonal-diagonal suatu
jajargenjang, berpotongan di titik O, yang menjadi titik invarian dari setengah
putaran. Titik O adalah titik pusat jajargenjang. Pada setengah putaran AB, titik
O adalah titik tengah segmen AB. Untuk melukis bayangan titik T pada garis AB,
dihubungkan T dengan C (atau D) dan kemudian dilukis garis melalui D (atau C)
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

18
yang sejajar dengan TC (atau TD) dan terdapat T pada garis AB. Hasil kali dua
setengah putaran dapat dinyatakan sebagai (AB) atau (BC). andaikan hasil
kali ini mempunyai suatu titik invarian O, maka oleh setengah putaran AB, O
dibawa ke-O. Jadi A B sama dengan O O. oleh setengah putaran BC
maka O dibawa ke O, jadi B C sama dengan
OO. Jadi ada titik invarian jika AB = BC. dalam hal ini yang lain tidak
ada titik invarian.
Teorema 4. 7 :Hasil kali 2 setengah putaran AB dan BC adalah translasi
AC.
Bukti

: Jika AB tidak sama dengan BC, maka (AB)


(BC) tidak mempunyai titik invarian. Jadi berupa translasi. Jika
ADBC suatu jajargenjang, maka AB
sama dengan CD dan AD sama
dengan CB
Hubungan ini tetap berlaku jika

jajargenjang berubah menjadi segmen garis


O

dengan 4 titik yang letaknya teratur simetrik.

C
B
A

Contoh 4.1
1. Diketahui (AB) (BC) = (AC), tunjukkan bahwa sebarang C yang
ditentukan adalah titik invarian dari suatu setengah putaran, dengan mengganti
A = C dalam persamaan
Penyelesaian:
Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon
2014

19
(AB) (BC) = (A C)
Jika A = C, maka diperoleh
(CB) (BC) = (CC)
(CC), berarti C suatu titik invarian.
Teorema 4.8
Setengah putaran AB dan CD sama, bila dan hanya bila translasi AD
dan CB sama.
Diketahui AB = CD
Dibuktikan

: AD

= CB

Bukti

: AD

= (AB) (BD)
= (CD) (BD)
= (CD) (DB) =CB

Diketahui AD = CB
Dibuktikan

: AB

= CD

Bukti

: AB

= (AD) (DB)
= (CB) (DB)
= (CB) (BD)
= CD

Jika C dan D berimpit, yang dapat disebut C, maka C adalah titik tengah AB bila
dan hanya bila translasi A C dan C B sama.
C

Kemudian

dapat

dibuat

jajargenjang

ACAB dan BCCA dan terdapat ABC


dengan A, B dan C sebagai titik-titik

tengah sisi-sisinya. Kemudian diperoleh


Teorema berikut

B
C

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

20

Contoh 4.2
Jika ketiga diagonal dari suatu segienam (tidak perlu konveks) mempunyai
titik tengah yang sama, maka buktikan sebarang dua sisi berhadapan sejajar.
Diketahui : AO = OD, BO = OE, CO = OF
Dibuktikan
Bukti

: 2 sisi berhadapan adalah sejajar.


: DA = BE
DE = BA (Teorema 4.8)

Berarti DE sejajar dengan BA


DA = FC
DC = FA (terbukti)
Jadi DC sejajar dengan FA
EB = CF
E F = C B (terbukti)
Jadi EF sejajar dengan CB. Terbukti sisi-sisi yang berhadapan sejajar.
Teorema 4.9

Garis yang mengghubungkan titik-titik tengah dua sisi suatu segitiga


adalah sejajar dengan sisi yang ketiga dan,

Suatu garis yang melalui titik tengah suatu sisi dan sejajar dengan sisi
yang lain akan melalui titik tengah sisi yang ketiga.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

21

Contoh 4.3
Titik-titik tengah sisi-sisi suatu segi empat sembarang adalah titik-titik sudut
suatu jajargenjang. Teorema ini dutemukan oleh Pierre Varigon (1654-1722)
Diketahui

: ABCD Segi empat sembarang P,Q,R dan S berturut-turut


titik tengah AB,BC, CD dan DA.

Dibuktikan

: PQRS suatu jajargenjang

Q
S
B
P

A
Bukti

Dipandang ACD dan ACB. Maka SR sejajar dengan AC dan PC sejajar


dengan AC (menurut teorema 4.9). Jadi SR sejajar dengan PQ. Dipandang
BDA dan BDC. Maka PS sejajar dengan BD dan QR.
PQRS suatu segi empat yang sisi sisinya berhadapan sejajar, jadi PQRS suatu
jajargenjang.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

22

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dasar dari geometri Affine adalah geometri Terurut, sehingga aksiomaaksioma dan dalil-dalil utama dari geometri terurut berlaku dalam geometri
Affine.
Seperti halnya geometri Euclides, dalam geometri Affine pun terdapat
transformasi, diantaranya dilatasi, translasi, dan setengah putaran. Karena dalam
geometri Affine sudut-sudut tidak pernah diukur, maka transformasinya
diterangkan tanpa menggunakan ukuran sudut.
Transformasi affin tidak mempertahankan jarak,sudut, luas dan volum.
Namun transformasi affine mempertahankan kesegarisan, kesejajaran, dan
perbandingan.

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014

23

DAFTAR PUSTAKA

Mega Teguh Budiarto, Prof. Dr. 2012. Sistem Geometri

Pengantar Geometri Affine Universitas Muhammadiyah Cirebon


2014