Anda di halaman 1dari 31

Joko Widodo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia,


ensiklopedia bebas
Ir. H.

Joko Widodo

Presiden Indonesia ke-7


Petahana
Mulai menjabat
20 Oktober 2014
Wakil
Presiden

Jusuf Kalla

Didahului
oleh

Susilo Bambang
Yudhoyono

Gubernur DKI Jakarta ke-16


Masa jabatan
15 Oktober 2012 16
1

Oktober 2014
Presiden

Susilo Bambang
Yudhoyono

Wakil

Basuki Tjahaja
Purnama

Didahului
oleh

Fauzi Bowo
Fadjar
Panjaitan(Pelaksana
Tugas)

[1]

Digantikan Basuki Tjahaja


Purnama(Pelaksana
oleh
Tugas)

Wali Kota Surakarta ke-16


Masa jabatan
28 Juli 2005 1 Oktober 2012
Penguasa
monarki

Pakubuwana XIII

Presiden

Susilo Bambang
Yudhoyono

Gubernur

Mardiyanto
Ali Mufiz
Bibit Waluyo

Wakil

F.X. Hadi
Rudyatmo

Didahului

Slamet Suryanto
2

oleh
Digantikan F.X. Hadi
Rudyatmo
oleh
Informasi pribadi
Lahir

Kebangsaan
Partai
politik

21
Juni 1961 (umur 53)
Surakarta, Jawa
Tengah, Indonesia
Indonesia
Partai
Demokrasi
Indonesia
Perjuangan

Suami/istri Iriana
Anak

Gibran Rakabuming
Raka[2]
Kahiyang Ayu[3]
Kaesang Pangarep[3]

Alma mater Universitas Gadjah


Mada
Pekerjaan

Pengusaha

Agama

Islam

Tanda
tangan
3

Ir. H. Joko Widodo (Jawa Latin: Jaka Widada, Hanacaraka: ) atau yang akrab
disapa Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 53 tahun)
adalah Presiden Indonesia ke-7 yang menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih
bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalladalam Pemilu Presiden 2014. Jokowi pernah
menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16
Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur dan Wali
Kota Surakarta (Solo) sejak28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012 didampingi F.X. Hadi
Rudyatmo sebagai wakil wali kota.[4] Dua tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo,
Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk
memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok).[5]
Walaupun rumahnya pernah digusur sebanyak tiga kali saat masa kecil,[6] ia mampu diterima
di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan setelah lulus berhasil menjadi
pengusaha mebel.[6] Setelah itu, karier politiknya dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta
pada tahun 2005.[7] Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota
Surakarta menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik.[8] Pada tanggal 20 September 2012,
Jokowi berhasil memenangkan Pilkada Jakarta 2012, dan kemenangannya dianggap
mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin yang "baru" dan "bersih", meskipun
umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.[9]
Semenjak terpilih sebagai gubernur, popularitasnya melambung tinggi dan ia terus menjadi
sorotan media.[10][11] Akibatnya, muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden
untuk pemilihan umum presiden Indonesia 2014.[12] Ditambah lagi, hasil survei menunjukkan
bahwa nama Jokowi terus diunggulkan.[13] Pada awalnya, Ketua Umum PDI-P, Megawati
Soekarnoputrimenyatakan bahwa ia tidak akan mengumumkan Calon Presiden PDI-P sampai
setelah pemilihan umum legislatif 9 April 2014.[14] Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi
telah menerima mandat dari Megawati untuk maju sebagai calon presiden dari PDI-P, tiga
minggu sebelum pemilihan umum legislatif dan dua hari sebelum kampanye.[15]

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Masa kecil dan keluarga


2 Masa kuliah dan berwirausaha
3 Kiprah politik
o 3.1 Wali Kota Surakarta
3.1.1 Rebranding Solo
3.1.2 Mendamaikan Keraton
Surakarta
3.1.3 Penataan pedagang kaki lima
3.1.4 Konflik dengan Gubernur Jawa
Tengah
3.1.5 Pembenahan transportasi
umum
3.1.6 Hari bebas kendaraan bermotor
4

3.1.7 Pembenahan pendidikan dan


kesehatan
3.1.8 Solo Techno Park dan Mobil
Esemka
3.1.9 Peninggalan lain
3.2 Gubernur DKI Jakarta
3.2.1 Pilkada 2012 putaran kedua
3.2.2 Pasca Pilkada 2012
3.2.3 Pengambilalihan Sumber Daya
Air
3.2.4 Peningkatan upah minimum
provinsi
3.2.5 Pembenahan transportasi
umum
3.2.5.1 Pendirian PT Transjakarta
3.2.5.2 Rencana akuisisi Perum
Pengangkutan Penumpang
Djakarta (PPD)
3.2.5.3 Pengandangan Metromini
dan Kopaja
3.2.5.4 Peluncuran bus tingkat
wisata
3.2.5.5 Enam ruas jalan tol dalam
kota
3.2.5.6 Mobil murah
3.2.6 Rotasi jabatan
3.2.6.1 Lelang jabatan
3.2.6.2 Polemik Lurah Susan
3.2.6.3 Penggantian kepala dinas

3.2.7 Banjir tahunan Jakarta


3.2.7.1 Pengumuman status
darurat banjir
3.2.7.2 Rekayasa cuaca
3.2.8 Pembenahan saluran air
3.2.8.1 Normalisasi Waduk Pluit
3.2.8.2 Normalisasi Waduk Ria Rio
3.2.8.3 Normalisasi Waduk
Tomang Barat
3.2.8.4 Normalisasi Waduk Rawa
Bambon
3.2.8.5 Normalisasi Kali
Pesanggrahan
3.2.9 Penataan permukiman kumuh
3.2.9.1 Kampung deret
3.2.9.2 Pembangunan dan relokasi
ke rumah susun
3.2.9.3 Relokasi warga penghuni
waduk
3.2.10 Pembenahan pendidikan dan
kesehatan
3.2.10.1 Kartu Jakarta Sehat
3.2.10.2 Kartu Jakarta Pintar
3.2.10.3 Razia topeng monyet
3.2.10.4 Pembangunan RSUD
Pasar Minggu
3.2.10.5 Peresmian Rumah Sakit
Pekerja
3.2.11 Jakarta sebagai Kota Festival
6

3.2.11.1 Jakarta Night Festival


3.2.11.2 Pesta rakyat
3.2.11.3 Festival Keraton Sedunia
3.2.12 Pembenahan tata kota
3.2.12.1 Pengesahan rencana
detail tata ruang
3.2.12.2 Pembenahan pasar dan
pedagang kaki lima
3.2.12.3 Izin Mendirikan Bangunan
dengan sistem daring
3.2.12.4 Pembenahan taman,
hutan kota, dan ruang terbuka hijau
3.2.13 Reformasi keuangan dan
anggaran
4 Kepresidenan
o 4.1 Pencalonan awal
o 4.2 Visi dan misi kampanye
o 4.3 Pelantikan
5 Agama
6 Penghargaan
7 Gaya kepemimpinan
8 Gaya kampanye
o 8.1 Salam Dua Jari
9 Citra politik
10 Sorotan media internasional
11 Kontroversi
12 Lihat pula
13 Referensi
14 Bacaan lanjutan

15 Pranala luar
Masa kecil dan keluarga[sunting | sunting sumber]

Joko Widodo bersama ibunya, Sudjiatmi


Notomihardjo (kanan), dan adik-adiknya di
'Rumah Saya', Pasar Minggu, Jakarta Selatan,
Kamis, 20 September 2012 pada saat
pencalonan gubernur DKI Jakarta.
Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo dan merupakan
anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik
perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati[16]Sebelum berganti nama, Joko
Widodo memiliki nama kecil Mulyono.[17] Ayahnya berasal dari Karanganyar, sementara kakek
dan neneknya berasal dari sebuah desa di Boyolali.[18] Pendidikannya diawali dengan masuk
SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke
bawah.[19]
Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli
panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke
sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang
kayu dari ayahnya, ia mulai bekerja sebagai penggergaji di umur 12 tahun[6][20]. Jokowi kecil
telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Penggusuran yang dialaminya
sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak
setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.[21]
Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta.[22] Ketika ia
lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada
akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.[23]
Jokowi menikah dengan Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak,
yaitu Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang Pangarep (1995).

Masa kuliah dan berwirausaha[sunting | sunting sumber]


Dengan kemampuan akademis yang dimiliki, ia diterima di Jurusan Kehutanan, Fakultas
Kehutanan Universitas Gajah Mada. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar struktur
kayu, pemanfaatan, dan teknologinya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan judul
skripsi "Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta".
Setelah lulus pada 1985, ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh, dan ditempatkan di area
Hutan Pinus Merkusii diDataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Namun ia merasa tidak betah dan
pulang menyusul istrinya yang sedang hamil tujuh bulan. Ia bertekad berbisnis di bidang kayu
dan bekerja di usaha milik Pakdenya, Miyono, di bawah bendera CV Roda Jati. Pada tahun
1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil
dari nama anak pertamanya. Usahanya sempat berjaya dan juga naik turun karena tertipu
pesanan yang akhirnya tidak dibayar. Namun pada tahun 1990 ia bangkit kembali dengan
pinjaman modal Rp 30 juta dari Ibunya.[24]
Usaha ini membawanya bertemu Micl Romaknan, yang akhirnya memberinya panggilan yang
populer hingga kini, "Jokowi". Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan
dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa
menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia
politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat
untuk penghuninya.[20]

Kiprah politik[sunting | sunting sumber]


Wali Kota Surakarta[sunting | sunting sumber]

Selebaran kampanye Jokowi untuk menjadi


Wali Kota Surakarta pada tahun 2005.

Jokowi dan wakilnya F.X. Hadi Rudyatmo.


Pada pilkada kota Solo pada tahun 2005, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju sebagai calon wali kota
Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan persentase suara sebesar
36,62%.[7] Setelah terpilih, dengan berbagai pengalaman di masa muda, ia mengembangkan
Solo yang sebelumnya buruk penataannya dan menghadapi berbagai penolakan masyarakat
untuk ditertibkan. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan dan menjadi kajian
di universitas luar negeri.[8] Berkat pencapaiannya ini Jokowi terpilih kembali sebagai Wali Kota
Surakarta pada tahun 2010 dengan persentase suara sebesar 90,09%.[25]
Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan,[26]berbagai kawasan seperti
Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan,[27] dan Solo menjadi tuan rumah berbagai
acara internasional.[27] Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi
pedagang kaki lima yang "memanusiakan manusia".[28] Berkat pencapaiannya ini, pada tahun
2010 ia terpilih lagi dengan suara melebihi 90%.[25] Kemudian, pada tahun 2012, ia dicalonkan
oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.[5]

Rebranding Solo[sunting | sunting sumber]


Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The
Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia
mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk
merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan
kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi
lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh
pengelolanya, dijadikannya taman.[27] Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak
setuju dengan prinsip kepemimpinannya.[29]
Rebranding ini turut didukung dengan pengembangan citra kota Solo sebagai "kota budaya"
dan "kota batik". Pada tahun 2011, misalnya, Solo menjadi ibukota batik Indonesia.[30] Selain
itu, sejak tahun 2008, kota Solo setiap tahunnya selalu mengadakan Solo Batik Carnival.[31] Di
bawah kepemimpinan Jokowi pula kota Solo dikembangkan sebagai kota MICE, yang
merupakan singkatan
dari meetings (pertemuan), incentives (insentif), conferencing (konferensi),
dan exhibitions(pameran).[27] Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi aktif melakukan

pendekatan kepada para penanam modal, terutama pengembang properti untuk menyediakan
fasilitas konvensi dan hotel.[27] Ia juga mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota
Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut
dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan
Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007, Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik
Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk
dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek
IstanaMangkunegaran. Selain itu, Solo menjadi tuan rumah Euro-Asia World Heritage Cities
Conference and Exhibition pada tahun 2008, Solo International Ethnic Music Festival (SIEM)
pada tahun 2007 dan 2008 dan International Performing Arts Festival pada tahun 2009.[27]

Mendamaikan Keraton
Surakarta[sunting | sunting sumber]
Pada tanggal 11 Juni 2004, Paku Buwono XII wafat tanpa sempat menunjuk permaisuri
maupun putera mahkota, sehingga terjadi pertentangan antara kedua putranya, Sampeyan
Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SDISKS) Paku Buwono XIII dan Kanjeng Gusti
Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan. Selama tujuh tahun ada dua raja
yang ditunjuk oleh kedua pihak di dalam satu Keraton.[32]
Konflik ini akhirnya mendorong campur tangan pemerintah Republik Indonesia dengan
menawarkan dualisme kepemimpinan, dengan Paku Buwono XIII sebagai Raja dan KGPH
Panembahan Agung Tedjowulan sebagai wakil atau Mahapatih. Penandatanganan
kesepahaman ini didukung oleh empat perwakilan menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pekerjaan Umum serta Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif. Namun konflik belum selesai karena beberapa keluarga keraton masih
menolak penyatuan ini.[33]
Puncaknya adalah penolakan atas Raja dan Mahapatih untuk memasuki Keraton pada tanggal
25 Mei 2012. Keduanya dicegat di pintu utama Keraton di Korikamandoengan.[34] Jokowi
akhirnya berperan menyatukan kembali perpecahan ini setelah delapan bulan menemui satu
per satu pihak keraton yang terlibat dalam pertentangan.[35] Pada tanggal 4 Juni 2012 akhirnya
Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan berakhirnya konflik Keraton Surakarta yang didukung
oleh pernyataan kesediaan melepas gelar oleh Panembahan Agung Tedjowulan, serta
kesiapan kedua keluarga untuk melakukan rekonsiliasi.[33]

Penataan pedagang kaki lima[sunting | sunting


sumber]
Program yang mencuatkan namanya selama menjadi Wali Kota Solo adalah pembenahan
pasar dan pedagang kaki lima. Salah satu contohnya adalah pedagang kaki lima di Monumen
45 Banjarsari. Jokowi menggunakan pendengkatannguwonke wong atau memanusiakan
manusia sehingga tidak memaksa atau pun menggusur pedagang, sebaliknya
mengedepankan dialog dan makan siang bersama agar pedagang mulai berani menumpahkan
keluhannya langsung. Selain itu, dibuka pula jalur diskusi di mana saja, seperti di Balai Kota,
warung, wedangan, pinggir jalan, hingga di Loji Gandrung.[28]
Setelah 54 kali sesi makan siang bersama selama 7 bulan, pedagang mulai luluh dan
Pemerintah Kota Solo mengistimewakan para pedagang yang bersedia pindah dengan
membuatkan arak-arakan hingga ke tempat baru.[28]

Konflik dengan Gubernur Jawa


Tengah[sunting | sunting sumber]
Pada Juni 2011, Joko Widodo menolak pendirian mal di lokasi bekas pabrik es Saripetojo
untuk membatasi maraknya pasar modern dan melindungi pasar tradisional.[36] Kebijakan
pendirian mal ini merupakan kebijakan dari Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo,[36] sehingga
Bibit mengatakan Jokowi "bodoh" karena menentang kebijakan gubernur.[36] Pernyataan
tersebut memicu reaksi keras dari warga Solo, yang bahkan menolak kehadirannya di kota
Surakarta.[37] Jokowi sendiri menanggapi dengan santai, dan menyatakan bahwa "saya itu
memang masih bodoh. Masih harus banyak belajar ke banyak orang".[36]

Pembenahan transportasi
umum[sunting | sunting sumber]
10

Pada masa kepemimpinan Jokowi, Batik Solo


Trans (atas) dan Sepur Kluthuk Jaladara
(bawah) diperkenalkan
Untuk urusan transportasi umum, berbagai jenis angkutan telah direalisasikan, seperti Batik
Solo Trans yang merupakan bus yang beroperasi di dalam kota dan menghubungkan kota
Solo dengan Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo.[26]Untuk mengintegrasi sistem
transportasi, pemerintah Solo danYogyakarta menandatangani Nota kesepahaman terkait
penggunaan kartu pintar pada Kereta api Prambanan Ekspresyang menghubungkan kedua
kota tersebut yang dapat digunakan pula pada Batik Solo Trans dan Trans Jogja.[26]
Jokowi pada tahun 2009 juga meluncurkan kereta wisata peninggalan Belanda yang
disebut Sepur Kluthuk Jaladara. Kereta yang dibuat pada tahun 1896 dan menggunakan kayu
bakar sebagai bahan bakar ini melintasi Kantor Wali Kota Surakarta, Loji Gandrung, Museum
Radi Pustaka, Museum Batik Danar Hadi, dan Stasiun Sanggrah, sebelum akhirnya kembali
ke Stasiun Purwosari.[38] Selain itu, pada 20 Februari 2011, bus tingkat Werkudara juga
dioperasikan dan segera menjadi salah satu ikon kota Solo.[39]
Pada Juli 2011, Jokowi meluncurkan Railbus Batara Kresnayang melayani rute SukoharjoSurakarta. Railbus yang mulai dioperasikan pada Agustus 2012 ini dibuat oleh PT INKA.
Namun, pada November 2012, railbus ini tidak berjalan lagi karena mengalami kerugian, dan
permintaan subsidi oleh Wali Kota Solo saat itu F.X. Hadi Rudyatmo ditolak oleh DPRD
Surakarta.[40]

Hari bebas kendaraan


bermotor[sunting | sunting sumber]
Pada tahun 2010, Jokowi menggagas hari bebas kendaraan bermotor di sepanjang Jalan
Slamet Riyadi setiap hari Minggu dari pukul 6 hingga 9 pagi, walaupun jalanan sudah didatangi
pejalan kaki dari pukul 5 pagi.[41] Selain itu, pada hari Sabtu 31 Desember 2011 dan Minggu 1
Januari 2012, kota Surakarta berhasil mengadakan malam bebas kendaraan bermotor
pertama di Indonesia.[42]

11

Pembenahan pendidikan dan


kesehatan[sunting | sunting sumber]
Di Solo, Jokowi menetapkan program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS)
dan Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS).[43] Program PKMS menyediakan
layanan kesehatan gratis untuk rakyat miskin di Solo.[44]Pemegang kartu PKMS terdiri dari dua
kelas, yaitu "Gold" dan "Silver".[44] Kelas "Gold" diberikan untuk warga yang benar-benar
miskin (sehingga semua biaya kesehatannya ditanggung pemerintah), sementara warga kota
yang belum mempunyai jaminan kesehatan mendapatkan kelas "Silver".[44] Sementara itu,
kartu BPMKS diberikan kepada siswa SD dan SMP di Solo yang miskin agar dapat
mengenyam pendidikan tanpa dipungut biaya (baik iuran bulanan maupun biaya operasional)
di sekolah negeri atau swasta.[45] Terdapat tiga jenis kartu, yaitu "Platinum", "Gold", dan
"Silver".[45] Kartu Platinum diberikan untuk siswa yang bersekolah di sekolah plus (sekolah
gratis dari program pendidikan di Solo), sementara kartu Gold diberikan kepada warga miskin
dan kartu Silver untuk warga mampu.[45] Pemegang kartu Platinum dibebaskan dari iuran
bulanan, uang gedung, dan biaya pribadi seperti tas, sepatu, buku, sementara pemegang kartu
Gold dibebaskan dari biaya operasional dan pemegang kartu Silver diperlakukan seperti
pemegang kartu Gold.[45] Namun, pembebasan biaya tidak berlaku untuk siswa SMA dan SMK,
walaupun mereka akan disubsidi sebesar 50%.[45]

Beberapa peninggalan Jokowi di Solo. Dari


kiri atas searah jarum jam: Pasar Windujenar,
Omah Sinten di kawasan Ngarsopuro yang
telah diperbaharui, Halte Bus Batik Trans Solo
di Jalan Slamet Riyadi, dan pintu masuk ke
Taman Sriwedari yang telah diremajakan.
Selama enam bulan pertama tahun 2012, 15.235 kartu PKMS Silver dan 47.940 kartu PKMS
Gold dibagikan kepada rakyat Solo dengan biaya Rp 10,9 miliar, sehingga pada saat itu
terdapat 221.722 kartu PKMS Silver dan 14.181 kartu PKMS Gold yang telah
didistribusikan.[43]

Solo Techno Park dan Mobil


Esemka[sunting | sunting sumber]
12

Pada masa kepemimpinan Jokowi, pembangunan Solo Techno Park diselesaikan. Kompleks
yang dibangun di wilayah seluas 7,1 hektare di Jebresini dimaksudkan sebagai tempat
produksi dan pelatihan teknik.[46] Pada tahun 2012, Jokowi menjadikanEsemka (yang
merupakan mobil rakitan siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan) sebagai mobil dinas resmi
Jokowi.[47] Inisiatif Jokowi membuat Esemka mendapat perhatian media nasional.[47] Solo
Techno Park sendiri akan dijadikan sebagai pusat produksi massal mobil Esemka.[46] Namun,
mobil ini tidak lolos uji kelayakan nasional,[46] sehingga proyek tersebut mangkrak dan lembaga
Solo Techno Park pada tahun 2014 memproduksi mesin cetak digital.[48]
Pada tahun 2011, Jokowi juga menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan
Direktur Utama PT GMF AeroAsia Richard Budihadianto mengenai pengembangan
kemampuan penyediaan sumber daya manusia dalam bidang perawatan pesawat terbang,
sehingga Solo Techno Park menjadi tempat pelatihan teknisi pesawat terbang.[49]

Peninggalan lain[sunting | sunting sumber]


Pada 13 April 2008, Jokowi mendirikan tempat wisata kuliner malam di Solo yang
disebut Galabo (Gladag Langen Bogan).[27] Taman Balekambang yang sebelumnya
terbengkalai juga diubah menjadi taman botani kecil yang dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi.
Ditambah lagi, Terminal Bus Tirtonadi diremajakan, sementara Taman Tirtonadi di dekatnya
dijadikan ruang terbuka.[27]
Jokowi juga membangun dan meremajakan beberapa pasar, seperti Pasar Windujenar pada
tahun 2010[50] dan Pasar Burung Depok.[51] Pasar Windujenar terletak tepat di kawasan
Ngarsopuro yang turut disulap menjadi artistik dan dilengkapi dengan ruang terbuka untuk
masyarakat.[52] Kawasan ini kemudian terhubung dengan Jalan Slamet Riyadi yang dipercantik
dengan keberadaan taman dan fasilitas internet gratis.[27] Jokowi juga melancarkan penataan
koridor city walkdi kawasan Kapten Mulyadi dan Mayor Kusmanto yang turut dilengkapi
dengan fasilitas untuk pejalan kaki dan taman kota.[51]
Di bawah kepemimpinan Jokowi, pemkot Surakarta mendukung pengadaan toilet umum,
hingga kota Solo terpilih menjadi tuan rumah World Toilet Summit ke-13 pada tahun
2013.[53] Toilet umum dibangun di beberapa tempat wisata seperti di Slamet Riyadi, Gladag
Langen Bogan, dan Kampung Batik Laweyan, dengan dana dari pemkot dan perusahaan
swasta yang mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan.[53]
Menurut Rushda Majeed dalam studi kasusnya mengenai kota Solo, Jokowi telah memperbaiki
kondisi permukiman kumuh, meningkatkan layanan kesehatan, dan mereformasi pemerintahan
untuk meningkatkan efisiensi.[8] Ia juga membuka proses keuangan untuk umum dan
menyediakan one-stop service bagi mereka yang hendak membuat izin bisnis atau izin-izin
lainnya.[8]

Gubernur DKI Jakarta[sunting | sunting sumber]

Suasana di posko pemenangan Jokowi di


Jalan Borobudur 22.
Lihat pula: Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, 2012
Jokowi diminta secara pribadi oleh Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI
Jakarta[54] pada Pilgub DKI tahun 2012. Karena merupakan kader PDI Perjuangan, maka Jusuf
Kalla meminta dukungan dari Megawati Soekarnoputri, yang awalnya terlihat masih ragu.
Sementara itu Prabowo Subianto juga melobi PDI Perjuangan agar bersedia mendukung
Jokowi sebagai calon gubernur karena membutuhkan 9 kursi lagi untuk bisa mengajukan
Calon Gubernur.[55]Pada saat itu, PDI Perjuangan hampir memilih untuk mendukung Fauzi
Bowo dan Jokowi sendiri hampir menolak dicalonkan.[56] Sebagai wakilnya, Basuki T Purnama

13

yang saat itu menjadi anggota DPR dicalonkan mendampingi Jokowi dengan pindah ke
Gerindra karena Golkar telah sepakat mendukung Alex Noerdin sebagai Calon Gubernur.[57]
Pasangan ini awalnya tidak diunggulkan. Hal ini terlihat dari klaim calon petahana yang
diperkuat oleh Lingkaran Survei Indonesia bahwa pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli
akan memenangkan pilkada dalam satu putaran.[58] Selain itu, PKS yang meraup lebih dari 42
persen suara untuk Adang Daradjatun di pilkada 2007 juga mengusung Hidayat Nur
Wahidyang sudah dikenal rakyat sebagai Ketua MPR RI periode 2004-2009. Dibandingkan
dengan partai lainnya, PDIP dan Gerindra hanya mendapat masing-masing hanya 11 dan 6
kursi dari total 94 kursi, jika dibandingkan dengan 32 kursi milik Partai Demokrat untuk Fauzi
Bowo, serta 18 Kursi milik PKS untuk Hidayat Nur Wahid.[59] Namun LP3ES sudah
memprediksi bahwa Jokowi dan Fauzi Bowo akan bertemu di putaran dua.[60]
Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari pemilihan, 11 Juli 2012 dan
sehari setelah itu, memperlihatkan Jokowi memimpin, dengan Fauzi Bowo di posisi
kedua.[61] Pasangan ini berbalik diunggulkan memenangipemilukada DKI 2012 karena
kedekatan Jokowi dengan Hidayat Nur Wahid saat pilkada Wali Kota Solo 2010[62] serta
pendukung Faisal Basri dan Alex Noerdin dari hasil survei cenderung beralih kepadanya.[63]
Ia akan menjabat selama lima tahun dan berakhir pada tahun 2017. Selama menjabat sebagai
gubernur, ia melancarkan berbagai program seperti Kartu Jakarta Sehat,[64] Kartu Jakarta
Pintar,[65] lelang jabatan,[66] pembangunan Angkutan Massal Cepat (MRT)
dan Monorel,[67][68] pengembalian fungsi waduk dan sungai,[69] serta penyediaan ruang terbuka
hijau.[70]

Pilkada 2012 putaran kedua[sunting | sunting


sumber]

Selebaran kampanye Jokowi dan Basuki


selama pilkada.

14

Potret Jokowi sebagai seorang gubernur.


Jokowi berusaha menghubungi dan mengunjungi seluruh calon,[71]termasuk Fauzi
Bowo,[72] namun hanya berhasil bersilaturahmi dengan Hidayat Nur Wahid[73] dan
memunculkan spekulasi adanya koalisi di putaran kedua.[74] Setelahnya, Fauzi Bowo juga
bertemu dengan Hidayat Nur Wahid.
Namun keadaan berbalik setelah partai-partai pendukung calon lainnya di putaran pertama
malah menyatakan dukungan kepada Fauzi Bowo.[75] Hubungan Jokowi dengan PKS juga
memburuk dengan adanya tudingan bahwa tim sukses Jokowi memunculkan isu mahar politik
Rp50 miliar.[76] PKS meminta isu ini dihentikan,[77] sementara tim sukses Jokowi menolak
tudingan menyebutkan angka imbalan tersebut.[78] Kondisi kehilangan potensi dukungan dari
partai-partai besar diklaim Jokowi sebagai fenomena "Koalisi Rakyat melawan Koalisi
Partai".[79] Klaim ini dibantah pihak Partai Demokrat karena PDI Perjuangan dan Gerindra tetap
merupakan partai politik yang mendukung Jokowi, tidak seperti Faisal Basri dan Hendrardji
yang merupakan calon independen.[80] Jokowi akhirnya mendapat dukungan dari tokoh-tokoh
penting seperti Misbakhun dari PKS,[81] Jusuf Kalla dari Partai Golkar,[82] Indra J Piliang dari
Partai Golkar,[83] serta Romo Heri yang merupakan adik ipar Fauzi Bowo.[84]
Pertarungan politik juga merambah ke dunia media sosial dengan
peluncuran Jasmev,[85] pembentukan media center,[86] serta pemanfaatan media baru dalam
kampanye politik seperti Youtube.[87]Pihak Fauzi Bowo menyatakan juga ikut turun ke media
sosial, namun mengakui kelebihan tim sukses dan pendukung Jokowi di kanal ini.[88]
Putaran kedua juga diwarnai berbagai tudingan kampanye hitam, yang antara lain berkisar
dalam isu SARA,[89] isu kebakaran yang disengaja,[90] korupsi,[91] dan politik transaksional.[92]
Menjelang putaran kedua, berbagai survei kembali bermunculan yang memprediksi
kemenangan Jokowi, antara lain 36,74% melawan 29,47% oleh SSSG,[93] 72,48% melawan
27,52% oleh INES,[94] 45,13% melawan 37,53% dalam survei elektabilitas oleh
IndoBarometer,[95] dan 45,6% melawan 44,7% oleh Lembaga Survei Indonesia.[96]
Setelah pemungutan suara putaran kedua, hasil penghitungan cepat Lembaga Survei
Indonesia memperlihatkan pasangan Jokowi - Ahok sebagai pemenang dengan 53,81%.
Sementara rivalnya, Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli mendapat 46,19%.[97] Hasil serupa juga
diperoleh oleh Quick Count IndoBarometer 54.24% melawan 45.76%,[98] dan lima stasiun
TV.[99]Perkiraan sementara oleh metode Quick Count diperkuat oleh Real Count PDI
Perjuangan dengan hasil 54,02% melawan 45,98%,[100] Cyrus Network sebesar 54,72%
melawan 45,25%.[101] Dan akhirnya pada 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan
pasangan Jokowi - Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru untuk masa
bakti 2012-2017 menggantikan Fauzi Bowo - Prijanto.[102][103]
Sebelum dan sesudah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia berjanji bahwa ia akan
menambah 1000 unit bus Transjakarta, lalu ia bisa dihubungi wartawan 24 jam, bahwa ia akan
bekerja 1 jam di kantor dan sisanya tinjau pelayanan publik. Ia juga berkata bahwa dirinya
tidak akan menggusur Pedagang Kaki Lima (PKL), dan juga akan membangun kampung
susun yang bukan apartemen; lalu ia akan memperbaiki sistem pendidikan dan kesehatan,
memberikan penghargaan ke semua ketua RT dan RW, dan ia juga menjanjikan akan
menambah ruang publik bagi remaja DKI.[104]Pada saat terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta,
permasalahan mulai berdatangan, dan semenjak musim hujan melanda Jakarta dan masalah
macet tidak usai, publik DKI mulai pesimis dan meragukan kemampuan Jokowi dalam
mengatasi masalah ibukota.[105]

Pasca Pilkada 2012[sunting | sunting sumber]


Setelah resmi menang di perhitungan suara, Jokowi masih diterpa isu upaya menghalangi
pengunduran dirinya oleh DPRD Surakarta, namun dibantah oleh DPRD.[106] Menteri Dalam
Negeri Gamawan Fauzi juga menyatakan akan turun tangan jika masalah ini terjadi,[107] karena
pengangkatan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak dianggap melanggar aturan mana
pun jika pada saat mendaftar sebagai Calon Gubernur sudah menyatakan siap mengundurkan
diri dari jabatan sebelumnya jika terpilih, dan benar-benar mengundurkan diri setelah
terpilih.[108] Namun setelahnya, DPR merencanakan perubahan terhadap Undang-Undang No
34 tahun 2004, sehingga setalah Jokowi, kepala daerah yang mencalonkan diri di daerah lain,
harus terlebih dahulu mengundurkan diri dari jabatannya pada saat mendaftarkan diri sebagai
calon.[109]
Atas alasan administrasi terkait pengunduran diri sebagai Wali Kota Surakarta dan masa
jabatan Fauzi Bowo yang belum berakhir, pelantikan Jokowi tertunda[110] dari jadwal awal 7
Oktober 2012 menjadi 15 Oktober 2012.[111] Acara pelantikan diwarnai perdebatan mengenai
biaya karena adanya pernyataan Jokowi yang menginginkan biaya pelantikan yang
sederhana.[112] DPRD kemudian menurunkan biaya pelantikan menjadi Rp 550 juta, dari

15

awalnya dianggarkan Rp 1,05Miliar dalam Perubahan ABPD. Acara pelantikan juga


diramaikan oleh pedagang kaki lima yang menggratiskan dagangannya.[113]
Sehari usai pelantikan, Jokowi langsung dijadwalkan melakukan kunjungan ke masyarakat.[114]

Pengambilalihan Sumber Daya


Air[sunting | sunting sumber]
Sebelum Jokowi, pengelolaan air minum dilakukan oleh dua operator utama, Aetra (PT
Thames PAM Jaya) dan Palyja (PT PAM Lyonnaise Jaya). PT Aetra Air Jakarta mengelola,
mengoperasikan, memelihara sistem penyediaan air bersih, dan melakukan investasi di
wilayah timur Jakarta, sementara Palyja di bagian barat Jakarta. Pemegang saham Aetra
adalah Acuatico Pte Ltd dengan kepemilikan sebesar 95 persen dan PT Alberta Utilities
sebesar 5 persen. Sementara Palyja melayani pasokan air bersih ke wilayah Jakarta Barat,
Jakarta Selatan, serta sebagian wilayah Jakarta Utara dan Pusat. Palyja dimiliki Astratel
sebesar 49 persen, dan Suez Environment sebesar 51 persen. Keduanya memegang kontrak
dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengelola air di Jakarta.
Karena dianggap tidak mampu menyediakan pelayanan yang prima, maka Jokowi dan Ahok
sejak awal sudah mengincar pengambilalihan pengelolaan air minum Jakarta agar lebih
mudah diawasi dan dikontrol, namun niat ini terganjal penalti yang harus dibayar oleh
pemerintah Pemprov jika memutus kontrak di tengah jalan.[115] Maka usaha tersebut dilakukan
dengan cara lain yaitu dengan membeli saham kedua perusahaan tersebut melalui dua BUMD
milik Pemerintah Provinsi, yaitu PT Pembangunan Jaya dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro).
Keduanya akan berusaha mengambil alih kepemilikan saham Palyja dengan rencana PT
Pembangunan Jaya akan membeli sebanyak 51 persen saham Suez Environment, sedangkan
PT Jakarta Propertindo mengakuisisi 49 persen saham Astratel. Namun sayangnya Palyja
masih berstatus digugat oleh LBH karena usaha privatisasi air yang dianggap tidak sesuai
dengan Undang-Undang Dasar 1945, sehingga akuisisi ini masih menunggu keputusan
pengadilan [116]
Pada tanggal 10 April 2014, Jokowi menyatakan bahwa telah ditemukan titik terang
pengambilalihan ini, karena pemerintah provinsi telah menemukan kata sepakat dalam
menguasai kembali pengelolaan air minum. Kedua pihak merasa memiliki tujuan sama agar
tidak terjadi privatisasi sumber daya air, hanya caranya saja yang berbeda. Jika pihak LBH dan
LSM melalui gugatan hukum, maka Pemprov melakukan upaya pengambilalihan
secara business to business. "Positif, sudah ketemu titiknya. Karena semangatnya sama.
Tujuan sama agar pengelolaan air diambil alih oleh pemerintah dalam hal ini BUMD kita," kata
Jokowi, usai menggelar pertemuan dengan koalisi di Balaikota DKI Jakarta.[117]
Setelah pengambilalihan Palyja berjalan lancar, Pemprov DKI juga memberikan sinyal akan
mengambil alih Aetra dengan cara serupa.[118]

Peningkatan upah minimum


provinsi[sunting | sunting sumber]
Pada 24 Oktober 2012, terjadi unjuk rasa di Balaikota yang dilakukan sekumpulan buruh dari
Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.[119] Awalnya buruh menuntut kenaikan UMP
menjadi Rp 2,79 juta, yang ditanggapi ajakan dialog oleh Basuki Tjahaja Purnama dengan
perwakilan buruh. Akhirnya disepakati penggunaan angka survei Kecukupan Hidup Layak
bulan terakhir, dari sebelumnya yang dirata-rata dari data Februari 2012 hingga Oktober
2012,[120] serta berbagai poin lainnya sehingga menjadi 13 kesepakatan.[121]
Jokowi kemudian menyerahkan penghitungan UMP yang layak kepada Dewan Pengupahan
yang awalnya memunculkan rekomendasi angka Rp1,9 juta. Namun sidang ini diganggu oleh
tindakan buruh yang memanggil kembali perwakilannya, sehingga angka ini baru mewakili
kepentingan pengusaha.[122] Akhirnya disepakati oleh berbagai pihak bahwa Upah Minimum
Provinsi sebesar Rp 2,2 juta yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Pengupahan.[123]
Jokowi melakukan berbagai konsultasi, termasuk dengan Menakertrans Muhaimin
Iskandar, Gubernur Banten, danGubernur Jawa Barat untuk menentukan UMP yang tepat bagi
buruh di DKI Jakarta agar tidak mengalami ketimpangan dengan daerah penyangga, namun
masih layak untuk dinikmati pekerja.[124]
Protes kembali terjadi pada akhir tahun 2013 karena buruh mendesak kenaikan kembali UMP
menjadi Rp 3,7 juta,[125]sementara pengusaha menolak angka tersebut dan menginginkan
angka Rp 2,29 juta. Akhirnya diputuskan angka tengah sebesar Rp 2,44 juta. Buruh menolak
karena Rp 3,7 juta angka mati[125] dan sempat mencap Jokowi dan Ahok sebagai Bapak Upah

16

Murah[126] dan mengancam akan menduduki Balai Kota selama berhari-hari, namun akhirnya
demonstrasi bubar dengan sendirinya dan UMP Rp 2,44 juta berlaku di DKI Jakarta sejak 1
November 2013[127]

Pembenahan transportasi
umum[sunting | sunting sumber]
Pada tanggal 10 Oktober 2013, Jokowi meresmikan pembangunan Angkutan Massal
Cepat (MRT) yang sebelumnya sempat tertunda selama bertahun-tahun.[67] Kemudian, pada
tanggal 16 Oktober 2013, Jokowi juga meresmikan pembangunan jalur hijau Monorel
Jakarta sepanjang sebelas kilometer.[68] Selain itu, pada November 2013, Pemerintah Daerah
DKI Jakarta berencana akan mengadakan seribu bus untuk jalur Transjakarta.[128] Namun,
beberapa dari 656 bus yang dibeli dari Cina didapati sudah berkarat, sehingga dicurigai ada
kecurangan yang dilakukan oleh pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) DKI
Jakarta.[129] Sebagai tanggapan terhadap masalah ini, Jokowi membebastugaskan Kepala
Dishub DKI Jakarta Udar Pristiono dan melantik Muhammad Akbar sebagai
penggantinya.[130] Selanjutnya pemesanan armada Transjakarta akan banyak melalui sistem
E-Katalog, bukan lagi lelang.

Pendirian PT Transjakarta[sunting | sunting


sumber]
Untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan armada Transjakarta, maka mulai 30 Desember
2013, PT Transjakarta secara resmi disahkan. Dengan demikian posisinya berdiri sendiri
sebagai sebuah Badan Usaha Milik Daerah, tidak lagi dibatasi kewenangannya sebagai Unit
Pelaksana di bawah Dinas Perhubungan. Dengan menjadi perusahaan tersendiri, Transjakarta
diharapkan mampu bekerja lebih efisien, lincah, dan fleksibel, termasuk saat pengadaan
armada.[131]

Rencana akuisisi Perum


Pengangkutan Penumpang Djakarta
(PPD)[sunting | sunting sumber]
Sebelumnya, Pengangkutan Penumpang Djakarta atau PPD adalah BUMN berbentuk
Perusahaan Umum yang berada di bawah Kementrian Negara BUMN. Karena dianggap
memiliki banyak aset dan armada yang menguntungkan pengelolaan transportasi, maka
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajukan pengambilalihan PPD, dengan salah satu
syaratnya adalah pelunasan hutang PPD yang cukup besar, Rp 170 Miliar. Namun Basuki
Tjahaja Purnama menganggap pelunasan utang ini sebanding dengan manfaat yang akan
didapat oleh Pemprov DKI Jakarta. Sayangnya, proses pengambilalihan ini berbelit karena
pemerintah pusat tidak memperlihatkan respon serius atas tawaran ini. Mentri BUMN, Dahlan
Iskan sendiri sebenarnya sudah menyetujui pengambilalihan ini.[132]

Pengandangan Metromini dan


Kopaja[sunting | sunting sumber]
Setelah banyaknya kecelakaan yang menimpa Metromini dan Kopaja, Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta mulai memperketat aturan mengenai fasilitas keselamatan minimal yang dimiliki,
antara lain rem, bodi keropos, speedometer, lampu, dan kaca jendela. Jika tidak bisa
menunjukkan fasilitas tersebut, maka bus sedang tersebut dikandangkan.[133]
Tindakan pengandangan ini mengundang protes dari supir Metromini yang merasa mata
pencariannya terancam. Pada 29 Agustus 2013, puluhan supir Metromini memarkirkan
armadanya di jalanan di depan Balaikota dan berdemo memprotes kewajiban peremajaan
angkutan. Selain itu Udar Pristono, Kepala Dinas Perhubungan saat itu, dianggap menyakiti
hati para supir karena membuat pernyataan bahwa Metromini sudah tidak diperlukan lagi di
Jakarta. Mereka menuntut armada yang dirazia dikembalikan, namun ditolak.[134]
Para supir yang merasa tidak didengarkan kemudian merusak pagar balaikota dan
memecahkan kaca Bus Kopaja dan Transjakarta. Karena keberingasannya, Gubernur dan
Wakil Gubernur menolak menemui dan mengomentari pengaduan mereka. Para pelaku

17

pengrusakan diancam dilaporkan ke polisi karena sudah mengarah kepada tindakan


pidana.[135]

Peluncuran bus tingkat


wisata[sunting | sunting sumber]
Pada tanggal 24 Februari 2014, Jokowi meluncurkan bus tingkat wisata. Bus tingkat dengan
kapasitas 60 penumpang ini dapat dinikmati secara gratis dan dimaksudkan untuk
meningkatkan daya tarik Jakarta kepada wisatawan. Bus ini beroperasi setiap hari dari pukul
09.00 hingga pukul 19.00 dengan rute dari Pasar Baru hingga Bundaran Hotel Indonesia.[136]

Enam ruas jalan tol dalam


kota[sunting | sunting sumber]
Proyek enam ruas jalan tol diwariskan sejak zaman Sutiyoso dan Fauzi Bowo, namun baru
mencapai peresmian kesepakatan antara pihak swasta dengan Kementrian Pekerjaan Umum
sesaat sebelum Fauzi Bowo mengakhiri masa jabatannya, serta sudah ditentukan pemenang
tendernya. Sehingga walaupun ditentang banyak warga, dan Jokowi pernah menentang
proyek ini, namun ia tidak memiliki kewenangan untuk membatalkannya.[137][138]
Jokowi sempat memperlambat eksekusi proyek ini dengan meminta masukan warga,
pengamat, pakar, Kementrian PU, investor, konsorsium pada 15 Januari 2013,[139] namun
kemudian Basuki Tjahaja Purnama mengumumkan bahwa tidak ada ada lagi istilah 6 ruas tol.
Yang ada adalah integrasi seluruh tol lingkar dalam Jakarta dan dilengkapi dengan jalur bus
layang.[140] Pihak swasta menyetujui permintaan mengadakan fasilitas transportasi umum di
sepanjang tol.[141]

Mobil murah[sunting | sunting sumber]


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013, pemerintah pusat Indonesia
berencana mengembangkan program mobil murah. Joko Widodo menentang keras program
ini karena menurutnya program ini akan memperparah kemacetan di Jakarta.[142] Menurutnya,
yang sepatutnya digalakkan adalah pengadaan transportasi massal yang murah, aman, dan
nyaman.[142] Ia pun menyurati Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono untuk
mempertanyakan kebijakan ini.[142]

Rotasi jabatan[sunting | sunting sumber]


Selama dua tahun menjabat, Jokowi melakukan banyak sekali pengubahan posisi birkorat. Di
antaranya lurah dan camat melalui lelang jabatan, serta wali kota, kepala suku dinas dan dinas
melalui pemberhentian dan penunjukan.[143]

Lelang jabatan[sunting | sunting sumber]


Pada April hingga Juni 2013, Jokowi menciptakan sistem baru dalam penempatan birokrasi,
yaitu lelang jabatan. Dalam sistem ini, setiap PNS diberi kesempatan yang sama untuk
menduduki posisi yang diinginkannya dengan memenuhi kualifikasi dan mengikuti tes. Hasil
tes diumumkan secara transparan dan pemerintah provinsi menempatkan PNS tersebut sesuai
prestasi dan kualifikasinya.[66]
Hal ini menimbulkan kontroversi dengan adanya penolakan dari lurah dan camat yang
posisinya terganggu akibat seleksi ini. Salah satu yang menjadi sorotan adalah lurah Warakas
yang mengancam akan memperkarakan sistem lelang jabatan.[144] Ia awalnya menolak
mengikuti seleksi lelang jabatan ini, namun akhirnya berhasil mendapat posisi di kelurahan
Tugu Utara.[145]
Keefektifan lelang jabatan menjadi pertanyaan setelah Basuki Tjahaja Purnama mengakui 60
persen lurah hasil lelang jabatan tidak memuaskan.[146] Bahkan dalam waktu satu tahun, lurah
Ceger dan bendaharanya tertangkap melakukanmark-up anggaran senilai Rp 450 juta dan kini
menjadi tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Timur.[147]

Polemik Lurah Susan[sunting | sunting sumber]


Salah satu lurah yang terpilih dalam proses lelang jabatan adalah Susan Jasmine Zulkifli. Ia
terpilih untuk menjabat di wilayah Lenteng Agung. Namun, penunjukkan lurah Susan menuai

18

protes dari beberapa orang karena lurah Susan beragama Kristen, yang dianggap tidak sesuai
dengan sebagian besar warga Lenteng Agung yang beragama Islam.[148]Kontroversi ini
semakin menguat setelah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi meminta Jokowi
mempertimbangkan ulang pengangkatan lurah Susan.[148] Namun, Jokowi menegaskan bahwa
ia tidak akan menurunkan lurah Susan atas dasar agama dan hanya akan mempertimbangkan
kinerja para lurah.[148]

Penggantian kepala dinas[sunting | sunting


sumber]
Jokowi tercatat mengganti para kepala dinas di Jakarta. Yang paling disorot antara lain Udar
Pristono, Kepala Dinas Perhubungan DKI, Taufik Yudi Mulyanto, Kepala Dinas Pendidikan DKI,
dan Unu Nurdin Kepala Dinas Kebersihan DKI. Ketiganya ditempatkan ke posisi baru dalam
Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUP2), bersama dengan empat orang
lainnya.[149]

Banjir tahunan Jakarta[sunting | sunting sumber]


Mewarisi kota yang dilewati banyak sekali sungai dan posisi beberapa wilayah yang lebih
rendah dari permukaan laut, Jokowi dituntut bisa mengurangi bahkan menghilangkan banjir
dari Jakarta. Dengan terlambatnya pengesahan anggaran 2013, banjir Jakarta memperlihatkan
dampak besar bagi kehidupan kota tanpa diiringi pencegahan dan penanganan
maksimal.[150] Namun diakui penanganan banjir ini lebih baik jika dibandingkan banjir tahuntahun sebelumnya.[151]
Sepanjang tahun 2013, proyek-proyek normalisasi dalam rangkaian JEDI (Jakarta Emergency
Dredging Innitiative) dilakukan intensif. Yang paling dikenal adalah pengembalian fungsi
Waduk Pluit, Waduk Ria Rio, dan Kali Pesanggrahan. Usaha ini menuai banyak pujian, bahkan
dari luar negeri.[69] Dengan normalisasi ini, diakui oleh BPBD bahwa banjir 2014 lebih baik
dibanding tahun sebelumnya. Durasi banjir memang lebih lama karena puncak musim hujan
yang lebih panjang, namun luas genangan berkurang.[152]

Pengumuman status darurat


banjir[sunting | sunting sumber]
Dalam menghadapi banjir tahunan Jakarta 2013 dan 2014, Jokowi mengumumkan status
tanggap darurat banjir yang memungkinkan Gubernur mengambil keputusan yang dianggap
perlu untuk mengatasi bencana.[153]

Rekayasa cuaca[sunting | sunting sumber]


Untuk mengalihkan jalur hujan yang melewati Jakarta, Pemprov DKI Jakarta bekerjasama
dengan BNPB, TNI Angkatan Udara, dan BPPT melalui penaburan garam NaCl agar hujan
turun jauh dari Jakarta. Pada tahun 2013 proyek ini cukup berhasil mengurangi curah hujan,
namun pada tahun 2014 sedikit terhambat akibat lambatnya pengesahan APBD dan
perbedaan pola curah hujan dibanding tahun lalu.[154]

Pembenahan saluran air[sunting | sunting sumber]


Melalui paket Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), Pemerintah Provinisi DKI Jakarta
bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Bank Dunia melakukan perawatan
atas sistem saluran air di Jakarta yang berhubungan dengan kondisi banjir di Jakarta dengan
total dana US$ 135.500.000. Program ini sempat memanas karena Basuki Tjahajapurnama
memprotes lambannya program yang dirancang oleh Bank Dunia sehingga menuntut eksekusi
lebih cepat. Jika Bank Dunia tidak bersedia, ia mempersilakan Bank Dunia menarik
bantuannya. Permintaan ini dipenuhi oleh Bank Dunia.[155]
Kali dan waduk yang menjadi target pembenahan melalui program JEDI antara lain Banjir
Kanal Barat, Cakung Drain, Cengkareng Drain, Kali Angke, Kali Cideng, Kali Kamal, Kali
Sunter, Kali Tanjungan, Kali Krukut-Kali Cideng-Tanah Sereal, Kali Jelakeng-Kali Pakin-Kali
Besar, Kali Ciliwung Gunung Sahari, Sodetan Sentiong Sunter, Kali Grogol Sekretaris,
Waduk Pluit, Waduk Melati, Waduk Sunter Utara, Waduk Sunter Selatan, dan Waduk Sunter
Timur III, Situ Mangga Bolong, Situ Babakan, Situ Rawa Dongkal dan Situ Cipondoh.[156]

Normalisasi Waduk Pluit[sunting | sunting sumber]


19

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Waduk Pluit


Normalisasi Waduk Pluit menandai perbaikan sistem pengendalian banjir di Jakarta. Ditandai
dengan pembongkaran sendiri hunian di bantaran oleh warga pada bulan Maret 2013.
Awalnya relokasi berjalan lancar. Namun kemudian sempat terjadi ketegangan karena
beberapa warga menolak dipindahkan, bahkan sampai memunculkan insiden pelaporan ke
Komnas HAM. Melalui diplomasi makan siang, beberapa warga mulai terbujuk dan perlahan
pindah ke berbagai rumah susun yang telah disiapkan.[157]

Normalisasi Waduk Ria Rio[sunting | sunting


sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Waduk Ria Rio
Normalisasi Waduk Ria Rio juga sempat mendapat hambatan dari warga dan pemilik tanah
akibat adanya sengketa yang terjadi antara pemilik tanah dengan PT Pulomas Jaya. Warga
sempat melakukan blokir, namun dibujuk untuk mau secara sukarela pindah ke rumah susun
yang layak. Sementara untuk sengketa lahan, awalnya disepakati diselesaikan di pengadilan,
namun kemudian pemilik tanah memberi kesempatan negosisasi penggantian harga lahan
yang akan dikeruk sebagai waduk.[158]
Jokowi menjanjikan akan membangun Opera House berkapasitas 9000 seluruhnya bertempat
duduk di tepi Waduk Ria Rio.[159]

Pandangan luas dari Waduk Ria Rio,


Pedongkelan, Pulo Gadung, Jakarta Timur

Normalisasi Waduk Tomang


Barat[sunting | sunting sumber]

Foto Waduk Tomang


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Waduk Tomang
Waduk Tomang Barat awalnya dipenuhi ledakan populasi eceng gondok yang memperparah
pengendapan dan sekaligus menggusur habitat alami yang sudah lebih dulu ada di sana.
Maka dari itu pada November 2013 Waduk Tomang Barat dikeruk hingga kembali ke
kedalaman yang seharusnya dan populasi eceng gondok dihilangkan dengan biaya Rp 2
miliar.[160]

20

Normalisasi Waduk Rawa


Bambon[sunting | sunting sumber]
Waduk Rawa Bambon awalnya hanya berupa rawa kecil di Kelapa Dua Wetan, Ciracas,
Jakarta Timur, yang sering tergenang saat hujan lebat terjadi di sekitar Jakarta Timur dan
selatan. Akibatnya warga sekitar terus-menerus mengalami banjir. Kemudian Pemprov DKI
Jakarta memutuskan waduk ini dikeruk hingga kedalaman 6 meter dan dilengkapi taman
seperti Waduk Ria Rio dan Pluit. Berbeda dengan Waduk Pluit dan Ria Rio, lahan sekitar
Waduk Rawa Bambon relatif tidak bermasalah sehingga penuntasannya diharapkan bisa lebih
cepat [161]

Normalisasi Kali
Pesanggrahan[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kali Pesanggrahan
Karena kecilnya kapasitas dan buruknya pemeliharaan, hingga November 2012, Kali
Pesanggrahan masih meluap dan merendam 2 RT di Ulujami.[162] Sebenarnya pada tahun
Desember 2010 telah ditargetkan normalisasi kali dari debit 50 meter kubik menjadi 115 meter
kubik, namun masih terus tertunda akibat proses lelang yang terlalu lama. Pada masa Agustus
hingga Oktober 2010 tercatat Kali Pesanggrahan telah tiga kali jebol akibat derasnya air dan
sudah tuanya dinding tanggul.[163]
Program normalisasi Kali Pesanggrahan kembali dilanjutkan melalui Jakarta Emergency
Dredging Initiative (JEDI)[164]Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementrian PU pada akhir
tahun 2013 hingga 2014,[165] serta didukung oleh proyek pembangunan sodetan Kali
Pesanggrahan untuk meluruskan aliran kali di sekitar ITC Cipulir,[166] serta pembangunan
waduk di sekitar Jakarta Selatan untuk menyimpan air di hulu agar tidak membebani sungaisungai di hilir Jakarta.[167][168]
Pengerjaan waduk sempat terhenti karena keberatan warga atas nilai ganti rugi, namun
diselesaikan dengan perundingan langsung dengan Jokowi.[169]

Penataan permukiman
kumuh[sunting | sunting sumber]
Pembenahan permukiman dilakukan melalui dua cara, yaitu relokasi ke rumah susun dan
pembenahan melalui program kampung deret.[170]

Kampung deret[sunting | sunting sumber]


Program yang cukup menonjol dari Jokowi adalah kampung deret. Program ini memberi
kesempatan kepada warga yang ingin memperbaiki kondisi rumahnya yang tidak layak dengan
syarat harus memiliki bukti kepemilikan tanah yang jelas. Daerah yang mendapat bantuan
Kampung Deret yang sering mendapat sorotan antara lain Tanah Tinggi, Cipinang Besar
Selatan, Petogogan, Semper Barat, dan Tambora. Pada 2013 lalu, pembangunan Kampung
Deret dilakukan di 26 titik. Sementara pada tahun 2014, ditargetkan 70 Kampung Deret baru
itu akan dimulai pada awal Juni 2014.[171]

Pembangunan dan relokasi ke


rumah susun[sunting | sunting sumber]
Rumah susun menjadi solusi utama untuk relokasi dalam jumlah besar. Selama Banjir Jakarta
2013, Warga Waduk Pluit, Waduk Ria Rio, dan Kali Pakin, misalnya, direlokasi antara lain ke
Rumah Susun Pinus Elok, Rumah Susun Marunda, Rumah Susun Tambora, dan lainnya.
Sementara pada tahun 2014, ditargetkan 100 rumah susun baru tahan gempa untuk
menampung relokasi lainnya.
Selain membangun sendiri, Pemprov DKI Jakarta juga menerima hibah dari berbagai
Kementrian dengan syarat mau memperbaikinya.[172][173]

21

Relokasi warga penghuni


waduk[sunting | sunting sumber]
Setelah banjir Jakarta 2013, diketahui bahwa waduk di Jakarta kesulitan menampung air
karena pendangkalan dan pendudukan warga. Pemprov DKI kemudian melakukan relokasi
secara bertahap terhadap warga yang antara lain menempati lahan waduk Pluit dan Ria
Rio.[174] Setelah melalui berbagai bujukan, termasuk di antaranya makan bersama
Gubernur,[175] akhirnya warga bersedia dipindah sehingga waduk bisa dikeruk untuk
menghadapi musim banjir 2014.[176]

Pembenahan pendidikan dan


kesehatan[sunting | sunting sumber]

Jokowi sedang menyalami Ketua Dewan


Perwakilan Daerah Irman Gusman.
Program besar yang diluncurkan pada masa Jokowi untuk memperbaiki pendidikan dan
kesehatan adalah Kartu Jakarta Sehatdan Kartu Jakarta Pintar. Kartu Jakarta Sehat
sebenarnya adalah program asuransi yang dibayarkan oleh pemprov sehingga memungkinkan
masyarakat DKI Jakarta mendapat pelayanan paling dasar tanpa harus mengeluarkan uang
banyak, sementara Kartu Jakarta Pintar adalah program terseleksi bagi murid yang tidak
mampu agar mampu membeli peralatan dan kebutuhan pendidikan.

Kartu Jakarta Sehat[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kartu Jakarta Sehat
Program pertamanya yang langsung mendapat apresiasi adalah Kartu Jakarta Sehat, yang
bertujuan mereformasi jaminan kesehatan di Jakarta. Sebelumnya, masyarakat miskin harus
mengurus banyak surat dan rujukan dengan birokrasi berbelit sebelum bisa mendapat
keringanan biaya kesehatan. Dengan Kartu Jakarta Sehat, masyarakat bisa langsung
mendapat layanan gratis di Puskesmas dan dirujuk ke Rumah Sakit tertentu jika memerlukan
perawatan lebih lanjut. Program ini ditangani oleh Askes sebagai Badan Pengelola Jaminan
Sosial (BPJS) yang telah resmi ditunjuk oleh Undang-Undang.
Sejak diluncurkan pada 10 November 2012,[64] Kartu Jakarta Sehat mendapat banyak kritik
dan masukan dari berbagai pihak. Misalnya anggota Badan Anggaran DPRD DKI Johny
Wenas yang takut KJS akan melanggar aturan dan Perda karena masih ada program serupa
sedang berjalan pada tahun 2012.[177] Saran lain datang dari Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
yang menganggap DKI Jakarta harus berupaya memperbaiki kurangnya infrastruktur, baik
sumber daya manusia maupun alat kesehatan, serta sistem rujukan agar pasien KJS bisa
ditangani dengan baik dan tepat waktu.[178]
Kontroversi terjadi saat 16 Rumah Sakit swasta berniat mundur dari KJS karena ketidakjelasan
sistem paket INA-CBGS yang hendak diterapkan Kementrian Kesehatan dalam jaminan KJS.
Namun akhirnya hanya 2 Rumah Sakit yang menyatakan menghentikan layanan KJS untuk
mengevaluasi ulang. Sementara 14 Rumah Sakit lainnya setuju tetap melanjutkan KJS setelah
kesimpangsiuran ini dibicarakan bersama.[179] Namun, masalah ini terlanjur berkembang
22

menjadi konflik politik setelah beberapa anggota DPRD mengancam akan menjadikan hal ini
sebagai alasan pemakzulan terhadap Gubernur dan Wakil Gubernur.[180]
Hingga 2014, Kartu Jakarta Sehat terus berjalan dan mendampingi sistem penjaminan
kesehatan baru oleh BPJS.

Kartu Jakarta Pintar[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kartu Jakarta Pintar
Dalam bidang pendidikan, Jokowi meluncurkan Kartu Jakarta Pintar sejak awal masa
jabatannya, tepatnya 1 Desember 2012. Peluncuran perdana Kartu Jakarta Pintar dilakukan di
SMA Yappenda, Tanjung Priok, Jakarta Utara dan diluncurkan secara resmi oleh Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
Kartu ini membantu biaya pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu di Jakarta, dengan
syarat tidak boleh digunakan untuk hal konsumtif.[65]

Razia topeng monyet[sunting | sunting sumber]


Pada tanggal 22 Oktober 2013, Jokowi mendapat sorotan media internasional[181] dan
dukungan dari pecinta lingkungan[182] setelah meluncurkan razia topeng monyet di Jakarta.
Dalam razia ini, pawai topeng monyet ditangkap namun diberikan uang pengganti Rp 1 juta
asalkan bersedia memberikan monyetnya untuk kemudian dipelihara dengan lebih baik di
Ragunan.[183] Tidak hanya dianggap sebagai praktik penyiksaan hewan, monyet-monyet ini
terbukti 100 persen menderita cacingan dan dikhawatirkan terinfeksi penyakit berbahaya
lainnya sehingga mengancam kesehatan warga DKI Jakarta.[184]
Namun kritik juga muncul akibat kebijakan ini, antara lain banyak hal penting lainnya
menyangkut kesejahteraan warga yang harus diprioritaskan dibanding mengurusi
monyet,[185] serta kekhawatiran pawang monyet tidak mendapat bekal yang layak untuk
berganti profesi.[186]

Pembangunan RSUD Pasar


Minggu[sunting | sunting sumber]
Guna mengantisipasi pengguna KJS dan BPJS yang membuat antrian panjang di berbagai
rumah sakit di Jakarta, Jokowi memulai pembangunan Rumah Sakut Umum Daerah di Pasar
Minggu. Rumah sakit ini berkapasitas 400 tempat tidur. Delapan puluh persen bisa
dimanfaatkan oleh pengguna Kartu Jakarta Sehat. Rumah Sakit ini akan berfokus kepada
usaha perawatan penderita kanker, pasien anak, dan lansia. Untuk itu, akan disiapkan 20 unit
neonatal intensive care unit (NICU) untuk bayi dan 20 unit pediatric intensive care unit
(PICU).[187]

Peresmian Rumah Sakit


Pekerja[sunting | sunting sumber]
Untuk mendukung pelayanan kesehatan para pekerja di sekitar Kawasan Berikat Nusantara,
dibangun rumah sakit umum yang dikhususkan bagi para pekerja. Rumah sakit ini diresmikan
SBY bersama Jokowi, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menkes Nafsiah Mboi,
Menakertrans Muhaimin Iskandar, dan Presiden Direktur Kawasan Berikat Nusantara Sattar
Taba, pada tanggal 8 April 2014. Rumah sakit ini berkapasitas 9.000 meter persegi, terdiri atas
8 lantai, dan jumlah tempat tidur yang tersedia 184 tempat tidur. Fasilitas yang disediakan
antara lain pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, mulai dari rawat jalan, unit gawat
darurat, unit rawat intensif, bedah sentral, ruang radiologi, ruang CSSD, laboratorium, poliklinik,
medical check up, fisiotherapy, dan kamar jenazah. Rumah sakit ini dibangun dengan dana
CSR BUMN dan Pemerintah DKI Jakarta memiliki 26% saham di rumah sakit ini.[188][189]

Jakarta sebagai Kota Festival[sunting | sunting


sumber]
Jokowi berharap bisa menjadikan brand Jakarta sebagai kota festival. Karena itu berbagai
perayaan dan festival dirayakan di Kota Jakarta, bahkan hingga menutup jalanan dari
kendaraan bermotor selama satu hari penuh. Total sebanyak 97 festival diadakan selama
2013 di Jakarta.[190]

23

Jakarta Night Festival[sunting | sunting sumber]


Mulai tahun baru 2013 dan 2014, dengan konsep menjadikan Jakarta sebagai kota festival,
Jokowi meluncurkan Jakarta Night Festival. Dalam perayaan tahun baru ini jalan utama di
Jakarta ditutup total dari kendaraan bermotor dan disediakan berbagai panggung kesenian,
pertunjukan, serta kesenian tradisional.[191] Model ini kemudian ditiru oleh kota-kota besar
lainnya, seperti Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.[192]

Pesta rakyat[sunting | sunting sumber]


Pada Juni 2013, Jokowi mencoba mengembalikan fungsi Pekan Raya Jakarta (PRJ) sebagai
pesta rakyat dengan mengadakan beberapa festival di pelataran Monas, seperti Festival
Kampung Jakarta pada 15-16 Juni 2013. PRJ dianggap sudah melenceng dari niatan awalnya
karena cenderung dikunjungi oleh golongan menengah ke atas. Media menjuluki upaya Jokowi
ini sebagai "PRJ tandingan". Namun, Basuki Tjahaja Purnama menampik hal tersebut dan
menyatakan bahwa pesta rakyat bukan dimaksudkan untuk menyaingi PRJ.[193][194]

Festival Keraton Sedunia[sunting | sunting sumber]


Pada tanggal 5-8 Desember 2013, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Forum Silaturahmi
Keraton Nusantara menggelar Pergelaran Agung Keraton Sedunia, 5-8 Desember. Acara ini
menampilkan parade berbagai kostum dan kendaraan dari berbagai keraton dan kerajaan
berbagai penjuru dunia, termasuk Brunei Darussalam. Menurut rencana, acara tersebut diikuti
165 keraton Nusantara dan 10 utusan kerajaan mancanegara serta dimeriahkan oleh parade
kereta kencana dan dihibur 1.000 atraksi seniman.[195]

Pembenahan tata kota[sunting | sunting sumber]

Jokowi saat sedang bertemu dengan Trond


Giske.
Beratnya permasalahan Jakarta dimulai dari masalah tata ruang yang tidak dipedulikan selama
puluhan tahun. Diawali dengan pengesahan RDTR, pembenahan pengurusan IMB, dan
pengelolaan ruang terbuka hijau, dan pembenahan pasar dan pedagang kaki lima, Jokowi
mulai membenahi masalah mendasar di Jakarta.[196]

Pengesahan rencana detail tata


ruang[sunting | sunting sumber]
Rencana Detail Tata Ruang DKI Jakarta sebenarnya telah disusun sejak masa Fauzi Bowo,
namun pengesahannya terhambat. Salah satu masalahnya adalah sosialisasi ke masyarakat
belum dilakukan. Karena itu, Basuki Tjahajapurnama menuntut RDTR dibagikan kepada
masyarakat melalui kelurahan setempat agar bisa mendapat masukan bersama.[197] Para
akademisi dan LSM juga diundang untuk ikut memberi pandangan masing-masing mengenai
RDTR tersebut.[198]
Pada tanggal 11 Desember 2013, RDTR dan Peraturan Zonasi DKI Jakarta disahkan dan
berlaku hingga 2030. Salah satu anggota DPRD dari PPP, Maman Fiermansyah, sempat
melakukan walkout karena merasa pengesahan Perda RDTR dan PZ dipaksakan. Namun
rekannya, Mohamad Sanusi, menyatakan sikap Maman akibat ia sendiri tidak memahami
RDTR karena tidak pernah hadir saat pembahasan.[199]

24

Hal menonjol dari RDTR DKI Jakarta adalah amanat penambahan 6 persen Ruang Terbuka
Hijau dan adanya ruang khusus bagi pedagang kaki lima di ruang publik yang penetapannya
ditentukan oleh Gubernur, serta kewajiban bagi setiap gedung perkantoran, perdagangan serta
jasa di Jakarta yang berada di zona campuran menyediakan 5 persen ruang dari luas lantai
fungsi perdagangan dan jasa yang ada untuk sektor informal UKM. Diharapkan dengan
kewajiban ini, pemilik gedung memfasilitasi pedagang makanan dimasukkan sebagai bagian
dari gedung, sehingga tidak lagi memenuhi jalanan di belakang gedung.[200]

Pembenahan pasar dan pedagang


kaki lima[sunting | sunting sumber]
Aksi paling dikenal dari Jokowi dalam menertibkan pedagang kaki lima adalah di Pasar
Minggu dan Pasar Tanah Abang. Jika di Pasar Minggu pedagang dipindahkan ke Lokasi
Binaan PKL Pasar Minggu, maka di Blok G pedagang dipindahkan ke Blok G Tanah Abang.
Awalnya pedagang mengeluh sepinya pengunjung, namun berbagai fasilitas Blok G terus
dilengkapi antara lain eskalator, undian berhadiah mobil, hingga fasilitas wifi gratis.[201]
Sebanyak lima pasar tradisional dibangun dan direnovasi dengan fasilitas memadai selama
tahun 2013, antara lain Pasar Manggis, Pasanggrahan, Kebon Bawang, Kebon Duri, dan
Nangka Bungur. Para pedagang dibebaskan dari sewa, namun harus turut memelihara pasar
dan menaati aturan untuk tidak mengalihkan sewa atau menjual kiosnya ke pihak lain.
Pedagang hanya akan dikenakan biaya perawatan, listrik, dan air saja.[202]
Pada tahun 2014, sebanyak empat pasar tradisional lainnya juga telah selesai, antara lain
Pasar Kramat Jati, Pasar Ciplak, dan Pasar Grogol, dari total 14 pasar yang akan
dibenahi.[203][204]

Izin Mendirikan Bangunan dengan


sistem daring[sunting | sunting sumber]
Jika sebelumnya pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sarat praktik percaloan dan
suap, sehingga mengacaukan tata kota, maka sejak 1 Februari 2014, IMB bisa diurus dari
internet. Hal ini menyingkat waktu pengurusan IMB dari setengah bulan menjadi cukup 7 hari
saja. Pengurusan bisa dilakukan dari rumah, warnet, atau tempat kerja.[205]
Namun sebagai imbal baliknya, Jokowi menuntut warga agar segera mengurus IMB masingmasing karena prosesnya sudah dipermudah. Jika tidak juga memiliki IMB, bangunanbangunan liar akan segera dirubuhkan.[206]

Pembenahan taman, hutan kota, dan


ruang terbuka hijau[sunting | sunting sumber]

Joko Widodo bersama Direktur


EksekutifGreenpeace Kumi Naidoo, Kepala
Greenpeace Indonesia Longgena Ginting, dan
Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara
25

Von Hernandez diPelabuhan Tanjung Priok,


Jakarta.
Berbagai taman, hutan kota, dan ruang terbuka hijau baru maupun hasil perbaikan ikut
menghijaukan Jakarta. Salah satu yang cukup menonjol adalah Taman Kota Waduk Pluit,
Taman Kota Waduk Ria Rio, Taman Vertikal Tugu Tani, dan Taman Mataram. Ditargetkan
Ruang Terbuka Hijau Jakarta meningkat 16 persen dari target yang diamanatkan RDTR
sebesar 6 persen peningkatan. Selain itu hanya diperbolehkan 40 persen lahan Jakarta untuk
gedung tinggi, sementara 60 persen sisanya berupa ruang terbuka hijau yang bisa diakses
oleh publik.[70]

Reformasi keuangan dan


anggaran[sunting | sunting sumber]
Selama masa pemerintahan Jokowi di DKI Jakarta, APBD DKI Jakarta terus meningkat dari
awalnya Rp 41 Triliun pada 2012, menjadi Rp 72 Triliun pada 2014, atau sebesar 31 Triliun
hanya dalam dua tahun.[207][208] Hal ini dilakukan dengan mempermudah dan transparansi
pajak, efisiensi pengeluaran, e-catalog dan e-budgetting.
Penyerapan APBD 2013 yang awalnya diprediksi di angka 97%, terwujud di 84,5% dan
menghasilkan SiLPA Rp7 Triliun untuk digunakan pada tahun 2014.[209] Dana berlebih ini
ditetapkan dalam RAPBD 2014, Rp 2,5 triliun yang pertama dialokasikan untuk penanganan
kemacetan Kota Jakarta melalui pembelian ribuan bus Transjakarta dan reguler. Dan Rp 2,5
triliun selanjutnya untuk penanganan banjir dan mengoptimalkan lima rumah pompa yang ada
di Jakarta. Salah satunya adalah dengan mendukung percepatan pembangunan Waduk Ciawi,
dengan menganggarkan sebesar Rp 200 miliar untuk pembebasan tanah.[210]

Kepresidenan[sunting | sunting sumber]


Pencalonan awal[sunting | sunting sumber]
Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi melejit berkat rekam
jejaknya yang baik dan pendekatannya yang membumi dan pragmatis, seperti yang
ditunjukkan melalui program "blusukan" untuk memeriksa keadaan di lapangan secara
langsung.[10] Akibatnya, Jokowi merajai survei-survei calon presiden dan menyingkirkan
kandidat lainnya,[13] sehingga muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden.[12] Namun,
selama berbulan-bulan wacana tersebut menjadi tidak pasti karena pencalonan Jokowi
di PDIP harus disetujui oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan ia menegaskan
baru akan menentukan calon setelah pemilihan umum legislatif pada bulan April.[14]
Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Megawati akhirnya menulis langsung surat mandat
kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden, dan Jokowi mengumumkan bahwa ia bersedia
dan siap melaksanakan mandat tersebut untuk maju sebagai calon presiden Republik
Indonesia dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014.[211] Ia juga mengungkapkan
kesiapannya sembari mengucap "bismillah" dan mencium bendera merah putih di rumah Si
Pitung.[211] Selepas pengumuman ini, indeks IHSG melesat 152,47 poin menjadi
4.878,64,[212] sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menguat hingga
angka 11,386.[213] Pencalonan Jokowi juga diperkirakan dapat mendongkrak suara PDIP
hingga 30% dalam pemilu legislatif.[214] Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa suara
PDIP gagal mencapai 20%.[215]
Lima hari setelah deklarasinya, pada tanggal 19 Maret 2014 Joko Widodo digugat oleh Tim
Advokasi Jakarta Baru diPengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ia dinilai melanggar hukum
perdata karena meninggalkan jabatannya sebagai gubernur sebelum merealisasikan janjijanjinya untuk melaksanakan program kerakyatan.[216] Namun, Menteri Dalam Negeri
Gamawan Fauzi mengkonfirmasi bahwa pencapresan Jokowi tidaklah melanggar hukum. Ia
berhak maju dan akan dengan mudah mendapat izin dari Presiden tanpa harus mengundurkan
diri karena sudah diatur dalam Undang Undang No 47 Tahun 2008 mengenai Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden. Seorang kepala daerah yang hendak maju dalam Pemilihan
Presiden harus mengajukan surat permintaan izin kepada Presiden dan Gamawan Fauzi tidak
merasa memiliki alasan untuk menghalanginya.[217]
Pada tanggal 19 Mei 2014, Jokowi mengumumkan bahwa Jusuf Kalla akan menjadi calon
wakil presidennya.[218]Pengumuman sekaligus deklarasi tersebut berlangsung di Gedung
Joeang 45 di Menteng, Jakarta.[218] Pencalonan tersebut didukung oleh koalisi Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa, danPartai

26

Hanura.[218] Pada hari yang sama, Jokowi dan Jusuf Kalla secara resmi mendaftar di Komisi
Pemilihan Umum.[219]
Menjelang pemilihan umum presiden, terdapat berbagai macam kampanye hitam yang
dialamatkan kepada Jokowi, seperti isu capres boneka,[220] keislaman Jokowi yang
diragukan,[221] tuduhan bahwa Jokowi adalah orang Tionghoa yang merupakan putra dari Oei
Hong Leong,[222] hingga klaim bahwa ia adalah antek asing dan bahkan zionis.[221]

Visi dan misi kampanye[sunting | sunting sumber]


Dalam dokumen yang diberikan kepada Komisi Pemilihan Umum, visi misi Jokowi-Jusuf Kalla
diberi judul "Jalan Perubahan untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian'".
Visi misi tersebut dimulai dengan memaparkan tiga masalah utama bangsa, yaitu "merosotnya
kewibawaan negara", "melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional", dan "merebaknya
intoleransi dan krisis kepribadian bangsa". Selanjutnya, mereka menyatakan akan
menggunakan Pancasiladan Trisakti sebagai panduan. Dokumen sepanjang 42 halaman
tersebut kemudian merincikan visi, misi, dan program yang akan mereka jalankan bila terpilih
sebagai presiden dan wakil presiden, dengan 12 agenda strategis untuk mewujudkan
kedaulatan politik Indonesia, 16 agenda strategis untuk kemandirian ekonomi, dan 3 agenda
strategis untuk Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan, dengan 9 agenda di
antaranya menjadi agenda prioritas.[223]Sementara itu, dalam dialog langsung dengan
presenter Metro TV Prisca Niken pada malam tanggal 24 Mei 2014, Jokowi juga menyatakan
bahwa visi misinya adalah "revolusi mental dari negativisme menjadi positivisme", karena
menurutnya Indonesia seringkali tidak percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman
walaupun Indonesia adalah negara yang besar.[224]
Di media, Joko Widodo pernah menyatakan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia perlu
difokuskan pada dua sektor, yaitupertanian dan energi.[225] Menurutnya, "ke depan, kita
sebagai perusahaan, korporasi, atau negara sebaiknya punya program utama, apa yang mau
kita fokuskan. Negara kita hanya ada dua yang harusnya kita fokuskan: pertanian, sehingga
terjadi kedaulatan pangan; dan kedua, energi".[225] Jokowi berpendapat bahwa kebijakan
pertanian Indonesia tidak maksimal karena pemerintah tidak mengoptimalkan kebijakan pada
sektor pertanian dan kelautan.[225] Ia juga meyakini bahwa alokasi anggaran untuk perguruan
tinggi dan penelitian pertanian perlu ditingkatkan untuk menuai hasil yang optimal.[225]
Jokowi juga menyatakan bahwa Indonesia perlu menghentikan impor sapi dan mulai beralih
menjadi produsen untuk mencapai swasembada sapi. Namun, ia tidak memaparkan
bagaimana pembatasan impor sapi dapat menstabilkan harga daging sapi di pasaran atau
bagaimana pemerintah seharusnya menggenjot produksi daging sapi nasional.[226]
Perihal pendidikan, Jokowi mengatakan bahwa pendidikan adalah modal dasar pembangunan
manusia.[227] Menurutnya, revolusi mental perlu diawali dari dunia pendidikan. Maka dari itu, ia
mengusulkan agar di Sekolah Dasar 80 persen pendidikan karakter, sementara 20 persen
untuk pengetahuan. Jokowi juga mengungkapkan bahwa di Sekolah Menengah Pertama jatah
untuk pendidikan karakter diturunkan menjadi 60% dan pengetahuan dinaikkan menjadi 40%,
sementara diSekolah Menengah Atas, pendidikan karakter menjadi 20%, dan pengetahuan
menjadi 80%.[228]
Untuk meningkatkan efektivitas, mengurangi biaya, dan mengatasi masalah kesenjangan
harga antara pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya, Jokowi memiliki visi untuk membangun
"tol laut", yaitu pengadaan kapal-kapal besar pengangkut barang ke seluruh pelosok Indonesia,
dengan intensitas keberangkatan setiap hari. Ia juga mengungkapkan niatnya untuk
membangun rel kereta api ganda di setiap pulau di indonesia.[229]

Pelantikan[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pelantikan Presiden Joko Widodo

Agama[sunting | sunting sumber]


Jokowi memeluk agama Islam dan bercerita bahwa ia pertama kali naik haji pada tahun 2003,
dan sesudahnya umrah minimal empat kali.[230] Namun, menjelang pemilihan umum presiden
2014, muncul berbagai tudingan yang mempertanyakan keislaman Jokowi, sehingga pada
tanggal 24 Mei 2014 Jokowi menyatakan bahwa ia adalah bagian dari "Islam yang rahmatan lil
alamin, Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yang memegang teguh UUD
45."[231] Ia juga menyatakan bahwa ia bukan bagian dari kelompok Islam yang "sesuka hatinya
mengafirkan saudaranya sendiri", "menindas agama lain", "arogan dan menghunus pedang di
tangan dan di mulut", "suka menjejerkan fustun-fustunnya", "menutupi perampokan hartanya,
menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban", atau "membawa ayat-ayat
Tuhan untuk menipu rakyat".[231]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]


27

Atas prestasinya, oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh
2008".[232] Kebetulan di majalah yang sama pula, Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab dengan
panggilan Ahok pernah terpilih juga dalam "10 Tokoh 2006" atas jasanya memperbaiki layanan
kesehatan dan pendidikan di Belitung Timur. Ahok kemudian menjadi pendampingnya
di Pilgub DKI tahun 2012.[233]
Ia juga mendapat penghargaan internasional dari Kemitraan Pemerintahan Lokal Demokratis
Asia Tenggara (Delgosea) ini atas keberhasilan Solo melakukan relokasi yang manusiawi dan
pemberdayaan pedagang kaki lima.[234]
Pada tanggal 12 Agustus 2011, ia juga mendapat penghargaan Bintang Jasa Utama untuk
prestasinya sebagai kepala daerah mengabdikan diri kepada rakyat.[235] Bintang Jasa Utama
ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada warga negara sipil.[236] Pada Januari
2013, Joko Widodo dinobatkan sebagai wali kota terbaik ke 3 di dunia atas keberhasilannya
dalam memimpin Surakarta sebagai kota seni dan budaya, kota paling bersih dari korupsi,
serta kota yang paling baik penataannya.[237] Oleh KPK, dia diberi penghargaan atas
keberaniannya melaporkan berbagai barang gratifikasi yang diterima.[238]
Atas kemampuannya mensosialisasikan program-progam pemerintah sehingga mendapat
dukungan masyarakat banyak, ia diganjar sebagai Marketer of The Year 2012 oleh Markplus
Conference 2013, Marketing: Into Innovation and Technology.[239]

Penghargaan Joko Widodo [tampilkan]


Gaya kepemimpinan[sunting | sunting sumber]
Jokowi dikenal akan gaya kepemimpinannya yang pragmatis dan membumi. Ia seringkali
melakukan "blusukan" atau turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan
yang ada dan mencari solusi yang tepat. "Blusukan" juga dilakukan untuk menemui langsung
warga dan mendengar keluh kesah mereka. Gaya yang unik ini dijuluki The New York
Times sebagai "demokrasi jalanan".[240] Jokowi juga dianggap unik dari pemimpin lainnya
karena tidak sungkan untuk bertanya langsung kepada warga dan mendekati mereka bila akan
melancarkan suatu program.[241] Namun, gaya ini juga menuai kritik. Misalnya, ketua Dewan
Perwakilan Daerah Irman Gusman menyatakan bahwa "blusukan" hanya menghabiskan waktu
dan energi, sementara yang dibutuhkan adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar
interaksi.[242]Anies Baswedan juga menilai "blusukan" merupakan pencitraan belaka tanpa
memberikan solusi.[243]
Selain "blusukan", kepemimpinan Jokowi juga dikenal akan transparansinya. Misalnya, Jokowi
dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mengumumkan jumlah gaji bulanan dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah kepada umum.[244][245] Ia juga memulai sejumlah program
yang terkait dengan transparansi seperti online tax, e-budgeting, e-purchasing, dan cash
management system.[244] Selain itu, semua rapat dan kegiatan yang dihadiri oleh Jokowi dan
Basuki direkam dan diunggah ke akun "Pemprov DKI" di YouTube.[246]

Gaya kampanye[sunting | sunting sumber]


Gaya berkampanye Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta menekankan pendekatan
langsung kepada masyarakat dengan mendatangi mereka langsung daripada mengumpulkan
orang di lapangan.[247] Jokowi mengklaim bahwa ia menghindari pemasangan spanduk, poster,
stiker, dan baliho di taman kota atau jalan karena menurutnya dapat mengotori kota, sehingga
ia secara langsung mencopot spanduk di depan bioskop Megaria, Jalan
Diponegoro.[248] Selama kampanye pilkada Jakarta, Jokowi juga dikenal akan baju kotakkotaknya, yang menurutnya dibeli satu jam sebelum berangkat keKomisi Pemilihan Umum
Daerah dan dikatakan mewakili "warna-warni Jakarta yang harus diakomodasi".[249]
Salah satu kekuatan Jokowi dalam berkampanye adalah penggunaan media sosial. Selama
kampanye pilkada Jakarta, ia meluncurkan Jasmev atau Jokowi Ahok Social Media Volunteer,
yang merupakan jaringan antar kelompok sukarelawan tanpa bayaran.[85] Selain itu, Jokowi
juga membentuk media center[86] dan mampu memanfaatkan Youtube sebagai wadah
kampanye baru.[87] Pihak Fauzi Bowo sendiri mengakui keunggulan Jokowi di kanal ini.[88]
Berdasarkan hasil audit Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta pada Agustus 2012,
pemasukkan dana kampanye pasangan Jokowi-Basuki tercatat sebesar Rp 16,31 miliar,
sementara pengeluarannya mencapai Rp 16,09 miliar.[250] Sebagian besar dana dialokasikan
untuk spanduk, alat peraga, dan bahan kampanye, dengan biaya penyebaran bahan
kampanye sebesar Rp 4,2 miliar, alat peraga sebesar Rp 2,6 miliar, dan rapat umum sebesar
Rp 2,1 miliar.[250] Biaya iklan cetak sendiri tercatat sebesar Rp 729 juta, sementara biaya iklan
radio mencapai Rp 516 juta.[250] Jokowi mengklaim bahwa sebagian besar dana digunakan
untuk kampanye "murah" dengan sasaran rakyat kecil.[250] Sebagai perbandingan,

28

pengeluaran kampanye Fauzi Bowo tercatat sebesar Rp 62,57 miliar, sementara pemasukkan
dana kampanyenya mencapai Rp 62,63 miliar.[250]

Salam Dua Jari[sunting | sunting sumber]


Lagu kampanye pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mendapat perhatian media
internasional. Dua wartawan asal Indonesia, Eveline Danubrata dan Heru Asprihanto menulis
artikel yang dipublikasikan Reuters. Artikel tentang lagu kampanye Jokowi-JK tersebut
berjudul Give us jobs, not rock songs, say Indonesia's young voters.[251]

Citra politik[sunting | sunting sumber]


Berkat kampanyenya selama pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2012 yang menjanjikan
"Jakarta Baru", ia melejit menjadi tokoh nasional yang dikenal bersih, merakyat, dan mampu
menyelesaikan masalah.[252] Popularitasnya meroket hingga ia merajai survei-survei calon
presiden seperti yang digambarkan pada tabel berikut:

Survei Joko Widodo [tampilkan]


Namun, menjelang pemilihan umum presiden Indonesia 2014, dugaan keterlibatan Joko
Widodo dalam kasus TransJakarta dikatakan mengganjal elektabilitas Joko Widodo.[253] Selain
itu, akibat gencarnya kampanye hitam, menurut Saiful Mujani Research and Consulting tren
kesukaan masyarakat terhadap Jokowi menurun hingga 8% sampai April 2014.[254]

Sorotan media internasional[sunting | sunting sumber]


Jokowi pun mendapat sorotan dari media internasional seperti media India bernama The
Hindu yang meliput fenomena Jokowi ala India,[255][256] media Amerika Serikat bernama The
New York Times yang meliput fenomena kepemimpinan turun ke
bawah,[257][258] media Australia bernama The Sydney Morning
Herald,[259] media Thailand bernama Bangkok Post,[260] serta media Jepang bernama Asahi
Shimbun.[261]
Joko Widodo mendapatkan berbagai julukan dari berbagai media internasional seperti Obama
dari Jakarta oleh BBC, Mr. Fix oleh The Economist, dan The Man of Madras Shirt
oleh TIME.[262]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]


Mantan tim sukses Jokowi diduga terlibat dalam kasus busway berkarat, dan bahkan keluarga
Jokowi dituduh menerima aliran dana busway berkarat; namun, Jokowi membantah hal
tersebut,[263][264][265] dan Jaksa Agung Basrief Arief menegaskan bahwa kasus ini "belum atau
boleh dikatakan tidak menyangkut kepada Jokowi".[266] Jokowi juga dikritik karena tidak
mematuhi janjinya untuk menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur
Jakarta,[267] walaupun Jokowi sendiri menyatakan bahwa bila ia menjadi presiden, akan lebih
mudah mengurus Jakarta karena memiliki wewenang terhadap proyek pemerintah pusat di
ibukota.[268] Ada anggapan bahwa Jokowi termasuk gagal mengatasi banjir dan
macet.[269][270] Anggapan bahwa Jokowi gagal dalam mengatasi banjir dan macet di Jakarta
membuat popularitasnya menurun.[271] Data dari BPS juga menunjukkan angka kemiskinan di
Solo naik saat Jokowi menjadi walikota Solo.[272]Melesatnya popularitas Jokowi juga dikritik
sebagai pengaruh media yang kerap menonjolkan kebaikan Jokowi sementara kelemahannya
ditutupi.[273][274] Selain itu, Jokowi didapati menaiki pesawat jet pribadi untuk berkampanye
dari Banjarmasinke Kota Malang, yang dianggap bertentangan dengan gaya hidup
sederhana.[275] Sementara itu, Guru Besar EkonomiUniversitas Indonesia Taufik Bahauddin
mengkhawatirkan kontroversi yang terjadi pada pemerintahan Megawati seperti skandal BLBI,
penjualan BUMN, penjualan kapal tanker VLCC Pertamina dan penjualan gas murah
ke China akan terulang pada pemerintahan Jokowi.[276]
Kemunculan nama Jokowi pada soal Ujian Nasional[277] dan kedatangan Jokowi di
kampus ITB[278] juga menuai kontroversi karena dinilai sebagai tindakan politisasi

29

r. H. Joko Widodo (Jawa Latin: Jaka Widada, Hanacaraka: ) atau yang akrab
disapa Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 53 tahun)
adalah Presiden Indonesia ke-7 yang menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih
bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalladalam Pemilu Presiden 2014. Jokowi pernah
menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16
Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur dan Wali
Kota Surakarta (Solo) sejak28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012 didampingi F.X. Hadi
Rudyatmo sebagai wakil wali kota.[4] Dua tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo,
Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk
memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok).[5]

Walaupun rumahnya pernah digusur sebanyak tiga kali saat masa kecil,[6] ia mampu diterima
di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan setelah lulus berhasil menjadi
pengusaha mebel.[6] Setelah itu, karier politiknya dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta
pada tahun
2005.[7] Namanya
mulai dikenal setelah
dianggap berhasil
mengubah wajah kota
Surakarta menjadi
kota pariwisata,
budaya, dan
batik.[8] Pada tanggal
20 September 2012,
Jokowi berhasil
memenangkan Pilkada
Jakarta 2012, dan
kemenangannya
dianggap
mencerminkan
dukungan populer
untuk seorang
pemimpin yang
"baru" dan "bersih",
meskipun umurnya
sudah lebih dari lima
puluh tahun.[9]
Semenjak terpilih
popularitasnya
dan ia terus menjadi
media.[10][11] Akibatnya,
untuk menjadikannya
untuk pemilihan umum
2014.[12] Ditambah lagi,
menunjukkan bahwa
diunggulkan.[13] Pada
Umum PDI-

sebagai gubernur,
melambung tinggi
sorotan
muncul wacana
calon presiden
presiden Indonesia
hasil survei
nama Jokowi terus
awalnya, Ketua
P, Megawati

Soekarnoputrimenyatakan bahwa ia tidak akan mengumumkan Calon Presiden PDI-P sampai


setelah pemilihan umum legislatif 9 April 2014.[14] Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi
telah menerima mandat dari Megawati untuk maju sebagai calon presiden dari PDI-P, tiga
minggu sebelum pemilihan umum legislatif dan dua hari sebelum kampanye.[15]

Joko Widodo bersama ibunya, Sudjiatmi


Notomihardjo (kanan), dan adik-adiknya di
'Rumah Saya', Pasar Minggu, Jakarta
Selatan, Kamis, 20 September 2012 pada
saat pencalonan gubernur DKI Jakarta.

30

Joko Widodo lahir dari pasangan Noto


Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo
dan merupakan anak sulung dan
putra satu-satunya dari empat
bersaudara. Ia memiliki tiga
orang
adik
perempuan
bernama Iit Sriyantini, Ida
Yati
dan
Titik
Relawati[16]Sebelum
berganti
nama,
Joko
Widodo memiliki nama kecil
Mulyono.[17] Ayahnya
berasal dari Karanganyar,
sementara
kakek
dan
neneknya
berasal
dari
sebuah
desa
di Boyolali.[18] Pendidikannya
diawali dengan masuk SD
Negeri 111 Tirtoyoso yang
dikenal sebagai sekolah untuk
kalangan menengah ke bawah.[19]
Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia
terpaksa berdagang, mengojek payung, dan
jadi kuli panggul untuk mencari sendiri
keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anakanak lain ke sekolah dengan sepeda, ia
memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi

keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia


mulai bekerja sebagai penggergaji di
umur 12 tahun[6][20]. Jokowi kecil
telah mengalami penggusuran
rumah sebanyak tiga kali.
Penggusuran yang dialaminya
sebanyak tiga kali di masa
kecil
memengaruhi
cara
berpikirnya
dan
kepemimpinannya
kelak
setelah
menjadi
Wali
Kota Surakarta saat
harus
menertibkan
permukiman
warga.[21]
Setelah lulus SD, ia kemudian
melanjutkan pendidikan di SMP
Negeri 1 Surakarta.[22] Ketika ia
lulus SMP, ia sempat ingin masuk
ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun
gagal sehingga pada akhirnya ia
masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.[23]
Jokowi menikah dengan Iriana di Solo,
tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3
orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka
(1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang
Pangarep
(1995).

31