Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PBL SISTEM REPRODUKSI

MODUL III GANGGUAN HAID


SKENARIO II

Disusun oleh Kelompok 8 :


1. Dewi Zahara Hasmuddin

(110 211 0020)

2. Muh. Asri Wahid

(110 211 0021)

3. Yunika

(110 211 0051)

4. Muhammad Unggul Rhobbigfirly

(110 211 0052)

5. Fadlhil Mochamad

(110 211 0081)

6. Nur Anna Mustari

(110 211 0082)

7. Muhammad Husrang

(110 211 0111)

8. Lutfhi Afiat

(110 211 0112)

9. Andi Tenri Andromeda

(110 211 0142)

10. Andi Najmiah Hafsah

(110 211 0143)

Pembimbing : dr.

Sri Wahyu

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Diskusi
PBL Sistem Reproduksi Modul III Skenario 2 sesuai jadwal yang telah
ditentukan.
Salam dan Shalawat tak lupa pula kami kirimkan kepada junjungan Nabi
Besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita semua dari alam gelap
gulita menuju ke alam yang terang benderang.
Terima kasih tak lupa pula kami sampaikan kepada semua pihak yang
telah turut membantu dalam penyelesaian laporan ini. Dan terima kasih kepada
tutor pembimbing dr.Sri Wahyu yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan selama proses tutorial berlangsung.
Adapun tujuan pembuatan laporan ini sebagai hasil diskusi kelompok 5b
mengenai patomekanisme terjadinya berbagai jenis gangguan haid berdasarkan
etiologi, gambaran klinis, cara mendiagnosisi, serta penatalaksanaan gangguan
haid tersebut.
Kami selaku penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan dan
penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu kritik dan saran
yang membangun senantiasa penulis butuhkan demi kesempurnaan laporan yang
telah penulis buat ini.
Semoga laporan PBL ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Wassalamu alaikum wr,wb
Makassar,
2014

Mei

Penulis,
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah selesai mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat
menjelaskan

tenteng

penyebab

dan

patofiologi

gangguan

haid,

serta

penanganannya.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah selesai mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan haid
2. Menjelaskan tentang
2.1 Menyebutkan organ-organ yang berperan dalam proses terjadinya haid
2.2 Menjelaskan hormon yang berperan pada proses haid
3. Menjelaskan kelainan/keadaan yang menyebabkan seorang wanita
mengalami gangguan haid
4. Menjelaskan tentang patofiologi dari tidak haid akibat kehamilan
3.1 Menjelaskan proses terjadinya kehamilan
3.2 Menjelaskan perubahan anatomi dan fisiologi akibat kehamilan
3.3 Menjelaskan keluhan yang sering ditemukan selama kehamilan akibat
perubahan tersebut
5. Menyebutkan penanganan gangguan haid
5.1 Menyebutkan penanganan yang diperlukan untuk mengatasi keluhan
akibat perubahan fisiologis pada kehamilan
5.2 Menyebutkan penanganan
6. Menjelaskan masalah haid dan prinsip-prinsip penanganan dalam
perspektif islam.

1. Skenario
Seorang wanita, usia 48 tahun, PVA0, datang ke poliklinik dengan
keluhan haid tidak teratur, kadang-kadang 2 3 bulan baru mendapat haid
selama satu tahun terakhir ini.

2. Kata Sulit

PVA0 : paritas 5 abortus 0

Haid : pengeluaran darah secara periodic dan siklik dari uterus disertai
pelepasan (deskuamasi) endometrium.

3. Kata / Kalimat Kunci

Wanita 48 tahun, PVA0

Keluhan haid tidak teratur

Kadang-kadang 2-3 bulan baru mendapat haid

Terjadi selama 1 tahun terakhir

4. Identifikasi Masalah
1. Jelaskan Anatomi, Histologi, dan Fisiologi dari organ terkait !
2. Jelaskan etiologi gangguan haid !
3. Jelaskan klasifikasi gangguan haid !
4. Jelaskan faktor predisposisi haid tidak teratur !
5. Jelaskan pemeriksaan gangguan haid !
6. Jelaskan tentang amenore baik secara fisiologis maupun patologis disertai
dengan tanda perubahan (anatomi dan fisiologi) dan keluhan yang
menyertainya !nure android
7. Apakah dampak dari P5A0 terhadap siklus haid wanita tersebut ?yunika
8. Jelaskan klasifikasi menopause !fadil
9. Jelaskan penanganan gangguan haid (fisiologis dan patologisnya) !deza
milna
10. Jelaskan masalah haid dan prinsip penanganannya dalam perspektif islam !
Jawaban Pertanyaan :

5. Jawaban pertanyaan.
1. Anatomi, Histologi dan Fisiologi Organ Terkait

ANATOMI
A.

Kompartment I (Uterus)

Uterus berbentuk seperti buah advokat atau buah peer yang sedikit gepeng kea
rah muka belakang, ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga.
Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 77,5
cm, lebar di atas 5, 25 cm, tebal 2,5 cm dan tebel dinding uterus adalah 1,25
cm. Bentuk dan ukuran uterus sangat berbeda-beda, tergantung pada usia dan
pernah melahirkan anak atau belumnya. Terletak di rongga pelvis antara
kandung kemih dan rectum. Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah
anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan serviks
uteri).
Bagian-bagian uterus terdiri atas :
1.

Fundus uteri, adalah bagain uterus proksimal di ats muara tuba

uterina yang mirip dengan kubah , di bagian ini tuba Falloppii masuk ke
uterus. Fundus uteri ini biasanya diperlukan untuk mengetahui usia/
lamanya kehamilan
2.

Korpus uteri, adalah bagian uterus yang utama dan terbesar.

Korpus uteri menyempit di bgaian inferior dekat ostium internum dan


berlanjut sebagai serviks. Pada kehamilan, bagian ini mempunyai fungsi
utama sebagai tempat janain berkembang. Rongga yang terdapat di korpus
uteri disebut kavum uteri ( rongga rahim ).
3.

Serviks uteri, serviks menonjol ke dalam vagina melalui dinding

anteriornya,dan bermuara ke dalamnya berupa ostium eksternum. Serviks


uteri terdiri dari :
a.

Pars vaginalis servicis uteri yang dinamakan porsio

b.

Pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang

berada di atas vagina


Saluran yang terdapat pada serviks disebut kanalis servikal berbentuk sebagai
saluran lonjong dengan panjang 2,5 cm. saluran ini dilapisi oleh kelenjar-

kelenjar serviks, berbentuk sel-sel torak bersilia dan berfungsi sebagai


reseptakulum reminis. Pintu saluran serviks sebelah dalam disebut ostium uteri
internum dan pintu di vagina disebut ostium uteri eksternum. Secara histologis,
dinding uterus terdiri atas :
1.

Endometrium ( selaput lendir ) di korpus uteri

Endometrium terdiri atas epitel pubik, kelenjar-kelenjar dan jaringan dengan


banyak pembuluh darah. Endometrium terdiri atas epitel selapis silindris,
banyak kelenjar tubuler bersekresi lendir. Dua pertiga bagian atas kanal
servikal dilapisi selaput lendir dan sepertiga bawah dilapisi epitel berlapis
gepeng, menyatu dengan epitel vagina.Endometrium melapisi seluruh kavum
uteri dan mempunyai arti penting dalam siklus haid. Endometrium merupakan
bagian dalam dari korpus uteri yang membatasi cavum uteri. Pada
endometrium terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muara-muara dari
saluran-saluran kelenjar uterus yang dapat menghasilkan secret alkalis yang
membasahi cavum uteri. Epitel endometrium berbentuk seperti silindris.
2. Myometrium / Otot-otot polos
Lapisan otot polos di sebelah dalam berbentuk sirkuler dan di sebelah luar
berbentuk longitudinal. Di antara kedua lapisan itu terdapat lapisan otot oblik,
berbentuk anyaman, lapisan ini paling kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh
darah yang berada di sana. Myometrium merupakan bagian yang paling tebal.
Terdiri dari otot polos yang disusun sedemikian rupa hingga dapat mnedorong
isinya keleuar saat persalinan. Di antara serabut-serabut otot terdapat
pembuluh-pembuluh darah, pembuluh lympa dan urat saraf. Otot uterus terdiri
dari 3 bagain:
a.

Lapisan luar, yaitu lapisan seperti kap melengkung melalui fundus

menuju ke arah ligamenta


b.

Lapisan dalam, merupakan serabut-serabut otot yang berfungsi

sebagai sfingter dan terletak pada ostium internum tubae dan orificium
uteri internum

c.

Lapisan tengah, terletak antara ke dua lapisan di atas, merupakan

anyaman serabut otot yang tebal ditembus oleh pembuluh-pembuluh


darah. Jadi, dinding uterus terutama dibentuk oleh lapisan tengah ini.
2.

Perimetrium , yakni lapisan serosa / terdiri atas peritoneum viserale

yang meliputi dinding uterus bagian luar. Ke anterior peritoneum menutupi


fundus dan korpus, kemudian membalik ke atas permukaan kandung kemih.
Lipatan peritoneum ini membentuk kantung vesikouterina. Ke posterior,
peritoneum menutupi menutupi fundus, korpus dan serviks, kemudian
melipat pada rektum dan membentuk kantung rekto-uterina. Ke lateral,
hanya fundus yang ditutupi karena peritoneum membentuk lipatan ganda
dengan tuba uterina pada batas atas yang bebas. Lipatan ganda ini adalah
ligamentum latum yang melekatkan uterus pada sisi pelvis.

Uterus sebenarnya terapung dialam rongga pelvis dengan jaringan ikat dan
ligamenta yang menyokongnya, sehingga terfiksasi dengan baik. Ligamenta
yang memfiksasi uterus adalah ( Ilmu Kebidanan ):
1.

Ligamentum kardinale sinistrum et dekstrum ( Mackenrodt ) yakni

ligamentum yang trepenting, mencegah supaya uterus tidak turun,


terdiri atas jaringan ikat tebal dan berjalan dari serviks dan puncak
vagina kea rah lateral dinding pelvis.

2.

Ligamentum sakro- uterinum sinistrum et dekstrum, yakni

ligamentum yang menahan uterus supaya tidak banyak bergerak,


berjalan dari serviks bagian belakang, kiri dan kanan, kea rah os sacrum
kiri dan kanan.
3.

Ligamentum rotundum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum

yang menhaan uterus dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus
uteri kiri dan kanan, ke daerah inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan
kadang-kadang terasa sakit di daerah inguinal pada waktu berdiri cepat
karena uterus berkontraksi kuat dan ligamentum rotundum menjadi
kencang serta mengadakan tarikan pada daerah inguinal. Pada
persalinan ia pun terba kencang dan terasa sakit bila dipegang.
4.

Ligamentum latum sinistrum et dekstrum, yakni ligamentum yang

meliputi tuba, berjalan dari uterus kea rah sisi, tidak banyak
mengandung jaringan ikat. Sebenarnya ligamentum ini adalah bagian
dari peritoneum viserale yang meliputi uterus dan kedua tuba dan
berbentuk sebagai lipatan. Di bagian dorsal, ligamentum ini ditemukan
indung telur ( ovarium sinistrum et dekstrum ). Untuk memfiksasi
uterus, ligamentum latum ini tidak banyak artinya.
5.

Ligamentum

infundibulo-pelvikum,

yakni

ligamentum

yang

menahan tuba Falloppii berjalan dari arah infundibulum ke dinding


pelvis. Di dalamnya ditemukan urat-urat saraf, saluran-saluran limfe,
arteria dan vena ovarica.

Pembuluh darah yang mengaliri uterus adalah arteri uterina dan arteri ovarika.

B.

Kompartment II (Ovarium)

Ovarium homolog dengan testis pada pria. Ovarium berbentuk oval dan
terletak pada dinding panggul bagian lateral yang disebut fossa ovarium.
Ovarium ada dua yaitu terletak di kiri dan kanan uterus. Ovarium dihubungkan
oleh ligamentum ovarii propium dan dihubungkan dengan dinding panggul
dengan perantara ligamentum infundibulo pelvikum.
Fungsi ovarium adalah sebagai berikut:
1.

Mengeluarkan hormon progesteron dan esterogen

2.

Mengeluarkan telur setiap bulan

Ukuran ovarium sekitar 2,5-5 cm x 1,5-3 cm x 0,9-1,5 cm. Berat ovarium


kurang lebih 4-8 gram. Pada seorang wanita, terdapat 100.000 folikel primer.
Folikel tersebut setiap bulan akan matang dan keluar, terkadang dua folikel
matang dan keluar bersamaan. Folikel primer ini akan berkembang menjadi
folikel sekunder dan bila matang menjadi folikel tertier atau folikel de graaf.
Folikel de graaf yang matang terdiri atas: ovum, stratum granulosum, teka
internus, dan teka eksternus.

C.

Kompartment III

: Hypophysis

Kelenjar hipofisis berada di dasar otak di bawah hipotalamus dalam sella


tursica dan dipisahkan dari cavum cranii oleh kondensasi duramater yang
menutup sella tursica ( diafragma sellae ). Kelenjar hipofisis terdiri dari 2
bagian utama yaitu :
1. Neurohipofisis terdiri dari :
a. Lobus posterior ( pars nervosa )
b. Tangkai hipofisis ( infundibulum )
c. Eminensia medialis
Neurohipofisis berasal dari jaringan neural dan mempunyai hubungan
langsung dengan hipotalamus dan susunan saraf pusat.
2. Adenohipofisis terdiri dari :
a. Pars distalis ( lobus anterior )
b. Pars intermedia ( lobus intermedialis )
c. Pars tuberalis
Adenohipofisis berasal dari jaringan ektoderm. Jalinan arteri pada eminensia
medialis dan infundibulum (sistem portal hipofisis) merupakan sarana utama
transportasi sekresi hipotalamus menuju hipofisis anterior.

Hipofisis anterior memproduksi hormon tropik dibawah kendali regulasi


hipotalamus melalui perantaraan sinyal neuroendokrin yang berjalan melalui
sirkulasi disekitar infundibulum. Terdapat 5 buah jenis sel dalam hipofisis
anterior yang terkait dengan produksi hormon tropik yaitu :
a.

Gonadotrof

b.

Laktotrof

c.

Somatotrof

d.

Tirotrof

e.

Kortikotrof

Sel sel tersebut secara spesifik bertanggung jawab terhadap produksi dan
sekresi dari :
a.

FSH follicle stimulating hormone

b.

LH Luteinizing hormone

c.

Prolaktin

d.

GH Growth Hormone

e.

ACTH Adrenocorticotropic hormone

Sel sel tirotrof dan gonadotrof secara histologis sangat mirip sehingga produk
sekresinya berupa LH,FSH dan TSH-thyroid stimulating hormone merupakan
glikoprotein yang terdiri dari dua rantai subunit dan . Subunit FSH,LH
dan TSH adalah identik dan juga terdapat dalam hCG-human chorionic
gonadotropin. Pada berbagai hormon tersebut yang berbeda adalah rantai
subunit . Pengendalian aktivitas kelenjar hipofisis sebagian besar dilakukan
oleh hipotalamus melalui suatu proses mekanisme umpan-balik (feedback
mechanisme). Sel-sel pada nukleus hipotalamus yang mengendalikan hipofisis
memiliki beberapa fungsi. Sel sel tersebut dapat menerima sinyal dari pusat
yang lebih tinggi didalam otak, atau membangkitkan sinyal saraf tersendiri dan
memiliki kemampuan neuroendokrin.
Beberapa sinyal saraf intrinsik yang berhubungan dengan sistem
reproduksi dibentuk di dalam hipotalamus. Sinyal ini berasal dari suatu
generator denyut (pulse generator) untuk GnRH Gonadotropin Releasing
Hormone dan dari neuron dopaminergik yang projeksinya menuju ke

eminensia mediana hipotalamus. Pada keadaan basal, GnRH disekresi oleh


hipotalamus dalam bentuk pulsasi dengan frekuensi 1 denyut per jam dan
frekuensi ini berubah selama siklus menstruasi.
GnRH merupakan hormon tropik utama dalam regulasi fungsi sel gonadotropin
sehingga memegang peranan penting dalam sistem reproduksi disamping TRH
thyrotropin releasing factor dan PIF prolactine inhibiting factor.
D.

Kompartment IV (Hypothalamus)

Hipotalamus terletak pada lantai otak, mengelilingi bagian bawah ventrikel


ketiga. Batas anterior adalah kiasma optika; batas posterior adalah korpus
mamilaris; batas lateral adalah sulcus lateral; dan batas ventrodorsal adalah
tuber cinereum (dasar hipotalamus yang membulat dan memanjang kearah
kaudal hingga tangkai hipofisis). Bentuk hipotalamus memang tidak beraturan,
namun dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu: (1) area hipotalamus
dorsal; (2) area hipotalamik anterior; dan (3) area preoptikus. Menurut
Sherwood (2011), Hipotalamus adalah kumpulan nukleus-nukleus spesifik dan
serat serat terkait yang terletak dibawah thalamus.
Hipotalamus adalah wilayah otak yang mengendalikan sejumlah besar fungsi
tubuh. Hal ini terletak di bagian tengah dasar otak, dan mengenkapsulasi
bagian ventral ventrikel. Hipotalamus sangat penting bagi kehidupan (proses
hormonal dan metabolisme).

HISTOLOGI
A. Ovarium
Ovarium atau indung telur berfungsi menghasilkan gamet betina (sel
telur). Selain itu juga menghasilkah hormon-hormon kelamin seperti
progesterone dan estrogen. Ovarium terletak di rongga pelvis dan diikatkan
pada dinding tubuh bagian dorsal oleh selaput jaringan ikat yang disebut
mesovarium. Ovarium pada mamalia terutama pada manusia memiliki ukuran
yang relative kecil dan diselaputi oleh selapis sel berasal dari peritoneum
disebut epitel germinal. Di sebelah dalam terdapat tunika albugenia (jaringan
ikat penyebab ovarium berwarna putih). Jaringan dasar ovarium disebut
stroma.

Struktur histologi ovarium :


Daerah korteks mengandung banyak folikel telur yang masing masing terdiri dari sebuah oosit yang diselaputi oleh sel-sel folikel. Sel-sel
folikel adalah oosit beserta sel granulose yang mengelilinginya. Terdapat 3
macam folikel yaitu:
a. Folikel primordial : terdiri atas oosit primer yang berinti agak ke tepi yang
dialapisi sel folikel berbentuk pipih.
b. Folikel primer : terdiri atas oosit primer yang dilapisi sel folikel (sel
granulose) berbentuk kubus dan terjadi pembentukan zona pelusida. Zona
pelusida Adalah suatu lapisan glikoprotein yang terdapat diantara oosit
dan sel-sel granulose.
c. Folikel sekunder : terdiri atas oosit primer yang dilapisi sel
granulose berbentuk kubus berlapis banyak atau disebut staratum
granulose
d. Folikel

tersier

terdiri

dari

oosit

primer,

volume

stratum

granulosanya bertambah besar. Tedapat beberapa celah antrum diantara


sel-sel granulose dan jaringan ikat stroma di luar stratum granulose

membentuk theca intern (mengandung banyak pembuluh darah) dan theca


extern (banyak mengandung serat kolagen).
e. Folikel degaff : disebut juga folikel matang. Pada folikel ini, oosit sudah
siap diovulasikan dari ovarium. Oosit sekunder dilapisi oleh beberapa
lapis sel granulose berada dalam suatu jorokan ke dalam stratum disebut
cumulus ooferus. Sel-sel granulose yang mengelilingi oosit disebut
corona radiate. Antrum berisi liquor follicul yang mengandung hormone
esterogen.

B. Tuba Fallopi
Epitel
kolumnar
bersilia

Lamina propria

Mukosa

Lapisan otot

Vascular
Lapisan adventisia

Tuba uterine (oviduct) menghubungkan uterus dengan ovarium,


merupakan tempat dimana fertilisasi dari ovarium terjadi. Tuba akan
mengalami perubahan struktur sesuai siklus haid, seperti halnya dengan
uterus. Diameter tuba berbeda-beda pada beberapa tempat, demikian halnya
dengan banyaknya lipatan-lipatan mukosanya. Umumnya lipatan lebih banyak
di daerah infundibulum dan berkurang atau sangat sedikit dekat uterus
(isthmus).3

Berdasar struktur histology terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan
lapisan adventisia.3
-

Lapisan mukosa : tersusun atas epitel kolumnar tinggi bersilia dan sel-sel
kelenjar

Lapisan otot : tersusun atas lapisan otot instrinsik yang tebal membentuk
lipatan mukosa, penuh pembuluh darah, dan tidak mengandung
muskularis mukosa.

Lapisan adventisia : merupakan suatu anyaman penyambung jarang

C. Uterus

Uterus merupakan suatu organ yang akan menampung janin. Uterus


merupakan saluran berdinding tebal yang berfungsi untuk menyalurkan
sperma ke tempat fertilisasi, sebagai tempat terjadinya implantasi dan
perkembangan embrio. Dindingnya terdiri atas 3 lapis :3
1. Endometrium (Mukosa) : bagian dalam dilapisi epitel selapis
silindris bersilia dan terdapat pula kelenjar uterus yang bermukosa
dari permukaan.3
2. Miometrium (dinding otot) : suatu lapisan otot polos dalam uterus.
terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan otot
tersebut adalah lapisan subvascular (serat-serat otot tersusun memanjang),
lapisan vaskular (lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan
banyak pembuluh darah), dan lapisan supravaskular (lapisan otot luar
memanjang tipis)3
3. Perimetrium : suatu anyaman penyambung jarang yang mengandung
pembuluh darah yang mempunyai dinding tidak seperti dinding biasa3

FISIOLOGI
Haid (menstruasi) ialah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda
bahwa alat kandungan dalam tubuh seorang wanita menjalankan fungsinya.
Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan
mulainya haid yang baru. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama
siklus. Panjang siklus haid yang dianggap normal biasanya adalah 28 hari, tetapi
variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita
yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya selalu
tidak sama. Lebih dari 90% wanita mempunyai siklus menstruasi antara 24
sampai 35 hari. Diagram di bawah inimenunjukkan variasi dalam lamanya siklus
haid seorang wanita.

Siklus menstruasi normal pada manusia dapat dibagi menjadi dua segmen :
siklus ovarium dan siklus uterus. Siklus ovarium lebih lanjut dibagi menjadi fase
follikular dan fase luteal, mengingat siklus uterus juga dibagi sesuai fase
proliferasi dan sekresi. Siklus ovarium digolongkan seperti :
a. Fase follikuler: pada fase ini terjadi umpan balik hormonal yang
menyebabkan maturisasi follikel pada pertengahan siklus yang dipersiapkan
untuk ovulasi. Beberapa saat sesudah haid mulai, pada fase follikuler dini,

beberapa follikel berkembang oleh pengaruh FSH yang meningkat.


Meningkatnya FSH ini disebabkan oleh regresi korpus luteum, sehingga
hormon steroid berkurang. Dengan berkembangnya follikel, produksi
estrogen meningkat, dan ini menekan produksi FSH. Pada saat ini LH juga
meningkat, namun peranannya pada tingkat ini hanya membantu pembuatan
estrogen dalam follikel. Perkembangan follikel berakir setelah kadar estrogen
dalam

plasma

berangsur angsur,

meninggi.

Pada

kemudian

awalnya

dengan

estrogen

cepat

mencapi

meninggi

secara

puncaknya.

Ini

memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik dan dengan mendadak
terjadi puncak pelepasan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus yang
mengakibatkan terjadinya ovulasi. LH yang meninggi itu menetap kira kira
24 jam dan menurun pada fase luteal. Dalam beberapa jam setelah LH
meningkat, estrogen menurun dan mungkin inilah yang menyebabkan LH
menurun. Menurunnya estrogen mungkin disebabkan perubahan morfologik
pada follikel atau mungkin juga akibat umpan balik negatif yang pendek dari
LH terhadap hipotalamus. LH-surge yang cukup saja tidak menjamin
terjadinya ovulasi; follikel hendaknya pada tingkat yang matang agar dapat
dirangsang untuk berovulasi
b. Fase ovulasi: kelurnya ovum dari folikel de graaf
c. Fase luteal: Waktu kurang lebih 14 hari. Pada fase luteal, setelah ovulasi sel
sel granulasa membesar membentuk vakuola dan bertumpuk pigmen kuning
(lutein), follikel menjadi korpus luteum. Vaskularisasi dalam lapisan
granulose juga bertambah dan mencapi puncaknya pada hari 8 9 setelah
ovulasi

Luteinized

granulose

cells

dalam

korpus

luteum

membuat progesterone banyak, dan luteinized theca cells membuat pula


estrogen yang banyak sehingga kedua hormon itu meningkat pada fase luteal.
Mulai 10 12 hari setelah ovulasi korpus luteum mengalami regresi
berangsur-angsur disertai dengan berkurangnya kapiler kapiler dan diikuti
oleh menurunnya sekresi progesterone dan estrogen.

Siklus endometrium terdiri dari 4 fase, yaitu:


1. Fase menstruasi atau deskuamasi

Pada masa ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai


dengan perdarahan. Hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan
stratum basale, stadium ini berlangsung 4 hari. Dengan haid itu keluar darah,
potongan-potongan endometrium dan lendir dari cervik. Darah tidak
membeku karena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan
mencairkan potongan potongan mukosa. Hanya kalau banyak darah keluar
maka fermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul bekuan bekuan darah
dalam darah haid.
2. Fase post menstruasi atau stadium regenerasi

Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan endometrium secara


berangsur angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang
tumbuh dari selsel epitel kelenjar endometrium. Pada waktu ini tebal
endometrium 0,5 mm, stadium sudah mulai waktu stadium menstruasi dan
berlangsung 4 hari.
3. Fase intermenstruum atau stadium proliferasi

Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Fase
ini berlangsung dari hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Fase
proliferasi dapat dibagi dalam 3 sub fase yaitu :
a. Fase proliferasi dini , fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke 4
sampai hari ke 9. Fase ini dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan
adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut kelenjar.

Kelenjar

kebanyakan lurus, pendek dan sempit. Bentuk kelenjar ini merupakan


ciri khas fase proliferasi; sel sel kelenjar mengalami mitosis. Sebagian
sediaan masih menunjukkan suasana fase menstruasi dimana terlihat
perubahan perubahan involusi dari epitel kelenjar yang berbentuk
kuboid. Stroma padat dan sebagian menunjukkan aktivitas mitosis, sel
selnya berbentuk bintang dan lonjong dengan tonjolan tonjolanan

astomosis. Nukleus sel stroma relatif besar karena sitoplasma relatif


sedikit.
b. Fase proliferasi akhir, fase ini berlangsung pada hari ke 11 sampai hari
14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan
dengan

banyak

mitosis.

Inti

epitel

kelenjar

membentuk

pseudostratifikasi. Stroma bertumbuh aktif dan padat


4. Fase pramenstrum atau stadium sekresi

Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke 14 sampai
ke 28.Pada fase ini endometrium kira kira tetap tebalnya, tetapi bentuk
kelenjar berubah menjadi panjang, berkeluk keluk dan mengeluarkan getah
yang makin lama makin nyata. Dalam endometrium telah tertimbun glikogen
dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi.
Memang tujuan perubahan ini adalah untuk mempersiapkan endometrium
menerima telur yang dibuahi. Fase ini dibagi atas:
a. Fase sekresi dini dalam fase ini endometrium lebih tipis dari pada fase
sebelumnya karena kehilangan cairan, tebalnya 4-5 mm.
b. Fase sekresi lanjut endometrium dalam fase ini tebalnya 5-6 mm.
Dalam fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini , dengan
endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang
berkeluk keluk dan kaya dengan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk
nutrisi dan perkembangan ovum. Sitoplasma sel-sel stroma bertambah.
Sel stroma menjadi sel desidua jika terjadi kehamilan. Perubahanperubahan akibat pengaruh hormonal di uterus

Gambar: Siklus Menstruasi

2. Etiologi Gangguan Haid


Penyebab gangguan haid sangat banyak dan secara sistematis dibagi
menjadi tiga kategori penyebab utama,yaitu :
1. Keadaan patologi panggul
Lesi permukaan pada traktus genital
a. Mioma uteri, adenomiosis
b. Polip endometrium
c. Hiperplasia endometrium
d. Adenokarsinoma endometrium, sarkoma
e. Infeksi pada serviks, endometrium, dan uterus
f. Kanker serviks, polip
g. Trauma

Lesi dalam
a. Adenomiosis difus, mioma uteri, hipertrofi miometrium
b. Endometriosis
c. Malformasi arteri vena pada uterus
2. Penyakit medis sistemik
a. Gangguan hemostasi: penyakit von Willebrand, gangguan faktor II,
V, VII, VIII, IX, XII, trombositopenia, gangguan platelets.
b. Penyakit tiroid, hepar, gagal ginjal, disfungsi kelenjar adrenal, SLE.
c. Gangguan hipotalamus hipofisis: adenoma, prolaktinoma, stress,
olahraga berlebih.
3. Perdarahan uterus disfungsi
Merupakan gangguan haid tanpa ditemukan keadaan patologi pada
panggul dan penyakit sistemik. Selain ketiga faktor penyebab tersebut bila
perdarahan uterus abnormal terjadi pada perempuan usia reproduksiharus
dipikirkan gangguan kehamilan sebagai penyebab. Abortus, kehamilan
ektopik, solusio plasenta perlu dipikirkan karena juga memberikan keluhan
perdarahan. Penyebab iatrogenik seperti penggunaan pil kontrasepsi, alat
kontrasepsi dalam rahim, obat antikoagulansia, antipsikotik, dan preparat
hormon juga bisa juga menyebabkan perdarahan sehingga harus dipikirkan
pula saat evaluasi perdarahan uterus abnormal.
3. Klasifikasi Gangguan Haid
Digolongkan dalam :
A. Kelainan panjang siklus (N=21-35hr):
a. Polimenore (sering) jika haid terjadi kurang 21 hari
b. Oligomenore (jarang) jika haid terjadi lebih dari 35 hari
c. Amenore (tidak haid) jika haid tidak terjadi selama 3 bln berturut
turut
B. Kelainan banyaknya haid (Normalnya darah haid = 80ml):
a. Hipermenore (banyak) jika darah haid lebih 80ml
b. Hipomenore (sedikit) jika darah haid kurang dari 80ml
C. Kelainan lama haid (Normalnya lama haid 3 7 hari):
a. Menoragi (memanjang) jika lama haid lebih 7 hari
b. Brakimenore (memendek) jika lama haid kurang dari 3 hari
D. Metroragi (jika haid terjadi diluar siklus normal)
E. Perdarahan bercak

a. Premenstrual spotting
b. Postmenstrual spotting
F. Perdarahan uterus disfungsional
G. Gangguan lain berhubungan dengan haid :
a. Metroragi (haid diluar siklus)
b. Dismenore (nyeri bila haid)
c. Premenstrual tension (ketegangan haid)

4. Faktor Predisposisi Haid Tidak Teratur


a. Penyakit pada indung telur (ovarium) atau uterus (rahim), misalnya tumor
ovarium,

fibrosis kistik, dan tumor adrenal.

b. Gangguan produksi hormon akibat kelainan di otak, kelenjar hipofisis.


kelenjar tifoid, kelenjar adrenal. ovarium (indung telur) maupun bagian
dari

sistem

reproduksi

hipogonadotropik,
penderas-willi,

lainnya.

hipotiroidisme,

penyakit

ovarium

Misalnya.

sindrom

hipogonadisme,

adrenogenital,

polikistik,

hiperplasia

sindrom
adrenal

mengentas, dan sindrom cushing yang menghasilkan sejumlah asar


hormon kortisol oleh kelenjar adrenal.
c. Penyakit yang berat misalnya penyakit ginjal kronik. hipoglikemia,
obesitas. dan malnutrisi.
d. Obat-obatan untuk penyakit kronik atau setelah berhenti minum
konstrasepsi oral.
e. Pengangkatan kandung rahim (hysterectomy) atau indung telur (ovarium).
f. Kelainan bawaan pada sistem kehamilan, misalnya tidak memiliki rahim
atau vagina , adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit, dan lubang
pada selaput yang menutupi vagina terlalu sempit/himen imperforata.
g. Penurunan berat badan yang drastis akibat kemiskinan, diet berlebihan,
anoreksia nervosa, dan bulimia.
h. Kelainan kromosom, misalnya sindrom turner atau sindrom swyer (sel
hanya mengandung satu kromosom X) dan hermafrodit sejati.
i. Olahraga yang berlebihan.

5. Pemeriksaan Gangguan Haid


ANAMNESIS
Secara rutin ditanyakan sudah menikah atau belum, paritas, siklus haid,
penyakit

yang

pernah

diderita,

terutama

kelainan

genikologik

serta

pengobatannya, dan operasi yang dialami.


Riwayat Penyakit Umum
Perlu ditanyakan apakah penderita pernah menderita penyakit berat,
seperti penyakit tuberkolosis, penyakit jantung, riwayat penyakit ginjal, dan
diabetes melitus. Riwayat operasi non-genikologik perlu juga diperhatikan,
misalnya mammektomi dan apendektomi.
Riwayat Obstetrik
Riwayat kehamilan sebelumnya apakah berakhir dengan keguguran
ataukah berakhir dengan persalinan normal dan bagaimana nasib anaknya. Infeksi
nifas dan kuretase ddapat menjadi sumber infeksi panggul menahun dan
kemandulan. Jika perempuan itu pernah mengalami keguguran, perlu diketahui
apakah sengaja ataukah spontan. Perlu juga ditanyakan banyaknya perdarahan dan
apakah telah dilakukan kuretase.
Riwayat Ginekologi
Riwayat penyakit ginekologi beserta pengobatannya dapat memberikan
keterangan penting. Terutama operasi yang pernah dialami.
1. Perdarahan
Perdarahan yang sifatnya abnormal sering dijumpai. Perlu
ditanyakan apakah perdarahan itu berhubungan dengan siklus haid tau
tidak.banyak dan lamanya perdarahan. Dan perlu diketahui jenis
perdarahannya

spotting,

menoragia,

hipermenorea,polimenorea,

oligomenorea ataukah metroragia. Perdarahan yang didahului oleh haid

yang terlambat biasanya disebabkan oleh abortus, kehamilan mola, atau


kehamilan ektopik.perdarahan sewaktu atau sesudah koitus dapat
merupakan gejala dini dari carsinoma serviks uteri. Selain itu penyakitpenyakit yang ditandai dengan perdarahan adalah polip serviks uteri, erosi
portio, carsinoma copus uteri.
2. Flour Albus (leukorea)
Perlu ditanyakan sejak berapa lama hal itu terjadi. Terjadi terus
menerus atau hanya waktu waktu tertentu saja, seberapa banyak, apa
warnanya, baunya, disertai rasa gatal atau nyeri.
Flour albus karena trikomoniasis dan kandidiasis hampir selalu
disertai rasa gatal. Demikian pula halnya dengan flour albus karena
diabetes melitus, sedangkan vaginitis senilis disertai rasa nyeri.
3. Rasa nyeri
Dismenorea yang dapat dirasakan di perut bawah atau pinggang
dapat bersifat seperti mules-mules seperti ngilu, atau seperti ditusuktusuk. Mengenai hebatnya nyeri yang diderita, perlu ditanyakan apakah
perempuan itu apakah dapat melakukan pekerjaan sehari-harinya ataukah
dia sampai berbaring meminum obat anti nyeri.
Dispareuni, rasa nyeri waktu bersenggama dapat disebabkan oleh
kelainan organik atau oleh faktor psikologis. Nyeri perut sering disertai
kelainan ginekologik yang dapat disebabkan oleh kelainan letak uterus,
neoplasma, dan terutama peradangan. Baik yang mendadak maupun yang
menahun.
4. Miksi
Keluhan dari saluran kemih sering menyertai kelainan ginekologik.
Oleh karena itu perlu ditanyakan rasa nyeri pada saat berkemih, seringnya
berkemih, retensio urin, berkemih tidak lancar, atau tidak tertahankan.
5. Defekasi
Beberapa penyakit yang berasal dari rektum dan kolon sigmoid sering
menimbulkan kesulitan dalam mendiagnosis penyakit ginekologik. Misalnya
diverticulitis dan karsinoma sigmoid. Pada inkonentia alvi, feses dapat keluar dari

vagina dan dari anus. Keluarnya feses dari kemaluan menunjukkan adanya fistula
rektovaginalis.
PEMERIKSAAN UMUM, PAYUDARA DAN PERUT
Pemeriksaan umum
Pertumbuhan rambut didaerah pubis, betis dan kumis menunjukkan kearah
gangguan endokrin. Perlu diperhatikan apakah penderita terlampau gemuk,
ataukah terlampau kurus, pemeriksaan nadi, suhu badan, tekanan darah,
pernapasan, mata, payudara, kelenjar ketiak,jantung paru-paru dan perut. Jika
perlu pemeriksaan dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium,misalnya Hb,
leukosit, laju endap darah, dan pemeriksaan urin.
Pemeriksaan Payudara
Pemeriksaan payudara (mamma) terutama mempunyai arti penting bagi
penderita perempuan, terutama dalam hubungan dengan diagnostik,kelainan
endokrin, kehamilan, dan karsinoma mamma.
Hiperpigmentasi areola, dan papilla mamma, pembesaran kelenjar-kelenjar
metgomery,

dan

dapat

dikeluarkannya

kolostrum

merupakan

tanda

tandakehamilan.
Pemeriksaan Perut
1. Inspeksi :
Perlu diperhatikan bentuk, pembesaran/cekukan, pergerakan
dengan pernapasan, kondisi kulit, parut operasi dan sebagainya.
Pembesaran perut kedepan dengan batas yang jelas, menunjukkan
kehamilan atas tumor sedangkan pembesaran kesamping merupakan gejala
dari cairan bebas dalam rongga perut (asites)
2. Palpasi :

Pada pemeriksaan tumor dapat ditemukan lebih jelas bentuknya,


besarnyam konsistensinya, batas-batas dan gerakannya. Rasa nyeri pada
perabaan tumor merujuk kearah peradangan/infeksi.
3. Perkusi :
Dengan perkusi dapat dibedakan apakah pembesaran disebabkan
oleh tumor ataukah cairan bebas dalam perut.
4. Auskultasi :
Auskultasi perut sangat efektif untuk menyingkirkan kemungkinan
kehamilan. Bising uterus dapat terdengar pada mioma uteri yang besar.
PEMERIKSAAN ORGAN GENITALIA EKSTERNA
Inspeksi:
Dalam letak litotomi alat kelamin tampak jelas. Dengan inspeksi perlu
diperhatikan bentuk, warna, pembengkakan, dan sebagainya dari genitalia
eksterna, perineum, anus, dan sekitarnya. Apakah ada darah atau flour albus.
Apakah himen masih utuh dan klitoris normal? Pertumbuhan rambut pubis juga
perlu diperhatikan.
Terutama dicari apakah ada peradangan, iritasi kulit, eksema dan tumor.
Apakah ada karunkula atau polip. Apakah ada benda menonjol dibagian vagina.
Jaringan parut di perineum, kondiloma akuiminata atau kondiloma lata
Perabaan Vulva dan Perineum
Pemeriksaan dimulai dengan perabaan glandula Bartholini dengan jari jari
dari luar, yang kemudian diteruskan dengan perabaan antara dua jari di dalam
vagina dan ibu jari luar. Dicari apakah ada Bartholinitis, abses atau kista. Dalam
keadaan normal, kelenjar bartholini tidak dapat diraba.selanjutnya periksa bagian
perineum bagaimanatebalnya, tegangnya dan elastisitanya.
PEMERIKSAAN ORGAN GENITALIA INTERNA
Pemeriksaan dengan spekulum

Untuk perempuan yang belum pernah melahirkan, dan apabila memang


mutlak perlu untuk virgo, dipilih spekulum yang kecil. Dengan menggunakan
spekulum, dinding vagina diperiksa (rugae vaginalis, sinoma, flour albus) dan
portio vaginalis servisis uteri(bulat, terbelah melintang, mudah berdarah, erosio,
peradangan, polip, tumor atau ulkus, terutama pada karsinoma.
Eksisi percobaan dilakukan juga dalam spekulum. Apabila ada polip kecil
bertangkai, ini sekaligus dapat diangkat dengan memutar tangkainya. Dapat pula
mengeluarkan AKDR (IUD) yng sudah tidak dikehendaki lagi oleh penderita
dapat dikeluarkan.
Pemeriksaan Bimanual
Pemeriksaan genitalia interna dilakukan dengan kedua tangan (bimanual),
dua jari atau satu jari dimasukkan ke dalam vagina atayu satu jari ke dalam
rektum, sedang jari yang lain diletakkan di dinding perut. Dan dilanjut dengan
perabaan vagina dan dasar panggul, perabaan serviks, perabaan korpus uteri,
perabaan parametrium dan adneksum.
Pemeriksaan rektoabdominal, rektovaginal, dan rekto vagino abdominal
Penebalan dinding vagina dan septum rektovaginal, kista dinding bagina,
dan infiltrasi karsinoma rekti lebih mudah ditentukan dengan pemeriksaan
rektovaginal. Tumor pelvis, yang sulit dikenal dengan pemeriksaan bimanual
biasa, lebih mudah diraba dengan cara rekto-vaginoabdominal. Terutama untuk
membedakan apakah tumor berasal dari ovarium atau dari rektosigmoid.
PEMERIKSAAN KHUSUS
Pemeriksaan Laboratorium Biasa
Tidak selalu, akan tetapi jika dianggap perlu, dilakukan pemeriksaan
darah, dan kaddar seni. Kadar Hb diperiksa pada perempuan yang tampak pucat
mengalami perdarahan, pada perempuan tidak hamil, dan pada perempuan hamil
pada persangkaan kehamilan ekstrauterin terganggu. Jumlah leukosit dan laju

endap darah juga diperiksa pada proses peradangan. Pemeriksaan gula darah,
fungsi ginjal, fungsi hati, dan sebagainya hanya dilakukan apabila ada indikasi.
Pemeriksaan Getah Vulva dan Vagina
Pemeriksaaan tambahan yang sering diperlukan di poliklinik atau tempat
praktik ialah pemeriksaan getah urethra/serviks dan getah vagina, terutama pada
kelainan leukorea. Getah urethra diambil dari orificium urethra eksternum dan
getah serviks diambil dari ostium uteri eksternum untuk pemeriksaan gonokokkus.
Getah vagina diambil dari forniks posterior untuk mencari trikomonas vaginalis
dan benag-benang (miselia) kandida albicans.
Apabila basil pemeriksaan gonokokkus, trikomonas, dan kandida albicans
beberapa kali tetap negatif, sedang kecurigaan akan penyakit bersangkutan masih
ada, maka dapat dilakukan pemeriksaan biakan. Pemeriksaan bakteriologis
lainnya, termasuk pemeriksaan pembiakan, dapat dilakukan pula jika dianggap
perlu.
Pemeriksaan Sitologi Vagina
Untuk pemeriksaan sitologik, bahan diambil dari dinding vagina atau dari serviks
(endoserviks dan ektoserviks) degan spatel ayre. Diagnosis dini dari karsinoma
servisis uteri dan karsinoma korporis uteri. Selain untuk diagnosis dini tumor
ganas, pemeriksaan ini dapat dipakai juga secara tidak lansung untuk mengetahui
fungsi hormonal karena pengaruh esterogen dan progesteron menyebabkan
perubahan khas pada sel-sel selaput vagina.maturitas kehamilan dapat pula
ditentukan dengan cara ini walaupun hasilnya tidak selalu memuaskan. Sementara
itu ditemukannya banyak leukosit dan limfosit menuju kearah peradangan.
Percobaan Schiller
Percobaan Schiller merupakan cara pemeriksaan yang sederhana
berdasarkan kenyataan bahwa sel sel epitel berlapis gepeng dari portio yang
normal mengandung glikogen, sedang sel sel abnormal tidak.

Apabila permukaan portiodicat/dipulas dengan larutan logol, maka epitel


portio normal akan berwarna coklat tua sedangkandaerah-daerah yang tidak
normal bewarna kuning dan tampak pucat. Cara ini sangat sederhana untuk
mendiagnostik tumor-tumor jinak dan kelainan portio lainnya.
Kolposkopi
Penderita letak litotomi, lalu dipasang spekulum. Portio dibersihkan dari
lendir dengan larutan cuka 2% atau dengan larutan nitras argenti 5%. Dalam gal
ini tampak jelas batas antara epitel berlapis gepeng dari ektoserviks dan mukosa
dari endoserviks. Apabila ada lesi, maka akan tampak jelas batas antara daerah
yang normal dan daerah yang tidak normal. Dengan ini, dapat jelas dibedakan
antara erosio dan karsinoma.
Pemeriksaan Khusus Lainnya
Selain pemeriksaan khusus tersebut diatas, masih ada beberapa cara
khusus lainnya yang jarang dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari dan
mempunyai indikasi yang sangat terbatas. Diantaranya, pemeriksaan infertilitas
dan Endokrinologi, pemeriksaan dengan sinar rontgen, pemeriksaan sitoskopi
dan rektoskopi, pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan kuldosintesis.
6. Pengertian amenore baik secara fisiologis maupun patologis disertai
dengan tanda perubahan (anatomi dan fisiologi) dan keluhan yang
menyertainya.
Amenore primer adalah tidak terjadinya menarke sampai usia 17 tahun,
dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder; sedangkan amenore sekunder
berarti tidak terjadi menstruasi selama 3 bulan atau lebih pada orang yang telah
mengalami siklus menstruasi.7
Amenore bersifat fisiologik pada perempuan usia pubertas, hamil, dan
pascamenopause; dan di luar itu amenore menunjukkan adanya disfungsi atau
abnormalitas dari sistem reproduksi. Amenore merupakan gejala dan bukan

merupakan suatu penyakit. Penyebab amenore dapat fisiologik, endokrinologik,


organik, atau akibat gangguan perkembangan.7
Tabel penyebab amenore.7
Stadium perkembangan

Patologi

AMENORE PRIMER
Tidak

ada

atau

terhentinya

perkembangan seksual sekunder

Disfungsi hipotalamus

Disfungsi hipofisis

Kegagalan

ovarium

atau

disgenesis
Perkembangan seksual sekunder yang

Disfungsi hipotalamus

normal

Disfungsi hipofisis

Perkembangan sistem Mulleri


yang tidak lengkap

Perkembangan seksual sekunder yang

Disfungsi hipotalamus

abnormal

Disfungsi hipofisis

Kegagalan

ovarium

atau

disgenesis
-

Produksi hormone seks yang


tidak fisiologik

Ketidak pekaan androgen

Disfungsi endometrium

Disfungsi ovarium

Disfungsi hipotalamus

Disfungsi hipofisis

AMENORE SEKUNDER
Pascamenarke

Remaja putri yang belum memperlihatkan awita pubertas sampai usia 13


tahun, atau yang tidak mengalami menstruasi sampai 5 tahun setelah awitan

pubertas harus diselidiki dengan seksama. Perempuan dewasa yang mengalami


amenore selama 3 bulan juga harus diselidiki penyebabnya.7
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, dengan perhatian khusus
pada pengaruh dari berubahnya keadaan hormonal, merupakan langkah awal yang
penting untuk penilaian klinis. Diet dan kebiasaan latihan, adanya gangguan
fisiologik, gaya hidup, stres lingkungan, riwayat kelainan genetik dalam keluarga,
kelainan pertumbuhan dan perkembangan, dan tanda tanda kelebihan androgen
merupakan keterangan yang penting.7
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi genitalia dan palpasi organ organ pelvis
dan penilaian ukuran ukuran tubuh, sikap tubuh, ada atau tidak adanya rambut
tubuh serta distribusinya, perkembangan dan sekresi payudara. Lebar jangkauan
lengan (jika kedua lengan direntangkan) kira kira sama dengan tinggi badan;
namun pada hipogonadisme, jangkauan lengan lebih panjang 2 inci daripada
tinggi badan. Perkembangan payudara dan pubis dinilai berdasarkan skala
perkembangan Tanner.7
Penilaian laboratorium pada amenore
Langkah pertama adalah menentukan apakah gangguan hormonal disebabkan
oleh kelainan pada hipotalamus-hipofisis atau kelainan gonad. Penetuan ini dibuat
dengan mengukur kadar FSH serum. Jika FSH serum tetap meningkat pada
pemeriksaan ulang, kemungkinan besar perempuan itu mengalami kelainan
ovarium primer. Jika FSH serum tetap normal atau rendah, kemungkinan besar
masalahnya terletak pada hipotalamus atau kelenjar hipofisis. Pada kasus ini,
penilaian fungsi tiroid atau adrenal dapat menentukan apakah pasien mengalami
defisiensi gonadotropin saja atau panhipopituitarisme. Jika terdapat galaktore,
maka kadar prolactin serum harus diperiksa.7
Pemeriksaan radiogram fosa hipofisis dan CT scan aksial dari kelenjar
hipofisis dapat menentukan apakah pasien mempunyai tumor hipofisis dengan
atau tanpa penekanan suprasellar.7

Penanganan pasien amenore


Penanganan amenore sering didasarkan pada kelainan patologik penyebab.
Perempuan dengan adenoma hipofisiss, yang menyekresi prolactin harus
ditangani dengan reseksi transfenoidal tumor hipofisis atau supresi prolactin
dengan bromokriptin. Perempuan dengan sekresi androgen berlebihan harus
mendapatkan terapi supresif dengan kortikosteroid atau kontrasepsi oral. Kedua
preparat ini menekan seksresi androgen yang berlebihan, mungkin dengan
menghambat pelepasan gonadotropin.7
Perempuan dengan defisiensi hipotalamus-hipofisis atau ovarium harus
mendapat terapi penggantian dengan esterogen dan progestern yang diberikan
secara siklik. Pengobatan kombinasi estrogen dan progesterone membantu
memelihara karakteristik seksual sekunder dan mencegah atrofi vagina dan
payudara serta osteopenia. Terapi dapat diteruskan sampai saat perkiraan
terjadinyya menopause pada usia 45-52 tahun.7
Perempuan dengan gangguan gonad primer akan tetap infertil. Tetapi, ovulasi
dapat diinduksi dan fertilitas dapat dipulihkan pada beberapa perempuan yang
hanya mengalami defisiensi gonadotropin, penakit ovarium polikistik (PCOD),
atau penurunan berat badan berlebihan, jika berat badan semula dapat dicapai.
Ovulasi dan fertilitas dapat dicapai dengan pemberian klomifen sitrat, suatu
senyawa nonsteroid yang mempunyai khasiat estrogenik maupun antiestrogenik
bergantung pada tempat kerjanya. Pada perempuan perempuan yang responsif,
ovulasi dapat terjadi dalam 4-8 hari dan menstruasi dalam 14-21 hari setelah
klomifen sitrat dihentikan. Beberapa rangkaian pengobatan mungkin diperlukan
sebelum terjadi ovulasi dan fertilitas atau siklus menstruasi normal. Kelenjar
hipofisis harus dalam keadaan baik untuk tercapainya respons terapi yang positif.7
Pada perempuan dengan hipopituitarisme atau tumor hipofisis, fertilitas dapat
dipulihkan dengan pemberian FSH manusia dan hCG, yang bekerja seperti pada
LH. Terapi ini mahal dan membutuhkan pengawasan yang ketat untuk dosis dan

respon estradiol untuk menghindari kehamilan ganda atau terjadinya kista


ovarium.7

7. Dampak dari P5A0 terhadap siklus haid wanita tersebut. Terkhusus


terhadap menopause.
Sejak kelahiran, folikel-folikel primordial yang semula dorman akan terus
diaktivasi menjadi persediaan folikel yang akan berkembang (growing follicle
pool). Proses ini dikenanl dengan initial recruitment. Dimana, pada masa
puberitas, folikel akan diaktivasi kemudian akan mengalami ovulasi dan sebagian
atresia.
Initial recruitmen ini dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya yaitu Anti
Mullerian Hormon (AMH). Jika AMH tidak ada maka persediaan follicle pool
akan habis secara prematur dan mencetuskan menopause dini. Selain itu, AMH
juga mengendalikan pengaruh paritas terhadap usia menopause. Dimana,
menjelang paritas, hormone progesterone akan meningkat dan akan memicu
ekspresi AMH. Ekspresi yang meningkat ini kemudian menginhibisi proses initial
recruitmen sehingga kejadian menopause dapat terhambat.

8. Klasifikasi menopause.
Menopause merupakan salah satu dari beberapa tahap kehidupan reproduksi
wanita, maka keseluruhan masa peralihan menopause dapat dibagi
menjadi beberapa tahap:8
a. Premature menopause atau menopause dini
Menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun, baik secara alamiah ataupun
induksi oleh karena tindakan medis. Wanita dengan premature menopause
mempunyai gejala yang mirip dengan menopause alami, seperti hot flashes,

gangguan emosi, kekeringan pada vagina serta penurunan gairah seksual.Untuk


beberapa wanita dengan premature menopause, keluhan ini dialami sangat berat.
Disamping itu, wanita juga cenderung mengalami kejadian keropos tulang lebih
besar dibandingkan dengan wanita yang mengalami menopause lebih lambat. Hal
inilah yang meningkatkan terjadinya osteoporosis, yang merupakan faktor resiko
patah tulang.
b.

Perimenopause

Perimenopause ditandai dengan terjadinya perubahan kearah menopause, yang


berkisar antara 2-8 tahun, ditambah dengan 1 tahun setelah menstruasi terakhir.
Tidak diketahui secara pasti untuk mengukur berapa lama fase perimenopause
berlangsung. Hal ini merupakan keadaan alamiah yang dialami seorang wanita
dalam kehidupannya yang menandai akhir dari masa reproduksi. Penurunan
fungsi indung telur selama masa perimenopause berkaitan dengan penurunan
estrogen dan progesterone serta hormon androgen.
c.

Menopause

Menopause adalah perubahan alami yang dialami seorang wanita saat siklus
menstruasi terhenti. Keadaan ini sering disebut change of life. Selama
menopause, biasa terjadi antara usia 45-55 tahun, tubuh wanita secara perlahan
berkurang

menghasilkan

hormon

estrogen

dan

progesteron.

Dikatakan

menopause, jika dalam 12 bulan terakhir tidak mengalami menstruasi dan tidak
disebabkan oleh hal patologis. Kadar estradiol 10-20 pg/ml yang berasal dari
konversi androstenedion.
d. Postmenopause
Masa setelah mencapai menopause sampai senium yang dimulai setelah 12
bulan amenore serta rentan terhadap osteoporosis dan penyakit jantung.

9. Penanganan gangguan haid (fisiologis dan patologisnya).


PENANGANAN PERTAMA9
Penanganan pertama ditentukan pada kondisi hemodinamik. Bila keadaaan
hemodinamik tidak stabil segera masuk rumah sakit untuk perawatan perbaikan

keadaaan umum. Bila keadaaan hemodinamik stabil, segera dilakukan penangan


untuk menghentikan perdarahan.
Perdarahan Akut dan Banyak
Perdarahan akut dan banyak sering terjadi pada 3 kondisi yaitu pada remaja
dengan gangguan koagulopati, dewasa dengan mioma uteri, dan pada pemakaian
obat antikoagulansia. Ditangani dengan 2 cara yaitu :9
1. Dilatasi dan Kuretase
2. Terapi Medikamentosa
a. Kombinasi estrogen progestin
b. Estrogen
c. Progestin
Perdarahan Ireguler
Perdarahan ireguler dapat dalam bentuk metroragia, menometroragia,
oligomenorea, perdarahan memanjang yang sudah terjadi dalam hitungan minggu
atau bulan dan berbagai pola perdarahan lainnya. Bentuk pola perdarahn diatas
digabungkan karena mempunyai penanganan yang relatif sama. Perdarahan
ireguler melibatkan banyak macam ppola perdarahan dan tentunya mempunyai
berbagai

macam

penyebab.

Metroragia,

menometroragia,

oligomenorea,

perdarahan memanjang, dan lain sebagain Bentuk pola perdarahn diatas


digabungkan karena mempunyai penanganan yang relatif sama. Perdarahan
ireguler melibatkan banyak macam pola perdarahan dan tentunya mempunyai
berbagai

macam

penyebab.

Metroragia,

menometroragia,

oligomenorea,

perdarahan memanjang, dan lain sebagainya merupakan bentuk pola perdarahan


yang bisa terjadi. Sebelum memulai denan terapi hormon sebaiknya penyebab
sisstemik dievaluasi lebih dulu, seperti dilakukan :9
1. Periksa TSH : evaluasi penyakit hipotiroid dan hipertiroid sebaiknya
dilakukan sejak awal.
2. Periksa prolaktin : bila ada oligomenorea atau hipomenorea

3. Lakukan PAP smear : bila didapatkan perdarahan pascasenggama4


4. Bila curiga atau terdapat faktor resiko keganasan endometrium : lakukan
biopsi endometrium dan pertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan
dengan USG transvagina. Bila terdapat keterbatasan untuk melakukan
evaluasi seperti tersebut di atas dapat segera melakukan pengobatan
seperti :
a. Kombinasi estrogen progestin
b. Progestin
Bila pengobatan medikamentosa gagal sebaiknya dipertimbangkan untuk
dirujuk ke tempat pengobatan denagn fasilitas yang lebih lengkap. Pemeriksaan
USG transvagina atau infus salin sonohisterografi dilakukan untuk mendeteksi
mioma uteri dan polip endometrium. Kegagalan terapi medikamentosa bisa
menjadi pertimbangan untuk melakukan tindakan bedah, misalnya ablasi
endometrium, reseksi histeroskopi, dan histerektomi.9
PENANGANAN MEDIKAMENTOSA NON HORMONAL
Penanganan medikamentosa diberikan bila tidak ditemukan keadaan patologi
pada panggul. Medikamentosa nonhormon yang dapat digunakan untuk
perdarahan uterus abnormal adalah :9
1. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (NSAID)
2. Antifibrinolisis
PENANGANAN PEMBEDAHAN
Penanganan dengan terapi bedah. Histerektomi merupakan prosedur bedah
utama

yang dilakukan

pada

kegagalan

terapi

medikamentosa.

Namun

komplikasinya tetap bisa terjadi berupa perdarahan, infeksi, dan masalah


penyembuhan luka operasi. Saat ini telah dikekmbangkan prosedur bedah invasif
minimal dengan cara ablasi utnuk mengurangi ketebalan endoetrium. Cara ini
diduga lebih mudah dilakukan, dan sedikit kompllikasi. Namun, tentunya masih
perlu bukti dengan dilakukan dilakukan evaluasi lebih lanjut. beberapa prosedur

bedah yang saat ini digunakan pada penangangan perdarahan uterus abnormal
adalah

ablasi

endomterium,

reseksi

transerviks,

histeroskopi

operatif,

miomektomi, dan oklusi atau emboli arteri uterina.9

Penanganan Perdarahan Uterus Disfungsi


Penanganan PUD dilakukan untuk mencapai dua tujuan yang saling berkaitan,
yaitu

yang

pertama

mengembalikan

pertumbuhan

dan

perkembangan

endometrium abnormal yang menghasilkan keadaan anoulasi dan kedua membuat


haid yang teratur, siklik dengan volume dan jumlah yang normal. Kedua tujuan
tersebut dapat dicapai dengan cara :9
1. Mengatur Haid Supaya Normal Kembali
Seperti pada perdarahan uterus abnormal penanganan pertama ditentukan
berdasarkan kondisi hemodinamik. Bila hemodinamik tidak stabil segera masuk
rumah sakit utnuk perawatan perbaikan keadaan umum. Bila hemodinamik stabil
penanganan utnuk menghentikan perdarahan dilakukan seperti tata cara
penanganan perdarahan uterus banormal dengan bentuk perdarahan akut dan
banyak. Medika mentosa yang dipakai adalah kombinasi progestin dan estrogen.
2. Mengatur Haid Setelah penghentian Perdarahan Tergantung pada Dua Hal,
yaitu Usia dan Paritas.
Usia Remaja, dapat diberikan obat :
a.

Kombinasi estrogen dan progestin

b.

Progestin siklik, misalnya MPA dosis 10mg per hari selama 14 hari, 14 hari
berikutnya tanpa diberikan obat. Kedua pengobatan diatas diulang selama 3
bulan.

Usia Reproduksi
a.

Bila paritas multipara : berikan kontrasepsi hormon

b.

Bila infertilitas dan ingin hamil : berikan obatinduksi ovulasi

Usia Perimenopause : Berikan pil kontrasepsi kombinasi dosis rendah atau injeksi
DMPA.

10. Menurut perspektif Islam tentang haid


a.

Dari Aisyah r.a. bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah

penyakit

(istihadhah).

Rasulullah

Saw.

Pun

berkata

kepadanya,

Sesungguhnyadarah haid adalah darah hitam yang telah diketahui. Jika memang
darah itu yang keluar maka janganlah shalat. Namun, jika darah itu (berwarna)
lain, maka berwudhulah dan shalatlah. Riwayat Abu Dawud dan Al-Nasai.
Hadis ini dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim.
b.

Dalam hadis Asma binti Umais menurut riwayat Abu Dawud, Hendaklah

dia duduk dalam suatu wadah berisi air. Jika dia melihat warna kuning di atas
permukaan air, ia mandi sekali untuk zuhur dan ashar, mandi sekali untuk magrib
dan isya, dan mandi sekali lagi untuk shalat subuh, serta berwudhu antara waktuwaktu tersebut.
c.

Hamnah binti Jahsy berkata, Aku pernah mengeluarkan darah penyait

(istihadhah) yang banyak sekali. Maka aku menghadap Nabi Saw. Untuk meminta
fatwanya. Beliau bersabda, Itu hanyalah gangguan dari setan. Anggaplah enam
atau tujuh hari sebagai masa haidmu, kemudian madilah. Jika engkau telah bersih,
shalatlah selama dua puluh empat hari atau dua puluh tiga hari. Berpuasa dan
shalatlah, karena hal itu cukup bagimu. Kerjakanlah semua itu setiap bulan seperti
layaknya wanita-wanita haid yang lainnya. Jika engkau mampu mengakhiri shalat
zuhur dan mengawalkan shalat ashar (maka lakukanlah). Kemudian engkau mandi
ketika suci dan engkau shalat zuhur dan asar secara jama. Kemudian engkau
mengakhiri shalat magrib dan mengawalkan isya, engkau mandi dan menjama
shalat magrib dan isya maka kerjakanlah. Kemudian engkau mandi untuk shalat
subuh dan shalat subuhlah. Beliau bersabda, Perkara kedua inilah yang lebih
aku senangi. Diriwayatkan oleh lima imam, dinilai sahih oleh Al-Termidzi dan
dianggap hasan oleh Bukhari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Laurale, sheerwood. Fisiologi Manusia.Ed.6. Jakarta : EGC. 2011.


2. Guyton and Hall. Fisiologi Kedokteran. Ed.11. Jakarta : EGC
3. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi. Ilmu Kandungan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007.
4. Prawiroharjo, sarwono. Wiknjosastro, hanifa. Ilmu Kandungan edisi 3.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo. 2011.
5. Suwito

Tjondro

Hudono.

Pemeriksaan

Ginekologi

dalam

Sarwono

Prawirohardjo. Ed.Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka, 2011


6. Imam Al-HAfidz Ibnu Hajar Al-Asqalany. Bulughul Maram. Jakarta Selatan:
Noura Books. 2008
7.

Price Sylvia, Wilson Lorraine.2005.Patofisiologi Volume 2 Edisi 6. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm 1284-1287.

8. Baziad, A. 2003. Menopause dan Andropause. Cetakan Pertama. Jakarta

:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. hal 5-40.


9. Anwar, mochammad. 2011. Ilmu Kandungan edisi ketiga Gangguan Haid/
Perdarahan Uterus Abnormal. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo :
Jakarta
10.