Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih
dari biasanya. Hidung merupakan salah satu organ pelindung tubuh terpenting
terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Pada era di mana semakin banyak
penelitian dan publikasi ilmiah didedikasikan terhadap bahaya kerja dan polutan
udara, suatu pemahaman mendasar mengenai anatomi dan fisiologi hidung adalah
penting. Hidung mempunyai beberapa fungsi di antaranya sebagai indera penghidu,
menyiapkan udara inhalasi agar dapat digunakan paru-paru, mempengaruhi refleks
tertentu pada paru-paru dan memodifikasi bicara.
Sumbatan hidung adalah salah satu yang paling sering dikeluhkan ke dokter
pada pelayanan primer. Ini adalah gejala bukan diagnosis, banyak faktor dan kondisi
anatomi yang dapat menyebabkan sumbatan hidung. Pasien juga sering mengeluhkan
sakit kepala dan napas yang lebih sulit dan sensasi penuh pada wajah. Penyebab dari
sumbatan hidung dapat struktur maupun sistemik. Yang disebabkan struktur termasuk
perubahan jaringan, trauma, gangguan congenital. Yang disebabkan sistemik terkait
dengan perubahan fisiologis dan pathologis. Tumor cavum nasi merupakan salah satu
dari penyebab rasa hidung tersumbat.1 Tumor cavum nasi bisa bermacam macam,
salah satunya adalah Angiofibroma nasofaring.
Angiofibroma nasofaring atau Juvenil Nasofaring Angiofibroma (JNA) adalah
tumor jinak pembuluh darah di nasofaring yang secara histologik jinak namun secara
klinis bersifat ganas, karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas
ke jaringan sekitarnya, seperti ke sinus paranasal, pipi, mata dan tengkorak, serta
sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas
dan remaja.1

Etiologi dan patogenesis dari Angiofibroma nasofaring belum diketahui secara


pasti. Sampai saat ini, Angiofibroma nasofaring masih banyak menimbulkan
perbedaan pendapat. Dengan patogenesis dan etiologi yang masih belum ada
1

kesesuaian, maka sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda
Angiofibroma nasofaring untuk mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.

B. Tujuan
Dengan pembuatan laporan kasus ini, dokter muda berharap dapat:
1. Mengetahui dan memahami dasar klinis penyakit Angiofibroma nasofaring.
2. Mampu menganalisa kasus, penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat
untuk penyakit Angiofibroma nasofaring.
3. Menambah keilmuan dokter muda tentang penyakit di bidang THT.
4. Penulisan laporan kasus ini dapat dijadikan sumber informasi ilmiah yang dapat
dipergunakan oleh sejawat lainnya.
5. Penulisan laporan kasus ini dapat dijadikan informasi yang komunikatif kepada
pembacanya.

BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama

: An. M.R.

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 12 tahun

Alamat

: Leuwi Liang, Cianjur

Pekerjaan

: Pelajar

Pendidikan

: Kelas 6 SD

Agama

: Islam

Tanggal berobat

: 17 Desember 2014

B. Anamnesis
Aautoanamnesis tanggal 17 Desember 2014 pukul 10.30 WIB
1. Keluhan Utama

: Pasien datang dengan keluhan hidung tersumbat sejak

1 bulan yang lalu.


2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli THT RSUD Cianjur dengan
keluhan hidung tersumbat sejak 1 bulan yang lalu, hidung tersumbat di kedua sisi
hidung , keluar sekret bercampur darah (+). Penglihatan ganda (-), nyeri kepala (-),
telinga tidak ada keluhan, nyeri menelan (-) batuk (-), demam (-), sakit gigi (-), nafsu
makan agak menurun, BB tidak menurun
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien

tidak

merasakan

keluhan

yang

sama

sebelumnya, riwayat trauma (-), asma (-).


4. Riwayat Penyakit Keluarga

: Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan

yang sama seperti pasien. Riwayat hipertensi, asma, diabetes melitus tidak diketahui.

5. Riwayat Pengobatan

: Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum,

disarankan untuk ke dokter spesialis THT.


6. Riwayat Alergi

: Pasien tidak mempunyai alergi dengan debu (-), hawa

dingin(-), makanan(-), dan obat obatan (-).


7. Riwayat Psikososial

: Pasien sering memakan gorengan dan minuman

dingin, pasien tidak merokok dan minum alkohol.

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Composmentis

Berat Badan

: 30 kg

Tanda Vital

: Suhu

: 36,40C aksila

Nadi

: 88x/menit kuat, reguler

RR

: 24x/menit

Status Generalis
1.

Kepala

: normocephal

2.

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+)


isokor, pergerakan mata kesegala arah baik

3.

Telinga

: lihat status lokalis

4.

Hidung

: lihat status lokalis

5.

Mulut

: mukosa bibir lembab, gusi berdarah (-), lidah kotor (-)

6.

Tenggorok : lihat status lokalis

7.

Leher

8.

Thorax

: lihat status lokalis

a. Inspeksi

: normochest, simetris, retraksi dinding dada (-)

b. Palpasi

: vokal fremitus teraba sama di semua lapang paru

c. Perkusi

: sonor pada semua lapang paru

d. Auskultasi : suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)


4

9.

Jantung
a. Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

b. Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra

c. Perkusi

: batas atas jantung ICS 3 linea midclavikularis sinistra batas bawah


sejajar ictus cordis

d. Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, bising jantung (-)


10. Abdomen
a. Inspeksi

: datar, supel, bekas trauma (-)

b. Palpasi

: supel, nyeri tekan (-)

c. Perkusi

: timpani pada seluruh kuadran abdomen

d. Auskultasi : bising usus (+) normal


11. Ekstremitas
a. Superior

: akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik

b. Inferior

: akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik

D. Status lokalis THT


1.

Telinga
Tabel 1. Pemeriksaan telinga
AD
Normotia, hiperemis (-),

AS
Aurikula

Normotia, hiperemis (-),

edema (-), helix sign (-),

edema (-), helix sign (-),

tragus sign (-)

tragus sign (-)


Preaurikula

Tanda radang(-), pus(-), nyeri

Tanda radang(-), pus(-), nyeri

tekan(-), fistula(-)

tekan(-), fistula(-)

Retroaurikula
Edema (-), hiperemis (-),

Edema (-), hiperemis (-), nyeri

nyeri tekan (-), radang (-),

tekan (-), radang (-), tumor (-),

tumor (-), sikatriks (-)

sikatriks (-)

Hiperemis(-), sekret(+),

MAE

Hiperemis(-), sekret(+),

serumen(+), massa(-),

serumen(+), massa(-),

jaringan granula (-)

jaringan granula (-)

Hiperemis(-), sekret(-),
Hiperemis(-), sekret(-),

KAE

serumen(+), massa(-),

serumen(+), massa(-),
jaringan granula (-)

jaringan granula (-)


Refleks cahaya (sulit dinilai),

Membran timpani

Refleks cahaya (sulit dinilai),

perforasi (sulit dinilai), sekret

perforasi (sulit dinilai), sekret

(-), serumen (+)

(-), serumen (+)

Uji Rinne

Tidak ada lateralisasi

Uji Weber

Tidak ada lateralisasi

Sama dengan pemeriksa

Uji Schwabach

Sama dengan pemeriksa

Interpretasi : Terdapat serumen di meatus akustikus eksterna, kanalis


akustikus eksterna dan membran timpani ADS

2. Hidung
Tabel 2. Pemeriksaanhidung

a.

Dextra

Rhinoskopi anterior

Sinistra

Hiperemis (-)

Mukosa

Hiperemis (-)

Sekret

Hipertrofi (+)

Konka inferior

Hipertrofi(+)

Deviasi (-)

Septum

Deviasi (-)

(-)

Massa

mudah berdarah (+), mobile (+)

(+)

Passase udara

(-)

(+)

nyeri tekan (-)

Sinus paranasal
1) Inspeksi : Pembengkakan pada wajah (-)
Pembengkakan daerah atas orbita (-)
2) Palpasi

: Nyeri tekan pipi (-)


Nyeri tekan media orbita (-)

b. Tes penciuman
-

Kanan

: Kopi (+ pada jarak 5 cm)

Kiri

: Kopi (-)

Kesan

: Anosmia sinistra, hiposmia dextra

c. Transluminasi
-

Sinus maksilaris

: Tampak bulan sabit (+)

Sinus frontalis

: Tampak seperti sarang tawon (+)

3. Tenggorok
Tabel 3. Pemeriksaan Nasofaring
Naofaring (Rhinoskopi posterior) (tidak dilakukan)
Konka superior
Torus tubarius
Fossa Rossenmuller
Plika salfingofaringeal

Dextra

Tabel 4. Pemeriksaan Orofaring


Pemeriksaan Orofaring

Sinistra

Hiperemis (-)

Mukosa mulut

Hiperemis (-)

Kotor (-)

Lidah

Kotor (-)

Hiperemis (-)

Palatum molle

Hiperemis (-)

Karies (-)

Gigi geligi

Karies (-)

Simetris

Uvula

Simetris

Tenang

Mukosa

Tenang

Mulut

Tonsil

TI

TI

Melebar (-)

Kripta

Melebar (-)

Detritus

Perlengketan

Tenang

Mukosa

Tenang

Granula

Post nasal drip

Faring

Tabel 5. Pemeriksaan Laringofaring


Laringofaring (Laringoskopi indirect) (tidak dilakukan)
Epiglotis
Plika ariepiglotika
Plika ventrikularis
Plika vokalis
Rima glotis

4. Pemeriksaan Maksilofasial
Tabel 6. Pemeriksaan Maksilofasial
Dextra

Nervus
I.

(+)
(+)

Olfaktorius
Penciuman

II.

Sinistra
(-)

Optikus

Daya penglihatan

Refleks pupil

(+)

(+)

(+)
III. Okulomotorius

(+)

Membuka kelopak mata

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke superior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke inferior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke medial

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke

(+)

laterosuperior
9

IV. Troklearis
(+)

Gerakan bola mata ke lateroinferior


V.

(+)

Trigeminal

Tes sensoris

(+)

Cabang oftalmikus (V1)

(+)

(+)

Cabang maksila (V2)

(+)

(+)

Cabang mandibula (V3)

(+)

VI. Abdusen
(+)

Gerakan bola mata ke lateral

(+)

VII. Fasial
(+)

Mengangkat alis

(+)

(+)

Kerutan dahi

(+)

(+)

Menunjukkan gigi

(+)

(+)

Daya kecap lidah 2/3 anterior

(+)

VIII. Akustikus
(+)

Tes garpu tala

(+)

IX. Glossofaringeal
(+)

Refleks muntah

(+)

(+)

Daya kecap lidah 2/3 anterior

(+)

X.

Vagus

(+)

Refleks muntah dan menelan

(+)

(-)

Deviasi uvula

(-)

(+)

Pergerakan palatum

(+)

XI. Assesorius
(+)

Memalingkan kepala

(+)

(+)

Kekuatan bahu

(+)

XII. Hipoglossus
(-)

Tremor lidah

(-)

(-)

Deviasi lidah

(-)

10

5. Leher
Tabel 7. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening (KGB)
Dextra

Pemeriksaan

Sinistra

Pembesaran (-)

Tiroid

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar submental

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar submandibula

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis superior


Kelenjar jugularis media

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis inferior

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar suprasternal

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar supraklavikularis

Pembesaran (-)

E. Resume
Pasien datang ke poli THT RSUD Cianjur dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1
bulan yang lalu, hidung tersumbat di kedua sisi hidung , keluar sekret bercampur darah
dirasakan anak. Pasien juga merasakan nafsu makan agak menurun, BB pasien tidak
menurun. Pada hasil pemeriksaan status lokalis telinga didapatkan serumen di telinga kiri dan
kanan, pada pemeriksaan hidung didapatkan massa di cavum nasi sinistra, tidak nyeri, mudah
berdarah dan mobile, didapatkan juga hipertrofi konka inferior dextra dan sinistra, dan
passase udara pada hidung kiri (-).
F. Rencana Pemeriksaan Penunjang

Foto polos waters position dan nasal lateral

11

G. Diagnosis Banding
Tumor cavum nasi sinistra et causa :
1. Suspect Angiofibroma nasofaring ad regio cavum nasi sinistra
2. Suspect Polip nasi sinistra

H. Diagnosa Kerja
Tumor cavum nasi sinistra et causa suspect Angiofibroma nasofaring ad regio cavum
nasi sinistra

I. Penatalaksanaan
1.

Non-medikamentosa
a. Hindari makanan dan minuman dingin
b. Pola hidup sehat

2.

Tidur berkualitas minimal 5 jam sehari

Olahraga minimal 2 x 45 menit seminggu

Makan 4 sehat 5 sempurna

Hubungan baik dengan sesama

Hubungan baik dengan Tuhan

Medikamentosa
a. Syr. Claneksi (forte) 2 dd cth 1
b. Cetirizine tab. 10 mg 1 dd tab 1
c. Vit. K tab. 2 dd tab 1

12

BAB III
HIDUNG

A. Anatomi Hidung
1. Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah
adalah pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela
dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang
dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil
yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka
tulang terdiri dari tulang hidung (os nasalis), prosesus frontalis os maksila dan
prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa
pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu sepasang
kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior
yang disebut juga sebagai kartilago alar mayor, beberapa pasang kartilago alar
minor dan tepi anterior kartilago septum.1, 4

Gambar 1. Anatomi Hidung Luar

13

Gambar 2. Anatomi Tulang Hidung Anterolateral dan Inferior

2. Hidung Dalam
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares
anterior

dan

lubang

belakang

disebut

nares

posterior

(koana)

yang

menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.1


Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang
nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang
mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut
vibrise.1
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk
oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os
etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian
tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela.1
Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium
pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung.
Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan

14

dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral


hidung.1
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling
bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih
kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.1
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan
labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian
dari labirin etmoid. Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat
rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus
yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara
konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada
meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius
terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus
medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior.
Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka
media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.1

Gambar 3. Anatomi Hidung Dalam

a. Batas Rongga Hidung


Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os
maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan
dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari
15

rongga hidung. Lamina kribriformis merupakan lempeng tulang berasal dari os


etmoid, tulang ini berlubang-lubang (kribrosa= saringan) tempat masuknya
serabut-serabut saraf olfaktorius. Dibagian posterior, atap rongga hidung
dibentuk oleh os sfenoid.1

Gambar 4. Rongga Hidung

3. Kompleks Ostiomeatal (KOM)


Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang
berupa celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan
lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah
prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger
nasi dan ressus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat
ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior, yaitu sinus
maksila, etmoid anterior dan frontal. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit
ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang
terkait.1

16

Gambar 5. Kompleks Osteomeatal

17

4. Vaskularisasi Hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari a. Etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika dari a.karotis interna. Bagian
bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di
antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di
belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat
pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat
anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis
superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus
Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering
menjadi sumber epistaksis terutama pada anak.1,4
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke
v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung
tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya
penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.1,4

18

Gambar 6. Pembuluh Darah Hidung


5. Persarafan Hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal
dari n.oftalmikus (N. V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat
persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum.1,4
Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion
ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari
n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus
profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung
posterior konka media.

Gambar 7. Persarafan Hidung


19

Fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina
kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada selsel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.1,4

6. Sistem Mukosiliar
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan
palut lendir di atasnya. di dalam sinus, silia bergerak secara teratur untuk
mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah
tertentu polanya. Pada dinding lateral hidung terdapat dua aliran tanspor
mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang
bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba
eustachius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di
resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di postero-superior muara tuba.
Inilah sebabnya pada sinusitis didapati sekret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi
belum tentu ada sekret di rongga hidung.1

7. Sistem Limfatik
Suplai limfatik hidung sangat kaya dimana terdapat jaringan pembuluh
anterior dan posterior. Jaringan limfatik anterior adalah kecil dan bermuara di
sepanjang pembuluh fasialis yang menuju leher. Jaringan ini mengurus hampir
seluruh bagian anterior hidung vestibulum dan daerah prekonka.
Jaringan

limfatik

posterior

mengurus

mayoritas

anatomi

hidung,

menggabungkan ketiga saluran utama di daerah hidung belakang saluran


superior, media dan inferior. Kelompok superior berasal dari konka media dan
superior dan bagian dinding hidung yang berkaitan, berjalan di atas tuba
eustachius dan bermuara pada kelenjar limfe retrofaringea. Kelompok media,
berjalan di bawah tuba eustachius, mengurus konka inferior, meatus inferior, dan
sebagian dasar hidung dan menuju rantai kelenjar limfe jugularis. Kelompok
inferior berasal dari septum dan sebagian dasar hidung, berjalan menuju kelenjar
limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna.1,4
20

8. Nasofaring
Nasofaring merupakan suatu rongga yang berbentuk mirip kubus, terletak
dibelakang rongga hidung, diatas tepi palatum molle dengan diameter anteriorposterior 2-4 cm, lebar 4 cm yang berhubungan dengan rongga hidung serta
telinga tengah melalui koana dan tuba eustachius. Atap nasofaring dibentuk oleh
dasar tengkorak, tempat keluar dan masuknya saraf otak dan pembuluh darah.2
Dinding depan (anterior) dibentuk oleh kavum nasi posterior atau disebut
juga dengan koana. Dinding depan ini merupakan lubang yang berbentuk oval
yang berhubungan dengan kavum nasi dan dipisahkan pada garis-garis tengah
oleh septum nasi. Dinding atas (superior) dan belakang (posterior) sedikit
menonjol, dinding atas dibentuk oleh basis sfenoid dan basis oksiput, dinding
belakang dibentuk oleh fasia faringobasilaris yang menutup vertebra servikalis
pertama (tulang atlas) dan kedua. Kelenjar limfoid adenoid terletak pada batas
dinding posterior dan atap nasofaring, tetapi kadang-kadang kelenjar adenoid ini
dapat meluas sampai ke muara tuba eustachius.2

Pada bagian tengah kelenjar ini yang tepatnya di bagian atas muskulus
konstriktor superior terdapat lekukan berbentuk kantong kecil yang disebut bursa
faring.Kantong ini sering membentuk kista dan meradang dan dikenal dengan
bursitis dari Thornwaldt. Pada usia 2 tahun adenoid sering mengalami hipertrofi
dan hiperplasia, pertumbuhan ini menjadi lebih cepat pada usia 3-5 tahun dan
sering menyebabkan sumbatan pernafasan melalui hidung dan tuba eustachius.
Setelah usia 5 tahun besarnya relatif menetap dan akan mengalami involusi
setelah masa pubertas, akan tetapi jaringan limfoid masih tetap ada.2

Dinding bawah (inferior), merupakan permukaan atas palatum molle dan


berhubungan dengan orofaring melalui bagian bawah nasofaring yang menyempit
yang disebut dengan istmus faring. Dinding lateral nasofaring merupakan bagian
yang terpenting, dibentuk oleh lamina faringobasilaris dari fasia faringeal dan
muskulus konstriktor faring superior. Pada dinding lateral ini terdapat muara tuba
Eustachius, tepi posterior merupakan tonjolan tulang rawan yang dikenal sebagai
21

torus tubarius, sedangkan fossa Rosenmuller atau resesus lateralis terdapt pada
supero-posterior dari tuba. Jaringan lunak yang menyokong struktur nasofaring
adalah fasia faringobasilar dan muskulus konstriktor faringeus superior yang
dimulai dari basis oksiput tepat di bagian anterior foramen magnum. Fasia ini
mengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale, foramen
spinosum, foramen jugularis, kanalis karotis,dan kanalis hypoglosus. Struktur ini
penting diketahui karena merupakan tempat penyebaran tumor ke intrakranial.2

Gambar 8. Anatomi nasofaring

22

9. Sinus Paranasal

Gambar 9. Sinus Paranasal

Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal, empat buah pada masing-masing
sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan
posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid
kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan
mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium
masing-masing. Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka
superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus
semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.1,5
Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV
dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto
rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk. Pada meatus
superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat
muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.1,5
a. Sinus Maksilaris`1,5
Sinus maksilaris merupakan sinus paranasalis yang terbesar. Sinus ini
sudah ada sejak lahir dan mencapa ukuran maksimum (+ 15 ml) pada saat

23

dewasa. Dari segi klinis yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maxilla
adalah:
1. Dasar sinus maksilaris berhubungan dengan gigi P1, P2, M1, dan M2
2. Ostium sinus maksilaris lebih tinggi dari dasarnya
Sinus

maksilaris

(antrum

of

highmore)

adalah

sinus

yang

pertama berkembang. Struktur ini pada umumnya berisi cairan pada kelahiran.
Pertumbuhan dari sinus ini adalah bifasik dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun
dan 7-12 tahun.Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang
rendah dimana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasinya
dapat sangat luas sampaiakar gigi hanya satu lapisan yang tipis dari jaringan
halus yang mencakup mereka.
Sinus maksilaris orang dewasa berbentuk piramida dan mempunyai
volume kira-kira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). dasar dari piramida adalah dinding
nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zigomatikum. Dinding
anterior mempunyai foramen intraorbital yang berada pada bagian midsuperior
dimana nervus intraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen
ini. Bagian tertipis dari dinding anterior adalah sedikit diatas fossa canina. Atap
dibentuk oleh dasar orbita dan ditranseksi oleh n.infraorbita. dinding posterior
tidak bisa ditandai. Di belakang dari dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris
dengan a.maksilaris interna, ganglion sfenopalatina dan saluran vidian,
n.palatina mayor dan foramen rotundum.
Dasar dari sinus bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun
dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari
sinus secara umum samadengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi
pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu berhubungan dengan penyakit
gigi di sekitar gigi rahang atas, yaitu premolar dan molar.
Cabang dari a. maksilaris interna mendarahi sinus ini. Termasuk
infraorbita, cabang a. sfenopalatina, a. palatina mayor, v. aksilaris dan v.
jugularis system duralsinus. Sedangkan persarafan sinus maksila oleh cabang
dari n.V.2 yaitu n. palatina mayor dan cabang dari n. infraorbita.
24

Ostium sinus maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial


sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum
etmoid, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Ukuran ostium ini ratarata 2,4 mm tapi dapat bervariasi. 88% dari ostium sinus maksilaris bersembunyi
di belakang processus uncinatus sehingga tidak bisa dilihat secara endoskopi.

b. Sinus Ethmoidalis1
Sinus etmoid adalah struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru
dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh
sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai usia 12 tahun. Sel ini
tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai usia 1 tahun. Septa yang ada secara
berangsur-angsur menipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel etmoid
bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sfenoid lateral, ke atap maksila
dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Peyebaran sel etmoid ke konka disebut
konka bullosa.
Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (33 x 27 x
14mm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan dibagi menjadi sel multipel oleh
sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang
penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15). 2/3 anterior tebal dan kuat
dibentuk oleh os frontal dan foveola etmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi
sebelah lateral dan sebelahmedial agak miring ke bawah ke arah lamina
kribiformis. Perbedaan berat antara atapmedial dan lateral bervariasi antara 1517 mm. sel etmoid posterior berbatasandengan sinus sfenoid.
Sinus etmoid mendapat aliran darah dari a.karotis eksterna dan interna
dimana a.sfenopalatina dan a.oftalmika mendarahi sinus dan pembuluh venanya
mengikuti arterinya. Sinus etmoid dipersarafi oleh n V.1 dan V.2, n V.1
mensarafi bagiansuperior sedangkan sebelah inferior oleh n V.2. Persarafan
parasimpatis melaluin.vidianus, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion
servikal. Sel di bagian anterior menuju lamela basal. Pengalirannya ke meatus
mediamelalui infundibulum etmoid. Sel yang posterior bermuara ke meatus
superior dan berbatasan dengan sinus sfenoid. Sel bagian posterior umumnya
lebih sedikit dalam jumlah namun lebih besar dalam ukuran dibandingkan

25

dengan sel bagian anterior. Bula etmoid terletak diatas infundibulum dan
permukaan lateral inferiornya, dan tepi superior prosesus uncinatus membentuk
hiatus semilunaris. Ini merupakan sel etmoid anterior yang terbesar.
Infundibulum etmoid perkembanganya mendahului sinus.
Dinding anterior dibentuk oleh prosesus uncinatus, dinding medial
dibentuk oleh prosesus frontalis os maksila dan lamina papyracea.

c. Sinus Frontalis 1,4,5


Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari
sebagian besar sel-sel etmoid anterior. Os frontal masih merupakan membran
pada saatkelahiran dan mulai mengeras sekitar usia 2 tahun. Perkembangan
sinus mulai usia 5tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun.
Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). Anatomi sinus
frontalis sangat bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk
seperti corong. Dinding posterior sinus yang memisahkan sinus frontalis dari
fosa kranium anterior lebih tipis dan dasar sinus ini juga berfungsi sebagai
bagian dari atap rongga mata.
Sinus frontalis mendapatkan perdarahan dari a.oftalmika melalui
a.supraorbitadan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui v.oftalmica
superior menuju sinuskavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding
posterior yang mengalir kesinus dural. Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang n
V.1. secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan
supratrochlear.
d. Sinus Sfenoidalis 1,5
Sinus sfenoidalis sangat unik karena tidak terbentuk dari kantong
ronggahidung. Sinus ini dibentuk dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin.
Tidak berkembang sampai usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah
mencapai sela turcica. Sinus mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun.
Usia belasan tahun, sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan
volume 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm). Pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis,
sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak
posterosuperior dari rongga hidung. Dinding sinus sphenoid bervariasi
ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm).
26

Dinding yang lain lebih tebal. Letak dari sinus oleh karena hubungan
anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Ostium sinus sfenoidalis
bermuara ke recessus sfenoetmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5 -4 mm) dan
letaknya 10 mm di atas dasar sinus.
Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh a.ethmoid posterior, sedangkan
bagian lainnya mendapat aliran darah dari a.sfenopalatina. Aliran vena melalui
v.maksilaris ke v.jugularis dan pleksus pterigoid. sinus sfenoid dipersarafi oleh
cabang n V.1 danV.2. n.nasociliaris berjalan menuju n.etmoid posterior dan
mempersarafi atap sinus. Cabang-cabang n.sfenopalatina mempersarafi dasar
sinus

B. Fisiologi
1. Fisiologi Penghiduan
Sensasi penghidu diperantarai oleh stimulasi sel reseptor olfaktorius oleh zat zat kimia yang mudah menguap. Untuk dapat menstimulasi reseptor olfaktorius,
molekul yang terdapat dalam udara harus mengalir melalui rongga hidung dengan
arus udara yang cukup turbulen dan bersentuhan dengan reseptor. Faktor-faktor yang
menentukan efektivitas stimulasi bau meliputi durasi, volume dan kecepatan
menghirup. Tiap sel reseptor olfaktorius merupakan neuron bipolar sensorik
utama.4,6,7
Dalam rongga hidung rata-rata terdapat lebih dari 100 juta reseptor. Neuron
olfaktorius bersifat unik karena secara terus menerus dihasilkan oleh sel-sel basal
yang terletak dibawahnya. Sel-sel reseptor baru dihasilkan kurang lebih setiap 30-60
hari.7,8
Pada inspirasi dalam, molekul udara lebih banyak menyentuh mukosa olfaktorius
sehingga sensasi bau bisa tercium. Terdapat beberapa syarat zat-zat yang dapat
menyebabkan perangsangan penghidu yaitu zat-zat harus mudah menguap supaya
mudah masuk ke dalam kavum nasi, zat-zat harus sedikit larut dalam air supaya
mudah melalui mukus dan zat-zat harus mudah larut dalam lemak karena sel-sel
rambut olfaktoria dan ujung luar sel-sel olfaktoria terdiri dari zat lemak.4,6
Zat-zat yang ikut dalam udara inspirasi akan larut dalam lapisan mukus yang
berada pada permukaan membran. Molekul bau yang larut dalam mukus akan terikat
oleh protein spesifik (G-PCR). G-protein ini akan terstimulasi dan mengaktivasi
27

enzim Adenyl Siklase. Aktivasi enzim Adenyl Siklase mempercepat konversi ATP
kepada cAMP. Aksi cAMP akan membuka saluran ion Ca++, sehingga ion
Ca++ masuk ke dalam silia menyebabkan membran semakin positif, terjadi
depolarisasi hingga menghasilkan aksi potensial. Aksi potensial pada akson-akson sel
reseptor menghantar sinyal listrik ke glomeruli (bulbus olfaktorius). Di dalam
glomerulus, akson mengadakan kontak dengan dendrit sel-sel mitral. Akson sel-sel
mitral kemudiannya menghantar sinyal ke korteks piriformis sistem limbik (area 34
dan 28), medial amigdala dan korteks enthoris (berhubungan dengan memori) untuk
mengidentifikasi bau.7

Gambar. 10 Fisiologi Pengidu


2. Fisiologi Hidung1,4,9
Fungsi hidung ialah untuk jalan napas, alat pengatur kondisi udara (air
conditioning), penyaring udara, sebagai indra penghidu, untuk resonansi suara, turut
membantu proses bicara dan refleks nasal.
a. Sebagai Jalan Napas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran
udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui
koana dan kemudian mengikuti jalan yang sam seperti udara inspirasi. Akan
tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian akan melaui nares
anterior dan sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan
bergabung dengan aliran dari nasofaring.

28

Gambar 11. Proses Inspirasi


b. Pengatur Kondisi Udara
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus paru. Fungsi ini dilakukan dengan
cara mengatur kelembaban udara dan mengatur suhu.
Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir
(mucous blanket). Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air,
penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi
keadaan sebelumnya.
Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh
darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas,
sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara
setelah melalui hidung kurang lebih 37 oC.
c. Sebagai Penyaring Dan Pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan
bakteri dandilakukan oleh : rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, serta
palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir
dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut
lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Faktor lain ialah enzim
yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, yang disebut lysozyme.
d. Indra Penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum. Partikel bau dapat dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan
palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat.

29

e. Resonansi Suara
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan
menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau
hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia).
f. Proses Bicara
Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah,
bibir dan palatum mole. Pada pembentukan konsonan nasal rongga mulut
tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran darah.
g. Refleks Nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

3. Fisiologi Sinus Paranasal 1,4,9


Berbagai

teori telah

dikembangkan untuk

menjelaskan fungsi

dari

sinus paranasal. Teori ini meliputi fungsi dari kelembaban udara inspirasi,
membantu pengaturan tekanan intranasal dan tekanan serum gas, mendukung
pertahanan imunitas, meningkatkan area permukaan mukosa, meringankan volume
tengkorak, membantu resonansi suara, menyerap goncangan dan mendukung
pertumbuhan muka.
a. Mengatur Kelembaban Udara Inspirasi
Menurut beberapa teori walaupun mukosa hidung telah beradaptasi
untuk melakukan fungsi ini, sinus tetap berperan pada area permukaan mukosa
dankemampuannya untuk menghangatkan. Beberapa peneliti memperlihatkan
bahwa bernafas dengan mulut dapat menurunkan volume akhir CO2 yang
dapatmeningkatkan kadar CO2 serum dan berperan pada sleep apnea.
Meskipun sinus dianggap dapat berfungsi sebagai ruang tambahan
untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi, namun teori ini
memiliki kelemahan karena tidak didapati pertukaran udara yang definitif antara
sinus danrongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Selain itu mukosa sinus
juga tidak memilikivaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
30

b.

Penyaringan Udara
Oleh karena produksi mukosa sinus, mereka berperan pada pertahanan
imunatau penyaringan udara yang dilakukan oleh hidung. Hidung dan mukosa
sinus terdiridari sel silia yang berfungsi untuk menggerakan mukosa ke koana.
Penelitian yang paling terbaru pada fungsi sinus berfokus pada molekul Nitrous
Oxide (NO). studimenunjukkan bahwa produksi NO intranasal adalah secara
primer pada sinus. Telahkita ketahui bahwa NO bersifat racun terhadap bakteri,
jamur dan virus pada tingkatan sama rendah 100 ppb. Konsentrasi ini dapat
menjangkau 30.000 ppbdimana beberapa peneliti sudah berteori tentang
sterilisasi sinus. NO juga meningkatkan pergerakan silia.
Mukus

yang

dihasilkan

oleh

sinus

paranasal

jumlahnya

kecil

dibandingkandengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk


membersihkan partikel yangturut masuk dengan udara inspirasi karena mukus
ini keluar dari meatus medius,merupakan tempat yang paling strategis.
c.

Fungsi Sinus Lainnya


Sinus

diyakini

dapat

membantu

keseimbangan

kepala

karena

mengurangi berat tulang muka, namun bila udara dalam sinus digantikan dengan
tulang, hanya akan memberikan pertambahan berat sebanyak 1% dari berat
kepala, sehingga dianggap
tidak bermakna. Sinus juga dianggap berfungsi sebagai peredam perubahan
tekanan udara apabila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak seperti
pada saat bersin atau membuang ingus. Sinus tidak mempunyai fungsi fisiologis
yang nyata. Beberapa peneliti mendukung opini bahwa sinus juga berfungsi
sebagai indra penghidu dengan jalan memudahkan perluasan dari etmokonka,
terutama sinus frontalis dan sinus etmoidalis. Namun menurut penelitian
lainnya, etmokonka manusia telah menghilang selama proses evolusi. Sinus
mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Namun ada teori yang menyatakan bahwa posisi sinus dan
ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.
Fungsi sebagai peredam perubahan tekanan udara ini berjalan bila ada
perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau
membuang ingus. Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang
jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif
31

untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena
mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis.

32

BAB IV
ANGIOFIBROMA NASOFARING

A. Pengertian
Angiofibroma nasofaring atau Juvenil Nasofaring Angiofibroma (JNA) adalah
tumor jinak pembuluh darah di nasofaring yang secara histologik jinak namun secara
klinis bersifat ganas, karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas
ke jaringan sekitarnya, seperti ke sinus paranasal, pipi, mata dan tengkorak, serta
sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas
dan remaja.1
B. Etiologi dan Faktor Presdiposisi
Etilogi Tumor ini masih belum jelas, berbagai macam teori banyak diajukan.
Salah satu diantaranya adalah teori jaringan asal, yaitu pendapat bahwa tempat
perlekatan spesifik angiofibroma adalah dinding posterolateral atap rongga hidung
atau pertumbuhan abnormal jaringan fibrokartilago embrional di daerah oksipital os
spenoidalis. Faktor ketidakseimbangan hormon (kekurangan androgen dan kelebihan
estrogen) juga merupakan salah satu penyebabnya. 1
C. Epidemiologi
Insiden JNA adalah 1 dari 5000-60.000 kasus THT dan dilaporkan 0,05% dari
semua tumor kepala dan leher. Umumnya JNA terjadi pada laki-laki dekade kedua
kehidupan, tepatnya pada rentang usia 7-19 tahun. JNA jarang terjadi setelah usia 25
tahun.1
D. Patogenesis
Tumor pertama kali tumbuh dibawah mukosa di tepi sebelah posterior dan
lateral koana di atap nasofaring. Tumor akan tumbuh besar dan meluas dibawah
mukosa, sepanjang atap nasofaring, mencapai tepi posterior septum dan meluas
kearah bawah membentuk tonjolan massa di atap rongga hidung posterior. Perluasan
kearah anterior akan mengisi rongga hidung, mendorong septum ke sisi kontralateral
dan memipihkan konka.1
Pada perluasan kearah lateral, tumor melebar ke arah foramen sfenopalatina,
masuk ke fisura pterigomaksila dan akan mendesak dinding posterior sinus maksila.
Bila meluas terus akan masuk ke fossa intratemporal yang akan menimbulkan
benjolan di pipi, dan rasa penuh di wajah. Apabila tumor telah mendorong salah
satu atau kedua bola mata maka tampak gejala yang khas pada wajah, yang disebut
muka kodok. 1

33

Perluasan ke intrakranial dapat terjadi melalui fosa infratemporal dan


pterigomaksila masuk ke fosa serebri media. Dari sinus etmoid masuk ke fosa serebri
anterior atau dari sinus sfenoid ke sinus kavernosus dan fosa hipofise.1

Gambar 12.Perjalanan penyebaran angiofibroma nasofaring


E. Gejala Klinis
1. Anamnesis
Gejala yang paling sering ditemukan (lebih dari 80%) ialah hidung tersumbet
yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. Adanya obstruksi hidung
memudahkan terjadinya penimbunan sekret, sehingga timbul rinorea kronis yang
diikuti oleh gangguan penciuman. Tuba Eustachius akan menimbulkan ketulian atau
otalgia. Sefalgia hebat biasanya menunjukan bahwa tumor sudah meluas ke
intrakranial.1
Epistaksis yang massif dan berulang merupakan tanda tanda JNA. Mata
menonjol (proptosis), pembengkakan pada wajah, pembengkakan pada langitlangit
mulut dan trismus merupakan tanda tanda bahwa tumor telah menyebar ke fossa
infratemporal.Tuli konduktif dan otalgia diakibatkan karna obstruksi tuba eustachius.
Perluasan ke rongga kranial dapat dikoreksi dengan adanya penglihatan dobel
(diplopia) yang dikeluhkan oleh pasien karena tumor telah mulai menekan kiasma
optik. 1

34

2. Pemeriksaan Fisik
Pada Pemeriksaan fisik secara rinoskopi posteior akan terlihat massa tumor
yang konsistensinya kenyal, warnanya bervariasi dari abu-abu sampai merah muda.
Bagian tumor yang terlihat di nasofaring biasanya diliputi oleh selaput lendir
berwarna keunguan, sedangkan bagian yang meluas ke luar nasofaring berwarna putih
atau abu-abu. Pada usia muda warnanya lebih muda, pada usia yang lebih tua
warnanya kebiruan, karena lebih banyak komponen fibromanya. Mukosanya
mengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan adanya ulserasi.1
3. Pemeriksaan Penunjang
Angiofibroma merupakan tumor yang mudah berdarah sehingga sebagai
pemeriksaan penunjang diagnosisnya dilakukan pemeriksaan radiologik konvensional
CT Scan serta pemeriksaan arteriografi. Pada pemeriksaan CT Scan akan terlihat
gambaran klasik yang disebut dengan Holman Miller yaitu pendorongan prosesus
pterigoideus ke belakang sehingga fisura pterigo-palatina melebar.1
Diagnosis menjadi sangat nyata dengan adanya gambaran vaskularisasi tumor
dan riwayat epistaksis pada remaja pria sehingga biopsi sebelum operasi tidak boleh
dilakukan, karena tindakan ini dapat menyebabkan pendarahan yang tidak terkontrol.
Arterogram cukup unuk membuat diagnosis.3
Pada pemeriksaan ateriografi arteri karotis eksterna akan memperlihatkan
vaskularisasi tumor yang biasanya berasal dari cabang a.maksila interna homolateral.
Arteri maksilaris interna akan terdorong kedepan sebagai akibat dari pertumbuhan
tumor dari posterior ke anterior dan dari nasofaring kearah fossa pterigimaksila.
Selain itu, masa tumor akan terisi oleh kontras pada fase kapiler dan akan mencapai
maksimum setalah 3-6 detik zat kontras disuntikkan. Pemeriksaan patologik anatomik
tidak dapat dilakukan, karena biopsi merupakan kontraindikasi.Hal ini dikarenakan
tindakan ini dapat menyebabkan perdarahan yang masif. Pada kasus ini diperlukan
pemeriksaan Hb untuk mengoreksi anemia yang kronis.1

35

Gambar 13. Gambaran Holman Miller CT Scan

F. Diagnosis Banding
Diagnosis banding angiofibroma nasofaring juvenil yaitu polip hidung, polip
antrokoanal, teratoma, ensefalokel, kista dermoid, inverted papiloma,
rhabdomiosarkoma dan karsinoma sel skuamosa.1
G. Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.Untuk menentukan derajat atau stadium tumor umumnya
digunakan klasifikasi Session, Fisch dan Chandler. Hal ini penting guna untuk
menentukan jenis penatalaksanaan seperti apa yang akan diberikan pada pasien.
1. Klasifikasi menurut Session sebagai berikut :1

Stadium IA : Tumor terbatas di nares posterior dan atau nasofaringeal voult

Stadium IB : Tumor meliputi nares posterior dan atau nasofaringeal voult


dengan meluas sedikitnya satu sinus paranasal

Stadium IIA : Tumor meluas sedikit ke fossa pterigomaksila

Stadium IIB : Tumor memenuhi fossa pterigomaksila tanpa mengerosi tulang


orbita

Stadium IIIA : Tumor telah mengerosi dasar tengkorak dan meluas sedikit ke
intrakranial
36

Stadium IIIB : Tumor telah meluas ke intra kranial dengan atau tanpa meluas
ke sinus kavernosus

2. Klasifikasi menurut Fisch sebagai berikut :

Stadium I : Tumor terbatas di rongga hidung, nasofaring tanpa mendestruksi


tulang

Stadium II : Tumor menginvasi fossa pterigomaksila, sinus paranasal dengan


destruksi tulang

Stadium III : Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dengan atau
region paraselar

Stadium IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus, region kiasma optik dan


fossa pituitari

3. Klasifikasi menurut Chandler sebagai berikut :

Stadium I : Tumor di nasofaring

Stadium II : Tumor meluas ke rongga hidung atau sinus sphenoid

Stadium III : Tumor meluas kedalam antrum, sinus eitmoid, fossa


pterigomaksila, fossa infratemporalis, orbita dan atau pipi

Stadium IV: Tumor meluas ke rongga intrakranial

H. Penatalaksanaan
Tindakan operasi merupakan pilihan utama selain terapi hormonal, radioterapi.
Operasi harus dilakukan dengan hati hati di rumah sakit dengan fasilitas cukup
mengingat komplikasi perdarahan yang hebat akan terjadi.Terapi hormonal yang biasa
diberikan yaitu dietilstilbestrol yang dosisnya 5 mg peroral yang makan 6 minggu.1
Embolisasi pada pembuluh darah tumor mengakibatkan terjadinya atrombosis
intravaskuler, sehingga suplai darah ke tumor berkurang dan mempermudah
pengangkatan tumor. Embolisasi dilakukan dengan memasukkan suatu zat melalui
arteri karotis eksterna lalu ke arteri maksilaris interna.1
Sebelum dilakukan operasi pengangkatan tumor selain embolisasi untuk
mengurangi perdarahan yang banyak dapat dilakukan ligasi arteri karotis eksterna dan
anastesi dengan teknik hipoestesi. Berbagai pendekatan operasi dapat dilakukan
sesuai dengan lokasi tumor dan perluasanya seperti melalui transpalatal, rinotomi
lateral, rinotomi sublabial atau kombinasi dengan kraniotomi frontotemporal bila
diduga tumor telah meluas ke ruang intrakranial.1,4
37

Untuk tumor yang sudah meluas ke jaringan sekitarnya dan telah mendestruksi
dasar tengkorak sebaiknya diberikan radioterapi prabedah atau dapat pula diberikan
terapi hormonal dengan preparat testosterone reseptor bloker (flutamid) 6 minggu
sebelum operasi meskipun hasilnya tidak sebaik radioterapi.1,4

38

DAFTAR PUSTAKA

1.

2.
3.
4.
5.

Averdi R, Umar SD. Angiofibroma Nasofaring Belia. Dalam : Efiaty AS, Nurbaiti I.
Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 6,Cetakan
ke 1, Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 2007. 188-190.
Grooves J.Gray RF. Nasopharynx in : A Synopsis of Otolaringology. Fourth edition.
England:John Wright and Sons Ltd.1985:249
Higler, Adam Boies. 2007. Boies : Buku Ajar Penyakit THT (Boies Fundamental of
otolaryngology) Ed.6. Jakarta : EGC
Reddy KA, Mendenhall WM, Amdur RJ, et al. Long-term results of radiation therapy for
juvenile nasopharyngeal angiofibroma. Am J Otolaryngol2001; 22(3):172-175
John Jacob Ballenger. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi
Ketigabelas. Binarupa Aksara: Jakarta. 1997

6.

Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology. Thieme: NewYork. 2006.

7.

James BS, Ballengers. Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. BC


Decker: Hamilton. 2002.

8.

Bailey BJ, Healy GB, Johnson JT. Head and Neck Surgery Otolaryngology, 3rd Edition.
Lippincott Williams & Wilkins Publisher. 2001.

9.

Guyton, AC, Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 9. EGC: Jakarta.1997.

39