Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENDUGAAN PRODUKTIVITAS

PERAIRAN

Oleh :
Kelompok I
Arni Khurnia Suci
Sri Rahayu
Tri Suntari
Muhammad Faqih Zuhri
Jihan Ibnu Hayyan
Asisten

B0A013041
B0A0130
B0A0130
B0A0130
B0A0130

: Rizal

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI D III PENGELOLAAN SUMBERDAYA
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2014

I. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Parameter Fisik dan Kimia Pendugaan Produktifitas Perairan

No.

Parameter

Hasil Pengukuran
Ulangan 1

Ulangan 2

Rata-rata

FISIK
1

Kedalaman

0,6 m

0,6 m

0,6 m

Kecerahan

0,09 m

0,08 m

0,0875m

Suhu air

290C

320C

30,50C

TDS

49

49mg/l

Hasil pengukuran kecerahan pada Situ Bamban Jatilawang diperoleh


nilai kecerahan air rata-ratanya sebesar 0,6 m atau 60 cm kondisi kecerahan baik.
Hal ini sesuai dengan pustaka tingkat kecerahan yang baik berkisar antara 3065
cm yang mendukung untuk produktifitas organisme akuatik (Boyd dan
Licthkoppler, 1979 dalam Suwondo dkk, 2005). Nilai kecerahan air rata-rata
dibawah 40 cm, kondisi ini cenderung tidak baik untuk kehidupan ikan.
Hasil rata-rata pengukuran kedalaman pada Situ Bamban Jatilawang
sebesar 0,875 m yang berarti pada stasiun tersebut kedalaman perairan dapat
dikatakan dangkal karena kurang dari 3 meter, hal tersebut terjadi karena saat
pengukuran kelompok kami dipinggir perairan tidak ditengah perairan. Menurut
Setiawan, 2010 dalam Siagian, 2009, kedalaman perairan sangat berpengaruh
terhadap kualitas air pada lokasi tersebut. Lokasi yang dangkal (< 3 m) akan lebih
mudah terjadinya pengadukan dasar akibat dari pengaruh gelombang.
Suhu rata-rata sebesar 30,5oC jika ditinjau dengan pustaka suhu pada
stasiun tersebut masih dapat ditolerir oleh organisme dan sesuai dengan
temperatur fitoplankton serta termasuk suhu optimal untuk pertumbuhan
zooplankton. Menurut Soetjipta, (1993), dalam Azwar (2001, hlm: 51), bahwa
temperatur yang masih dapat ditolerir oleh organisme pada suatu perairan berkisar
antara 20-30oC, dan temperatur yang sesuai dengan fitoplankton berkisar antara
25-30oC, sedangkan temperatur yang optimal untuk pertumbuhan dari
zooplankton berkisar antara 15-35oC.

Hasil dari praktikum diperoleh nilai rata-rata TDS sebesar 49 mg/l jika
ditinjau dari pustaka harga rataan TDS memiliki konsentrasi mineral yang sangat
rendah karena nilai TDS kurang dari 50 mg/l dan pada stasiun tersebut dapat
dikatakan bahwa nilai total TDS jauh dari nilai total TDS yang kaya akan mineral.
Menurut Hutter, (1990) dalam Barus, (2004) menyatakan bahwa pada perairan
yang konsentrasi mineralnya sedikit mempunyai harga total dissolved solid
berkisar antara 50 mg/l 400 mg/l, sementara pada perairan yang kaya akan
mineral mempunyai harga total dissolved solid pada kisaran antara 500 mg/l
2000 mg/l. Hasil pengukuran bahwa nilai TDS pada ketiga stasiun melebihi baku
mutu air.
No.

Parameter

Hasil Pengukuran
Ulangan 1

Ulangan 2

Rata-rata

KIMIA
1

O2

5,4 mg/L

5,8 mg/L

5,6 mg/L

pH

Nitrat

4,8150

4,8150

Nitrit

0,0830

0,0830

Amonia

0,8688

0,8688

Total Fosfat

0,1162

0,1162

Ortofosfat

0,1387

0,1387

Berdasarkan hasil praktikim niali oksigen rata-rata adalah 5,6mg/l.nilai


yang diperoreh cukup baik untuk kelangsungan hidup organisme air karena diatas
2mg/l. Oksigen diperlukan oleh organisme air untuk menghasilkan energi yang
sangat

penting

bagi

pencernaan

dan

asimilasi

makanan

pemeliharaan

keseimbangan osmotik, dan aktivitas lainnya. Jika persediaan oksigen terlarut di


perairan sangat sedikit maka perairan tersebut tidak baik bagi ikan makhluk hidup
lainnya

yang hidup

di

perairan,karena

akan

mempengaruhi

kecepatan

pertumbuhan organisme air tersebut. Kandungan oksigen terlarut minimum 2


mg/l, sudah cukup mendukung kehidupan organisme perairan secara normal
(Warhdana, 1995). Hasil ini menunjukan bahwa ikan yang hidup dalam perairan
ini dapat bertahan namun pertumbuhannya terganggu karena nilai DO yang

biasanya disukai oleh ikan adalah > 5 mg/l. Oksigen terlarut dalam perairan faktor
penting sebagai pengatur metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan
berkembang biak. Sumber oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi oksigen
yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas
fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Warhdana, 1995). Difusi oksigen
atmosfer ke air bisa terjadi secara langsung pada kondisi air stagnant (diam) atau
terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau
angin. Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan pada hakekatnya berlangsung
relatif lambat, meskipun terjadi pergolakan massa air atau gelombang besar
oksigen pada perairan danau dan waduk merupakan hasil sampingan aktivitas
fotosintesis. Proses fotosintesis, karbondioksida direduksi menjadi karbohidrat
dan air mengalami dehidrogenasi menjadi oksigen. Oksigen lebih banyak
dihasilkan oleh fotosintesis alga yang banyak terdapat pada zone epilimnion pada
perairan danau, sedangkan pada perairan tergenang yang dangkal dan banyak
ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan oksigen lebih banyak
dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Keberadaan oksigen terlarut di
perairan sangat dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan tekanan atmosfer. Penyebab
utama berkurangnya kadar oksigen terlarut alam air disebabkan karena adanya zat
pencemar yang dapat mengkonsumsi oksigen. Sehingga, kandungan oksigen
terlarut pada suatu perairan dapat dijadikan sebagai indikator kualitas
perairan(Lee et al.,1978).
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter yang dapat
menentukan produktivitas suatu perairan. Setiap organisme membutuhkan derajat
keasaman (pH) yang optimum bagi kehidupannya. Pescod, (1973), mengatakan
bahwa batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi bergantung pada faktor
fisika, kimia dan biologi. pH yang ideal untuk kehidupan fitoplankton berkisar
antara 6.5-8.0.Organisme dapat hidup dalam suatu perairan yang mempuyai nilai
pH netral dengan kisaran toleransi asam lemah sampai basa lemah. Nilai pH yang
ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya sangat basa akan
membahayakan kelangsungan hidup organisme, karena akan menyebabkan
terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2004). Derajat keasaman
merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam perairan. Secara

umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan


suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan
kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan
bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan
menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam mineral bebas dan asam
karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Sesuai dengan pustaka, hasil dari
pengukuran pH pada Situ Bamban Jatilawang sebesar 6 dan pH pada perairan
tersebut masih dikatakan ideal bagi kelangsungan hidup fitoplankton.
Fosfat dan nitrat merupakan senyawa kimia yang sangat penting untuk
mendukung kehidupan organisme dalam suatu perairan antara lain fitoplankton
yang digunakan sebagai makanan berbagai jenis ikan (Muchtar, 1980, hlm: 21).
Fitoplankton dapat menghasilkan energi dan molekul yang kompleks jika tersedia
bahan nutrisi yang paling penting adalah nitrat dan fosfat (Nybakken, 1992, hlm:
39-42). Nutrien sangat dibutuhkan oleh fitoplankton dalam perkembangannya
dalam jumlah besar maupun dalam jumlah yang relatif kecil. Setiap unsur hara
mempunyai

fungsi

khusus

pada

pertumbuhan

dan

kepadatan

tanpa

mengesampingkan pengaruh kondisi lingkungan. Unsur N, P, K, dan S, sangat


penting untuk pembentukan protein dan K berfungsi dalam metabolisme
karbohidrat. Fe dan Na berperan dalam pembentukan Klorofil, dan Si dan Ca
merupakan bahan untuk dinding sel atau cangkang. Sedangkan silikat (Si) lebih
banyak digunakan oleh diatom dalam pembentukan didnding sel (Raymont, 1963
dalam Hutauruk, 1984, hlm: 46). Nitrat dan fosfat yang optimal untuk
pertumbuhan fitoplankton masing-masing 3,9 mg/l 15,5 mg/L dan 0,27 mg/l
5,51 mg/l (Mackentum, 1969 dalam Haerlina, 1987, hlm: 6-7) Tetapi untuk
kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan kadar nitrat yang dianjurkan
adalah < 1,5 mg/l (Susanto Heru, 1994).
Berdasarkan dari hasil pengukuran nitrit, nitrat, amoniak, total fosfat dan
ortofosfat adalah sebesar 0,0830mg/l, 4,8150 ml/l, 0,8688 mg/l, 0,1162 mg/l dan
mg/l, 0,1387. Menurut Alaerts dan Santika (1984), nitrat dapat digunakan untuk
mengklasifikasi tingkat kesuburan perairan. Perairan oligotrofik kadar nitrat ideal
0 1 mg/l, perairan mesotrofik kadar nitrat ideal 1 5 mg/l, perairan eutrofik
kadar nitrat ideal 5 50 mg/l. Menurut Susanto Heru (1994), nitrat dan fosfat

yang optimal untuk pertumbuhan fitoplankton masing-masing 3,9 mg/l 15,5


mg/L dan 0,27 mg/l 5,51 mg/l namun Mackentum, 1969 dalam Haerlina, 1987,
hlm: 6-7 menyatakan bahwa untuk kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan
ikan kadar nitrat yang dianjurkan adalah < 1,5 mg/l. Menurut Wetzel (1975)
dalam Sulawesty dan Sumarni (2004), nilai ortofosfat 0,031 0,100 mg/l
menunjukkan perairan yang subur/ eutrofik. Menurut Effendie (2002), nilai nitrat
dan nitrit dapat dikatakan jauh dari nilai optimal untuk pertumbuhan fitoplankton
namun masih dikatakan optimum untuk kelangsungan hidup ikan sedangkan nilai
fosfat dan ortofosfat masih dalam batas optimum untuk pertumbuhan plankton.

B.

Kelimpahan dan Biomassa Fitoplankton

BIOLOGI

= 664

ABS

0.195

K x ABS

0.1953

ABS

-0.000

K x ABS

-0.0002

ABS

0.000

K x ABS

0.0001

ABS

0.124

K x ABS

0.1239

= 750
1

Klorofil
= 750 + HCl

= 665 + HCl

6319

Total Klorofil
2

Jenis
Plankton

1. Eremosphaera
viridis

1. Scytonema sp

Secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah


kualitas air pada suatu perairan masih baik atau sudah kurang baik, hal ini dinyatakan
dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan (Hardjojo
dan Djokosetiyanto, 2005; Effendi, 2003). Secara singkat dinyatakan dalam jumlah dan
jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan (Hardjojo dan
Djokosetiyanto, 2005; Effendi, 2003).
Berdasarkan hasil praktikum yang kami peroleh nilai klorofil-a pada tabel diatas
menunjukan bahwa perairan dengan status mesotrofik dengan kandungan 3 - 7g/L.

Menurut Malaha (2004) dalam Odum (1971) nilai klorofil di permukaan


dikelompokkan rendah, sedang, dan tinggi dengan kandungan klorofil a secara
berturut-turut rendah (<0.07 mg/m3), sedang (0.07 mg/m3 0.14 mg/m3), dan
tinggi (> 0.14 mg/m3). Kaitannya dengan status trofik di perairan air tawar,
menurut Afrianti (2000) dalam Sumawidjaya (1974) membagi status trofik
menjadi empat yaitu oligotrofik dengan kandungan klorofil kurang dari 3g/L,

mesotrofik dengna kandungan klorofil 3 7g/L, eutrofik 7 40 g/L, dan hyper


eutrofik dengan kandungan klorofil di atas 40 g/L.
Sifat- sifat plankton yaitu memiliki pigmen yang lengkap mulai dari klorofil-a
hingga klorofil-c, sehingga kadang diberi nama berdasarkan warnanya. Kesuburan
perairan, salah satu indikatornya dinyatakan dalam konsentrasi klorofil-a (Basmi, 2000).
Kandungan klorofil-a pada setiap jenis dalam kelas, berbeda berdasarkan kemampuan
menyerap dan membiaskan panjang gelombang cahaya yang diterima.
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil, mampu
melaksanakan reaksi fotosintesa menghasilkan senyawa organik. Pigmen klorofil-a
merupakan pigmen yang paling besar dan dominan dibandingkan dengan klorofil-b atau
klorofil-c. Kandungan klorofil-a berbeda berdasarkan lokasi (Nontji, 2005), dan
mempunyai hubungannya positif antara total fitoplankton dan klorofil-a (Akbulut, 2003)

Berdasarkan hasil praktikum yang kami peroleh pada pengulangan pertama kami
mendapatkan 6 jenis fitoplankton dan 3 jenis zooplankton. Dorsal flow Nuglypha laevis
Brachionus plicatilo

Macrospora sp

Klasifikasi (Smith, 1955). Imam Prasetyo, Triastono

1967. Beberapa Genus Alga Air Tawar

Sistematika dan Deskripsi (Menurut Gilbert M. Smith). Malang: FMIPA IKIP MALANG.

Divisio

Chlorophyta

Kelas

Chlorophyceae

Ordo

Ulothrichales

Familia

Ulothrichaceae

Genus

Microspora

Spesies

Microspora sp.

Closterium sp

Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Bangsa : Zygnematales
Suku

: Desmidiaceae

Marga : Closterium
Jenis

: Closterium sp.

Closterium rostratum
Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Bangsa : Zygnematales
Suku

: Desmidiaceae

Marga : Closterium
Jenis

: Closterium rostratum

Cosmarium sp
Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Bangsa : Zygnematales
Suku

: Desmidiaceae

Marga : Cosmarium
Jenis

: Cosmarium sp.

Sphaerocystis sp
Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Bangsa : Tetrasporales
Suku

: Palmellaceae

Marga :
Jenis

Sphaerocystis

: Sphaerocystis sp.

Botryococcus sp
Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Bangsa : Chlorococcales
Suku

: Dictyosphaeriaceae

Marga : Botryococcus
Jenis

: Botryococcus braunii

Plankton merupakan organisme pelagik yang mengapung atau bergerak


mengikuti arus (Bal and Rao, 1984), terdiri atas dua tipe yakni fitoplankton dan
zooplankton. Plankton mempunyai peranan penting dalam ekosistem di laut, karena
menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan laut (Nontji, 1993 ; Nybakken, 1992).
Menurut Newell and Newell (1963) daur hidupnya plankton digolongkan atas:
- Holoplankton adalah plankton yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik
- Meroplankton merupakan organisme akuatik yang sebagian dari daur
hidupnya bersifat planktonik.
Fitoplankton hanya dapat hidup di tempat yang mempunyai sinar yang
cukup, sehingga fitoplankton hanya dijumpai pada lapisan permukaan air atau daerahdaerah yang kaya akan nutrien (Hutabarat dan Evans, 1995). Produktifitas fitoplankton
dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara nitrat dan fosfat serta makrophite (Boyd,
1981). Fitoplankton sebagai pakan alami mempunyai peran ganda, yakni berfungsi
sebagai penyangga kualitas air dan dasar dalam rantai makanan di perairan atau yang
disebut produsen primer (Odum, 1979).
Distribusi fitoplankton menjadi penting karena kemampuan beradaptasi dari
jenis-jenis fitoplankton tersebut. Perubahan komposisi jenis dan kepadatan terjadi
karena pengaruh faktor-faktor berupa perubahan musim, jumlah konsentrasi cahaya
dan temperatur. Perubahan-perubahan kandungan meneral, salinitas, run off, dan
aktifitas di darat dapat juga merubah komposisi fitoplankton di laut (Basmi, 2000

C.

Produktifitas Primer
Produktivitas merupakan daya produksi bahan organik oleh organisme

produsen. Produktivitas primer atau dasar dari suatu ekosistem adalah laju perubahan
energi matahari menjadi bentuk senyawa-senyawa organik yang dapat digunakan
sebagai bahan pangan (Odum, 1996 :54). Sedangkan Menurut Watzel dan Linkens
(2000), produktivitas adalah semua yang menyangkut tentang jumlah kenaikna
pertumbuhan dari semua hal yang berhubungan dengan specimen atau bagian dari
populasi. Pengukuran produktivitas primer dalam suatu perairan digunakan sebagai
salah satu cara mengetahui tingkat kesuburan perairan, karena produktivitas primer
fitoplankton menggambarkan masukan terbesar materi organik baru keperairan,
menunjukkan tersedianya nutrisi bagi pertumbuhan fitoplankton (Wetzel, 2001 : 376).
Pengukuran produktivitas primer dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti
metode harvest, metode botol gelap-terang, metode klorofil dan metode fiksasicarbon14 (Michael, 1984 : 235-238).
Menurut Odum (1996 : 55), produktivitas primer dibagi menjadi dua tahapan
yaitu produktivitas primer kotor dan produktivitas primer bersih. Produktivitas primer
bersih yaitu laju total dari fotosintsis, termasuk bahan organik yang habis digunakan
pada proses respirasi selama masa pengukuran. Hal ini dikenal juga sebagai fotosintesi
total. Produktivitas primer bersih yaitu laju penyimpanan kelebuhan bahan organik pada
tubuh organisme dari penggunaan respirasi oleh organisme selama jangka waktu
pengukuran.
Produktivitas primer diestimasi sebagai jumlah karbon yang terrdapat di dalam
material hidup dan secara umum dinyatakan sebagai jumlah gram karbon yang
dihasilkan dalam 1 meter kuadrat kolom air per hari (g C/m2/hari atau jumlah gram
karbon yang dihasilkan dalam satu meter kubik per hari (g C/m3/hari) (Levinton, 1982;

Tubalawony, 2007:7). Selain jumlah karbon yang dihasilkan, tinggi rendahnya


produktivitas primer perairan dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap
biomassa fitoplankton dan konsentrasi klorofil-a (Valiela, 1984; Tubalawony, 2007: 7).
Cahaya yang berasal dari matahari penting untuk kehidupan mahkluk hidup,
hampir semua energi yang menggerakkan dan mengontrol metabolisme di perairan
berasal dari energi matahari yang dikonversi secara biokimia melalui proses fotosintesis
menjadi energi kimia potensial. Laju fotosintesis akan tinggi bila intensitas cahaya tinggi
dan akan menurun bila intensitas cahaya menurun. Oleh karena itu cahaya berperan
sebagai faktor pembatas utama dalam fotosintesis atau produktifitas primer yang
dilakukan oleh fitoplankton. Dalam rantai makanan di perairan, kehidupan fitoplanton
dipengaruhi oleh biota lannya seperti zooplankton (Manurung, 1992).

D.

Pengukuran Prodktifitas Produktivitas Perairan Dengan Indeks Produktifitas

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai