Anda di halaman 1dari 11

Manfaat ASI

Roesli (2001) menyatakan ASI eksklusif sangat banyak manfaatnya antara lain:
Manfaat bagi bayi
Sebagai Nutrisi Bayi
Asi merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang, karena dapat
menyediakan zat gizi yang gizi yang berkualitas tinggi dan mudah dicerna serta dimanfaatkan secara
efisien karena mengandung enzim lipat untuk mencerna lemak.
Meningkatkan Kecerdasan
ASI mengandung ikatan (DHA dan AA) yang merupakan komposisi penting untuk mengkaltasis
pembentukan selaput isolasi yang mengelilingi serabut syaraf otak dapat meningkatkan kecerdasan
bayi.
Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Bayi yang lahir secara alamiah mendapat immunoglobin (zat kekebalan) dari ibunya melalui ari-ari,
namun zat ini akan cepat sekali menurun setelah lahir, pada saat kadar kekebalan bawaan menurun
sedangkan sistem kekebalan tubuh sebelum mampu membantu antibody yang protektif dalam
jumlah yang cukup. Pemberian ASI pada bayi akan memberi kekebalan, karena ASI adalah cairan
hidup yang mengandung antibody yang akan melindungi bayi dari berbagai infeksi bakteri, virus,
parasit dan jamur. Kolostrum mengandung zat imunoglobin 10-17 kali dari ASI matur.
Meningkatkan jalinan kasih sayang
Ikatan kasih sayang antara ibu bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to
skin contact) dan mencium aroma yang khas antara ibu dan bayi. Apabila proses menyusui dilakukan
dengan baik, akan memberikan kepuasan pada ibu dan bayi. Bayi merasa aman dan puas karena
melalui sentuhan dapat merasakan kehangatan tubuh ibu dan dapat mendengar denyut jantung ibu,
yang sudah dikenalnya sejak bayi masih dalam rahim.
Manfaat bagi Ibu Menyusui
Mengurangi perdarahan setelah melahirkan
Apabila bayi disusui setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadinya pendarahan setelah melahirkan
(post partm) akan berkurang. Hal ini disebabkan karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan
oksitosin yang berperan dalam memacu kontraksi otot rahim, sehingga mempercepat keluarnya
plasenta dan mengurangi pendarahan setelah melahirkan.
Menjarangkan kehamilan

Dengan menyusui secara eksklusif dapat memudahkan haid dan kehamilan, sehingga dapat
digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah sementara yang dikenal dengan Metode Amenorea
Laktasi (MAL). MAL harus memenuhi tiga kriteria yaitu : (1) tidak haid. (2) menyusui secara eksklusif
dan (3) umur bayi kurang dari enam bulan Mengecilkan rahim (involutsiaa uteri) Kadar oksitosin ibu
menyusui yang meningkat akan sangat membantu mengecilkan rahim kembali ke ukuran semula
sebelum hamil, proses pengecilan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui
bayinya.
Mengurangi kemungkinan menderita kanker.
Pada ibu yang menderita ASI resiko menderita penyakit kanker payudara dan indung telur berkurang.
Sampai bayi berumur dua tahun atau lebih maka resiko kanker payudara dan indung telur berkurang
sampai 20-25%.
Manfaat bagi keluarga
1. Tidak merepotkan dan hemat waktu
ASI dapat segera diberikan tanpa harus menyiapkan atau memasak air, juga tanpa harus mencuci
botol dan tanpa menunggu agar susu tidak terlalu panas, pemberian susu botol akan merepotkan
terutama pada malam hari. Apabila persalinan susu habis pada malam hari akan repot mencarinya.
2. Lebih ekonomis/murah
Dengan memberikan ASI pada bayi secara kualitas dan kuantitas dapat membuat perkembangan otak
pada bayi secara optimal, dari hasil penelitian bahwa bayi yang mendapat ASI mempunyai IQ
(Intelegence Oution) lebih tinggi depan point dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif
2.2.1 Pengetahuan Ibu
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang
(Notoadmodjo 2003). Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya.

2.2.1.1 Tingkatan Pengetahuan


Pengetahuan merupakan domain kognitif yang memiliki 6 tingkatan (Notoadmodjo, 2003) :
a. Tahu (know)
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Dalam tahapan ini seseorang mengingat
materi yang telah dipelajari. Materi tersebut mungkin secara keseluruhan ataupun sesuatu yang
spesifik.
Memahami (comprehension)
b. Memahami
merupakan kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah memahami dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek
yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari.
d. Analisis (analysis)
Indikator dari anaisis adalah seseorang dapat melakukan pembedaan atau pengelompokan dari suatu
materi.

e. Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)
Dalam tahapan ini seseorang mampu melakukan penilaian terhadap suatu materi. Kriteria penilaian
dapat diambil dari yang ada sebelumnya atau dibuat sendiri.

2.2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan


Pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor (Notoadmodjo, 2003) yaitu :
a. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah
diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.
b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan berdampak pada peningkatan wawasan atau pengetahuan seseorang. seseorang yang
berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan
seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
c. Keyakinan
Keyakinan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun
negatif. Keyakinan berkaitan dengan kepercayaan yang dianut.

d. Fasilitas
Fasilitas berupa media dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Media dapat berupa media
cetak maupun media elektronik.

e. Penghasilan
Penghasilan berpengaruh tidak langsung terhadap pengetahuan seseorang. Bila seseorang
berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitasfasilitas sumber informasi.

f. Sosial Budaya
Budaya dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap
seseorang terhadap sesuatu.
2.2.2 Pendidikan Ibu

Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan ibu berhubungan dengan pola pemberian ASI eksklusif
(Yuliandarin, 2009). Hal yang sama disampaikan Wardah (2003) bahwa terdapat hubungan bermakna
antara pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif.
2.2.3 Pekerjaan Ibu
Pekerjaan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif dimana ibu yang tidak bekerja berpeluang
memberikan ASI eksklusif 16,4 kali dibandingkan ibu yang bekerja (Yuliandarin, 2009). Dunia kerja
akan mengubah peran ibu dalam mengasuh anak. Sedikitnya lama cuti pasca melahirkan dan jam
kerja yang panjang menjadi faktor beralihnya ibu ke susu formula dan ibu menyapih anak (Andini,
2006).
2.2.4 Usia Ibu
Ibu yang berumur 35 tahun atau lebih tidak dapat menyusui bayinya dengan ASI yang cukup sehingga
terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif (Lestarie, 2004).
Proporsi pemberian ASI eksklusif paling banyak pada ibu berusia muda lebih besar dari proporsi
pemberian ASI eksklusif pada ibu berusia tua (Yuliandarin, 2009).
2.2.5 Kondisi kesehatan Ibu dan bayi
Hampir semua ibu dapat menyusui bayinya sejak awal kelahiran bayi hingga 6 bulan dan meneruskan
menyusui hingga usia 2 tahun (WHO, 2009).Namun, sejumlah kecil kondisi kesehatan ibu dan bayi
dapat membenarkan alas an ibu tidak menyusui secara permanen atau sementara. Berdasarkan
Peraturan pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang ASI, Setiap ibu harus memberikan ASI eksklusif
kepada bayi yang dilahirkannya terkecuali jika Ibu tersebut mengalami indikasi medis, ibu tidak ada
dan ibu terpisah dari bayi. Indikasi medis yang tidak memungkinkan pemberian ASI eksklusif antara
lain :
a. Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus, yaitu Bayi dengan kriteria:
1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula khusus bebas galaktosa;
2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease), diperlukan formula
khusus bebas leusin, isoleusin, dan valin; dan/atau
3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin, dan dimungkinkan
beberapa kali menyusui, di bawah pengawasan.
b. Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas, yaitu:
1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu lima ratus) gram (berat lahir sangat
rendah);

2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur;
dan/atau
Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau
peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada Bayi prematur, kecil untuk umur kehamilan atau yang
mengalami stress iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan, Bayi yang sakit dan Bayi ang memiliki
ibu pengidap diabetes, jika gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara langsung
maupun tidak langsung. Kondisi medis ibu yang tidak dapat memberikan ASI Eksklusif karena harus
mendapat pengobatan sesuai dengan standar. Kondisi ibu tersebut antara lain:
a. ibu yang dapat dibenarkan alasan tidak menyusui secara permanen karena terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus.
b. ibu yang dapat dibenarkan alasan menghentikan menyusui sementara waktu karena:
1. penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat Bayi, misalnya sepsis (infeksi demam tinggi
hingga tidak sadarkan diri);
2. infeksi Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) di payudara; kontak langsung antara luka pada
payudara ibu dan mulut Bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas;
3. pengobatan ibu:
a) obat-obatan psikoterapi jenis penenang, obat anti-epilepsi dan opioid dan kombinasinya dapat
menyebabkan efek samping seperti mengantuk dan depresi pernapasan dan lebih baik dihindari jika
alternatif yang lebih aman tersedia;
b) radioaktif iodine-131 lebih baik dihindari mengingat bahwa alternatif yang lebih aman tersedia,
seorang ibu dapat melanjutkan menyusui sekitar 2 (dua) bulan setelah menerima zat ini;
c) penggunaan yodium atau yodofor topikal misalnya povidone-iodine secara berlebihan, terutama
pada luka terbuka atau membran mukosa, dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau
kelainan elektrolit pada Bayi yang mendapat ASI dan harus dihindari; dan
d) sitotoksik kemoterapi yang mensyaratkan seorang ibu harus berhenti menyusui selama terapi.
2.2.6 Manajeman Laktasi
Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui (
Siregar, 2004). Kegiatan ini dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa
menyusui selanjutnya. Menurut Siregar (2004), upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:
2.3.1 Pada masa Kehamilan (antenatal)
Mendapatkan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui
baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.

a. Memeriksakan kesehatan, kehamilan dan payudara apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu
perlu pemantauan terhadap kenaikan berat badan ibu Hamil penting dilakukan
b. Merawat payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan
memberikan ASI yang cukup.
c. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Diperlukan dukungan keluarga terutama
suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.

2.2.3.2 Pada masa Prenatal


a. Petugas kesehatan memberikan kesempatan ibu untuk menyusui 1 jam setelah kelahiran dan
ditunjukkan cara menyusui yang baik dan benar, yakni mengenai posisi dan cara melekatkan bayi
pada payudara ibu.
b. Petugas kesehatan membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari
agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c. Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 S1) dalam waktu dua minggu setelah
melahirkan.

2.2.3.3 Pada masa Post natal


a. Ibu memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi. Ibu memerlukan makanan 1 kali lebih
banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
b. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan
yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
c. Dukungan suami dan keluarga penting untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu

2.2.8 Status Ekonomi dan Demografi

Berdasarkan RISKESDAS 2010, terdapat hubungan antara tingkat pengeluaran per kapita rumah
tangga dengan pemberian ASI eksklusif di kelompok bayi 0-1 bulan, 2-3 bulan maupun 4-5 bulan.
Semakin tinggi tingkat pengeluaran seseorang maka semakin sedikit presentase pemberian ASI.

Menurut RIKESDAS 2010, Cakupan ASI juga lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan daerah
perkotaan. Presentase pemberian ASI di daerah perkotaan pada usia 0-1 bulan sebanyak 41,7% dan
semakin menurun pada bayi berusia 2-3 bulan (34,8%) dan umur 4-5 bulan (26,9%).
2.2.9 Kebijakan Nasional dan Internasional
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang
pemberian ASI eksklusif. Peraturan ini bertujuan untuk menjamin pemenuhan hak bayi mendapatkan
ASI ekklusif sejak dilahrkan hingga berusia 6 bulan dan untuk meningkatkan peran dan dukungan
keluarga, masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah terhadap pemberian ASI eksklusif.
Secara international WHO telah mengeluarkan International Code of Marketing of Breastmilk
Subtitudes pada tahun 1981 yang mengatur mengenai penggunaan makanan pengganti ASI.
2.2.10 Dukungan Keluarga
Undang-Undang No. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan
keluarga menyatakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami
istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.
Menurut Effendy (1998) keluarga memiiki tugas di bidang kesehatan sebagai berikut:
1. Mengenal masalah kesehatan keluarga
Perubahan sekecil apapun yang dalami keluarga, secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua.
Masalah kesehatan yang tidak ditangani dengan segera dapat menguras dana keluarga.
2. Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai
dengan keadaan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan keluarga diharapkan tepat agar
masalah kesehatan dapat diatasi
3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Keluarga dapat mengambil peran merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan keehatan.
Namun jika gangguan kesehatan semakin parah, perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan
kesehatan.
4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga

5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.

Dukungan keluarga merupakan salah satu unsur penting menyukseskan ASI eksklusif. Dukungan
keluarga akan menambah rasa percaya diri dan meningkatkan motivasi. Interaksi positif dengan
keluarga akan menghasilkan kasih sayang dan dukungan moril. hasil penelitian Abdul (2010)
membuktikan bahwa dukungan keluarga berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif oleh ibu.
Senada dengan hal tersebut, penelitian Simbolon (2011) juga menguatkan bukti bahwa dukungan
keluarga berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Dukungan keluarga, terbukti berpengaruh
secara emosional. Dukungan merupakan bagian dari membangun kepercayaan . Selain meningkatkan
kepercayaan diri, dukungan juga meningkatkan kepercayaan atas hubungan diantara pasangan.
2.2.10.1 Dukungan suami
Dukungan suami merupakan faktor penting terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Dukungan suami
dibutuhkan mulai dari hamil sampai menyusi. Kepercayaan suami aka keberhasilan ibu dalam
menyusui serta kemampuan suami memberikan informasi mengenai ASI dapat menghilangkan
kendala yang ada dan merubah keadaan psikologis ibu. Keadaan psikologis ibu berpengaruh besar
terhadap keberhasilan ibu menyusui secara eksklusif (NMAA, 2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Yuliandarin (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Ibu yang mendapat dukungan
suami yang baik berpeluang 12,98 kali lebih besar memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang
memiliki dukungan suami yang rendah.
2.2.10.2 Dukungan Keluarga Ibu
Penelitian yang dilakukan Dykes (2003) di North West of England menyatakan bahwa terdapat
dukungan keluarga ibu berpengaruh positif terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu
membutuhkan dukungan emosional, informasi dan bantuan dari keluarganya. Senada dengan hal
tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Ingram (2004) di South Bristol, , United Kingdom
menyatakan bahwa dukungan keluarga ibu penting untuk mendukung pemberian ASI eksklusif.
Keluarga ibu berperan dalam pemberian informasi dan bantuan praktis dalam menyusui .
2.2.10.3 Dukungan Mertua
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ida (2012) di Kelurahan Kemiri Muka, Depok, terdapat
hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga ibu dan mertua dengan pemberian ASI eksklusif.
Penelitian yang dilakukan oleh Ingram (2004) dengan metode kualitatif berupa focus group
discussion dan wawancara dengan 10 orang mertua di South Bristol, ,United Kingdom menyatakan
bahwa dukungan mertua berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif.
2.2.11 Pelayanan Kesehatan

Dukungan dari pelayanan kesehatan diperlukan untuk mendukung ibu memberikan ASI eksklusif..
Dukungan dari pelayanan kesehatan berupa informasi mengenai menyusui selama kehamilan dan
setelah bayi lahir. Pemerintah telah mengeluarkan "Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan
Menyusui" dalam Kepmenkes RI No. 450 tahun 2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu secara
esksklusif pada Bayi di Indonesia. Langkah-langkah tersebut adalah
1. Memiliki kebijakan tertulis mengenai menyusui yang disampaikan dan diketahui oleh semua staf
pelayanan kesehatan.
2. Melatih stad pelayanan kesehatan agar mematuhi kebijakan tersebut.
3. Menjelaskan kepada seluruh ibu hamil mengenai manfaat dan tata laksana menyusui.
4. Membantu ibu yang melahirkan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
5. Memberi informasi kepada ibu mengenai cara menyusui dan cara tetap menyusi meskipun ibu
terpisah dari bayinya.
6. Tidak memberikan makanan atau minuman lain selain ASI pada bayi yang baru lahir, kecuali bila
diperlukan (ada indikasi medis).
7. Melaksanakan rawat gabung untuk memungkinkan ibu dan bayi tetapi bersama selama 24 jam.
8. Medukung ibu agar memberikan ASI kepada bayinya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
bayinya.
9. Menghindari pemberian dot kepada bayi.
10. Bekerja sama dengan kelompok pendukung menyusui (KP-ASI) dan menganjurkan ibu yang pulang
sehabis melahirkan untuk berhubungan dengan KP-ASI tersbut.

Promosi Susu Formula


2.7.7.1 Definisi promosi Susu Formula
Promosi merupakan bentuk dari komunikasi pemasaran dalam bentuk serangkaian aktivitas-aktivitas
yang menyeluruh untuk memasarkan sesuatu baik untuk tujuan finansial maupun finansial (Shimp,
2003). Tujuan Promosi menurut Kotler (2005) adalah mengkomunikasikan manfaat dari produksnya,
membujuk dan mengingatkan para konsumen sasaran agar membeli produk tersebut.
Susu formula adalah susu yang dibuat khusus untuk bayi yang kandungannya menyerupai dengan
kandungan Air Susu Ibu (ASI), tetapi tidak seluruh zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap
oleh bayi. Susu formula dibuat dengan menggunakan ASI sebagai patokan nutrisi bergizi dan
diproduksi secara komersial ( Sears, 2007) Promosi Susu formula adalah bentuk komunikasi

penjualan, penggunaan produk susu formula yang diperoleh ibu melalui iklan, sampel yang diberikan
kepada bayi, gambar atau komunikasi verbal yang diterima ( Shimp, T.A, 2003)
2.7.7.2 Bentuk promosi Susu Formula
Strategi yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan produknya disebut strategi bauran
promosi (Promotion Mix) . Strategi bauran promosi terdiri dari 5 komponen utama yaitu periklanan,
promosi penjualan, hubungan masyarakat , penjualan perorangan dan pemasaran langsung (Priyadi,
2008)