Anda di halaman 1dari 12

GLUTAMAT PIRUVAT TRANSAMINASE

(GPT)
I.

Tujuan
1.1 Untuk pemeriksaan fungsi hati melalui pemeriksaan Glutamat
Piruvat Transaminase (GPT).
1.2 Untuk menginterprestasikan hasi pemeriksaan yang diperoleh.

II.

Prinsip
2.1 Berdasarkan peningkatam aktivitas-aktivitas enzim yang dapat
diukur
2.2 Berdasarkan Glutamat piruvat transaminase yang mengkatalisis
transfer gugus amino dari L-alanin ke 2-oxoglutarat untuk
membentuk L-glutamat dan piruvat. Laktat dehidrogenase
mengkonversi piruvat menjadi D-laktat dengan mengoksidasi
NADH menjadi NAD+

III.

Reaksi

IV.

Teori Dasar
Enzim Transaminase atau disebut juga dengan enzim amino
transferase adalah enzim yang mengkatalisis reaksi transaminasi.
Terdapat dua jenis enzim serum transaminase yaitu serum glutamat
oksaloasetat transaminase dan serum glutamat piruvat transaminase
(SGPT). Pemeriksaan SGPT adalah indikator yang lebih sensitif
erhadap kerusakan hati dibanding dengan SGOT.
Tes fungsi hati atau lebih dikenal dengan liver panel atau liver function test adalah sekelompok tes darah yang mengukur enzim atau
protein tertentu di dalam darah anda. Tes fungsi hati umumnya
digunakan untuk membantu mendeteksi, menilai dan memantau
penyakit atau kerusakan hati.
Hati berfungsi sebagai faktor biokimia utama dalam tubuh, tempat
metabolism kebanyakan zat antara. Fungsi hati normal harus
dikonfirmasi sebelum operasi terencana. (Sabiston, 1990)
Hati, ginjal, jantung dan otot otot mengandung banyak
transaminase glutamat oksaloasetat (GOT) yang terkenal sebagai
aminotransferase dan transaminasi glutamat piruvat (GPT) atau alanin
aminotransferase. Serum dalam keadaan normal juga menunjukkan
adanya aktivitas enzim tersebut, tetapi rendah. Apabila ada kerusakan
sel pada jaringan jaringan tersebut maka enzim intraseluler tadi akan
keluar dari sel dan masuk ke dalam darah. Kenaikan aktivitas GOT dan
GPT serum dapat dijumpai pada macam macam penyakit yang
mengangkut jaringan organ organ tertentu.
Hati adalah organ penting yang memiliki fungsi mengatur
kekonstanan milieinterior tubuh manusia. Hati juga merupakan
kelenjar tubuh yang paling besar. Hati mempunyai fungsi yang sangat
penting dan kompleks. Hati penting untuk mempertahankan tubuh dan
berperan pada hampir setiap metabolisme tubuh. Kerusakan total
pembuangan hati dapat mengakibatkan kematian dalam waktu
10 jam. Hati mempunyai regenerasi yang mengagumkan.

Salah satu jenis pemeriksaan yang sering dilakukan untuk


mengetahuiadanya kerusakan pada hati adalah pemeriksaan enzimatik.
Enzim adalah protein yang dihasilkan oleh sel hidup dan umumnya
terdapat di dalam sel. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan
antara pembentukan enzim dengan penghancurannya.
Apabila terjadi kerusakan sel atau peningkatan permeabilitas
membran sel, enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan
kedalam alirandarah sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk
membantudiagnostik penyakit tertentu. Pemeriksaan enzim yang biasa
dilakukan untuk diagnosahepatitis antara lain :
a. Enzim yang berubungan dengan kerusakan sel hati yaitu SGOT,
SGPT,GLDH dan LDH.
b. Enzim yang berhubungan dengan penanda adanya sumbatan pada
kantongempedu (kolestasis) seperti gamma GT dan fosfatase alkali.
c. Enzim yang berubungan dengan kapasitas pembentukan (sintesis)
hatimisalnya kolimestrase (Winarno, 1974).
Sebagian pembuangan hati, pada kebanyakan

kasus sel hati yang

mati/sakit dapat diganti dengan jaringan hatiyang baru. Tes fungsi hati
juga bisa disarankan pada temuan tanda & gejala penyakit hati,
beberapa di antaranya adalah: kelelahan, kelemahan, berkurangnya
selera makan, mual, muntah, pembengkakan atau nyeri perut, jaundice,
urine gelap, tinja berwarna terang, pruritus (gatal-gatal).
Pada dasarnya tidak ada tes tunggal yang digunakan untuk
menegakkan diagnosis. Terkadang beberapa kali tes berselang diperlukan untuk menentukan jika suatu pola ada dan membantu menentukan penyebab kerusakan hati. Pun ketika penyakit hati sudah
dideteksi, tes fungsi hati biasanya tetap berlanjut secara berkala untuk
memantau tingkat keberhasilan terapi atau perjalanan penyakit.
Hasil-hasil tes fungsi hati biasanya dievaluasi secara bersamasama. Jadi beberapa set tes dalam periode tertentu dilihat apakah
memiliki pola tertentu. Setiap orang akan memiliki sebuah set tes
fungsi hati yang unik yang biasanya berubah-ubah seiring berjalannya

waktu. Seorang dokter mengamati kombinasi hasil-hasil tes ini guna


mendapatkan petunjuk tentang kondisi yang mendasarinya. Seringkali,
tes lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apa sebenarnya yang
menyebabkan penyakit dan/atau kerusakan hati tersebut.
Setelah kematian sel, komponen sel mengalami degradasi progresif
dan lebih lanjut akan mengakibatkan keluarnya enzim AST dan ALT
ke ruang ekstrasel, sehingga kadar AST dan ALT serum akan
meningkat.
Transaminase merupakan proses utam untuk mengeluarkan
nitrogen dari asam amino. Pemindahan gugus amino dari
kebanyakan asam L amino dikatalsis oleh enzim yang disebut
dengan transaminase atau aminotransferase. Pada reaksi ini gugus
amino dipindahkan secara enzimatis ke atom karbon pada
ketoglutarat sehingga dihasilkan asam keto yang analog dari asam
amino yang bersangkutan.
Enzim enzim yang mengkatalisis pemindahan reversible satu
gugus amino antara suatu asam amino dan suatu asam keto disebut
dengan aminotransferase atau transaminase oleh tata nama lama yang
masih populer. (Saucher, 2002)
Hati merupakan organ terbesar di dalam tubuh yang terletak
disebelah kanan atas rongga perut, tepat dibawah diafragma (sekat
yang membatasi adalah daerah dada dan perut). Ukuran hati pada
wanita lebih kecil dibandingan dengan pria, semakin kecil pada orang
tua tetapi bukan berarti fungsinya berkurang. Hati mempunyai
kapasitas cadangan yang besar dan kemampuan untuk regonerasi yang
besar pula.
SGPT

adalah

singkatan

dari

Serum

Glutamic

Piruvat

Transaminase, SGPT atau ALT (alanin aminotransefrase) merupakan


enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk
mendiagnosis destroksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlah yang
kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada
umumnya, nilai tes SGPT atau ALT lebih tinggi daripada SGOT atau

AST pada kerusakan parenkim hati, sedangkan pada proses kronis di


dapat sebaliknya.
SGPT atau ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau
spektrofotometri secara resmi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan
untuk SGPT atau ALT adalah laki laki 0 50 U/L, sedangkan pada
perempuan 0 35 U/L.
Aminotransferase tersebar luas di dalam tubh, terutama banyak
dijumpai di dalam hati krena peran penting organ ini dalam sintesis
protein dan dalam menyalurkan asam asam amino ke jalur jalur
biokimawi lain. Aminotransferase ini merupakan indikator yang baik
untuk kerusakan hati apabila keduanya meningkat cedera akut pada
hati, seperti karena hepatitis, dapat menyebabkan peningkatatn baik
AST maupun ALT menjadi ribuan IU/L. Pengukuran aminotransferase
setiap

minggu

mingkin

sangat

bermanfaat

untuk

memantau

perkembangan dan pemulihan hepatitis atau cedera hati lain. (Saucher,


2002)
Enzim merupakan protein yang berfungsi sebagai katalisator serta
dapat meningkatan kecepatan pada reaksi kimia. Peningkatan kadar
enzim dalam darah merupakan akibat dari adanya kerusakan sel yang
mengandung enzim atau adanya perubahan permeabilitas membran sel,
sehingga makromolekul makromolekul dapat menembus dan terlepas
ke dalam cairan extrasel.
Enzim transferase mengandung pirodoksal fosfat suatu koenzim
yang sering diperlukan oleh enzim yang menyerang asam amino bebas.
Peridoksal fosfat oleh rantai polipeptida amino transferase ditempatkan
sedemikian rupa sehingga gugus karbonilnya terletak berdekata
dengan rantai samping asam amino sehingga bereaksi membentuk
aldimin yaitu struktur reaksi pada enzim transaminase.
Kebanyak enzim transaminase bersifat spesifik bagi
ketoglutarat sebagai molekul penerima gugus amino. Namun
demikian, enzim tersebut tidak terlalu spesifik bagi substrat yaitu L
amino yang memberikan gugus aminonya.

NAD+ atau NAP+ berfungsi sebagai kofaktor, reaksi ini


berlangsung di mitokondria sebagian besar sel bersifat reversible.
Reaksi ini menggabungkan amonia glutamat atau membebaskan
amonia dari glutamat. Akbat reaksi transaminasi, glutamat dapat
memperoleh nitrogen dari asam amino dan melepaskan amonia melalui
reaksi glutamat dehidrogenase, proses ini merupakan salah satu
sumber amonia yang masuk ke dalam siklus urea.

V.

Alat dan Bahan


5.1 Alat
5.1.1

Tabung Reaksi

5.1.2

Pipet Piston

5.1.3

Beaker glass

5.1.4

Spektrofotometer

5.2 Bahan-bahan
5.2.1

Serum

5.2.2

Heparin/EDTA-Plasma

5.2.3

Reagen
Buffer Substrat

Konsentrasi
Pengukuran

Triss

100 mmol/L ph 7,5

L-alanin

0,6 mol/L

Enzim/koenzim/oxoglutamat

1,5 mmol/L

LD

1,2 U/mol

NADH

0,18 mmol/L

VI.

Prosedur
6.1 Buffer Substrat
Larutan siap untuk digunakan, larutan harus stabil sampai
tanggal kadaluarsa bila disimpan pada suhu 2-8oC
6.2 Enzim/koenzim/-oxoglutamat
Dilakukan rekonstruksi satu vial enzim atau koenzim atau
-oxoglutarat 2 dengan perbandingan volume buffer atau sustrat 1
yang tepat sebagai berikut :
2 ml untuk larutan 20x2 ml kit (AS 1200)
10 ml untuk larutan 10x10ml kit (AS 1205)
20 ml untuk larutan 5x20 kit (AS 1268)
Larutan tersebut harus stabil selama 14 hari pada suhu 28oC atau 24 jam pada suhu 15-25oC.
6.3 Langkah kerja
Spektrofotemeter diset pada panjang gelombang 365nm,
340nm,

334nm,

menggunakan

kuvet

berdiameter

1cm.

Temperatur pemeriksaan 25oC, 30oC, 37oC. Pengukuran dilakukan


terhadap udara. Pipetkan ke dalam kuvet :
25oC, 30oC

37oC

Sample

200l

100l

R1

1000l

1000l

Campur dan inkubasikan selama 5 menit


R2

250l

250l

Campurkan, dan baca absorbansi permulaan setelah 1 menit


dan jalankan waktu yang sama. Ulangi pembacaan pada 1 menit. 2
menit, dan 3 menit.

VII.

Data Pengamatan
Diketahui : Hasil Pengukuran Abosrbansi
1. 0,303
2. 0,304
3. 0,297
Pada suhu 25oC
Faktor : 1151
Panjang Gelombang 334 nm
Diketahui :
Temperatur

25oC

30oC

37oC

Men up to

22 U/L

Up to 30 U/L

Up to 42 U/L

Woman up to

17 U/L

Up to 23 U/L

Up to 32 U/L

Perhitungan :
1. U/L = 1151 x Da 334nm/menit
U/L = 1151 x 0,001
U/L = 1,151 U/L
2. U/L = 1151 x Da 334nm/menit
U/L = 1151 x 0,007
U/L = 8,057 U/L
Rata-rata =

= 4,604 U/L

VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini melakukan pemeriksaan pada fungsi hati
melalui pemeriksaan pada Glutamat Piruvat Transaminase. Prinsip
pada GPT tersebut berdasarkan Glutamat

transaminase yang

mengkatalisis transfer gugus amino dari L-Alanin ke 2-oxoglutarat


untuk membentuk L-glutamat dan Piruvat. Laktat dehidrogenase
mengkonversi piruvat menjadi D-laktat dengan mengoksidasi NADH
menjadi NAD+.
GPT (Glutamat Piruvat Transaminase) ini merupakan enzim
transaminase yang terutama dihasilkan oleh hati enzim ini berada pada
sitoplasma dan juga berada pada mitokondria pada sel hati. Enzim ini
merupakan enzim yang sangat spesifik bagi pengujian pada kerusakan
hati. Apabila hati mengalami kerusakan maka akan terjadinya suatu
peningkatan permeabilitas membran yang mengakibatkan komponen
pada sitoplasma tersebut akan keluar dari sel sitoplasma tersebut, ada
juga kaitannya apabila pada bagian mitokondria pada sel hati juga
rusak maka enzim yang berada di dalam mitokondria tersebut akan
mengalami peningkatan aktivitas yang berada dalam serum sehingga
kadar normal fungsi hatinya pun bisa meningkat karena danya
kerusakan yang terjadi pada fungsi hati tersebut.
Enzim GPT tersebut digunakan untuk mengetahui kerusakan pada
hati untuk mengidentifikasi adanya penyakit hati terutama sirosis dan
hepatitis yang disebabkan oleh adanya alkohol, virus.
Ada juga pengujian yaitu Glutamat Oksaloasetat Transaminase
(GOT) enzim ini kurang spesifik untuk pengujian pada kerusakan hati
berbeda dengan enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) karena
GOT banyak terdapat pada bagian jantung sehingga spesifik unruk
pengujian kerusakan pada jantung.
Pada pengujian GPT ini pada prosedur percobaan disebutkan
bahwa harus di inkubasikan terlebih dahulu pada suhu 25oC, 30oC atau
37oC tujuan dilakukannya suatu inkubasi untuk mempercepat reaksi

enzimatik dari reagen dan juga sample tersebut sehingga dihasilkan


data yang akurat pada saat pengujian spektrofotometri.
Pada pengujian ini sebelum melakukan pengukuran langsung pada
sample harus terlebih dahulu mengetahui panjang gelombang dari
reagen atau blangko tersebut. Pemilihan panjang gelombang ini
fungsinya untuk mengetahui pada gelombang berapa suatu reagen
tersebut sehingga pada saat pengukuran absorbansi hasilnya lebih
akurat. Yang di pipet dengan menggunakan pipet piston R1 1000l
dan R2 250l dan dicampurkan lalu diinkubasikan selama 5 menit,
tujuannya diinkubasikan selama 5 menit ini agar reaksi enzimatiknya
tersebut dapat berjalan dengan sempurna.
Hasil absorbansi selama 1 menit sampai dengan 3 menit yaitu
menit pertama 0,303, menit kedua 0,304, menit ketiga 0,297
seharusnya pada menit ke 3 hasil absorbansinya lebih tinggi dari hasil
pada menit ke dua hal ini dapat disebabkan karena reaksi enzimatiknya
tidak berjalan dengan sempurna. Reaksi enzimatik yang dikatakan
berjalan sempurna hasil absorbansinya tinggi seperti dari menit
pertama ke menit ke dua. Yang menyebabkan reaksi enzimatik tidak
berjalan sempurna dapat disebabkan pada saat inkubasi berada pada
suhu dibawah yang telah ditetapkan, bisa juga karena adanya zat lain
yang masuk ke dlam sample tersebut sehingga mengganggu hasil
pengamatan.
Hasil yang didapatkan pda pasien Tn. ogi yaitu 4,604 U/L hasil ini
dikatakan normal karena menurut literatur pada temperatur 25 oC untuk
laki-laki fungsi hatinya dikatakan normal yaitu berada pada angka
22U/L.

10

IX.

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa fungsi hati TN. Ogi dikatakan normal
karena konsentrasi GPT nya 0,604 U/L.

11

X.

Daftar Pustaka
Winarno, F.G dan B. S. Laksmi. 1974. Kerusakan Bahan Pangan dan
Cara Pencegahannya. Ghalia. Jakarta.
Saucher,

Ronald.

2002.

Tinjauan

klinis

Hasil

Pemeriksaan

Laboratorium Klinis Edisi 11. Buku Kedokteran EGC. Jakarta


Sabiston. Buku Ajar Bedah. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Available online at : www.scribd.com (diakses pada tanggal 19
Desember 2014)

12