Anda di halaman 1dari 7

1.

Pendekatan Semiotik

Menurut Preminger (Pradopo, 2007:224-225), semiotik adalah ilmu tentang tandatanda, mempelajari fenomena sosial budaya, termasuk sastra sebagai sistem tanda. Tanda,
dalam semiotik, terdiri dari penanda dan petanda. Penanda (signifier)adalah bentuk formal
yang menandai petanda. Sementara petanda (signified) adalah sesuatu yang ditandai penanda
itu, yakni artinya. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda. Ada tiga jenis tanda.
Yang pertama dalam bentuk ikon, yakni hubungan yang bersifat alamiah. Contoh gambar
kuda menunjukkan hubungan antara tanda kuda dengan kuda yang sebenarnya (alami). Yang
kedua dalam bentuk indeks, yakni hubungan kausalitas. Contoh asap menandai adanya api.
Yang ketiga simbol, yakni tidak bersifat alamiah atau kausalitas melainkan hubungannya
bersifat arbitrer (semau-maunya). Contoh kata ibu atau gambar bulan bintang maknanya
tidak bisa ditentukan begitu saja, ia ditentukan oleh sebuah konvensi.
Jasa dua orang ahli semiotika yang tidak dapat dilupakan yakni Ferdinand De Saussure
dan Charles Sanders Peirce, karena perkembangan semiotika selanjutnya sangat dipengaruhi
oleh dua ahli ini. Saussure mengembangkan semiotikanya berdasarkan linguistik Eropa,
sedangkan Pierce berdasarkan filsafat. Jika diperhatikan ada perbedaan pandangan dari
keduanya. Saussure cenderung mempersoalkanstruktur dalam pada tanda-tanda dengan
menunjukkan proses penandaan itu pada sistem diadik, yakni penanda dan petanda. Sebuah
penanda dikaitkan dengan petandanya yang berupa konsep dan konsep itu merupakan sesuatu
yang ada dalam benak seseorang, sehingga tidak perlu dikaitkan dengan realitas. Misalnya

kata kucing sebagai penanda, tidaklah dikaitkan dengan kucing sebagai seekor binatang,
tetapi dikaitkan dengan konsep yang ada dalam batin atau ingatan manusia (Nasution,
2008:110).
Barthes mengembangkan pandangan Saussure itu pada tingkatan-tingkatan proses
penandaan. Penandaan adalah (Barthes, 2012:43), tindakan mengikat penanda dengan
petanda, tindakan yang hasilnya adalah tanda. Selanjutnya Barthes (2012:27-50),
menyatakan, dalam termenilogi Saussurean, penanda dan petanda merupakan komponen dari
tanda. Untuk menguji sebuah tanda secara sendiri, yakni berurusan hanya pada hubungan
antara penada dengan petanda, merupakan abstraksi yang semena. Tanda bukan lagi menurut
komposisisnya, tetapi dengan memperhitungkan hal-hal yang menjadi latar keberadaannya.
Ini merupakan perkara nilai. Nilai berhubungan erat dengan konsep bahasa.
Menurut Nasution (2008:110), semiotika mempertimbangkan kode dan sekaligus
memperlihatkan adanya sistem. Sistem itu bisa saja terbentuk dari sistem yang ada pada
penulis dan pembaca. Hal inilah yang terkadang membuat pemahaman terhadap sebuah karya
sastra menjadi tidak sama, bahkan tidak wajar.
Pandangan semiotika bukan hanya dapat menghubungkan sistem dalam karya itu
sendiri, tetapi juga dengan sistem di luarnya, dengan sistem dalam kehidupan. Namun, hal itu
tergantung pada kesanggupan seorang pembaca untuk menghubungkannya, tentu saja
kesanggupan pembaca untuk memahami kehidupan itu sendiri. Semua itu tentu saja dibantu
oleh ilmu bantu lainnya, seperti pendekatan intertekstual.

2.

Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang
sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di
luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat
berdiri sendiri di luar struktural itu.

3.

Pendekatan Pragmatik

Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin
memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra. Prakmatik sastra
adalah cabang penelitian yang kearah kegunaan sastra, yakni kajian sastra yang berorientasi
pada kegunaan karya sastra bagi pembaca. (Endraswara, 2011:115)
Tiga ranah penelitian prakmatik, yaitu: Pertama, menitik beratkan teks dan
potensinya untuk memungkinkan dan memanipulasi suatu produk makna. Teks sastra adalah
fenomena yang dikonkretkan oleh pembaca. Kedua, dalam proses pembaca tekss, paling
penting adalah imajinasi-imajinasi mental yang terbentuk tatkala menyusun sebuah objekobjek estetis yang kosesif dan konsisten. Ketiga, melalui struktus sastra yang komunikatif
diteliti kondisi-kondisi yang memungkinkan muncul dan mengatur interaksi antara teks dan
pembaca. (Endraswara, 2011:116)
Munculnya pendekatan pragmatik bertolak dari teori resepsi sastra dalam khasanah
pemahaman karya sastra yang merupakan reaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang
terdapat pada pendekatan struktural. Sebab pendekatan struktural ternyata tidak mampu
berbuat banyak dalam upaya membantu seseorang dalam menangkap dan memberi makna
karya sastra. Pendekatan struktural hanya dapat menjelaskan lapis permukaan dari teks sastra
karena hanya berbicara tentang struktur atau interalasi unsur-unsur dalam karya sastra.
Banyak segi lain yang diperlukan untuk lebih menjelaskan makna karya sastra. Untuk dapat
menangkap segi-segi lain itu para pakar mengemukakan sebuah pendekatan baru, yaitu
pendekatan pragmatik.
Definisi lain mengatakan bahwa pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian
sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima,
memahami, dan menghayati karya sastra. Pembaca memiliki peranan yang sangat penting

dalam menentukan sebuah karya yang merupakan karya sastra atau bukan. Horatius dalam
art poetica menyatakan bahwa tujuan penyair ialah berguna atau memberi nikmat, ataupun
sekaligus memberikan manfaat dalam kehidupan. Dari pendapat inilah dimulai pendekatan
pragmatik, (Wahyudi Siswanto, 2008: 181-191).
Pendekatan pragmatis memberikan perhatian utama pada peran pembaca. Pendekatan
pragmatik adalah pendekatan yang memandang puisi sebagai sesuatu yang dibangun untuk
mencapai efek-efek tertentu pada audience (pembaca atau pendengar), baik berupa efek
kesenangan estetik ataupun ajaran/pendidikan maupun efek-efek yang lain. Pendekatan ini
cenderung menilai puisi berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan tersebut.
Selain itu, pendekatan ini menekankan strategi estetik untuk menarik dan mempengaruhi
tanggaan-tanggapan pembacanya kepada masalah yang dikemukakan dalam puisi. Dua
pembaca yang sama akan menerima pesan yang berbeda walaupun mereka dihadapkan pada
puisi yang sama (Damono, 1983).
Untuk melihat penerapan penelitian pragmatik sastra adalah manakala titik berat kritik
berorientasi pada pembaca. Dalam hal ini, karya sastra menunjukkan adanya konsep efek
komunikasi sastra yang sering dirumuskan dengan istilah docare (memberikan ajaran),
delectare (memberikan kenikmatan), dan movere (menggerakkan pembaca). (Endraswara,
2011:117)

4.

PENGERTIAN PENDEKATAN MIMESIS (MIMETIK)


Pandangan pendekatan mimetik ini adalah adanya anggapan bahwa
puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan
manusia di semesta raya ini. Sasaran yang dieliti adalah sejauh mana puisi
merepresentasikan dunia nyata atau sernesta dan kemungkinan adanya
intelektualitas dengan karya lain. Hubungan antara kenyataan dan rekaan
dalam sastra adalah hubungan dialektis atau bertangga. Mimesis tidak
mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Takaran
dan perkaitan antara keduanya dapat berbeda menurut kebudayaannya,
Menurut jenis sastra. Zaman kepribadian pengarang, tetapi yang satu
tanpa yang lain tidak mungkin dan, catatan terakhir perpaduan antara
kreasi dan mimesis tidak hanya berlaku dan benar untuk penulis sastra.
Tak kurang pentingnya untuk pembaca, dia pun harus sadar bahwa
menyambut karya sastra mengharuskan dia untuk memadukan aktivitas
mimetik dengan kreatif mereka. Pemberian makna pada karya sastra
berarti perjalanan bolak-balik yang tak berakhir antara dua kenyataan dan
dunia khayalan. Karya sastra yang dilepaskan dan kenyataan kehilangan
sesuatu yang hakiki, yaitu pelibatan pembaca dalam eksistensi selaku
manusia. Pembaca sastra yang kehilangan daya imajinasi meniadakan
sesuatu yang tak kurang esensial bagi manusia, yaitu alternatif terhadap
eksistensi yang ada dengan segala keserbakekurangannya atau lebih
sederhana berkat seni, sastra khususnya, manusia dapat hidup dalam
perpaduan antara kenyataan dan impian, yang kedua-duanya hakiki untuk
kita sebagai manusia.
Pandangan Plato mengenai mimesis sangat dipengaruhi oleh
pandangannya mengenai konsep ide-ide yang kemudian mempengaruhi
bagaimana pandangannya mengenai seni. Plato menganggap ide yang
dimiliki manusia terhadap suatu hal merupakan sesuatu yang sempurna
dan tidak dapat berubah. Ide merupakan dunia ideal yang terdapat pada
manusia. Ide oleh manusia hanya dapat diketahui melalui rasio,
tidakmungkin untuk dilihat atau disentuh dengan panca indra. Ide bagi
Plato adalah hal yang tetap atau tidak dapat berubah, misalnya ide
mengenai bentuk segitiga, ia hanya satu tetapi dapat ditransformasikan
dalam bentuk segitiga yang terbuat dan kayu dengan jumlah lebih dan satu

idea mengenai segitiga tersebut tidak dapat berubah tetapi segitiga yang
terbuat dan kayu bisa berubah (Bertnens l979:13).
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep Idea tersebut, Plato
sangatmemandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang
berjudul Republik bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan
sastrawan dan negerinya. Karenamenganggap seniman dan sastrawan
tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan
nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang
dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan
tentang kenyataan dan tetap jauh dan kebenaran. Seluruh barang
yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan duplikat dari ide,
sehingga hal tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya
(dalam ide-ide mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato
seorang tukang lebih mulia dan pada seniman atau penyair. Seorang
tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu
menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra,
sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang
dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang), mereka oleh
Plato hanya dianggap menjiplak dan jiplakan (Luxemberg:16).
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak
pernahmenghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu
menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh
seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap
dunia ideal. (Teew.1984:220). Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa
seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual
seperti yang telah disebutkan di muka. Bahkan seperti yang
telah dijelaskan di muka. Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan
nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew.
1984:221).