Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) menjadi perhatian klinis karena

dampak yang ditimbulkannya, karena tidak ditangani dengan tepat. Angka


kejadian PUA diprediksi terjadi pada 20 % wanita, khususnya pada pasca
menopause. PUA merupakan 15% - 20% dari seluruh kasus ginekologi, serta 25
% indikasi operasi ginekologi. Beberapa penelitian mendapatkan hanya 10 % - 20
% dari keseluruhan kasus PUA yang menderita kanker (Goldstein, 2009). PUA
dapat terjadi pada semua usia dan sebagian besar kasus yang dirujuk ke bagian
Ginekologi

adalah

dengan

diagnosis

klinis

metrorhagia

(37,1%)

dan

menometrorhagia (33,7%) (Munro, 2008).


Menometrorrhagia adalah suatu penyakit yang sering ditemukan pada
wanita-wanita usia subur dan menjelang menopause. Menometrorhagia ini bisa disebabkan
oleh penyebab organik yaitu adanya kelainan pada organ reproduksi. Selain itu
juga disebabkan oleh perdarahan disfungsional mengingat akibat perdarahan ini sangat bisa
membahayakan bagi nyawa pasien, maka diperlukan penanganan dan pengobatan yang cepat
dan tepat agar tidak lebih membahayakan bagi pasien. (Irwanto, 2010).
Menometrorrhagia merupakan perdarahan uterus yang berlebihan yang
terjadi pada dan diantara siklus haid. Ini disebut juga dengan perdarahan disfungsional.
Menometrorrhagia banyak sekali terjadi pada wanita dalam masa pubertas dan

masa menjelang menopause. Beberapa penyebab pada perdarahan ini antara lain
karena kelainan anatomis rahim (seperti adanya polip rahim, mioma uteri), adanya
siklus anovulatoir (ditandai dengan siklus haid yang memanjang), dan karena
ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi siklus haid. (Safitri, 2009).
Penanganan pada menotrorrhagia antara lain dengan memberikan estrogen
dalam dosis tinggi atau progesteron jika terjadi pada masa pra pubertas. Sebagai
tindakan pada wanita dengan perdarahan disfungsional terus menerus ialah
hisrerektomi. (Widjarnako, 2009).
Dari beberapa kasus yang ada diruang ginekologi menometroragia
merupakan kasus yang jarang terjadi. Meskipun demikian, bukan berarti
menometroragia tidak berpengaruh terhadap meningkatnya angka mortalitas dan
morbiditas karena menometroragia berhubungan dengan salah satu faktor
penyebab gangguan dalam organ reproduksi wanita (Soekidjo, 2003).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian
1. Menometroragia adalah perdarahan yang banyak, di luar siklus haid dan
biasanya terjadi dalam masa antara dua haid, perdarahan itu tampak
terpisah dan dapat dibedakan dari haid atau dua jenis perdarahan ini
menjadi satu, yang pertama dinamakan metroragia yang kedua
menometroragia (Widjarnako, 2009).
2. Menometroragia disebabkan oleh gangguan pembekuan darah seperti
defisiensi protrombin dan penyakit von Willebrand, dimana ada
kekurangan faktor pembekuan di dalam darah. Karena ada masalah
dengan koagulasi, gumpalan tidak terbentuk, sehingga proses
perdarahan memanjang (Katz VL, et al.,2007).

3. Menometroragia adalah perdarahan rahim yang berlebihan dalam


jumlah dan lamanya perdarahan, dapat terjadi dalam periode menstruasi
maupun di antara periode menstruasi (Manuaba, 2010).
4. Menometroragia adalah perdarahan yang terjadi antara masa 2 haid
yang dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genital atau oleh
kelainan fungsional (Prawirohrdjo, 2007).

5. Menometroragia adalah perdarahan saat menstruasi yang berlangsung


terus / panjang dan dengan jumlah darah yang lebih banyak (Manuaba,
2010).
Dari beberapa pengertian tersebut di atas maka penulis
menyimpulkan bahwa menometroragia adalah suatu keadaan dimana
terjadi perdarahan diluar haid yang berlangsung lama serta dengan
jumlah darah yang lebih banyak.
2.2

Etiologi
Prawirohardjo (2007), etiologi dari menometroragia antara lain:
1. Sebab sebab Organik
Perdarahan dari uterus,tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan
pada :
a. Servik uteri

: Karsinoma partiom, perlukaan serviks, polip

servik, erosi pada portio, ulkus portio uteri.


b. Vagina
: Varices pecah, metostase kario, karsinoma
keganasan vagina, karsinoma vagina.
c. Rahim
: Polip endometrium, karsinoma korpus uteri,
submukosa mioma uteri.
d. Ovarium
: radang ovarium, tumor ovarium, kista ovarium
e. Tuba fallopii, seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba,
tumor tuba.
2. Sebab sebab disfungsional
Perdarahan uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik.
Perdarahan disfungsional terbagi menjadi 3 bentuk :
a.

Perdarahan disfungsional dengan ovulasi (ovulatoir disfunction


bleeding).
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium

tanpa ada sebab - sebab organik, maka harus diperhatikan sebagai


etiologi.
Korpus lutheum persistens dalam hal ini dijumpai perdarahan
kadang-kadang bersamaan dengan ovarium yang membesar
korpus lutheum ini menyebabkan pelepasan endometrium tidak
teratur (irreguler shedding) sehingga menimbulkan perdarahan.
Insufisiensi korpus lutheum menyebabkan premenstrual spotting,
menorhagia dan polimenorrea, dasarnya adalah kurangnya
produksi progesterone disebabkan oleh gangguan LH releasing
factor. Apapleksia uteri pada wanita dengan hipertensi dapat
terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus. Kelainan darah
seperti anemia, gangguan pembekuan darah purpura trombosit
openik.
b. Perdarahan disfungsional tanpa ovulasi (anovulatoir disfunctiond
bleeding).
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium
dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu.
Timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis, kadangkadang tidak teratur sama sekali.
c. Stres psikologis dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi
2.1.3 Patologi
Menurut Prawirohardjo 2007, setelah penelitian histopatologik pada
uterus dan ovario pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa
gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia hemorrgica terjadi

karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi
dan pembentukan corpus luteum.
Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium karena stimulasi
estrogen yang berlebihan dan terus menerus. Penelitian menunjukan pula
bahwa perdarahan disfungsional dapat ditemukan bersamaan dengan
berbagai jenis endometrium yaitu endometrium atropik, hiperplastik,
ploriferatif, dan sekretoris, dengan endometrium jenis non sekresi
merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis nonsekresi dan jenis sekresi
penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan
anovulatori dari perdarahan ovulatoar.
Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis
perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan
memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional
yang

ovulatoir

gangguan

dianggap

berasal

dari

faktor-faktor

neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang mekanismenya belum


seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir biasanya dianggap
bersumber pada gangguan endokrin (Prawirohardjo, 2007).
Perdarahan uterus abnormal pada umumnya dapat dikategorikan
sebagai

anovulasi

perdarahan

atau

perdarahan

disfungsional

ovulasi. Anovulasi PUB disebabkan oleh kegagalan korpus luteum untuk


mempertahankan

endometrium

berkembang. Pasien

dengan

siklus

anovulasi biasanya tidak mengalami premenstrual syndrome-payudara


ketidaknyamanan,

peningkatan

keputihan

berlendir,

atau

kram

pramenstruasi dan kembung-ciri siklus ovulasi. Siklus anovulasi dapat


hidup berdampingan dengan lesi intrakaviter. Penyebab paling umum dari
siklus anovulasi termasuk sindrom polikistik ovarium (PCOS), amenore
hipotalamus, kegagalan ovarium prematur, dan hiperprolaktinemia.
Pendarahan sering nonsiklik, variabel dalam jumlah dan volume, dan tak
terduga. Siklus ovulasi yang diprediksi tapi mungkin hidup berdampingan
dengan lesi intrakaviter, termasuk polip atau fibroid, dan menyebabkan
perdarahan tidak menentu (ACOG, 2001).

2.1.4 Gambaran klinik


1. Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan
disfungsional

dengan

siklus

pendek

(polimenorea)

atau

panjang

(oligomenorea). Untuk mendiagnosis perdarahan ovulatoar perlu dilakukan


kerokan pada masa mendekati haid jika sudah di pastikan bahwa
perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab
organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:
a.

Korpus luteum persistens ; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang


kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus
dibedakan dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil
pemeriksaan panggul sering menunjukan banyak persamaan antara
keduanya. Korpus luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasan
endometrium tidak teratur (irregular shedding). Diagnosis irregular

shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya, yakni


menurut Prawirohardjo (2007) pada hari ke-4 mulainya perdarahan.
Pada waktu ini dijumpai adanya endometrium dalam tipe sekresi
b.

disamping tipe non sekresi.


Insufusiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia atau polimenorea. Dasarnya adalah kurang produksi
progesteron disebabkan oleh gangguan LH (Luteiniozing hormon)
releasing factor. Diagnosis dibuat apabila hasil biopsi endometrial
dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang

c.

seharusnya didapat dari hari siklus yang bersangkutan.


Appoleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi

d.

pecahnya pembuluh darah dalam uterus


Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan
gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.

2. Perdarahan anavulator
Stimulasi

dengan

estrogen

menyebabkan

tumbuhnya

endometrium. Dengan kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul


perdarahan yang kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi
kadar estrogen pada sangkut pautnya dengan jumlah yang pada suatu
waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen
sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti dengan folikel-folikel
baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari
endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi endometrium
bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sedian yang

diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan


bersifat anavulatoar.
Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap
waktu dalam kehidupan menstrual seorang wanita, namun hal ini paling
sering terdapat pada masa pubertas dan masa pramenopause. Pada masa
pubertas sesudah menarche , perdarahan tidak normal disebabkan oleh
gangguan atau terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus, dengan
akibat bahwa pembuatan realising factor dan hormon gonadotropin tidak
sempurna. Pada wanita dalam masa pramenopause proses terhentinya
fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar.
Bila masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali ada
harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid
menjadi avulatoar, pada seorang wanita dewasa dan terutama dalam
masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan
kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.perdarahan
disfungsioanl dapat dijumpai pada penderit-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah penyakit umum yang
menahun, tumor tumor ovarium, dan sebagainya.
Perdarahan Uterus Abnormal karena siklus anovulasi baik diobati
secara medis. Operasi harus disediakan untuk pasien yang tidak
menanggapi terapi medis. Beberapa strategi medis efektif dalam
mengobati kondisi menonaktifkan ini. Terapi harus disesuaikan secara
individual setelah penelaahan terhadap risiko, manfaat, kekhawatiran, dan

10

kontraindikasi. Umumnya, kontrasepsi oral dan terapi progesteron adalah


andalan pengobatan untuk wanita yang tidak menginginkan anak-anak.
Terapi Danazol menciptakan keadaan hypoestrogenic dan mengurangi kehilangan
darah menstruasi sebesar 70% sampai 80%. Jadwal dosis konvensional 400-800
mg sehari-hari serta jadwal yang kurang tradisional 50 sampai 100 mg sehari-hari
adalah membantu. Efek samping yang khas terapi danazol termasuk berat badan,
jerawat, dan perubahan potensi tingkat lipid. 11
Pengobatan dengan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) (Depo Lupron atau
Synarel) menciptakan, kondisi menopause seperti hypoestrogenic. Berhentinya
menstruasi biasanya terjadi dalam 3 bulan terapi memulai. Gejala menopause,
termasuk hot flushes, keringat malam, kekeringan vagina, keropos tulang, nyeri
sendi, penurunan konsentrasi, dan berkurang libido, dapat terjadi dengan
terapi. Kepatuhan dengan terapi umumnya baik, meskipun gejala-gejala
tersebut. Karena osteoporosis adalah risiko terbesar terapi berkepanjangan,
pengobatan terbatas pada 6 bulan kecuali estrogen ditambahkan. GnRH
merupakan pilihan bagi wanita di akhir perimenopause yang memiliki
kontraindikasi signifikan terhadap terapi medis lainnya. Mens menghentikan
merupakan bantuan untuk pasien ini, dan setelah terapi, banyak wanita spontan
transisi ke menopause. Selain itu, berselang depot leuprolide (Lupron) terapi pada
wanita dengan fibroid rahim menyediakan rata-rata tambahan 9 bulan kontrol
gejala (kisaran, 2 sampai> 25 bulan). 12

11

Sistem intrauterin levonorgestrel-releasing (Mirena) memberikan pilihan


lain pengobatan yang efektif untuk DUB. Alat kontrasepsi ini
menghasilkan penurunan dramatis dalam kehilangan darah menstruasi
(65% -98%) dalam waktu 12 bulan penggunaan. Ada sedikit penyerapan
sistemik progesteron. Perangkat, tertanam dengan 20 mg levonorgestrel,
menyebabkan perubahan pseudodecidual dan amenore. Hal ini dapat
memainkan peran penting pada wanita yang memiliki menorrhagia tetapi
yang juga membutuhkan kontrasepsi, memiliki normal ukuran uterus, dan
ingin menghindari operasi. 13
Akan tetapi disamping itu, terdapat banyak wanita dengan
perdarahan

disfungsional tanpa adanya penyakit-penyakit tersebut

diatas. Dalam hal ini stress yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,
baik didalam maupun diluar pekerjaan, kejadian-kejadian yang
mengganggu keseimbangan emosional seperti kecelakaan, kematian
dalam keluarga, pemberian obat penenang terlalu lama, dan lain-lain
dapat menyebabkan perdarahan anavulatoar (Prawirohardjo, 2007).

2.1.5 Diagnosis

12

Pembuatan anamnesis yang cermat penting untuk diagnosis.perlu


ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus
yang pendek atau oleh oligomenorea/amenore, sifat perdarahan (banyak atau
sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan dan sebagainya. Pada
pemeriksaan umum perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk ke arah
kemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan
lain-lain.kecurigaan terhadap salah satu penyakit tersebut hendaknya
menjadi dorongan untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti ke arah
penyakit yang bersangkutan.
Pada pemeriksaan ginekologi perlu dilihat apakah tidak ada
kelainan-kelainan organik, yang menyebabkan perdarahan abnormal
(seperti: polip,ulkus,tumor). Pada wanita pubertas umumnya tidak perlu
dilakukan kerokan guna pembuatan diagnosis. Pada wanita berumur antara
20 dan 40 tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip,
mioma, submukosum dan sebagainya. Disini kerokan diadakan setelah dapat
diketahui benar bahwa tindakan tersebut tidak mengganggu kehamilan yang
masih memberi harapan untuk diselamatkan. Pada wanita dalam
pramenopause dorongan untuk dilakukan kerokan adalah untuk memastikan
ada tidaknya tumor ganas (Prawirohardjo, 2007).

2.6 Penatalaksanaan

13

Widjanarko (2009), penatalaksanaan pada kasus menometroragia ini


antara lain:
1. Bila perdarahan disfungsional sangat banyak, penderita harus istirahat
baring dan dilakukan pemeriksaan darah.
2. Setelah pemeriksaan ginekologis menunjukkan bahwa perdarahan berasal
dari uterus dan tidak ada abortus incompletus, maka dapat diberikan :
a. Estrogen dosis tinggi supaya kadarnya darah meningkat dan
perdarahan berhenti, diberikan secara intra muscular (propionasi
estrodiol 25 mg), kerugian therapy ini adalah bahwa setelah suntikan
dihentikan maka perdarahan akan timbul lagi atau benzoas
ekstradiol/valeras ekstradiol 20 mg.
b. Progesterone : pemberian progesterone mengimbangi pengaruh
estrogen terhadap endometrium diberikan secara intra muscular
hidroksi progesterone 125 mg atau provera 10 mg oral.
c. Jika pemberian estrogen saja atau progesterone saja kurang
bermanfaat, maka diberikan kombinasi estrogen dan progesterone
yaitu pil kontrasepsi, pada therapi ini dapat diberikan progesterone
untuk 7 hari mulai hari ke 21 siklus haid.
3. Dilakukan kuretase endometrium terhadap produk-produk konsepsi yang
tertahan.
4 . Antibiotika untuk infeksi pelvis.

Menurut

Rosenfeld

(2009),

penatalaksanaan

moderat dengna kombinasi estrogen dengan progestin:

Menometroragia

14

1. Estrogen conjugated 1.25 mg peroral selama 25 hari disertai dengan MPA


10 mg untuk 10 hari terakhir (hari ke 15 25 )
2. Kontrasepsi oral selama 21 hari (perdarahan lucut 7 hari kemudian )
3. Progestin Siklis : 10 mg MPA 10 15 hari setiap bulan selama 3 bulan
berturut-turut , perdarahan lucut terjadi 5 7 hari pasca penghentian obat

BAB III
STATUS PASIEN

3.1 IDENTITAS PASIEN

Nama
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
Tanggal MKB
Jam
No. Reg

: Ny. S
: 49 Tahun
: Islam
: SD
: Ibu Rumah Tangga
: Pesudukuh, Bagor,Nganjuk.
: 14-11-2014
: 16.30 WIB
: 310998

15

3.2

ANAMNESIS
1.

Keluhan utama

: Pasien datang ke RSUD Nganjuk dengan keluhan

nyeri perut bagian bawah, dan pusing berputar putar, mual, nafsu
makan menurun. Datang bulan sudah satu minggu ini menghabiskan 4
sampai 5 pembalut per hari. HPHT : 1 - 11 - 2014

2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengatakan sejak setahun terakhir


siklus menstruasi tidak teratur, siklus menstruasi berlangsung 1-2
minggu pasien mengeluarkan darah haid berlebihan, kemudian pasien
periksa ke RSUD Nganjuk tanggal 14-11-2014 dan dianjurkan untuk
rawat inap pada pukul 16.30.

3. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien mengatakan sebelumnya pernah


mengalami haid berlebihan. Pasien tidak pernah mempunyai riwayat
operasi. Pasien juga tidak mempunyai riwayat penyakit hipertensi,
diabetes, ataupun penyakit menular.

4. Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien mengatakan dalam keluarga tidak


ada yang pernah menderita penyakit seperti liver, hepatitis, dan tidak
ada yang pernah mengalami penyakit menahun seperti hipertensi,
diabetes, dan asma.

5. Riwayat Reproduksi

16

Menarche

: 15 tahun

Siklus haid

: teratur dan banyak

Lama haid

: 1-2 minggu

Jumlah darah haid

: 4-5 x ganti pembalut / hari

Warna dan Bau

: merah kecokelatan dan bau anyir

Keputihan

: kadang kadang

Lama

: 3 4 hari

Warna

: putih

Bau

: kadang berbau kadang tidak berbau

Disminorea

: (+)

6. Riwayat Persalinan : P20002


Persalinan : 2
Hidup
:2
Mati
:Abortus : Anak terkecil umur 26 thn

3.3

Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum
: Tampak lemas
b. Kesadaran
: Composmentis
2. Pemeriksaan tanda tanda vital
a. Tekanan darah
: 100 / 70 mmHg
b. Respiratory Rate
: 18 /menit
c. Suhu
: 37 C
d. Nadi
: 84 /menit
3. Kepala / rambut
Anemia (+) ; Ikterus (-) ; Cianosis (-) ; Dyspneu (-)
4. Thorax

17

Paru

Whezing (-)
Ronchi (-)

Jantung :

S1, S2 (+)

5. Abdomen : Soepel
6. Pemeriksaan Dalam ( VT )
a. Vulva
: fluxus (+)
b. Vagina
: fluxus (+)
c. Portio
: tertutup licin
d. Corpus uteri : tidak ada pembesaran
e. Adnexia kiri
: tidak ada nyeri
f. Adnexia kanan : tidak ada nyeri
3.4

Pemeriksaan penunjang
Plano Tes

: (-)

Laboratorium

: Hemoglobin 2,4 g/dL (14 11- 2014)

TABEL KEPERAWATAN / KEBIDANAN

JAM

DX

KEPERAWA RENCANA
TINDAKAN

TAN

DATA

TAN

KEPERAWAT
KEPERAWATAN

GGA

/KEBIDANA AN

18

14/1

1/14

darah

ghia

banyak

Anemia

keluar Menometra

-obs.Tanda-

+ tanda vital

100/70

tanda

vital

-Lanjutkan

-mengobservasi

Terapi

keluhan
-lapor dr.Sp.OG

-Transfusi

soepel
VT

tanda-

-obs.Keluhan

PaLp :
TFU

-mengobservasi

PRC

2colf/Hr

/V

- Infus RL

fluxus (+)

Portio

Inj.Diphenhydra

tertutup licin

mine 1 amp

Hb = 2,4 g/

-Inj.Ranitidine

Dl

amp

-tansfusi PRC 2
colf/hari
-plano test
Pkl

S=

masih Menometra

21.0

keluar

ghia+

darah

Anemia

O
TD=90/60

Lanjutkan

- 1 PRC masuk
-melanjutkan

Terapi

transfusi
-plano test hasil
negative

19

80x/menit
S = 36,8C

TABEL PERKEMBANGAN PASIEN

Jam/

CATATAN PERAWAT / BIDAN


DATA
ASSESM INTERVE

IMPLEME
PR

ENT/

NSI/

NTASI/

MASALA

PERENC

PELAKSA

H
Menomet

ANAAN
NAAN
-lanjutkan - PRC

mengel Anemis

raghia+

terapi

Pkl

uarkan

Fluxus

Anemia

09.0

darah

(+)

dr.Sp.OG

sedikit

-Terapi

tgl/

SUBYE

OBYEK

bln

KTIF

TIF

15/1

Masih

1/14

/u

masuk
-lapor

Ferro
Sulfat
-Pro
Pkl
13.0

evaluasi
bila Hb >8

20

gr/Dl
-PRC

habis

Pkl

Masih

15.0

keluar

/u

Menomet

Anemis

raghia+

observasi

colf

darah

TD=90

Anemia

keluhan

diambil di

sedikit

/60
N

PRC

PMI
=

-Pasang

92x/

O2

menit
S
=36,8
C
RR:24X
/mnit
Fluxus
(+)
sedikit
K
/u

Pkl

21.0

merasa Anemis

raghia + observasi

mengobse

lemah

Anemia

rvasi

/u

Menomet

keluhan

keluhan

21

Pkl

-PRC

02.0

masuk

-PRC

Pkl

habis

ke-3

KE-3

07.3
0

Jam/
tgl/

CATATAN PERAWAT / BIDAN


DATA
ASSESM INTERVE
SUBYE

OBYEK

IMPLEME

ENT/

NSI/

NTASI/

MASALA

PERENC

PELAKSA

H
Menomet

ANAAN
-

NAAN
-

bln

KTIF

TIF

16/1

Masih

1/14

lemas

Anemis

raghia+

observasi

mengobse

Pkl

Fluxus

Anemia

keluhan

rvasi

08.0

(+)

-lanjutkan keluhan

sedikit

terapi

/u

melanjutka
n terapi

PR
F

22

-PRC
Pkl

masuk

12.0

-PRC

habis

Pkl

Pusing

/u

ke-4

ke-4

Menomet

-observasi

14.0

Anemis

raghia+

observasi

keluhan

Fluxus

Anemia

keluhan

-pasang

(+)

dower

sedikit

kateter
-Inj.Lasix 1

Pkl

Masih

21.0

lemas

Anemis

/u

Menomet

amp
-

raghia+

observasi

mengobse

Anemia

keluhan

rvasi
keluhan

Pkl

- PRC ke-5

01.3

masuk

-PRC

Pkl

habis

ke-5

05.3
0
Tgl

Masih

17/1

keluar

Anemis

/u Menomet
raghia

-PRC

Lanjutkan masuk

ke-6

23

1/14

darah

-Fluxus

Pkl

sedikit

(+)

08.0

Hb

sedikit

=8,6 g/

+Anemia

terapi

dL
-PRC

ke-6

habis
Pkl
12.0
0

Jam/

CATATAN PERAWAT / BIDAN


DATA
ASSESM INTERVE

IMPLEME
PR

ENT/

NSI/

NTASI/

MASALA

PERENC

PELAKSA

H
Mebomet

ANAAN
-

NAAN
- observasi

tidak

rorhagia

observasi

keluhan

1/14

ada

+ Anemia keluhan

Pkl

keluha

Post

(00.00)

transfusi

pasien

tgl/

SUBYE OBYEK

bln

KTIF

TIF

Tgl

Sudah

17/1

21.00 n

/u baik

pkl

dipuasaka
n

24

Tgl

Sudah

18/1

tidak

baik

raghia+

lanjutkan

Sp.OG

1/14

ada

Fluxus

Anemia

terapi

Pkl

keluha

(+)

Post

08.00 n

sedikit

transfusi

Pkl

Sudah

12.30 tidak

Pkl

/u Menomet

/u Menomet

konsul

-lanjutkan Ambil

baik

raghia+

ada

Fluxus

Anemia

darah, pro

keluha

(+)

Post

transfusI

sedikit

transfusi

PRC

Tidak

Menomet

kolf/hr
-lanjutkan -

Fluxus

raghia+

terapi

keluha

(+)

Anemia

sedikit

14.00 ada

/u baik

TD

terapi

sample

melanjutka
n terapi

100/60
mmhg
N : 83x
/mnt
Pkl

S : 370

-PRC

16.00

masuk

/u baik

ke-7

25

Pkl

-PRC

18.00

habis

-PRC

/u baik

/u baik

Pkl

Tidak

22.00 ada

Menomet

masuk
-lanjutkan -

Fluxus

raghia

terapi

/u baik

ke-7

ke-8

melanjutka

keluha

(+)

n terapi

sedikit

-PRC

Tgl

-Tidak

Menomet

-terapi

habis
- cek

19/1

ada

raghia

dilanjutka

pagi

1/14

keluha

Pkl

ke-8
HB

08.00

Jam/
tgl/
bln

CATATAN PERAWAT / BIDAN


DATA
ASSESM INTERVE
SUBYE
KTIF

OBYEK
TIF

IMPLEME

ENT/

NSI/

NTASI/

MASALA

PERENC

PELAKSA

ANAAN

NAAN

PR
F

26

tgl

-tidak

19/1

ada

1/14
Pkl

/u baik

Menomet

T:

raghia

Observasi keluhan

keluha

120/70

+anemia

keluhan

N: 82

14.0

S: 37

Fluxus

-observasi

(-)
Hb

: Menomet

Tidak

10.0

raghia

-pasien

ada

g/dL

+anemia

diijinkan

Pkl

keluha

pulang

17.0

(KRS)

0
-Obat jalan
:
AS.Mefena
mat

3x1

No X
SF 1x1 No
III

27

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Practice Bulletin.


Clinical management guidelines for obstetrician-gynecologists number 34,
February 2002. Management of infertility caused by ovulatory dysfunction.
Obstet Gynecol. 2002, 99: (2): 347-358

Goldstein.Diagnosing
Perimenopausal

Abnormal
Woman.

Uterine

Bleeding

Contemporary

in

Obgyn,

Archive,May,2009.

Irwanto
(2010).http://irwanfarmasi.blogspot.com/2010/12/asuhankebidanan-menometroragia.html. Diakses 26 November 2014

Katz VL, et al., Comprehensive Gynecology 5th edition, Mosby 2007

Manuaba, Ida Bagus Gede. Kapita Selekta Penatalaksanaan


Rutin. Obstetri Ginekologi K13. Jakarta : EGC : 2010

28

Munro. Medical Management of Abnormal Uterine Beeding,


Contemporary

management

of

abnormal

uterine

bleeding.

Obstet Gynecol Clin N Am.June ,2008.

Prawiroharjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Rosenfeld JA. Treatment of menorrhagia due to dysfunctional uterine


bleeding. Am Fam Physician. Jan 2009;53(1):165-72.

Safitri,Yunita(2009).http://missluthan.blogspot.com/2009/02/men
ometrorrhagia_05.html.diakses tanggal 28 November 2014

Soekidjo

Notoatmodjo.2003.Metode

Penelitian

Kesehatan.Jakarta:Rineka Cipta

Widjarnako,

Bambang

(2009).Patologi

Obstetri.

http://obfkumj.blogspot.com. Diakses tanggal 30 November 2014

29