Anda di halaman 1dari 26

ACARA I

PENGERINGAN

A. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum pengerinagan adalah
1.

Mahasiswa mengetahui kurva karakteristik


pengeringan suatu bahan

2.

Mahasiswa dapat menentukan waktu


pengeringan suatu bahan.

3.

Mahasiswa dapat menghitung efisiensi


pengeringan.

B. Tinjauan Pustaka
Pengeringan merupakan salah satu metode tertua dari pengawetan
buah-buahan dan sayuran dan dilakukan dengan beberapa metode seperti
matahari, udara panas, membekukan, vakum, dan microwave-dibantu
dengan udara vakum pengeringan. Tujuan utama dari pengeringan buah
dan sayuran adalah untuk menghilangkan uap air sampai ke tingkat
tertentu di mana mikroba pembusuk dan kimia yang dapat menimbulkan
reaksi dapat diminimalkan (Sutar, 2007).
Efisiensi

operasi

pengeringan

dapat

ditentukan

sebagai

perbandingan panas yang secara teoritis dibutuhkan untuk menghasilkan


panas laten penguapan air yang telah dikeringkan, dengan penggunaan
panas yang sebenarnya di dalam alat pengeringan. Efisiensi ini sangat
berguna apabila pendugaan bentuk pengering dan dalam pembuatan
perbandingan antar berbagai kelas pengering yang mungkin dipakai
sebagai alternatif operasi pengeringan. Suhu keseimbangan permukaan
yang terbentuk antara kecepatan penguapan dan kecepatan pindah panas
disebut suhu bola basah dan suhu ini tergantung pada suhu udara dan
kelembaban. Untuk penggunaan praktek, suhu yang mendekati suhu ini

diberikan oleh suatu termometer bola yang ditutupi dengan kain isap
basah diletakkan pada aliran udara. Termometer bola tanpa kain isap yang
basah mencatat suhu udara, dalam hubungan ini termometer tersebut
disebut termometer bola kering (Earle, 1969).
Efisiensi pengeringan mempunyai arti penting untuk nilai kualitas kerja
dari pengeringan. Aspek konversi energi ditujukan oleh efisiensi kolektor,
sedangkan aspek perpindahan massa dinyatakan dengan laju pelepasan massa
air dari produk udara yang memanasinya. Efisiensi pengeringan dinyatakan
sebagai perbandingan kalor yang digunakan untuk penguapan kandungan air
dari makanan terhadap energi radiasi yang tiba di pengering. Faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam kecepatan pengeringan adalah :
a. Luas permukaan
b. Perbedaan suhu sekitar
c. Kecepatan aliran udara
d. Tekanan Udara
(Burlian, 2011)
Kuantitas panas yang diperlukan untuk pengeringan terutama
terdiri atas:
-

Panas untuk memanaskan bahan yang dikeringkan hingga


mencapai suhu pengeringan.

Panas penguapan untuk mengubah cairan ke fase uap.

Panas yang hilang ke sekeliling.

Panas harus diberikan pada bahan yang akan dikeringkan dengan


konduksi, konveksi atau radiasi. Hal ini tergantung pada tahap proses
pengeringan, apakah pada permukaan atau pada bagian dalam bahan
dengan melewati lapisan-lapisan yang telah dikeringkan. Pertukaran
panas dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Sebagai media
pemanas digunakan misalnya udara, air, kukus atau minyak. Tergantung
pada suhu pengeringan, maka proses pengeringan dapat berlangsung baik
di bawah titik didih dari cairan yang harus diuapkan (pengeringan dengan

pengabutkan)

ataupun

pada

suhu

didihnya

(pengeringan

dengan

penguapan) (Bernasconi, 1995).


Proses perpindahan panas terjadi karena suhu bahan lebih rendah dari
suhu udara yang dialirkan di sekelilingnya. Panas yang diberikan akan
menaikkan suhu bahan dan menyebabkan tekanan uap air di dalam bahan
lebih tinggi dari tekanan uap air di udara, sehingga terjadi perpindahan
uap air dari bahan ke udara yang merupakan perpindahan massa.
Peristiwa yang mungkin terjadi selama pengeringan meliputi dua proses,
yaitu:
a. Proses perpindahan panas, yaitu proses menguapkan air dari dalam
bahan atau proses perubahan bentuk cair ke bentuk gas.
b. Proses perpindahan massa, yaitu proses perpindahan massa uap air
dari permukaan bahan ke udara.
(Adawyah, 2007).
Pada prinsipnya, jenis pengering tergantung pada bahan yang
dikeringkan dan tujuan pengeringannya, misalnya kiln dryer, cabinet
dryer, continuous belt dryer, air lift dryer, bed dryer, spray dryer, drum
dryer, vacuum dryer, dan sebagainya. Pengeringan buatan (artificial
drying) mempunyai keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur
sehinggan waktu pengeringan dapat ditentukan dan kebersihan mudah
diawasi.

Alat-alat

pengering

tersebut

memiliki

masing-masing

keunggulan dan kekurangan, seperti spray dryer yang biasa digunakan


dalam produksi susu instan yang memiliki kelebihan waktu singkat dalam
proses pengeringannya, kemudian freeze dryer yang menggunakan suhu
rendah dalam proses pengeringannya, dan cabinet dryer yang jika dilihat
dari sisi ekonomi membutuhkan biaya jauh lebih rendah dibanding freeze
dryer maupun spray dryer (Latifah, 2005).
Blanching adalah salah satu unit operasi yang diatur untuk proses
pembekuan, pengalengan atau pengeringan pada buah atau sayuran yang
dipanaskan dengan tujuan menginaktifkan enzim, mengubah tekstur,
mempertahankan warna, rasa dan kadar nutrisi dan menhilangkan udara

yang ada dalam makanan. Air panas dan uap adalah media pemansan
yang paling sering digunakan untuk blanching di industri tetapi
mikrowave dan gas panas blanching telah dipelajari. Perbedaan blanchers
air panas dan uap telah dirancang untuk meningkatkan kualitas produk,
meningkatkan hasil, dan memfasilitasi pengolahan produk dengan
berbagai sifat termal dan geometri. Kebanyakan sayuran pucat sebelum
pembekuan untuk menonaktifkan enzim yang menyebabkan perubahan
rasa off dan off-warna selama penyimpanan beku. Beberapa pengecualian
termasuk bawang, daun bawang, dan paprika karena mereka kehilangan
rasa dan warna pada blansing. Blansing menghilangkan udara yang
terjebak (misalnya, dalam brokoli) dan metabolisme gas dalam sel
sayuran dan menggantikan mereka dengan air, membentuk fase air semi
yang nikmat pertumbuhan kristal lebih seragam selama pembekuan
(Corcuera, 2004).
Perlakuan blansing bertujuan:
a. Membersihkan bahan dari kotoran dan mengurangi jumlah
bakteri dalam bahan.
b. Memperlunak bahan, memeudahkan pengisian bahan ke dalam
wadah.
c. Mengeluarkan gas-gas yang terdapat dalam ruang-ruang sel,
sehingga mengurangi terjadinya pengkaratan kaleng dan
memperoleh keadaan vakum yang baik dalam headspace
kaleng.
d. Memantapkan warna hijau sayur-sayuran.
e. Tekstur bahan menjadi lebih baik.
(Hudaya, 1982)
Singkong memiliki peringkat sangat tinggi di antara tanaman yang
mengkonversi jumlah energi matahari terbesar menjadi karbohidrat larut
per unit areal. Di antara tepung-tepungan, singkong memberikan
karbohidrat produksi yang sekitar 40% lebih tinggi dari beras dan 25%
lebih dari jagung, dengan hasil bahwa singkong adalah sumber termurah

dari kalori untuk gizi baik manusia dan makanan hewan. Sebuah
komposisi khas dari akar singkong adalah kelembaban (70%), pati (24%),
serat (2%), protein (1%) dan zat lainnya termasuk mineral (3%).
Permintaan masa depan untuk singkong segar mungkin akan meningkat
tergantung pada metode penyimpanan yang lebih baik (Tonukari, 2004).
Ubi kayu (singkong) merupakan bahan pangan sumber karbohidrat.
Ubi kayu setelah dipanen mengalami kerusakan dalam waktu 48 jam bila
tidak diproses, hal tersebut disebabkan karena adanya aktifitas enzimenzim yang berperan dalam merubah komponen-komponen ubi kayu
menjadi bentuk yang lebih sederhana. Ubi kayu berwarna putih dan
kuning mempunyai komposisi yang berbeda terutama pada kandungan
protein, karbohidrat, kadar air dan kalori. Sedangkan zat mineral pada ubi
kayu mempunyai kandungan gizi yang sama untuk setiap warna daging
umbi (Yanita, 2008).
C. Metodologi
1. Alat :
a.

Satu set alat pengering lengkap

b.

Termometer basah dan kering

c.

Timbangan analitik

d.

Sumber panas (kompor listrik).

e.

Timbangan biasa

f.

Mesin pemotong (slicer)

g.

Baskom

h.

Pisau

i.

Karet Gelang

2. Bahan :
1. Singkong Basah

3. Cara Kerja
Pengeringan
Set alat pengering lengkap dengan peralatannya

Siapkan bahan yang akan dikeringkan dicuci


sampai bersih, ditiriskan, blanching, dipotong
sesuai ukuran
Timbang bahan sebelum dikeringkan

Pilih sampel bahan yang akan digunakan untuk


mengetahui laju pengeringan dan timbang sampel
bahan
Buat sample 3 buah, letakkan pada tempat yang
berbeda pada saat proses pengeringan

Beri tanda masing-masing sampel dan perhatikan


tempat masing-masing sampel saat mengambil
dan mengembalikan ke dalam alat pengering,
jangan sampai tertukar sample lain
Catat waktu pengeringan yaitu saat mulai menyalakan alat
pemanas dan saat akhir pengeringan serta catat daya alay
pemanas tersebut

Pengamatan kadar air dilakukan setiap 1jam dengan cara


menimbang sampel, dilakukan sampai akhir pengeringan
Lakukan pengamatan terhadap suhu masuk, suhu bahan dan
suhu keluar bahan setiap 1jam, gambar grafik hubungan
ketiga suhu tersebut terhadap waktu

Amati tinggi kolom air pada pipa venturimeter

Hitung berat bahan kering setiap sample, hitung kadar air


awal dan kadar air setiap pengamatan

Gambar grafik kadar air (%) terhadap waktu pengeringan


(menit) dan grafik laju pengeringan (% kadar air/waktu)
terhadap waktu pengeringan (menit)

Lakukan analisis pengaruh ukuran bahan terhadap laju


pengeringan dan efisiensi pengeringan

IV. Hasil dan Pembahasan


Tabel 1.1. Daftar Pengamatan Tekanan, Suhu, RH
NO
jam
P(atm)
RH
Suhu
(%)
1
2
3

1
2
3
4
5
6

0
1
2
3
4
5

1
1
1
1
1
1

55
55
55
55
55
55

29
35
35
30
29
29

26
26
27
26
26
26

60
60
60
60
60
63

48
46
50
49
46
46

36
35
35
35
34,5
30

Sumber : Laporan Sementara


Keterangan :
1. Suhu bola kering lingkungan
2. Suhu bola basah lingkungan
3. Suhu ruang pengering
4. Suhu keluar bahan bola kering
5. Suhu keluar bahan bola basah
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan uap air sampai ke
tingkat tertentu di mana mikroba pembusuk dan kimia yang dapat
menimbulkan reaksi dapat diminimalkan. Suhu bola basah adalah suhu
keseimbangan permukaan yang terbentuk antara kecepatan penguapan dan
kecepatan pindah panas dan suhu ini tergantung pada suhu udara dan
kelembaban. suhu yang mendekati suhu ini diberikan oleh suatu
termometer bola yang ditutupi dengan kain isap basah diletakkan pada
aliran udara. Termometer bola tanpa kain isap yang basah mencatat suhu
udara, dalam hubungan ini termometer tersebut disebut termometer bola
kering (Earle, 1969).
Pada praktikum ini dilakukan proses pengeringan untuk
mengetahui waktu pengeringan dan efisiensi pengeringan pada produk
yang digunakan. Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah
singkong. Pengeringan ini menggunakan alat pengering kabinet dryer..
Mekanisme pengeringan dengan kabinet dryer yaitu kandungan air dalam
bahan dikurangi dengan memanfaatkan energi panas berupa udara panas
yang berasal dari blower. Udara yang masuk dalam kabinet dryer akan
diubah menjadi udara panas oleh kompor listrik yang ada didalamnya dan
dengan bantuan blower akan membuat suhu dalam kabinet dryer dapat

naik. Selanjutnya udara panas tersebut bergerak ke atas sampai ke bahan.


Air dalam bahan akan ikut keluar bersama udara panas.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan RH
sebesar 55%. Suhu bola kering lingkungan mengalami suhu yang naik
turun/fluktuatif yaitu dari jam ke-0 sampai jam ke-5 suhunya 29 oC, 35 oC,
35 oC, 30 oC, 29 oC dan 29 oC. Suhu bola basah lingkungan juga
mengalami suhu yang sedikit fluktuatif yaitu dari jam ke-0 sampai jam
ke-5 suhunya 26 oC, 26 oC, 27 oC, 26 oC, 26 oC dan 26 oC. Suhu ruang
pengering cenderung mengalami kenaikan suhu yaitu jam ke-0 sampai
jam ke-5 60 oC, 60oC, 60oC, 60oC, 60oC dan 63 oC. Suhu keluar bahan bola
kering mengalami suhu yang fluktuatif yaitu dari jam ke-0 sampai jam ke5 suhunya 48 oC, 46oC, 50oC, 49oC, 46C dan 46 oC dan pada suhu keluar
bahan bola basah juga suhunya mengalami fluktuatif yaitu dari jam ke-0
sampai jam ke-5 suhunya 36 oC, 35oC, 35oC, 35oC, 34,5C dan 30 oC.
Suhu pada percobaan ini naik turun dikarenakan adanya pengaruh
perbedaan suhu antara alat pengering, suhu disekitar alat dan tekanan
udara. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kecepatan pengeringan
adalah luas permukaan, perbedaan suhu sekitar, kecepatan aliran udara
dan tekanan udara (Burlian, 2011).
Tabel 1.2
No
Jam
Hijau
1
2
3
4
5
6

Berat sampel
Merah Kuning

0
2,8
4,4
1
1,9
3,8
2
1,6
3,6
3
1,6
3,3
4
1,6
2,9
5
1,6
2,4
Sumber : Laporan Sementara

3,0
2,7
2,5
2,2
1,9
1,9

Ratarata
berat
3,4
2,8
2,57
2,37
2,13
1,97

KA
(%)
72,5
42,1
30,5
20,3
8,12
0

30,4
11,6
10,2
12,18
8,12
0

Pada praktikum ini dilakukan dengan cara meletakan sampel singkong


yang telah dipotong-potong dengan ukuran yang homogen/sama pada tiga
tempat yang berbeda. Sampel singkong ini masing-masing diberi tanda
yang berbeda agar tidak tertukar dengan sampel yang lain yaitu dengan

diberi tanda menggunakan karet yang berbeda warna. Sampel singkong


yang berada di bagian ujung luar diberi tanda karet warna merah, sampel
singkong yang berada di tengah diberi tanda karet warna kuning dan
sampel singkong yang berada di ujung dalam diberi tanda karet warna
hijau. Berat rata-rata dari ketiga sampel tersebut pada jam ke-0, ke-1, ke2, ke-3, ke-4 dan ke-5 secara berurutan adalah 3,4; 2,8; 2,57; 2,37; 2,13
dan 1,97. Kadar air yang didapatkan dari ketiga sampel pada jam ke-0,
ke-1, ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-5 secara berurutan adalah 72,5%, 42,1%,
30,5%, 20,3%, 8,12% dan 0%. Dapat dilihat dari data yng ada, sampel
singkong warna hijau memiliki penurunan berat yang sangat drastis, hal
ini terjadi karena pada sampel singkong ini berada pada ujung dalam
kabinet dryer yang memiliki suhu udara panas yang paling besar
sehingga kadar air yang ada dalam sampel lebih cepat menguap jika
dibandingkan

dengan

sampel

lainnya.

Semakin

banyak

waktu

pengeringan yang dilakukan maka air yang diuapkan akan semakin


banyak. Hal ini menyebabkan kadar air pada bahan akan semakin
menurun karena air yang ada di bahan telah diuapkan.
Tabel 1.3
Pembahasan
Blanching adalah salah satu unit operasi yang diatur untuk proses
pembekuan, pengalengan atau pengeringan pada buah atau sayuran yang
dipanaskan dengan tujuan menginaktifkan enzim, mengubah tekstur,
mempertahankan warna, rasa dan kadar nutrisi dan menhilangkan udara
yang ada dalam makanan (Corcuera, 2004). Blanching dilakukan dengan
perlakuan perendaman air panas dan sedangkan non blanching dilakukan
tanpa perlakuan perendaman air panans selama proses pengeringan.
Blanching akan menyebabkan udara dalam jaringan keluar dan pergerakan air
tidak terhambat sehingga proses pengeringan menjadi cepat.
Pada

praktikum

ini

dilakukan

untuk

mengetahui

efesiensi

pengeringan pada sampel irisan singkong. Sampel diberi dua perlakuan

yaitu dengan diblanching dan non balnching. Waktu yang digunakan pada
pengeringan ini selama 10800 detik atau 3 jam. Pada perlakuan non
blanching rata-rata berat akhir sampel yaitu 0,425; 0,750; 0,3; 0,320; dan
0,450 dengan Q penguapan sebesar 293,25; 127,5; 357; 346,8 dan 280,5.
Efisiensi yang diperoleh secara berurutan yaitu 2,26; 0,98; 2,75; 2,68 dan
2,16. Pada perlakuan blanching rata-rata berat akhir sampel yaitu 0,480;
0,750; 0,480; 0,655 dan 0,550 dengan Q penguapan sebesar 265,2; 127,5;
265,2; 175, 95 dan 229,5. Efisiensi yang diperoleh secara berurutan yaitu
2,05; 0,98; 2,04; 1,36 dan 1,77.

Gambar 1.1. Grafik Hubungan Kadar Air Dengan Waktu

Gambar 1.2. Grafik Hubungan Perubahan Kadar Air Dengan Waktu

4.

KESIMPULAN
Dari praktikum acara pengeringan sukade dapat diambil beberapa
kesimpulan yaitu :
a. Pengeringan untuk menghilangkan uap air sampai ke tingkat
tertentu di mana mikroba pembusuk dan kimia yang dapat
menimbulkan reaksi dapat diminimalkan
b. Efisiensi

operasi

perbandingan

panas

pengeringan
yang

secara

dapat
teoritis

ditentukan
dibutuhkan

sebagai
untuk

menghasilkan panas laten penguapan air yang telah dikeringkan.


c. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kecepatan pengeringan
adalah luas permukaan, perbedaan suhu sekitar, kecepatan aliran
udara dan tekanan udara.

d. Blanching digunakan dengan tujuan mengi\naktifkan enzim,


mengubah tekstur, mempertahankan warna, rasa dan kadar nutrisi
dan menhilangkan udara yang ada dalam makanan.
e. Semakin banyak waktu pengeringan yang dilakukan maka kadar air
yang semakin menurun.

DAFTAR PUSTAKA

Adawyah, Ir. Rabiatul M.P. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi
Aksara. Jakarta
Bernasconi, G, dkk. 1995. Teknologi Kimia Bagian 2 Bab 5-8. PT Pradnya
Paramita. Jakarta
Burlian, Firmansyah dan Aneka Firdaus. 2011. Kaji Eksperimental Alat
Pengering Kerupuk Tenaga Surya Tipe Box Menggunakan Kosentrator
Cermin Datar. Prosiding Seminar Nasional AvoER Ke-3
Corcuera, Jose I Reyes De, dkk. 2004. Blanching of Foods. Journal
Encyclopedia of Agricultural, Food, and Biological Engineering
Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi untuk Pengolahan Pangan. Sastra Hudaya.
Bogor.

Hudaya, Ir. Saripah dan Ir. I. Siti Setiasih Daradjat. 1982. Dasar-dasar
pengawetan 2. Departemen Pendidikan. Jakarta
Latifah, dkk. 2005. Pembuatan Tepung Lidah Buaya dengan Menggunakan
Berbagai Macam Metode Pengeringan. Jurnal Teknologi Pangan Vol.3
No.2 hal 70-80
Sutar, P.P, dkk. 2007. Modelling Microwave Vacuum Drying Kinetics and
Moisture Diffusivity of Carrot Slices. Drying Technology An
International Journal Vol.25 No.10 hal 1695-1702
Tonukari, Nyerhovwo John. 2004. Cassava and The Future of Starch.
Electronic Journal of Biotechnology Vol. 7 No.1
Yanita, Mirawati. 2008. Proses Pengolahan Ubi Kayu Menjadi Kue
Klantingan. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat No.45

LAMPIRAN

1. Perhitungan Kadar Air (%)


Jam ke-0 =

3,4 1,97
x100 %
1,97

= 72,5 %
Jam ke-1 =

2,8 1,97
x100%
1,97

= 42,1 %
Jam ke- 2=

2,57 1,97
x100%
1,97

= 30,5 %
Jam ke- 3=

2,37 1,97
x100%
1,97

= 20,3 %

Jam ke-4 =

2,13 1,97
x100%
1,97

= 8,12 %
Jam ke-5 =

1,97 1,97
x100%
1,97

=0%
2. Efisiensi pengeringan
Q penguapan
= (rata-rata berat awal-rata-rata berat akhir) x panas laten
= (1-0,320 ) kg x 510 kj/kg
= 346,8 kj
Ef

=
=

Qpeng uapan
Q kabinet

346,8
12960

= 2,675 %

LAPORAN PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI IV

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK IV
ATIKA NUR SYARIFAH

(H 0910016)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI


PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan praktikum Satuan Operasi IV ini disusun guna melengkapi
tugas mata kuliah Satuan Operasi IV dan telah diketahui serta disahkan oleh
Dosen pengampu Praktikum Satuan Operasi IV pada tanggal 10 Desember
2012

Disusun oleh:
KELOMPOK IV
ATIKA NUR SYARIFAH

(H 0910016)

Mengetahui,
Dosen Pengampu Mikrobiologi

Asisten,

Pengolahan Pangan,

R. Baskara Katri Anandito, STP, MP

Yoga Meidiantoro Aji

NIP. 19800513 200604 1 001

NIM H0909070

HALAMAN PENILAIAN
Kelompok IV
Atika Nur Syarifah H0910016

No

ACARA

NILAI

TANDA
TANGAN

1.
2.

Pengeringan
Pendinginan

3.

Pembekuan
Rata-rata :

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah


melimpahankan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Laporan Praktikum Satuan
Operasi IV ini dapat penulis selesaikan. Laporan Satuan Operasi IV ini
merupakan syarat mengikuti ujian dan merupakan salah satu tugas yang
memberikan bekal ilmu pengetahuan dan menambah wawasan mengenai mata
kuliah Satuan Operasi IV.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
2. Tim dosen mata kuliah Satuan Operasi IV Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta
3. Seluruh co-asisten yang telah memberikan bantuan dan bimbingan
4. Rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan
ini
5. Semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan
Laporan Praktikum Satuan Operasi IV.
Penulis menyadari keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang
penulis miliki sehingga masih ada kekurangan dalam penyusunan laporan ini.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca.
Akhir kata semoga laporan ini bermanfaat bagi penyusun khususnya
dan pembaca pada umumnya.
Surakarta, 10 Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL...................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN....................................................................

ii

KATA PENGANTAR..................................................................................

iii

DAFTAR ISI...............................................................................................

iv

DAFTAR TABEL .......................................................................................

DAFTAR GAMBAR .................................................................................

iv

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................

iv

I. PENGERINGAN
A. Tujuan Praktikum........................................................................
B. Tinjauan Pustaka..........................................................................
C. Metodologi...................................................................................
1. Alat.........................................................................................
2. Bahan......................................................................................
3. Cara Kerja..............................................................................
B. Hasil dan Pembahasan................................................................
C. Kesimpulan..................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................
II. PENDINGINAN
A. Tujuan Praktikum.........................................................................
B. Tinjauan Pustaka..........................................................................
C. Metodologi...................................................................................
1. Alat.........................................................................................
2. Bahan......................................................................................
3. Cara Kerja..............................................................................
D. Hasil dan Pembahasan................................................................
E. Kesimpulan..................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................
III. PEMBEKUAN
A. Tujuan Praktikum.........................................................................

B. Tinjauan Pustaka..........................................................................
C. Metodologi...................................................................................
1. Alat.........................................................................................
2. Bahan......................................................................................
3. Cara Kerja..............................................................................
D. Hasil dan Pembahasan................................................................
E. Kesimpulan..................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1Daftar Pengamatan Tekanan, RH dan Suhu...........................................


Tabel 1.2 Data Pengamatan Kadar Air...................................................................
Tabel 1.3 Data Pengamatan Efisiensi Pengeringan...............................................
Tabel 2.1 Penyimpanan Buah dan Sayur................................................................
Tabel 2.2 Penyimpanan Sayur Bayam....................................................................
Tabel 2.3 Data Kapasitas Pendinginan...................................................................
Tabel 3.1 Pengamatan Pembekuan Melon.............................................................
Tabel 3.2 Pengamatan Pembekuan Lele.................................................................
Tabel 3.3 Pengamatan Tempe..................................................................................

DAFTAR GAMBAR

Grafik 1.1 Hubungan Kadar Air Dengan Waktu....................................................


Grafik 1.2 Hubungan Perubahan Kadar Air Dengan Waktu.................................

DAFTAR LAMPIRAN

Grafik 1.1 Hubungan Kadar Air Dengan Waktu....................................................


Grafik 1.2 Hubungan Perubahan Kadar Air Dengan Waktu.................................