Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN AKHIR TAHUN:

Taman Kota Seruwet Birokrasi


TAHUN 2014 menjadi awal penataan kawasan Monumen Nasional.
Tahapan demi tahapan dilakukan untuk memperbaiki wajah Monas
yang kadung ruwet. Namun, hasilnya belum terlihat. Di akhir
pekan, kawasan yang berhadapan langsung dengan Balai Kota ini
tak ubahnya pasar malam.
Deru sepeda motor mini mewarnai kawasan Taman Monumen Nasional
(Monas). Anak-anak bergembira di atas jok kendaraan sewaan.
Meskipun belum cukup umur, mereka terlihat lihai membawa kendaraan
roda dua itu berkeliling jalur di antara batu-batu alam Taman Monas.
Sepeda motor sewaan itu hanya satu dari puluhan jenis permainan di
dalam area Monas. Aneka jenis permainan lain menyebar di taman ini
saat akhir pekan. Bukan mainan yang berukuran kecil, melainkan
permainan yang membutuhkan ruang besar seperti balon perosotan
dan komidi putar. Pedagang keliling dengan santai menawarkan aneka
makanan, minuman, pakaian, hingga tikar. Tentu saja, semua
permainan ini ilegal.
Begitu masifnya pedagang berjualan, seakan menghilangkan gaung
penertiban yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak dua
tahun terakhir.
Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) dengan aneka ragam barang
dagangannya merupakan salah satu wujud kekacauan penataan di
Monas ini. Pintu gerbang tetap bisa ditembus meskipun dijaga petugas.
Sejumlah besi pagar sudah digergaji. Semuanya mewujudkan betapa
longgarnya Monas.
Penggiat Indonesia Hijau, Nirwono Joga, mengatakan, seorang tukang
foto keliling di Monas bisa mengantongi Rp 2,8 juta per bulan. Artinya,
perputaran uang di sini sangat tinggi, ujarnya. Keberadaan pedagang
lantas menimbulkan persoalan lanjutan seperti sampah yang
bertebaran dan rusaknya taman. Gorong-gorong di sisi utara dibuat
mampat oleh pedagang agar bisa dijadikan tempat penyimpanan
barang dagangan. Batu alam yang ditata sebagai jalur pedestrian
banyak yang rusak. Salah satunya akibat terkena tancapan paku untuk
mendirikan tenda pedagang makanan yang memakai gerobak.
Karut-marut penataan Monas juga terlihat dari sulitnya perusahaan
memberikan bantuan termasuk CSR (tanggung jawab sosial
perusahaan). Pembangunan Lenggang Jakarta sebagai pusat kuliner

dan suvenir Monas beberapa kali molor dari tenggat penyelesaian.


Hingga pertengahan Desember, lokasi ini belum beroperasi. Salah
satunya karena masih ada mobil-mobil pemerintah yang tidak terpakai
lagi, tetapi diparkir di area tersebut.
Rumuskan karakter
Nirwono berpendapat, sembari melakukan penataan, Pemprov DKI
perlu merumuskan karakter kawasan Monas. Sekarang, semua
kegiatan bisa diadakan di Monas. Jadinya, kawasan ini tidak punya
karakter. Pedagang juga mudah masuk jika ada acara di kawasan
Monas. Kalau ada karakter yang jelas, ada juga konsekuensinya,
termasuk seleksi kegiatan yang boleh diadakan di Monas, kata
Nirwono.
Saat ini, dalam sebulan, kegiatan yang diadakan di Monas bisa
mencapai 10 kali. Beberapa kegiatan bisa diselenggarakan setelah
mendapatkan rekomendasi dari pejabat Pemprov DKI Jakarta. Padahal,
kegiatan itu tidak relevan diadakan di kawasan Monas. Kepala UP
Kawasan Monas Rini Hariyani mengatakan, idealnya, kegiatan yang
boleh diadakan di kawasan Monas terbatas untuk upacara, olahraga,
dan budaya. Selain itu, Monas yang merupakan kawasan taman
terbesar di pusat kota ini perlu kembali ditata tamannya. Salah satunya
adalah segera mensterilkan taman ini dari kegiatan PKL yang justru
kerap merusak taman.
Rini juga berencana menjadikan Taman Monas sebagai tempat
edukasi. Dulu, ada sisi taman yang dijadikan tempat tumbuh tanaman
khas dari provinsi di seluruh Indonesia. Tapi, sekarang, tanamannya
entah di mana. Ini yang perlu diperbaiki lagi, katanya.Beberapa fasilitas
lain juga rusak saat diserahkan ke UP Kawasan Monas. Salah satunya
adalah air mancur joget. Beberapa air mancur lainnya juga rusak. Ada
pula kolam yang tidak memiliki saluran pembuangan air dan terdapat
lumpur tebal.
Taman yang menarik akan membuat pengunjung betah karena bisa
berekreasi sembari mempelajari sesuatu. Selain itu, pengunjung Monas
tidak melulu terarah untuk naik ke pelataran tugu. Padahal, kapasitas lift
dan pelataran puncak memiliki keterbatasan, yakni 1.800 orang per
hari.
Minim dukungan
Nirwono menambahkan, kerusakan fasilitas saat serah terima dari
sejumlah instansi ke UP Kawasan Monas menunjukkan dukungan
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terhadap kawasan Monas ini
sangat minim. Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta
Nandar Sunandar mengatakan, pihaknya tetap mendampingi UP
Kawasan Monas meskipun sudah tidak memiliki kewenangan di situ.
Kami akan membagi pengetahuan taman di Monas. Juga konsep
bagaimana menata Monas, katanya. Sementara itu, UP Monas juga
harus memulai dari awal perihal penataan taman seperti membeli alat-

alat pertamanan. Sejumlah alat pertamanan seperti mobil tangki dan


truk ditarik oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Aneka persoalan
ini mesti dibenahi sebelum pemerintah menetapkan tiket masuk Monas
dari pintu pagar. Diharapkan, Monas akan kian menarik dan bercahaya
setelah perombakan besar tahun 2015. Semoga. (Agnes Rita
Sulistyawaty)
Sumber: Kompas | 22 Desember 2014